You are on page 1of 10

Pembiayaan Kesehatan Kapitalis Vs Islam: Universal

Health Coverage Keniscayaan


Oleh:
Rini Safri*
Pendahuluan.
Universal health coverage, merupakan gagasan yang diaruskan secara massive, akhir-
akhir ini. Gagasan yang serasa angin segar, di tengah-tengah kompleksnya persoalan layanan
kesehatan. Yaitu, harga layanan kesehatan yang terus melangit, persoalan kualitas layanan
kesehatan, meningkatnya kasus dugaan mallpraktek, ini di satu sisi. Di sisi lain, kebutuhan
masyarakat terhadap layanan kesehatan berkualitas gratis semakin tinggi, seiring semakin
tingginya angka kesakitan berbagai penyakit, dan tingginya angka penduduk miskin (puluhan
hingga ratusan juta penduduk miskin-hampir miskin) dan biaya hidup yang kian mahal.
Sementara itu, pandangan bahwa tak satupun negara di dunia saat ini yang mampu
menjamin pemenuhan kebutuhan layanan kesehatan bagi semua warga negaranya, kecuali dengan
skema pembiayaan sistem jaminan sosial, telah mengkristalkan suatu pandangan dikalangan
pemikir kesehatan masyarakat dan pemerhati kesehatan. Yaitu pandangan bahwa universal health
coverage hanya akan terwujud dengan sistem jaminan sosial, disamping harapan bahwa dengan
sistem jaminan sosial akan tercegahnya mallpraktek dan ketidakefektifan biaya.
Pandangan tentang pentingnya sistem jaminan sosial untuk mewujudkan universal health
coverage semakin mendapat tempat di benak para pemikir, pemerhati kesehatan dan masyarakat
ketika menguatnya pandangan bahwa Negara memang tak mampu menyediakan anggaran untuk
pembiayaan kesehatan secara cukup, disamping semakin kaburnya gambaran bahwa Negara
bertanggungjawab menjamin terpenuhinya kebutuhan layanan kesehatan berkualitas untuk semua
warga negara, baik kaya maupun miskin.
Di Indonesia skema pembiayaan kesehatan melalui sistem jaminan sosial nasional telah
memiliki payung hukum, yaitu UU No 40/ Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
(SJSN). Namun hingga saat ini masih pro-kontra, yang menjadi salah satu penyebab belum
disahkannya UU Badan Pengelola Jaminan Sosial. Yaitu badan hukum penyelenggara SJSN.
Sebelum terlalu jauh menggantungkan harapan pada SJSN, agaknya perlu dijawab
beberapa pertanyaan berikut ini, yaitu: Apakah akar masalah pembiayaan kesehatan selama ini?
Benarkah skema pembiayaan kesehatan dengan SJSN universal health coverage akan terwujud?
Mengapa pembiayaan kesehatan dengan skema Khilafah, universal health coverage keniscayaan?

Masalah Pembiayaan Kesehatan Yang Serius


Dari tahun ke tahun, APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) yang
dialokasikan untuk pembiayaan kesehatan jauh dari cukup. Pada struktur APBN 2011, alokasi
anggaran untuk pembiayaan kesehatan hanya 26,2 triliun. 1 Jumlah yang jauh dari cukup untuk
menyediakan layanan kesehatan berkualitas bagi penduduk Indonesia yang berjumlah 237,6 juta
jiwa (BPS, 2010). Apa lagi, dari jumlah 26,2 trilyun itu, direncanakan sebagian besar
dialokasikan untuk upaya preventif dan promotif.
Pembiayaan kesehatan yang jauh dari cukup ini tentu berdampak secara langsung
maupun tidak langsung terhadap ketersediaan layanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat,
baik dari segi kuantitas, maupun kualitas. Yang pada akhirnya mengakibatkan belum
terwujudnya universal health coverage, sebagaimana yang kita saksikan saat ini.
Potret yang cukup mewakili atas bermasalahnya pembiayaan kesehatan di Negeri ini
adalah apa yang terjadi di RSCM, yang merupakan rumah sakit rujukan nasional. Setiap bulan
RSCM harus menanggung hutang Rp 24,7 miliar, dengan rata-rata pertumbuhan piutang setiap
bulan Rp 300 juta dari para pasien yang tidak mampu membayar biaya pengobatan.

