You are on page 1of 10

LAPORAN MARKET INTELLIGENCE

INDUSTRI ALAT BERAT DI INDONESIA

Juni 2010

Produsen utama alat berat di Indonesia yaitu Komatsu, Caterpillar dan Hitachi sempat
mengalami penurunan penjualan.

Jenis alat berat

Jenis produk dan type alat berat yang diproduksi oleh tiga produsen alat berat di Indonesia.
Komatsu paling banyak jenis produksinya yang meliputi excavator, Buldozer, Motor Grader dan
dump truck. Caterpillar Indonesia (Natra Raya) yang memproduksi merk Caterpillar,
memproduksi excavator, buldozer dan motor grader untuk type yang paling banyak dipakai di
Indoesia. Misalnya excavator yang type 320 C yang bersaing dengan Komatsu type PC-200
yang berkapasitas sekitar 20 ton.

Dalam rangka menghadapi persaingan yang semakin ketat, Komatsu meluncurkan produk
excavator terbaru yaitu excavator seri PC 200-8, PC 400-8 dan PC 130-8 pada bulan Maret
2010.

PC 200-8 dipasarkan dengan harga jual US$ 111 ribu atau setara dengan Rp 1 miliar. Selain seri
PC 200-8, perseroan juga melanching PC 130F-7 dan PC 400-8. Ketiga produk ini telah
dilengkapi oleh teknologi KOMTRAX (Komatsu Machine Tracking System), yaitu sistem berbasis
website, hingga pemantauan dapat dilakukan dimana pun, dan kapan pun. Dengan produk baru
ini, UT yakin akan dapat bersaing dengan kompetitor, khususnya alat berat buatan China.

Komatsu telah membangun fasilitas pengecoran yang kedua miliknya untuk memproduksi suku
cadang yang berupa besi cor dengan kapasitas 1.800 ton untuk meningkatkan local content dari
ondustri alat beratnya di Indonesia.

Produsen Alat berat di Indonesia

Indonesia memiliki tiga produsen alat berat yang memproduksi excavator, bulldozers, motor
graders dan dump trucks. Ketiga perusahaan itu adalah PT Komatsu Indonesia yang
memproduksi lat berat dengan merk Komatsu, PT Caterpillar Indonesia (dahulu PT Natra Raya)
dengan merk Caterpillar, PT Hitachi Construction Machinery dengan merk Hitachi. Ada
produsen lain yaitu PT United Tractors Pandu Engineering yang memproduksi forklift dengan
merk Patria.

PT Komatsu Indonesia

PT Komatsu Indonesia berdiri tahun 1982 di Cakung, Jakarta Utara. Perusahaan ini memililik
fasilitas produksi yang terintegrasi disatu tempat meliputi area seluas 18,2 ha terdiri dari 15.876
m2 untuk fasilitas perakitan, 15.390 m2 untuk fasilitas pabrikasi 11.800 m2 fasiltas foundry
plant 1 dan 10,000 m2 foundry plant 2 and 3.

Semula perusahaan ini hanya mengerjakan perakitan alatb berat Kopmatsu yang komponennya
diimpor dari Jepang. Kemudian pada tahun 1987 perusahaan mulai membangun fasilitas
pembuatan komponen. Sejak itu Komatsu Indonesia berhasil meningkatkan local content-nya
dan mulai mengekspor komponen alat berat ke Jepang untuk digunakan oleh Komatsu Ltd.
Selanjutnya pada tahun 1991, Komatsu Indonesia membangun fasilitas foundry untuk membuat
komponen alat berat yang juga digunakan oleh pabrik Komatsu di seluruh dunia.

Pada tahun 1995 PT Komatsu Indonesia menjadi perusahaan publik, namun kemudian kembali
menjadi go private tahun 2006 setelah saham publik dibeli kembali oleh Komatsu Ltd termasuk
membeli sebagian saham yang dimiliki oleh PT United Tractor sehingga saham UT tinggal 5%.
Kapasitas prodksi Komatsu mencapai 3600 unit alat berat per tahun termasuk dump truck
sebesar 240 unit per tahun.

