You are on page 1of 17

PERTUSIS

Disusun Oleh :

1. Arifatul widya rahayu


2. Dana nurmayanti
3. Dekis finalia

Dosen Pembimbing
Lina Madyastuti R S.Kep.Ns.,M.kep

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik


2015
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat dan
karunia-Nya sehingga penyusunan makalah dengan judul PERTUSIS dapat kami selesaikan
sengan jadwal yang telah direncanakan. Terdorong oleh rasa ingin tahu, kemauan, kerjasama dan
kerjakeras, kami serahkan seluruh upaya demi mewujudkan keinginan ini.
Makalah ini kami buat untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan untuk
melengkapi dan menyempurnakan suatu mata kuliah.
Penulis menyadari dalam menyusun makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan
baik cara penulisan ataupun penyusunanya. Oleh karena itu kami, mohon maaf dan sangat
mengharapkan masukan yang sifatnya membangun demi untuk kesempurnaan makalah ini.
Penulis menyadari pula, bahwa selesainya makalah ini tidak lepas dari sukungan serta
bantuan baik berupa moral maupun material dari semua pihak terkait. Oleh kerena itu, dengan
segala kerendahan hati kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Dosen pembimbing
memberikan masukan dan petunjuk serta saran-saran yang baik.
Tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan makalah ini. Kami sadar bahwa
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun
dapat memberikan motivasi bagi kami dalam pembuatan makalah berikutnya.Semoga makalah
ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca . Terima kasih kami ucapkan .

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Di Negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia, sebelum ditemukannya vaksin,
angka kejadian dan kematian akibat menderita pertusis cukup tinggi.Ternyata 80% anak-anak
dibawah umur 5 tahun pernah terserang penyakit pertusis, sedangkan untuk orang dewasa sekitar
20% dari jumlah penduduk total.
Dengan kemajuan perkembangan antibiotic dan program imunisasi maka mortalitas dan
morbiditas penyakit ini mulai menurun.Namun demikian penyakit ini masih merupakan salah
satu masalah kesehatan terutama mengenai bayi- bayi dibawah umur.
Pertusis sangat infesius pada orang yang tidak memiliki kekebalan.Penyakit ini mudah
menyebar ketika si penderita batuk.Sekali seseorang terinfeksi pertusis maka orang tersebut
kebal terhadap penyakit untuk beberapa tahun tetapi tidak seumur hidup, kadang kadang
kembali terinfeksi beberapa tahun kemudian.Pada saat ini vaksin pertusis tidak dianjurkan bagi
orang dewasa.Walaupun orang dewas sering sebagai penyebab pertusis pada anak anak,
mungkin vaksin orang dewasa dianjurkan untuk masa depan.

1.2 Rumusan Masalah


1.Bagaimana Konsep teori dari pertusis ?
2.Bagaimana asuhan keperawatan pada anak dengan pertusis?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui dan memahami bagaimana membuat Asuhan Keperawatan masalah Pernapasan
dengan gangguan Pertusis.

1.3.2 Tujuan Khusus

Mahasiswa akan mampu:


1. Memahami definisi pertusis

2. Mengetahui etiologi terjadinya pertusis

3. Mengetahui patofisiologi terjadinya pertusis

4. Mengeidentifikasi manifestasi klinis yang dapat ditemukan pada klien anak pertusis

5. Mengidentifikasi penatalaksanaan klien anak dengan pertusis

6. Merumuskan asuhan keperawatan pada klien anak dengan pertusis meliputi WOC,
analisis data, pengkajian, diagnosis, intervensi

1.4 Manfaat
Bisa lebih mengetahui dan memahami bagaimana gangguan pertusis terjadi, bagaimana
cara mengobati serta bagaimana menyusun Asuhan Keperawatannya.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Pertusis


