You are on page 1of 186

HIDUP SEHAT, SEBAR RAHMAT,

DENGAN SYARIAH DAN


KHILAFAH

Kontributor:

dr. Muhammad Usman, AFK  Prof. DR. Ing. Fahmi Amhar  KH. Hafidz Abdurrahman, MA
Dwi Condro Triono, Ph.D  dr. Yanuar Ariefudin  dr. Aulia Rahman  dr.Ahmad Adityawarman
Reza Indra Wiguna, S.Kep, Ns  dr. Iswahyudi  Aulia Yahya, Apt  Muhammad Ishak, SE
Yahya Abdurrahman  Roni Abu Azka  dr. Mustaqim

dr. Faizatul Rosyidah  Ayeesha Fauzia  dr. Putri Firdayanti  dr. Maria Ulfah, M.Si,Med

dr.Tuti Rahmayani  dr. T. Reni Yurista  Imanda Amalia, MPH  dr. Rini Syafri

Khafidoh K, S.Farm, Apt  Sufianti S, S.Kep,Ns  drh. Murniati.M.Si  dr Nurul Muzayyanah

Editor:

dr. Fauzan Muttaqien


KAMI ADALAH HELP-S, HEALTHCARE PROFESSIONALS FOR SHARIA

Adalah dahulu Maulana Ishaq, seorang dokter terkenal pada zamannya.

Diutus sultan Muhammad Ula, menjadi bagian dari rombongan para ulama.

Dari Samarqand menuju Jawa, dimana kekufuran masih adidaya.

Membawa sebuah misi besar, Islamnya nusantara.

Sebuah visi membangun kekuasaan Islam di sana.

Mereka pun dikenal sebagai rombongan Wali Sanga.

Adalah seorang Ernesto Che Guavara, seorang dokter kaya dari Argentina.

Rela meninggalkan kesenangan hidupnya.

Membentuk pasukan rakyat dan petani melawan militer Batista.

Bersama Fidel Castro menumpahkan perlawanan yang dikenal dunia sebagai revolusi Kuba.

Membawa sebuah misi besar, menghilangkan sengsara,

di wajah-wajah rakyat Amerika Latin akibat kelaliman kapitalis durjana.

Adalah juga para bumiputra, dr. Soetomo, dr. Wahidin Sudirohusodo dan para mahasiswa
kedokteran STOVIA.

Berkumpul di laboratorium anatomi merumuskan sebuah gerakan yang mengubah arah sejarah
perlawanan bangsa.

Membawa sebuah misi besar, menginisiasi gerakan para pemuda.

Kelak berharap bisa menjadi Indonesia merdeka.

Adalah pula Sugisman, Andoko dan mahasiswa-mahasiswa kedokteran Universitas Indonesia.

Rela berjibaku turun ke jalan, keluar dari kampus Salemba.

Mengawali demonstrasi-demonstrasi yang menjadi massif selanjutnya.


Membawa misi besar, reformasi! Agar sang kroni orde baru bisa turun tahta.

Harapan besar mereka, Indonesia baru akan berubah wajahnya menjadi lebih sejahtera.

Dan adalah kami…

Sekelumit dari insan-insan cendekia kesehatan Indonesia.

Yang melihat bahwa di segenap lapang pandang mata, bertabur juta problematika.

Ekonomi yang menjurang antara si kaya dengan jelata, politik kotor yang membabi buta, taraf
pendidikan rendah yang membuat bangsa kita masih terhina, kesehatan dimana pemerintah abai
terhadapnya. Hingga rasa perih umat ini akan berbagai penistaan agama.

Sebagaimana mereka, kami membawa misi besar: Cahaya Islam di bumi ini harus kembali
menjelma.

Terapnya Quran, risalah agung sang Rasul mulia.

Dan dalam penat kami melayani, di tetes keringat saat merawat dan mengobati.

Tersimpan ruang rindu, kelak kami sempat mengalami

Sebuah masa dimana kami berbai’at kepada khalifah kaum muslimin,

menikmati gaung agung ad-Diin.

Memandangi tumbangnya satu persatu rezim yang zaliim.

Ikut panggul senjata di tangan kanan, tas obat-obatan di tangan kiri, mengiring mujahidin
melawan kaum kafiriin…

Saat degup jantung kami menyatu dengan derap langkah para syuhada

Saat angkasa bertabur gagah alliwa arroya

Saat bulir air mata melinang melihat kembali sang adidaya

Kami ingin berjabat erat berlari menuju ke sana

Bukan hanya sebagai penonton penyorak gembira

Tapi sebagai bagian penolong, pejuang yang setia…

dan Kami adalah HELP-S, Healthcare Professionals for Sharia…


DARI SERPIH-SERPIH RESAH (Sebuah Pengantar)

Menyimak apa yang terjadi di dunia kesehatan saat ini, mestinya kita banyak mengelus
dada prihatin. Intelektual muslim yang jeli akan melihat bahwa di ranah ini terjadi setumpuk
masalah. Sayangnya, perhatian para pemikir muslim masih terkesan sebelah mata hingga
terkesan mengeliminir masalah kesehatan dari panggung problematika dunia Islam. Mereka
berjibaku di masalah ekonomi umat yang termiskinkan, pendidikan umat yang terbodohkan,
aqidah yang tercerabut, akhlak yang terdegradasi, politik yang terjajah. Tapi tahukah mereka,
masalah kesehatan juga siap menjadi bom waktu masalah, meski mungkin tidak sedahsyat
masalah-masalah inti umat yang lain.

Permasalahannya memang rumit. Bila merujuk ke perkembangan kesehatan secara global,


kita akan memandang bahwa dunia kesehatan telah masuk ke era kejumawaannya. Teknologi
kesehatan menjadi primadona, anak emas yang dibanggakan Barat sebagai hasil peradabannya.
Bila dahulu para tabib meracik obat dari tumbuhan-tumbuhan yang dipercayai berdasarkan
pengalaman mampu menyembuhkan, kini industri obat dibuat telah berdasarkan teknologi
digital, dianalisa dengan komputer canggih. Bila dahulu kita cukup bangga dengan temuan
adanya satuan-satuan kecil penyusun tubuh manusia setingkat sel, kini era modern telah
memperbincangkan jauh hingga tingkat molekuler dan kode-kode genetika. Belum lagi bila kita
menelisik kecanggihan alat-alat kesehatan mulai dari perangkat diagnostik, laboratorium super
canggih, hingga perangkat operasi yang bahkan memungkinkan seseorang yang berada di Jepang
dapat melakukan pembedahan secara langsung pasien yang ada rumah sakit di Eropa.

Pertanyaannya adalah, dimana letak umat Islam di situ? Sayangnya di tengah kemajuan
tersebut, posisi kaum muslim hanyalah sebagai konsumen atau pengamat yang kagum, seperti
seorang dusun yang berdecak melihat keindahan bangunan menara Eiffel. Kalaupun ada satu dua
muslim yang terlibat dalam kemajuan tersebut, mereka tak lebih hanya sebagai ‘alat dan buruh’,
bukan sebagai sang pemilik kemajuan.

Lebih parah lagi, di hingar bingar kemajuan yang jumawa itu, tersebutlah sekelompok
kaum muslim yang berbekal penafsiran beberapa dalil, melakukan penolakan sedemikian rupa
terhadap kemajuan yang ada. Mereka kemudian mengusung perang terhadap vaksinasi, perang
terhadap antibiotik, hingga menggeneralisir menjadi perang terhadap kedokteran Barat. Seraya
mereka membawa konsep yang salah kaprah tentang thibbun nabawi, mengajarkan kepada umat
bahwa ruqyah, bekam, madu, habbatussaudah adalah segala-galanya. Walhasil, umat
terbingungkan dengan dikotomi tersebut.

Efek domino selanjutnya adalah akibat dari serangan-serangan itu, para tenaga medis
muslim yang berkiprah di kedokteran ala Barat pun merasa terpojokkan. Seakan ilmu yang
mereka reguk selama ini tak ada faedahnya. Ya sudahlah, pikir mereka. Sembari pada akhirnya
ikut membuat garis. Garis yang entah siapa yang terlebih dahulu melukiskannya. Membuat ilmu
kedokteran latah mengikuti ilmu yang lain, mencoba mensterilkan diri dari agama. Baiklah, bila
memang agama tidak memberi ruang kepada kami, talak satu kedokteran modern dengan
agama…! Akibatnya, terjadilah sekularisasi di bidang kesehatan

Maka singkat cerita, ‘cerailah’ kesehatan modern dengan Islam. Dia ‘berselingkuh’ dengan
sistem kapitalisme yang akhirnya menghasilkan anak haram bernama ‘kapitalisasi kesehatan’.
Hingga kesehatan pada akhirnya tak lebih menjadi komoditas produksi, jualan mahal yang hanya
bisa dibeli oleh kalangan berdompet tebal. Ramailah kemudian slogan orang miskin dilarang
sakit, karena harga berobat mengangkasa tinggi. Lalu bersandinglah di pelaminan tiga serangkai:
kebodohan-kemiskinan-penyakitan. Dan siapakah yang banyak berada di panggung pelaminan
itu?

Kali ini kita patut menangis pilu, mereka mayoritas orang Islam.

***

Sahabat, berpijak pada keresahan itu maka kami mencoba menyusun cuplikan-cuplikan
buah pikiran kami menjadi sebuah buku yang kini ada di genggaman Anda. Kami ingin
mengatakan lewatnya, kami insan kesehatan juga peduli akan kondisi negeri ini. Kami bukan
buruh kapitalis yang hanya sibuk bergulat di praktek bersama obat, darah dan pisau bedah,
kemudian puas mendapat segepok rupiah. Bukan… kami juga, sebagaimana anda, adalah
kumpulan Insan yang mendamba perubahan besar penuh barakah di negeri ini.

Di tengah penat kami melayani, di tengah peluh mengabdi, terbersit harapan besar bahwa
akan muncul kelak dunia yang jauh lebih sejahtera, rakyatnya sehat, buminya penuh rahmat
Dan kami percaya, perubahan besar tersebut hanya akan terjadi dengan Islam, dengan
Syariah.

Insya Allah,

Salam

dr. Fauzan Muttaqien


DAFTAR ISI

Dari Serpih-Serpih Resah (Sebuah Pengantar)

SERPIH 1. DARI MEJA PRAKTEK MENUJU TEGAKNYA ISLAM

a. Menjadi Dokter dan Dai dr. Yanuar Ariefudin


b. Meniatkan Ibadah Ayeesha Fauzia
c. Menua di Indonesia dr. Aulia Rahman
d. Sinar X dan Dosa-Dosa Kita dr. Fauzan Muttaqien
e. Mengubah masyarakat antara konsep HL BLUM dan Syaikh Taqiyuddin AnNabhani dr.
Yanuar Ariefudin
f. Terapi buat ny. S dengan Diagnosis Congestive Heart Failure Et Causa Mitral
Regurgitasi Severe dr. Fauzan Muttaqien
g. Dakwah Kita, Menyelamatkan Jiwa dan Iman Mereka dr. Yanuar Ariefudin
h. Polemik thibbun nubuwwah versus kedokteran barat dr. Fauzan Muttaqien
i. Obat Kimia Sintetis Featuring Herbal Khafidoh Kurniasih, S.Farm, Apt

SERPIH 2. SIFILIS, SEPILIS, AIDS, DAN LIBERALISASI KESEHATAN

a. Sifilis dan Sepilis dari Sudut Pandang Kesehatan Komunitas Reza Indra Wiguna,
S.Kep, Ns
b. Kespro, proyek liberalisasi di bidang kesehatan dr. Faizatul Rosyidah
c. AIDS, ODHA, dan liberalisme budaya Aulia Yahya, Apt
d. Kritik Islam terhadap Penanggulangan HIV-AIDS Ala Sekuler-Liberal dr. Faizatul
Rosyidah
e. Mempertanyakan Dakwah Kondom Berpori dr. Fauzan Muttaqien

SERPIH 3. MENYEHATKAN KELUARGA DENGAN SYARIAH

a. Belajar menghindari stress dalam mengasuh anak dr. Putri Firdayanti


b. Pendidikan seks dini, perlukah? dr. Aulia Rahman
c. Menyusui untuk dunia dr. Maria Ulfah, M.Si,Med
d. Atasi obesitas, wujudkan generasi berkualitas dr.Tuti Rahmayani
e. Ibu Rumah Tangga Penyandang HIV Terbanyak, Bagaimana Solusi Islam dr. T. Reni
Yurista
f. Mempertanyakan Keefektifan Keluarga Berencana Sufianti Subchan, S.Kep,Ns
g. Selamatkan Generasi, Amputasi LGBT Imanda Amalia, MPH
SERPIH 4. GURITA KAPITALIS MENCENGKERAM KESEHATAN

a. Selamatkan Pendidikan Kedokteran di Indonesia dr.Ahmad Adityawarman


b. Gurita narkoba, negara gagal membentenginya dr. Putri Firdayanti
c. Industri Farmasi dan Hegemoni Asing Aulia Yahya, Apt
d. Gurita Neoliberal Industri Obat dr. Rini Syafri
e. BPJS, oh BPJS dr. Fauzan Muttaqien
f. Sisi gelap BPJS Kesehatan Muhammad Ishak, SE
g. Kegagalan jaminan kesehatan ala barat dr. Rini Syafri

SERPIH 5. BERKACA SEHAT, KALA KHILAFAH

a. Layanan Sehat Citarasa ‘Maknyes’ Ala Khilafah dr. Muhammad Usman, AFK, Yahya
Abdurrahman
b. Ketika sehat bukan misteri Prof. DR. Ing. Fahmi Amhar
c. Jaminan Kesehatan di Masa Khilafah ‘Abbasiyah KH. Hafidz Abdurrahman, MA
d. Perhatian Sultan Muhammad AlFatih terhadap Kesehatan Roni Abu Azka
e. Jejak sejarah keperawatan pada masa Rasulullah Reza Indra Wiguna, S.Kep, Ns
f. Bimaristan, Rumah Sakit Idaman dalam Sejarah Peradaban Islam Reza Indra Wiguna,
S.Kep, Ns
g. Testimoni Sang Pasien Prof. DR. Ing. Fahmi Amhar
h. Islam, Perintis Rumah Sakit Jiwa drh. Murniati.M.Si
i. Kedokteran Islam dan Uji Klinis Prof. DR. Ing. Fahmi Amhar

SERPIH 6. MERETAS JALAN SEHAT BERNAUNG SYARIAH

a. Paradigma Kesehatan Islam dr. Iswahyudi


b. Kesehatan: memilah sains teknologi dari konsep peradaban dr. Fauzan Muttaqien
c. Kebijakan Kesehatan Berlandaskan Syariah dr. Muhammad Usman, AFK dan Yahya
Abdurrahman
d. Empat Strategi Regulasi Kesehatan Syariah dr. Iswahyudi
e. Pelayanan Kesehatan Islam vs Kapitalisme dr Nurul Muzayyanah
f. Sistem Jaminan Kesehatan Islam Dwi Condro Triono, Ph.D
g. Sistem Islam Mewujudkan Kesehatan dan Kesejahteraan Ibu dr Nurul Muzayyanah
h. Peran Khilafah Mengatasi DM dan Sindroma Metabolik dr. Mustaqim
i. Kemandirian Industri Obat dalam Negara Khilafah dr. Rini Syafri
SERPIH 1

DARI MEJA PRAKTEK, MENUJU TEGAKNYA ISLAM


MENJADI DOKTER DAN DA’I

Oleh: dr. Yanuar Ariefudin

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menempatkan kesehatan sebagai nikmat yang terbaik
sesudah nikmat keimanan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

“Sesungguhnya manusia tidak diberikan sesuatu yang terbaik sesudah keyakinan (iman) kecuali
kesehatan.” (Musnad Ahmad, Juz 1, Hal. 37).

“Mohonlah kepada Allah keselamatan dan kesehatan. Sesungguhnya tiada sesuatu pemberian
Allah sesudah keyakinan (iman) lebih baik daripada kesehatan” (HR. Ibnu Majah).

Ketika dikarunia nikmat iman dan nikmat sehat, maka sudah sepantasnya amanah tersebut
digunakan hanya untuk perkara-perkara yang menuju kepada ketaatan. Kesehatan menjadi hal
yang istimewa setelah keimanan. Tidak sedikit ulama yang membahas mengenai kesehatan dan
pentingnya menjaga kesehatan.

“Penyakit ada 2 macam,” Tutur Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam Kitabnya Ath-Thibbun Nabawi
“..yakni penyakit hati dan penyakit jasmani. Kedua penyakit itu disebutkan dalam Al-Quran.
Penyakit Hati sendiri terbagi menjadi dua, penyakit syubhat yang disertai keragu-raguan dan
penyakit syahwat yang disertai kesesatan.”

Berkenaan dengan penyakit syubhat, Allah berfirman, “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu
ditambah Allah penyakitnya” (QS. Al-Baqarah: 10) Allah juga berfirman, “Supaya orang-orang
yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), “Apakah yang
dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.”” (QS. Al-Mudatsir: 31)
Semua ayat ini berkaitan dengan penyakit syubhat dan keraguan. Adapun penyakit syahwat,
difirmankan oleh Allah, “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain,
jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah
orang yang ada penyakit dalam hatinya…” (QS. Al-Ahzab: 32). Ayat ini berkenaan dengan
penyakit syahwat zina.
Berkenaan dengan penyakit jasmani, Allah berfirman, “Tidak ada halangan bagi orang buta,
tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit.” (QS. An-Nur: 61).

Demikian penuturan beliau.

Tak ketinggalan dengan Ibnu Qayyim, para ulama lain pun mencurah pikiran demikian besar
dalam hal kesehatan ini. Maka sejarah pun mencatat bahwa dokter mempunyai posisi yang dekat
dengan khalifah :

“Dokter memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat Islam. Mereka menjadi salah satu
orang yang dekat dengan para khalifah dan hakim. Bahkan ada di antara para dokter yang
menjadi menteri yang terpercaya.” (kids.islamweb.net/subjects/eshamatteb.html)

Imam Syafi’i pun berkata,

“Janganlah sekali-kali engkau tinggal di suatu negeri yang tidak ada di sana ulama yang bisa
memberikan fatwa dalam masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang memberitahukan
mengenai keadaan (kesehatan) badanmu.” (Adab Asy-Syafi’i wa manaqibuhu hal. 244, Darul
Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cet. I, 1424 H, Syamilah)

Bahkan beliau berucap sebagaimana yang direkam dalam Siyar A’lam An-Nubala
“Saya tidak mengetahui sebuah ilmu -setelah ilmu halal dan haram- yang lebih berharga selain
ilmu kedokteran, akan tetapi ahli kitab telah mengalahkan kita”

Di halaman lain, masih dalam kitab yang sama,

“Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga ilmu (ilmu kedokteran) dan meyerahkannya kepada
umat Yahudi dan Nasrani.”

Syaikh Muhammad Ast-Syinqitiy rahimahullah berkata menjelaskan perkataan Imam Asy-


Syafi’i, “Mengapa sepertiga ilmu? Karena ilmu syar’i ada dua : (1) ilmu yang berkaitan dengan
keyakinan, dan (2) ilmu yang berkaitan dengan badan dan anggota badan.
Maka menjadi, ilmu dzahir dan ilmu batin. Ilmu tauhid dan cabangnya yang merupakan realisasi
dari tauhid. Maka dua ilmu ini adalah pengobatan ruh dan jasad. Tersisa pengobatan badan dari
bagian ilmu dzahir yaitu ilmu ketiga. Inilah yang dimaksud oleh perkataan Imam Asy-Syafi’i
dari pemahamannya, “Umat Islam telah menyia nyiakan sepertiga ilmu (ilmu kedokteran) dan
meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.”
Yaitu maksudnya butuh terhadap orang Yahudi dan Nashrani (jika ingin berobat, karena tidak
ada/sedikit kaum muslim yang menguasai ilmu kedokteran).” (Durus Syaikh Muhammad Asy-
Syinqitiy)

Hari ini, 90 tahun sejak runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924, ilmu kedokteran
masih berkembang di Barat. Seluruh dunia hampir merujuk ke Amerika dan Eropa dalam hal
perkembangan ilmu kedokteran. Umat Islam, jujur, masih termarjinalkan dalam bidang ini.

Maka hari ini kita menyaksikan kebenaran ucapan sang Imam.

Sahabat, maka saat ini, saat dimana umat sedang berbenah menuju kembalinya syariah dan
khilafah. Menekuni dan menguasai sepertiga ilmu ini menjadi satu hal yang utama. Kala kita
percaya beberapa tahun lagi khilafah tegak, maka kepercayaan itu pun harus dibarengi dengan
kesiapan kita, tenaga kesehatan untuk mengisi ruang-ruang yang masih kosong di sana.

Tentunya bukan untuk menjadi seorang dokter biasa, tapi dokter sekaligus da’i pecinta dan
penegak syariah.

Karena menjadi dokter itu biasa

Menjadi dai pun sudah biasa

Menjadi dokter dan dai itu luar biasa

Menjadi dokter dan dai selevel Ibn Qayyim Al-Jauziyah... itu istimewa.
MENIATKAN IBADAH

Oleh: Ayeesha Fauzia

Pagi tadi selepas visite, saya ngobrol-ngobrol ringan dengan seorang Internist yang selalu
bercelana cingkrang dan berjenggot tipis. Bercerita banyak hal, tentang dirinya yang
diperbantukan di sebuah rumah sakit di Sukabumi selatan yang jumlah pasien di poli rawat
jalannya lebih dari 100 orang dan dia hanya dapat jasa Rp.4000 dari setiap pasien BPJS dan
hampir semua pasiennya adalah BPJS.

“Kalau tidak diniatkan ibadah kita tidak akan dapat apa-apa, umur kita itu tidak akan jauh dari
umur Nabi Muhammad, 63 tahun untuk hitungan hijriyah dan 61 tahun untuk hitungan masehi,
sayang sekali kalau tidak bernilai ibadah, jangan tanyakan kita sudah dapat apa dalam hidup kita,
tapi tanyakan apa kontribusi kita pada dunia ini, pada pemilik alam ini. Kalau hidup hanya
sekedar tidur, bekerja, menikah, membesarkan anak ya udah selesai, kalau bekerja cuma ingin
beli rumah, beli mobil pajero, fortuner, alphard, jalan-jalan keliling dunia, rugi kita…” tuturnya
tersenyum.

“hidup ini cuma sebentar, cuma sekali, kalau orientasinya cuma itu rugi berlipat.” Beliau
melanjutkan. “Pernah denger kan teh hadist yang menceritakan tentang jika seorang muslim
membesuk saudaranya yang sakit, Allah akan mengutus baginya 70.000 malaikat agar
mendoakannya kapan pun di siang hari hingga sore harinya, dan kapan pun di sore hari hingga
pagi harinya? coba hitung aja teh, kita akan didoakan berapa ratus ribu malaikat setiap pagi saat
kita visite, apalagi perawat yang jenguk orang sakitnya pagi, sore, malem, jumlah pasien
dikalikan 70.000 malaikat jadi berapa tuh, kan banyak. Kita kan bukan cuma menjenguk tapi
juga mengobati dan merawat, semoga saja malaikat yang doain kita lebih banyak. Dan kita yakin
saja sama Allah bahwa Allah yang akan mencukupkan rizqi kita di awal ataupun diakhir
kehidupan kita.”

Saya mengangguk-angguk tanda setuju

“Dulu” cerita beliau lagi, “waktu saya masih jadi dokter umum gak kepikiran gini teh, sekarang
saya baru faham, niatkan bekerja selain untuk mendapatkan uang juga niatkan ibadah, jadi kalau
hasilnya gak sesuai dengan keringat yang kita keluarkan kita gak akan kecewa, saya gak pernah
tahu tuh jasa saya berapa, hitung-hitungannya gimana, terima saja, alhamdulillah cukup, yang
penting kan berkah ya teh? Karena kebahagiaan itu gak selalu dinilai dengan banyaknya materi”

Yup, bener banget dok. Kebahagiaan itu tak terukur dengan materi dan apa yang sudah kita
dapatkan dalam hidup kita. Melihat pasien pulang dengan sehat dan mengucapkan terimkasih
saja sudah cukup membahagiakan.

Sungguh indah, bila kita meniatkan kerja kita yang mulia ini semata untuk ibadah. Dalam peluh
dan penat, terkulum ingin besar untuk gapai ridha Allah.

Ah, meski ibadah kita belum setakar para ‘abid yang mulia. Ilmu kita masih jauuuh dari
mumpuninya ulama. Setidaknya ikhlas kita melayani kelak bisa menjadi sedikit pemberat
timbangan yang semoga mencegah jilatan neraka.

…..

Dan siang tadi tiba-tiba ada bapak-bapak yang membawa 360 buah bolu yang dikemas dalam 3
dus besar. Pasien yang akan kontrol ke poli setelah rawat inap seminggu yang lalu. Bukan apa
yang dia bawa yang bikin bahagia tapi melihatnya sehat dan bisa beraktifitas seperti sediakala
adalah salah satu moodbooster saat kita jenuh dengan semua aktifitas dunia kerja.

Allah memberkahi.
MENUA DI INDONESIA

Oleh: dr. Aulia Rahman

Seorang dokter yang tidak ingin disebutkan namanya, bercerita bahwa ada yang berubah dari
jawaban ibu bila ditanya berapa jumlah anak yang diinginkan.

Jika dulu mayoritas hanya akan tersenyum dan tersipu sambil menjawab ‘terserah suami’ atau
jawaban-jawaban senada, maka jawaban yang belakangan kerap dia dapatkan — meski tetap
sambil tersipu, adalah ‘dua anak saja’. Sebagai seorang dokter, hal ini ‘menggembirakan’ karena
bisa jadi program Keluarga Berencana (KB) yang dicanangkan sejak akhir tahun 70-an oleh
Pemerintah, mulai menampakkan hasil.

Benarkah seperti itu?

Ternyata tidak juga. Setidaknya data terakhir total fertility rate (TFR) di Indonesia menunjukkan
data yang berbeda. Di negeri ini, TFR berkisar antara 4.1 dan 5.0, masih cukup tinggi jika
dibandingkan Jepang dengan TFR 1.4, lalu China 1.4, bahkan Korea Selatan lebih rendah yakni
1.2. Rerata negara di Eropa berkisar 1.5. Meski memang negara-negara Afrika masih lebih tinggi
dengan kisaran di atas 5 atau 6.

Begitu juga dengan data dari Badan Pusat Statistik tentang persentase wanita berumur 15-49
tahun dan berstatus kawin yang sedang menggunakan/memakai alat KB, angka totalnya hanya
59.98% pada 2015, bahkan turun dari dua tahun sebelumnya yakni 61.98% dan 61.75% pada
tahun 2013 dan 2014. Dari angka total tersebut sendiri, sebarannya pun tidak merata, tercatat
propinsi Kalimantan Selatan dengan jumlah pemakai KB tertinggi yakni 70.13% dan Papua
terendah dengan tak sampai sepertiga yakni 23.37%. Estimasi jumlah penduduk juga
menunjukkan bahwa hingga tahun 2035, diperkirakan negara ini akan dihuni oleh ±305.652.400
dari jumlah tahun 2015 yakni ±255.461.700.

Jumlah tersebut tentu sebenarnya merupakan sumber daya manusia yang luar biasa jika
diberdayakan dengan baik dan benar oleh Pemerintah. Namun berkaca dari pengalaman
sebelumnya, peningkatan jumlah penduduk ini kerap justru dianggap sebagai masalah karena
tidak diiringi dengan kualitas sumber daya manusia tersebut. Sehingga alih-alih berdaya guna,
generasi tersebut malah jadi beban. Tercatat jumlah penduduk miskin mencapai 10.86% pada
Maret 2016 yang lalu, dan tak sampai setengah dari jumlah penduduk negeri ini yang punya
jaminan kesehatan, yakni sekitar 172.620.269 jiwa saja. Padahal jika ditinjau dari kurva
demografis sebaran usia, Indonesia sebenarnya punya potensi besar dengan lebih dari setengah
jumlah penduduknya masih berusia di bawah 30 tahun, dan hanya sekitar 6-7% berusia di atas 65
tahun ke atas.

Namun sumber daya ini tak akan berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan kesadaran akan
ancaman krisis populasi yang telah melanda beberapa negara maju dengan TFR rendah.
Kebijakan pengendalian kelahiran hendaknya tidak sekedar bertujuan untuk menekan lonjakan
angka penduduk namun lebih kepada penekanan lahirnya generasi-generasi bangsa yang ‘sakit’.
Karena jika tidak, kita akan ikut terjebak dalam krisis kehilangan generasi akibat tak adanya lagi
keinginan untuk memiliki banyak keturunan. Didukung dengan angka harapan hidup yang makin
tinggi, bukan tidak mungkin, masalah yang negara-negara luar tersebut hadapi, akan terjadi di
negeri ini, jika kita tak bijak dalam mengambil langkah pemecahan masalah lonjakan jumlah
penduduk.

Kembali pada pertanyaan semula, dengan derasnya aliran arus liberalisme, hedonisme, dan
sekularisme yang melanda negeri ini, pernikahan memang tak lagi dipandang sebagai sarana
yang sejati untuk meneruskan keturunan dan memenuhi kebutuhan biologis dengan jalan yang
diridhai oleh Allah SWT, melainkan hanya sebagai alternatif tujuan hidup atau sekedar check
point dari berbagai tujuan hidup yang sebagian besar berkisar pada kenikmatan duniawi.
Terlebih saat kini pergaulan semakin bebas, generasi muda sudah tak lagi menginginkan
pernikahan karena mereka telah bisa mendapatkan pemuasan nafsu seksualnya tanpa harus
menikah secara sah.

Selain masalah tersebut, tingginya angka remaja yang melakukan hubungan seksual dini,
kehamilan di luar nikah, aborsi, dan penggunaan obat-obatan terlarang tentu jadi tanda tanya
tentang sejauh mana sebenarnya keberhasilan kita dalam menghasilkan generasi sehat penerus
bangsa.

Di dalam Islam, terdapat banyak ajaran tentang pergaulan laki-laki dan perempuan, misalnya
ajaran pemisahan kehidupan antara laki-laki dan perempuan di luar wilayah umum, maupun
aturan tentang menutup aurat, ini semua mestinya diberikan sejak dini di bingkai pendidikan
dalam keluarga. Jika langkah-langkah seperti ini telah dilaksanakan dengan luas, seharusnya
tidak perlu lagi ada kebingungan tentang kapan pendidikan seks diajarkan, atau tentang pakaian
yang layak digunakan di ruang publik. Begitu pula tentang kesehatan reproduksi, bukankah Nabi
SAW sendiri telah mengajarkan dalam haditsnya bahwa wanita itu biasa dinikahi karena empat
perkara, karena hartanya, karena kemuliaan keturunannya, karena kecantikannya dan karena
agamanya, maka, pilihlah yang beragama, karena kalau tidak niscaya engkau akan merugi” (HR.
Bukhari No. 5090, Muslim No. 1466).

Namun lebih dari itu, kita tahu masalah yang dihadapi bangsa ini lebih dari ‘sekadar’ jumlah
populasi yang melonjak, atau angka kemiskinan yang naik, atau capaian kesehatan yang masih
rendah, namun keterkaitan poin-poin tersebut yang hanya bisa diselesaikan dengan suatu solusi
yang bersifat sistemik pula. Selain pendidikan dan sistem kesehatan yang benar, diperlukan
upaya pencegahan yang tegas dari Pemerintah dalam membendung arus liberalisasi dan
sekularisasi di negeri ini.

Tidak bisa tidak, perlu aturan-aturan yang lebih tepat dalam menyasar akar permasalahan
lonjakan jumlah penduduk di negara ini, bukan sekedar mengurangi angka kelahiran tentunya.
Hingga kelak, seorang dokter tak lagi merasa sungkan untuk ‘menasihati’ kala pasiennya merasa
‘takut’ untuk punya anak lebih dari dua. Hingga nanti, kita semua tidak akan perlu ragu dan
bimbang lagi, untuk sama-sama menua di Indonesia, Bumi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
SINAR X DAN DOSA-DOSA KITA

Oleh: dr. Fauzan Muttaqien

Awas bahaya radiasi!

Begitu bunyi peringatan yang tertera di depan ruangan radiologi. Atau bagi yang bekerja di IGD
dan ICU mungkin telah akrab dengan peringatan dari petugas foto X ray onsite, “X-ray!” maka
seketika perawat dan dokter berlarian berlindung agar tidak terkena paparannya. Bagi yang
bekerja di laboratorium kateterisasi juga rela berberat-berat ria menyandang appron guna
proteksi dari paparan radiasi yang begitu deras di sana.

“Kenapa sih kita cape-cape nyari perlindungan dari sinar X?” cetus saya suatu kali ke seorang
perawat. Kali itu kembali ada pemeriksaan foto thorax onsite di ICU.

“Lha iya dok.. kan bahaya, nanti bisa kena kanker, dan penyakit-penyakit yang lain laah” jawab
dia sekenanya. “Dokter ngetes aja ya?”

“Ooh, nggak..” tolak saya.

“Saya cuma lagi mikir aja,”

“Bukannya kita tidak pernah melihat bentuk dari sinar X tersebut. Kok kita begitu takut?” tanya
saya lagi

“Tapi efeknya jelas kelihatan dok. Teman saya ada yang sering kena paparan sinar X, sekarang
kena kanker lho”

Saya mengernyitkan dahi..

“Mas… kadang kita tak adil ya. Kita buru-buru menghindar ketika ada sinar X kaya gini. Takut
kenapa kenapa. Padahal bentuknya saja tidak jelas, yang kita lihat hanya efeknya.”

“Terus bagaimana dengan paparan dosa yang begitu banyak menghampiri kita setiap harinya?
Bahaya zina mata, bahaya terpapar mendengar ghibah, ngobrol maksiat… kenapa kita tidak
merasa perlu berlari berlindung untuk menghindarinya?” tanya saya retoris.

Si mas perawat hanya mengangguk-angguk.


“Padahal efeknya sangat jelas mas, dosa itu akan menggerogoti iman kita, mengkaratkan hati
kita… dan na’udzubillah.. di akhirat nanti menjadi pemantik jilatan api neraka bila kita tak
kunjung bertaubat” lanjut saya.

“Terus maksudnya gimana dok? Jadi harusnya kalau ada maksiat di depan kita juga harusnya ada
yang teriak-teriak ‘dosa!” terus kita cepat-cepat kabur gitu?” sela dia sambil tersenyum terkekeh.

“Tepat! Harusnya ada sinyal seperti itu. Mengingat betapa bahayanya yang namanya paparan
dosa tersebut. Dan sinyal itu harusnya berbunyi dari dua tempat mas. Dari dalam diri kita yang
berasal dari ketaqwaan sehingga diri kita merasa tidak nyaman ketika ada pajanan dosa. Yang
kedua, dari saudara seiman kita, alarm ini bernama amar makruf nahi munkar” jelas saya.

“Hmm, sayangnya sekarang dua-duanya lebih banyak nggak bunyi…. Akibatnya kita nyantai aja
tatkala mandi radiasi dosa…” pungkas saya seraya berlalu.
MENGUBAH MASYARAKAT ANTARA KONSEP HL BLUM DAN SYAIKH
TAQIYUDDIN AN-NABHANI

Oleh: dr. Yanuar Ariefudin

Ada persamaan antara konsep Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dan HL Blum dalam
menyelesaikan masalah masyarakat. Konsep tersebut sama-sama ditujukan untuk mengubah
masyarakat meskipun keluaran yang ingin dicapai berbeda. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani
menginginkan perubahan masyarakat agar masyarakat mengemban mabda Islam. Sedangkan
H.L. Blum menginginkan perubahan masyarakat agar masyarakat sehat.

Menurut H.L Blum, ada 4 faktor yang bersama-sama mempengaruhi tingkat kesehatan
masyarakat, yaitu: lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan genetik. Di sini tidak akan
dibahas satu persatu, namun yang menjadi titik pembahasan adalah bahwa H.L. Blum
memberikan porsi yang lebih besar terhadap lingkungan dan menjadikan lingkungan sebagai
strata pertama dalam menyelesaikan masalah public health.

Lingkungan menjadi perhatian yang sangat serius untuk mewujudkan masyarakat sehat. Ada
pertanyaan, “Mengapa perubahan lingkungan menjadi poin pertama dan perubahan perilaku
diposisikan sebagai poin kedua?”. Karena lingkungan lebih diperlukan untuk mengubah
masyarakat daripada perilaku individu. Contohnya: jika ada masyarakat dan dilingkungan yang
bersangkutan terdapat pabrik yang mengeluarkan polusi, maka bukan individunya yang dirubah.
Individu tetap dididik untuk hidup sehat sedangkan yang harus ditangani sebetulnya adalah
polusi pabrik itu.

Ada pertanyaan serupa, “Mengapa dakwah kita tidak mengubah individu saja? Mengapa yang
ditekankan mengubah masyarakat? Bukankah ketika mengubah individu nantinya masyarakat
akan baik dengan sendirinya?”

Ternyata perubahan masyarakat tidak sederhana. Jika sistem aturan yang di masyarakat rusak,
maka orang baik pun akan menjadi rusak. Dakwah Islam harus menyeluruh dari mulai aspek
aqidah sampai aspek syariah. Jika dakwah hanya fokus mencetak individu-individu baik, tidak
mustahil akan muncul individu-individu yang jujur, individu-individu yang sabar, individu-
individu yang dermawan, individu-individu yang suka berinfak, berlomba mendirikan balai-balai
pengobatan murah, berlomba mendirikan sekolah-sekolah Islam, akan tetapi individu-individu
tersebut juga bermuamalah ribawi, memiliki asuransi-asuransi yang diharamkan syara’,
mengenakan pakaian-pakaian yang tidak sesuai syara’, ridha dengan demokrasi, dan ridha
berbagai aturan-aturan rusak lainnya. Apakah hal demikian yang diinginkan? Tentu tidak! Oleh
karenanya, mengubah masyarakat selain memperhatikan aspek individu agar berkepribadian
Islam, juga memfokuskan dakwah untuk mengubah aturan masyarakat dari aturan yang telah
nyata kerusakannya kepada aturan syariah.

Itulah pentingnya mengubah masyarakat. Mengubah individu memang perlu, tapi lebih terasa
dampaknya jika yang dirubah adalah masyarakatnya. Maka, mengubah masyarakat tanpa
mengesampingkan perubahan individu, bukan malah mengubah individu dengan
mengesampingkan perubahan masyarakat. Seperti yang kita saksikan saat ini, berbagai gerakan
Ishlahiyah (reformasi) berusaha mengubah individu dengan cara menjadi penasihat dan pemberi
petunjuk yang selalu mengulang-ulang ucapan yang menjemukan tanpa ada pengaruh sedikitpun
pada masyarakat. Nasihatnya itu-itu saja, seolah-olah Islam hanya itu-itu saja.

Anak SD, sudah memahami betul bahwa dirinya anak SD ketika ia mengenakan seragam putih
merah. Ia akan kehilangan jati dirinya jika dia tidak memakai pakaian putih merah. Tidak
percaya? Coba kenakan pakaian anak SD dengan seragam putih biru, dan antarkanlah ia ke
sekolahnya. Apa yang akan terjadi? ia akan nangis dan tidak akan mau masuk sekolah. Itu terjadi
karena ia merasa bahwa dirinya tidak sama dengan yang lain. Perasaan sebelumnya sudah
dibangun pada dirinya bahwa anak SD seragamnya putih merah.

Perubahan yang kita maui ialah perubahan dari individu-individu yang memiliki akhlak baik tadi
juga menghendaki aturan-aturan Islam yang lin diterapkan ke dirinya. Mereka akan berusaha
tidak menyentuh muamalah ribawi, dan berusaha menuntut agar diterapkannya ekonomi syariah.
Begitu juga aturan-aturan yang lain. Masyarakat harus merasa tidak ridha kalau diatur dengan
aturan demokrasi karena mereka adalah seorang muslim dan aturan yang sesuai dengan fitrah
mereka adalah aturan syariah. Merasa tidak ridha jika mereka melihat para muslimah membuka
auratnya di tempat-tempat umum, menuntut untuk ditegakannya hukum syariah, dan lain
sebagainya.
Mengubah masyarakat membutuhkan perubahan lingkungan. Sedangkan lingkungan terikat
dengan kebijakan. Mari dorong masyarakat untuk mengubah dirinya sendiri dan mendoroang
masyarakat agar menuntut perubahan sistem yang rusak ini dengan menjadikan sistem syariah
sebagai aturan negara.

Tiada kemuliaan tanpa Islam,

Tak sempurna Islam tanpa Syariah,

Tak akan tegak Syariah tanpa Daulah Khilafah Rasyidah


TERAPI BUAT NY. S DENGAN DIAGNOSIS CONGESTIVE HEART FAILURE ET
CAUSA MITRAL REGURGITASI SEVERE

Oleh: dr. Fauzan Muttaqien

Kami punya pasien Ny. S usia 33 tahun. Beliau didiagnosis dengan Gagal Jantung Kongestif
disebabkan oleh katup mitral yang tidak bisa menutup dengan sempurna akibat kalsifikasi yang
kemungkinan besar merupakan sekuele demam rematik. Beliau bolak-balik bangsal jantung
sudah sangat sering dengan keluhan yang hampir selalu sama. Bisa dikatakan hampir setiap 2
bulan sekali sejak 2 tahun ini beliau diopname. Keluhannya dulu-dulu awalnya hanya berdebar
akibat atrial fibrilasinya, kemudian meningkat menjadi perut tidak nyaman. Kini keluhannya
sudah semakin meningkat yakni sesak nafas. Biasanya beliau diopname cuma beberapa hari
setelah itu pulang. Karena biasanya cukup dengan pemberian injeksi furosemid beberapa kali
gejalanya sudah berkurang.

Kami rada sebal dengan Ny. S. Bukan apa-apa, ini karena beliau tidak menuruti saran kami
untuk benar-benar mengobati penyakitnya. Terapi obat-obatan jelas tidak menyelesaikan
masalah katup yang dialami dia. Terapi yang tepat buat Ny.S adalah penggantian katup. Oke,
obat-obatan semacam furosemid memang perlu saat ini, dan memang terkesan menyembuhkan
sementara. Tapi lihat saja dalam beberapa saat lagi pasti gejala akan kambuh lagi. “Ayo bu,
operasi ganti katup” begitu desak kami. Tapi berkali-kali dibilang Ny.S tetap ngeyel. “Sudah
enakan kok dok… lagipula saya takut nanti kalo ganti katup… hiiii.. berdarah-darah operasinya”
begitu alasannya.

Hmmm… kami mengangkat bahu. Ini orang keras kepala.

###

Kami punya Palestina, yang sejak 1948 dicaplok Israel…. Secara rutin Israel menyerang,
membunuhi rakyatnya. Palestina dijajah oleh Israel didukung oleh Amerika dan Negara Eropa
disokong penguasa-penguasa banci kaum muslimin.

Setiap beberapa tahun sekali Palestina meriang. Ya, dan hampir setiap saat itu, umat muslimin
turun ke jalan mendemo Israel. Lalu mengirimkan bantuan dana, makanan, pakaian, tempat
tinggal untuk para korban. Setiap serangan itu juga umat Islam menyerukan boikot produk-
produk Israel. Lalu meminta kepada PBB, OKI, Liga Arab untuk berdiskusi menyelesaikannya,
meminta Israel menghentikan serangan kejamnya.

Biasanya serangan berkurang. Sakit meriang mereda. Kondisi kembali seperti semula.

Kami rada sebal dengan pemimpin-pemimpin kaum muslimin. Bukan apa-apa. Karena mereka
tidak menuruti saran kami untuk benar-benar mengobati penyakit Palestina. Terapi yang tepat
buat Palestina adalah berdirinya Khilafah Rasyidah yang akan menghimpun seluruh kekuatan
kaum muslimin untuk melumat Israel laknatullah. Ya, obat-obatan semacam bantuan makanan,
obat, dana, kutukan, boikot memang perlu saat ini dan memang terkesan menyembuhkan
sementara. Tapi lihat saja dalam beberapa saat lagi pasti gejala akan kambuh kembali.

“Ayo dong, tegakkan khilafah” begitu desak kami. Tapi berkali-kali dibilang mereka tetap
ngeyel. “Sudah enakan kok… lagipula saya takut nanti kalau menegakkan khilafah begini begini
begitu begitu…” itulah alasan mereka…

Hmmmm …. Kami mengangkat bahu. Ni orang keras kepala!


DAKWAH KITA, MENYELAMATKAN JIWA DAN IMAN MEREKA

Oleh: dr. Yanuar Ariefudin

Bagi rekan-rekan mahasiswa aktivis dakwah yang baru melepas gelar mahasiswa menjadi
pemegang profesi kesehatan acapkali mengalami dilema. Kegalauan ketika bertemu dengan
medan dakwah yang baru. Beberapa mengalami kesulitan beradaptasi, namun alhamdulillah bisa
bertahan meski terseok-seok dakwahnya. Namun banyak yang lain justru memilih redup, hingga
tak terasa tersingkir dari jalan mulia ini.

Dakwah profesi merupakan dakwah tahap lanjutan dari fase dakwah kampus. Pada fase inilah
idealisme yang dulu terhujam dengan kuat di dada para aktivis dakwah akan diuji. Keimanan
menjadi modal utama untuk merealisasikan pendidikan (tarbiyah) dan persaudaraan (ukhuwah)
di medan dakwah yang sangat berbeda dari medan dakwah kampus yang dulu pernah digeluti.
Baik itu berbeda dari segi lingkungan, budaya, maupun berbeda dari segi individu-individunya.

Yang perlu menjadi titik fokus perjuangan para profesional kesehatan adalah menjadikan
dakwah profesi sebagai lahan untuk mewujudkan Islam dalam tatanan kehidupan bermasyarakat
dan bernegara. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam gerak dakwah profesi untuk
mewujudkannya yaitu :

1. Fokus Bergerak, Bukan Fokus Berdebat

Tidak dapat dipungkiri bahwa selalu ada perbedaan sudut pandang perjuangan untuk
mewujudkan tatanan masyarakat yang menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan
bermasyarakat. Hal ini tidak perlu ditanggapi dengan serius ketika sinergi dakwah difokuskan
untuk menyelamatkan jiwa pasien dan menyelamatkan aqidahnya. Pada kondisi inilah ukhuwah
Islamiyah antar para profesional kesehatan muslim diuji. Serendah-rendahnya ikatan ukhuwah
Islamiyah adalah berbaik sangka (husnuzhan) kepada saudaranya dan setinggi-tingginya ikatan
ukhuwah ialah mengutamakan kepentingan saudaranya (itsar). Lakukan pergerakan dan fokus
untuk bergerak. Hindari perdebatan yang pada akhirnya masalah yang sebetulnya bisa
diselesaikan tepat waktu malah terlambat.
Imam Hasan al-Banna berkata, “Ukhuwah yaitu terikatnya hati-hati dan jiwa-jiwa dengan ikatan
aqidah, dan aqidah merupakan ikatan yang paling kokoh dan paling mahal, dan ukhuwah adalah
saudara keimanan, sementara perpecahan adalah teman dari kekufuran. Kekuatan yang utama
adalah persatuan dan tidak ada persatuan tanpa cinta, dan cinta paling rendah adalah berbaik
sangka, sementara yang paling tinggi adalah itsar”

Maka dari itu, sifat pengemban dakwah seharusnya selalu berlomba-lomba dalam hal kebaikan
(fastabiqul khairat), bukan malah saling menghalangi dakwah saudaranya.

2. Menjaga Rahasia

Mudah sekali seorang pasien memberikan kepercayaan kepada seorang profesional kesehatan
sehingga mereka sangat terbuka kepadanya. Tidak hanya riwayat penyakit yang diteritanya yang
diceritakan, bahkan masalah rumah tangga pun menjadi luapan emosi dari pasien yang sangat
berharap pemecahan solusi dari dokter. Maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk tetap
memegang rahasia-rahasia medis maupun semua keluhan yang bersifat non-medis.

3. Edukasi Sesuai Syariah

Seorang profesional kesehatan muslim dituntut untuk mengetahui hukum-hukum seputar fiqih
kesehatan. Jika pasien mengeluhkan sakitnya, kita harus mempu menjelaskan kepada pasien
makna sakit dan balasan dari Allah bagi yang sabar menerimanya. Menjawab dengan jelas dan
berdasarkan keilmuan ketika ditanya mengenai hukum euthanasia, aborsi, surat keterangan palsu
dan lain sebagainya ketika pasien memaksa agar kita melakukannya. Oleh karena itu, dibutuhkan
bekal pemahaman keislaman yang cukup untuk dapat merealisasikannya.

4. Menghindari Resep Haram

Meskipun ada perbedaan mengenai boleh tidaknya memanfaatkan obat haram dan najis, maka
sudah sepantasnya seorang dokter muslim terutama berusaha sekuat tenaga untuk meresepi obat-
obatan yang halal. Penggunaan obat-obatan halal bertujuan agar umat Islam dapat keluar dari
perbedaan ulama, sebab kaidah fiqih menyebutkan,”Al-Khuruj minal khilaf mustahab.”
Menghindarkan diri dari persoalan khilafiyah adalah sunnah. (Imam Nawawi, Syarah Muslim).

5. Dakwah Profesi Tidak Meniadakan Dakwah Siyasi

Dan terakhir, yang penting ditanamkan. Meskipun berprofesi kesehatan, peran profesional
kesehatan untuk terwujudnya Izzul Islam wal Muslimin sangat dibutuhkan. Ketika Daulah
Islamiyah tegak, maka yang akan menjadi pengambil kebijakan kesehatan di negara khilafah
ialah seorang profesional kesehatan yang memiliki pemahaman siyasah yang baik.

