You are on page 1of 3

NAMA : PUTERI S.

NENOTEK

KELAS :C

TUGAS : KIMIA MINYAK ATSIRI

SEMESTER : V

1. PENGERTIAN

Bunga cempaka putih (Michelia alba D.C) selama ini dikenal sebagai bahan campuran
pembuatan minyak wangi parfum dan wangi-wangian lainnya. Tanaman cempaka putih
merupakan habitus pohon, berkayu tinggi dengan ketinggian mencapai 30 meter, berdaun
tunggal berbentuk bulat telur memanjang dengan bagian pangkal dan ujung runcing. Bunga
berdiri sendiri dengan mahkota berwarna putih dan berbau harum (Anonim, 2008). Kayu
cempaka berkualitas cukup baik dan sering digunakan sebagai furniture karena memiliki struktur
yang indah, namun di Indonesia kayunya jarang diperdagangkan karena orang lebih menghargai
bunganya yang harum.Kayu yang dipergunakan biasanya berasal dari pohon yang sudah tidak
berbunga.

Gambar 1. Cempaka Putih (plantamor.com)

2. KANDUNGAN KIMIA DAN TRANSFORMASINYA


Kandungan kimia dari cempaka putih adalah alkaloida dan zat samak.Kulit kayu dan akarnya
juga mengandung damar.Asam damar juga terdapat pada bijinya, selain kandungan
olein.Bunganya yang harum itu, terdapat minyak terbang (cheraniol, linalol, methuleugenol,
asam benzoe, nerol, dan methulaethulazijnzuur) (Taqyudin, 2009).
Minyak atsiri banyak terkandung dalam bunga, biji, buah, dan daun tanaman.Bunga
cempaka putih adalah salah satu jenis bunga yang menghasilkan miyak atsiri. Kebutuhan
masyarakat akan minyak atsiri sebagai bahan parfum dan antiseptik semakin meningkat. Minyak
atsiri banyak terkandung dalam bunga, biji, buah, dan daun tanaman.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dina Krisdiana bertujuan untuk mengisolasi,
mengkarakterisasi, mengidentifikasi, dan menguji aktivitas minyak atsiri bunga cempaka putih
(Michelia alba) sebagai antibakteri terhadapEscherichia coli dan Staphylococcus aureus. Tahap
penelitian yang dilakukan antara lain persiapan sampel, isolasi minyak atsiri dengan metode
destilasi uap-air, karakterisasi, identifikasi komponen penyusunnya dengan menggunakan GC-
MS, serta menguji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus
aureus. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratoris, dengan sampel yang digunakan adalah
bunga cempaka putih basah dan kering (Krisdiana, 2010).
Hasil penelitian menunjukkan: (1) Rendemen minyak atsiri bunga cempaka putih basah dengan
metode destilasi uap-air sebesar 0,041 %, sedangkan dari bunga cempaka putih kering 0,084 %,
(2) Minyak atsiri bunga cempaka putih basah memiliki ciri berwarna kuning jernih, berat jenis
1,25 g/mL, indeks bias 1,49374, sedangkan dari bunga cempaka putih kering memiliki ciri
berwarna coklat jernih, berat jenis 1,44 g/mL, indeks bias 1,51722, (3) Senyawa-senyawa yang
terkandung di dalam minyak atsiri bunga cempaka putih basah ada 30 senyawa dengan 10
senyawa terbanyak antara lain 3,7-dimetil-1,6-Oktadien-3-ol; miristcin; 1-etenil-1-metil-2,4-
bis(1-metiletenil)-sikloheksana; etil-2-metilbutirat; 1,2-dimetoksi-4-(2-propenil)- Benzena;
Bicyclo[7.2.0]undec-4-ene, 4,11,11-trimethyl-8-methylene; 5-(2-ropenil)-1,3-Benzodioksol;
1,2,4a,5,6,8a-heksahidro-4,7-dimetil-1-(1-metiletil)-Naphthalene; 3,7-dimetil-1,3,7oktatriena dan
3,7-dimetil-1,3,6-Oktatriena, sedangkan dari bunga kering ada 61 senyawa dengan 10 senyawa
terbanyak antara lain ; trans-isocroweacin; 5-(2-propenil)-1,3-Benzodioksol; 1-etenil-1-metil-
2,4-bis(1-metiletenil)-sikloheksana; 1-metil-4-(5-metil-1-metilen-4-heksenil sikloheksena; beta-
selinene; 1,2,3,5,6,8a-heksahidro-4,7-dimetil-1-(1-metiletil)-naftalena; kariophillen oksida; alfa-
kopaene atau 1,3-dimetil-8-(1-metiletil) Trisiklo[4.4.0.0(2,7)]dec-3-ene; Linalol; dan
nonadekana, (4) Minyak atsiri bunga cempaka putih basah dan kering bersifat antibakteri
terhadap E.coli pada konsentrasi 120 ppm dengan persen hambat masing-masing 47,606% dan
42,287 %, (5) Minyak atsiri bunga cempaka putih basah dan kering bersifat antibakteri terhadap
S. aureus pada konsentrasi 500 ppm dengan persen hambat masing-masing 10,267 % dan 23,889
% (Krisdiana, 2010).
Pada kulit kayu cempaka putih mengandung alkaloid 0,15%, sedangkan daun dan
bunganya mengandung minyak atsiri (Srijoni, 2004). Selain kandungan tersebut, bunga, batang,
daun cempaka putih (Michelia alba) mengandung alkaloid mikelarbina dan liriodenina
(Alamendah, 2010).