PT Caterpillar Indonesia (PT Natra Raya)

Alat berat merk Catgerpillar dirakit di Indonesia oleh PT Caterpillar Indonesia yang sebelumnya
bernama PT Natra Raya yang berlokasi di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. PT Caterpillar Indonesia
sahamnya 80% dimiliki oleh Caterpillar dari amerika Serikat dan sisanya dimiliki oleh PT Marga
Tiara Trakindo. Agen tunggal Caterpillar di indonmesia adalah PT Trakindo Nusantara.

PT Hitachi Construction Machinery Indonesia

PT Hitachi Construction Machinery Indonesia (HCMI) yang berlokasi di Cibitung, Bekasi, adalah
joint venture antara Hitachi Construction Machinery Co. Ltd of Japan , Itochu Corporation dari
Jepang, PT Murinda Iron Steel, PT Anggaputra Dhananjaya dan Hitachi Construction Machinery
Singapore, Pte. Ltd. Dari Singapore. Perusahaan ini berdiri bulan ei 1991 dan beroperasi
semenjak Oktober tahun yang sama.

HCMI memproduksi excavator yang memiliki pasar yang besar di Indonesia. Sejak tahun 2000
permintaan terhadap excavator meningkat sehingga HCMI meningkatkan kapasitas produksi
dari 700 unit/tahun menjadi 1000 unit pertahun. HCMI menginvestasikan US$ 10 juta untuk
perluasan kapasitas tersebut. Pada tahun 2007 kapasitas produksi HCMI meningkat kembali
menjadi 1200 unit/tahun.

HCMI memiliki dua fasiltas produksi di Bekasi yaitu di Cibitung untuk memproduksi excavator
dan pabrik di Rawa pasung untuk proses engineering, machining dan pabrikasi alat berat.

Produksi menurut Jenis

Akibat krisis finansial global yang terjadi pada tahun 2009 yang lalu maka industri alat berat
mengalami pukulan yang cukup berat. Menurut data Himpunan Industri Alat-alat Berat Indonsia
(Hinabi) sepanjang 2009 produksi alat-alat berat di Indonesia hanya mencapai 1.814 unit, atau
turun 69% dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya sebanyak 5.914 unit.

Penjualan alat berat masih mengandalkan sektor pertambangan dengan kontribusi 70%,
perkebunan dan kehutanan sekitar 10%, dan konstruksi 20%. Namun memasuki tahun 2010,
industri alat berat mampu bangkit kembali sejalan dengan pemulihan ekonomi yang terjadi di
Indonesia dan kenyataan bahwa ekonomi Indonesia mampu menghindari dampak buruk krisis
finansial global dengan terus tumbuh perekonomiannya sekitar 4,5% tahun 2009 dan
diperkirakan bisa mencapai 6% tahun 2010.

Penurunan produksi tahun 2009 terutama terjadi pada sektor kontruksi karena banyaknya
proyek konstruksi dan properti yang ditunda pelaksanaanya. Sementara pembelian oleh sektor
pertambangan dan perkebunan terhambat karena sulitnya pendanaan karena sektor keuangan
sempat terganggu akibat krisis finansial. Sebenarnya sektor pertambangan terutama batubara
tidak banyak terpengaruh oleh krisis finansial karena permintaan pasar batu bara tetap tinggi.

Tahun 2010 ini, Hinabi memprediksikan produksi alat berat meningkat menjadi sekitar 4.000 -
5000 unit karena selama semester I tahun 2010 produksi alat berat telah mencapai 2495 unit.

Namun, angka produksi sebesar itu, baru menyamai pencapaian produksi tahun 2007 sebanyak
4.785 unit. Sementara itu, realisasi 2008 yang tercatat tertinggi sepanjang masa sebesar 5.914
unit.

Kemerosotan produksi pada tahun 2009 membuat tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang
(utilisasi) menurun tajam dari 90% pada 2008 menjadi 34% pada tahun 2009 dari total
kapasitas terpasang 6.500 unit per tahun. Dengan kaspasitas terpasang yang sama, berarti
utilisasi industri alat berat tahun 2010 akan naik ke kisaran 70%.