Berdakwah dari aqidah sampai khilafah bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan oleh
seorang profesional kesehatan. Allah memberikan syariat ini kepada manusia yang sudah pasti
syariat tersebut dapat direalisasikan oleh manusia. Jika dakwah tentang khilafah diabaikan, maka
akan lepaslah ikatan-ikatan syariat yang lain. Rasulullah bersabda, “Ikatan-ikatan Islam akan
lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya.
Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan, dan yang terakhir lepas adalah
shalat.” (HR. Ahmad)

Seorang profesional kesehatan sudah selayaknya memiliki kepribadian yang khas. Kepribadian
Islami yang terpancar dari akidah Islam. Kepribadian inilah yang nantinya akan membentuk pola
sikap Islami (nafsiyah Islamiyah). Dengan bekal aqidah Islamiyah maka kita harus memiliki
fokus perjuangan hanya untuk Allah. Tiada terlewat sehembus nafas pun yang keluar kecuali
untuk berjuang lillaah. Sesungguhnya kesehatan adalah nikmat tertinggi setelah nikmat Iman.
Maka kita harus cerdas mengambil peran ini.

Peran profesional kesehatan sangat penting dalam mewujudkan masyarakat yang beriman dan
sehat. Maka sudah seharusnya dokter memiliki 2 tugas utama, yaitu selamatkan aqidahnya dan
selamatkan jiwanya.

Bahan Bacaan:

1. GAMAIS ITB. 2007. Risalah Manajemen Dakwah Kampus.


2. Hasan al-Banna. 10 Muwashofat Muslim. Al-ikhwan.net
3. Muhammad Mahdi Akif. 2009. Hakikat Ukhuwah. Al-ikhwan.net
4. Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah. 2004. HTI Press. Jakarta
5. Taqiyuddin an-Nabhani. 2008. Syakhsiyyah Islamiyah. HTI Press. Jakarta.
6. Dr. dr. Rofiq Anwar, Sp. PA. 2009. Dakwah Islam. FK Universitas Islam Sultan Agung.
Semarang
POLEMIK THIBBUN NUBUWWAH VERSUS KEDOKTERAN BARAT

Oleh: dr. Fauzan Muttaqien

Bila dulu dunia kesehatan Barat berselubung mistik dan hal-hal yang tidak logis ketika dunia
kesehatan Islam sedang digdaya. Sekarang ketika Barat unggul dengan kemajuan teknologi
kesehatannya, entah kenapa sebagian kaum muslim justru mengumandangkan keantiannya
terhadap produk teknologi kesehatan Barat. Mereka kemudian dengan bangga mengusung madu,
jintan hitam, bekam dan ruqyah sebagai obat segala penyakit. Kemudian tanpa dasar ilmu yang
mendalam menolak pengobatan-pengobatan berbau Barat seperti obat-obatan kimia, antibiotik,
kemoterapi, atau vaksinasi dengan alasan berbau kimia dan ‘bukan cara nabi’. Akibatnya umat
Islam seperti membentengi diri dari kemajuan teknologi kesehatan. Padahal, para pendahulu kita
seperti Ibnu Sina dan kawan-kawan telah mendobrak itu dengan membangun pondasi sains
teknologi kesehatan yang berkembang saat ini. Mereka telah jauh berangkat dari sekedar
teknologi madu dan bekam. Berdiri di atas pondasi yang mereka buat kini bangunan mewah
menjulang tinggi. Namun sayangnya, kita cucu-cucunya malah memilih menjauh tinggal di
gubuk sederhana atau gua-gua gelap berlabelkan kesehatan ala tradisional.

Abu Umar Basyier dalam bukunya berjudul Kedokteran Nabi, antara Realitas dan Kebohongan
mengungkapkan ada kesalahan sebagian besar masyarakat Islam dalam memaknai thibbun
nabawi. Pengobatan nabi jelas bukanlah madu dan jintan hitam atau bekam dan ruqyah.
Kesemuanya hanyalah komoditas yang dipuji nabi sebagai obat berbagai jenis penyakit saat itu.
Bukan berarti nabi kemudian menafikan jenis-jenis pengobatan yang lain. Pengobatan nabi
sebenarnya adalah metodologi pengobatan, bukan sekedar kumpulan dari jenis-jenis produk yang
saat ini diklaim sebagai simbol pengobatan nabi. Pengobatan nabi meliputi metodologi yang
bermakna kompleks, upaya terapi, kaidah-kaidah dan formula medis yang dapat dikembangkan
secara luas dari masa ke masa disertai adab dan etika dalam pengobatan.

Kedokteran nabi juga tidak anti terhadap terapi dan obat-obatan modern. Nabi sendiri pernah
menerima kehadiran ahli medis dari Persia yang sengaja melakukan praktik pengobatan di antara
para sahabat. Itu artinya beliau tidak antipati terhadap kedokteran Persia yang kala itu tergolong
mutakhir dan termodern.

Lalu sebagian kalangan muslim kemudian berhujjah: apakah thibbun nabawi yang berdasarkan
hadits yang kalian pilih atau kedokteran dari Barat yang jelas-jelas dari orang kafir?

Menghadapi polemik ini semestinya kita memberi batas yang tegas. Taqiyuddin anNabhani
dalam Peraturan Hidup dalam Islam menegaskan penting bagi kita untuk membedakan yang
mana yang termasuk hadharah atau bentuk peradaban yang tidak boleh diambil kecuali dari
Islam dan yang mana termasuk madaniyyah atau bentuk fisik yang boleh diambil dari manapun
selama tidak khas berhubungan dengan hadharah tertentu.

Allah telah mengharamkan umat Islam mengambil sistem atau aturan manapun selain Islam
dalam rangka memecahkan setiap problematika hidup mereka. Allah juga telah mengharamkan
umat Islam untuk berhukum kepada selain hukum Islam. Firman Allah SWT:
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan
kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara-perkara yang mereka perselisihkan” (TQS.
an-Nisa 65)

Sabda Rasul saw :

“Setiap perkara yang tidak berasal dari perintah kami maka hal itu tertolak” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, kita tidak boleh mengambil sedikitpun, segala sesuatu yang berasal dari
peradaban Barat.

Akan tetapi bila kita berbicara sains dan teknologi maka hal ini bersifat universal. Dengan
demikian apapun yang lahir dari sains, baik berupa penemuan-penemuan baru, industri, dan
segala bentuk materi/ fisik, hal itu tidak lahir dari sebuah sudut pandang tertentu kehidupan. Ia
lahir dari kecerdasan akal, melalui suatu proses eksperimen, pengamatan, dan penarikan
kesimpulan. Oleh karena itu, Islam telah membolehkan umatnya untuk mengambil sains dari
manapun sumbernya, apakah dari Barat ataupun Timur. Sebab, hal itu termasuk apa-apa yang
telah ditundukkan Allah untuk manusia. Firman Allah SWT : “Dia menundukkan untukmu apa
yang ada di langit dan di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya” (TQS. al-Jatsiyah 13)

Rasulullah juga bersabda “Antum a’lamu umuri dunyakum” – Kalian lebih tahu urusan dunia
kalian. Hadits ini sekalipun munculnya terkait dengan teknik pertanian, namun dipahami oleh
generasi Muslim terdahulu juga berlaku untuk teknik pengobatan. Dengan demikian, kita boleh
saja mengambil ilmu dari Barat seperti matematika, atom, industri, termasuk dalam bidang
kesehatan.
OBAT KIMIA SINTETIS FEATURING HERBAL

Oleh: Khafidoh Kurniasih, S.Farm, Apt

Tulisan ini sengaja saya beri judul “obat kimia sintetis featuring herbal” bukan “obat kimia
sintetis versus herbal” karena menurut saya keduanya bisa berjalan seiringan bahkan bisa saling
mendorong perkembangan masing–masing. Kemajuan teknologi pengembangan obat kimia
sintetis seharusnya bisa juga mendorong eksplorasi herbal, pun sebaliknya semakin banyak info
tentang herbal berkhasiat sangat berpotensi memacu perkembangan teknologi obat kimia sintetis.
Keduanya tak perlu dibenturkan meski banyak pihak yang berupaya membenturkan keduanya
dengan berbagai macam alasan. Ada yang berniat mulia lagi dilandasi semangat beragama yang
berapi–api tapi —mohon maaf—kurang ilmu. Ada pula yang dilandasi keserakahan, ingin
mengeruk keuntungan bisnis sebesar–besarnya dengan memanfaatkan “emosi” dan sentiment
masyarakat. Ada pula yang terlalu memandang sebelah mata para ilmuwan yang
mengembangkan obat yang tidak sama dengan obat yang dia minati. Mereka yang “jatuh cinta”
pada herbal menganggap para ilmuwan yang mengembangkan—dan tentu saja
mempromosikan—obat kimia sintetis sebagai ilmuwan yang sudah “terbeli”, malah ada yang
“lebay” dengan menyebutnya sebagai “antek Yahudi”. Sedangkan mereka yang apatis terhadap
perkembangan herbal, memandang para ilmuwan yang mengkampanyekan herbal sebagai orang
yang berbicara tanpa kompetensi—karena mengambil segelintir contoh herbalis yang memang
sama sekali tidak punya background medis lalu mengeneralisasikannya—.

Belakangan ini upaya mempertentangkan penggunaan obat kimia sintetis dan herbal tampaknya
semakin menjadi–jadi. Bahkan rasanya tidak berlebihan jika saya menyebut ada semacam black
campaign terhadap penggunaan obat kimia sintetis di satu sisi dan kampanye berlebihan terhadap
penggunaan herbal. Ada banyak isu yang dilontarkan dalam “pertarungan” ini, dua di antaranya
yang paling memprihatinkan adalah klaim bahwa herbal adalah sunnah Rasul sedangkan
penggunaan obat kimia sintetis tidak sesuai dengan sunnah Rasul. Sebagai seorang Muslimah
farmasis saya sedih tapi sekaligus ingin tertawa. Selain isu sunnah Rasul, ada juga isu tentang
efek samping. Beredar opini di tengah masyarakat bahwa obat kimia sintetis itu berbahaya, efek
sampingnya besar, bahkan bisa menimbulkan berbagai macam penyakit parah sedangkan herbal
aman, tanpa efek samping. Benarkah?

Terkait dengan sunnah Rasul, memang benar ada hadits yang intinya menyatakan bahwa
habatussauda adalah obat segala penyakit kecuali maut. Tapi apakah iya hadits itu berarti
menafikkan seluruh obat selain habatus sauda? Apakah ulama’ dan para ahli hadits lantas
menafsirkannya dengan menganggap berobat dengan selain habatus sauda menyalahi sunnah?
Nyatanya tidak kan? Kaum Muslimin sejak zaman Rasulullah senantiasa berupaya
mengembangkan metode pengobatan dan tidak berpuas diri dengan habatus sauda. Bukankah
kita mengenal Asy Syifa’ seorang shahabiyah yang juga pakar di bidang pengobatan? Bukankah
pada era keemasan Islam pun berkembang pesat ilmu kedokteran dan farmasi?

Rasanya saya koq sepakat dengan pendapat Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar, seorang scientist yang
insya Allah faqih fiddin. Dalam sebuah forum di pondok pesantren Panatagama Junior
(Potorono) Yogyakarta beliau menjelaskan bahwa ilmuwan Islam memposisikan hadits tentang
habatus sauda bukan sebagai “pagar” yang membatasi obat sebatas habatus sauda saja. Ilmuwan
Muslim memposisikan hadits tersebut sebagai hint sekaligus motivasi. Hint bahwa ada sesuatu
yang menarik dalam habatus sauda yang harus dikaji. Motivasi untuk menguak “misteri”
kandungan habatus sauda. Bukan lantas menjadikan habatus sauda sebagai obat sakti yang
menjadi andalan dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Terkait masalah efek samping, iya benar jika dikatakan bahwa obat kimia sintetis menimbulkan
efek samping. Bahkan bukan hanya efek samping, obat sintetis kimia bahkan berpotensi
menimbulkan adverse effect atau Adverse Drug Reaction (ADR) alias efek berbahaya bagi tubuh
jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama. Itu adalah fakta, bukan sekadar opini dan tidak perlu
disangkal.

Tetapi jangan salah…. Obat herbal pun tetap berpotensi menimbulkan side effect dan ADR yang
tidak kalah besarnya dengan obat kimia sintetis. Bahkan mungkin bisa menimbulkan ADR yang
lebih besar.

Mungkin ada yang kemudian bertanya “Benar kah? Mana buktinya? Mana datanya? Bukankah
selama ini yang banyak didapatkan adalah data tentang ADR yang ditimbulkan oleh obat kimia
sintetis? Ada yang menyebabkan kerusakan liver, ada yang merusak ginjal, ada yang
menyebabkan iritasi saluran cerna, kecacatan janin, dll. Semua yang dilaporkan itu adalah ADR
dari obat kimia sintetis. Tidak ada data ADR yang ditimbulkan oleh obat herbal?!”

Maka jawabannya adalah: Benar, data–data tersebut lebih banyak didapatkan dari penggunaan
obat kimia sintetis, bukan dari penggunaan obat herbal. Hal itu karena dalam pengembangan
obat kimia sintetis dilakukan kontrol yang sangat ketat. Sebelum suatu obat kimia sintetis
diluncurkan ke pasar, terlebih dahulu harus diketahui efek utama (khasiat)nya, dosis terapinya,
efek samping serta ADRnya (kajian toksisitas). Selanjutnya, setelah obat diluncurkan ke pasar
peredaran obat diawasi dengan ketat di bawah pengawasan dokter (dalam artian diresepkan oleh
dokter) dan Apoteker (obat hanya bisa dibeli di Apotek). Dengan mekanisme seperti ini dokter
dan Apotek mengetahui –secara kasar—siapa saja yang mengkonsumsi obat tersebut sehingga
perkembangan pasien setelah mengkonsumsi obat tersebut dapat dimonitor. Apakah pasien
menjadi sembuh, mengalami keluhan seperti apa, atau malah mengalami penyakit lain yang lebih
berbahaya dari penyakit sebelumnya. Dari sinilah bisa didapatkan data tentang ADR obat kimia
sintetis.

Bagaimana dengan obat herbal? Sayang sekali… pengawasan obat herbal tidak seketat obat
kimia sintetis. Seringkali penelitian herbal baru sebatas didapatkan kesimpulan “Herbal X
terbukti memiliki efek (khasiat) ini dan itu”, sama sekali belum ada kajian tentang efek samping
dan ADR, bahkan kajian tentang dosis terapinya pun belum tapi sudah sudah dilempar ke pasar.
Di pasaran, pengawasannya juga lemah. Hanya berbekal data “Herbal X terbukti memiliki efek
(khasiat) ini dan itu”sudah dipromosikan habis–habisan. Di jual bebas di akhawat–akhawat
pengajian, di toko jilbab, toko buku, toko roti, dll yang penjualnya tidak mengetahui siapa saja
konsumennya. Nah, kalau peredarannya seperti itu, bagamana bisa mendapatkan data ADR dari
penggunaan obat herbal?

Obat Kimia Sintetis versus Herbal?

Saya tidak anti herbal, pun saya tidak memandang herbal sebelah mata. Bahkan saya mendukung
eksplorasi herbal, apalagi herbal lokal. Sungguh, majunya eksplorasi herbal lokal adalah salah
satu impian saya demi kemandirian bangsa dalam bidang kesehatan. Hanya saja saya sering kali
sedih menyaksikan promosi herbal yang berlebihan dan bahkan sering kali tidak rasional. Klaim
100% aman, tanpa efek samping, bebas bahan kimia (bingung juga emangnya yang disebut
“bahan kimia” itu apa ya? Bukankah air juga bahan kimia dengan rumus molekul H2O?), serta
berbagai testimoni yang bombastis layaknya keajaiban.

Seperti kata pepatah, tak mungkin ada asap jika tak ada api. Tak mungkin ada “peperangan”
antara herbal dan obat kimia sintetis jika tidak ada pemicunya. Lantas, apakah pemicunya?
Banyak hal yang menjadi pemicu “pertarungan” ini, beberapa di antaranya:

1. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang obat. Sering kali pasien menerima obat
tanpa informasi apa pun selain aturan pakai, itu pun tidak lengkap. Hanya sekadar
“Diminum 3 x sehari 1 tablet”. Mungkin ada sedikit tambahan info untuk antibiotik
“Diminum sampai habis”. Selebihnya, tidak ada informasi apa pun. Bahkan tidak jarang
kemasan obat pun tidak ada sehingga pasien tidak bisa mencari tahu obat apa yang dia
terima (kecuali beberapa pasien cerdas dan punya akses untuk menanyakannya ke dokter
atau Apoteker). Minimnya informasi tentang obat membuat pasien tidak mengerti betul
kenapa dia harus meminum obat yang ini, bukan yang itu. Seolah–olah ketika pasien
meminum obat seperti meminum sesuatu yang tidak dia ketahui tapi “dipaksakan” oleh
dokter untuk diminum. Hal ini membuat pasien atau keluarga pasien mudah percaya jika
dihembuskan isu negatif tentang obat maupun tentang tenaga kesehatan yang
memberikan obat. Pasien yang penasaran dengan obat yang ia terima tetapi tidak
mengerti jalur yang benar untuk mengetahui informasi tentang obat (karena dokter hanya
memberikan resep tanpa menjelaskan obat apa yang ia resepkan sedangkan Apoteker
entah ke mana, Apotek terkesan hanya sebagai tempat transaksi obat, bukan tempat
konsultasi), mencoba mencari informasi tentang obat kepada teman–teman atau
tetangganya yang sama–sama tidak tahu. Atau ada juga yang mencoba bertanya pada
Mbah Google. Eh, ternyata lebih banyak ketemu artikel–artikel yang mengulas sisi
negatif obat secara tidak proporsional karena biasanya nyasar ke blog–blog pribadi atau
komunitas yang cenderung subjektif.
2. Kondisi ini diperparah dengan carut–marutnya sistem kesehatan negeri ini. Pelayanan
kesehatan yang berdasarkan prinsip kapitalisme membuat kesehatan menjadi salah satu
kebutuhan pokok masyarakat yang sulit dijangkau karena mahalnya. Dan komponen
terbesar penentu harga pelayanan kesehatan adalah harga obat. Di tengah kondisi seperti
ini, orang–orang yang jeli melihat peluang bisnis menawarkan obat herbal. Mereka
benar–benar pandai mengolah emosi masyarakat. Ketika masyarakat mengeluhkan
mahalnya harga obat, mereka menawarkan herbal dengan harga yang murah. Ketika
masyarakat dihantui kecemasan terhadap efek samping obat—yang informasinya didapat
dari sumber antah berantah—mereka mempromosikan herbal dengan testimoni–testimoni
bombastis, tanpa efek samping! Maka lengkap sudah alasan bagi masyarakat untuk
mengatakan “Katakan ‘tidak’ pada obat kimia. Katakan ‘ya’ pada herbal!”.

Saya tidak memusuhi herbal, bahkan sebaliknya. Saya sangat mendukung pengembangan herbal,
terutama herbal lokal. Herbal yang tumbuh di negeri ini karena dengannya insya Allah kita bisa
membangun independensi bangsa dalam bidang kesehatan. Independensi yang mutlak sangat kita
perlukan jika kelak–insya Allah—Khilafah ini bermula di sini. Independensi yang akan
menghapus kekhawatiran kita atas ancaman embargo bahan baku obat—jika kelak Daulah
Khilafah yang dijanjikan, bermula di sini dan mengundang murka Negara–Negara lain di
dunia—. Kita tidak perlu mengkhawatirkan hal itu karena kita bisa memproduksi obat sendiri
karena bahan bakunya bisa kita panen dari tanah kita sendiri. Pengembangan herbal itulah yang
kita perlukan, bukan sekadar promosi herbal! Mari kita kembangkan herbal apa saja yang
berpotensi, kaji efek utamanya, kaji dosisnya, kaji toksisitasnya, kembangkan bentuk sediaannya,
dan seterusnya. Setelah itu, mari promosikan herbal secara proporsional dengan promosi yang
mencerdaskan masyarakat. Bukan dengan promosi yang seolah menjanjikan angin surga bagi
pasien, seolah semuanya indah, semuanya baik.
SERPIH 2

SIFILIS, SEPILIS, AIDS, DAN LIBERALISASI


KESEHATAN
“SIFILIS” DAN “SEPILIS” DARI SUDUT PANDANG KESEHATAN KOMUNITAS

Oleh: Reza Wiguna, S.Kep, Ns

Sifilis dan Sepilis. Dua penyakit yang sama-sama mengancam. Yang pertama sifilis, suatu
penyakit komunitas yang di awam dikenal juga sebagai si raja singa. Sementara Sepilis
merupakan akronim dari sekularisme, pluralisme, dan liberalisme, penyakit komunitas yang tak
kalah berbahayanya. Namun yang mana di antara keduanya yang lebih berbahaya? Tulisan ini
mencoba melakukan analisa dari sudut pandang kesehatan komunitas.

Sifilis merupakan penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri spiroset
treponema pallidum. Penularannya melalui kontak seksual, dan bisa menyebar melalui pajanan
cairan tubuh penderitanya misalnya melalui darah, infeksi ini juga dapat ditularkan dari ibu ke
janin selama kehamilan atau saat kelahiran. Orang yang telah terinfeksi penyakit sifilis umumnya
tidak akan merasakan gejala selama bertahun-tahun. Sehingga mereka yang terkena sifilis,
banyak yang tidak meyadari bahwa dirinya telah terinfeksi penyakit sifilis. Gejala umum yaitu
terdapat perlukaan atau dikenal dengan istilah “chancre” dapat ditemukan dimana saja tetapi
paling sering di alat kelamin. Perjalanan penyakit ini cenderung kronis dan bersifat sistemik.

Ancaman epidemisnya juga tidak main-main. Sifilis dalam penelitian Stamm, 2010. Disebutkan
telah menginfeksi 12 juta orang pada tahun 1999, dengan lebih dari 90% kasus terjadi di negara
berkembang. Penyakit ini memengaruhi 1,6 juta kehamilan setiap tahunnya, mengakibatkan
aborsi mendadak, dan kematian janin dalam kandungan.

Namun, dengan kemajuan pengobatan dan ‘kesadaran’ penggunaan kondom, jumlah penderita
sifilis ini sudah menurun di dekade ini. Bahkan, saat ini sudah mulai langka pasien berobat
dengan penyakit sifilis.

Namun bagaimana dengan wabah sepilis?


Sepilis adalah trilogi penyakit yang meliputi sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Ketiganya
adalah paket yang tidak bisa dipisahkan. Sekulerisme adalah sebuah pemahaman yang
memisahkan agama dari kehidupan. Di tengah kehidupan saat ini perlu diketahui bahwa paham
sekulerisme bukan melarang adanya agama, melainkan agama harus dipisah dari aturan
kehidupan. Lalu Pluralisme merupakan paham yang mendoktrinkan bahwa kebenaran itu
bersifat relatif, dimana pandangan ini menyatakan semua agama adalah sama. Sedangkan
Liberalisme merupakan sebuah pandangan yang didasarkan pada kebebasan dan persamaan
adalah yang utama. Secara umum, liberalisme dicirikan oleh kebebasan berpikir.

Sepilis merupakan wabah yang tidak hanya menginvasi fisik saja. Dia adalah infeksi yang telah
lama menjangkit kehidupan ummat manusia, dan uniknya penyakit jenis ini seringkali
asimptomatik pada awal serangannya, sehingga banyak masyarakat tertipu, tidak sadar dan
tenang-tenang saja kala terinfeksinya.

Dimana letak ancaman dan bahayanya? apa yang menyebabkan “sepilis” bisa menimbulkan
sesuatu yang bersifat endemis merugikan masyarakat?

Jika penyakit sifilis menyerang kelompok dalam lingkup yang lebih kecil, hal itu berbeda dengan
sepilis yang wabahnya multidimensional. Kita bisa melihat secara luas dan nyata di sekitar kita.
Begitu berjejalnya kerusakan yang kita lihat. Jutaan kasus aborsi, peningkatan kasus narkoba,
rusaknya keharmonisan keluarga, ribuan anak – anak terlantar, eksploitasi perempuan, kejahatan
seksual, dan sebagainya. Instabilitas ekonomi, penguasaan sumber daya alam oleh segelintir
orang, budaya korupsi yang mewabah, kerusakan lingkungan, ketidakadilan yang menimpa
umat islam serta penistaan agama adalah bukti nyata dari kerusakan dan kerugian penyakit
tersebut.

Berdasarkan survei Gallup belum lama ini menunjukkan 50 persen rakyat Amerika Serikat
mendukung legalisasi perkawinan sesama jenis. Meningkatnya penderita HIV/AIDS tidak
menghentikan preferensi terhadap hubungan homoseksual. Padahal di AS sekitar 1,2 juta dari
total populasi terinfeksi HIV pada tahun 2011. Yang mengenaskan, data 2009 menyebutkan
sekitar 4.000 anak-anak terjangkit virus AIDS melalui penularan dari ibu-anak. Seks bebas di
Amerika Serikat saja, sejak 1973 sampai 2002, seks bebas telah mengakibatkan 42 juta aborsi
atau 4.000 perhari. Sedangkan di Indonesia dilaporkan dalam laman antaranews.com lebih parah
lagi, aborsi terjadi 2,5 juta jiwa/tahun. Jumlah ini lebih banyak dari total korban perang Perang
dunia II (407.316 jiwa) + Perang Dunia I (116.708 jiwa).

Dan kita harus jujur mengatakan, semua yang terjadi di atas hanyalah kumpulan simptom yang
datang belakangan sebagai hasil dari sepilis yang sebelumnya di masa inkubasinya asimptomatis.
Dan kini gejala kesakitannya telah menjelma menjadi sebuah ledakan.

Wabah sepilis sudah lama menyebar di masyarakat. Namun sayangnya diagnosisnya boleh
dikatakan terlambat. Diagnosis penyakit ini baru berhasil ditegakkan di kala penyakit ini sudah
terlanjur mengganas. Di Indonesia, sebagai sebuah komunitas yang terjangkiti wabah ini, sepilis
telah lama bersarang, namun tegaknya diagnosis ini boleh dikatakan terlambat. Dalam Munas ke
VII tahun 2005, MUI mengeluarkan fatwa haramnya penyakit tersebut. Ya, kita menyambut
gembira, MUI telah memberikan resep untuk menghancurkan sepilis hingga ke etiologinya.
Sayang, resep itu dianggurkan saja oleh negara sebagai pengidap penyakit. Negara lebih rela
menggunakan terapi dari ‘dukun-dukun palsu’.

Padahal Allah, sang pemilik semesta telah jauh-jauh hari menegaskan ancaman bagi orang yang
tidak mau menggunakan terapi dari-Nya:

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan terima
(agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (QS. Ali Imran
[3]: 85).

Spiral kemunduran berputar semakin cepat, terapi yang tidak berdasarkan evidence based hanya
akan mengakibatkan tingkat morbiditas semakin lama semakin tinggi. Umat ini harus segera
disadarkan. bahwa kehidupan saat ini sedang terinfeksi paham “sepilis”. Sudahlah, mari beralih
ke terapi yang sudah terbukti dan teruji secara klinis, yakni kembali pada tatanan kehidupan yang
didasarkan pada islam. Sebab, dengan serangkaian sistem kehidupanya, Islam merupakan solusi
bagi seluruh problematika dan penyakit kehidupan manusia. Wallahu A’lam.
KESPRO, PROYEK LIBERALISASI DI BIDANG KESEHATAN

Oleh: dr. Faizatul Rosyidah

”Kolonialisme lama hanya merampas tanah, sedangkan kolonialisasi baru merampas seluruh
kehidupan.” (Vandana Shiva)

Berbeda dengan kolonialisme Eropa sebelum Perang Dunia I yang hanya merampas tanah dan
bahan baku industri, kolonialisme gaya baru yang dipromotori para kapitalis neoliberal
merampas seluruh kehidupan umat manusia. Di Indonesia liberalisasi masuk ke seluruh aspek
kehidupan melalui pintu-pintu sistem politik dan pemerintahan, perundang-undangan,
pendidikan serta media massa.

Bidang kesehatan pun tak luput dari bidikan liberalisasi ini. Atas nama kesehatan reproduksi,
mengalirlah pemikiran-pemikiran (liberal) berbahaya ke tengah-tengah masyarakat.

Kesehatan reproduksi (kespro) diartikan sebagai suatu keadaan utuh secara fisik, mental, dan
sosial dari penyakit dan kecacatan dalam semua hal yang berhubungan dengan sistem, fungsi,
dan proses reproduksi. Sehat secara fisik, mental, dan sosial suatu masyarakat tentu saja
dipengaruhi oleh sudut pandang kehidupan (ideologi). Dalam ideologi Barat, aborsi dipandang
sebagai satu upaya untuk mewujudkan kesehatan secara mental dan sosial. Mengapa demikian?
Sebab, seorang perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan (KTD) merasakan
ketidaknyamanan dalam hidupnya. Apalagi jika perempuan merasa bersalah dan tertekan akibat
pandangan negatif masyarakat kepadanya. Oleh karena itu, KTD harus dihilangkan dengan jalan
aborsi yang legal dan aman. Akibatnya, legalisasi aborsi menjadi satu bahasan penting dalam isu
kespro. Mereka cenderung mengabaikan faktor penyebab timbulnya KTD, yang sebagian besar
disebabkan oleh seks bebas. Seks bebas sendiri yang menjadi penyebab KTD tidak diurusi
karena telah menjadi gaya hidup dan bagian dari kebebasan berperilaku yang mereka anut.

Definisi kespro tersebut pertama kali diluncurkan pada tahun 1994 dalam sebuah konferensi
internasional yang membahas populasi penduduk dunia dan pembangunan di Kairo, Mesir.
Dalam rencana aksi konferensi tersebut dan juga dalam rencana aksi Konferensi Dunia tentang
Perempuan IV satu tahun kemudian (Beijing, 1995), perempuan diakui memiliki empat macam
hak dasar:

1. Hak untuk mendapatkan standar tertinggi kesehatan reproduksi dan seksual.


2. Hak untuk membuat keputusan yang berkenaan dengan kebebasan reproduksi yang bebas
dari paksaan, diskriminasi, dan kekerasan.
3. Hak untuk bebas memutuskan jumlah dan jarak kelahiran anak-anak serta hak untuk
memperoleh informasi sekaligus sarananya
4. Hak untuk mendapatkan kepuasan dan keamanan hubungan seks.

Keempat hak tersebut dirumuskan di atas landasan pemikiran feminis yang lahir dari ide sekular-
liberal. Dengan prinsip dasar hak asasi individu, hak untuk menentukan nasib sendiri, serta
integritas dan kepemilikan tubuhnya sendiri, perempuan bebas mengambil keputusan untuk
melakukan apapun yang terkait dengan reproduksi seksualnya. Ketika perempuan memilih untuk
melakukan hubungan seksual dengan siapapun tanpa ikatan perkawinan, misalnya, hal itu
dianggap sah-sah saja karena ia sendiri yang menentukan pilihannya. Hubungan ini diakui
karena dilakukan tidak atas dasar paksaan, diskriminasi, dan kekerasan; asalkan mereka
bertanggung jawab atas pilihannya. Agar hubungan ilegal ini aman (bebas dari infeksi
HIV/AIDS), pelaku seks bebas (umumnya remaja) diberi akses besar terhadap alat kontrasepsi.
Pemberian akses ini pada hakikatnya memberi ruang yang lebih luas bagi perilaku seks bebas.
Jika seks bebas telah menjadi pilihan, manusia tidak lagi memilih ikatan perkawinan sebagai
sarana menyalurkan keinginan seksual. Ikatan perkawinan dianggap beban karena laki-laki dan
perempuan memiliki tanggung jawab besar terhadap anak. Dalam seks bebas tidak ada
konsekuensi perempuan untuk hamil, melahirkan, menyusui, dan mendidik anaknya. Kalaupun
hamil, agar sehat secara mental ia boleh melakukan aborsi.

Di sisi lain, dalam suasana kehidupan kapitalis, perempuan didorong untuk meraih materi dengan
bekerja. Rumah tangga dan seluk-beluknya dianggap menjadi rintangan untuk meraih sukses
dalam karir. Akibatnya, perempuan memilih tidak menikah dan untuk menyalurkan keinginan
seksualnya ia melakukan hubungan seks tanpa ikatan perkawinan.

Begitupun laki-laki, dengan seks bebas ia tidak terikat untuk membiayai kehidupan istri dan
anaknya. Ia bisa beralih pada perempuan manapun saat ia bosan dengan satu perempuan. Kondisi
ini sudah terjadi pada masyarakat Barat yang menganut ideologi sekular-liberal. Saat ini mereka
terancam kepunahan generasi akibat masyarakatnya enggan untuk menikah, hamil, dan
berketurunan. Inilah dampak dari adanya seks bebas: institusi keluarga terancam hancur,
generasi akan punah, dan yang tersisa adalah generasi pesakitan yang sedang menanti datangnya
ajal. Di beberapa negera Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Swiss, pemerintah mereka memberi
penghargaan kepada pasangan yang menikah dan melahirkan anak, karena jumlah pertumbuhan
penduduk mereka mengalami penurunan yang signifikan.

Dari uraian di atas tampak jelas bahwa konsep kespro dimaksudkan untuk melegalkan seks bebas
yang akan menghancurkan institusi keluarga dan mengancam lestarinya generasi manusia.
Kondisi seperti inilah yang mereka (Barat) hendak berlakukan terhadap negeri-negeri kaum
Muslim melalui konsep kespro, yang digagas pada pertemuan kependudukan dan pembangunan
tingkat dunia di Kairo.

Sangat jelas, even ini penuh dengan konspirasi menghancurkan negeri-negeri Muslim. Ini terihat
dari perubahan paradigma pendekatan demografi yang berkedok menyelesaikan persoalan
ledakan penduduk (baca: KB) ke pendekatan kesehatan reproduksi (baca: seks bebas) yang
dikemas dengan slogan kesehatan perempuan. Alih-alih meningkatkan derajat kesehatan
perempuan, yang terjadi adalah semakin banyaknya masalah kesehatan yang menimpa
masyarakat.

Aroma liberalisasi jelas tercium pada gagasan Kespro. Hal ini bisa disimpulkan dengan
mengamati rencana kerja ICPD dalam menjelaskan kerangka bagi 4 tujuan status kesehatan
reproduksi yang lebih baik, yaitu: tujuan agar setiap kegiatan seks harus bebas dari paksaan serta
berdasarkan pilihan yang dipahami dan bertanggung jawab; setiap tindakan seks terbebas dari
infeksi; setiap kehamilan dan persalinan harus diinginkan; serta setiap kehamilan dan persalinan
harus aman.

Elemen-elemen kespro di Indonesia menurut Departemen Kesehatan tahun 1995 adalah keluarga
berencana, kesehatan ibu dan anak, penanggulangan infeksi saluran reproduksi (ISR) dan
HIV/AIDS, serta kesehatan reproduksi remaja. Dengan membawa semangat ICPD dan
melandasinya dengan tujuan dan rencana kerja yang ada, elemen kespro tersebut diterjemahkan
dengan persepsi atau sudut pandang liberal yang mengagung-agungkan hak reproduksi
perempuan.
Pada elemen keluarga berencana, misalnya, dengan pemahaman dasar bahwa perempuan berhak
untuk menentukan kapan dia akan bereproduksi atau tidak, maka seseorang bisa kapan saja
memakai atau tidak memakai alat kontrasepsi. Seorang istri bisa memakai alat kontrasepsi,
sekalipun tanpa izin dari suami, saat ia tidak menginginkan kehamilannya. Atas nama hak
reproduksi, seorang perempuan yang belum menikah pun boleh memakai alat kontrasepsi jika
suatu ketika dia menginginkan atau membutuhkannya.

Pemikiran liberal juga tampak saat gagasan kespro berusaha meningkatkan kesehatan ibu dan
anak. Angka kematian ibu yang tinggi hanya disoroti dari sisi banyaknya kehamilan yang tidak
diinginkan. Seorang ibu yang khawatir, tertekan, dan merasa tidak bisa menerima kehamilannya
karena kegagalan alat kontrasepsi dapat saja dianggap tidak sehat secara mental dan sosial. Lalu
kondisinya dapat dianggap sebagai kegawatan medis yang membolehkan tindak aborsi.
Demikian pula bagi seorang perempuan yang merasa khawatir, tertekan, dan gelisah karena
hamil akibat perselingkuhan, hubungan pra nikah atau bahkan perkosaan dan incest; ia dapat
dianggap tidak sehat secara mental dan sosial sehingga dibolehkan melakukan tindak aborsi.

Demikian halnya dengan pemikiran yang dikembangkan gagasan kespro saat harus
menanggulangi ISR dan HIV/AIDS. Adanya jargon, “Jauhi AIDS, Jangan Orangnya,” mengajari
kita untuk toleran dengan orang-orang yang hobi berganti-ganti pasangan. Atas nama hak
reproduksi perempuan, solusi untuk permasalahan ini adalah kampanye penggunaan kondom,
pendidikan seks dan kespro bagi remaja agar mampu melakukan hubungan seks secara sehat dan
tidak berisiko, mendorong para remaja untuk melakukan KB (KB pra merital) dengan suntikan
anti hamil, dan yang semisalnya. Kalaupun hubungan seks bebas ini berisiko menghasilkan
janin, tidak perlu khawatir, karena aborsi telah dilegalkan.

Alhasil, gagasan kespro yang ditujukan untuk memperbaiki kualitas kesehatan kaum perempuan
dan meningkatkan kualitas generasi mendatang hanyalah omong-kosong. Gagasan kespro tidak
lebih merupakan usaha musuh-musuh Islam untuk menjadikan negeri-negeri kaum Muslim
seperti negeri-negeri mereka. Pelaksanaan hak reproduksi perempuan versi liberalis hanya akan
memicu konflik peran antara suami dan istri, meningkatkan eskalasi kekerasan dan konflik
dalam rumah tangga. Akibatnya, tatanan keluarga Muslim yang telah mapan dengan nilai-nilai
Islam akan mengalami kehancuran. Dalam kehidupan masyarakat umum, gagasan ini akan
memicu maraknya pergaulan bebas, seks bebas, aborsi, perselingkuhan, KB pra merital, dan
penyakit sosial lainnya yang akan merobek jaring-jaring tatanan masyarakat Islami.
Dengan demikian, gagasan kespro di Dunia Islam tidak lebih merupakan upaya Barat untuk
menghancurkan institusi keluarga Muslim dan merusak tatanan masyarakat Islam.

Kespro Menyerang Nilai-Nilai Islam

Konsep kespro nyata-nyata dilandaskan pada pandangan kesetaraan antara laki-laki dan
perempuan (keadilan dan kesetaraan jender). Pandangan ini mengajarkan tentang otonomi
perempuan, penentuan nasib dirinya, integritas dan kepemilikan tubuhnya yang menjadi prinsip-
prinsip pokok kesehatan, serta hak-hak reproduksi dan seksual perempuan.

Dalam konteks ini, hak-hak reproduksi perempuan meliputi hak untuk: (1) menentukan
perkawinannya sendiri; (2) penikmatan seksual; (3) menentukan kehamilan; (4) mendapatkan
informasi kesehatan reproduksi; (5) menentukan kelahiran; (6) terkait khitan perempuan.
Agama Islam lalu dipandang sebagai faktor penghalang dalam merealisasikan hak-hak
perempuan. Sebagai contoh, Hadis Nabi saw. yang menyatakan bahwa perempuan yang menolak
hasrat seksual suaminya dikutuk malaikat sampai pagi (Al-Bukhari, Ash-Shahîh, V/1992)
diinterpretasikan secara bias. Mengapa? Sebab, kewajiban perempuan menyerahkan tubuhnya
kepada suaminya tanpa bisa menolak sungguh dapat menyulitkan perempuan untuk
mengendalikan hak-hak reproduksinya; bukan saja karena ia tidak dapat menikmati kenikmatan
seksual, tetapi boleh jadi merupakan tekanan berat secara psikologis. Lebih jauh
ketidakberdayaan perempuan menolak hasrat seksual laki-laki dapat menimbulkan akibat-akibat
buruk bagi kesehatan reproduksinya.

Hadis di atas dianggap tidak menghormati hak reproduksi seksual perempuan dan sangat tidak
memperhatikan aspek kesetaraan jender.

Padahal dalam Islam, hubungan antara suami istri harus dibangun atas dasar mu‘âsyarah bi al-
ma‘rûf” (perlakuan yang baik). Kehidupan suami-istri adalah kehidupan dua orang sahabat
dengan dasar kesadaran menjalankan hukum Allah dalam rumah tangga. Suami yang baik tidak
akan meminta dan memaksa istrinya untuk melayaninya saat kondisi istrinya tidak
memungkinkan seperti sedang sakit, lelah, dan sebagainya. Saat kondisi istri siap untuk melayani
dan suami bersikap ma‘rûf kepadanya, maka sudah semestinya istri tidak mencari-cari alasan
untuk menolak permintaan suami. Hubungan suami-istri ini harus dipandang sebagai penunaian
hak dan kewajiban.

Contoh lain mengenai khitan perempuan. Khitan anak perempuan dianggap menjadi bagian dari
persoalan reproduksi perempuan. Ia dikategorikan sebagai tindak kekerasan terhadap perempuan,
karena telah terjadi pemotongan bagian tubuh perempuan yang paling sensitif (klitoris).
Lagi-lagi, dengan alasan kesehatan reproduksi, syariat Islam (Hadis Nabi tentang khitan)
dikritisi. Hadis Nabi saw. menyatakan: Potonglah ujungnya dan jangan berlebihan karena itu
akan membuat wajah dia (perempuan) berseri-seri dan menyenangkan laki-laki. (Abu Dawd, As-
Sunan, IV/368). Hadis ini diinterpretasikan sebagai respon Nabi saw. atas budaya khitan yang
masih berakar kuat dalam masyarakat Arab waktu itu. Beliau berusaha melakukan reduksi atas
budaya ini secara persuasif dan bertahap. Sebab, jika budaya yang telah berakar kuat ini serta-
merta dihapuskan, ia akan menimbulkan resistensi yang besar dari masyarakat. Dengan begitu,
pernyataan Nabi saw. tersebut juga dapat mengarah pada upaya penghapusannya, terutama
ketika praktik khitan perempuan menurut pertimbangan kesehatan (medis) tidak memberikan
manfaat bahkan menyakiti atau merusak anggota tubuh.4 Jelas, ini adalah upaya menyerang dan
mendiskreditkan syariat Islam.

Islam dan Hak Reproduksi Perempuan

Kemuliaan perempuan terbukti kembali dicampakkan manakala Islam tidak lagi diterapkan
dalam sebuah sistem dan pranata-pranata sosial, khususnya yang mengatur pola relasi laki-laki
dan perempuan di rumah tangga maupun di masyarakat. Kaum perempuan kembali menjadi
obyek garapan manusia-manusia tak bermoral. Mereka dijadikan obyek perdagangan
(trafficking), obyek eksploitasi (model iklan, kontes kecantikan, dll), korban kekerasan,
pemerkosaan, pelecehan seksual, dan lain sebagainya. Di sisi lain, masuknya gaya hidup Barat
ke negeri-negeri Muslim membuat maraknya pergaulan bebas dan menimbulkan penderita
HIV/AIDS. Lihat saja kasus HIV/AIDS di Indonesia yang terus meningkat tajam. Tingginya
angka infeksi di kalangan remaja dan pemuda ini disebabkan oleh perilaku seksual remaja yang
semakin berisiko. Selanjutnya bagi remaja putri yang hamil akibat free seks, yang menjadi
pilihan adalah tindakan aborsi yang tidak hanya merusak kesehatan fisik maupun mental, namun
bisa berujung pada kematian.
Akibat tidak diterapkannya Islam dalam mengatur kebutuhan hidup masyarakat, khususnya
kesehatan yang menjadi hajat hidup orang banyak, hidup perempuan dipertaruhkan. Tidak
sedikit perempuan meninggal saat melahirkan karena faktor kurangnya layanan kesehatan. Ini
terbukti dengan tingginya Angka Kematian Ibu (AKI), khususnya di Indonesia yang mencapai
angka 307 per 100.000 kelahiran hidup.2 Angka ini adalah yang tertinggi di seluruh negara
ASEAN. Faktor penyebab tingginya AKI, 28% diakibatkan kasus pendarahan karena lambatnya
penanganan. Belum lagi angka yang tinggi pada penderita anemia yang dialami remaja putri
(57%).

Kondisi kesehatan perempuan yang demikian memprihatinkan sesungguhnya disebabkan oleh


tidak adanya jaminan kesehatan bagi masyarakat. Kesehatan dalam sistem sekular adalah barang
mahal.
Sebaliknya, dalam Islam layanan kesehatan berkualitas menjadi tugas negara, karena kesehatan
adalah kebutuhan pokok masyarakat di samping pendidikan dan keamanan. Islam telah
memuliakan perempuan dan menempatkan mereka pada posisi yang semestinya sesuai dengan
kodrat penciptaannya. Perempuan adalah ibu generasi yang di pundaknya terletak tanggung
jawab besar untuk melahirkan dan mendidik generasi berkualitas sebagai aset besar suatu
bangsa. Menjadi seorang ibu adalah tugas utama dan pertama bagi perempuan.

Agar fungsi dan peran penting perempuan tersebut terwujud, Islam menetapkan sejumlah aturan.
Aturan tersebut mengatur pola relasi laki-laki dan perempuan di rumah tangga seperti
pernikahan, kehamilan, kelahiran, penyusuan, jaminan nafkah, pendidikan anak dan lain-lain.

Pernikahan ditujukan untuk melahirkan keturunan dan melestarikan jenis manusia (QS an-Nisa’
[4]:1; QS an-Nahl [16]: 72). Di sisi lain Islam mengharamkan perzinaan dan menetapkan sanksi
bagi pelakunya (QS an-Nur [24]: 2). Ini dimaksudkan untuk memelihara kesucian, kebersihan,
dan kejelasan keturunan. Bandingkan dengan sistem sekular demokrasi yang memberikan
kebebasan berperilaku, berhubungan seksual, melakukan homo-seksualitas, lesbianisme, dan
lain-lain atas nama HAM. Semua itu bermuara pada tidak jelasnya keturunan, banyaknya
perselingkuhan, putusnya hubungan keluarga, serta merajalelanya HIV/AIDS dan penyakit
menular seks lainnya.

Dengan pernikahan, perempuan diberi hak untuk diperlakukan secara hormat. Kehidupan
fisiknya terjamin dengan adanya nafkah. Dengan ini perempuan tidak harus menghidupi dirinya
apalagi dengan cara-cara yang merusak kodratnya, seperti melacurkan diri, yang dampaknya
akan merusak organ-organ reproduksinya.

Terkait dengan kehamilan, al-Quran memberikan empati yang tinggi kepada seorang ibu yang
sedang menjalani proses kehamilan yang menjadi hak dirinya. Allah telah mewasiatkan kepada
seluruh umat manusia untuk menghormati ibunya. (QS Luqman [31]: 14).

Begitu juga dalam hak menyusui bagi seorang ibu. Allah Swt. telah memberikan penegasan
kepada kita, bahwa seorang ibu diberi hak menyusui anaknya selama dua tahun penuh.
Kemudian, apa yang harus diterima oleh perempuan selama menyusui anaknya? Allah
menegaskan, bahwa seorang bapak (suami) wajib mencukupi gizi, sandang, pangan, dan papan
sang ibu ketika proses menyusui itu berlangsung. (QS al-Baqarah [2]: 233).
Menyusui anak bagi ibu adalah hak yang dimilikinya, bukan beban yang ditimpakan kepadanya.
Dengan persepsi bahwa menyusui anak adalah hak bagi ibu dan anak adalah amanah yang
diberikan kepadanya, seorang ibu akan merasakan kebahagiaan saat menyusui dan mengurus
anaknya. Sebaliknya, seorang bapak memiliki kewajiban untuk mencukupi seluruh kebutuhan
istri dan anaknya selama menyusui. Bapak dituntut untuk memberikan perhatian dan tanggung
jawab bagi proses reproduksi perempuan. Artinya, janganlah ibu yang melahirkan dan menyusui
masih dibebani untuk mencari nafkah. Hal ini membuktikan, bahwa Islam memberikan perhatian
yang cukup besar dalam hal ini

Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.

Catatan kaki

1. “Korban HIV/AIDS di Kalangan Remaja Terus Bertambah, Jaga Keharmonisan


Keluarga,” Pos Kota, 21/4/2004.
2. Anonim. Profil Kesehatan Reproduksi Indonesia 2003. Jakarta. Depkes RI dan WHO.
2003. 2,3,17-20, 63-71.
3. Islam dan Hak Perempuan dalam Kesehatan Reproduksi dan Seksual dalam Konteks
Kekinian di Senegal, www.law.emory.edu/IHR/BAHASA/ms_codou_reseach.htm.
4. Muhammad, Husein. “Hak-hak reproduksi Perempuan Perspektif Islam,”
www.rahima.or.id/makalah/HAKHAK%20REPRODUKSI%20PEREMPUAN.doc.
AIDS, ODHA DAN LIBERALISME BUDAYA

Oleh: Aulia Yahya, Apt

HIV berarti Human Immunodeficiency Virus. HIV hanya menular pada manusia. HIV
menyerang sistem kekebalan tubuh yang melindungi tubuh terhadap infeksi. Kebanyakan orang
yang terinfeksi HIV tidak mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi. Segera setelah terinfeksi,
beberapa orang mengalami gejala yang mirip gejala flu selama beberapa minggu. Selain itu tidak
ada tanda infeksi HIV. Tetapi, virus tetap ada di tubuh dan dapat menularkan orang lain.
Sedangkan AIDS berarti Acquired Immune Deficiency Syndrome. Mendapatkan infeksi HIV
menyebabkan sistem kekebalan akan semakin lemah. Keadaan ini akan membuat orang mudah
diserang beberapa jenis penyakit (sindrom) yang kemungkinan tidak mempengaruhi orang
dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat. Penyakit tersebut disebut sebagai infeksi
oportunistik.
Penyakit yang tidak memandang umur, lapisan masyarakat dan gender ini sudah menjadi hal
utama yang harus diberikan kepedulian ekstra.

