You are on page 1of 29

BAB I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya
untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran
lingkungan, sehingga dapat melindungi dan bebas dari kecelakaan kerja pada akhirnya
dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak
saja menimbulkan korban jiwa tetapi juga kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi
dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada
akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas.
Kesehatan kerja dapat tercapai secara optimal jika tiga komponen berupakapasitas
kerja, beban kerja, dan lingkungan kerja dapat berinteraksi baik dan serasi.
Kecelakaan ditempat kerja merupakan penyebab utama penderita perorangan dan
penurunan produktivitas. Menurut ILO (2003), setiap hari rata-rata 6000 orang meninggal
akibat sakit dan kecelakaan kerja atau 2,2 juta orang pertahun sebanyak 300.000 orang
pertahun, diantaranya meninggal akibat sakit atau kecelakaan kerja.
Kondisi kerja yang buruk berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja, mudah sakit,
stres, sulit berkonsentrasi sehingga menyebabkan menurunnya produktif kerja. Kondisi kerja
meliputi variabel fisik seperti distribusi jam kerja, suhu, penerangan, suara, dan ciri-ciri
arsitektur tempat kerja lingkungan kerja yang kurang nyaman, misalnya : panas, berisik,
sirkulasi udara kurang, kurang bersih, mengakibatkan pekerja mudah stress (Supardi, 2007).
Kondisi lingkungan fisik dapat terjadi misalnya suhu yang terlalu panas,terlalu dingin,
terlalu sesak, kurang cahaya dan semacamnya. Ruangan yang terlalu panas dan terlalu
dingin menyebabkan ketidaknyamanan seseorang dalam menjalankan pekerjaan. Panas bukan
hanya dalam pengertian temperatur udara, tetapi juga sirkulasi atau arus udara, munculnya stres
kerja, sebab beberapa orang sangat sensitif pada kebisingan dibanding yang lain (Margiati,
1999).
Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya
untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan,
sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.

1
B. TUJUAN
1.Untuk memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan dan Keselamatan Kerja
2. Mengetahui kelebihan dan kekurangan buku yang dikritisi
3. Mengetahui latar belakang dan alasan buku yang diterbitkan
4. Menguji kualitas buku dan dibandingkan dengan buku lain
5. Memberikan gambaran kepada pembaca dalam penilaian buku secara ringkas

C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan tema pada Critical Book Report yang saya susun, maka saya menyimpulkan lima rumusan
masalah yang perlu dibahas yaitu:
1. Bagaimana pencegahan pengendalian kecelakaan kerja?
2. Apa saja Penyebab kecelakaan kerja?
3. Bagaimanakah pertolongan pertama di tempat kerja?
4. Apa saja penyebab kebakan?
5. Bagaimana pencegahan kebakaran?

D. MANFAAT
1. Pengembangan Kreatifitas
2. Sebagai bahan pertimbangan
3. Sarana promosi buku
4. Nilai ekonomis

2
BAB II
ISI BUKU

 RINGKASAN BUKU UTAMA

Judul : Keselamatan Dan Kesehatan Kerja


Penulis : Riswan Dwi Djatmiko
Penerbit :CV.Budi Utama
ISBN :978-602-401-279-3
Halaman : 211 Halaman
Harga : Rp 50.000 / EXEMPLAR

3
RIMGKASAN BUKU

RISWAN DWI DJATMIKO,M.PD

BAB I.PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN KECELAKAAN KERJA

Kecelakaan Kerja adalah sesuatu yang tidak terduga dan tidak diharapkan yang dapat
mengakibatkan kerugian harta benda, korban jiwa / luka / cacat maupun pencemaran. Kecelakaan
kerja merupakan kecelakaan yang terjadi akibat adanya hubungan kerja, (terjadi karena suatu
pekerjaan atau melaksanakan pekerjaan ).

A. Konsepsi Penyebab Kecelakaan Kerja

 Sebelum Revolusi Industri :

Kecelakaan itu terjadi karena nasib semata-mata, sehingga pada waktu itu belum ada usaha
secara rasional yang diarahkan untuk mencegah kecelakaan.

 Zaman Revolusi Industri tahun 1931 :

Herbert W Heinrich memprakarsai teori dasar penyebab dan pencegahan kecelakaan atau
yang dikenal dengan teori “Domino Kecelakaan”. Dia mengatakan bahwa sebagian besar
kecelakaan ( ± 80% ) disebabkan karena faktor manusia atau dengan perkataan lain tindakan tidak
aman dari manusia.

B. Sebab Sebab Kecelakaan

Berdasarkan konsepsi sebab kecelakaan tersebut diatas, maka ditinjau dari sudut keselamatan
kerja unsur-unsur penyebab kecelakaan kerja mencakup 5 M yaitu :

1. Manusia.

2. Manajemen ( unsur pengatur ).

3. Material ( bahan-bahan ).

4. Mesin ( peralatan ).

5. Medan ( tempat kerja / lingkungan kerja ).

4
Semua unsur tersebut saling berhubungan dan membentuk suatu sistem tersendiri.
Ketimpangan pada salah satu atau lebih unsur tersebut akan menimbulkan kecelakaan / kerugian.
Berikut contoh bentuk-bentuk ketimpangan unsur 5M tersebut.:

1. Unsur Manusia, antara lain :

» Tidak adanya unsur keharmonisan antar tenaga kerja maupun dengan pimpinan.

