You are on page 1of 4

10.1.

Proses Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga


Kementerian Negara/Lembaga menyusun Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga
(Renja-K/L) dengan mengacu pada prioritas pembagunan nasional dan pagu indikatif yang
ditetapkan sebelumnya dalam Surat Edaran Bersama Menteri Perencanaan dan Menteri Keuangan.
Penyusunan rencana kerja tersebut dilakukan pada sekitar bulan Januari hingga bulan April.
Rencana kerja tersebut memuat kebijakan, program dan kegiatan yang dilengkapi sasaran kinerja
dengan menggunakan pagu indikatif untuk tahun anggaran yang sedang berlangsung/disusun dan
prakiraan maju untuk tahun anggaran berikutnya. Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga
tersebut disampaikan kepada Kementerian Perencanaan.
Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga ini ditelaah oleh Kementerian Perencanaan yang
berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan. Jika terdapat perubahan terhadap Rencana Kerja
Kementerian Negara/Lembaga yang sedang ditelaah tersebut maka dapat disetujui oleh
Kementerian Perencanaan yang berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan atas usulan
Kementerian Negara/Lembaga terkait.
Pada pertengahan bulan Juni, Menteri Keuangan memberikan Surat Edaran Menteri
Keuangan tentang Pagu sementara bagi masing-masing program yang ditetapkan dalam Renja-
K/L kepada Menteri/Pimpinan Lembaga untuk kemudian disusun Rencana Kerja dan Anggaran
Kementerian/Lembaga (RKA-K/L) dengan menyesuaikan antara Renja-K/L dengan pagu
sementara tersebut. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-K/L) ini
dirinci menurut unit organisasi dan kegiatan.
Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L) ini kemudian dibahas
oleh Kementerian/Lembaga bersama-sama dengan Komisi terkait di DPR. Hasil pembahasan
tersebut disampaikan kepada Kementerian Perencanaan paling lambat pertengahan bulan Juli.
Kementerian Perencanaan selanjutnya menelaah kesesuaian antara Rencana Kerja dan Anggaran
Kementerian/Lembaga (RKA-K/L) hasil pembahasan bersama DPR dengan Rencana Kerja
Pemerintah. Sementara Kementerian Keuangan menelaah kesesuaian RKA-K/L hasil pembahasan
tersebut dengan Surat Edaran Menteri Keuangan tentang pagu sementara, prakiraan maju yang
telah disetujui tahun anggaran sebelumnya dan standar biaya yang telah ditetapkan.
Menteri Keuangan menghimpun RKA-K/L yang telah ditelaah untuk selanjutnya bersama-
sama dengan nota keuangan dan Rancangan APBN dibahas dalam Sidang Kabinet.
Setelah nota keuangan, Rancangan APBN beserta himpunan RKA-K/L telah dibahas maka
Pemerintah menyampaikannya kepada DPR selambat-lambatnya pertengahan bulan Agustus
untuk dibahas bersama dan lalu ditetapkan menjadi Undang-Undang APBN selambat-lambatnya
pada akhir bulan Oktober.
RKA-K/L yang telah disepakati DPR tersebut ditetapkan dalam Keputusan Presiden
(Keppres) tentang Rincian APBN selambat-lambatnya akhir bulan November. Keppres iini lantas
menjadi dasar bagi tiap-tiap Kementerian Negara/Lembaga untuk menyusun konsep Dokumen
Pelaksanaan Anggaran yang akan disampaikan kepada Menteri Keuangan salaku Bendahara
Umum Negara paling lambat minggu kedua bulan Desember. Dokumen Pelaksanaan Anggaran
ini lantas disahkan oleh Menteri Keuangan selambat-lambatnya tanggal 31 Desember.
11.1 MENJELASKAN RENCANA DAN ANGGARAN PEMERINTAH DAERAH
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah rencana keuangan tahunan
pemerintahan daerah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Rancangan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah merupakan bahan APBD yang diajukan oleh Pemerintah Daerah
untuk dibahas dalam sidang DPRD untuk disetujui sebagai APBD. APBD merupakan anggaran
tahunan yang dilaksanakan mulai tanggal 1 Januari hingga 31 Desember. APBD disusun sesuai
dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintah dan kemampuan pendapatan daerah. Azas ini
mengharuskan pemerintah daerah merencanakan kegiatan daerah yang dibutuhkan masing-masing
dengan memperhatikan kemampuan daerah dalam memperoleh pendapatan. Daerah diseyogyakan
untuk menghindari utang daerah.
