Sie sind auf Seite 1von 7

APAKAH PUASA KITA DITERIMA

.


.











.






.
.



:


.
:
.




.
:

.



:

.)(

Jamaah Jumat hamba Allah yang dirahmati Allah SWT.

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada
junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jamaah sekalian marilah kita bertaqwa
kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah
sampai akhir hayat kita.

Setiap muslim wajib berpuasa karena iman dan mengharap pahala Allah, tidak
karena riya' (agar dilihat orang), sum'ah (agar didengar orang), ikut-ikutan orang,
toleransi kepada keluarga atau masyarakat tempat ia tinggal. Jadi, yang memotivasi
dan mendorongnya berpuasa hendaklah karena imannya bahwa Allah mewajibkan
puasa tersebut atasnya, serta karena mengharapkan pahala di sisi Allah dengan
puasanya. Demikian pula halnya dengan Qiyam Ramadhan (shalat malam/tarawih), ia
wajib menjalankannya karena iman dan mengharap pahala Allah, tidak karena sebab
lain. Karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa berpuasa
Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya
yang telah lalu, barangsiapa melakukan shalat malam pada bulan Ramadhan karena
iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan
barangsiapa melakukan shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap
pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. " (Muttafaq 'Alaih).
-
" :-
:

"





.)2(
Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya

kecuali lapar dan dahaga dan betapa banyak orang yang sholat malam tidak

mendapatkan apa-apa dari sholatnya kecuali hanya berjaga tidak tidur saja. (HR.

Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan At-Tirmidzi shohih.)

Ibadah bukanlah sekedar gerakan jasad yang terlihat oleh mata, namun juga harus
menyertakan yang lain. Sebagaimana seseorang yang sedang melaksanakan sholat, ia tidak
hanya bergerak untuk melaksanakan setiap rukun dan wajib sholat, tetapi juga harus
menghadirkan hati sebagai ruh sholat tersebut. Bahkan jika seseorang menampakkan
kekhusyukan badan dan hatinya kosong dan bermain-main maka ia terjatuh dalam
kekhusyukan kemunafikan.

Ketahuilah, bahwa ibadah seorang hamba harus dibangun oleh tiga pilar, dan ketiganya
harus terkumpul seluruhnya dalam setiap muslim. Ibadah seseorang tidaklah akan benar
dan sempurna kecuali dengan adanya pilar-pilar tersebut. Bahkan sebagian ulama
mengatakannya sebagai rukun ibadah. Tiga hal itu adalah cinta, takut dan harap.
Sehingga seorang salaf berkata, Barang siapa beribadah kepada Alloh dengan cinta saja
maka dia seorang zindiq, barang siapa beribadah hanya dengan khouf (takut) saja maka
haruri (khowarij), barang siapa beribadah hanya dengan rasa harap saja maka dia
seorang murji dan barang siapa yang beribadah dengan cinta, takut dan harap maka dia
seorang mukmin.

Allah berfirman.

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu
(bagaikan) debu yang beterbangan. (Al-Furqan : 23)

Amal yang seperti debu itu adalah amal-amal yang dilandaskan bukan kepada As-Sunnah
atau amal yang dimaksudkan untuk selain Allah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah
bersabda kepada Saad bin Abi Waqqash, Sesungguhnya sekali-kali engkau tidak akan
dibiarkan, hingga engkau mengerjakan suatau amal untuk mencari wajah Allah, melainkan
engkau telah menambah kebaikan, derajat dan ketinggian karenanya.

Allah taala berfirman (yang artinya), Sesungguhnya orang-orang yang karena rasa takut
mereka kepada Rabbnya maka mereka pun dirundung oleh rasa cemas. Orang-orang yang
mengimani ayat-ayat Rabb mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Rabb
mereka. Begitu pula orang-orang yang memberikan apa yang mampu mereka sumbangkan
sementara hati mereka diwarnai dengan rasa takut, bagaimana keadaan mereka kelak
ketika dikembalikan kepada Rabb mereka. Mereka itulah orang-orang yang bersegera
dalam melakukan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang terdahulu
melakukannya. (QS. al-Muminun: 57-61)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, Bersama dengan kebaikan, keimanan, dan amal
saleh yang ada pada diri mereka ternyata mereka juga senantiasa merasa takut dan
khawatir akan hukuman Allah serta makar-Nya kepada mereka. Sebagaimana yang
dikatakan oleh Hasan al-Bashri, Seorang mukmin memadukan antara berbuat
ihsan/kebaikan dengan rasa takut. Adapun orang kafir memadukan antara berbuat
jelek/dosa dan rasa aman.. (lihat Tafsir al-Quran al-Azhim [5/350] cet. Maktabah at-
Taufiqiyah).