1
Selain itu, keterbatasan biaya mengakibat ketersediaan layanan jauh dari jumlah yang
dibutuhkan masyarakat. Setiap hari rata-rata jumlah pasien yang mendaftar 2.000 orang, padahal
fasilitas yang tersedia hanya 900 tempat tidur untuk pasien dewasa dan 178 tempat tidur untuk
pasien anak.2
Tidak saja mengakibatkan buruknya aksesibilitas, keterbatasan fasilitas akibat
keterbatasan biaya mengakibatkan buruknya kualitas layanan kesehatan yang diperoleh
masyarakat. Hal ini tercermin dari ungkapan Kepala Unit Pelayanan Pasien Jaminan RSCM Eka
Yoshida, “..Untuk mengakses fasilitas pemeriksaan dengan CT Scan, pasien RSCM harus
menunggu rata-rata 1-2 minggu. “Kalau di rumah sakit lain satu CT Scan hanya melayani 10
pasien per hari, di RSCM alat yang sama dipaksakan untuk melayani sekitar 60 orang per hari,”
kata Eka.”.2
Penggunaan alat kesehatan di luar batas kapasitasnya jelas berakibat fatal terhadap
kesehatan, bahkan nyawa pasien. Karena penggunaan alat dengan cara demikian akan
mengakibatkan penurunan akurasi alat, yang berpeluang menimbulkan kesalahan diagnosis.
Ini belum membahas penderitaan pasien dan keluarga pasien yang harus antri berhari-hari
menunggu giliran mendapat jasa layanan kesehatan yang mereka butuhkan, yang mereka sekitar
80 persen tergolong miskin dan berasal dari luar Jakarta.
Adapun mengapa sampai terjadi jumlah pasien yang membludak di RSCM dijelaskan
Direktur Utama RSCM, Akmal Taher, sebagai berikut, “...Penyebab utama membludaknya pasien
di RSCM karena menerima limpahan pasien dari semua rumah sakit di Indonesia. Sistem rujukan
yang seharusnya dari puskesmas ke RSUD, lalu ke RSUP provinsi, tak berjalan. Semua langsung
menuju RSCM.2
Logika sederhana, untuk apa para pasien dan keluarga pasien bersusah payah RSCM,
bila di Puskesmas tersedia berbagai layanan kesehatan berkualitas yang dibutuhkan secara gratis.
Seperti dokter yang kompeten, obat-obat yang kualitas, tenaga para medis berkualitas, peralatan
medis yang dibutuhkan, dll. Bukankah ketika sakit yang diinginkan si sakit dan keluarganya
adalah cepat sembuh.
Sehingga tidak berlebihan fenomena membludaknya pasien di RSCM sesungguhnya adalah
peringatan betapa bermasalahnya pembiayaan kesehatan di tingkat daerah (Puskesmas, RSUP,
RSUD).
Bukti lain yang menunjukkan betapa bermasalahnya pembiayaan kesehatan di tingkat
daerah adalah tingginya tunggakan yang belum di bayar ke RSCM. Hal ini sebagaimana
diungkapkan Kepala Unit Pelayanan Pasien Jaminan RSCM, Eka Yoshida, “Ada 44 kabupaten
dan kota yang belum membayar hutang ke RSCM. Tunggakan paling besar adalah Kota Bekasi
(Rp 6,6 miliar), Kota Depok (Rp 3,9 miliar), dan Kabupaten Bekasi (Rp 3,5 miliar).” 2Artinya,
persoalannya bukan sekedar tidak berjalannya sistem rujukan karena factor adminitrasi semata,
namun di sana juga ada problem pembiayaan kesehatan.
Adapun pengguna kartu Gakin (Keluarga Miskin) dan yang serupa, juga tak lepas dari
persoalan pembiayaan. Tak jarang mereka juga harus merogoh kantong dalam-dalam. Disamping
sering mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan untuk memperoleh layanan kesehatan
yang mereka butuhkan.3
Sementara itu, pembiayaan layanan kesehatan dengan pendanaan dari lembaga-lembaga
international, seperti UNAIDS (United Nation AIDS), WHO (World Health Organization) ,
GFATM (Global Fund against AIDS, TB and Malaria), USAID (United States Agency for
International Development), lebih mengedapankan kepentingan pemberi dana dari pada upaya
untuk menyehatkan masyarakat.
Sebagai contoh, WHO mengalokasikan dana dengan jumlah yang dianggap berbagai pihak tidak
wajar, yaitu 15 kali lebih besar untuk program penanggulangan HIV/AIDS, bandingkan untuk
TB, Malaria, busung lapar yang menempati tiga urutan teratas. Sementara HIV/AIDS berada
pada urutan dibawahnya (Majalah Times, 2006).4

2
Disamping itu, sebagai pihak penerima bantuan, yang posisi tawarnya lemah, suka-
terpaksa menjalankan program penanggulangan penyakit yang telah dirumuskan pihak donor,
tampa sempat menelaah terlebih dahulu apakah program penanggulangan yang dijalankan benar-
benar akan menyehatkan masyarakat. Padahal dalam kenyataannya program tersebut justru
menfasilitasi penularan penyakit. Seperti program Harm Reduction dalam penanggulangan
HIV/AIDS.5
Contoh yang lain adalah standar penegakkan diagnosis dalam program penanggulangan TB,
dengan pemeriksaan sputum BTA, yang kepekaannya hanya 62%, 6 lama pemeriksaan 2 hari.
Sementara itu ada banyak standar penegakkan diagnosis yang lebih tepat dan cepat, misal dengan
metode kultur, atau automated moleculer test for MTB (Mycobacterium Tuberculosis) and
Resistance to Rifampin, dengan sesitifitas 98, 2% dan lama pemeriksaan: kurang dari
dua jam.7 Namun dengan alasan keterbatasan dana, WHO tetap merekomedasikan pemeriksaan
sputum BTA dalam program penanggulangan TB hingga saat ini.