Penyusunan APBD didasarkan kepada rencana kerja pemerintah daerah untuk mewujudkan
pelayanan masyarakat untuk mencapai cita-cita negara. Penyusunan APBD didasarkan pada
perencanaan yang sudah ditetapkan terlebih dahulu, mengenai program dan kegiatan yang akan
dilaksanakan. Bila dilihat dari perspektif waktunya, perencanaan di tingkat pemerintah daerah
dibagi menjadi tiga kategori yaitu:
 Rencana Jangka Panjang Daerah (RPJPD), merupakan perencanaan pemerintah
daerah untuk periode 20 tahun
 Rencana Jangka Menengah Daerah (RPJMD) merupakan perencanaan pemerintah
daerah untuk periode 5 tahun
 Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) merupakan perencanaan tahunan daerah.
Sedangkan perencanaan di tingkat SKPD terdiri dari:
 Rencana Strategi (Renstra) SKPD merupakan rencana untuk periode 5 tahun; dan
 Rencana Kerja (Renja) SKPD merupakan rencana kerja tahunan SKPD.
Proses Penyusunan APBD di pemerintah daerah
Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selalu diatur dengan peraturan
perundang-undangan dalam pembuatannya. Dimulai dengan Undang-undang 17 Tahun
2003 tentang Keuangan Negara, kemudian diperjelas dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58
Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, serta diarahkan pelaksanaannya dengan
Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Selain itu,
setiap Tahunnya Pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri mengeluarkan Permendagri tentang
Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk tahun anggaran
berikutnya.
Satuan Kerja Perangkat Daerah dalam menyusun RKA-SKPD harus mengacu kepada
dokumen Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan juga Prioritas dan Plafon anggaran (PPA).
Selain itu SKPD juga harus berpedoman kepada Renstra dan juga Renja SKPD yang dibuat dengan
mengacu kepada RKPD. Setelah RKA-SKPD dibuat kemudian diserahkan kepada Tim tekhnis
dari TAPD untum melakukan verifikasi RKA-SKPD. Verifikasi yang telah dilakukan kemudian
akan disampaikan dalam forum TAPD sebelum dilakukan penyusunan RAPBD. RAPBD yang
telah disusun kemudian akan disampaikan kepada DPRD untuk dilakukan pembahasan dan juga
penetapan Raperda APBD.
Penyusunan anggaran di daerah telah diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri
nomor 13 Tahun 2006 yang disajikan dalam bentuk tabel berikut (Lampiran). Pemerintah Daerah
mempunyai jadwal penyusunan anggaran yang disusun oleh Bappeda dengan tetap berpedoman
pada Permendagri tersebut. Namun dalam pelaksanaannya pemerintah daerah sering kali mundur
dari jadwal yang telah diatur oleh peraturan perundang-undangan.Mundurnya jadwal penyusunan
anggaran di pemerintah Daerah sering kali disebabkan oleh pembahasan perubahan APBD Tahun
berjalan yaitu APBD tahun sebelumnya sehingga melebihi waktu yang telah diatur. Pembahasan
perubahan APBD tersebut secara otomatis akan mempengaruhi jadwal penyusunan APBD untuk
tahun selanjutnya karena semua tahapan dalam penyusunan anggaran akan mundur dari jadwal
yang telah diatur dalam Permendagri 13 tahun 2006. Penyebab dari lamanya pembahasan
perubahan APBD tahun sebelumnya ini adalah karena setiap SKPD mengajukan perubahan
kegiatan yang melebihi anggaran daerah yang tersedia, selain itu adanya ketidaksesuaian antara
program dan kegiatan perubahan yang tidak sesuai dengan pos anggaran yang ada, apakah masuk
di SiLPA, Dana Otonomi Khusus, Dana Perimbangan, dll.
