Sie sind auf Seite 1von 19

PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY

DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE


TERHADAP KINERJA KEUANGAN
(Studi Pada Sektor Pertambangan Yang Terdaftar di BEI 2013-2015)

ARTIKEL ILMIAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Penyelesaian Progam Pendidikan Sarjana
Progam Studi Akuntansi

Oleh:

WINDY AMADHEA JOESMANA


NIM : 2013310139

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERBANAS


SURABAYA
2017
PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE
TERHADAP KINERJA KEUANGAN
(Studi Pada Sektor Pertambangan Yang Terdaftar di BEI 2013-2015)

Windy Amadhea Joesmana


STIE Perbanas Surabaya
Email : windyamadhea@yahoo.co.id

Gunasti Hudiwinarsih
STIE Perbanas Surabaya
Email: astit@perbanas.ac.id
Jl. Nginden Semolo 34-36 Surabaya

ABSTRACT

This research aimed to examine and analyze the influence of Corporate Social
Responsibility and Good Corporate Governance which is proxy by the independent board,
the audit committee, and the institutional ownership to the Financial Performance of the
company (ROA) as dependent variables. The method of sampling was done through
purposive sampling method. The obtained samples were 39 mining companies listed on listed
on Indonesian Stock Exchance (IDX) periode 2013 to2015. The analytical method use
multiple linear regression analysis. The results showed that the variable of the Corporate
Social Responcibility have a significant effect on ROA, independent board and the audit
committee significantly gave negative effects on ROA, while the variable of institutional
ownership did not affect the ROA.

Keywords: Corporate Social Responsibility, Good Corporate Governance, the independent


board, the audit committee, the institutional ownership, Financial Performance

PENDAHULUAN keuangan perusahaan yang baik juga


Hampir seluruh perusahaan memiliki bermakna bagi para konsumen, karyawan,
tujuan utama dalam meningkatkan komunitas,dan pemasok termasuk dalam
kesejahteraan pemegang saham. pemasok adalah kreditur, yaitu pemasok
Perusahaan mulai bersaing untuk dana. Kesejahteraan pihak stakeholder
mendapatkan pelanggan sebanyak merupakan salah satu bentuk tujuan
mungkin, sehingga dapat, memenuhi target sekunder didirikannya perusahaan.
permintaan konsumsi masyarakat, dapat (Khaira, 2011). Perusahaan bertujuan
mencapai tujuan ekspansi,dan menjaga dengan memaksimalkan laba diharapkan
kelangsungan hidup perusahaan serta dapat meningkatkan pertumbuhan
meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.
perusahaannya. Salah satu cara untuk Namun mengukur kinerja keuangan
meningkatkan kesejahteraan yaitu dengan dengan melihat keputusan ekonomi saja
meningkatkan kinerja keuangan tidak cukup. Eipstein dan Freedman
perusahaan (firm performance). Kinerja (1994), dalam Anggraini (2006),

1
mengungkapkan bahwa para investor premium yang lebih kepada perusahaan
individual lebih tertarik dengan informasi yang memberikan transparansi atas
sosial yang telah dilaporkan dalam laporan pelaksanaan Good Corporate Governance
tahunan. Oleh karena itu, dibutuhkan dalam laporan tahunan mereka (Ni Wayan
adanya sarana prasarana yang dapat Rustiani, 2010). Penerapan Good
memberikan informasi mengenai aspek- Corporate Governance (GCG) sangat
aspek sosial, lingkungan dan keuangan dibutuhkan untuk menjaga kepercayaan
secara sekaligus. Karena keberadaan dan konsistensi masyarakat terhadap
perusahaan secara langsung ataupun tidak sebuah perusahaan. Penerapan Good
memiliki dampak yang dapat dirasakan Corporate Governance semakin gencar
bukan hanya bagi investor saja. diterapkan semenjak munculnya skandal
Salah satu wujud dari tanggung jawab akuntansi seperti pada kasus Enron, dan
sosial-lingkungan perusahaan tercermin Worldcom yang melibatkan para akuntan.
melalui praktik Corporate Social Di Indonesia juga telah tercatat beberapa
Responsibility (CSR). CSR didefinisikan kasus yang melibatkan persoalan
sebagai rasa tanggung jawab suatu kecurangan laporan keuangan seperti pada
organisasi terhadap dampak dari PT. Katarina Utama Tbk. (RINA) yang
keputusan-keputusan serta kegiatan- merupakan perusahaan dalam bidang jasa
kegiatannya pada masyarakat dan pemasangan dan pengujian alat
lingkungan yang diwujudkan dalam telekomunikasi. Salah satu pemegang
bentuk perilaku terbuka dan etis yang saham RINA melaporkan telah terjadi
sejalan dengan pembangunan secara penyimpangan dana yang dilakukan oleh
berkelanjutan dan kesejahteraan manajer RINA. Hal tersebut dikarenakan
masyarakat. Saat ini CSR sudah menjadi kurangnya pengawasan serta pemisalahan
isu global yang fenomenal di dunia. kepentingan dari pihak perusahaan.
Misalnya saja Batubara atau bahan bakar Dengan penerapan GCG dapat
fosil merupakan sumber energi terpenting memperbaiki kinerja keuangan
dalam kehidupan manusia, bisa sebagai perusahaan, antara lain dengan mencegah
pembangkit listrik maupun bahan bakar dan meminimalisir praktik-praktik korupsi,
pokok. Dengan banyaknya tambang kolusi, nepotisme (KKN), meningkatkan
batubara di wilayah Indonesia memberikan kedisiplinan anggaran, mendayagunakan
dampak positif dan negatif. Dampak pengawasan, serta mendorong efisiensi
positifnya dapat memberikan lahan pengelolaan dalam perusahaan. Dalam
pekerjaan bagi masyarakat,namun dampak melaksanakan GCG juga harus didukung
negatif dari pertambangan yaitu semakin oleh seluruh organ yang ada dalam
terbatasnya sumber daya alam dan perusahaan yang terdiri dari Dewan
semakin banyaknya limbah yang Komisaris yang akan mengawasi kinerja
dihasilkan sehingga akan menrugikan dari manajer perusahaan, Komite Audit
semua pihak terutama masyarakat sekitar. sebagai perantara antara auditor internal
Dengan penerapan CSR diharapkan dan eksternal agar sesuai hukum dan
perusahaan dapat lebih memperhatikan peruturan yang berlaku, dan kepemilikan
serta meminimalisir dampak-dampak yang institusional untuk mengawasi perusahaan
dapat merugikan pihak lain,bukan hanya dengan saham yang dimilikinya, serta
untuk kepentingannya sendiri. Dengan komite-komite lainnya yang membantu
memiliki kinerja sosial dan lingkungan dalam penerapan Good Corporate
yang baik, otomatis dapat menimbulkan Governance. Sehingga memotivasi saya
kepercayaan dari investor sehingga akan untuk membuat penelitian dengan judul
direspon positif melalui peningkatan harga pengaruh Corporate Social Responsibility
saham perusahaan yang bersangkutan dan dan Good Corporate Governance terhadap
para investor bersedia memberikan Kinerja Keuangan pada sektor

