Sie sind auf Seite 1von 9

Emerson & Nabatchi: Collaborative

Governance

Emerson & Nabatchi: Collaborative Governance

Alur

Dimensi yang digunakan adalah: Capacity for joint action (seperti gambar di atas)

Variabel yang digunakan adalah: Procedural or

institutional arrangements (Buku Emerson

Halaman 196, Tabel 9.4)

Indikator yang digunakan adalah: Policy and

legal frameworks (Buku Emerson Halaman 188,

Tabel 9.1)

Collaborative Governance

Hubungan Governance & TCA

Policy & Legal

Frameworks

Procedural & Institutional Arrangements

Capacity for

Joint Action

Government’s

Objective:

To maximize social net gains

Project Characteristics and Institutional Environment

gains Project Characteristics and Institutional Environment Transaction Cost Sources: • Principal-principal problem

Transaction Cost Sources:

Principal-principal problem

Hold-up problem

Soft budget constraints

• Hold-up problem • Soft budget constraints Public-Private Interactions Dynamics: • Opportunism

Public-Private Interactions Dynamics:

Opportunism

Screening

Signaling

Promoter’s

Objective:

To maximize the value of profit pool

Objective: To maximize the value of profit pool Policies and Decisions: • Governance design Developing
Objective: To maximize the value of profit pool Policies and Decisions: • Governance design Developing

Policies and Decisions:

Governance design

Developing Decisions:

Concession negotiation

Equity investment

Contract undertaking

Management efforts

Others

Contract undertaking Management efforts • Others • • Procurement process • Government supports •
•
Contract undertaking Management efforts • Others • • Procurement process • Government supports • Others

Procurement process

Government supports

Others

• • Procurement process • Government supports • Others Social Gains Transaction Costs Value of Profit

Social Gains

Transaction

Costs

Value of Profit

Pool

Collaboration Dynamics Principled Engagement Shared Joint Motivation Capacity

Collaboration Dynamics

Collaboration Dynamics Principled Engagement Shared Joint Motivation Capacity
Collaboration Dynamics Principled Engagement Shared Joint Motivation Capacity
Collaboration Dynamics Principled Engagement Shared Joint Motivation Capacity

Principled

Engagement

Collaboration Dynamics Principled Engagement Shared Joint Motivation Capacity
Shared Joint Motivation Capacity
Shared
Joint
Motivation
Capacity
Collaboration Dynamics Principled Engagement Shared Joint Motivation Capacity

Dimensi: Capacity for Joint Action

Himmelman (1994) menyatakan “kolaborasi” berarti pendekatan pada aktivitas

kerjasama untuk meningkatkan kapasitas baik terhadap diri sendiri ataupun orang

lain untuk mencapai tujuan bersama. Maka, tata kelola kolaboratif juga bertujuan untuk menghasilkan sesuatu yang tidak dapat dicapai sendiri oleh pihak-pihak yang bekerjasama. Oleh karena itu, dalam tata kelola kolaboratif harus menciptakan peningkatan kapasitas maupun kapasitas baru yang sebelumnya tidak ada.

Armstrong (2004) mendefinisikan kapasitas untuk tindakan bersama sebagai serangkaian element lintas fungsional yang bersama-sama menciptakan potensi dalam melaksanakan tindakan efektif dan merupakan hubungan dari strategi dengan kinerja.

Hal ini sangat sejalan dengan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dimana pihak Pemerintah dan Badan Usaha berkolaborasi untuk menciptakan kapasitas baru untuk mencapai pembangunan infrastruktur.

Variabel: Procedural and Institutional

Arrangements

Procedural and Knowledge Institutional Arrangemen ts Resources Leadership
Procedural
and
Knowledge
Institutional
Arrangemen
ts
Resources
Leadership

Variabel: Procedural and Institutional

Arrangements

Dalam kerangka kerja kolaborasi, peraturan dan protokol baik formal maupun

informal, disain kelembagaan, dan dimensi struktural lain menjadi penting untuk

diperhatikan. Protokol dan struktur organisasi diperlukan untuk mengelola interaksi berulang dari berbagai partisipan sepanjang waktu.

Perlu dilakukan perbedaan antara aturan yang mengatur interaksi tertentu antara partisipan dalam jaringan dengan aturan yang mengatur forum kelembagaan dari

interaksi tersebut.

Apabila tatakelola kolaboratif semakin besar dan rumit, maka dibutuhkan protokol dan struktur eksplisit untuk administrasi dan manajemen. Instrumen kelembagaan formal seperti keputusan, peraturan, dapat melengkapi pengaturan dan norma informal.

Perlu didefinisikan pengaturan prosedural dan kelembagaan baik pada tingkat

intraorganisasi maupun interorganisasi.

Indikator: Policy & Legal Frameworks

System Context: • Public service or resource conditions • Socioeconomic and cultural characteristics • Network
System Context:
• Public service or resource conditions
• Socioeconomic and cultural characteristics
• Network characteristics
• Political dynamics and power relations
• History of conflict

Indikator: Policy & Legal Framework

Termasuk didalamnya hukum substantif, peraturan, regulasi, mandat, perintah

eksekutif, memorandum, dan kebutuhan legal lainnya yang berkaitan dengan

manajemen sumberdaya dan jasa publik.

Sifat dari sebuah hukum, peraturan, regulasi, dan kebijakan, dimana kerangka kerja yang ditetapkan, baru terbentuk, atau dalam proses perubahan.

Tingkat dimana pengambilan keputusan dan tindakan dibatasi oleh kerangka kerja.

Tindakan kolaboratif yang efektif sangat berhubungan dan difasilitasi dengan

kerangka kebijakan dan legal.