You are on page 1of 6

ASUMSI PENGELUARAN

Dari asumsi penerimaan dan pemasukan yang akan didapat pada enam bulan mendatang maka dapat disusun
estimasi penerimaan dan pengeluaran dibawah ini :
Setelah menyusun estimasi penerimaan dan pengeluaran, dapat terlihat bahwa pengeluaran pada bulan January
lebih besar dari penerimaannya, sehingga perusahaan mengalami deficit sebesar Rp 2,000,000. untuk menutupi
deficit tersebut perusahaan menggunakan fasilitas pinjaman yang diberikan oleh bank. Besarnya pinjaman
disesuaikan dengan kebutuhan, dalam hal ini maka untuk menjaga saldo kas minimum yang harus dipelihara
perusahaan maka perusahaan menggunakan pinjaman dana sebesar Rp 2,000,000 dengan syarat ketentuan
diatas. Untuk melihat apakah perusahaan tersebut fleksibel atau tidak maka dapat dilihat estimasi cash flow di
bawah ini :
Dari estimasi tersebut, kas perusahaan menunjukan hasil yang surplus dan perusahaan dapat mengembalikan
pinjaman bank sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan pada akhirnya perusahaan tersebut secara
financial dapat dikatakan flexible.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat kita lihat manfaat dari cash flow
1. Cash flow merupakan alat pengkontrol keuangan perusahaan dan sebagai alat ukur keberhasilan dalam
mencapai target yang di tetapkan, dapat juga digunakan sebagai alat penaksir kebutuhan di masa yang
akan datang.
2. Dalam penyusunan cash flow harus diperhatikan yang mana saja yang dapat mempengaruhi dan yang
tidak dapat mempengaruhi contoh; pengakuan adanya kerugian piutang, adanya pengkuan atau
pembebanan depresiasi, adanya pembayaran stock defidend merupakan sesuatu yang tidak
mempengaruhi cash flow.
3. Bagi kreditor atau bank dengan laporan cash flow dapat menilai kemampuan perusahaan dalam
mambayar bunga atau mengembalikan pinjamannya.
4. Pada intinya aliran cash flow dengan sumber-sumber dan penggunaan dana adalah sama dan
perhitungan penerimaan cash flow hanya memasukan penjualan secara tunai sedangkan hasil
penjualan kredit baru akan dimasukan setelah benar-benar diterima secara tunai.
5. Dalam penerapannya sebelum membuat cash flow, tentukan besarnya kas minimum yang tersedia
(safety cash balance), apabila pada estimasi cash out flow lebih besar dari pada cash flow in maka akan
terjadi deficit. Salah satu cara untuk menutup deficit tersebut adalah dengan mengajikan pinjaman ke
bank.
6. Asumsi merupakan suatu konsep dasar yang harus diterapkan walau pun angapan tersebut tidak sesuai
dengan kenyataan, semakin banyak anggapan yang digunakan (pada umumnya tidak sesuai kenyataan)
akan banyak kelemahan pada analisa tsb

Seperti yang telah diketahui bersama, bahwasanya semua kegiatan investasi dimulai dan diukur dengan uang
dan waktu. Oleh karena itu, perhitungan kelayakan investasi didasarkan pada aliran uang masuk (cash flow) dan
nilai uang yang dikaitkan dengan waktu (time value of money). Untuk memenuhi kebutuhan investasi, modal
dapat dicari dari berbagai sumber yang ada. Yang perlu memperoleh perhatian berkaitan dengan perolehan
modal adalah masa pengembalian modal dalam jangka waktu tertentu. Tingkat pengembalian ini tergantung
dari perjanjian dan estimasi keuntungan yang akan diperoleh pada masa-masa yang akan datang. Estimasi
keuntungan diperoleh dari selisih pendapatan dengan biaya dalam suatu periode tertentu. Besar kecilnya
keuntungan sangat berperan dalam pengembalian dana suatu usaha. Oleh karena itu perlu dibuatkan estimasi
pendapatan dan biaya sebelum usaha dijalankan.

