Sie sind auf Seite 1von 18

PROPOSAL TUGAS AKHIR

PENELITIAN PEMETAAN POTENSI AIR BAWAH PERMUKAAN DI DAERAH


KARST PACITAN

Tim Peneliti Dosen:

Dr. Ayi Syaeful Bahri, S.Si., M.T (NIP. 1969 0906 1997 02 1001)
Dr. Widya Utama, DEA (NIP. 19611024 198803 10001)
Anik Hilyah, S.Si, MT (NIP. 19790813 200812 2002)

Tim Peneliti Mahasiswa:


Silmi Alfina Aliyan (3516203002)
Isnaeni Nurfitriana (034114400000004)
Putry Vibry Hardyani (034114400000005)
Febrian Sukma Wardhana (0341144000000)
Maulana Ibnu U (034114400000039)
Miftakhur Rahmat (034114400000052)

DEPARTEMEN TEKNIK GEOFISIKA


FAKULTAS TEKNIK SIPIL LINGKUNGAN DAN KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2018

i
LEMBAR PENGESAHAN
PROPOSAL TUGAS AKHIR
DEPARTEMEN TEKNIK GEOFISIKA ITS 2018

PENELITIAN PEMETAAN POTENSI AIR BAWAH PERMUKAAN DI DAERAH


KARST PACITAN

Tim Peneliti Dosen:

Dr. Ayi Syaeful Bahri, S.Si., M.T (NIP. 19690906 199702 1001)
Dr. Widya Utama, DEA (NIP. 19611024 198803 1001)
Anik Hilyah, S.Si, MT (NIP. 19790813 200812 2002)

Hormat kami,
Surabaya, 08 Februari 2018
Kepala Laboratorium Eksplorasi Departemen Teknik Geofisika ITS
FTSLK-ITS

Dr. Ayi Syaeful Bahri, S.Si., M.T


NIP. 1969 0906 1997 02 1001
Mengetahui,
Kepala Departemen Teknik Geofisika
FTSLK-ITS

Dr. Widya Utama, DEA


NIP. 19611024 198803 1 001

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................................................................... ii


DAFTAR ISI.............................................................................................................................................. iii
RINGKASAN ............................................................................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................................. 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................................................... 7
2.1 Geologi Regional Daerah Penelitian ............................................................................................. 7
2.1.1 Fisiografi Regional .................................................................................................................. 7
2.2 Karst .............................................................................................................................................. 7
2.2.1 Hidrologi Karst ........................................................................................................................ 7
2.3 Metode Mikrotremor.................................................................................................................. 9
2.4 Metode Geolistrik ....................................................................................................................... 9
2.5 Metode Very Low Frequency .................................................................................................... 10
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................................................................ 11
3.1 Alur Penelitian ........................................................................................................................... 11
3.2 Peralatan yang dibutuhkan ....................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................... 1
LAMPIRAN ............................................................................................................................................... 2

