You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan kota tergantung dari lokasi, kepadatan kota, dan berkaitan denganmasa lalu
atau sejarah terbentuknya kota serta berkaitan dengan masa yang akan
datang(Lynch,1992:254). Seiring dengan perkembangan jumlah penduduk dan kemajuan
teknologi, perkembangan kota juga berjalan sesuai dengan kebutuhannya yang makin
berkembang.Perkembangan tersebut berpengaruh terhadap sikap dan perilaku penduduk
masyarakat kota selaku pengguna lahan kawasan perkotaan.
Dengan demikian terjadi adanya perubahan bentuk keragaman kegiatan penduduk serta
pemanfaatan kawasan kota di lingkungan kawasan yang mereka diami. Salah satu
perkembangan yang dapat diamati adalah pesatnya perkembangan ekonomi di kota Sikka
yang dapat menimbulkan dampak yang begitu luas di semua aspek.
Dampak perkembangan ekonomi tersebut antara lain
pertumbuhan jumlah kendaraanbermotor. Tingkat pertumbuhan volume lalu lintas dari tahun
ke tahun meng kibatkan peningkatan kebutuhan prasarana lalu lintas.

Menjamurnya pembangunan tempat-tempat komersial juga merupakan dampak dari


berkembangnya kehidupan ekonomi yang berlangsung di masyarakat. Bangunan komersial
seperti pusat pertokoan, toko serba ada (swalayan), ruko, dan perkantoran biasanya diikuti
oleh kehadiran sektor informal (pedagang kaki lima). Aktivitas PKL sebagai aktivitas
pendukung (activity support) suatu kawasan komersial merupakan salah satu dari delapan
elemen-elemen perancangan kota. Keberadaannya saling terkait dengan elemen perancangan
kotalainnya seperti pedestrian ways, dan circulation and parking (Shirvani,1985:7)

1.2 Identifikasi masalah


Berdasarkan latar belakang diatas

Agar dapat memahami elemen elemen dalam perencangan arsitektur kota dengan berbagai
prubahan perubahan

1.3 Tujuan penulis makalah

a. Mengkaji pemahaman masyarakat mengenai tata kota / tata guna lahan

b Mengetahui secara rinci bagaimana keadaan dan kondisi nyata terkait isu tata kota di
wilayah tertentu

c Menelusuri masalah-masalah yang terdapat pada lingkungan sehingga mampu


memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan itu sendiri

1.4 Menfaat penulisan makalah

Agar penulis dapat memahami elemen elemen dalam perancangan kota


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Elemen Elemen Perancangan Kota


2.1 Tata Guna Lahan (Land Use)
Tata Guna Lahan merupakan rancangan dua dimensi berupa denah peruntukan lahan
sebuah kota.Ruang-ruang tiga dimensi (bangunan) akan dibangun di tempat-tempat
sesuai dengan fungsi bangunan tersebut. Sebagai contoh, di dalam sebuah kawasan
industri akan terdapat berbagai macam bangunan industri atau di dalam kawasan
perekonomian akan terdapat berbagai macam pertokoan atau pula di dalam kawasan
pemerintahan akan memiliki bangunan perkantoran pemerintah. Kebijaksanaan tata
guna lahan juga membentuk hubungan antara sirkulasi/parkir dankepadatan
aktivitas/penggunaan individual.
Gambar 1 Tata guna lahan Kota Medan

Terdapat perbedaan kapasitas (besaran) dan pengaturan dalam penataan ruang kota,
termasuk didalamnya adalah aspek pencapaian, parkir, sistem transportasi yang ada,
dan kebutuhan untuk penggunaan lahan secara individual. Pada prinsipnya, pengertian
land use (tata guna lahan) adalah pengaturan penggunaan lahan untuk menentukan
pilihan yang terbaik dalam mengalokasikan fungsi tertentu, sehingga dapat memberikan
gambaran keseluruhan bagaimana daerah-daerah pada suatu kawasan tersebut
seharusnya berfungsi
2.2 Bentuk dan Kelompok Bangunan
Building form and massing
membahas mengenai bagaimana bentuk dan massa-massa bangunanyang ada dapat
membentuk suatu kota serta bagaimana hubungan antar-massa (banyak bangunan)yang
ada. Pada penataan suatu kota, bentuk dan hubungan antar-massa seperti ketinggian
bangunan, jarak antar-bangunan, bentuk bangunan, fasad bangunan, dan sebagainya
harus diperhatikan sehingga ruang yang terbentuk menjadi teratur, mempunyai garis
langit - horizon(skyline) yang dinamis serta menghindari adanya lost space (ruang tidak
terpakai).Building form and massing dapat meliputi kualitas yang berkaitan dengan
penampilan bangunan,yaitu :
a) Ketinggian bangunan berkaitan dengan jarak pandang manusia, baik yang berada
dalam bangunanmaupun yang berada pada jalur pejalan kaki (luar bangunan).
Ketinggian bangunan pada suatu kawasan membentuk sebuah garis horizon
(skyline). Ketinggian bangunan di tiap fungsi ruang perkotaan akan berbeda,
tergantung dari tata guna lahan. Sebagai contoh, bangunan di sekitar bandara akan
memiliki ketinggian lebih rendah dibanding bangunan di kawasan perekonomian.