Beberapa jenis alat berat yang sudah dirakit di dalam negeri a.l. excavator, bulldozer, motor
grader, dump truck, serta forklift. Excavator masih mendominasi produksi alat berat di
Indonesia. Selama semester I tahun 2010 dari produksi alat berat sebanyak 2495 unit,
sebanyak 1324 unit atau 53% adalah produksi excavator. Baru disusul oleh buldozer sekitar 23
%.

Produsen teresar alat berat di Indoneswia adlah Komatsu. Pada tahun 2007 produksi Komatsu
mencapai 2400 unit termasuk 1530 unit excavator. Selengkapnya lihat tabel berikut ini.

Investasi Baru

Pada 2007-2008, industri alat berat melakukan penambahan investasi yang mencapai US$ 180
juta dengan peningkatan kapasitas terpasang sebanyak 3.500 unit. Dari jumlah tersebut
investasi untuk penambahan kapasitas terpasang industri alat berat senilai US$ 130 juta dan
investasi industri untuk komponen alat berat sekitar US$ 50 juta. Pada tahun 2010 gairah
investasi disektor alat berat kembali meningkat setelah pasar alat berat pulih dari dampak krisis
yang dirasakan tahun 2009.

PT Komatsu Indonesia merencanakan investasi sebesar US$ 100 juta selama tiga tahun
semenjak tahun 2008 untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

Selain Komatsu, peningkatan kapasitas juga dilakukan oleh Hitachi. Hitachi Construction
Machinery Indonesia (HCMI) sedang melakukan proyek perluasan yang akan meningkatkan
kapasitas produksi dari 3.000 unit per tahun menjadi 4.000 unit per tahun pada 2013.....
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE

PERANAN AGEN TUNGGAL ALAT BERAT

Juni 2010

Agen tunggal untuk alat berat merk Komatsu adalah PT United Tractors, sedangkan merk
Caterpillar adalah PT Trakindo dan merk Hitachi adalah PT Hexindo Adiperkasa.

Alat berat yang masih belum diproduksi seperti Kobelco, Volvo, Case, dll. Impornya dilakukan
oleh agen tunggal merk trsebut

Peranan setiap agen dalam penjualan alat berat berbeda-beda, tergantung kontrak kerjasama
yang mereka buat.

Caterpillar selama ini terkenal sangat ketat dalam mengatur penjualan alat berat di Indonesia
melalui agen tunggalnya yaitu PT Trakindo Utama. Penjualan unit alat berat dan suku cadang
dari Caterpillar di Indonesia hanya dilakukan oleh PT Trakindo Utama dan kantor cabangnya
diberbagai daerah. Hampir tidak ada celah bagi pedagang selain PT Trakindo untuk menjual
unit alat berat dan spare part dari Caterpillar. Perusahaan ini diproteksi oleh prinsipalnya
sehingga pedagang dari Singapore tidak bisa membeli suku cadang Caterpillar dari agen di
Singapore untuk dipakai di Indonesia.

PT United Tractors juga ditunjuk sebagai agen tunggal alat berat di Indonesia dari Komatsu.
Namun Komatsu tidak begitu ketat dalam mengontrol penjualan suku cadang dari unit alat
berat Komatsu di Indonesia. Pedagang di Singapura mungkin untuk membeli sparepart dari
depo milik Komatsu di Singapore untuk di jual di Indonesia. Walaupun tidak secara explisit ijin
itu diberikan, namun dalam kenyataannya spare parts Komatsu lebih mudah didapatkan di
Singapore untuk dijual di Indonesia. Demikian juga di Indonesia banyak pedagang suku cadang
alat berat yang menjual suku cadang Komatsu secara bebas.

Perbedaan dari komitmen prinsipal ini menyebabkan perbedaan dalam penanganan penjualan
unit alat berat tersebut. Salah satu faktor yang penting dalam penjaulan unit alat berat adalah
after sales service termasuk maintenance dan penyediaan suku cadang. Dengan aturan main
yang cukup ketat dalam distribusi suku cadang, maka kebanyakan unit alat berat Caterpillar
dijual beserta pelayanan purna jual dan kontrak pengadaan suku cadang. Sementara UT mulai
mendapat saingan dari pedagang suku cadang independen yang juga bisa melayani penyediaan
suku cadang Komatsu.