» Kurangya pengetahuan / keterampilan.

» ketidakmampuan fisik / mental.

» Kurangnya motivasi.

2. Unsur Manajemen, antara lain :

» Kurang pengawasan.

» Struktur organisasi yang tidak jelas dan kurang tepat.

» Kesalahan prosedur operasi.

» Kesalahan pembinaan pekerja.

3. Unsur Material, antara lain :

» Adanya bahan beracun / mudah terbakar.

» Adanya bahan yang mengandung korosif.

4. Unsur Mesin, antara lain :

» Cacat pada waktu proses pembuatan.

» Kerusakan karena pengolahan.

» Kesalahan perencanaan.

5. Unsur Medan, antara lain :

» Penerangan tidak tepat ( silau atau gelap ).

» Ventilasi buruk dan housekeeping yang jelek.

5
C. Pencegahan Kecelakaan

Berdasarkan uraian diatas, maka kecelakaan terjadi karena adanya ketimpangan dalam unsur
5M, yang dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok yang saling terkait, yaitu :

Manusia, Perangkat keras dan Perangkat lunak. Oleh karena itu dalam melaksanakan pencegahan
dan pengendalian kecelakaan adalah dengan pendekatan kepada ketiga unsur kelompok tersebut,
yaitu :

1. Pendekatan terhadap kelemahan pada unsur manusia, antara lain :

a. Pemilihan / penempatan pegawai secara tepat agar diperoleh keserasian antara bakat

dan kemampuan fisik pekerja dengan tugasnya.

b. Pembinaan pengetahuan dan keterampilan melalui training yang relevan dengan

pekerjaannya.

c. Pembinaan motivasi agar tenaga kerja bersikap dan bertndak sesuai dengan keperluan

perusahaan.

d. Pengarahan penyaluran instruksi dan informasi yang lengkap dan jelas.

e. Pengawasan dan disiplin yang wajar.

2. Pendekatan terhadap kelemahan pada perangkat keras, antara lain :


a. Perancangan, pembangunan, pengendalian, modifikasi, peralatan kilang, mesin-mesin harus
memperhitungkan keselamatan kerja.

b. Pengelolaan penimbunan, pengeluaran, penyaluran, pengangkutan, penyusunan,


penyimpanan dan penggunaan bahan produksi secara tepat sesuai dengan standar
keselamatan kerja yang berlaku.

c. Pemeliharaan tempat kerja tetap bersih dan aman untuk pekerja.

d. Pembuangan sisa produksi dengan memperhitungkan kelestarian lingkungan.

e. Perencanaan lingkungan kerja sesuai dengan kemampuan manusia.

6
3. Pendekatan terhadap kelemahan pada perangkat lunak, harus melibatkan seluruh level
manajemen, antara lain :

a. Penyebaran, pelaksanaan dan pengawasan dari safety policy.

b. Penentuan struktur pelimpahan wewenang dan pembagian tanggung jawab.

c. Penentuan pelaksanaan pengawasan, melaksanakan dan mengawasi sistem/prosedur

kerja yang benar.

d. Pembuatan sistem pengendalian bahaya.

e. Perencanaan sistem pemeliharaan, penempatan dan pembinaan pekerja yang terpadu.

f. Penggunaan standard/code yang dapat diandalkan.

g. Pembuatan sistem pemantauan untuk mengetahui ketimpangan yang ada.

7
BABII P3K

A.Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Di Tempat Kerja

PertolonganPertama Pada Kecelakaan (P3K) merupakan pertolongan pertama yang harus


segera diberikan kepada korban yang mendapatkan kecelakaan atau penyakit mendadak dengan
cepat dan tepat sebelum korban dibawa ke tempat rujukan atau Rumah sakit. P3k yang dimaksud
yaitu memberikan perawatan darurat pada korban, sebelum pertolongan pertama yang lengkap
diberikan oleh dokter atau petugas kesehatan lainnya.
P3k diberikan untuk menyelamatkan korban, meringankan penderitaan korban, mencegah cidera
atau penyakit yang lebih parah, mempertahankan daya tahan korban, dan mencarikan pertolongan
yang lebih lanjut.

A. Prinsip Dasar
Adapun prinsip-prinsip dasar dalam menangani suatu keadaan darurat tersebut
diantaranya:

1. Pastikan Anda bukan menjadi korban berikutnya. Seringkali kita lengah atau kurang
berfikir panjang bila kita menjumpai suatu kecelakaan. Sebelum kita menolong korban, periksa
dulu apakah tempat tersebut sudah aman atau masih dalam bahaya.

2. Pakailah metode atau cara pertolongan yang cepat, mudah dan efesien. Hindarkan sikap sok
pahlawan. Pergunakanlah sumber daya yang ada baik alat, manusia maupun sarana pendukung
lainnya. Bila Anda bekerja dalam tim, buatlah perencanaan yang matang dan dipahami oleh seluruh
anggota.

