You are on page 1of 5

ABSTRAK Analisis biostratigrafi kuantitatif dengan mengamati keberadaan spesies Sphenolithus

abies dan Helicosphaera carteri dapat digunakan untuk mengungkap perubahan salinitas purba pada
suatu cekungan pengendapan. Kondisi air laut yang hyposaline dapat diketahui dari perkembangan
spesies Helicosphaera carteri yang berlimpah. Sebaliknya, peningkatan jumlah Sphenolithus abies
akan menunjukkan bahwa lingkungan berada pada kondisi salinitas normal. Dengan mempergunakan
asumsi yang sama, maka perubahan salinitas di daerah penelitian yang termasuk ke dalam Cekungan
Jawa Timur Utara, pada Kala Miosen Akhir hingga Plistosen, dapat diinterpretasikan sebagai berikut.
Formasi Wonocolo bagian atas hingga Formasi Ledok bagian bawah, air lautnya dinterpretasikan
memiliki kondisi hyposaline. Sedangkan pada Formasi Ledok bagian atas hingga Formasi Mundu,
lingkungan berubah menjadi kondisi salinitas normal. Selanjutnya, kondisi lingkunganberubah
menjadi hyposaline kembali ketika diendapkan Formasi Selorejo. Sedangkan pada saat pengendapan
Formasi Lidah, lingkungan berubah dan kembali pada kondisi salinitas normal.

Kata Kunci: salinitas purba, biostratigrafi kuantitatif, Helicosphaera carteri, Sphenolithus abies

Pendahuluan

Asumsi bahwa perubahan dalam lingkungan pengendapan akan selalu di sertai dengan perubahan
organisme telah diterima secara luas. Oleh karena itu dengan melihat perubahan jumlah organisme
yang hidup pada lingkungan pengendapan tertentu, kita dapat belajar atau mengetahui dari
perubahan lingkungan pengendapan. Melinte (2004) dan Bour et al. (2007) membahas
nanoplankton sebagai indikator perubahan lingkungan pengendapan. Setelah itu, Wade dan Brown
(2006) juga menunjukan bahwa spesies nanoplankton juga dapat sebagai indokator dari perubahan
lingkungan pengendapan, terutama salinitas, pada daerah Cyprus. Mereka membahas keberadaan
spesies Sphnolithus abies dan Helicosphaera carteri, dan hubungan hubungan mereka dengan
salinitas air dimana kedua spesies ini ditemukan. Hasil dari penelitian Melintes (2004) mengusulkan
bahwa Calcidiscus leptoporus hidup dalam kondisi hiposalin. Sementara, Wade dan Brown (2006)
menyimpulkan bahwa pada cekungan Polemi , Cyprus, Helicosphera carteri berlimpah pada kondisi
hiposalin. Oleh karena itu, peningkatan jumlah Sphenolithus abies pada suatu lingkungan
mewujudkan kondisi salinitas normal. Mengingat dari studi sebelumnya, kami menerapkan metode
yang digunakan oleh Melinte (2004) dan Wade & Brown (2006) Untuk menentukan paleosaliniti
pada cekungan Jawa Timur Utara.
Geologi regional

Daerah penelitian terletak pada daerah Cekungan Jawa Timur Utara, daerah Gunung Panti,
Kabupaten Pati, Provinsi Jawa tengah (Gambar1) Pada koordinat 06 52' 30"- 06 54'09" dan 111 03'
00"- 111 05'30" E. Cekungan Jawa Timur Utara dipilih Karena Pliosen Pleistosen sedimen pada
cekungan ini terendapkan pada lingkungan pengendapan laut. Perubahan Paleosalinitas dapat
ditelusuri dari pengendapan laut, yang lingkungan pengendapanya tersebut cocok untuk hidup
nanoplankton.

Bedasarkan peta fisiografi Jawa Timur, Daerah Gunung Panti milik Zona Rembang
(Gambar1). Menurut peta geologi regional sebelumnya oleh Kadar & Sudjiono (1993), Formasi yang
terdapat pada daerah ini adalah Formasi Wonocolo, Ledok, Mundu, Selorejo, dan Formas Lidah.
Pembentuk dari Formasi Lidah adalah batulempung masif.