Karena Pembiayaan Kesehatan Kapitalistik


Pemerintah, berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No 13 Th 2009 tentang jenis dan tarif
penerimaan negara bukan pajak yang berlaku pada departemen kesehatan, telah menetapkan
harga yang harus dibayar masyarakat untuk setiap layanan kesehatan yang diperolehnya.
Misal, tarif pendaftara (per karcis) Rp 5000, tindakan gawat darurat paru Rp.30.000 per tindakan;
manthoux test Rp 30.000 permeriksaan, tindakan medis terapi punksi pleura apirasi Rp 180.000,
pemeriksaan laboratorium urin lengkap Rp 12.000 per periksaan, pemeriksaan laboratorium gula
darah puasa Rp 18.000 per pemeriksaan. Dan tarif untuk pelayanan pengujian kalibrasi alat
kesehatan per pemeriksaan dengan diathermy RP.149.000; USG (ultrasonograph) Rp.217.000;
sphymomanometer/tensimeter Rp 65.000; anaesthesi tanpa liquid Rp 260.000; anaesthesi dengan
liquid Rp 1.468.000; CT- Scan Rp.680.000; haemodialisa Rp 149.000; electro surgery unit Rp
253.000; dental unit Rp 120.000;infusion pump Rp. 203.000; dental X-Ray Rp 413.000.8
Ini salah satu bukti bahwa pembiayaan kesehatan di Negeri ini bersifat kapitalistik. Yaitu
pemerintah yang seharusnya menggratiskan layanan kesehatan bagi masyarakat, justru
menjualnya dengan harga yang tidak murah. Ini bila dibandingkan dengan pendapatan
masyarakat terkategori miskin dan setengah miskin, dengan pendapatan perhari sedikit lebih
besar dari Rp.20.000.
Fakta lain yang membuktikan pembiayaan kesehatan kapitalistik adalah ketika rumah
sakit-rumah sakit pemerintah yang seharusnya menggratiskan layanan kesehatan bagi semua
masyarakat, karena ketidakcukupan biaya dari Negara, justru menjual layanan kesehatan kepada
masyarakat. Ruang Rawat Gedung A RSCM, misalnya, berdasarkan keputusan direksi no
17373/TU.K/34/XII/2010 pertanggal 1 Januari 2010, kelas III dikenai tarif (baca:dijual) Rp
83.000 semalam, tarif kamar Rp 68.000 dan tarif dokter Rp 15.000; kelas II dikenai tarif Rp
250.000 semalam, tarif kamar Rp. 190.000 dan tarif dokter Rp60.000; rawat khusus 4 bed dikenai
tarif Rp.450.000 semalam, tarif kamar Rp.250.000 dan tarif dokter Rp 200.000; kelas HCU
dikenai tarif Rp. 1.200.000 semalam, tarif kamar Rp1.000.000 dan tarif dokter Rp.200.000; rawat
khusus Lt 3 ( 2 bed) semalam dikenai tarif Rp.700.000, tarif kamar Rp.500.000 dan tarif dokter
Rp. 200.000; rawat khusus lt 3 (1 bed) dikenai tarif Rp.950.000 semalam, tarif kamar Rp 750.000
dan tarif dokter Rp200.000; Rawat khusus Lt 1 dikenai tarif Rp.1.400.000 permalam, tarif kamar
Rp1.200.000 dan tarif dokter Rp200.000; troke unit ( 2 bed) dikenai tarif Rp700.000 semalam,
tarif kamar Rp500.000 dan tarif dokter Rp200.000; stroke unit (1 bed) dikenai tarif Rp950.000
permalam, tarif kamar Rp750.000 dan tarif dokter Rp.200.000. 9
Di Rumah Sakit Daerah, Ciawi, berdasarkan perda nomor 35 tahun 2008, layanan
kesehatn dijual kemasyarakat dengan harga sebagai berikut: rawat inap kelas VIP Rp. 500.000 per
hari, yang meliputi jasa sarana Rp. 350.000 dan jasa layanan Rp 150.000; kelas utama Rp

3
350.000 per hari, yang meliputi jasa sarana Rp 250.000 dan jasa layanan Rp.100.000; kelas utama
B Rp 225.000 per hari, yang meliputi jasa sarana Rp 150.000 dan jasa pelayanan Rp.75.000; jasa
pelayanan per R/jenis obat Rp.200, obat racikan per R/jenis obat Rp 500. Tarif pelayanan abulan
dengan jarak tempuh sampai 10 kilo meter Rp 40.000, sampai 20 kilo meter Rp 50.000, sampai
30 kilo meter Rp 60.000, sampai 40 kilo meter Rp 70.000, lebih dari 40 kilo meter dikenakan
biaya tambahan Rp 10.000 per kilo meter. Ini semua belum termasuk harga bahan bakar, biaya
tol, sopir, dan perawat pendamping ambulans.10
Adapun di Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad Pekanbaru, per 14 April 2010, per
hari: kamar VIP (1 orang) harganya Rp 200.000, harga visite Rp 60.000; kelas I (2 orang), harga
kamar Rp 125.000 dan harga visite Rp.40.000; kelas II ( 4 orang), harga kamar Rp 45.000, dan
harga visite Rp 10.000; kelas III (6-8 orang), harga kamar Rp 20.000, dan harga visite Rp.5000.
Harga ini belum termasuk obat dan bahan habis pakai lainnya. Tarif persalinan untuk kelas III,
kelas II, IRD, Kelas I, Kelas Utama, masing-masing berturt-turut: manual placenta: Rp 100.000,
Rp 200.000, Rp 300.000, Rp 400.000; curetage: Rp 100.000, Rp 100.000, Rp 200.000, Rp
300.000, Rp 400.000, partus spontan: Rp.100.000 Rp.200.000 Rp.300.000 Rp.400.000; indusksi
persalinan Rp.125.000 Rp.250.000 Rp.400.000 Rp.500.000; manual aid: Rp.150.000 Rp.300.000
Rp.500.000 Rp.600.000; vakum Rp.200.000 Rp.400.000 Rp.600.000 Rp.700.000.11
Di kota Semarang, pelayanan kesehatan di Puskesma dibebankan biaya administrasi
Rp.10.000 per pasien, pemerikasaan fisik dan obat Rp 5.000, pengambilan kista Rp 90.000,
penyakit kategori sedang Rp 60.000, ringan Rp.25.000, dan sederhana Rp 10.000, tindakan medik
gigi kategori berat Rp 55.000, sedang-ringan Rp 15.000-Rp 40.000.12
Adapun pendapat sebagian ahli kesehatan, bahwa tidak ada salahnya layanan kesehatan
ditarif, sekalipun yang memilikinya pemerintah, asalkan untuk tujuan meningkatkan ketersediaan
dan kualitas layanan kesehatan, dan bukan untuk tujuan komersial.
Faktanya, ketika Negara tidak menyediakan anggaran yang cukup untuk menjamin terpenuhinya
layanan kesehatan gratis bagi semua warga negara, dengan sendirinya Negara membenarkan
layanan kesehatan, yang merupakan kebutuhan dasar dikomersialisasikan. Hal ini terlihat dari
hampir semua layanan rumah sakit pemerintah berlomba-lomba menyediakan layanan kesehatan
dengan kualitas prima, untuk menjaring pasien berduit, sementara untuk pasien miskin,
disediakan layanan kesehatan jauh dari sebutan berkualitas.
Pembiayaan kesehatan kapitalistik juga terlihat dari tindakan Negara yang mempajaki
obat, alat kesehatan,13 dan jasa dokter,14 yang seharusnya digratiskan Negara.
Adapun adanya pembebanan pajak (PPN: Pajak Pertambahan Nilai) sebesar 10%, sebagaimana
yang tercantum dalam surat Keputusan Menteri Keuangan No. 402/KMK03/2002. Yaitu bahwa
setiap Rumah Sakit yang ada instalasi Farmasinya yang menyerahkan obat-obatan pada pasien
rawat jalan harus memungut PPN 10%. Ini berlaku untuk obat paten maupun obat generik hingga
sekarang.15

Disitir Imperium Kapitalis Global.


