You are on page 1of 23

ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.

7, JULI, 2016

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA


KELOMPOK LANJUT USIA DI WILAYAH KERJA UPT PUSKESMAS PETANG I
KABUPATEN BADUNG TAHUN 2016

Muhammad Hafiz Bin Mohd Arifin1, I Wayan Weta2, Ni Luh Ketut Ayu Ratnawati2
1
Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
2
Bagian/SMF Ilmu Kedokteran Komunitas Dan Ilmu Kedokteran Pencegahan (IKK-IKP)Fak.
Kedokteran Universitas Udayana
hafizarifin01@gmail.com

ABSTRAK
Hipertensi merupakan manifestasi gangguan keseimbangan hemodinamik sistem kardiovaskular yang
mana patofisiologinya tidak bisa diterangkan dengan hanya satu mekanisme tunggal. Semua definisi
hipertensi adalah angka kesepakatan berdasarkan bukti klinis (evidence based) atau berdasarkan
konsensus atau berdasar epidemiologi studi meta analisis. Bila tekanan darah diatas batas normal,
maka dikatakan sebagai hipertensi. Hipertensi dapat diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya, yakni
hipertensi primer/essensial dan hipertensi sekunder, dan berdasarkan derajat penyakitnya. Angka
insiden hipertensi sangat tinggi terutama pada populasi lanjut usia, usia di atas 60 tahun, dengan
prevalensi mencapai 60% sampai 80% dari populasi lansia. Di Indonesia, pada usia 25-44 tahun
prevalensi hipertensi sebesar 29%, pada usia 45-64 tahun sebesar 51% dan pada usia >65 tahun
sebesar 65%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan
hipertensi pada lansia di wilayah kerja UPT Puskesmas Petang I, Kabupaten Badung tahun 2016.
Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain cross-sectional study dan menggunakan
pendekatan retrospektif. Sampel yang digunakan berjumlah 112 orang yang diambil secara konsekutif
pada posyandu lansia yang di tujuh banjar di desa Petang, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung
Hasil Penelitian dengan uji chi-square dan Fisher Exact Test menyatakan bahwa terdapat hubungan
yang bermakna antara genetik (p = 0,019; RP = 1,417; IK 95% 1,069 sampai 1,877), olah raga (p =
0,017; RP = 1,424; IK 95% 1,069 sampai 1,895), dan tingkat stress (p < 0,0001; RP = 2,043; IK 95%
1,184 sampai 2,141) dengan kejadian hipertensi. Sedangkan jenis kelamin, obesitas, merokok, dan
konsumsi alkohol tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan kejadian hipertensi.Prevalensi
hipertensi pada kelompok lansia cukup tinggi yakni 69% dan terdapat hubungan yang bermakna
antara genetik, olah raga, dan tingkat stress dengan kejadian ISPA pada lansia. Rekomendasi dalam
upaya penurunan angka kejadian hipertensi berupa peningkatan sikap dan pengetahuan masyarakat
tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya suatu penyakit khususnya hipertensi
dengan cara penyuluhan kesehatan.

Kata kunci : lansia, hipertensi, genetik, olah raga, tingkat stress

ABSTRACT
Hypertension is a manifestation of hemodynamic balance disorder of the cardiovascular system which
the pathophysiology can not be explained by just one single mechanism. All the definition of
hypertension is the number of agreements based on clinical evidence (evidence based) or by
consensus or meta-analysis based on epidemiological studies. The problem is how mmHg in blood
pressure that can be called normal, so that when blood pressure above the normal price of the deal,
then he will be regarded as hypertension. Hypertension can be classified based on the cause, namely
primary hypertension / essential and secondary hypertension, and based on the degree of illness.
Hypertension incidence rate is very high, especially in the elderly population, aged over 60 years,
with a prevalence of 60% to 80% of the elderly population. In Indonesia, at the age of 25-44 years the
prevalence of hypertension by 29%, at the age of 45-64 years by 51% and in those aged> 65 years
was 65%. The purpose of this study is to Know the factors associated with hypertension in the elderly
groups in UPT Puskesmas Petang I working area, Badung district year 2016. This research is an
analytic study with cross-sectional design and the use of a retrospective approach. The sample was
112 people taken consecutively at Posyandu lansia in seven banjar in Petang village Research results
by chi-square test and Fisher Exact Test states that there is a significant relationship between genetic
(p = 0.019; RP = 1.417; CI 95% 1.069 to 1.877), sport (p = 0.017; RP = 1.424; CI 95% 1.069 to

1
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

1.895), and stress levels (p <0.0001; RP = 2.043; 95% CI 1.184 to 2.141) with the incidence of
hypertension. While gender, obesity, smoking, and alcohol consumption there is no significant
relationship with hypertension. The prevalence of hypertension in elderly groups is quite high (69%)
and there is a significant relationship genetic, sport activity, and level of stress with hypertension in
elderly groups. Recommendations in an effort to decrease the incidence of hypertension by an
increase in attitudes and knowledge about the triggering factors of disease especially hypertension, by
health education.

Keywords: elderly, hypertension, genetic, sport activity, level of stress

PENDAHULUAN prevalensi tertinggi terdapat di Bangka Belitung


Hipertensi merupakan penyakit tidak (30,9%), diikuti Kalimantan Selatan (30,8%),
menular sampai saat ini masih menjadi masalah Kalimantan Timur (29,6%) dan Jawa Barat
kesehatan secara global. Hipertensi adalah suatu (29,4%).5
keadaan dimana tekanan darah sistolik 140 Hipertensi sebagai sebuah penyakit kronis
mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg pada dua dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor resiko
kali pengukuran dengan selang waktu lima menit terjadinya hipertensi terbagi dalam faktor risiko
dalam keadaan istirahat.1 Pada umumnya hipertensi yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko
tidak memberikan keluhan dan gejala yang khas yang dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak
sehingga banyak penderita yang tidak dapat dimodifikasi seperti keturunan, jenis kelamin,
menyadarinya. Oleh karenan itu hipertensi ras dan usia. Sedangkan faktor risiko yang dapat
dikatakan sebagai the silent killer.2 dimodifikasi yaitu obesitas, kurang berolahraga
Hipertensi juga merupakan faktor resiko atau aktivitas, merokok, alkoholisme, stress, dan
utama untuk terjadinya penyakit kardiovaskular. pola makan.6
Apabila tidak ditangani dengan baik, hipertensi Angka insiden hipertensi sangat tinggi
dapat menyebabkan stroke, infark miokard, gagal terutama pada populasi lanjut usia (lansia), usia di
jantung, demensia, gagal ginjal, dan gangguan atas 60 tahun, dengan prevalensi mencapai 60%
pengelihatan. World Health Organization (WHO) sampai 80% dari populasi lansia. Diperkirakan 2
memperkirakan hipertensi menyebabkan 9,4 juta dari 3 lansia mengalami hipertensi.7 Keadaan ini
kematian dan mencakup 7% dari beban penyakit di didukung oleh penelitian yang menunjukkan bahwa
dunia.3 Kondisi ini dapat menjadi beban baik dari prevalensi hipertensi meningkat seiring dengan
segi finansial, karena berkurangnya produktivitas pertambahan usia. Pada sebuah penelitian di
sumber daya manusia akibat komplikasi penyakit SaoPaulo didapatkan prevalensi hipertensi pada
ini, maupun dari segi sistem kesehatan. lansia sebesar 70% dari jumlah populasinya.8
Bedasarkan data WHO pada tahun 2014 Keadaan serupa juga ditemukan pada penelitian
terdapat sekitar 600 juta penderita hipertensi di yang dilakukan di China, dimana pada penelitian
seluruh dunia.4 Prevalensi tertinggi terjadi di tersebut hipertensi ditemukan pada 53% populasi
wilayah Afrika yaitu sebesar 30%. Prevalensi lansia.9
terendah terdapat di wilayah Amerika sebesar 18%. Di Indonesia, pada usia 25-44 tahun
Secara umum, laki-laki memiliki prevalensi prevalensi hipertensi sebesar 29%, pada usia 45-64
hipertensi yang lebih tinggi dibandingkan wanita.3 tahun sebesar 51% dan pada usia >65 tahun sebesar
RISKESDAS pada tahun 2013 mencatat prevalensi 65%. Dibandingkan usia 55-59 tahun, pada usia 60-
hipertensi di Indonesia sebesar 25,8 %, dengan 64 tahun terjadi peningkatan risiko hipertesi

2
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

sebesar 2,18 kali, usia 65-69 tahun 2,45 kali dan kerja Puskesmas Petang I Kabupaten Badung,
4
usia >70 tahun 2,97 kali. Di wilayah kerja yakni Banjar Petang Dalem, Banjar Petang Tengah,
Puskesmas Petang I sendiri, penyakit hipertensi Banjar Petang Suci, Banjar Kerta, Banjar
masih menjadi masalah utama pada kalangan Angantiga, Banjar Lipah, Banjar Munduk
lansia, disusul dengan arthritis. Kejadian hipertensi Damping. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
pada lansia dapat menyebabkan kualitas hidup yang April sampai Mei tahun 2016. Populasi target
buruk, kesulitan dalam fungsi sosial dan fisik serta dalam penelitian ini adalah seluruh kelompok lanjut
meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas usia (usia 60 tahun) yang ada di wilayah kerja
akibat komplikasi-komplikasi yang Puskesmas Petang I, Kabupaten Badung. Populasi
ditimbulkannya. target dalam penelitian ini adalah seluruh kelompok
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka lanjut usia (usia 60 tahun) yang ada di wilayah
perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui kerja Puskesmas Petang I, Kabupaten Badung.
gambaran faktor- faktor yang berhubungan dengan Populasi terjangkau pada penelitian ini
kejadian hipertensi pada lansia yang berada dalam adalah bagian dari populasi target yang dibatasi
wilayah kerja Puskesmas Petang I. Dengan oleh tempat dan waktu, yaitu kelompok lanjut usia
mengetahui faktor-faktor tersebut diharapkan dapat yang datang ke posyandu lansia yang dilaksanakan
memodifikasi gaya hidup lansia untuk menunjang di tujuh banjar yang ada di desa Petang, Kecamatan
pengontrolan tekanan darah demi mencegah Petang, Kabupaten Badung pada bulan April
progresivitas penyakit dalam menyerang organ- sampai Mei tahun 2016.
organ lain sehingga kualitas hidup akan menjadi Sampel dalam penelitian ini adalah bagian
lebih baik. dari populasi terjangkau yaitu kelompok lanjut usia
yang datang ke posyandu lansia yang dilaksanakan
METODE di tujuh banjar yang ada di desa Petang, Kecamatan
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Petang, Kabupaten Badung dan telah memenuhi
kuantitatif dengan desain studi cross sectional, kriteria inklusi dan eksklusi, serta telah terpilih
yaitu mempelajari hubungan antara variabel sebagai sampel dengan teknik pemilihan sampel,
dependen (hipertensi) dan variabel independen yaitu consecutive sampling.
(jenis kelamin, genetik, obesitas, olah raga, Subjek merupakan seluruh lansia berusia
merokok, minum alkohol,dan tingkat stress) 66 tahun yang ada di desa Petang, Kecamatan
melalui pengukuran sesaat atau hanya satu kali saja Petang, Kabupaten Badung dan bersedia menjadi
serta dilakukan dalam waktu yang bersamaan. responden untuk diwawancarai dan mengisi dengan
Desain cross sectional digunakan berdasarkan lengkap jawaban dari kuesioner penelitian.
tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui faktor- Kooperatif dan dapat berkomunikasi dengan baik
faktor yang berhubungan dengan kejadian dengan pewawancara.
hipertensi pada kelompok lanjut usia di wilayah Tidak memenuhi salah satu dari kriteria
kerja Puskesmas Petang I, Kabupaten Badung inklusi seperti yang telah dijelaskan diatas. Lansia
tahun 2016. yang memiliki penyakit demensia (pikun atau
Penelitian ini dilaksanakan di tujuh banjar pelupa), perubahan tingkah laku, atau penyakit lain
yang ada di desa Petang, Kecamatan Petang, (seperti stroke atau lumpuh) Subyek menolak untuk
Kabupaten Badung yang termasuk dalam wilayah berpartisipasi dan menandatangani surat

