You are on page 1of 13

1.

Provider data spasial: BIG, LAPAN, BPPT, PUSDATA PU, BAPLAN KHT, PUSLITTANAK, BPN, BPS,
LEMIGAS, KKP, BNPB. Pilih 2 lembaga yang berperan sebagai provider data spasial untuk
pengelolaan DAS dan pesisir?

Untuk aktivitas perencanaan dan pengelolaan daerah aliran sungai dan kawasan pesisir, salah satu
lembaga yang penting sebagai penyedia data spasial adalah BMKG dan BIG.

a. Profil Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (disingkat BMKG), sebelumnya bernama Badan
Meteorologi, dan Geofisika (disingkat BMG) adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen Indonesia
yang mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang meteorologi, klimatologi, dan
geofisika. BMKG dipimpin oleh seorang Kepala berada di bawah, dan bertanggung jawab kepada Presiden.
BMKG memiliki 2 deputi sebagai berikut:

 Deputi Bidang Observasi, terdiri dari: Pusat Tata Laksana Observasi, Pusat Sistem Instrumentasi,
dan Kalibrasi, serta Pusat Sistem Jaringan Observasi.
 Deputi Bidang Sistem Data, dan Informasi, terdiri dari: usat Sistem Informasi Data Meteorologi,
Pusat Sistem Informasi Data Klimatologi, dan Kualitas Udara, serta Pusat Sistem Informasi Data
Geofisika.

BMKG memiliki 5 Balai Besar, yaitu: Balai Besar Wilayah I Medan, Balai Besar Wilayah II Ciputat,
Balai Besar Wilayah III Denpasar, Balai Besar Wilayah IV Makassar, dan Balai Besar Wilayah V Jayapura.
Masing-masing Balai Besar membawahi sejumlah Stasiun BMKG.

b. Profil Badan Informasi Geospasial (BIG)

Badan Informasi Geospasial (disingkat BIG), sebelumnya bernama Badan Koordinasi Survei dan
Pemetaan Nasional (disingkat Bakosurtanal), adalah lembaga pemerintah nonkementerian Indonesia
yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang informasi geospasial. Badan Informasi
Geospasial (BIG) lahir untuk menggantikan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
(BAKOSURTANAL) sebagai penuaian amanat pasal 22 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang
Informasi Geospasial (IG). UU ini disetujui Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia pada tanggal 15
April 2011 dan disahkan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada tanggal 21
April 2011. Lahirnya BIG ditandai dengan ditandatanganinya Peraturan Presiden Nomor 94 tahun 2011
mengenai Badan Informasi Geospasial pada tanggal 27 Desember 2011. BIG menjadi tulang punggung
dalam mewujudkan tujuan UU tentang Informasi Geospasial untuk:

 Menjamin ketersediaan akses terhadap informasi geospasial yang dapat dipertanggungjawabkan;


 Mewujudkan penyelenggaraan informasi geospasial yang berdaya guna (efisien) dan berhasil
guna (efektif) melalui kerja sama, koordinasi, integrasi dan sinkronisasi; dan
 Mendorong penggunaan informasi geospasial dalam penyelenggaraan pemerintahan dan dalam
berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Dengan kerja keras dan dukungan seluruh pemangku kepentingan di bidang informasi geospasial,
dari unsur pemerintah, akademisi, pengusaha, profesional dan segenap masyarakat, BIG siap mengemban
amanah sebagai institusi terdepan dalam mengoptimalkan penyelenggaraan informasi geospasial untuk
negeri.
2. Jelaskan kompetensi kedua lembaga tersebut sebagai penyedia data spasial untuk pengelolaan DAS
dan pesisir?

Kompetensi BMKG
a. TUPOKSI BMKG

BMKG mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Meteorologi, Klimatologi,


Kualitas Udara dan Geofisika sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Dalam
melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud diatas, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
menyelenggarakan fungsi:

 Perumusan kebijakan nasional dan kebijakan umum di bidang meteorologi, klimatologi, dan
geofisika;
 Perumusan kebijakan teknis di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
 Koordinasi kebijakan, perencanaan dan program di bidang meteorologi, klimatologi, dan
geofisika;
 Pelaksanaan, pembinaan dan pengendalian observasi, dan pengolahan data dan informasi di
bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
 Pelayanan data dan informasi di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
 Penyampaian informasi kepada instansi dan pihak terkait serta masyarakat berkenaan dengan
perubahan iklim;
 Penyampaian informasi dan peringatan dini kepada instansi dan pihak terkait serta masyarakat
berkenaan dengan bencana karena factor meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
 Pelaksanaan kerja sama internasional di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
 Pelaksanaan penelitian, pengkajian, dan pengembangan di bidang meteorologi, klimatologi, dan
geofisika;
 Pelaksanaan, pembinaan, dan pengendalian instrumentasi, kalibrasi, dan jaringan komunikasi di
bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
 Koordinasi dan kerja sama instrumentasi, kalibrasi, dan jaringan komunikasi di bidang
meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
 Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan keahlian dan manajemen pemerintahan di bidang
meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
 Pelaksanaan pendidikan profesional di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
 Pelaksanaan manajemen data di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
 Pembinaan dan koordinasi pelaksanaan tugas administrasi di lingkungan BMKG;
 Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab BMKG;
 Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan BMKG;
 Penyampaian laporan, saran, dan pertimbangan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

b. Produk BMKG
 Informasi Cuaca

Cuaca adalah keadaan udara pada waktu dan tempat tertentu. BMKG menyediakan berbagai jenis
informasi cuaca, mulai dari prakiraan cuaca (dunia, Indonesia, propinsi, jabodetabek), prospek cuaca (tiga
harian dan mingguan), penginderaan jauh (citra satelit dan radar), cuaca penerbangan (laporan cuaca
actual bandara dan prakiraan cuaca bandara), cuaca pelayaran (prakiraan cuaca untuk pelayaran dan
tinggi gelombang), prakiraan angina, potensi banjir, analisa curah hujan, kebakaran hutan dan data siklon
tropis.

 Informasi Iklim

Berbeda dengan cuaca, Iklim adalah keadaan rata-rata cuaca di suatu daerah dalam jangka lama
atau tetap. BMKG juga menyediakan berbagai informasi iklim, mulai dari prakiraan iklim (informasi hujan
bulanan, prakiraan hujan bulanan dan prakiraan musim), outlook el nino, informasu hari tanpa hujan,
neraca air, dinamika atmosfir, potensi banjir, analisa kejadian iklim ekstrim, indeks presipitasi
terstandarisasi, informasi suhu muka laut, informasu index el nino, informasi temperature subsurface
pasifik, informasi perubahan iklim (tren curah hujan, tren suhu, perubahan normal curah hujan, indeks
ekstrim perubahan iklim, proyeksi perubahan iklim, buku perubahan iklim), dan bulletin iklim.

 Kualitas Udara

Kualitas udara yang digunakan di Indonesia adalah indeks standar pencemar udara (ISPU).
Terdapat beberapa jenis gas dan senyawa yang menjadi ukuran dari kualitas udara yang disediakan
datanya oleh BMKG, antara lain informasi gas SO2, NO2, SPM, informasi kimia air hujan, ozon (O3),
informasi gas rumah kaca dan informasi partikulat (PM10).

 Informasi Kebencanaan

Informasi kebencanaan yang didata oleh BMKG hanya bencana tsunami dan bencana gempabumi,
karena untuk bencana-bencana yang lain menjadi wewenang BNPB. Untuk bencana gempabumi BMKG
merekap beberapa data, antara lain: gempa bumi terkini >5.0 SR, gempa yang dirasakan, antisipasi
gempabumi, skala intensitas gempabumi, skala MMI, data riwayat gempa, dan jaringan stasiun
gempabumi. Sementara untuk bencana tsunami terdapat data tambahan seperti seismologi teknik.
Sementara itu, terdapat pula komponen-komponen pendukung untuk membaca geopotensial (gaya
berat, tanda waktu, terbit terbenam matahari, magnet bumi dan petir).

 Pusat Jaringan Komunikasi

Dengan kemajuan teknologi informasi, BMKG memiliki sistem jaringan komunikasi antar stasiun
dan dengan stasiun luar negeri untuk menambah keakuratan data dan penyebaran informasi secara
merata. Tugas ini dikendalikan oleh divisi pusat jaringan komunikasi BMKG. Secara umum tugas dan fungsi
dari Pusat Jaringan Komunikasi ( Pusjarkom ) yaitu membangun dan mengelola sistem komunikasi dan
internet yang terjamin keamanan datanya dan terjamin kualitas datanya di bidang Meteorologi,
Klimatologi dan Geofisika , disamping itu Pusat Jaringan Komunikasi diberikan tanggung Jawab untuk
mengelola aplikasi dari pusat-pusat lain diantaranya adalah CMSS, AWS center, website, Email system dll,
disisi lain Pusat Jaringan Komunikasi juga menjadi central dari proses lalulintas data dan informasi yang
ada di BMKG. Jenis data yang menjadi prioritas divisi ini adalah instrumentasi, rekayasa dan kalibrasi.
Ketiga data tersebut tersedia secara online melalui sistem database BMKG.