b) Kepejalan Bangunan Pengertian dari kepejalan adalah penampilan gedung dalam


konteks kota. Kepejalan suatu gedung ditentukan oleh perbandingan tinggi : luas :
lebar : panjang, olahan massa (desain bentuk), dan variasi penggunaan material.

c) Koefisien Lantai Bangunan (KLB) Koefisien Lantai Bangunan adalah jumlah luas
lantai bangunan berbanding luas tapak (jika KLB=200%, maka di tapak seluas
100m2, dapat dibangun bangunan dengan luas lantai 200m2 - lantai banyak).
Koefisien Lantai Bangunan dipengaruhi oleh daya dukung tanah, daya dukung
lingkungan, nilai harga tanah, dan faktor-faktor khusus tertentu sesuai dengan
peraturan atau kepercayaan daerah setempat.

d) Koefisien Dasar Bangunan (Building Coverage) Adalah luas tapak yang tertutup
dibandingkan dengan luas tapak keseluruhan. Koefisien Dasar Bangunan
dimaksudkan untuk menyediakan area terbuka yang cukup di kawasan perkotaan
agar tidak keseluruhan tapak diisi dengan bangunan. Hal ini dimaksudkan agar daur
lingkungan tidak terhambat terhambat, terutama penyerapan air ke dalam tanah.

e) Garis Sempadan Bangunan (GSB)Garis Sempadan Bangunan merupakan jarak


bangunan terhadap as jalan. Garis ini sangat penting dalam mengatur keteraturan
bangunan di tepi jalan kota. Selain itu juga berfungsi sebagai jarakkeselamatan
pengguna jalan, terutama jika terjadi kecelakaan

.
f) Langgam Langgam atau gaya dapat diartikan sebagai suatu kumpulan karakteristik
bangunan dimana struktur, kesatuan dan ekspresi digabungkan di dalam satu periode
atau wilayah tertentu. Peran dari langgam ini dalam skala urban jika direncanakan
dengan baik dapat menjadi
guide line yang dapat menyatukan fragmen-fragmen dan bentuk bangunan di kota.

g) SkalaRasa akan skala dan perubahan-perubahan dalam ketinggian ruang


atau bangunan dapat memainkan peranan dalam menciptakan kontras visual yang
dapat membangkitkan daya hidup dankedinamisan.

h) Material Peran material berkenaan dengan komposisi visual dalam perancangan.


Komposisi yang dimaksud diwujudkan oleh hubungan antar elemen visual.

i) Tekstur Dalam sebuah komposisi yang lebih besar (skala urban) sesuatu yang dilihat
dari jarak tertentu makaelemen yang lebih besar dapat menimbulkan efek-efek
tekstur.

j) Warna Dengan adanya warna (kepadatan warna, kejernihan warna), dapat


memperluas kemungkinan ragam komposisi yang dihasilkan.
Gambar 2 Bentuk dan massa bangunan di alun alun Kota Sikka

Menurut Spreegen (1965), prinsip dasar perancangan kota mensintesa berbagai hal
penting berkaitan bentuk dan massa bangunan, meliputi berbagai hal sebagai berikut :
dalam hubungannya dengan sudut pandang manusia, sirkulasi, bangunan disekitarnya
dan ukuran kawasan.
a. Ruang kota, yang merupakan elemen dasar dalam perencanaan kota yang harus
memperhatikan bentuk (urban form), skala, sense of enclosure dan tipe urban
space.
b. Massa kota (urban mass), yang di dalamnya meliputi bangunan, permukaan
tanah, objek-objek yang membentuk ruang kota dan pola aktivitas.
2.3 Open Space