Jumlah Penderita

Secara global, 40 juta orang saat ini terinfeksi HIV AIDS, dimana 37 juta dan 2,5 juta adalah
dewasa dan anak-anak (di bawah 15 tahun).

Di Indonesia sendiri, jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan September
2014 sebanyak 150.296. Sedangkan untuk kasus AIDS jumlah kumulatif sampai dengan
September 2014 sebanyak 55.799 orang, dengan persentase tertinggi pada kelompok umur 20-29
tahun (32,9%), kemudian diikuti kelompok umur 30-39 tahun (28,5%), 40-49 tahun (10,7%), 50-
59 tahun (3,4%), dan 15-19 (3,1%).

Tidak Sebatas Hari Peringatan. LAWAN


Tanggal 1 Desember ditetapkan menjadi Hari AIDS Sedunia. Tahun ini, tema yang diusung
adalah “”DUKUNG ODHA MANDIRI””. Sejumlah program disusun, berharap Indonesia zero
AIDS 2030, sebagaimana tertuang dalam salah satu hasil dari PerNas (Pertemuan Nasional)
AIDS 5 di Makassar 27 – 29 Oktober 2015 lalu .

Diharapkan dengan adanya Hari AIDS Sedunia, masyarakat lebih bisa peduli akan bahaya AIDS
dan mengetahui bagaimana penanggulangan dan juga pencegahan penyakit ini. Berbagai upaya
sudah dilakukan dari berbagai sektor, baik dari Lembaga pemerintah, LSM, Swasta maupun
kelompok masyarakat peduli AIDS.

Terlepas dari peringatan hari AIDS sedunia yang orang-orang pun berlainan cara untuk
memperingatinya, jelasnya bahwa AIDS merupakan salah satu fenomena yang telah mendunia.
Penyakit ini menyerang siapa saja, tidak pandang bulu. Semuanya bisa terserang penyakit
membahayakan ini. Indonesia juga merupakan salah satu negara yang memiliki stoke orang
dengan HIV/AIDS (ODHA) terbesar.

Hal yang paling real untuk melakukan perlawanan terhadap penyebaran HIV AIDS adalah
dengan cara menghindari pergaulan bebas. Walaupun bukan sebagai satu-satunya sumber, Seks
bebas tetaplah merupakan faktor yang cukup dominan dibandingkan dengan penularan melalui
jarum suntik (kesalahan medis, juga pemakaian narkoba), melalui keturunan (penurunan gen dari
ibu yang mengidap AIDS ke anak yang dilahirkannya).

Sekedar mengamati, telah terjadi pergeseran nilai di dalam tatanan kehidupan sosial-budaya kita.
negara Indonesia yang dulunya terkenal agamis dan memiliki nilai-nilai budaya yang luhur kini
musnah sudah dihantam badai globalisasi yang membawa arus informasi dan budaya barat yang
jauh dari tatanan nlai-nilai ketuhanan. Semuanya atas nama modernitas, serbuan media yang
sudah terlanjur dibuka krannya ternyata memberi dampak negatif tersendiri. Pop Culturemasuk
ke negeri ini tanpa sensor atau filter moral. Parahnya, serbuan ini tak terbendung dan menjadikan
kalangan tua semakin permissive menerimanya bahkan ikut-ikutan menerimanya. Salah satunya
seks bebas sudah menjadi bagian tak terpisah dari Pop Culture yang sudah menjadi
kecendrungan budaya di Indonesia.

Peran Penting Ajaran Agama


Sejatinya, dengan mengamalkan ajaran agama diharapkan mampu menjadi benteng moral bagi
setiap pribadi. Namun sangat disayangkan sakralitas agama mengalami dekonstruksi yang luar
biasa dahsyatnya. Liberalisme yang merasuk ke segala aspek kehidupan menjadi salah satu
katalis bahkan dianggap sebagai biang desakralisasi agama dalam kehidupan. Hal ini disadari
atau tidak, berimplikasi pada kehidupan beragama yang kian hari kian luntur. Agama mulai
ditinggalkan, bisa jadi hanya tinggal prosesi budaya kering makna. Masyarakat akan kembali
pada agama manakala terjadi prosesi kelahiran, khitanan, pernikahan, terakhir ditimpa kematian.
Agama hanya menjadi simbol budaya tapi tidak perilaku keseharian. Beragama minus Tuhan di
dalamnya.

Taruhlah sebagai contoh perilaku agama yang ditinggalkan. Tentang larangan untuk berlaku zina
dan sistem pergaulan laki-laki dan perempuan dalam Islam. Toh kini peringatan tabu dari Allah
tersebut kini dilabrak dengan budaya pergaulan bebas yang di impor dan ditelan bulat-bulat dari
budaya dan peradaban jahiliyah modern (barat).

Masalah HIV/AIDS boleh jadi lebih tepat disebut sebagai cobaan, ujian yang buruk atau
peringatan keras Allah kepada manusia. Terhadap cobaan buruk ini Allah memperingatkan agar
semua orang waspada dan berhati-hati, serta menghindari perbuatannya. Al-Qur’ân menyatakan:
“Berhati-hati dan jagalah diri kamu dari sebuah “fitnah” (cobaan buruk) yang tidak hanya
menimpa mereka yang melakukan kezaliman (penyimpangan)”. ( Q.S. al-‘Anfâl [8]:25).

Ini merupakan perintah Allah untuk pencegahan dari semua perbuatan yang buruk yang
diarahkan terhadap semua orang yang berada dalam lingkungan sosial yang buruk. Jika
persoalan HIV/AIDS bukan hanya dipandang sebagai masalah medis dan kesehatan fisikal,
melainkan merupakan masalah sikap mental dan gaya hidup, maka pencegahan harus dilakukan
melalui perubahan atasnya.

Stop AIDS, Cegah dan Lindungi Diri dengan Nilai-nilai Islam.[]


KRITIK ISLAM TERHADAP PENANGGULANGAN HIV-AIDS ALA SEKULER-
LIBERAL

Oleh: dr. Faizatul Rosyidah

HIV/AIDS menjadi ancaman yang sangat serius bagi umat manusia saat ini. Karena, sekali
seseorang terinfeksi HIV, ia akan menjadi pengidap HIV/AIDS seumur hidupnya. Dan pada fase
AIDS, berbagai penyakit akan mudah menjangkiti hingga berakhir pada kematian. Selain itu,
hingga saat ini, belum ditemukan obat ataupun vaksin, selain yang hanya sekedar memperlambat
perkembang-biakan virus.

Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia secara umum mengadopsi strategi yang digunakan oleh
UNAIDS dan WHO. Kedua lembaga internasional ini menetapkan beberapa langkah
penanggulangan HIV/AIDS, antara lain: kondomisasi, Subsitusi Metadon dan Jarum Suntik
Steril. Upaya penanggulangan HIV/AIDS versi UNAIDS ini telah menjadi kebijakan nasional
yang berada di bawah KPAN.

a. Kondomisasi

Kondomisasi (100% kondom) sebagai salah satu butir dari strategi nasional tersebut yang telah
ditetapkan sejak tahun 1994 hingga sekarang. Kampanye pengunaan kondom awalnya
dipopulerkan melalui kampanye ABCD. ABCD, yaitu A:abstinentia; B:be faithful; C:condom
dan D:no Drug.

Saat ini kampanye penggunaan kondom semakin gencar dilakukan melalui berbagai media,
seperti buklet-buklet, melalui station TV nasional, seminar-seminar, penyebaran pamflet-pamflet
dan stiker dengan berbagai macam slogan yang mendorong penggunaan kondom untuk ‘safe
sex’.

Kampanye kondom tak jarang dilakukan dengan membagi-bagikan kondom secara gratis di
tengah-tengah masyarakat seperti mall-mall dan supermarket. Kampanye tentang kondom juga
telah masuk ke beberapa perguruan tinggi, sekolah-sekolah bahkan meskipun mengundang
banyak penolakan kini telah diluncurkan program ATM (Anjungan Tunai Mandiri) kondom.
Namun kenyataannya kondomisasi ini tidak terbukti mampu mencegah penyebaran HIV/AIDS.
Di saat budaya kebebasan seks tumbuh subur, ketaqwaan yang kian tipis (bahkan mungkin tidak
ada), kultur yang kian individualistis, kontrol masyarakat semakin lemah, kemiskinan yang kian
menghimpit masyarakat dan maraknya industri prostitusi, kondomisasi jelas akan membuat
masyarakat semakin berani melakukan perzinahan apalagi dengan adanya rasa aman semu yang
ditanamkan dengan menggunakan kondom.

Mencermati uraian di atas, jelaslah bahwa kondomisasi, apapun alasannya, sama saja dengan
menfasilitasi seks bebas yang merupakan sarana penularan utama HIV/AIDS. Dan HIV/AIDS
jelas-jelas membahayakan kehidupan. Sehingga, tidak heran setelah program kondomisasi
dijalankan kasus HIV/AIDS justru semakin meningkat pesat. Dengan demikian, kondomisasi
sama saja dengan penghancuran terselubung umat manusia.

b. Subsitusi Metadon dan Pembagian Jarum Suntik Steril

Penyebaran HIV/AIDS yang sangat cepat akhir-akhir ini diperkirakan karena penggunaan jarum
suntik secara bergantian dikalangan IDU yang jumlahnya semakin banyak. Hal ini dijadikan
alasan untuk mensahkan tindakan memberikan jarum suntik steril dan subsitusi metadon bagi
penyalahguna NARKOBA suntik.

Melalui layanan ini, para penasun (pengguna NARKOBA suntik) dapat dengan mudah
memperoleh jarum suntik dan metadon dengan harga cukup murah, yaitu sekitar Rp7500/butir.
Kehidupan para penasun yang lebih teratur, tidak melakukan tindak kriminal selalu diopinikan
untuk membenarkan upaya ini. Namun benarkah upaya ini akan mengurangi risiko penularan
HIV/AIDS? Jawabannya jelas tidak, mengapa?

Subsitusi adalah mengganti opiat (heroin) dengan zat yang masih merupakan sintesis dan turunan
opiat itu sendiri, misalnya metadon, buphrenorphine HCL, tramadol, codein dan zat lain sejenis.
Subsitusi pada hakekatnya tetap membahayakan, karena semua subsitusi tersebut tetap akan
menimbulkan gangguan mental, termasuk metadon. Selain itu metadon tetap memiliki efek
adiktif.

Pemberian jarum suntik steril kepada penasun agar terhindar dari penularan HIV/AIDS, jelas
sulit di terima. Mengapa? Fakta menunjukkan bahwa peredaran NARKOBA di masyarakat
berlangsung melalui jaringan mafia yang tertutup, rapi dan sulit disentuh hukum. Jaringan
tersebut bersifat internasional, terorganisir rapi dan bergerak dengan cepat. Selain itu, sekali
masuk perangkap mafia NARKOBA sulit untuk melepaskan diri. Hal ini dibuktikan oleh
tingginya angka kekambuhan akibat bujukan teman-teman. Dan setiap pemakai biasanya
memiliki peer group dengan anggota 9-10 orang.

Dengan demikian, memberikan jarum suntik meskipun steril, di tengah-tengah jeratan mafia
NARKOBA sama saja menjerumuskan pada penyalahgunaan NARKOBA, sehingga jumlah
penasun justru kian membengkak. Dan yang penting lagi adalah para pengguna narkoba
meskipun menggunakan jarum suntik steril tetap berisiko terjerumus pada perilaku seks bebas
akibat kehilangan kontrol.

Islam: Strategi Jitu Hadapi HIV/AIDS

Islam sebagai agama yang sempurna, telah menjadi keyakinan mayoritas bangsa, termasuk di
Indonesia selama berabad-abad. Penerapan aturan Islam akan membawa maslahat dan rahmat
bagi seluruh umat manusia baik muslim maupun non muslim. Hal ini sebagaimana firman Allah
Swt dalam Al Qur’an :

” Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad ) kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam.”
Allah Swt yang Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Benar dan tidak mempunyai kepentingan
terhadap manusia tentu menciptakan peraturan-peraturan bagi manusia demi kepentingan
(kemaslahatan) manusia. Solusi Islam meliputi dua hal: a. Preventif, b. Kuratif

Solusi Preventif

Transmisi utama (media penularan yang utama) penyakit HIV/AIDS adalah seks bebas. Oleh
karena itu pencegahannya harus dengan menghilangkan praktik seks bebas tersebut. Hal ini
meliputi media-media yang merangsang (pornografi-pornoaksi), tempat-tempat prostitusi, club-
club malam, tempat maksiat dan pelaku maksiat.

1. Islam telah mengharamkan laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim berkholwat
(berduaan). Sabda Rasulullah Saw: “Jangan sekali-kali seorang lelaki dengan
perempuan menyepi (bukan muhrim) karena sesungguhnya syaithan ada sebagai pihak
ketiga”. (HR Baihaqy)
2. Islam mengharamkan perzinahan dan segala yang terkait dengannya. Allah Swt
berfirman:“Janganlah kalian mendekati zina karena sesungguhnya zina itu perbuatan
yang keji dan seburuk-buruknya jalan” (QS al Isra’[17]:32)
3. Islam mengharamkan perilaku seks menyimpang, antara lain homoseks (laki-laki dengan
laki-laki) dan lesbian (perempuan dengan perempuan ). Firman Allah Swt dalam surat al
A’raf ayat 80-81 : “ Dan (kami juga telah mengutus) Luth ( kepada kaumnya). (Ingatlah)
tatkala dia berkata kepada mereka : Mengapa kamu mengerjakan perbuatan kotor itu,
yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun manusia (didunia ini) sebelummu?
Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu ( kepada mereka ),
bukan kepada wanita, Bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.( TQS. Al
A’raf : 80-81)
4. Islam melarang pria-wanita melakukan perbuatan-perbuatan yang membahayakan akhlak
dan merusak masyarakat, termasuk pornografi dan pornoaksi. Islam melarang seorang
pria dan wanita melakukan kegiatan dan pekerjaan yang menonjolkan sensualitasnya.
Rafi’ ibnu Rifa’a pernah bertutur demikian: “Nabi Saw telah melarang kami dari
pekerjaan seorang pelayan wanita kecuali yang dikerjakan oleh kedua tangannya. Beliau
bersabda “Seperti inilah jari-jemarinya yang kasar sebagaimana halnya tukang roti,
pemintal, atau pengukir.”
5. Islam mengharamkan khamr dan seluruh benda yang memabukkan serta mengharamkan
narkoba. Sabda Rasulullah Saw : “Setiap yang menghilangkan akal itu adalah haram”
(HR. Bukhori Muslim)

”Tidak boleh menimpakan bahaya pada diri sendiri dan kepada orang lain.” (HR. Ibnu
Majah)
Narkoba termasuk sesuatu yang dapat menghilangkan akal dan menjadi pintu gerbang
dari segala kemaksiatan termasuk seks bebas. Sementara seks bebas inilah media utama
penyebab virus HIV/AIDS .

6. Amar ma’ruf nahi munkar yang wajib dilakukan oleh individu dan masyarakat.
7. Tugas negara memberi sangsi tegas bagi pelaku mendekati zina. Pelaku zina muhshan
(sudah menikah) dirajam, sedangkan pezina ghoiru muhshan dicambuk 100 kali. Adapun
pelaku homoseksual dihukum mati; dan penyalahgunaan narkoba dihukum cambuk. Para
pegedar dan pabrik narkoba diberi sangsi tegas sampai dengan mati. Semua fasilitator
seks bebas yaitu pemilik media porno, pelaku porno, distributor, pemilik tempat-tempat
maksiat, germo, mucikari, backing baik oknum aparat atau bukan, semuanya diberi
sangsi yang tegas dan dibubarkan.

Solusi Kuratif

Orang yang terkena virus HIV/AIDS, maka tugas negara untuk melakukan beberapa hal sebagai
berikut:

1. Orang yang tertular HIV/AIDS karena berzina maka jika dia sudah menikah dihukum
rajam. Sedangkan yang belum menikah dicambuk 100 kali dan selanjutnya dikarantina.
2. Orang yang tertular HIV/AIDS karena Homoseks maka dihukum mati.
3. Orang yang tertular HIV/AIDS karena memakai Narkoba maka dicambuk selanjutnya
dikarantina.
4. Orang yang tertular HIV/AIDS karena efek spiral (tertular secara tidak langsung)
misalnya karena transfusi darah, tertular dari suaminya dan sebagainya, maka orang
tersebut dikarantina.
5. Penderita HIV/AIDS yang tidak karena melakukan maksiat dengan sangsi hukuman mati,
maka tugas negara adalah mengkarantina mereka. Karantina dalam arti memastikan tidak
terbuka peluang untuk terjadinya penularan harus dilakukan, terutama kepada pasien
terinfeksi fase AIDS. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw yang artinya: “Sekali-
kali janganlah orang yang berpenyakit menularkan kepada yang sehat” (HR Bukhori ).
“Apabila kamu mendengar ada wabah di suatu negeri, maka janganlah kamu
memasukinya dan apabila wabah itu berjangkit sedangkan kamu berada dalam negeri itu
, janganlah kamu keluar melarikan diri” (HR. Ahmad, Bukhori, Muslim dan Nasa’i dari
Abdurrahman bin ‘Auf).

Mengkarantina agar penyakit tersebut tidak menyebar luas, perlu memperhatikan hal-hal berikut:

a. Selama karantina seluruh hak dan kebutuhan manusiawinya tidak diabaikan.


b. Diberi pengobatan gratis.
c. Berinteraksi dengan orang – orang tertentu di bawah pengawasan dan jauh dari media
serta aktifitas yang mampu menularkan.
d. dilakukan upaya pendidikan yang benar tentang HIV-AIDS kepada semua kalangan
disertai sosialisasi sikap yang diharapkan dari masing-masing pihak/kalangan (komunitas
ODHA/OHIDA, komunitas resiko tinggi, komunitas rentan)
e. dilakukan pendidikan disertai aktivitas penegakan hukum kepada ODHA yang
melakukan tindakan yang ’membahayakan’ (beresiko menularkan pada) orang lain
f. Pembinaan rohani, merehabilitasi mental (keyakinan, ketawakalan, kesabaran) sehingga
mempecepat kesembuhan dan memperkuat ketaqwaan. Telah diakui bahwa kesehatan
mental mengantarkan pada 50% kesembuhan.
g. Dilakukan pemberdayaan sesuai kapasitas
h. Di sisi lain, jika selama ini penyakit seperti HIV/AIDS belum ditemukan obatnya maka
negara wajib menggerakkan dan memberikan fasilitas kepada para ilmuwan dan ahli
kesehatan agar secepatnya bisa menemukan obatnya.

Jalan Menuju Terwujudnya Strategi Penanggulangan HIV-AIDS Perspektif Islam


a. Upaya Jangka Pendek

• Melakukan telaah kritis, membongkar bahaya dan konspirasi strategi penanggulangan HIV-
AIDS perspektif sekuler-liberal produk Barat (versi UNAIDS) di satu sisi, dan mulai
memperkenalkan solusi Islam sebagai strategi alternatif penanggulangan HIV-AIDS yang
seharusnya mulai diambil pada sisi yang lain

• Memulai diskusi, sosialisasi dan advokasi kepada individu stakesholder yang muslim (KPA,
MPA, Medis, paramedis, dll) level daerah/lokal

• Memulai diskusi, sosialisasi dan advokasi kepada tokoh-tokoh muslim yang menjadi simpul-
simpul umat

• Penguatan aqidah, keimanan dan konsekuensi untuk berhukum dengan sistem Islam
• Pembinaan ummat secara ideologis (aqidah, syari’ah dan dakwah) untuk memperjuangkan
tegaknya Islam kaffah

b. Upaya Jangka Menengah


• Mulai memblow-up hasil telaah kritis, membongkar bahaya dan konspirasi strategi
penanggulangan HIV AIDS perspektif sekuler-liberal produk Barat (versi UNAIDS) ke
masyarakat dan media

• Mulai memblow-up solusi Islam sebagai strategi alternatif penanggulangan HIV-AIDS yang
seharusnya diambil ke masyarakat dan media

• Memulai diskusi, sosialisasi dan advokasi kepada instansi stakesholder (KPA, MPA, Medis,
paramedis, dll) level daerah/lokal hingga pusat

• Memulai aktivitas mengoreksi penguasa tentang kebijakan dekstruktif

• Memulai aktivitas mengoreksi pihak legislatif akan perundang-undangan yang menjadi bagian
kebijakan dekstruktif

• Mengingatkan masyarakat luas dan pemerintah akan bahaya NGO-NGO komprador

• Mengingatkan NGO-NGO ‘Komprador’

c. Upaya Jangka Panjang

• Secara terus menerus mengungkap kebobrokan yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme-
sekulerisme dalam semua bidang dan konspirasi global di belakangnya

• Secara terus menerus mengupayakan lahirnya pemahaman dan kesadaran umat (masyarakat)
akan Islam sebagai solusi problematika kehidupan mereka dalam seluruh aspek kehidupan
menggantikan sistem kapitalisme-sekulerisme yang nyata-nyata telah membawa kerusakan
kehidupan
• Mengupayakan terwujudnya sebuah kekuatan politik –pada saatnya nanti- yang bisa
menghadapi konspirasi global negara-negara neoimperialisme dan multi national corp di negeri-
negeri Islam yaitu kekuatan Daulah khilafah Islamiyyah (negara yang akan menyatukan seluruh
potensi umat dan menerapkan sistem Islam sebagai sistem kehidupan secara kaaffah) dengan
dukungan umat.

Wallahu A’lam
——————————————————–
Daftar Pustaka

1. Holmes KK et al.Sexual Transmitted Diseases.Ed 3th. New York:McGraw-Hill, 1999.


2. Brooks, GF et al. Medical Microbiology.Ed.20th. Terjemahan.EGC:Jakarta, 1995.
3. WHO. An Orientation to HIV/AIDS Counselling. A Guide for Trainer. Regional Office
for South-East Asia. New Delhi, 2002.
4. Murray, P.R., Rosenthal, K.S., Pfaller,M. A. Medical Microbiology, fifth edition.
Elsevier Mosby. 2005.
5. Ganiswarna , S. G. Rianto S, F. D. Suyatna, Purwantyastuti dan Nafrialdi.
Farmakologi dan Terapi. 2003. Bagian Farmakologi. FK. UI. Jakarta.
6. Direktorat Jenderal. P2MPL-DepKes. Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan dan
Pengobatan bagai ODHA. DepKes RI. Jakarta, 2003.
7. Tjokronegoro A, Djoerban Z dan Matondang C. S. Seluk Beluk AIDS yang Perlu Anda
Ketahui. Balai Penerbit FKUI. Jakarta, 1992.
8. UNAIDS:Estimeted number of persons living the HIV/AIDS at the end of 2005 in USA.
9. WHO. HIV/AIDS Strategic Framework for WHO South-East Asia Region 2002-2006.
Regional Office for South-East Asia.New Delhi, 2002.
10. KPAN. Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS 2003-2007. Kementrian
Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Jakarta, 2003.
11. KPAN. Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS 2007-2010. Kementrian
Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Jakarta, 2007.
12. AIDS Bunuh 25 juta orang. Jawa Pos, 5 Juni 2006.
13. Sexual Health Exchange. www. Sexualhealthexchange. 2004/3-4.
14. CDC. Global Summary of The AIDS Epdemic December 2006.
15. Priohutomo S. Kebijakan Pengendalian HIV/AIDS. Dirjen P2PL-Depkes RI. Seminar
TB-HIV Sahid Jaya Hall. 11-12 Desember 2006.(hand out).
16. AIDS Setelah Dua Dekade. Ledakan HIV/AIDS sudah terjadi di Indonesia.Republika. 27
Mei 2007.
17. Rohaniawan Akan Bantu Atasi HIV/AIDS. Koran Tempo, 5 Mei 2007.
18. Info KesPro. Berita Aids yang Menyesatkan. Radar Jember, 11 Desember 2006.
19. Kompas 24 Mei 2007. “Mudah Hidup Dengan ODHA Perempuan.
20. Djauzi,S dan Djoerban, Z. Penatalaksanaan Infeksi HIV di Pelayanan Kesehatan
Dasar.Balai Penerbit FKUI. Jakarta,2002.
21. Aditiawati, P. HIV/AIDS. Diskusi HIV/AIDS. ITB. Bandung, 2006. (handout).
22. Depkes RI. Profil Kesehatan Reproduksi. Depkes RI. Jakarta, 2003.
23. Anonim. Apa sih HIV/AIDS itu? (booklet edukasi HIV/AIDS). The Global Fund.
Jakarta, 2005.
24. Anonim. IMS itu epong sih ne? The Global Fund. Jakarta, 2005
25. Hawari, D. 2006. Global Effect, HIV/AIDS, Dimensi Psikoreligi. Balai Pustaka-FKUI.
Jakarta.
26. Anomalous Fatigue Behavior in Polysoprene,” Rubber Chemistry and Technology, Vol.
62, No:4, Sep.-Okt. 1989.
27. Lytle, C. D., et al., “Filtration Sizes of Human Immunodeficiency Virus Type 1 and
Surrogate Viruses Used to Test Barrier Materials,” Applied and Environmental
Microbiology, Vol. 58, No: 2, Feb. 1992.
28. Vesey, W.B., HLI Reports, Vol. 9, pp. 1-4, 1991.
29. Collart, David G., M.D., op. cit.
30. Weller S, Davis K. Condom effectiveness in reducing heterosexual HIV transmission
(Cochrane Review). In: The Cochrane Library, Issue 2,. Chichester, John Wiley & Sons.
UK, 2004
31. Kompas 7 Februari 2007.
32. Hak perempuan harus terpenuhi. Media Indonesia. 15 November 2006.
33. WHO (2002) The Safety and feasibility of female condom reuse:Report of a WHO
consultation, Geneva,Januari 28-29. 2006 Planned Parenthood.
File://H:hiv%20forum/the%20female%20condom.htm.
34. Kiser, P et al. A Moleculer Condom Against AIDS. Online Monday, Dec. 11, 2006, ini
the Journal of Pharmaceutical Sciences.
35. Terapi Metadon. Mejauhi Kematian Dini Akibat narkoba. Kompas 16 Januari 2007.
36. Hawari, D. Terapi (detoksifikasi) dan Rehabilitasi (Pesantrn) Mutakhir (Sistem Terpadu)
Pasien NAZA (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif Lain). UI Press. Jakarta, 2004.
37. An Nabhani T. 2003. Peraturan Hidup dalam Islam (Terjemahan). Pustaka Thoriqul Izza.
Bogor.
38. Al Badri, A. A. Hidup Sejahtera dalam Naungan Islam. GIP. Jakarta, 1992.
39. Al-Faruqi IR dan Al-Faruqi LR. Atlas Budaya Islam. Mizan. Bandung, 1994.
40. Akbar, A. 1988. Etika Kedokteran Dalam Islam. Pustaka Antara. Jakarta.
MEMPERTANYAKAN DAKWAH KONDOM BERPORI

Oleh: dr. Fauzan Muttaqien

Hari AIDS sedunia kembali datang. Dan pembicaraan tentang perlawanan dan pencegahan AIDS
biasanya mengemuka mengiringi peringatan tahunan ini. Termasuk yang banyak menyuarakan
adalah kalangan aktivis dakwah Islam.

Saya, tentu berada di pihak yang menyuarakan pentingnya pencegahan AIDS dengan solusi
syariat Islam. Tapi ada yang saya sesalkan dari suara-suara tentang pencegahan AIDS. Satu
serpihan pembicaraan yang sering muncul di tulisan-tulisan dan artikel para aktivis
dakwah. Ilusi tentang kondom berpori.

Suara mereka menolak kondom biasanya mengemukakan alasan berikut: Bahwa kondom itu
dibuat dari latex, berarti berserat berpori-pori. Dimana pori-pori itu berukuran 5-50 mikron,
sementara virus HIV berukuran 0,1 mikron. Ini berarti seperti sebuah kelereng yang begitu
mudah masuk ke dalam sebuah gawang sepakbola. Maka jelas kita ditipu, mana mungkin dengan
pori-pori sebesar itu dapat mencegah virus HIV masuk?

Nah, anda yang memakai alasan itu, pernahkah mencoba mencek kebenaran pernyataan di atas.

Saya, tergerak untuk meneliti kebenaran informasi itu. Apa betul atau jangan-jangan cuma
sekedar hoax? Sebagai seorang muslim tentunya kita tidak boleh sembarangan menggunakan
suatu pernyataan yang belum tentu benar, hanya karena pernyataan tersebut mendukung
pernyataan kita. Ibarat dalam ilmu hadits, yang dilihat jangan hanya ‘matan’nya. Lihat
‘sanad’nya. Bagaimana periwayatannya, apakah bersambung, apakah sahih. Kalau ternyata
simpulannya adalah dha’if ya tak perlu dipakai.

Setelah saya telusuri, ternyata pernyataan tersebut bersumber dari sebuah artikel lama yang
dimuat oleh The Washington Times, pada tanggal 22 April 1992. Ini merupakan surat singkat ke
editor dari Dr. C.M. Roland, Editor of Rubber Chemistry and Technology. Berikut saya
lampirkan suratnya.
THE TRUTH ABOUT “SAFE SEX” LEAKS OUT AT LAST!

Are Condoms Safe?

A spokesman from the rubber chemistry industry answers

The Washington Times, Wednesday April 22, 1992

My only comment is to point out that the rubber comprising latex condoms has intrinsic voids
about 5 microns (0.0002 inches) in size. Since this is roughly 10 times smaller than sperm, the
latter we effectively blocked in ideal circumstances.

The 12 percent failure rate of condoms in preventing pregnancy is attributable to in situ


cracking, removal. ozone deterioration from improper sealing, manufactured defects, etc.

Contrarily, the AIDS virus is only 0.1 micron (4 millionths of an inch) in size. Since this is a
factor of 50 smaller than the voids inherent in rubber, the virus can readily pass through the
condom should it find a passage.

A reluctance to stake one’s life on the ability of a condom to prevent HIV infection bespeaks
wisdom, not discrimination.

C.M. Roland

Editor. Rubber Chemistry Land Technology

Washington

Nah, sayangnya tulisan singkat ini memiliki posisi yang sangat lemah. Pertama, publikasinya
bukan di jurnal ilmiah hanya di Washington Post, yang kedua tidak dilengkapi dengan rujukan
data-data penelitian yang menunjang pernyataannya tersebut. Ketiga, sifat tulisan pun hanya
berupa letter, bukan review atau research, jadi kesannya lebih berupa opini. Akibatnya nilai
‘dalil’ dari tulisan di atas jatuh ke ‘expert opinion’ yang dalam urutan rujukan ilmiah menduduki
ranking terendah artinya tidak layak jadi sandaran.

Pernyataan Roland juga dibantah oleh banyak ahli. Bantahan mereka, Roland mendasarkan
pernyataannya berdasarkan asumsi sarung tangan latex, bukan kondom. sementara The U.S.
Public Health Service mengklaim kondom dibuat dengan standar yang lebih tinggi daripada
sarung tangan. Penelitian kondom latex oleh the National Institutes of Health menggunakan
mikroskop elektron menemukan tidak ada pori pada pembesaran 2000x

Ada beberapa expert opinion yang lain yang menentang kondom. Misal:

“Simply put, condoms fail. And condoms fail at a rate unacceptable for me as a physician to
endorse them as a strategy to be promoted as a meaningful AIDS protection.” — Dr. Robert
Renfield, chief of retro-viral research, Walter Reed Army Institute

“Saying that the use of condoms is ‘safe sex’ is in fact playing Russian roulette. A lot of people
will die in this dangerous game.” — Dr. Teresa Crenshaw, member of the U.S. Presidential
AIDS Commission and past president of the American Association of Sex Educators

Condoms aren’t safe. In 1993, Dr. Susan Weller of the University of Texas Medical Branch at
Galveston reported that an analysis of data from 11 separate studies showed condoms had an
average failure rate of 31 percent in protecting against HIV. Dr. Weller reports that “since
contraceptive research indicates condoms are about 90 percent effective in preventing
pregnancy, many people, even physicians, assume condoms prevent HIV transmission with the
same degree of effectiveness. However, HIV transmission studies do not show this to be true. .”
Dr. Weller continues, saying “new data indicate come condoms, even latex ones, may leak HIV.”

Yang saya catat, komentar tersebut menyatakan ketidakefektifan kondom bukan karena masalah
pori-pori. Lama saya mencari ulasan tentang pori-pori kondom, tapi tetap satu-satunya rujukan
hanya dari tulisan CM Roland tersebut.

Harus kita pahami, bahwa kondom terbuat dari beberapa jenis bahan. Bila bahan yang dimaksud
adalah bahan natural yakni dari lambskin atau usus domba memang memiliki pori-pori. Namun
pori-porinya yang kecil tetap cukup efektif tidak bisa dilalui oleh sperma. Sehingga kondom
jenis ini efektif sebagai alat kontrasepsi, namun tidak efektif untuk mencegah penularan penyakit
menular seksual seperti HIV-AIDS. Jenis kedua yang lebih popular adalah jenis latex. Latex ini,
berdasarkan klaim dari produsennya tidak memiliki pori dan melalui uji dari FDA untuk
menyaring kualitasnya. Jenis ketiga, yakni dari polyurethane. Jenis ini tidak terlalu jauh berbeda
dengan latex. Namun kurang populer, mengingat beberapa kelemahannya yakni kurang elastis,
lebih mudah robek dan lebih mahal.
Lalu, seberapa efektifkah kondom jenis latex dalam mencegah penularan HIV? Ada banyak
jawaban yang saya temukan.

Elizabeth J. Shaw & Barbara A. Rienzo dalam artikel Permeability of Latex Condoms: Do Latex
Condoms Prevent HIV Transmission? yang dimuat di Journal of Health Education Volume
26, Issue 6, 1995 menyebutkan:

HIV is not very efficient in passing through a hole more than twice its size; two, studies assessing
condom permeability to HIV demonstrate that it does not pass through a latex condom; three,
studies involving surrogates for HIV show that these agents, equal to or less than the size of HIV,
can leak through a latex condom. However, this leakage is infrequent and occurs in minute
amounts. Finally, the methods utilized by manufacturers and the Food and Drug Administration
to maintain a high level of condom quality may not be sensitive enough to detect the tiniest pores
in latex condoms that may be large enough to allow HIV to pass through. It is evident, however,
that any existing pores rarely allow an HIV surrogate to leak and do not allow HIV to permeate.
Therefore, condoms, although possibly not 100 percent effective, even if used correctly and
consistently, can greatly reduce the risk of HIV transmission.

Sementara dalam Condom effectiveness in reducing heterosexual HIV transmission (Review)


oleh

Weller SC, Davis-Beaty K yang dipublikasikan Cochrane Database of Systematic Reviews 2002,
Issue 1. Disebutkan

This review indicates that consistent use of condoms results in 80% reduction in HIV incidence.
Consistent use is defined as usinga condom for all acts of penetrative vaginal intercourse.
Because the studies used in this review did not report on the “correctness” of use, namely
whether condoms were used correctly and perfectly for each and every act of intercourse,
effectiveness and not efficacy is estimated. Also, this estimate refers in general to the male
condom and not specifically to the latex condom, since studies also tended not to specify the type
of condom that was used. Thus, condom effectiveness is similar to, although lower than, that for
contraception.

Kita masih akan menemui banyak sekali penelitian yang menunjukkan bahwa kondom cukup
memiliki efektivitas dalam mencegah penularan virus HIV. Tentu saja tidak 100% efektif.
Kondom memiliki kemungkinan bocor atau robek (tapi bukan karena pori) sebagaimana yang
dilansir oleh banyak penelitian seperti penelitian Nwasu dan kawan-kawan “A Water Leak Hang
Test on a Random Sample of

Condoms in Nnewi, South-East Nigeria dipublikasikan di Greener Journal of Medical Sciences


Vol. 2 (6), pp. 130-133, November 2012 yang mengungkapkan angka kebocoran kondom latex
yang mereka teliti mencapai 5%.

Di samping itu, diungkap dari berbagai penelitian tentang inkonsistensi dalam pemakaian
kondom, kesalahan penggunaan merupakan sebab kegagalan pencegahan HIV melalui kondom
di Negara-negara subsahara, Afrika. Sehingga, disimpulkan dari riset, bahwa justru kondom
tidak efektif dalam pencegahan penularan HIV. Langkah yang tepat yang berhasil menekan laju
penularan HIV adalah perubahan perilaku seksual. (Hearst N, Chen S. Condom promotion for
AIDS prevention in the developing world: is it working? Stud Fam Plann. 2004 Mar;35(1):39-
47.)

Dari penuturan panjang di atas. Setidaknya saya ingin menghimbau agar dakwah kita lebih
cerdas. Bukan berarti karena demi kepentingan dakwah, kita asal comot dalam membuat
pernyataan kan?

Jadi simpulannya bila bicara kondom, stop cerita tentang mitos kondom berpori.

Kalau saya, cukup katakan begini:

“Kondom adalah salah satu alat kesehatan yang mungkin bisa mencegah penularan virus HIV.
Tapi dia tidak akan bisa mencegah pelaku zina yang menggunakannya dari adzab neraka”

Salam.
SERPIH 3

KELUARGA SEHAT DENGAN SYARIAH


BELAJAR MENGHINDARI STRESS DALAM MENGASUH ANAK

Oleh: dr. Putri Firdayanti

Tidak sedikit dari orang tua yang mengeluhkan betapa sulitnya mengasuh anak di masa sekarang
ini. Memiliki anak yang pintar lagi saleh serta sukses dunia dan akhirat menjadi idaman semua
orang tua. Hanya saja tantangan globalisasi budaya, informasi dan teknologi serta menipisnya
nilai nilai agama dalam kehidupan bermasyarakat adalah PR dan tugas kita bersama karena
sedikit banyaknya akan mewarnai perilaku anak-anak zaman sekarang, termaksud anak kita.
Ibarat membuat istana pasir di bibir pantai, begitu tersapu dengan ombak maka akan runtuh,
hilang begitu saja. Apa yang sudah diupayakan orang tua rasanya akan menjadi pekerjaan yang
sia-sia. Keadaan yang demikian tidak jarang kemudian menimbulkan stress.

Stress adalah respon tubuh pada sesuatu akibat berbagai persoalan yang dihadapi, mencakup
mental, sosial dan fisik termasuk didalamnya permasalahan anak. Gejala-gejalanya bisa berupa
kelelahan, kemurungan, kelesuan, kehilangan atau meningkatnya nafsu makan, sakit kepala,
sering menangis, sulit tidur atau malah tidur berlebihan. Stress erat kaitannya dengan sistem
kekebalan tubuh. Banyak penelitian yang menemukan adanya kaitan sebab-akibat antara stress
dengan penyakit, seperti penyakit jantung, gangguan pencernaan, darah tinggi, maag, alergi, dan
beberapa penyakit lainnya. Oleh karenanya, perlu kesadaran penuh untuk menjaga kesehatan
fisik dan psikis.

Orang tua bukan malaikat, yang tak pernah salah. begitujuga anak anak kita bukan malaikan
yang selalu benar. Anak anak kita sedang berproses dan belajar untuk mengayuh kehidupan demi
meraih kebahagiaan dan kebaikan dalam hidupnya. sehingga dalam membesarkan dan mendidik
mereka kita harus memahami mereka secara utuh. Namun tidak dipungkiri terkadang orang tua
mengalamai banyak persoalan dengan anak anaknya. Yang persoalan itu tidak jarang membuat
orang tua stress. Berikut ini cara mengurangi tekanan agar dapat mengasuh anak tanpa stress, di
antaranya:

1. Memandang anak dengan kaca mata Islam


“Wahai orang-orang yang beriman, jangan kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan
jangan kalian mengkhianati amanat-amanat kalian, sedang kalian mengetahui. Ketahuilah
bahwa harta kalian dan anak-anak kalian adalah ujian. Dan di sisi Allah ada pahala yang
besar” (QS. Al-Anfal: 27-28)

Anak adalah amanah sekaligus ujian dari Allah SWT. Sebagaimana amanah maka harus dididik
dan diasuh dengan baik. Sementara ujian yang diberikan lewat anak sangat beragam.
Pemahaman yang benar tentang Islam menjadikan kita sebagai orang tua bisa melewati ujian
dengan benar sekaligus akan dapat mendidik dan mengasuh anak-anak dengan penuh kesabaran
dan kasih sayang. Memahaminya sebagai sebuah amanah, akan menjadikan orang tua berhati
hati dalam mengasuk anak anaknya. layaknya amanah, maka Allah Swt akan meminta
pertanggung jawaban atas apa yang di amanahi pada kita. ketaqwaan orang tua adalah kekuatan
utama dalam mengasuh, mendidik dan membesarkan anak anak.

2. Memahami Tumbuh Kembang Anak

Setiap anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahapan usianya. Pertumbuhan dan
perkembangan, mencakup dua peristiwa yang berbeda, tetap saling berkaitan dan sulit
dipisahkan. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan besar, jumlah, ukuran. Sementara
perkembangan yaitu bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh.

kita harus paham, kapan anak bisa duduk, berdiri, berjalan, meraih sesuatu, bisa untuk di ajak
kerjasama, dll. Hal ini menjadi sangat penting bagi orang tua untuk memahami setiap proses
tumbuh dan kembang anak. tugas kita memantau, jika terdapat permasalahan maka dengan sigap
bisa mengatasinya.

Ketidaktahuan orang tua tentang tumbuh kembang anak sesuai usia, bisa menimbulkan tekanan.
Pendidikan dan pengasuhan yang baik harus dilakukan sesuai dengan usia anak. Pengetahuan
tentang tumbuh kembang akan sangat membantu dalam melakukan penanganan terhadap
masalah anak.

3. Memahami Potensi Anak

Allah SWT menciptakan manusia sekaligus dengan potensinya berupa akal, kebutuhan jasmani,
dan naluri. Pada masa anak-anak ketiga potensi ini masih terus tumbuh dan berkembang. Di
sinilah perlunya bimbingan dan pengarahan. Ketidak-mampuan orang tua dalam mengenali
potensi anak dan penampakannya seringkali menimbulkan masalah. Karena sejatinya,
permasalahan manusia termasuk anak-anak berkisar tentang pemenuhan kebutuhan jasmani dan
naluri. Sebelum memasuki usia baligh akal anak masih belum sempurna, sehingga terkadang
belum mampu menyelesaikan permasalahannya dengan pemahaman yang benar

4. Kerjasama

Mengasuh dan mendidik anak memang tugas utama ibu, tapi diperlukan juga kerjasama untuk
meringankan tugas ini. Luangkan waktu khusus bersama suami untuk membicarakan persoalan
anak-anak dan mencari solusinya, terutama yang sekiranya bisa menimbulkan stress. Ayah dan
Ibu harus menjadi partner yang solid dalam mendidik dan membesarkan anak anaknya.

5. Jauhkan Anak Dari Situasi yang Menekan

Anak rewel terkadang hanya karena merasa tidak nyaman. Maka perlu diperhatikan saat-saat
anak mengalami kelelahan. Kapan dia harus makan dan beristirahat. Ketika merasa tidak
nyaman, capai, lelah, ngantuk, lapar maka gampang sekali anak menimbulkan masalah. orang
tua harus mengerti kondisi anak. karena itu kewajiban kita untuk terus belajar
memahami mereka.

6. Berbagilah

Teman merupakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup. Bayangkan jika banyak sekali
masalah yang dihadapi, tetapi tidak ada teman curhat yang dapat dipercaya. Ibarat gelas jika diisi
air terus menerus, maka akan tumpah luber kemana-mana. Pastikan bahwa teman yang dipilih
benar-benar yang bisa membantu bukan teman yang justru akan menambah masalah baru.
Mengunjungi atau berbagi pengalaman dengan para ibu yang sukses dalam melakukan
pengasuhan terhadap anak-anak akan sangat membantu. Suami tentu saja diharapkan dapat
menjadi teman (sahabat) terbaik buat isteri untuk menumpahkan segala masalahnya termasuk
urusan anak-anak. Insya Allah curhat dengan suami rahasia akan lebih terjaga.

7. Sabar

Sabar merupakan cara mengatasi stress yang paling jitu. Jika tidak dengan kesabaran, bagaimana
mungkin akan sanggup menghadapi setiap masalah anak-anak dengan baik dari sejak bangun
tidur sampai tidur kembali. Sabar disertai dengan niatan ikhlas hanya semata-mata untuk mencari
ridha Allah SWT akan menjadi energi yang luar biasa dalam menjalani kehidupan. Maka seberat
apapun beban dan ujian yang diberikan lewat anak-anak Insya Allah akan dapat dihadapi dengan
ringan.

8. Tawakal dan Doa

Tak ada masalah yang tidak ada penyelesaian. Begitu pula dengan persoalan anak-anak.
Bertawakal-lah kepada Allah, maka akan diberi jalan yang kadang di luar perkiraan. Saat sudah
merasa sangat tertekan dengan persoalan anak-anak, rasanya sudah tidak ada jalan keluar, tanpa
diduga terjadi perubahan yang luar biasa pada anak-anak kita. Kepasrahan puncak kepada Allah
perlahan akan meringankan beban dan tidak menimbulkan stress. Berdoalah selalu minta
bantuan Allah SWT dalam menyelesaikan masalah anak-anak. Kadang kita sudah berusaha
optimal untuk memperlakukan dan memberikan yang terbaik. Tetapi sejatinya hanya Allah
jualah yang membukakan mata, hati dan pikiran anak-anak kita untuk mau mengerti seperti yang
kita inginkan. Sebutkan namanya satu persatu ketika mendoakan mereka. Mintalah jalan kepada
Allah sesuai dengan apa yang kita inginkan untuk masing-masing anak. Doa akan memberikan
kekuatan ketika kita menghadapi anak-anak dan permasalahannya. Karena hanya Allah jualah
yang paling mengerti apa yang terbaik untuk anak-anak kita. Doa akan menguatkan kita dalam
menghadapi masalah seberat apapun. Maka sekira bahu sudah terasa berat, maka ketuklah pintu
langit. mintalah pertolongan dariNya. Sungguh tidak ada daya upaya kecuali atas
pertolonganNya.
PENDIDIKAN SEKS DINI, PERLUKAH?

Oleh: dr. Aulia Rahman

Masih segar dalam ingatan, kasus yang terjadi baru-baru ini. Buku yang diklaim sebagai buku
bermuatan ajaran seks dini menampilkan isi yang tidak selayaknya dibaca oleh anak-anak. Meski
penerbit telah berdalih bahwa buku tersebut seharusnya dibaca dengan pendampingan orang tua,
tetap saja terjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat mengenai kalimat-kalimat dan gambar
yang cenderung secara gamblang menjelaskan tentang adegan masturbasi. Ini bukan pertama
kalinya terjadi. Di negara ini, selain kasus korupsi, kejahatan lain yang patut mendapat perhatian
adalah tindak kekerasan dan kejahatan seksual pada anak dan perempuan. Hidup dan kehidupan
anak terus ternoda dan dinodai oleh berbagai aksi kekerasan baik yang datang dari keluarga,
sekolah, lingkungan sekitar, bahkan negara. Dari tahun ke tahun berbagai aksi kekerasan tersebut
terus mengalami peningkatan. Hal ini menjadi perhatian banyak pihak sehingga memunculkan
pandangan pentingnya memberikan pendidikan seks sedini mungkin demi mencegah terus
terjadinya kasus-kasus kejahatan seksual tersebut.

Buah Sekularisme

Kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan menjadi persoalan yang belum kunjung tuntas.
Alih-alih tuntas, justru kuantitas dan kualitas kekerasan ini mengalami peningkatan. Ada asap
pastinya ada api. Jika direnungkan, maraknya pencabulan dan perkosaan berujung pada
sekulerisme dan kebebasan. Sekulerisme meminggirkan keimanan dan ketakwaan. Jadilah,
masyarakat sekarang ibarat mobil remnya blong. Sementara paham dan praktek kebebasan ibarat
gas yang mendorong, memacu dan membuka peluang terjadinya pencabulan dan perkosaan.

Sudah begitu, berbagai pemicu syahwat dan berbagai hal yang membuka peluang terjadinya
kejahatan itu begitu marak dan tersebar luas. Tindakan penguasa untuk mencegah, menindak dan
menanggulanginya juga terlihat sangat minim. Di sisi lain, sistem hukum yang seharusnya
berfungsi sebagai palang terakhir nyatanya begitu lemah dan malfungsi.
Pemicu syahwat seperti pornografi dan pornoaksi begitu marak beredar di masyarakat. Konten
pornografi dan pornoaksi tetap begitu banyak di dunia maya. Dengan kecanggihan alat
komunikasi atau gadget, konten pornografi makin mudah diakses dan disebar. Muatan
pornografi juga banyak terpampang di media cetak dan elektronik. Banyak tayangan majalah dan
di televisi mengarahkan pada kehidupan bebas dan mengumbar aurat wanita.

Bagaimana pandangan Islam tentang pendidikan seks?

Berbeda halnya dengan sistem sekuler kapitalis, Islam menjadikan aqidah Islam, sebagai asas,
wahyu Allah sebagai pijakannya. Islam memiliki aturan yang sangat rinci dan sempurna,
mencakup seluruh aspek kehidupan.

Pendidikan seks dalam Islam diberikan sebagai bagian tak terpisahkan dari penanaman akidah,
ibadah dan akhlak. Asasnya adalah memahamkan siapa jati diri dan apa tujuan hidup serta
bagaimana meraih tujuan hidup manusia. Materinya akan menjelaskan tentang perkembangan
organ reproduksi yang akan/sedang dialami remaja ketika mengalami pubertas, apa
konsekuensinya dan bagaimana seharusnya bersikap. Juga memahamkan tentang adanya fitrah
manusia berupa naluri seksual (gharizah nau’) berikut karakteristiknya, apa saja yang bisa
merangsang munculnya naluri tersebut, bagaimana mengendalikannya, bagaimana pemenuhan
yang benar dan yang salah berikut konsekuensinya.