3. Biasakan membuat catatan tentang usaha-usaha pertolongan yang telah Anda lakukan, identitas
korban, tempat dan waktu kejadian, dan sebagainya. Catatan ini berguna bila penderita mendapat
rujukan atau pertolongan tambahan oleh pihak lain.

8
B. Sistematika Pertolongan Pertama

Secara umum urutan Pertolongan Pertama pada korban kecelakaan adalah :

1. Jangan Panik
Berlakulah cekatan tetapi tetap tenang. Apabila kecelakaan bersifat massal, korban-korban
yang mendapat luka ringan dapat dikerahkan untuk membantu dan pertolongan diutamakan
diberikan kepada korban yang menderita luka yang paling parah tapi masih mungkin untuk
ditolong.

2. Jauhkan atau hindarkan korban dari kecelakaan berikutnya.


Pentingnya menjauhkan dari sumber kecelakaannya adalah untuk mencegah terjadinya
kecelakan ulang yang akan memperberat kondisi korban.

3. Perhatikan pernafasan dan denyut jantung korban.


Bila pernafasan penderita berhenti segera kerjakan pernafasan bantuan.

4.Pendarahan.
Pendarahan yang keluar pembuluh darah besar dapat membawa kematian dalam waktu 3
sampai 5 menit. Dengan menggunakan saputangan atau kain yang bersih tekan tempat
pendarahan kuat-kuat kemudian ikatlah saputangan tadi dengan dasi, baju, ikat pinggang, atau
apapun juga agar saputangan tersebut menekan luka-luka itu. Kalau lokasi luka
memungkinkan, letakkan bagian pendarahan lebih tinggi dari bagian tubuh.

5. Perhatikan tanda-tanda shock.


Korban-korban ditelentangkan dengan bagian kepala lebih rendah dari letak anggota tubuh
yang lain. Apabila korban muntah-muntah dalm keadaan setengah sadar, baringankan
telungkup dengan letak kepala lebih rendah dari bagian tubuh yang lainnya. Cara ini juga
dilakukan untuk korban-korban yang dikhawatirkan akan tersedak muntahan, darah, atau air
dalam paru-parunya. Apabila penderita mengalami cidera di dada dan penderita sesak nafas
(tapi masih sadar) letakkan dalam posisi setengah duduk.

6. Jangan memindahkan korban secara terburu-buru.


Korban tidak boleh dipindahakan dari tempatnya sebelum dapat dipastikan jenis dan
keparahan cidera yang dialaminya kecuali bila tempat kecelakaan tidak memungkinkan bagi
korban dibiarkan ditempat tersebut.

9
7. Segera transportasikan korban ke sentral pengobatan.
Setelah dilakukan pertolongan pertama pada korban setelah evakuasi korban ke sentral
pengobatan, puskesmas atau rumah sakit. Perlu diingat bahwa pertolongan pertama hanyalah
sebagai life saving dan mengurangi kecacatan, bukan terapi. Serahkan keputusan tindakan
selanjutnya kepada dokter atau tenaga medis yang berkompeten.
Namun pada dasarnya pertolongan pertama pada kecelakaan harus dilakukan secara
sistematis berdasar kepada DR CAB ,yaitu :

 Danger (Bahaya)
Pastikan Keadaan Aman untuk Menolong Sebelum menolong korban, sebaiknya anda
memastikan bahwa lokasi benar-benar aman bagi anda sebagi penolong, orang-orang di
sekitar lokasi kejadian, dan korban itu sendiri.
 Response (Respon)
Pastikan Kondisi Kesadaran Korban Periksa kesadaran korban dengan cara memanggil
namanya jika Anda kenal, atau bersuara yang agak keras di dekat telinga korban, jika tidak
ada respon juga, tepuk pundak korban perlahan namun tegas, berikan rangsangan nyeri
(misalnya mencubit bagian telinga korban).
 Compression (Tekanan pada Dada)

Setelah memastikan korban tidak memberi respon dan sudah memanggil bantuan medis,
lakukan kompresi dada yang biasa di kenal RJP (Resusitasi Jantung Paru-paru) atau disebut
CPR (Cardio Pulmonary Resutation).
 Airway (Jalan Nafas)

10
Setelah melakukan 30 kompresi, buka jalan nafas korban dengan metode Head-tilt chin-lift.
Tujuannya adalah untuk membuka jalan nafas korban yang tersumbat oleh lidah yang tertarik ke
tenggorokan sehingga menutupi jalan nafas.

Cara melakukan metodeHead-tilt chin-lift yaitu:


– Letakkan telapak tangan Anda di dahi korban dan letakkan jari-jari tangan Anda yang lain

dibawah dagu korban.


– Kemudian tekan dahi ke bawah sambil angkat dagu keatas sehingga kepala korban

mendongak keatas dan mulut korban terbuka.

 Breathing (Bernafas)

Setelah jalan nafas terbuka,ju lanjutkan dengan pemberian 2 kali nafas bantuan dari mulut ke
mulut. Perhatikan membusungnya dada korban untuk memastikan Volume tidal. Volume tidal
adalah jumlah udara yang dihirup dan dihembuskan setiap kali bernafas, dimana volume tidal
normal sesorang adalah 350-400ml.