2
Pertambangan yang terdaftar di BEI pada Kinerja Keuangan
periode 2013-2015. Menurut Fahmi (2012: 2), kinerja
keuangan adalah salah satu analisis yang
RERANGKA TEORITIS YANG dilakukan oleh suatu perusahaan untuk
DIPAKAI DAN HIPOTESIS melakukan penilaian sejauh mana suatu
Teori Sinyal perusahaan telah melaksanakan dan
Suwardjono (2013 : 583) bermanfaat untuk menggunakan aturan-aturan pelaksanaan
memberikan informasi yang sangat penting keuangan secara baik dan benar. Misalnya
dalam keputusan berinvestasi bagi pihak seperti dengan membuat suatu laporan
luar perusahaan. Informasi ini merupakan keuangan yang benah dan memenuhi
unsur yang penting bagi para investor standar ketentuan dalam SAK (Standar
maupun pelaku bisnis untuk memberikan Akuntansi Keuangan) atau GAAP
informasi mengenai keaadan perusahaan. (General Accepted Accounting Principle).
Dengan memberikan tanda (signal) bahwa Kinerja keuangan merupakan bagian
perusahaan peduli terhadap wilayah penting dari perusahaan karena merupakan
sekitarnya atau tanda bahwa perusahaan dasar dalam pengambilan keputusan bagi
tidak hanya melaporkan apa yang sudah pihak internal maupun pihak eksternal
menjadi ketentuan tetapi menyediakan perusahaan. Selain itu kinerja keuangan
informasi yang lebih bagi stakeholders. dapat menggambarkan baik atau buruknya
Tanda-tanda (signal) ini diharapkan dapat kondisi keuangan suatu perusahaan dan
diterima oleh pasar sehingga dapat mencerminkan pencapaian prestasi
mempengaruhi kinerja pasar perusahaan perusahaan tersebut dalam menghasilkan
yang tercermin dalam harga pasar saham suatu laba pada periode tertentu yang
perusahaan. diukur dengan menggunakan alat pengukur
kinerja keuangan, dengan demikian dapat
Teori Keagenan diketahui keberhasilan suatu perusahaaan
Teori yang dikemukakan oleh Jensen & dalam menghasilkan laba. Oleh karena itu,
Meckling (1976) menyatakan bahwa perusahaan perlu melakukan pengukuran
terdapat pemisahan fungsi antara pemilik terhadap kinerja keuangannya. Dalam
organisasi dan pengelola organisasi. Teori penelitian ini kinerja keuangan diukur
keagenan(Agency theory) menjelaskan dengan menggunakan rasio ROA
bahwa terdapat hubungan kontraktual dirumuskan sebagai berikut :
antara pihak yang mendelegasikan
pengambilan keputusan tertentu ROA =
(prinsipal/pemilik/pemegang saham)
dengan pihak yang menerima
Semakin tinggi laba bersih dibandingkan
pendelegasian tersebut (agent/ direksi/
total asset, maka ROA akan meningkat.
manajemen), Alijoyo (2011:6).Untuk
Sebaliknya, apabila laba bersih lebih kecil
kepentingan pemilik itulah dewan
dibandingkan dengan total asset, maka
komisaris,komite audit, kepemilikan
nilai ROA akan rendah.
institusional dibentuk, dan salah satu cara
yang dapat dilakukan pemilik untuk
Corporate Social Responsibility (CSR)
memastikan bahwa manajemen mengelola
Corporate Social Responsibility (CSR)
perusahaan dengan baik adalah dengan
yang biasanya disebut dengan tanggung
mekanisme Good Corporate Governance
jawab sosial perusahaan. Menurut Hadi
yang tepat. Dengan mekanisme Good
(2011 : 46) yang mendefinisikan suatu
Corporate Governance yang tepat
tanggung jawab sosial merupakan sebuah
diharapkan manajemen akan dapat
komitmen secara berkelanjutan para
memenuhi tanggungjawabnya sehubungan
pelaku bisnis untuk memegang teguh etika
dengan kepentingan pemilik.
bisnis dalam beroperasi, memberi
3
konstribusi terhadap pembangunan Komite Audit
berkelanjutan, serta berusaha mendukung Komite Audit berperan dalam optimalisasi
peningkatan taraf hidup serta kesejahteraan mekanisme pengawasan internal
bagi para pekerja, termasuk dalam perusahaan. Komite Audit juga
meningkatkan kualitas hidup bagi menjembatani hubungan antara auditor
masyarakat sekitar perusahaan. Corporate eksternal dengan perusahaan dan juga
Social Responsibility (CSR) adalah suatu dewan komisaris dengan auditor internal,
tindakan atau upaya yang dilakukan oleh sehingga dapat berjalan sesuai dengan
perusahaan untuk mensejahterahkan para aturan yang berlaku. Komite audit diukur
stakeholdersnya guna meningkatkan dengan menjumlah seluruh anggota komite
profatabilitas perusahaan sebagai wujud audit dalam perusahaan :
pertanggungjawaban dan kepedulian
perusahaan kepada masyarakat dan KA = ∑ Komite Audit
lingkungan di mana perusahaan itu berada.
Corporate Social Responsibility (CSR) Kepemilikan Institusional
diukur dengan menggunakan rumus Menurut Mardupi dalam Pujiati (2015: 42)
berikut: Kepemilikan institusional yaitu
∑ kepemilikan saham yang dimiliki oleh
CSDI j =
institusi. Investor institusional memiliki
peran yang besar dalam pengawasan yang
Keterangan: efektif dalam setiap keputusan yang telah
CSDI = Corporate Social Disclosure diambil oleh manajer. Investor
Index perusahaan j institusional terlibat dalam pengambilan
∑Xij = Jumlah item Corporate Social keputusan yang strategis dalam
Responsibility yang diungkapkan perusahaan. Sehingga dengan adanya
oleh perusahaan pengawasan dari institusi, manajer akan
Nj = Jumlah item untuk perusahaan j, lebih berhati-hati dalam malakukan
dimana Nj: 91 pengelolaan dan memiliki kemungkinan
sangat kecil untuk melakukan manipulasi
Dewan Komisaris Independen keuangan. Kepemilikan institusional
Dewan Komisaris merupakan organ dihitung dengan rumus:
perseroan yang bertugas untuk melakukan
pengawasan secara umum dan/atau khusus
sesuai dengan anggaran dasar serta INST=
memberi opini dan nasihat kepada direksi
perusahaan. Dewan komisaris ini bertugas Pengaruh Pengungkapan Corporate
untuk mengawasi aktifitas perusahaan Social Responsibility terhadap Kinerja
berdasarkan prinsip-prinsip GCG.Dengan Keuangan
adanya pengawasan dari dewan komisaris Jika perusahaan memanfaatkan konsep
independen dapat meminimalisir CSR dengan sebaik-baiknya guna
kecurangan manajer dalam menyusun mensejahterahkan stakeholders-nya,
laporan keuangan. Dewan komisaris perusahaan akan menerima timbal balik
independen dapat diukur dengan yang baik pula dari stakeholders-nya.
menggunakan rumus berikut: Timbal balik yang baik diharapkan akan
memberi keuntungan bagi perusahaan. Jika
KI = perusahaan memperhatikan hal-hal yang
kecil seperti pengungkapan CSR-nya,
maka perusahaan juga akan
memperhatikan kualitas terhadap produk-
produknya sehingga, masyarakat akan