Dalam membuat estimasi pendapatan yang akan diperoleh dimasa yang akan datang perlu dilakukan
perhitungan secara cermat dengan membandingkan data dan informasi yang ada sebelumnya. Begitu juga
dengan estimasi biaya-biaya yang akan dikeluarkan selama periode tertentu, termasuk jenis-jenis biaya yang
akan dikeluarkan perlu dirinci serinci mungkin. Semua ini tentunya menggunakan asumsi-asumsi tertentu yang
akhirnya akan dituangkan dalam aliran kas (cash flow). Jadi cash flowmerupakan aliran kas yang ada di

PG. 1
perusahaan dalam suatu periode tertentu yang mengambarkan berapa uang yang masuk (cash in) keperusahaan
dan jenis-jenis pemasukan tersebut juga menggambarkan uang yang keluar (cash out) serta jenis-jenis biaya
yang dikeluarkan. Dengan dibuatnya aliran kas perusahan ini, hal ini dapat memudahkan para investor untuk
dapat menilai kelayakan investasi secara finansial.

Ada 2 cara dalam menghitung cash flow, yaitu:

Kas Masuk Bersih= EAT+ Penyusutan.


Jika proyek/usaha tersebut dibiayai dengan modal sendiri.
Kas Masuk Bersih= EAIT+Penyusutan+Bunga (1-tax)
Jika proyek/usaha tersebut dibiayai dengan modal pinjaman.

Contoh Cash Flow


Uraian Menurut lap. Akuntansi Keterangan Arus Kas

1. Pendapatan Rp. 400 juta Kas Masuk Rp. 400 juta

2. Biaya-Biaya
Rp. 200 juta Kas Keluar Rp. 200 juta
-Total Biaya
Rp. 100 juta Kas Masuk Rp. 100 juta
-Penyusutan

3. Laba Sebelum pajak (EBT) Rp. 100 juta

4. Pajak 50% Rp. 50 juta

Laba Setelah Pajak (EAT) Rp. 50 juta

Cash flow = EAT+Penyusutan = 50 juta + 100 juta


= 150 juta

Catatan:
EBT = Earning Before Tax (Laba Sebelum Pajak)
EAT = Earning After Tax (Laba Setelah Pajak)
Khusus bagi perusahaan yang sudah ada sebelumnya dan hendak melakukan ekspansi atau perluasan usaha,
penilaian dapat pula dilakukan dari laporan keuangan yang dimilikinya. Laporan keuangan yang dinilai biasanya
adalah neraca dan laporan laba rugi untuk beberapa periode (Kasmir & Jakfar, 2005:137).

b. Net Present Value


Aplikasi Untuk Cash Flow Setiap Tahun Berbeda
Suatu perusahaan (asumsi) sedang mempertimbangkan usulan proyek investasi sebesar Rp. 50 jutaselama 5
tahun, dengan tingkat pengembalian yang disyaratkan 20 %, perkiraan arus kas (cash flow)pertahunnya sebagai
berikut:
Tahun Arus kas

1 17.500.000

2 19.000.000

3 20.500.000

4 22.000.000

5 24.500.000

PG. 2
Hitunglah keuntungan perusahaan tersebut dengan menggunakan analisis NPV!
Rumus.
CF1 CF2 CF3 CFN
PV = + + +….+ – OI
(1+i)1 (1+i)2 (1+i)3 (1+i)n
NPV= ∑ PV Cash flow – Nilai Investasi (Original investment)

Tahun Cash Flow Interest Rate Present Value


(1) (2) (3) (4)=(2)x(3)

1 Rp. 17.500.000 0,833 Rp. 14.577.500

2 Rp. 19.000.000 0,694 Rp. 13.186.000

3 Rp. 20.500.000 0,579 Rp. 11.869.500

4 Rp. 22.000.000 0,482 Rp. 10.604.000

5 Rp. 24.500.000 0,402 Rp. 9.849.000

Total present value Rp. 60.086.000


Original investment Rp. 50.000.000

Rp.10.086.000
Net Present Value

Berdasarkan kriteria NPV, usulan proyek investasi tersebut sebaiknya diterima karena NPV-nya positif. Artinya
dana sebesar Rp. 50 juta yang diinvestasikan selama 5 tahun dalam proyek tersebut dapat menghasilkan present
value cash flow sebesar Rp. 10.086.000
Aplikasi Untuk Cash Flow Setiap Tahun Sama
Suatu perusahaan mempertimbangkan usulan proyek investasi sebesar Rp. 50 juta dengan arus kas(cash flow)
Rp. 25 juta pertahun sebesar Rp. juta selama 5 tahun dengan tingkat pengembalian yang disyaratkan 20 %.

