You are on page 1of 10

HUBUNGAN PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG

TERAPI INFUS DENGAN KEJADIAN PLEBITIS


DAN KENYAMANAN PASIEN DI RUANG
RAWAT INAP DI RSUD INDRAMAYU

Wayunah
STIKES Indramayu
E-mail: mumet_plumbon@yahoo.co.id

Abstract: The purpose of this correlational analytic study was to


determine the association between nurses knowledge of intravenous
therapy and the incidence of phlebitis and comfort of the patients. The
samples of the study were 65 nurses who work in inpatient wards and

Y
65 patients who received intravenous therapy by nurses. Data analysis
using Chi-square showed that there is a significant association between

SA
knowledge of nurses about intravenous therapy and incidence of phlebitis
(p<0.01), and there is a significant association between knowledge of
nurses and patients comfort (p < 0.01). It is recommended for nurses to
improve knowledge and skills so that the intravenous therapy
2
complications and discomfort can be prevented.
01
Keywords: knowledge, phlebitis, comfort, intravenous therapy

Abstrak: Tujuan penelitian korelasi analitik ini adalah untuk mengetahui


.2

hubungan pengetahuan perawat tentang terapi infus dengan kejadian


plebitis dan kenyamanan pasien. Sampel penelitian ini adalah 65 perawat
1

dan 65 pasien yang dipasang infus oleh perawat pelaksana rawat inap.
Hasil analisis data penelitian dengan Chi-square menunjukkan ada
8.

hubungan yang signifikan antara pengetahuan perawat tentang terapi


infus dengan kejadian plebitis (p<0.01), dan ada hubungan yang signifikan
antara pengetahuan perawat tentang terapi infus dengan kenyamanan
K

(p<0.01). Direkomendasikan untuk perawat agar meningkatkan


JK

pengetahuan dan keterampilan pemasangan infus sehingga komplikasi


dan ketidaknyamanan akibat pemasangan infus dapat dikurangi.

Kata kunci: pengetahuan, plebitis, kenyamanan, terapi infus


Wayunah, Hubungan Pengetahuan Perawat tentang Terapi Infus... 91

PENDAHULUAN pakan komplikasi yang paling sering terjadi


Terapi infus merupakan tindakan yang pada pasien yang mendapat terapi infus.
paling sering dilakukan pada pasien yang Angka kejadian plebitis yang direko-
menjalani rawat inap. Menurut Hanskins et mendasikan oleh Infusion Nurses Society
al. (2001) mengatakan bahwa sekitar 90% (INS) adalah 5% atau kurang. Sementara
pasien rawat inap mendapat terapi infus dari hasil studi literatur ditemukan angka
selama perawatannya. Peran perawat dalam kejadian plebitis berkisar antara 2080%
terapi infus terutama dalam melakukan tugas (Champbell, 1998). Pujasari dan Sumarwati
delegasi, dapat bertindak sebagai care (2002) mengatakan bahwa angka kejadian
giver, dimana mereka harus memiliki penge- plebitis di Indonesia umumnya sekitar 10%.
tahuan tentang bidang praktik keperawatan Sedangkan dari hasil penelitian Gayatri dan
yang berhubungan dengan pengkajian, Handiyani (2008) menemukan angka
perencanaan, implementasi, dan evaluasi kejadian plebitis di tiga rumah sakit di

Y
dalam perawatan terapi infus. Menurut Jakarta sangat tinggi, yaitu 33.8%.
Perry dan Potter (dalam Gayatri & Han- Keterlibatan perawat dalam pemberi-

SA
dayani, 2008) mengatakan bahwa pem- an terapi infus memiliki implikasi tanggung
berian terapi infus diinstruksikan oleh dokter jawab dalam mencegah terjadinya kompli-
tetapi perawatlah yang bertanggung jawab kasi plebitis dan ketidaknyamanan pada pa-
pada pemberian serta mempertahankan sien, terutama dalam hal keterampilan pema-
2
terapi tersebut pada pasien. sangan kanula secara aseptik dan tepat, se-
01
Terapi infus merupakan salah satu tin- hingga mengurangi risiko terjadinya kegaga-
dakan invasif, oleh karena itu perawat harus lan pemasangan. Oleh karena itu, perawat
cukup terampil saat melakukan pemasangan harus memiliki kompetensi klinik dari semua
.2

infus. Perawat juga harus memiliki komitmen aspek terapi infus. Selain itu, perawat harus
untuk memberikan terapi infus yang aman, memiliki pengetahuan yang tinggi tentang
1

efektif dalam pembiayaan, serta melakukan terapi infus. Royal College of Nursing atau
8.

