You are on page 1of 7

Layanan Kesehatan Dalam Khilafah Adalah Model Terbaik

(Kritik Terhadap Kebijakan Public Private Partnership pada Sektor Kesehatan)


Oleh
Rini Syafri(*)
Pendahuluan
Hingga saat berbagai persoalan serius masih saja menyelimuti layanan kesehatan
di Negeri ini. Yaitu mulai dari harga layanan kesehatan yang sangat mahal, kekurangan
sumber daya kesehatan (seperti dokter spesialis anak, dokter kandungan, dokter anastesi)
sampai dengan persoalan sarana dan prasarana kesehatan yang minim. Berlarut-larutnya
semua persoalan ini menjadi bukti tak terbantahkan, bahwa kebijakan kapitalistik yang
diterapkan pemerintah selama ini telah gagal mewujudkan layanan kesehatan yang
menyejahterakan masyarakat.

Keputusan Berbahaya.
Tragisnya, pemerintah justru mengambil solusi yang bersumber dari ideologi
yang sama.Yaitu dengan mengadopsi Model kebijakan Public Private Partnership (PPPs)
atau yang popular dengan sebutan Kemitraan Pemerintah dan Swasta (KPS). Bahkan
dipandang langkah ini sebagai terobosan inovatif . Langkah nyata pemerintah ini terlihat
dari sejumlah program, seperti penerapan model clinical contracting out (salah satu
varian PPPs) di NTT dan Kabupaten Berau.
Terdapat beberapa indikasi, bahwa di masa mendatang pemerintah akan
menerapkan kebijakan neolib ini lebih luas dan konsisten, bahkan menjadi
mainstreaming model penyelenggaraan layanan kesehatan, khususnya layanan kesehatan
maternal dan penanggulangan penyakit menular. Seperti yang tampak dari fokus
perbincangan pada Asia Pacific Development Summit, pada 3-5 September lalu di Hotel
JW Marriott Jakarta, yang bertajuk “Public-Private Partnership to Close Regional
Health on MDG Gaps”. Bahkan forum Asia-Pacific Development Summit juga mendesak
implementasi strategi kemitraan yang terpadu antara sektor publik dan swasta di negara-
negara ASEAN, serta untuk menjadikannya sebagai prioritas utama yang selaras dengan
agenda Negara.
Indikasi lain adalah kesiapan perangkat regulasi. Seperti Peraturan Presiden RI
No 67 Th 2005, tentang Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan
Infrastruktur; Peraturan Presiden No. 54 Th 2012 tentang Rencana Kerja Pemerintah
(RKP) Tahun 2013; dan UU No 25 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan layanan Publik.
Demikian pula halnya indikasi dari kesiapan kelembagaan kementerian. Seperti pada
BAPPENAS ada yang namanya Dirjen Pengembangan Kemitraan Pemerintah dan
Swasta.
Adapun tentang kesiapan sumber daya manusia (SDM), terlihat dari keterlibatan
Indonesia secara aktif dalam sejumlah intensive course. Seperti course yang dirancang
Asia Network for Health System Strengthening (ANHSS) dan World Bank Institute. Pada
tahun 2010 Indonesia sebagai penyelenggaranya, dengan materi pengenalan kerangka
PPPs; tahun 2011 diadakan di Bangkok, dengan materi PPPs pada layanan primer dan
rumah sakit; dan tahun 2012 di Makati, Manila (http://www.kki.net).
Indikasi penting lainnya adalah pujian World Bank terhadap keseriusan pemerintah
Indonesia mengadopsi penerapan PPPs (beritasatu.com, Mei 2012).
Public Private Partnership Sejatinya Model Yang Buruk
Penting untuk dicatat, berbagai alasan yang dikedapankan mengapa pemerintah
penting mengadopsi PPPs adalah alas an yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
“Negara tidak efisien mengelola sumber daya”, adalah pandangan yang dikendalikan
ideologi neo-Liberalisme (Prinja, 2010). Bahkan review terhadap sejumlah penelitian
tidak mendukung asumsi bahwa sektor swasta dibandingkan pemerintah lebih efisiensi,
akuntable, lebih efektif secara medis dalam penyelenggaraan layanan kesehatan. Review
ini dimuat oleh http://www.globalhealthhub.org., Juni 2012.
Lebih jauh lagi, layanan kesehatan yang menyejahterakan, yang didengung-
dengungkan sungguh jauh dari kenyataan. Yang demikian karena AS, beberapa dekade
terakhir secara konsisten menerapkan model PPPs, sebagaimana Australia, Inggris dan
Negara-Negara Eropa lainnya. Namun apa yang kita saksikan saat ini, tidak saja persolan
harga layanan kesehatan yang sangat mahal sehingga hanya dapat diakses segelintir
orang, namun juga persolan kualitas layanan yang mengancam nyawa . Terdapat cukup
banyak dokumen mengungkapkan hal tersebut.
Seperti Epidemiology Community Health Journal, memuat tulisan Oliver dan
Mossialos (2004), yang memberitakan bahwa pada Januari dan Mai 2003 menteri
kesehatan Chile, Germany, Greece, New Zealand, Slovenia, Sweden, dan The United
Kingdom bertemu di Stockholm and London. Pertemuan itu bertujuan merumuskan
kebijakan penanggulangan persoalan buruknya akses layanan kesehatan di Negara-
Negara tersebut.
Dokumen yang lain adalah: tulisan kolumnis The Washington Post pada 3 Maret
2012 tentang fakta harga layanan kesehatan di AS yang sangat mahal serta dominasi
korporasi dalam penentuan harga layanan kesehatan; hasil penelitian The Institute of
Medicine yang dimuat pada The New York Times 11 September 2012, dengan tajuk
“Study of U.S Health Care System Finds Both Waste and Opportunity to Improve”; tulisan
seorang ahli bedah pada The Guardian 12 September 2012, bahwa para kritikus
kesehatan konservatif menyarakan agar Menteri Kesehatan Doug Currie mengubah
manajemen layanan kesehatan di Prince Edward Island yang dinilai mahal, tidak efisien,
tidak berkelanjutan dan mengendurkan dedikasi para dokter.
Sementara itu dimuat pada The Australian 26 May 2012, bahwa berdasarkan
Laporan Kesehatan Tenaga Kerja Australia terbaru, sebagaimana ditulis Woerly (Dekan
Fakultas Kedokteran Universitas Flinders), diprediksi Australia akan mengalami krisis
berkelanjutan dalam hal penyediaan layanan kesehatan.