Dalam kitab-kitab fiqih para ulama menjelaskan bahwa orang tua bertanggung jawab
menjelaskan panduan Islam dalam mengatur pemenuhan naluri seksual secara benar. Sejak dini
anak-anak dibiasakan malu menampakkan auratnya apalagi organ seksualnya di hadapan orang
lain, menanamkan maskulinitas dan feminitas masing-masing anak agar tidak merangsang
terjadinya penyimpangan, memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan, mengajarkan
minta ijin masuk ke kamar orang dewasa, mengenalkan mahram, menjaga pandangan, melarang
khalwat dan ikhtilat, mengenalkan tanda-tanda dewasa (ihtilam dan haidl) berikut
konsekuensinya dan seterusnya.

Demikianlah bila orangtua menjalankan amanahnya untuk mendidik putera-puterinya sesuai


tuntunan syariat Islam, tidak lagi diperlukan program pendidikan seks. Dan tidak benar kalau ada
orang tua yang menganggap tabu membicarakan naluri seksual ini dengan anak. Yang tabu
adalah menyampaikannya dengan vulgar yang justru merangsang munculnya naluri tersebut.

Syariah Islam sebagai Solusi

Melihat tren penanganan kasus kejahatan ini, tampaknya masih sulit bagi kaum wanita dan anak-
anak mendapatkan rasa aman. Demokrasi dan sistem hukumnya tidak menunjukkan
keberpihakan kepada kelompok masyarakat lemah seperti perempuan dan anak-anak.
Meningkatnya jumlah kejahatan ini adalah bukti meyakinkan kegagalan demokrasi dan
liberalisme memberikan perlindungan kepada masyarakat. Solusi tuntas untuk menyelesaikan
problem darurat kejahatan seksual adalah kembali kepada Islam.

Sistem Islam adalah sistem kehidupan yang unik, di mana Negara bertanggung jawab
menerapkan aturan-aturan Islam secara utuh dalam rangka mengatur seluruh urusan umat,
sehingga umat mendapatkan jaminan keamanan dan kesejahteraan secara adil dan menyeluruh.
Dan ini semua hanya akan bisa diterapkan dan dilaksanakan jika aturan Islam diterapkan secara
keseluruhan dalam sebuah institusi Negara, yaitu Daulah Khilafah Islamiyyah, yang menjadikan
aqidah dan syariat Islam sebagai pijakannya.

Negara juga akan mencegah masuknya segala komoditas yang berpotensi melemahkan, termasuk
melemahkan akidah dan kepribadian kaum muslim ke dalam negeri. Dengan 3 pilar ini, yaitu
ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan peran negara, maka umat manusia akan tercegah
dari perbuatan maksiat, termasuk pelecehan seksual pada anak.

Karenanya upaya pencegahan terjadinya kekerasan terhadap anak hanya akan bisa terwujud
dengan 3 pilar, yaitu ketakwaan individu dan keluarga, yang akan mendorongnya senantiasa
terikat dengan aturan Islam secara keseluruhan. Keluarga, dituntut untuk menerapkan aturan di
dalam keluarga, seperti memisahkan tempat tidur anak sejak usia 7 tahun, membiasakan menutup
aurat dan tidak mengumbar aurat, tidak berkhalwat, dan sebagainya. Aturan inilah yang akan
membentengi individu umat dari melakukan kemaksiatan dan dengan bekal ketakwaan yang
dimiliki, seseorang akan mencegah dirinya dari melakukan perbuatan maksiat.

Pilar kedua, kontrol masyarakat. Ia akan menguatkan apa yang telah dilakukan oleh individu dan
keluarga, sangat diperlukan untuk mencegah menjamurnya berbagai rangsangan di lingkungan
masyarakat. Jika masyarakat senantiasa beramar ma’ruf nahi mungkar, tidak memberikan
fasilitas dan menjauhi sikap permisif terhadap semua bentuk kemungkaran, tindakan asusila,
pornoaksi dan pornografi, niscaya rangsangan dapat diminimalisir.

Begitu juga Islam mewajibkan negara untuk menjamin kehidupan yang bersih dari berbagai
kemungkinan berbuat dosa. Negara menjaga agama, menjaga moral dan menghilangkan setiap
hal yang dapat merusaknya seperti terjadinya pornoaksi atau peredaran pornografi, minuman
keras, narkoba dan sebagainya. Dalam pandangan Islam, negara adalah satu-satunya institusi
yang dapat melindungi anak dan mengatasi persoalan kekerasan terhadap anak ini secara
sempurna.

Di samping itu, Negara sebagai pelaksana utama diterapkannya Syariat Islam, maka
berwewenang untuk memberikan sanksi yang tegas kepada pelaku tindak kejahatan seksual
terhadap anak ini. Negara akan menerapkan aturan sosial yang bersih sekaligus melakukan
internalisasi pemahaman melalui aktivitas dakwah dan pendidikan, sehingga setiap anggota
masyarakat memahami tujuan hidup dan makna kebahagiaan hakiki, dan pada akhirnya secara
otomatis akan menghindarkan rakyatnya melakukan berbagai tindakan kemaksiatan, termasuk
kekerasan seksual terhadap anak.[]
MENYUSUI UNTUK DUNIA

Oleh: dr. Maria Ulfah, M.Si,Med

Beruntunglah anak manusia yang sempat ‘menetek’ Air Susu Ibu (ASI) dengan sempurna,
karena tidak ada makanan di dunia ini yang sesempurna ASI. ASI adalah jenis makanan ‘ajaib’
yang mencukupi seluruh unsur kebutuhan bayi. Segala yang terbaik yang mengalir di tubuh ibu
diolah menjadi yang terbaik diberikan ke bayi lewat ASI.

Makanan ajaib ini mengandung lebih dari 200 unsur zat makanan. Jenis karbohidrat yang
dikandungnya paling cocok dengan bayi. Jenis proteinnya protein whey, yang halus lembut dan
mudah dicerna, tak seperti protein susu sapi yang bergumpal dan sangat sukar dicerna usus bayi.
Inilah yang menyebabkan bayi ASI eksklusif sangat jarang terkena diare. Perbandingannya, bayi
tanpa ASI dengan bayi ASI eksklusif 14,2 kali lebih sering terkena diare.

Lemaknya adalah lemak rantai panjang yang dibutuhkan jaringan otak dalam jumlah yang tinggi.
ASI juga mengandung banyak sekali hormon yang diperlukan tubuh. Hampir semua vitamin
telah dipenuhi oleh ASI. Zat besi, zat yang tak dapat diserap sempurna dari susu sapi juga
tersedia di dalamnya. Termasuk enzim-enzim yang diperlukan tubuh, yang tidak mungkin bisa
didapatkan dari susu sapi kemasan. Dan tak kalah pentingnya, peranan kolustrum, yakni ASI di
hari-hari pertama bayi yang berisi berbagai zat kekebalan.

Ajaib bukan? Dan yang lebih ajaibnya lagi, ASI mampu menyesuaikan kadarnya sendiri. Anda
jangan heran bila menemukan kandungan ASI pada anak umur 1 minggu akan berbeda dengan
anak umur 1 bulan atau sudah 1 tahun. ASI untuk anak perempuan berbeda dengan ASI untuk
anak lelaki. Bahkan, bila kita mengecek, kandungan ASI saat siang akan berbeda dengan
kandungannya waktu malam. Betul-betul makanan ajaib yang telah disetting sedemikian rupa
menyesuaikan kebutuhan bayi.

ASI Membentuk Pribadi Tangguh

Klaus dan Kennel dalam teorinya menyebutkan masa kritis seorang bayi adalah pada saat 12 jam
pertama dilahirkan. Kontak pada 1 jam pertama setelah melahirkan memberi pengalaman
mendasar pada jabang bayi. Maka bagi ibu, hal terbaik yang bisa dia berikan dalam jam-jam
pertama adalah kontak fisik berupa menyusui. Ini, menurut para ahli psikologi, akan membentuk
‘kelekatan’ yang sangat baik, yang akan membangun konstruksi mental yang kokoh dan tangguh
di masa depannya.

Menyusu adalah proses adaptasi lingkungan yang paling ideal dari rahim ke dunia bebas.
Dekapan ibu yang hangat saat menyusu merupakan tempat yang mirip dengan rahim. Inilah
tempat yang paling aman bagi mereka. Saat mereka belajar di dunia barunya, lalu bertemu
dengan sesuatu yang berasa perih atau mengancam, maka menyusu dalam dekapan hangat ibu
adalah tempat yang paling ideal untuk menyembuhkan diri. Hingga bila saatnya tiba, dia akan
telah begitu siap dan gagah menghadapi dunia

Betapa menakutkannya bagi sang bayi ketika baru saja keluar dari rahim dan diputus
plasentanya, tiba-tiba saja dia disapa dengan zat yang asing, dijauhkan dari kehangatan ibunya.
Tega sekali, mungkin begitu yang ada di alam pikiran sang bayi, memberikan susu dari sapi yang
begitu asing, meski dikemas dengan nama susu formula bermerek, dibumbui dengan vitamin-
vitamin dan dibrandol dengan harga yang menjulang tinggi. Tega sekali pula, melepas dia begitu
saja di dunia luar, meski dalam ranjang bayi hangat yang paling mewah dihiasi mainan lucu.
Tidak, sang bayi tidak mengerti harga dan kemewahan. Yang dibutuhkan dia sederhana…
dekapan hangat bunda sambil menyusu.

Bunda, Mari Menyusui

Allah memerintahkan kita untuk menyusui dan menggenapi masa persusuan hingga dua tahun.
Bayangkan, betapa indahnya aturan Allah ini. Selain mewujudkan kelekatan emosi, juga
memberi ‘the best’ nutrisi.

Maka saat ini, ketika generasi di hadapan kita tampil dengan tubuh yang rentan sakit-sakitan.
Sikap hidupnya pemalas, pembangkang, kriminal, seks bebas, dan beragam kenakalan lainnya
maka kita patut mencurigai, jangan-jangan ada kontribusi ‘akibat tanpa ASI’ di sana, selain
karena nilai-nilai Islam yang gagal ditanamkan.

ASI berperan penting dalam nutrisi yang sehat bagi dunia. Dan ASI lebih dari itu, berperan lebih
penting lagi untuk pembentukan generasi yang sehat, tangguh, dan berkarakter. Saat ini, saat
dunia tampak begitu kelam, maka tugas kitalah menyiapkan generasi-generasi cemerlang yang
sehat, tangguh dan berkarakter… dan ASI kita, duhai para ibunda, memiliki sumbangsih besar
untuk mencetak generasi unggul berikutnya.

Jadi para bunda, mari mengambil peranan untuk untuk masa depan dunia yang lebih baik. Mari
menyusui, untuk dunia.
ATASI OBESITAS, WUJUDKAN GENERASI BERKUALITAS

Oleh: dr.Tuti Rahmayani

Meningkatnya jumlah anak-anak dengan obesitas akhir-akhir ini bisa menjadi renungan bersama
para orangtua agar lebih memperhatikan serius nutrisi anak. Obesitas adalah penumpukan lemak
berlebih di badan. Jadi tidak sekedar kelebihan berat badan. Proses penumpukan lemak ini
membutuhkan proses yang lama. Begitu pula dengan upaya menghilangkan obesitas. Butuh
kesabaran dan kekonsistenan dalam menjalaninya. Obesitas diakibatkan ketidakseimbangan
kalori yang masuk dan keluar. Sehingga kelebihan ini disimpan menjadi lemak.

Konsumsi makanan tinggi kalori (yang berlemak dan manis) tanpa diiringi pembakaran kalori
lewat olahraga, akan meningkatkan resiko munculnya obesitas. Obesitas bisa juga dikatakan
penyakit yang timbul akibat gaya hidup. Konsumsi makanan cepat saji (biasanya tinggi kalori,
rendah serat) dan aktivitas anak-anak yang didominasi gadget, minus olahraga semakin
memudahkan anak menjadi obesitas. Obesitas perlu diwaspadai karena meningkatkan resiko
munculnya diabetes, jantung koroner, stroke, sesak napas hingga kanker.

Pola hidup masyarakat modern yang terbiasa dengan segala sesuatu yang praktis, instan dan
mudah juga turut mempengaruhi. Biar anak tidak rewel, dikasi gadget. Promosi makanan instan
di media pun lebih banyak daripada makanan sehat bergizi. Lebih mudah beli ketimbang masak.
Lebih mudah memberi susu botol daripada menyusui yang terkesan merepotkan dan lain
sebagainya.

Namun, setiap pilihan pasti ada resikonya. Jalan menuju sukses hakiki tidak ada yang mudah. Itu
sudah sunnatullah. Termasuk mewujudkan generasi berkualitas. Perlu upaya serius dan tidak
sekedarnya. Perlu kesabaran dan pengorbanan.

Setiap kerja keras pasti membuahkan hasil. Pemberian ASI (Air Susu Ibu) misalnya, bisa
menurunkan resiko obesitas. Sekaligus juga meningkatkan kekebalan tubuh sehingga tidak
mudah sakit. Inilah investasi hakiki seorang ibu. Yang ikhlas menyediakan waktu dan dirinya
untuk menyusui si buah hati. Ibu sendiri yang akan menuai hasilnya. Orangtua juga harus
berkorban meluangkan waktu mengajari anak bermain sepeda, berenang, bulutangkis dsb, agar
anak teralihkan dari gadget dan playstation.

Terakhir yang juga tidak kalah penting adalah peran negara. Negara harus memastikan warganya
mampu memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang, pangan, papan. Negara juga yang mampu
meratakan distribusi ekonomi agar tidak muncul fenomena obesitas, namun di daerah lain gizi
buruk. Negara dan aparatnya juga yang mampu mengedukasi para orangtua agar memiliki bekal
cukup dalam mencetak generasi unggul. Negara macam manakah yang mampu? Saya rasa saya
dan Anda sudah tahu jawabnya.
IBU RUMAH TANGGA PENYANDANG HIV/AIDS TERBANYAK, BAGAIMANA
SOLUSI ISLAM?

Oleh: dr. T. Reni Yurista

Seperti yang dilansir Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan,
hingga September 2015, penderita HIV/AIDS terbanyak di kalangan perempuan adalah ibu
rumah tangga. Sebanyak 9.096 ibu rumah tangga adalah penyandang HIV/AIDS. Urutan di
bawahnya ditempati kelompok wiraswasta dengan jumlah 8.287 jiwa. Sementara penjaja seks,
profesi yang berisiko tinggi tertular HIV, justru ada di urutan keenam, yakni 2.052 jiwa.

Fakta ini menunjukkan tren penularan HIV/AIDS telah memasuki gelombang keempat. Direktur
Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Inang Winarso mengatakan tren
penularan HIV/AIDS akan terjadi dalam lima gelombang. Gelombang pertama terjadi pada
1987-1997, ditandai tren penularan melalui hubungan seks sejenis pada pria. Pada 1997-2007
gelombang kedua berlangsung, yakni tren penularan lewat jarum suntik oleh pengguna narkoba.
Tahun 2007 hingga 2011 adalah gelombang ketiga, ditandai tren penularan lewat hubungan
heteroseksual berisiko tinggi tertular HIV, terutama lewat transaksi dengan pekerja seks. Mulai
2011, gelombang keempat mulai tampak, yakni tertularnya kelompok dengan perilaku berisiko
rendah, termasuk ibu rumah tangga. Jika tidak ditangani dengan baik, maka tren penularan akan
masuk ke gelombang lima, yakni penularan HIV dari ibu ke bayi.

Mengapa Ibu Rumah Tangga?

Kaum liberal menyatakan kerentanan ibu rumah tangga tertular HIV/AIDS disebabkan oleh
ketimpangan gender di mana laki-laki lebih banyak bekerja di luar rumah sementara perempuan
‘dipaksa’ bersikap pasif dan hanya bisa berada di dalam rumah. Sementara itu, perilaku seksual
suami seperti membeli jasa pekerja seks komersial dan memakai narkoba suntik seringkali tidak
dapat dibendung oleh para istri. Ibu rumah tangga, dalam posisinya yang lemah, tidak berdaya
meminta suaminya memakai kondom saat berhubungan seks sehingga tertular virus mematikan
ini karena berhubungan seksual dengan suami tanpa alat pelindung. Di sisi lain, perempuan
pekerja seks justru lebih menyadari bahaya tertular virus HIV sehingga mereka cenderung lebih
memiliki posisi tawar yang tinggi untuk memaksa pelanggannya memakai kondom.

Kesalahan Paradigma

Selama ini paradigma yang dipakai dalam mengatasi HIV/AIDS adalah bahwa negara tidak
berhak mengontrol perilaku seks rakyatnya. Seks bebas seakan-akan sudah merupakan tuntutan
zaman sehinggga tidak mungkin dapat melarang masyarakat membeli seks, baik itu seks beda
jenis maupun seks sejenis. Ringkasnya, ‘Jangan capek-capek melarang transaksi seksual,
mintalah pakai kondom jika tidak ingin tertular.’

Paradigma ini terus dipakai dalam setiap inovasi penanggulangan HIV/AIDS yang digagas
pemerintah dan WHO. Walhasil, program penanggulangan HIV/AIDS hanya gencar pada topik
penggunaan kondom dan konseling pada pelaku seks resiko tinggi. Cara seperti ini justru tidak
berhasil memutus rantai penularan penyakit.

Sumber penyakit AIDS ini jelas, yaitu perilaku bergonta-ganti pasangan seks, perzinaan, seks
bebas (free sex dan free love), dan penggunaan narkoba suntik. Para istri tidak akan bersentuhan
dengan virus HIV apabila suami mereka tidak bersentuhan dengan sumber penyakit. Oleh karena
itu, seharusnya yang diutak-atik adalah perilaku menyimpang para suami.

Solusi Islam

Perzinaan adalah faktor resiko utama penularan HIV/AIDS. Maka, pintu ini harus ditutup rapat-
rapat. Karena itu, dengan tegas Islam mengharamkan perzinaan dan seks bebas. Allah SWT
berfirman: “Janganlah kalian mendekati perzinaan, karena sesungguhnya perzinaan itu
merupakan perbuatan yang keji, dan cara yang buruk (untuk memenuhi naluri seks).” (QS al-
Isra’ [17]: 32)

Bukan hanya mengharamkan perzinaan, tetapi semua jalan menuju perzinaan pun diharamkan.
Islam, misalnya, mengharamkan pria dan wanita berkhalwat (menyendiri/berduaan).
Sebagaimana sabda Nabi saw, “Hendaknya salah seorang di antara kalian tidak berdua-duaan
dengan seorang wanita, tanpa disertai mahram, karena pihak yang ketiga adalah setan.” (HR
Ahmad dan an-Nasa’i). Islam juga memerintahkan baik pria maupun wanita, sama-sama untuk
menundukkan pandangan kepada lawan jenis dan menjaga kemaluan mereka (QS an-Nur [24]:
30-31).

Ini dari aspek pelakunya. Dari aspek obyek seksualnya, Islam pun tegas melarang produksi,
konsumsi dan distribusi barang dan jasa yang bisa merusak masyarakat, seperti pornografi dan
pornoaksi. Karena semuanya ini bisa mengantarkan pada perbuatan zina. Sebagaimana kaidah
ushul yang menyatakan, “Sarana yang bisa mengantarkan pada keharaman, maka hukumnya
haram.”

Jika seluruh hukum dan ketentuan di atas diterapkan, maka praktis pintu zina telah tertutup rapat.
Dengan begitu, orang yang melakukan zina, bisa dianggap sebagai orang-orang yang benar-
benar nekat. Maka terhadap orang-orang seperti ini, Islam memberlakukan tindakan tegas. Bagi
yang telah menikah (muhshan), maka Islam memberlakukan sanksi rajam (dilempari batu)
hingga mati. Ketika Maiz al-Aslami dan al-Ghamidiyyah melakukan zina, maka keduanya di-
rajam oleh Nabi SAW hingga mati.

Bagi yang belum menikah (ghair muhshan), Islam memberlakukan sanksi jild (cambuk) hingga
100 kali. Dengan tegas Allah menyatakan, “Pezina perempuan dan laki-laki, cambuklah masing-
masing di antara mereka dengan 100 kali cambukan.” (QS an-Nur [24]: 02)

Punishment bukan hanya diberikan kepada pelaku zina, dengan rajam bagi yang muhshan,
atau dicambul 100 kali bagi ghair muhshan, tetapi semua bentuk pelanggaran yang bisa
mengantarkan pada perbuatan zina. Dalam hal ini, Islam menetapkan sanksi dalam bentuk ta’zir,
yang bentuk dan kadarnya diserahkan kepada hakim. Dengan cara seperti itu, maka seluruh pintu
perzinaan benar-benar telah ditutup rapat-rapat oleh Islam.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang tertular penyakit AIDS, dan bukan pelaku zina? Seperti
ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya yang heteroseksual, atau anak-anak balita, dan
orang lain yang tertular, misalnya, melalui jarum suntik, dan sebagainya?

Karena itu merupakan masalah kesehatan yang menjadi hak masyarakat, maka negara wajib
menyediakan layanan kesehatan nomor satu bagi penderita penyakit ini. Mulai dari perawatan,
obat-obatan hingga layanan pengobatan. Khilafah juga akan melakukan riset dengan serius untuk
menemukan obat yang bisa menanggulangi virus HIV-AIDS ini.
Karena ini merupakan jenis virus yang berbahaya dan mematikan, maka para penderitanya bisa
dikarantina. Ini didasarkan pada hadits Nabi, “Larilah kamu dari orang yang terkena lepra,
sebagaimana kamu melarikan diri dari (kejaran) singa.” (HR Abdurrazaq, al-Mushannaf,
X/405). Nabi memerintahkan kita lari dari penderita lepra, karena lepra merupakan penyakit
menular.

Dalam karantina itu, mereka tidak hanya dirawat secara medis, tetapi juga non medis, khususnya
dalam aspek psikologis. Penderita AIDS tentu akan mengalami tekanan psikologis yang luar
biasa, selain beban penyakit yang dideritanya, juga pandangan masyarakat terhadapnya. Dalam
hal ini, ditanamkan kepada mereka sikap ridha (menerima) kepada qadha’, sabar dan tawakal.
Dengan terus-menerus meningkatkan keimanan dan ketakwaan mereka agar lebih terpacu
melakukan amal untuk menyongsong kehidupan berikutnya yang lebih baik.

Dengan cara seperti itu, Islam telah berhasil mengatasi masalah AIDS ini hingga ke akar-
akarnya. Semuanya itu tentu hanya bisa diwujudkan, jika ada Negara Khilafah yang bukan saja
secara ekonomi mampu menjamin seluruh biaya kesehatan rakyatnya, tetapi secara i’tiqadi juga
mampu mengatasi akar masalah ini dengan pondasi akidah Islam.
MEMPERTANYAKAN KEEFEKTIFAN KELUARGA BERENCANA

Oleh : Ns Sufianti Subchan

Program Keluarga Berencana adalah program pemerintah yang bertujuan untuk mengendalikan
angka kelahiran. Tujuan Keluarga Berencana menurut BKKBN tahun 2012 adalah
meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan ibu, anak serta keluarga dan bangsa pada
umumnya. Dalam sistem kapitalis, program KB diharapkan mampu menekan jumlah
penduduk sehingga akan mengurangi beban negara untuk membiayai rakyatnya. Mewujudkan
keluarga sehat dan sejahtera bukan semata-mata dengan ber KB, apalagi dijadikan program
pemerintah untuk menekan angka populasi.

Secara individu hukum melakukan KB yang bersifat sementara (bukan sterilisasi) adalah mubah,
hal ini didasarkan pada hadits tentang kebolehan melakukan azl. Kebolehan ini didasarkan pada
sejumlah dalil yang menunjukkan kebolehan secara mutlak, tidak terikat dengan kondisi apapun
serta bersifat umum . Dalil tersebut tidak ditaqyid (artinya tidak diikat dengan persyaratan) dan
tidak ditakhshis (tidak ada dalil yang mengkhususkannya) dengan dalil-dalil syar’i yang
lain. Sehingga dalil-dalil tersebut tetap dalam keumuman dan kemutlakannya. Hanya
saja Syara’ telah mensyaratkan bahwa metode itu tidak menimbulkan mudharat baik bagi suami
maupun istri . (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham al-Ijtima’i fi Al-Islam, hal. 148).

Sebagaimana hadits yang berasal dari Jabir ra, dan diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud:

Seorang dari kalangan Anshar pernah datang menjumpai Rasullulah SAW , ia lantas berkata
kepada beliau,” Sesungguhnya saya memiliki seorang hamba sahaya wanita. Saya sering
menggaulinya, sementara saya tidak suka kalau sampai dia hamil”. Rasullulah SAW kemudian
bersabda, “Lakukan saja ‘azl terhadapnya jika engkau mau. Sebab, sesungguhnya akan terjadi
pula apa yang memang telah ditakdirkan oleh Allah baginya.”

Namun jika hal ini dilakukan oleh negara untuk menekan angka populasi dengan alasan masalah
kemiskinan, beratnya beban biaya pendidikan dan kesehatan, maka hal ini bertentangan dengan
konsep islam yang memandang bahwa banyaknya penduduk bukanlah beban bagi negara,
sebagaimana sabda Rasululla saw ” Menikahlah kalian dengan wanita yang penyayang lagi
subur, karena (pada hari kiamat nanti) aku membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan
umat-umat yang lain”(HR Abu Dawud).

Sistem islam telah sangat jelas mengatur bahwa negara bertanggung jawab dalam menjamin
kesejahteraan rakyatnya secara menyeluruh dengan memenuhi kebutuhan dasar individu berupa
sandang, pangan dan papan secara tidak langsung serta memenuhi kebutuhan dasar masyarakat
berupa keamanan, pendidikan termasuk kesehatan secara langsung, sehingga masyarakat tidak
perlu khawatir untuk melahirnya banyak anak karena fasilitas kesehatan, pendidikan dan jaminan
keamanan terpenuhi secara gratis. Dengan pengelolaan sumber daya alam yang tepat dan
menerapkan sistem islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah Islamiyah, maka masalah
kependudukan, kesehatan dan kesejahteraan dapat teratasi. Wallahu’alam bissawab.

Bahan Bacaan:

 Al-Waie (Edisi 1-31 Agustus 2011).


 Gezginc, K., Balci, O., Karatayli, L, & Colakoglu, MC. (2007). Contraceptive Efficacy
and Side Effects of Implanon. The European Journal of Contraception and Reproductive
Health Care. vol. 12 (4), P. 362 – 365.
 Hanna K & Manuel EC (2015). Psychological, Social and Spiritual Effects of
Contraceptive Steroid hormones. Linacre Q;82(3):823-300.<
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4536622/>
 Hartanto, H. (2004). Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Pustaka Sinar Harapan:
Jakarta.
 http://www.kependudukankalbar.com/analisis-data-kependudukan-dan-kb-hasil-susenas-
2015.html
 https://hizbut-tahrir.or.id/2012/05/06/merencanakan-keluarga-tanpa-keluarga-berencana/
 https://m.hizbut-tahrir.or.id/2013/03/19/islam-mengharamkan-kontrasepsi-steril/
SELAMATKAN GENERASI, AMPUTASI LGBT

Oleh: Imanda Amalia, MPH

Laporan Kasus HIV-AIDS di Indonesia, sampai dengan 31 Maret 2016 jumlah infeksi
HIV yang baru dilaporkan HIV sebanyak 32.711 kasus dan AIDS 7.864 kasus. Persentase
infeksi HIV tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 20-29 tahun (24,62%), yang merupakan
usiaproduktif. (Dirjen PP dan PL RI, 2016). Persentase faktor risiko HIV tertinggi adalah
hubungan seks berisiko pada heteroseksual (51%), LSL (Dirjen PP dan PL RI, 2016). Prevalensi
HIV dari faktor risiko, heteroseksual akan semakin meningkat dengan pelegalan LGBT di
Indonesia yang sedang diperjuangkan oleh aktifis LGBT, mengingat Mahkamah Agung Amerika
dengan dukungan penuh presiden Obama mensahkan pernikahan sesame jenis di 50 negara
bagian Amerika, komunitas gay dunia pun merayakan kemenangan mereka, tak ketinggalan
aktivis LGBT Indonesia di New York yang terlihat bersukacita mengikuti parade di sana.
Mereka membawa banner peta Indonesia dengan latar warna pelangi dan tulisan ‘Satu Pelangi’.

Di Indonesia, sampai akhir tahun 2013, jumlah organisasi LGBT yang ada relatif besar, terdiri
dari: dua jaringan nasional dan 119 organisasi yang didirikan di 28 provinsi dari keseluruhan 34
provinsi di Indonesia,Organisasi-organisasi ini berperan aktif di bidang kesehatan, publikasi dan
penyelenggaraan kegiatan sosial dan pendidikan. Di Indonesia, pernikahan sesama jenis belum
dilegalkan, namun para aktivis pro-LGBT akan selalu mengusahakannya, salah satunya dengan
“test case” perayaan pernikahan gay di Bali, walaupun pasangan gay tersebut sudah menikah
legal di Amerika (karena pasangan tersebut warga negara Amerika dan warga negara Indonesia)
namun perayaan pernikahan tetap diselenggarakan di Bali.

Sepak terjang aktivis LGBT 2015 mulai bergeser menjadi aktivitas politik, karena telah
dilegalkan di negara pertama, AS. Yang tentu akan diikuti negara-negara yang lain. Aktivitas
komunitas LGBT yang awalnya hanya berupa gerakan sosial melalui aktivitas komunitasnya,
melalui gathering, lalu media sosial, website, dan sebagainya, akhirnya mulai berkolaborasi
dengan lembaga pemerintah skala nasional maupun internasional guna memperjuangkan
legalitas LGBT di Indonesia.
Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, yang Agama Islam sendiri telah tegas
mengharamkan dan melaknat LGBT apalagi perkawinan sesama jenis, wajar kiranya
masyarakarat terutama umat Islam berjuang agar aktivitas mereka dihentikan oleh negara.

Islam menjelaskan bahwa hikmah penciptaaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan adalah
untuk kelestarian jenis manusia dengan segala martabat kemanusiaannya (QS. an-Nisa [4]: 1).
Perilaku seks yang menyimpang seperti homoseksual, lesbianisme dan seks diluar pernikahan
bertabrakan dengan tujuan itu. Islam dengan tegas melarang semua perilaku seks yang
menyimpang dari syariah itu.

Islam mencegah dan menjauhkan semua itu dari masyarakat. Sejak dini, Islam memerintahkan
agar anak dididik memahami jenis kelaminnya beserta hukum-hukum yang terkait. Islam juga
memerintahkan agar anak pada usia 7 atau 10 tahun dipisahkan tempat tidurnya sehingga tidak
bercampur.

Islam juga memerintahkan agar anak diperlakukan dan dididik dengan memperhatikan jenis
kelaminnya. Islam melarang laki-laki bergaya atau menyerupai perempuan, dan perempuan
bergaya atau menyerupai laki-laki.

“Nabi saw. melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki”
(HR. al-Bukhari).

Nabi saw. juga memerintahkan kaum muslim agar mengeluarkan kaum waria dari rumah-rumah
mereka. Dalam riwayat Abu Daud diceritakan bahwa Beliau saw. pernah memerintahkan para
sahabat mengusir seorang waria dan mengasingkannya ke Baqi’.

Dengan semua itu, Islam menghilangkan faktor lingkungan yang bisa menyebabkan
homoseksual. Islam memandang homoseksual sebagai perbuatan yang sangat keji. Perilaku itu
bahkan lebih buruk dari perilaku binatang sekalipun. Bahkan, dii dalam dunia binatang saja tidak
dikenal adanya pasangan sesama jenis.

Islam memandang homoseksual sebagai tindak kejahatan besar. Pelakunya akan dijatuhi sanksi
yang berat. Nabi saw. bersabda:

“Siapa saja yang kalian jumpai melakukan perbuatan kaum Nabi Luth as. maka bunuhlah
pelaku dan pasangan (kencannya)”. (HR. Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah).
Dan semua itu hanya bisa diamputasi secara total ketika ada negara yang menerapkan Islam
secara total.

Wallahu A’lam.
SERPIH 4.

GURITA KAPITALIS MENCENGKERAM KESEHATAN


SELAMATKAN PENDIDIKAN KEDOKTERAN INDONESIA

Oleh : dr.Ahmad Adityawarman

Salah satu gurita masalah kesehatan adalah masalah hulunya, yakni cetakan SDM yang akan
menjadi pelaku pelayanan kesehatan. Tentunya, ragam masalah yang muncul di pendidikan
kesehatan akan menyumbang masalah yang cukup besar dalam bidang kesehatan ini. Tulisan ini
mencoba menelusur permasalahan di pendidikan kedokteran, sebagai stereotype pendidikan-
pendidikan kesehatan yang lain.

Pendidikan kedokteran tentu saja sangat penting dalam mencetak para dokter yang akan
menangani permasalahan kesehatan di tengah masyarakat. Jika kualitas pendidikan kedokteran
buruk, maka masyarakat akan mendapatkan imbasnya.

Masalah yang menjadi sorotan akhir-akhir ini adalah menjamurnya fakultas kedokteran di
Indonesia. Tahun 2016 lalu Kemenristekdikti memberi izin pembukaan fakultas kedokteran (FK)
baru kepada delapan perguruan tinggi. Namun, lima di antaranya ditengarai tidak memenuhi
syarat penilaian Tim Evaluasi Program Studi Dokter. Salah satunya bahkan tidak pernah dinilai
oleh Tim Evaluasi meski Rektor perguruan tinggi tersebut mengklaim sudah mengajukan
proposal pembukaan fakultas kedokteran ke Kemenristekdikti sejak 2014.

Total saat ini di Indonesia telah berdiri 83 fakultas kedokteran. Tahun 2000 lalu Indonesia sudah
memiliki 35 fakultas kedokteran. Artinya dalam 16 tahun terakhir terjadi peningkatan jumlah FK
menjadi lebih dari dua kali lipat.

Apakah jumlah dokter di Indonesia masih kurang sehingga FK masih harus terus dibuka? Rasio
ideal dokter dibanding penduduk menurut WHO adalah 1:2.500, sementara jumlah dokter yang
teregistrasi menurut data Konsil Kedokteran Indonesia saat ini mencapai 117.044. Jika
dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yakni 257.912.349 jiwa, rasionya menjadi
1:2.203. Jadi secara kuantitas sebenarnya sudah cukup. Masalah sebenarnya adalah distribusi
dokter yang sangat buruk. Sekitar 1.000 dari 9.705 puskesmas di Indonesia masih tidak memiliki
dokter.
Banyak FK Bermasalah.

Sementara itu, bagaimana dengan kualitas semua FK yang ada? Dari 75 FK yang sudah
terakreditasi (selain FK yang baru dibuka tahun 2016), 29 di antaranya memiliki nilai C. FK
berakreditasi C itu juga mengalami berbagai masalah, terutama pada jumlah dosen yang terbatas
& sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yang ada.

Idealnya, rasio dosen dan mahasiswa FK adalah 1:10 dan untuk program profesi adalah 1:5.
Masalahnya, selain jumlah dosen yang masih terbatas, beberapa FK membuka penerimaan
mahasiswa baru dalam jumlah yang begitu banyak. Dalam satu tahun ajaran ada yang menerima
200 hingga 300 mahasiswa baru. Tentu saja kondisi ini mempengaruhi kualitas kegiatan belajar
mengajar. Bayangkan saja 1 orang dosen mengajar dalam satu kelas yang dihadiri 200 – 300
mahasiswa.

Beberapa saat lalu sejumlah mahasiswa FK di Papua melakukan aksi protes karena perkuliahan
tidak berjalan normal. Tenaga pengajar utama dari Jakarta di FK tersebut tidak dapat
didatangkan karena masalah biaya. Mahasiswa menjalani praktikum dengan bimbingan video.
Selain itu ada salah satu FK yang dosennya hanya fiktif belaka. Nama sang dosen tercantum
dalam Pangkalan Data Pendidikan Tinggi, namun setelah ditelusuri oleh Tim Evaluasi
Kemenristekdikti, tidak ada yang mengenal nama itu di kampus yang bersangkutan. Universitas
yang tercatat meluluskan dosen tersebut juga menyatakan ia tidak pernah menjadi mahasiswa di
sana.

Kualitas pendidikan kedokteran yang buruk dikhawatirkan menghasilkan lulusan dokter yang
berbahaya bagi masyarakat. Upaya yang sudah dilakukan pemerintah dalam mengatasi hal ini
salah satunya berupa penambahan masa pendidikan selama satu tahun, yakni program internship,
yang dijalani setelah lulus pendidikan profesi serta uji kompetensi. Semua dokter tak terkecuali
lulusan FK dengan kualitas mumpuni diwajibkan menjalani program yang dimaksudkan untuk
pemandirian dan pemahiran ini.

Tak cukup dengan itu, program studi Dokter Layanan Primer (DLP) diharapkan menjadi solusi
untuk meningkatkan kualitas dokter yang berjibaku di fasilitas kesehatan tingkat pertama
(FKTP) seperti puskesmas. Jika program ini diterapkan, setelah menyelesaikan internship, dokter
yang ingin berpraktik di FKTP sebelumnya wajib sekolah lagi mengambil jurusan DLP selama
2-3 tahun. Program ini ditolak oleh IDI karena dianggap tidak evidence based dan tidak
menyentuh akar permasalahan yang ada. Reformasi pendidikan kedokteran Indonesia dinilai
lebih relevan karena jika kurikulum yang sudah ada diterapkan secara ideal, kualitas lulusan
dokter otomatis sudah berkompetensi melakukan layanan primer.

Kapitalisasi Pendidikan Kedokteran

Pembukaan jurusan kedokteran memang seakan menjadi lahan mendulang uang bagi perguruan
tinggi. Animo untuk menjadi dokter memang masih tinggi meskipun biayanya selangit. Salah
satu FK yang baru dibuka tahun ajaran 2016-2017 mematok uang masuk mahasiswa sebesar Rp
225 juta dan biaya per semester Rp 10 juta. Ada juga FK swasta yang mematok uang pangkal Rp
300 juta dan biaya SPP Rp 25-35 juta.

Parahnya, minat orangtua yang tinggi untuk menyekolahkan anaknya di kedokteran


dimanfaatkan oleh calo. Beberapa saat lalu terungkap kasus oknum staf salah satu FK negeri
menawarkan jasa untuk meluluskan calon mahasiswa kedokteran dengan bayaran sekian ratus
juta. Sang calo juga mengaku bisa menyediakan kuota hingga 19 kursi di FK tersebut, meski
akhirnya ia ditangkap dengan tuduhan penipuan.

Pemerintah semestinya lebih tegas dalam menjalankan moratorium pendirian FK dan berfokus
membenahi sistem pendidikan kedokteran yang ada. Jangan karena ada lobi-lobi politik maka
diizinkan pembukaan FK baru yang padahal tidak memenuhi syarat. Pemerintah harus membina
FK yang akreditasinya masih rendah serta menindak tegas FK abal-abal yang hanya mencari
keuntungan tanpa memperhatikan kualitas pendidikannya.

Jangan biarkan FK menerima mahasiswa sebanyak-banyaknya padahal tenaga pengajar dan


fasilitasnya masih sangat terbatas. Input mahasiswa kedokteran harus benar-benar berkualitas,
tidak diterima karena besarnya bayaran uang pangkal semata, tapi setelah melalui seleksi yang
dapat menyaring kualitas akademik maupun mentalitas yang mumpuni. Kapitalisasi pendidikan
kedokteran harus dienyahkan.

Pendidikan kedokteran juga harus dapat mencetak lulusan dengan keimanan dan ketaqwaan yang
baik. Tentu saja ini juga tanggung jawab pemerintah dan menanamkannya mesti sejak
pendidikan dini. Tak bisa dipungkiri, keimanan dan ketaqwaan membuat seorang dokter paham
mengenai hakikat dirinya, bahwa ia selalu diawasi oleh Allah Yang Maha Kuasa, bahwa ia akan
mendapat ganjaran atas apa yang diperbuatnya di akhirat kelak. Dengan ini otomatis seorang
dokter akan sangat bertanggungjawab dalam menangani pasien, selalu mawas diri untuk terus
belajar mengikuti perkembangan sains kedokteran demi meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan yang diberikannya.

Pertanyaannya, bisakah hal-hal di atas diwujudkan dalam kehidupan yang menerapkan


kapitalisme dan sekularisme seperti sekarang? Kapitalisme meniscayakan orang-orang hanya
mengejar keuntungan duniawi sebanyak-banyaknya, sementara sekularisme menjauhkan
seseorang dari predikat iman dan taqwa karena agama dipisahkan dari kehidupan dunia.

Bagi orang tua yang ingin agar anaknya menjadi dokter, juga untuk anda yang masih bercita-cita
menjadi dokter, selayaknya memahami bahwa jalan yang ditempuh untuk itu saat ini tidaklah
mudah. Apabila yang diharapkan adalah keuntungan materi belaka, ingin menjadi kaya raya,
lebih baik menjadi pengusaha saja. Jangan sampai memaksakan kemampuan dan kemauan,
bahkan rela menggelontorkan milyaran rupiah sampai menempuh ‘jalur belakang’. Pahamilah
bahwa sikap seperti ini turut berkontribusi dalam buruknya pelayanan kesehatan terhadap rakyat
di kemudian hari.

Bahan Bacaan:

1. https://m.tempo.co/read/news/2016/12/20/079829055/investigasi-5-fakultas-kedokteran-
baru-jadi-sorotan
2. www.kopertis12.or.id/2016/05/09/fakultas-kedokteran-diumbar-45-persen-berakreditasi-
c.html
3. Kendalikan Jumlah Fakultas Kedokteran. Artikel di Harian Kompas edisi 28 April 2016
halaman 14.
4. www.kki.go.id
5. https://m.tempo.co/read/news/2016/12/21/079829382/investigasi-ada-dosen-fiktif-di-
fakultas-kedokteran
6. www.radarsorong.com/read/2016/12/06/48151/102-Dokter-Bisa-Hilang
7. Presentasi Abdul Razak Thaha (Ketua Dewan Pakar PB IDI) dengan judul Program Studi
DLP Kebijakan Tidak Berbasis Bukti
GURITA NARKOBA, NEGARA GAGAL MEMBENTENGINYA

Oleh: dr. Putri Firdayanti

Seperti halnya minuman keras, narkoba pun bisa menjadi biang kejahatan. Mulai dari tindak
kejahatan, kekerasan, pencurian, orang tua yang menelantarkan anak anaknya, perilaku seks
yang menyimpang dan dampak buruk lainnya hingga kematian. Penyebaran narkoba kini tidak
lagi menyasar orang dewasa, tetapi sudah mulai dipasarkan ke anak-anak.

Badan Narkotika Nasional Provinsi DKI Jakarta menghimbau masyarakat agar mewaspadai
jajanan yang dikonsumsi anak-anak karena bisa mengandung bahan-bahan narkotika. Bentuk
jajanannya bisa berupa permen, coklat maupun kue yang berwarna warni dengan beraneka rasa..
Dalam situs Tempo beberapa tahun lalu diberitakan seorang anak yang tertidur pulas setelah
memakan brownies yang dibeli di sebuah mall Jakarta. Setelah dilakukan penelitian ternyata
brownies tersebut mengandung ganja. Kepala BNN Kabupaten Bogor saat itu, mengatakan
bahwa para pengedar menyamarkan jenis narkoba ke dalam campuran bahan pembuat kue dan
permen.

Sungguh di luar jangkauan nalar kita, begitu tega mereka merusak generasi muda bangsa, bahkan
yang masih sangat belia. Para pengedar membuat permen dengan kandungan ganja dan
dipasarkan kepada anak SD, bahkan juga ditemukan ada anak usia 10 tahun yang telah
menggunakan ganja.

Kapitalisme Biangnya

Kapitalisme menjadikan semua benda layak untuk diperjual-belikan, tidak peduli apakah
berbahaya atau tidak; apakah halal atau haram; yang penting mendapatkan keuntungan yang
sebesar-besarnya.

Dalam sebuah wawancara eksklusif di Metro TV di awal 2013 dengan salah seorang bandar
narkoba yang dirahasiakan identitasnya, sang bandar menyatakan mereka memasukkan narkoba
ke Indonesia dengan berbagai cara termasuk menempatkan orang-orang mereka di beacukai. Dia
juga menyatakan bahwa selama ini tergolong aman karena mereka telah ‘membeli’ aparat dan
pihak pihak terkait termasuk polisi, kepala penjara dan sipir yang memungkinkan mereka lolos
atau mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji.

Kejahatan narkoba, adalah buah dari kapitalisme yang mendasarkan prinsip perbuatan pada asas
manfaat belaka. Kemudian lahirlah gaya hidup yang hedonis––serba boleh—tanpa mau terikat
dengan aturan Allah sebagai pembuat hukum dan peraturan.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa liberalisme mengajarkan setiap orang harus di beri
kebebasan mendapatkan kenikmatan setinggi-tingginya dengan cara mereka sendiri. Dan dari
sudut pandang kapitalis, narkoba tidak dipandang haram jika itu menguntungkan secara materil
dari sisi ekonomi, dan keharaman boleh tetap ada jika masih ada permintaan pasar.

Kehidupan sekulerisme dibangun atas dasar pemisahan agama dari sendi-sendi kehidupan.
Agama terpinggirkan dari pengaturan kehidupan. Jika telah menjauh dari agama maka sungguh
tatanan kehidupan kemuliaan masyarakat akan hancur.

Hukum Islam Tentang Narkoba

Syaikh Sa’aduddin Mus’id Hilali mendefinisikan nerkoba sebagai segala materi (zat) yang
menyebabkan hilangnya atau lemahnya kesadaran/penginderaan. (Sa’aduddin Mus’id Hilali, At
Ta’shil As Syar’I li Al Kahmr wa Al Mukhaddirat, hlm. 142)

Tidak terdapat perbedaan di kalangan ulama mengenai haramnya narkoba dalam berbagai jenis,
baik itu ganja, opium, morfin, kokain, ekstasi dan sebagainya. Atau pun jenis-jenis temuan baru
yang tergolong narkoba seperti methylon dan sebagainya.

Hadis dengan sanad sahih dari Ummuh Salamah RA bahwa Rasulullah SAW telah melarang dari
segala sesuatu yg memabukkan (muskir) dan melemahkan (mufattir). (HR. Ahmad, Abu Dawud
No 3686).

Haramnya narkoba juga diterangkan dalam kaidah fiqih tentang bahaya (dharar): Al aslu fi al
madhaar at tahrim (hukum asal benda yang berbahaya (mudharat) adalah haram). (Taqiyuddin
An Nabhani, Al Syakhshiyah Al Islamiyah, 3/456)

Solusi Islam
Islam adalah agama yang benar, memuaskan akal dan menenteramkan hati. Sebaliknya
kapitalisme sangat bertolak belakang dengan fitrah sebagai hamba Allah. Karenanya hal
mendasar yang perlu dilakukan adalah mengubah cara pandang mendasar dalam kehidupan.
Yaitu memupuk ketakwaan yang kokoh semata-mata untuk meraih ridha-Nya. Sehingga
seseorang akan merasa takut jika melakukan sebuah dosa. Baik dalam kondisi terlihat orang atau
pun tersembunyi dari pandang mata manusia.

Yang kedua, Islam menerapkan sistem sanksi atau ta’zir yang tegas bagi siapa saja yang
melakukan pelanggaran pada hukum-hukum-Nya termasuk sanksi dalam penyalahgunaan
narkoba. Sanksinya berbeda-beda berdasarkan tingkat kesalahannya. Dari yang paling ringan
berupa denda sampai dengan hukuman mati. (Abdurrahman Maliki, Nidzomul Uqubat, 1990, hal
81 dan 98) Hanya saja, sistem ini akan sempurna terlaksana mana kala Islam diterapkan secara
sempurna dalam sebuah naungan negara (Khilafah) sehingga kelak yang akan membentengi kita
semua baik pribadi maupun keluarga, adalah negara.
INDUSTRI FARMASI DAN HEGEMONI ASING

Oleh: Aulia Yahya, Apt

Tidak banyak publik yang tahu, bahwa pada tahun 2008 lalu, di kawasan ASEAN telah resmi
diberlakukan Harmonisasi Regulasi di bidang industri farmasi. Hal tersebut telah menjadi
kesepakatan dan komitmen regional ASEAN. Secara otomatis, Farmasi Indonesia akan
memasuki era baru sekaligus lanskap baru yang penuh dengan tantangan dengan implikasinya
yang luas. Harmonisasi tersebut akan menciptakan pasar tunggal ASEAN untuk produk farmasi.
Suatu peluang sekaligus ancaman potensial bagi farmasi Indonesia menghadapi persaingan
regional yang terbuka dan tidak terproteksi. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua industri
farmasi harus menjalaninya, karena sudah menjadi “keputusan bersama” menghadapi AFTA
(Asean Free Trade Area) dimana obat dari negara ASEAN akan leluasa masuk ke Indonesia.
Begitu juga sebaliknya dari Indonesia bebas masuk ke negara ASEAN yang lain. Pertanyaan
besarnya adalah, apakah industri farmasi di Indonesia (termasuk birokrasinya) sudah siap ? serta
bagaimana kiprah pihak asing dalam kebijakan tersebut ? lantas siapa yang akan di untungkan ?