Bagaimanapun, arah pembiayaan kesehatan Negara yang kapitalistik ini tak dapat
dilepaskan dari dominasi WTO (World Trade Organization), IMF (International Monetery Fund),
WB (World Bank). Yang merupakan lembaga sangat berkuasa dalam menentukan keputusan
yang sangat penting tentang perdagangan dan kebijakan ekonomi negara yang menjadi target
penjajahan Negara-Negara adidaya (AS, Uni Eropa dan Canada). Dinyatakan sebagai berikut,
"Suspicion is growing that national governments are no longer in the driving seat-that most
crucial decisions on trade and economic policy are being made in the boardrooms of
multinational corporations and round the table at the World Trade Organisation."16
Lebih jauh lagi, liberalisasi layanan kesehatan merupakan salah satu yang termaktub
dalam GATS (General Agreement Trade and Services),17 sebagaimana dinyatakan, “The GATS
was first brokered in 1994 as part of the much older General Agreement on Tariffs and Trade

4
signed in 1948. According to the WTO, the GATS agreements cover 160 services' sectors
including telecoms, transport, distribution, postal services, real estate, insurance, construction,
environment, tourism and entertainment. What few people realised when the deal was first done
is that the GATS also includes healthcare, education, housing, water, waste management and
other basic services usually run by government agencies.”18
Disamping itu, Negara Indonesia sendiri telah memberi jalan legal bagi berkuasanya
korporat dibidang layanan kesehatan. Yaitu dengan adanya UU No 25 Tahun 2007 tentang
Penanaman Modal yang kemudian diturunkan dalam peraturan Presiden No 77 Tahun 2007
tentang daftar negatif investasi.
Dan kondisi pembiayaan layanan kesehatan yang megap-megap, sebagaimana dijelaskan
di atas, adalah incaran empuk korporat multinasional. Hal ini dialami Ibu dr. Siti Fadilah Supari
PhD, ketika menjadi MenKes RI. Beliau ditawari apa yang beliau sebut cukong luar negeri.
Agar Beliau mau menjual RSCM dan Rumah Sakit Fatmawati, yang kemudian beliau tolak
dengan kalimat yang berkesan,“....saya lebih tertarik komisi dari Tuhan”. 18
Sebagai gambaran betapa mahalnya tarif layanan kesehatan di tangan korporat, terlihat
dari tarif layanan kesehatan di salah satu rumah sakit swasta. Yaitu tarif jasa dokter umum
berkisar Rp 35.000-Rp65.000, dr.spresialis Rp.60.000-Rp135.000.19 Ini belum harga obat, dan
lain-lain yang dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan. Bandingkan dengan pendapatan 100 juta
penduduk Indonesia yang hanya Rp 20.000 perhari. Dimana kenaikan daya beli masyarakat
hanya 0,9% sejak tahun 1996, sementara inflasi 967,9%. 20
Adapun biaya yang berasal dari lembaga-lembaga seperti WHO, GFATM, UNAIDS,
tentu juga tak lepas dari karakter pembiayaan yang kapitalistik,. Sekalipun digratiskan,
sesungguhnya apa yang harus kita bayar jauh lebih besar dari apa yang kita dapatkan. Karena
dinyatakan sebagai berikut, “Bantuan luar negeri merupakan suatu metode AS untuk
mempertahankan kedudukannya yang berpengaruh dan memiliki fungsi pengawasan di seluruh
dunia…”(Magdoff, The Age of Imperialism).

SJSN Setali Tiga Uang


Adapun skema pembiayaan kesehatan dengan asuransi, baik perusahaan asuransi milik
pemerintah maupun swasta, hakekatnya juga skema pembiayaan pasar (kapitalistik). Karena
perusahaan asuransi hanya akan membayarkan layanan kesehatan kepada peserta asuransi saja.
Sedangkan kepesertaan sebagai anggota asuransi, hanyalah bila membayar sejumlah tertentu uang
kepada perusahaan asuransi (premi).
Bukti lain, bahwa asuransi juga mengkomersilkan layanan kesehatan adalah, adanya
kelas-kelas layanan sesuai dengan besarnya premi yang dibayarkan tiap bulan. Sebagaimana
umumnya perusahaan, hitung-hitung selalu dikedepankan dari pada pelayanan. Sehingga, tak
jarang para peserta asuransi kesehatan harus membayar lagi layanan kesehatan yang dibutuhkan,
karena di luar platform asuransi. Kisah seorang pemegang kartu Askes, sebagaiman dituturkan
YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), bahwa seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil)
terlantar dan akhirnya menemui ajal karena kartu Askes tidak menjamin perawatan untuk
penyakit yang sedang ia derita.21
Adapun jaminan kesehatan, merupakan salah satu unsur yang termasuk dalam SJSN,
sebagaimana tercantum dalam pasal 19a, UU No 40/2004, tentang SJSN. Dan jaminan kesehatan
yang dimaksud adalah asuransi kesehatan..22 Sifatnya sebagai jaminan (baca: asuransi) sosial
nasional, dengan sendirinya menjadikan setiap orang wajib menjadi anggota asuransi kesehatan
dibawah payung hukum SJSN.
Sebagaimana diketahui, kepersertaan menjadi anggota asuransi berkonsekuensi untuk
membayar sejumlah premi, sebagai pra syarat untuk memperoleh layanan kesehatan yang
dibutuhkan dari badan penyelenggara jaminan sosial, yang diantaranya adalah Persero Asuransi
Kesehatan Indonesia (Bab III, Pasal 5, butir 3d, UU No 40/2004, tentang SJSN). 22 Pasal-pasal