3
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

persetujuan setelah penjelasan atau informed ketiga. Dua data pengukuran dengan selisih terkecil
consent dihitung reratanya sebagai hasil ukur tensi.
Untuk penetapan besar sampel suatu studi Aspek pengukuran menggunakan skala
cross-sectional yang mencari rasio prevalens sama ordinal. Data dikategorikan menjadi dua, yaitu
dengan penetapan besar sampel untuk studi kohort hipertensi jika sudah pernah didiagnosis hipertensi
10
yang mencari risiko relatif. sebelumnya, atau rata-rata hasil pengukuran TDS
Teknik penentuan sampel yang digunakan 140 mmHG dan atau rata-rata hasil pengukuran
dalam penelitian ini adalah nonprobability TDD 90 mmHg. Dan tidak hipertensi, jika rata-
sampling, yaitu consecutive sampling diaman rata hasil pengukuran TDS <140 mmHg dan atau
semua subjek yang datang ke posyandu lansia yang rata-rata hasil pengukuran TDD <90 mmHg.
diadakan di tujuh banjar yang ada di desa Petang, Yang dimaksud dengan jenis kelamin pada
Kecamatan Petang, Kabupaten Badung secara penelitian ini adalah tanda-tanda seks sekunder
berurutan dan memenuhi kriteria inklusi dan yang diperlihatkan seseorang. Cara pengukuran
eksklusi dimasukan kedalam penelitian sampai dengan melakukan pengamatan langsung pada
jumlah subyek dalam penelitian terpenuhi. responden, dan ditulis pada kuesioner wawancara.
Variabel Tergantung (dependent) adalah Aspek pengukuran menggunakan skala nominal.
hipertensi. Variabel Bebas (independent) adalah Data dikategorikan menjadi dua, yaitu jenis
jenis kelamin, genetik, obesitas, Tidak teratur kelamin laki-laki dan perempuan.
berolah raga , merokok, konsumsi alkohol , dan Yang dimaksud dengan faktor genetik pada
tingkat stress. penelitian ini adalah apakah pada keluarga
Definisi hipertensi dalam penelitian ini responden terdapat riwayat anggota keluarga yang
adalah kondisi seseorang yang memiliki tekanan menderita hipertensi. Cara pengukuran dengan
darah sistolik 140 mmHg atau diastolik melakukan wawancara terstruktur, dan ditulis pada
90mmHg atau keduanya. Dikatakan hipertensi kuesioner wawancara.
apabila sebelumnya sudah terdiagnosis hipertensi, Aspek pengukuran menggunakan skala
atau sedang dalam pengobatan hipertensi. Untuk nominal. Data dikategorikan menjadi dua, yaitu
responden yang belum pernah didiagnosis memiliki riwayat keluarga menderita hipertensi jika
hipertensi, penegakan diagnosis dilakukan dengan dari hasil wawancara terstruktur didapatkan riwayat
mengambil rata-rata hasil pengukuran tekanan hipertensi pada keluarga positif. Dan tidak
darah pada dua kali atau lebih kunjungan klinis.1,11 memiliki riwayat keluarga yang menderita
Alat ukur yang digunakan adalah hipertensi jika dari hasil wawancara terstruktur
spyghmomanometer air rakasa dan stetoskop. didapatkan riwayat hipertensi pada keluarga
Tekanan darah diukur dalam posisi beridiri/duduk negatif.
sesuai dengan tata cara pengukuran tekanan darah Yang dimaksud dengan obesitas pada
yang benar. Pengukuran tekanan darah dilakukan penelitian ini adalah kelebihan berat badan sebagai
setelah responden istirahat selama 5 menit. Setiap akibat dari penimbunan lemak tubuh yang
responden diukur tensinya minimal 2 kali dengan berlebihan yang dikategorikan dengan indeks
jarak 5-10 menit. Jika hasil pengukuran ke dua massa tubuh.
berbeda lebih dari 10 mmHg dibandingkan Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini
pengukuran pertama, maka dilakukan pengukuran adalah dengan menggunakan timbangan digital dan

4
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

meteran. Cara menggukur tinggi badan pada lansia km2 (25,53%), Desa Pangsan 9 km2 (20,89%),
adalah dengan menggunakan tinggi lutut, Desa Carang Sari 7 km2 (16,25%), dan Desa
mengingat kondisi fisiologis pada lansia yang Getasan 4,47 km2 (10,37%).
mengalami keadaan bungkuk tidak mungkin Total jumlah penduduk di Wilayah Kerja
dilakukan pengukuran tinggi badan karena hasilnya Puskesmas Petang I pada tahun 2015 adalah
tidak mungkin dapat menggambarkan ukuran tinggi sebanyak 18.064 jiwa dengan jumlah total kepala
badan yang sebenarnya sehingga perlu dilakukan keluarga sebanyak 4.794 kepala keluarga. Adapun
pengukuran lain yang juga bisa menggambarkan Rincian jumlah penduduk laki-laki sebanyak 9001
tinggi badan lansia tersebut. Salah satu alat ukur jiwa, dan jumlah penduduk perempuan sebanyak
yang dapat digunakan adalah tinggi lutut, dengan 9.063 jiwa. Kepadatan penduduk di wilayah kerja
rumus TB pria = (2.02 x tinggi lutut) - (0,04 x usia) Puskesmas Petang I sekitar 420 jiwa per km2.
+ 64,19, TB wanita = (1,83 x tinggi lutut) (0,24 x Wilayah Kerja Puskesmas Petang I memiliki 20
usia) +84,88 (Depkes RI, 2003). Cara pengukuran Posyandu lansia pada tahun 2015, dengan jumlah
indeks massa tubuh dengan rumus IMT = lansia keseluruhan pada tahun 2015 sebanyak 2057
2 11
BB/TB . lansia (15,75%).
Analisis univariat digunakan untuk melihat
HASIL gambaran umum dari data yang telah dikumpulkan,
Puskesmas Petang I terletak di Desa Petang, untuk melihat distribusi frekuensi variabel-variabel
Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Wilayah penelitian. Responden yang dikumpulkan dalam
kerja Puskesmas Petang I terletak 30 km dari ibu penelitian ini berjumlah 112 orang, dan sudah
kota Kabupaten Badung, berada pada ketinggian memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang
600-700 meter diatas permukaan laut dengan dikumpulkan menggunakan kuesioner dan
topografi dataran dan perbukitan. Wilayah kerja dianalisis univariat. Data yang dianalisis yaitu:
Puskesmas Petang I memiliki iklim dingin dengan karakteristik responden, status gizi, riwayat
0 0
suhu rata-rata sekitar 25 C - 30 C. keluarga yang mengalami hipertensi (genetik),
Wilayah kerja Puskesmas Petang I aktivitas fisik seperti olahraga, kebiasaan merokok,
berbatasan langsung di sebelah utara berbatsan kebiasaan mengkonsumsi alkohol, dan tingkat
dengan wilayah kerja Puskesmas Petang II Desa stress. Berdasarkan data penelitian dari 112
Plaga, di sebelah selatan berbatasan dengan responden, karakteristik responden yang dianalisis
wilayah Puskesmas Abiansemal I DesaSangeh, di univariat yaitu: umur, jenis kelamin, dan kejadian
sebalah barat berbatasan dengan wilayah hipertensi. Distribusi frekuensi karakteristik
Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan, dan di responden dapat dilihat pada tabel 1.
sebalah timur berbatasan dengan wilayah Desa Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat distribusi
Payanga Kabupaten Gianyar. kelompok umur lansia di wilayah kerja Puskesmas
Wilayah Kerja Puskesmas Petang I terbagi Petang I yang menjadi responden terbanyak adalah
menjadi 5 desa (Desa Sulangai, Desa Petang, Desa kelompok umur 60 sampai 64 tahun (n=48, 42,9%),
Pangsan, Desa Getasan, Desa Carang sari) dan 31 dilanjutkan dengan kelompo kumur 65 sampai 69
dusun. Luas wilayah Puskesmas Petang I secara tahun (n=44, 39,3%), dan yang paling sedikit
keseluruhan adalah 43,07 km2, dengan rincian: adalah kelompok umur 70 tahun keatas (n=20,
2
Desa Sulangai 11,6 km (26,93%), Desa Petang 11 17,9%). Untuk distribusi jenis kelamin, perempuan

5
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

(n=80, 71,4%), lebih banyak dari padalaki-laki responden (61,6%) dan jumlah responden yang
(n=32, 28,6%). tidak menderita hipertensi sebanyak 43 responden
(38,4%).
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik
Responden Tabel 2 Distribusi Frekuensi Faktor Yang
Karakteristik Kategori n Persentase Berhubungan dengan Hipertensi
(%)
Faktor Kategori n %)
Umur (tahun) 60-64 48 42,9 % Status gizi Underweight 7 6,3 %
65-69 44 39,3 % Normal 41 36,6 %
Overweight 15 13,4 %
70 ke atas 20 17,9 % Obesitas 49 43,8 %
Jenis Kelamin Laki-laki 32 28,6 % Genetik Terdapat riwayat 44 39,3 %
Tidak terdapat 68 60,7 %
Perempuan 80 71,4 % riwayat
Kejadian Hipertensi 69 61,6 % Olahraga Rutin 65 58 %
Tidak rutin 47 42 %
Hipertensi Tidak 43 38,4 %
Merokok Merokok 24 21,4 %
Hipertensi Tidak merokok 88 78,6 %
Konsumsi Mengkonsumsi 12 10,7 %
Pada penelitian ini, responden yang alkohol Tidakmengkonsumsi 100 89,3 %
Tingkat Stress 42 37,5 %
menderita hipertensi berdasarkan pengukuran stress Tidak stress 70 62,5 %
menggunakan sphygmomanometer sebanyak 69

Tabel 3 Hubungan Antara Jenis Kelamin Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia di Wilayah
Kerja Puskesmas Petang I
Kejadian Hipertensi
Total X2/ RP/
Jenis Kelamin Ya Tidak
(p Value) (CI 95%)
n % n % N %
Perempuan 49 61,3 31 38,8 80 100 0,980
Laki-laki 20 62,5 12 37,5 32 100 0,015
(0,712-
(0,902)
Total 69 61,6 43 38,4 112 100 1,350)
*) bermakna pada = 0,05 uji dua sisi