c. Peran BMKG terhadap pengelolaan DAS dan Pesisir

BMKG memilki fungsi penting sebagai penyedia data cuaca, iklim, kualitas udara dan potensi
bencana alam. Salah satu fungsi data-data tersebut adalah untuk menganalisa karakteristik aliran run off
permukaan pada kawasan DAS sehingga dapat diperkirakan dampaknya beserta cara pengelolaan yang
sesuai. Sementara untuk kawasan pesisir, data potensi bencana gempabumi dan tsunami penting sebagai
dasar acuan pengendalian perkembangan lahan terbangun di kawasan tersebut, dan melindungi fungsi-
fungsi ekologi yang pada dasarnya dapat mengurangi dampak bencana tsunami yang mungkin terjadi,
seperti hutan mangrove dan gumuk pasir.

Kompetensi Badan Informasi Geospasial (BIG)


a. TUPOKSI BIG

Badan Informasi Geospasial (BIG) mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang
Informasi Geospasial. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2Perpres Nomor 94
Tahun 2011, BIG menyelenggarakan fungsi:

 Perumusan dan pengendalian kebijakan teknis di bidang informasi geospasial;


 Penyusunan rencana dan program di bidang informasi geospasial;
 Penyelenggaraan informasi geospasial dasar yang meliputi pengumpulan data, pengolahan,
penyimpanan data dan informasi, dan penggunaan informasi geospasial dasar;
 Pengintegrasian informasi geospasial tematik yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah
dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
 Penyelenggaraan informasi geospasial tematik yang belum diselenggarakan selain BIG meliputi
pengumpulan data, pengolahan,penyimpanan data dan informasi, dan penggunaan informasi
geospasial tematik;
 Penyelenggaraan infrastruktur informasi geospasial meliputi penyimpanan, pengamanan,
penyebarluasan data dan informasi, dan penggunaan informasi geospasial;
 Penyelenggaraan dan pembinaan jaringan informasi geospasial;
 Akreditasi kepada lembaga sertifikasi di bidang informasi geospasial;
 Pelaksanaan kerjasama dengan badan atau lembaga pemerintah, swasta, dan masyarakat di
dalam dan/atau luar negeri;
 Pelaksanaan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi di lingkungan BIG;
 Pelaksanaan koordinasi perencanaan, pelaporan, penyusunan peraturan perundang-undangan
dan bantuan hukum;
 Pembinaan dan pelayanan administrasi ketatausahaan, organisasi dan tata laksana, kepegawaian,
keuangan, keprotokolan, kehumasan, kerjasama, hubungan antar lembaga, kearsipan,
persandian, barang milik negara, perlengkapan, dan rumahtangga BIG;
 Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan, serta promosi dan pelayan
produk dan jasa di bidang informasi geospasial;
 Perumusan, penyusunan rencana, dan pelaksanaan pengawasan fungsional.

b. Produk BIG
 Jaring Kontrol Geodesi

Terdiri atas Jaring Kontrol Horisontal (JKH), Jaring Kontrol Vertikal (JKV), dan Jaring Kontrol
Gayaberat (JKG). Sebagai salah satu data spasial kerangka kontrol geodesi dan geodinamika tercantum
dalam Jaringan Data Spasial Nasional. Data-data geodesi di dalamnya dimanfaatkan oleh pemerintah
maupun swasta sebagai referensi untuk pekerjaan pemetaan dan survey rekayasa dan sebagai landasan
pengembangan Infrastruktur Data Spasial Nasional (ISDN). Tujuan Jaring Kontrol Horisontal dan Vertikal
adalah untuk memonitoring dinamika kerak bumi.

 Sistem Akuisisi Data Toponim (SAKTI)

Merupakan sebuah sistem yang dikembangkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) untuk
memfasilitasi pengumpulan nama rupabumi di Indonesia. Sistem ini mulai diluncurkan pada tahun 2016,
dengan merilis aplikasi adnroid bernama SAKTI yang merupakan akronim dari Sistem Akuisisi Data
Toponim Indonesia.