iii
RINGKASAN
Pacitan merupakan daerah yang terletak di Jawa Timur bagian selatan dan berbatasan
dengan Provinsi Jawa Tengah. Kondisi fisik daerah tersebut hampir 85% berupa pegunungan
kapur (karst) dan perbukitan yang membujur dari Gunung Kidul hingga Kabupaten
Trenggalek. Permasalahan utama daerah tersebut adalah ketersediaan air bersih untuk
kebutuhan sehari hari dan untuk areal pertanian. Padahal sebenarnya daerah karst mempunyai
potensi air, bahkan potensinya sangat melimpah. Potensi air di daerah karst terdapat pada
sungai-sungai bawah permukaannya, yaitu berupa terusan gua- gua yang dialiri air. Namun
usaha pencarian aliran sungai bawah permukaan dengan menelusuri langsung masih belum
maksimal karena luasnya cakupan wilayah dan kondisi topografi bawah permukaan yang
sangat ekstrim sulit dan kadangkala tidak mungkin untuk dijelajahi. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk memetakan potensi air di daerah karst Pacitan dengan memetakan sungai-sungai
bawah permukaan dan keunikan kondisi geohidrologinya. Kondisi daerah Pacitan
direkomendasikan pada penelitian ini menjadi perhatian yang serius mengingat permasalahan
ketersedian air. Pada penelitian tahun pertama, kami melakukan kajian geologi dan geofisika.
Kajian geologi meliputi pra-survei dengan mengumpulkan informasi data sekunder dan
survey geologi untuk pemetaan titik-titik luweng/goa dan pengambilan sampel. Kemudian
dilanjutkan dengan pengambilan data menggunakan metode geofisika dengan metode VLF,
Microtremor, dan Geolistrik yang menghasilkan peta kemenerusan bagian barat Pacitan dan
telah dipublikasikan secara Internasional.
Penelitian ini difokuskan pada pemetaan potensi air bawah permukaan karst di
Kecamatan Pacitan dan pengukuran paleomagnetism di daerah barat pacitan. Hasil penelitian
tahun kedua ini akan melengkapi database karst di Kabupaten Pacitan. Dalam pemetaan
menggunakan VLF dan geolistrik masih terdapat ruang untuk dapat dilakukannya pemetaan
bawah permukaan.
Melalui penelitian ini diharapkan menghasilkan (1) Peta Kemenerusan sungai bawah
permukaan dikecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan , (2) Mengetahui rekonstruksi
tektonik di kecamatan Pringkuku kabupaten Pacitan, dan (3) Memberikan rekomendasi
kepada pihak terkait dalam rangka perencanaaan wilayah di Kabupaten Pacitan.
Kata Kunci : Karst Pacitan, VLF, Resistivitas, Mikrotremor

iv
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pacitan merupakan daerah Provinsi Jawa Timur bagian selatan dan berbatasan dengan
Provinsi Jawa Tengah. Kondisi fisik daerah tersebut hampir 85% berupa pegunungan
kapur(karst) dan perbukitan yang membujur dari Gunung Kidul sampai dengan Kabupaten
Trenggalek. Daerah Gunung Kidul merupakan daerah karst yang terdiri dari batu gamping
dan dengan sistem sungai di bawah permukaannya (MacDonald, 1984)

Permasalahan utama dari daerah tersebut adalah ketersediaan air bersih untuk
kebutuhan sehari-hari dan untuk areal pertanian. Menurut data dari Pemerintah Kabupaten
Pacitan, 13 Desa di wilayah Kecamatan Pacitan Barat serta 24 Desa di wilayah Kecamatan
Pacitan Timur merupakan daerah rawan kekeringan (http://www.pacitankab.go.id). Selain itu,
data Dinas PU Jawa Timur di Kabupaten Pacitan terdapat 815 hektar lahan daerah irigasi
yang terkena langsung dampak kekeringan (http://www.dpuairjatim.org).

Salah satu sektor strategis dari daerah Pacitan adalah sektor pertanian. Tahun 2008,
produksi tanaman pertanian dari 57 jenis pertanian yaitu termasuk padi, jagung, unbi kayu,
dan lainnya mengalami kanaikan jumlah produksi (www.pacitankab.go.id). Untuk menunjang
sektor pertanian harus didukung dengan pengairan yang cukup sehingga keberadaan air ini
mutlak diperlukan bagi masyarakat sekitar. Keberadaan sumber air pada karst di daerah
Pacitan ini sebenarnya sangat melimpah, terdapat di sungai bawah permukaan yang berupa
terusan gua-gua yang dialiri air, karena terjadi proses korosi dan erosi pada gua selama ribuan
tahun, maka air dapat mengalir ke bawah permukaan hingga lapisan impermeabel dan
membentuk sungai bawah permukaan (Samodra,2001). Namun usaha pencarian aliran sungai
bawah permukaan dengan menelusuri secara langsung masih belum makasimal karena
luasnya cakupan wilayah dan kondisi topografi bawah permukaan yang sangat ekstrim
sehingga sulit utuk dijelajahi.

