You are on page 1of 4

1

AL HADITS

Pengertian Hadits
Hadits adalah apa saja yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAAW.
Baik berupa; perkataan, perbuatan, pengakuan, maupun sifat Beliau. Hadits Qudsi
adalah hadits yang maknanya dari Allah SWT. Tetapi susunan katanya dari Nabi
SAW./ Kalamullah seperti al Qur'an.

a. Definisi Ulama Hadis (Muhadditsin)

Menurut Ulama Hadis, Sunnah berarti:

Sunnah adalah setiap apa yang ditinggalkan (diterima) dari Rasul SAW berupa
perkataan, perbuatan, tacwir, sifat fisik atau akhlak, atau perikehidupan, baik
sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, seperti tahannuts yang beliau lakukan di
Gua Hira', atau sesudah kerasulan beliau.

Sunnah dalam pengertian Ulama Hadis di atas, adalah sama (muradif) dengan Hadis.
Para Ulama Hadis memberikan definisi yang begitu luas terhadap Sunnah, adalah
karena mereka memandang Rasul SAW sebagai panutan dan contoh teladan bagi
manusia dalam kehidupan ini, seperti yang dijelaskan Allah SWT di dalam Al-Qur'an
alal-Karim, bahwa pada diri (kehidupan) Rasul SAW itu adalah uswatun hasanah bagi
umat Islam (QS Al-Ahzab: 21).

Dengan demikian, para Ulama Hadis mencatat seluruh yang berhubungan dengan
kehidupan Rasul SAW, baik yang mempunyai kaitan langsung dengan hukum syara'
ataupun tidak.

b. Pengertian Sunnah menurut Ulama Ushul Fiqh

Ulama Ushul Fiqh memberikan definisi Sunnah sebagai berikut:

Sunnah adalah seluruh yang datang dari Rasul SAW selain Al-Qur'an al-Karim, balk
berupa perkataan, perbuatan atau taqrir, yang dapat dijadikan sebagai dalil untuk
menetapkan hukum syara'
2

Melalui definisi di 'atas terlihat bahwa para Ulama Ushul Fiqh membatasi pengertian
Sunnah pada sesuatu yang datang dari Rasul SAW selain Al-Qur'an yang dapat
dijadikan dalil dalam penetapan hukum syara'.

Mereka berpendapat demikian adalah karena mereka memandang Rasul SAW sebagai
Syari', yaitu yang merumuskan hukum dan yang menjelaskan kepada umat manusia
tentang peraturan-peraturan (hukum-hukum) dalam kehidupan ini, dan memberikan
kaidah-kaidah hukum untuk dipergunakan dan dipedomani kelak oleh para mujtahid
dalam merumuskan hukum setelah beliau tiada.

c. Sunnah menurut Ulama Fiqh (Fuqaha')

Ulama Fiqh mendefinisikan Sunnah sebagai berikut

Yaitu, setiap yang datang dari Rasul SAW yang bukan fardu dan tidak pula wajib
(Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h.19).

Ulama Fiqh mengemukakan definisi seperti di atas adalah karena sasaran


pembahasan mereka ialah hukum syara' yang berhubungan dengan perbuatan
mukalaf, yang terdiri atas: wajib, haram, mandub (sunnah), karahah, dan mubah
.Apabila para Fuqaha' mengatakan sesuatu perbuatan itu adalah Sunnah, maka hal
tersebut berarti, bahwa perbuatan tersebut dituntut oleh syara' untuk dilaksanakan oleh
para mukalaf dengan tuntutan yang tidak pasti atau tidak wajib.

Dari definisi Hadis dan Sunnah di atas, selain definisi versi para Fuqaha,
secara umum kedua istilah tersebut adalah sama, yaitu bahwa keduanya adalah sama-
sama disandarkan kepada dan bersumber dari Rasul SAW. Perbedaan hanya terjadi
pada tinjauan masing-masing dari segi fungsi keduanya. Ulama Hadis menekankan
pada fungsi Rasul SAW sebagai teladan dalam kehidupan ini, sementara Ulama Ushul
Fiqh memandang Rasul SAW sebagai Syari', yaitu sumber dari hukum Islam. Di
kalangan mayoritas Ulama Hadis sendiri, terutama mereka yang tergolong
muta'akhkhirin, istilah Sunnah sering disinonimkan dengan Hadis. Mereka sering
mempertukarkan kedua istilah tersebut di dalam pemakaiannya