Merk lainnya seperti Kobelco, lebih longgar lagi, karena pembeli mungkin untuk memperoleh
unit alat berat Kobelco dari luar Indonesia untuk dipakai di Indonesia tanpa melalui agen
tunggal Kobelco di Indonesia .

Profiles Of Heavy Equipment Sole Agents


PT United Tractors Tbk.

Latar belakang
United Tractors (UT/Perseroan) berdiri pada tanggal 13 Oktober 1972 sebagai distributor
tunggal alat berat Komatsu di Indonesia. Pada tanggal 19 September 1989, Perseroan
mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya dengan kode
perdagangan UNTR, dimana PT Astra International menjadi pemegang saham mayoritas. Selain
dikenal sebagai distributor alat berat terkemuka di Indonesia, Perseroan juga aktif bergerak di
bidang kontraktor penambangan dan bidang pertambangan batu bara. Ketiga unit usaha ini
dikenal dengan sebutan Mesin Konstruksi, Kontraktor Penambangan dan Pertambangan.

Unit usaha Mesin Konstruksi menjalankan peran sebagai distributor tunggal alat berat Komatsu,
Nissan Diesel, Scania, Bomag, Valmet dan Tadano. Dengan rentang ragam produk yang
diageninya, Perseroan mampu memenuhi seluruh kebutuhan alat berat di sektor-sektor utama
di dalam negeri, yakni pertambangan, perkebunan, konstruksi, kehutanan, material handling
dan transportasi. Layanan purna jual kepada seluruh pelanggan di dalam negeri tersedia
melalui jaringan distribusi yang tersebar pada 18 kantor cabang, 15 kantor site-support dan 12
kantor perwakilan.

Unit usaha ini juga didukung oleh anak-anak perusahaan yang menyediakan produk dan jasa
terkait, yaitu PT United Tractors Pandu Engineering (UTPE), PT Komatsu Remanufacturing Asia
(KRA) PT Bina Pertiwi (BP) dan PT Multi Prima Universal (MPU).

PT TRAKINDO UTAMA

PT Trakindo Utama adalah agen tunggal produk Caterpillar di Indonesia yang terdiri dari
berbagai peralatan dan mesin pertambangan, kehutanan, pertanian dan kostruksi, diesen dan
mesin-mesin lainnya

Jenis peralatan yang diproduksi Caterpillar meliputi articulated trucks, backhoe loaders,
compactors, excavators, integrated tool carriers, material handlers, motor graders, multi terrain
loaders, off-highway trucks, off-highway tractors, pipe layers, scrapers, skid steer loaders,
telehandlers, track-type tractors, track loaders, wheel dozers, underground mining equipment,
paving equipment, forest machines, dan industrial prime movers.

PT TRAKINDO UTAMA didirikan tahun 1970 oleh pemiliknya yaitu AHK Hamami dan kemudian
menjadi agen tunggal Caterpillar pada tahun 1971. Perusahaan tersebut sekarang telah
memiliki 69 cabang dari Sumatera hingga Papua untuk mendukung pelayanan purna jual dan
pelayanan lainnya bagi pengguna Caterpillar....
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE

INDUSTRI ALAT BERAT DI INDONESIA

Juni 2010

Pendahuluan

Industri alat berat pada tahun 2010 telah mampu kembali bangkit setelah terpuruk tahun 2009
yang lalu sebagai imbas krisis finansial dunia yang menyebabkan banyaknya proyek konstruksi
dan properti yang ditunda dan sulitnya memperoleh pembiayaan untuk pembelian alat berat
karena sektor keuangan saat itu sedang terkena imbas krisis finansial dunia sehingga kucuran
kredit dari lembaga pembiayaan sulit didapat.

Industri alat berat sempat mengalami pukulan yang hebat akibat krisis finansial global pada
tahun 2009. Produksi alat berat nasional menurun dari 5914 unit tahun 2008 menjadi hanya
1814 unit tahun 2009. Produsen utama alat berat di Indonesia yaitu Komatsu, Caterpillar dan
Hitachi sempat mengalami penurunan penjualan.