Pertusis adalah suatu infeksi akut saluran nafas yang mengenai setiap pejamu yang
rentan, tetapi paling sering dan serius pada anak-anak. (Behrman, 1992). Definisi Pertusis
lainnya adalah penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan yang sangat menular dengan
ditandai oleh suatu sindrom yang terdiri dari batuk yang bersifat spasmodic dan paroksismal
disertai nada yang meninggi. (Rampengan, 1993). Penyakit ini ditandai dengan demam dan
perkembangan batuk semakin berat. Batuk adalah gejala khas dari batuk rejan atau pertusis.
Seranagn batuk terjadi tiba-tiba dan berlanjut terus tanpa henti hingga seluruh udara di dalam
paru-paru terbuang keluar. Akibatnya saat napas berikutnya pasien pertusis telah kekurangan
udara shingga bernapas dengan cepat, suara pernapasan berbunyi separti pada bayi yang baru
lahir berumur kurang dari 6 bulan dan pada orang dewasa bunyi ini sering tidak terdengar. Batuk
pada pertusis biasanya sangat parah hingga muntah-muntah dan penderita sangat kelelahan
setelah serangan batuk.

2.2 Etiologi Pertusis


Pertusis biasanya disebabkan diantaranya sebagai berikut :
Bordetella pertussis (Hemophilis pertusis).
Suatu penyakit sejenis telah dihubungkan dengan infeksi oleh bordetella para
pertusis, B. Bronchiseptiea dan virus.

2.3 Patofisiologi Pertusis


Infeksi diperoleh oleh inhalasi yang mengandung bakteri Bordetella pertusis. Perubahan
inflamasi dipandang sebagai organisme proliferasi di mukosa sepanjang saluran pernafasan,
terutama di dalam bronkus dan bronkiolus, mukosa yang padat dan disusupi dengan neutrofil,
dan ada akumulasi lendir lengket dan leukosit di lumina bronkial. gumpalan basil terlihat dalam
silia epitel trakea dan bronkial, di bawahnya yang ada nekrosis dari apithelium basiliar. Obstruksi
parsial oleh plak lendir di saluran pernapasan.(Wong,2004)

2.4 Manifestasi Klinis Pertusis


Pada Pertusis, masa inkubasi 7-14 hari, penyakit berlangsung 6-8 minggu atau lebih dan
berlangsung dalam 3 stadium yaitu :

1. Stadium kataralis / stadium prodomal / stadium pro paroksimal


a. Lamanya 1-2 minggu

b. Gejala permulaannya yaitu timbulnya gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas,
yaitu timbulnya rinore dengan lender yang jernih.
1) Kemerahan konjungtiva, lakrimasi
2) Batuk dan panas ringan
3) Anoreksia kongesti nasalis
c. Selama masa ini penyakit sulit dibedakan dengan common cold
d. Batuk yang timbul mula-mula malam hari, siang hari menjadi semakin hebat,
sekret pun banyak dan menjadi kental dan lengket.
2. Stadium paroksimal / stadium spasmodic

1. Lamanya 2-4 minggu

2. Selama stadium ini batuk menjadi hebat ditandai oleh whoop (batuk yang bunyinya
nyaring) sering terdengar pada saat penderita menarik nafas pada akhir serangan
batuk. Batuk dengan sering 5 10 kali, selama batuk anak tak dapat bernafas dan
pada akhir serangan batuk anak mulai menarik nafas denagn cepat dan dalam.
Sehingga terdengar bunyi melengking (whoop) dan diakhiri dengan muntah.

3. Batuk ini dapat berlangsung terus menerus, selama beberapa bulan tanpa adanya
infeksi aktif dan dapat menjadi lebih berat.
4. Selama serangan, wajah merah, sianosis, mata tampak menonjol, lidah terjulur,
lakrimasi, salvias dan pelebaran vena leher.

5. Batuk mudah dibangkitkan oleh stress emosional missal menangis dan aktifitas fisik
(makan, minum, bersin dll).

3. Stadium konvaresens

1. Terjadi pada minggu ke 4 6 setelah gejala awal

2. Gejala yang muncul antara lain :

a. Batuk berkurang

b. Nafsu makan timbul kembali, muntah berkurang

c. Anak merasa lebih baik

3. Pada beberapa penderita batuk terjadi selama berbulan-bulan akibat gangguan pada
saluran pernafasan.

2.5 Pemeriksaan Diagnostik


Pada stadium kataralis dan permulaan stadium spasmodic jumlah leukosit meninggi
kadang sampai 15.000-45000 per mm3 dengan limfositosis, diagnosis, dapat diperkuat dengan
mengisolasi kuman dari sekresi jalan napas yang dikeluarkan pada waktu batuk.Secara
laboratorium diagnosis pertusis dapat ditentukan berdasarkan adanya kuman dalam biakan atau
dengan pemeriksaan imunofluoresen.

