You are on page 1of 12

BAB IV

PERENCANAAN

4.1. Alur Pemecahan Masalah


Pemecahan masalah pada survei ini dilakukan berurutan sesuai dengan gambar
berikut ini :

1. Identifikasi Masalah

8.Monitoring dan evaluasi 2. Penentuan proritas masalah

3. Penentuan penyebab masalah


7. Penentuan rencana penerapan

Gambar 7. Problem solving cycle


Tahap
6. Penetapan pemecahan 4. Memilih penyebab masalah
pertama dalam
masalah terpilih yang paling dominan
melakukan
pemecahan masalah adalah mengidentifikasi masalah. Dilakukan dengan
cara indepth interview 5. Menentukan alternatif dan
pemecahan masalah
metode analisis SWOT dengan melibatkan
pihak puskemas dan pihak sekolah.
Setelah mengidentifikasi masalah, maka selanjutnya menentukan prioritas masalah
menggunakan metode indepth interview. Setelah dilakukan perhitungan didapatkan alternatif
yang menjadi prioritas masalah terbesar adalah kurangnya sosialisasi tentang pentingnya
pemberian tablet tambah darah dan kurangnya pengetahuan tentang anemia di Puskesmas
Kelurahan Pondok Labu. Setelah didapatkan prioritas masalah maka langkah selanjutnya adalah
melakukan analisa hal-hal apa saja yang menjadi penyebab masalah tersebut terjadi. Masalah
kurangnya sosialisasi tentang pentingnya pemberian tablet tambah darah dan kurangnya
pengetahuan tentang anemi dibuat diagram fishbone berdasarkan pendekatan sistem dan
ditentukan alternatif pemecahan masalahnya. Setelah didapatkan alternatif pemecahan masalah
maka ditentukan prioritas pemecahan masalah dengan menggunakan metode kriteria matriks.
Berdasarkan hasil perhitungan kriteria matriks maka didapatkan prioritas pemecahan masalah
penulis berupa penyelesaian pedoman program upaya meningkatkan pemberian tablet tambah

1
darah. Setelah didapatkan pemecahan masalah terpilih lalu dibuat rencana kegiatan dalam
bentuk POA (Plan Of Action) yang akan dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan
Pondok Labu.

4.2. Kerangka Pikir Masalah


Masalah yang didapatkan di Puskesmas Kelurahan Pondok Labu adalah
kurangnya upaya sosialisasi tentang tablet tambah darah dan pengetahuan tentang
anemia sesuai dengan PERMENKES No. 88 Tahun 2014 yaitu tentang Pembinaan
terhadap standar tablet tambah darah bagi wanita usia subur, Pembinaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui komunikasi, informasi, dan edukasi;
pemberdayaan masyarakat; monitoring, evaluasi, bimbingan teknis; dan supervise.
Dengan kegiatan yang ada di Puskesmas Kelurahan Pondok Labu ialah hanya meliputi
aspek preventif. Dengan melihat hal tersebut maka perlu dicari pemecahannya.
Untuk memecahkan masalah tersebut digunakan kerangka pendekatan sistem
yang terdiri dari input, proses, output dan lingkungan yang mempengaruhi input dan
proses. Input terdiri dari Man (Tenaga Kerja), Money (Pembiayaan), Material
(Perlengkapan), Method (Metode), Market (Masyarakat). Sedangkan dari proses terdiri
dari P1(perencanaan), P2 (Penggerakan & Pelaksanaan.), P3 (Penilaian, Pengawasan
Pengendalian). Adapun faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap input dan proses
yaitu minimnya pengetahuan pihak sekolah (guru, Pembina UKS, dan siswi) tentang
tujuan pemberian tablet tambah darah dan pengetahuan tentang bahaya anemia, serta
hubungan dengan lintas sektor.

Setelah ditentukan penyebab masalah, maka selanjutnya menentukan alternatif


pemecahan masalah dan menentukan prioritas pemecahan masalah yang terbaik.
Kemudian membuat rencana penerapan pemecahan masalah yang dibuat dalam bentuk
POA (plan of action). Kegiatan tersebut dipantau apakah penerapannya sudah baik dan
apakah masalah tersebut sudah dapat dipecahkan.