Padahal pada tahun 2008 industri alat berat mengalami pertumbuhan yang pesat dengan
maraknya pertambangan batubara dan perluasan kebun kelapa sawit. Demikian juga sektor
konstruksi dan properti tumbuh pesat sehingga permintaan terhadap berbagai alat berat sangat
tinggi. Pada tahun itu banyak pesanan pembelian alat berat yang harus menunggu sampai lebih
dari 6 bulan karena produsen alat berat tidak mampu memenuhi pesanan yang telah melebihi
kemampuan produksinya.

Ketika pada pertengahan tahun 2008 terjadi krisis finansial global, dampaknya terhadap industri
alat berat baru terasa tahun 2009, karena sampai akhir 2008 umumnya penjualan alat berat
hanya memenuhi pesanan yang sudah dibuat sebelumnya. Gejolak krisis finansial sangat terasa
pada tahun 2009 dengan banyaknya rencana pembelian alat berat yang ditunda karena proyek
yang akan memakainya juga tertunda, seperti proyek properti dan konstruksi. Umumnya
hambatan yang terjadi karena sulitnya pembiayaan karena bagi proyek yang masih jalanpun
seperti pertambangan batubara dan kebun kelapa sawit, pengadaan alat berat menjadi sulit
karena sulitnya pendanaan.

Memasuki tahun 2010, industri alat berat mampu bangkit kembali, karena krisis finansial global
ternyata tidak berdampak banyak terhadap perekonomian Indonesia. Pertambangan batubara
kembali melakukan pembelian alat berat demikian juga proyek perkebunan seperti kelapa sawit.
Sementara itu proyek properti sudah mulai bangkit sejalan dengan pulihnya sektor keuangan di
Indonesia yang ternyata tidak mengalami banyak pengaruh negatif dari krisis finansial global.

Kalangan industri alat berat melihat tahun 2010 dengan optimis dan mampu meningkatkan
kembali penjualan.Selama semester I tahun 2010 produksi alat berat di Indonesia telah
mencapai 2495 unit meningkat jauh dibanding tahun 2009 karena secara keseluruhan produksi
tahun 2009 hanya mencapai 1814 unit.

Jenis alat berat

Jenis produk dan type alat berat yang diproduksi oleh tiga produsen alat berat di Indonesia.
Komatsu paling banyak jenis produksinya yang meliputi excavator, Buldozer, Motor Grader dan
dump truck. Caterpillar Indonesia (Natra Raya) yang memproduksi merk Caterpillar,
memproduksi excavator, buldozer dan motor grader untuk type yang paling banyak dipakai di
Indoesia. Misalnya excavator yang type 320 C yang bersaing dengan Komatsu type PC-200
yang berkapasitas sekitar 20 ton.

Dalam rangka menghadapi persaingan yang semakin ketat, Komatsu meluncurkan produk
excavator terbaru yaitu excavator seri PC 200-8, PC 400-8 dan PC 130-8 pada bulan Maret
2010.
PC 200-8 dipasarkan dengan harga jual US$ 111 ribu atau setara dengan Rp 1 miliar. Selain seri
PC 200-8, perseroan juga melanching PC 130F-7 dan PC 400-8. Ketiga produk ini telah
dilengkapi oleh teknologi KOMTRAX (Komatsu Machine Tracking System), yaitu sistem berbasis
website, hingga pemantauan dapat dilakukan dimana pun, dan kapan pun. Dengan produk baru
ini, UT yakin akan dapat bersaing dengan kompetitor, khususnya alat berat buatan China.

Tingkat kandungan dalam negeri industri alat berat pada tahun 2009 lalu berkisar antara 30%
sampai 50%. Angka itu di targetkan meningkat pada tahun 2010 menjadi 50-60%. Local
content untuk alat berat jenis ekskavator pada tahun lalu mencapai 50%, dump truck 30%,
buldoser 45%, motor grader 40%, dan forklift 40%.

Impor bahan baku alat berat, selama ini berupa center bracket, monitor panel, mesin, dan
komponen hidrolis (hydrautic part). Sedangkan komponen alat berat seperti cutting plate, ban,
baterai, dan under carriage part sudah mampu dipasok industri penunjang dalam negeri.

