You are on page 1of 49

RUMAH SAKIT BUNDA SURABAYA

Jl. Raya Kandangan No.23 – 24 Surabaya.


Telp. 031 – 740436, 7442220, 7440077, 7450539, 7400694; Fax. 031 – 744133
Hotline : 031 7007 8670 ; Email : rs_bunda@telkom.net

PROSEDUR TETAP
ILMU PENYAKIT MATA

KOMITE MEDIS
RS. BUNDA SURABAYA
2016
RS. Bunda Surabaya HIPERMETROPIA
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 1
01

Ka. Instalasi Ditetapkan oleh,


Direktur RS. Bunda Surabaya
STANDAR
PROSEDUR
Yang Menyusun
OPERASIONAL

dr. Ivan Hardian


Kelainan refraksi di mana sinar sejajar yang masuk ke
PENGERTIAN mata dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi) akan dibias
membentuk bayangan di belakang retina.
1. Hipermtropia aksial karena sumbu aksial mata lebih
pendek dari normal
2. Hipermetropia kurvatura karena kurvatura kornea atau
PATOFISIOLOGI
lensa lebih lemah dari normal
3. Hipermetropia indeks karena indeks bias mata lebih
rendah dari normal.

1. Penglihatan kabur, terutama pada hipermtropia 3 D


atau lebih, hipermetropia pada orang tua di mana
amplitudo akomodasi menurun.
2. Penglihatan dekat kabur lebih awal, terutama bila lelah,
bahan cetakan kurang terang atau penerangan kurang
GEJALA KLINIS 3. Sakit kepala terutama di daerah frontal dan makin kuat
pada penggunaan mata yang lama dan membaca dekat.
4. Penglihatan tidak enak (asthenopia akomodatif = eye
strain) terutama bila melihat pada jarak yang tetap dan
diperlukan penglihatan jelas pada jangka waktu yang
lama, misalnya menonton TV, dll.
RS. Bunda Surabaya HIPERMETROPIA
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 2
01

1. Mata sensitif terhadap sinar.


2. Spasme akomodasi yang dapat menimbulkan
pseudomiopia.
GEJALA KLINIS
3. Perasaan mata juling karena akomodasi yang
berlebihan akan diikuti konvergensi yang berlebihan
pula.
Berdasarkan besar kelainan refraksi, dibagi:
1. Hipermetropi ringan : ʃ + 0.25 s/d ʃ + 3.00
2. Hipermtropia sedang : ʃ + 3.25 s/d ʃ + 6.00
3. Hipermetropia berat : ʃ + 6.25 atau lebih

Berdasarkan kemampuan akomodasi, dibagi :


1. Hipermetropi latent : kelainan hipermetropik yang
dapat dikoreksi dengan tonus otot siliaris secara
fisiologis, dimana akomodasi masih aktif
PEMBAGIAN 2. Hipermetropia manifes, dibagi :
a. Hipermetropia manifes fakultatif : kelainan
hipermetropia yang dapat dikoreksi dengan
akomodasi sekuatnya atau dengan lensa sferis
positif
b. Hipermewtropia manifes absolut : kelainan
hipermetropia yang tidak dapat dikoreksi dengan
akomodasi sekuatnya.
3. Hipermetropia total :
a. Jumlah dari hipermetropia latent dan manifes
RS. Bunda Surabaya HIPERMETROPIA
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 3
01

Refraksi subyektif
Metoda “Trial and Error”
- Jarak pemeriksaan 6 meter/5 meter/20 feet dengan
menggunakan kartu Snellen yang diletakkan setinggi
mata penderita
- Mata diperiksa satu persatu
- Ditentukan visus/tajam penglihatan masing-masing
mata
- Pada dewasa dan visus tidak 6/6 dikoreksi dengan
lensa sferis positif
DIAGNOSIS/CARA
- Pada anak-anak dan remaja dengan visus tidak 6/6
PEMERIKSAAN
dan keluhan asthenopia akomodativa dilakukan tes
siklopegik, kemudian ditentukan koreksinya.

Refraksi obyektif
a. Retinoskop
Dengan lensa kerja ʃ + 2.00, pemeriksa mengamati
refleksi fundus yang bergerak searah gerakan
retinoskop (with movement), kemudian dikoreksi
dengan lensa sferis positif sampai tercapai netralisasi
b. Autorefraktometer
1. Kacamata
Koreksi dengan lensa mata sferis positif terkuat yang
menghasilkan tajam penglihatan terbaik
PENATALAKSANAAN
2. Lensa kontak
Untuk : Anisometropia
Hipermetropia tinggi

RS. Bunda Surabaya HIPERMETROPIA


Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 4
01

- Glaukoma sudut tertutup


- Esotropia pada hipermetropia > 2.0 D
KOMPLIKASI - Ambliopia terutama pada hipermetropia dan
anisotropia. Hipermetropia merupakan penyebab
tersering ambliopia pada anak dan bisa bilateral.
RS. Bunda Surabaya HORDEOLUM
RS. Bunda Surabaya HORDEOLUM
Jl. Raya Kandangan 23-24
Jl. Raya Kandangan 23-24 No. Dokumen: No. Tanggal terbit: Halaman
Surabaya
Surabaya Revisi:
No. 15 Januari 2016 2
No. Dokumen: 01 Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 1
01

Ka. Instalasi Ditetapkan oleh,


PENATALAKSANAAN - Kompres hangat selama 5 – 10 menit, 3 – 4 kali sehari
Direktur RS. Bunda Surabaya
- Antibiotik :
STANDAR
PROSEDUR Yang Menyusun
Topikal : neomycin, polimixin B, gentamycin,
OPERASIONAL
chloramphenicol,
ciprofloxacin,
tobramycin, fucidic acid,
dr. Ivan Hardian
Suatu peradangan supuratif
bacitracin, kelenjar
diberikan selamaZeis,
7 –kelenjar
10 hari,Moll
pada
PENGERTIAN (hordeolum eksternum) atau kelenjar Meibom (hordeolum
fase inflamasi.
internum) Sistemik : ampicillin 250mg peroral sehari 4
Infeksi
kali.
ETIOLOGI - Stafilokokus
Erithromycin, Tetracyclin, dosis
- Moraxella
rendah.
- Pembentukan nanah terdapat dalam lumen kelenjar
- Bila tidak terjadi resorbsi dengan pengobatan
- Bisa mengenai kelenjar Meibom, Zeis, dan Moll
konservatif, atau sesudah fase abses, dianjurkan insis
- Apabila mengenai kelenjar Meibom, pembengkakan
dan drainage.
agak besar, disebut horfdeolum internum.
PATOFISIOLOGI - Perbaikan higiene dapat mencegah terjadinya infeksi
- Penonjolan pada hordeolum ini mengarah ke kulit
kembali.
kelopak mata mata atau ke arah konjungtiva.
Kalau yang terkena kelenjar Zeis dan Moll, penonjolan
CARA INSISI
kearah kulit palpebra, disebut hordeolum eksternum
- Berikansubyektif
- Gejala anestesi setempat
dirasakandengan tetes mata
mengganjal padapantocain.
kelopak
- mata
Kaloyang
perlubertambah
diberikan kalau
anestesi umum, misal
menunduk, dan pada
nyeri anak-
bila
anak atau orang-orang yang sangat takut sebelum diberi
ditekan.
GEJALA KLINIS - anestesi
Gejala umum. tampak suatu benjolan pada kelopak
obyektif
mata atas/bawah yang berwarna merah dan sakit bila
ditekan di dekat pangkal bulu mata.
- Secara umum gambaran sesuai dengan abses kecil.
RS. Bunda Surabaya HORDEOLUM
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 3
01