Dinas Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) selaku PPKD harus melakukan
evaluasi agar alokasi dana untuk perubahan program dan kegiatan dapat sesuai dengan pos
anggaran dan selain itu juga untuk meminimalisir program dan kegiatan yang kurang efektif dan
efisien. Pengkajian yang dilakukan itulah yang menjadikan pembahasan menjadi lama karena
harus melibatkan semua SKPD dalam pembahasannya dimana setiap SKPD harus dapat
menjelaskan maksud dari program dan kegiatan yang dimasukkan dalam perubahan anggaran
SKPD tersebut. Pergeseran anggaran pun tidak bisa sembarang dilakukan oleh SKPD, sehingga
hal tersebut yang perlu dikaji lagi oleh DPKAD untuk mengetahui apakah ada pergeseran anggaran
yang tidak sesuai.
Penyusunan Kebijakan Umum APBD oleh Bappeda mengalami keterlambatan sebagai
akibat dari pembahasan perubahan APBD yang lama. Penyusunan Kebijakan Umum APBD yang
idealnya dilaksanakan pada bulan Juni dengan estimasi waktu penyusunan selama 1
bulan seringkali mengalami kemunduran dalam pelaksanaannya. Setelah penyusunan dilakukan,
Kebijakan Umum APBD (KUA) harus disampaikan kepada DPRD yang dalam hal ini melalui
Panitia Anggaran. Estimasi pembahasan KUA beserta kesepakatannya berlangsung selama 3
minggu sampai dengan minggu pertama bulan Juli. Dikarenakan keterlambatan dalam penyusunan
KUA, maka penyampaian KUA dan juga kesepakatan yang, biasanya dilakukan pada bulan
Agustus
Berlanjut kepada penyusunan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara, pemda biasanaya
belum mampu menyusun PPAS sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh peraturan perundang-
undangan. Dalam Permendagri 13 tahun 2006, penyusunan PPAS sampai dengan disepakati
menjadi Prioritas dan Plafon Anggaran (PPA) antara TAPD dan Panitia Anggaran DPRD
berlangsung pada bulan Juli. Namun yang sering kali terjadi di Pemerintah Daerah adalah
penyusunan PPAS dilaksanakan pada Minggu kedua bulan Agustus sampai dengan akhir bulan
September.
Mundurnya jadwal penyusunan KUA dan PPAS secara otomatis berpengaruh terhadap jadwal
penyusunan RKA-SKPD. SKPD diberikan estimasi waktu kurang dari 1 bulan untuk menyusun
RKA-SKPD yakni pada bulan Oktober.Penyusunan Rencana Kerja yang tergesa-gesa akan
berpengaruh tidak hanya kepada kualitas program dan kegiatan tetapi juga akan berpengaruh
terhadap efektivitas atau tidaknya program dan kegiatan tersebut. Sehingga akan berdampak pada
tahap perubahan APBD untuk tahun anggaran berikutnya.
Keterlambatan penyusunan RKA-SKPD juga berpengaruh pada verifikasi RKA-
SKPD yang dilakukan pada bulan November, mundur satu bulan dari waktu yang seharusnya.
Disini Tim Tekhnis (verifikasi) diberi batas waktu selama satu minggu untuk menyelesaikan
verifikasi.
Hasil Verifikasi RKA-SKPD yang telah disetujui oleh TAPD kemudian dijadikan dasar
untuk menyusun Rancangan APBD. Penyusunannya dilakukan bersama-sama oleh Tim Tekhnis
yang telah ada. Penyusunan Rancangan APBD pada tahun anggaran yang berjalan dilakukan pada
minggu kedua bulan November. Penyusunan Rancangan APBD dilakukan selama satu minggu.
Setelah penyusunan Rancangan APBD selesai, kemudian pada minggu ketiga Bulan November
Pemerintah daerah menyampaikan Rancangan Perda APBD kepada DPRD.Penyampaian Raperda
APBD oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) kepada DPRD melalui Panitia
Anggaran berlangsung pada Minggu Ketiga Bulan November.
Salah satu fungsi dari anggaran adalah sebagai instrumen politik. Dengan anggaran akan
menunjukkan bargaining eksekutif dalam mengelola anggaran tersebut. Akan tetapi bargaining
eksekutif tersebut harus sesuai dengan tuntutan kebutuhan publik yang tentunya diawali oleh
legislatif. Hal tersebut akan terjadi pada saat pembahasan Raperda bersama DPRD