Komatsu telah membangun fasilitas pengecoran yang kedua miliknya untuk memproduksi suku
cadang yang berupa besi cor dengan kapasitas 1.800 ton untuk meningkatkan local content dari
ondustri alat beratnya di Indonesia.

Produsen Alat berat di Indonesia

Indonesia memiliki tiga produsen alat berat yang memproduksi excavator, bulldozers, motor
graders dan dump trucks. Ketiga perusahaan itu adalah PT Komatsu Indonesia yang
memproduksi lat berat dengan merk Komatsu, PT Caterpillar Indonesia (dahulu PT Natra Raya)
dengan merk Caterpillar, PT Hitachi Construction Machinery dengan merk Hitachi. Ada
produsen lain yaitu PT United Tractors Pandu Engineering yang memproduksi forklift dengan
merk Patria.

PT Komatsu Indonesia

PT Komatsu Indonesia berdiri tahun 1982 di Cakung, Jakarta Utara. Perusahaan ini memililik
fasilitas produksi yang terintegrasi disatu tempat meliputi area seluas 18,2 ha terdiri dari 15.876
m2 untuk fasilitas perakitan, 15.390 m2 untuk fasilitas pabrikasi 11.800 m2 fasiltas foundry
plant 1 dan 10,000 m2 foundry plant 2 and 3.

Semula perusahaan ini hanya mengerjakan perakitan alatb berat Kopmatsu yang komponennya
diimpor dari Jepang. Kemudian pada tahun 1987 perusahaan mulai membangun fasilitas
pembuatan komponen. Sejak itu Komatsu Indonesia berhasil meningkatkan local content-nya
dan mulai mengekspor komponen alat berat ke Jepang untuk digunakan oleh Komatsu Ltd.
Selanjutnya pada tahun 1991, Komatsu Indonesia membangun fasilitas foundry untuk membuat
komponen alat berat yang juga digunakan oleh pabrik Komatsu di seluruh dunia.

Pada tahun 1995 PT Komatsu Indonesia menjadi perusahaan publik, namun kemudian kembali
menjadi go private tahun 2006 setelah saham publik dibeli kembali oleh Komatsu Ltd termasuk
membeli sebagian saham yang dimiliki oleh PT United Tractor sehingga saham UT tinggal 5%.
Kapasitas prodksi Komatsu mencapai 3600 unit alat berat per tahun termasuk dump truck
sebesar 240 unit per tahun.

PT Caterpillar Indonesia (PT Natra Raya)


Alat berat merk Catgerpillar dirakit di Indonesia oleh PT Caterpillar Indonesia yang sebelumnya
bernama PT Natra Raya yang berlokasi di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. PT Caterpillar Indonesia
sahamnya 80% dimiliki oleh Caterpillar dari amerika Serikat dan sisanya dimiliki oleh PT Marga
Tiara Trakindo. Agen tunggal Caterpillar di indonmesia adalah PT Trakindo Nusantara.

PT Hitachi Construction Machinery Indonesia

PT Hitachi Construction Machinery Indonesia (HCMI) yang berlokasi di Cibitung, Bekasi, adalah
joint venture antara Hitachi Construction Machinery Co. Ltd of Japan , Itochu Corporation dari
Jepang, PT Murinda Iron Steel, PT Anggaputra Dhananjaya dan Hitachi Construction Machinery
Singapore, Pte. Ltd. Dari Singapore. Perusahaan ini berdiri bulan ei 1991 dan beroperasi
semenjak Oktober tahun yang sama.

HCMI memproduksi excavator yang memiliki pasar yang besar di Indonesia. Sejak tahun 2000
permintaan terhadap excavator meningkat sehingga HCMI meningkatkan kapasitas produksi
dari 700 unit/tahun menjadi 1000 unit pertahun. HCMI menginvestasikan US$ 10 juta untuk
perluasan kapasitas tersebut. Pada tahun 2007 kapasitas produksi HCMI meningkat kembali
menjadi 1200 unit/tahun.