Untuk lokal anestesi bisa dipakai procain 2% dilakukan


secara infiltratif dan tetes mata pantocain 2%.
- Pada hordeolum internum insisi dilakukan pada
konjungtiva, ke arah muka dan tegak lurus terhadapnya
PENATALAKSANAAN
(vertikal) untuk menghindari banyaknya kelenjar-
kelenjar yang terkena.
- Pada hordeolum eksternum arah insisi horisontal sesuai
dengan lipatan kulit.
Suatu hordeolum yang besar dapat menimbulkan abses
PENYULIT
palpebra dan sesulitis palpebra.
RS. Bunda Surabaya KATARAK SENILIS
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 1
01

Ka. Instalasi Ditetapkan oleh,


Direktur RS. Bunda Surabaya
STANDAR
PROSEDUR
Yang Menyusun
OPERASIONAL

dr. Ivan Hardian


PENGERTIAN Setiap kekeruhan lensa yang terjadi pada usia lanjut
Penyebab pasti sampai sekarang belum diketahui. Terjadi
perubahan kimia pada protein dan agregasi menjadi protein
dengan berat molekul tinggi. Agregasi proteini ini
mengakibatkan fluktuasi indeks refraksi lensa, pemendaran
cahaya dan mengurangi kejernihan lensa. Perubahan kimia
pada protein inti lensa mengakibatkan pigmentasi progresif
PATOFISIOLOGI
menjadi kuning atau kecoklatan dengan bertambahanya umur,
juga terjadi penurunan konsentrasi glutation dan kalium,
peningkatan konsentrasi natrium dan kalsium serta
peningkatan hidrasi lensa. Faktor yang berperan pada
pembentukan katarak antara lain proses dari radikal bebas,
paparan sinar ultra violet dan malnutrisi.
Menurut tebal tipisnya kekeruhan lensa, katarak dibagi 4
stadium:
1. Katarak insipien
Kekeruhan lensa tampak terutama, di bagian perifer
PEMBAGIAN
korteks berupa garis-garis melebar dan makin ke sentral
menyerupai ruji sebuah roda.
Biasanya pada stadium ini tidak menimbulkan gangguan
tajam penglihatan dan masih bisa dikoreksi mencapai 6/6.

RS. Bunda Surabaya KATARAK SENILIS


Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 2
01
2. Katarak imatur atau katarak intumesen
Kekeruhan terutama di bagian posterior nukleus dan belum
mengenai seluruh lapisan lensa. Terjadi pencembungan
lensa karena menyerap cairan, akan mendorong iris ke
depan yang menyebabkan bilik mata depan menjadi
dangkal dan bisa menimbulkan glukoma sekunder.
Lensa yang menjadi lebih cembung akan emningkatkan
daya biasa, sehingga kelainan refraksi menjadi lebih miop.
3. Katarak matur
Kekeruhan sudah mengenai seluruh lensa, warna menjadi
PEMBAGIAN
putih keabu-abuan.
Tajam penglihatan menurun tinggal melihat gerakan tangan
atau persepsi cahaya.
4. Katarak hipermatur
Apabila stadium katarak matur dibiarkan akan terjadi
pencairan korteks dan nukleus tenggelam ke bawah
(KATARAK MORGAGNI), atau lensa akan terus
kehilangan cairan dan keriput (SHRUNKEN
CATARACT). Operasi pada staium ini kurang
menguntungkan karena menimbulkan penyulit.
Subyektif
- Tajam penglihatan menurun; makin tebal kekeruhan
lensa, tajam penglihatan makin mundur.
GEJALA KLINIS
Demikian pula bila kekeruhan terletak di sentral dari
lensa penderita merasa lebih kabur dibandingkan
kekeruhan di perifer.
RS. Bunda Surabaya KATARAK SENILIS
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 3
01

- Penderita merasa lebih enak membaca dekat tanpa


kaca mata seperti biasanya karena miopisasi.
- Kekeruhan di subkapular posterior menyebabkan
penderita mengeluh silau dan penurunan penglihatan
pada keadaan terang.

GEJALA KLINIS Obyektif


- Leukokoria: pupil berwarna putih katarak matur.
- Tes iris shadow (bayangan iris pada lensa) : yang
positif pada katarak imatur dan negatif pada katarak
matur.
- Refleks fundus yang berwarna jingga akan menjadi
gelap (refleks fundus negatif) pada katarak matur.
- Optotip Snellen: untuk mengetahui tajam
penglihatan penderita. Pada stadis insipien dan
imatur bisa dicoba koreksi dengan lensa kacamata
yang terbaik.
- Lampu senter : refleks pupil terhadap cahaya pada
DIAGNOSIS/CARA
katarak masih normal. Tampak kekeruhan lensa
PEMERIKSAAN
terutama bila pupil dilebarkan, berwarna putih
keabu-abuan yang harus dibedakan denagn refleks
pupil senil. Diperiksa proyeksi iluminasi dari segala
arah pada katarak matur untuk mengetahui fungsi
retina secara garis besar.
RS. Bunda Surabaya KATARAK SENILIS
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 4
01

- Oftalmoskopi: untuk pemeriksaan ini sebaiknya pupil


dilebarkan. Pada stadium insipien dan imatur tampak
kekeruhan kehitam-hitaman dengan latar belakang

DIAGNOSIS/ CARA jingga sedangkan pada stadium matur hanya


PEMERIKSAAN didapatkan kehitaman tanpa latar belakang jingga
atau refleks fundus negatif.
- Slit lamp biomikroskopi: dengan alat ini dapat
dievaluasi luas, tebal dan lokasi kekeruhan lensa.
1. Refleks senil: pada orang tua dengan lampu senter
tampak warna pupil keabu-abuan mirip katarak,
tetapi pada pemeriksaan refleks fundus negatif.
2. Katarak komplikata: katarak terjadi sebagai penyulit
dari penyakit mata (misal uveitis anterior) atau
DIAGNOSA BANDING
penyakit sistemik (misal diabetes mellitus)
3. Katarak karena penyebab lain: misal 0bat-obatan
(kotikosteroid), radiasi, rudapaksa mata dan lain-lain.
4. Kekeruhan badan kaca
5. Ablasi retina
- Glukoma sekunder; terjadi pada katarak intumesen,
karena pencembungan lensa
PENYULIT - Uveitis pakotoksik atau glukoma fakoilitik: terjadi
pada stadium hipermatur sebagai akibat massa lensa
yang keluar dan masuk ke dalam bilik mata depan.
1. Pencegahan sampai saat ini belum ada
2. Pembedaham: dilakukan apabila keadaan dan
PENATALAKSANAAN kemunduran tajam penglihatan penderita telah
menganggu pekerjaan sehari-hari dan tidak dapat
dioreksi dengan kaca mata.
RS. Bunda Surabaya KATARAK SENILIS
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 5
01