Tabel 4 Hubungan Antara Genetik Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas
Petang I
Kejadian Hipertensi
Total X2/ RP/
Genetik Ya Tidak
(p Value) (CI 95%)
N % n % N %
Positif 33 75,0 11 25,0 44 100 1,417
5,496
Negatif 36 52,9 32 47,1 68 100 (1,069-
(0,019)
Total 69 61,6 43 38,4 112 100 1,877)
*) bermakna pada = 0,05 uji dua sisi

Pengumpulan data dilakukan dengan berdasarkan pengukuran menggunakan


menggunakan data primer, yaitu dengan sphygmomanometer, timbangan badan, dan
wawancara terstruktur menggunakan kuesioner dan meteran untuk data seperti tekanan darah, berat

6
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

badan, dan tinggi badan. Distribusi frekuensi faktor 70 orang dengan persentase 62,5 %, yang
yang berhubungan denganhipertensi dapat dilihat memilikitingkat stress yang rendah.
pada tabel 2. Analisis bivariat digunakan untuk
Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat distribusi mengetahui kemaknaan hubungan antara variabel
frekuensi faktor yang berhubungan dengan bebas (independent) yaitu jenis kelamin, genetik,
hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas obesitas, olah raga, merokok, konsumsi alkohol,
Petang I. Jumlah lansia di wilayah tersebut yang dan tingkat stress dengan variabel tergantung
memiliki status gizi yang normal adalah 41 orang (dependent) yaitu penyakit hipertensi. Analisis
(36,6%). Status gizi lansia di wilayah kerja bivariat dalam penelitian ini menggunakan
Puskesmas Petang I cenderung lebih banyak yang menggunakan uji chi-square dengan nilai = 0,05.
mengalami gizi berlebih dengan distribusi obesitas Dalam penelitian ini juga dihitung rasio prevalens
(n=49, 43,8%) dan overweight (n=15, 13,4%), dengan 95 % confidence interval.
dibandingkan status gizi kurang dengan distribusi Dalam analisis bivariat, data jenis kelamin
underweight (n=7, 6,3%). dikategorikan menjadi dua, yaitu perempuan dan
Untuk riwayat keluarga yang mengalami laki-laki. Hasil uji chi-square untuk menentukan
hipertensi (genetik), jumlah lansia yang memiliki hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian
riwayat hipertensi dalam keluarganya sebanyak 44 hipertensi dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.
lansia (39,3%). Sedangkan jumlah lansia yang tidak Tabel 3 menunjukan bahwa jumlah lansia
memiliki riwayat hipertensi dalam keluarganya yang mengalami hipertensi lebih banyak pada
berjumlah 68 lansia (60,7%). lansia yang berjenis kelamin perempuan, yaitu
Untuk aktivitas fisik seperti berolah raga, sebanyak 49 orang dibandingkan dengan lansia
sebagian besar lansia di wilayah kerja Puskesmas yang berjenis kelamin laki-laki. Sebanyak 80 orang
sudah rutin melakukannya (n=65,58%). Sejumlah lansia yang berjenis kelamin perempuan,
47 lansia (42%) mengaku jarang melakukan diantaranya terdapat 49 orang (61,3 %) yang
aktivitas fisik seperti berolah raga tersebut. mengalami hipertensi dan 31 orang (38,8 %) yang
Berdasarkan hasil penelitian diatas, rata- tidak mengalami hipertensi. Sedangkan dari 32
rata lansia yang memiliki kebiasaan/perilaku orang lansia yang berjenis kelamin laki-laki
merokok atau yang dulunya pernah mempunyai sebanyak 20 orang (62,5 %) mengalami hipertensi
kebiasaan/perilaku merokok tergolong rendah dan 12 orang (37,5 %) tidak mengalami hipertensi.
(n=24, 21,4%), dibandingka dengan jumlah lansia Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan
yang tidak memiliki kebiasaan/perilaku merokok chi-square didapatkan nilai p = 0,902 (p > 0,05),
(n=88, 78,6%). artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna
Distribusi frekuensi jumlah lansia yang tidak antara jenis kelamin dengan kejadian hipertensi.
memiliki kebiasaan mengkonsumsi alcohol Dari Tabel 3 juga dapat dilihat bahwa nilai RP =
sebanyak 100 lansia (89,3%). Hanya sejumlah 12 0,980 (RP < 1), yang artinya jenis kelamin
orang responden (10,7%) yang memiliki kebiasaan perempuan bukan merupakan faktor risiko untuk
atau perilaku mengkonsumsi alkohol. terjadinya hipertensi, melainkan merupakan faktor
Dari 112 responden penelitian, sebanyak 42 protektif. Namun dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa
orang responden yang memiliki tingkat stress yang rentang interval kepercayaan mencakup angka 1
tinggi dengan persentase 37,5 %. Sisanya sebanyak (IK 95% 0,712 sampai 1,350), yang artinya pada

7
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

populasi yang diwakili oleh sampel masih mungkin tidak memiliki riwayat hipertensi pada keluarga.
nilai rasio prevalensnya = 1. Ini berarti bahwa dari Dari Tabel 4 juga dapat dilihat bahwa rentang
data yang ada belum dapat disimpulkan bahwa interval kepercayaan tidak mencakup angka 1 (IK
faktor jenis kelamin perempuan yang dikaji benar- 95% 1,069 sampai 1,877), yang artinya pada
benar merupakan faktor protektif. Sehingga dapat populasi yang diwakili oleh sampel 95% RP
disimpulkan bahwa jenis kelamin perempuan terletak diantara 1,069 sampai 1,877. Sehingga
belum dapat dikatakan secara definitif sebagai dapat disimpulkan bahwa benar lansia yang
faktor yang berhubungan dengan terjadinya memiliki riwayat hipertensi pada keluarga
hipertensi pada kelompok lansia di wilayah kerja merupakan faktor yang berhubungan dengan
Puskesmas Petang I Kabupaten badung. terjadinya hipertensi pada pada kelompok lansia di
Dalam analisis bivariat, data faktor genetik wilayah kerja Puskesmas Petang I Kabupaten
dikategorikan menjadi dua, yaitu riwayat hipertensi badung.
pada keluarga positif dan riwayat hipertensi pada Dalam analisis bivariat, data Status gizi
keluarga negatif. Hasil uji chi-square untuk lansia dikategorikan menjadi dua, yaitu obesitas
menentukan hubungan antara faktor genetik dengan dan tidak obesitas. Hasil uji chi-square untuk
kejadian hipertensi dapat dilihat pada Tabel 4 menentukan hubungan antara obesitas dengan
berikut ini. Tabel 4 menunjukan bahwa jumlah kejadian hipertensi dapat dilihat pada Tabel 5
lansia yang mengalami hipertensi lebih banyak berikut ini.
pada lansia yang tidak memiliki riwayat hipertensi Tabel 5 menunjukan bahwa jumlah lansia
pada keluarga, yaitu sebanyak 36 orang yang mengalami hipertensi lebih banyak pada
dibandingkan dengan lansia yang memiliki riwayat lansia yang tidak obesitas, yaitu sebanyak 36 orang
hipertensi pada keluarga. Sebanyak 44 orang lansia dibandingkan dengan lansia yang obesitas.
yang memiliki riwayat hipertensi pada keluarga, Sebanyak 49 orang lansia yang obesitas,
diantaranya terdapat 33 orang (75,0 %) yang diantaranya terdapat 33 orang (67,3 %) yang
mengalami hipertensi dan 11 orang (25,0 %) yang mengalami hipertensi dan 16 orang (32,7 %) yang
tidak mengalami hipertensi. Sedangkan dari 68 tidak mengalami hipertensi. Sedangkan dari 63
orang lansia yang berjenis kelamin laki-laki orang lansia yang tidak obesitas sebanyak 36 orang
sebanyak 36 orang (52,9 %) mengalami hipertensi (51,7 %) mengalami hipertensi dan 27 orang (42,9
dan 32 orang (47,1 %) tidak mengalami hipertensi. %) tidak mengalami hipertensi.
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan
chi-square didapatkan nilai p = 0,019 (p < 0,05), chi-square didapatkan nilai p = 0,271 (p > 0,05),
artinya terdapat hubungan yang bermakna antara artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna
Genetik dengan kejadian hipertensi. Dari Tabel 4 antara obesitas dengan kejadian hipertensi. Dari
juga dapat dilihat bahwa nilai RP = 1,417 (RP > 1), Tabel 5 juga dapat dilihat bahwa nilai RP = 1,179
yang artinya lansia yang memiliki riwayat (RP > 1), yang artinya obesitas merupakan faktor
hipertensi pada keluarga merupakan faktor risiko risiko untuk terjadinya hipertensi. Namun dari
untuk terjadinya hipertensi, yakni lansia yang Tabel 7 dapat dilihat bahwa rentang interval
memiliki riwayat hipertensi pada keluarga kepercayaan mencakup angka 1 (IK 95% 0,882
mempunyai risiko untuk menderita hipertensi 1,417 sampai 1,574), yang artinya pada populasi yang
kali lebih besar dibandingkan dengan lansia yang diwakili oleh sampel masih mungkin nilai rasio

8
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

prevalensnya = 1. Ini berarti bahwa dari data yang dapat dikatakan secara definitif sebagai faktor yang
ada belum dapat disimpulkan bahwa faktor obesitas berhubungan dengan terjadinya hipertensi pada
yang dikaji benar-benar merupakan faktor risiko. kelompok lansia di wilayah kerja Puskesmas
Sehingga dapat disimpulkan bahwa obesitas belum Petang I Kabupaten badung.

Tabel 5 Hubungan Antara Obesitas Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia di Wilayah Kerja

Kejadian Hipertensi
Total X2/ RP/
Status Gizi Ya Tidak
(p Value) (CI 95%)
n % N % n %
Obesitas 33 67,3 16 32,7 49 100 1,179
1,213
Tidak Obesitas 36 51,7 27 42,9 63 100 (0,882-
(0,271)
Total 69 61,6 43 38,4 112 100 1,574)
*) bermakna pada = 0,05 uji dua sisi
Tabel 6 Hubungan Antara Olah Raga Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas
Petang I
Kejadian Hipertensi
Total X2/ RP/
Olah Raga Ya Tidak
(p Value) (CI 95%)
n % N % n %
Tidak rutin 35 74,5 12 25,5 47 100
5,663 1,424
Rutin 34 52,3 31 47,7 65 100
(0,017) (1,069-1,895)
Total 69 61,6 43 38,4 112 100
*) bermakna pada = 0,05 uji dua sisi

Dalam analisis bivariat, data olah raga olah raga dengan kejadian hipertensi. Dari Tabel 6
dikategorikan menjadi dua, yaitu tidak rutin juga dapat dilihat bahwa nilai RP = 1,424 (RP > 1),
berolah raga dan rutin berolah raga. Hasil uji chi- yang artinya lansia yang tidak rutin berolah raga
square untuk menentukan hubungan antara olah merupakan faktor risiko untuk terjadinya
raga dengan kejadian hipertensi dapat dilihat pada hipertensi, yakni lansia yang tidak rutin berolah
tabel 6 berikut ini. raga mempunyai risiko untuk menderita hipertensi
Tabel 6 menunjukan bahwa jumlah lansia 1,424 kali lebih besar dibandingkan dengan lansia
yang mengalami hipertensi lebih banyak pada yang rutin berolah raga. Dari Tabel 8 juga dapat
lansia yang tidak rutin berolah raga, yaitu sebanyak dilihat bahwa rentang interval kepercayaan tidak
35 orang dibandingkan dengan lansia yang rutin mencakup angka 1 (IK 95% 1,069 sampai 1,895),
berolah raga. Sebanyak 47 orang lansia yang tidak yang artinya pada populasi yang diwakili oleh
rutin berolah raga, diantaranya terdapat 35 orang sampel 95% RP terletak diantara 1,069 sampai
(74,5 %) yang mengalami hipertensi dan 12 orang 1,895. Sehingga dapat disimpulkan bahwa benar
(25,5 %) yang tidak mengalami hipertensi. lansia yang tidak rutin berolah raga merupakan
Sedangkan dari 65 orang lansia yang rutin berolah faktor yang berhubungan dengan terjadinya
raga sebanyak 34 orang (52,3 %) mengalami hipertensi pada pada kelompok lansia di wilayah
hipertensi dan 31 orang (47,7 %) tidak mengalami kerja Puskesmas Petang I Kabupaten badung.
hipertensi. Dalam analisis bivariat, data kebiasaan
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan merokok responden dikategorikan menjadi dua,
chi-square didapatkan nilai p = 0,017 (p < 0,05), yaitu merokok dan tidak merokok. Hasil uji chi-
artinya terdapat hubungan yang bermakna antara square untuk menentukan hubungan antara

9
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

merokok dengan kejadian hipertensi dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini.

