You are on page 1of 26

ASUHAN KEPERAWATAN PERIANESTESI PADA TN.

S DENGAN DIAGNOSA
MEDIS SUBDURAL HIGROMA DILAKUKAN TINDAKAN
ANESTESI UMUM DI INSTALASI BEDAH SENTRAL
RSUD PROF DR MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Keperawatan Anestesi II

Disusun Oleh:
Eka Sulistyowati (P07120213015)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES YOGYAKARTA


PRODI D-IV KEPERAWATAN
YOGYAKARTA
2017

LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN PERIANESTESI PADA TN. S DENGAN


SUBDURAL HIGROMA DILAKUKAN TINDAKAN ANESTESI
UMUM DI INSTALASI BEDAH SENTRAL
RSUD PROF DR MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

Disusun oleh :
Eka Sulistyowati (P07120213015)

Telah diperiksa dan disetujui pada : April 2017

Mengetahui,

Pembimbing Lapangan Pembimbing Akademik

Triyanto Puji Widodo, SST Maryana, S.Kep., Ns., S.Psi., M.Kep

BAB I
PENDAHULUAN

A; Latar Belakang
Cedera kepala dapat melibatkan setiap komponen yang ada, mulai
bagian terluar (scalp) sampai bagian terdalam (intrakranial) yang tiap
komponen tersebut terkait erat dengan mekanisme cedera yang terjadi.
Dengan demikian cedera yang terjadi dapat berupa cedera jaringan lunak,
fraktur tulang kepala, dan cedera otak (Iskandar, 2011).
Di Amerika Serikat, kejadian cedera kepala setiap tahunnya
diperkirakan mencapai 500.000 kasus dan dari jumlah tersebut 10%
meninggal sebelum tiba di rumah sakit serta yang sampai di rumah sakit,
80% dikelompokkan sebagai cedera kepala ringan (CKR), 10% termasuk
cedera kepala sedang (CKS) dan 10% sisanya adalah cedera kepala berat
(CKB). Insiden cedera kepala terutama terjadi pada kelompok usia
produktif antara 15-44 tahun. Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab
48%-53% dari insiden cedera kepala, 20%-28% lainnya karena jatuh dan
3%-9% lainnya disebabkan tindak kekerasan (Irwana, 2009).
Salah satu cedera otak yang dimaksud adalah hematom subdural.
Hematom subdural ini sering sukar dibedakan dari higroma subdural, yang
juga merupakan cedera akibat trauma kapitis. Higroma subdural
merupakan pengumpulan cairan likuor cerebrospinalis (LCS) oleh kapsul
dibawah duramater. Pada umumnya higroma subdural disebabkan
pecahnya araknoid sehingga LCS mengalir dan terkumpul membentuk
kolam. Penatalaksanaannya yang diberikan serupa dengan terapi pada
hematom subdural kronis (Iskandar, 2011).

B; Tujuan
1; Tujuan Umum
Memberikan asuhan keperawatan anestesi pada pasien subdural
higroma dengan teknik anestesi umum.
2; Tujuan Khusus
a; Mampu menguasai konsep dasar anestesi umum dan subdural
higroma.
b; Mampu melakukan pengkajian, menganalisa, menentukan
diagnosa keperawatan, dan membuat intervensi keperawatan
anestesi.
c; Mampu memberikan tindakan keperawatan yang
diharapkan dapat mengatasi masalah keperawatan pada kasus
perioperatif dengan diagnosa subdural higroma kronis.
d; Mampu mengungkapkan faktor-faktor yang menghambat
dan mendukung serta permasalahan yang muncul dari asuhan
keperawatan yang diberikan.

C; Waktu
Asuhan keperawatan anestesi dilakukan pada tanggal 8 April 2017.

D; Tempat Praktek
Asuhan keperawatan anestesi ini dilakukan pada tanggal 8 April 2017 di
Instalasi Bedah Sentral RSUD Prof. Dr Margono Soekarjo Purwokerto.
E; Strategi Pelaksanaan
1; Wawancara
2; Pemeriksaan Fisik
3; Observasi
4; Studi dokumentasi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A; Subdural Higroma
1; Pengertian Subdural Higroma
Higroma subdural merupakan pengumpulan cairan liquor yang
terbungkus oleh kapsul dibawah duramater. Biasanya disebabkan oleh
pecahnya arachnoid sehingga liquor serebrospinalis mengalir dan
membentuk kolam (Satyanegara, 2010).
Sebagian literatur juga menyatakan bahwa higroma
subdural adalah hematom subdural kronis/lama yang mungkin
disertai oleh penumpukan/pengumpulan cairan LCS di dalam ruang
subdural. Kelainan ini agak jarang ditemukan dan dapat terjadi karena
robekan selaput araknoid yang menyebabkan cairan LCS keluar ke
ruang subdural. Dengan demikian higroma subdural serupa dengan
hematom subdural kronik (HSD kronik) (Vanden Berg, Sijbrandy,
Meijer, Oostdijk, 2011).
Lesi hematom subdural ini lebih sering terjadi dibanding
hematom epidural (HED atau EDH). Mortalitas yang disebabkannya
sebanyak 60-70%. Lesi ini terjadi akibat laserasi arteri/vena kortikal
pada saat terjadi akselerasi dan deselerasi. Pada anak dan usia lanjut
sering disebabkan bridging vein yang menghubungkan permukaan
kortek dengan sinus vena (Satyanegara., 2010).
2; Klasifikasi Subdural Higroma
Berdasarkan waktu perkembangan lesi hingga memberikan gejala
klinis, hematom subdural dibedakan menjadi:
a; Akut
Jika gejala timbul dalam 3 hari pertama setelah cedera.
b; Subakut
Jika gejala klinis timbul antara hari ke-4 dan ke-20.
c; Kronis
Jika gejala timbul setelah 3 minggu. Hematom subdural kronis
sering terjadi pada usia lanjut, dimana adanya atrofi otak
menyebabkan jarak antara permukaan kortek dan sinus vena
menjauh sehingga rentan terhadap goncangan. Kadang-kadang
benturan ringan pada kepala sudah dapat menyebabkan hematom
subdural kronis (Shu-qing, 2008)
3; Etiologi Subdural Higroma
a; Post-trauma kecelakaan
Pada umumnya higroma subdural disebabkan pecahnya araknoid
sehingga LCS mengalir dan terkumpul membentuk kolam. Post
traumatic subdural hygroma merupakan kasus yang umum terjadi
(ATLS, 2011)
b; Post-operasi (pintasan ventrikuler, marsupialisasi kista araknoid
dan reseksi kista)