1. Pembedahan berupa elstraksi katarak yang dapat


dikerjakan dengan cara:
a. Intra Kapsuler: massa lensa dan kapsul
dikeluarkan seluruhnya
b. Akstra kapsuler: massa lensa dikeluarkan dengan
merobek kapsul bagian anterior dan
meninggalkan bagian posterior
c. Fakoemulsifikasi: inti lensa dihancurkan di
dalam kapsul dan sisa massa lensa dibersihkan
dengan irigasi dan aspirasi
2. Koreksi afakia (mata tanpa lensa)
a. Implantasi intra okuler: lensa intra okuler
PENATALAKSANAAN
ditanam setelah lensa mata diangkat.
b. Kaca mata
Kekurangannya adalah distorsi yang cukup besar
dan lapang pandangan terbatas.
Kekuatan lensa yang diberikan sekitar +10D bila
sebelumnya emetrop.
c. Lensa kontak: diberikan pada afakia monokuler
di mana penderita kooperatif, trampil dan
kebersihan terjamin.
Kaca mata dan lensa kontak diberikan apabila
pemasangan lensa intra okuler tidak dapat
dipasang baik atau merupakan kontra indikasi.
RS. Bunda Surabaya KERATITIS NUMULARIS
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 1
01

Ka. Instalasi Ditetapkan oleh,


Direktur RS. Bunda Surabaya
STANDAR
PROSEDUR Yang Menyusun
OPERASIONAL

dr. Ivan Hardian


Keradangan kornea dengan gambaran infiltrat sub epitel
PENGERTIAN
berbentuk bulatan seperti mata uang (coin lesion)
Organisme penyebabnya diduga virus yang masuk kedalam epitel
kornea melalui luka kecil setelah terjadinya trauma ringan pada mata.
PATOFISIOLOGI Replikasi virus pada sel epitel diikuti penyebaran toksin pada
stroma kornea menimbulkan kekeruhan/infiltrat yang khas berbentuk
bulat seperti mata uang.
Penderita mengeluh perasaan adanya benda asing dan
fotofobi. Kekaburan terjadi apabila infiltrat pada stroma korne
berada pada aksis visual.
Apabila penderita melihat sendiri adanya bercak putih pada
GEJALA matanya. Khas pada penderita ini tidak terdapat riwayat
konjungtivitis sebelumnya.
Kelainan ini dapat mengenai semua umur, seringkali
mengenai satu mata tetapi beberapa kasus dapat mengenai dua
mata.
Anamnesis:
- Keluhan adanya benda asing, fotofobi, kadang-kadang
disertai penglihatan kabut.
- Visus umumnya baik dan bila infiltrat berada di tengah
DIAGNOSIS
aksis visual.
Pemeriksaan mata luar:
- Tidak terdapat hiperemi konjungtiva maupun hiperemi
peri-kornea.
RS. Bunda Surabaya KERATITIS NUMULARIS
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 2
01

Retroiluminasi:
- Tampak bercak putih bulat di bawah epitel kornea baik di
daerah sentral atau perifer. Epitel di atas lesi sering
mengalami elevasi dan tampak irreguler. Umur bulatan
infiltrat tidak selalu sama dan terdapat kecenderungan
bergabung menjadi satu.
- Besar infiltrat bervariasi ± 0,5 – 1,5mm.
Tes fluoresin:
- Menunjukkan hasil negatif
Tes sensibilitas kornea:
- Baik
1. E.K.C (Epidemic Kerato Conjungtivitis)
- Didahului konjungtivitis
- Infiltrat lebih tebal dibandingkan infiltrat pada
keratitis numularis
DIAGNOSIS BANDING
2. Varicella keratis
- Adanya tanda-tanda varicella sebelumnya dan
lesi pada kornea timbul setelah lesi di kulit
menghilang.
Keratitis numularis dapat sembuh sendiri. Lesi pada
kornea akan menghilang sampai 6 tahun dan menimbulkan
bekas kecil (nebula kornea)
Kortikosteroid topikal (misal: dexamethasone) diberikan
PENATALAKSANAAN
3-4 kali sehari akan mengurangi keluhan penderita,
diberikan sampai 5-7 hari dan pemberian dapat diulang
sampai 4-6 minggu untuk mencegah timbulnya keluhan
berulang.
RS. Bunda Surabaya KONJUNGTIVITIS
RS. Bunda Surabaya KONJUNGTIVITIS
Jl. Raya Kandangan 23-24
Jl. Raya Kandangan 23-24 No. Dokumen: No. Tanggal terbit: Halaman
Surabaya
Surabaya Revisi:
No. 15 Januari 2016 2
No. Dokumen: 01 Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 1
01

Ka. Instalasi Ditetapkan oleh,


GEJALA Penyebab keluhan ini karena edema konjungtiva
Direktur RS. Bunda Surabaya
terbentuknya hipertrofi papiler dan folikel yang
STANDAR
PROSEDUR mengakibatkan perasaan seperti ada benda asing di dalam
Yang Menyusun
OPERASIONAL
mata.
GAMBARAN KLINIS - Hiperemia konjungtiva: konjuntiva berwarna merh
dr. Ivan Hardian
oleh karena pengisian pembuluh darah konjungtiva
Suatu keradangan konjungtiva yang disebabkan
yang dalam keadaan normal kosong.
PENGERTIAN bakteria, virus, jamur, chlamidia, alergi atau iritasi dengan
- Pengisisan pembuluh darah konjungtiva terutama di
bahan-bahan kimia.
daerah fornix
Konjungtiva akan
selalu semakin menghilang
berhubungan atau menipis
dengan dunia luar.
ke arah limbus
Kemungkinan konjungtiva terinfeksi dengan
- Epifora: keluarnya
mikroorganisme air mata yang berlebihan
sangat besar.
- Pseudotosis:
Pertahanan kelopak
konjungtiva mataoleh
terutama tas seperti
karenaakan menutup,
adanya tear
oleh
film pada karena edema
konjungtiva konjungtiva
yang berfungsi untukpalpebra dan
melarutkan
eksudasi dan
kotoran-kotoran sel-sel radang padayang
bahan-bahan konjungtiva
toksik palpebra.
kemudian
- Hipertropi
mengalirkan melalui papiler: suatu reaksi
saluran lakrimalis nonspesifik
ke meatus nasi
PATOFISIOLOGI
inferior. konjungtiva di daerah tarsus daan limbus berupa
tonjolan-tonjolan
Disamping itu tear filmyang
jugaberbentuk poligonal.
mengandung beta lysine,
- Folikel
lysozym, : suatu
IgA, IgG yang reaksi nonspesifik
berfungsi konjungtiva
untuk menghambat
biasanya
pertumbuhan karena infeksi virus, berupa tonjolan-
kuman.
Apabila tonjolan kecil yang
ada mikro berbentukpatogen
organisme bulat. yang dapat
- Khemosis
menembus : edema
pertahanan konjungtiva
tersebut sehungga terjadi infeksi
- Me,mbran
konjungtiva atau pseudo
yang disebut membran : suatu membran
konjungtivitis.
Keluhan yang
utama berupa oleh
rasakarena
ngeres, seperti fibrin
ada pasir di
berbentuk koagulasi
GEJALA dalam- mata, gatal, panas, kemeng di sekitar mata, epifora
Preaurikular adenopati: pembesaran kelenjar limfe
dan matapreaurikular.
merah.