Industri farmasi dikuasai Asing

Sebagai gambaran, dari sisi jumlah, industri farmasi di indonesia mencapai 280 perusahaan.
Sebagian besar, hampir 80% adalah perusahaan farmasi yang penanam modalnya milik dalam
negeri, serta industri kecil dan menengah. Namun, sekitar 20 pabrik milik asing justeru
menguasai 80% kapital dan penguasaan atas pasar. Diantara perusahaan asing tersebut adalah;
Pfizer, Merck, Bristol-Myers Squibb, Johnson & Johnson, Upjohn, Wyeth, Eli lilly, Schering-
Plough, Abbott, dan GlaxoSmithKline ( semuanya perusahaan AS), lainnya adalah perusahaan
dari Swedia, Jerman, Prancis dan Swiss. Jadi secara umum, asinglah yang menguasai industri
farmasi di Indonesia. Kaitannya dengan harmonisasi ASEAN, baru 50 industri farmasi berskala
besar yang sudah dinyatakan siap memasuki harmonisasi ASEAN tersebut. Sedangkan sisanya
masih memegang sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang dikeluarkan BPOM.
Mereka inilah yang masih harus berjuang untuk memenuhi persyaratan yang berlaku.
Dalam kesepakatan tersebut, setiap industri farmasi harus memenuhi syarat dan ketentuan
standardisasi farmasi ASEAN yang meliputi kewajiban current Good Manufacturing Practices
(cGMP) yang terdiri dari dua persyaratan utama: (1) Asean Common Technical Dossier
(ACTD); (2) Asean Common Technical Requirements (ACTR). Kedua hal diatas sebenarnya
merupakan persyaratan standar kualitas obat dan kemasan yang lazim diberlakukan sama di
semua Negara. Aspek pemenuhan standar tersebut akan di nilai oleh Pharmaceutical Inspection
Convention / Pharmaceutical Inspection Co-operation Scheme (PlC/PICS) yakni sebuah lembaga
yang ditunjuk melakukan inspeksi terhadap satu negara produsen obat.

Untuk memenuhi syarat cGMP tentu bukanlah hal yang sangat mudah. Belum lagi kendala
registrasi industri farmasi yang kian sulit. Kedua hal tersebut (cGMP & registrasi) membutuhkan
persiapan, baik secara fisik pada industri (produksi atau quality control), juga penyediaan
software. Termasuk dalam hal ini adalah sumber daya manusia (SDM). Faktanya, banyak
perusahaan farmasi yang belum siap dan masih terkendala. Ini terlihat dari fisik industri, ruang-
ruang produksi, quality control, dan kualitas SDM yang belum memadai. Menurut Anthony Ch.
Sunaryo Ketua Umum Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi), tidak kurang Rp
30 miliar dana investasi tambahan yang harus dipersiapkan oleh satu perusahaan. Bagi industri
yang besar yang di sponsori PMA atau PMDN kelas kakap bisa jadi dapat dengan mudah
mengikuti persyaratan ini. Tapi bagaimana dengan nasib industri farmasi kecil dan menengah
lainnya ? jika tidak segera memenuhi persyaratan, mereka akan mati dan tergilas karena
harmonisasi.

Memang benar bahwa bagi industri farmasi yang belum terstandar masih diberikan
“kelonggaran” dengan berbagai opsi. Opsi yang diberikan diantaranya; de contract
manufacturing. Jadi, industri kecil dan menengah memproduksi barang dengan cara
menitipkannya di indutsri lain yang sudah memenuhi syarat ( Toll Manufacturing ). Opsi lainnya
adalah merger (penggabungan) beberapa industri farmasi kecil dan menengah. Dan opsi ketiga
adalah melakukan pilihan secara terbatas produk-produk apa saja yang bisa diproduksi. Mereka
konsentrasi di situ dan tidak semua ikon produk bisa diproduksi.

Ini memang kelihatan sederhana. Namun, sebenarnya kalau kita melihatnya dengan jeli, semua
perusahaan yang memenuhi syarat ini bisa dipastikan adalah perusahaan yang mempunyai
kapital besar, dalam hal ini pihak asing. Jika perusahaan kecil sampai melakukan Toll
manufacturing, di dapatkan harga produksi “titipan” ini semakin bertambah. Malahan cots
produksi akan lebih besar daripada harga jualnya.

Dari sini, aroma intervensi tentu sudah bisa kita rasakan, bahwa ada upaya sistematis yang
terselubung untuk “mengerdilkan” industri kecil dan menengah, sementara di pihak lain akan
mengembangkan industri besar. Harmonisasi ASEAN akhirnya banyak sekali melahirkan
persyaratan-persyaratan tambahan yang tidak rasional. Dampaknya pun bisa langsung terasa
Sebagai perbandingan, di Singapura dan Malaysia yang sudah terlebih dahulu melaksanakan
cGMP banyak industrinya yang gulung tikar akibat tidak sanggup memenuhi persyaratan
“irasional” tersebut. Di Malaysia sebanyak 50% industri kecil farmasi yang “keok”, di Singapura
lebih parah lagi, semua (100%) industri kecil farmasinya tutup. Nah, Bisa kita banyangkan
dampak serupa pun akan sangat memungkinkan terjadi di Indonesia.
Dalam rumusan globalisasi, negara yang memiliki kekuatan ekonomi dan sumber daya manusia
yang kuat akan memenangkan persaingan global. Sebaliknya, negara yang lemah akan tersisih.
Harmonisasi ASEAN hanyalah salah satu alat yang digunakan kapitalisme internasional untuk
menghegemoni negara-negara berkembang. Jika pemerintah tidak mengambil langkah protektif
dalam melindungi pelaku industri farmasi dalam negeri, atau malah sebaliknya justeru berniat
memprivatisasi sektor ini, maka kita akan sama-sama menyaksikan bahwa bangsa ini adalah
bangsa yang masih terjajah [ ]
GURITA NEOLIBERAL INDUSTRI OBAT

Oleh: dr. Rini Syafri

Obat merupakan kebutuhan primer yang wajib dipastikan ketersediaannya dalam suatu negara.
Negara harus memiliki industri farmasi sendiri untuk menghasilkan obat untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat.

Realitanya, industri farmasi Indonesia hanya cukup untuk mengcover 10 persen kebutuhan obat
di Indonesia. Di antaranya, Kimia Farma yang memproduksi garam farmasi, Kalbe Farma yang
membuat bahan baku bioteknologi, grup Dexa memproduksi bahan baku obat dari alam dan obat
kanker, jenis vaksin terbaru oleh Bio Farma, dan Soho yang membuat bahan baku berbasis bahan
alami.

Perusahaan farmasi saat ini banyak bergerak pada pembuatan obat jadi, yang bahan bakunya
harus didatangkan dari negara lain. Indonesia mengimpor 90 persen bahan baku obat dari India,
Cina, Amerika, Jerman, dan beberapa negara di Eropa. Ini menunjukkan bahwa Indonesia belum
mandiri.

Industri obat di Indonesia masih memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap bahan
baku obat (BBO) impor, yang menjadi persoalan serius yang melingkupi industri obat di negeri
ini. Karena tidak saja mahal namun juga bertanggungjawab, baik secara langsung maupun tidak
langsung, terhadap buruknya akses masyarakat terhadap obat, yang saat ini sudah pada tingkat
mengkhawatirkan. Ini tercermin dari tingginya keluhan peserta JKN terkait akses obat.

Rezim Neo liberal hadir dengan konsep neolib Reinveting Government. Konsep subur bagi lokus
(tempat) bercokolnya neokolonialisme. Tidak heran, pemandirian industri farmasi, sebagai
kebijakan paling menonjol rezim pada bidang industri farmasi, sangat bernuansa neoliberal.

Sehubungan dengan itu, telah dirumuskan apa yang dinamakan dengan “Peta Strategi
Kemandirian, Aksesibilitas dan Mutu Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan”, khususnya peta
jalan pengembangan produksi BBO. Yaitu membuka kerjasama dengan asing dalam
pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan, demikian penjelasan Menteri Kesehatan RI,
Prof. Dr.dr.Nila F Mouluk. Sp.M (K). Hal ini juga telah ditegaskan dalam paket ekonomi jilid
XI.

Ketidakmandirian industri farmasi termasuk ketergantungan yang sangat tinggi terhadap BBO
impor (dari Cina, India dan Eropa7) tidak saja membuat harga obat sangat mahal, namun juga
menjadikan pengadaan obat di negeri ini didikte dan dikendalikan negara-negara kafir penjajah
yang berlindung di balik hak paten dan ketentuan kufur lainnya.

Hari ini jutaan jiwa penduduk dunia terutama negeri-negeri muslim termasuk Indonesia,
kesehatan dan jiwa mereka bergatung pada sejumlah industri farmasi besar, negara kafir
penjajah. Di antaranya, Eli Lily dari Amerika berkantor di Puerto Rico dan 17 negara lainnya,
Glaxo SmithKline berbasis di Inggris, Johson and Johnson perusahaan Amerika, Novartis AG
perusahaan asal Swiss, Pfizer perusahaan Amerika, Astra Zeneca milik Britania, Sanovi
berkantor pusat di Paris Perancis, Merck and Co perusahaan farmasi milik AS, dan Roche. Di
Indonesia, ada tujuh perusahaan farmasi asing sebagai penguasa produksi obat paten.

Diantara kejadian paling fenomenal adalah pengadaan obat flu burung tahun 2015, ketika
Indonesia menghadapi ancaman wabah flu burung yang mematikan, sebelum oseltamivir
diproduksi CIPLA perusahaan farmasi milik India. Roche yang berkantor pusat di Basel, Swiss
menjual tamiflu sangat mahal, Rp 200.000 perdosis. Bandingkan dengan buatan CIPLA hanya
sekitar Rp 100 perdosis. Tidak cukup sampai di situ, Indonesia tidak berdaya ketika produk
Roche ini tidak lagi ada di pasar.

Ketidakmandirian industri farmasi, pada penanggulangan TBC misalnya, membuat publik


Indonesia tidak leluasa memanfaatkan inovasi terbaru yang penting bagi kesehatan jutaan
penderita TBC di negeri ini. Akibat, negeri ini dihuni oleh penderita TBC ke dua terbesar di
dunia. Hal serupa juga terlihat pada penggunaan ARV (Anti Retro Virus).

Tidak saja pada level produksi, korporasi juga pengendali rantai distribusi. Yang meliputi
produsen – perusahaan besar farmasi, biasanya merangkap distributor – apotik maupun instalasi
rumah sakit. Hal ini setidaknya tergambar dari ungkapan Syarkawi Rauf, Ketua Komisi
Pengawas Persaingan Usaha sehubungan mahalnya harga obat. “Dari produsen ke distributor
saja diperkirakan terdapat margin 30% dari harga obat awal, sedangkan harga di apotik sudah
bertambah 70% dibandingkan dengan harga di tingkat penyalur“.
Lebih jauh lagi, korporasipun jadi pengendali perilaku dokter, pihak yang paling berwenang
dalam penentuan obat yang dikonsumsi publik, meski tidak semua dokter. Sudah menjadi
rahasia umum perselingkuhan industri farmasi dan dokter dan rumah sakit. Seringkali dokter
meresepkan obat yang sesuai pesanan perusahaan farmasi. Tentunya ini dengan berbagai
imbalan yang menarik.

Situs propublica.org, organisasi berita independen, yang membongkar aneka praktik yang
merugikan masyarakat di Amerika, pada tahun 2010 menerbitkan serial bertajuk Dollar for
Docs. Dinyatakan bahwa hingga akhir 2012, terdapat 15 perusahaan farmasi membayarkan dana
bagi para dokter untuk kepentingan mempromosikan obat, riset, dan konsultasi mencapai US$2,5
miliar. Oleh karenannya tidaklah berlebihan mengatakan bahwa industri farmasi AS yang
menguasai hajat publik Indonesia dan negeri-negeri muslim hari ini tentu juga melakukan hal
yang serupa. Hasilnya tidak saja menguras kantong masyarakat namun juga berbahaya bagi
kesehatan masyarakat bahkan jiwa mereka.

Inilah buah pahit ketidakmandirian industri farmasi. Kesehatan bahkan nyawa masyarakat
menjadi taruhan. Hal yang pasti ketika pemerimtah dan negara hadir dengan kebijakan
neoliberal. Apa yang dikatakan sebagai peta jalan untuk mewujudkan kemandirian industri
farmasi, ditegaskan pada paket ekonomi jilid XI bahwa yang dimaksudkan pemerintah adalah
memberikan keleluasaan sepenuhnya kepada asing kafir penjajah berinvestasi pada sektor hulu
industri farmasi penghasil BBO. Sebelumnya asing hanya boleh berinvestasi untuk bahan baku
obat 85%, dengan kebijakan ekonomi paket XI menjadi menjadi 100% bisa dikuasai asing.

Ini dilakukan agar para investor terdorong berinvestasi khususnya pada sektor industri farmasi
penghasil BBO, sebagai upaya mengatasi ketergantungan yang sangat tinggi terhadap BBO
impor. Sejalan dengan kebijakan ini pada saat MenKo Perekonomian Darmin Nasution
menerima kunjungan Menteri Pangan dan Pertanian Jerman, Cristian Schmidt beberapa waktu
lalu meminta Jerman berinvestasi di industri BBO. Inggris, yaitu GSK Glaxo Smithkline
berinvestasi dibidang industri farmasi dengan total nilai beserta industri lainnya US$ 19,02
miliar.

Investor asing baik mewakili negara maupun koporasi tentunya sudah memperhitungkan
keuntungan politik dan ekonomi. Karena dalam dunia kapitalistik tidak akan pernah ada makan
siang yang gratis. Terlebih-lebih lagi bila investor dari korporasi dan negara-negara kafir
penjajah. Terlalu banyak fakta yang membutikan bahwa obat dan penyakit telah digunakan kafir
penjajah sebagai sarana yang efektif untuk mewujudkan tujuan-tujuan politik mereka. Baik
secara langsung maupun tidak langsung yaitu melalui lembaga multilateral seperti WTO (World
Trade Organization) dan WHO (World Health Organization) dan World Bank.

Artinya, kebolehan asing berinvestasi kurang dari 100% saja telah menimbulkan persoalan
serius, apa lagi bila hingga 100%. Kesehatan bahkan keselamatan jiwa masyarakat kian
terancam. Jelas ini kebijakan primitif, bahkan tidak berlebihan sebagai bentuk kejahatan
pemerintah terhadap masyarakat.

Pertanyaannya, sistem rusak inikah yang hendak di telan mentah-mentah oleh pemerintah
Indonesia?
BPJS, OH BPJS

Oleh: dr. Fauzan Muttaqien

“Tenang saja dok, saya tidak akan menyalahkan dokter kalau saya sampai mati atau kenapa-
kenapa” begitu ucapnya, sambil tetap menyunggingkan senyum.

“Tapi…” lidah saya mendadak kelu. Getir, tidak tahu harus berbicara apa lagi. Saya menghela
nafas panjang. “Ya sudah pak…..” ya, hanya lafal itu yang sanggup saya sebut.

Tuan S, 50 tahun. Sebut saja seperti itu. di IGD kita diagnosis dengan Acute STEMI anteroseptal.
Penyakit jantung koroner yang berbahaya, pasien harus dilakukan tindakan segera untuk
menyelamatkan nyawanya. Setelah itu pasien secara prosedural harus dirawat di ruangan ICU
selama beberapa hari, diberi obat-obatan jantung yang kesemuanya tentu tidak murah harganya.

Sayangnya Tuan S bukan dari golongan yang berada. Istrinya kemudian berusaha mencari
alternatif pembayaran. Dia tanya-tanya ke bagian informasi rumah sakit. Bukankah ada solusi
yang bernama BPJS? Tersirat harapan dari tanyanya.

Ya, BPJS memang bisa.. tapi sayangnya ada sebuah aturan kartu BPJS baru aktif setelah satu
bulan pendaftaran. Sepertinya, masalahnya sederhana. Tapi, tentunya pasien yang sakit seperti
Tuan S tidak akan ditanggung biayanya, mengingat pembiayaan ini tidak berlaku surut. BPJS
tidak akan membiayai pengeluaran pasien sebelum kartu BPJSnya aktif.

Sang istri hanya mengangguk-angguk dengan pandangan kosong mendengar penjelasan itu,
sejurus kemudian tubuhnya serasa mau ambruk saat mendengar rincian biaya yang harus
dikeluarkan.

Dan keluarlah kalimat-kalimat tadi. Intinya, mereka mohon pamit dari rumah sakit. “Kami nggak
ada uang dok.”

Pelan tapi menusuk. Menusuk rasa kemanusiaan saya. Entah apakah rasa tertusuk itu juga terasa
hingga ke pilar-pilar hati mereka yang mengampu kebijakan…

…….
Sejak awal para pengamat yang jeli sudah mengingatkan bahwa kebijakan BPJS ini hanyalah
pemalakan terhadap rakyat berkedok jaminan sosial. Namanya memang terdengar bagus,
Jaminan Kesehatan Nasional, tetapi isinya ternyata hanya mengatur tentang asuransi sosial yang
akan dikelola oleh BPJS. Artinya, ini hanyalah nama lain dari upaya privatisasi pelayanan sosial
khususnya di bidang kesehatan.

Kebijakan yang dibantu oleh ADB dalam persiapan teknisnya itu telah mengalihkan kewajiban
untuk menanggung biaya kesehatan yang seharusnya dipikul oleh Pemerintah kepada publik.
Akibatnya, beban hidup yang harus ditanggung oleh publik dalam mendapatkan hak-hak dasar
mereka semakin besar. Selain itu, pola kesehatan dalam Jaminan Kesehatan tersebut sangat
diskriminatif; hanya mereka yang mampu membayar lebih mahal yang dapat mendapatkan
pelayanan kesehatan yang lebih baik. Adapun penduduk miskin harus puas mendapat layanan
kelas III.

Para pengamat juga sudah mengingatkan jauh-jauh hari bahwa BPJS hanyalah nama lain
kapitalisasi kesehatan. BPJS akan menjadi perusahaan asuransi raksasa yang bersifat layaknya
perusahaan asuransi lain. Semakin bertambahnya peserta maka pendapatan yang dapat diraup
akan semakin besar, sementara klaim yang mereka bayarkan lebih rendah. Surplus ini
selanjutnya dimanfaatkan oleh wali amanah yang bersifat independen, diinvestasikan pada
lembaga-lembaga keuangan seperti perbankan dan pasar modal.

Bertahun berlalu, tampaknya analisis di atas bukan omong kosong. Beberapa kebijakan yang ada
mengindikasikan JKN yang dikelola BPJS betul-betul berorientasi komersil, bukan seperti yang
teramanatkan lewat nama indahnya, Jaminan Kesehatan Nasional. Kebijakan masa tunggu
adalah salah satunya. Kalau memang ingin memberikan pelayanan kesehatan kepada rakyat, tak
seharusnya ada regulasi yang menjebak seperti itu. Kebijakan ini adalah ciri khas perusahaan
asuransi yang tak mau perusahaannya rugi. Selama ini memang banyak peserta yang baru daftar
saat kondisi mereka sudah gawat dan dirawat di rumah sakit. Kalau memang memiliki peranan
sebagai penjamin kesehatan nasional, harusnya tidak perlu ada penolakan pembayaran seperti
itu. Toh mereka mendaftar, dan mereka statusnya adalah rakyat Indonesia. Kenapa dipersulit
penjaminan kesehatannya?

Selain itu terdengar kabar BPJS mulai akan memaksa rakyat untuk ikut dalam program Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN). Jika tidak, masyarakat yang tidak memiliki kartu BPJS tidak akan
mendapatkan layanan publik. Sanksi yang dapat dijatuhkan bagi orang yang melanggar regulasi
terkait BPJS berupa administrasi, denda dan pidana. Untuk itu dalam penerapan sanksi, terutama
administratif, BPJS Kesehatan mulai menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga Pemerintah
yang menggelar pelayanan publik, seperti Kepolisian terkait dengan pengurusan izin mengemudi
(SIM). Ini sekali lagi menegaskan kerakusan kapitalisasi kesehatan yang dilakukan lewat sistem
JKN BPJS.

…..

Mendung sore itu. Saya hanya bisa memandangi miris. Tuan S beserta keluarga yang akhirnya
keluar IGD dengan tangan hampa. Malang, asa untuk mendapat sehat di sini akhirnya raib. Entah
bagaimana nasibnya dan nasib pasien-pasien serupa. Saya hanya seorang dokter jaga IGD, tak
mampu berbuat banyak. Kelu, bibir saya hanya mampu bergumam do’a. ya Allah, hentikan
segera kebijakan dzalim ini!
SISI GELAP BPJS KESEHATAN

Oleh: Muhammad Ishak, SE

Kontroversi atas fatwa keharaman BPJS Kesehatan oleh MUI membuat peran badan tersebut
kembali disorot. Beroperasi sejak awal tahun 2014, badan ini mampu menarik hingga ratusan
juta peserta. Banyak pujian atas sistem layanan kesehatan yang dijalankan badan ini, namun
tidak sedikit yang mengeluhkan bahkan mengecamnya.

BPJS Kesehatan merupakan metamorfosis dari PT Askes (yang sebelumnya menjadi lembaga
asuransi kesehatan PNS dan Polri/TNI) dan PT Jamsostek (yang antara lain menjadi lembaga
asuransi kesehatan pekerja swasta). Baik UU SJSN dan UU BPJS yang menjadi dasar berdirinya
lembaga ini merupakan produk yang digodok dengan bantuan sejumlah konsultan asing seperti
GIZ (Jerman), Ausaid (Australia), International Labour Organisation (ILO) dan ADB yang
mendanai pembuatan model sistem jaminan sosial tersebut. Kehadiran konsultan asing tentu
dimaksudkan agar Indonesia dapat mengikuti model pengembangan asuransi kesehatan dan
ketenagakerjaan di negara-negara tersebut.

Dibandingkan dengan model sebelumnya, layanan kesehatan yang diselenggarakan oleh BPJS
dipandang mampu membantu rakyat yang tidak mampu untuk mendapatkan layanan kesehatan
dengan murah bahkan gratis. Berbagai masalah yang terjadi di lapangan seperti antrian panjang,
penolakan hingga pembuangan pasien dianggap masalah teknis yang wajar bagi badan yang
masih terbilang muda ini. Namun demikian, sejatinya banyak sisi ‘gelap’ yang bersifat sistemik
pada badan tersebut.

Mengalihkan Tangggung Jawab Negara kepada Rakyat

Salah satu tugas mendasar Pemerintah adalah menyediakan layanan publik kepada rakyatnya.
Dengan adanya BPJS tanggung jawab tersebut dialihkan kepada rakyat. Buktinya, rakyat
diharuskan membayar iuran atas layanan yang semestinya disediakan oleh Pemerintah. Memang,
Pemerintah memberikan subsidi, namun itu hanya kepada mereka yang dianggap tidak mampu
yang diistilahkan dengan Penerima Bantuan Iuran (PBI). Pada APBN-P 2015. Alokasi anggaran
untuk Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS pada APBN-P 2015 hanya sebesar Rp 20,3 triliun
triliun. Angka tersebut didasarkan pada cakupan penduduk miskin yang mencapai 88,2 juta jiwa
dengan nilai PBI perorang sebesar Rp 19.225 perorang selama setahun.

Sebaliknya, mereka yang tidak dapat membuktikan dirinya miskin baik karena dipandang
mampu secara finansial dengan kriteria yang sangat subyektif ataupun karena terbentur masalah
administrasi, tidak berhak mendapat subsidi dan harus membayar premi jika ingin mendapatkan
layanan BPJS. Bahkan di dalam buku yang diterbitkan oleh WHO, Social Health Insurance; A
Guidebook for Planning, ditegaskan agar subsidi yang diberikan oleh Pemerintah kepada
lembaga publik yang mengelola asuransi kesehatan harus diminimalkan sehingga independensi
lembaga tersebut yang merupakan keunggulan utamanya tetap terjaga.1

Mengubah Hak Rakyat Menjadi Kewajiban Rakyat

Kepesertaan dalam BPJS Kesehatan bersifat wajib. Dengan demikian BPJS telah mengubah
status layanan kesehatan yang menjadi hak rakyat menjadi kewajiban yang yang harus mereka
tunaikan. Bentuknya adalah kewajiban untuk menjadi peserta dengan keharusan membayar
iuran. Celakanya lagi, iuran tersebut menjadi bagian dari dana ‘gotong-royong’ yang digunakan
untuk meng-cover pembiayaan kesehatan peserta lainnya.

Target Pemerintah pada tahun 2019, seluruh penduduk Indonesia telah menjadi peserta BPJS.
Sebagaimana yang tertuang dalam UU, sanksi akan diberikan kepada mereka yang tidak
mendaftar pada batas yang telah ditetapkan. Setiap peserta diwajibkan untuk membayar iuran
sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jika terlambat maka mereka akan didenda 2% dari nilai
iuran. Bahkan nilai iuran dan denda yang berlaku saat ini sewaktu-waktu dapat dinaikkan oleh
Pemerintah jika diminta oleh BPJS.

Pelayanan Diskriminatif

Layanan kesehatan yang diberikan kepada peserta BPJS juga dibedakan berdasarkan jenis iuran
dan kepesertaan mereka. Orang-orang miskin yang menjadi penerima bantuan iuran (PBI) dari
Pemerintah maupun mereka yang hanya mampu membayar premi yang paling rendah akan
mendapatkan kelas fasilitas kelas III. Adapun PNS/TNI/Polri berhak mendapatkan layanan kelas
II hingga kelas I berdasarkan jabatan dan tingkat kepangkatan mereka. Pekerja swasta dan
penduduk yang lebih mampu juga bisa memilih kelas yang lebih tinggi. Memang, dalam
aturannya pelayanan sama-sama diberikan oleh penyedia layanan kesehatan. Namun, sedikit-
banyak kondisi ruangan sangat berpengaruh terhadap kenyamanan pasien.

Pengkastaan ini tak ayal menyebabkan penumpukan jumlah pasien di kelas III. Maklum, jumlah
penduduk yang berpenghasilan menengah bawah di negeri ini masih sangat besar. Keterbatasan
fasilitas, beban kerja tenaga kesehatan (dokter, perawat, dll) yang berlebihan, ditambah dengan
manajemen yang buruk, membuat layanan kesehatan golongan ini menjadi tidak optimal. Dalam
banyak kasus pasien BPJS terkesan dianaktirikan dibandingkan pasien yang membayar tarif non
BPJS.

Bernuansa Bisnis

BPJS mendorong pelayanan kesehatan oleh penyedia layanan kesehatan (klinik, puskesmas,
rumah sakit) untuk menitikberatkan efisiensi biaya ketimbang mutu pelayanan. Agar
pembayaran klaim BPJS kepada penyedia layanan kesehatan dapat ditekan, maka penyakit yang
ditanggung dibatasi. Penyakit karena wabah, misalnya, tidak ditanggung. Metode pembiayaan
juga dibuat sehemat mungkin disertai harapan agar tenaga kesehatan tetap menjaga mutu
pelayanan. Meskipun demikian, model pembayaran yang diberlakukan tersebut harus
memberikan insentif yang menarik bagi penyedia layanan kesehatan khususnya swasta sehingga
mereka mau berinvestasi di bidang ini.

Saat ini metode pembiayaan yang diadopsi BPJS adalah metode proaktif; jenis tindakan, obat
dan bahan habis pakai untuk suatu penyakit telah ditetapkan tarifnya dalam bentuk paket. Paket-
paket tersebut dikompilasi dalam perangkat lunak yang disebut Indonesian Case Base Groups
(INA-CBG’s). Implementasi INA-CBG’s sendiri didanai oleh Australian Agency for
International Development (AusAID).

Metode tersebut diklaim paling efisien dibandingkan metode pembayaran lainnya dalam
menekan biaya pengobatan. Meskipun demikian, kualitas yang diperoleh juga lebih rendah
dibandingkan dengan beberapa metode lainnya.3
Metode tersebut membuat fleksibilitas pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan menjadi
terbatas. Dokter, misalnya, dituntut untuk menyesuaikan layanan kesehatan dan obat sesuai
dengan paket yang telah ditetapkan dalam software tersebut. Bahkan jika perlu layanan
kesehatan perkasus harus ditekan semaksimal mungkin, seperti: tidak melakukan pemeriksaan
penunjang yang seharusnya dilakukan, tidak memberikan obat yang dibutuhkan, membatasi
fasilitas dan waktu pelayanan kesehatan bagi pasien, menyegerakan proses rujukan ke layanan
kesehatan lainnya hingga menolak pasien secara halus.

Aneka kasus pun terjadi seperti: pasien mengeluarkan biaya tambahan seperti menebus obat yang
dibutuhkan karena tidak tercakup dalam paket yang ditetapkan dalam INA-CBGs; obat hanya
ditanggung dalam rentang waktu yang lebih singkat dari semestinya; pasien harus pulang
sebelum sehat karena biaya paket INA-CBGs yang diberikan kepada dia telah habis dan
sebagainya. Semua ini dilakukan semata-mata agar biaya pelayanan yang diberikan tidak
melampai batas yang dapat diklaim ke BPJS. Beruntung jika bisa lebih rendah sehingga
keuntungan penyedia layanan kesehatan semakin besar.

Asuransi Sosial untuk Menutupi Kelemahan Kapitalisme

Konsep BPJS merupakan asuransi sosial (social insurance) yang didanai melalui kontribusi
peserta—selain subsidi Pemerintah—berdasarkan prinsip-prinsip asuransi. Ia bukan jaminan
negara atas kebutuhan dasar rakyatnya yang murni didanai oleh APBN. Peserta/rakyat
melindungi diri mereka dari berbagai risiko seperti cacat, sakit, kematian dan pensiun dengan
membayar premi secara reguler kepada badan yang ditetapkan oleh undang-undang.

Sistem jaminan sosial sejatinya lahir akibat kegagalan negara-negara kapitalis dalam
menciptakan kesejahteraan untuk rakyatnya. Oleh karena itu, solusi yang ditempuh adalah rakyat
harus ikut berkontribusi untuk membiayai jaminan sosial yang akan mereka dapatkan. Sistem ini
mulanya dicetuskan pada tahun 1883 oleh Kanselir Jerman, Otto Von Bismarck, untuk mencegah
meluasnya pengaruh Marxisme yang dicemaskan akan mengambil-alih kendali Jerman. Pekerja
yang memiliki kekuatan yang berpengaruh dibujuk dengan ide pensiun dan jaminan sosial.4

Dalam kenyataannya, penerapan sistem ini membuat beban yang harus dipikul oleh rakyat tidak
hanya pajak, namun juga iuran asuransi sosial. Di Indonesia, dengan adanya BPJS, selain
membayar pajak penghasilan yang berkisar antara 5-30%, mereka juga harus membayar iuran.
Ini belum berbagai jenis pajak lainnya seperti PPN sebesar 10% dari setiap transaksi barang kena
pajak. Di negara-negara Barat, yang menjadi kiblat asuransi sosial negara ini, bahkan nilai
kontribusi rakyat sangat tinggi. Di Jerman, misalnya, rata-rata mencapai 39,5% dari penghasilan
yang terdiri dari pajak penghasilan sebesar 19,1% dan kontribusi jaminan sosial sebanyak
20,4%.5

Menutupi Kelemahan Pemerintah

Kehadiran BPJS juga akan menjadi tameng untuk menutupi kelemahan Pemerintah dalam
menyediakan layanan kesehatan yang prima kepada rakyatnya. Selama ini alokasi anggaran
untuk bidang kesehatan amat minim dibandingkan dengan bidang lainnya. Pada APBN-P 2015,
anggaran untuk Kementerian Kesehatan hanya Rp 51.3 triliun atau 2,6% dari belanja APBN-P
yang mencapai Rp 1,984 triliun. Bandingkan dengan biaya untuk membayar cicilan bunga utang
Pemerintah pada periode yang sama yang mencapai Rp 155,7 triliun.

Dampak dari rendahnya anggaran Pemerintah di bidang kesehatan membuat pengembangan


infrastuktur dan kualitas layanan kesehatan menjadi sangat terbatas. Sebagai contoh, dari 63
rumah sakit umum pemerintah daerah di tingkat provinsi hanya tujuh yang masuk dalam kategori
rumah sakit Kelas A. Ini mengindikasikan fasilitas dan ketersedian tenaga kesehatan antar
provinsi masih sangat timpang. Akibatnya, tidak jarang pasien rujuk harus menempuh jarak yang
cukup jauh untuk mendapatkan layanan kesehatan yang dibutuhkan. Di sisi lain, kesenjangan
tersebut menjadikan beban rumah sakit yang menjadi tujuan rujukan semakin besar.

Anggaran yang rendah membuat biaya operasional (capitation fee) Puskesmas dan rumah sakit
milik Pemerintah menjadi sangat terbatas. Biaya operasional yang rendah berdampak pada
kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien termasuk kegiatan yang bersifat
preventif menjadi kurang maksimal. Dampak lainnya, insentif bagi tenaga kesehatan sangat
minimalis, sementara beban kerja semakin besar. Akibatnya, sebagian mereka tidak dapat
bekerja secara optimal. Kelemahan Pemerintah ini kemudian menjadi lahan empuk bagi investor
swasta. Rumah sakit swasta tumbuh dimana-mana. Dengan kehadirian BPJS, status rumah sakit
Pemerintah ataupun swasta tidak lagi penting sepanjang BPJS bersedia memberikan profit yang
menggiurkan kepada mereka. Dengan demikian, peran negara dalam menyediakan layanan
kesehatan akan semakin minimal.

Mobilisasi Dana untuk Investasi

Dalam kamus industri, asuransi dikenal hukum large of number. Dengan prinsip ini, semakin
besar jumlah peserta asuransi maka taksiran biaya dapat diperkirakan dengan lebih akurat.
Dengan demikian, badan pengelola asuransi dapat menetapkan berapa besar nilai premi yang
dapat menghasilkan keuntungan maksimal.

Ini pula yang menjadi prinsip dalam BPJS. Memang, pada tahun 2014 BPJS Kesehatan
mengalami defisit. Pendapatan iuran badan tersebut hanya Rp 40,72 triliun, sementara
pengeluaran untuk biaya pelayanan kesehatan mencapai Rp 42,65 triliun.6 Ini terjadi karena
jumlah peserta dan iuran yang mereka bayarkan belum optimal dibandingkan dengan
pengeluaran BPJS. Namun, sejalan dengan berjalannya waktu, apalagi dengan adanya sanksi
bagi mereka yang belum terdaftar dan juga pengenaan denda atas keterlambatan pembayaran
klaim maka dana yang dapat dikumpulkan badan ini akan sangat besar. Jika perlu, badan ini
dapat mendesak Pemerintah untuk menaikkan biaya iuran wajib peserta.

Surplus dana tersebut kemudian akan menjadi keuntungan bagi perusahaan yang dapat
diperbesar nilainya dalam bentuk investasi terutama di sektor finansial, seperti ditanam di pasar
modal dalam bentuk pembelian saham dan obligasi serta diendapkan di bank-bank yang
menawarkan suku bunga deposito paling memikat. Pendahulu BPJS, PT Askes dan PT
Jamsostek, telah membuktikan hal ini. Di berbagai negara, dana asuransi publik yang dikelola
oleh badan Pemerintah bahkan menjadi pelaku utama investasi di sektor finansial. Meskipun
demikian, tidak sedikit dari lembaga-lembaga tersebut merugi lantaran terseret krisis
sebagaimana yang terjadi pada tahun 2008 silam. Pemerintah akhirnya didorong untuk
melakukan bailout yang tentu—lagi-lagi—menggunakan dana dari publik.

Catatan kaki:

1. Charles Normand & Axel Weber (2009), Social Health Insurance; A guidebook for
planning, Germany: WHO, GTZ, ILO, ADB, hlm. 54.
2. Normand & Weber, ibid, hlm. 82.
3. Lihat: Charles Normand & Axel Weber (1994), Social Health Insurance; A guidebook
for planning, WHO , hlm. 77.
4. Robert Service (2010), Comrades!: A History of World Communism, Cambridge:
Harvard University Press, hlm. 41.
5. OECD (2015), Taxing Wages 2015, Paris: OECD Publishing.
6. Laporan Pengelolaan Program Tahun 2014 & Laporan Keuangan Tahun 2014 (Auditan).
Http://bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/index.php/arsip/detail/367.
KEGAGALAN JAMINAN KESEHATAN ALA BARAT

Oleh: dr. Rini Syafri

Krisis pelayanan kesehatan senantiasa menjadi momok dan belum teratasi. Harga layanan, mulai
dari jasa dokter hingga obat-obatan terus melambung. Asuransi kesehatan wajib yang dijagokan
akan mengatasi semua itu telah gagal. Ratusan juta orang di dunia hari ini tidak mampu
mengakses pelayanan kesehatan, sementara di sisi lain diskriminasi pelayanan begitu menonjol.
Kondisi buruk ini melanda penduduk di negara-negara timur dan barat, yang notabenenya adalah
negara-negara sekuler.

Di Amerika, masyarakat dihadapkan pada harga jasa dokter dan obat-obatan yang sangat mahal.
Dan nyatanya kepemilikan kartu asuransi kesehatan wajib Obamacare, tidak menjamin akses
publik terhadap pelayanan kesehatan. Ketidakmampuan program asuransi kesehatan wajib ini
dijadikan Trump sebagai alasan membatalkan program yang dibesut presiden Obama melalui
surat perintah eksekutif yang ditandatangani tidak lama setelah pelantikannya sebagai presiden.

Kondisi serupa juga melanda Jerman dan negara-negara Eropa yang telah puluhan hingga ratusan
tahun menerapkan konsep asuransi kesehatan sosial/wajib. Baik yang menggunakan sistem pajak
seperti Inggris maupun sistem premi seperti Jerman. Lamanya waktu penerapan dan kemajuan
teknologi tidak mampu mengatasi kebatilan dan bahaya konsep yang mengandung cacat bawaan
ini. Suatu studi menunjukan sistem kesehatan Jerman sangat mahal secara standar internasional,
dan tidak memberikan hasil yang diharapkan. Diskriminasi pelayanan terus terjadi, status
asuransi yang digunakan penentu lamanya waktu tunggu. Pengguna kartu asuransi kesehatan
wajib harus menunggu lebih lama dari pada pengguna asuransi privat.

Negara-negara beraliran sosialis kondisinya tidak jauh berbeda. Di Cuba, rumah sakit pemerintah
dengan teknologi terbaik hanya diperuntukkan bagi elit partai komunis, dan orang asing (turis
kesehatan) yang membayar dengan “hard currency”. Sementara masyarakat kebanyakan harus
membayar tempat tidur lipat dan selimut ketika dirawat. Di Venezuela, rumah sakit tidak
memiliki air yang mengalir atau sabun. Korban datang dengan tembakan dan tidak diobati
sampai mereka melunasi tagihan mereka. Bayi meninggal secara rutin.
Krisis pelayanan kesehatan yang berlarut-larut dalam peradaban sekuler ini, menjadi bukti
kegagalan model negara-negara sekuler memberikan hak-hak publik, baik model republik,
federal maupun kerajaan. Yaitu berupa pelayanan kesehatan gratis dengan kualitas terbaik.
Industrialisasi, liberalisasi dan komersialisasi pelayanan kesehatan menjadi ciri yang melekat
pada setiap negara dan sistem kesehatan yang diterapkannya.

Negara yang seharusnya bertanggungjawab menjauhkan segala aspek komersial pada sistem dan
pelayanan kesehatan justru bertindak sebaliknya. Upaya tambal sulam, khususnya memasukkan
model pembiayaan ala asuransi kesehatan wajib ke dalam sistem kesehatan terbukti gagal dan
semakin memperdalam kezaliman dan pengabaian hak publik. Pelayanan kesehatan gratis dari
negara bagi kaum miskin meski dengan pelayanan ala kadarnya dipandang sebagai kebaikan
pemerintah yang patut disyukuri publik.

Akibatnya hajat kesehatan miliaran orang di dunia hari ini terus dalam genggaman korporasi.
Mulai dari korporasi asuransi kesehatan, rumah sakit, farmasi dan alat kedokteran hingga
korporasi pendidikan kedokteran. Rumah sakit dan lembaga yang semestinya menjadi
perpanjangan fungsi negara dalam memenuhi hak pelayanan kesehatan masyarakat pun steril
dari aspek sosial. Sistem kesehatan pun menjadi industri yang hanya digerakkan oleh uang.
Tidak heran harga pelayanan kesehatan terus melangit, akses masyarakat semakin sulit
sementara diskriminasi menjadi aspek yang begitu menonjol.

Fakta kegagalan model negara-negara sekuler yang begitu telanjang dalam memenuhi hajat
kesehatan publik di segala penjuru dunia hari ini menjadi cerminan kegagalan model negara-
negara tersebut menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya kepada publik. Sehingga
keberadaannya berikut peradaban sekuler kufur yang mengeksiskannya menjadi penting
dipertanyakan. Tidak terkecuali negara Amerika sendiri yang sungguh diragukan masa
depannya.

Pertanyaan besarnya, apabila di negara-negara yang jadi role model saja sudah sedemikian
gagalnya... mengapa Indonesia tetap ngotot ikut-ikutan?
SERPIH 5

BERKACA SEHAT, KALA KHILAFAH


LAYANAN SEHAT CITARASA ‘MAKNYES’ ALA KHILAFAH

Oleh: dr. Muhammad Usman, AFK, Yahya Abdurrahman

Berbagai fakta historis kebijakan di bidang kesehatan yang pernah dijalankan oleh pemerintahan
Islam sejak masa Rasul saw. menunjukkan taraf yang sungguh maju. Pelayanan kesehatan gratis
diberikan oleh negara (Khilafah) yang dibiayai dari kas Baitul Mal. Adanya pelayanan
kesehatan secara gratis, berkualitas dan diberikan kepada semua individu rakyat tanpa
diskriminasi jelas merupakan prestasi yang mengagumkan.

Hal itu sudah dijalankan sejak masa Rasul saw. Delapan orang dari Urainah datang ke Madinah
menyatakan keislaman dan keimanan mereka. Lalu mereka menderita sakit gangguan
limpa. Nabi saw. Kemudian merintahkan mereka dirawat di tempat perawatan, yaitu kawasan
penggembalaan ternak milik Baitul Mal di Dzi Jidr arah Quba’, tidak jauh dari unta-unta Baitul
Mal yang digembalakan di sana. Mereka meminum susunya dan berada di tempat itu hingga
sehat dan pulih.

Raja Mesir, Muqauqis, pernah menghadiahkan seorang dokter kepada Nabi saw. Beliau
menjadikan dokter itu untuk melayani seluruh kaum Muslim secara gratis. Khalifah Umar bin al-
Khaththab, menetapkan pembiayaan bagi para penderita lepra di Syam dari Baitul Mal. Khalifah
al-Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah membangun rumah sakit bagi pengobatan para
penderita leprosia dan lepra serta kebutaan. Para dokter dan perawat yang merawat mereka
digaji dari Baitul Mal. Bani Thulan di Mesir membangun tempat dan lemari minuman yang di
dalamnya disediakan obat-obatan dan berbagai minuman. Di tempat itu ditunjuk dokter untuk
melayani pengobatan.

Will Durant dalam The Story of Civilization menyatakan, “Islam telah menjamin seluruh dunia
dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi
keperluannya. Contohnya, Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160
telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan
menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarahwan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak
pernah padam selama 267 tahun.”
Menurut Ketua Institut Internasional Ilmu Kedokteran Islam, Husain F Nagamia MD, di dunia,
rumah sakit yang sebenarnya baru dibangun dan dikembangkan mulai awal kejayaan Islam dan
dikenal dengan sebutan ‘Bimaristan’ atau ‘Maristan’. Rumah sakit, meski baru tahap awal dan
belum bisa benar-benar disebut RS, pertama kali dibangun pada masa Khalifah al-Walid bin
Abdul Malik dari Bani Umayyah. RS Islam pertama yang sebenarnya dibangun pada era
Khalifah Harun ar-Rasyid (786 M – 809 M). Konsep pembangunan beberapa RS di Baghdad itu
dan pemilihan tempatnya merupakan ide brilian dari ar-Razi, dokter Muslim terkemuka. Djubair,
seorang sejarahwan yang pernah mengunjungi Baghdad tahun 1184 M, melukiskan bahwa rumah
sakit-rumah sakit itu memiliki bangunan megah dan dilengkapi dengan peralatan modern.

Menurut M. Husain Abdullah, pada masa Khilafah Abbasiyah, banyak rumah sakit dibangun di
Baghdad, Kairo, dan Damaskus. Pada masa itu pula, untuk pertama kalinya, ada rumah sakit
berjalan (semacam ambulans). (M. Husain Abdullah, Dirasat fi al-Fikri al-Islami, hlm. 88).

Menurut Dr. Hossam Arafa dalam tulisannya, Hospital in Islamic History,pada akhir abad ke-13,
RS sudah tersebar di seantero Jazirah Arabia. Rumah sakit-rumah sakit itu untuk pertama kalinya
di dunia mulai menyimpan data pasien dan rekam medisnya. Konsep itu hingga kini digunakan
RS yang ada di seluruh dunia.

Semua itu didukung dengan tenaga medis yang profesional baik dokter, perawat dan
apoteker. Di sekitar RS didirikan sekolah kedokteran. RS yang ada juga menjadi tempat
menempa mahasiswa kedokteran, pertukaran ilmu kedokteran, serta pusat pengembangan dunia
kesehatan dan kedokteran secara keseluruhan. Dokter yang bertugas dan berpraktik adalah dokter
yang telah memenuhi kualifikasi tertentu. Khalifah al-Muqtadi dari Bani Abbasiyah
memerintahkan kepala dokter Istana, Sinan Ibn Tsabit, untuk menyeleksi 860 dokter yang ada di
Baghdad. Dokter yang mendapat izin praktik di RS hanyalah mereka yang lolos seleksi yang
ketat. Khalifah juga memerintahkan Abu Osman Said Ibnu Yaqub untuk melakukan seleksi
serupa di wilayah Damaskus, Makkah dan Madinah.

Pada masa Khilafah Abbasiyah itu pula untuk pertama kalinya ada apotik. Yang terbesar adalah
apotik Ibnu al-Baithar. Saat itu, para apoteker tidak diijinkan menjalankan profesinya di apotik
kecuali setelah mendapat lisensi dari negara. Para apoteker itu mendatangkan obat-obatan dari
India dan dari negeri-negeri lainnya, lalu mereka melakukan berbagai inovasi dan penemuan
untuk menemukan obat-obatan baru (M. Husain Abdullah, Dirâsât fî al-Fikri al-Islâmî, hlm. 89).
KETIKA SEHAT BUKAN MISTERI

Oleh: Prof. DR. Ing. Fahmi Amhar

Di dalam dunia kesehatan sering terjadi perdebatan, lebih penting mana aspek kuratif dengan
aspek preventif? Bagi para ahli kesehatan masyarakat aspek preventif dianggap lebih penting,
sesuai slogan ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’, maka pengembangan di bidang ini
harus lebih diutamakan. Sebaliknya para dokter yang kebanyakan berdiri di aspek kuratif,
menganggap tetap saja secara riil di lapangan, yang paling dibutuhkan tetap aspek kuratifnya.
Angka kesakitan terus saja meningkat, berbagai penyakit baru terus saja bermunculan. Dan aspek
kuratif tetap saja harus menjadi yang utama.

Kita tidak sedang akan berdiri di salah satu kutub. Namun mari kita melihat bagaimana posisi
keduanya dalam sejarah peradaban Islam.

Bila kita menilik sejarah peradaban Islam yang panjang. Kita akan melihat, ternyata baik
kegiatan preventif maupun kuratif sama-sama mendapat perhatian yang proporsional.
Rasulullah banyak memberi contoh kebiasaan sehari-hari untuk mencegah penyakit. Misalnya:
menekankan kebersihan; makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang; lebih banyak
makan buah (saat itu buah paling tersedia di Madinah adalah rutab atau kurma segar); mengisi
perut dengan sepertiga makanan, sepertiga air dan sepertiga udara; kebiasaan puasa Senin-
Kamis; mengkonsumsi madu, susu kambing atau habatus saudah, dan sebagainya.

Namun Rasulullah juga menunjukkan persetujuannya pada beberapa teknik pengobatan yang
dikenal saat itu, seperti bekam atau meminumkan air kencing onta pada sekelompok orang Badui
yang menderita demam. Beliau juga menjadikan seorang dokter yang dihadiahkan oleh Raja
Mesir kepada dirinya sebagai dokter publik. Lalu ada hadits di mana Rasulullah bersabda,
“Antum a’lamu umuri dunyakum” – Kalian lebih tahu urusan dunia kalian. Hadits ini sekalipun
munculnya terkait dengan teknik penyerbukan di dunia pertanian, namun dipahami oleh generasi
muslim terdahulu juga berlaku untuk teknik pengobatan. Itulah latar belakang sehingga dalam
beberapa abad kaum muslim benar-benar memimpin dunia di bidang kedokteran, baik secara
preventif maupun kuratif, baik di teknologinya maupun manajemennya.
Muslim ilmuwan pertama yang terkenal berjasa luar biasa adalah Jabir al Hayan atau Geber
(721-815 M). Beliau menemukan teknologi destilasi, pemurnian alkohol untuk disinfektan, serta
mendirikan apotik yang pertama di dunia yakni di Baghdad. Banu Musa (800-873 M)
menemukan masker gas untuk dipakai para pekerja pertambangan dan industri sehingga tingkat
kesehatan para pekerja dapat diperbaiki. Muhammad ibn Zakariya ar Razi (865-925 M)
menemukan kemoterapi. Kemudian bersama-sama Tsabit bin Qurra dan Ibn al Jazzar juga
menemukan cara awal penanganan disfungsi ereksi.

Sekitar tahun 1000 M, Ammar ibn Ali al-Mawsili menemukan jarum hypodermik, yang
dengannya dia dapat melakukan operasi bedah katarak pada mata! Pada kurun waktu yang sama,
Abu al-Qasim al-Zahrawi menemukan plaster adhesive untuk mengobati luka dengan cepat.
Penemuan ini sangat membantu pasukan Islam di medan jihad. Al-Zahrawi juga
mengembangkan berbagai jenis anastesi dan alat-alat bedah, yang dengannya antara lain dapat
dilakukan operasi curette untuk wanita yang janin dalam kandungannya mati.

Pada 1037 Ibnu Sina menemukan thermometer, meski standarisasinya baru dilakukan oleh
Celcius dan Fahrenheit berabad-abad kemudian. Ibnu Sina juga sangat dikenal karena bukunya
Qanun fi-at-Thib, sebuah ensiklopedia pengobatan (pharmacopoeia) yang nyaris menjadi standar
kedokteran dunia hingga abad 18.