Higroma subdural akut dan kronik merupakan komplikasi post-


operasi yang umum terjadi dari pintasan ventrikuler,
marsupialisasi kista araknoid dan reseksi kista. Shu-qing (2008)
melaporkan suatu kasus higroma subdural setelah tindakan
reseksi suatu lesi desak ruang pada ventrikel lateral yang
menyebabkan deformasi brainstem dekompresif. Ia
menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang sangat penting
antara prosedur pembedahan, pencegahan kehilangan LCS dan
fluktuasi yang cepat dalam tekanan intrakranial (Zayini, Resende,
Freitas, Yamashita, 2007)
c; Komplikasi atau lanjutan dari Acute subdural
hematoma/hematomsubdural akut

Kebanyakan subdural hygromas (SDGs) atau higroma subdural


terjadi sekunder akibat trauma. Cofiar et al melaporkan kejadian
perkembangan suatu higroma subdural pada pasien Acute
subdural hematoma (ASDH) atau hematom subdural akut, yang
kemudian mengalami resolusi spontan cepat dalam waktu 9 jam
akibat kontribusi terhadap pembesaran higroma subdural.
Hematom subdural akut merupakan kumpulan darah segar di
bawah lapisan duramater, yang biasanya cukup besar untuk
menekan otak dan menyebabkan kematian hingga 60-80% kasus .
Resolusi spontan cepat pada kasus hematom subdural akut sangat
jarang terjadi. Salah satu mekanisme resolusi spontan yang
pernah dilaporkan adalah melalui terbentuknya higroma subdural.
Resolusi hematom subdural akut dan dampaknya terhadap
higroma subdural harus dipertimbangkan selama penatalaksanaan
hematom subdural akut (Shu-qing, 2008).
4; Patofisiologi Subdural Higroma
Patogenesis terjadinya higroma Subdural adalah akumulasi
cairan dalam waktu lama di ruang subdural dapat terjadi akibat salah
satu dari tiga proses yang berbeda. Patogenesis yang paling lazim
terjadi adalah likuifikasi hematoma. subdural akut sehingga
membentuk atau terjadinya hematoma subdural kronik. Ada postulat
yang menyatakan bahwa semakin kental cairan yang berakumulasi,
semakin cepat pula peningkatan volumenya. Hal ini terjadi karena
gradien tekanan onkotik yang tinggi pada cairan yang kental.
Meskipun volumenya bisa menurun akibat degradasi darah dan
protein, namun adanya perdarahan ulang menyebabkan volumenya
menetap sehingga hematoma subdural tetap ada.
Tipe akumulasi cairan subdural yang kedua adalah terbukanya
arachnoid sehingga cairan serebrospinal dapat memasuki ruang
subdural. Cairan serebrospinal bercampur dengan darah sehingga
berubah menjadi cairanan tokromatik yang encer, sering disebut
higroma subdural.
Tipe akumulasi ketiga menghasilkan cairan yang lebih purulen.
Empiemasubdural dapat disebabkan oleh perluasan langsung dari
sinusitis atau otitis mediake ruang epidural lalu ke ruang subdural.
Akumulasi cairan subdural yang purulen kadang-kadang juga
terlihat setelah episode meningitis bakterial, khususnya akibat
haemophilus influenza. (Swift, McBride, 2011).
5; Gejala klinis Subdural Higroma
Raj Kumar melaporkan dalam penelitiannya 93% pasien berusia
dibawah 2 tahun, namun ada pula beberapa anak berusia < 2 tahun
dengan rerata umum 10bulan (rentangan 3 bulan 2 tahun). Kejang
merupakan gejala yang paling sering dikeluhkan, diikuti iritabilitas dan
letargia, serta fontanela yang membesar dan membonjol. Kadang
kadang bisa disertai pula dengan hemiparesis dan paresisnervus VI.
6; Komplikasi Subdural Higroma
Komplikasi pada pasien dengan Higroma Subdural adalah
Perdarahan dan infeksi pasca pembedahan. Bisa juga terjadi adanya
Herniasi batang otak karena penumpukan cairan serebrospinal yang
banyak (Sjamsuhidajat, 2009).
7; Penatalaksanaan Medis
Sejumlah modalitas terapi pernah dilaporkan, antara lain
evakuasi dan irigasi ruang subarachnoid melalui burrhole, tap
subdural, drainase subdural secara kontinyu dan penggunaan
shunt subduroperitoneal. Pemasangan shunt telah dilaporkan oleh
sejumlah peneliti, namun komplikasinya cukup merepotkan, antara
lain obstruksi, migrasi, infeksi, drainase unilateral dan perforasi usus
(Raj, 2010).
Pada higroma yang simtomatik, khususnya dengan status
klinis yang memburuk disertai dengan peningkatan volume hygroma
dengan kompresi otak yang menyebabkan herniasi, dilakukan
tindakan operasi drainase burr-hole eksternal. Tetap dilakukan
drainase dilakukan subdural selama 24 - 48 jam pascaoperasi, jika
tidak terjadi resorpsi yang memadai shunting pada ruang subdural.
Kekambuhan setelah tindakan drainasi burr-hole sederhana merupakan
hal yang sering terjadi, karena kasus yang berulang (Sjamsuhidajat,
2009).
B; Anestesi Umum
1; Definisi Anestesi Umum
Mangku (2010) menjelaskan bahwa anestesi umum adalah suatu
keadaan tidak sadar yang berifat sementara yang diikuti oleh hilangnya
rasa nyeri diseluruh tubuh akibat pemberian obat anestesi. Efek
neurofisiologis yang dihasilkan oleh anestesi umum ditandai oleh lima
efek utama: tidak sadarkan diri, amnesia, analgesia, penghambatan
refleks otonom, dan relaksasi otot rangka. Tak satu pun dari agen
anestesi yang saat ini tersedia ketika digunakan sendiri bisa mencapai
semua lima efek yang diinginkan dengan baik. Selain itu, anestesi yang
ideal harus menginduksi cepat, kehilangan kesadaran secara halus,
cepat kembali setelah penghentian, dan memiliki batas keselamatan