RS. Bunda Surabaya KONJUNGTIVITIS


Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 3
01

Berdasarkan perjalanan penyakitnya, konjungtivitis


dapat diklasifikasikan menjadi konjungtivitis hiperakut, akut,
KLASIFIKASI subakut, dan kronik.
Ret atau getah mata bersifat purulen, mukopuriulen, mukus,
serus atau kataral
Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah
mata setelah bahan tersebut dibuat sediaan yang dicat dengan
pengecatan Gram atau Giemsa dapat dijumpai sel-sel radang

PEMERIKSAAN polimorfonuklear, sel-sel mononuklear, juga bakteri atau


LABORATORIUM jamur penyebab konjungtivitis dapat diidentifikasi dari
pengecatan ini.
Pada konjungtivitis yang disebabkan alergi pada pengecatan
dengan Giembsa akan didapatkan sel-sel eusinofil
Diagnosis konjungtivitis ditegakkan berdasarkan
pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium.
Pada pemeriksaan klinis didapatkan adanya hiperemi
konjungtiva, sekret atau getah mata edema konjungtiva.
Pemeriksaan laboratorium, ditemukannya kuman-kuman
DIAGNOSIS atau mikroorganisme dalam sediaan langsung dari kerokan
konjungtiva atau getah mata, juga sel-sel radang
polimorfonuklear atau sel-sel mononuklear. Pada
konjungtivitis karena jamur ditem,ukan adanya hyfe,
sedangkan pada konjungtivitis karena alergi ditemukan sel-
sel Eusinofil.
RS. Bunda Surabaya KONJUNGTIVITIS
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 4
01

Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi


penyebab. Dua penyebab klasik konjungtivitis bakteri akaut
adalah Strptoccocus pneumoni dan Haemophyllus
aegypticus.
Pada umumnya konjungtivitis karena bakteri dapat
diobati dengan Sulfonamide (sulfacetamide 15%) atau
antibiotik (gentamycin 0,3%, Chloramphenicol 0,5%,
polimixin). Gentamycin dan tobramycin sering disertai
reaksi hipersensitivitas lokal. Penggunaan aminoglikosida
seperti Gentamycin yang tidak teratur dan adekuat
menyebabkan resistensi organisme gram negatif.
Konjungtivitis karena jamur sangat jarang. Dapat diberi
Amphotericin B 0,1% yang efektif atau Aspergillus dan
PENATALAKSANAAN Candida. Konjungtivitis karena virus, pengobatan terutama
ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder
dengan antibiotik. Beberapa virus yang serang menyebabkan
konjungtivitis adalah Adenovitus type 8 dan 19
menyebabkan epidemik keratokonjungtivitis. Enterovirus 70
menyebabkan konjungtivitis hemoragik akut.
Pengobatan dengan anti virus tidak efektif. Pengobatan
utama adalah suportif. Berikan kompres hangat atau dingin,
bersihkan sekret dan dapat memakai air mata buatan.
Pemberian kortikosteroid tidak dianjurkan untuk pemakaian
rutin.
Konjungtivitis karena alergi diobati dengan antihistamin
(Antazoline 0,5%, Naphazoline 0,05%) atau kortikosteroid
(misal : dexamethasone 0,1%)
Penyakit pada konjungtivitis dapat berbentuk:
- Phlikten
- Keratis epitelial
PENYULIT - Ulkus kataralis
Penyebab khusus untuk penyulit-penyulit ini tidak
dibutuhkan, karena penyulit-penyulit ini akan sembuh, bila
konjungtivitisnya sembuh.
RS. Bunda Surabaya MIOPIA
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 1
01

Ka. Instalasi Ditetapkan oleh,


Direktur RS. Bunda Surabaya
STANDAR
PROSEDUR
Yang Menyusun
OPERASIONAL

dr. Ivan Hardian


Kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang masuk ke
PENGERTIAN mata dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi) akan dibias
membentuk bayangan di depat retina.
1. Miopia aksial karena sumbu aksial mata lebih panjang
dari normal.
2. Miopia kurvatura karena kurvatura korna atau lensa
PATOFISIOLOGI
lebih kuat dari normal.
3. Miopia indeks karena indeks bias mata lebih tinggi
dari normal.
1. Gejala utamanya kabur melihat jauh
2. Sakit kepala (jarang)
GEJALA KLINIS
3. Cenderung memicingkan mata bila melihat jauh
4. Suka membaca
Berdasarkan besar kelainan refraksi, dibagi:
1. Miopi ringan : ʃ - 0.25 s/d ʃ - 3.00
PEMBAGIAN
2. Miopi sedang : ʃ - 3.25 s/d ʃ - 6.00
3. Miopi berat : ʃ - 6.25 atau lebih.
RS. Bunda Surabaya MIOPIA
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 2
01

Berdasarkan perjalanan klinik, dibagi :


1. Miopi simpleks : dimulai pada usia 7 – 9 tahun dan
akan bertambah sampai anak berhenti tumbuh ± usia
PEMBAGIAN 20 tahun.
2. Miopi progresif : miopia bertambah secara cepat (±
4.0 D/tahun) dan sering disertai perubahan vitreo-
retinal.
Refraksi subyektif
Metode “Trial dan Error”
- Jarak pemeriksaan 6 meter/ 5 meter/ 20 feet
- Digunakan kartu Snellen yang diletakkan setinggi mata
penderita
- Mata diperiksa satu persatu
- Ditentukan visus/tajam penglihatan masing-masing
mata
- Bila visus tidak 6/6 dikoreksi dengan lensa sferis
DIAGNOSIS/CARA
PEMERIKSAAN negatif

Refraksi obyektif
a. Retinoskopi: dengan lensa kerjaʃ + 2.00,
pemeriksa mengamati refleksi fundus yang
bergerak berlawanan dengan arah gerkan
retinoskop (against movement) kemudian
dikoreksi dengan lensa sferis negatif sampai
tercapai natralisasi
b. Autorefraktometer
RS. Bunda Surabaya MIOPIA
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 3
01

1. Kacamata
Koreksi dengan lensa sferis negatif terlemah yang
menghasilkan tajam penglihatan terbaik.
2. Lensa kontak
Untuk : anisometropia
Miopia tinggi
PENATALAKSANAAN 3. Bedah refraktif
a. Bedah refraktif kornea: tindakan untuk merubah
kurvatura permukaan anterior (excimer laser,
operasi lasik)
b. Bedah refraksi lensa: tindakan ekstraksi lensa
jernih, biasanya dengan implantasi lensa
intraokuler
1. Ablasio retina terutama pada miopi tinggi
2. Strabismus
KOMPLIKASI a. Esotropia bila miopi cukup tinggi bilateral
b. Exotropia terutama pada miopia dan
anisometropia
RS. Bunda Surabaya PTERIGIUM
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 1
01