2.6 Penatalaksanaan
Anti mikroba
Pemakai obat-obatan ini di anjurkan pada stadium kataralis yang dini. Eritromisin
merupakan anti mikroba yang sampai saat ini dianggap paling efektif dibandingkan dengan
amoxilin, kloramphenikol ataupun tetrasiklin. Dosis yang dianjurkan 50mg/kg BB/hari, terjadi
dalam 4 dosis selama 5-7 hari.
Kortikosteroid
a. Betametason oral dosis 0,075 mg/lb BB/hari
b. Hidrokortison suksinat (sulokortef) I.M dosis 30 mg/kg BB/ hari kemudian diturunkan
perlahan dan dihentikan pada hari ke-8
c. Prednisone oral 2,5 5 mg/hari
Berguna dalam pengobatan pertusis terutama pada bayi muda dengan seragan proksimal.
Salbutamol Efektif terhadap pengobatan pertusis dengan cara kerja :
a. Beta 2 adrenergik stimulan
1) Mengurangi paroksimal khas
2) Mengurangi frekuensi dan lamanya whoop
3) Mengurangi frekuensi apneu
b. Terapi suportif
1) Lingkungan perawatan penderita yang tenang
2) Pemberian makanan, hindari makanan yang sulit ditelan, sebaiknya makanan cair,
bila muntah diberikan cairan dan elektrolit secara parenteral
3) Pembersihan jalan nafas
4) Oksigen
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK An. A.,


di Ruang Anak RSUD DR Soetomo Surabaya
Tanggal Pengkajian : 8 September 2010
Jam : 11.30 WIB

IDENTITAS KLIEN
Nama Bayi : An A
TTL : 7/09/03
Umur : 7 tahun 1 hari
Nama Ayah/ Ibu : Tn. M (Alm) / Ny.M
Pekerjaan Ibu : Buruh
Alamat : Penanggulan RT 04 RW I Pegandon - Kendal
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Pendidikan ayah : SD
Pendidikan Ibu : SD
Diagnosa : Pertusis

I. RIWAYAT SAKIT DAN KESEHATAN


Keluhan Utama : Batuk Rejan
Riwayat Penyakit Sekarang : An A tinggal bersama orang tuanya di tempat yang padat
penduduk. Satu minggu terakhir an A mengeluh pusing
kepada ibunya. Ibu mengetahui an A demam dan batuk
yang timbul mula-mula malam hari. Setiap kali batuk an A
disertai rasa muntah, terkadang sampai muntah. Nafs
makan an A menurun karena seringnya batuk. Hingga
karena batuknya semakin hebat, ibunya memutuskan
untuk di bawa kerumah sakit.
Riwayat Penyakit dahulu : Tidak ada
Riwayat Keluarga : Tidak Ada

II. OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK


2.1 Keadaan Umum : Baik, Kesadaran Kompos Mentis
2.2 Tanda-Tanda Vital :
S : 37,40
N :102 x/mnt
TD :110/80 mmHg
RR : 30 x/mnt

III. REVIEW OF SYSTEM


3.1 Pernafasan B1 (breath)
Bentuk dada : normal
Pola nafas : tidak teratur
Suara napas : ronchi
Batuk : ya, ada sekret
Retraksi otot bantu napas : ada
Alat bantu pernapasan : nasal kanul 3 lpm
3.2 Kardiovaskular B2 (blood)
Irama jantung : regular
Nyeri dada : tidak
Bunyi jantung ; normal
Akral : panas

3.3 Persyarafan B3 (brain)


Keluhan pusing (+)
Gangguan tidur (+)
Penglihatan (mata) : anemia
Pendengaran (telinga) : tidak ada gangguan
Penciuman (hidung) : tidak ada gangguan
3.4 Perkemihan B4 (bladder)
Kebersihan : bersih
Bentuk alat kelamin : normal
Uretra : normal
3.5 Pencernaan B5 (bowel)
Nafsu makan : menurun
Porsi makan : tidak habis, 3 kali sehari
Mulut : bersih
Mukosa : lembap
3.6 Muskuloskeletal/integument B6 (bone)
Kemampuan pergerakan sendi : bebas

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan darah lengkap(DL) jumlah leukosit antara 11.000-75.000 sel / mdarah.