 Peta Rupabumi Indonesia (RBI)

Adalah peta topografi yang menampilkan sebagian unsur-unsur alam dan buatan manusia di
wilayah NKRI. Unsur-unsur kenampakan rupabumi dapat dikelompokkan menjadi 7 tema, yaitu:

- Tema 1: Penutup lahan: area tutupan lahan seperti hutan, sawah, pemukiman dan sebagainya
- Tema 2: Hidrografi: meliputi unsur perairan seperti sungai, danau, garis pantai dan sebagainya
- Tema 3: Hipsografi: data ketinggian seperti titik tinggi dan kontur
- Tema 4: Bangunan: gedung, rumah dan bangunan perkantoran dan budaya lainnya
- Tema 5: Transportasi dan Utilitas: jaringan jalan, kereta api, kabel transmisi dan jembatan
- Tema 6: Batas administrasi: batas negara provinsi, kota/kabupaten, kecamatan dan desa
- Tema 7: Toponim: nama-nama geografi seperti nama pulau, nama selat, nama gunung dan
sebagainya

Peta RBI tersedia dalam skala 1:250.000, 1:50.000, 1: 25.000, dan 1:10.000 dan inventarisasinya
disebut dengan indeks RBI. Dibawah ini adalah contoh Indeks Peta RBI Indeks Peta RBI Jawa, Bali dan Nusa
Tenggara.
 Peta Kelautan (LPI dan LLN)

Peta dasar yang memberikan informasi secara khusus untuk wilayah pesisir dan laut, terutama
tentang kedalaman, jenis pantai (berpasir, berlumpur, atau berbatu), serta informasi dasar lainnya terkait
dengan navigasi dan administrasi di wilayah laut. Beberapa contoh peta Kelautan adalah sebagai berikut.

 Atlas

Atlas yang disediakan oleh Badan Informasi Geospasial dibagi dalam kategori Atlas Sumber Daya
dan atlas publik. Atlas sumbesdaya terbagi menjadi atlas Administrasi, Atlas Transportasi, Atlas Etnis, Data
Pokok Pembangunan Provinsi, Atlas Sumberdaya Nasional, Atlas Sumberdaya Kelautan Indonesia, Atlas
Tanah, Atlas Flora Fauna, Atlas Persebaran Perapatan Penduduk, Atlas Vegetasi, Atlas Pertanian
Indonesia, Atlas Sumberdaya Ekonomi Pertanian, Atlas Curah Hujan, Global Mapping Indonesia, Atlas
Nasional Indonesia, Atlas Bentang Lahan Jawa, Atlas Bentang Lahan Sumatera, Atlas Sumber Daya Alam
dan Pembangunan Berkelanjutan, Atlas Program-Program Penanggulangan Kemiskinan, Atlas Sosial
Ekonomi DKI Jakarta, Atlas Sumberdaya Kelautan, dan Atlas Budaya Edisi Candi.

Sedangkan atlas publik yang disediakan oleh badan informasi geospasial adalah Atlas Pariwisata,
Atlas Pulau-Pulau Kecil Terluar, Atlas Kep. Bangka Belitung dari Angkasa, Altas Indonesia From Space, Atlas
Bali From Space, Atlas NTB From Space, Atlas Sulawesi Utara From Space, Atlas Kebencanaan Indonesia,
Atlas Tsunami Aceh, Atlas Bandara Indonesia, Atlas Geostatistik Indonesia, Atlas Multimedia Pariwisata,
Multimedia Overview Indonesia, Multimedia Potensi Regional dan Nasional, Peta Dinding, Peta NKRI, Peta
Pulau, Atlas Regional dan Dunia, Atlas Pendidikan, Atlas Indonesia dan Dunia, Atlas Taktual Indonesia dan
Atlas Junior.

 Peta Tematik

Peta Tematik adalah peta yang menyajikan tema tertentu dan untuk kepentingan tertentu (land
status, penduduk, transportasi dll.) dengan menggunakan peta rupabumi yang telah disederhanakan
sebagai dasar untuk meletakkan informasi tematiknya. Peta tematik yang diproduksi oleh BIG dibagi
menjadi 3 kelompok, yaitu Data Tematik Sumber Daya Alam Darat, data tematik sumber daya alam laut
dan peta kedirgantaraan.

- Data tematik sumberdaya alam darat disediakan oleh Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik
dengan menyediakan layanan Katalog Data Tematik Sumber Daya Alam Darat. Tema yang tersedia
adalah: Geomorfologi, Liputan Lahan, Lahan Basah, Kawasan Konservasi, Potensi Kawasan
Lindung, Ekosistim, Lahan Kritis, Resiko Bencana, Neraca Sumber Daya Lahan, Neraca Sumber
Daya Air, Neraca Sumber Daya Hutan, Neraca Sumber Mineral, Daerah Aliran Sungai, dan Integrasi
Neraca. Peta tersedia dengan pilihan skala: 1:2.500.000, Skala 1:1.000.000, Skala 1:250.000, Skala
1:100.000, Skala 1:50.000 dan Skala 1:25.000.
- Data Tematik Sumber Daya Alam Laut
- Peta Kedirgantaraan, terbagi menjadi Peta LBI dan Peta WAC. Peta LBI merupakan peta dasar
dalam perencanaan, pengelolaan dan pengembangan kawasan Bandar Udara Indonesia. Di dalam
peta ini tercakup berbagai alat bantu navigasi udara dan rintangan-rintangan penerbangan di
seputar bandara. Sedangkan WAC (world aeronautical chart) merupakan peta yang dipergunakan
untuk keperluan navigasi secara visual, yang menggunakan proyeksi bidang kerucut dengan
tujuan mempertahankan arah.