Adapun cara memberikan nafas bantuan sebagai berikut :

– Pastikan jalan nafas korban masih dalan posisi terbuka dengan metode Head-tilt chin-lift

sebelumnya.
– Tekan hidung korban untuk memastikan tidak ada udara yang bocor melalui hidung, ambil

nafas dengan normal lalu tempelkan mulut serapat mungkin pada mulut korban dan tiupkan

nafas Anda melalui mulut.

11
C.Peralatan P3K

Adapun beberapa Alat Pelindung Diri (APD) dan Peralatan yang digunakan terhadap
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan, yaitu sebagai berikut:

1. Sarung tangan Lateks


2. Kacamata Pelindung
3. Masker Penolong
4. Masker Resusitasi

Pemakaian APD tidak sepenuhnya dapat melindungi penolong. Ada beberapa tindakan lain
yang harus dilakukan sebagai tindakan pencegahan, yaitu:
1. Mencuci Tangan
2. Membersihkan Peralatan.

Peralatan Pertolongan Pertama


Adapun Peralatan Pertolongan Pertama lainnya adalah:

1. Penutup Luka = – Kasa Steril


– Bantalan Kasa

2. Pembalut, contoh: – Pembalut Gulung / Pipa


– Pembalut Segitiga / Mitela
– Pembalut Tubuler / Tabung
– Pembalut Rekat / Plester

3. Cairan Antiseptik, contoh:= – Alkohol 70%


– Povidone iodine 10%

4. Cairan Pencuci Mata = – Boorwater

5. Peralatan Stabilisasi, contoh:= – Bidai


– Papan Spinal Panjang
– Papan Spinal Pendek

12
6. Gunting Pembalut 11.kartu korban

7. Pinset 12.alat tulis

8. Senter 13.oksigen

9. Kapas 14.tensimeter dan stetoskop

10. Selimut. 15.tandu

13
RINGASAN BUKU PEMBANDING
JOHN RIDLEY

BUKU PEMBANDING

JUDUL BUKU :Kesehatan Dan Keselamatan Kerja: Ikhtisar (Edisi 3)


Berat :0.53 kg
Tahun : 2009
Halaman : 328
ISBN : 9789790334595
Penerbit :Erlangga

14
BAB I KEBAKARAN
A.Pengertian Kebakaran
Kebakaran adalah reaksi kimia yang berlangsung cepatdan memancarkan panas dan sinar.
Kebakaran adalah salah satu bencana yang disebabkan Oleh api yang sifatnya terjadi tidak pada
tempatnya dan sulit dikendalikan manusia.

Agar api bisa menyala, tiga unsur tersebut harus ada pada saat yang sama dan pada proporsi
yang tepat. Salah satu unsur tidak ada maka kebakaran tidak akan terjadi. unsur pertama dari teori
segitiga api adalah bahan bakar yaitu semua bahan apa saja yang mudah terbakar. Bahan yang lebih
mudah terbakar berarti mempunyai titik nyala yang lebih rendah. Titik nyala adalah suatu
temperatur terendah dari suatu bahan untuk dapat mengubah bentuk menjadi uap dan akan menyala
bila tersentuh api. Semakin rendah titik nyala suatu bahan, maka bahan tersebut akan semakin
mudah terbakar.

Dilihat dari wujudnya, bahan bakar dibedakan menjadi 3 -tiga yaitu:

a.)Bahan bakar dalam bentuk padat seperti arang, kayu, kertas, kain, plastik dan sebagainya.

b.)Bahan bakar dalam bentuk cair seperti minyak tanah, minyak diesel, solar, bensin,spiritus

dan sebagainya. Dalam bentuk cair semakin rendah titik nyalanya semakin mudahlah

bahan tersebut menyala.

c.)Bahan bakar dalam bentuk gas seperti elpiji, acetylene, butane dan sebagainya.

Dalam bentuk gas dengan konsentrasi yang diperlukan dalam batas penyalaannya

Menurut zaini (19981) secara garis besar sumber panas dibedakan menjadi 4 yaitu :

a.Mekanis : gesekan.

b.elektris : aliran listrik, busur listrik, listrik statis dan petir.

c.panas : matahari, nyala api, dan pemampatan.

d.kimia : penyalaan spontan, reaksi kimia dan rekasi nukli

15
B. Penyebab Kebakaran

1.kebakaran yang terjadi karena kelalaian

Kelalaian adalah suatu tindakan yang tidak disengaja. Hampir setiap peristiwa

kebakaran besar terjadi karena faktor kelalaian.

2.kebakaran yang terjadi karena peristiwa alam.

banyak peristiwa alam yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran. contohnya adalah sinar
matahari dapat menyebabkan kebakaran gudang yang mudah terbakar atau mudah meledak,
letusan gunung berapi dapat mengakibatkan kebakaran hutan atau tempat-tempat yang dilalui
lava panas.

3.kebakaran yang terjadi karena penyalaan sendiri.

penyalaan sendiri sering terjadi pada gudang-gudang kimia atau tempat penyimpanan kopra.