Dalam penelitian ini digunakan metoda Vertical Eletrical Sounding (VES) untuk
mengetahui sebaran kedalaman dari sungai aliran bawah tanah, sekaligus memvalidasi hasil
dari VLF-EM. Metode Microtremor juga digunakan untuk memetakan struktur permukaan
karst yang dangkal. Penggabungan metode VLF-EM dan VES ini sudah berhasil dilakukaan
oleh Palackyetal.(1981), Olayinkaetal. (2004) dan Sundararajanetal. (2007), menunjukkan
bahwa pendekatan terpadu meningkatkan keandalan intepretasi data dan tingkat keberhasilan
dalam menetukan struktur aliran bawah permukaan dan lokasi sumur air yang prospek. Selain
5
itu, untuk mengetahui sifat fisis batuan maka dilakukan juga analisis paleomagnetism daerah
pacitan berdasarkan jenis batuan meliputi uji XRD, VSM, serta sifat susceptibilitas batuan
pada daerah Pringkuku Pacitan sehingga didapatkan sifat batuan berdasarkan perubahan
waktu dan kejadian-kejadian geologi setempat.

Melalui penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan keterbaruan dalam parameter


batuan yang kemudian dikorelasikan dengan data dari metode geofisika sebelumya sehingga
mampu memberikan identifikasi secara detail mengenai sungai bawah permukaan dan gejala-
gejala yang terjadi. Penelitian ini juga mampu memberikan rekomendasi terkait perencanaan
wilayah dan kota khususnya bidang pertanian dalam irigasi sawah.

1.2 Permasalahan
Permasalahan yang berusaha dipecahkan dalam penelitian yang akan dilaksanakan
dalam penelitian tahun kedua ini antara lain:

1. Daerah karst mempunyai aneka ragam kondisi geologi dan hidrogeologi, pada daerah
Pacitan bagaimana gambaran geologi dan hidrogeologi
2. Bagaimana proses terjadinya aliran sungai bawah tanah, dari mana asal aliran sungai
bawah tanah, dan bagaimana perbedaan batuan pada daerah sumber, aliran, dan
daerah muara. Hal-hal tersebut dapat dikaitkan dengan penelitian tentnag
paleomagnetism, yaitu disiplin ilmu yang mempelajari tentang arah dan kuat medan
magnet ketika batuan terbentuk
3. Daerah karst merupakan daerah resapan air yang mempunyai fungsi hampir sama
dengan hutan, pengelolaan daerah karst yang kurang baik akan menyebabkan
kerusakan dan peralihan fungsi dari daerah karst itu.
1.3 Tujuan
Tujuan dari penelitian yang akan dilakukan ini antara lain :

1. Mendapatkan gambaran umum kondisi geologi dan hidrogeologi menggunakan


metode geofisika secara terintegrasi didaerah Kecamatan Pringkuku Pacitan.
2. Mengetahui kondisi geologi setempat dan hubungannya dengan tektonik yang
mempengaruhinya.
3. Menghasilkan rekomendasi dalam rangka pengelolaan daerah karst secara
berkelanjutan.

6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Geologi Regional Daerah Penelitian


Geologi daerah penelitian meliputi fisiografi, stratigrafi, struktur geologi, dan sejarah
geologi yang bersumber dari peneliti terdahulu.
2.1.1 Fisiografi Regional
Secara umum Jawa Timur dibagi menjadi 4 (empat) zona jalur fisiografi, yaitu Zona
Rembang di bagian Utara, kemudian ke bagian Selatan terdapat Zona Kendeng, kemudian
Zona Solo dan di bagian paling Selatan adalah Zona Pegunungan Selatan (Van Bemelen,
1949). Berdasarkan letak geografisnya daerah penelitian dan sekitarnya termasuk didalam
Zona Pegunungan Selatan yang membentang dari Yogyakarta hingga ke Malang (Van
Bemelen, 1949), pada subzona Gunung Sewu. Subzona ini merupakan perbukitan dengan
bentang alam karst, yaitu bentang alam dengan bukit-bukit batugamping membentuk banyak
kerucut dengan ketinggian beberapa puluh meter. Zona pegunungan selatan di Jawa Timur
pada umumnya merupakan blok yang terangkat dan miring ke arah selatan, dibatasi
escarpment yang cukup kompleks di utara (Van Bemelen, 1949).