2. Kultur Bordetella Pertusis

1. Foto Thorax menunjukkan adanya atelektasis

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d peningkatan produksi mucus
2. Pola napas tidak efektif b/d tidak adekuatnya ventilasi
3. Gangguan rasa aman dan nyaman b/d aktivitas batuk yang meningkat.
4. Resiko kekurangan volume cairan b/d intake klien yang kurang
5.Resiko kekurangan nutrisi b/d adanya mual dan muntah.
6. Hyperthermy b/d infeksi salurn nafas.

INTERVENSI KEPERAWATAN

No DIAGNOSA INTERVENSI RASIONAL


KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan napas tidak - Memberikan cairan hangat - Secret kental dapat menyebabkan
efektif b/d sekresi yang sedikitnya 1,9- 2,8 liter/hari atelektasis (penyempitan bronkus)
berlebihan dan kental
Tujuan : status ventilasi - Beri tahukan orang tua tentang - Jelaskan dan demonstrasikan
saluran pernafasan baik perlunya batuk efektif bagi anak, manfaat latihan batuk yang dapat
Kriteria hasil : sekalipun upaya itu menyakitkan meningkatkan kerjasama antara
orangtua dan anak
1.RR normal : 18-30 - Kolaborasi : pemberian obat - Untuk menurunkan sekresi secret
kali/menit depresan batuk, ekspektorant dijalan napas dan menurunkan
2. Suara nafas tambahan sesuai indikasi resiko keparahan
tidak ada
3. Pernafasan menjadi
mudah

2. Pola napas tidak efektif - Posisikan anak dalam keadaan - Posisi semifowler membantu
semifowler mempermudahkan pernafasan
Tujuan : menunjukkan
pola napas efektif dengan
-Dengan pemberian oksigenasi
frekuensi dan kedalaman - Memberikan oksigenasi dengan
,kebutuhan oksigen terpenuhi
dalam rentang normal pemberian nasal kanul 3 lpm
sehingga pola nafas menjadi efektif
Criteria hasil:
1. Frekuensi pernapasan
normal (18-30kali/menit)
2. Retraksi otot bantu
nafas normal

3. Hyperthermi - Memberikan kompres hangat - Merangsang pusat pengatur panas


Tujuan : Suhu Tubuh untuk menurunkan produksi panas
Normal tubuh
Kriteria Hasil : -kolaborasi pemberian - merangsang pusat pengatur panas
1. Suhu tubuh normal (36- antipirektik di otak
37,5 C)
2. Tidak terdapat tanda - Memonitor suhu tubuh setiap 2 - Deteksi dini terjadinya perubahan
infeksi (rubor,dolor,kalor, jam abnormal fungsi tbuh
tumor,fungsiolesa)
4. Resiko kekurangan - Memberikan cairan berupa teh - Pemunuhan dasar kebutuhan cairan
volume cairan b/d intake encer, jus apel dalam jumlah 15 menurunkan resiko dehidrasi
klien yang kurang mL, tetapi sering

Tujuan : intake sama - Observasi turgor kulit, - indicator langsung keadekuatan


dengan output kelembaban membrane mukosa volume cairan, meskipun membrane
(bibir dan lidah) mukosa mulut mungkin kering
karena napas mulut dan oksigen
Kriteria Hasil : tambahan
1. tekanan vital stabil
2. Turgor kulit baik - Catat cairan Intake dan Output - Penurunan sirkulasi volume cairan
3. turgor kulit baik menyebabkan kekeringan mukosa
4. membrane mukosa dan pemekatan urine
lembab
5. Pengisian kapiler cepat - memberikan informasi tentang
- Pantau masukan dan
keadekuatan volume cairan dan
haluaran,catat warna, karakter
kebutuhan penggantian
urine. Hitung keseimbangan
cairan
5. Gangguan rasa aman dan - Menemani dan membantu anak - Mengurangi rasa gelisah dan
nyaman b/d aktivitas batuk pada saat batuk bila anak kesulitan bernafas pada anak
yang meningkat. muntah.