5
ini, jelas menunjukkan sesungguhnya jaminan (baca:asuransi) kesehatan melalui payung hukum
UU No 40/2004 tentang SJSN, hakekatnya juga pembiayaan kesehatan yang kapitalistik. Yaitu
rakyat tetap harus membeli layanan kesehatan yang seharusnya ia peroleh secara gratis dari
Negara.
Pembiayaan kesehatan di bawah payung SJSN hakekatnya juga kapitalistik, semakin
jelas pada pasal 17, ayat 1, 2, dan 3. Ayat (1) Setiap peserta wajib membayar iuran yang
besarnya ditetapkan berdasarkan persentase dari upah atau suatu jumlah nominal tertentu;
Ayat (2) Setiap pemberi kerja wajib memungut iuran dari pekerjanya, menambahkan iuran
yang menjadi kewajibannya dan membayarkan iuran tersebut kepada Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial secara berkala. ..... Pasal 17 ini kemudian menjadi pasal yang mendapat
perhatian serius dari para ahli pada sidang pengujian UU No 40/2004 tentang SJSN, Rabu 16
Maret yang lalu. Kalimat “Semua peserta diwajibkan membayar iuran”pada pasal 17 ayat 1, UU
No 40/2004, tentang SJSN, menurut saksi ahli, Ibu dr. Siti Fadilah Supari, PhD, dapat diartikan,
yang berhak mendapat layanan kesehatan dari pemerintah melalui skema SJSN hanyalah yang
menjadi anggota.20 Jika tidak, maka ia harus membeli dengan harga mahal, bagaimanapun
kondisi perekonomiannya.
Perlu digaris bawahi, bahwa apa yang disebut-sebut sebagai universal health coverage
bukan berarti otomatis semua peserta jaminan sosial nasional memperoleh semua layanan
kesehatan yang dibutuhkan. Hal ini karena ada perbedaan makna tentang universal health
coverage itu sendiri. Ada yang berpendapat jika semua sudah diimunisasi, maka sudah
terkategori universal helath coverage; pandangan lain, jika semua sudah memperoleh layanan
kesehatan dasar, maka sudah terwujud universal health coverage; dan ada pula yang berpendapat
universal health coverage disesuaikan platform asuransi.
Karena itu, di Negara-Negara yang menggunakan skema pembiayaan kesehatan
berdasarkan asuransi sosial, seperti di AS, Inggris, Malaysia, rakyat yang telah membayar
sejumlah iuran wajib tetap harus membeli layanan kesehatan yang dia butuhkan, karena tidak
semua layanan kesehatan yang dibutuhkan tercover sistem jaminan sosial. Tak jarang pula item
ini harganya lebih mahal.
Lebih jauh lagi, SJSN justru akan semakin mengokohkan hegemoni imperium
kapitalisme global di Indonesia. Karena Pasal 17, sesungguhnya bermakna, Negara menyerahkan
sepenuhnya pemenuhan kebutuhan rakyat terhadap jaminan kesehatan kepada korporasi.
Padahal pada pasar di era globalisasi, bukan sekedar lokus pertemuan penawaran dan permintaan,
akan tetapi menjadi tempat pengemban semangat kerakusan dan predatorik bagi global financial
tycoons atau kaisar-kaisar finansial global, yang pasti merongrong hak sosial rakyat kita melalui
badan-badan usaha asuransi.…”, demikian Prof. Dr. Edi Swasono. 20
Selain itu, sejak awal kelahirannya, UU No 40/ 2004 tentang SJSN, dibidani kelahirannya
oleh World Bank dan Asia Development Bank. Dua lembaga keuangan multilateral yang trade
recordnya dikenal sebagai lembaga yang berandil besar menghasilkan perundang-undangan dan
kebijakan yang mengokohkan hegemoni kapitalisme global di Indonesia. Dan Friedrich Eber
Stiftung Indonesia, adalah salah satu penyelenggara sosialisasi SJSN di Indoensia.

Pembiayaan Kesehatan Islam: Universal Health Coverage


Sesungguhnya Keniscayaan.
Rasulullah saw, dalam kapasitasnya sebagai Khalifah, di Madinah, telah mewujudkan
universal health coverage, yaitu semua layanan kesehatan (tidak hanya layanan kesehatan
tertentu) digratiskan untuk semua warga negara dengan kualitas prima. Kaya-miskin, muslim-
kafir, mendapatkan haqnya secara adil (equity). Kondisi ini berlangsung sepanjang masa
pemerintahan Khilafah Islam.21,22
Salah satu petikan sejarah tentang terwujudnya universal health coverage yang mengagumkan
adalah pada masa Khalifah Nuruddin di Damaskus, tahun 1160. Pada masa ini terdapat rumah