 Dokumen Standar

Dokumen standar dalam bidang informasi geografi/geomatika bertujuan untuk menyusun suatu
kumpulan standar yang terstruktur mengenai informasi obyek atau fenomena yang secara langsung
maupun tidak langsung berhubungan dengan lokasi di bumi. Standar informasi geografi dibutuhkan
untuk: mendukung ketidakteriaktan terhadap vendor software tertentu; mendukung interoperabilitas
teknologi informasi geografi; meningkatkan ketersediaan, akses, integrasi, dan penyebaran informasi
geografi.

Oleh karena itu standar informasi geografi merupakan salah satu aspek untuk mendukung
terbentuknya Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN). Standar dalam bidang informasi
geografi/geomatika disusun oleh Panitia Teknis 07-01 Bidang Informasi Geografi/Geomatika yang
kemudian ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional untuk menjadi Standar Nasional Indonesia (SNI).
Dokumen-dokumen yang berkaitan dengan standardisasi bidang informasi geografis / geomatika
diantaranya adalah:

- Pedoman standarisasi: dokumen-dokumen yang merupakan pedoman dalam menyusun SNI yang
berasal dari Badan Standardisasi Nasional (BSN), pedoman Panitia teknis (Pantek) bidang
informasi geografis/geomatika dan juga pedoman lain yang terkait dengan penyusunan standar.
- Standar nasional Indonesia (SNI) di bidang informasi geografis/geomatika
- Rancangan standar nasional Indonesia (RSNI) di bidang informasi geografis/geomatika
- Norma pedoman prosedur standar dan spesifikasi: merupakan ketentuan dalam lingkup BIG,
berupa norma, pedoman, prosedur, standard dan spesifikasi bidang informasi
geografis/geomatika, Pedoman IDSN, Pedoman Kekustodianan, danPedoman Clearinghouse.
- Standar internasional (ISO) / regional: Dokumen standar internasional (ISO) dan juga standar-
standar nasional dari negara lain dalam bidang informasi geografis/geomatika.
 Buku Geospasial

Merupakan buku-buku bertemakan geospasial yang diterbitkan oleh badan infromasi geospasial.
Buku-buku tersebut antara lain: Sejarah Survei dan Pemetaan Nusantara - 40 Tahun BAKOSURTANAL,
Buku Prediksi Pasang Surut 2010, Atlas Bandara Indonesia: Gugusan Pulau Kecil Terluar BENTENG
SELATAN NUSANTARA Kabupaten Maluku Barat Daya, Peta Mangroves Indonesia, Ekosistem Mangrove
Kepulauan Togean, Penilaian Kekayaan Sumberdaya Ikan Perairan Togean Kabupaten Tojo Una-Una,
Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Teluk Saleh, Buku Prediksi Pasang Surut 2008, Pulau Makalehi - Mutiara
dalam Untaian Nusantara, dan buku Krakatau : Laboratorium Alam di Selat Sunda.

 Jasa Survei dan Pemetaan

Terdiri dari jasa pengukuran dasar seperti Pengukuran GPS Teliti (Geodetik) dan GPS Navigasi,
Pengukuran Kerangka Horizontal dengan Total Station, Pengukuran Waterpass, Pengukuran Batimetri dan
pengukuran Pasang Surut Laut. Lalu terdapat juga jasa pemetaan dasar seperti Ploting Photogrametri
(Analitical Stereo Plotter, Soft Copy Photogrametri), dan Pemetaan Planimetris (Poligon, waterpas dan
situasi).