Semua penemuan teknologi ini tentunya sia-sia bila tidak diaplikasikan. Aplikasi ini hanya akan
berhasil bila masyarakat semakin sadar hidup sehat, pemerintah membangun fasilitas umum
pencegah penyakit dan juga fasilitas pengobatan bagi yang terlanjur sakit. Kemudian para tenaga
kesehatan juga orang-orang yang profesional dan memiliki integritas, bukan orang-orang dengan
pendidikan asal-asalan serta bermental pedagang.

Adalah menarik untuk mencatat bahwa di daulah Islam, pada tahun 800-an Masehi, madrasah
sebagai sekolah rakyat praktis sudah terdapat di mana-mana. Tak heran bahwa kemudian tingkat
pemahaman masyarakat tentang kesehatan pada waktu itu sudah sangat baik.

Pada kurun abad 9-10 M, Qusta ibn Luqa, ar Razi, Ibn al Jazzar dan al Masihi membangun
sistem pengelolaan sampah perkotaan, yang sebelumnya hanya diserahkan pada kesadaran
masing-masing orang, yang di perkotaan padat penduduk akan berakibat kota yang kumuh.
Kebersihan kota menjadi salah satu modal sehat selain kesadaran sehat karena pendidikan.
Tenaga kesehatan secara teratur diuji kompetensinya. Dokter khalifah menguji setiap tabib agar
mereka hanya mengobati sesuai pendidikan atau keahliannya. Mereka harus diperankan sebagai
konsultan kesehatan, dan bukan orang yang sok mampu mengatasi segala penyakit.

Ini adalah sisi hulu untuk mencegah penyakit, sehingga beban sisi hilir dalam pengobatan jauh
lebih ringan. Meski demikian, negara membangun rumah sakit di hampir semua kota di Daulah
Khilafah. Bahkan, pada tahun 800 M di Bagdad sudah dibangun rumah sakit jiwa yang pertama
di dunia. Sebelumnya pasien jiwa hanya diisolir dan paling jauh dicoba diterapi dengan ruqyah.

Rumah-rumah sakit ini bahkan menjadi favorit para pelancong asing yang ingin mencicipi
sedikit kemewahan tanpa biaya, karena seluruh rumah sakit di Daulah Khilafah bebas biaya.
Namun pada hari keempat, bila terbukti mereka tidak sakit, mereka akan disuruh pergi, karena
kewajiban menjamu musafir hanya tiga hari.

Banyak individu yang ingin berkontribusi dalam amal ini. Negara memfasilitasi dengan
membentuk lembaga wakaf (charitable trust) yang menjadikan makin banyak madrasah dan
fasilitas kesehatan bebas biaya. Model ini pada saat itu adalah yang pertama di dunia.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa kaum muslim terdahulu memahami bahwa sehat tidak
hanya urusan dokter, tetapi pertama-tama urusan masing-masing untuk menjaga kesehatan.
Namun urusan sehat juga tidak direduksi hanya sekedar pada kebiasaan mengkonsumsi madu
atau habatus saudah. Ada sinergi yang luar biasa antara negara yang memfasilitasi manajemen
kesehatan yang terpadu dan sekelompok ilmuwan muslim yang memikul tanggung jawab
mengembangkan teknologi kedokteran, jauh di atas bekam, madu atau habatus saudah (yang di
abad-21 ini kembali diagungkan sebagai Thibbun Nabawi).
JAMINAN KESEHATAN DI MASA KHILAFAH ‘ABBASIYAH

Oleh: KH. Hafidz Abdurrahman, MA

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria al-Razi, atau dikenali sebagai Rhazes di dunia Barat,
merupakan salah seorang pakar sains yang hidup antara tahun 251-313 H/865-925 M. Dia hidup
pada zaman Khilafah Abbasiyah, bertepatan pada era delapan Khalifah. Mulai dari Khalifah al-
Muntashir (861-862 M) hingga Khalifah al-Muqtadir (902-932 M).

Sebagai ilmuan sekaligus dokter, ar-Razi memberikan panduan kepada murid-muridnya, bahwa
tujuan utama para dokter adalah menyembuhkan orang sakit lebih besar ketimbang niat untuk
mendapatkan upah atau imbalan materi lainnya. Mereka diminta memberikan perhatian kepada
orang fakir, sebagaimana orang kaya maupun pejabat negara. Mereka juga harus mampu
memberikan motivasi kesembuhan kepada pasiennya, meski mereka sendiri tidak yakin. Karena
kondisi fisik pasien banyak dipengaruhi oleh kondisi psikologisnya (‘Abdul Mun’im Shafi,
Ta’lim at-Thibb ‘Inda al-Arab, hal. 279).

Perhatian di bidang kesehatan seperti ini tidak hanya terbatas di kota-kota besar, bahkan di
seluruh wilayah Islam, hingga sampai ke pelosok, bahkan di dalam penjara-penjara sekalipun.
Pada era itu, sudah ada kebijakan Khilafah dengan rumah sakit keliling. Rumah sakit seperti ini
masuk dari desa ke desa. Perlu dicatat di sini, Khilafah saat itu benar-benar memberikan
perhatian di bidang kesehatan dengan layanan nomor satu, tanpa membedakan lingkungan, strata
sosial dan tingkat ekonomi.

Wazir Ali bin Isa al-Jarrah, yang menjadi wazir di masa Khalifah al-Muqtadir (908-932 M) dan
al-Qahir (932-934 M), dan dikenal sebagai wazir yang adil dan ahli hadits yang jujur, juga
penulis yang produktif, pernah mengirim surat kepada kepala dokter di Baghdad, “Aku berpikir
tentang orang-orang yang berada dalam tahanan. Jumlah mereka banyak, dan tempatnya pun
tidak layak. Mereka bisa diserang penyakit. Maka, kamu harus menyediakan dokter-dokter yang
akan memeriksa mereka setiap hari, membawa obat-obatan dan minuman untuk mereka,
berkeliling ke seluruh bagian penjara dan mengobati mereka yang sakit.” (Ibn Qifthi, Tarikh al-
Hukama’, hal. 148)
Wazir Ali sendiri dikenal kaya raya. Pendapatannya 700.000 dinar per bulan. Tetapi, dari
700.000 Dinar itu, ia infakkan untuk kemaslahatan umat sebesar 680.000 dinar. Termasuk untuk
wakaf dan lain-lain.

Para Khalifah dan penguasa kaum Muslim di masa lalu, bukan hanya mengandalkan anggara
negara. Karena mereka juga ingin mendapatkan pahala yang mengalir, maka mereka pun
mewakafkan sebagian besar harta mereka untuk membiayai rumah-rumah sakit, perawatan dan
pengobatan pasiennya. Di masa itu, dikenal istilah Waqf Khida’ al-Maridh (wakaf mengubah
persepsi pasien). Sebagai contoh, Saifuddin Qalawun (673 H/1284 M), salah seorang penguasa
di zaman Abbasiyah, mewakafkan hartanya untuk memenuhi biaya tahunan rumah sakit, yang
didirikan di Kairo, yaitu rumah sakit al-Manshuri al-Kabir.

Dari wakaf ini juga gaji karyawan rumah sakit ini dibayar. Bahkan, ada petugas yang secara
khusus ditugaskan untuk berkeliling di rumah sakit setiap hari. Tujuannya untuk memberikan
motivasi kepada para pasien, dengan suara lirih yang bisa didengarkan oleh pasien, meski tidak
melihat orangnya. Bahkan, al-Manshur al-Muwahhidi, mengkhususkan hari Jumat, seusai
menunaikan shalat Jumat, untuk mengunjungi rumah sakit, khusus memberikan motivasi kepada
pasien.

Di antara motivasi para penguasa kaum Muslim kepada pasien yang terkenal adalah ungkapan
Wazir Ali al-Jarrah, “Mushibatun qad wajaba ajruha khairun min ni’matin la yu’adda syukruha
(Musibah yang pahalanya sudah ditetapkan lebih baik ketimbang nikmat yang syukurnya tidak
ditunaikan).” []
PERHATIAN SULTAN MUHAMMAD AL FATIH TERHADAP KESEHATAN

Oleh : Roni Abu Azka

Kesehatan termasuk kebutuhan pokok warga negara. Sama hal nya dengan kebutuhan pokok
lainnya seperti sandang, pangan dan papan. Untuk itulah para khalifah di masa Utsmaniyah
khususnya Sultan Muhammad al Fatih sangat memperhatikan aspek kesehatan ini.

Salah satu perhatian dia di bidang ini adalah dikeluarkankannya sejumlah kebijakan terkait
rumah sakit. Dia mewakafkan sebagian besar hartanya untuk membangun fasilitas-fasilitas dan
sarana-sarana publik seperti sekolah dan rumah sakit. Ada beberapa rumah sakit terkenal saat itu
di antaranya Darusy Syifa, Darul ‘Afiyah dan Darush shihah.
Untuk memberikan pelayanan yang prima kepada warga Khilafah, Muhammad al Fatih
menetapkan beberapa kebijakan untuk rumah sakit. Rumah sakit tidak boleh memungut bayaran
sedikit pun dari pasien alias gratis. Hal ini berlaku bagi siapa saja tanpa melihat latar belakang
bangsa, etnis, strata sosial dan agama.

Dalam proses rekrutmen pegawai rumah sakit khususnya bagian juru masak, disyaratkan
memahami segala bentuk makanan yang cocok dengan si pasien dari sisi kandungan protein,
vitamin dan gizinya. Para dokter wajib menyambangi pasien dua kali dalam sehari dan melarang
dokter untuk memberikan obat tertentu kepada pasien kecuali setelah melakukan diagnose yang
detail.

Di setiap rumah sakit ada dua orang dokter umum dan ditambah dengan dokter-dokter spesialis
di bidangnya seperti ahli penyakit dalam, ahli bedah, ahli farmasi, sejumlah perawat dan
pengawas keamanan. Sultan mensyaratkan pada semua yang bertugas di rumah sakit untuk
memilki sifat qana’ah, rasa asih dan kemanusiaan. (ad Daulah al Utsmaniyah, awamilu an
nuhudh wa asbaabu as sukuuth, Muhammad As Shalabi).

Sultan al Fatih, berkeinginan kuat membangun rumah sakit dan klinik pengobatan begitu juga
akademi kesehatan bukan saja di kota-kota besar tapi di setiap kota hingga desa-desa terpencil.
Kesadaran Sang Sultan akan pentingnya kesehatan ini memberikan kontribusi kuat terhadap
kemajuan pembangunan di masa pemerintahannya. Terbukti dia memiliki kekuatan militer
dengan perlengkapan yang canggih serta pasukan tangguh hingga dapat menaklukkan
Konstantinopel.

Selain membangun rumah sakit dan berbagai macam akademi, Al Fatih juga membangun
komplek pertokoan, WC umum, pasar-pasar besar dan taman-taman terbuka. Hal itu juga
dimaksudkan untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan higienis. Dia mengalirkan air ke dalam
kota dengan jembatan-jembatan khusus.

Begitu pula, dia mendorong para menteri, para pejabat, orang-orang kaya dan orang-orang
terpandang untuk membangun perumahan-perumahan buat warga dengan tetap mempertahankan
kemegahan, kenyamanan dan keamanan kota dari kerusakan lingkungan.

Demikianlah Sultan Muhammad Al Fatih (831-887 H/1481-1481 M), Khalifah Utsmaniyah ke-7
membuat kebijakan bagi kesehatan warganya, bukan kebijakan tambal sulam atau pilih-pilih tapi
kebijakan yang adil dan terintegrasi, yang dilandasi keimanan akan besarnya tanggung jawab
kepemimpin di hadapan Allah SWT, keluasan ilmu, ketaatan pada syariah-Nya serta sikap teguh
hati, berani, cerdas, dan dengan kemauan yang kuat dan gigih, tidak tertipu dengan besarnya
kekuasaan dan jumlah tentara, serta hati yang ikhlas sebagai pelayan rakyatnya. []
JEJAK SEJARAH KEPERAWATAN PADA MASA RASULULLAH SAW

Oleh: Reza Indra Wiguna, S.Kep.,Ns

Jika kita melihat perkembangan dunia sekarang, arus update informasi merupakan hal yang
sangat utama dalam suguhan masyarakat dunia, namun bagaimana dengan informasi yang telah
lampau atau sejarah dimasa silam yang tak terkuak hingga saat ini. Hakikatnya sejarah
merupakan pengetahuan yang termasuk kategori tsaqafah, dan sangat dipengaruhi oleh ideologi
dan pandangan hidup tertentu. Sejarah memberikan kepada seseorang lebih dari sekedar
informasi, ia menyusun cara berfikir seseorang saat ini dan menentukan langkah apa yang akan
di ambil pada masa yang akan datang. Saat ini terjadi degradasi pengetahuan ummat terhadap
sejarah Islam di masa kegemilangan sistem khilafahnya, hal ini tidak terlepas dari peranan media
kapitalisme di barat, dengan rekayasa sekulerisme yang sengaja menyembunyikan sejarah ke-
emasan Islam. Tidak luput pada sejarah, kita tenggelam dalam membanggakan sejarah mereka,
baik dari segi keilmuan atau pun para tokohannya. Yang paling menyedihkan adalah banyak
rujukan dari Barat yang memutarbalikkan fakta sejarah. Akibatnya, ilmuan-ilmuan muslim
dalam bidang sains tidak jarang kita ketahui.

Kita mungkin pernah mendengar nama para ilmuwan muslim dibidang kesehatan pada era
kegemilangan sistem kekhilafan Islam Golden Age Periode, sebut saja Abu Muhammad bin
zakaria Ar-Razi (864-930) ilmuwan islam dalam bidang kedokteran, Ibnu Al Haitsami atau Al-
Hazen (965 M) ilmuwan dibidang optik cahaya, adalah Abu Qosim Al-Zahrawi atau Abulcasis
(930 M) seorang ilmuwan ahli bedah terkemuka di masanya. Dunia mengenal Ibnu Sina atau
Avicenna (1037) yang menulis kaidah kedokteran modern The Cannon (dipakai sebagai referensi
ilmu kedokteran Barat). Dan ada banyak lagi tokoh-tokoh ilmuwan muslim dalam dunia sains
dengan spesifikasi dan sumbangsih yang telah terbukti sehingga dijadikan rujukan negara barat
selama berabad-abad, disaat yang bersamaan eropa tenggelam dalam kegelapan Dark Age.

Dari sekian para ilmuwan dan tokoh dibidang kesehatan, yang akan dibahas dalam tulisan ini
adalah tokoh perawat pertama dalam Islam, mumarridah al-Islam al-Ula. Yang namanya
menjadi penulisan para sejarah keperawatan islam, sosoknya memberi banyak inspirasi dalam
dunia keperawatan.

Adalah Rufaidah binti Sa’ad al Aslamiyah. Rufaidah berasal dari Bani Aslam, salah satu marga
dari suku Khazraj di Madinah. Ia dilahirkan di Yastrib (Madinah) dan tumbuh disana sebelum
hijrah. Dia termasuk kelompok muslim pertama dari Bani Aslam. Dialah salah satu perawat
pertama dalam Islam. Dialah orang yang pertama kali melakukan pengobatan dan perawatan
kepada para sahabat yang terluka di medan jihad. Dia pula yang perempuan pertama yang
meminta kepada rasul untuk ikut serta dalam peperangan untuk sekedar membantu para sabahat
yang terluka.

Dalam buku “Rufaidah Awwalu Mumarridah fi al Islam” karya Ahmad Syauqi al- Fanjari.
perawat pertama Islam itu adalah Rufaidah binti Sa’ad al Aslamiyah. Dia-lah perempuan
pertama yang berkonsentrasi terhadap pekerjaan paramedik. Rufaidah bekerja di samping masjid
Nabawi dengan mendirikan pusat kesehatan (sejenis tenda pengobatan). Obsesinya untuk
berjihad semakin kuat, tentu berjihad dengan keterampilannya dalam bidang keperawatan dan
pembuatan ramuan yang diracik oleh tangannya sendiri. Ketika masa perang datang, dia mampu
menghimpun dan mengornisir perempuan untuk menjadi pelayan pengobatan disaat perang.
Adapun beberapa perang yang sempat diikutinya seperti: di perang Badar, Khaibar, Khandak dan
beberapa perang lainnya (lih–Ahmad Syauqi al-Fanjari, 2010: ii; ket. lanjut, lihat Sirah Ibn
Hisyam).

Dia-lah yang pertama mendirikan rumah sakit lapangan di medan peperangan, dimana tenda
berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Pada perang khandaq saat tentara al-ahzab
mengepung madinah, Rufaidah mendirikan tenda disekitar medan pertempuran. Rasulullah Saw
pernah memerintahkan untuk memindahkan seseorang sahabatnya bernama Sa’ad ibn Mu’adz ke
tenda Rufaidah agar diberi pertolongan, karena pada waktu itu Sa’ad terkena panah pada
lengannya. Pada peristiwa tersebut Rasulullah saw menemui sahabat yang sedang terluka
dikemah Rufaidah beberapa kali dalam sehari. Tak heran pula sebutan itu terkenal luas pada
pasukan kaum muslimin, menjadi tenda pertolongan pasa masa perang dengan nama “Khaimah
Rufaidah” (Tenda Rufaidah), (lih–Ahmad Syauqi al- Fanjari, 2010:).

Menurut Prof. Omar Hasan Kasule, dalam sebuah konfrensi “Paper Presented at the 3rd
International Nursing Conference “Empowerment and Health: An Agenda for Nurses in the 21st
Century” yang diselenggarakan di Brunei Darussalam 1998, mengungkapkan bahwa Rufaidah
adalah perawat profesional pertama di masa sejarah Islam. Ia hidup di masa Nabi Muhammad
SAW di abad pertama hijriyah, jauh sebelum masa Florence Nigtingale yang dikenal dengan
pelopor keperawatan modern. Omar Hasan menggambarkan Rufaidah sebagai perawat teladan,
baik dan bersifat empati. Pengalaman klinisnya pun dia bagi pada perawat lain yang dilatih dan
bekerja dengannya. Dia tidak hanya melaksanakan peran perawat dalam aspek klinikal semata.
Namun Rufaidah adalah perawat dan pekerja sosial yang menjadi inspirasi bagi profesi perawat
di dunia Islam. Dalam sejarah Islam tercatat beberapa nama yang bekerja bersama Rufaidah
seperti Ummu Ammara, Aminah binti Qays Al-Ghifariyat, Ummu Ayman, Safiyah, Ummu
Sulaiman, dan Hindun (Omar Hasan, 1998).

Rufaidah adalah sejarah teladan bagi para profesi perawat dan dokter. Sekalipun Rufaidah bisa
membuat ramuan obat untuk pengobatan, namun oleh para sejarawan Rufaidah tidak disebut
sebagai tabib, tetapi dikenal sebagai perawat. Bahkan para penulis sejarah menyebut Rufaidah
sebagai Mumarridah al-Islam al-Ula (perawat pertama wanita dalam sejarah Islam). Selain
aktivitasnya sebagai perawat, Rufaidah juga memiliki banyak aktivitas yang luas. Hal ini
sebagaimana disebutkan oleh sejarawan handal Ibn Kasir mengungkapkan tentang aktivitas
Rufaidah “Ia (Rufaidah) mencurahkan seluruh jiwanya untuk memberikan pelayanan kepada
orang yang kehilangan, yakni setiap orang membutuhkan pertolongan dan bantuan, seperti:
fakir miskin, anak yatim, serta orang-orang yang tidak mampu”. Aktivitas sosialnya tampak
pada proses pendidikan yang dilakukan untuk anak-anak yatim, memberikan pelajaran agama,
dan mengasuh mereka. Tidak heran pada zaman Rasulullah, para sahabat dan sahabiyah
melakukan sambutan terhadap anjuran Rasulullah saw tentang tolong menolong dan keutamaan
mengasuh anak yatim.

Di samping kegiatan tersebut, Rufaidah rutin melakukan semua tugas paramedik seperti:
merawat dan melayani pasien, memberikan bantuan pada medan perang, mengangkut para
korban yang terluka serta syahid. Nama Rufaidah terus terngiang hingga saat ini. Seperti tertulis
di laman web RCSI – Medical University of Bahrain, tiap tahun Universitas Bahrain tersebut
selalu memilih seorang murid untuk menerima penghargaan dalam bidang keperawatan bernama
Rufaida al-Aslamia Prize in Nursing.
Bahan Bacaan :

Miller, S. (undate). History of nursing in islam. Retrieved at: 31 August, 2015, from:
http://64.4.8.250/cai-bin/ linkrd? lana=EN&lah=HealthSciWeb%2fOriainals%2fNursing
lslam%2ehtml.

Kasule, H.U. (1998). Rufaidah bint Sa’ad: Historical roots of the nursing profession in Islam.
Paper Presented at the 3rd International Nursing Conference “Empowerment and Health: An
Agenda for Nurses in the 21st Century” held in Brunei Dar as Salam 1st-4th November 1998.

Jan, R. (1996). Rufaida Al-Asalmiya, the first Muslim nurse. Image: Journal of Nursing
Scholarship,28 (3), 267-268.

Lukman Abdullah; Nilagraha, 29 Juli 2015 Rujukan Al- Fanjari, Ahmad Syauqi. 2010. Rufaidah
awwalumumarridah fi al Islam (terjemahan): Yogyakarta.
‘BIMARISTAN’ RUMAH SAKIT IDAMAN

Oleh : Reza Indra Wiguna, S.Kep.,Ns

Dalam rentang sejarah peradaban islam, segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan
masyarakat. Negara khilafah tidak melepas perhatian sedikitpun termasuk urusan kesehatan
warganya, hal ini wajib diperhatikan oleh seorang khalifah sebagai pemimpin untuk melakukan
pelayanan. Sebagaimana hadist Rasulullah Saw. “Pemimpin yang mengatur urusan manusia
(Imam/Khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya“ (HR. al-
Bukhari dan Muslim).

Perhatian terhadap urusan kesehatan dan pendirian rumah sakit menjadi penting sejak masa
Rasulullah Saw hingga masa kekhilafahan islam. Bagaimana tidak, dengan kepentingan dakwah
dan jihad, semakin bertambah dan luasnya wilayah islam. Urusan kesehatan masyarakat maupun
militer menjadi sistem kesehatan yang terbangun diatas pondasi yang kuat berdasarkan petunjuk
kenabian. Sehingga konsep kebutuhan lembaga dan bangunan untuk tempat merawat dan
mengobati akhirnya digagas. Hal ini bisa dilihat dalam rentang sejarah abad pertengahan hingga
masa kegemilangan peradaban islam. Rumah sakit pada waktu itu dikenal dengan sebutan
‘Bimaristan’ serapan dari bahasa persia, Istilah modernnya disebut ‘Rumah Sakit’ atau ‘al-
Mustasyfa”.

Dalam lembaran sejarah, di dunia Islam telah membangun rumah sakit berlevel tinggi. Mulai
desain bangunan hingga manajemen pengelolaan, sekaligus menjadi fakultas kajian ilmu medis.
Sangat bertolak belakang Jika dibandingkan dengan peradaban barat di Romawi maupun Yunani,
pengobatan masih dianggap hal yang mistik yang masih mempercayai ritual ritus-ritus sebagai
sarana penyembuhan yang dikakukan di kuil atau dikenal dengan Asclepius.

Peran penanganan kesehatan secara terorganisir dalam sejarah diawali dalam menangani kasus
untuk penyakit kusta. Pelayanan ini diinisiasi oleh khalifah Bani Umayyah al-Walid bin Abdul-
Malik pada tahun 710 M. Setelah itu, beberapa lembaga seperti rumah sakit didirikan di
kekhilafahan Islam. Rumah sakit tersebut dianggap sebagai basis ilmu pengetahuan terhadap
kesehatan. Rumah sakit islam pertama dibangun pada era khalifah Harun Al-Rasyid dari Bani
Abbasiyah di Baghdad. Konsep pembangunan beberapa RS di Baghdad tersebut merupakan ide
dari Al-Razi, dokter muslim terkemuka yang dikenal oleh barat dengan nama Rhazes. RS ini
kemudian berkembang menjadi pusat pengobatan dan menjadi cikal bakal melahirkan RS lainya
di seluruh wilayah khilafah islam.

Di kota-kota besar negeri Islam, terdapat beberapa rumah sakit yang menjadi pusat sains dalam
pengembangan dan penelitian kesehatan. sebutlah diantaranya rumah sakit al-A’dudi di
Baghdad, yang didirikan oleh A’dud al Dawlah ibn Buwayh pada tahun 981 M, sebuah rumah
sakit yang memiliki fasilitas perpustakaan besar dan apotek lengkap. Salah satu RS modern
terbesar selanjutnya adalah Rumah Sakit al-Nuri di Damaskus, yang didirikan pada tahun 1154
M oleh Nuruddin Mahmud Zanki seorang khalifah Umayyah. RS ini sudah menggunakan rekam
medis. Dalam sejarah perkembangannya, inilah RS pertama di dunia yang menggunakan rekam
medis pasien.

Tak kalah hebat Rumah sakit Al-Mansuri di Kairo yang didirikan pada 1284 M, RS ini memiliki
kualitas akurasi dan organisasi, mampu menampung lebih dari empat ribu pasien setiap harinya.
sosok Ibnu al-Nafis dibelakang perkembangan al-Mansuri yang menjadi direktur rumah sakit di
wilayah Mesir tersebut. Berseberang ke Afrika Utara tepatnya di Maroko terdapat Rumah Sakit
Marakesh. RS ini dibangun tahun 1190 oleh al-Mansur Ya’qub ibn Yusuf. Saat itu Marakesh
merupakan RS besar nan indah. Halamannya penuh bunga dan pepohonan. Sedangkan di
Andalusia terdapat Rumah Sakit Granada yang dibangun pada tahun 1366, dan tercatat di ibu
kota Cordoba saja ada lebih dari lima puluh rumah sakit lainnya. Menurut Dr Hasim Hasan
Naqvi dalam artikel “Four Medieval Hospital in Syiria” yang di kutip muslimheritage.com
Seiring waktu, rumah sakit ditemukan di semua kota-kota Islam. Sementara selama puncak
Kekhalifahan Abbasiyah, lebih dari enam puluh rumah sakit disajikan kota Baghdad saja.

Dimasa peradaban Islam, Bimaristan tak hanya menjadi pusat pengobatan, disamping itu juga
berfungsi sebagai kampus, tempat menimba ilmu dan riset di bidang kesehatan. Sebuah tempat
dimana mendidik para tenaga kesehatan dari perawat, dokter hingga apoteker, yang melahirkan
para ilmuwan, sehingga dapat menghasilkan berbagai macam penemuan ilmiah dibidang
kesehatan, karya-karya mereka dijadikan sebagai referensi ensiklopedi kedokteran. Dari
pengenalanan anatomi, penemuan sirkulasi darah, bahkan proses tindakan pembedahan baru
diperkenalkan, hal ini merupakan hasil riset yang memberikan kontribusi besar bagi
perkembangan RS dan dunia medis.
Konsep Pelayanan

Dr Mushthafa As-Siba`i menggambarakan desain dan pengelolaan bimaristan dalam bukunya


“Min Rawai` Hadlaratina”. Sejak awal para dokter memilih tempat yang baik untuk
bangunannya. Misalnya saja, rumah sakit A’dhudi Baghdad. Untuk mengetahui kondisi
kebersihan lingkunganya, ar-Razi menempatkan empat buah daging mentah selama satu malam
di beberapa penjuru, tempat daging yang paling segar dipilih sebagai tempat berdirinya Rumah
sakit. Ini menandakan bahwa dilingkungan yang bersih, terdapat sedikit kuman yang menginvasi
daging.

Adapun pengelolaan di mayoritas seluruh Bimaristân, pasien laki-laki dan perempuan dirawat di
ruangan berbeda. Setiap bagian terdiri dari juru perawat dan dokter dan dikepalai dokter ahli. al-
Siba’i memaparkan hampir semua layanan digratiskan bagi semua lapisan masyarakat. Semua
unsur yang ada dalam rumah sakit mendapat perhatian penuh dari segi pelayanan, makanan,
pakaian, sanitasi lingkungan, sampai pembekalan pascakesembuhan. Dalam sebuah artikel yang
berjudul “Arabian Medicine in The Middle Ages, Journal of the Royal Society of Medicine”
yang terbit pada 1984. Rumah sakit yang tersebar di kawasan Arab memiliki karakteristik yang
khas. Di antaranya, melayani semua orang tanpa membedakan warna kulit, agama, serta strata
sosial. Hal tersebut dituliskan Nigel Shanks dalam penelitinya.

Hossam Arafa dalam tulisan berjudul “Hospital in Islamic History” menyebut, bimaristan
senantiasa memperhatikan pasokan air dan kebersihan kamar mandi. Dalam kondisi sehat
ataupun sakit, shalat tetap merupakan sebuah kewajiban. Dalam tahap penyembuhan, pasien
akan dipindahkan diruangan khusus. Jika telah benar-benar sembuh maka dia diberi pakaian baru
dan pesangon sampai pasien tersebut benar-benar bisa bekerja dan beraktifitas secara normal.
Model ‘service’ seperti ini tetap berlanjut, pelayanan tersebut pernah membuat orang prancis
berdetak kagum saat mengunjungi Al-Mansuri.

Dari sini kita tahu bahwa islam mempunyai sejarah yang kuat dalam membangun dunia.
Keberadaan bimaristan menjadi bukti rekaman sejarah tentang betapa tingginya peradaban Islam
pada masa tersebut. Fakta ini sekaligus memberikan gambaran kemajuan negara Khilafah dalam
mengembangkan sains dibidang kesahatan islam yang mendahului peradaban barat. Sistem
pengobatan dan pelayanan warga negara dilaksanakan secara manusiawi berdasarkan bimbingan
Ilahi. Hal ini karena Islam sangat memperhatikan urusan kesehatan ummat.
TESTIMONI SANG PASIEN

Oleh: Prof. DR. Ing. Fahmi Amhar

Tentang kenyamanan dan modernnya rumah sakit Islam di masa khilafah dapat digambarkan dari
sebuah manuskrip sejarah, sebuah surat dari seorang pengelana Eropa di dunia Islam.

“Ayahku! Kau bertanya, apakah kau harus membawa uang untukku. Bila aku sudah sembuh dan
keluar nanti, rumah sakit akan memberiku pakaian baru dan lima potong emas, sehingga aku tak
harus langsung bekerja. Kau pun tak perlu menjual ternak kepada tetangga. Tapi hendaknya kau
segera datang, jika kau masih ingin menemuiku di sini.

Aku terbaring di bagian ortopedik, bersebelahan dengan bangsal operasi. Bila kau datang
melalui pintu masuk utama, berjalanlah lurus melalui aula bagian selatan. Di situ ada poliklinik,
tempat aku diperiksa pertama kali setelah aku terjatuh. Di sana setiap pasien baru akan
diperiksa oleh para asisten dokter dan mahasiswa, dan jika seseorang dianggap tidak perlu
dirawat-inap, maka ia akan segera diberi resep obat, yang dapat ditukarkan di apotek rumah
sakit.

Setelah diperiksa di sana aku lalu didaftar, lalu diantar menemui dokter kepala rumah sakit.
Seorang perawat memapahku masuk ke bangsal pria, memandikan tubuhku dan mengenakan
pakain pasien yang bersih. Di sebelah kiri kau dapat melihat perpustakaan, dan ruang kuliah
besar berada di belakangmu. Di situlah biasanya dokter kepala memberikan kuliah kepada
mahasiswa. Gang di sebelah kiri beranda adalah jalan menuju bangsal wanita. Kau harus tetap
mengambil jalan sebelah kanan, terus melewati bagian internis dan bagian bedah.

Bila kebetulan terdengar alunan musik dan lagu-lagu dari salah satu kamar, cobalah tengok di
dalamnya. Boleh jadi aku sudah berada di sana, di sebuah ruang khusus untuk para pasien yang
sudah sembuh. Di situ kita dapat membaca buku-buku sambil menikmati alunan musik sebagai
hiburan. Pagi tadi, ketika dokter kepala bersama para asisten dan perawat dalam kunjungan
kelilingnya menjenguk dan memeriksaku, kepada dokter yang merawatku ia mengatakan
sesuatu, yang tak aku pahami. Maka ia lalu menjelaskan kepadaku, bahwa besok pagi aku sudah
boleh bangun dan meninggalkan rumah sakit. Keputusan yang sebenarnya belum aku
inginkan. Rasanya aku masih ingin tinggal di sini lebih lama lagi.

Di sini semuanya begitu bersih dan terang. Tempat-tempat tidurnya empuk, sepreinya terbuat
dari kain damas putih dan selimutnya lembut seperti beludru. Dalam setiap kamar tersedia
aliran air, yang akan dihangatkan bila malam yang dingin tiba. Hampir tiap hari disuguhkan
masakan daging unggas atau domba panggang, yang sangat cocok bagi kondisi perut para
pasien.

Pasien di sebelahku telah dengan sengaja selama seminggu pura-pura masih sakit, hanya agar
ia masih bisa menikmati kelezatan gorengan ayam dalam beberapa hari lagi. Tapi dokter kepala
mengetahui hal itu. Karena itu ia pun disuruh segera pulang. Namun untuk menunjukkan bahwa
pasien itu sudah benar-benar pulih kesehatannya, ia masih dibolehkan sekali lagi menyantap
hidangan roti keju dan ayam panggang. Nah, ayah, datanglah, sebelum daging ayam terakhir
untukku dipanggang!”
ISLAM PERINTIS RUMAH SAKIT JIWA

Oleh: drh. Murniati.M.Si

Kontribusi umat islam bagi peradaban manusia adalah fakta yang tak terbantahkan. Para
sejarawan sains Barat dalam sebuah konferensi mengakui bahwa dunia kedokteran modern
berutang begitu banyak terhadap para ilmuwan muslim di era keemasannya. Betapa tidak, para
ilmuwan muslim di era kekhalifahan merupakan perintis diagnosis dan penyembuhan beragam
penyakit. Dr. Emilie Savage Smith dari St. Cross College di Oxpord mengungkapkan, islam
adalah peradaban pertama yang memiliki rumah sakit. Menurutnya, rumah sakit pertama di dunia
dibangun pada masa kekhalifahan Abbasiyah di kota Baghdad, Irak, sekitar tahun 800 M.
“Rumah sakit yang berdiri di Baghdad itu lebih mutakhir dibandingkan rumah sakit di Eropa
Barat, yang di bangun beberapa abad setelahnya”, paparannya seperti dikutip Independent.

Savage Smith mengungkapkan, rumah sakit islam terbesar di zaman keemasan dibangun di
Mesir dan Suriah pada abad ke-12 dan 13 M. Pada masa itu, rumah sakit islam sudah
menerapkan sistem perawatan pasien berdasarkan penyakitnya. Menurut Savage Smith,
pembangunan sebuah sistem rumah sakit yang begitu luas merupakan salah satu pencapaian
terbesar dalam peradaban islam pada abad pertengahan. “Peradaban islam pada abad ke-10 M
untuk pertama kalinya memperkenalkan sistem pendidikan kedokteran secra langsung di rumah
sakit, ” ujar Savage Smith. Ia pun mengagumi islam yang mengajarkan umatnya untuk merawat
seluruh jenis penyakit tanpa memandang status ekonomi pasiennya. Menurutnya, rumah sakit
islam pada era kejayaannya terbuka bagi semua; laki-laki, perempuan, warga sipil, militer, kaya,
miskin, muslim, dan non muslim. Pada masa itu, masih kata Smith, rumah sakit memiliki
beragam fungsi, mulai dari pusat perawatan kesehatan hingga rumah penyembuhan bagi pasien
yang sedang dalam tahap pemulihan dari sakit atau kecelakaan. Rumah sakit pada era keemasan
islam juga berfungsi sebagai temapat perawatan para manusia lanjut usia (manula) yang
keluarganya kurang beruntung.

Peradaban Barat kerap mengklaim bahwa Philipe Pinel (1793 M) merupakan orang pertama
yang memperkenalkan metode penyembuhan penyakit jiwa. Tak cuma itu, Barat juga
menyatakan rumah sakit jiwa pertama di dunia adalah Vienna’s Narrenturm yang dibangun pada
tahun 1784. Benarkah klaim peradaban Barat itu?. Syed Ibrahim B., Ph.D. dalam bukunya
berjudul Islamic Medicine; 1000 Years Ahead of Its Times mengatakan bahwa rumah sakit jiwa
atau insane asylum telah didirikan para dokter dan psikolog islam; beberapa abad sebelum
peradaban Barat mengembangkannnya. Hampir semua kota besar di dunia Islam pada era
keemasan telah memiliki rumah sakit jiwa. Selain di Baghdad, ibu kota kekhalifahan Abbasiyah,
insane asylum juga terdapat di kota Fes (Maroko). Pada tahun 800 M, di Kairo, Mesir juga
didirikan rumah sakit jiwa. Pada abad ke-13 M, kota Damaskus dan Aleppo juga telah memiliki
rumah sakit jiwa.

Bandingkan dengan Inggris, negara terkemuka di Eropa itu baru membuka rumha sakit jiwa pada
tahun 1831 M. Rumah sakit jiwa pertama di negeri Ratu Elizabeth yang bernama Middlesex
Country Asylum tersebut terletak di Hanwell, sebelah Barat London. Pemerintah Inggris
membuka rumah sakit jiwa setelah mendapat desakan dari Middlesex Country Court Judges.
Setelah itu, Inggris mengeluarkan Madhouse Act. 1828 M. Bagaimana perkembangan islam
mulai mengembangkan pengobatan kesehatan jiwa? Menurut Syed Ibrahim, berbeda dengan para
dokter Kristen di abad pertengahan yang mendasarkan sakit jiwa pada penjelasan takhayul,
dokter muslim justru lebih bersifat rasional. Para dokter muslim justru melakukan kajian klinis
terhadap pasien-pasien yang menderita sakit jiwa. Tak heran jika para dokter muslim berhasil
mencapai kemajuan yang signifikan dalam bidang ini. Mereka berhasil menemukan psikiatri dan
pengobatannya berupa psikoterapi dan pembinaan moral bagipenderita sakit jiwa. “Selain itu,
para dokter dan psikolog muslim juga mampu menemukan bentuk pengobatan modern bagi
penderita sakit jiwa, seperti mandi dengan obat, musik terapi, dan terapi jabatan,” papar Syed
Ibrahim.

Konsep kesehatan mental muncul pertama kali diperkenalkan dunia kedokteran islam oleh
seorang dokter dari Persia bernama Abu Zayd Ahmed bin Sahl al-Balkhi (850-934 M). Dalam
kitabnya berjudul Masalih al-Abdan wa al-Anfus (Makanan untuk Tubuh dan Jiwa), Al-Balkhi
berhasil menghubungkan antara penyakit tubuh dan jiwa. Menurutnya, gangguan atau penyakit
pikiran sangat berhubungan dengan kesehatan badan. Ia biasa menggunakan istilah al-tibb al-
ruhani untuk menjelaskan kesehatan spiritual dan kesehatan psikologi. Sedangkan untuk
kesehatan mental, ia kerap menggunakan istilah tibb al-qalb. “Jika jiwa sakit maka tubuhpun tak
akan bisa menikmati hidup, dan itu bisa menimbulkan penyakit kejiwaan” tutur Al-Balkhi. Al-
balkhi mengungkapkan bahwa penyebab depresi dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, depresi
yang diketahui penyebabnya, sepertinya mengalami kegagalan atau kehilangan. Depresi seperti
ini bisa disembuhkan secara psikologis.

Sedangkan untuk kesehatan mental dia kerap menggunakan istilah Tibb al-Qalb. Ia pun sangat
terkenal dengan teori yang dicetuskannya tentang kesehatan jiwa yang berhubungan dengan
tubuh. Menurut dia, gangguan atau penyakit pikiran sangat berhubungan dengan kesehatan
badan. ”Jika jiwa sakit, maka tubuh pun tak akan bisa menikmati hidup dan itu bisa
menimbulkan penyakit kejiwaan,” tutur al-Balkhi. Menurut al-Balkhi, badan dan jiwa bisa sehat
dan bisa pula sakit. Inilah yang disebut keseimbangan dan ketidakseimbangan. Dia menulis
bahwa ketidakseimbangan dalam tubuh dapat menyebabkan demam, sakit kepala, dan rasa sakit
di badan. Sedangkan, ketidakseimbangan dalam jiwa dapat mencipatakan kemarahan,
kegelisahan, kesedihan, dan gejala-gejala yang berhubungan dengan kejiwaan lainnya.

Dia juga mengungkapkan dua macam penyebab depresi. Menurut dia, depresi bisa disebabkan
alasan yang diketahui, seperti mengalami kegagalan atau kehilangan. Ini bisa disembuhkan
secara psikologis. Kedua, depresi bisa terjadi oleh alasan-alasan yang tak diketahui, kemukinan
disebabkan alasan psikologis. Tipe kedua ini bisa disembuhkan melalui pemeriksaan ilmu
kedokteran.

Selain al-Balkhi, peradaban Islam juga memiliki dokter kejiwaan bernama Ali ibnu Sahl Rabban
al-Tabari. Lewat kitab Firdous al-Hikmah yang ditulisnya pada abad ke-9 M, dia telah
mengembangkan psikoterapi untuk menyembuhkan pasien yang mengalami gangguan jiwa. Al-
Tabari menekankan kuatnya hubungan antara psikologi dengan kedokteran. Menurut dia, untuk
mengobati pasien gangguan jiwa membutuhkan konseling dan dan psikoterapi. Al-Tabari
menjelaskan, pasien kerap kali mengalami sakit karena imajinasi atau keyakinan yang sesat.
Untuk mengobatinya, kata al-Tabari, dapat dilakukan melalui ”konseling bijak”. Terapi ini bisa
dilakukan oleh seorang dokter yang cerdas dan punya humor yang tinggi. Caranya dengan
membangkitkan kembali kepercayaan diri pasiennya.

Melalui kitab yang ditulisnya yakni El-Mansuri dan Al-Hawi, dokter Muslim legendaris al-
Razi juga telah berhasil mengungkapkan definisi symptoms (gejala) dan perawatannya untuk
menangani sakit mental dan masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan mental. Al-
Razi juga tercatat sebagai dokter atau psikolog pertama yang membuka ruang psikiatri di sebuah
rumah sakit di Kota Baghdad. Pemikir Muslim lainnya di masa keemasan Islam yang turut
menyumbangkan pemikirannya untuk pengobatan penyakit kejiwaan adalah Al-Farabi. Ilmuwan
termasyhur ini secara khusus menulis risalah terkait psikologi sosial dan berhubungan dengan
studi kesadaran.

Selain itu, Ibnu Zuhr, alias Avenzoar juga telah berhasil mengungkap penyakit syaraf secara
akurat. Ibnu Zuhr juga telah memberi sumbangan yang berarti bagi neuropharmakology modern.
Yang tak kalah penting lagi, Ibnu Rusyd atau Averroes — ilmuwan Muslim termasyhur – telah
mencetuskan adanya penyakit Parkinson’s. Sejarawan Francis Bacon menyebut Al-Haitham
sebagai ilmuwan yang meletakkan dasar-dasar psychophysics dan psikologi eksperimental.
Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukannya, Bacon merasa yakin bahwa Al-Haitham
adalah sarjana pertama yang berhasil menggabungkan fisika dengan psikologi, dibandingkan
Fechner yang baru menulis Elements of Psychophysics pada tahun 1860 M. Begitulah,
kedokteran dan psikologi Islam mengembangkan pengobatan penyakit jiwa.
KEDOKTERAN ISLAM & UJI KLINIS

Oleh: Prof. DR. Ing. Fahmi Amhar

Dewasa ini jika orang berbicara tentang kedokteran Islam atau “kedokteran ala nabi”, orang
biasa menunjuk pada 4 hal: (1) kebiasaan sehat Rasulullah seperti puasa sunah, tidak makan
sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang, dll; (2) menkonsumsi madu atau habatus saudah –
sampai ada hadits bahwa “Habatus Saudah adalah obat segala penyakit kecuali maut”; (3) bila
sampai sakit, terapinya adalah bekam; (4) dalam kondisi tak ada alat apapun, atau untuk penyakit
karena pengaruh sihir dilakukan ruqyah syar’yah, seperti misalnya dengan dibacakan surat al-
Fatihah.

Penyederhanaan seperti di atas tidak ada di masa kejayaan kedokteran Islam. Kaum muslimin
secara sadar melakukan penelitian-penelitian ilmiah di bidang kedokteran secara orisinal dan
memberikan kontribusi yang luar biasa di bidang kedokteran, sehingga memiliki genre yang
khas, melampaui genre yang ada saat itu, seperti kedokteran Yunani (seperti Unani), India kuno
(Ayurveda), Persia (Akademi Gundishapur), dan karya-karya tokoh kedokteran kuno (seperti
Hippocrates, Celcus atau Galen).

Tidak dapat dipungkiri bahwa Rasulullah adalah inspirator utama kedokteran Islam. Meski
beliau bukan dokter, namun kata-katanya yang terekam dalam banyak hadits sangat inspiratif,
semisal “Tidak ada penyakit yang Allah ciptakan, kecuali Dia juga menciptakan cara
penyembuhannya” (HR Bukhari).

Keyakinan ini memotivasi penelitian biomedis para dokter Islam generasi awal. Pada abad 9,
Hunayn bin Ishaq menerjemahkan sejumlah besar karya-karya kedokteran Yunani, Persia dan
India ke bahasa Arab. Namun kemudian mereka mengembangkan lebih lanjut di hampir segala
bidang, seperti pada anasthesy, anatomy, dentistry, immunologi, opthalmology, perinatalogy,
psychology, surgery, pharmakology, dsb. Salah satu karya monumental yang merangkum segala
kemajuan ilmu kedokteran pada saat itu adalah Qanun fit Thib (The Canon of Medicine) dari
Ibnu Sina, yang di dunia Barat disebut Avicenna. Selama abad 15 dan 16 saja, buku ini telah
dicetak ulang lebih dari 35 kali.
Dokter-dokter Islam adalah yang pertama kali mendirikan rumah-rumah sakit dalam pengertian
modern. Rumah sakit ini dibuat untuk mempercepat penyembuhan pasien di bawah pengawasan
staf yang terlatih, serta untuk mencegah penularan kepada masyarakat. Pada zaman pertengahan,
hampir semua kota besar Khilafah memiliki rumah sakit. Di Cairo, rumah sakit Qalaqun dapat
menampung hingga 8000 pasien. Rumah sakit ini juga sudah digunakan untuk pendidikan
universitas serta untuk riset. Dokter muslim sudah mampu menghilangkan katarak seribu tahun
sebelum orang Barat mengetahui hakekat penyakit mata ini. Rumah Sakit ini juga tidak hanya
untuk yang sakit fisik, namun juga sakit jiwa. Di Eropa, rumah sakit semacam ini baru didirikan
oleh veteran perang Salib yang menyaksikan kehebatan sistem kesehatan di Timur Tengah.

Semua rumah sakit di dunia Islam dilengkapi dengan test-test kompetensi bagi setiap dokter dan
perawatnya, aturan kemurnian obat, kebersihan dan kesegaran udara, sampai pemisahan pasien
penyakit-penyakit tertentu.

Pada abad-9, Ishaq bin Ali Rahawi menulis kitab Adab al-Tabib, yang untuk pertama kalinya
ditujukan untuk kode etik kedokteran. Ada 20 bab di dalam buku itu, di antaranya
merekomendasikan agar ada peer-review atas setiap pendapat baru di dunia kedokteran. Kalau
ada pasien yang meninggal, maka catatan medis sang dokter akan diperiksa oleh suatu dewan
dokter untuk menguji apakah yang dilakukannya sudah sesuai standar layanan medik.

Salah satu keunikan dalam kedokteran Islam adalah peranan staf perempuan, yang di masa itu
sangat jarang ditemukan di tempat penyembuhan lain di dunia. Kedokteran Islam
mempekerjakan perempuan sebagai perawat, bahkan dikenal juga dua perempuan dokter dari
keluarga Banu Zuhr yang melayani penguasa Almohad Abu Yusuf Ya’qub al Mansur pada abad-
12. Pada abad 15, perempuan dokter bedah pertama kali diberitakan di rumah sakit khilafah
Utsmani.

Ada ratusan tokoh ilmuwan muslim yang berkontribusi secara langsung maupun tak langsung
dalam kedokteran Islam.

Pada abad-9, Al-Kindi menunjukkan aplikasi matematika untuk kuantifikasi di bidang


kedokteran, misalnya untuk mengukur derajat penyakit (sejenis termometer), mengukur kekuatan
obat hingga dapat menaksir saat kritis pasien.
Ar-Razi pada abad-10 memulai eksperimen terkontrol dan observasi klinis, serta menolak
beberapa metode Galen dan Aristoteles yang pendapat-pendapatnya tidak dibangun dari
eksperimennya yang dapat diverifikasi. Ar-Razi juga meletakkan dasar-dasar mengenali penyakit
dari analisis urin.

Sedang Ibnu Sina sudah dianggap Bapak Kedokteran Modern. Dia meletakkan tujuh aturan dasar
dalam uji klinis atas suatu obat.

Abu al-Qarim al-Zahrawi dianggap Bapak ilmu bedah modern, karena dalam kitab Tasrif
(sebuah ensiklopedi dalam 30 jilid) yang dipublikasikan pada tahun 1000 M sudah menemukan
berbagai hal yang dibutuhkan dalam bedah, termasuk plester dan 200 alat bedah. Sebagian besar
alat ini belum pernah digunakan orang sebelumnya, termasuk beberapa alat bedah yang khas
digunakan untuk wanita. Persoalan bedah juga terkait anasthesi (pembiusan). Beberapa zat bius
seperti campuran opium sudah digunakan dengan tepat oleh Abu al-Qarim, Ibnu Zuhur maupun
Ibnu Sina.

Ibnu an-Nafis adalah Bapak Fisiologi peredaran darah yang merupakan perintis bedah manusia.
Pada tahun 1242 ia sudah dapat menerangkan secara benar sirkulasi peredaran darah jantung-
paru-paru. Di Barat baru tahun 1628 William Harvey menemukan hal yang sama.