Berbicara tentang ruang terbuka (open space) selalu menyangkut lansekap. Elemen
lansekap terdiri dari elemen keras (hardscape seperti : jalan, trotoar, patun, bebatuan
dan sebagainya) serta elemen lunak (softscape) berupa tanaman dan air. Ruang terbuka
biasa berupa lapangan, jalan, sempadan sungai, green belt, taman dan
sebagainya.Dalam perencanan open space akan senantiasa terkait dengan perabot

Gambar 3 Lapangan Merdeka, Medan

Elemen ruang terbuka kota meliputi lansekap, jalan, pedestrian, taman, dan ruang-ruang
rekreasi.Langkah-langkah dalam perencanaan ruang terbuka :
a. Survey pada daerah yang direncanakan untuk menentukan kemampuan daerah
tersebut untukberkembang.

b. Rencana jangka panjang untuk mengoptimalkan potensi alami (natural)


kawasan sebagai ruangpublik.

c. Pemanfaatan potensi alam kawasan dengan menyediakan sarana yang sesuai.

d. Studi mengenai ruang terbuka untuk sirkulasi (open space circulation)


mengarah pada kebutuhan akan penataan yang manusiawi.
2.4 Sirkulasi dan Parkir
Sirkulasi
Menurut Shirvani seperti yang dikutip oleh Darmawan (2003:15-
16) ada tiga prinsiputama dalam menangani sikulasi, yaitu
:
1. Jalan seharusnya didesain menjadi ruang terbuka yang memiliki pemandangan baik
antara lain:
a. Bersih dan elemen lansekap yang menarik
b. Persyaratan ketinggian dan garis sempadan bangunan yang berdekatan dengan
jalan.
c. Pengaturan parkir di pinggir jalan dan tanaman yang berfungsi sebagai penyekat
jalan.
d. Meningkatkan lingkungan alami yang terlihat dari jalan

2. Jalan harus dapat memberi petunjuk orientasi bagi para pengendara dan dapatmenci
ptakan lingkungan yang dapat dibaca Lebih khusus lagi yaitu:
a. Menciptakan bentuk lansekap untuk meningkatkan
kualitas lingkungan kawasan sepanjang jalan tersebut.
b. Mendirikan perabot jalan yang berfungsi pada siang dan malam hari dengan hia
sanlampu yang mendukung suasana jalan.
c. Perencanaan umum jalan dengan pemandangan kota (vistas)dan beberapa
visualmenarik yang dapat berperan sebagi tetenger(landmark)
d. Pembedaan susunan dan jalan-jalan penting dengan memberikanperabot jalan
(streetscaping), trotoar, maju mundurnya batas bangunan
(setback),penggunaan lahan yang cocok dan sebagainya.

3. Sektor publik dan swasta merupakan partner untuk mencapai tujuan tersebut
di atas.Beberapa kecenderungan tujuan dalam perencanaan transportasi meliputi:

a. Meningkatkan mobilitas di Kawasan Pusat Bisnis (Central Business Districs).


b. Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
c. Mendorong penggunaan transportasi umum.
d. Meningkatkan kemudahan pencapaian ke Kawasan Pusat Bisnis
Gambar 4

Sumber : The Architecture of Towns and Cities, 1965

Kebanyakan perjalanan perkotaan dimulai dari rumah. Hampir separuh perjalanan ini
adalah ke dan dari tempat kerja. Perjalanan yang lain dari rumah selama hari kerja
adalah
untuk rekreasi, belanja, transaksi bisnis, sekolah, dan janji pertemuan kesehatan. Pada
akhirpekan kebanyakan perjalanan adalah untuk belanja dan rekreasi (Spreiregen,
1965:166)
Gambar 5 Mobil dan kendaraan memerlukan tanda-tanda penunjuk jalan dan

rambu-rambu lalu lintas yangmembutuhkan rancangan sederhan


Sumber : The Architecture of Towns and Cities, 1965
Parkir

Banyak penggunaan bangunan untuk parkir


tidak menghubungkan dengan pejalan kaki dan tidak cocok pada
street level
yang menghadap ke jalan dan plaza yang berorientasi pada pejalan kaki.
Sumber : The Urban DesignProcess, 1985