perawatan infus yang berkualitas (Alexander RCN (2005) memberikan standar tentang
et al., 2010). Namun, akibat prosedur teori dan praktek terapi infus yang harus
pemasangan yang kurang tepat, posisi yang dikuasai oleh perawat meliputi konsep dasar,
K

salah, kegagalan saat menginsersi vena, serta komplikasi, prosedur, dan perawatan infus.
ketidakstabilan dalam memasang fikasasi, Angka kejadian plebitis di RSUD
JK

dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Indramayu masih di atas standar INS, yaitu


Selain memberikan respon ketidak- sebesar 6,73%. Kejadian plebitis yang
nyamanan, pemberian terapi infus juga dapat dilaporkan tersebut umumnya plebitis yang
menimbulkan komplikasi plebitis. Plebitis sudah tahap lanjut. Sementara level plebitis
adalah inflamasi lapisan endotelia vena yang terdiri atas 4 (empat), dimana level 1 me-
disebabkan faktor mekanik, kimia, maupun rupakan derajat plebitis ringan dan level 4
teknik aseptik yang kurang (Philips, 2005). merupakan derajat plebitis berat. Berdasar-
Penyebab yang paling sering adalah karena kan hal tersebut menunjukkan bahwa pera-
ketidaksesuaian ukuran kateter dan pemilih- wat belum mengetahui tentang derajat
an lokasi vena, jenis cairan, kurang aseptik keparahan plebitis.
saat pemasangan, dan waktu kanulasi yang Pengetahuan perawat tentang pemasa-
lama (Hankins, et al., 2001; Richardson & ngan dan perawatan infus menjadi faktor
Bruso, 1993 dalam Gabriel, 2008; Alexan- yang penting dalam pencegahan komplikasi
der et al., 2010). Dan plebitis sendiri meru- plebitis dan ketidaknyamanan pasien. Ku-
92 Jurnal Kebidanan dan Keperawatan, Vol. 8 No. 1, Juni 2012: 90-99

rangnya pengetahuan perawat tentang prin- takan bahwa kejadian plebitis meningkat
sip dan prosedur pemasangan infus akan setelah 48 jam pemasangan kateter infus.
menimbulkan ketidakpatuhan dalam pelak- Kemudian pasien diberikan instrumen
sanaan tindakan sesuai prosedur sehingga kenyamanan, sehingga dari intsrumen ini
meningkatkan risiko kesalahan yang meng- diharapkan dapat mengukur kenyamanan
akibatkan komplikasi dan ketidaknyama- pasien yang dipasang infus di hari ketiga
nan. pemasangan. Sementara intrumen
pengetahuan diberikan pada perawat
METODE PENELITIAN pelaksana yang sudah melakukan
Jenis penelitian yang digunakan adalah pemasangan infus di ruangan.
kuantitatif dengan desain analitic-core- Analisis data menggunakan analisis
lational. Adapun pendekatannya adalah univariat, bivariat, dan multivariat. Adapun
cross-sectional. Jumlah sampel dalam uji bivariat yang digunakan adalah uji Chi

Y
penelitian ini sebanyak 65 perawat pelak- Square karena data yang digunakan
sana rawat inap, dan 65 pasien yang dilaku- berbentuk kategorik.