Bahaya Kebijakan Public Private Partnership


Tidak diragukan lagi, gagasan Public Private Partnership yang disebut-sebut
sebagai The New Public Management, bukanlah gagasan Islam, ia terpancar dari ideologi
kapitalisme, yang beberapa waktu terakhir ini terus menunjukkan “pembusukan” –nya.
Dinyatakan Kenny (2003), sebagaimana dikutip Hearne (2006), gagasan Public Private
Partnership PPP adalah instrument kunci neo-liberalisme yang efektif untuk tujuan untuk
meningkatkan lebih lanjut keterlibatan sektor swasta dalam layanan publik. Sementara
itu, Tynkkynen et al (2012) mengungkapkan kekhawatiran sejumlah pemangku kebijakan
di Finland, tentang dominasi multinasional korporasi dalam penyelenggaraan layanan
kesehatan melalui skema kebijakan PPPs.
Ini semua cukup menjadi argument bahwa PPPs adalah instrumen imperialisme
bagi eksistensinya yang sakarat. Artinya, kebijakan pemerintah mengadopsi model
PPPs, sama saja pembenaran dirinya diperalat/ dijajah. Ini adalah bahaya pertama.
Sementara itu penjajahan apapun bentuknya sesuatu yang dilarang Allah swt, demikian
ditegaskan Allah swt dalam QS An Nisa: 141, yang artinya,”Allah swt tidakakan pernah
memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang
beriman..”..
Adapun bahaya kedua adalah terjadinya pemangkasan wewenang strategis
Negara. Hal ini karena penerapan skema kebijakan PPPs berkonsekuensi pada
keharusan pemerintah menyerahkan kewenangan dan tanggungjawab pentingnya pada
pihak swasta. Bahkan terlarang bagi Negara melakukan pengurusan layanan public
secara langsung sebagaimana ketentuan kontrak. Karena fungsi pemerintah telah dibatasi
sebagai regulator dan fasilitator saja.
Padahal, keutuhan kewenangan penyelenggaraan layanan ditangan pemerintah
justru menjadi salah satu kunci penting keberhasilan Negara mewujudkan layanan publik
yang menyejahterakan. Namun pemangkasan wewenang strategis Negara inilah yang
ditargetkan Neo-liberalisme, melalui Public Private Partnership.
Bila dicermati definisi PPPs, seakan kerjasama tersebut adalah solusi….namun
bila dicermati secara mendalam, dan apa yang dihasilkan dari solusi tersebut realitasnya,
tidaklah demikian. Perdefinisi PPPs adalah, “An organizational solution to the challenge
of creating a governance structure to support ongoing collaboration among private
multinational companies, international organizations, philanthropies and sometimes
governments, in pursuit of a shared health-related goal” (World Bank, 2012).
Lebih jauh lagi, pemangkasan wewenangkan dan tanggung jawab tersebut sama
saja pemerintah telah membenarkan dirinya melakukan pengabaian, pelalaian fungsi,
tanggung jawab, dan kewajiban pentingnya. Yang akan menjauhkan penguasa dan
aparatnya dari keridhoaan Allah swt. Tentang hal ini Rasulullah mengingatkan melalui
lisannya yang mulia, yang artinya,”Tidak beriman orang yang tidak bisa menjaga
amanah yang dibebankan padanya. Dan tidak beragama orang yang tidak menepati
janjinya” (HR Ahmad bin Hambal).
Bahaya ketiga adalah terjadinya disorientasi pembangunan layanan
kesehatan. Yaitu penyelenggaraan layanan kesehatan diadakan pemerintah tidak lagi
dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat, tetapi demi kepentingan
kekuasaan, partai, kelompok dan korporasi. Hal ini sebagaimana ditunjukkan suatu
penelitian di Finland. Yaitu bahwa kesejahteraan masyarakat bukanlah alasan yang