Pada abad 15, kitab Tashrih al-Badan karya Mansur bin Ilyas menggambarkan secara lengkap
struktur tubuh manusia, termasuk sistem syaraf.

Semua prestasi ini terjadi tidak lain karena adanya negara yang mendukung aktivitas riset
kedokteran untuk kesehatan umat. Umat yang sehat adalah umat yang kuat, yang produktif dan
memperkuat negara, untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Kesehatan dilakukan secara
preventif (pencegahan), bukan kuratif (pengobatan). Anggaran negara yang diberikan untuk riset
kedokteran adalah investasi, bukan anggaran sia-sia. Filosofi inilah yang seharusnya ada di
benak kaum muslimin sekarang ini, terutama para penguasanya, jika ingin kedokteran Islam jaya
kembali. []
SERPIH 6

MERETAS JALAN SEHAT BERNAUNG SYARIAH


PARADIGMA KESEHATAN ISLAM

Oleh : dr. Iswahyudi

Problem utama yang dihadapi saat ini yang berimbas pada buruknya pelayanan
kesehatan adalah cara pandang mengenai kesehatan itu sendiri. Ketika berbicara mengenai
pelayanan kesehatan, maka pertanyaan pertama yang diajukan adalah : Dananya seberapa besar?
Ini adalah pertanyaan khas kapitalisme. Padahal pertanyaan pertama yang perlu dijawab adalah :
Pelayanan kesehatan menjadi tugas siapa? Cara pandang ala kapitalisme juga telah menjadikan
kesehatan masyarakat menjadi salah satu item yang layak diperjualbelikan. Hal tersebut nampak
dari besaran anggaran kesehatan yang disediakan oleh Pemerintah yang selalu berbicara
efisiensi. Pelaksanaan sistem pelayanan kesehatan di era JKN semakin menunjukkan hal
tersebut. BPJS Kesehatan telah menjadi satu-satunya lembaga finansial yang berhak menentukan
regulasi tarif pelayanan dan premi yang harus diberikan. Pendanaan dari anggaran Negara
semakin minim dengan asumsi telah ada premi masyarakat yang disetor ke BPJS.
Sesungguhnya Islam memberikan paradigma kesehatan yang sangat manusiawi. Islam
telah menempatkan kesehatan sebagai kebutuhan asasi masyarakat (community primary needs),
di samping pendidikan dan keamanan.Berbeda dengan sandang, pangan dan papan (kebutuhan
asasi individu) dimana negara memiliki peranan secara tidak langsung, pada kebutuhan asasi
masyarakat negara berperan secara langsung untuk mengupayakan pemenuhannya. Dikatakan
manusiawi karena dengan menempatkan kesehatan sebagai kebutuhan asasi masyarakat maka hal
ini akan menunjukkan pada dua keadaan yakni; pertama, kesehatan adalah perkara yang sangat
penting untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan yang lain seperti sandang, pangan dan papan.
Tanpa kesehatan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang lain tentu menjadi sulit. Kedua, akses
kesehatan tidak hanya dibebankan pada kemampuan masing-masing individu tapi sudah menjadi
tugas (kewajiban) negara sehingga pelayanan kesehatan bisa dijangkau oleh segenap lapisan
masyarakat. Tidak ada diskriminasi berdasarkan kekayaan, agama, dan pilihan politik. Selama
yang bersangkutan merupakan warga negara maka mereka layak mendapatkan pelayanan
kesehatan secara sama-rata.
Pemenuhan secara langsung oleh negara tampak dalam bentuk keseriusan negara untuk
menjadikan sektor pemenuhan kebutuhan kesehatan sebagai sesuatu yang dapat diakses oleh
seluruh warga negara tanpa kecuali. Penyediaan tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan
kesehatan harus disediakan oleh negara di berbagai pelosok wilayah dengan standar pelayanan
yang maksimal. Hal ini merupakan manifestasi perintah Allah SWT melalui lisan RasulNya
ketika beliau bersabda :

“Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya, dan ia akan diminta
pertanggungjawaban terhadap rakyatnya.”[HR. Bukhari dan Muslim].

Serta amalan Rasulullah sendiri, yakni ketika mendapatkan hadiah dari raja Muqauqis
berupa seorang tabib yang semula ditujukan sebagai tabib pribadi Rasul maka tabib tersebut
diarahkan menjadi tabib bagi seluruh masyarakat Madinah (Abdurrahman al Maliki, Politik
Ekonomi Islam; hal. 195, Syamsuddin Ramadhan, Hidup Sejahtera di Bawah Naungan Islam
dalam Bunga Rampai Syariat Islam, hal 8). Pernah pula serombongan orang berjumlah delapan
orang dari Urairah datang mengunjungi Rasulullah saw di Madinah. Mereka menyatakan
keimanan dan keislamannya kepada Rasulullah saw, karena Allah. Di sana mereka terserang
penyakit dan menderita sakit limpa. Rasulullah saw memerintahkan mereka beristirahat di pos
pengembalaan ternak kaum muslim milik Baitul Maal, di sebelah Quba’ yang bernama Zhi Jadr.
Mereka tinggal di sana hingga sembuh dan gemuk. Mereka diijinkan minum susu dari binatang-
binatang ternak (Syamsuddin Ramadhan, Hidup Sejahtera di Bawah Naungan Islam dalam
Bunga Rampai Syariat Islam, hal 8).
Terdapat pula hadits dari Jabir ra. yang berkata :

Rasulullah telah mengutus seorang dokter kepada Ubay bin Kaab. Dokter itu memotong
satu urat dari tubuhnya, lalu membakar bekas urat itu dengan besi bakar (HR Muslim)

Khalifah Umar bin Khattab ra. juga pernah mengutus seorang dokter kepada Aslam ra.
untuk mengobati penyakitnya (HR al-Hakim dalam al Mustadrak, dikutip dari jurnal Al Waie
no. 132, hal 55)

Meskipun demikian setiap individu diperbolehkan memenuhi kebutuhan kesehatan,


keamanan dan pendidikannya secara swadaya seperti memiliki dokter pribadi, menyewa satpam
untuk menjaga rumah atau memilki guru privat (Abdurrahman al Maliki, Politik Ekonomi Islam;
hal. 196-7) Kebolehan menyewa seorang dokter pribadi dan mengupahnya berdasarkan apa yang
diriwayatkan dari Anas ra. berkata :
Nabi pernah memanggil seseorang lalu ia membekam beliau, kemudian memberinya
upah satu sha’ atau dua sha’ (HR Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa sistem pelayanan kesahatan di dalam Islam
menjadikan negara, dalam hal ini Daulah Khilafah, sebagai garda terdepan dalam memberikan
pelayanan kesehatan bagi warganya. Daulah Khilafah tidak boleh alias haram menyerahkan
urusan ini kepada pihak swasta apalagi membebankannya kepada individu-individu semata.
Meskipun boleh bagi pihak individu atau swasta menjalankan praktek pelayanan kesehatan,
namun peranan mereka hanyalah sebagai supporting agent saja. Pada saat yang sama aktivitas
mereka harus selaras dengan apa yang menjadi kebijakan umum Daulah Khilafah dan tidak
boleh melenceng dari garis yang telah ditetapkan. Haram pula secara mutlak untuk menyerahkan
urusan ini kepada pihak asing/kafir karena berpotensi menjadikan kaum muslimin dikuasai oleh
pihak asing tersebut. Allah SWT. berfirman:

"Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai
orang-orang mukmin." (Q.S. An Nisa': 141)
KESEHATAN: MEMILAH SAINS TEKNOLOGI DARI KONSEP PERADABAN

Oleh: dr. Fauzan Muttaqien

Suatu ketika seorang lelaki berjenggot bersurban putih datang ke instalasi gawat darurat.
Anaknya kecelakaan parah. Singkat cerita, sang dokter memanggilnya untuk memberikan
edukasi sekaligus meminta persetujuan tindakan kepadanya.

“Anak bapak harus dioperasi. Tulang pahanya patah terbuka, dan operasinya darurat. Saya
meminta persutujuan dari bapak. Selain itu, kita akan memasukkan antibiotik dan obat-obatan
penahan nyeri. Bagaimana Pak?”

“Maaf,” sela beliau. “Namun, itu tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah. Saya memilih ruqyah
syar’iyyah, bekam, madu dan habbatussaudah untuk kesembuhannya. Permisi, saya akan
membawa dia pulang”

Sang dokter hanya bisa melongo.

***

Tentu saja, cerita di atas hanya sebuah ilustrasi yang ekstrim. Namun, saya seringkali menemui
banyak kasus orang-orang yang mengaku aktivis muslim mencibir pengobatan modern.

“Ini, saya kasih obat ini ya.. ustadz” suatu ketika, saat dia mengkonsultasikan anaknya yang
terkena demam. “Tidak, terima kasih.. saya lebih memilih madu”

Lain kesempatan, “Bagusnya sih dikasih antibiotik akh,” seorang teman menderita demam
thypoid. “Nggak, ah… haram… zat kimia”

Saya tercenung. Darimana haramnya?

Dan sederet contoh lainnya. Yang mengherankan adalah seringkali alasan yang diungkapkan
mereka adalah: ini adalah pengobatan modern barat, dan bukan pengobatan Islam.

Lho, apa benar seperti itu? Apakah hanya karena pengobatan itu datang dari Barat, maka tidak
boleh dipakai kaum muslimin?

***
Sahabat, ketika kita berbicara kesehatan, maka harus kita bedakan antara yang mana Hadharah,
yang mana Madaniyyah. Hadharah adalah sekumpulan ide yang dianut tentang kehidupan.
Sedangkan Madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda. Hadharah bersifat khas,
sesuai dengan pandangan hidup. Sementara madaniyah bisa bersifat khas, bisa pula bersifat
umum untuk seluruh umat manusia. Bentuk-bentuk madaniyah yang dihasilkan dari hadharah,
seperti patung dan salib termasuk madaniyah yang bersifat khas. Sedangkan bentuk-bentuk
madaniyah yang dihasilkan oleh kemajuan sains dan perkembangan teknologi/industri tergolong
madaniyah yang bersifat universal, milik seluruh umat manusia.

Allah telah mengharamkan umat Islam mengambil sistem atau aturan manapun selain Islam
dalam rangka memecahkan setiap problematika hidup mereka. Allah juga telah mengharamkan
umat Islam untuk berhukum kepada selain hukum Islam. Firman Allah SWT:
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan
kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara-perkara yang mereka perselisihkan" (TQS.
an-Nisa 65)

Sabda Rasul saw :

"Setiap perkara yang tidak berasal dari perintah kami maka hal itu tertolak" (HR. Muslim)
Oleh karena itu, kita tidak boleh mengambil sedikitpun hadharah yang berasal dari luar Islam.
Sehingga kita telah diharamkan untuk mengambil bagian-bagian manapun dari peradaban luar
Islam, seperti sistem ekonomi, pemerintahan, politik luar negeri, termasuk sistem layanan
kesehatan.
Adapun ilmu pengetahuan (sains) bersifat universal. Dengan demikian apapun yang lahir dari
sains, baik berupa penemuan-penemuan baru, industri, dan segala bentuk materi/ fisik, hal itu
tidak lahir dari sebuah sudut pandang tertentu kehidupan. Ia lahir dari kecerdasan akal, melalui
suatu proses eksperimen, pengamatan, dan penarikan kesimpulan.

Oleh karena itu, Islam telah membolehkan umatnya untuk mengambil ilmu pengetahuan dari
manapun sumbernya, apakah dari Barat ataupun Timur. Sebab, hal itu termasuk apa-apa yang
telah ditundukkan Allah untuk manusia. Firman Allah SWT :

"Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan di bumi semuanya, (sebagai rahmat)
dari-Nya" (TQS. al-Jatsiyah 13)
Dengan demikian, kita boleh mengambil ilmu-ilmu eksperimen dari luar Islam seperti
matematika, ilmu tentang atom, industri dan lain-lain.

Rasulullah SAW bersabda:

"Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian (sains dan teknologi)" (HR. Muslim)

Hadits ini memberikan kebebasan bagi manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan,
profesi, industri, dan teknologi modern dan apa saja yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan
selama tidak bertentangan dengan syara’. Bahkan, Rasulullah SAW pernah mengirim dua orang
sahabat yaitu ‘Urwah Ibnu Mas’ud dan Ghailan Ibnu Maslamah ke kota Jarasy di Yaman untuk
mempelajari pembuatan senjata Dabbabah (semacam tank di masa itu) setelah beliau
mengetahui bahwa alat tersebut mampu digunakan untuk menerobos benteng lawan (Ath
Thabari, Tarikhul Umam wal Muluk, jilid III, hal. 132).

Berdasar hal itu, kita harus jelas membedakan. Ketika kita membahas ilmu anatomi misalnya
maka ini adalah sains, madaniyyah yang universal yang kita boleh mengambilnya, terlepas dari
siapa yang mengembangkan ilmu pengetahuan ini. Tapi ketika berbicara tentang otopsi, bedah
kadaver maka ini sudah masuk ke dalam ranah hadharoh yang aturannya harus merujuk kepada
Islam. Ketika kita membahas teknik pengobatan, maka ini adalah madaniyyah. Namun ketika
kita membahas tentang distribusi obat-obatan kepada rakyat maka ini adalah hadharoh. Ketika
membahas tentang teknik pencegahan demam berdarah ini adalah madaniyyah, namun ketika
sudah berbicara tentang bagaimana jaminan kesehatan oleh pemerintah, maka ini hadharoh.

Dari sini jelas umat Islam tidak boleh keliru. Kita tidak boleh terjerembab menolak ilmu-ilmu
kedokteran modern hanya karena dia datang dari penemuan orang kafir, padahal itu hanyalah
bentuk madaniyyah yang kita boleh mengambilnya. Sebaliknya tenang-tenang saja menggunakan
sistem asuransi kesehatan, sistem layanan kesehatan kapitalis dan lainnya padahal dia datang dari
hadharoh kafir yang haram.

Wallahu a’lam.
KEBIJAKAN KESEHATAN BERLANDASKAN SYARIAH

Oleh: dr. Muhammad Usman, AFK dan Yahya Abdurrahman

Dalam Islam, sistem kesehatan tersusun dari 3 (tiga) unsur sistem.Pertama: peraturan, baik
peraturan berupa syariah Islam, kebijakan maupun peraturan teknis administratif. Kedua: sarana
dan peralatan fisik seperti rumah sakit, alat-alat medis dan sarana prasarana kesehatan
lainnya.Ketiga: SDM (sumber daya manusia) sebagai pelaksana sistem kesehatan yang meliputi
dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya. (S. Waqar Ahmed Husaini, Islamic Sciences, hlm.
148).

Kebijakan kesehatan dalam Khilafah akan memperhatikan terealisasinya beberapa prinsip.


Pertama: pola baku sikap dan perilaku sehat. Kedua: Lingkungan sehat dan kondusif. Ketiga:
pelayanan kesehatan yang memadai dan terjangkau. Keempat: kontrol efektif terhadap patologi
sosial. Pembangunan kesehatan tersebut meliputi keseimbangan aspek promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif. Promotif ditujukan untuk mendorong sikap dan perilaku sehat. Preventif
diprioritaskan pada pencegahan perilaku distortif dan munculnya gangguan kesehatan. Kuratif
ditujukan untuk menanggulangi kondisi patologis akibat penyimpangan perilaku dan munculnya
gangguan kesehatan. Rehabilitatif diarahkan agar predikat sebagai makhluk bermartabat tetap
melekat.

Pembinaan pola baku sikap dan perilaku sehat baik secara fisik, mental maupun sosial, pada
dasarnya merupakan bagian dari pembinaan kepribadian Islam itu sendiri. Dalam hal ini,
keimanan yang kuat dan ketakwaan menjadi keniscayaan. Dr. Ahmed Shawky al-
Fangary1 menyatakan bahwa syariah sangat peduli pada kebersihan dan sanitasi seperti yang
dibahas dalam hukum-hukum thaharah. Syariah juga memperhatikan pola makan sehat dan
berimbang serta perilaku dan etika makan seperti perintah untuk memakan makanan halal dan
thayyib (bergizi), larangan atas makanan berbahaya, perintah tidak berlebihan dalam makan,
makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang, mengisi perut dengan 1/3 makanan, 1/3 air
dan 1/3 udara, termasuk kaitannya dengan syariah puasa baik wajib maupun sunah. Syariah juga
menganjurkan olah raga dan sikap hidup aktif. Syariah juga sangat memperhatikan masalah
kesehatan dan pola hidup sehat dalam masalah seksual.

Jadi, menumbuhkan pola baku sikap dan perilaku sehat tidak lain adalah dengan membina
kepribadian Islam dan ketakwaan masyarakat. Tentu hal itu bukan hanya menjadi domain
kesehatan tetapi menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat umumnya.

Kebijakan kesehatan Khilafah juga diarahkan bagi terciptanya lingkungan yang sehat dan
kondusif. Tata kota dan perencanaan ruang akan dilaksanakan dengan senantiasa
memperhatikan kesehatan, sanitasi, drainase, keasrian, dsb. Hal itu sudah diisyaratkan dalam
berbagai hadis, seperti:

“Sesungguhnya Allah Mahaindah dan mencintai keindahan, Mahabersih dan mencintai


kebersihan, Mahamulia dan mencintai kemuliaan. Karena itu, bersihkanlah rumah dan halaman
kalian, dan janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi (HR at-Tirmidzi dan Abu Ya’la).

Jauhilah tiga hal yang dilaknat, yaitu buang air dan kotoran di sumber/saluran air, di pinggir
atau tengah jalan dan di tempat berteduh” (HR Abu Dawud).

Rasul saw. juga bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian buang air di air yang
tergenang.” (HR Ashhab Sab’ah).

Jabir berkata, “Rasulullah melarang buang air di air yang mengalir.” (HR Thabarani di al-
Awsath).

Di samping itu juga terdapat larangan membangun rumah yang menghalangi lubang masuk udara
rumah tetangga, larangan membuang sesuatu yang berbahaya ke jalan sekaligus perintah
menghilangkannya meski hanya berupa duri.

Beberapa hadis ini dan yang lain jelas mengisyaratkan disyariatkannya pengelolaan sampah dan
limbah yang baik, tata kelola drainasi dan sanitasi lingkungan yang memenuhi standar kesehatan,
dan pengelolaan tata kota yang higienis, nyaman sekaligus asri. Tentu saja itu hanya bisa
direalisasikan melalui negara, bukan hanya melibatkan departemen kesehatan, tetapi juga
departemen-departemen lainnya. Tata kota, sistem drainase dan sanitasi kota kaum Muslim dulu
seperti Baghdad, Samara, Kordoba, dsb telah memenuhi kriteria itu dan menjadi model bagi tata
kota seperti London, kota-kota di Perancis dan kota-kota lain di Eropa.
Pelayanan kesehatan berkualitas hanya bisa direalisasikan jika didukung dengan sarana dan
prasarana kesehatan yang memadai serta sumber daya manusia yang profesional dan
kompeten. Penyediaan semua itu menjadi tanggung jawab dan kewajiban negara (Khilafah)
karena negara (Khilafah) berkewajiban menjamin pemenuhan kebutuhan dasar berupa kesehatan
dan pengobatan. Karenanya, Khilafah wajib membangun berbagai rumah sakit, klinik,
laboratorium medis, apotik, pusat dan lembaga litbang kesehatan, sekolah kedokteran, apoteker,
perawat, bidan dan sekolah lainnya yang menghasilkan tenaga medis, serta berbagai sarana
prasarana kesehatan dan pengobatan lainnya. Negara juga wajib mengadakan pabrik yang
memproduksi peralatan medis dan obat-obatan; menyediakan SDM kesehatan baik dokter,
apoteker, perawat, psikiater, penyuluh kesehatan dan lainnya.

Pelayanan kesehatan harus diberikan secara gratis kepada rakyat baik kaya atau miskin tanpa
diskriminasi baik agama, suku, warna kulit dan sebagainya. Pembiayaan untuk semua itu diambil
dari kas Baitul Mal, baik dari pos harta milik negara ataupun harta milik umum.

Semua pelayanan kesehatan dan pengobatan harus dikelola sesuai dengan aturan syariah
termasuk pemisahan pria dan wanita serta hukum-hukum syariah lainnya. Juga harus
memperhatikan faktor ihsan dalam pelayanan, yaitu wajib memenuhi 3 (tiga) prinsip baku yang
berlaku umum untuk setiap pelayanan masyarakat dalam sistem Islam: Pertama, sederhana
dalam peraturan (tidak berbelit-belit). Kedua, cepat dalam pelayanan. Ketiga, profesional dalam
pelayanan, yakni dikerjakan oleh orang yang kompeten dan amanah. Wallâh a’lam bi ash-
shawâb. []

Catatan Kaki:

1. Dr. Ahmed Shawky al-Fangary, The Impact of Islam and Its Teachings on Preservation of
Individual and Public Health, http://www.crescentlife.com/wellness/impact_of_islam_on_health
EMPAT STRATEGI REGULASI KESEHATAN SYARIAH

Oleh : dr. Iswahyudi

Indonesia telah mencoba berbagai bentuk kebijakan kesehatan, namun belum ada satupun
yang berhasil mengangkat derajat kesehatan mesyarakatnya ke keadan yang lebih baik. Justru
gonta – ganti kebijakan tersebut telah menimbulkan sejumlah masalah di masyarakat mulai
masalah administrasi hingga pelayanan kesehatannya. Gonta-ganti regulasi yang terjadi saat ini
telah menunjukkan bahwa aturan-aturan yang ada hanya berasaskan manfaat (dalam pandangan
para pemangku jabatan) khas ala kapitalisme

Oleh karenanya diperlukan reformasi total di bidang kesehatan menuju sistem kesehatan
Islam. Sistem yang telah diturunkan oleh Allah SWT dalam rangka mengatur kehidupan manusia
dan akan menyelesaikan problematika kesehatan umat manusia secara holistik dan
berkesinambungan.

Sistem kesehatan Islam akan memberikan jaminan pembiayaan kesehatan oleh negara,
jaminan terhadap kualitas tenaga kesehatan, jaminan ketersediaan obat – obatan dan alat
kesehatan dan koordinasi antar fasilitas kesehatan yang memuaskan.

Berikut akan dipaparkan empat strategi regulasi kesehatan Islam kala khilafah tegak
nantinya.

1. Jaminan Pembiayaan Pelayanan Kesehatan

Pelayanan kesehatan sebagai bentuk penunaian tugas oleh negara tentu membutuhkan
pendanaan. Jumlah yang dibutuhkan pun tidak sedikit dan selalu menimbulkan problem di setiap
negara. Namun bagi Daulah Khilafah hal tersebut bukan suatu masalah. Hal itu dikarenakan
Daulah Khilafah telah mengadopsi suatu paradigma yang jelas tentang pelayanan kesehatan bagi
warganya sebagaimana telah dijelaskan di atas. Tentunya pelayanan kesehatan menjadi suatu hal
yang serius bagi Daulah Khilafah.

Keseriusan ini terekam dalam sejarah dimana pada tahun 1248, Kairo telah memiliki
rumah sakit besar (al-Mansuri) yang memiliki 8000 tempat tidur dengan kategorisasi kamar
perawatan (penyakit umum, bedah, patah tulang, demam, penyakit mata, dan sebagainya).
Rumah sakit al-Mansuri ini diperuntukkan bagi semua kalangan tanpa memandang suku, warna
kulit dan agama. Tidak ada batasan waktu rawat bagi pasien kecuali pasien telah benar-benar
sehat yang ditandai oleh kemampuan pasien untuk makan satu ekor ayam (The Origin of
Bimaristans (Hospitals) in Islamic Medical History, Dr. Sharif Kaf al-Ghazal, hal. 4).

Sarana kesehatan yang didirikan oleh negara Islam terbagi dalam dua kategori yakni sarana
kesehatan preventif (pencegahan) dan sarana kesehatan kuratif (penyembuhan). Kategori yang
pertama didirikan dengan tujuan utama untuk mencegah warga jatuh ke keadaan sakit atau yang
serupa dengan sakit sementara kategori yang kedua untuk memulihkan keadaan dari kondisi sakit
menjadi sehat atau mencegah kecacatan lebih lanjut.

Sarana kesehatan kategori pertama mencakup kegiatan edukatif dan promotif. Sarana
kesehatan iniakan disebar hingga ke pelosok. Data status kesehatan seluruh warga harus dimiliki
oleh sarana ini dan secara rutin melakukan kunjungan ke rumah-rumah warga sehingga data
kesehatan warga akan senantiasa terupdate secara real time.

Untuk memperlancar aktivitas ini, maka koordinasi dengan seluruh aparat negara harus
senantiasa terjalin. Baik dengan Amil, Syurthah (kepolisian) maupun para Qadhy. Dengan
kemajuan teknologi informasi saat ini, koordinasi itu sangat mungkin terjadi apalagi setiap aparat
telah diikat dengan satu pemahaman yakni sebagai khadim al-ummah (pelayan ummat). Bila
ditemukan warga yang sakit, maka akan segera dipindahkan ke sarana kesehatan kategori kedua.

Sarana kesehatan kategori kedua akan melaksanakan kegiatan kuratif. Warga yang
menderita sakit akan diberikan pelayanan maksimal di sarana kesehatan ini. Di dalamnya
berkumpul dan berkoordinasi berbagai disiplin ilmu dengan fokus utama segera memulihkan
warga yang sakit. Sebagaimana sarana kesehatan kategori pertama, setiap tenaga kesehatan yang
bekerja akan diikat dengan satu pemahaman yakni sebagai khadim al-ummah.

Sarana kesehatan kategori kedua akan dipimpin oleh seorang mudir (direktur) yang
merupakan bagian dari jihaz al-idari ila mashalih al-ummah. Mudir dipilih semata-mata karena
kecakapannya dalam memimpin organisasi bukan karena kedekatannya dengan penguasa. Secara
berkala, mudir akan melaporkan hasil kinerja organisasi yang dipimpinnya kepada Wali atau
Amil sekaligus mempresentasikan kebutuhan dana operasionalnya.
Dana operasional kedua sarana kesehatan tersebut diambil dari bayt al-mal. Dalam
struktur bayt al-mal dana tersebut berada pada biro Mashalih ad-Daulah di bawah seksi Mashalih
ad-Daulah bersama-sama dengan biro Amir Jihad, biro para Wali, dan biro para Qadhi. Seksi
Mashalih ad-Daulah mendapatkan dana dari badan pemasukan fa’I dan kharaj sebagaiman seksi
Dar al-Khilafah dan seksi santunan(Abdul Qadim Zallum, Sistem Keuangan Negara Khilafah;
hal. 29-30). Bila pemasukan dari harta fa’i dah kharaj tidak mencukupi maka dana akan diambi
dari badan pemasukan kepemilikan umum. Bila masih belum mencukupi akan diambil dari pos
pajak sesuai hasil ijtihad Khalifah (Muqaddimah Dustuur Pasal 148 ayat c).Sarana kesehatan
yang didirikan oleh negara haruslah memiliki standar yang maksimal dan kualitas pelayanan
yang prima. Lebih dari itu sarana tersebut haruslah mendapatkan pendanaan secara terus-
menerus oleh negara mengingat keberadaannya adalah bentuk langsung pelayanan negara
terhadap warganya.

2. Kualifikasi Tenaga Kesehatan

Lembaga pendidikan negara adalah sumber utama tenaga kesehatan yang akan beroperasi
di berbagai sarana kesehatan. Kualitas luaran yang dihasilkan tentulah sangat ditentukan oleh
kualitas sarana pendidikan itu sendiri. Terkhusus tenaga kesehatan maka selayaknya peserta
didik bisa menempuh pendidikan teori dasarnya dalam waktu sesingkat mungkin sesuai
kemampuan masing-masing. Selanjutnya mereka harus ditempa melalui serangkaian ujian
praktek untuk mengasah kemampuan pengobatannya. Lama waktunya pun sesuai kemampuan
masing-masing. Bagi mereka yang dianggap cakap dan negara membutuhkan tenaga dengan
keahlian khusus, maka yang bersangkutan bisa melanjutkan pendidikan keahlian khusus tersebut.

Islam telah menetapkan bahwa menuntut ilmu sifatnya wajib bagi siapapun. Negara juga
diberi kewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan bagi setiap warganya. Penyelenggaraan
pendidikan wajib dilaksanakan secara gratis untuk semua warganegara sehingga luarannya tidak
lagi berprinsip return of investment sesaat setelah yang bersangkutan berhasil menyelesaikan
pendidikannya. Pelaksanaannya akan menghilangkan seluruh bentuk pungutan liar yang banyak
terjadi di institusi pendidikan saat ini. Para guru akan digaji tinggi dan seluruh kebutuhannya
akan fasilitas belajar mengajar termasuk perpustakaan, laboratorium dan sebagainya akan
ditanggung sepenuhnya oleh negara
Meskipun negara wajib menyelenggarakan pendidikan tapi, sebagaimana kesehatan,
boleh bagi individu atau sekelompok individu untuk menyelenggarakan pendidikan dengan tetap
berpegang pada kebijakan negara dan tidak boleh berafiliasi dengan lembaga pendidikan asing
apalagi berafiliasi dengan negara asing.

Tenaga kesehatan yang menggerakkan roda sarana kesehatan haruslah telah melewati
serangkaian seleksi untuk menjamin kelayakannya. Mereka haruslah memiliki pemahaman syar’i
tentang hukum-hukum pengobatan. Ibn Abi Usaybi menyatakan bahwa Adhud al Dawla pernah
menyeleksi seratus ahli medis ketika memutuskan akan mendirikan rumah sakit di tepi barat kota
Baghdad. Dari hasil seleksi tersebut hanya terpilih 24 orang untuk bekerja di rumah sakit
tersebut (Uyun al-Anba’, hal.415). Dari segi jumlah, ketersediaannya haruslah memiliki
perbandingan yang rasional dengan jumlah penduduk dan luas wilayah serta tingkat
epidemiologinya. Demikian pula dalam hal stratifikasi keahlian.

Dimasa kekhilafahan Islam, akuntabilitas tenaga kesehatan sangat terjaga. Ibn Ukhuwwa
mengatakan “...bila pasien meninggal, maka keluarganya akan mengadu kepada kepala rumah
sakit (chief doctor) dengan memperlihatkan apa saja yang telah dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Bila tenaga kesehatan tersebut telah melakukan tindakan sebagaimana mestinya, maka kepala
rumah sakit akan mengatakan bahwa kematian pasien adalah sesuatu yang wajar. Namun bila
ditemuklan penyimpangan maka ia akan menyatakan : ambillah diyat (blood money) untuk
keluargamu. Dengan cara ini maka dapat dipastikan bahwa praktek medis dilakukan oleh orang
yang betul-betul terlatih dan berpengalaman (Ma’alim al-Qurba fi Talab al-Hisba, hal.167)

Tenaga kesehatan yang telah digaji oleh negara sebaiknya berpraktek di tempat yang
telah ditentukan dan tidak boleh berpraktek di tempat lain dan sebaiknya berfokus pada satu
lokasi praktek saja. Jadwal kerjanya pun harus memperhitungkan pembagian jadwal yang
rasional dan tetap memperhatikan pelaksanaan kewajiban lainnya seperti sholat, puasa dan
dakwah. Bagi wanita yang sedang hamil boleh mengambil cuti kapan pun menurut
kemampuannya sejak positif hamil hingga enam bulan pasca melahirkan. Hal ini demi
melestarikan fungsi utama kaum wanita sesuai syariat Islam. Setiap bidang keahlian sebaiknya
dalam bentuk tim sehingga manakala ada halangan dari salah satu anggota tim maka yang lain
bisa menyelesaikannya.
Secara berkala tenaga kesehatan sesuai bidang masing – masing wajib melakukan
pertemuan untuk membahas perkembangan terbaru dan temuan – temuan terkini. Pertemuan
tersebut wajib difasilitasi secara penuh oleh negara karena hasil – hasil yang diperoleh akan
dimanfaatkan oleh negara dalam rangka pelayanannya terhadap masyarakat. Hal ini akan
mencegah kalangan pengusaha untuk mengintervensi modalitas dan hasil pertemuan tersebut.
Pada saat yang sama juga akan menghilangkan stigma gratifikasi yang sering melanda tenaga
kesehatan.

3. Jaminan Ketersedian Obat-obatan dan Alat Kesehatan

Obat-obatan dan alat kesehatan adalah hal yang esensial dalam proses pelayanan
kesehatan. Khususnya dalam hal pelayanan kuratif dan rehabilitatif. Ketersediaanya dalam
jumlah dan kualitas yang memadai menjadi ciri keseriusan dalam pemberian layanan kesehatan
itu sendiri. Oleh karena itu menjadi wajib bagi negara untuk memberikan atensi yang adekuat
terkait masalah ini.

Obat-obatan dan alat kesehatan dalam sebuah sistem pelayanan kesehatan hakekatnya
adalah resultante dari dua proses penting yang saling berkaitan erat yakni penelitian dan industri.
Sebagai hasil dari proses penelitian maka obat-obatan dan alat kesehatan sangat bergantung pada
kinerja lembaga pendidikan. Baiknya kinerja lembaga pendidikan yang dimiliki oleh negara
khususnya dukungan penuh terhadap penelitian akan mendorong temuan-temuan baru yang
bersifat konstruktif. Serangkaian uji terhadap obat-obatan dan alat kesehatan terkait keamanan
dan kelayakannya dilakukan dengan tetap menjadikan kemaslahatan umum sebagai patokannya.
Dengan demikian akan diperoleh obat-obatan dan alat kesehatan yang berkualitas dalam rangka
pemberian pelayanan maksimal bagi umat secara keseluruhan tanpa diskriminasi. Dalam hal
penelitian untuk menghasilkan obat-obatan dan alat kesehatan yang berkualitas, negara harus
mandiri dan bebas dari intervensi kalangan pengusaha apalagi negara asing. Bila sekiranya
negara asing memiliki hasil-hasil penelitian yang lebih maju maka boleh bagi negara untuk
membeli hasil penelitian tersebut atau mempekerjakan para peneliti negara asing dan hasil
penelitiannya digunakan oleh negara tentunya dengan imbalan yang telah disepakati bersama.

Saat ini di negara-negara maju, penelitian terhadap obat – obatan dan alat kesehatan
sangat gencar dilakukan. Saking gencarnya kadang mereka kekurangan sumber daya manusia
untuk menopang proses – proses penelitian tersebut. Maka dengan modus pemberian beasiswa,
mereka mengundang putra – putri terbaik dari berbagai negara untuk bergabung dan
berkontribusi nyata dalam proyek – proyek penelitian tersebut. Hasilnya tentu kembali ke negara
pelaksana penelitian tersebut.

Proses industri terhadap obat-obatan dan alat kesehatan adalah langkah selanjutnya
setelah penelitian. Industri memungkinkan hasil – hasil penelitian tersebut dapat diduplikasi
sedemikian rupa sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam kerangka pelayanan
terhadap masyarakat, maka negara wajib memiliki industri obat-obatan dan alat kesehatan yang
mumpuni. Selain itu industri tersebut juga harus bebas dari intervensi pengusaha atau negara
asing.

Sejumlah keuntungan akan diraih bilamana negara memiliki industri obat – obatan dan
alat kesehatan yang kuat diantaranya :

1. Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi lebih terkontrol sesuai prinsip Islam.
Hukum industry dalam Islam adalah mengikuti hukum barang yang mengalami
industrialisasi. Berobat dengan bahan – bahan yang haram adalah boleh (menurut
sejumlah ulama) sehingga melakukan proses indstrialisasi terhadap barang – barang
haram dalam konteks pengobatan penyakit juga dibolehkan secara syar’i. Akan tetapi
meskipun Islam memperbolehkan penggunaan bahan – bahan yang terkategori haram
dalam proses pengobatan namun selama ada opsi bahan – bahan yang halal maka tentu
bahan – bahan yang halal yang akan dijadikan pilihan selama keduanya memiliki
perbandingan kinerja yang relatif sama. Sebagai contoh obat arixtra dan lovenox yang
keduanya memiliki khasiat sebagai pengencer darah. Arixtra memiliki dahan dasar dari
enzim sapi sedangkan lovenox memiliki bahan dasar dari enzim babi. Dalam hal ini
produksi arixtra akan lebih digalakkan untuk digunakan oleh masyarakat meskipun
produksi lovenox tetap ada sebagai opsi pemberian pada pasien yang alergi terhadap
arixtra atau bagi pasien yang bukan dari kalangan kaum muslimin. Demikian pula halnya
bagi vaksin dan obat – obatan lainnya. Industri alat – alat kesehatan pun akan
menggunakan prinsip yang sama.

2. Kontrol terhadap kualitas lebih terjamin. Obat – obatan dan alat kesehatan yang
dipergunakan di fasilitas kesehatan pada umumnya memiliki standar kualitas dan masa
pakai. Dengan kehadiran negara secara penuh pada industri ini maka standar maksimum
terhadap kualitas obat dan alat kesehatan dapat diterapkan. Kualitas yang dihadirkan pun
tidak mengalami stratifikasi sesuai strata sosial pasien karena hakekatnya pelayanan
kesehatan adalah kebutuhan dasar masyarakat tanpa melihat strata sosial mereka. Masa
pakai obat – obatan dan alat kesehatan yang beredar pun bisa dikontrol secara ketat
karena berasal dari satu pintu yang sama. Obat – obatan yang expired bisa segera dilacak
dan ditarik secara simultan. Alat kesehatan pun akan lebih mudah dikontrol kalibrasinya
secara berkala.

3. Kontrol terhadap distribusi lebih terarah. Mengingat produksi obat – obatan dan alat
kesehatan dilakukan sepenuhnya oleh negara, maka demikian pula dalam hal
distribusinya. Hal ini akan menyebabkan distribusinya lebih mengena terhadap kebutuhan
masyarakat mengingat data kondisi kesehatan juga dimiliki olah negara. Distribusi obat –
obatan dan alat kesehatan akan mengikuti sebaran penyakit yang diderita masyarakat,
bukan mengikuti sebaran kekuatan ekonomi dan daya beli masyarakat.

4. Koordinasi antar fasilitas kesehatan yang cepat dan memuaskan

Dalam hal pelayanan publik, Islam telah mengajarkan prinsip memberikan kemudahan,
cepat dan ditangani oleh ahlinya. Negara wajib menghilangkan kesulitan bagi warga Negara.
Negara wajib menjaga kemaslahatan dan mencegah kemudharatan. Rasul bersabda : “Tidak
boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain.”Rasulullah SAW juga memerintahkan berlaku
baik dalam setiap urusan lewat sabdanya: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku baik (ihsan)
dalam setiap urusan. Karenanya, bila kalian menyembelih maka sembelihlah dengan baik.” Baik
dalam melakukan tugas demi kemaslahatan : sederhana, cepat dan berkemampuan.

Pelayanan kesehatan pun wajib melaksanakan prinsip ini. Terkhusus dalam hal
koordinasi antar fasilitas kesehatan maka prinsip ini pun wajib dijalankan oleh seluruh tenaga
kesehatan dan fasilitas kesehatan. Hal tersebut sangat mungkin dilaksanakan oleh sistem
kesehatan Islam karena beberapa faktor berikut :

1. Pelayanan kesehatan menjadi tanggung jawab negara. Seluruh kebutuhan finansial bagi
tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatannya juga menjadi tanggung jawab negara. Hal ini
akan menjauhkan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan dari conflict of interest dengan
pihak lain ketika memberikan pelayanan kesehatan.

2. Negara dengan maksimalisasi kekuatan ekonominya akan membangun infrastruktur yang


modern seperti jalan, jembatan, jaringan telekomunikasi dan sebagainya sehingga
memudahkan koordinasi antar fasilitas kesehatan.

3. Temuan dan terobosan terbaru dari para ahli sebagai hasil dari sistem pendidikan yang
diterapkan oleh negara, khususnya dalam hal koordinasi antar fasilitas kesehatan akan
dimaksimalkan penggunaannya oleh negara.

4. Seluruh tenaga kesehatan memahami posisinya sebagai khadim al-ummah (pelayan umat)
sehingga mampu memberikan pelayanannya secara maksimal dan didasari oleh nilai –
nilai kemanusiaan (qimah al-insaniyah)
PELAYANAN KESEHATAN ISLAM VS KAPITALISME

Oleh: dr Nurul Muzayyanah

Pemberitaan media tentang profesionalitas dan kinerja tenaga medis banyak mengemuka.
Ditinjau dari berbagai sudut pandang, hal ini berakibat pada terganggunya kualitas hubungan
antara pemberi layanan kesehatan dan penerimanya. Kondisi ini adakalanya disebabkan kelalaian
pemberi layanan, atau ketidakpahaman penerima layanan terkait prosedur dan tindakan medis
yang dilakukan. Apresiasi pemerintah menyikapi fenomena ini sering menyulitkan kedua belah
pihak. Alih-alih menyelesaikan masalah, namun justru menambah keretakan interaksi keduanya.

Pelayanan kesehatan versi kapitalisme

Pola interaksi dalam masyarakat tidak terlepas dari nilai kehidupan yang diterapkan. Saat ini
penerapan idologi kapitalisme dan sekulerisme telah membentuk warna kehidupan yang berbeda
dengan peradaban Islam. Idiologi kapitalisme berlandas prinsip menghilangkan peran agama
dalam mengatur kehidupan dan teraihnya manfaat materi dalam segala urusan kehidupan. Fungsi
negara dalam kapitalisme adalah sebagai regulator-bukan pengatur langsung yang menjamin
pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat, termasuk layanan kesehatan.

Di Amerika, hubungan dokter-pasien (physican-patient relationship) dan profesi kesehatan lain


hakekatnya merupakan hubungan kontraktual. Hubungan ini melibatkan penawaran (the request
for treatment) dan persetujuan (the agreement to render the treatment) yang dapat terjadi melalui
express contract ataupun implied contract. Dalam express contract hal-hal mengenahi jangka
waktu, hak, dan kewajiban disetujui dan dinyatakan secara jelas baik tertulis atau lisan. Seperti
jenis tindakan, uang muka serta jumlah biaya yang harus di bayar pasien atau penanggungnya
(pihak ketiga). Dalam implied contract, detail isi kontrak telah dipahami dan disetujui secara
diam-diam. Seperti bilamana dokter melakukan tindakan medis lebih dahulu sebelum
diperbincangkan dan dicapai kata sepakat mengenahi jumlah biaya yang harus dibayar pasien
atau penanggungnya. Dari sini hubungan terapetik antara dokter atau rumah sakit (health care
provider) dan pasien (health care receiver) terbentuk. Dokter atau rumah sakit wajib
menunjukkan prestasi yaitu memberikan upaya medik yang layak dan benar berdasar teori
kedokteran yang teruji kebenarannya (evidence based medicine). Bentuk perikatan ini bersifat
inspannings verbintennis bukan resultaats verbintennis, artinya penyedia layanan kesehatan
tidak dituntut memberikan kesembuhan karena kesembuhan merupakan resultante dari berbagai
macam faktor baik yang di bawah kontrol atau di luar kontrol penyedia layanan. Pasien atau
penanggungnya sebagai kontraprestasi kewajibannya dapat berupa penyerahan uang atau apa
saja yang bersifat materi berjumlah layak atau sesuai kesepakatan.

Dalam islam, perbuatan manusia memiliki tujuan dan nilai (qimah) tertentu. Perbuatan umat
islam bertujuan mencari ridho Allah, sedangkan nilai (qimah) yang diraih adalah nilai materi
(madiyah), kemanusiaan (insaniyah), akhlak (khuluqiyah), dan ruh (ruhiyah). Berbeda dengan
kapitalisme yang menjadikan seluruh perbuatan termasuk pelayanan kesehatan bertujuan
mendapat keuntungan dan mendapatkan nilai (qimah) materi (madiyah). Kapitalisme yang
ditanamkan negara menjadikan baik pemberi atau penerima layanan kesehatan sulit meraih nilai
(qimah) secara proposional. Karenanya meskipun perikatan keduanya juga menekankan adanya
i’tikad baik, kepatutan, dan kebiasaan yang dibangun atas dasar kepercayaan namun
penerapannya sulit direalisasikan.

Pelayanan kesehatan versi sistem Islam

Subyek yang paling bertanggung jawab sebagai pelaksana layanan kesehatan (provider care)
adalah dokter beserta tiemnya (baca artikel sebelumnya: kebijakan khilafah di bidang kesehatan,
20 Januari 2017). Setiap umat Islam dengan berbagai profesi menjalankan misi hidup yang
sama. Manusia adalah bagian dari makhluk hidup yang menjadi Abdullah (hamba
Allah) dan Khalifatullah. Dua peran ini akan mengarahkan pola hidup yang bernilai beribadah.
Sebagai abdullah ia akan menjaga keimanan dan ketaatannya pada syariat Allah. Sebagai
khalifatullah ia akan terlibat memakmurkan bumi berbekal syariat Allah dan sains teknologi.
Artinya, tujuan pelayanan medis tidak sebatas pada keberhasilannya menghilangkan sakit dan
penyakit, namun juga membawa misi hidup meningkatkan ketundukan kepada Allah.
Penguasaan saintek dan penerapan syariat Islam akan mewujudkan rahmatan lil alamiin.

Allah berfirman dalam surat Al Mulk: 2,


“Dialah Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu
yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Imam Fudlail bin ‘Iyadadl mengungkapkan, “Ahsan amalan adalah yang paling ikhlas dan yang
paling benar. Perbuatan tidak akan diterima hingga dikerjakan dengan ikhlas dan benar. Ikhlas
adalah jika perbuatan itu ditujukan hanya untuk Allah. Sedang benar (showab) adalah jika
perbuatan tersebut berjalan di atas sunah”. (Imam al-Baghawiy, tafsir al-Baghawiy, juz 8/176).

Rasulullah menjadi satu-satunya inspirator. Karena itu, meneladani perbuatan Rasulullah


(Ta’assiy fi fi’il al-Rasul) menjadi hal penting yang tidak boleh di abaikan.

Perilaku umum yang menjadi tradisi dalam peradaban Islam juga berlaku dalam pelayanan
kesehatan. Dokter bekerja dengan selalu menjaga privasi pasien. Pemeriksaan dilakukan sebatas
yang diperlukan untuk menegakkan diagnosa dan evaluasi hasil terapi. Rumah sakit sebagai
penyedia layanan kesehatan lanjutan akan menjunjung tinggi nilai syariat Islam dan etika profesi.
Hal ini dimaksudkan untuk mewujudkan suasana kondusif dan proses pelayanan maksimal bagi
pelaku atau penerima layanan.

Para ilmuan muslim sangat berhati-hati menerapkan ta’assiy ini. Kajian keilmuannya
tidak keluar dari aqidah Islam dan keterikatan terhadapa syariat-Nya. Output insan yang
dihasilkan memadukan kecermelangan pola fikir dan kedalaman pola sikapnya. Mereka sangat
menghormati pasien sebagai insan yang mengalami penderitaan dan kesusahan yang perlu
pertolongan. Setiap orang sakit berhak mendapat kesembuhan tanpa memandang kedudukan.
Syariat Islam menjunjung tinggi etika mulia ini. Seorang dokter dan tiemnya bertanggung jawab
mendampingi di saat kritis pasien untuk memantau perkembangan terapi, menjadi penyemangat,
menenangkan ketakutan, penderitaan tubuh, dan batinnya. Kejelian inderanya menegakkan
diagnosa dan ketepatannya memberi alternatif pengobatan tidak diragukan. Inilah pembeda
health care provider berdasar syariat Islam dan konsep kapitalisme.

Tercatat dalam sejarah, tingginya perhatian Islam terhadap penderitaan orang sakit. Diantaranya
diabadikan oleh Imam Bukhori dalam kitab shohihnya membuat bab khusus tentang menjenguk
orang musyrik (Iyadah al-musyrik). Rasulullah mencontohkan perhatiannya terhadap orang sakit
meski bukan umat Islam. Beliau pernah menjenguk pemuda yahudi yang sakit. Kepribadian
mulia ini diikuti para ilmuwan besar Islam. Karya besar yang dihasilkan merupakan akumulasi
tempaan pendidikan berkualitas berbasis aqidah Islam. Kekuatan ruh menjadi nafas hidupnya.
Tersebut diantaranya al-Zahrawi (Abu Al-Qasim Al-Zahrawi/Al-Bucasis, 936-1013 M). Beliau
seorang dokter muslim yang taat dan sederhana. Sebagian orang menyebut bagaikan seorang
sufi. Banyak pengobatan dilakukan secara cuma-Cuma, karena dianggap amal dan sedekah.
Penemuan terkenal adalah tehnik gips dalam penyembuhan patah tulang. Digambarkan
bagaimana keseriusannya melakukan teknik gips dibantu asistennya. Ia memantau
perkembangan pengobatan dan tindakan yang dilakukan sampai beberapa hari.

Khilafah Islamiyah akan menghadirkan kembali

Islam adalah sistem kehidupan yang shahih. Khalifah sebagai pemimpin tunggal
daulah khilafah Islamiyah bertanggung jawab merealisasikan kesehatan individu dan masyarakat
secara gratis. Diantaranya, ia akan mewujudkan ketersediaan tenaga medis profesional dan
berakhlak mulia. Kader-kader tenaga medis terbaik dan terdidik disiapkan dalam sekolah
kedokteran berkualitas. Tenaga medis juga didorong menata kembali keimanan dan tujuan
hidupnya untuk mencari keridhoan Allah semata.

Khalifah menyadari dokter dan tiemnya sebagai pilar penting penopang tertunaikannya tanggung
jawab negara untuk mewujudkan kesehatan warga negara. Karenanya, khalifah akan menjamin
dokter mampu menjalankan tugas profesi dengan optimal tanpa tekanan. Khalifah akan
menjunjung tinggi kemuliaan tugas tenaga kesehatan, menjaga kepercayaan umat, sekaligus
memperhatikan kesejahteraanya karena waktu yang dicurahkan untuk melayani warga negara.

