You are on page 1of 6

Seorang laki-laki berumur 60 tahun datang ke Rumah Sakit dengan

keluhan tidak bisa buang air kecil selama + 5 hari sehingga terasa nyeri di bagian
kandung kemih dengan riwayat yang sama 2 minggu sebelumnya terpasang
Dower Cateter (DC). Akhirnya dengan keluhan tersebut, keluarga Tn.A
membawanya ke IGD.
Anak1 : Permisi suster, tolong bantu bapak saya, katanya sekitar lebih
dari 5 hari yang lalu merasa nyeri di bagian perutnya sampai
sekarang
Perawat 1 : Oh baik bu, bapak silahkan berbaring dulu ya pak
Bagaimana pak ? keluhannya apa ?
Pasien : Perut saya ini loh mbak sakit, trus nggak bisa pipis sudah
sekitar 5 hari yang lalu
Perawat 1 : Maaf pak, sakitnya diperut bagian mana ? sini ? sini ?
(menunjuk bagian perut)
Pasien : Nah itu mbak, disitu. Terus pengen pipis tapi gabisa
Perawat 1 : Kalau dari angka 1-10, menurut bapak, nyerinya diberikan nilai
berapa pak?
Pasien : 8 sus
Perawat 1 : Oh bagitu ya pak, ditunggu sebentar ya pak
Dokter : Gimana sus ?
Perawat 1 : Jadi begini dok, Tn.A mengeluhkan nyeri di bagian perut
bagian bawah, sepertinya pada bagian kandung kemihnya dok.
Kemudian klien juga mengatakan jika belum BAK sudah sekitar
lebih dari 5 hari. Begitu dok.
Dokter : Sudah sus ? Ada lagi ?
Perawat 1 : Sudah dok
Dokter : Baik saya periksa dulu.
yang sakit bagian sini pak?
Pasien : Iya dok
Dokter : Ya, kalau dari anamnesa sementara saya sepertinya Tn.A ini
mengalami inkontenensia urin
Anak 1 : Lalu bagaimana dok ini baiknya?
Dokter : Kalau bapak dan keluarga bersedia, bapak di pasang kateter saja
bagiamana ? Itu berfungsi untuk membantu mengeluarkan urin
yang ada dikandung kemih Tn.A, jika bersaedia, nanti mengisi
lembar persetujuan dulu pak?
Pasien : Yasudah dok, boleh dilakukan saja

Setelah disetujui oleh pasien dan keluarga, perawat 1 dan 2 memasangkan


kateter pada Tn.A.
Perawat 2 : Permisi, selamat pagi pak. Saya perawat 2 dan teman saya
perawat 1 yang akan melakukan pemasangan kateter pada bapak.
Jadi pak, nanti prosedurnya akan dimasukan semacam selang
dibagian alat kelamin bapak yang fungsinya untuk mengeluarkan
urin, nanti diharapkan dalam proses tindakannya bapak tidak
menahannya. Tindakan ini kira-kira akan memakan waktu sekitar
5 menit saja bagaimana pak ? apakah bapak bersedia ?
Pasien : Baik sus, saya bersedia
Perawat 1 : Kalau begitu, untuk ibu dan mbak silahkan bisa menunggu
diluar dulu ya
Perawat 2 : Ini saya mulai pasang ya pak, jangan di tahan pak, rileks saja
supaya tidak sakit
kok sulit masuk ya sus
Perawat 1 : Coba saya sus
Ketika proses berlangsung, dan dengan beberapa kali percobaan, ternyata
selang kateter tidak bisa masuk karena terdapat tahanan. Kemudian perawat
melaporkan kepada dokter atas kejadian tersebut, dokter memutuskan untuk
membatalkan pemasangan kateter untuk menghindari efek samping lain yang
tidak diinginkan. Oleh karena itu perawat 3 memberikan pengertian kepada
keluarga atas kendala tersebut.
Perawat 3 : Keluarga Tn.A
Anak 2 : Iya saya sus, bagaimana ?
Perawat 3 : Jadi begini bu, kami sudah mencoba untuk melakukan
pemasangan kateter kepada Tn.A, tapi ternyata tidak bisa masuk
selangnya bu karena ternyata terdapat tahanan didalamnya,
sehingga kami membatalkan pemasangan tersebut untuk
menghindari terjadinya kejadian yang tidak diinginkan
Anak 2 : Lah terus bagaimana sus? Berarti nanti bapak saya tetap tidak
bisa BAK, tapi kasian sus, beliau merasa nyeri terus terusan
Istri : Iya sus, coba dicoba lagi saja sus, siapa tahu bisa
Perawat 2 : Kami sudah mencobanya beberapa kali bu, tapi tetap tidak bisa
Istri : Sudahlah sus, pokonya gimana caranya supaya suami saya tidak
kesakitan lagi. Memangnya suster tega ya lihat suami saya
kesakitan seperti itu?