yang lebar (Katzung, 2015).
Praktek anestesi modern bergantung pada penggunaan
kombinasi obat intravena dan inhalasi (balanced anesthesia) untuk
mengambil keuntungan dari setiap agen dan meminimalkan efek
samping mereka. Pemilihan teknik anestesi ditentukan oleh jenis
diagnostik, terapi, atau intervensi bedah yang akan dilakukan. Untuk
operasi kecil atau untuk prosedur diagnostik invasif, obat oral atau
parenteral dapat digunakan dalam kombinasi dengan anestesi lokal,
yang disebut teknik monitored anesthesia (Katzung, 2015)
2; Macam-macam anestesi umum
Katzung (2015) membagi anestesi umum sesuai dengan penggunaan
sediaan obat, yaitu:
1; Anestesi inhalasi
Sebuah perbedaan yang jelas harus dibuat antara anestesi
volatil dan gas, walaupun keduanya dikelola oleh inhalasi.
Anestetik volatil (halotan, enfluran, isofluran, desfluran,
sevofluran) memiliki tekanan uap yang rendah dan titik didih
demikian tinggi sehingga mereka cairan pada suhu kamar (20C),
sedangkan anestesi gas (nitrous oxide, xenon ) memiliki tekanan
uap yang tinggi dan titik didih rendah sehingga mereka berada
dalam bentuk gas pada suhu kamar. Karakteristik khusus dari
anestesi volatil membuat diperlukannya alat penguap (vaporizer).
Anestesi inhalasi, yaitu agen volatil serta gas diambil melalui
pertukaran gas di alveoli paru-paru.
2; Anestesi Intravena
Anestesi nonopioid intravena memainkan peran penting
dalam praktek anestesi modern. Mereka digunakan untuk
memfasilitasi induksi cepat dan telah menggantikan inhalasi
sebagai metode yang disukai kecuali untuk anestesi pediatrik.
Dengan diperkenalkannya propofol, anestesi intravena juga
menjadi pilihan yang baik untuk pemeliharaan anestesi. Anestesi
intravena yang digunakan untuk induksi anestesi umum bersifat
lipofilik (otak, sumsum tulang belakang), yang mampu
menyumbang onset yang cepat. Agen anestesi intravena antara
lain: dexmedetomidine, etomidat, ketamin, benzodiazepam
(diazepam, lorazepam, midazolam), propofol, dan barbitural
(thiopental, methohexital).
3; Anestesi seimbang
Mirip dengan agen inhalasi, anestesi intravena yang
tersedia saat ini bukan obat anestesi yang ideal untuk
menimbulkan lima efek yang diinginkan. Sehingga, digunakan
anestesi seimbang dengan beberapa obat (anestesi inhalasi, sedatif-
hipnotik, opioid, dan agen neuromuscular blocking) untuk
meminimalkan efek yang tidak diinginkan.
3; Mekanisme kerja anestesi umum
Katzung (2015), dalam bukunya memaparkan bahwa anestesi
bekerja pada tiga komponen utama, yaitu:
1; Imobilitas
Imobilitas adalah titik akhir anestesi yang paling mudah
untuk diukur (mencegah gerakan saat dilakukan insisi). Edmond
Eger dan rekannya memperkenalkan konsep konsentrasi alveolar
minimal/minimum alveolar concentration (MAC) untuk mengukur
potensi obat anestesi inhalasi. Mereka mendefinisikan 1,0 MAC
sebagai tekanan parsial anestesi inhalasi dalam alveoli paru-paru
di mana 50% dari populasi pasien nonrelaxed tetap bergerak pada
saat insisi kulit. Imobilitas anestesi dimediasi oleh penghambatan
saraf dalam sumsum tulang belakang, tetapi mungkin juga
termasuk penghambat transmisi nosiseptor ke otak.
2; Amnesia
Ablasi memori muncul dari beberapa lokasi di SSP,
termasuk hipokampus, amigdala, korteks prefrontal, dan daerah
dari korteks sensorik dan motorik. Peneliti memori membedakan
dua jenis memori: (1) memori eksplisit, yaitu memori sadar atau
kesadaran anestesi saat operasi dan (2) memori implisit, akuisisi
sadar informasi di bawah tingkat anestesi namun kurang sadar
untuk mengingat peristiwa saaat operasi. Penelitian mereka telah
menemukan bahwa pembentukan kedua jenis memori mampu
dicegah dengan nilai MAC rendah (0,2-0,4 MAC). Pencegahan
memori eksplisit (awareness) telah memacu pengembangan
monitor seperti bispectral indeks (BIS), electroencephalogram
(EEG), dan entropi monitor pendengaran membangkitkan potensi
untuk membantu mengenali plana anestesi.
3; Kesadaran
Kemampuan obat anestesi untuk menghapuskan kesadaran
memerlukan tindakan di lokasi yang bertanggung jawab untuk
pembentukan kesadaran manusia. Ahli saraf terkemuka
mempelajari kesadaran dan mengidentifikasi tiga daerah di otak
yang terlibat dalam menghasilkan kesadaran pribadi yaitu: korteks
serebral, thalamus, dan ascending reticular activating system
(ARAS). Daerah ini tampaknya berinteraksi sebagai sistem
kortikal melalui jalur teridentifikasi, menghasilkan keadaan di
mana manusia terjaga, sadar, dan memahami. Pernyataan saat ini
tentang pemahaman mendukung kerangka kerja berikut:
rangsangan sensorik dilakukan melalui formasi reticular batang
otak ke dalam loop signaling supratentorial, menghubungkan
thalamus dengan berbagai daerah korteks, adalah dasar dari
kesadaran. Jalur saraf yang terlibat dalam pengembangan dari
kesadaran terganggu oleh anestesi.
4; Pengaruh Anestesi Umum pada tubuh
Pengaruh Anesthesia umum pada tubuh menurut Goodman &
Gilman (2011) yaitu:
1; Efek hemodinamik
Efek fisiologis yang menonjol dari induksi anestesi adalah
penurunan tekanan darah arteri sistemik. Penyebabnya antara lain
vasodilatasi, depresi miokard, atau keduanya; menumpulnya
kontrol baroreseptor; dan penurunan saraf simpatik pusat.
2; Efek pernapasan
Pemeliharaan jalan napas sangat penting setelah induksi