Badan informasi geospasial juga melayani pembuatan sistem informasi geografis yang berbasis
aplikasi seperti pada Pemetaan Sumber Daya Alam: Interpretasi Citra (Supervised, unsupervised),
Penginderaan Jauh dan SIG Untuk Inventarisasi Sumber Daya Alam Darat, Penginderaan Jauh dan SIG
Untuk Inventarisasi Sumber Daya Alam Laut, Atlas Pendidikan, Atlas Sumber Daya Alam, Atlas Flora dan
Fauna, Pemetaan Daerah Rawan Bencana dan Lahan Kritis dengan SIG, Penyusunan Basis Data Tematik
dan Sumber Daya Alam, Pemetaan Wilayah Administrasi Daerah, Penataan Batas Wilayah, dan Pemetaan
Tata Ruang Wilayah

jasa intelektual survei pemetaan yang terdapat di BIG adalah Tenaga Ahli Remote Sensing dan
Photogrametri, Tenaga Ahli GIS, Tenaga Ahli Surveying dan Tenaga Ahli Penataan Batas Wilayah. Oleh
karena itu badan informasi geospasial juga melayani jasa pelatihan survei pemetaan.

 Jasa Diklat

Balai Pendidikan dan Pelatihan Survei dan Pemetaan adalah salah satu unit organisasi dalam
lingkungan kerja Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) dengan tugas pokok
menyelenggarakan pembinaan dan peningkatan kualitas sumberdaya manusia surta melalui serangkaian
kegiatan pendidikan dan pelatihan. Terlahir dengan nama PUSBINBANGGA SURTA pada tahun 1982, Balai
Diklat Surta tidak hanya melakukan pembinaan dan peningkatan kompetensi sumberdaya manusia
BAKOSURTANAL, tapi juga sumberdaya manusia yang ada di instansi pemerintah lainnya yang terkait
dengan kegiatan surta, baik tingkat pusat maupun daerah. Bahkan di tingkat regional, Balai diklat Surta
juga berperan aktif dalam pembinaan sumberdaya manusia surta melalui kegiatan pelatihan TCDC bidang
surta yang menjangkau Negara Negara berkembang di kawasan Asia Pasifik.

Besarnya peranan Balai Diklat Surta dalam pembinaan dan peningkatan kompetensi sumberdaya
manusia surta tidak terlepas dari dinamika pengetahuan dan teknologi surta yang terus berkembang dari
waktu ke waktu. Kemajuan di bidang pengetahuan dan teknologi, di satu sisi, telah mampu mendongkrak
efektifitas, efiesiensi dan produktifitas kerja, namun disisi lain, kemajuan ini menuntut penguasaan
pengetahuan, ketermapilan dan keahlian dari para tenaga kerja. Tanpa keterampilan yang memadai,
pengetahuan dan teknologi tersebut praktis tidak akan banyak membantu peningkatan produktifitas dan
efisiensi kerja.

Dalam kaitannya dengan pembinaan dan peningkatan kompetensi tenaga surta nasional, salah
satu kendala yang paling dirasakan adalah kurangnya informasi yang diterima oleh para tenaga kerja surta,
terutama yang bekerja di instansi daerah, tentang aktivitas dan pelayanan jasa pelatihan Balai Diklat Surta.
Dalam rangka pemerataan pengetahuan ini lah Balai Diklat merasa perlu menyusun panduan yang berisi
program kegiatan pelatihan di Bidang Surta. Buku ini diharapkan menjadi media komunikasi dengan para
aparat daerah yang memerlukan penambahan pengetahuan dan keterampilan.

Tujuan utama dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan surta adalah untuk meningkatkan
pengetahuan, keahlian dan keterampilan para tenaga surta sejalan dengan perkembangan pengetahuan
dan teknologi yang ada. Melalui diklat ini diharapkan para peserta mampu: Memahami dan memiliki
kemampuan melaksanakan tugas tugas sesuai dengan prosedur yang berlaku, Mempunyai keahlian dan
keterampilan di bidang teknis tertentu yang mampu mendukung pelaksanaan tugas tugas secara efektif
dan efisien

c. Peran BIG Terhadap DAS dan Pesisir

Badan Informasi Geospasial merupakan lembaga pemerintahan non kementerian yang banyak
memberikan kontribusi pada perkembangan persebaran informasi geospasial di Indonesia yang
dibutuhkan sebagai input data analisis untuk menghasilkan rencana pengelolaan DAS dan pesisir. Selain
itu lembaga ini juga memberikan jasa diklat kepada tenaga survey dan pemetaan sehingga dapat
meningkatkan kemampuan para tenaga kerja dibidang pengelolaan DAS dan pesisir.