Gambar 6 Bangunan untuk parkir tidak menghubungkan dengan pejalan kaki dan
tidak cocok padastreet level
Gambar 7 Bangunan dengan street level seperti toko eceran, restoran,dan tempat
hiburan menciptakan aktivitas pejalan kaki yang tinggi
1. Menghidupkan aktivitas komersial (dimana faktor parkir
sangat penting)2. Mempertajam benturan visual terhadap bentuk fisik kota Masih
menurut Shirvani (1985:25-26) beberapa cara dalam mengendalikan parkir, yaitu:
1. Struktur tempat parkir tidak boleh mengganggu aktivitas di sekitarnya.
Mendukung kegiatan street level
dan menambah kualitas visual lingkungan, akan lebih baik lagi jika
pembangunannya diiringi dengan penegakan
peraturan parkir yang resmi sebagai bagian perencanaan

2. Pendekatan program penggunaan berganda dalam arti memaksimalkan


penggunaan tempat parkir dengan pelaku dan waktu yang berbeda secara
simultan.
3. Tempat parkir khusus, dimana suatu perusahaan atau instansi yang memiliki
sejumlah besarkaryawan dengan kendaraannya, membutuhkan area parkir
tersendiri yang memadahi

4. Tempat parkir di kawasan pinggir kota yang dibangun oleh swasta dan atau
pemerintah
2.5 Pedistiran ways (Jalur pejalan kaki)

Elemen pejalan kaki harus dibantu dengan interaksinya pada elemen-elemen dasar
desain tata kota dan harus berkaitan dengan lingkungan kota dan pola-pola aktivitas
sertas sesuai dengan rencana perubahan atau pembangunan fisik kota di masa
mendatang.Perubahan-perubahan rasio penggunaan jalan raya yang dapat
mengimbangi dan meningkatkan arus pejalan kaki dapat dilakukan
dengan memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut :

a. Pendukung aktivitas di sepanjang jalan, adanya sarana komersial seperti


toko,restoran, caf
b. Street furniture
berupa pohon-pohon, rambu-rambu, lampu,tempat duduk, dan sebagainya.
Dalam perancangannya, jalur pedestrian harus mempunyai syarat-syarat untuk dapat
digunakan dengan optimal dan memberi kenyamanan pada penggunanya. Syarat-
syarattersebut adalah
a. Aman dan leluasa dari kendaraan bermotor.
b. Menyenangkan, dengan rute yang mudah dan jelasyang disesuaikan dengan
hambatan kepadatan pejalankaki.Gambar 8 trotoar di sekitar pertokoan

c. Mudah, menuju segala arah tanpa hambatan yang disebabkan gangguan naik-
turun, ruang yangsempit, dan penyerobotan fungsi lain.d. Punya nilai estetika dan
daya tarik, dengan penyediaan sarana dan prasarana jalan seperti: taman,bangku,
tempat sampah dan lainnya.
2.6 Penandaan (Signage)

Penandaan yang dimaksud adalah peyunjuk arah jalan, rambu lalu lintas, media iklan
dan berbagaibentuk penandaan lain. Keberadaan penandaan akan sangat
mempengaruhi visualisasi kota, baik secara makro maupun mikro, jika jumlahnya
cukup banyak dan memilih karakter yang berbeda.Sebagai contoh, jika banyak
terdapat penandaan dan tidak diatur perletetakannya, maka akan dapat menutupi fasad
bangunan di belakangnya. Dengan begitu, visual bangunan tersebut akan
terganggu.Namun, jika dilakukan penataan dengan baik, ada kemungkinan penandaan
tersbut menambh keindahan visual bangunan dibelakangnya.Oleh karena itu
pemasangan penandaan haruslah dapat mampu menjaga keindahan visual bangunan
perkotaan.
Dalam pemasangan penandaan harus memperhatikan pedoman teknis sebagai berikut:

a. Penggunaan penandaan harus merefleksikan karakter kawasan


b. Jarak dan ukuran harus memadahi dan diatur sedemikian rupa agar menjamin
jarakpenglihatan dan menghindari kepadatan.
c. Penggunaan dan keberadaannyya harus harmonis dengan banguna arsitektur di
sekitas lokasi.
d. Pembatasan penggunaan lampu hias kecuali penggunaan khusu untuk teater
dan tempat pertujukan (tingkat terangnya harus diatur agar tidak mengganggu)
Pembatasan penandaan yang berukuran besar mendominir dilokasi pemandangan
kota. Penandaan mempunyai pengaruh penting pada desain tata kota sehingga
pengaturan bentukdan perletakan papan-papan petunjuk sebaiknya tidak
menimbulkan pengaruh visual negatifdan tidak mengganggu rambu-rambu lalu
lintas.Gambar9

