You are on page 1of 5

RINGKASAN POWER AND EMPOWERING

Disususn untuk Memenuhi Tugas Kepemimpinan dalam Keperawatan Semester VIII

Disusun Oleh :

Nama : Rainy Tri Kurnianingtyas

NIM : 22020113120042

A.13.2

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2017

1
Power and Empowering dalam Keperawatan

Kekuasaan ( Power ) adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain


meskipun adanya penolakan mereka. Menggunakan daya, satu orang atau kelompok
dapat memaksakan kehendaknya pada orang atau kelompok lain.Ada banyak sumber
kekuasaan. Banyak diantaranya yang tersedia untuk perawat, tetapi beberapa dari
diantaranya tidak.Berikut ini sumber-sumber Power:

1. Otoritas.
Kekuatan yang diberikan kepada individu atau kelompok berdasarkan posisi
(dalam hirarki organisasi, misalnya)
2. Reward.
Menjanjikan uang, barang, jasa, penghargaan, atau keuntungan lainnya.
3. Expertise.
Pengetahuan khusus seorang individu yang dimiliki, seperti dikatakan Sir
Francis Bacon, "Pengetahuan adalah kekuatan".
4. Koersi.
Ancaman rasa sakit atau bahaya, yang dapat bersifat fisik, ekonomi, atau
psikologis

Berbagai kelompok orang dalam organisasi kesehatan memiliki berbagai jenis


kekuasaan yang tersedia bagi mereka:

1. Manajer mampu untuk menghargai individu dengan kenaikan gaji, promosi,


dan pengakuan. Mereka juga dapat menyebabkan rasa sakit ekonomi atau
psikologis bagi orang-orang yang bekerja untuk mereka, khususnya melalui
otoritas mereka untuk mengevaluasi dan memecat orang tetapi juga melalui
tanggung jawab mereka untuk membuat tugas, mengizinkan hari libur, dan
sebagainya.
2. Pasien pada awalnya tampak relatif tidak berdaya dalam organisasi kesehatan.
Namun, jika pasien menolak untuk menggunakan jasa suatu organisasi tertentu,
organisasi yang pada akhirnya tidak akan ada lagi. Pasien bisa menghadiahkan
pekerja perawatan kesehatan dengan memuji mereka untuk atasan mereka.

2
Mereka juga dapat menyebabkan masalah dengan mengeluh tentang penyediaa
pelayanan kesehatan.
3. Asisten dan teknisi juga mungkin tampak relatif tidak berdaya karena posisi
mereka yang rendah dalam hirarki. Bayangkan, namun, bagaimana kerja dari
organisasi (misalnya, rumah sakit, panti jompo) akan terhambat jika semua
pembantu keperawatan tidak hadir pada suatu pagi.
4. Perawat memiliki kuasa ahli dan otoritas atas perawat berlisensi praktis,
pembantu, dan personel lain berdasarkan posisi mereka dalam hirarki. Mereka
sangat penting bagi operasional sebagian besar organisasi kesehatan dan dapat
menyebabkan masalah besar jika mereka menolak untuk bekerja, sumber lain
dari kekuasaan perawat.

Empowerment merupakan pemberdayaan dalam lingkungan kerja terhadap


anggota organisasi. Lingkungan kerja yang menyediakan akses informasi, sumber,
dukungan, dan kesempatan untuk belajar serta berkembang merupakan suatu
pemberdayaan (empowerment). Salah satu strategi dalam transformasi organisasi dalam
pelayanan kesehatan saat ini adalah empowerment terhadap staf. Pembagian kekuasaan
(power) dengan staf dijadikan sebagai suatu strategi dalam transformasi organisasi
pelayanan kesehatan. Teori empowerment dipakai dalam upaya merumuskan strategi
manajemen untuk peningkatan lingkungan kerja yang positif di bidang keperawatan.
Teori tersebut sudah banyak dipakai dalam penelitian di bidang perilaku organisasi
karena berguna untuk membentuk berbagai intervensi organisasi untuk meningkatkan
kondisi kerja dalam lingkungan keperawatan.

Empowerment di tempat kerja merupakan strategi manajemen yang telah


menunjukkan kesuksesan dalam menciptakan lingkungan kerja yang positif dalam
organisasi. Perawat dengan akses lingkungan empowerment memberikan dampak positif
pada organisasi. Perawat yang mendapatkan lingkungan dengan pemberdayaan
(empowerment) memberikan dampak pada penyelenggaraan pelayanan kepada pasien,
ketegangan kerja, kepuasan kerja dan retensi perawat ditempat kerja. Praktik dari
manajemen ini tidak hanya meningkatkan kontribusi atau produktifitas perawat dengan
efektif tetapi juga memungkinkan perawat untuk melatih otonomi, merasakan, dan
mengerti akan nilai-nilai terhadap kerja dan kepuasan. Strategi empowerment memicu

3
partisipasi aktif perawat dalam membuat keputusan. Implementasi empowerment pada
perawat membawa peningkatan otonomi profesional serta partisipasi aktif dalam
membuat keputusan pada isu-isu praktik keperawatan dan lingkungan kerja.
Empowerment menjadi bagian implementasi fungsi directing dalam proses manajemen
keperawatan. Hal ini terkait dengan fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha
memberi bimbingan, saran, perintah-perintah atau instruksi kepada bawahan dalam
melaksanakan tugas masing-masing, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan
benar-benar tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan semula.

4
Daftar pustaka

Diane, K. W., Sally, A. W., & Tappen, R. M. (2010). Essentials of nursing leadership
and management. 5th edition, p.63-65. Philadelphia: F. A. Davis Company.