Tabel 7 Hubungan Antara Merokok Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia di Wilayah Kerja
Kejadian Hipertensi
Kebiasaan Total X2/ RP/
Ya Tidak
Merokok (p Value) (CI 95%)
n % N % n %
Merokok 18 75,0 6 25,0 24 100 1,294
Tidak Merokok 51 58,0 37 42,0 88 100 2,316
(0,967-
(0,128)
Total 69 61,6 43 38,4 112 100 1,732)
*) bermakna pada = 0,05 uji dua sisi

Tabel 7 menunjukan bahwa jumlah lansia sampai 1,732), yang artinya pada populasi yang
yang mengalami hipertensi lebih banyak pada diwakili oleh sampel masih mungkin nilai rasio
lansia yang tidak merok, yaitu sebanyak 51 orang prevalensnya = 1. Ini berarti bahwa dari data yang
dibandingkan dengan lansia yang merokok. ada belum dapat disimpulkan bahwa faktor
Sebanyak 24 orang lansia yang merokok, merokok yang dikaji benar-benar merupakan faktor
diantaranya terdapat 18 orang (75,0 %) yang risiko. Sehingga dapat disimpulkan bahwa merokok
mengalami hipertensi dan 6 orang (25,0 %) yang belum dapat dikatakan secara definitif sebagai
tidak mengalami hipertensi. Sedangkan dari 88 faktor yang berhubungan dengan terjadinya
orang lansia yang tidak merokok sebanyak 51 hipertensi pada kelompok lansia di wilayah kerja
orang (58,0 %) mengalami hipertensi dan 37 orang Puskesmas Petang I Kabupaten badung.
(42,0 %) tidak mengalami hipertensi. Dalam analisis bivariat, data kebiasaan
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan konsumsi alkohol responden dikategorikan menjadi
chi-square didapatkan nilai p = 0,128 (p > 0,05), dua, yaitu mengkonsumsi alkohol dan tidak
artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna mengkonsumsi alkohol. Hasil uji Fishers Exact
antara merokok dengan kejadian hipertensi. Dari Test untuk menentukan hubungan antara konsumsi
Tabel 7 juga dapat dilihat bahwa nilai RP = 1,294 alkohol dengan kejadian Hipertensi dapat dilihat
(RP > 1), yang artinya merokok merupakan faktor pada tabel 8 berikut ini.
risiko untuk terjadinya hipertensi. Namun dari
Tabel 7 dapat dilihat bahwa rentang interval
kepercayaan mencakup angka 1 (IK 95% 0,967

Tabel 8 Hubungan Antara Konsumsi Alkohol Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia di Wilayah Kerja
Puskesmas Petang I
Kejadian Hipertensi
Konsumsi Total X2/ RP/
Ya Tidak
Alkohol (p Value) (CI 95%)
n % n % N %
Ya 10 83,3 2 16,7 12 100 1,412
2,682
Tidak 59 59,0 41 41,0 100 100 (1,045-
(0,125)
Total 69 61,6 43 38,4 112 100 1,909)
*) bermakna pada = 0,05 uji dua sisi

10
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

Tabel 9 Hubungan Antara Tingkat Stress Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas
Petang I
Kejadian Hipertensi
Tingkat Total X2/ RP/
Ya Tidak
Stress (p Value) (CI 95%)
n % n % N %
Stress 38 90,5 4 9,5 42 100 2,043
23,678
Tidak Stress 31 44,3 39 55,7 70 100 (1,543-
(<0,0001)
Total 69 61,6 43 38,4 112 100 2,704)

Tabel 8 menunjukan bahwa jumlah lansia kebiasaan mengkonsumsi alkohol dengan kejadian
yang mengalami hipertensi lebih banyak pada hipertensi.
lansia yang tidak mengkonsumsi alkohol, yaitu Dalam analisis bivariat, data tingkat stress
sebanyak 59 orang dibandingkan dengan lansia dikategorikan menjadi dua, yaitu stress dan tidak
yang mengkonsumsi alkohol. Sebanyak 12 orang stress. Hasil uji chi-square untuk menentukan
lansia yang mengkonsumsi alkohol, diantaranya hubungan antara tingkat stress dengan kejadian
terdapat 10 orang (83,3 %) yang mengalami hipertensi dapat dilihat pada tabel 9 berikut ini.
hipertensi dan 2 orang (16,7 %) yang tidak Tabel 9 menunjukan bahwa jumlah lansia
mengalami hipertensi. Sedangkan dari 100 orang yang mengalami hipertensi lebih banyak pada
lansia yang tidak mengkonsumsi alkohol sebanyak lansia yang mengalami stress, yaitu sebanyak 38
59 orang (59,0 %) mengalami hipertensi dan 41 orang dibandingkan dengan lansia yang tidak
orang (41,0 %) tidak mengalami hipertensi. mengalami stress. Sebanyak 42 orang lansia yang
Dari Tabel 8 juga dapat dilihat bahwa nilai mengalami stress, diantaranya terdapat 38 orang
RP = 1,421 (RP > 1), yang artinya kebiasaan (90,5 %) yang mengalami hipertensi dan 4 (9,5 %)
mengkonsumsi alkohol merupakan faktor risiko orang yang tidak mengalami hipertensi. Sedangkan
untuk terjadinya hipertensi, yakni lansia yang dari 70 orang lansia yang tidak mengalami stress
mengkonsumsi alkohol mempunyai risiko untuk sebanyak 31 orang (44,3 %) mengalami hipertensi
menderita hipertensi 1,421 kali lebih besar dan 39 orang (55,7 %) tidak mengalami hipertensi.
dibandingkan dengan lansia yang tidak Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan
mengkonsumsi alkohol. Dari Tabel 8 juga dapat chi-square didapatkan nilai p <0,0001 (p < 0,05),
dilihat bahwa rentang interval kepercayaan tidak artinya terdapat hubungan yang bermakna antara
mencakup angka 1 (IK 95% 1,045 sampai 1,909), tingkat stress dengan kejadian hipertensi. Dari
yang artinya pada populasi yang diwakili oleh Tabel 9 juga dapat dilihat bahwa nilai RP = 2,043
sampel 95% RP terletak diantara 1,045 sampai (RP > 1), yang artinya lansia yang mengalami
1,909. Sehingga dapat disimpulkan bahwa benar stress merupakan faktor risiko untuk terjadinya
lansia yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi hipertensi, yakni lansia yang mengalami stress
alkohol merupakan faktor yang berhubungan mempunyai risiko untuk menderita hipertensi 2,043
dengan terjadinya hipertensi pada pada kelompok kali lebih besar dibandingkan dengan lansia yang
lansia di wilayah kerja Puskesmas Petang I tidak mengalami stress. Dari Tabel 9 juga dapat
Kabupaten badung. Namun berdasarkan hasil uji dilihat bahwa rentang interval kepercayaan tidak
statistik menggunakan Fishers Exact Test mencakup angka 1 (IK 95% 1,543 sampai 2,704),
didapatkan nilai p = 0,125 (p > 0,05), yang artinya yang artinya pada populasi yang diwakili oleh
tidak terdapat hubungan yang bermakna antara sampel 95% RP terletak diantara 1,543 sampai

11
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

2,704. Sehingga dapat disimpulkan bahwa benar terjadinya recall bias. Recall Bias dapat terjadi
lansia yang mengalami stress merupakan faktor dalam menggali status keterpaparan responden
yang berhubungan dengan terjadinya hipertensi terhadap faktor risiko hipertensi yang sudah
pada pada kelompok lansia di wilayah kerja berlangsung sejak lama. Untuk meminimalisasi
Puskesmas Petang I Kabupaten badung. bias ini, peneliti membantu responden mengingat
kejadian penting yang terjadi bersamaan dengan
DISKUSI terjadinya paparan. Selain memiliki keterbatasan
Peneliti menyadari bahwa hasil penelitian daya ingat, beberapa orang juga cepat merasa jenuh
ini sangat jauh dari sempurna, yang diakibatkan dengan pertanyaan yang terlalu banyak sehingga
masih banyak kelemahan baik dari metodelogi pada saat menjawab responden terburu-buru atau
maupun dari aspek lain yang dapat mempengaruhi semaunya. Maka dari itu, pewawancara harus
hasil penelitian, maka sebelum membahas hasil memiliki kemampuan yang baik dalam mengatur
penelitian, peneliti terlebih dahulu mengemukakan jalannya wawancara sehingga responden tidak
beberapa keterbatasan pada penelitian ini. terlalu jenuh.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang Bias Pewawancara dapat terjadi dalam
dapat mempengaruhi hasil penelitian, antara lain, menginterpretasikan jawaban responden mengenai
Penelitian ini menggunakan desain studi cross- paparan faktor risiko yang kurang tersampaikan
sectional, sehingga penelitian ini hanya sebatas dengan baik. Bias pewawancara juga dapat terjadi
melihat ada tidaknya hubungan, tidak sampai pada pada komunikasi yang tidak berjalan baik saat
tahap untuk mencari hubungan sebab akibat antara wawancara dilakukan, hal itu mungkin disebabkan
variabel bebas dan variabel tergantung karena karena responden kurang memahami pertanyaan-
kedua variabel diteliti pada waktu yang bersamaan, pertanyaan yang disampaikan pewawancara.
Ketepatan diagnosis penyakit dapat menyebabkan Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah
bias. Bias dapat terjadi akibat terbatasnya validitas sistolik dan diastolik yang menetap. Tekanan darah
alat ukur, karena dalam penelitian ini untuk yang normal adalah 120/80 mmHg.12 Saat ini Cut-
mendiagnosis seseorang terkena hipertensi hanya off point yang biasa digunakan untuk menentukan
menggunakan pengukuran tekanan darah dan seseorang menderita hipertensi adalah berdasarkan
faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tekanan The Seventh Report of Joint NationalCommittee
darah tanpa adanya pemeriksaan laboratorium atau (JNC-7) tahun 2003 adalah dikatakan hipertensi
pemeriksaan diagnosis lainnya. Tekanan darah derajat 1, jika TDS 140-159 mmHg dan TDD 90-
responden dapat sewaktu-waktu berubah, hal ini 99, serta dikatakan hipertensi derajat 2, jika TDS
memungkinkan terjadinya bias misklasifikasi. 160 mmHg dan TDD 100 mmHg.6
Untuk menghindari terjadinya bias ini, maka Pada penelitian ini, hipertensi
pengukuran tekanan darah dilakukan sebanyak 2 dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu
kali dalam waktu yang berbeda. dan menanyakan dikatakan hipertensi, jika TDS 140 mmHg dan
kepada responden apakah pernah terdiagnosis atau TDD 90 mmHg dan tidak hipertensi, jika
hipertensi oleh dokter. TDS <140 mmHg dan atau TDD <90 mmHg.
Pada penelitian ini dapat terjadi recall bias Hasil penelitian di wilayah kerja Puskesmas
karena responden pada penelitian ini adalah usia Petang I didapatkan bahwa proporsi lansia yang
lanjut, diaman pada usia tersebut akan lebih tinggi menderita hipertensi (61,6%) jumlahnya lebih