2.7 Kegiatan Pendukung ( Activity Support )

Gambar 10 (White dalam Shirvani, 1985:40) telah meneliti peran activity support
dalam mempertinggi elemenperancangan fisik lainnya, khususnya ruang terbuka.
Terutama sekali, pentingnya jasa pelayanan makanan,hiburan, dan pendorong seperti
pemandangan dan obyek
Sumber : The Urban Design Process, 1985

Kegiatan Pendukung adalah semua fungsi bangunan dan kegiatan-


kegiatan yangmendukung ruang publik suatu kawasan kota(Darmawan, 2003:24).
Kegiatan-kegiatan danruang ruang publik tersebut merupakan dua hal yang
selalu terkait dan bersifat salingmelengkapi antara satu
dengan yang lainnya. Bentuk kegiatan pendukung antara
lain:
1. Ruang terbuka bentuk fisiknya dapat berupa taman rekreasi,
plaza-plaza, kawasanpedagang kaki lima, jalur pedestrian, kumpulan
pedagang makanan kecil, penjual barang-barang seni/antik atau merupakan
kelompok hiburan tradisional/ lokal.
2. Ruang tertutup bentuk fisiknya merupakan bangunan tertutup, bangunan tersebut
digunakanuntuk kepentingan umum, misalnya kelompok pertokoan eceran
(grosir),pusat
pemerintahan,pusat jasa dan kantor, departemen store, perpustakaan umum dan se
bagainya
2.8 Preservasi (Preservation)

Preservasi dalam perancangan kota adalah perlindungan terhadap lingkungan tempat


tinggal(permukiman) dan
urban places
(alun-alun, plasa, area perbelanjaan) yang ada dan mempunyai cirikhas, seperti halnya
perlindungan terhadap bangunan bersejarah. Manfaat dari adanya preservasi antara
lain:
a. Peningkatan nilai lahan
b. Peningkatan nilai lingkungan
c .Menghindarkan dari pengalihan bentuk dan fungsi karena aspek komersial
d. Menjaga identas kawasan perkotaan
e. Peningkatan pendapatan dari pajak dan retribusi
Bab III
Penutup

2.1 Kesimpulan
Dari penjelasan atau paparan diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa
sesuai dengan makalah ELEMEN ELEMEN ARSITEKTUR KOTA
Dalam proses pembangunan sebuah kota harus melihat atau berdasarkan elemen
elem dalam perancangan kota.

2.2 Saran
Menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini penulis masih jauh dari kata sempurna.
Maka saran dan kritikan penulis sangat membutuhkan agar kedepannya lebih baik.
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Asa atassegala rahmat dan penyertaan sehingga sehingga
saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederrhana. Semoga makalah ini dapat di pergunakan sbagai acuan, petunjuk atau pedoman bagi
pembaca agar dapat mengetahui elemen elemen dalam perancangan kota

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan oleh karena itu saya harapkan kepada pembaca
untuk masukan masukan yang bersifat membangun.
DAFTAR ISI

Kata pengantar ................................................................................................................... i

Daftar is............................................................................................................................... ii

iBAB I PENDAHULUAN......................................................................................................... 1

Latar Belakang...................................................................................................................... 1

Identifikasi masalah............................................................................................................. 1

Tujuan penulis makalah....................................................................................................... 1

Menfaat penulisan makalah.................................................................................................. 1

BAB II KAJIAN PUSTAKA........................................................................................... 2


Elemen Elemen Perancangan Kota ........................................................................................ 2

Tata Guna Lahan (Land Use) ........................................................................................ 2


Bentuk dan Kelompok Bangunan.................................................................................. 2
Open Space..................................................................................................................... 4
Sirkulasi dan Parkir ....................................................................................................... 6
Pedistiran ways (Jalur pejalan kaki) ............................................................................ 9
Penandaan (Signage) ...................................................................................................... 10
Kegiatan Pendukung ( Activity Support ) ................................................................... 11
Preservasi (Preservation) ............................................................................................. 12
Bab III Penutup ................................................................................................................ 13

Kesimpulan ...................................................................................................................... 13

Saran ............................................................................................................................... 13
MAKALAH

ELEMEN ELEMEN PERANCANG KOTA

OLEH

YOHANES MAI RIWU

023170018

PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NUSA NIPA

MAUMERE

2018