Ismail bin Ishaq menyebutkan riwayat dengan sanadnya, dari Aisyah radhiyallahuanha,
bahwa suatu ketika dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang
orang-orang yang dimaksud oleh ayat (yang artinya), Orang-orang yang memberikan apa
yang telah berikan, sedangkan hati mereka merasa takut. (QS. al-Mukminun: 60). Maka
Nabi menjawab, Mereka itu adalah orang-orang yang rajin menunaikan sholat, berpuasa,
dan bersedekah. Meskipun demikian, mereka merasa takut apabila amal-amal mereka tidak
diterima di sisi-Nya. (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal [1/110])

Demikianlah keadaan orang-orang yang tauhidnya lurus. Mereka khawatir diri mereka
terjerumus dalam hal-hal yang merusak keimanan mereka dalam keadaan mereka tidak
menyadarinya. Ibrahim alahis salam -seorang Nabi Allah, Ulul Azmi, bapaknya para
Nabi, pemimpin orang-orang yang bertauhid, dan kekasih ar-Rahman- pun menyimpan rasa
takut yang sangat besar dari kemusyrikan. Allah taala mengisahkan doa yang beliau
panjatkan, (Wahai Rabbku) Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah
berhala. (QS. Ibrahim: 35). Ibrahim at-Taimi pun berkomentar, Lantas, siapakah yang
bisa merasa aman dari musibah (syirik) setelah Ibrahim? (lihat Fath al-Majid Syarh
Kitab at-Tauhid, hal. 72 cet. Dar al-Hadits)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, Ibrahim alaihis salam
bahkan mengkhawatirkan syirik menimpa dirinya, padahal beliau adalah kekasih ar-
Rahman dan imamnya orang-orang yang hanif/bertauhid. Lalu bagaimana menurutmu
dengan orang-orang seperti kita ini?! Maka janganlah kamu merasa aman dari bahaya
syirik. Jangan merasa dirimu terbebas dari kemunafikan. Sebab tidaklah merasa aman dari
kemunafikan kecuali orang munafik. Dan tidaklah merasa takut dari kemunafikan kecuali
orang mukmin. (lihat al-Qaul al-Mufid ala Kitab at-Tauhid [1/72] cet. Maktabah al-
Ilmu)

Oleh karena itu sebelum melangkah untuk melakukan amal perbuatan, kita harus
mengetahui syarat diterimanya amal tersebut, dengan harapan amal kita bisa diterima di sisi
Allah subhanahu wa taala. Di dalam masalah ini ada tiga syarat penting lagi agung yang
perlu diketahui oleh setiap hamba yang beramal, jika tidak demikian, maka amal terebut
tidak akan diterima.

Pertama, Iman Kepada Allah dengan Men-tauhid-Nya

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, bagi mereka adalah surga
Firdaus menjadi tempat tinggal.(QS. Al- Kahfi:107)

Tempat masuknya orang-orang kafir adalah neraka jahannam, sedangkan surga firdaus bagi
mereka orang-orang yang mukmin, namun ada 2 syarat seseorang bisa memasuki surga
firdaus tersebut yaitu:

1. Iman

Aqidah Islam dasarnya adalah iman kepada Allah, iman kepada para malaikat-Nya, iman
kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada para rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman
kepada takdir yang baik dan yang buruk. Dasar-dasar ini telah ditunjukkan oleh kitabullah
dan sunnah rasul-Nya

Nabi shallallaahu alaihi wa sallam juga bersabda dalam sunnahnya sebagai jawaban
terhadap pertanyaan malaikat Jibril ketika bertanya tentang iman:

Iman adalah engkau mengimani Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-
Nya, hari kemudian, dan mengimani takdir yang baik dan yang buruk. (HR Muslim)

2. Amal Shalih
Yaitu mencakup ikhlas karena Allah dan sesuai dengan yang diperintahkan dalam syariat
Allah.

) 2)




Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Quran) dengan (membawa)


kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah,
hanya kepunyaan Allah-lah agamya yang bersih (dari syirik). (Az-Zumar: 2-3)

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang
lebih baik amalnya. (All-Mulk : 2)

Al-Fudhail berkata: Maksud yang lebih baik amalnya dalam ayat ini adalah yang paling
ikhlas dan paling benar. (Tafsir al-Baghawi, 8:176)

Kedua, Ikhlas karena Allah

Mungkin kita sudah bosan mendengar kata ini, seringkali kita dengar di ceramah-ceramah,
namun kita tidak mengetahui makna dari ikhlas tersebut. Ikhlas adalah membersihkan
segala kotoran dan sesembahan-sesembahan selain Allah dalam beribadah kepada-Nya.
Yaitu beramal karena Allah tanpa berbuat riya dan juga tidak sumah.

Orang-orang bertanya: Wahai Abu Ali, apakah amal yang paling ikhlas dan paling benar
itu?.

Dia menjawab, Sesungguhnya jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak
diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas maka ia tidak akan diterima, hingga amal
itu ikhlas dan benar. Yang ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah, dan yang benar ialah
yang dikerjakan menurut As-Sunnah. Kemudian ia membaca ayat:




Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan
amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada
Rabbnya. )Al-Kahfi :110)

Allah juga berfirman:

Artinya : Dan sipakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan? (An-Nisa
:125)

Bagaimana mengetahui amalan puasa kita diterima Alloh SWT ?

1. kita mendapati hati kita lebih dekat kepada Allah SWT, lebih cinta kepadaNya, dan
inilah tanda diterima amalan dan buah ketaatan.
2. Mencintai dan suka terhadap ketaatan dan menerimanya sepenuh hati, kita
merasakan bahwa pintu-pintu ketaatan terbuka untuk kita dan ringan/mudah
mengamalkannya, dan merasa pintu kemaksiatan tertutup bagi kita, menjauhinya,
membencinya dan mencegah diri dari berbuat maksiat.
3. Tidak hilangnya ketaatan setelah ramadhan berakhir, bahkan terus meningkatkan
amalan yang belum dilakukan sebelum ramadhan.
4. Tidak kembali bermaksiat lagi setelah bertaubat di bulan ramadhan. Diantara tanda
belum diterimanya taubat adalah masih kembali mengulangi bermaksiat.
5. Merasakan nikmat pemberian Allah, mensyukurinya, dan selalu berdzikir bahwa
amalan yang dilakukan merupakan karunia kemudahan dari Allah SWT.
6. Disebutkan oleh Ibnu Rajab rahimahullah mengerjakan puasa enam hari bulan
syawal termasuk tanda diterimanya amalan puasa ramadhan.

Urgensi Cinta, Takut dan Harap Dalam Ibadah

Ketiga pilar yang telah disebutkan di atas harus terdapat dalam setiap ibadah seorang
hamba. Tidaklah benar ibadah seseorang jika satu saja dari ketiga hal tersebut hilang.
Seseorang yang memiliki rasa takut yang berlebihan akan menyebabkan dirinya putus asa,
sedangkan jika rasa takutnya rendah maka dengan mudahnya dia akan bermaksiat kepada
Tuhannya.

Kebalikannya seseorang yang berlebihan rasa harapnya akan menyebabkan dia mudah
bermaksiat dan jika rendah rasa harapnya maka dia akan mudah putus asa. Sedangkan
kedudukan cinta, maka cinta inilah yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Sehingga diibaratkan bahwa kedudukan ketiga pilar ini dalam ibadah bagaikan kedudukan
seekor burung, dimana rasa takut dan harap sebagai kedua sayapnya yang harus seimbang
dan rasa cinta sebagai kepalanya yang merupakan pokok kehidupannya.


Wallahul muwaffiq.


.




.


.



Khutbah Kedua

.


.



.





.

.


.



.


.
.






.

.





.

.

.


.


.

.
.










.

.