12
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

banyak daripada lansia yang tidak menderita Menurut teori-teori dan hasil penelitian
hipertensi (38,4%). Keadaan ini sejalan dengan diketahui bahwa terdapat beberapa faktor yang
trend kejadian hipertensi dimana hipertensi terjadi mempengaruhi kejadian hipertensi pada seseorang,
pada 60-80% dari populasi lansia.7 Di Indonesia, terutama lansia. Diantaranya yaitu jenis kelamin,
kondisi yang ditemukan juga tidak jauh berbeda. konsumsi natrium, konsumsi lemak, konsumsi buah
Pada kelompok usia 25-44 tahun prevalensi dan sayur, konsumsi air, olah raga, merokok, stres
hipertensi (29%) lebih rendah dibandingkan serta obesitas. Hasil analisis data pada penelitian
kelompok usia 45-64 tahun (51%) dan prevalensi ini, yang meneliti hubungan antara beberapa faktor
hipertensi tertinggi pada kelompok usia >65 tahun tersebut dengan kejadian hipertensi, menunjukkan
(65%).4 Berdasarkan data tersebut, hipertensi pada terdapat beberapa faktor diatas yang berhubungan
lansia perlu mendapat perhatian khususnya bagi dengan kejadian hipertensi pada lansia di wilayah
pihak Puskesmas Petang I dalam mengendalikan kerja Puskesmas Petang I. Hubungan antara faktor
kejadian hipertensi tersebut. independen dengan faktor dependen tersebut akan
Pengendalian yang dapat dilakukan untuk dijelaskan pada sub bab berikutnya.
menurunkan angka kejadian hipertensi adalah Jenis kelamin merupakan tanda-tanda seks
dengan melakukan program gaya hidup sehat sekunder yang diperlihatkan oleh seseorang. Cara
seperti: tidak merokok, olah raga teratur, menentukan jenis kelamin pada penelitian ini
mengurangi asupan garam natrium, lemak, banyak adalah dengan melakukan pengamatan langsung
konsumsi buah dan sayur, mengontrol berat badan, pada responden. Faktor jenis kelamin berpengaruh
menciptakan suasana rileks dan lain-lain. Selain itu, pada terjadinya hipertensi, dimana pada usia muda
untuk mengendalikan agar seseorang yang dibawah 60 tahun, pria lebih banyak yang
terdiagnosis hipertensi diperlukan pengobatan menderita hipertensi dibandingkan wanita. Pria
hipertensi dalam mengurangi morbiditas dan diduga memiliki gaya hidup yang cenderung dapat
mortalitas kardiovaskular akibat dampak kelanjutan meningkatkan tekanan darah dibanding wanita.
dari tekanan darah tinggi. Perubahan gaya hidup Namun setelah memasuki menepouse, prevalensi
juga diperlukan terutama diet rendah garam. hipertensi pada wanita meningkat.11
Akibat yang ditimbulkan dari seseorang Bahkan setelah usia 65 tahun, terjadinya
yang menderita hipertensi baik pada lansia maupun hipertensi pada wanita lebih tinggi dibandingkan
orang dewasa muda adalah sama. Namun, pada dengan pria yang diduga diakibatkan oleh faktor
lansia risiko terjadinya komplikasi lebih besar.6 hormonal. Hal tersebut dikarenakan adanya
Dalam Gray (2005) dan Suhardjono (2006) pengaruh hormon estrogen yang dapat melindungi
diketahui bahwa hipertensi yang tidak diobati akan wanita dari penyakit kardiovaskuler. Kadar hormon
mempengaruhi semua sistem organ dan ini akan menurun setelah menepouse.13
memperpendek harapan hidup sebesar 10-20 tahun. Efek perlindungan estrogen dianggap
Selain itu, efek dari penurunan tekanan darah dapat sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada
mencegah demensia dan penurunan kognitif serta usia premenopause. Pada premenopause wanita
terjadinya kerusakan organ yang berkaitan dengan mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon
derajat keparahan dari penyakit hipertensi tersebut, estrogen yang selama ini melindungi pembuluh
seperti penyakit jantung, gagal ginjal, stroke, darah dari kerusakan.
penyakit mata dan pembuluh darah.

13
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

Dari hasil penelitian ini walaupun jumlah Namun jenis kelamin perempuan belum dapat
absolut lansia yang mengalami hipertensi dikatakan secara definitif sebagai faktor yang
didapatkan lebih banyak pada lansia yang berjenis berhubungan dengan terjadinya hipertensi pada
kelamin perempuan, yaitu sebanyak 49 orang kelompok lansia di wilayah kerja Puskesmas
dibandingkan dengan lansia yang berjenis kelamin Petang I Kabupaten badung. Hal itu karena dari
laki-laki sebanyak 20 orang. Hal ini mungkin hasil analisis didapatkan rentang interval
dipengaruhi oleh sampel pada penelitian ini yang kepercayaan mencakup angka 1 (IK 95% 0,712
71,4 % adalah perempuan, karena berdasarkan sampai 1,350), yang artinya pada populasi yang
proporsinya sebanyak 80 orang lansia yang berjenis diwakili oleh sampel masih mungkin nilai rasio
kelamin perempuan, diantaranya terdapat 49 orang prevalensnya = 1. Ini berarti bahwa dari data yang
(61,3 %) yang mengalami hipertensi. Proporsi ini ada belum dapat disimpulkan bahwa faktor jenis
sedikit lebih rendah dibandingkan proporsi lansia kelamin perempuan yang dikaji benar-benar
yang berjenis kelamin laki-laki yang mengalami merupakan faktor protektif. Dari hasil uji statistik
hipertensi, yaitu 62,5 %. Banyak faktor yang menggunakan chi-square didapatkan nilai p =
diduga dapat menyebabkan mengapa pada 0,902 (p > 0,05), artinya tidak terdapat hubungan
penelitian ini didapatkan lansia berjenis kelamin yang bermakna antara jenis kelamin dengan
laki-laki yang mengalami hipertensi proporsinya kejadian hipertensi. Dengan demikian penelitian ini
hampir sama dibandingkan dengan lansia berjenis tidak dapat membuktikan bahwa pada usia lanjut
kelamin perempuan yang mengalami hipertensi. perempuan mempunyai risiko hipertensi yang lebih
Salah satu diantaranya adalah adanya faktor lain besar dari pada laki-laki. Dengan kata lain, hasil
yang mendukung seperti faktor psikologis. Salah penelitian ini menunjukkan hubungan yang
satu contohnya adalah baik perempuan maupun berlawanan dengan teori-teori yang disebutkan
laki-laki ketika memasuki usia lansia akan diatas. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh
memiliki kecenderungan untuk mengalami depresi telah menebalnya dinding arteri akibat dari
atau stres. Hal itu dapat disebabkan oleh status akumulasi menumpuknya zat kolagen pada lapisan
pekerjaan ataupun sudah tidak bekerja lagi otot selama bertahun-tahun, yang berdampak pada
(pengangguran). Selain itu, seseorang yang penyempitan dan pengerasan pembuluh darah.
pendapatannya rendah kurang memanfaatkan Selain itu, dapat pula disebabkan oleh penurunan
pelayanan kesehatan yang ada sehingga kurang refleks baroreseptor dan fungsi ginjal. Sehingga
mendapatkan pengobatan yang baik ketika hal-hal tersebut dapat memicu timbulnya hipertensi
14
seseorang menderita hipertensi. tanpa memandang jenis kelamin laki-laki ataupun
Berdasarkan hasil uji statistik dari penelitian perempuan (Kumar, et all, 2005). Price dan Wilson
ini dapat dilihat bahwa nilai RP = 0,980 (RP < 1), (2002) menambahkan bahwa penyebab hipertensi
yang artinya jenis kelamin perempuan bukan dapat disebabkan pula oleh penurunan elastisitas
merupakan faktor risiko untuk terjadinya pembuluh darah sehingga pembuluh darah menjadi
hipertensi, melainkan sebaliknya merupakan faktor kaku. Pembuluh darah tidak dapat menjalankan
protektif untuk terjadinya hipertensi. Lansia yang fungsinya dengan baik untuk mengembang pada
berjenis kelamin perempuan memiliki risiko 0,980 saat jantung memompa darah melalui pembuluh
kali untuk menderita hipertensi dibandingkan darah, sehingga jantung harus meningkatkan
dengan lansia yang berjenis kelamin laki-laki. denyutnya pada pembuluh darah yang menyempit