- Meminimalkan anak untuk - Penyebab serangan batuk dapat


menangis atau tertawa/bercanda berkurang
yang berlebihan

- Pemberian obat setelah anak - Obat tidak akan terbuang sia-sia


mendapat serangan batuk dan kalau diberikan setelah anak
sudah reda mendapat serangan batuk

6. Resiko kekurangan nutrisi - Berikan asupan gizi dengan - Nutrisi yang kurang menyebabkan
b/d adanya mual dan jumlah kalori = 80/kkal kg BB daya tahan tubuh semakin menurun
muntah Berikan protein sebanyak 40
gram
Tujuan : kebutuhan nutrisi
terpenuhi
- Identifikasi factor yang
- pilihan intervensi tergantung pada
menimbulkan mual/muntah
Criteria hasil : penyebab masalah
,misalnya sputum banyak,
1. Menunjukkan
pengobatan aerosol, dispnea
peningkatan nafsu makan
berat ,nyeri
2. Mempertahankan/
meningkatkan berat badan
- Susu yang terlalu manis dan
- Meminimalkan pemberian susu
goreng-gorengan dapat merangsang
yang terlalu manis atau makanan
reflek batuk yang meningkat
yang digoreng atau terlalu asin
IV. EVALUASI
1) status ventilasi saluran pernafasan baik
2) menunjukkan pola napas efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam
rentang normal dan paru jelas atau bersih
3) tidak terjadi resiko infeksi
4) pasien dapat tidur dan istirahat sesuai kebutuhannya
5) kekurangan volume cairan tidak terjadi
6) resiko kekurangan nutrisi kurang dari kebutuhan tidak terjadi
7) melaporkan/menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas
BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kami ambil dari penjelasan isi makalah diatas adalah sebagai
berikut :

1. Pertusis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteriBordotella


pertusis.

2. Pertusis dapat mengenai semua golongan umurdan terbanyak mengenai anak 1-5
tahun Tiga tahapan dari penyakit pertusis adalah tahap kataralis, paroksimal dan
konvelesensi.

3. Asuhan keperawatan pada penderita pertusis secara garis besar adalah menjaga
kebersihan jalan napas agar terbebas dari bakteri pertusis.

4.

3.2 Saran
Sebagai perawat diharapkan mampu untuk melakukan asuhan keperawatan terhadap
penderita pertusis dan diftei. Karena seringkali pada penderita pertusis dan difteri disertai dengan
komplikasi. Keadaan ini akan menyebabkan penderitaan yang berkepanjangan. Oleh karena itu,
penyakit batuk rejan dan difteri perlu dicegah. Cara yang paling mudah adalah dengan pemberian
imunisasi bersama vaksin lain yang biasa disebut DPT dan polio.
Perawat juga harus mampu berperan sebagai pendidik. Dalam hal ini melakukan
penyuluhan mengenai pentingnya imunisasi dan imunisasi akan berdaya guna jika dilakukan
sesuai dengan program. Selain itu perawat harus memberikan pengetahuan pada orang tua
mengenai penyakit pertusis secara jelas dan lengkap.Terutama mengenai tanda-tanda,
penanganan dan pencegahannya.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A. Aziz Alimul.2009.Pengantar Ilmu Keperawatan Anak.Jakarta :Salemba


Medika
Ngastiah.2010.Perawatan Anak Sakit. Edisi 2. Jakarta:EGC
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 1985. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta:Info
Medika
Suriadi, dan Yuliani Rita. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Edisi 1. Jakarta : PT
Fajar Interpratama.
Wong, Donna L. 2011. Keperawatan Pediatrik. Edisi 4. Jakarta : EGC.