anestesi, karena hampir semua anestesi umum mengurangi atau
menghilangkan baik dorongan ventilasi dan refleks yang menjaga
jalan nafas. Oleh karena itu, ventilasi harus dibantu atau dikontrol
untuk setidaknya beberapa periode selama operasi. Refleks
muntah (gag reflex) hilang, dan stimulus untuk batuk tumpul.
Kekencangan otot esofagus bagian bawah juga berkurang,
sehingga regurgitasi baik pasif dan aktif dapat terjadi. Relaksasi
otot sangat penting selama induksi anestesi umum dimana mampu
memfasilitasi pengelolaan jalan napas, termasuk intubasi.
3; Hipotermia
Pasien umumnya timbul hipotermi (suhu tubuh <36C)
selama operasi. Alasan hipotermi antara lain termasuk suhu
lingkungan rendah, membuka bagian tubuh, cairan infus dingin,
gangguan kontrol termoregulasi, dan laju metabolisme berkurang.
Modalitas untuk mempertahankan adalah normothermia termasuk
menggunakan cairan infus hangat, penukar panas di sirkuit
anestesi, selimut dengan udara hangat, dan teknologi baru yang
melibatkan pakaian berisi air dengan mikroprosesor kontrol
umpan balik ke titik suhu inti tubuh.
4; Mual dan muntah
Mual dan muntah pasca operasi disebabkan oleh tindakan
anestesi pada chemoreseptor trigger zone dan di batang otak pada
pusat muntah, yang dimodulasi oleh serotonin (5-HT), histamin,
asetilkolin (Ach) dan dopamin (DA). Reseptor antagonis 5-HT
yaitu ondansetron sangat efektif dalam menekan mual dan muntah.
5; Fenomena pasca operasi yang lain
Hipertensi dan takikardi umum terjadi sebagai kompensasi
sistem saraf simpatik yang mendapatkan kembali polanya dan
meningkat oleh karena rasa sakit. Menggigil (shivering) pasca
anestesi terjadi seringkali karena hipotermi. Dosis kecil
meperidine (12,5 mg) menurunkan shivering trigger temperature
dan efektif menghentikan aktivitasnya. Insiden fenomena ini dapat
berkurang ketika opioid dan 2 agonis (dexmedetomidine)
dipekerjakan sebagai bagian dari regimen intraoperatif. Obstruksi
jalan napas dapat terjadi selama periode pasca operasi karena efek
residu anestesi terus mempengaruhi kesadaran dan refleks
(terutama pada pasien yang biasanya mendengkur atau yang
memiliki sleep apnea). Upaya inspirasi yang kuat terhadap glotis
dapat menyebabkan tekanan negatif edema paru. Fungsi paru-paru
berkurang pasca bedah mengikuti semua jenis anestesi dan
operasi, hipoksemia dapat terjadi. Hipertensi hebat dapat terjadi
dan sering membutuhkan pengobatan agresif.
6; Nyeri
Kontrol nyeri dapat menjadi rumit pada periode pasca
operasi segera. Penekanan pernapasan yang terkait dengan opioid
dapat menjadi masalah di antara pasien pasca operasi yang masih
memiliki pengaruh residu anestesi. Pasien dapat bergantian antara
keadaan sakit luar biasa sampai mengantuk (somnolen) dengan
obstruksi jalan napas, semua dalam hitungan saat. Agen nonsteroid
anti inflamasi ketorolak (30-60 mg intravena) sering efektif, dan
perkembangan dari injeksi cyclooxygenase-2 inhibitor
menjanjikan untuk analgesia tanpa depresi pernapasan. Patient
controlled administration (PCA) yaitu pasien mengendalikan
nyerinya sendiri dengan memakai sedikit analgesik intravena dan
epidural. Para agen yang digunakan adalah opioid (sering morfin)
melalui rute intravena, atau rute epidural.
5; Post Anestesi
Ruangan Pulih (Recovery Room) adalah ruangan khusus post
anastesia/post operasi yang berada di kompleks kamar operasi yang
dilengkapi tempat tidur khusus, alat pantau, alat/ obat resusitasi, tenaga
terampil dalam bidang resusistasi dan gawat darurat serta disupervisi
oleh Dokter Spesialis Anestesiologi dan Spesialis Bedah. Pemantauan
pasien di ruang pulih meliputi: kesadaran, respirasi, sirkulasi, fungsi
ginjal dan saluran kencing, fungsi pencernaan, aktivitas motorik, suhu
tubuh, nyeri, dan posisi (Mangku, 2010). Lama pasien menghabiskan
waktu di PACU akan tergantung pada berbagai faktor termasuk durasi
dan jenis operasi, teknik anestesi, serta terjadinya komplikasi
(Gwinnutt, 2016).
Menurut Gwinnutt (2016), kriteria minimum untuk
pemulangan pasien yaitu:
1; Sepenuhnya sadar dan mampu mempertahankan jalan napas
sendiri (Meskipun masih 'mengantuk') pernapasan memadai.
2; Sistem kardiovaskular stabil, dengan perdarahan minimal
3; Nyeri yang memadai
4; Normotermi (> 36,5 C)
Penatalaksanaan di ruang pulih dapat dilakukan dengan cara
farmakologi (obat-obatan) dan terapi komplementer sebagai terapi
pendamping. Perawat dalam perannya mampu memberikan terapi
secara non farmakologi dengan cara modifikasi lingkungan pasien
salah satunya dengan terapi musik.
Menurut Snyder & Lindquis (2012) dalam Widyatuti (2008),
teori keperawatan yang ada dapat dijadikan dasar bagi perawat dalam
mengembangkan terapi komplementer misalnya teori transkultural
yang dalam praktiknya mengaitkan ilmu fisiologi, anatomi,
patofisiologi, dan lain-lain. Hal ini didukung dalam catatan
keperawatan Florence Nightingale yang telah menekankan pentingnya
mengembangkan lingkungan untuk penyembuhan dan pentingnya
terapi seperti musik dalam proses penyembuhan (Schou, 2008). Selain
itu, terapi komplementer meningkatkan kesempatan perawat dalam
menunjukkan caring pada klien.
BAB III
PROSES KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI

A; PENGKAJIAN
1; Pre Anestesi
a; Identitas Pasien
1; Nama : Tn. S
2; Jenis Kelamin : Laki-laki
3; Umur : 77 tahun
4; BB/TB : 68 kg / 165 cm
5; Status Pernikahan : Menikah
6; Pekerjaan : Buruh Tani
7; Agama : Islam
8; Pendidikan : SD
9; Alamat : Palumbungan, Bobotsari
10; Tanggal MRS : 4 April 2017
11; Tanggal Pengkajian : 8 April 2017
12; Diagnosa Medis : Subdural Higroma
13; Rencana Operasi : Boorhole Drainase
14; Nomer Medis : 020029xx
15; Dokter Bedah : dr Agus Setiawan, SpBs
16; Dokter Anestesi : dr Wisnu Budi, M.Sc., Sp.An
17; Rencana Anestesi : Anestesi Umum
b; Keluhan Utama
Pasien mengatakan kepalanya pusing
c; Riwayat Kesehatan
1; Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien mengatakan 1 minggu yang lalu terjatuh saat berada
di sawah. Setelah terjatuh 5 hari yang lalu pasien merasa sering
pusing, mual dan beberapa kali muntah. Kemudian diperiksa
ke RS Harapan Ibu PGB dan dirujuk ke RS Margono
Soekardjo pada tanggal 4 April 2017, dokter menganjurkan
rawat inap di Bangsal Cempaka untuk mendapatkan
perawatan.
2; Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien menyangkal menderita penyakit jantung, hipertensi,
diabetes melitus, maupun alergi obat dan asma bronkial.
3; Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengatakan anggota keluarganya tidak memiliki
riwayat hipertensi, penyakit jantung, gangguan ginjal, asma,
maupun diabetes mellitus.
d; Kelengkapan Rekam Medis
Persetujuan bedah, persetujuan anestesi, hasil laboratorium, hasil
rontgen
e; Pemeriksaan Fisik
1; Kesadaran Umum