dikedepankan pemerintah Finland mengadopsi model clinical contracting out
(Tynkkynen et al., 2012).
Realitas saat ini menunjukkan perilaku penguasa yang berorientasi pada
kepentingan pribadi/kelompok sudah merupakan fenomena jamak pada bangunan
pemerintah corporate state, tak terkecuali di Indonesia. Yang semua itu akan berujung
pada berbagai kezoliman. Ketahulah, penguasa yang zolim adalah orang yang paling
dibenci Allah swt, sebagaimana dinyatakan Rasulullah saw, artinya, “Sesungguhnya
manusia yang paling dicintai allah pada hari kiamat dan yang paling dekat
kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang
paling dibenci allah dan sangat jauh dari allah adalah seorang pemimpin yang zalim.
(HR. Turmudzi)
Layanan kesehatan kian menyengsarakan, inilah bahaya keempat yang pasti
menimpa masyarakat. Hal ini karena penyelenggaraan layanan publik dengan model
PPPs adalah model penyelenggaraan yang rumit. Dinyatakan dalam suatu repor sejumlah
proyek yang di danai oleh EIB (Europe International Bank), “Sebagaimana tergambar
dalam proses penyelenggaraan layanan publik dengan skema PPPs jelas ini model yang
kompleks.
Kompleksitasnya ini biasanya berarti biaya yang lebih tinggi” (Bain, 2009).
Akibatnya harga layanan kesehatan semakin mahal. Hal ini sebagaimana yang telah di
paparkan di atas. Fakta lain adalah penelitian Ontario Health Coalition terhadap 100
proyek PPPs pada berbagai sektor di Canada (Mehra, 2005); mengakibatkan kenaikan
retribusi biaya rumah sakit di Inggris (Hearne, 2006).
Adapun contracting out, pada program sister hospital di NTT, selama 6-9 bulan
AusAID menghabiskan anggaran lumayan besar, Rp 11,5 milyar Rupiah. Sampai kapan
AusAID akan berbaik hati? Siapa yang akan menanggung biaya selanjutnya? Bukankah
masyarakat juga?; Hal yang sama juga perlu dipertanyakan dengan Program "Expanding
Maternal and Neonatal Survival" (EMAS), mengucurkan dana sebanyak $55 million,
untuk masa 5 tahun.
Tidak hanya itu, pelaksanaan PPP yang rumit juga mengakibatkan layanan yang
dibutuhkan masyarakat semakin lambat tersedia, bahkan terjadi kegagalan
penyelenggaraan. Salah bukti nyata tentang itu adalah clinical contracting out yang
gagal direalisasikan di Kabupaten Berau Kalimatan Timur, dalam penyediaan pelayanan
kesehatan di kecamatan terpencil yaitu Puskesmas Kelay tahun 2008 (Triasnantoro dan
Handono, 2008).
Persoalan lain yang juga rawan mucul dalam model layanan PPPs untuk
kesehatan adalah masalah mutu. Diakui model PPP kurang fleksibel dibandingkan
model tradisional, sehingga hanya cocok untuk sektor layanan tertentu yang tidak
membutuhkan tindakan antisipatif dengan frekuensi yang sering (Bain, 2009). Jadinya
akan sangat membahayakan bila diterapkan pada sektor kesehatan, yang membutuhkan
tindakan antisipatif dengan frekuensi tinggi.
Dengan demikian jelaslah, selama pemerintah menjadikan ideologi kapitalisme
sebagai landasan kebijakan, layanan kesehatan yang menyjeahterakan tidak akan pernah
terwujud. Cukuplah buruknya layanan kesehatan saat ini menjadi pelajaran bagi
pemerintah untuk segera kembali pada sistem kehidupan Islam (Khilafah Islam),
sebagaimana ditegaskan Allah swt dalam QS Ar Ruum:41, artinya,”Telah nampak
kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan
kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan
yang benar)”.