6
sakit (bimaristan), dengan layanan kesehatan (perawatan dan obat-obatan) digratiskan bagi
seluruh warga yang membutuhkannya. Cahaya ini bersinar selama 267 tahun. 21,22
Tidak hanya kaum muslimin yang menjadi saksi atas peradaban yang agung ini, juga non
Muslim. Misalnya, Gomar, salah seorang pemimpin pada masa Napoleon selama perang yang
dilancarkan Prancis uintuk menaklukkan Mesir (1798-1801). Digambarkannya fenomena telah
terwujudnya universal coverage sebagai berikut,”Semua orang sakit biasa pergi ke Bimaristan
(rumah sakit) bagi kaum miskin dan kaum kaya, tanpa perbedaan.”
Penting digaris bawahi, Universal health coverage, yang gratis bukanlah dengan kualitas
asal-asalan, sebagaimana layanan kesehatan “gratis” yang kapitalistik Selanjutnya,
dijelaskannya,”Dokter berasal dari banyak tempat di wilayah Timur dan mereka di bayar dengan
baik. Ada apotik yang penuh dengan obat-obatan dan peralatan medis, dengan dua perawat yang
melayani setiap pasien. Bagi pasien dengan gangguan fisik dan kejiwaan diisolasi dan dirawat
secara terpisah, dihibur dengan cerita dari orang-orang yang telah sembuh.....Setiap pasien yang
telah selesai dirawat diberikan lima keping uang emas, sehingga dapat beristirahat dengan baik
setelah meninggalkan rumah sakit.”22
Primanya kualitas layanan kesehatan gratis yang diberikan, digambarkan oleh Prisse
D’Avennes, sebagai berikut,”Kamar-kamar pasien terasa dingin karena menggunakan kipas besar
yang terpasang dari satu sisi ruang hingga ke sisi yang lain, atau terasa hangat karena parfum
yang dihangatkan. Lantai-lantai kamar pasien itu ditutupi oleh cabang-cabang (hinna) pohon
delima atau pohon aromatik lainnya.”22
Suasana rumah sakit yang sungguh menyenangkan itu, tak heran bila menggoda orang
yang sehat untuk merasakan kebaikannya. Dalam catatan yang lain, ada seorang yang tidak sakit
mengunjungi rumah sakit, sang “pasien”pun diberikan “pelayanan kesehatan berkualitas” yang
gratis ……., hingga kemudian sang “pasien” dinyatakan “sembuh” dan dibekali ongkos untuk
pulang.22
Terwujudnya universal health coverage, yaitu jaminan terpenuhinya semua kebutuhan
layanan kesehatan yang dibutuhkan seluruh warga negara, secara gratis dan dengan kualitas
prima, adalah keniscayaan. Hal ini dikarenakan Islam memandang kesehatan sebagai kebutuhan
pokok semua manusia, tidak hanya yang miskin, tetapi juga yang kaya, muslim maupun bukan,
sebagaimana sabda Rasulullah saw, yang artinya, “Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari
mendapai keadaan aman kelompoknya, sehat badanya, memiliki bahan makanan untuk hari itu,
maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya”.
Sementara itu, jaminan terpenuhinya semua kebutuhan layanan kesehatan yang
dibutuhkan seluruh warga negara, secara gratis dan dengan kualitas prima, merupakan upaya agar
semua warga negara terbebas dari berbagai serangan penyakit yang dideritanya. Yang Islam
memandang upaya ini sebagai salah satu urusan kemaslahatan rakyat yang terbesar. Karena jika
tidak dipenuhi menimbulkan kemudharatan yang besar pula.
Dan Allah swt telah memberikan tanggung jawab mengurusi kemaslahatan rakyat kepada Negara.
Hal ini sebagaimana dicanangkan melalui lisan yang mulia Rasulullah saw, artinya,”Imam
(Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah
yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR Al- Bukhari).
Kewajiban yang telah diamanahkan Allah swt kepada Negara, tentu tidak akan dapat
dipikul oleh individu, masyarakat, organisasi sosial, badan-badan usaha, betapapun hebatnya. Jadi
sekalipun masyarakat bersedia menanggung beban pembiayaan kesehatan melalui SJSN, atau
melalui badan hukum seperti badan layanan umum, atau kepada perusahaan, niscaya tidak akan
terlaksana sebagaimana mestinya, bahkan yang terjadi kezoliman, sebagaimana bisa kita lihat
faktanya saat ini. Maha suci Allah swt, Yang Maha Bijaksana, Dialah sebaik-baiknya pembuat
aturan, sebagaimana dicanangkan Allah swt dalam QS Al Maaidah (5): 50, yang artinya, “Apakah
hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada
(hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?’

