Sie sind auf Seite 1von 2

TINJAUAN PUSTAKA

Pada proses pengolahan pangan, sanitasi merupakan suatu pemeliharaan


atau pencegaham kondisi yang dilakukan agar mampu mencegah kontaminasi
pangan atau produk atau penyakit yang disebabkan dari makanan (Labensky, 1994).
Diperlukan sanitasi pada ruangan pengolahan pangan agar pada produk pangan
tidak terkontaminasi oleh mikroorganisme lainnya. Tingkat pencemaran udara di
dalam suatu ruangan oleh mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti laju
ventilasi, padat orang dan sifat serta saraf kegiatan orang-orang yang menempati
ruangan tersebut.
Flora mik Keselamatan tiap-tiap makhluk hidup sangat tergantung pada
keadaan di sekitarnya, terutama mikroorganisme. Mikroorganisme tidak dapat
menguasai faktor-faktor luar sepenuhnya, sehingga hidupnya sama sekali
tergantung kepada keadaan sekelilingnya (Dwidjoseputro, 1987). Jika di dalam
suatu ruangan pengolahan pangan terdapat banyak mikroorganisme, akan dapat
mengkontaminasi pangan yang ada atau yang sedang di produksi. roba yang
terdapat di lingkungan alamiah merupakan penyebab banyak sekali proses
biokimia, yang pada akhirnya memungkinkan kesinambungan kehidupan
sebagaimana yang kita kenal dimuka bumi ini. Mikroorganisme misalnya
merupakan penyebab terjadinya mineralisasi di dalam tanah dan perairan, yaitu
proses pembebasan unsur-unsur dari senyawa-senyawa molekuler organik yang
kompleks sehingga menjadi tersedia bagi kehidupan tanaman yang baru, yang pada
gilirannya menunjang kehidupan hewan baru (Bonang, 1982).
Pada saat berbicara atau bernafas pda ruang pengolahan pangan dan tidak
menggunakan penutup mulut atau masker dapat membuat mikroorganisme
terhembuskan dalam bentuk percikan dari hidung dan mulut selama bersin, batuk
dan bahkan bercakap-cakap titik-titik air terhembuskan dari saluran pernapasan
mempunyai ukuran yang beragam dari mikrometer sampai milimeter. Titik-titik air
yang ukurannya jatuh dalam kisaran mikrometer yang rendah akan tinggal dalam
udara sampai beberapa lama, tetapi yang berukuran besar segera jatuh ke lantai atau
permukaan benda lain. Debu dari permukaan ini sebentar-sebentar akan berada
dalam udara selama berlangsungnya kegiatan dalam ruangan tersebut (Pelczar,
1988).
Selain itu, pencemaran udara dalam suatu ruangan dipengaruhi oleh faktor-
faktor seperti laju ventilasi, padat orang dan sifat serta saraf kegiatan orang-orang
yang menempati ruangan tersebut. Mikroorganisme yang terhembuskan dalam
bentuk percikan dari hidung dan mulut selama bersin, batuk dan bahkan bercakap-
cakap titik-titik air terhembuskan dari saluran pernapasan mempunyai ukuran yang
beragam dari mikrometer sampai milimeter. Titik-titik air yang ukurannya jatuh
dalam kisaran mikrometer yang rendah akan tinggal dalam udara sampai beberapa
lama, tetapi yang berukuran besar segera jatuh ke lantai atau permukaan benda lain
(Irianto, 2006).
Kehidupan bakteri dalam lingkunagn tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-
faktor lingkungan saja akan tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan.
Misalnya bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam media tempat ia
tumbuh. Bakteri mampu utnuk mengubah pH dari media tempat ia hidup,
perubahan ini disebut perubahan secara kimia (Dwyana, 2009).

DAFTAR PUSTAKA
Bonang Gerhard, S. Enggar dan koeswardono, 1982, Mikrobiologi Kedokteran ,
P.T Gramedia, Jakarta.
Dwidjoseputro. 1987. Dasar-dasar Mikrobiologi. Surabaya: Djambatan
Dwyana, Z dan Nur, H. 2009. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Pangan.Jurusan
Biologi.Universitas Hasanuddin.Makassar.
Irianto, Koes. 2006. Mikrobiologi.Bandung: Yrama Widya.
Labensky, S.L. & A.M. Hause. 1994. On Cooking: Techniques from Expert
Chefs. New York: Prentice Hall.
Pelczar, M.J. dan Chan, E. C. S., 1988, Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid. Jakarta: UI
Press