Ka. Instalasi Ditetapkan oleh,


Direktur RS. Bunda Surabaya
STANDAR
PROSEDUR
Yang Menyusun
OPERASIONAL

dr. Ivan Hardian


Penebalan konjungtiva bulbi yang berbentuk segitiga,
PENGERTIAN
mirip daging yang menjalar ke kornea
Konjungtiva bulbi selalu berhubungan dengan dunia
luar. Kontak dengan ultra violet, debu, kekeringan
mengakibatkan terjadinya penebalan dan pertumbuhan
konjungtiva bulbi yang menjalar ke kornea.
Pterigium ini biasanya bilateral, karena kedua mata
mempunyai kemungkinan yang sama untuk kontak sinar
ultra violet, debu, dan kekeringan. Semua kotoran pada
konjungtiva akan menuju ke bagian nasal, kemudian melalui
PATOFISIOLOGI
pungtum lakrimalis dialirkan ke meatus nasi inferior.
Daerah nasal konjungtiva juga relatif mendapat sinar
ultra violet yang lebih banyak dibandingkan dengan bagian
konjungtiva yang lain, karena disamping kontak langsung,
bagian nasal konjungtiva juga mendapat sinar ultra violet
secara tidak langsung akibat pantulan dari hidung, karena itu
pada bagian nasal konjungtiva lebih sering didapatkan
pterigium dibandingkan dengan bagian temporal.
GEJALA DAN Keluhan penderita : mata merah dan timbulnya bentukan
GAMBARAN KLINIS seperti daging yang menjalar ke kornea
RS. Bunda Surabaya PTERIGIUM
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 2
01

Gambaran klinis :
pterigium ada 2 macam, yaitu yang tebal
dan mengandung banyak pembuluh darah. Dibagian depan
GAMBARAN KLINIS dari apek pterigium terdapat infiltrat kecil-kecil yang disebut
:”islet of Fuch”. Pterigium yang mengalami iritasi dapat
menjadi merah dan menebal yang kadang-kadang
dikeluhkan kemeng oleh penderita.
Pemeriksaan histopatologi didapatkan konjungtiva
mengalami degenerasi hyalin dan elastis, sedangkan di
PATOLOGI
kornea terjadi degenerasi hyalin dan elastis pada membran
Bowman
1. Penguekulum : penebalan terbatas pada konjungtiva
bulbi, berbentuk nodul yang berwarna kekuningan
2. Pseudopterigium : suatu reaksi dari konjungtiva oleh
DIAGNOSIS BANDING
karena ulkus kornea. Pada pengecekan dengan
sonde, sonde dapat masuk diantara konjungtiva dan
kornea.
Pterigium yang tebal dapat mengakibatkan astigmatisme
PENYULIT irreguler. Bila membran menutup optic center dapat
menurunkan visus.
Pterigium ringan tidak perlu diobati. Pterigium yang
mengalami iritasi, dapat diberikan anti inflamasi tetes mata
PENATALAKSANAAN
(golongan steroid non steroid seperti indometacin 0.1% dan
sodium diclofenac 0.1%) dan vasokonstriktor tetes mata
RS. Bunda Surabaya PTERIGIUM
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 3
01

Indikasi operasi (ekstirpasi)


1. Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih
3mm dari limbus
2. Pterigium yang mencapai jarak lebih dari separuh
antara limbus dan tepi pupil
3. Pterigium yang sering memberi keluhan mata merah,
berair dan silau karena astigmatismus
4. Kosmetik, terutama untuk penderita wanita

Untuk mencegah terjadi kekambuhan setelah operasi,


dikombinasikan dengan pemberian:
PENATALAKSANAAN 1. Mitomycin C 0,02%, tetes mata (sitostatika) : 2x1
tetes/hari selama 5 hari, bersamaan dengan
pemberian dexamethasone 0,1% : 4x1 tetes/hari
kemudian tappering off sampai 6 minggu.
2. Mitomycin C 0,04% (0,4mg/ml) : 4x1 tetes/hari
selama 14 hari, diberikan bersamaan dengan salep
mata dexamethasone
3. Sinar Beta
Topikal Thitepa (triethylene thiophosphamide) tetes
mata: 1 tetes/3 jam selama 6 minggu, diberikan
bersamaan dengan salep antibiotik Chloramphenicol,
dan steroid selama 1 minggu.

RS. Bunda Surabaya PTERIGIUM


Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 4
01

Pada penduduk di daerah tropik yang bekerja di luar


rumah seperti nelayan, oetani yang banyak kontak dengan
PENCEGAHAN
debu dan sinar ultra violet, dianjurkan memakai kaca mata
pelindung sinar matahari.
Pterigium adalah suatu neoplasma yang benigna.
Umumnya prognosis baik. Kekambuhan dapat dicegah
PROGNOSIS
dengan kombinasi operasi dan sitostatika tetes mata atau
Beta radiasi
RS. Bunda Surabaya GLAUKOMA SUDUT TERTUTUP AKUT PRIMER
RS. Bunda
Jl. Raya Surabaya
Kandangan 23-24 GLAUKOMA SUDUT TERTUTUP AKUT PRIMER
Jl. RayaSurabaya
Kandangan 23-24 No. Dokumen: No. Tanggal terbit: Halaman
Surabaya Revisi:
No. 15 Januari 016 2
No. Dokumen: 01 Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 1
01

Ka. Instalasi Ditetapkan oleh,


DIAGNOSIS / CARA - Visual sangat menurun, hiperemia
Direktur nojungtiva
RS. Bunda dan
Surabaya
PERMERIKSAAN
STANDAR siliar (perilimbal), kornea mata sangat surat
PROSEDUR Yang(edema)
Menyusun
OPERASIONAL
- Dengan lampu senter yang terang akan tanpak :
 bilik mata depan sangat dangkal
dr. Ivan Hardian
Merupakan
 pupil penyakit mata tidak
lebar lonjong, dengan
adagangguan
refleks integritas
struktur dan fungsi
 tonometer yangTIO
Schiotz: mendadak sebagai
sangat tinggi akibat
(sampai 45
DEFINISI peningkatan TIO
- 75 mm yang sangat mendadak karena sudut
Hg)
bilikmata depangonioskopi:
dengan mendadak tertutup
sudut akibat
bilik blok
matapupil.
depan
tertutup
DIAGNOSIS BANDING 1. Uveitis anterior akut:
- Tiba-tiba nyeri hebat pada mata dan sekitarnya
- pupil miosis
(orbita, kepala, gigi dan telinga)
- TIO normal 1 menurun
- Mata sangat kabur
2. Keratokonjungtivitis akut:
- Mual,muntah, berkeringat
- pupil normal
- Mata merah, hiperemia konjungitiva dan siliar
- TIO normal
- Virus sangat menurun
GEJALA KLINIS 3. Glaukoma neovaskular: neovaskularisasi pada
- Edema kornea
permukaan iris dan sudut bilik mata depan
- Bilik mata sangat dangkal
4. Glaukoma fakomorfik: lensa imatur atau matur
- Pupil lebar lonjong dan tidak refleks terhadap
5. Glaukoma fakolitik :
cahaya
- lensa imatur atau hipermatur
- TIO sangat tinggi
- bilik mata depan tidak dangkal
- Sudut bilik mata tertutup
- sudut bilik mata depan terbuka

DIAGNOSIS / CARA 6. Glaukoma


Diagnosis sekunder karena
ditegakkan uveitis anterior:
berdasarkan pupil dan
anamnesis
PEMERIKSAAN sinekia posterior
gejala klinis. total
Pada pemeriksaan didapatkan:
RS. Bunda Surabaya GLAUKOMA SUDUT TERTUTUP AKUT PRIMER
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 3
01

Prinsip:
l. Menurunkan Tio segera
a. Hiperosmotik: tekanan osmose plasma meningkat
sehingga menarik cairan dari dalam mata