SA
kan pemasangan infus oleh perawat pelak-
sana rawat inap. Waktu penelitian dilaksana- HASIL DAN PEMBAHASAN
kan selama 4 minggu di bulan Mei 2011 Hasil penelitian diketahui tingkat
yang dilakukan pada 6 ruang rawat inap pengetahuan perawat tentang terapi infus
2
pasien dewasa. sebanyak 50.8% perawat memiliki
01
Penelitian ini menggunakan 4 (empat) pengetahuan tidak baik tentang terapi infus.
instrumen yaitu instrumen pengetahuan, ins- Angka kejadian plebitis yang ditemukan
trumen kenyamanan, dokumentasi pemasa- sangat tinggi, yaitu 40%, dan sebanyak
.2

ngan infus di ruangan, dan lembar observasi 53.8% pasien yang dipasang infus menyata-
tanda plebitis. Instrumen pengetahuan meng- kan nyaman (Tabel 1, Tabel 2 dan Tabel 3).
1

gunakan kuesioner dengan 43 item soal


8.

dengan bentuk pilihan tunggal (satu jawaban Tabel 1. Pengetahuan Perawat tentang
benar) yang terdiri dari sub variabel konsep Terapi Infus (n=65)
dasar terapi infus, komplikasi terapi infus,
K

prosedur pemasangan infus, dan perawatan


infus. Sedangkan kuesioner kenyamanan di-
JK

kembangkan berdasarkan instrumen


checklist kenyamanan Kolcaba dalam
bentuk pernyataan yang menggunakan skala
Likert dengan nilai 1-4, dan telah dimodi- Tabel 2. Kejadian Plebitis (n=65)
fikasi sesuai dengan kondisi pasien yang
dipasang infus. Jumlah item pernyataan
sebanyak 29 item. Kedua instrumen tersebut
telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas.
Pengamatan tanda plebitis dilakukan
pada hari ketiga setelah pemasangan. Hal
ini sesuai dengan pendapat yang dikemuka-
kan oleh Gabriel et al. (2005) yang menga-
Wayunah, Hubungan Pengetahuan Perawat tentang Terapi Infus... 93

Tabel 3. Kenyamanan Pasien setelah perawat tentang terapi infus dan kejadian
Dipasang infus hari ke-3 (n=65) plebitis diketahui ada hubungan yang signifi-
kan antara tingkat pe ngetahuan perawat
tentang terapi infus dengan kejadian plebitis
(p=0.0005; OR =9.5). Berdasarkan hasil
OR dapat disimpulkan bahwa perawat yang
memiliki pengetahuan tidak baik berpeluang
9.5 kali menyebabkan plebitis dibanding
perawat yang memiliki pengetahuan baik
Hasil analisis hubungan pengetahuan (Tabel 4).

Tabel 4. Hubungan Pengetahuan Perawat tentang Terapi Infus dengan Kejadian


Plebitis (n = 65)

Y
SA
2
01
.2

Hasil analisis hubungan antara tingkat OR=11.6). Berdasarkan hasil nilai OR da-
pengetahuan perawat tentang terapi infus pat disimpulkan bahwa perawat yang memiliki
1

dengan kenyamanan pasien diketahui ada pengetahuan tidak baik berpeluang sebesar
8.

hubungan yang signifikan antara tingkat pe- 11.6 kali menyebabkan ketidaknyamanan
ngetahuan perawat tentang terapi infus de- dibanding perawat yang memiliki pe-
ngan kenyamanan pasien (p=0.0005; ngetahuan baik tentang terapi infus (Tabel 5).
K
JK

Tabel 5. Hubungan Pengetahuan Perawat tentang Terapi Infus dengan Kenya-


manan Pasien (n = 65)
94 Jurnal Kebidanan dan Keperawatan, Vol. 8 No. 1, Juni 2012: 90-99

Hasil analisis faktor potensial con- kateter IV yang akan digunakan. Misalnya
founding kejadian plebitis ditemukan bahwa jika pasien mendapat terapi cairan yang
variabel yang paling berpengaruh terhadap mempunyai osmolalitas tinggi (hipertonis)
kejadian plebitis adalah riwayat penyakit atau dengan pH tinggi maka perawat harus
pasien setelah dikontrol jenis cairan dan mempertimbangkan untuk memilih vena
pengetahuan perawat. Sedangkan variabel besar (Kokotis, 1998).
usia menjadi variabel confounding hubu- Kontrol infeksi merupakan salah satu
ngan antara pengetahuan perawat tentang langkah penting dalam meningkatkan pa-
terapi infus dengan kejadian plebitis. tient safety. Hal ini harus diterapkan, karena
Hasil analisis faktor potensial con- pasien mempunyai kelemahan fisik dan juga
founding kenyamanan pasien ditemukan daya tahan, sehingga akan mudah terinfeksi.
variabel yang paling berpengaruh terhadap Seperti yang dikemukakan Hart (1999
kenyamanan pasien adalah tingkat penge- dalam Hindley 2004) yang mengatakan

Y
tahuan perawat tentamg terapi infus. Semen- bahwa pasien adalah orang yang rentan
tara variabel riwayat pasien dan tingkat pen- terjadi infeksi karena mengalami penurunan

SA
didikan perawat menjadi variabel confound- daya tahan tubuh, kehilangan integritas kulit,
ing hubungan antara pengetahuan perawat prosedur invasif multipel, pemberian terapi
tentang terapi infus dengan kenyamanan antibiotik, dan nutrisi yang kurang.
pasien. Penelitian senada dilakukan oleh
2
Bijayalaxm, Urmila dan Prasad (2010) yang
01
Pengetahuan Perawat tentang Terapi mengukur pengetahuan perawat yang
Infus bekerja di bangsal bedah tentang pema-
Hasil penelitian tentang tingkat penge- sangan kateter intravena dengan kejadian
.2

tahuan perawat tentang terapi infus diketahui infeksi. Hasil penelitian terdapat perbedaan,
bahwa sebanyak 50.8% memiliki pengeta- terutama dalam penentuan kategori pengeta-
1

huan tidak baik. Hal ini menunjukkan masih huan serta objek penelitiannya. Hal yang
8.

rendahnya pengetahuan perawat tentang berbeda pula dari hasil penelitian yang dila-
terapi infus, terutama yang berkaitan dengan kukan oleh Karolinez et al. (2003) yang me-
prinsip-prinsip pemilihan vena dan tindakan ngukur pengetahuan perawat tentang terapi
K

aseptik kulit sebelum melakukan insersi infus dengan infeksi kateter intravena, namun
kateter infus. Berdasarkan jawaban respon- dalam penilaiannya dilakukan berdasarkan
JK

den, pertanyaan tentang pemilihan lokasi perilaku dalam melaksanakan SOP.


vena dan cara mendesinfeksi kulit sebelum Hasilnya ditemukan bahwa perawat memiliki
pemasangan kateter infus, hanya sebagian pengetahun tinggi, namun rendah dalam
kecil perawat yang menjawab benar. Hal ini perilaku penerapan SOP.
menunjukkan masih rendahnya pemahaman Seorang perawat idealnya harus me-
responden tentang prinsip-prinsip dasar miliki dasar pengetahuan tentang berbagai
dalam pemberian terapi infus. teori yang berkaitan dengan terapi infus. Hal
Penentuan lokasi vena merupakan ini akan mempengaruhi dalam perilakunya,
salah satu pengetahuan yang harus dimiliki terutama tentang prinsip-prinsip yang ber-
oleh seorang perawat sebelum melakukan kaitan dengan protokol pelaksanaan serta
pemasangan infus. Hal ini terkait dengan implementasi untuk pencegahan komplikasi.
penentuan lokasi yang tepat didasarkan baik Oleh karena itu, perawat harus memiliki
faktor usia pasien, jenis terapi yang diberi- pengetahuan mendalam tentang prinsip-
kan, maupun pertimbangan dari ukuran prinsip teknik aseptik, stabilitas, penyim-
Wayunah, Hubungan Pengetahuan Perawat tentang Terapi Infus... 95

panan, pelabelan, interaksi, dosis dan per- pemasangan infus.


hitungan dan peralatan yang tepat sehingga Kejadian plebitis meningkat sejalan
dapat memberikan terapi infus dengan aman dengan lamanya waktu kanulasi. Seperti
kepada pasien. yang dikemukakan oleh Gabriel, et al.
(2005) mengatakan bahwa kejadian plebitis
Kejadian Plebitis meningkat dari 12% menjadi 34% pada 24
Akibat pemasangan infus yang tidak jam pertama, diikuti oleh peningkatan angka
mengutamakan patient safety dapat me- dari 35% menjadi 65% setelah 48 jam
nyebabkan komplikasi plebitis dan ketidak- pemasangan. Penelitian lain yang berkaitan
nyamanan. Hasil penelitian menunjukkan dengan waktu kanulasi dilakukan oleh
angka kejadian plebitis sangat tinggi yaitu Barker, Anderson, dan MacFie (2004)
40%. Sementara standar yang ditetapkan yang menemukan bahwa pemindahan lokasi
Infusion Nurses Society (INS) adalah 5% pemasangan secara teratur setiap 48 jam

Y
atau kurang. terbukti secara signifikan menurunkan
Tingginya angka kejadian plebitis yang kejadian plebitis. Hal ini dapat dijelaskan

SA
ditemukan dalam penelitian ini mungkin bahwa terjadinya respon inflamasi akibat
disebabkan karena adanya perbedaan pemasangan yang lama dapat dikurangi
dalam menetapkan kejadian plebitis yang dengan cara penggantian sebelum inflamasi
biasa dilakukan oleh rumah sakit. Kejadian berkembang lebih lanjut. Pada saat vena
2
plebitis yang dilaporkan oleh peneliti adalah terpasang kateter infus, sangat berisiko
01
kejadian plebitis dari level 1, sementara yang terjadi inflamasi, baik karena faktor mekanik
dilaporkan oleh rumah sakit adalah kejadian maupun faktor kimia akibat pemberian obat
plebitis yang sudah tahap lanjut (biasanya atau cairan yang memiliki osmolalitas tinggi.
.2

sudah level 3 sampai level 4). Plebitis dapat dicegah dengan mela-
Infusion Nursing Standards of kukan teknik aseptik selama pemasangan,
1

Practice merekomendasikan bahwa level menggunakan ukuran kateter IV yang sesuai


8.

plebitis yang harus dilaporkan adalah level dengan ukuran vena, mempertimbangkan
2 atau lebih. Dan jika ditemukan angka pemilihan lokasi pemasangan berdasarkan
kejadian plebitis lebih dari 5%, maka data jenis cairan yang diberikan, dan yang paling
K

harus dianalisis kembali terhadap derajat penting adalah pemindahan lokasi pema-
plebitis dan kemungkinan penyebabnya sangan setiap 72 jam secara aseptik. Seben-
JK

untuk menyusun pengembangan rencana arnya di RSUD Indramayu pemindahan


peningkatan kinerja perawat (Alexander et lokasi pemasangan infus sudah ditetapkan
al., 2010). setiap tiga hari, namun dalam pelaksana-
Daugherty (2008) mengatakan bahwa annya belum dilakukan dengan baik dengan
untuk mendeteksi adanya plebitis, maka alasan infus masih baik, pasien menolak
semua pasien yang terpasang infus harus untuk dipindahkan pemasangannya, dan
diobservasi terhadap tanda plebitis sedikit- alasan pembiayaan. Pemindahan lokasi
nya satu kali 24 jam. Observasi tersebut pemasangan justru dilakukan ketika sudah
dapat dilakukan ketika perawat memberi- terjadi plebitis.
kan obat intravena, mengganti cairan infus, Penggunaan balutan juga mempe-
atau mengecek kecepatan tetesan infus. ngaruhi terhadap terjadinya plebitis. Peng-
Sementara kondisi tersebut tidak terjadi di gunaan balutan dalam pemasangan infus
RSUD Indramayu, dimana perawat jarang yang dilakukan di RSUD Indramayu masih
melakukan observasi terhadap area menggunakan balutan konvensional, yaitu
96 Jurnal Kebidanan dan Keperawatan, Vol. 8 No. 1, Juni 2012: 90-99

menggunakan kassa betadin dan plester. pemasangan infus merupakan bagian dari
Sementara CDC tahun 2005 merekomen- terapi yang harus diterima sehingga hal ini
dasikan untuk penggunaan transparant ditanggapi positif oleh pasien. Namun demi-
dressing karena bersifat steril, selain mudah kian perawat harus tetap mempertahankan
untuk memasangnya, juga mudah dalam kenyamanan pasien dengan memperhatikan
mengobservasi area insersi dari tanda-tanda setiap respon yang disampaikan oleh pasien,
infeksi, serta bersifat waterproof untuk serta melakukan pemasangan yang tepat
meminimalkan potensial infeksi (Gabriel, sehingga tetap mempertahankan kenyama-
2008). nan pasien.
Tingginya angka kejadian plebitis di Biasanya ketidaknyamanan yang tim-
RSUD Indramayu perlu mendapat perhatian bul akibat pemasangan infus disebabkan
yang tinggi oleh pihak manajemen. Hal ini karena lokasi pemasangan yang tidak sesuai,
terkait dengan penilaian akreditasi rumah seperti jika infus dipasang di area persen-

Y
sakit, dimana kejadian plebitis menjadi salah dian yang menyebabkan pasien sulit untuk
satu faktor penilaian kualitas pelayanan. bergerak, atau jika dipasang pada tangan

SA
Untuk itu, perlu diadakan evaluasi ulang yang dominan sehingga mengganggu pasien
terhadap pencatatan dan pelaporan kejadian untuk melakukan aktifitas. Sesuai dengan
plebitis, terutama dilakukannya sosialisasi penelitian yang dilakukan oleh Marsigliese
penilaian skala plebitis sehingga mendapat- (2000) yang meneliti tentang kenyamanan
2
kan kejelasan apakah yang dilaporkan ter- pasien yang dipasang infus berdasarkan
01
sebut benar-benar kejadian plebitis atau lokasi pemasangan terhadap aktifitas pera-
yang lain. watan diri dan tingkat nyeri pasien. Penelitian
Selain itu perlu ditingkatkannya ketaat- ini menggunakan konsep Orems Self-Care
.2

an perawat dalam melaksanakan SOP de- Deficit yang digunakan sebagai kerangka
ngan cara meningkatkan kegiatan supervisi dalam menilai kenyamanan tersebut. Hasil
1

yang dilakukan oleh kepala ruangan. Selama dari penelitian ini ditemukan bahwa pasien
8.

ini SOP pemasangan infus sudah ada, namun yang dipasang infus pada lengan tangan yang
SOP perawatan infus, seperti standar pemin- dominan dan lengan tangan non-dominan
dahan lokasi insersi, penggantian alat, peng- mendapatkan skor nyeri lebih tinggi diban-
K

gantian balutan, serta penggantian cairan ding pasien yang dipasang infus di punggung
belum tersedia, sehingga perlu dibuatkan tangan baik tangan yang dominan maupun
JK

standar baku tentang perawatan infus. tangan yang tidak dominan. Selain itu skor
untuk perawatan diri juga lebih rendah jika
Kenyamanan Pasien dibanding pasien yang dipasang di punggung
Meskipun angka kejadian plebitis tangan.
tinggi, namun lebih banyak pasien yang Ketidaknyamanan akibat pemasangan
merasa nyaman pada saat dikaji kenyama- infus dapat disebabkan karena area pema-
nannya di hari ketiga. Hal ini ditunjukkan sangan yang tidak sesuai, misalnya infus yang
dengan hasil penelitian yang didapatkan dipasang pada tangan dominan. Akibatnya
sebanyak 53.8% pasien yang mengatakan dapat mengganggu aktifitas self care. Hal
nyaman terhadap pemasangan infus yang ini terjadi karena tangan dominan lebih
dilakukan oleh perawat pada hari ketiga. banyak melakukan aktifitas dibanding tangan
Hal ini menunjukkan bahwa pasien merasa yang tidak dominan. Adanya pergerakan
tidak terganggu dengan lokasi pemasangan tangan yang dipasang infus dapat menye-
infus. Selain itu pasien beranggapan bahwa babkan terjadinya perubahan posisi kateter,
Wayunah, Hubungan Pengetahuan Perawat tentang Terapi Infus... 97

jika fiksasi kateter kurang kuat. Akibatnya mengiritasi dinding pembuluh darah.
dapat menimbulkan pergeseran kateter, Misalnya berbagai obat antibiotik maupun
kebocoran, atau timbulnya sumbatan sehing- kortikosteroid. Hal ini sesuai dengan
ga menyebabkan gangguan dalam pem- pendapat Taylor, et al (2002 dalam Hindley,
berian terapi intravena. Faktor ini merupakan 2004) yang mengatakan bahwa setiap
faktor yang meningkatkan risiko infeksi pasien yang dirawat di rumah sakit umumnya
(Maki, 1992 dalam Marsigliese, 2000). mengalami penurunan kekebalan tubuh baik
disebabkan karena penyakitnya maupun
Hubungan Pengetahuan dan kejadian karena efek dari pengobatan.
Plebitis dan Kenyamanan Berdasarkan hal tersebut maka perlu
Hasil penelitian diketahui ada hubungan dikaji ulang mengenai faktor-faktor lain yang
yang signifikan antara pengetahuan perawat mempengaruhi kejadian plebitis dan
tentang terapi infus dengan kejadian plebitis kenyamanan. Terutama dalam mengontrol

Y
(p=0.000), dan ada hubungan antara faktor confounding yang dapat dilakukan
pengetahuan perawat tentang terapi infus dengan teknik penelitian quasi eksperimen.

SA
dengan kenyamanan pasien (p=0.000).
Berdasarkan hasil ini sudah jelas bahwa Implikasi Hasil Penelitian dalam
pengetahuan perawat mempengaruhi Keperawatan
kejadian plebitis dan kenyamanan pasien. Pasien yang mendapat terapi infus
2
Hal ini ditunjukkan dengan tingginya nilai p harus mendapatkan pelayanan yang
01
value. Namun berdasarkan nilai OR profesional. Oleh karena itu, pasien harus
didapatkan nilai yang rendah. Berdasarkan mendapatkan pelayanan keperawatan yang
hasil analisis multivariat ternyata ditemukan dibutuhkan serta mendapatkan informasi
.2

bahwa terdapat faktor confounding yang yang aktual dan menyeluruh tentang segala
mempengaruhi kejadian plebitis yaitu riwa- sesuatu yang berkaitan dengan terapi, se-
1

yat penyakit, jenis cairan, dan usia pasien. hingga pasien akan terhindar dari komplikasi
8.

Sementara yang menjadi faktor confound- akut maupun kronis. Banyak faktor yang
ing pada kenyamanan pasien adalah riwayat mempengaruhi terjadinya plebitis, dian-
penyakit dan tingkat pendidikan perawat. taranya kepatuhan perawat dalam mene-
K

Berdasarkan hasil tersebut menun- rapkan prosedur tindakan sesuai dengan


jukkan bahwa riwayat penyakit pasien SOPal:. Kepatuhan merupakan wujud dari
JK

mempengaruhi kejadian plebitis dan kenya- suatu tindakan yang sudah menjadi perilaku.
manan. Hasil penelitian menunjukkan pasien Salah satu aspek yang mempengaruhi
dengan riwayat penyakit non bedah memiliki perilaku seseorang adalah pengetahuan.
peluang yang lebih tinggi untuk terjadi plebitis Hasil penelitian menunjukkan bahwa
dan ketidaknyamanan dibanding pasien yang ada hubungan antara pengetahuan perawat
memiliki riwayat penyakit bedah. Hal ini tentang terapi infus dengan kejadian plebitis
disebabkan karena penyakit yang termasuk dan kenyamanan. Perawat yang memiliki
kelompok penyakit non bedah meliputi pengetahuan rendah tentang terapi infus
penyakit sistemik maupun kronis, seperti meningkatkan risiko melakukan tindakan
penyakit diabetes melitus, CKD, gagal yang dapat menimbulkan plebitis dan
jantung, dan lain-lain. ketidaknyamanan. Lebih lanjut dijelaskan
Pasien dengan riwayat penyakit kronis bahwa faktor yang paling dominan menim-
banyak mendapatkan terapi obat-obatan bulkan kejadian plebitis adalah ketidak-
dengan berbagai kandungan yang dapat patuhan perawat dalam melaksanakan
98 Jurnal Kebidanan dan Keperawatan, Vol. 8 No. 1, Juni 2012: 90-99

tindakan sesuai dengan standar operasional cannulae. Annals of the Royal


prosedur. Hal ini disebabkan oleh beberapa College of Surgeon of England,
faktor diantaranya kurang baiknya pelak- 86 (4): 281-283.
sanaan universal precaution serta pelak- Bijayalaxmi, B., Urmila, A., & Prasad, P.
sanaan prosedur yang belum adekuat. Oleh A. 2010. Knowledge of staff nurses
karena itu perawat harus lebih meningkatkan regarding intravenous catheter
pengetahuan serta meningkatkan ketaatan related infection working in Orissa.
dalam melakukan tindakan sesuai dengan The Journal of India. CI (6)
prosedur. Campbell, L. 1998. IV-related phlebitis,
complications and length of hospital
SIMPULAN DAN SARAN stay: 1. British Journal of Nursing,
Simpulan 7 (21): 1304-1312.
Hasil penelitian menunjukkan ada
Daugherty, L. 2008. Peripheral cannulation.

Y
hubungan yang signifikan antara pengetahuan
perawat tentang terapi infus dengan kejadian Nursing Standard, 22 (52): 49-56.

SA
plebitis dan kenyamanan pasien. Gabriel, J., Bravery, K., Dougherty, L.,
Kayley, J., Malster, M., & Scales,
Saran K. 2005. Vascular access: Indica-
Peneliti menyarankan kepada perawat tion and implication for patient care.
2
untuk meningkatkan pengetahuan dan Nursing Standard, 19 (26): 45-52.
01
keterampilan tentang pemasangan dan pera- Gabriel, J. 2008. Infusion therapy part two:
watan infus serta meningkatkan ketaatan prevention and management of
perawat dalam melaksanakan prosedur complication. Nursing Standard,
.2

sesuai SOP sehingga dapat meningkatkan 22 (32): 41-48.


patient safety. Peneliti juga menyarankan Gayatri, D., & Handayani, H. 2008. Hubu-
1

untuk dilakukan penelitian lanjutan, terutama ngan jarak pemasangan terapi


8.

tentang faktor-faktor yang menyebabkan intravena dari persendian terhadap


plebitis, misalnya pengaruh penggunaan waktu terjadinya flebitis. Jurnal Ke-
transparant dressing terhadap waktu perawatan Indonesia, 11 (1): 1-5.
K

terjadinya plebitis dengan menggunakan Hankins, J., Lonway, R. A. W., Hedrick,


teknik quasi eksperimen pada sampel yang
JK

C., & Perdue, M. B. 2001. The in-


lebih banyak dengan karakteristik yang sama fusion nurse society: Infusion the-
dengan penelitian sebelumnya. rapy, in clinical practice. 2ed. P. B.
Saunder Co: Philadelphia.
DAFTAR RUJUKAN
Hindley, G. 2004. Infection control in pe-
Alexander, M., Corrigan, A., Gorski, L.,
ripheral cannulae. Nursing Standard,
Hankins, J., & Perucca, R. 2010.
18 (27): 37-40.
Infusionnursing society, Infusion
nursing: An evidence-based Karolinez, G., Kutlu, N., & Tatlisumak, E.
approach. Third Edition. 2003. Nurses knowledge regarding
Dauders Elsevier: St. Louis. patients with intravenous catheters
and phlebitis interventions. Journal
Barker, P., Anderson, A. D., & MacFie, J.
of Vascular Nursing, 21 (2): 44-
2004. Randomised clinical of elec-
47.
tive re-siting of intravenous
Wayunah, Hubungan Pengetahuan Perawat tentang Terapi Infus... 99

Kokotis, K. 1998. Preventing chemical Pujasari, H., & Sumarwati, M. 2002. Angka
phlebitis. Nursing, 98. kejadian flebitis dan tingkat kepara-
Marsigliese, A. M. 2000. Evaluation of com- hannya di ruang penyakit dalam di
fort levels and complication rates as sebuah rumah sakit di Jakarta. Jur-
determined by peripheral intra- nal Keperawatan Indonesia, 6 (1):
venous catheter sites. Thesis. 1-5.
School of Nursing In Partial Ful- Royal College of Nursing (RCN). 2005.
fillment of the Requirements for the Standard for infusion therapy. RCN
Degree of Master of Science at the IV Therapy Forum: London.
University of Windsor: Windsor,
Otario, Canada
Philips, L. D. 2005. Manual of iv
therapeutics. Fourth Edition. FA

Y
Davis Company: Philadelphia.

SA
2
01
1 .2
8.
K
JK