7
Adapun bila penguasa tidak berusaha secara serius menyediakan pembiayaan kesehatan
menjamin pemenuhan kebutuhan layanan kesehatan berkualitas bagi semua warga negara, maka
penguasa telah melalaikan amanah yang diberikan Allah swt kepadanya, apalagi bila Negara
sengaja mengkomersilkan dan menggadaikannya pada musuh Islam.
Tambahan pula, tidak adanya jaminan pemenuhan kebutuhan layanan kesehatan
berkualitas bagi semua warga negara jelas menimbulkan berbagai bahaya bagi masyarakat,
sebagaimana yang kita saksikan saat ini. Dan menimbulkan bahaya (mudharat) jelas perbuatan
maksiat, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas, beliau berkata, bersabda Rasulullah saw yang
artinya, “Tidak boleh membuat mudharat (bahaya) pada diri sendiri, dan tidak boleh pula
membuat mudharat pada orang lain”.(HR Ahmad dan Ibnu Majah); Rasulullah saw bersabda,
yang artinya, “Siapa saja yang membuat mudharat (celaka) orang lain, maka Allah membuat
celaka orang itu. Dan siapa saja yang membuat orang lain susah, maka Allah akan membuat
orang itu susah.” (HR Ibnu Majah, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dan Ahmad).
Dan membiarkan layanan kesehatan dikuasai multinasional korporat, lembaga-lembaga
internasional, yang hakekatnya membawa visi dan misi penjajahan sama saja membiarkan
masyarakat dijajah. Dan ini juga perbuatan maksiat, apa lagi dilakukan penguasa, yang
seharusnya melindungi masyarakat dari segala bentuk penjajahan, sebagaimana firman Allah swt
dalam QS an Nisa’ (4): 141, yang artinya, “Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada
orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang mukmin”. Ayat ini menegaskan pula bahwa
karakter Negara Khilafah, adalah Negara yang anti penjajahan, yang menutup segala celah bagi
terjadinya penjajahan di semua aspek kehidupan termasuk kesehatan.
Dengan demikian Negara wajib menyediakan anggaran yang cukup sehingga tenaga medis, para
medis, rumah sakit, peralatan kedokteran, laboratorium dan obat-obat tersedia secara cukup untuk
menjamin terpenuihinya semua kebutuhan layanan kesehatan bagi semua warga, gratis tetapi
berkualitas prima.
Faktor penting lain mengapa universal health coverage yang sesungguhnya niscaya
terwujud dalam sistem kehidupan Islam, khilafah Islam adalah karena Khilafah sebagai institusi
politik telah didesain Allah swt memiliki struktur, yang memungkinkan Negara menggratiskan
layanan kesehatan berkualitas untuk semua masyarakat, tampa hutang, tampa bersandar pada
lembaga keuangan seperti ADB, WB. Diantara struktur tersebut adalah baitul mal, yaitu APBN
(Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) dengan sumber-sumber pemasukan dan pos
pengeluaran yang sesuai syariat.24,25
Pemasukan APBN Negara Khilafah yang dibenarkan syariat untuk pembiayaan layanan
kesehatan tersebut antara lain berasal dari harta milik umum, yaitu harta yang Allah swt
menjadikan kepemilikannya bagi seluruh kaum muslimin, dan kaum muslimin bersama-sama
menggunakannya, yang dikelola pemanfaatannya oleh Negara. Rasulullah saw bersabda, yang
artinya, “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput dan api”(HR Abu
Dawud), dan dalam riwayat lain, Rasulullah saw bersabda, yang artinya,”Manusia berserikat
dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput dan api”.
Intrumen ini (pemasukan APBN dari harta milik umum) tidak akan pernah ada dalam
sistem pembiayaan kesehatan yang bersifat kapitalistik. Hal ini karena sistem kehidupan
kapitalis, telah melegalkan kepemilikan umum dikuasai individu, dan mengandalkan pemasukan
dari penarikan pajak, yang semua itu mengakibatkan kezoliman yang tiada tara di tengah-tengah
masyarakat. Dan Islam telah mengharamkan mempajaki warga negara Islam atas apa saja.
Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir, bahwa dia telah mendengar Rasulullah saw bersabda, yang
artinya,”Tidak akan masuk surga, orang yang memungut bea cukai.” (HR Ahmad, Abu Dawud
dan Hakim).
Adapun kekayaan milik umum yang ada di negeri ini bila dikelola sesuai syariat,
subhanallah, sungguh lebih dari cukup untuk membiayai semua layanan kesehatan yang
dibutuhkan masyarakat secara gratis dan kualitas prima. Yaitu jumlah pos penerimaan APBN
1176, 3 juta Dinar, yang setara dengan Rp 1.764, 45 Trilliun, kurs dinar yang merupakan emas 22

8
karat seberat 4,25 gram adalah Rp 1. 500.000 per Dinar. Sementara itu, untuk pembiayaan
kesehatan (upaya kuratif) hanya dibutuhkan 55, 8 Dinar, yang setara dengan Rp 83, 7 Triliun. 28
Semua pembiayaan ini dialokasikan dokter, gaji dokter, penyediaan sarana dan prasana untuk
layana kesehatan, dan lain-lain yang dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan yang berkualitas
prima bagi semua warga negara.
Adapun anggaran untuk upaya preventif dan promotif, sudah termasuk dalam pembiayaan
pengentasan kemiskinan, dan mashlahat vital dan maslahat lain-lain. 28
Lebih jauh lagi, beban biaya yang harus disediakan Negara untuk pembiayaan kesehatan
akan semakin ringan, seiring dengan dibebaskannya semua komponen layanan kesehatan dari
aspek kapitalisasi. Yang menyebabkan arah riset obat-obatan dan berbagai sarana medis, serta
produksinya ditentukan sesuai keinginan korporasi demi meraup keuntungan sebesar-besarnya.
Beban biaya kesehatan Negara semakin bertambah murah pula dengan semakin
sedikitnya masyarakat yang sakit. Hal ini karena penerapan syariat Islam secara kaafah dalam
bingkai Khilafah merupakan aspek perventif dan promotif. Yaitu dengan terwujudnya pola
makan, pola aktivitas, pola emosi yang sehat (baca:sesuai syariat). 29
Jadi tidak benar, bila biaya kesehatan gratis, masyarakat menjadi tidak peduli dengan
kesehatanya. Karena kesehatan merupakan bagian yang menyatu dengan aqidah Islam,
Kehidupan Islam, Khilafah Islam. Dan tidak benar pula bila pengelolaan layanan kesehatan
dengan uang berasal dari kas Negara oleh pihak pemerintah mengakibatkan layanan kesehatan
yang diperoleh masyarakat tidak berkualitas. Juga tidak benar, bila kesehatan gratis, para dokter
tidak digaji secara layak. Dan paling penting dari semua itu, sistem kehidupan Islam, hanya
dengan kembali kepada pangkuan kehidupan Islam, Khilafah Islam, universal health coverage
yang sesungguhnya menjadi kenyataan.

Himbauan
Dengan demikian, sungguh tidak ada pilihan lain, kecuali kembali pada kehidupan Islam,
Khilafah Islam. Bukan hanya untuk mewujudkan universal coverage dan equity layanan
kesehatan, tetapi kembali kepada kehidupan Islam adalah kewajiban yang diamanahkan Allah swt
kepada kita semua, sebagaimana firman Allah swt dalam QS 5: 49, yang artinya, “Hendaklah
kamu memutuskan perkara di anatara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan, janganlah
kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah terhadap mereka supaya mereka tidak
memalingkan kamu dari sebagaian wahyu yang telah Allah turunkan kepadamu.”
Sementara itu, terwujudnya universal coverage dan equity keniscayaan yang pasti terwujud,
ketika Khilafah Islam tegak kembali, sebagaiman firman Allah swt dalam QS Al Anbiya (21):
107, yang artinya,”Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi
semesta alam”.
Allahu a’lam.