14
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

agar aliran darah dapat didistribusikan keseluruh satu orang tuanya yang menderita hipertensi maka
tubuh. Hal ini menyebabkan naiknya tekanan sekitar 30% akan turun ke anak-anaknya.11
darah. Pada penelitian ini juga dapat dilihat bahwa
Hasil penelitian Sulistiani (2005) diketahui nilai RP = 1,417 (RP > 1), yang artinya lansia yang
bahwa faktor jenis kelamin tidak ada hubungan memiliki riwayat hipertensi pada keluarga
yang signifikan antara jenis kelamin dengan merupakan faktor risiko untuk terjadinya
kejadian hipertensi. Namun penelitian Yuliarti hipertensi, yakni lansia yang memiliki riwayat
(2007), diketahui bahwa ada hubungan yang hipertensi pada keluarga mempunyai risiko untuk
signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian menderita hipertensi 1,417 kali lebih besar
hipertensi. Hal tersebut menunjukkan bahwa dibandingkan dengan lansia yang tidak memiliki
kejadian hipertensi pada perempuan dipengaruhi riwayat hipertensi pada keluarga. Pada penelitian
oleh kadara hormon estrogen. Hormon estrogen ini juga dapat dilihat bahwa rentang interval
tersebut akan menurun kadarnya ketika perempuan kepercayaan tidak mencakup angka 1 (IK 95%
memasuki usia tua (menepouse) sehingga 1,069 sampai 1,877), yang artinya pada populasi
perempuan menjadi lebih rentan terhadap yang diwakili oleh sampel 95% RP terletak
hipertensi. diantara 1,069 sampai 1,877. Sehingga dapat
Faktor genetik mempertinggi risiko terkena disimpulkan bahwa benar lansia yang memiliki
penyakit hipertensi, terutama pada hipertensi riwayat hipertensi pada keluarga merupakan faktor
primer (esensial). Yang dimaksud dengan faktor yang berhubungan dengan terjadinya hipertensi
genetik pada penelitian ini adalah apakah pada pada pada kelompok lansia di wilayah kerja
keluarga responden terdapat riwayat anggota Puskesmas Petang I Kabupaten badung.
keluarga yang menderita hipertensi. Cara Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil
pengukuran dengan melakukan wawancara penelitian yang dilakukan oleh Suciyati dan Adnan
terstruktur secara langsung pada responden, dan pada tahun 2013. Penelitian yang bertujuan untuk
ditulis pada kuesioner wawancara. Tentunya faktor mengetahui prevalensi hipertensi dan faktor-faktor
genetik ini tidak berdiri sendiri, faktor ini juga yang berhubungan dengan hipertensi pada lansia
diperngaruhi faktor-faktor lingkungan lain. Faktor tersebut merupakan penelitian kuantitatif dengan
genetik juga berkaitan dengan metabolisme desain studi cross sectional pada lansia yang
pengaturan garam dan renin membran sel.11 terdaftar di posyandu lansia wilayah Kecamatan
Pada penelitian yang dilakukan pada 112 Johar Jakarta Pusat. Dari hasil penelitian tersebut
lansia di wilayah kerja Puskesmas Petang I didapatkan bahwa riwayat hipertensi pada keluarga
Kabupaten Badung ini, berdasarkan hasil uji terbukti sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi
statistik menggunakan chi-square didapatkan nilai berdasarkan hasil uji statistik yang ditunjukan
p = 0,019 (p < 0,05), artinya terdapat hubungan dengan nilai p < 0,05. Kemungkinan terjadinya
yang bermakna antara Genetik dengan kejadian hipertensi pada mereka yang memiliki riwayat
hipertensi. Hipertensi cenderung merupakan hipertensi pada keluarga adalah sebesar 3,216 kali
penyakit keturunan. Menurut Davidson bila kedua dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat
orang tuanya menderita hipertensi maka sekitar hipertensi pada keluarga.
45% akan turun ke anak-anaknya dan bila salah Menurut Black dan Hawks (2005) seseorang
yang mempunyai riwayat hipertensi pada keluarga

15
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

akan mempunyai risiko yang lebih besar untuk orang, sementara lansia yang mengalami obesitas
mengalami hipertensi. Hal ini terjadi karena sejumlah 49 orang. Dilihat dari segi proporsi,
seseorang yang mempunyai riwayat keluarga didapatkan bahwa proporsi lansia yang obesitas
hipertensi beberapa gennya akan berinteraksi yang menderita hipertensi adalah 67,3 %. Proporsi
dengan lingkungan dan menyebabkan peningkatan ini lebih besar dibandingkan dengan proporsi lansia
tekanan darah. Peran faktor genetik terhadap yang tidak obesitas yang menderita hipertensi,
timbulnya hipertensi terbukti dengan ditemukannya yaitu sebesar 51,7%. Berdasarkan hasil uji statistik
kejadian bahwa hipertensi lebih banyak pada menggunakan chi-square didapatkan nilai p =
kembar monozigot (satu sel telur) daripada 0,271 (p > 0,05), artinya tidak terdapat hubungan
heterozigot (berbeda sel telur). Seorang penderita yang bermakna antara obesitas dengan kejadian
yang mempunyai sifat genetik hipertensi primer hipertensi. Juga dapat dilihat bahwa nilai RP =
(esensial) apabila dibiarkan secara alamiah tanpa 1,179 (RP > 1), namun dari dengan rentang interval
intervensi terapi, bersama lingkungannya akan kepercayaan mencakup angka 1 (IK 95% 0,882
menyebabkan hipertensinya berkembang dan dalam sampai 1,574), yang artinya pada populasi yang
waktu sekitar 30 50 tahun akan timbul tanda dan diwakili oleh sampel masih mungkin nilai rasio
gejala.14 prevalensnya = 1. Ini berarti bahwa dari data yang
Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian ada belum dapat disimpulkan bahwa obesitas yang
yang dilakukan oleh Fatrina Yossi pada lansia di dikaji benar-benar merupakan faktor risiko.
wilayah kerja Puskesmas Kebon Sikolos Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada penelitian
Kecamatan Padang Panjang Barat tahun 2014. Dari ini obesitas belum dapat dikatakan secara definitif
penelitian tersebut didapatkan bahwa hubungan sebagai faktor yang berhubungan dengan terjadinya
antara faktor keturunan dengan kejadian hipertensi hipertensi pada kelompok lansia di wilayah kerja
pada lansia ada hubungan bermakna (p = 0,090 , p Puskesmas Petang I Kabupaten badung. Dengan
0,1), dari 52 responden yang memiliki riwayat demikian penelitian ini tidak dapat membuktikan
penderita hipertensi terdapat 32 responden (61,5%) bahwa lansia yang mengalami obesitas mempunyai
yang menderita hipertensi. risiko hipertensi yang lebih besar dari pada lansia
Obesitas berkaitan dengan kegemaran yang tidak obesitas. Dengan kata lain, hasil
mengkonsumsi makanan tinggi lemak serta penelitian ini menunjukkan hubungan yang
meningkatkan risiko terjadinya hipertensi akibat berlawanan dengan teori-teori yang disebutkan
faktor lain. Makin besar massa tubuh, akan diatas.
meningkat volume darah yang dibutuhkan untuk Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
memasok oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. dilakukan oleh Siringoringo (2013). Pada penelitian
Akibatnya, dinding arteri akan mendapatkan tersebut didapatkan dari 33 responden yang
tekanan yang lebih besar yang menyebabkan obesitas, terdapat 24 responden yang menderita
terjadinya kenaikan tekanan darah. Selain itu, hipertensi. Dari Uji Statistik didapatkan p = 0,160
kelebihan berat badan juga meningkatkan frekuensi (p>0,05) sehingga tidak terdapat hubungan yang
15
denyut jantung. bermakna antara obesitas dengan kejadian
Pada penelitian ini, didapatkan bahwa hipertensi pada lansia. Namun hasil penelitian ini
kecenderungan lansia di wilayah Kerja Puskesmas berlawanan dengan penelitian Anggara (2012)
Petang I tidak mengalami obesitas, sejumlah 63

16
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

bahwa ditemukan hubungan yang bermakna antara agar dapat memberikan kebugaran jasmani dalam
obesitas dengan kejadian hipertensi. seminggu minimal 30 menit, minimal 3-4 kali
Tidak terdapatnya hubungan tersebut seminggu.11
kemungkinan disebabkan karena adanya Pada penelitian ini data dikategorikan
peningkatan sistem simpatis. Peningkatan sistem menjadi dua, yaitu tidak rutin berolah raga, jika
simpatis ini sejalan dengan hasil tabulasi silang responden tidak pernah berolah raga, atau berolah
antara obesitas dengan kejadian stres, yaitu raga namun durasi olah raga < 30 menit dan atau
diketahui bahwa kejadian stres lebih banyak frekuensinya < 3 kali dalam seminggu. Dan rutin
didapatkan pada lansia yang tidak obesitas. Artinya berolah raga jika responden rutin berolah raga
aktivitas saraf simpatis yang mengatur fungsi saraf minimal 30 menit, dan minimal 3-4 kali
18
dan hormon dapat menyebabkan peningkatkan seminggu. Olah raga yang teratur dapat
denyut jantung, penyempitan arteri (vasokonstriksi) membantu menurunkan tekanan darah dan
serta peningkatan retensi air dan natrium.16 bermanfaat bagi penderita hipertensi ringan. Pada
Di samping itu, kondisi lain yang juga orang tertentu dengan melakukan olah raga aerobik
berperan adalah sistem renin-angiotensin. Sistem yang teratur dapat menurunkan tekanan darah.11
ini erat kaitannya dengan natrium atau garam yang Pada penelitian ini didapatkan bawha lansia
dikonsumsi, yang pada penelitian ini faktor resiko di wilayah kerja Puskesmas Petang I Kabupaten
tersebut tidak dievaluasi. Dalam darah renin Badung cenderung lebih banyak melakukan
mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin. aktifitas atau kegiatan olah raga secara rutin.
Angiotensin ini dapat menyebabkan diameter Namun diperoleh hasil bahwa jumlah absolut lansia
pembuluh darah mengecil. Sementara renin yang tidak rutin berolah raga yang menderita
memicu produksi aldosteron, yang berfungsi untuk hipertensi sedikit lebih tingi dibandingkan lansia
mengatur volume cairan ekstraseluler. Jika natrium yang tidak rutin berolah raga yang menderita
meningkat maka aldosteron akan mengurangi hipertensi. Dari segi proporsi, proporsi lansia yang
pengeluaran natrium dengan cara meningkatkan tidak berolah raga yang menderita hipertensi adalah
reabsorbsi natrium di tubulusginjal. Hal ini 74,5 %. Proporsi ini lebih besar dibandingkan
menyebabkan natrium dalam darah meningkat, dengan proporsi lansia yang berolah raga yang
dimana natrium mempunyai sifat retensi air dalam menderita hipertensi, yaitu sebesar 52,3 %. Artinya
pembuluh darah, sehingga menyebabkan volume adalah risiko hipertensi akan lebih tinggi pada
darah menjadi naik dan hal itu secara otomatis seseorang yang tidak berolah raga daripada yang
17
menyebabkan tekanan darah meningkat . melakukan olah raga. Berbagai penelitian
Menurut Depkes (2006) diketahui rata-rata menyebutkan bahwa berolahraga secara teratur
kasus hipertensi mengalami penurunan tekanan merupakan intervensi pertama untuk
darah dengan mengurangi asupan garam. Jadi mengendalikan berbagai penyakit degeneratif
meskipun seseorang itu memiliki indeks massa (tidak menular). Hasilnya secara teratur terbukti
tubuh yang underweight atau normal tetapi jika bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah,
konsumsi natriumnya berlebih maka seseorang mengurangi risiko stroke, serangan jantung, dan
memiliki risiko hipertensi. lain-lain. Pengaruh olahraga dalam jangka panjang
Olah raga adalah kegiatan latihan fisik sekitar empat sampai enam bulan dapat
sehari-hari yang dilakukan seseorang secara teratur menurunkan tekanan darah sebesar 7,4/5,8 mmHg