4
lebih menyukai produk dari perusahaan Pengaruh Kepemilikan Institusional
tersebut yang diharapkan akan terhadap Kinerja Keuangan
meningkatkan penjualan sehingga Investor institusional memiliki peran yang
profitabilitas dan kinerja keuangan besar dalam pengawasan yang efektif
perusahaan akan meningkat. Rahman dalam setiap keputusan yang telah diambil
(2015) menyatakan bahwa CSR oleh manajer. Investor institusional terlibat
berpengaruh terhadap kinerja keuangan dalam pengambilan keputusan yang
(ROA). strategis dalam perusahaan. Sehingga
dengan adanya pengawasan dari institusi,
Pengaruh Dewan Komisaris Independen manajer akan lebih berhati-hati dalam
terhadap Kinerja Keuangan malakukan pengelolaan dan memiliki
Keberadaan dewan komisaris independen kemungkinan sangat kecil untuk
sangat penting bagi perusahaan karena melakukan manipulasi keuangan.
dapat meminimalisir adanya tindak Kepemilikan institusional diharapkan
manajemen perusahaan yang curang dan mampu meningkatkan kinerja perusahaan
tidak transparan. Selain itu, dewan yang dapat dilihat dari kinerja keuangan
komisaris independen memiliki peran perusahaan. Dalam penelitian yang
sebagai pengawas manajemen agar Good dilakukan Lestari dan Asyik (2015)
Corporate Governance dapat tercipta. menyatakan bahwa semakin tingginya
Dengan terciptanya tata kelola perusahaan kepemilikan institusional dapat
yang baik, maka akan tercipta pengelolaan meningkatkan Kinerja keuangan (ROA).
usaha yang baik dan akan terjadi
peningkatan kinerja perusahaan yang Kerangka Pemikiran
ditunjukkan dalam kinerja keuangan
perusahaan. Penelitian Novrianti dan Corporate Social
Responsibility

KINERJA KEUANGAN
Armas (2013) menunjukkan bahwa KI
(Dewan Komisaris Independen)
berpengaruh terhadap Kinerja Keuagan Dewan Komisaris
Perusahaan (ROA). Independen

(ROA)
Pengaruh Komite Audit terhadap
Komite Audit
Kinerja Keuangan
Dengan adanya komite audit, diharapkan
mampu menciptakan laporan keuangan Kepemilikan
yang relevan dan bebas dari manipulasi Instittusional
pihak manapun sehingga dapat digunakan
sebagai evaluasi bagi manajemen. Komite Gambar 1
audit juga diharapkan dapat menciptakan Kerangka Pemikiran
lingkungan usaha yang transparan dan
terpercaya sehingga dapat meningkatkan H1: Pengungkapan Corporate Social
kinerja keuangan. Novrianti dan Armas Responsibility (CSR) berpengaruh
(2013) menyatakan bahwa dengan adanya terhadap Kinerja Keuangan yang di
KA (Komite Audit) akan meningkatkan proksikan dengan ROA
kualitas perusahaan yang akan H2: Dewan Komisaris Independen
berpengaruh dengan meningkatkan kinerja berpengaruh terhadap Kinerja
keuangan perusahaan. Keuangan yang di proksikan dengan
ROA.
H3: Komite Audit berpengaruh terhadap
Kinerja Keuangan yang di proksikan
dengan ROA.

5
H4: Kepemilikan Institusional berpengaruh pertambangan yang terdaftar di Bursa
terhadap Kinerja Keuangan yang di Efek Indonesia.
proksikan dengan ROA. 4. Periode penelitian adalah 2013-2015

METODE PENELITIAN Identifikasi Variabel


Rancangan Penelitian Variabel yang digunakan dalam penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel
dijelaskan, maka penelitian ini dependen dan variabel independen.
menggunakan penelitian kuantitatif. Variabel yang digunakan dalam penelitian
Penelitian kuantitatif merupakan penelitian ini:
yang pengujian berupa angka dan analisis 1. Variabel dependen (Y) adalah Kinerja
menggunakan uji statistik. Jenis sumber keuangan .
data dalam penelitian ini menggunakan 2. Variabel independen (X) adalah
data sekunder, yang diambil dari laporan Corporate Social Responsibility (X1),
tahunan perusahaan yang terdaftar di Dewan Komisaris independen (X2),
Bursa Efek Indonesia. Pengambilan Komite Audit (X3) dan
sampel pada penelitian ini menggunakan Kepemilikan Institusional (X4).
teknik purposive sampling, yaitu teknik
sampling yang menggunakan Definisi Operasional dan Pengukuran
pertimbangan dan batas tertentu sehingga Variabel
sampel yang dipilih relevan dengan tujuan Corporate Social Responsibility (CSR)
penelitian. Kriteria pemilihan sampel Pengungkapan CSR merupakan
dalam penelitian ini diantaranya : pengkomunikasian dampak sosial
1. Perusahaan sektor Pertambangan yang perusahaan terhadap masyarakat.
terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada Perusahaan akan mengungkapkan
periode tahun 2013-2015 informasi jika informasi tersebut dapat
2. Perusahaan yang mempublikasikan meningkatkan kinerja perusahaan.
laporan keuangan dan annual report Pengungkapan tanggungjawab sosial
selama periode penelitian, yaitu 2013, dalam penelitian ini menggunakan 91 item
2014, dan 2015 pengungkapan dari indikator GRI (Global
3. Perusahaan yang mempublikasikan Reporting Initiative). Tingkat
laporan keuangan dan annual report pengungkapan lingkungan dilakukan
dalam mata uang Rupiah selama dengan cara memberi skor 1 (satu) jika
periode penelitian, yaitu 2013, 2014, perusahaan mengungkapkan informasi
dan 2015. lingkungan sesuai dengan item-item
4. Memiliki data yang dibutuhkan dalam tersebut dan skor 0 (nol) jika tidak
penelitian ini. diungkapkan.

Batasan Penelitian ∑
Terdapat beberapa batasan dalam
penelitian ini, yaitu:
1. Kinerja Keuangan di proksikan Dewan Komisaris Independen
dengan Return of Assets(ROA) Dewan Komisaris Independen merupakan
2. Good Corporate Governance pihak netral dan tidak mempunyai
menggunakan 3 unsur yaitu, Dewan hubungan bisnis ataupun hubungan
Komisaris Independen, Komite Audit, lainnya dengan direksi ataupun dewan
dan Kepemilikan institusional. komisaris lainnya, dimana hubungan
3. Ruang lingkup perusahaan yang tersebut dapat mempengaruhi kinerja
diteliti hanya perusahaan dalam sektor dewan komisaris independen untuk
bertindak secara tidak independen. Dewan