3. Apa ide/proyek yang bisa anda rekomendasikan kepada kedua lembaga tersebut?

a. Ide Proyek Untuk BMKG


 Pembuatan peta prediksi bencana kekeringan

Kejadian kekeringan dapat dianalisis melalui informasi tren curah hujan, suhu dan dengan
pendekatan indeks presipitasi terstandarisai (SPI index). Pada saat ini, BMKG baru membuat peta
kekeringan berdasarkan data eksisting disaat itu juga. Diharapkan apabila BMKG mampu mengolah data
prakiraan iklim, maka akan membantu kegiatan pertanian dan perikanan tambak garam untuk
menentukan jadwal tanam, jenis tanaman yang ditanam dan jadwal panen, kerugian petani akibat salah
membaca iklim dapat diminimalisir. Tentu hal ini begitu penting karena pertanian merupakan salah satu
nyawa bangsa Indonesia sebagai negara agraris.

Keuntungan ide proyek ini adalah memiliki nilai kuantitas dan keberlanjutan. Peta proyeksi
kekeringan perlu dibuat dengan tingkat kedetailan data minimal skala kabupaten (1:25.000-1:100.000)
dan perlu diperbaharui secara berkala setiap bulan dan tahun, agar dapat membantu pekerja sector
pertanian. Melihat kedetailan informasi yang harus dihasilkan, maka proyek ini perlu dibagi menjadi
beberapa paket berdasarka wilayah analisisnya.

 Kontrol otomatis terhadap komponen pengendali banjir sebelum terjadinya hujan lebat

Kepada BMKG disarankan untuk memberikan pemantauan yang lebih kepada daerah aliran
sungai, seperti debit aliran, sehingga pintu-pintu air dapat dioptimalkan fungsinya bahkan sebelum terjadi
hujan yang kemungkinan bisa menimbulkan banjir sungai. Hal tersebut telah diterapkan oleh jepang
dengan bantuan satelit Himawari. Daerah tangkapan air seperti embung, waduk, danau resapan dan kanal
banjir dapat dikurangi terlebih dahulu volume airnya sebelum menghadapi hujan lebat yang diprediksi
terjadi. Dengan begitu air hujan yang jatuh akan terlebih dahulu memenuhi kapasitas daerah tangkapan
air, dan banjir dapat diundur/tidak terjadi banjir sama sekali.

Proyek ini terbagi dalam 3 tahapan, yang pertama adalah melakukan kajian untuk menemukan
formula yang tepat dalam memprediksi kejadian cuaca di wilayah Indonesia, terutama wilayah yang rawan
terhadap bencana banjir. Kedua adalah pembangunan sistem computer pengendali pintu air dan rumah
pompa yang mampu bekerja otomatis menganalisis kejadian cuaca lalu memberikan keputusan, yang
didasarkan pada hasil kajian pada tahap pertama. Yang ketiga adalah penyiapan infrastruktur berupa
mekanisasi pintu air, rumah pompa dan integrasi antara berbagai komponen rekayasa aliran/tangkapan
air.

b. Ide Proyek Untuk BIG

Badan informasi geospasial merupakan penyedia data spasial utama di Indonesia, oleh karena itu
saya mengajukan beberapa rekomendasi untuk kemajuan BIG sebagai salah satu penyedia data spasial
dalam pengelolaan DAS dan pesisir, antara lain:

 Pembuatan Peta Penggunaan Lahan skala 1:5000 pada kawasan sempadan sungai, sempadan
pantai dan wilayah perkotaan

Peta penggunaan lahan yang di perbaharui secara rutin akan membantu proses monitoring dan
evaluasi tata ruang pada kawasan DAS dan pesisir. Komponen utama tata ruang yang digunakan sebagai
pembanding terhadap peta penggunaan lahan eksisting adalah rencana pla ruang dan peraturan zonasi.
Dengan pembaharuan yang rutin, dinamisasi perkembangan wilayah oleh manusia dapat dipanatau
secara detail dan mencegah terlambatnya kegiatan penertiban yang biasanya akan menimbulkan konflik
lahan berkepanjangan.

Selanjutnya dibahas mengenai ruang Lingkup pekerjaan Pengadaan peta penggunaan lahan
(1:5000). Berikut ini merupakan diagram alur yang memuat lingkup kegiatan pada proses pengadaan ini:

Pengadaan Citra Interpretasi Peta Tutupan


Pen Satelit Citra Lahan

Berdasarkan diagram alur diatas, tahap awal adalah pengadaan citra satelit. Selain pengadaan
citra juga dilakukan intepretasi citra dimana hasil dari interpretasi ini adalah peta tutupan lahan. Peta
tutupan lahan ini diolah dalam bentuk .shp yang digunakan sebagai peta dasar untuk proses selanjutnya.
Peta tutupan lahan hasil interpretasi ini memiliki beberapa kelemahan yang harus disempurnakan dengan
survey primer. Beberapa kelemahan dalam proses interprerasi peta ini adalah tidak dapat menjelaskan
pengunaan lahan secara detail terutama pengunaan lahan yang bersifat mix use. Selain itu pada
interpretasi citra ini juga memiliki kelemahan dalam pengklasifikasian jenis pengunaan lahan seperti
Fasilitas umum dan Permukiman. Oleh karena itu diperlukan survey primer dalam guna mendetailkan hasil
interpretasi peta. Berikut merupakan diagram alur kegiatan dalam survey primer dalam perumusan peta
penggunaan lahan pada skala mikro:

Peta Interpretasi
Citra Peta
Evaluasi
Reinterpretation Penggunaan
Peta Lahan
Survey Primer

Berdasarkan diagram alur diatas proses survey primer digunakan sebagai evaluasi peta hasil
interpretasi citra dan juga digunakan untuk mengidentifikasi penggunaan lahan yang tidak dapat
diidentifikasi dari proses sebelumnya seperti penggunan lahan mix use dan pengklasifikasian perumahan
dan fasilitas umum.

Di sisi lain, peta penggunaan lahan merupakan input dalam penyusunan zoning regulation.
Permasalahan mendasar dalam penyusunan zoning regulation adalah data input. Peta penggunaan lahan
(1:5000) dalam format .shp dapat digolongkan sebagai permasalahan mendasar dalam perencanaan tata
ruang terutama dalam penyusunan zoning regulation. Kualitas zoning regulation yang akan dirumuskan
sangat tergantung pada kualitas peta penggunaan lahan. Oleh karena itu sangat diperlukan pengadaan
peta penggunaan lahan skala 1:5000 dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas produk tata ruang
wilayah di Indonesia.

Keuntungan dari proyek ini adalah kontinuitas dan efektivitas. BIG tidak harus membuat peta
penggunaan lahan baru setiap tahunnya, namun hanya melakukan evaluasi data dan itupun dibantu oleh
masing-masing SKPD di masing-masing daerah. Peran BIG setelah pembuatan peta penggunaan lahan
adalah sebagai pengawas, pengumpul data dan penerbit data gabungan, yang kemudian menjadi bahan
pelaporan kepada pemerintah daerah dan pemerintah pusat setiap tahunnya. Tren perubahan
penggunaan lahan apabila diketahui sejak dini akan sangat menguntungkan pemerintah dalam
mengendalikan harga tanah dan pembangunan infrastruktur fisik.

 Integrasi data perencanaan tata ruang dalam sebuah sistem informasi geografis yang mudah
diakses seluruh kalangan

Tata Ruang sangat berkorelasi dengan arah pembangunan suatu wilayah baik dari skala makro
dan mikro. Jika ditinjau dari skala mikro, tata ruang dapat dibagi menjadi beberapa produk yaitu RDTRK
dan RTRK dimana data input dalam perumusan produk tata ruang yang memiliki ruang lingkup Kecamatan
ataupun Unit Pengembangan ini harus dapat menjelaskan setiap aspek perencanaan secara detail. Zoning
Regulation merupakan Output utama dalam penyusunan RDTRK, dalam zoning regulation akan dihasilkan
regulasi dalam pengembangan penggunaan lahan dalam skala mikro. Sayangnya penerapan zoning
regulation di Indonesia masih belum efektif karena data yang sulit diakses masyarakat, sehinga investor
yang juga berasal dari masyarakat, umumnya membuat dasar penilaian sendiri terhadap lahan yang
dimilikinya.

Saat ini badan informasi geospasial telah menyediakan peta dasar dan tematik seluruh Indonesia
melalui Ina Geoportal. Namun belum menyediakan data rencana tata ruang. Padahal hal tersebut sangat
penting sebagai instrumen pengendali perkembangan wilayah, integrasi pembangunan antar wilayah dan
transparansi informasi kepada public sebagai pemegang hak membangun di lahannya masing-masing. Hal
tersebut telah diatur dalam UU nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik, tinggal
pelaksanaannya yang belum maksimal dilakukan.

Potensi proyek ini sebagai kegiatan baru, sebenarnya hampir tidak ada. Namun menjadi sub
pekerjaan pada kegiatan penyusunan rencana tata ruang, sehingga akan menaikkan anggaran
perencanaan tata ruang untuk proses ground control point (GCP), penyamaan sistem koordinat, dll, yang
menjamin antar peta rencana tata ruang sesuai standar dan match dengan rencana tata ruang di wilayah
sekitarnya. Tentunya hanya dapat diwujudkan melalui asistensi berkala bersama BIG.