17
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

tanpa bantuan obat hipertensi. Pengaruh penurunan intensitas tertentu, penurunan lemak badan dan
tekanan darah ini dapat berlangsung sampai sekitar berat badan serta menurunkan tekanan darah.19
20 jam setelah berolahraga.14 Merokok adalah kebiasaan/perilaku
Dari hasil analisis uji statistik menggunakan menghisap rokok dan pernah merokok dalam
chi-square pada penelitian ini didapatkan nilai p = kehidupan responden. Data dikategorikan menjadi
0,017 (p < 0,05), artinya terdapat hubungan yang dua, yaitu merokok jika saat ini responden
bermakna antara olah raga dengan kejadian memiliki kebiasaan/perilaku merekok dan atau
hipertensi. Juga didapatkan bahwa nilai RP = 1,424 pernah memiliki kebiasaan/ perilaku merokok
(RP > 1), dengan rentang interval kepercayaan sebelumnya baik itu merupakan perokok ringan,
tidak mencakup angka 1 (IK 95% 1,069 sampai perokok sedang, maupun perokok berat. Dan tidak
1,895), yang artinya pada populasi yang diwakili merokok jika responden menyatakan dirinya tidak
oleh sampel 95% RP terletak diantara 1,069 sampai memiliki kebiasaan/perilaku merekok dan atau
1,895. Sehingga dapat disimpulkan bahwa lansia tidak pernah memiliki kebiasaan/ perilaku merokok
yang tidak rutin berolah raga merupakan faktor sebelumnya. Zat-zat kimia beracun seperti nikotin
risiko untuk terjadinya hipertensi, yakni lansia yang dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok
tidak rutin berolah raga mempunyai risiko untuk yang masuk ke dalam aliran darah dapat merusak
menderita hipertensi 1,424 kali lebih besar lapisan endotel pembuluh darah arteri,dan
dibandingkan dengan lansia yang rutin berolah mengakibatkan proses artereosklerosis, dan tekanan
raga. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang darah tinggi. Pada studi autopsi, dibuktikan kaitan
dilakukan oleh Sutangi dan Winantri pada 182 erat antara kebiasaan merokok dengan adanya
lansia yang berjenis kelamin perempuan di Posbidu artereosklerosis pada seluruh pembuluh darah.
desa Sukaurip Kecamatan Balongan Indramayu Merokok juga meningkatkan denyut jantung dan
pada tahun 2013. Dari hasil analisa penelitian yang kebutuhan oksigen untuk disuplai ke otot-otot
menggunakan desain studi case control tersebut jantung. Merokok pada penderita tekanan darah
melalui Uji Chi Square dengan tingkat kepercayaan tinggi semakin meningkatkan risiko kerusakan
95% (p = 0,05) didapatkan nilai p(value) = 0,043 pada pernbuluh darah arteri.11
pada =0,05. Karena nilai p(value) 0,043 <0,05 Dari 112 sampel pada penelitian ini,
yang berarti menunjukkan bahwa ada hubungan didapatkan bahwa kecenderungan lansia di wilayah
antara faktor resiko pola aktifitas fisik dengan Kerja Puskesmas Petang I memiliki kebiasaan tidak
kejadian hipertensi pada wanita lansia di Posbindu merokok, yakni sebanyak 88 orang. Lansia yang
desa Sukaurip. Nilai OR = 2,917 ; CI=95% (8,447 memiliki kebiasaan merokok hanya sejumlah 24
1,007) yang berarti bahwa wanita lansia di orang. Kecenderungan mungkin dipengaruhi oleh
Posbindu desa Sukaurip yang tidak ada aktifitas sampel pada penelitian ini yang 71,4 % adalah
fisik beresiko untuk terkena hipertensi 2,917 lebih perempuan, karena berdasarkan hasil survei, rata-
besar daripada wanita lansia di Posbindu desa rata lansia yang berjenis kelamin perempuan tidak
sukaurip yang ada pola aktifitas fisik. Melalui memiliki kebiasaan merokok dibandingkan dengan
kegiatan olahraga, jantung dapat bekerja secara lansia berjenis kelamin laki-laki. Namun dari segi
lebih efisien. Frekuensi denyut nadi berkurang, proporsi didapatkan bahwa proporsi lansia yang
namun kekuatan memompa jantung semakin kuat, merokok yang menderita hipertensi adalah 75,0 %.
penurunan kebutuhan oksigen jantung pada Proporsi ini lebih besar dibandingkan dengan

18
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

proporsi lansia yang tidak merokok yang menderita mempengaruhi kesehatan seseorang yang tidak
hipertensi, yaitu sebesar 58,0 %. Akan tetapi merokok disekitar perokok. Dampak bahaya
berdasarkan hasil uji statistik menggunakan chi- merokok tidak langsung bisa dirasakan dalam
square didapatkan nilai p = 0,128 (p > 0,05), jangka pendek tetapi terakumulasi beberapa tahun
artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna kemudian, terasa setelah 10-20 tahun pasca
antara merokok dengan kejadian hipertensi. Juga terpapar. Penelitian ini tidak sejalan dengan
dapat dilihat bahwa nilai RP = 1,294 (RP > 1), penelitian yang dilakukan oleh Ftrina Yossi pada
namun dari dengan rentang interval kepercayaan tahun 2014. Hubungan antara merokok dengan
mencakup angka 1 (IK 95% 0,967 sampai 1,732), kejadian hipertensi didapatkan dari 43 responden
yang artinya pada populasi yang diwakili oleh yang merokok, terdapat 28 responden yang
sampel masih mungkin nilai rasio prevalensnya = menderita hipertensi. Dari Uji Statistik didapatkan
1. Ini berarti bahwa dari data yang ada belum dapat p = 0,092 (p 0,1) sehingga terdapat hubungan
disimpulkan bahwa faktor merokok yang dikaji yang bermakna antara kebiasaan merokok dengan
benar-benar merupakan faktor risiko. Sehingga kejadian hipertensi pada lanjut usia.
dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini Konsumsi alkohol adalah kebiasaan/perilaku
merokok belum dapat dikatakan secara definitif meminum alkohol dan pernah minum alkohol
sebagai faktor yang berhubungan dengan terjadinya dalam kehidupan responden. Pada penelitian ini
hipertensi pada kelompok lansia di wilayah kerja data dikategorikan menjadi dua, yaitu
Puskesmas Petang I Kabupaten badung. mengkonsumsi alkohol jika saat ini responden
Dengan demikian penelitian ini tidak dapat memiliki kebiasaan/perilaku mengkonsumsi
membuktikan bahwa lansia yang memiliki alkohol dan atau pernah memiliki kebiasaan/
kebiasaan merokok mempunyai risiko hipertensi perilaku mengkonsumsi alkohol sebelumnya. Dan
yang lebih besar dari pada lansia yang tidak tidak mengkonsumsi alkohol jika responden
memiliki kebiasaan merokok. Dengan kata lain, menyatakan dirinya tidak memiliki
hasil penelitian ini menunjukkan hubungan yang kebiasaan/perilaku mengkonsumsi alkohol dan atau
berlawanan dengan teori-teori yang disebutkan tidak pernah memiliki kebiasaan/ perilaku
diatas. Tidak terdapatnya hubungan antara merokok mengkonsumsi alkohol sebelumnya. Mekanisme
dengan kejadian hipertensi kemungkinan peningkatan tekanan darah akibat alkohol masih
disebabkan oleh responden yang tidak pernah belum jelas. Namun, diduga peningkatan kadar
merokok dulunya memiliki riwayat terpapar rokok kortisol, dan peningkatan volume sel darah merah
ataupun asapnya. Bagi lansia perempuan yang tidak serta kekentalan darah berperan dalam menaikan
merokok kemungkinan besar terpapar oleh asap tekanan darah. Beberapa studi menunjukkan
rokok yang dikonsumsi oleh sanak keluarganya. hubungan langsung antara tekanan darah dan
Sehingga berdampak pada kesehatannya dalam asupan alkohol, dan diantaranya melaporkan bahwa
waktu beberapa tahun kemudian setelah memasuki efek terhadap tekanan darah baru nampak apabila
usia tua. Depkes (2008) menambahkan bahwa asap mengkonsumsi alkohol sekitar 2-3 gelas ukuran
dari rokok juga berdampak terhadap orang yang standar setiap harinya.20
menghirupnya (disebut perokok pasif) untuk Dari 112 sampel pada penelitian ini,
terjadinya penyakit. Para ilmuwan membuktikan didapatkan bahwa kecenderungan lansia di wilayah
bahwa zat-zat kimia didalam rokok juga Kerja Puskesmas Petang I memiliki kebiasaan tidak

19
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

mengkonsumsi alkohol, yakni sebanyak 88 orang. lansia di wilayah kerja Puskesmas Petang I
Lansia yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi Kabupaten badung.
alkohol hanya sejumlah 12 orang. Sekali lagi, Hasil penelitian ini dapat dipengaruhi oleh
kecenderungan mungkin saja dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti banyaknya alkohol yang
sampel pada penelitian ini yang 71,4 % adalah dikonsumsi tiap harinya. Konsumsi alkohol
perempuan, karena berdasarkan hasil survei, rata- seharusnya kurang dari dua kali per hari pada laki-
rata lansia yang berjenis kelamin perempuan laki untuk pencegahan peningkatan tekanan darah.
memang tidak memiliki kebiasaan mengkonsumsi Bagi perempuan dan orang yang memiliki berat
alkohol dibandingkan dengan lansia berjenis badan berlebih, direkomendasikan tidak lebih dari
kelamin laki-laki. Namun dari segi proporsi 1 kali minum per hari.20 Di negara barat seperti
didapatkan bahwa proporsi lansia yang Amerika, konsumsi alkohol yang berlebihan
mengkonsumsi alkohol yang menderita hipertensi berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi. Sekitar
adalah 83,3 %. Proporsi ini jauh lebih besar 10% hipertensi di Amerika disebabkan oleh asupan
dibandingkan dengan proporsi lansia yang tidak alkohol yang berlebihan di kalangan pria separuh
mengkonsumsi alkohol yang menderita hipertensi, baya.11
yaitu sebesar 59,0 %. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh
Dari hasil analisis penelitian dapat dilihat Rachman Fauzia, dkk. pada tahun 2011 yang
bahwa nilai RP = 1,421 (RP > 1), yang artinya bertujuan untuk mengetahui berbagai faktor yang
kebiasaan mengkonsumsi alkohol merupakan berhubungan dengan kejadian hipertensi pada
faktor risiko untuk terjadinya hipertensi, yakni lansia menyebutkan bahwa konsumsi alkohol tidak
lansia yang mengkonsumsi alkohol mempunyai berpengaruh terhadap timbulnya faktor risiko
risiko untuk menderita hipertensi 1,421 kali lebih hipertensi dengan nilai p = 0,42; RP = 0,28 dan
besar dibandingkan dengan lansia yang tidak 95% Cl = 0,01 5,06. Meskipun demikian, tidak
mengkonsumsi alkohol. Dan dapat dilihat bahwa berarti bahwa konsumsi alkohol tidak berisiko
rentang interval kepercayaan tidak mencakup hipertensi. Konsumsi secara berlebihan alkohol dan
angka 1 (IK 95% 1,045 sampai 1,909), yang artinya kafein yang terdapat dalam minuman kopi, teh dan
pada populasi yang diwakili oleh sampel 95% RP kola akan meningkatkan risiko terjadinya hipertensi
terletak diantara 1,045 sampai 1,909. Namun pada seseorang. Alkohol bersifat meningkatkan
berdasarkan hasil uji statistik menggunakan aktivitas saraf simpatis karena dapat merangsang
Fishers Exact Test didapatkan nilai p = 0,125 (p > sekresi corticotrophin releasing hormone (CRH)
0,05). Jadi pada penelitian ini, berdasakan analisis yang akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.
menggunakan Fishers Exact Test menyatakan Stres merupakan respon fisiologik,
bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna psikologik, dan perilaku seseorang untuk
antara kebiasaan mengkonsumsi alkohol dengan penyesuaian diri terhadap tekanan (Cahyono,
kejadian hipertensi. Namun dilihat dari nilai RP 2008). Sedangkan menurut Hawari (2001), stress
dengan IK 95% dapat disimpulkan bahwa benar adalah respons tubuh yang sifatnya non spesifik
lansia yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi terhadap setiap tuntutan beban atasnya (stresor
alkohol merupakan faktor yang berhubungan psikososial) yang berefek pada sistem
dengan terjadinya hipertensi pada pada kelompok kardiovaskuler. Stres juga dapat merangsang ginjal
melepaskan hormone adrenalin, yang menyebabkan