Istilah Sunnah di kalangan Ulama Hadis dan Ulama Ushul Fiqh kadang-
kadang dipergunakan juga terhadap perbuatan para Sahabat, baik perbuatan tersebut
3

dalam rangka mengamalkan isi atau kandungan Al-Qur'an dan Hadis Nabi SAW
ataupun bukan. Hal tersebut adalah seperti perbuatan Sahabat dalam mengumpulkan
Al-Qur'an menjadi satu Mushhaf Argumen mereka dalam penggunaan tersebut adalah
sabda Rasul SAW yang berbunyi:

Hendaklah kamu berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafa' al-
Rasyidin (Lihat Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, juz 4, h. 206).

DARI SEGI KEDUDUKAN DALAM HUJJAH

hadis ahad ahad ditinjau dari segi dapat diterima atau tidaknya terbagi menjadi
2 (dua) macam yaitu hadis maqbul dan hadis mardud.

a. Hadis Maqbul

Maqbul menurut bahasa berarti yang diambil, yang diterima, yang dibenarkan.
Sedangkan menurut urf Muhaditsin hadis Maqbul ialah Hadis yang menunjuki suatu
keterangan bahwa Nabi Muhammad SAW menyabdakannya.

Jumhur ulama berpendapat bahwa hadis maqbul ini wajib diterima. Sedangkan yang
temasuk dalam kategori hadis maqbul adalah:

 Hadis sahih, baik yang lizatihi maupun yang ligairihi

 Hadis hasan baik yang lizatihi maupun yang ligairihi.

B. Hadis Mardud

Mardud menurut bahasa berarti yang ditolak; yang tidak diterima. Sedangkan
menurut urf Muhaddisin, hadis mardud ialah Hadis yang tidak menunjuki keterangan
yang kuat akan adanya dan tidak menunjuki keterangan yang kuat atas
ketidakadaannya, tetapi adanya dengan ketidakadaannya bersamaan. Jadi, hadis
mardud adalah semua hadis yang telah dihukumi daif.

4. Hadis Daif
4

Hadis daif adalah hadis yang tidak menghimpun sifat-sifat hadis sahih, dan
juga tidak menghimpun sifat-sifat hadis hasan

Dalam terminology yang lain Sunah dibagi menjadi 3


1. Sunnah Tasyri’iyah, yaitu Sunah yang wajib diikuti karena merupakan
syari’at. Contohnya: Bagaimana tata cara Nabi S.A.W. melaksanakan shalat,
melakukan transaksi jual beli.
2. Sunnah Ghairu Tasyri’iyah adalah sunah Nabi S.A.W. yang berkaitan dengan
kultur/budaya Misalnya: Nabi makan dengan 3 jari karena yang dimakan
adalah Kurma/roti, sehingga kita boleh berbeda
3. Sunah Tahasusiyah, yaitu Sunah yang khusus berlaku pada Nabi S.A.W. dan
tidak dibolehkan diikuti oleh umatnya Contohnya: Nabi beristri lebih dari 4
orang istri.

Kedudukan As-Sunnah
1. As-Sunnah menjelaskan hal-hal yang masih global di dalam Al-Qur’an,
misalnya: ‫ أقيموا الصل ة‬Sunnah menjelaskan secara detail tentang tata caranya.
2. Menetapkan Hukum yang belum di tetapkan di dalam Al-Qur’an, misalnya
Hukum Rajam bagi pezina yang sudah menikah

Ijtihad
Pengertiannya : Mengerahkan segala daya dan upaya untuk menetapkan
hukum Amaliyah yang belum ditetapkan di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah.
Ijtihad mengandung dua unsure:
1. Ijtihad yang khusus untuk menetapkan hukum
2. Ijtihad khusus untuk menerapkan dan mengamalkan hukum

Syarat-syarat untuk yang berijtihad:


1. Menguasai Bahasa Arab
2. Hafal Al-Qur’an
3. Mengerti dan memahami Nasakh dan Mansukh dalam Al-Qur’an
4. Mengerti As-Sunnah dan ilmu yang berkaitan dengannya
5. Mengetahu letak Ijma’ dan Khilaf di kalangan para ulama
6. Mengetahui Qiyas