Keadaan pasien lemah dengan kesadaran compos mentis.

Suhu = 36,5 oC BB = 68 kg
Nadi = 68 x / menit TB = 165 cm
TD = 123/72 mmHg IMT = 25,18 kg/m2
RR = 19 x/menit
2; Pemeriksaan Kepala
Tidak ada jejas pada kepala maupun wajah, tidak ada
perdarahan yang keluar pada mata, mulut maupun hidung.
Status malampati 2, beberapa gigi geraham ( 6 gigi) sudah
tanggal, pasien tidak menggunakan gigi palsu.
3; Pemeriksaan dada (paru dan jantung)
Pemeriksaan paru
a; Inspeksi
Dada simetris, perbandingan anterior-posterior dan
transversal 1:2, tidak ada lesi, terdapat hiperpigmentasi di
bagian dada, klavikula simetris, penarikan nafas seimbang
antara dada kiri dan kanan.
b; Palpasi

Tidak ada krepitasi.


c; Perkusi

Interkosta 1-3 paru kiri terdengar suara resonan,


interkosta 4-6 paru kiri terdengar suara redup, interkosta
1-6 paru kanan terdengar suara resonan, interkosta 6 paru
kanan terdengar suara redup.
d; Auskultasi

Pada trakhea terdengar suara trakheal, suara nafas


vesikuler.
Pemeriksaan jantung
a; Inspeksi
Tidak terlihat denyut pada intercosta 2 kanan (area
katup aorta), intercosta 2 kiri (area katup pulmonalis)
maupun intercosta 5 (ictus cordis).
b; Palpasi
Tidak teraba denyut pada intercosta 2 kanan (area
katup aorta), intercosta 2 kiri (area katup pulmonalis)
tetapi teraba denyut pada intercosta 5 (ictus cordis).
c; Perkusi
Suara redup dibagian intercosta kiri 2-5.
d; Auskultasi
Bunyi jantung reguler (BJ 1 dan BJ 2 tunggal), tidak
ada suara tambahan. Denyut jantung 68 x/ menit.
4; Abdomen
Lama puasa : pasien mulai puasa pukul 02.00 WIB, rencana
operasi pada pukul 09.00 WIB. Pasien puasa selama 7 jam
a; Inspeksi
Bentuk simetris, tidak terdapat bekas luka.
b; Auskultasi
Terdengar bunyi peristaltic lemah 13 kali/ menit
c; Palpasi

Tidak ada nyeri tekan, tidak terdapat masa dan tidak


asites.
d; Perkusi
Terdengar suara timpani pada kuadran kiri atas.
5; Ekstremitas
a; Atas
Tangan simetris, tidak terlihat adanya lesi dan odem.
kapillary refill < 3 detik, turgor kulit elastis, nadi radialis
teraba kuat, teratur, terpasang infus RL pada tangan
sebelah kanan dengan kecepatan 20 tpm.
b; Bawah
Kaki simetris, tidak ada lesi kaki, turgor kulit elastis,
kapillary refill < 3 detik.
6; Neurologis
a; Status mental dan emosi :

Ekspresi wajah pasien tampak cemas dan bingung.


b; Kekuatan otot

kanan 5 5 kiri
5 5

Keterangan:
0; : Otot sama sekali tidak mampu bergerak, tampak
berkontraksi
1; : Tampak kontraksi atau ada sedikit gerakan dan ada
tahanan sewaktu jatuh.
2; : Mampu menahan tegak/ gaya gravitasi (saja), tapi jatuh
dengan sentuhan
3; : Tidak mampu melawan tekan/ dorongan dari pemeriksa
4; : Kekuatan kurang dibandingkan sisi lain.
5; : Kekuatan utuh
7; Status ASA
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit sistemik ataupun
gangguan organik lainnya dan tidak didapati adanya
komplikasi pada keluhan yang dirasakan sehingga dapat
dikategorikan pasien memiliki status fisik ASA I.

f; Pemeriksaan Penunjang
1; Hasil Hematologi 4 April 2017

Nama Hasil Normal


Hematologi
Eritrosit 5,0 106/L 4,4 5,9 106/L
Leukosit 8050 mm3 3.800 10.600 mm3
Hemoglobin 14,4 g/dl 11,2 17,3
Hematokrit 42 % 40 52 %
Trombosit 233.000/L 150.000 440.000 mm
MCV 84,5 fL 80 100
MCH 29 pg/cell 26 34 pg
MCHC 34,0 % 32 36 g/dL
RDW 14,2% 11,5 14,5
MPV 9,4 fL 9,4-12,4
Hitung Jenis
Basofil 0,4 % 0-1
Eusinofil 6,1 % 2-4
Batang 0,7 % 3-5
Segmen 69,4 % 50-70
Limfosit 17,3 % 25-40
Monosit 6,1 % 2-6
PTT 9,6 detik 9,9 11,4 detik
APTT 34,6 detik 29,0-40,2 detik
Kimia Klinik
SGOT 22 /L 15-37 /L
SGPT 22 /L 16-63 /L
Ureum darah 26,2 mg/dL 14,98-38,52 mg/dL
Kreatinin Darah 0,82 mg/dL 0,70-1,30
Glukosa Sewaktu 104 mg/dL 200
Natrium 141 mmol/L 134-140
Kalium 3,80 mmol/L 3,48 5,5
Klorida 96,37 mmol/L 96 106
2; Pemeriksaan CT Scan
Tanggal 5 April 2017

Kesan :
Hygroma subdural bilateral pada bagian frontal

3; EKG

Tgl Jenis pemeriksaan Diagnosa


4 April 2017 EKG HR 64 x/menit
Sinus Rhytme

4; Rontgen Thoraks

Tanggal 5 April 2017


Hasil :
a; Cor : bentuk dan letak jantung normal
b; Pulmo: corakan vaskuler tampak meningkat dan kasar, tak tampak bercak pad
kepua lapang paru
c; Hemidiafragma kanan setinggi costa 9 posterior