6
Komisaris Independen dilihat dari yang digunalan. Variabel yang digunakan
besarnya proporsi Dewan Komisaris dalam penelitian ini diantaranya kinerja
Independen dibagi dengan seluruh anggota keuangan (ROA) sebagai variabel
dewan komisaris. Proporsi Dewan dependen, dewan komisaris independen,
Komisaris Independen diukur dengan: komite audit, dan kepemilikan institusional
sebagai variabel independen.
KI = Tabel 1
Hasil Analisis Deskriptif
N Minimum Maximum Mean Std.
Deviation
ROA 39 -0.0556 0.1588 0.0398 0.0475
CSR 39 0.0659 0.4615 0.2124 0.1299
Komite Audit KI 39 0.3333 0.7500 0.4083 0.1017
KA 39 2.0 6.0 3.308 0.8631
Komite Audit adalah suatu komite yang INST 39 0.1010 0.9700 0.6452 0.2305
Valid N (listwise) 39
dibentuk oleh dewan komisaris dan
memiliki tugas serta tanggung jawab Sumber : hasil output SPSS
dalam melakukan pengawasan terhadap
laporan keuangan, audit eksternal serta Berdasarkan tabel 1 diatas secara
mengamati sistem pengendalian internal. keseluruhan dari lima variabel tersebut
Variabel komite audit diukur dengan: menunjukkan bahwa untuk variabel kinerja
perusahaan yang diukur dengan ROA
KA = ∑ Komite Audit memiliki mean yang lebih besar dari pada
standar deviasinya sehingga variabel ROA
Kepemilikan Institusional memiliki data homogen atau terlalu
Kepemilikan Institusional merupakan bervariasi. Sementara itu pada variabel
proporsi kepemilikan saham institusi lain CSR, dewan komisaris independen, komite
dalam suatu perusahaan baik institusi audit, dan kepemilikan institusional
pemerintah, intstitusi swasta, domestik memiliki mean yang lebih kecil dari
maupun asing, yang mengawasi kinerja standar deviasinya, sehingga variabel CSR,
dari manajer perusahaan. Kepemilikan dewan komisaris independen, komite
institusional dihitung dengan rumus audit, dan kepemilikan institusional
sebagai berikut: memiliki data yang heterogen yang berarti
data tidak terlalu bervariasi.
Berdasarkan tabel diatas variabel ROA
INST=
skor tertinggi sebesar 0,1588 dimiliki oleh
PT. Tambang Batubara Bukit Asam
Populasi Sampel dan Teknik (Persero) Tbk, hal ini menunjukan bahwa
Teknik Analisis Data perusahaan ini telah berhasil dalam
Metode analisis yang digunakan pada meningkatkan jumlah penjualannya
penelitian ini adalah analisis data statistik sehingga mendapatkan laba yang besar
deskriptif, analisis regresi berganda, uji dibandingkan dengan perusahaan
asumsi klasik, dan uji hipotesis. pertambangan lainnya. Sedangkan skor
ROA terendah dimiliki oleh PT. Cakra
Analisis Statistik Deskriptif Mineral Tbk dengan skor -0,0556, hal ini
Menurut Imam (2016: 19), analisis menunjukan bahwa perusahaan PT. Cakra
statistik deskriptif memberikan deskripsi Mineral Tbk telah mengalami kerugian
suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata sehingga menghasilkan nilai minus.
(mean), standar deviasi, varian, minimum, Untuk variabel CSR skor tertinggi
maksimum, sum, range, kurtosis dan sebesar 0, 46153 dimiliki oleh PT. Timah
skewness (kemencengan distribusi). (Persero) Tbk, hal ini menunjukkan bahwa
Analisis deskriptif dalam penelitian ini perusahaan ini telah mengungkapkan
menjelaskan secara rinci setiap variabel Corporate Social Responsibility (CSR)

7
lebih banyak dan spesifik mulai dari Untuk variabel kepemilikan
pengungkapan indikator ekonomi, institusional skor tertinggi dimiliki oleh
lingkungan, Ketenagakerjaan, Hak asasi PT. Golden Energy Mines Tbk yaitu
manusia, Masyarakat, dan tanggung jawab sebesar 0,970. Hal ini menunjukkan bahwa
produk. Sementara skor CSR terendah PT. Golden Energy Mines Tbk memiliki
dimiliki oleh PT. Perdana Karya Perkasa jumlah kepemilikan saham yang banyak
Tbk, dengan skor 0,06593 hal tersebut yang dimiliki oleh institusi. Sementara
menunjukan bahwa perusahaan ini hanya skor terendah dimiliki oleh PT. Perdana
mengungkapkan beberapa item Corporate Karya PerkasaTbk dengan skor sebesar
Social Responsibility (CSR) tidak secara 0,10105. Rata-rata tingkat kepemilikan
keseluruhan, perusahaan PT. Perdana institusional yang dimiliki oleh sampel
Karya Perkasa Tbk,hanay mengungkapkan penelitian adalah sebesar 0,6452.
Kinerja ekonomi (EC1,3), Jumlah
pengeluaran untuk proteksi (EN31), Analisis Deskriptif Kinerja Keuangan
Kesehatan dan keselamatan jabatan (LA7) (ROA)
dan masyarakat sosial (SO1,2) Kinerja keuangan perusahaan
pengungkapan dapat terbilang paling menggambarkan baik atau buruknya
sedikit dibandingkan dengan perusahaan kondisi keuangan suatu perusahaan dan
lainnya. mencerminkan prestasi perusahaan dalam
Untuk variabel dewan komisaris menghasilkan laba yang diukur dengan
independen proporsi yang paling tinggi menggunakan rasio Return on asset (ROA)
dimiliki oleh PT.Golden Eagle Energy Tbk Rata-rata skor ROA dalam penelitian ini
dengan proporsi sebesar 0,75 hal ini adalah sebesar 0,03986 dengan Standar
menunjukkan bahwa PT.Golden Eagle deviasi sebesar 0,04751 karena nilai
Energy Tbk memiliki tata kelola standar deviasi ROA lebih lebih besar dari
perusahaan yang baik karena memiliki nilai rata-rata ROA maka menunjukan
jumlah proporsi dewan komisaris bahwa data ROA bervariasi atau bersifat
independen yang besar yaitu 0,750. heterogen. Penjelasan nilai rata-rata
Sementara proporsi komisaris independen disajikan pada gambar 1 berikut ini:
yang paling rendah dimiliki oleh PT.
Radiant Utama Interinsco Tbk sebesar
0,333. Rata-rata proporsi dewan komisaris
independen yang dimiliki oleh sampel
penelitian ini adalah sebesar 0,408.
Untuk variabel komite audit dengan
skor tertinggi dimiliki oleh PT. Aneka
Tambang (Persero) Tbk dengan jumlah 6 Sumber :Data diolah
orang. Hal ini menunjukkan bahwa PT. Gambar 2
Aneka Tambang (Persero) Tbk memiliki Rata-Rata (Mean) Kinerja Keuangan
tata kelola perusahaan yang baik karena (ROA)
memiliki jumlah komite audit yang besar
dari perusahaan pertambangan yang Ditinjau dari Gambar 2 menunjukkan
lainnya yaitu sebanyak 6 orang. Sementara bahwa rata-rata ROA selama tahun 2013-
komite audit terendah dimiliki oleh PT. 2015 mengalami penurunan secara
Golden Eagle Energi Tbk, dan PT.Ratu signifikan. Berdasarkan nilai rata-rata
Prabu Energi Tbk, hal ini menunjukkan ROA keseluruhan dan nilai rata-rata per
bahwa perusahaan tersebut memiliki tahun, maka dapat dikatakan bahwa
jumlah komite audit paling rendah dari kecenderungan ROA adalah semakin
perusahaan-perusahaan pertambangan menurun dari tahun ke tahun. Penurunan
lainnya yaitu hanya 2 orang. ini disebabkan oleh pendapatan laba

8
perdagangan yang rendah atau terjadinya Analisis Deskriptif Dewan komisaris
kerugian pada perusahaan . Hal tersebut independen
merupakan dampak dari adanya berbagai Dewan komisaris independen merupakan
tekanan ekonomi yang semakin menambah dewan direksi yang bertugas untuk
beban operasional pada perusahaan mengawasi kinerja manajer,sehingga dapat
pertambangan di Indonesia.Dengan meminimalisir tingkat kecurangan manajer
demikian beban penjualan semakin dalam memanipulasi laporan keuangan.
meningkat, sehingga laba yang dihasilkan Rata-rata proporsi dewan komisaris
juga semakin kecil. independen yang dimiliki oleh sampel
penelitian ini adalah sebesar 0,408. Nilai
Analisis Deskriptif CSR standar deviasi dalam penelitian ini
Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar 0,10179. Karena nilai standar
merupakan tanggung jawab sosial deviasi lebih kecil dari nilai rata-rata maka
perusahaan untuk mensejahterakan dapat disimpulkan bahwa data dewan
stakeholdersrnya dengan tujuan komisaris independen dalam penelitian ini
meningkatkan profitabilitas perusahaan. bersifat homogen. Penjelasan nilai rata-
Standar deviasi pada penelitian ini sebesar rata disajikan pada gambar 3 berikut:
0,12993. Nilai standar deviasi masih lebih
kecil jika dibandingkan dengan nilai rata-
rata sehingga menunjukkan bahwa
pengungkapan Corporate Social
Responsibility (CSR) dalam penelitian ini
bersifat homogen.Penjelasan nilai rata-rata
disajikan pada gambar 3 berikut:
Sumber :Data diolah
Gambar 4
Rata-Rata (Mean) Dewan Komisaris
Independen (KI)