Tahun Cash Flow Intrest Rate Present Value


(1) (2) (3) (4)=(2)x(3)

1 Rp. 25.000.000 0,833 Rp. 20.825.000

2 Rp. 25.000.000 0,694 Rp. 17.350.000

3 Rp. 25.000.000 0,579 Rp. 14.475.000

4 Rp. 25.000.000 0,482 Rp. 12.050.000

5 Rp. 25.000.000 0,402 Rp. 10.050.000

Total present value Rp. 74.750.000


Original investment Rp. 50.000.000

Net Present Value Rp. 24.750.000

PG. 3
Berdasarkan kriteria NPV, usulan proyek investasi tersebut sebaiknya diterima kerena NPV-nya positif. Artinya
dana sebesar Rp. 50 juta yang diinvestasikan selama 5 tahun dalam proyek tersebut dapat menghasilkan present
value cash flow sebesar Rp. 24.750.000

Profit Sharing
Dari contoh diatas. Disini peneliti ingin mengadakan perbandingan dalam menilai kelayakan investasi melalui
contoh yang sama dengan menggunakan analisis Profit Sharing, dengan tetap melihat perkiraan cash flow.

Contoh:
Suatu perusahaan (asumsi) sedang mempertimbangkan usulan proyek investasi sebesar Rp. 50 juta selama 5
tahun dengan nisbah bagi hasil 80:20, perkiraan arus kas (cash flow) pertahunnya sebagai berikut:

Tahun Arus kas

1 17.500.000

2 19.000.000

3 20.500.000

4 22.000.000

24.500.000
5

Hitunglah keuntungan perusahaan tersebut dengan menggunakan analisis profit sharing!

Tahun Cash flow Nisbah Bagi Hasil Profit Sharing


(1) (2) (3) (4)=(2)x(3)

1 Rp. 17.500.000 0,2 Rp. 3.500.000

2 Rp. 19.000.000 0,2 Rp. 3.800.000

3 Rp. 20.500.000 0,2 Rp. 4.100.000

4 Rp. 22.000.000 0,2 Rp. 4.400.000

5 Rp. 24.500.000 0,2 Rp. 4.900.000

Total Profit Rp. 20.700.000


Jumlah Investasi Rp. 50.000.000

Profit Sharing Rp. -29.300.000

Berdasarkan analisis Profit Sharing, usulan proyek investasi tersebut sebaiknya ditolak, karena jumlah Profit
Sharing lebih kecil dari jumlah investasi. Artinya dana sebesar Rp. 50 juta yang diinvestasikan selama 5 tahun
dalam proyek tersebut dapat menghasilkan profit sharing cash flowsebesar Rp. -29.300.000

Namun, dalam analisis profit sharing besar kecilnya nisbah bagi hasil dapat ditetapkan secara bersama dengan
berlandaskan prinsip keadilan. Artinya dalam hal ini, pihak investor dapat menawar kembali jumlah nisbah
tersebut. Misalnya, berdasarkan kesepakatan antara pihak pengelola dana dan pihak pemberi dana terjadi
kesepakatan nisbah bagi hasil 50:50

PG. 4
Tahun Cash flow Nisbah Bagi Hasil Profit Sharing
(1) (2) (3) (4)=(2)x(3)

1 Rp. 17.500.000 0,5 Rp. 8.750.000

2 Rp. 19.000.000 0,5 Rp. 9.500.000

3 Rp. 20.500.000 0,5 Rp. 10.250.000

4 Rp. 22.000.000 0,5 Rp. 11.000.000

5 Rp. 24.500.000 0,5 Rp. 12.250.000

Total Profit Rp. 51.750.000


Jumlah Investasi Rp. 50.000.000

Profit Sharing Rp. 1.750.000

Berdasarkan analisis profit sharing dengan nisbah 50:50, jumlah profit adalah Rp. 1.750.000. Artinya, jika proyek
investasi ini terjadi investor akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 1.750.000
Aplikasi Untuk Cash Flow Setiap Tahun Sama
Suatu perusahaan mempertimbangkan usulan proyek investasi sebesar Rp. 50 juta dengan arus kas(cash flow)
Rp. 25 juta pertahun sebesar Rp. juta selama 5 tahun dengan tingkat pengembalian yang disyaratkan dengan
nisbah bagi hasil 80:20.