Kesan:
Cor tak membesar

g; Evaluasi Pra Anestesi


1; Kesiapan Perawat
a; Perawat sudah menyiapkan anestesi umum (mesin anestesi,
stetoscope, laringoscope machintos dengan ukuran 4, tube
ET disiapkan dengan 3 ukuran yaitu ET ukuran 7, 7,5, 8,
Airway berupa mayo dengan ukuran 3,4,5, plester, stilet,
conector, suction), obat emergensi
2; Kesiapan Pasien
a; Pasien telah melakukan puasa
b; Pasien telah mengosongkan kandung kemih, BAK terakhir
pukul 06.00 WIB
c; Pencukuran area operasi
d; Pasien telah memakai baju dan topi operasi
e; Sign in dilakukan untuk mempersiapkan dan memastikan
kondisi pasien, data yang didapat diantaranya: status pasien
ASA I, pasien telah terpasang IV line terpasang dengan
infus RL 500 cc di tangan kanan, mengalir lancar, tidak ada
persediaan darah, pasien tidak memiliki riwayat penyakit
hipertensi, jantung maupun diabetes melitus, pasien tidak
memiliki riwayat alergi pada obat maupun makanan,
tekanan darah pasien 140/80 mmHg
f; Pasien diajarkan nafas dalam
g; Pasien diberikan pendidikan kesehatan untuk makan
makanan TKTP karena tidak ada riwayat alergi.
3; Kesiapan Obat
a; Obat premedikasi berupa ondansetron telah diberikan
dengan dosis 4 mg
b; Obat anestesi fentanil dosis 100 mcg, propofol 100 mg,
roculax 50 mg, ketorolak 30 mg, tramadol drip100 mg.
2; Intra Anestesi
a; Prosedur Intra anestesi
1; Pasien dipindahkan ke meja operasi
2; Pasien dipasang tensimeter, pulse oksimeter.
3; Hidupkan bed side monitor dan atur pengukuran tekanan darah tiap
5 menit
4; Pasien diberikan obat sesuai instruksi dokter yaitu fentanil 100 mcg
rute IV bolus, propofol 100 mg rute IV bolus dengan perlahan
5; Kemudian observasi pasien hingga tertidur, reflek bulu mata tidak
ada
6; Berikan ventilasi melalui facemask hingga yakin airway pasien
dapat dikuasai dengan melihat volume tidal di bed side monitor dan
gerak dada pasien saat bernafas
7; Pasien diberikan muscle relaxan roculax 50 mg
8; Kemudian dokter spesialis anestesi dibantu penata anestesi
melakukan intubasi.
9; Endotracheal Tube disambungkan dengan mesin
10; Cek kedalaman endotracheal tube dengan mendengarkan suara
nafas, kemudian fiksasi ET
11; Monitor tanda-tanda vital serta saturasi oksigen selama intraoperasi
12; Time out dilakukan dengan memastikan pasien serta kesiapan tim
bedah maupun anestesi seperti konfirmasi ketepatan prosedur,
lokasi, pasien, rencana pencegahan kejadian yang tidak diharapkan,
pemeriksaan jumlah dan jenis instrumen
13; Monitor kebutuhan cairan selama intra operatif
a; Kebutuhan cairan pasien selama operasi:

Rumus Maintenance : 2 cc/kgBB/jam x BB


: 2 x 68 : 136 cc
Rumus Pengganti Puasa : lama puasa x maintenance
: 7 x 136 : 952 cc
Rumus Stress operasi : jenis operasi x BB
: 8 x 68 : 544 cc
b; Pemberian cairan intra operasi

Jam I : PP + M + SO
: 476 + 136 + 544
: 1.156 cc

Jam II : PP + M + SO
: 238 + 136 + 544
: 918 cc
Jam III : PP + M + SO
: 238 + 136 + 544
: 918 cc
Jam IV : M + SO
: 136 + 544
: 680 cc
c; Pengganti perdarahan
Perdarahan < 20% dari EBV maka dapat diberikan
kristalod : koloid ( 3:1)
Perdarahan > 20% dari EBV maka cairan digantikan
dengan tranfusi darah
EBV Ny.N : BB x 70 : 45 x 70 : 3150 cc
Perdarahan intra operatif : 300 cc ( perdarahan 9,5 %)
14; Pasien diberikan tramadol drip100 mg rute IV
15; Pasien diberikan ketorolak 30 mg rute IV
16; Ketika operasi hampir selesai pemberian isofluran dikurangi sedikit
demi sedikit kemudian dihentikan.
17; N2O dimatikan kemudian pasien diberikan O2 murni hingga 3-5
menit atau saturasi oksigen baik, pasien dilakukan ekstubasi
18; Perawat anestesi mengobservasi kemampuan bernafas pasien
19; Pasien sudah dapat nafas spontan kemudian face mask dilepas
20; Alat pulse oksimeter dan tensimeter dilepas
21; Pindahkan pasien ke ruang RR dengan brankard
b; Rekam Monitor Pasien Intra Anestesi

Jam Tindakan Tensi Nadi Sa O2


08.35 ; Pasien masuk ke kamar 128/72 81 100
operasi, dan dipindahkan ke
meja operasi
; Pemasangan alat pulse
oksimeter dan tensimeter
; Infus RL terpasang pada
tangan kanan, aliran lancar
; Pasien diberikan
ondansetron dosis 4 mg rute
IV