4.kebakaran yang disebabkan oleh unsur kesengajaan.

peristiwa kebakaran yang disengaja pada umumnya mempunyai tujuan tertentu seperti
sabotase, mencari keuntungan pribadi, untuk menghilangkan jejak kejahatan dan lain-lain

Von Schwartz dalam zaini (1998),seorang ahli fisika mengajukan daftar penyebab
kebakaran.beliau mengelompokkan menjadi 11 penyebab kebakaran antara lain:

1.kntak lansung dengan bahan yang terbakar 6.debu yg dapat meledak

2.pemakaian panas untuk waktu yang lama 7.buang api sembarangan

3.panas atau terbakar spontan 8. reaksi kimia

4.ledakan atau penjalaran cepat 9. gesekan,tekanan,kejutan,goncangan

5. petir 10.sinar yang terfokus

11.listrik statis

16
Sedangkan dinas pemadaman kebakaran di Indonesia mengelompokkan penyebab
kebakaran menjadi lima yaitu :

a.hubung singkat listrik

b.kompor minyak tanah

c.rokok

d.lampu,dll

C. Klasifikasi Kebakaran di Indonesia


Kebakaran dapat dipadamkan menggunakan bahan atau media pemadaman yang cocok.
Agar tidak salah memilih media pemadaman orang berusaha mengelompokkan jenis
kebakaranyang disebut klasifikasi kebakaran. Klasifikasi dibuat berdasarkan jenis bahan yang
terbakar.dengan mengetahui adanya klasifikasi kebakaran maka diharapkan pemadaman akan
lebihmudah, lebih tepat menggunakan apar yang sesuai dengan klasifikasinya.

Klasifikasi yang sudah dibuat antara lain :

-klasifikasi U.L, -Klasifikasi National Fire Protection Assosiation (NFPA)

-Klasifikasi Eropa, dan klasifikasi US Coast Guard

Di indonesia,klasifikasi kebakaran ditetapkan melalui peraturan menteri tenaga kerja dan


transmigrasi no.04/MEN/1980 tanggal 14 April 1980 tentang syarat-syarat pemasangan dan
pemeliharaan alat pemadam api ringan.klasifikasinya adalah :

a. Kelas A,untuk bahan padat non logam,biasanya dari bahan organik seperti kertas dll.
b. Kelas B,Untuk bahan cair dan gas seperti bensi,solar minyak tanah,Dll
c. Kelas C,Untuk instalasi Listrik
d. Kelas D,Untuk bahan logam,yang melibatkan Magnesium,sodium,titanium

Bila dibandingkan dengan klasifikasi yang telah ada,ternyata klasifikasi indonesia berafiliasi
ke klasifikasi NFPA,dengan mengetahui adanya klasifikasi kebakaran maka nantinya diharapkan
pemadaman akan lebih mudah.

17
D. Cara Pemadaman Kebakaran

Terdapat 3 (tiga) cara untuk mengatasi atau memadamkan kebakaran:

1.Cara penguraian

Yaitu cara memadamkan dengan memisahkan atau menjauhkan bahan atau benda-benda
yang dapat terbakar

2. Carapendinginan

Yaitu cara memadamkan kebakaran dengan menurunkan panasatau suhu. Bahan air yang
paling
dominan digunakan dalam menurunkan panasdengan jalan menyemprotkan atau menyiramkan air
ketitikapi.

4. Cara isolasi atau lokalisasi


yaitu cara pemadaman kebakaran dengan mengurangikadar atau presentase O2 pada benda-
benda yang terbakar.

E. Pembentukan dan Penyebaran Asap

Pembentukan dan penyebaran asap adalah hal yang tak dapat diabaikan demi keamanan
kebakaran. Asap dapat menghalangi atau tidak memungkinkan orang menyelamatkan diri
meninggalkan gedung yang terbakar karena terhalangnya pandangan. Asap juga dapat lebih
mengobarkan api dan menimbukan panik. Regu pemadam kebakaran, dalam menunaikan tugasnya,
pada umumnya telebih dahulu menilai keadaannya dan dengan sendirinya sambil menolong
penyelamatan manusia dapat terhalang oleh asap.

Pembentukan asap adalah persoalan bahan bangunan sedangkan penyebaran asap adalah
persoalan konstruksi bangunan. Lubang ventilasi, tangga ke lantai lebih atas, dan sebagainya sangat
mempenagruhi penyebaran asap.

18
F. Pencegahan Bahaya Kebakaran
Pencegahan kebakaran adalah usaha mewaspadai akan faktor-faktor yang menjadi sebab
munculnya atau terjadinya kebakaran dan mengambil langkah-langkah untuk mencegah
kemungkinan tersebut menjadi kenyataan. Pencegahan kebakaran membutuhkan suatu program
pendidikan dan pengawasan beserta pengawasan karyawan, suatu rencana pemeliharaan yang
cermat dan teratur atas bangunan dan kelengkapannya, pemeriksaan, penyediaan dan penempatan
yang baik dari peralatan pemadam kebakaran termasuk memeliharanya baik segi siap-pakainya
maupun dari segi mudah dicapainya.

Untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan akibat kebakaran Pemerintah mengeluarkan


undang-undang UU No. 1 Tahun 1970 “Dengan perundangan ditetapkan persyaratan keselamatan
kerja untuk mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran”.Yang dikuatkan dengan
Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No.186/MEN/1999 Tentang Unit Penanggulangan Kebakaran
di Tempat Kerja disebutkan dalam Pasal ayat 1 “Pengurus atau Perusahaan wajib mencegah,
mengurangi dan memadamkan kebakaran, menyelenggarakan latihan penganggulangan kebakaran
di tempat kerja”.

G. Peralatan Pencegahan Kebakaran

APAR atau fire extinguishers atau racun api merupakan peralatan reaksi cepat yang multi
guna karena dapat dipakai untuk jenis kebakaran A, B dan C. Peralatan ini mempunyai berbagai
ukuran beratnya, sehingga dapat ditempatkan sesuai dengan besar-kecilnya resiko kebakaran yang
mungkin timbul dari daerah tersebut, misalnya tempat penimbunan bahan bakar terasa tidak
rasional bila di situ kita tempatkan racun api dengan ukuran 1,2 Kg dengan jumlah satu tabung.
Bahan yang ada dalam tabung pemadam api tersebut ada yang dari bahan kimia kering, foam atau
busa dan CO2, untuk Halon tidak diperkenankan dipakai di Indonesia.

Secara singkat cara mengoperasikan APAR adalah sebagai berikut.

1. APAR Jenis Air

Pada jenis ini media pemadamnya berupa air yang terletak pada tabung. Dibuat dalam dua
konstruksi yaitu SPT dan GCT. Jarak jangkau pancaran sekitar 10 ft sampai 20 ft. Dan waktu
pancaran sekitar satu menit untuk kapasitas 2,5 galon. Hanya direkomendasikan untuk
kebakaran jenis A, dengan luas bidang jangkauan sekitar 2500 ft persegi, jarak penempatan
setiap 50 ft.

19
2. APAR Jenis Busa

Tabung utama berisi larutan sodium bikarbonat (ditambah dengan penstabil busa). Tabung
sebelah dalam berisi larutan aluminium sulfat. Campuran dari kedua larutan tersebut akan
menghasilkan busa dengan volume 10 kali lipat. Busa ini kemudian didorong oleh gas
pendorong (biasanya CO2 ).

3. APAR Jenis Karbon Dioksida

APAR jenis ini memadamkan dengan cara isolasi (smothering) di mana oksigen diupayakan
terpisah dari apinya. Di samping itu CO2 juga mempunyai peranan dalam pendinginan.
Material yang diselimuti oleh CO2 akan cenderung lebih dingin..

4. APAR Jenis Serbuk Kimia Kering (dry chemical powder)

APAR jenis ini berisi tepung kering sodium bikarbonat dan tabung gas karbon dioksida atau
gas nitrogen (di dalam cartridge) sebagai pendorongnya. Gas pendorong bisa ditempatkan
dalam tabung atau di luar tabung. Tepung kimia kering bersifat cepat menutup material yang
terbakar, dan mempunyai daya jangkau menutup permukaan yang cukup luas.

5. APAR Jenis Gas Halon dan Pasca Halon

APAR jenis ini biasanya berisi gas halon yang terdiri dari unsur-unsur karbon, fluorine,
bromide dan chlorine. Namun sejak diketemukan lubang pada lapisan ozon yang diduga
disebabkan oleh salah satu unsur gas halon maka menurut perjanjian Montreal gas halon tidak
boleh dipergunakan lagi, dan mulai 1 Januari 1994 gas halon tidak boleh diproduksi.

Adapun alat pendukung APAR antara lain:

a. Hydran

Ada 3 jenis hydran, yaitu hydran gedung, hydran halaman dan hydran kota, sesuai namanya
hydran gedung ditempatkan dalam gedung, untuk hydran halaman ditempatkan di halaman,
sedangkan hydran kota biasanya ditempatkan pada beberapa titik yang memungkinkan Unit
Pemadam Kebakaran suatu kota mengambil cadangan air. Detektor Asap atau Smoke
Detector Peralatan yang memungkinkan secara otomatis akan memberitahukan kepada setiap
orang apabila ada asap pada suatu daerah maka alat ini akan berbunyi, khusus untuk
pemakaian dalam gedung.

20
b. Fire Alarm

Peralatan yang dipergunakan untuk memberitahukan kepada setiap orang akan adanya bahaya
kebakaran pada suatu tempat.

c. Sprinkler

Peralatan yang dipergunakan khusus dalam gedung, yang akan memancarkan air secara
otomatis apabila terjadi pemanasan pada suatu suhu tertentu pada daerah di mana ada
sprinkler tersebut.

21
BAB II KECELAKAAN KERJA

Kecelakaan adalah sebuah kejadian tak terduga yang menyebabkan cedera atau kerusakan.
Kecelakaan Kerja adalah sesuatu yang tidak terduga dan tidak diharapkan yang dapat
mengakibatkan kerugian harta benda, korban jiwa / luka / cacat maupun pencemaran.