Berdasarkan gambar 4 dapat terlihat


bahwa rata rata dewan komisaris
Sumber :Data diolah independen mengalami fluktuatif yang
Gambar 3 cenderung meningkat pada tahun 2014-
Rata-Rata (Mean) Corporate Social 2015 hal tersebut menunjukkan perusahaan
Responsibility (CSR) membutuhkan dewan komisaris
independen untuk mengawasi kinerja
Berdasarkan gambar diatas menunjukkan operasionalnya.
pada tahun 2014-2015 CSR memiliki nilai
dibawah rata-rata keseluruhan yang berarti Analisis Deskriptif Komite audit
perusahaan pertambangan tidak Komite audit berperan untuk mengawasi
mengungkapkan item-item CSR secara dan menjembatani hubungan auditor
maksimal atau keseluruhan, beberapa internal dan eksternal sehingga pelaporan
perusahaan hanya melakukan keuangan perusahaan dapat sesuai dengan
pengungkapan ekonomi, lingkungan, peraturan yang berlaku. Rata-rata jumlah
tenaga kerja dan sosial saja, tanpa komite audit yang dalam sampel penelitian
mengungkapkan hak asasi manusia dan ini adalah sebesar 3 orang. Nilai standar
tanggung jawab produk dalam laporan deviasi jumlah komite audit dalam
tahunan (annual report) seperti tahun penelitian ini sebesar 0,8631, nilai standar
sebelumnya. deviasi lebih kecil dari nilai rata-rata
sehingga menunjukkan bahwa data jumlah

9
komite audit dalam penelitian ini bersifat Hal ini dapat dibuktikan dari diagram
homogen. Penjelasan nilai rata-rata berikut :
disajikan pada gambar 6 berikut ini:

Sumber :Data diolah


Sumber :Data diolah Gambar 6
Rata-Rata (Mean) Kepemilikan
Gambar 5
Institusional (INST)
Rata-Rata (Mean) Komite Audit (KA)
Ditinjau dari Gambar 6 bahwa rata-rata
Ditinjau dari gambar diatas menunjukkan
kepemilikan institusional selama tahun
bahwa rata-rata komite audit pada
2013-2014 mengalami penurunan, yang
perusahaan pertambangan sebanyak 3
mana hal tersebut dikarenakan adanya rasa
oran. Dari gambar diatas menunjukkan
kecewaan atau rasa tidak puas atas kinerja
adanya penurunan rata-rata komite audit
manajerialnya, sehingga pemegang saham
dari tahun 2013-2015 namun tidak
akan menjual sahamnya kepasar. Dengan
signifikan. Adapun penurunan tersebut
demikian maka proporsi jumlah
hanya terjadi pada dua perusahaan saja,
kepemilikan institusional juga akan
yaitu PT. Aneka Tambang (Persero) dan
menurun. Namun, pada tahun 2014-2015
PT. Golden Eagle Energy Tbk, sedangkan
rata-rata kepemilikan institusional
pada perusahaan yang lainnya memiliki
mengalami peningkatan sebesar 0,0624,
jumlah komite audit yang tetap setiap
hal tersebut dikarenakan adanya
tahunnya.
peningkatan pengawasan pihak
institusional serta kinerja yang baik dari
Analisis Deskriptif Kepemilikan
majaner yang dapat menjamin
institusional
kemakmuran para pemegang saham,
Kepemilikan institusional merupakan
sehingga akan meningkatkan kepercayaan
kepemilikan saham yang dimiliki oleh
para investor serta mendorongnya untuk
institusi. Investor institusional memiliki
kembali menanamkan saham mereka.
peran yang besar dalam pengawasan yang
efektif dalam setiap keputusan yang telah
diambil oleh manajer, sehingga manajer Uji Asumsi Klasik
dapat menghasilkan informasi yang Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menguji
transparan. Rata-rata tingkat kepemilikan
apakah dalam model regresi, variabel
institusional yang dimiliki oleh sampel
dependen dan variabel independen
penelitian adalah sebesar 0,6452. Nilai
mempunyai distribusi normal atau tidak
standar deviasi data dalam penelitian ini
normal. Model ini dikatakan baik jika
sebesar 0,23055. Nilai standar deviasi
distribusinya normal atau mendekati
tersebut lebih kecil dari nilai rata-rata
normal. Uji statistik ini dapat
sehingga dapat disimpulkan bahwa data
menggunanakan kolmogorov-Smirnov
kepemilikan institusional dalam penelitian
Test. Kolmogorov-Smirnov Test dapat
ini bersifat homogen. Kepemilikan
dilihat bahwa hasil dari One-Sample
institusional pada perusahaan-perusahaan
Kolmogrov-Sminov Test adalah 0,090 dan
sektor pertambangan selama tahun 2013-
Asymp. Sig (2-tailed) adalah 0.200 Hasil
2015 mengalami kenaikan yang dan
uji normalitas dengan hasil signifikansi
penurunan setiap tahun.

10
0,200 menunjukkan Ho diterima yang Uji Heteroskedastisitas
artinya data residual terdistribusi secara Menurut Imam (2016: 134), uji
normal. heterokedastisitas bertujuan untuk menguji
Tabel 2 apakah terdapat adanya ketidaksamaan
Hasil Uji Normalitas variance dari residual satu pengamatan ke
Unstandardized pengamatan yang lain dalam suatu model
Residual regresi. Suatu model dapat dikatakan bebas
dari heterokedastisitas apabila koefisien
N 39 parameter β dari persamaan regresi secara
Kolmogorov-Smirnov Z 0,090 statistik tidak signifikan atau nilai
Asymp. Sig. (2-tailed) 0,200 probabilitas signifikansinya di atas tingkat
Sumber : hasil output SPSS kepercayaan 5 persen.
Tabel 5
Uji Autokorelasi Hasil Uji Heterokendastisitas
Uji autokorelasi dapat dikatakan baik jika Model T Sig.
model regresi tersebut bebas dari (Constant) 2,649 0,012
autokorelasi. Cara untuk mengetahui ada CSR 3,982 0,051
atau tidaknya autokorelasi menggunkan KI -2,244 0,053
KA -2,817 0,080
Durbin Waston (DW Test).Berikut hasil INST 1,369 0,180
dari Uji Autokorelasi:
Sumber : hasil output SPSS
Tabel 3
Hasil Uji Autokorelasi Regresi Linier Berganda
Dari ke empat variabel independen yang
dU Durbin Waston dL Kesimpulan dimasukkan kedalam model regresi
1.7215 1.426 1.2734 Tidak ada autokorelasi positif
variabel CSR berpengaruh terhadap
ROA,dewan koisaris independen dan
Sumber : hasil output SPSS
komite audit berpengaruh negatif terhadap
ROA dan kepemilikan institusional tidak
Uji Multikolinieritas
memiliki pengaruh terhadap ROA.
Dalam model regresi yang baik seharusnya
tidak terjadi korelasi diantara variabel
Tabel 6
independen. Uji multikolinieritas ini
Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
digunakan untuk penelitian yang memiliki Model Unstandardized Standardized
Sig.
variabel independen lebih dari satu. Hal ini Coefficients Coefficients
B Std.Error Beta
dapat dilihat dari nilai tolerance dan (Constant) 0,126 .048 0,012
variance inflation factor (VIF). Apabila CSR .303 .029 .195 0,000
KI -.159 .012 -.613 0,031
nilai tolerance > 10 persen dan nilai VIF < KA -.034 .071 -.341 0,008
10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak INST .040 .076 .829 0,180