08.50 Pasien diberikan fentanyl dosis 121/87 71 100


100 mcg, propofol 100 mg
08.55 Pasien tertidur, tidak ada reflek 116/79 87 99
bulu mata relaks.
08.56 Pasien diberikan ventilasi 112/75 88 100
melalui facemask hingga
saturasi baik, volume tidal
terpenuhi
09.00 Pasien diberikan roculax 50 mg 110/72 79 100
rute IV
09.03 Kepala pasien dapat digerakkan 109/71 67 100
tanpa tahanan. Pasien dilakukan
intubasi oleh dokter anestesi
dibantu penata anestesi
09.00 ET disambungkan ke mesin 112/72 68 100
anestesi dan dicek
kedalamannya dengan
mendengarkan suara nafas dada
kanan dan kiri
09.01 Agen volatil isofluran diberikan 110/68 82 100
2 % vol, N2O 2 lpm, O2 2 lpm
diberikan dengan kecepatan
aliran 4 lpm.
09.10 Operasi burr holes dimulai 121/76 86 100
09.40 Penggantian cairan HES 117/64 86 100

09.50 Terjadi penurunan tekanan 92/56 88 99


darah
10.05 Pasien bergerak 132/85 89 100
10.06 Dosis pemberian isofluran 96/75 86 100
dinaikkan menjadi 8 vol %
10.10 Dosis isofluran diturunkan 114/84 87 100
menjadi 4 vol %
10.13 Dosis isofluran diturunkan 116/78 78 100
menjadi 2 kemudian 1,5 vol
%
10.20 Cairan infus diganti dengan 118/62 77 100
NaCl
10.40 Gas Isofluran dikurangi 120/82 78 100
menjadi 1 vol %
10.47 Gas Isofluran dihentikan 122/84 81 100

10.50 Operasi selesai 116/79 76 100

10.50 Gas N2O dihentikan 108/78 78 100

10.50 Gas O2 murni diberikan 112/74 66 100

10.55 ET dilepas 109/72 77 100


10.57 Pelepasan alat monitoring 112/82 79 100

11.00 Pasien dipindahkan ke ruang 118/83 82 100


PACU
11.10 Dilakukan pemasangan alat 118/80 70 100
monitoring pada recovery room

3; Post Anestesi
a; Pasien dipindahkan ke ruang PACU
b; Di ruang PACU pasien dipasang monitor oksigen nasal kanul 2 lpm,
tensimeter dan saturasi oksigen
c; Pasien terpasang IVFD RL 500 ml dengan kecepatan 20 tpm
d; Melakukan observasi keadaan pasien hingga kesadaran penuh atau
alderet score > 8
e; Observasi hemodinamik pasien setiap 5 menit selama 15 menit

B; DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Anestesi
1; Cemas b/d kurang pengetahuan masalah pembiusan/operasi
2; Risiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d dehidrasi
Intra Anestesi
1; Pola nafas tidak efektif b/d disfungsi neuromuscular dampak
sekunder obat pelumpuh otot pernafasan obat general anestesi
2; Resiko aspirasi b/d penurunan tingkat kesadaran
Post Anestesi
1; Resiko kecelakaan cedera b/d efek anestesi umum
2; Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d mukus banyak, sekresi
tertahan efek dari general anestesi

C; PRIORITAS DIAGNOSIS KEPERAWATAN


Pre Anestesi
1; Cemas b/d kurang pengetahuan masalah pembiusan/operasi
2; Risiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d dehidrasi
Intra Anestesi
3; Pola nafas tidak efektif b/d disfungsi neuromuscular dampak
sekunder obat pelumpuh otot pernafasan obat general anestesi
4; Resiko aspirasi b/d penurunan tingkat kesadaran
Post Anestesi
5; Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d mukus banyak, sekresi
tertahan efek dari general anestesi
6; Resiko kecelakaan cedera b/d efek anestesi umum

D; PERENCANAAN, PELAKSANAAN DAN EVALUASI


Terlampir

DAFTAR PUSTAKA

American College of Surgeons. (2011). Advanced Trauma Life Support


(ATLS). United States of America : American College of Surgeons
Commite on Trauma

Gwinnutt, Carl. L. (2011). Catatan Kuliah Anestesi Klinis 3rd ed. Jakarta: EGC
Iskandar J. (2011). Cedera Kepala. Jakarta : Gramedia

Katzung, BG. (2015). Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta : ECG

Mangku, G., & Tjokorda, G. A. S. (2010). I Made, W., I. B. Gde, S., Ketut, S. I
Gede, B. (Eds). Buku Ajar Ilmu Anestesia Dan Reanimasi. Jakarta: Indeks

Raj Kumar. (2010). Chronic Subdural Fliud Collection in Children. Journal of


Medical Education and Research

Satyanegara. (2010). Ilmu Bedah Saraf. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama:

Shu-qing Y, Ji-sheng W, Nan J. (2008). Compressive brainstem deformation


resultingfrom subdural hygroma after neurosurgery: a case report.
Chinese Medical Journal

Sjamsuhidajat R, Jong WD. (2009). Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC

VandenBerg JSP, Sijbrandy SE, Meijer AH, Oostdijk AHJ. (2011).


Subdural Hygroma : A Rare Complication of Spinal Anesthesia. Anesth
Analgesic.

Widyatuti. (2008). Terapi Komplementer dalam Keperawatan. Jurnal


Keperawatan Indonesia. 12 (1). ISSN: 2354-9203

Zanini MA, Resende LAL, Freitas CCM, Yamashita S. (2007). Traumatic


Subdural Hygroma Five Cases With Changed Density And spontaneous
resolution. Arq Neuropsiquiatr