Kecelakaan kerja merupakan kecelakaan yang terjadi akibat adanya hubungan kerja, (terjadi
karena suatu pekerjaan atau melaksanakan pekerjaan). Kecelakaan kerja juga dapat didefinisikan
suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan korban
manusia dan atau harta benda tentunyahal ini dapat mengakibatkan kerugian jiwa serta kerusakan
harta benda.

A. Pengertian Kecelakaan Kerja


Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki yang
mengacaukan proses yang telah diatur dfari suatu aktivitas dandapat menimbulkan kerugian
baik korban manusia dan atau harta benda (Depnaker, 1999:4).
Kecelakaan kerja ( accident ) adalah suatu kejadian atauperistiwa yang tidak diinginkan yang
merugikan terhadap manusia, merusak hartabenda atau kerugian terhadap proses (Didi
Sugandi, 2003 : 171).

Dengan demikian menurut definisi tersebut ada 3 hal pokok yang perlu diperhatikan :
a. Kecelakaan merupakan peristiwa yang tidak dikehendaki
b. Kecelakaan mengakibatkan kerugian jiwa dan kerusakan harta benda
c. Kecelakaan biasanya terjadi akibat adanya kontak dengan sumber energi yang melebihi

ambang batas tubuh atau struktur.

22
B. Klasifikasi Kecelakaan Kerja

Menurut ILO, kecelakaan kerja di klasifikasikan menjadi 4 golongan, yaitu:

1. Klasifikasi Menurut Jenis Kecelakaan

Menurut jenis kecelakaan, kecelakaan di klasifikasikan sebagai berikut:

· Terjatuh

· Tertimpa benda

· Tertumbuk

· Terjepit

· Gerakan melebihi kemampuan

· Pengaruh suhu

· Terkena arus listrik

· Terkena bahan-bahan berbahaya/radiasi

2. Klasifikasi menurut penyebab kecelakaan

Menurut penyebab kecelakaan, kecelakaan di klasifikasikan sebagai berikut:

· Mesin

· Alat angkut

· Peralatan lain, seperti dapur pembakaran atau pemanas, instalasi listrik

· Bahan-bahan zat kimia atau radiasi

· Lingkungan kerja, misalnya di ketinggian atau kedalaman tanah

23
3. Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan

Menurut sifat luka atau kelainan, kecelakaan di klasifikasikan sebagai berikut:

· Patah tulang

· Dislokasi ( keseleo )

· Regang otot ( urat )

· Memar dan luka dalam yang lain

· Amputasi

· Luka di permukaan

· Geger dan remuk

· Luka bakar

· Keracunan-keracunan mendadak

· Pengaruh radiasi

· Lain-lain

4. Klasifikasi menurut letak kelainan atau cacat di tubuh

Menurut letak kelainan atau cacat di tubuh, kecelakaan di klasifikasikan sebagai berikut:

· Kepala

· Leher

· Badan

· Anggota atas

· Anggota bawah

· Banyak tempat

· Letak lain yang tidak termasuk klasifikasi tersebut

24
C. Sebab-Sebab Kecelakaan

Kecelakaan tidak terjadi begitu saja, kecelakaan terjadi karena tindakan yang salah atau
kondisi yang tidak aman. Kelalaian sebagai sebab kecelakaan merupakan nilai tersendiri dari teknik
keselamatan. Ada pepatah yang mengungkapkan tindakan yang lalai seperti kegagalan dalam
melihat atau berjalan mencapai suatu yang jauh diatas sebuah tangga. Hal tersebut menunjukkan
cara yang lebih baik selamat untuk menghilangkan kondisi kelalaian dan memperbaiki kesadaran
mengenai keselamatan setiap karyawan pabrik.

Diantara kondisi yang kurang aman salah satunya adalah pencahayaan, ventilasi yang
memasukkan debu dan gas, layout yang berbahaya ditempatkan dekat dengan pekerja, pelindung
mesin yang tak sebanding, peralatan yang rusak, peralatan pelindung yang tak mencukupi, seperti
helm dan gudang yang kurang baik.

D. Faktor - Faktor Kecelakaan

Kecelakaan –kecelakaan akibat kerja yang sering terjadi banyak di sebabkan oleh faktor
manusia dan sedikit dipengaruhi oleh faktor alat.

Adapun faktor manusia dapat dipengaruhi oleh:

a. Latar belakang pendidikan

Latar belakang pendidikan seseorang dapat mempengaruhi tindakan seseorang dalam


bekerja. Orang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi cenderung berfikir lebih panjang atau
dalam memandanag sesuatu pekerjaan akan melihat dari berbagai segi. Misalnya dari segi
keamanan alat atau dari segi keamanan diri. Lain halnya dengan orang yang berpendidikan lebih
rendah, cenderung akan berfikir lebih pendek atau bisa di katakan ceroboh dalam bertindak.
Misalnya ketika kita melakukan pekerjaan yang sangat beresiko terhadap kecelakaan kerja tetapi
kita tidak memakai peralatan safety dengan benar. Hal ini yang tentunya akan menimbulkan
kecelakaan.