HCMI memiliki dua fasiltas produksi di Bekasi yaitu di Cibitung untuk memproduksi excavator
dan pabrik di Rawa pasung untuk proses engineering, machining dan pabrikasi alat berat.

Produksi menurut Jenis

Akibat krisis finansial global yang terjadi pada tahun 2009 yang lalu maka industri alat berat
mengalami pukulan yang cukup berat. Menurut data Himpunan Industri Alat-alat Berat Indonsia
(Hinabi) sepanjang 2009 produksi alat-alat berat di Indonesia hanya mencapai 1.814 unit, atau
turun 69% dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya sebanyak 5.914 unit.

Penjualan alat berat masih mengandalkan sektor pertambangan dengan kontribusi 70%,
perkebunan dan kehutanan sekitar 10%, dan konstruksi 20%. Namun memasuki tahun 2010,
industri alat berat mampu bangkit kembali sejalan dengan pemulihan ekonomi yang terjadi di
Indonesia dan kenyataan bahwa ekonomi Indonesia mampu menghindari dampak buruk krisis
finansial global dengan terus tumbuh perekonomiannya sekitar 4,5% tahun 2009 dan
diperkirakan bisa mencapai 6% tahun 2010.

Penurunan produksi tahun 2009 terutama terjadi pada sektor kontruksi karena banyaknya
proyek konstruksi dan properti yang ditunda pelaksanaanya. Sementara pembelian oleh sektor
pertambangan dan perkebunan terhambat karena sulitnya pendanaan karena sektor keuangan
sempat terganggu akibat krisis finansial. Sebenarnya sektor pertambangan terutama batubara
tidak banyak terpengaruh oleh krisis finansial karena permintaan pasar batu bara tetap tinggi.

Tahun 2010 ini, Hinabi memprediksikan produksi alat berat meningkat menjadi sekitar 4.000 -
5000 unit karena selama semester I tahun 2010 produksi alat berat telah mencapai 2495 unit.

Namun, angka produksi sebesar itu, baru menyamai pencapaian produksi tahun 2007 sebanyak
4.785 unit. Sementara itu, realisasi 2008 yang tercatat tertinggi sepanjang masa sebesar 5.914
unit.
Kemerosotan produksi pada tahun 2009 membuat tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang
(utilisasi) menurun tajam dari 90% pada 2008 menjadi 34% pada tahun 2009 dari total
kapasitas terpasang 6.500 unit per tahun. Dengan kaspasitas terpasang yang sama, berarti
utilisasi industri alat berat tahun 2010 akan naik ke kisaran 70%.

Beberapa jenis alat berat yang sudah dirakit di dalam negeri a.l. excavator, bulldozer, motor
grader, dump truck, serta forklift. Excavator masih mendominasi produksi alat berat di
Indonesia. Selama semester I tahun 2010 dari produksi alat berat sebanyak 2495 unit,
sebanyak 1324 unit atau 53% adalah produksi excavator. Baru disusul oleh buldozer sekitar 23
%.

Produsen teresar alat berat di Indoneswia adlah Komatsu. Pada tahun 2007 produksi Komatsu
mencapai 2400 unit termasuk 1530 unit excavator. Selengkapnya lihat tabel berikut ini.

Investasi Baru

Pada 2007-2008, industri alat berat melakukan penambahan investasi yang mencapai US$ 180
juta dengan peningkatan kapasitas terpasang sebanyak 3.500 unit. Dari jumlah tersebut
investasi untuk penambahan kapasitas terpasang industri alat berat senilai US$ 130 juta dan
investasi industri untuk komponen alat berat sekitar US$ 50 juta. Pada tahun 2010 gairah
investasi disektor alat berat kembali meningkat setelah pasar alat berat pulih dari dampak krisis
yang dirasakan tahun 2009.

PT Komatsu Indonesia merencanakan investasi sebesar US$ 100 juta selama tiga tahun
semenjak tahun 2008 untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

Selain Komatsu, peningkatan kapasitas juga dilakukan oleh Hitachi. Hitachi Construction
Machinery Indonesia (HCMI) sedang melakukan proyek perluasan yang akan meningkatkan
kapasitas produksi dari 3.000 unit per tahun menjadi 4.000 unit per tahun pada 2013.....