Sepanjang sejarah kegemilangan Islam, pendapatan ilmuwan paling besar diperoleh mereka yang
memiliki keahlian di bidang adab juga profesi seorang dokter. Khalifah Al-Ma’mun pernah
membayar dokter Ibn Hunayn bin Ishaq yang berjasa menterjemahkan sebuah karya dari bahasa
Yunani ke Bahasa Arab. Ia menggantinya dengan emas seberat buku tersebut. Adapula
Muhadzdzab Al-Din Ibn al-Naqqasy, dokter dari Baghdad di abad ke 11. Ia bekerja di Mesir
digaji sebesar 15 dinar per bulan selain mendapat fasilitas berupa apartemen, pakaian bagus, dan
keledai terbaik. Demikian juga para dokter perempuan di era kekhilafahan Turki Usmani.
Disampaikan Nil Sari, guru besar Fakultas Kedokteran Cerrahpasha, Universitas Istambul Turki,
dokter masa Usmani menguasai berbagai spesialisasi dan menempati posisi amat tinggi. Dokter
perempuan bernama Tabibe Gulbeyaz Hatun bergaji 200 akces per bulan. Juga Ibn Tirmidzi,
seorang dokter Kristen, memiliki pendapatan tahunan lebih dari 20 ribu dinar. Imbalan tidak
hanya sekedar atas jabatan atau profesi, namun juga sebagai penghargaan ilmu atau
profesionalitas yang dimiliki.

Jika akal dan nurani telah menerima kebenaran Islam, kenapa tidak mengulurkan tangan
melibatkan diri mewujudkan hadirnya kegemilangan peradapan Islam. Tidak ada kehidupan
yang lebih membahagiakan selain terbebas dari perbuatan mendzalimi dan didzalimi. Hal ini
sudah pernah dan akan terwujud kembali dalam daulah khilafah Islamiyah ‘ala minhaj an-
Nubuwwah. Insyaallah.

Bahan Bacaan:

1. As-Sirjani, Raghib. Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia. Pustaka Al-Kautsar.

2. An Nawiy, FSR. 2011. Revolusi Islam Jalan Terang Menuju Peradaban. Al-Azhar Press.
Bogor.

3. Natsir, Fatir. 2016. Menakar Fakta di balik Perdebatan Islam dan Etika Medik dalam
Profesionalitas Pelayanan Kesehatan di Indonesia.
http://www.academia.edu/27790333/menakar_fakta_

4. 2015. Kontribusi Ilmuwan Muslim di Bidang Kedokteran. http://www.kedokteran-


islam.net/2015/

5. Islam and science. http://www. Indocropcircles.com

6. Dahlan,Sofwan. 2008. Hubungan Terapetik antara Health Care Provider dan Health Care
Receiver. Hukum Kesehatan. http://humkes.wordpress.com/

7. Billy N. 2010. Memulihkan Hubungan Pasien-Dokter. Hukum Kesehatan.


http://www.humum-kesehatan.web.id/

8. Dokter Perempuan di Era Turki Usmani. Scientitific Islam.


http://scientificislam.wordpress.com/

9. Anonym. 2016. Gaji para Cendikiawan. http://dev.republika.co.id/berita/Koran/509950/


SISTEM JAMINAN KESEHATAN ISLAM

Oleh: Dwi Condro Triono, Ph.D

Bagaimana cara Islam menjamin pemenuhan kebutuhan kesehatan bagi seluruh rakyatnya?

Di dalam Islam, jaminan kesehatan untuk seluruh rakyat adalah tanggung jawab negara yang
wajib diberikan secara gratis (cuma-cuma), alias tidak membayar sama sekali. Negara tidak
boleh membebani rakyatnya untuk membayar kebutuhan layanan kesehatannya. Ketentuan ini
didasarkan pada Hadis Nabi saw., sebagaimana penuturan Jabir ra.:

Rasulullah saw. pernah mengirim seorang dokter kepada Ubay bin Kaab (yang sedang sakit).
Dokter itu memotong salah satu urat Ubay bin Kaab lalu melakukan kay (pengecosan dengan
besi panas) pada urat itu(HR Abu Dawud).

Dalam hadis tersebut, Rasulullah saw., yang bertindak sebagai kepala negara Islam, telah
menjamin kesehatan rakyatnya secara cuma-cuma, dengan cara mengirimkan dokter kepada
rakyatnya yang sakit tanpa memungut biaya dari rakyatnya itu (Taqiyuddin An Nabhani,
Muqaddimah ad-Dustûr, II/143).

Dalil yang lain dapat dipahami dengan maksud yang sama, sebagaimana yang terdapat di dalam
Kitab Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahîhayn karya Imam al-Hakim. Disebutkan oleh Zaid bin Aslam
bahwa kakeknya pernah berkata:

Aku pernah sakit parah pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab. Lalu Khalifah Umar
memanggil seorang dokter untukku. Kemudian dokter itu menyuruh aku diet (memantang
memakan yang membahayakan) hingga aku harus menghisap biji kurma karena saking kerasnya
diet itu.” (HR al-Hakim, Al-Mustadrak, IV/7464).

Hadis di atas juga menunjukkan, bahwa Khalifah Umar selaku kepala Negara Islam telah
menjamin kesehatan rakyatnya secara gratis, dengan cara mengirimkan dokter kepada rakyatnya
yang sakit tanpa meminta sedikitpun imbalan dari rakyatnya (Taqiyuddin An Nabhani,
Muqaddimah ad-Dustûr, 2/143).
Kedua hadis di atas merupakan dalil syariah yang sahih, bahwa dalam Islam jaminan kesehatan
itu wajib diberikan oleh negara kepada rakyatnya secara gratis, tanpa membebani, apalagi
memaksa rakyat mengeluarkan uang untuk mendapat layanan kesehatan dari negara.

Pengadaan layanan, sarana dan prasarana kesehatan tersebut wajib senantiasa diupayakan oleh
negara bagi seluruh rakyatnya. Pasalnya, jika pengadaan layanan kesehatan itu tidak ada maka
akan dapat mengakibatkan terjadinya bahaya (dharar), yang dapat mengancam jiwa rakyatnya.
Menghilangkan bahaya yang dapat mengancam rakyat itu jelas merupakan tanggung jawab
negara. Rasulullah saw. bersabda:

Tidak boleh menimbulkan madarat (bahaya) bagi diri sendiri dan juga madarat (bahaya) bagi
orang lain di dalam Islam (HR Ibnu Majah dan Ahmad).

Layanan kesehatan wajib diberikan diberikan secara gratis kepada seluruh rakyatnya tanpa
memandang lagi strata ekonomi rakyatnya. Mereka yang masuk kategori fakir maupun yang
kaya tetap berhak mendapat layanan kesehatan secara sama, sesuai dengan kebutuhan medisnya.
Sebabnya, layanan kesehatan tersebut telah dipandang oleh Islam sebagai kebutuhan dasar
(primer) bagi seluruh rakyatnya.

Dengan demikian negara wajib senantiasa mengalokasikan anggaran belanjanya untuk


pemenuhan kebutuhan kesehatan bagi seluruh rakyatnya. Negara tidak boleh melalaikan
kewajibannya tersebut. Negara tidak boleh mengalihkan tanggung jawab tersebut kepada pihak
lain, baik kepada pihak swasta, maupun kepada rakyatnya sendiri. Jika hal itu terjadi, maka
pemerintahnya akan berdosa, sebab tanggung jawab pemimpin negara untuk memberi layanan
pada rakyatnya akan dimintai pertanggungjawaban secara langsung oleh Allah SWT. Hal itu
telah ditegaskan oleh Rasulullah saw. melalui sabdanya:

Pemimpin yang mengatur urusan manusia (Imam/Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia
bertanggung jawab atas rakyatnya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Namun, hal ini tak berarti bahwa jasa dokter swasta atau membeli obat dari apotek swasta
hukumnya haram. Pasalnya, yang diperoleh secara gratis adalah layanan kesehatan dari negara.
Adapun jika layanan kesehatan itu dari swasta (bukan pemerintah), misalnya dari dokter praktik
swasta atau membeli obat dari apotik umum (bukan apotek pemerintah), maka hukumnya tetap
boleh membayar jasa dokter atau membeli obat dari apotek swasta tersebut. Hal ini didasarkan
pada dalil umum kebolehan berobat dengan membayar dan dalil umum kebolehan jual-beli
(Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, 2/143).

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan jika kita mengharapkan adanya jaminan kesehatan yang
benar-benar sesuai syariah maka kita tidak dapat berharap lagi kepada negara yang tidak
menerapkan syariah. Kita hanya bisa berharap pada negara yang menerapkan syariah Islam
secara kâffah, yakni Khilafah Islamiyah, bukan dari sistem yang lain. Sistem Khilafah inilah
yang wajib kita ikuti dan kita tegakkan. Khilafahlah model pemerintahan yang dimanahkan oleh
Rasululah saw. dan kemudian dijalankan oleh Khulafaur Rasyidin. WalLâhu a’lam bi ash-
shawâb.
SISTEM ISLAM MEWUJUDKAN KESEHATAN DAN KESEJAHTERAAN IBU

Oleh: dr. Nurul Muzayyanah

Ibu adalah anggota keluarga yang berperan penting mewujudkan keseimbangan urusan rumah
tangga bagi anggota keluarga lainnya. Baik persoalan penyediaan kebutuhan jasmani, kesehatan,
pendidikan pertama, dan kasih sayang. Kondisi kesehatan fisik dan mental ibu berpengaruh
terhadap keberhasilannya menjalankan fitrahnya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Peran
tersebut akan optimal jika dibangun di atas kualitas iman dan pendidikan yang baik. Indikator
pengukur status kesehatan perempuan diantaranya terlihat pada usia harapan hidup (age specific
rate) dan tingkat kesuburannya. Usia harapan hidup adalah lama manusia hidup di dunia, sedang
tingkat kesuburan dipengaruhi oleh fungsi hormonal, fungsi organ reproduksi terutama indung
telur (ovarium), dan sistem metabolisme tubuh. Jika diamati negara-negara yang tingkat
kesehatannya lebih baik maka setiap individunya memiliki rata-rata usia harapan hidup lebih
lama.

Di Indonesia, tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) menunjukkan tingkat kesehatan ibu masih
jauh panggang dari api. Kematian ibu menurut definisi WHO adalah kematian selama kehamilan
atau dalam periode 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, akibat semua sebab yang terkait
dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya, tetapi bukan disebabkan oleh
kecelakaan atau cidera. Berdasar Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun
2012, angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi yaitu 359 per 100.000 kelahiran hidup.
Target global Millenium Development Goals (MDGs) ke 5, ditargetkan tahun 2015 bisa turun
menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup. Di Indonesia diterapkan sistem informasi manajemen
Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dengan penerapan pemantauan wilayah setempat (PWS) KIA.
Program ini diharapkan dapat memantau program kesehatan ibu yang meliputi ibu hamil, ibu
bersalin, ibu nifas, ibu dengan komplikasi kebidanan melalui indikator akses pelayanan antenatal
(K1), cakupan pelayanan ibu hamil (K4), cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan (PN), dan
cakupan pelayanan nifas oleh tenaga kesehatan (KF3). Meskipun telah dilakukan upaya kerja
keras dan sungguh-sungguh, namun tetap menuai kegagalan. AKI tahun 2015 mencapai 350 per
100.000 kelahiran hidup. Cukup mencengangkan.
Berdasar data Direktorat Kesehatan Ibu Kementerian Kesehatan RI, penyebab terbesar kematian
ibu selama tahun 2010-2013 adalah perdarahan. Kemudian menyusul hipertensi, infeksi, partus
lama, abortus, dan lain-lain. Jika kita amati, selain partus lama, penyebab kematian ibu lebih
karena buruknya kondisi kesehatan dan ketahanan tubuh ibu selama kehamilan. Tingkat
pendidikan dan kesejahteraan, dukungan keluarga serta masyarakat berpengaruh penting dalam
penjagaan kesehatan selama kehamilan. Hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2007 status gizi
wanita usia subur (WUS) usia 15-45 tahun berdasar indikator Lingkar Lengan Atas (LILA)
prevalensi kekurangan energi kronis (KEK) lebih tinggi pada tingkat pendidikan rendah, daerah
terpencil, serta tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita terendah.

Banyak faktor lain yang terlibat. Akses tempat pelayanan kesehatan selama kehamilan ( Ante
Natal Care), saat dan setelah kelahiran masih sulit. Penyiapan sumber daya tenaga kesehatan
yang cukup, profesional, dan berdaya juang tinggi masih perlu ditingkatkan. Dalam ringkasan
kajian UNCEF Indonesia, studi tahun 2002 menunjukkan bahwa buruknya kualitas pelayanan
merupakan faktor penyebab 60% dari 130 kematian yang dikaji. Ratio fasilitas-penduduk untuk
Pelayanan Obstetrik Neonatal Emergensi Komprehenshif (PONEK) di Indonesia masih 0,84 per
500.000 masih di bawah ratio 1 per 500.000 yang rekomendasi UNICEF, WHO dan UNFPA
tahun 1997. Meski cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan cukup tinggi, terutama tahun 2013
mencapai 90,88%, namun hal tersebut belum mampu mendukung pemenuhan target keberhasilan
yang diharapkan. Artinya, semuanya tergantung pada peran strategis pemerintah menjamin
kesejahteraan individu rakyat dan penyiapan pelayanan kesehatan yang optimal.

Pernyataan ketua yayasan Damandiri Haryono Suyono, dalam Suara Karya 12 Oktober 2015
berjudul “Kegagalan MDGs, jangan terulang di Sustainability Development Goals (SDGs)”
Indonesia hanya berhasil memenuhi setengah target MDGs dan gagal mewujudkan penurunan
AKI. Pangkal kegagalan target terletak pada kemiskinan yang belum teratasi. Kemiskinan yang
mestinya turun, tidak bergerak di angka 11-12%. Kemiskinan di Indonesia menurut ukuran
internasional masih 40% meski BPS mencatat 12%. Selain itu, pemangkasan anggaran kesehatan
yang semestinya sekitar 5% dari dana APBN hanya terealisir 2-3%. Dana ini sangat kecil untuk
sebuah misi penyelamatan nyawa para ibu yang berjuang mewujudkan penerus generasi
manusia. Ada harapan bagi sebagian ahli, SDGs akan menjawab kegagalan MDGs. Dengan
menetapkan pengentasan kemiskinan pada goal pertama kemudian disangga dengan syarat lain
diantaranya kesehatan, pendidikan, penyediaan air bersih, dan kesetaraan gender. Selain itu, juga
pekerjaan, inovasi dan tanggung jawab serta pola konsumsi akan berjuang mengentaskan
kemiskinan pada titik nol di tahun 2030.

Mungkinkah mampu diwujudkan? Kalau kita amati, meskipun persentase penduduk miskin
menurut BPS per maret 2016 turun menjadi 10,86%, namun persentase penduduk miskin di
daerah pedesaan naik menjadi 14,11%. Di pertengahan 2016 tercatat di Probolinggo Jawa Timur
Angka Kematian Ibu (AKI) sebanyak 10 kasus, sedang di Indramayu mencapai 43 kasus AKI.
Hal ini mendekati jumlah kasus AKI sepanjang tahun 2015 yaitu sebanyak 57 kasus. Perlu
merenung lagi langkah mana yang mesti diluruskan.

Negara Islam serius mewujudkan kesehatan ibu

Setidaknya ada dua tinjauan, yaitu aspek praktis dan idiologis yang terjadi sepanjang sejarah
kegemilangan peradaban Islam.

a. Aspek praktis

Islam telah menempatkan kesehatan sebagai nikmat tertinggi setelah keimanan. Rasulullah
bersabda, “Mintalah oleh kalian kepada Allah ampunan dan kesehatan. Sesungguhnya setelah
nikmat keimanan, tidak ada nikmat yang lebih baik yang diberikan kepada seseorang selain
nikmat sehat”. (HR Hakim)

Keimanan merupakan fondasi pembangun dimensi kesehatan mental dan fisik. Proses
pembentukan keimanan yang melibatkan akal disamping menuju pemenuhan kebutuhan naluri
beragama, juga menghasilkan keimanan yang sempurna dan menutup semua keraguan (tashdhiq
al-jazm). Keimanan yang sempurna akan memuaskan akal, menentramkan hati, dan sesuai fitrah
manusia terhadap kebenaran Islam. Kondisi ini akan membentuk jiwa dan fisik yang ringan
dalam menjalankan konsekuensi keimanannya. Rasa bergantungnya pada kekuatan Pencipta
menjadi pengukur satu persatu aktivitasnya, apakah sesuai dengan syariat-Nya. Ketika kenyataan
hidup tidak berkesuaian dengan rencana akan mendorongnya berintrospeksi adakah kelalaian
yang dilakukan pada syariat Allah.

Kesadaran dan ketundukan ini akan memenuhi kesehatan mentalnya. Demikian juga pola
pemenuhan kebutuhan hidup lainnya. Kesesuaiannya dengan tuntunan Islam, telah menggiring
fisiknya terjaga dari banyak gangguan dan penyakit berbahaya. Keimanan menjadi mesin
penggerak hati mewujudkan kebaikan niat dan mendorong fisiknya untuk beramal. Anjuran
Islam untuk menjaga kesucian dari najis dan hadats menunjukkan obsesi Islam mewujudkan
kesehatan individu dan masyarakat. Ketegasan Islam terhadap konsumsi makanan halalan
thoyyiban dan larangan mengkonsumsi makanan haram menjadi parameter Islam mendukung
terwujudnya kesehatan secara komprehenship. Pahala lebih bagi individu yang melakukan amal
sunah seperti puasa sunah, sholat rawatib, menjaga adab dalam konsumsi makan-minum akan
menyeimbangkan porsi aktivitas dan istirahat. Ajaran ini merupakan bentuk dukungan Islam
untuk menjaga unsur-unsur penting penjaga tubuh tetap sehat secara fisik dan jiwa. Anjuran
pernikahan untuk melanjutkan keturunan, proses mengandung dan melahirkan berpeluang
mendatangkan pahala yang sebanding dengan berjihad bagi perempuan. Selain itu, pahala
kebaikan pada setiap tetesan air susu ibu menjadi bukti Islam memuliakan fungsi reproduksinya.
Kecermelangan peradaban Islam ini, hakekatnya menjadi promosi preventif dan gratis bagi
program kesehatan yang terumus dalam syariat Islam.

Penyatuan aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) Islam yang berjalan seiring dengan
keimanan akan membentuk kepribadian Islam pada insan kesehatan. Praktisi kesehatan tidak
hanya mahir merawat dan mengobati, namun mereka juga menjadi figur muslim cerdas,
multitalenta, dan berkepribadian Islam. Semua hal di atas merujuk pada ajaran yang dibawa
Rasulullah saw.

Ajaran Rasulullah saw tersebut telah melahirkan beberapa generasi yang menojol. Aisyah ra
adalah sosok muslimah yang tidak hanya menguasai ilmu Al Quran tetapi juga pengobatan
medis. Rufaidah binti Sa’ad merupakan public helath nurse dan social worker yang menjadi
inspirasi perawat di dunia Islam. Ummu Kultsum istri amirul mukminin Umar Bin Khattab ahli
dalam kebidanan. Ilmuwan muslim yang mengabdikan hidupnya dalam bidang kesehatan seperti
Ar Razi (864-930 M) piawai dalam ilmu kimia yang memadukan terapi dengan nutrisi seimbang
dan tehnik meningkatkan kekebalan (imunitas) tubuh. Ibnu Nafis (1210-1288 M) menjadi
direktur rumah sakit al-Nassiri karena kemampuannya dalam ilmu kedokteran terutama
penemuannya terkait sirkulasi darah dan penguasaannya terhadap hukum Islam. Dokter ahli
kandungan yang terkenal zaman keemasan Islam adalah Az-Zahrawi (936-1013 M), Abu Raihan
Albairuni (973-1048 M), dan Bahrum Tajul Amin (380 H). Mereka yang banyak terlibat
memberikan pelatihan kepada bidan-bidan desa dua kali dalam sepekan. Peradaban Islam juga
dihiasi dengan munculannya ulama ahli fiqh termasuk fiqh wanita dalam berbagai karya. Sebuah
kedinamisan hidup yang ditopang insan-insan produktif. Fenomena ini tidak terjadi sepanjang
sejarah kehidupan manusia selain dalam peradaban Islam.

b. Aspek Ideologis

Iklim individu dan masyarakat sehat terwujud melalui perumusan strategi yang tepat. Menurut
Islam kesehatan adalah hak tubuh. Status kesehatan individu menjadi instrumen penting
terealisasikannya sistem kehidupan Islam dan dakwah Islam di muka bumi. Negara sebagai
pemangku penerapan nilai-nilai Islam akan sangat menjadi penentu. Perawatan bagi orang-orang
di bawah otoritas negara tidak dinilai berdasarkan anggaran tahunan atau aspirasi politik
melainkan didasarkan pada hak yang diberikan Allah SWT kepada mereka. Jaminan negara
terhadap kesehatan individu dan masyarakat merupakan bentuk ketaatan penguasa terhadap
syariat-Nya.

Negara juga bertanggung jawab mewujudkan kestabilan ekonomi yang menjadi urat nadi
kehidupan rakyat. Politik ekonomi Islam meletakkan pengelolaan kekayaan berdasar tiga prinsip
kepemilikan yaitu kepemilikan umum, kepemilikan negara, dan kepemilikan individu. Negara
akan melakukan pemerataan distribusi kekayaan serta pengembangannya berdasar atas tiga
kepemilikan tersebut. Kepemilikan umum akan dikelola secara sempurna untuk kemaslahatan
rakyat termasuk pembiayaan kesehatan, penyiapan tenaga kesehatan profesional juga sarana
prasarana untuk mewujudkan pelayanan terbaik. Baitul mal akan menyusun anggaran yang
cukup untuk kesehatan masyarakat secara gratis dengan pelayanan terbaik berdasar kemampuan
negara. Pemberlakuan pajak kekayaan akan diterapkan jika baitul mal kosong atau anggaran
defisit.

Konsentrasi negara tidak hanya mengurangi angka kemiskinan dan kelaparan, namun bagaimana
kesejahteraan mampu menyentuh setiap individu rakyat. Kesejahteraan tidak hanya tercukupi
kebutuhan asasi (sandang, pangan, dan papan), namun juga didorong mampu meraih kebutuhan
sekunder secara makruf. Selain itu negara secara langsung akan memenuhi kebutuhan pokok
publik berupa layanan kesehatan, pendidikan layak, dan keamanan bagi rakyatnya.
Jika sistem kehidupan Islam diterapkan, tidak akan terlihat lagi seorang ibu hamil sibuk
mengumpulkan dana persiapan persalinan. Ibu hamil akan lebih berkonsentrasi terhadap
kesehatan diri dan janinnya seraya selalu menjaga kedekatan pada Allah dengan memperbanyak
dzikir dan membaca tilawah. Tidak lagi kita dapatkan keluarga condong mencari pertolongan
persalinan pada tenaga tidak terdidik, namun akan menuju tempat pelayanan persalinan terbaik
didampingi tenaga kesehatan yang ramah dan terlatih. Jika akses pelayanan terbaik masih sulit,
akan dihadirkan rumah sakit keliling tanpa mengurangi kualitas pelayanan. Sebagaimana yang
terjadi pada masa Sultan Mahmud (511-525 H). Ibu hamil tidak lagi kuatir kekurangan asupan
nitrisi dan gizi, karena negara menyiapkan menu diet seimbang dan bergizi tinggi melalui ahli
gizi yang kompeten.

Kalau sistem Khilafah Islamiyah membentangkan jalan menuju kesejahteraan dan kemuliaan
umat secara universal, lantas apa yang kita perlukan lagi selain bersegera mengambilnya untuk
membangun negeri tercinta ini? Diterapkannya syariat Islam oleh Khilafah Islamiyah, tidak
hanya AKI yang tinggi, kemiskinan yang menyengsarakan, namun segala bentuk kedzoliman
dan ketidaknyamanan hidup akibat sistem kapitalisme ini akan terhapus di muka bumi ini.
Aamiin.

Sumber bacaan:

1. Anonim. 2014. Situasi Kesehatan Ibu. InfoDATIN( Pusat Data dan Informasi)
Kementerian Kesehatan RI. Jakarta
2. Atmarita, Tatang S. Fallah. 2004. Analisa Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat.
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII. Direktorat Gizi dan Masyarakat DepKes.
Jakarta
3. Anonim. 2008. Laporan Nasional 2007. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan DepKes RI. Jakarta
4. Anonim. 2012. Kesehatan Ibu dan Anak. Ringkasan Kajian UNICEF Indonesia Oktober
2012
5. Anonim. 2015. Indikator Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Ibu dan Anak.
http://www.Indonesian-publichealth.com/
6. Anonim. 2016. Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indramayu. Republika 14 September
2016. http://www.Republika. co.id
7. Bahrain,R. 2014. Tokoh tenaga Medis Di zaman Nabi SAW.
http://www.Muslimafiyah.com
8. Wahyu. 2010. 99 ilmuwan Muslim Perintis Sains Modern. DIVA Press. Jogjakarta
PERAN KHILAFAH MENGATASI DIABETES MELLITUS DAN SINDROM
METABOLIK

Oleh: dr. Mustaqim

Diabetes Mellitus adalah penyakit metabolik sebagai akibat dari kurangnya insulin dengan gejala
klinis akut poliuria (banyak kencing), polidipsi (banyak minum) dan penurunan berat badan atau
pun kadang kadang tanpa gejala. Penyakit ini sudah dikenal di Mesir pada 1550 tahun SM dan
hingga kini terus meningkat angka kejadiannya. Sejak 1964 sampai 2003 jumlah penderita DM
yang berobat dan terdaftar di RSUD Dr. Soetomo Surabaya meningkat menjadi 300 kali lipat,
dari 133 jiwa menjadi 39.875 jiwa. Pada perhitungan epidemiologi tahun 2003, jumlah penderita
DM Indonesia menempati nomer 6 di dunia setelah India, Cina, Amerika, Pakistan dan Jepang,
yaitu sebesar 8,4 juta jiwa. Pada tahun yang sama jumlah penderita DM di dunia sebesar 177 juta
jiwa. Pada tahun 2007, DM menempati ranking ke-2 sebagai penyebab kematian di perkotaan,
dan menempati ranking-6 di pedesaan. Diperkirakan pada tahun 2030 penderita DM di Indonesia
mencpai 21.3 juta jiwa.

Sedangkan sindorm metabolik (SM) merupakan suatu kumpulan faktor-faktor resiko untuk
terjadinya penyakit kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) pada obesitas (kegemukan)
dan DM. Komponen utama dari sindrom metabolik meliputi: resistensi insulin, obesitas
abdominal/sentral, hipertensi, dan dislipidemia. Kemungkinan Kejadian sindom metabolik
meningkat dengan bertambahnya usia dan berat badan. Sindrom metabolik juga merupakan
prediktor kuat untuk terjadinya DM.

Baik DM maupun SM, secara kronis dapat menimbulkan kelaian pada pembuluh darah, baik
pembuluh darah besar maupun pembuluh darah kecil. Akibatnya, baik DM dan SM
menyebabkan berbagai macam komplikasi di berbagai organ tubuh. Antara lain mata (katarak,
glaucoma, perdarah, kebutaan), mulut (ludah kental, mulut kering, gusi bengkak, gigi mudah
lepas, lidah tebal dan gangguan pengecapan), jantung, Ginjal, saluran kemih (infeksi, impotensi),
saraf (kebas, nyeri, kramp, keringat tidak merata, mual, perut penuh), otak (stroke), kulit (gatal,
infeksi, menghitam), luka sulit sembuh hingga ganggren. DM dan SM memiliki faktor resiko
yang serupa,yaitu faktor resiko yang tidak dapat diubah dan faktor resiko yang dapat diubah.
Faktor resiko yang tidak dapat diubah meliputi ras (asia, indian amerika, hispanik), riwayat
keluarga, umur, riwayat melahirkan bayi BB > 4kg, riwayat lahir dengan BB < 2.5 kg.
Sedangkan faktor resiko yang dapat diubah meliputi kegemukan, aktifitas fisik kurang, merokok,
pola makan tidak sehat.

Gaya Hidup Rusak Ala Sekulerisme VS Gaya Hidup Sehat Ala Islam

Dengan perkembangan jaman saat ini, faktor resiko yang dapat diubah semakin dominan.
Tjokroprawiro menyebutkan bahwa kemunculan makanan cepat saji sejak tahun 1990 yang
banyak mengandung lemak, kolesterol dan tinggi kalori turut meningkatkan kejadian SM dan
kondisi preobesitas di Indonesia. Begitu pula dengan kemajuan teknologi yang menyebabkan
aktifitas fisik berkurang. Bila tidak ditangani kondisi tersebut dapat berlanjut menjadi DM

Disadari atau tidak, sekulerisme yang menjadi ideologi di negara ini turut menyumbang
meningkatnya kejadian DM dan SM, serta penyakit penyakit lain akibat gaya hidup. Sekulerisme
dengan empat pilar kebebasannya telah membentuk masyarakat dengan gaya hidup yang
stressfull dan tidak sehat. Kebebasan perilaku telah menjamin pada setiap individu untuk bebas
berperilaku apapun sesuai keinginannya asalkan tidak merugikan orang lain. Kebebasan tersebut
berlaku juga dalam hal kebebasan memakan, yaitu memakan makanan yang haram dan tidak
baik bagi kesehatan, serta memakan dalam jumlah yang berlebihan. Begitu pula dengan
kebebasan memiliki, kebebasan ini pada akhirnya juga menyebabkan kebebasan untuk
memproduksi dan menjual makanan yang haram dan tidak baik bagi kesehatan. Maka tidak
heran bila khamer pun sudah ada pabriknya di negara ini, dan sudah dipasarkan sampai ke
minimarket di desa-desa.

Kebebasan berpendapat dan berekspresipun pada akhirnya juga ikut memicu dan memacu
kejadian SM dan DM. Dengan adanya kebebasan berpendapat ini menimbulkan kebebasan untuk
mencaci dan membully sehingga menimbulkan stress mental pada korban maupun pelakunya.
Kebebasan ekspresi menimbulkan budaya pamer dan bersaing, yang pada ujungnya juga bisa
menimbulkan stress mental. Sedangkan kebebasan beragama, pada akhirnya justru menjauhkan
manusia dari ketenangan rohani sehingga rentan terhadap stress. Dalam kondisi stress, tubuh
akan mengeluarkan hormon adrenalin dan kortisol yang bila diproduksi dalam jangka waktu
yang panjang dapat meningkatkan kadar gula dan kolesterol serta mengganggu kesehatan tubuh.

Berbeda dengan Sekulerisme dengan empat pilar kebebasannya yang rusak, Islam sebagai agama
rahmatan lil alamin yang ajarannya meliputi segala aspek kehidupan, mengatur gaya hidup
manusia agar sehat dan kuat. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda “mukmin yang
kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah dalam setiap amal
kebaikan.” Yang dimaksud dengan kuat adalah kuat kehendak jiwanya, juga kuat fisik dan
persiapannya dalam beramal kebaikan. Dengan demikian Islam sangat menganjurkan untuk
menjaga kesehatan sebagai bentuk dari kekuatan fisik dan persiapan beramal baik. Islam juga
memandang bahwa kesehatan merupakan nikmat yang wajib disyukuri, salah satu wujud rasa
syukur tersebut adalah memanfaatkan kesehatan untuk berbuat baik serta menjaga kesehatan itu
sendiri.

Terkait makanan, Allah SWT telah berfirman (yang artinya): “Hai sekalian manusia, makanlah
yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-
langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (TQS 2: 168).
Dalam Ayat tersebut Allah menyeru sekalian manusia untuk memakan makanan yang halalan
thoyyiban. Mengkonsumsi makanan halalan thoyyiban merupakan perintah Allah swt yang wajib
dilaksanakan oleh setiap orang yang beriman. Perintah ini dapat disejajarkan dengan bertaqwa
kepada Allah. Dengan demikian, mengkonsumsi makanan halalan thoyyiban dengan dilandasi
iman dan taqwa karena mengikuti perintah Allah swt merupakan ibadah yang mendatangkan
pahala dan memberikan kebaikan dunia dan akhirat. Sebaliknya, mengkonsumsi yang haram
merupakan perbuatan maksiat yang mendatangkan dosa dan keburukan dunia akhirat. Terkait
kata thayyiban dalam ayat di atas, Ibnu Katsir menafsirkannya sebagai makanan yang baik, dan
bermanfaat bagi dirinya serta tidak membahayakan bagi tubuh dan akal fikirannya.

Begitu pula Rasul SAW telah bersabda “kita (kaum muslim) adalah yang hanya makan bila lapar
dan berhenti makan sebelum kenyang.” Hadits ini sanadnya dhaif, tetapi maknanya benar dan
dikuatkan oleh hadits lain. Bahwa hendaknya makan secukupnya dan tidak berlebihan. Selain
itu, dalam berbagai hadits Rasulullah menganjurkan untuk memperbanyak puasa sunah serta
celaan terhadap orang gemuk karena terlalu banyak makan dan malas aktfitas.
Sedangkan terkait aktifitas fisik, Islam juga menganjurkan untuk berolahraga. Dalam banyak
hadits telah disebutkan bahwa Rasulullah sangat menyukai olahraga. Beliau juga menganjurkan
umatnya olahraga juga menganjurkan untuk mengajari generasi berikutnya untuk gemar
berolahraga. Beberapa olahraga yang tersebutkan dalam hadits antara lain gulat, memanah,
berenang, berlari, berkuda, tombak/anggar. Bahkan Islam pun mengatur terkait tidur.
Diantaranya adalah anjuran tidur di awal malam (tidak bergadang) dan bangun di akhir malam
(bangun awal), anjuran Qayluulah (istirahat/tidur siang), tidak tidur setelah subuh, tidak tidur
dalam kondisi kenyang, tidak tidur dalam posisi tengkurap.

Peran Negara

Sayangnya gaya hidup sehat ala Islam tersebut cukup sulit dilakukan di negara dengan ideologi
sekulerisme. Andaipun bisa, maka hanya bisa dilaksanakan oleh individu-individu tertetntu saja.
Dalam pandangan sekulerisme, negara tidak perlu ikut campur urusan pribadi rakyatnya.
Kesehatan pun menjadi komoditas dalam ekonomi sekulerisme kapitalisme. Berbeda dengan
Sekulerisme, Islam memandang bahwa Negara wajib memenuhi hak dasar rakyatnya yaitu
keamanan, pendidikan dan kesehatan. Maka dalam pandangan Islam, negara, dalam hal ini
khilafah wajib memberikan layanan kesehatan kepada rakyatnya mulai dari promotif, preventif,
kuratif hingga rehabilitatif.

Dalam aspek promotif, negara khilafah akan aktif menanamkan aqidah Islam ke rakyatnya.
Dengan aqidah Islam yang kokoh diharapkan rakyat akan menjalankan pola hidup sesuai
tuntunan Islam, yaitu pola hidup bersih dan sehat. Dalam aspek preventif (pencegahan) maka
negara akan aktif mencegah pola hidup yang tidak sehat. Misalnya dengan meregulasi makanan
yang beredar di masyarakat agar terjamin kehalalan dan kethayibannya. Negara khilafah juga
bisa mendorong masyarakat untuk mengikuti latihan fisik yang juga dapat bermanfaat untuk
persiapan jihad. Sedangkan dalam aspek kuratif, negara akan mengusahakan obat yang terbaik
dan minim efek samping untuk mengobati penderita DM dan SM, khususnya bagi penderita
dengan faktor resiko yang tak dapat diubah. Khilafah juga akan menyediakan rumah sakit
dengan segala fasilitas dan SDM yang bermutu yang dapat diakses semua masyrakat tanpa
membedakan golongan/kelas. Dan dalam aspek rehabilitatif, negara akan menyediakan sarana
pemulihan kualitas hidup bagi yang sudah terlanjur menderita DM dan SM, serta mencegah
terjadinya kekambuhannya. Langkah langkah tersebut tentu diberlakukan juga untuk penyakit
penyakit lainnya.

Bahan Bacaan:

1. FK Unair-RS Dr. Soetomo, 2007. Buku Ajar Penyakit Dalam. Diabetes Melitus. Editor:
Askandar Tjokroprawiro, et.al. Surabaya: Airlangga University Press.
2. Kemenkes RI. 2009. Tahun 2030 Prevalensi Diabetes Melitus Di Indonesia mencpai 21,3
Juta Orang. http://www.depkes.go.id. Diakses pada 21 Des. 15
3. Shihab, alwi. Sindrom Metabolik. http://dokter-alwi.com. Diakases pada 21 Des. 15
4. FK Unair-RS Dr. Soetomo, 2007. Buku Ajar Penyakit Dalam. Diabetes Melitus. Editor:
Askandar Tjokroprawiro, et.al. Surabaya: Airlangga University Press.
5. Kusumawardhani, dina. Kenali Faktor Resiko Diabetes Melitus. http://klikdokter.com.
Diakses pada 21 Des. 15
6. FK Unair-RS Dr. Soetomo, 2007. Buku Ajar Penyakit Dalam. Diabetes Melitus. Editor:
Askandar Tjokroprawiro, et.al. Surabaya: Airlangga University Press.
7. Diriiwayatkan oleh Muslim dalam kitab al Qadar. http://kautsarku.wordpress.com diakses
22 Des. 15
8. Mensyukuri Nikmat Sehat Dalam Islam. http://cardiacku.blogspot.com diakses pada 22
Des. 15
9. MUI. Kewajiban Mengkonsumsi Makanan Halal. http://www.halalmui.org. Diakses 21
Des. 15
10. https://alquranmulia.wordpress.com/2015/04/06/tafsir-ibnu-katsir-surat-al-baqarah-ayat-
168-169
11. Bahraen, Raehanul. Hadits Dhaif: Makan Sebelum Lapar, Berhenti sebelum kenyang.
http://muslim.or.id. Diakses pada 21 Des. 15
12. Baits, Ammi Nur. Allah Benci Orang Gendut? http://konsultasisyariah.com diakses 28
Des. 15
13. Olahraga Menurut Islam. http://media-Islam.or.id diakses pada 22 Des. 15
14. Tidur Dalam Tatanan Sunah. Http://al.manhaj.or.id diakses pada 22 Des. 15
KEMANDIRIAN INDUSTRI OBAT DALAM NEGARA KHILAFAH

Oleh : dr. Rini Syafri

Kemandirian negara dalam industri obat merupakan perkara yang urgen dan mendesak. Bukan
hanya faktor kunci bagi kemampuan negara memenuhi hak publik terhadap obat, namun juga
sangat penting bagi eksistensi negara. Pemerintah wajib hadir bersama konsep-konsep dan
paradigma industri obat yang sohih, berpotensi dan berkarakter dalam memandirikan negara
khusus dalam industri obat dan farmasi. Dialah konsep dan paradigma industri obat khilafah
Islam. Terpancar dari aqidah Islam, terkandung dalam telaga kebenaran ilahi, yaitu Al Quran
dan As Sunnah dan apa yang ditunjukan keduanya, yang terpenting di antaranya adalah:

Pertama, pemerintah dan negara wajib menerapkan politik industri berbasis industri
berat. Karena pada faktanya kemandirian sesungguhnya negara dalam hal industri obat hanya
mungkin terwujud bila mandiri dalam industri bahan baku obat. Sementara itu kemandirian
industri bahan baku obat hanya terwujud ketika diterapkan politik industri berbasis industri
berat. Berbasis industri penghasil mesin-mesin, peralatan, dan bahan baku termasuk bahan baku
obat.

Lebih jauh lagi semua jenis industri wajib berdiri di atas asas politik perang, termasuk industri
obat dan farmasi. Agar timbul rasa takut pada kafir penjajah, dan agar dunia terbebas dari
berbagai kejahatannya, kususnya pada bidang kesehatan. Allah swt menegaskan dalam QS Al
Anfaal (8) : 60, artinya, “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi
mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat
menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak
mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya

Kedua, diharamkan negara dan pemerintah menerima investasi dan pengelolaan modal
asing. Termaktub dalam masyru’u dustuur, pasal 165, Investasi dan pengelolaan modal asing
dilarang diseluruh Negeri, termasuk larangan memberikan hak istimewa kepada pihak
asing. Karenanya investasi asing barapapun nilainya sama saja menfasilitasi neo imperialisme
yang secara tegas diharamkan Islam. Allah swt berfirman dalam QS Al Maaidah (4): 141, yang
artinya, “Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orang kafir untuk menguasai
orang-orang mukmin”.

Ketiga, sehubungan dengan poin ke dua, pemerintah wajib meninggalkan secara total konsep
batil neoliberal reinventing government, new public management,dan good governance. Baik
konsep tentang peran negara hanya sebagai regulator (sterring pengarah– dari pada sebagai
rowing pendayung, pelayan), konsep pembangunan PPPs (Public Private Partnership)/ KPS
(Kemitraan Pemerintah dan Swasta), konsep anggaran berbasis kinerja dan yang lainya termasuk
desentralisasi kekuasaan/otonomi daerah. Karena konsep-konsep ini semuanya menyalahi
syariat Allah swt, disamping dipersiapkan untuk kehadiran dan dominasi investasi asing kafir
penjajah.

Keempat, pemerintah bertanggungjawab langsung dan berwenang penuh dalam pembangunan


industri. Mulai dari industri berat berupa industri mesin-mesin dan peralatan serta industri bahan
baku termasuk bahan baku obat, sampai dengan industri obat-obatan itu sendiri. Ditegaskan
Rasulullah saw, artinya ..Imam (Khalifah) raa in (pengurus rakyat) dan dia bertanggungjawab
terhadap rakyatnya (HR Ahmad, Bukhari).

Kelima, pengelolaan kekayaan negara wajib dilakukan secara benar, sesuai syariat Islam, agar
negara memiliki kemampuan finasial yang memadai menjalankan fungsi dan tanggungjawabnya,
yaitu untuk pembangunan proyek-proyek industri berat termasuk bahan baku obat dan industri
obat-obatan. Salah satu sumber terbesar kekayaan negara adalah dari harta milik umum. Seperti
barang tambang emas, bauxite,nikel, dan migas, yang jumlahnya berlimpah di negeri-negeri
muslim.

Kelima, wajib digunakan konsep anggaran mutlak. Artinya, wajib diadakan negara sejumlah
biaya yang memadai bagi kemandirian industri obat. Baik ada ataupun tidak ada kekayaan
negara yang dialokasikan untuk pembiayaan industri obat. Mulai dari industri BBO hingga
penghasil obat termasuk dana riset. Rasulullah saw menegaskan, artinya, Tidak boleh
membahayakan diri sendiri maupun membahayakan orang lain (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Keenam, independen dari ketentuan dan aturan kafir penjajah. Termasuk yang melalui WHO,
WTO dan lain-lain. Seperti aturan hak paten. Karena penjajahan apapun bentuknya diharamkan
Allah swt. Sebagaimana ditegaskan Allah dalam QS Al Maaidah ayat 141.
Inilah di antara konsep-konsep sohih industri obat khilafah. Penyehat sekaligus pembebas dunia
dari kejahatan kafir penjajah khususnya pada bidang kesehatan. Kemandirian industri farmasi
rahmat bagi seluruh alam. Tingkatannya jauh di atas kemandirian industri farmasi negara
manapun hari ini, di Barat (AS dan Negara-Negara Eropa), dan di Timur seperti Cina, dan India.
Kemandiran industri farmasi seperti inilah yang dibutuhkan dunia. Sehingga penerapan syariat
Islam secara kaafah dalam bingkai khilafah rasyidah, adalah kebutuhan dunia disamping
kewajiban. Sungguh Allah swt telah menegaskan yang artinya,

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau ya Muhammad melain menjadi rahmat bagi seluruh
alam” (TQS Al Anbiya (21): 107).

Bahan Bacaan:

1. Hizbut Tahrir. Muqadimah dustur aw asbaabu maujibatu lahu. Al Qismu Awwal. Darul
Ummah. 2019. Hal 234-235. Pasal 74.

2. An Nabhani, T. Nithoomul Islam. Hizbut Tahrir. Hal 128.

3. Hizbut Tahrir. Muqadimah dustur aw asbaabu maujibatu lahu. Al Qismul Awwal. Darul
Ummah. 2009. Hal 160.

4. Rini Syafri, Khilafah satu-satunya yang Mampu Mewujudkan Kemandirian Industri


Obat. LM MHTI.

5. http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/16/06/21/o93y062-kemandirian-
industri-farmasi

6. https://priyambodo1971.wordpress.com/2015/11/06/kemandirian-industri-bahan-baku-
obat-sebuah-utopia-tiada-bertepi/
HEALTHCARE PROFESSIONALS FOR SHARIA

(HELP-S)

Hidup sehat, Sebar Rahmat dengan Syariah dan Khilafah

Apa itu HELP-S?

HEALTHCARE PROFESSIONALS FOR SHARIA atau disingkat HELP-S Merupakan


jaringan tenaga kesehatan profesional muslim yang aktif di tengah-tengah umat melakukan aksi,
edukasi dan menawarkan solusi ideologi Islam dalam bidang kesehatan dan berperan serta
menyokong tegaknya syariah dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah.

Kenapa perlu HELP-S?

Banyak problem yang menyangkut masalah kesehatan di negeri ini. Seperti masih tingginya
angka kesakitan di negeri ini, mahalnya biaya kesehatan, problematika pendidikan kesehatan,
termasuk berkembangnya berbagai macam masalah kontemporer yang harus didudukkan hukum
fiqihnya. Problematika bidang kesehatan ini pada dasarnya hanya merupakan salah satu cabang
dari berbagai problematika yang ada yang berakar pada ditinggalkannya Ideologi Islam.
Sehingga sebagai problematika cabang, penyelesaiannya pun akan bersimpul kepada solusi
utama, yaitu kembali pada Islam.

Tenaga profesional kesehatan muslim sudah saatnya turut berkontribusi menyelesaikan beragam
masalah ini. Diperlukan adanya kesatuan visi dan gerak untuk menyelesaikan berbagai program
tadi. Kami berusaha mempersatukan visi para tenaga kesehatan untuk turut peduli masalah umat
dan menyadarkan mereka pentingnya usaha penegakan syariah dalam bingkai khilafah dan
keharusan mereka berperan di dalamnya.

Apa tujuan HELP-S?

HELP-S memiliki visi menjadi rujukan umat dalam menyelesaikan permasalahan kesehatan
dalam tataran ideologi Islam

Apa saja yang dilakukan HELP-S?

Untuk mencapai tujuannya, HELP-S melaksanakan hal-hal sebagai berikut:


1. Melakukan berbagai kajian, baik kajian problematika dan kebijakan kesehatan yang ada
di negeri ini dan berusaha memberikan solusi Islam atasnya atau kajian berbagai masalah
fikih kesehatan kontemporer.
2. Menjalin kontak ke lembaga-lembaga kesehatan dan para profesional kesehatan untuk
turut berkontribusi dalam rangka penegakan syariah dalam bingkai daulah khilafah.
3. Lewat media, baik cetak maupun online melakukan edukasi ke masyarakat mengenai
kesehatan praktis maupun solusi Islam dalam permasalahan bidang kesehatan.
4. Melakukan edukasi kesehatan Islam terhadap umat, baik sesama tenaga profesional,
mahasiswa kesehatan, maupun masyarakat awam melalui berbagai kegiatan, baik
kegiatan ilmiah (seminar, pelatihan, simposium, diskusi, dll) atau kegiatan sosial
(pengobatan massal, penanganan bencana, dll).

Siapa saja anggotanya?

HELP-S berisikan ratusan tenaga profesional kesehatan muslim laki-laki atau perempuan
meliputi dokter umum dan dokter spesialis, dokter gigi, dokter hewan, perawat, bidan, apoteker,
analis kesehatan, fisioterapis, radiografer, ahli kesehatan masyarakat dan lainnya yang memiliki
kepedulian terhadap masalah umat Islam.

Bagaimana kepengurusannya?

Kepengurusan HELP-S terdiri dari Dewan Penasehat yang terdiri dari para ulama dan tokoh
masyarakat, Dewan Pengurus Pusat (Ketua Umum, Ketua-Ketua bidang, Sekretaris Jenderal dan
wakil sekretaris jenderal, dan bendahara), serta Dewan Pengurus Wilayah.

Dimana alamat Kantornya?

Pengurus Pusat HELP-S beralamatkan di Jl. Tebet Timur Dalam I no 1 Tebet Jakarta Selatan
Telpon: 02183793774.

Kejauhan…. Dimana saya bisa bertemu dengan HELP-S?

Anda bisa mengakses HELP-S lewat media-media online kami.

Website: www.helpsharia.com

Email : helpsharia@gmail.com
Fanpage FB : helpsharia

Youtube channel : helpsharia

Instagram : helpsharia

HELP-S juga tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan memiliki perwakilan luar negeri.
Anda bisa menghubungi anggota-anggota kami secara langsung melalui nomor kontak yang
tersedia.

Layanan apa yang diberikan oleh HELP-S yang dapat saya manfaatkan?

HELP-S bukan lembaga pelayanan kesehatan praktis, meskipun anggotanya merupakan tenaga
kesehatan yang aktif sehari-harinya dalam berbagai bidang pelayanan. Kami memberikan
bantuan dalam hal:

a. Kerjasama kajian/diskusi tentang kesehatan islam baik lewat media maupun pertemuan
langsung
b. Narasumber untuk berbagai event kesehatan Islam baik skala nasional maupun lokal
c. Kerjasama untuk edukasi masyarakat bidang kesehatan dalam berbagai bentuk.
d. Kerjasama media kesehatan.
e. Kerjasama dalam aksi tanggap bencana.

Apakah saya bisa bergabung dengan HELP-S?

Bisa. Kami menerima keanggotaan tenaga profesional kesehatan baik laki-laki maupun
perempuan muslim sepanjang mau terikat dengan aturan organisasi

Saya masih mahasiswa kesehatan, apakah saya juga bisa bergabung dengan HELP-S?

HELP-S memiliki jaringan bawahnya yang bernama HELP-S muda, terdiri dari mahasiswa-
mahasiswa kesehatan yang memiliki visi dan misi serupa menunjang kinerja HELP-S.