Gambar 2.1 Pembagian Fisiografi Regional Jawa bagian Tengan dan Timur (sumber:
http://surveigeofisika.web.id/artikel-2/.

2.2 Karst
Pembentukan bentuk-lahan karst/karstifikasi didominasi oleh proses pelarutan. Secara
ringkas proses pelarutan dirumuskan dengan reaksi sebagai berikut,
CaCO3 + H2 O + CO2 → 𝐶𝑎2+ + 2𝐻𝐶𝑂3− (2.1)

2.2.1 Hidrologi Karst


7
Hidrologi, menurut Linsley et. al. (1975) adalah cabang dari ilmu geografi fisik yang
berurusan dengan air dimuka bumi dengan sorotan khusus pada sifat, fenomena dan distribusi
air di daratan. Hidrologi dikategorikan secara khusus mempelajari kejadian air di
daratan/bumi, deskripsi pengaruh sifat daratan terhadap air, pengaruh fisik air terhadap
daratan dan mempelajari hubungan air dengan kehidupan. Pada sisi yang lain, karst dikenal
sebagai suatu kawasan yang unik dan dicirikan oleh topografi eksokarst seperti lembah karst,
doline, uvala, polje, karren, kerucut karst dan berkembangnya sistem drainase bawah
permukaan yang jauh lebih dominan dibandingkan dengan sistem aliran permukaannya (Adji
dkk, 1999).

Berdasarkan Gambar 2.3 terlihat bahwa karena sifat batuan karbonat yang mempunyai
banyak rongga percelahan dan mudah larut dalam air, maka sistem drainase permukaan tidak
berkembang dan lebih didominasi oleh sistem drainase bawah permukaan. Sebagai contoh
adalah sistem pergoaan yang kadang-kadang berair dan dikenal sebagai sungai bawah tanah.
Secara definitif, air pada sungai bawah tanah di daerah karst boleh disebut sebagai airtanah
merujuk definisi airtanah oleh Todd (1980) bahwa airtanah merupakan air yang mengisi celah
atau pori-pori/rongga antar batuan dan bersifat dinamis. Sedangkan, air bawah tanah karst
juga merupakan air yang mengisi batuan/percelahan yang banyak terdapat pada kawasan ini,
walaupun karakteristiknya sangat berbeda dibandingkan dengan karakteristik airtanah pada
kawasan lain.

Gambar 2.2 Drainase bawah permukaan di daerah karst (Sumber :


http://www.eccentrix.com/members/hydrogeologie/hidrogeol/karst.gif)

Jankowski (2001) mengatakan bahwa terdapat tiga komponen utama pada sistem
hidrologi karst, yaitu: akuifer, sistem hidrologi permukaan, dan sistem hidrologi bawah
8
permukaan. Di karst, cekungan bawah permukaan dapat diidentifikasi dengan mencari
hubungan antara sungai yang tertelan (swallow holes) dan mata air. Tapi, secara umum batas
antara DAS (Daerah Aliran Sungai) permukaan dan bawah permukaan adalah tidak sama.
Sistem bawah permukaan, terutama yang memiliki kemiringan muka airtanah yang rendah
dapat mempunyai banyak jalur dan outlet (mata air). Selanjutnya, karena terus
berkembangnya proses pelarutan, muka airtanah, mataair dan jalur sungai bawah tanah di
akuifer karst juga dapat berubah-ubah menurut waktu.