20
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

tekanan darah naik dan meningkatkan kekentalan masyarakat, karena dapat menimbulkan tekanan
14
darah. psikis. Hasil penelitian Sigalarki (2006) didapatkan
Hormon adrenalin berperan dalam bahwa responden yang mengalami stress pada
mempercepat denyut jantung serta berpengaruh penderita hipertensi disebabkan oleh salah satu
pada penyempitan pembuluh darah. Akibatnya faktor yaitu sosial ekonomi. Hal ini sejalan dengan
Jantung akan berdenyut lebih kuat sehingga dapat hasil penelitian Syaifuddin (2006) dan Sutanto
meningkatkan tekanan darah. (2010) yang menyatakan hubungan antara stres
Pada penelitian ini, didapatkan lansia di dengan hipertensi diakibatkan melalui aktivitas
wilayah Kerja Puskesmas Petang I lebih cenderung saraf simpatis sehingga terjadi kenaikan denyut
tidak mengalami stres, sejumlah 70 orang. Lansia jantung, penyempitkan pembuluh darah, dan
yang mengalami stres sejumlah 42 orang. Namun, peningkatkan retensi air dan garam.
hasil jumlah absolut lansia yang mengalami stres Dari hasil analisis uji statistik menggunakan
yang menderita hipertensi sedikit lebih tingi chi-square pada penelitian ini didapatkan nilai p
dibandingkan lansia yang tidak mengalami stres <0,0001 (p < 0,05), artinya terdapat hubungan yang
yang menderita hipertensi. Dari segi proporsi, bermakna antara stres dengan kejadian hipertensi.
didapatkan bahwa proporsi lansia yang mengalami Juga didapatkan bahwa nilai RP = 2,043 (RP > 1),
stres yang menderita hipertensi adalah 90,5 %. dengan rentang interval kepercayaan tidak
Proporsi ini lebih besar dibandingkan dengan mencakup angka 1 (IK 95% 1,543 sampai 2,704),
proporsi lansia yang tidak mengalami stres yang yang artinya pada populasi yang diwakili oleh
menderita hipertensi, yaitu sebesar 44,3%. Artinya, sampel 95% RP terletak diantara 1,543 sampai
risiko hipertensi akan lebih tinggi pada seseorang 2,704. Sehingga dapat disimpulkan bahwa lansia
yang mengalami stresdibandingkan dengan yang yang mengalami stres merupakan faktor risiko
tidak mengalami stres. Menurut Sutanto (2010), untuk terjadinya hipertensi, yakni lansia yang
stres dianggap sebagai suatu yang buruk ketika mengalmi stres mempunyai risiko untuk menderita
seseorang tidak mampu menanggulangi stressor hipertensi 2,043 kali lebih besar dibandingkan
dengan baik. Peningkatan darah akan lebih besar dengan lansia yang tidak mengalami.
pada individu yang mempunyai kecenderungan Hasil dari penelitian ini sejalan dengan
stress emosional yang tinggi. Bagi wanita berusia penelitian yang dilakukan oleh Andria (2012) pada
45-64 tahun, sejumlah faktor psikososial seperti 107 lansia di dua posyandu lansia di Kelurahan
keadaan tegangan, ketidakcocokan perkawinan, Gebang Putih Kecamatan Sukolilo kota Surabaya
tekanan ekonomi, stress harian, mobilitas dari bulan September 2012 sampai Juni 2013. Dari
pekerjaan, gejala ansietas dan kemarahan hasil analisa penelitian yang menggunakan desain
terpendam didapatkan bahwa hal tersebut studi cross-sectional tersebut melalui Uji Chi
berhubungan dengan peningkatan tekanan darah Square dengan tingkat kepercayaan 95% (p = 0,05)
dan manifestasi klinik penyakit kardiovaskuler didapatkan nilai p(value) = 0,047 pada =0,05.
apapun. Karena nilai p(value) 0,047<0,05 yang berarti
Baliwati (2004) mengungkapkan bahwa menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang
status ekonomi tingkat pendidikan dan lingkungan signifikan antara stress dengan kejadian hipertensi
sossial budaya seseorang adalah faktor yang pada lansia di Kelurahan Gebang Putih. Penelitian
berhubungan dengan program kesehatan ini juga sejalan dengan penelitian Yuliarti (2007)

21
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

yaitu terdapat hubungan yang bermakna antara %). Proporsi faktor tingkat stress terbanyak adalah
stres dengan kejadian hipertensi. pada lansia yang tidak stress (62,5 %).
Namun, hal yang perlu diperhatikan terkait Analisis bivariat variabel dependen dan
dengan variabel stres ini adalah adanya bias independen menyatakan bahwa dari tujuh variabel
informasi, seperti responden merasa malu dan tidak dependen terdapat tiga variabel dependen yang
jujur pada saat menjawab kuestioner, serta berhubungan dengan variabel independen (kejadian
biaswaktu karena ketika dilakukan pengumpulan hipertensi), yaitu genetik (p = 0,019; RP = 1,417;
data responden sedang tidak mengalami stres atau IK 95% 1,069 sampai 1,877), olah raga (p = 0,017;
masalah tertentu yang dapat menimbulkan RP = 1,424; IK 95% 1,069 sampai 1,895), dan
terjadinya stress berkepanjangan. Dimaksudkan tingkat stress (p < 0,0001; RP = 2,043; IK 95%
pula bahwa kemungkinan stres yang dialami oleh 1,184 sampai 2,141).
lansia dapat segera diatasi sehingga tidak Analisis bivariat variabel dependen dan
menimbulkan efek yang berkepanjangan. Sutanto independen menyatakan bahwa dari tujuh variabel
(2010) mengungkapkan bahwa setiap manusia dependen terdapat empat variabel dependen yang
memiliki kemampuan untuk mengendalikan respon tidak berhubungan dengan variabel independen
relaksasinya dengan memikirkan hal-hal yang (kejadian hipertensi), yaitu jenis kelamin (p =
menyenangkan dan bernapas secara teratur. Hal ini 0,902; RP = 0,980; IK 95% 0,712 sampai 1,350),
dapat mengatasi stres yang dialami oleh orang obesitas (p = 0,271; RP = 1,179; IK 95% 0,882
tersebut. sampai 1,574), Merokok (p= 0,125; RP = 1,294; IK
95% 0,967 sampai 1,732) dan konsumsi alkohol (p
SIMPULAN = 0,125; RP = 1,421; IK 95% 1,045 sampai 1,909).
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang
dilakukan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan, DAFTAR PUSTAKA
Berdasarkan analisis univariat dari 112 responden 1. Chobanian AV. 2003. The Seventh Report of the
Joint National Committee on Prevention,
didapatkan proporsi lansia yang menderita
Detection, Evaluation, and Treatment of High
hipertensi (69 %) lebih banyak dibandingkan Blood Pressure. United state: Department of
Health and Human Services.
dengan yang tidak menderita hipertensi (37 %).
2. Karo SK. 2012. Hipertensi adalah Masalah
Proporsi faktor jenis kelamin terbanyak adalah Kesehatan Masyarakat. Dalam: Rilantono LI
(penyunting). Penyakit Kardovaskular (PKV)
pada lansia yang berjenis kelamin perempuan (74,1
5 Rahasia selected reading, hlm. 235-248.
%). Proporsi faktor status gizi terbanyak adalah Jakarta. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
pada lansia yang status gizinya obesitas (43,8 %).
3. WHO. 2014. Global target 6: A 25% relative
Proporsi faktor genetik terbanyak adalah pada reduction in the prevalence of raised blood
pressure or contain the prevalence of raised
lansia yang tidak memiliki riwayat hipertensi pada
blood pressure, according to national
keluarga (60,7 %). Proporsi faktor olah raga circumstances. Jenewa: World Health
Organization.
terbanyak adalah pada lansia yang rutin berolah
4. Rahajeng E, Tuminah S. 2009. Prevalensi
raga (58,0 %). Proporsi faktor merokok terbanyak Hipertensi dan Determinannya di Indonesia.
Maj Kedokt Indon. 59(12): hlm. 550-587.
adalah pada lansia yang tidak memiliki kebiasaan
5. Depkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar 2013.
merokok (78,6 %). Proporsi faktor konsumsi Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.
alkohol terbanyak adalah pada lansia yang tidak
6. Yogiantoro M. 2009. Hipertensi Esensial.
memiliki kebiasaan mengkonsumsi alkohol (89,3 Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Simadibrata M, Setiati S (penyunting). Buku

22
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 5 NO.7, JULI, 2016

Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II edisi V 12. Sunardi, Tuti. 2000. Hidangan Sehat untuk
selected reading, hlm.1079-1086. Jakarta: Penderita Hipertensi. Jakarta: Gramedia
Interna Publishing. Pustaka Utama
7. Mateos-Caceres PJ, Zamorano-Le JJ, 13. Gray, Huon. 2005. Kardiologi Edisi IV. Jakarta:
Rodrguez-Sierra P,CarlosMacaya, Lopez- Erlangga.
Farre AJ. 2012. New and Old Mechanisms 14. Sutanto. 2010. Cekal (Cegah dan Tangkal)
Associated withHypertension in the Elderly. Penyakit Modern. Yogyakarta : CV. Andi
International Journal of Hypertension. 2012: Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk
hlm. 1-10. Mahasiswa Keperawatan Ed-3. Monica Ester,
8. Lacerdaa PJ, Lopesb MR, Ferreiraa DP, editor. Jakarta: EGC
Fonsecaa FL, Favaro P. 2016. Descriptive study 15. Sheps, Sheldon G. 2005. Mayo Clinic
of the prevalence of anemia, hypertension, Hipertensi, Mengatasi Tekanan Darah Tinggi.
diabetes and quality of life in a randomly Jakarta: PT Intisari Mediatama.
selected population of elderly subjects from So 16. Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk
Paulo. Elsevier. Mahasiswa Keperawatan Ed-3. Monica Ester,
9. Miao Liu, Yao He, Bin Jiang, Jianhua Wang, editor. Jakarta: EGC
Lei Wu, Yiyan Wang, et al. 2015. Association 17. Price, Wilson. 2006. Patofisiologi Volume 2.
Between Family History and Hypertension Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Among Chinese Elderly. Medicine journal. 94: 18. Depkes RI 2008. Panduan Promosi Perilaku
hlm. 1-6. Tidak Merokok. Jakarta: Pusat
10. Vinci G, Muhammad. et al. 2011. Studi Cross- PromosiKesehatan Depkes RI.
Sectional. Dalam Sastroasmoro, S. & Ismael, S. 19. Cahyono, Suharjo. 2008. Gaya Hidup dan
(penyunting). Dasar-dasar Metodologi Penyakit Modern. Jakarta : Kanisius.
Penelitian Klinis Selected Reading, hlm. 347 20. Krummel DA. 2004. Food, Nutrition and Diet
382. Jakarta: CV. Sagung Seto. Therapy. Medical Nutrition Therapy in
11. Depkes RI. 2006. Pedoman Teknis Penemuan Hypertension. Di dalam: Mahan LK dan Escott-
dan Tata Laksana Penyakit Hipertensi. Jakarta: Stump S, editor. 2004. USA: Saunders co. hlm.
Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak 900-918.
Menular Depkes RI.

23
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum