Sie sind auf Seite 1von 3

Iuran BPJS Naik, Rakyat Makin Tercekik

30 Mar 2016 in Al Islam Leave a comment


[Al-Islam edisi 800, 23 Jumada ats-Tsani 1437 H 1 April 2016 M]
Besaran iuran BPJS Kesehatan untuk peserta mandiri atau membayar sendiri dinaikkan oleh
Pemerintah melalui Perpres No. 19/2016. Dalam pasal 16F diatur bahwa iuran setiap orang
perbulan untuk pelayanan perawatan kelas III menjadi Rp 30.000, naik dari sebelumnya Rp
25.500; kelas II menjadi Rp 51.000, naik dari sebelumnya Rp 42.500 perorang perbulan; dan
kelas I menjadi Rp 80.000, naik dari sebelumnya Rp 59.500. Semua kenaikan iuran itu berlaku
mulai 1 April 2016.
Dalam Pasal 17 juga diatur, jika terlambat membayar iuran jaminan kesehatan lebih dari satu
bulan sejak tanggal 10, penjaminan peserta diberhentikan sementara. Ini berlaku sejak 1 Juli
2016. Penjaminan akan diaktifkan kembali jika peserta membayar. Kemudian, dalam waktu 45
hari sejak status kepesertaan aktif kembali, peserta wajib membayar denda kepada BPJS
Kesehatan untuk setiap pelayanan kesehatan rawat inap yang diperoleh. Denda itu adalah 2,5
persen dari biaya pelayanan kesehatan untuk setiap bulan tertunggak. Jumlah bulan tertunggak
maksimal 12 bulan, dan nilai denda paling tinggi Rp 30 juta.
Iuran sebagian Pekerja Penerima Upah, yaitu yang gaji atau upahnya di atas 4.72 juta perbulan,
juga naik. Pasalnya, Perpres No. 19/2016 mengubah batas atas gaji yang dijadikan dasar
penghitungan iuran dari 2XPTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) atau 4,72 juta menjadi 8 juta.
Kenaikan itu akan ditanggung oleh pekerja dan pemberi kerja.
Untuk Menutupi Defisit?
Kenaikan iuran BPJS Kesehatan untuk peserta mandiri itu dilakukan untuk menutupi defisit
pengelolaan BPJS Kesehatan yang totalnya mencapai lebih dari 6 triliun. Namun, Kepala Humas
BPJS Kesehatan Irfan Humaidi menolak disebut adanya defisit. Kata dia, yang terjadi adalah
adanya mismatch atau ketidaksesuaian, yakni ketidaksesuaian jumlah iuran yang dibayarkan
peserta dengan pengeluaran BPJS Kesehatan, yakni untuk klaim. Untuk itu, salah satu solusinya
adalah dengan penyesuaian iuran (Kompas.com, 16/3).
BPJS Kesehatan dan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) menyatakan ada 4,2 juta peserta
BPJS Kesehatan yang tidak membayar iuran. Jumlah itu sekitar 40% dari total peserta mandiri
(Kompas.com, 17/3).
Rakyat Makin Tercekik!
Komisi IX DPR meminta empat poin pertanggungjawaban BPJS Kesehatan terlebih dulu sebelum
menaikkan iuran, yaitu menyangkut pelayanan kesehatan yang belum memuaskan, kinerja BPJS
terkait peningkatan kepesertaan mandiri, audit investigasi terkait transparansi laporan
keuangan/penggunaan anggaran dan laporan pendistribusian kartu Penerima Bantuan Iuran
(PBI) (Mediakonsumen.com, 19/3).
Perkumpulan Prakarsa menilai, argumen BPJS Kesehatan bahwa kenaikan iuran harus dilakukan
sebagai akibat dari defisit berjalan sebesar Rp 4 triliun sebenarnya tidak adil. Pasalnya, menurut
Direktur Eksekutif Perkumpulan Prakarsa, Ah Maftuchan, BPJS Kesehatan menutup mata atas
adanya ketidakefisienan dan kebocoran yang terjadi dalam pelayanan BPJS Kesehatan.
Maftuchan juga menyatakan, kenaikan tarif BPJS Kesehatan akan membuat beban ekonomi
masyarakat lebih besar. Akses masyarakat terhadap jaminan kesehatan akan makin sulit dan
peserta mandiri terancam menjadi kelompok Sadikin (Sakit Sedikit Jatuh Miskin), kata
Maftuchan (Bisnis.com, 22/3/2016).
Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia, dr. Marius Widjajarta, juga
mengungkapkan, BPJS bilang pelayanan yang selama ini bagus akan lebih bagus lagi kalau ada
penambahan iuran. Masyarakat merasa dibodohi kalau tahu menajamen yang amburadul dari
BPJS Kesehatan. Ia menambahkan, Dari investigasi kami ke BPJS, posisi keuangan yang muncul
sekarang ini akibat kesalahan manajemen, tegas Marius (RMOL, 19/3).
Akibat Pemerintah Lepas Tanggung Jawab
BPJS Kesehatan mengandung ruh pengalihan tanggung jawab dari pundak negara ke pundak
rakyat. Jaminan kesehatan yang merupakan hak rakyat dan menjadi tanggungjawab negara
diubah menjadi kewajiban rakyat. Rakyat diwajibkan untuk saling membiayai pelayanan
kesehatan di antara mereka melalui sistem asuransi sosial. Jadilah hak rakyat disulap menjadi
kewajiban rakyat. Dengan sulap yang sama, kewajiban negara untuk menjamin hak rakyat atas
pelayanan kesehatan dihilangkan.
Klaim BPJS Kesehatan sebagai lembaga penjamin kesehatan juga menyesatkan. Pasalnya, BPJS
identik dengan asuransi sosial. Pada prinsipnya, asuransi sosial adalah suatu mekanisme
pengumpulan dana yang bersifat wajib yang berasal dari iuran guna memberikan perlindungan
atas risiko sosial-ekonomi yang menimpa peserta dan/atau anggota keluarganya (Pasal 1 ayat 3
UU SJSN).
Akibatnya, pelayanan kesehatan untuk rakyat disandarkan pada premi yang dibayar oleh rakyat.
Jika rakyat tidak bayar, mereka tidak berhak atas pelayanan kesehatan. Karena diwajibkan, jika
telat atau tidak bayar, rakyat (peserta asuransi sosial kesehatan) dikenai sanksi baik denda atau
sanksi administratif. Pelayanan kesehatan rakyat juga bergantung pada jumlah premi yang
dibayar rakyat. Jika tidak cukup maka iuran harus dinaikkan. Itulah ide dasar operasional BPJS
dan sebab mendasar kenaikan iuran BPJS.
Kezaliman Berlipat Ganda
BPJS Kesehatan dengan sistem asuransi sosial yang mengubah pelayanan kesehatan dari hak
rakyat dan kewajiban negara menjadi kewajiban rakyat, terlepas dari pundak negara, jelas itu
merupakan kezaliman. Iuran yang diwajibkan terhadap rakyat jelas merupakan kezaliman.
Kenaikan iuran BPJS Kesehatan artinya menambah kezaliman terhadap rakyat.
Di sisi lain, kekayaan alam yang sejatinya adalah milik bersama seluruh rakyat, justru diserahkan
kepada swasta dan kebanyakan asing. Rakyat dan negara pun kehilangan sumber dana yang
semestinya bisa digunakan membiayai jaminan kesehatan untuk rakyat tanpa memungut dari
rakyat. Akibatnya, rakyat kehilangan kekayaannya dan masih dipaksa membayar iuran untuk
pelayanan kesehatan mereka. Dilihat dari sisi ini, maka kenaikan iuran BPJS Kesehatan yang
diberlakukan jelas merupakan kezaliman di atas kezaliman.
Jaminan Kesehatan Harus Gratis
Dalam Islam, kebutuhan akan pelayanan kesehatan adalah termasuk kebutuhan dasar
masyarakat yang menjadi kewajiban negara. Rumah sakit, klinik dan fasilitas kesehatan lainnya
merupakan fasilitas publik yang diperlukan oleh rakyat dalam terapi pengobatan dan berobat.
Jadi pengobatan itu sendiri merupakan kemaslahatan dan fasilitas publik. Negara wajib
menyediakan semua itu untuk rakyat. Negara wajib mengurus urusan dan kemaslahatan rakyat,
termasuk pelayanan kesehatan. Rasul saw bersabda:








Pemimpin (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggungjawab atas
rakyatnya (HR al-Bukhari dari Abdullah bin Umar).
Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa Nabi saw. (sebagai kepala negara) pernah
mendatangkan dokter untuk mengobati Ubay. Beliau juga pernah menjadikan seorang dokter
yang merupakan hadiah dari Muqauqis Raja Mesirsebagai dokter umum bagi masyarakat.
Imam al-Bukhari dan Muslim pun meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa serombongan orang dari
Kabilah Urainah masuk Islam. Mereka lalu jatuh sakit di Madinah. Rasulullah saw. selaku kepala
negara kemudian meminta mereka untuk tinggal di penggembalaan unta zakat yang dikelola
Baitul Mal di dekat Quba. Di sana mereka diizinkan untuk minum air susu unta sampai sembuh.
Semua itu merupakan dalil bahwa pelayanan kesehatan dan pengobatan adalah termasuk
kebutuhan dasar rakyat yang wajib disediakan oleh negara secara gratis. Pelayanan kesehatan
gratis itu diberikan dan menjadi hak setiap individu rakyat sesuai dengan kebutuhan layanan
kesehatannya tanpa memperhatikan tingkat ekonominya.
Pemberian jaminan kesehatan seperti itu tentu membutuhkan dana besar. Biaya untuk itu bisa
dipenuhi dari sumber-sumber pemasukan negara yang telah ditentukan oleh syariah. Di
antaranya dari hasil pengelolaan harta kekayaan umum, di antaranya hutan, berbagai macam
tambang, minyak dan gas. Dalam Islam, semua itu merupakan harta milik umum, yakni milik
seluruh rakyat.
Wahai Kaum Muslim:
Segala bentuk kezaliman harus dihilangkan. Menghilangkan kezaliman di atas tentu hanya
dengan mengubah jaminan kesehatan yang palsu itu menjadi jaminan kesehatan yang benar
dan hakiki. Hal itu hanya bisa diwujudkan dengan menerapkan syariah dan hukum Islam secara
menyeluruh. Itu hanya bisa terwujud melalui sistem Khilafah Rasyidah. Dengan itu rahmat Islam,
khususnya kemaslahatan berupa jaminan kesehatan bisa diwujudkan. Dengan itu pula,
kemadaratan dalam bentuk pembebanan iuran terhadap rakyat dan penguasaan kekayaan alam
milik rakyat oleh swasta dan asing bisa dicegah. Semua itu bisa menjadi nyata dan dirasakan
oleh semua Muslim dan non-Muslim. WalLh alam bi ash-shawb. []

Das könnte Ihnen auch gefallen