2.3Metode Mikrotremor

Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) adalah metode yang didasarkan pada
asumsi bahwa rasio spektrum horizontal dan vertikal dari getaran permukaan merupakan
fungsi perpindahan. Hal itu juga menunjukkan bahwa karakteristik dinamis lapisan
permukaan secara kasar bisa dipahami pada titik yang diobservasi, jika pengamatan bentuk
gelombang seismic tremor dilakukan pada tiga komponen, yaitu dua komponen horizontal
dan satu komponen vertikal (Nakamura, 1989). Metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio
(HVSR) ini merupakan salah satu metode yang biasanya digunakan pada mikrotremor tiga
komponen untuk mengidentifikasi kedalaman bedrock. Selain itu, metode ini dapat
digunakan untuk mengetahui frekuensi resonansi dominan (f0) dan nilai puncak dari HVSR
(A) yang menunjukkan karakteristik dinamis sedimen. Bila diketahui keduanya, maka dapat
diketahui indeks kerentanan seismik dalam kg. Parameter yang digunakan dalam metode
HVSR ini adalah amplifikasi dan frekuensi natural, dimana kedua hal ini berhubungan
dengan parameter fisis bawah permukaan guna megetahui karakteristik daerah penelitian
secara geologi.

2.4 Metode Geolistrik

Metode geolistrik adalah salah satu metode geofisika yang didasarkan pada penerapan
konsep kelistrikan pada masalah kebumian. Tujuannya adalah untuk memperkirakan sifat
kelistrikan medium atau formasi batuan bawah permukaan terutama kemampuannya untuk
menghantarkan atau menghambat listrik (konduktivitas atau resistivita). Cara kerja metode
geolistrik secara sederhana dapat dianalogikan dengan rangkaian listrik. Jika arus dari suatu
sumber dialirkan ke suatu beban listrik (misalkan kawat seperti terlihat pada maka besarnya
resistansi dapat diperkirakan berdasarkan besarnya potensial sumber dan besarnya arus yang
mengalir. Dalam hal ini besaran resistansi tidak dapat digunakan untuk memperkirakan jenis

9
material karena masih bergantung ukuran atau geometrinya. Untuk itu digunakan besaran
resistivitas yang merupakan resistansi yang telah dinormalisasi terhadap geometri.

Metode VES atau Vertikal electrical sounding adalah metode untuk pengukuran nilai
resistivitas batuan secara vertical dan di gunakan untuk menentukan perubahan nilai
resistivitas batuan terhadap kedalaman atau secara vertical (Telford,1990). Dari pengukuran
tersebut akan diperoleh data resistivitas tanah. Jika pengukuran dilakukan berulang pada
suatu wilayah dengan jarak tertentu yang sama maka akan diperoleh data resistivitas luasan
wilayah tertentu. Data yang dihasilkan dari metode VES ini dapat digunakan untuk
menentukan titik grounding.

2.5Metode Very Low Frequency

Metode elektromagnetik biasanya digunakan untuk eksplorasi benda-benda konduktif.


Perubahan komponen medan akibat variasi konduktivitas dimanfaatkan untuk menentukan
struktur bawa permukaan. Metode elektromagnetik biasanya digunakan untuk eksplorasi
benda-benda konduktif. Perubahan komponen medan akibat variasi konduktivitas
dimanfaatkan untuk menentukan struktur bawa permukaan.

Gambar 2. 3 Distribusi medan Elektro Magnetik untuk metode VLF dalam polarisasi dengan
teori sinyal di atas tanggul konduktif vertikal (Bosch andMüller, 2001)
Pengukuran VLF dengan mode tilt angle digunakan untuk mengetahui struktur konduktif dan
kontak geologi seperti zona alterasi, patahan, dan dike konduktif. Dalam mode ini, arah strike
target memiliki sudut ±45° dengan lokasi pemancar. Pada konfigurasi pengukuran semacam
ini, medan primer akan memberikan fluks yang maksimum jika memotong struktur, sehingga
memberikan kemungkinan anomali yang paling besar.