Mendengar keputusan keluarga, perawat kemudian melakukan diskusi dengan


perawat lainnya.
Perawat 2 : Permisi sus, tadi daya dengan Perawat 1 melakukan
pemasangan kateter kepada Tn.A, tapi ternyata gagal sus karena
terdapat tahanan. Nah kami juga sudah menyampaikannya kepada
dokter, dan kami diminta untuk membatalkan tindakan tersebut,
saya juga sudah memberitahu keluarga, tapi dari pihak keluarga
tidak setuju, keluarga menginginkan untuk tetap dilakukan
pemasangan
Perawat 3 : Apakah sudah diberikan penjelasan atas efek sampingnya sus?
Dan apa tanggaannya ?
Perawat 2 : Sudah sus, tapi mereka ingin tetap dipasang karena tidak tega
melihat keluarganya kesakitan.
Perawat 3 : Yasudah kalau begitu saya temui dulu keluarganya untuk
meminta tanda tangan informed consent tindakan ini tetap
dilakukan
Berdasarkan kesepakatan tersebut, akhirnya perawat meminta keluarga
untuk mengisi informed consent karena keluarga memaksa untuk tetap
dilakukannya tindakan tersebut.
Perawat 3 : Permisi bapak, menurut persetujuan keluarga bapak, kami
diminta untuk tetap memasang kateter kepada bapak. Saya mulai
ya pak. Permisi
Perawat 2 : Sepertinya tetap tidak bisa masuk sus. Eh ini, keluar darah sus
Perawat 3 : wah kalau begitu saya cabut saja, ini sudah tidak boleh
dilanjutkan lagi sus. Sus tolong dibersihkan ya, saya akan
melaporkan kepada dokter dan perawat 4, nanti suster tolong
beritahu keluarga
Perawat 2 : Baik sus.
Keluarga Tn.A ?
Anak 3 : Iya sus, bagaimana ?
Perawat 2 : Jadi begini bu, berdasarkan permintaan keluarga tadi, kami
telah melakukan pemasangan ulang kateter TN.A, ternyata malah
keluar darahnya. Sehingga kami menganjurkan kepada keluarga
untuk dapat mengerti kondisi Tn.A dan bersedia untuk
mengehentikan tindakan ini. Nantinya kami akan berdiskusi ulang
untuk tindakan lain yang dapat diberikan kepada Tn.A
Anak 3 : Baik kalau begitu sus, lakukan saja yang terbaik

Perawat 3 : Permisi sus, saya ingin memberitahukan kalau, pemasangan


kateter pada Tn.A tidak berhasil lagi tapi malah mengeluarkan
darah, bagaimana ya sus?
Perawat 4 : Keluar darah sus? Kalau begitu mari kita ke dokter
Permisi dokter, perawat 3 telah melakukan pemasangan kateter
tapi tetap gagal dan malah mengeluarkan darah
Dokter : Keluar darah sus? Berarti kita harus mencari alternative
tindakan lainnya sus
Perawat 4 : Iya dok
Kemudian perawat dan dokter melakukan diskusi dan membuat beberapa
pertimbangan tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan
dan konsekuensi tindakan tersebut:
a. Tidak menuruti keinginan pasien tentang pemasangan DC dengan
konsekuensi
1) Tidak memperparah perdarahan dari saluran kencing pasien
2) Pasien tidak bisa BAK
3) Pelanggaran terhadap hak pasien untuk menentukan nasibnya sendiri
4) Menimbulkan kecemasan bagi pihak keluarga dan pasien
b. Tidak menuruti keinginan pasien, dan perawat membantu untuk meredakan
nyeri dengan manajemen nyeri sambil menunggu pemeriksaan lanjutan
dengan konsekuensi:
1) Tidak memperparah perdarahan dari saluran kencing pasien.
2) Pasien dibawa pada kondisi untuk beradaptasi pada nyerinya
(meningkatkan ambang nyeri)
3) Keinginan pasien untuk BAK tidak terpenuhi
c. Menuruti keinginan pasien untuk memasang ulang DC sambil menunggu
pemeriksaan tunjangan lebih lanjut. Artinya pemasangan DC dilanjutkan
meskipun terdapat perdarahan pada saluran kencing dengan konsekuensi:
1) Risiko memperparah perdarahan pada saluran kencing pasien.
2) Pasien dan keluarga harus menandatangani Inform Concent jika tetap
dilakukan pemasangan DC
3) Hak pasien sebagian dapat terpenuhi

Akhirnya, berdasarkan diskusi yang dilakukan, disepakati untuk


melakukan alternative kedua. Kemudian berdasarkan kesepakatan tersebut,
perawat 4 melakukan manajemen nyeri kepada Tn.A yaitu dengan kolaborasi
antara farmakologi dan non farmakologi. Untuk tindakan non farmakologi,
dilakukan massage dan kompres hangat dengan melibatkan peran keluarga.

Setelah dilakukan penanganan nonfarmakologi kompres hangat dan massage,


perawat melakukan evaluasi tingkat nyeri kepada pasien.
Perawat 4 : Bagaimana pak setelah dilakukan massage, kompres hangat,
dan pemberian obat ?
Pasien : Yaa enakan sih sus
Perawat 4 : Lebih rileks pak ? kalau dari angka 1-10 nilai nyerinya sekarang
berapa pak ?
Pasien : Berapa ya sus. 6 deh sus
Perawat 4 : Sykurlah kalau begitu pak, kalau begitu saya permisi dulu ya
pak, bapak istirahat saja dulu, sambil menunggu petugas lab untuk
mengambil sampel.

-The End-