- Gliserin 1 - 1,5 ml/kg BB dalam bentuk 50%


larutan (dicampur cairan sari buah dsb, dengan
jumlah yang sama) diminum sekaligus.
- Bila cairan gliserin sukar diminum karena sangat
mual / muntah, dapat diberi mannitol 1 - 2
gram/kg BB 20% dalam infus dangan kecepatan
60 tetes / menit.
Note: bila TIO sudah turun mencapai normal
dosisi ini tidak perlu dihabiskan.
PENATALAKSANAAN
b. Acetazolamide: menekan produksi akuos langsung
diberi 500 mg peroral dan dilanjutkan denagn 250
mg tiap 6 jam. Bila sangat mual/muntah secara
intervenal dengan dosisi 500.
c. Beta adrenergik antagonis: menekan produksi akuos
- Timolol maleate 0,25% - 0,5% tetes 2x/hari.
2. Membuka sudut yang tertutup
a. Miotikum: iris tertarik dan menjauh dari trabekula
sehingga sudut terbuka. Pilokarpin 2 - 4% tiap 3 - 6
jam, diberi sesudah ada tanda-tanda
penurunan TIO oleh karena TIO yang sangat
tinggi akan menyebabkan:
 paralisis sfingter pupil sehingga pupil tidak
bereaksi terhadap Pilokarpin
RS. Bunda Surabaya GLAUKOMA SUDUT TERTUTUP AKUT PRIMER
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 4
01

 Edema kornea sehingga daya menyerap Pilokarpin


kurang tidak dianjurkan frekuensi pemberian
Pilokarpin yang banyak karena mungkin dapat timbul
krisis kolinergik, lagipula lagipula sudat dapat
dibantu terbuka oleh Acetazolamide.
b. Acetazolamide: akuos dibilik mata belakang
berkurang sehingga tekanan dibilik mata depan menjadi
lebih tinggi dari bilik mata belakang dan hal ini
menyebabkan penekanan iris kebelakang menjauhi
trabekula, sehingga sudut terbuka (bila belum ada
pelekatan)
3. Memberi suportif dengan mengurangi nyeri, mual/muntah dan
reaksi radang:
PENATALAKSANAAN
- Pethidine (Demerol) untuk nyeri
- Antiemetik untuk mual/muntah
- Anti inflamasi topikal (kortikosteroid) untuk reaksi
radang
4. Mencegah sudut tertutup ulang:
Indektomi perifer (bedah atau laser). Walaupun dengan
obat-obatan TIO sudah turun dan sudut sudah terbuk,
indektomi perifer tetap harus dilakukan. Karena bila
obat-obatan sudah dihentikan lalu rnengalami cetusan
yang menimbulkan blok pupil, maka akuos dibilik mata
belakang tidak akan terbendung karena akuos terus
mengalir melalui lubang indektomi ke bilik mata depan
sehingga sudut tetap terbuka..

RS. Bunda Surabaya GLAUKOMA SUDUT TERTUTUP AKUT PRIMER


Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 5
01

5. Mencegah sudut tertutup pada matajiran (yellow


eye)
Matajiran umumnya memiliki anatomi yang sama
dengan mata yang sakit sehingga kemungkinan dapat
juga mengalami serangan sudut tertutup bila ada
PENATALAKSAAN
pencetus (40 - 80% mata jiran mengalami serangan
glaukoma sudut tertutup dalam waktu 5 - 10 tahun).
Oleh karena itu pada saat serangan akut pada mata
yang sakit, mata jiran diberi Pilokarpin 2% tiap 6 jam
sambil disiapkan untuk dilakukan indektomi perifer
RS. Bunda Surabaya GLAUKOMA SUDUT TERBUKA PRIMER
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 1
01

Ka. Instalasi Ditetapkan oleh,


Direktur RS. Bunda Surabaya
STANDAR
PROSEDUR Yang Menyusun
OPERASIONAL

dr. Ivan Hardian


Merupakan penyakit mata dengan gangguan integritas
struktur dan fungsi berupa penggaungan papil saraf optik
DEFINISI dan gangguan lapang pandang sebagai akibat dari
peningkatan TIO karena hambatan pembuangan akuos pada
saluran-saluran pembuangan.
 tidak ada keluhan mata merah, mata nyeri dan kabur
oleh karena TIO meningkat tidak mendadak
 stadium dini  gaung papil kecil  gangguan lapang
pandang ringan (scotoma kecil~tidak terasa oleh
penderita)
 stadium selanjutnya  gaung gaung papil mulai
meluas  gangguan lapang pandang mulai terasa
GEJALA KLINIS
(scotoma mulai luas)  penderita melihat bayangan
gelap di lapang pandangnya
 stadium lanjut  gaung papil luas  scotoma luas 
lapang pandang sempit  aktivitas sehari-hari
terganggu
 stadium akhir  gaung seluruh papil  lapang
pandang gelap

RS. Bunda Surabaya GLAUKOMA SUDUT TERBUKA PRIMER


Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 2
01

1. Anamnesis:
Riwayat adanya bayangan gelap pada lapang pandang
atau keaktifan sehari-hari mulai terganggu, sering
tersenggol sehingga harus berjalan dengan lebih
perlahan-lahan Tidak ada keluhan gangguan tajam
pengelihatan (kecil stadium lanjut), tidak ada nyeri mata.
2. Pemeriksaan :
 virus sentral baik (kecuali stadium lanjut)
 tidak ada hiperemia konjungtiva dan silian
DIAGNOSIS / CARA
PEMERIKSAAN  kornea jernih, bilik mata depan dalam, pupil normal
 funduskopi: gaung papil (+)~dinyatakan dlam
perbandingan antara diameter gaung (cupping) dan
diameter papil (disc)  C/D ratio
 tonometri: TIO 21 mmHg
 lapang pandang:
 dini: scotomo daerah superior
 lanjut: scotomo luas, lapang pandang sempit

 gonioskopi: sudut bilik mata depan terbuka


Prinsip: mencegah progresifitas penggaungan papil dengan
menurunkan TIO Cara:
1. pemakaian obat-obatan masih merupakan pilihan utama
PENATALAKSANAAN 2. bila TIO masih tinggi maka pilihan kedua aplikasi laser
pada jaringan trabekula
3. bila pilihan kedua pun masih belum berhasil, maka pilihan
ketiga adalah bedah filtrasi
RS. Bunda Surabaya GLAUKOMA SUDUT TERBUKA PRIMER
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 3
O1

pilihan terakhir adalah menghambat badan silian dengan


aplikasi krio atau laser
Pemakaian obat-obatan:
l. Obat-obatan yang dapat digunakan adalah:
- Pilokarpin 1 - 2 & 4 X/hari
- Timolol maleate 0,24 - 0,5% 2x/hari
- Acetazolamide 3 X 250mg
Pilokarpin menyebabkan kontraksi otot silia yang
berinsersi pada distal trabekula dan kanal Schlemm 
rongga-rongga membesar  pembuangan lancar.
Prinsip pemberian obat-obatan adalah gunakan
PENATALAKSANAAN
konsentrasi terkecil dan jumlah obat yang paling sedikit.
2. Cara:
Mulai dengan Pilokarpin 1 % 4DD  monitor TIO
bila TIO tidak turun ~ Pilo 1 % tidak efektif  dihentikan
 bila TIO turun sampai normal  Pilo 1% efektif 
teruskan
 bila TIO turun belum sampai normal  Pilo 1 %
kurang efektif  ganti Pilo 2% 4DD  monitor TIO

 bila TIO turun sampai normal  Pilo 2% efektif 


teruskan

RS. Bunda Surabaya GLAUKOMA SUDUT TERBUKA PRIMER


Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 4
01

 bila TIO turun belum sampai normal  Pilo 2%


kurang efektif  harus dikombinasi dengan Timolol
mulai 0,25% 1 - 2DD  monitor TIO
 bila TIO turun sampai normal Timolo 0,25%
PENATALAKSANAAN
dengan Pilo 2% efektif  teruskan
 bila TIO turun belum sampai normal  Timolol
0,25% kurang efektif  Timolol 0,25% diganti
dengan Timolol 0,5% 1 - 2 DD  dst
RS. Bunda Surabaya ULKUS KORNEA KARENA BAKTERI
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 1
01