ada multikolinieritas antar variabel Sumber : hasil output SPSS


independen dalam model regresi.
Tabel 4 Uji Hipotesis
Hasil Uji Multikolonieritas Uji F
Model Collinearity Statistics Uji statistik F dilakukan untuk mengetahui
apakah model persamaan regresi dalam
Tolerance VIF
(Constant) penelitian fit atau tidak fit. Hasil dari uji
CSR 0,412 2,429 model regresi (uji F) dapat dilihat sebagai
KI 0,774 1,293 berikut:
KA 0,377 2,652
INST 0,875 1,142

Sumber : hasil output SPSS

11
Tabel 7 Hasil dari uji t dapat dilihat sebagai
Hasil uji F berikut:
Model Sum of Df Mean F Sig. Tabel 9
Squares Square
Regression 0,034 4 0,008 5,509 0,002b
Hasil Uji t
Model T Sig. Keterangan
Residual 0,052 34 0,002
0,086 38 (Constant) 2,649 0,012
Total
CSR 3.982 0,000 Signifikan
Sumber : hasil output SPSS KI -2.244 0,031 Signifikan
KA -2.817 0,008 Signifikan
INST Tidak
1.369 0,180
Berdasarkan tabel 4.7 diketahui bahwa Signifikan
nilai F hitung sebesar 5,509 denga tingkat Sumber : hasil output SPSS
signifikan sebesar 0,002 < 0,05 maka
dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak yang Dari hasil uji t diatas dapat dilihat bahwa
artinya model regresi fit dan dapat berdasarkan nilai signifikansi dari variabel
digunakan dalam mengetahui pengaruh penjelas/independen CSR (Corporate
variabel dewan komisaris independen, Social Responsibility) adalah senilai 0,000
komite audit, dan kepemilikan institusional karena nilai signifikansi lebih kecil dari
secara bersama-sama mempengaruhi 0,05 yang berarti H0 ditolak maka dapat
variabel kinerja keuangan. disimpulkan bahwa variabel CSR
(Corporate Social Responsibility)
Uji R2 berpengaruh terhadap variabel dependen
Koefisien determinasi (R2) digunakan ROA (Kinerja Keuangan Perusahaan ). Hal
untuk mengukur seberapa besar ini dapat disimpulkan bahwa semakin
kemampuan model (pengaruh variabel banyak perusahaan mengungkapkan CSR
independen) dalam menerangkan variasi maka nilai ROA semakin meningkat.
variabel dependen. Variabel Independen KI (Dewan
Komisaris Independen) menunjukkan
Tabel 8 bahwa nilai signifikansi dari variabel KI
Hasil Uji R2 adalah senilai 0,031 lebih kecil dari 0,05
Model R R Square Adjusted R Std. Error of yang berarti H0 ditolak, maka dapat
Square the Estimate
1 0,627a 0,393 0,322 0,0391268 disimpulan bahwa KI (Dewan Komisaris
Sumber : hasil output SPSS Independen) berpengaruh terhadap ROA
(Kinerja Keuangan Perusahaan). Dengan
Berdasarkan tabel 8 diketahui bahwa nilai demikian maka semakin banyak proporsi
Adjusted R Square sebesar 0,322. Hal ini KI (Dewan Komisaris Independen) yang
menunjukkan bahwa sebesar 33,3% yang dimiliki oleh perusahaan maka ROA
berarti dewan komisaris independen, (Kinerja Keuangan Perusahaan) semakin
komite audit, dan kepemilikan institusional meningkat.
mempengaruhi kinerja keuangan.sebesar Variabel Independen KA (Komite
32,2% sedangkan sisanya 68,66% Audit) menunjukkan bahwa nilai
dipengaruhi oleh variabel lain diluar signifikansi dari variabel KA (Komite
penelitian. Audit) adalah senilai 0,008 lebih kecil dari
0,05 yang berarti H0 ditolak , maka dapat
disimpulkan bahwa semakin banyak
Uji t
Uji statistik t bertujuan untuk proporsi KA (Komite Audit) yang dimiliki
menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu oleh perusahaan maka ROA (Kinerja
(setiap) variabel independen secara Keuangan Perusahaan) akan semakin
individual dalam menjelaskan variasi meningkat.
variabel dependen. Variabel independen INST
(Kepemilikan Institusional) menunjukkan
bahwa nilai signifikansi dari variabel INST

12
adalah senilai 0,180 lebih besar dari 0,05 mengungkapkan Corporate social
yang berarti H0 diterima, dan dapat responsibility secara umum tidak spesifik
disimpulkan bahwa variabel INST mulai dari pengungkapan ekonomi,
(Kepemilikan Institusional) tidak lingkungan, tenaga kerja, hak asasi
berpengaruh terhadap ROA (Kinerja manusia, masyarakat sosial, dan tanggung
Keuangan Perusahaan). Jika semakin jawab produk. Dari data diatas
banyak saham yang dimiliki oleh institusi menunjukkan bahwa ada keterkaitan
maka ROA (Kinerja Keuangan Corporate social responsibility dengan
Perusahaan) akan semakin menurun. kinerja keuangan (ROA), semakin tinggi
CSR maka akan meningkatkan kinerja
Pembahasan keuangan atau semakin rendah CSR maka
1. Pengaruh Corporate Social akan menurunkan kinerja keuangan .
Responsibility (CSR) terhadap Penelitian ini sependapat dengan
Kinerja Keuangan (ROA) penelitian yang dilakukan oleh Rahman
Corporate social responsibility merupakan (2015) bahwa CSR berpengaruh terhadap
tanggung jawab sosial perusahaan untuk kinerja keuangan (ROA), dan bertentangan
mensejahterakan stakeholdersrnya dengan dengan penelitian Sari, Handayani, dan
tujuan meningkatkan profitabilitas Nuzula (2016).
perusahaan yang diwujudkan dengan 2. Pengaruh Dewan Komisaris
pembangunan berkelanjutan, serta Independen terhadap Kinerja
berusaha mendukung peningkatan taraf Keuangan (ROA)
hidup serta kesejahteraan bagi para Dewan komisaris independen merupakan
pekerja, termasuk dalam meningkatkan anggota dewan direksi yang bersifat
kualitas hidup bagi masyarakat sekitar independen dan tidak memihak ke pihak
perusahaan. Pengungkapan Corporate manapun dan bersikap netral sehingga
social responsibility dapat memberikan tidak dapat terpengaruh oleh pihak
sinyal baik kepada pihak luar perusahaan manapun. Adanya dewan komisaris
khususnya para investor bahwa perusahaan independen diharapkan dapat
telah memperhatikan lingkungan sekitar, meminimalisir adanya tindak manajemen
dengan demikian akan meningkatkan perusahaan yang curang dan tidak
minat investor untuk menanamkan transparan sehingga akan tercipta tata
modalnya ke perusahaan tersebut. Jika kelola perusahaan yang baik,dan
perusahaan dapat menjalankan CSR diharapkan dapat meningkatkan kinerja
melalui kepedulian pada lingkungan perusahaan. Agar tidak terjadi benturan
masyarakat diharapkan kinerja kepentingan maka perlu dilakukannya
perusahaan akan mengalami peningkatan pemisahan fungsi antara principal
atau dengan kata lain tujuan finansial (pemilik/pemegang saham) dengan pihak
perusahaan akan tercapai. agent (direksi/manajemen). Pihak
Berdasarkan hasil analisis regresi linear principal memiliki keinginan agar
berganda menunjukkan bahwa Corporate perusahaannya dapat memberikan
social responsibility berpengaruh terhadap informasi serta laporan keuangan yang
kinerja keuangan (ROA). Hal ini didukung transparan, maka ditunjuklah dewan
dengan data deskriptif yang menunjukkan komisaris independen untuk memantau
rata-rata variabel CSR mengalami kinerja para manajer perusahaan. Dengan
penurunan dari tahun 2013-2014 yang juga laporan keuangan yang transparan serta
diikuti dengan penurunan kinerja keuangan kinerja manajemen yang baik diharapkan
perusahaan (ROA), adapun peningkatan dapat meningkatkan kinerja keuangan
CSR pada tahun 2015 hanya sebesar 0,001 perusahaannya.
saja. Hal ini dikarenakan perusahaan- Berdasarkan hasil analisis regresi linear
perusahaan sektor pertambangan hanya berganda menunjukkan bahwa dewan