INPUT PROSES OUTPUT


1.Man: Pemegang P1: perencanaan tertulis Adanya kegiatan
program, Pihak sekolah, (pedoman) mengenai program terkait
Lintas Sektor; mekanisme kegiatan upaya promotif dan
2.Money: dana operasional
oleh pemegang program preventif dalam
untuk upaya transport 2
LINGKUNGAN

Stigma masyarakat dan kader mengenai penyakit kesehatan


jiwa,

Gambar 8. Kerangka Pikir Masalah

3
4.3. Identifikasi Analisis SWOT

KEKUATAN KELEMAHAN PELUANG ANCAMAN

Penolakan dari
SDM Kesehatan Stigma dan pihak sekolah
Pemangku
Pelatihan pengetahuan siswi
Kepentingan Pengabaian
yang rendah
Komitmen pelaksanaan
Semangat kader
pemegang program program terkait
kendala waktu

4.4.Penentuan Prioritas Masalah


Untuk penentuan prioritas masalah digunakan metode indepth interview

Tabel 23. Penetapan Krteria Prioritas Berdasarkan Hasil Indepth interview Pada Kegiatan Program
Upaya Peningkatan cakupan sekolah untuk pemberian TTD pada remaja putri

No. Usulan Kriteria Kesepakatan Kriteria

1. Ancaman terhadap status kesehatan Ancaman terhadap status kesehatan

2. Ketersediaan sumber daya manusia/potensi Stigma masyarakat

3. Stigma masyarakat Ketersediaan sumber daya manusia/ potensi

4. Anggaran dana

5. Kemudahan dalam mengatasinya

4.5. Urutan Prioritas Masalah


Dari tabel diatas Urutan prioritas berdasarkan perhitungan Hanlon kualitatif diatas maka
dapat disimpulkan urutan prioritas masalah Puskesmas Kelurahan Bangka berdasarkan
metode Hanlon adalah:
1.Ancaman terhadap status kesehatan
2.Stigma Masyarakat
3.Ketersediaan sumber daya manusia/potensi
1. Persepsi siswi yang salah mengenai tablet
tambah darah
2. Kurangnya perhatian pihak sekolah INPUT
terhadap pentingnya manfaat tablet Kurangnya Anggaran Dana
tambah darah dan bahaya anemia
3. Kurangnya perhatian dari pihak MONEY
puskesmas untuk sosialisasi tablet tambah MAN
darah
MATERIAL
Kurangnya ketersediaan lokasi untuk pelaksanaan penyuluhan
1. Kurangnya penyuluhan rutin/ sosialisasi
terhadap pihak sekolah, tentang tablet
tambahdarah. MACHINE - Kurangnya pemanfaatan sarana diskusi untuk evaluasi kinerja
2. Kurangnya diskusi rutin yang pelaksanaan
berkelanjutan untuk evaluasi kinerja METHOD - Kurangnya sarana untuk memperoleh tablet tambah darah
pemberiantablettambahdarah - Kurangnya akses pihak sekolah untuk mendapatkan
pengetahuan tentang tablet tambah darah dan anemia

Daerah beban
Perencanaan tertulis mengenai alur
tinggi orang
kegiatan & pemegang program (pedoman
P1 dengan gangguan
dan SOP)
jiwa

Indikator
Penyuluhan rutin terhadap siswi, guru, dan epidemiologi
P2 Pembina UKS oleh petugas kesehatan
Evaluasi kinerja monitoring oleh puskesmas P3 1/1.000 penduduk

Pengetahuan pihak sekolah mengenai tablet tambah LINGKUNGAN


darah

`
PROSES
Gambar 9. Fishbone berdasarkan pendekatan sistem
Tidakadapetugasyang
Stigmadanpengetahuansiswiyangrendah Penolakandaripihaksekolah melakukankegiatanupaya Tidakadaanggarandana
promotif

TidakadapedomanprogramdanSOPyang
dapatdijalankan

Kurangnyaperhatianpihakpuskesmasterhadapupaya
promotiftentangpemberiantablettambahdarah