Ka. Instalasi Ditetapkan oleh,


Direktur RS. Bunda Surabaya
STANDAR
PROSEDUR Yang Menyusun
OPERASIONAL

dr. Ivan Hardian


Ulkus kornea yang timbul akibat'infeksi kuman
DEFINISI
(bakteri).
- Nyeri
- Mata merah
ANAMNESA / GEJALA
- Kabur
KLINIK :
- Epifora
- Fotofobi
l. Anamnesis:
- Mendadak nyeri mata, seperti ada benda asing,
epifora dan fotofobi
- Visus: menurun
- Retroiluminasi:
- Hiperemi perikornea
DIAGNOSIS / CARA - Infiltrat pada kornea berupa bercak putih pada
PEMERIKSAAN epitel sampai stroma, bisa kecil, tapi bisa
menutup seluruh kornea, tidak jarang diatas lesi
menjadi rapuh.
- Hipopion: berupa cairan kental di dalam bilik
mata depan
2. Tes fluoresia:
- Hasil positif ditepi ulkus
RS. Bunda Surabaya ULKUS KORNEA KARENA BAKTERI
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No. Dokumen: No. Revisi: Tanggal terbit: Halaman
01 15 Januari 2016 2

2. Laboratorium:
- Hapusan langsung: untuk mengetahui jenis kuman dengan
DIAGNOSIS / CARA pengecatan ”gram”
PEMERIKSAAN
- Biakan kuman: untuk identifikasi kuman
- Untuk keperluan pemeriksaan laboratorium bahan ini diambil dari
tepi ulkus menggunakan kapas steril.
1. Ulkus konea akibat jamur
2. Disekitar infiltrat induk terdapat infiltrat satelit
3. Elemen jamur bisa ditemukan di dalam bilik mata depan
Antibiotika:
Pemilihan antibiotika: tergantung hasil hapusan dan biakan kuman
DIAGNOSIS BANDING:
Cara pemberian:
- Topikal
- suntikan sub konjungtiva
- sistemik
- Pemilihan rawat jalan/rawat tinggal: tergantung berat ringan ulkus

RS. Bunda Surabaya ULKUS KORNEA KARENA BAKTERI


Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 3
01

Penatalaksanaan ulkus kornea yang dianjurkan:

Ukuran Ulkus Lokasi ada kornea Penatalaksanaan


< 3 mm tidak pada sumbu - rawat jalan
mata - antibiotika topikal tiap jam
- rawat tinggal
< 3 mm pada sumbu mata - antibiotika topikal tiap ¼
PENGERTIAN jam
- antibiotika sub konjungtiva
> 3 mm+hypopyon disegala tempat - rawat tinggal
- antibiotika topikal tiap ¼
jam
- antibiotika sub konjungtiva
antibiotika parenteral
RS. Bunda Surabaya KALAZION
RS. Bunda Surabaya
Jl. Raya Kandangan 23-24 KALAZION(CHALAZION)
(CHALAZION)
Jl. Raya Kandangan 23-24 No. Dokumen: No. Tanggal terbit: Halaman
Surabaya
Surabaya Revisi: 15 Januari 2016 2
No.
No. Dokumen: 01 Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 1
01

Ka. Instalasi Ditetapkan oleh,


PENGOBATAN : 3. Pembedahan berupa insisi dan kuretase untuk
Direktur RS. Bunda Surabaya
tnengeluarkan isi kelenjar.
STANDAR
PROSEDUR Pada kalazion yang berulang-ulang timbul sesudah
Yang Menyusun
OPERASIONAL
pembedahan sebaiknya dipikirkan kemungkinan
karsinoma, kecuali bila
telah dibuktikan secara
dr. Ivan Hardian
histopatologis
Adalah bukanlipogranuloma
suatu peradangan suatu karsinoma.menahun dengan
DEFINISI
Cara insisitidak
konsistensi samalunak
seperti pada
dari insisi hordeolum:
kelenjar Meibom.
Tidak 1.diketahui dengan jelas, diduga disebabkan
PENYEBAB : diberikan anastesi setempat dengan tetes oleh
mata
gangguan Pantokain
sekresi kelenjar Meibom.
dan anastesi infltratif Prokain 2%.
Gejala subyektif berupa gejala-gejala peradangan ringan.
2. kalau perlu diberikan anastesi umum, misal anak-
Apabila kista ini cukup besar dapat menekan bola mata dan
anak atau orang yang sangat takut sebelum diberi
dapat menimbulkan gangguan refraksi berupa astigmatisma.
anastesi umum.
insisi sebaiknya
Gejala 3.obyektif dilakukan
kelopak mata tampakpada
tebalkonjungtiva
dan endema.ke
GEJALA KLINIS: arah muka dan tegak
Teraba suatu benjolan pada lurus terhadapnya
kelopak untuk
mata yang
menghindari
konsistensinya banyaknya
agak keras. kelenjar-kelenjar
Pada ujung yang
kelenjar Mebion
terkena..
terdapat massa kuning dari sekresi kelenjar yang tertahan.
Bila kalazion yang terinfeksi, dapat terjadi jaringan
garnulasi yang menonjol keluar.
1. Hordeolum interna
2. Abses palpebra
DIAGNOSIS BANDING 3. Meibomianitis
4. Kista retensi kelenjar Moll
5. Hemangioma palpebra Neurifibromatosis.
1. Kompres hangat 3 x sehari @ 15 menit
PENGOBATAN :
2. Pengurutan kearah muara kelenjar Meibom
RS. Bunda Surabaya GONOBLENORE
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 1
01

Ka. Instalasi Ditetapkan oleh,


Direktur RS. Bunda Surabaya
STANDAR
PROSEDUR Yang Menyusun
OPERASIONAL

dr. Ivan Hardian


DEFINISI : Gonoroika.
Penyakit Gonoblenore dapat terjadi secara mendadak. Masa
GEJALA / GAMBARAN inkubasi dapat terjadi beberapa jam sampai 3 hari.
KLINIS :
Keluhan utama: mata merah, bengkak, dengan sekret seperti
nanah yang kadang-kadang bercampur darah.
- Hiperemia konjungtiva hebat
- Getah mata seperti nanah yang banyak sekali
- Kelopak mata bengkak oleh karena edema konjungtiva
palpebra dan konjungtiva bulbi
GAMBARAN KLINIS :
- Pendarahan dapat terjadi oleh karena konjungtiva yang
hebat. Hal ini akan mengakibatkan pecahnya
pembuluh darah konjungtiva, dan timbul pendarahan.