Tahun Cash flow Nisbah Bagi Hasil Profit sharing


(1) (2) (3) (4)=(2)x(3)

1 Rp. 25.000.000 0,2 Rp. 5.000.000

2 Rp. 25.000.000 0,2 Rp. 5.000.000

3 Rp. 25.000.000 0,2 Rp. 5.000.000

4 Rp. 25.000.000 0,2 Rp. 5.000.000

5 Rp. 25.000.000 0,2 Rp. 5.000.000

Total Profit Rp. 25.000.000


Jumlah Investasi Rp. 50.000.000

Profit Sharing Rp. -25.000.000

Berdasarkan kriteria Profit Sharing, usulan proyek investasi tersebut sebaiknya ditolak kerena Profit-nya negatif.
Artinya dana sebesar Rp. 50 juta yang diinvestasikan selama 5 tahun dalam proyek tersebut dapat
menghasilkan profit sharing cash flow sebesar Rp. -25.000.000
Akan berbeda hasilnya, jika dengan contoh yang sama, namun besaran nisbah bagi hasilnya 60:40,
Cash flow = 25.000.000 x 0,4 = 10.000.000
Waktu investasi = 10.000.000 x 5 = 50.000.000
Artinya, jika proyek investasi tersebut diterima, dengan nisbah bagi hasil 60:40 jumlah antara profitdan modal
itu sama (impas).
Penilaian kelayakan investasi dengan menggunakan NPV, yang mengedepankan analisis kelayakan finansial,
tentu akan menolak proyek investasi dengan nilai cash flowbersih yang lebih kecil dari modal, karena pihak
investor akan mengalami kerugian. Akan tetapi, dalam prinsip Islam, investasi seharusnya tidak dengan
menentukan keuntungan dimuka, tapi dilakukan melalui bagi hasil baik dalam keadaan untung maupun situasi
rugi (profit and loss sharing). Prinsip ini lebih menjunjung keadilan, karena hasil akhir suatu kegiatan bisnis
sebenarnya tidaklah pasti. Bila penentuan keuntungan dimuka, maka kemungkinan besar salah satu pihak akan

PG. 5
mengalami kerugian, sedangkan Islam menghendaki dilakukannya perhitungan bagi hasil secara adil dengan
melibatkan penyedia dana maupun pelaku aktivitas usaha.

C. Transformasi Karakteristik Alternatif Proyek Kedalam Dimesi Moneter


Karakteristik Proyek
Karakteristik sebuah proyek memiliki konsep sebagai berikut :
1. Manajemen Proyek bersifat kondisonal dan sementara karena waktu mempengaruhi dalam pengerjaan yang
dipastikan awal dan akhirnya kapan terjadi.
2. Manajeman Proyek memiliki kewenangan biaya karena biaya tersebut memperngaruhi manajemen proyek
tersebut berjalan
3. Kualitas membatasi dalam manajemen proyek
4. Manajemen proyek tidak berulang bisa dikatakan tidak akan terjadi lagi setelah selesai dalam sebuah
penugasan yang disepakati.
Batasan dalam Proyek
Setiap pekerjaan atau tugas pasti ada batasan begitu pula dengan proyek itu sendiri terdapat 3 batasan yang
menentukan kualitas. Berikut ini batasan dalam sebuah proyek :
Scope : Memiliki ketentuan tujuan sebuah proyek secara keseluruhanyang bisa dilakukan dengan menentukan
batasan-batasan apa saja yang akan diambil untuk efisien dan efektif dalam proyek untuk kontrol kualitas.
Kontrol kualitas juga sangat mempengaruhi di proyek itu sendiri.
Cost : Biaya termasuk hal yang paling berpengaruh besar untuk sebuah proyek. Seperti biaya yang tersedia
berserta pengeluarannya. Jika tidak di kelola dan di manfaatkan dengan baik bisa jadi sebuah proyek akan
terhenti. Dan tidak lupa dalam cost (biaya) mempengaruhi unsur seperti pekerja non-displiner, bahan baku, dan
peralatan pendukung proyek dan lain-lain.
Time : Percayalah mengerjakan sesuatu pasti memerlukan waktu dan proyek juga memiliki waktu khususnya
dalam proses pembuatan proyek yang memerlukan jangka waktu pengerjaan yang terstruktur untuk
menghasilkan hasil yang baik. Oleh karena itu tidak bisa dilakukan dengan asal dan tidak memiliki timeplan
karena bisa berakibat proyek tersebut tidak selesai tepat waktu.

PG. 6