10
BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alur Penelitian


Langkah-langkah penelitian ini, akan dilakukan sebagaimana pada Gambar 3.1. Pada
penelitian tahun pertama ini akan difokuskan pada pengambilan data serta pengolahan data
selanjutnya untuk tahun kedua akan didetailkan tentang interpretasi serta modelling. Untuk
lebih jelasnya, akan dideskripsikan sebagaimana uraian dibawah

3.2 Peralatan yang dibutuhkan

Penelitian ini terdiri dari 3 garis besar kegiatan. Kegiatan pertama yaitu survei
pendahuluan yang terdiri dari, studi literatur kawasan karst, survei geologi, serta pemetaan
titik luweng. Alat dan bahan yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:

1. Palu Geologi
2. GPS Garmin 78s
3. Meteran
4. Kantong Plastik Ziplock
5. Kertas Label
6. Senter

11
7. Seperangkat alat Resistivitas , untuk pengukuran VES dan Resistivitas 2D
8. Seperangkat alat Very Low Frequency IRIS Instruments
9. Software Res2dinv dan Ip2win untuk pengolahan data resistivitas 2D dan VES.
10. Software K-Hjelt untuk pengolahan data Very Low Frequency.
11. Laptop
12. Spidol untuk memberikan tanda

12
DAFTAR PUSTAKA

Adji, T.N., Haryono, E., Suprojo. S.W., 1999., Kawasan Karst dan Prospek
Pengembangannya di Indonesia, Prosiding Seminar PIT IGI di Universitas
Indonesia, 26-27 Oktober 1999.
Bemmelen, van, R.W., 1949, The Geology of Indonesia, Martinus Nyhoff, The
Haque, Nederland.
Bosch F. P. and Müller I. (2001). Continuous gradient VLF measurements: A new
possibility for high resolution mapping of karst structures. First Break, 19,
343–350.
Karous and Hjelt, 1983 M. Karous, S.E. Hjelt Linear filtering of VLF dip-angle
measurements Geophys. Prosp., 31 (1983), pp. 782-794
Linsley Jr., R.K.; Kohler, M.A.; Paulhus, J.L.H. Hydrology for engineers. New York:
McGraw-Hill Book Co., Inc., 1975.
Nakamura, Y. (1989), A method for dynamic characteristics estimation of subsurface
using microtremor on ground surface, QR. RTRI, 30, 25-33
Olayinka, A.I, Amidu, S.A., and Oladunjoye, M.A. 2004. “Use of Electromagnetic
Profiling and Resistivity Sounding for Groundwater Exploration in the
Crystalline Basement Area of Igbeti, Southwestern Nigeria”. Global Journal
of Geological Sci. 2(2): 243-253.
Palacky G. J, Ritsema I. L. and De Jong S. J (1981): Electromagnetic Prospecting for
Groundwater in Geophysical prospecting 29, pp 932-955
Samodra, H. 2001. Nilai Strategis Kawasan Kars Di Indonesia. Pengelolaan Dan
Perlindungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Badan Geologi
Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral. Bandung.
Samodra, H. 2005. Potensi Sumberdaya Alam Kars Kabupaten Gunungkidul
Yogyakarta. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Badan Geologi
Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral. Bandung.
Sundararajan et al., 2007 N. Sundararajan, M.N. Chary, G. Nandakumar, Y. Srinivas
VLF and VES—an application to groundwater exploration, Khammam,
India The The Leading Edge, 26 (2007), pp. 708-716
Surono, Toha, B., dan Sudarno, 1992, Peta Geologi Lembar Surakarta – Giritontro,
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
Surono (2009) – Litostratigrafi pegunungan selatan bagian timur Daerah Istimewa
Yogyakarta dan Jawa Tengah. Jurnal Sumber Daya Geologi. Vol. 19 Pusat
Survei Geologi, Bandung, 209 – 221.
Todd, D.K. 1980 Groundwater Hydrology. 2nd edition, John Wiley, New York, 535
pp

1
LAMPIRAN

1. Organisasi Tim Peneliti

Supaya penelitian dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang diharapkan, maka tim
peneliti merupakan tenaga yang ahli dalam bidangnya masing-masing dengan pembagian
tugas sebagai mana pada tabel 4.1
Peneliti
Jabatan dalam
Nama
Tim
No. Tugas dalam TIM
NIP Alokasi Waktu