3. MANFAAT
Secara medis, bunga, batang, daun kantil (Michelia alba) mengandung alkaloid mikelarbina
dan liriodenina yang mempunyai khasiat sebagai ekspektoran dan diuretik. Karena kandungan
yang dipunyainya, kantil dipercaya dapat menjadi obat alternatif bagi berbagai penyakit seperti
bronkhitis, batuk, demam, keputihan, radang, prostata, infeksi saluran kemih, dan sulit kencing
(Alamendah, 2010). Selain bermanfaat sebagai ekspektoran dan diuretik, cempaka putih juga
dapat bermanfaat sebagai antipiretik (Srijoni, 2004).
Cempaka putih merupakan tanaman obat yang berkhasiat sebagai obat tradisional.Cempaka
putih dapat digunakan sebagai obat untuk mengembalikan nafsu makan.Obat dari cempaka putih
ini sangat mudah untuk diramu sendiri. Cempaka putih memiliki sifat yang khas, yaitu manis,
pedas dan menghangatkan. Dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh cempaka tersebut, maka dapat
berkhasiat untuk ekspektoran (obat batuk) dan diuretik.
Pemanfaatan dari bagian-bagian tanaman cempaka putih, diantaranya:
1. Bunga
Bunga dari kantil (cempaka putih) dapat dimanfaatkan untuk mengobati bronkhitis, batuk,
demam, keputihan, radang, dan gangguan prostata.Minyak atsiri yang dihasilkan dari bunga
cempaka putih sebagai bahan parfum dan antiseptik.
2. Daun
Bagian daun cempaka putih dapat dimanfaatkan untuk mengobati bronkhitis dan infeksi
saluran kemih.Minyak atsiri yang dihasilkan dari bunga cempaka putih sebagai bahan parfum
dan antiseptik.
3. Kayu
Kayu cempaka berkualitas cukup baik dan sering digunakan sebagai furniture karena
memiliki struktur yang indah.

4. MINYAK ATSIRI BUNGA CEMPAKA

Bunga cempaka (Michelia alba D.C) selama ini dikenal sebagai bahan campuran pembuatan
minyak wangi parfum dan wangi-wangian lainnya. Bunganya yang harum itu, terdapat minyak
terbang (cheraniol, linalol, methuleugenol, asam benzoe, nerol, dan methulaethulazijnzuur).
Bunga cempaka dilaporkan mengandung tanin, flobatanin, saponin, flavonoid, karbohidrat,
antrakuinon, polifenol, glikosida. Ekstrak metanol 70% bunga M. champaca L. dilaporkan aktif
sebagai anti hiperlipid secara in vivo pada dosis 500 mg/kgBB. Bunga cempaka dapat
dimanfaatkan untuk mengobati bronkhitis, batuk, demam,
14 keputihan, radang, dan gangguan prostata. Minyak atsiri yang dihasilkan dari bunga cempaka
yaitu sebagai bahan parfum dan antiseptik (Taqyudin, 2009).

5. PENGOLAHAN MINYAK ATSIRI


Produksi minya atsiri dari tumbuh – tumbuhan dapat dilakukan dengan tiga cara berikut ini :
1. Penyulingan
Merupakan metode ekstrasi yang paling tua dalam pengolahan minyak atsiri. Metode ini
cocok untuk minyak atsiri yang tidak mudah rusak oleh panas, misalnya minyak cengkeh, nilam,
sereh wangi, pala, akar wangi dan jahe
2. Pressing
Dilakukan dengan memberikan tekanan pada bahan baku dengan menggunakan alat yang
disebut hydraulic atau expeller pressing. Beberapa jenis minyak yang dapat dipisahkan dengan
cara pengepresan adalah minyak almond, lemon, kulit jeruk, dan jenis minyak atsiri lainnya.
3. Ekstrasi menggunakan pelarut
Metode ini menggunakan pelarut, cocok untuk mengambil minyak bunga yang kurang stabil
dan dapat rusak oleh panas. Pelarut yang digunakan untuk mengektrasi minyak atsiri antara lain
kloroform, alcohol, aseton, eter, serta lemak.
4 Adsorbsi oleh lemak padat
Digunakan khusus untuk memisahkan minyak bunga – bungaan, untuk mendapatkan mutu
dan rendemen minyak yang tinggi.