13
komisaris berpengaruh negatif terhadap lebih efektif untuk menjamin manajemen
kinerja keuangan (ROA). Berdasarkan data perusahaan bekerja sesuai fungsinya dan
deskriptif bahwa rata-rata dewan komisaris memperbaiki kualitas pengungkapan dan
independen mengalami fluktuatif pelaporan keuangan, sehingga informasi
meningkat pada tahun 2015, berbeda yang diungkapkan oleh perusahaan akan
dengan kinerja keuangan yang mengalami dijamin kebenarannya karena telah
penurunan tiap tahunnya. Hal tersebut diperiksa oleh komite audit sebelum
menggambarkan semakin banyak proporsi diterbitkan, dengan demikian dapat
dewan komisaris independen maka kinerja meningkatkan kualitas manajemen yang
keuangan semakin menurun, atau semakin berpengaruh terhadap peningkatan kinerja
sedikit proporsi dewan komisaris keuangan perusahaan.
independen maka kinerja keuangan akan Berdasarkan hasil analisis regresi linear
semakin meningkat. Jika semakin banyak berganda menunjukkan bahwa komite
proporsi dewan komisaris independen audit berpengaruh negatif terhadap kinerja
maka akan semakin besar biaya gaji yang keuangan (ROA). Ditinjau berdasarkan
harus dikeluarkan perusahaan sehingga hal pembahasan deskriptif yang menunjukkan
tersebut dapat mengurangi laba bahwa komite audit mengalami penurunan
perusahaan. Penelitian ini sependapat yang tidak terlalu signifikan hanya ada dua
dengan penelitian Lestari dan Asyik perusahaan yaitu PT.Aneka Tambang
(2012) ,dan bertolak belakang dengan hasil (Persero) Tbk dan PT. Golden Eagle
penelitian Novrianti dan Armas (2013) Energy Tbk yang mengalami
menunjukkan bahwa KI (Dewan penguranggan anggota komite audit
Komisaris Independen) berpengaruh sedangkan perusahaan lainnya
terhadap Kinerja Keuagan Perusahaan beranggotakan tetap setiap tahunnya.
(ROA). Penurunan jumlah komite audit pada
3. Pengaruh Komite Audit terhadap perusahaan tersebut tidak sejalan dengan
Kinerja Keuangan (ROA) kinerja keuangan. Pada PT.Aneka
Komite audit berperan untuk mengawasi Tambang (Persero) Tbk yang mengalami
dan menjembatani hubungan auditor pengurangan komite audit 2 orang, tetapi
internal dan eksternal sehingga pelaporan kinerja keuanganya semakin meningkat.
keuangan perusahaan dapat sesuai dengan Hal tersebut juga terjadi pada PT. Golden
peraturan yang berlaku. Dengan adanya Eagle Energy Tbk yang mengalami
komite audit, diharapkan mampu pengurangan komite audit 1 orang tetapi
menciptakan laporan keuangan yang kinerja keuangannya meningkat. Dengan
relevan dan bebas dari manipulasi pihak data deskriptif diatas dapat dikatakan
manapun sehingga dapat digunakan bahwa semakin banyak komite audit akan
sebagai evaluasi bagi manajemen. Agar menurunkan kinerja keuangan ,atau
tidak terjadi benturan kepentingan maka semakin sedikit komite audit dapat
perlu dilakukannya pemisahan fungsi meningkatkan kinerja keuangan. Hal
antara principal (pemilik/pemegang tersebut dikarenakan dengan semakin
saham) dengan pihak agent besar proporsi komite audit maka akan
(direksi/manajemen). Pihak principal semakin besar biaya gaji yang harus
memiliki keinginan agar perusahaannya dikeluarkan perusahaan sehingga hal
dapat memberikan informasi yang relevan tersebut dapat mengurangi
serta laporan keuangan yang transparan, keuntungan/laba perusahaan. Hal tersebut
maka ditunjuklah Komite audit agar bertolak belakang dengan penelitian yang
mekanisme pengawasan internal dilakukan Novrianti dan Armas (2013)
perusahaan menjadi optimal. Jumlah menyatakan bahwa dengan adanya KA
komite audit yang besar maka komite audit (Komite Audit) akan meningkatkan
akan dapat melakukan pemeriksaan yang kualitas perusahaan yang akan