Layanan Kesehatan Khilafah Model Terbaik


Negara Bertanggungjawab Penuh, Tidak Hanya Sebagai Regulator dan Fasilitator
Berbeda jauh dengan paradigma ideologi neolib (kapitalisme), Islam
berpandangan pemerintah beserta aparatnya adalah pihak yang paling bertanggungjawab
dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Tanggung jawab ini bersifat penuh, sehingga
tidak boleh asal terselenggara, yang mengakibatkan fungsi dan wewenang
penguasa/Negara tereduksi dan berpindah pada swasta, atau yang lain. Apapun alasannya
Negara tidak dibenarkan dibatasi fungsi dan tanggungjawabnya sebatas regulator dan
fasilitator saja, dan peran penyelenggaran diserahkan pada swasta, atau yang lain. Yang
demikian karena Allah swt telah membebankan tanggung jawab penting lagi mulia ini di
pundak Negara (Khalifah).
Adapun jika pemerintah berkepentingan mengontrak swasta untuk kepentingan
tertentu yang mendesak, aktivitas ini tidak sampai memandulkan dan mereduksi fungsi,
wewenang dan tanggung jawab Negara/Khalifah, sebagaimana yang terjadi pada
kebijakan P3s.
Tentang diamanahkannya tugas penting dan mulia ini pundak Khalifah, secara
jelas dan tegas dapat dipahami dari pernyataan Rasulullah saw, yang artinya,”Imam
(Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah
yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR Al- Bukhari).
Sementara itu, pelalaian sedikit saja amanah mulia ini akan berakibat pada kemudharatan
yang dibenci Allah swt, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang artinya, “Tidak boleh membuat
mudharat (bahaya) pada diri sendiri, dan tidak boleh pula membuat mudharat pada orang lain”.
(HR Ahmad dan Ibnu Majah). Terkait fungsinya sebagai raa’in (pelayan masyarakat), penguasa
adalah pihak yang paling tidak boleh mengakibatkan kemudaharatan terhadap rakyat.