Dr. A.Syaeful Bahri Ketua Bertanggung jawab


keseluruhan penelitian dan
1 19690906 199702 1001
mengkoordinasi anggota
peneliti.
Dr. Widya Utama, DEA Anggota
2
19611024 198803 1001

Anik Hilyah, S.Si, MT Anggota


3
19790813 200812 2002

Mahasiswa

No Nama / NRP Mahasiswa Judul TA / Thesis Status


Kemajuan

1 Silmi Afina S2 Identifikasi Kontrol Struktur Proposal


Aliyan / Geologi Terhadap Pola Aliran
3516203002 Sungai Bawah Permukaan di
Kecamatan Pringkuku,
Kabupaten Pacitan

2 Isnaeni S1 Identifikasi Kemenerusan Proposal


Nurfitriana / Aliran Sungai Bawah
03411440000004 Permukaan Kawasan Karst
dengan Metode Resistivitas 2D
Konfigurasi Dipole-Dipole di
Kecamatan Pringkuku, Pacitan

3 Putry Vibry S1 Identifikasi Kompleksitas Proposal


Hardyani / Sistem Sungai Bawah
03411440000005 Permukaan di Derah Karst

2
Studi Kasus Kecamatan
Pringkuku Kabupaten Pacitan
Menggunakan Metode VES
(Vertical Electrical Sounding)

4 Febrian Sukma S1 Identifikasi Aliran Sungai Proposal


Wardhana / Bawah Tanah dengan Metode
03411440000027 Very Low Frequency (Studi
Kasus : Kecamatan Pringkuku
Kabupaten Pacitan)

5 Maulana Ibnu S1 Pemetaan Sungai Bawah Proposal


Uma Saif Permukaan dengan Metode
Abdullah / Mikrotremor HVSR
03411440000039 (Horizontal to Vertical Spectral
Ratio) di Desa Dersono,
Kecamatan Pringkuku,
Kabupaten Pacitan

6 Miftakhur S1 Analisis Fisis dan Digital Proposal


Rahmat / Petrogafi untuk Karakterisasi
03411440000052 Batuan Karbonat Kawasan
Karst Kecamatan Pringkuku,
Pacitan

3
2. Jadwal

Tabel 4.2 Jadwal pelaksaan penelitian

No Kegiatan Penelitian Februari Maret April Mei Juni


1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Indikator Kerja
Penelusuran Data Sekunder :
1 data hydrogeologi, peta Ketersediaan data sekunder
geologi dan peta tomografi. pendukung kegiatan penelitian.
Ada persetujuan dan ijin survei
2
Pengurusan Perijinan Survey dari instansi terkait
Penentuan posisi dan lokasi Jejaring titik ukur dan rencana
3 titik ukur geofisika dan tindak akuisisi data lapangan
pengambilan sampel dan pengambilan sampel
Penentuan metodologi akuisisi tersedia, siap untuk
4
data di lapangan secara rinci dilaksanakan.
5
Pengecekkan Alat Alat siap untuk digunakan
6
Pengambilan Sampel Batuan Sampel batuan dapat diperoleh
Akuisisi data VLF di Data VLF yang valid dapat
7
Lapangan diperoleh
Akuisisi data Resis2D di Data Resis2D yang valid dapat
8
Lapangan diperoleh
Akuisisi data Mikrotremor di Data Mikrotremor yang valid
9
Lapangan dapat diperoleh
Data VES yang valid dapat
10
Akuisisi VES di Lapangan diperoleh
Data hasil pengujian sampel
11
Pengujian Sampel Batuan yang valid dapat diperoleh

24
Intepretasi data VLF, Resis2D,
Mikrotremor, VES, dan uji
12 sampel sehingga anomali dari
target yang diinginkan bisa
Pengolahan Data terlihat.
Laporan akhir masing-masing
13
Penyusunan Laporan TA

25
26