25
b. Psikologis

Faktor psikolgi juga sangat mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja. Psikologis


seseorang sangat berpengaruh pada konsentrasi dalam melakukan sesuatu pekerjaan. Bila
konsesntrasi sudah terganggu maka akan mempengaruhi tindakan-tindakan yang akan dilakukan
ker\tika bekerja. Sehingga kecelakaan kerja sangat mungkin terjadi. Contoh faktor psikologis yang
dapat mempengaruhi konsentrasi adalah:

1. Masalah-masalah dirumah yang terbawa ke tempat kerja

2. Suasana kerja yang tidak kondusif

3. Adanya pertengkaran dengan teman sekerja

4. Dan lai-lain

c. Keterampilan

Keterampilan disini bisa diartikan pengalaman seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan.
Misalnya melakukan start/stop pada sebuah peralatan, memakai alat-alat keselamatan, dan lain-lain.
Pengalaman sangat dibutuhkan ketika melakukan pekerjaan untuk menghindari kesalahan-
kesalahan yang berakibat timbulnya kecelakaan kerja.

d. Fisik

Lemahnya kondisi fisik sesorang berpengaruh pada menurunnya tingkat konsentrasi dan motivasi
dalam bekerja. Sedangkan kita tahu bahwa konsentrasi dan motivasi sangat dibutuhkan ketika
bekerja. Bila sudah terganggu, kecelakaan sangat mungkin terjadi. Contoh factor fisik ini adalah
kelelahan, dan menderita suatu penyakit.

Adapaun juga yang dipengaruhi oleh faktor alat, yaitu:

Kondisi suatu peralatan baik itu umur maupun kualitas sangat mempengaruhi terjadinya kecelakaan
kerja. Alat-alat yang sudah tua kemungkinan rusak itu ada. Apabila alat itu sudah rusak, tentu saja
dapat mengakibatkan suatu kecelakaan.

26
Contohnya:

- Unit alat berat yang sudah tua

- Alat-alat safety yang sudah rusak

Setelah kita mengetahui faktor-faktor yang menyebakan suatu kecelakaan kerja, kita dapat
mencegahnya, yaitu dengan cara :

- Menyelsaikan masalah-masalah yang ada tanpa harus menundanya

- Jangan mencampur adukan masalah di rumah dengan di tempat kerja

- Sering membaca buku-buku pengetahuan agar wawasan kita bertambah

- Selalu menjaga kebugaran dan kesehatan dengan teratur berolahraga

- Menambah pengalaman dalam suatu pekerjaan

- Melakukan permajaan pada alat-alat berat yang sudah tua

- Melakukan kualitas kontrol pada alat-alat yang ada di tempat kerja

27
BAB III

PEMBAHASAN

A. Keunggulan

 Buku Utama
1. Pembahasan materi lebih terperinci.
2. Menyertakan catatan kaki sehingga pembaca mengetahui dari mana sumber referensi buku
tersebut.
3. Memiliki sumber-sumber buku acuan atau daftar pustaka.

 Buku pembanding
1. Penyajian isi buku sangat efisien dan efektif.
2. Rangkuman yang terletak setelah penjabaran materi menyimpulkan poin-poin penting yang
dibahas dalam setiap bab-nya.
3. Tugas-tugas atau latihan pada setiap akhir bab sangat baik bagi pembaca terutama
mahasiswa dalam menguji tingkat kompetensi yang diperoleh.
4. Kertas buku yang dipakai dan ukuran huruf cukup baik untuk ukuran mata normal. Terbukti
dengan mudahnya pembaca memahami isi dan tidak merasa perih matanya jika terlalu lama
membaca.
5. Penulisan didesain dengan temperamen yang sesuai dengan konteks zaman.
6. Adanya kutipan bahasa asing yang dituliskan langsung dalam bahasa aslinya sehingga
pembaca akan lebih memahami arti atau makna yang terkandung didalamnya.
7. Menyertakan pasal-pasal untuk seorang pengajar atau guru dan dosen.

B. Kelemahan
 Buku satu
1. Tidak menyertakan daftar pustaka.
2. Buku terlalu tebal sehingga pembaca memiliki rasa malas untuk membacanya.
 Buku pembanding
1. Covernya tidak menarik sehingga pembaca juga tidak begitu tertarik untuk membaca.
2. Tidak memberikan rangkuman di setiap akhir pembahasan atau bab.

28
BAB IV

PENUTUP

A.Kesimpulan

Dari yang critic book dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa kedua buku pembanding
terlihat lebih unggul dari pada buku utamanya.Namun bukan berarti buku utama tidak layak untuk
dibaca. Buku utama tetap bagus namun untuk kategori materi yang lainnya. Sedang pada materi
Kesehatan dan Kesselamatn Kerja buku pembanding terlihat lebih unggul dan lengkap serta jelas.
kedua buku tersebut pun dapat dijadikan referensi tambahan untuk lebih memahami
mengenai Kesehatan dan Keselamatan Kerja.

B. Saran
Adapun saran ya dapat disampaikan yakni sebagai mahasiswa dan masyarakatnya luas yang
menggunakan buku sebagai penambah wawasan agar semestinya kita dapat melihat mana buku
yang dapat digunakan atau tidak dalam arti relevan atau masih sesuai dengan perkembangan zaman
atau tidak. Tentu nya kita akan memilih buku yang masih relevan, original, dan sesuai dengan
kebutuhan yang diperlukan.

29