PEMERIKSAAN Kerokan konjungtiva atau getah mata yang purulen dicat


LABORATORIUM : dengan pengecatan Gram dan diperiksa dibawah mikroskop.
Didapatka sel-sel polimorfonuklear dalam jumlah yang banyak
sekali. Kokus-kokus Gram negatif yang berpasang-pasangan
seperti biji kopi yang tersebar diluar dan di dalam sel, adalah
kuman-kuman Neiseria Gonoroika
DIAGNOSIS : Dianogsis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinik dan
laboratorium.

RS. Bunda Surabaya GONOBLENORE


Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 2
01

Didapatkan suatu keradangan konjungtiva yang hiperakut dengan


getah mata seperti nanah yang kadang-kadang bercampur darah.
PEMERIKSAAN
Gram negatif yang berpasang-pasangan seperti biji kopi yang
KLINIK :
tersebar diluar dan di dalam sel, adalah kuman-kuman Neiseria
Gonoroika
PEMERIKSAAN Didapatkan kuman-kuman Neiseria Gonoroika dalam sediaan
LABORATORIUM :
yang berasal dari kerokan atau getah mata konjungtiva.
PENGOBATAN : 1. Gonoblenore tanpa penyulit pada kornea :
- Topikal:
Salep mata Tetrasiklin HCL 1 % atau Basitrasin yang
diberikan minimal 4 kali sehari pada neonatus dan
sedikitnya 2 jam pada penderita dewasa, dilanjutkan sampai
5 kali sehari sampai terjadinya resolusi. Sebelum dibeikan
salep mata, sekret harus dibersihkan terlebih dahulu.
- Sistemik:
Pada orang dewasa diberikan Penisilin G 4,8 juta ICT intra
muskular i dalam dosisi tunggal ditambah dengan
Probenesid 1 gram peroral, atau i Ampisilin dosis tunggal
3,5 gram peroral. Pada neonatus dan anak- , anak injeksi
Penisilin diberikan dengan dosis 50.000 - 100.000 IU
kgBB.
Bila penderita tidak tahan dengan obat-obatan derivat
Penisilin bisa diberikan Thiamfenikol 3,5 gram dosis
tunggal atau Tetrasiklin 1,5 gram dosis initial dilanjutkan
dengan 4 kali 500 mg/hari selama 4 hari.

RS. Bunda Surabaya GONOBLENORE


Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 3
01

2. Gonoblenore dengan penyulit pada kornea :


- Topikal:
Dapat dimulai dengan salep mata Basitrasin setiap
jam atau Sulbenisilin tetes mata disamping itu
diberikan juga Penisilin subkonjungtiva. Pada anak-
anak, pengobatan topikal hanya diberikan salep mata
setiap 2 jam.bila penderita tidak tahan terhadap
Penisilin, injeksi subkonjungtiva dapat digantikan
denga Eritromisin laktobionat. ·
- Sistemik:
Pengobatan sistemik dibeikan seperti pada
gonoblenore tanpa ulkus kornea. Beberapa antibiotika
lain yang dilaporkan sensitif untuk neiseria gonoroika
adalah Eritromisin, Neomisin dan Gentamisin.
Rudapaksa oleh karena benda tajam yang merusak kornea
dan jaringan di bawahnya dapat berupa sampai laserasi
DEFINISI :
kornea.

2. Subyektif

ANAMNESIS DAN Penderita mengeluh terkena benda tajam, keluar air


GEJALA KLINIS : mata, silau dan pengelihatan menurun.
3. Obyektif
- Pelebaran pembuluh darah perikornea.
RS. Bunda Surabaya GONOBLENORE
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 4
01

- Kornea robek
- Tes fluoresin (+)
AMNESIS DAN GEJALA
- Tergantung luas dan dalamnya luka dapat terjadi
KLINIS :
hifema, iris prolaps, lensa pecah dan badan
kaca prolaps
1. Anastesi lokal bila ada blefarospasme
2. Tes flurosin
3. Pemeriksaan segmen anterior dengan:
CARA PEMERIKSAAN
- lampu senter dan loupe
- "slit lamp Biomicroscope"

1. Infeksi sekunder .
PENYULIT :
2. Simpatetik oftaltnia.
Prinsip:
1. Mempertahankan bola mata, dimana setiap kebocoran
harus ditutup dan dijahit dengan mikroskop memakai
benang nylon 10 - 0.
2. Setiap jaringan yang keluar digunting atau dibuang.
PENATALAKSANAAN
3. Mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi dapat
4. Diberikan antibiotika tetes tiap jam dan antibiotika sub
konjungtiva.
5. Iredektomi bila ada iris yang keluar.
6. Vitrektomi bila ada badan kaca yang prolap
RS. Bunda Surabaya BENDA ASING LOGAM DI KORNEA
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 1
01

Ka. Instalasi Ditetapkan oleh,


Direktur RS. Bunda Surabaya
STANDAR
PROSEDUR Yang Menyusun
OPERASIONAL

dr. Ivan Hardian


DEFINISI : Rudapaksa mata akibat gram di kornea.
1. Subyektif:
Penderita mengeluh adanya benda asing yang masuk ke
mata, berair, nyeri dan silau
ANAMNESIS DAN 2. Obyektif:
GEJALA KLINIS : a. Pelebaran pembuluh darah perikornea
b. Adanya gram (benda asing logam)
c. Tes fluoresin
d. Visus menurun atau normal
1. Anastesi lokal dengan Pantocain tetes 1 % untuk
mengurangi blefarospasme.
2. Tes fluoresin yaitu untuk mengetahui hilangnya epitel
kornea. Kertas fluoresin diberi 1 tetes cairan fisiologis
yang kemudian ditempel pada fornik inferior, dan
penderita menutup dan membuka mata untuk meratakan
CARA PEMERIKSAAN cairan fluoresin di permukaan kornea. Tes fluoresin
positif {+)  berarti ada sebagian epitel kornea yang
hilang yang ditandai dengan perubahan warna fluoresin
dari oranye menjadi hijau pada defek tersebut.
3. Pemeriksaan benda asing dilakukan dengan:
- lampu senter dan loupe
- "slit lamp biomicroscope"
RS. Bunda Surabaya BENDA ASING LOGAM DI KORNEA
Jl. Raya Kandangan 23-24
Surabaya
No.
No. Dokumen: Tanggal terbit: Halaman
Revisi:
15 Januari 2016 2
01

DIAGNOSIS BANDING : Benda asing di konjungtiva palpebra superior.


1. Lingkaran karat atau "rust"
PENYULIT :
2. Reaksi toksisk di stroma kornea
3. Iritis
1.Anastesi lokal dengan Pantocain tetes mata 2 % tiap
menit selama 5 menit.
2.Kelopak mata atas dan bawah dibuka dengan
spekulum untuk mencari benda asing.
3. Pengeluaran benda asing dengan:
- kapas ujung steril
PENATALAKSANAAN :
- ujungjarum suntik tumpul atau tajam no "25
gauge" .
- spatula atau "cataract knife"
4. Midriatikum Atropin 1% tetes untuk mencegah
iridosiklitis. Salep mata antibiotika diberikan 3 kali
sehari dan mata dibebat selama 2 hari.