Metodelogi

Pada cekungan Jawa Timur Utara, penyayatan di lakukan pada 3 lintasan sungai, yaitu
lintasan sungai Kedunglawah, lintasan sungai Tambar sungai Nggaber, dan lintasan sungai
Kedungkembang (gambar3). Sampel dikumpulkan berasal dari Miosene atas hingga pliosen. 9
sampel diambil dari lintasan sungai Kedunglawah, 14 sampel berasalh dari lintasan sungai Tambar
sungai Nggaber, sementara 9 sampel lainya diambil dari lintasa sungai Kedungkembang.

Analisa pengamatan nanoplankton telah dilakukan dengan metode commonly-used field of


viem (FOV). Ukuran standar kaca (120 x 250 m). Dalam satu pengamatan menggunakan FOV,
jumlah setiap jenis nanoplankton dihitung 15 kali dalam tempat yang berbeda dan kemudian diulang
delapan kali. Sisa dari pengamatan digunakan untuk menemukan spesies penanda yang mungkin
ditemukan pada sampel. Beberapa indicator fosil yang digunakan pada penelitian ini adalah
Sphenolithus abies, Helicosphaera carteri, dan Calcidiscus leptoporus Sphenolithus abies (Gambar4a),
yang memiliki kesamaan lingkungan dengan Discoaster genus. Umumnya, Sphenolithus dan
Discoaster hidup berdampingan pada lingkungan oligotrophic, hangat, kondisi laut terbuka, dan
menunjukan salinitas lingkungan tingkat normal ( Wade & Brown, 2006 ).

Berlimpahnya genus Helicossphaera menandakan bahwa lingkunganya merupakan laut


dangkal. Helicosphaera carteri (Gambar4b) menunjukan kondisi lingkungan hiposalin, eutrophic, dan
banyak daerah laut dangkal ( Wade & Brown, 2006 ). Daeri sampel yang diambil dari laut hitam,
Helicopshaera carteri merupakan spesies yang mampu hidup pada kondisi salinitas dibawah tingkat
normal ( Melinte, 2004 ). Calcidiscus leptoporus (Gambar4c) berkembang pada daerah dengan
kondisi salinitas dibawah normal. Dalam sampel yang diambil pada laut hitam, Calcidiscus leptoporus
adalah spesies yang dapat hidup padakondisi salinitas dibawah normal ( Melinte, 2004 ).

Hasil & Pembahasan

Lintasan Sungai Kedunglawah

Perbandingan perkembangan spesies Helicosphaera carteri & Sphenolithus abies pada lintasan
sungai Kedunglawah bias diamati pada gambar 5. Pada sampel NG-26, yang diperoleh pada
pembentukan Formasi Wonocolo, disini terdapat Helicosphaera carteri, tetapi tidak untuk
Sphenolithus abies. Keadaan ini menunjukan bahwa diatas pembentukan Formasi Wonocolo,
lingkungan pengendapanya dalam keadaan kondisi hiposalin. Hal ini disebabkan oleh lingkungan
dangkal, dimana pembentukan formasi bulu secara bertahap kemudian terbentuk formasi
wonocolo. Sampel KD-09, KD-07, dan KD-06 yang telah di kumpulkan dari atas formasi ledok
memiliki kecenderungan peningkatan jumlah Sphenolithus abies dan hilangnya Helicosphaera
carteri. Hal ini menunjukan bahwa ketika formasi ledok terendapkan, lingkungan pengendapan
berada pada kondisi salinitas normal. Sampel KB-05 merupakan sampel yang diambil pada formasi
mundu dan merupakan puncak dari berlimpahnya Sphenolithus abies yang mencapai jumlah 4815
dan puncak berlimpahnya Helicosphaera carteri yang mencapai jumlah 105. Jumlah tertinggi dari
Sphenolithus abiesis setelah itu Helicosphaera carteri menunjukan bahwa ketika formasi mundu
terendapkan, lingkungannya lebih cocok untuk kehidupan Sphenolithus abies. Ini menunjukan bahwa
ketika formasi mundu terbentuk, lingkungannya memiliki kondisi salinitas yang normal.