Gratis, Memadai Secara Kuantitas dan Kualitas


Selanjutnya, Islam berpandangan bahwa layanan kesehatan merupakan kebutuhan
pokok publik yang wajib digratiskan Negara pemenuhannya secara langsung. Layanan
kesehatan gratis ini bukanlah berkualitas asal-asalan. Akan tetapi benar-benar berkualitas
secara saintifik, bebas dari kepentingan korporasi, penjajahan dan mengedepankan aspek
insaniah yang dijamin syariat.
Oleh karena itu, layanan kesehatan gratis ini tidak dibatasi oleh faktor apapun,
seperti waktu, jumlah anak, status ekonomi, agama, penyakit tertentu, dan warna kulit.
Namun digratiskan sampai terpenuhi secara sempurna kebutuhan pasien, kapan saja dan
dimana saja dan untuk siapa saja. Karena kesehatan meruapakan kebutuhan setiap insan,
sebagaimana ditegaskan Rasulullah saw melalui lisannya yang mulia, yang artinya,
““Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapai keadaan aman kelompoknya, sehat
badanya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi
miliknya”. (HR Bukhari)
Paradigma layanan kesehatan gratis yang demikian semakin diperkuat oleh
prinsip strategi manajemen penyelenggaraan layanan kesehatan, yaitu kesederhanaan
aturan, kecepatan memberikan layanan yang dibutuhkan dan ditangani oleh individu yang
mampu dan profesional, sebagaimana sabda Rasulullah saw, yang artinya,
“Sesungguhnya Allah swt mewajibkan berlaku ihsan dalam segala hal. Jika kalian
membunuh (melaksanakan qishash) lakukanlah secara ihsan. Jika kalian menyembelih
lakukanlah secara baik/sempurna.” (HR Muslim).
Dengan demikian layanan kesehatan Khilafah selain gratis, juga memadai secara kualitas
dan kuantitas.

Kebijakan yang Implementatif


Paradigma/konsep tentang kewenangan penuh, kemampuan pemerintah mewujudkan
layanan kesehatan gratis yang ihsan bukanlah konsep yang hanya indah di atas kertas, tetapi juga
di tataran realitas. Hal ini karena paradigama tersebut telah dilengkapi Allah swt dengan
sejumlah konsep lain yang bersifat praktis, yaitu:
a. Sistem pemerintahan Islam yang didesain sedemikian rupa sehingga Khalifah memiliki
kepemimpinan yang memadai dan wewenang yang cukup untuk menjalankan tanggung
jawabnya mewujudkan layanan kesehatan yang menyejahterakan semua individu
masyarakat.
b. APBN khilafah, yang membuat Negara memiliki anggaran yang cukup
untuk mewujudkan layanan kesehatan gratis namun berkualitas bagi semua individu
masyarakat.
c. Sistem pendidikan Negara Khilafah, khususnya pendidikan tinggi,
memungkinkan Negara menyediakan para paraktisi kesehatan, sepereti bidan,
dokter anak, dokter spesialis kandungan dll dalam jumlah yang cukup.
d. Sementara itu, politik industri Khilafah memungkinkan Negara memiliki kemandirian
dibidang obat-obatan dan peralatan kedokteran, dan research selalu terdepan.
Pada akhirnya, model manajemen layanan public khilafah benar-benar membuat Negara
mampu mengadakan dan memberdayakan sumber daya kesehatan secara optimal bagi
terwujudnya pelayanan kesehatan yang menyejahterakan masyarakat, tampa harus bergantung
pada pihak swasta ataupun lembaga asing. Hal ini telah menjadi realitas yang terukir indah dalam
catatan sejarah peradaban Islam yang gemilang.
Adapun adanya kelompok atau individu masyarakat yang memiliki kemampuan lebih
sehingga mereka mewakafkan sebagian hartanya untuk memberikan pelayanan persalinan pada
masyarakat, tidak akan sampai membuat Negara melalaikan fungsi dan tanggungjawabnya.
Sungguh kembalinya kehidupan Islam, dengan layanan kesehatannya yang
menyejahterakan suatu yang pasti kembali terjadi, sebagaimana dinyatakan Allah swt dalam QS
An Nuur:55, “Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka
berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka
berkuasa. …”. Allahu A’lam.