7
4.6. Konfirmasi Kemungkinan Penyebab Masalah
Setelah dilakukan konfirmasi kepada koordinator, maka didapatkan penyebab yang
paling mungkin sebagai berikut:
1. Kurangnya perhatian perhatian dari pihak puskesmas untuk melakukan sosialisasi tentang program
pemberian tablet tambah darah
4.7. Penentuan Alternatif Pemecahan Masalah
Untuk menentukan cara pemecahan masalah dapat dilakukan kesepakatan di antara
anggota tim dengan didahului curah pendapat yang kemudian kesepakatan dicurahkan dalam
tabel pemecahan masalah sebagai berikut ini:

Tabel 31. Alternatif Pemecahan Masalah

No Prioritas Masalah Penyebab Masalah Alternatif Pemecahan Masalah


1 Kurangnya perhatian pihak Kurangnya pengetahuan Mengadakan diskusi terkait update
puskesmas untuk petugas kesehatan tentang program nasional maupun
melaksanakan sosialisasi kondisi wilayahnya sehingga internasional
tentang program tablet tidak menjadi salah satu
tambah darah prioritas
Kurangnya skill level Mengadakan diskusi level manajerial
manajerial dalam melakukan untuk mencari solusi permasalahan
identifikasi masalah wilayah yang ada di level tersebut
Kendala pembagian waktu Memberdayakan sumberdaya yang
untuk promotif dan ada dan mahasiswa yang sedang
pendelegasian wewenang bertugas di puskesmas serta
Kurangnya pegawai dari merangkul stakeholder (lintas
pihak puskesmas untuk sektoral) terkait untuk bersama-sama
melakukan sosialisasi mencari solusi terbaik

4.10 Penentuan Prioritas Pemecahan Masalah dengan Kriteria Matriks

8
Setelah menemukan alternatif pemecahan masalah, maka selanjutnya dilakukan
penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah. Penentuan prioritas alternatif pemecahan
masalah dapat dilakukan dengan menggunakan kriteria matriks dengan rumus (M x I x V) / C.
Masing-masing cara penyelesaian masalah diberi nilai berdasar kriteria:
1. Magnitude: Besarnya penyebab masalah yang dapat diselesaikan
Dengan nilai 1-5, dimana semakin mudah masalah yang dapat diselesaikan maka nilainya
mendekati angka 5.
2. Importancy: Pentingnya cara penyelesaian masalah
Dengan nilai 1-5, dimana semakin pentingnya masalah untuk diselesaikan maka nilainya
mendekati angka 5.
3. Vulnerability: Sensitifitas cara penyelesaian masalah
Dengan nilai 1-5, dimana semakin sensitifnya cara penyelesaian masalah maka nilainya
mendekati angka 5.
4. Cost: Biaya (sumber daya) yang digunakan
Dengan nilai 1-5,dimana semakin kecil biaya yang dikeluarkan nilainya mendekati angka 1.

Dari hasil analisis pemecahan masalah didapatkan alternatif pemecahan masalah sebagai berikut:

A. Mengadakan diskusi terkait update program nasional maupun internasional

B. Mengadakan diskusi level manajerial untuk mencari solusi permasalahan yang ada di
level tersebut

C. Memberdayakan sumberdaya yang ada (kader) dan mahasiswa yang sedang bertugas di
puskesmas serta merangkul stakeholder (lintas sektoral) terkait untuk bersama-sama
mencari solusi terbaik
Tabel 32. Hasil Akhir Penentuan Prioritas Pemecahan Masalah

Penyelesaian Nilai Kriteria Hasil akhir


Urutan
Masalah M I V C (M x I x V) / C
A 5 4 3 1 60 VIII
B 5 4 4 1 80 IX
C 5 5 4 2 50 VI
Setelah penentuan prioritas alternatif penyebab pemecahan masalah dengan
menggunakan kriteria matriks, maka didapatkan urutan prioritas alternatif pemecahan penyebab
kendala yang dihadapi oleh posyandu lansia di Kelurahan Bangka adalah sebagai berikut:

1. Mengadakan diskusi terkait update program nasional maupun internasional

2. Mengadakan diskusi level manajerial untuk mencari solusi permasalahan yang ada di
level tersebut
9
3. Memberdayakan sumberdaya yang ada (kader) dan mahasiswa yang sedang bertugas di
puskesmas serta merangkul stakeholder (lintas sektoral) terkait untuk bersama-sama
mencari solusi terbaik