Lintasan Sungai Tambar Nggaber

Perbandingan perkembangan antara spesies Helicosphaera carteri dan Sphenolithus abies pada
Lintasan Sungai Tambar Nggaber dapat dilihat pada gambar 6. Dari hasil analisis nanoplankton
pada lintasan ini didapatkan trend atau hasil yang sama dengan hasil yang ada pada Lintasan Sungai
Kedunglawah.
Lintasan Sungai Kedungkembang

Pada lintasan sungai Kedungkembang pun hasilnya memiliki trend yang sama seperti dari
kedua lintasan sungai sebelumnya.

Pada GP-08 dan GP-09 diambil pada bagian bawah formasi ledok, disini ditemukan
Helicosphaera carteri saja, menandakan bahwa pada saat formasi ledok di endapkan, lingkunganya
merupakan lingkungan pada saat kondisi hiposalin. Kemudian dari GP-10 dan GP-05 diambil dari
bagian atas formasi Ledok ditemukan bahwa jumlah dari Helicosphaera carteri menurun, sedangkan
jumlah total dari Sphenolithus abies sedikit meningkat. Itu menunjukan bahwa pada bagian atas
formasi Ledok saat sediemn terendapkan lingkunganya merupakan lingkungan yang memiliki kondisi
salinitas normal.

Sedangkan pada formasi Mundu lingkunganya sangat mendukung utuk kehidupan


Sphenolithus abies, yang menandakan lingkunganya berkondisi salinitas normal. Pada formasi
Selorejo terindikasi berdasarkan sampel yang diambil merupakan daerah lingkungan yang sangat
dangkal, dan menjadikan salinitasnya dalam kondisi hiposalin. Pada bagian bawah formasi Lidah
lingkunganya mulai berubah dan kembali menjadi kondisi salinitas normal.

Kondisi salinitas tidak digambarkan melalui lithologi dari batuanya, namun dimana
lingkungan pengendapan terjadi, sebagai contoh lempung yang terendapkan pada kondisi salinitas
hiposalin berarti dia terendapkan pada delta atau lagoon. Berbeda dengan lempung yang memiliki
salinitas normal, berarti ia terndapkan pada laut terbukan.

Berdasarkan penelitian ini, kondisi salinitas dapat di interpretasikan dari perubahan populasi
nanoplankton .

Kesimpulan

Perubahan populasi dari Helicosphaera carteri, Sphenolithus abies, dan Calcidiscus leptoporus dapat
digunakan untuk menentukan salinitas lingkungan saat sediment terendapkan. Peningkatan jumlah
Helicosphaera carteri dan Calcidiscus leptoporus dapat untuk menentukan bahwa lingkungannya
dalam kondisi hiposalin. Dan peningkatan jumlah Sphenolithus abies akan menunjukan keadaan
kondisi salinitas normal. DI cekungan Jawa Timu Utara, perubahan dalam paleosalinity ditemukan
dari perubahan populasi Helicosphaera carteri, Sphenolithus abies, dan Calcidiscus leptoporus.
Dipengendapan bagian atas pada formasi Wonocolo (NN10), sedimen terendapkan pada
kondisi hiposalin. Kondisi lingkungan hiposalin terus berlanjut hingga bawah formasi Ledok ( NN10
NN11 ). Diatas formasi ledok (NN11 NN13), kondisi lingkungan telah kembali menjadi kondisi
salinitas normal. Kondisi salinitas normal ini terus hingga formasi Mundu (NN13 NN17). Kembali
pada lingkungan dengan kondisi hiposalin ketika formasi Selorejo terndapkan (NN17 NN20). Dalam
formasi Lidah (NN21 hingga yang lebih muda), lingkungannya kembali pada kondisi salinitas normal.