14
berpengaruh dengan meningkatkan kinerja sejalan dengan penelitian Novrianti dan
keuangan perusahaan. Armas (2013) yang menyatakan bahwa
4. Pengaruh Kepemilikan Institusional kepemilikan institusional tidak
terhadap Kinerja Keuangan berpengaruh terhadap kinerja keuangan
Kepemilikan institusional merupakan perusahaan, dan bertentangan dengan
kepemilikan saham yang dimiliki oleh penelitian Lestari dan Asyik (2015) yang
institusi. Investor institusional memiliki menyatakan bahwa semakin tingginya
peran yang besar dalam pengawasan yang kepemilikan institusional dapat
efektif dalam setiap keputusan yang telah meningkatkan Kinerja keuangan (ROA).
diambil oleh manajer. dengan adanya
pengawasan dari institusi, manajer akan KESIMPULAN, KETERBATASAN
lebih berhati-hati dalam malakukan DAN SARAN
pengelolaan dan memiliki kemungkinan Kesimpulan
sangat kecil untuk melakukan manipulasi Berdasarkan pengujian terhadap hipotesis
keuangan. Supaya tidak terjadi benturan penelitian dan pembahasan hasil, maka
kepentingan maka perlu dilakukannya dapat disimpulkan sebagai berikut:
pemisahan fungsi antara principal 1. Corporate Social Responsibility (CSR)
(pemilik/pemegang saham) dengan pihak berpengaruh terhadap kinerja keuangan
agent (direksi/manajemen). Pihak (ROA). Sesuai dengan data deskriptif
principal memiliki keinginan agar bahwa penurunan rata-rata CSR sesuai
perusahaannya dapat memberikan dengan penurunan rata-rata ROA.
informasi yang relevan serta laporan 2. Dewan Komisaris Independen (KI)
keuangan yang transparan, maka dibentuk berpengaruh terhadap kinerja keuangan
kepemilikan institusional melalui saham (ROA). Data deskriptif menunjukan
yang dimiliki oleh institusi, supaya dapat bahwa peningkatan rata-rata KI tidak
memberikan pengawasan yang efektif sesuai dengan penurunan rata-rata
kepada manajer sehingga manajer jauh ROA. Semakin besar dewan komisaris
lebih berhati-hati dan sangat kecil independen semakin banyak gaji yang
kemungkinan untuk melakukan harus dikeluarkan sehingga dapat
manipulasi, dengan demikian dapat mengurangi laba perusahaan
meningkatkan kinerja keuangan 3. .Komite Audit (KA) berpengaruh
perusahaan. terhadap kinerja keuangan (ROA). Data
Berdasarkan hasil analisis regresi linear deskriptif menunjukan bahwa KA
berganda menunjukkan bahwa hanya mengalami penurunan pada 2
kepemilikan institusional tidak perusahaan saja sehingga tidak
berpengaruh terhadap ROA (Kinerja mempengaruhi kinerja keuangan.
Keuangan). Hal ini diduga berdasarkan Semakin besar komite audit semakin
data deskriptif menunjukkan bahwa banyak gaji yang harus dikeluarkan
kepemilikan institusional mengalami sehingga dapat mengurangi laba
fluktuatif yang cenderung meningkat pada perusahaan.
tahun 2015, namun kinerja keuangan 4. Kepemilikan Institusional (INST) tidak
(ROA) mengalami penurunan. Hal tersebut berpengaruh terhadap kinerja keuangan
menunjukkan bahwa kepemilikan (ROA). Data deskriptif menunjukkan
institusioanl hanya berperan sebagai adanya peningkatan rata-rata INST
pengawas yang belum memberikan namun kinerja keuangan semakin
konstribusi terhadap peningkatan kinerja menurun. Ada atau tidaknya
keuangan (ROA). Maka dapat disimpulkan kepemilikan institusional tidak akan
besar atau kecil proporsi kepemilikan mempengaruhi kinerja keuangan
institusional tidak akan mempengaruhi keuangan. Karena Kepemilikan
kinerja keuangan (ROA). Penelitian ini institusional hanya berperan sebagai

15
pengawas tidak berkonstribusi terhadap pada Bursa Efek Jakarta). Simposium
kinerja keuangan perusahaan. Nasional Akuntansi 9. Padang, 23-26
Agustus.
Keterbatasan Alijoyo,A.,&Subarto, Z,. 2004.”Komisaris
Peneliti menyadari bahwa penelitian ini Independen: Penggerak Praktik GCG
masih jauh dari kesempurnaan oleh karena di Perusahaan”. Jakarta: Indeks
itu terdapat keterbatasa-keterbatasan Fahmi, I . 2012. Analisis Kinerja
sebagai berikut: Keuangan . Bandung : Alfabeta.
1. Keterbatasan jumlah sampel juga Hadi, Nor. 2011 . Corporate Social
berpengaruh terhadap hasil penelitian Responsibility. Yogyakarta: Graha
terlalu banyak data yang ter-outlier ada Ilmu.
12 data, dikarenakan penelitian ini Imam, Ghozali. 2016 . Aplikasi Analisis
hanya menggunakan sampel pada Multivariate dengan Program IBM
perusahan sektor pertambangan yang SPSS 23. Semarang: Badan Penerbit
mempunyai nilai berfluktuasi. Universitas Diponegoro.
2. Kemampuan variabel independen dalam Jensen, M. C. & William M. H. 1976.
menjelaskan variabel dependen dalam Theory of The Firm : Managerial
penelitian ini cukup baik, yaitu sebesar Behaviour, Agency Cost and
32,2%. Hal ini menunjukkan bahwa Ownership Structure. The Journal of
masih terdapat banyak faktor lain diluar Financial Economics 3, hal. 305-360.
model regresi pada penelitian ini yang Khaira, Amalia,. F. 2011. Analisis
dapat menjelaskan variabel dependen Pengaruh Modal, Ukuran
(Kinerja keuangan). Perusahaan,dan Agency Cost terhadap
Kinerja Perusahaan. Jurnal Akuntansi
Saran Dan Keuangan, Vol. 13, No. 1, Mei
Saran yang dapat diberikan dari penelitian 2011: 37-46. Fakultas Ekonomi. USU
ini untuk penelitian selanjutnya adalah Lestari, Y.T., & Asyik, N.F. 2015.
sebagai berikut: Pengaruh Corporate Governance
1. Penelitian selanjutnya diharapkan Terhadap Kinerja Keuangan: Corporate
menggunakan sampel perusahaan yang Social Responsibility Sebagai Variabel
lebih besar yang ada di BEI dan tidak Intervening. Jurnal Ilmu & Riset
hanya terbatas pada perusahaan Akuntansi Vol.4, No.7 (2016).
Pertambangan saja sehingga hasil yang Novrianti, V., & Armas, R. (2013).
diperoleh dapat lebih akurat. Pengaruh Corporate Sosial
2. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat Responsibility Dan Good Corporate
mengembangkan penggunaan variabel Governance Terhadap Kinerja
independen lain yang memiliki Perusahaan (Studi Pada Perusahaan
kemampuan lebih baik untuk Manufaktur Di BEI Tahun 2009-2011).
memprediksi Kinerja keuangan. Jurnal Akuntansi (Media Riset
Misalnya seperti Keputusan Investasi, Akuntansi & Keuangan), Vol 1(1), 1-11.
Manajemen Laba dan, kebijakan Ni, Wayan,. R . 2010. Pengaruh Corporate
deviden. Governance pada Hubungan Corporate
Sosial Responsibility dan Nilai
DAFTAR PUSTAKA Perusahaan, dalam Simposium Nasional
Anggraini, Fr., R. 2006. Pengungkapan Akuntansi XIII. Purwokerto. 2010.
Informasi Sosial dan Faktor-Faktor Surakarta
yang Mempengaruhi Pengungkapan Pujiati,. 2015. “Pengaruh Kepemilikan
Informasi Sosial dalam Laporan Manajerial, Kepemilikan Institusional,
Keuangan Tahunan (Studi Empiris pada dan Kesempatan Investasi terhadap
Perusahaan-Perusahaan yang Terdaftar Kebijakan Dividen dengan Likuiditas

16
sebagai Variabel Pemoderasi”. Skripsi.
Universitas Negeri Yogyakarta.
Rahman, Raka. 2016 . Pengungkapan
Corporate Social Responsibility (CSR)
terhadap Kinerja Keuangan, Nilai, dan
Tingkat Leverage Perusahaan (Studi
Kasus pada Perusahaan ISRAtahun
2012-2014). Jurnal Ilmiah Mahasiswa
FEB Vol.4, No.2 (2016).
Sari, W. A., Siti R. H., & Nila, F. N. 2016.
Pengaruh Pengungkapan Corporate
Social Responsibility Terhadap Kinerja
Keuangan Dan Nilai Perusahaan (Studi
Komparatif pada Perusahaan
Multinasional yang Terdaftar di Bursa
Efek Indonesia dan Bursa Malaysia
Tahun 2012-2015). Jurnal Administrasi
Bisnis Vol.39, No.2 (2016).
Suwardjono. 2013. Teori Akuntansi
“Perekayasaan Laporan Keuangan”.
Yogyakarta : BPFEE-Yogyakarta.

17