Daftar Pustaka.
1. Anonim. Anggaran Kesehatan Belum Sesuai Amanat Undang-Undang. Tempo Interaktif: Jumat, 20 Agustus, 2010. 13:57
WIB. http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2010/08/20/brk,20100820-272733,id.html.
2. Anonim. Jaminan Kesehatan Masyarakat Belum Cukup. Harian Kompas, Kamis, 3 Maret 2011.
3. Anonim. Hasil Citizen Report Card ICW, 2009. http://www.antikorupsi.org/antikorupsi/?
q=system/files/hasilcrcCitizenReportCardkesehatan2010.pdf.
4. Colondom, V. HR, Oprtunistis atau Pragmatis? Media Indonesia, 1 maret 2008.
5. Rini, Rofiah, S., Prastuti, W. Selamatkan Generasi dari Bahaya HIV-AIDS. ForMi-t.
Jakarta. 2008.
6. Dhingra,V.K., Aggarwal, N., Rajpal, S., Aggarwal, J. K., dan Gaur , S.N. Validity and Reliability of Sputum Smear
Examination as Diagnostic and Screening Test for Tuberculosis. Indian J Allergy Asthma Immunol 2003; 17(2) : 67-69.
http://medind.nic.in/iac/t03/i2/iact03i2p67o.pdf.
7. Boehme, C. C., Nabeta, P., Hillemann, D., et al. Rapid moleculer detection of
tuberculosis and rifampin resistance. N Engl J Med. Sep. 1, 2010.

9
8. Anonim. Peraturan Pemerintah RI No 13 Th 2009 Tentang Jenis dan Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku
Pada Departemen Kesehatan. Mentri Hukum dan HAM RI. 2009. http://www.bpkp.go.id/unit/hukum/pp/2009/013-09.pdf.
9. Anonim. INformasi Tarif: Tarif Ruang Rawat Gedung A- RSCM.
http://rscm-gedunga.com/index.php?option=comcontent&view+category&id+36&itemid=54
10. Anonim. Retribusi Pelayanan Rumah Sakit Ciawi Di Sesuaikan. http://brsdciawi.bogorkab.go.id/index.php?
option=com_content&task=view&id=101&Itemid=9.
11. Anonim. Daftar Tarif Pelayanan RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Rabu, 14 April 2010.
http://humasonlinersudpekanbaru.blogspot.com/2010/04/daftar-tarif-pelayanan-rsud-arifin.html.
12. Kesra. Biaya Berobat Puskesmas Naik. 16 Juni 2010.
http://www.menkokesra.go.id/content/biaya-berobat-puskesmas-naik.
13. Anonim. Keputusan Presiden RI Nomor 37 Tahun 1998
tanggal 9 Maret 1998, atas impor alat-alat kesehatan tersebut tetap terutang PPN.
http://duniapajak.com/peraturan-pajak/permohonan-pembebasan-ppn-atas-impor-alat-alat-
14. Anonim. Penghitungan PPH Pasal 21 Atas Jasa Dokter Yang Praktek di Rumah Sakit/Klinik.
http://duniapajak.com/content/penghitungan-pph-pasal-21-atas-jasa-dokter-yang-praktek- di-rumah-sakit-klinik.
15. Ramdhani, A. , A. Harga Obat Paten Mulai Dinaikkan. Tempo Interaktif.
Selasa, 22 Februari 2011. 10:37 WIB.
http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2011/02/22/brk,20110222-15098,id.html.
kesehatan-rumkital-dr-ramelan.
16. Conor Mc Loughlin. Tax, WTO and GATS. New Scientist Editorial June 9th
2001.http://www.struggle.ws/anarchism/fight/global.htmlBin.
17. Pollock, A. M., Pice, D. The WTO and Privatisation of Health Care Systems.
Lancet 2000; 356: 1995-2000. http://www.healthp.or/node/95.
18. Miftachul Chusna-Sindo. Menkes Dibujuk Cukong Luar Negeri Agar Jual
RSCM. Senin, 13 Oktober 2008-16:34 wib.
19. Anonim. Informasi Tarif Hermina Hospital Group Tahun 2010. http://www.rsiahermina.com/fbox/index.php?
fuseaction=tarif.
20. Mahkamah Konstitusi. RI. Risalah Sidang Perkara No 50/PUU-VIII/2010 Perihal Pengujian UU No 40/Tahun 2004
Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional Terhadap UUD 1945. Acara: Mendengarkan Keterangan Saksi Ahli. Jakarta. Rabu, 16
Maret 2011.
21. Anonim. Layanan Kesehatan Untuk Keluarga Miskin Perlu Direformasi. Kebijakan Kesehatan Indonesia. Kamis, 7 April,
2011. http://kebijakankesehatanindonesia.net/?q=content/layanan-kesehatan-keluarga-miskin-perlu-direformasi.
22. Anonim. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.
http://www.taspen.com/files/humas/SJSN%20no%2040%20th%202004.pdf.
23. Usman, M dan A., Yahya. Kebijakan Khilafah di Bidang Kesehatan. Al Wa’ie no 93 Tahun VIII, 1-31 Mei 2008.
24. RZ. Aulia. Sejahtera Di Bawah Naungan Khilafah. Al Wa’ie. No 120 Tahun X, 1-31 Agustus 2010.
25. ‘Athiyat, A. Jalan Baru Islam. PTI. Bogor. 1997. Hal. 18.
26. Hizbutatahrir. Ajhizau Daulatulkhilafah. Beirut. 2005.
27. ‘Abdul Qadiim Zalum. Al Amwaal Fi Daulatil Khilafah. Beirut. 2004
28. Amhar, F. Meramu APBN Syariah. Al Wa’ie No 122 Tahun XI, 1-31 OKtober 2010.
29. Rini, Susrini, R. , Waraharini, P., Rosidati, C. Sehat Seutuhnya Untuk Semua. ForMI-t. Jakarta. 2009.
30. Al Badri, A. A. Hidup Sejahtera dalam Naungan Islam. GIP. Jakarta, 1992.
31. Al Maliki, A. Politik Ekonomi Islam. Al Izaah. Bogor. 2001

*) Anggota Lajnah Intelektual Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia.

10