Daftar Pustaka.
1. Djasri, H. Pengembangan Regulasi Mutu Pelayanan KIA di RS: antara Daerah Terpencil dengan Daerah dengan Kompetisi
Tinggi. Makalah: Disampaikan pada Seminar Nasional Pengembangan Mutu Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak di RS, 13
April 2011, Gedung Granadi, Jakarta.
2. Triasnantoro, L., Handono, D. Inovasi dalam Pemberian Pelayanan Berdasarkan Kontrak di RSD CutNya’Dien
Kabupaten Aceh Barat dan di Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol 11, No
03 September, 2008. Hal 91-102.
3. KemenKes RI. Asia-Pacific Development Summit 2012: Forum Bagi Kemitraan Strategis Dalam Pencapaian Tujuan
Kesehatan MDGs. http://www.depkes.go.id.
4. Anonim. Report: Strategies for Private Sector Policies and Engagement in Health Makati City, Manila, 14-19 May 2012.
http://www.kki.net.
5. Anonim. Comparative Performance of Private and Public Healthcare System in LMICs: A Systemic Review. 26 Jun 2012.
http://www.globalheathhub.org.
6. Prinja, S. Role of Ideal and Ideologies in Evidence-Based Health Policy. Iranian J Publ Health, Vol: 39, No.
1, 2010, pp. 64-69.
7. Oliver, A. dan Mossialos, E. Equity of access to health care: outlining the foundations for action. J
Epidemiol Community Health 2004: 58: 656-658. http://www.google.co.id..
8. Klein, E. Why an MRI costs $1,080 in America and $280 in France. The Washinton Post, 3 Maret 2012.
http://www.washingtonpost.com.
9. Lowrey, A. Study of U.S. Health Care System Finds Both Waste and Opportunity to Improve. The New
York Times. 11 Sept 2012. http://www.nytimes.com.
10. Campbells, D., Ball, J. and Rogers, S. PFI will ultimately cost £300bn. The Guardian, 5 July 2012.
http://www.guardian.co.uk.
11. Reid, L. Having the courage to manage health care wisely. The Guardian, 22 Sept 2012.
http://www.guardian.co.uk.
12. Woerly, P. Why Australia’s medical system is discriminatory. The Australian, 26 May 2012.
http://www.theaustralian.com.au.
13. Hearne, R. Neo-liberalism, Public Services and PPPs in Ireland. Progress in Irish Urban
Studies, Vol. 2, 2006, pp 1-14.
http://www.publicprivatepartnership.net/documents/Rhearne_PIUS_Vol.2.pdf.
14. Tynkkynen et al. . Framing the decision to contract out elderly care and primary care services-
perspectives of
local level politicians and civil servants in Finland. BMC Health Services Research 2012, 12:201.
http://www.biomedcentral.com/1472-6963/12/201.
15. The World Bank. The many definitions of public-private partnership in the health sector. 29 Februari, 2012.
www.worldbank.org/hnp.
16. Mehra, N. Flawed Failed Abandoned 100 P3s. Canadian and Internasional Evidance.
Maret 2005. http://cupe.ca/updir/Flawed.Failed.Abandoned.P3s.pdf.
17. Khanom, N. A. International Review of Business Research Papers Vol. 6. No. 2. July 2010 Pp. 150-163.
18. Bain, R. Review of lesson from Completed PPP Project Financed by the EIB. May 2009.
http://bankwatch.org/sites/default/files/EIB-PPP-review.pdf.
19. Al Maliki. Politik Ekonomi Islam. Al Izzah. Bogor. 2008
20. Hizbut Tahrir. Ajhizatu Daulatul Khilafah. Hizbut Tahrir. Beirut. 2005.

Depok, Oktober 2012.

*. Penulis adalah Ka Lajnah Mashlahiyah Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia, dan Doktor dalam bidang Ilmu Biomedik.