4.11. Metode
4.11.1 Rancangan Diagnostik komunitas
Jenis Penelitan ini adalah penelitian deksriptif kualitatif, dimana penelitian dilakukan
dengan mendeskripsikan serta menganalisis data dengan tujuan utama untuk memberikan
gambaran mengenai suatu keadaan secara objektif yang bersifat aktual.
Rancangan penelitian yang digunakan berupa wawancara dengan tujuan membuat
penilaian terhadap suatu kondisi dan penyelenggaraan suatu program dan hasilnya digunakan
untuk menyusun perencanaan perbaikan program tersebut.

4.11.2 Metode Diagnostik


Metode Diagnostik dengan menggunakan metode analisis SWOT
Desain Studi
Menggunakan desain studi observasional dengan pendekatan cross sectional untuk
mengetahui faktor penyebab orang dengan gangguan jiwa tidak melakukan pengobatan di
puskesmas Kelurahan Pondok Labu.
Jenis Data.
Penelitian ini menggunakan jenis data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari
hasil wawancara yang dilakukan kepada para pemegang program serta pengamatan langsung
tentang pelaksanaan manajemen serta dari subjek penelitian (siswi SMP dan SMA). Data
sekunder diperoleh dari data rekam medik pasien penderita gangguan jiwa di Puskesmas
Kelurahan Bangka.
Indikator wilayah beban rendah ksehatan jiwa menggunakan indikator Pedoman
Pengendalian Penyakit gangguan jiwa yang terdiri dari Indikator Epidemiologi dan Indikator
Manajerial.
Sumber data

Data yang dikumpulkan didapatkan melalui telaah dokumen, wawancara mendalam (indepth
interview) terhadap pihak sekolah (kepala sekolah dan Pembina UKS) dan kepala
koordinator pemegang program.

4.11.3 Indikator Keberhasilan

10
Memenuhi indikator epidemiologi dan indikator manajerial kriteria wilayah beban rendah
Orang dengan gangguan jiwa berdasarkan pedoman penanggulangan Orang dengan
gangguan jiwa.
4.11.4 Lokasi dan Waktu
a. Lokasi
Dilaksanakan di sekolah yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Pondok Labu ,
Jakarta Selatan.
b. Waktu
Survey dilakukan pada bulan Juli 2017 hingga Agustus 2017.
4.11.5 Sampel Diagnostik Komunitas
a. Kriteria inklusi dan eksklusi
Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, dengan :
Kriteria inklusi :
Orang dengan gangguan jiwa
Menetap di Kelurahan Bangka
Bersedia untuk di wawancarai
Kriteria eksklusi : Menolak untuk di wawancarai.

b. Besarnya sampel
Seluruh orang dengan gangguan jiwa yang tercatat dan belum mendapat intervensi
kesehatan yaitu sebanyak 11 orang

4.11.6. Cara Pengambilan Sampel


Pembagian sampel dilakukan dengan teknik Cluster Sampling dan selanjutnya yang
kemudian di ambil secara Consecutive Sampling. Dimana seluruh sample akan diambil sebagai
subjek. Yaitu tersebar di wilayah Kelurahan Pondok Labu.

4.11.7 Analisa komunitas

Data yang diperoleh dari hasil indepth interview di Puskesmas Kelurahan Pondok Labu
didapatkan masalah yaitu tidak adanya upaya promotif dari pihak puskesmas untuk sosialiasi
program tablet tambah darah. Dari masalah tersebut dilakukan penentuan prioritas masalah
dengan menggunakan metode SWOT. Setelah didapatkan prioritas masalah maka langkah
selanjutnya adalah melakukan analisa hal-hal apa saja yang menjadi penyebab terjadinya masalah
tersebut dengan menggunakan diagram fishbone berdasarkan pendekatan sistem dan ditentukan
alternatif pemecahan masalahnya. Setelah didapatkan alternatif pemecahan masalah maka
ditentukan prioritas pemecahan masalah dengan menggunakan metode kriteria matriks.

11
Berdasarkan hasil perhitungan kriteria matriks maka didapatkan prioritas pemecahan masalah dan
akan melakukan diagnostic komunitas.

12