Sie sind auf Seite 1von 9

See

discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/316471873

Transdermal Patch Formulation Of


Dextrometorphan HBr With Polimers
Modification of Na CMC and HPMC

Article · June 2016

CITATIONS READS

0 581

6 authors, including:

Febri Riwayati Ningrum Zhafran Khalish


Universitas Islam Indonesia Universitas Islam Indonesia
4 PUBLICATIONS 0 CITATIONS 1 PUBLICATION 0 CITATIONS

SEE PROFILE SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Transdermal Patch Formulation Of Dextrometorphan HBr With Polimers Modification of Na CMC and
HPMC View project

All content following this page was uploaded by Febri Riwayati Ningrum on 26 April 2017.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


FORMULASI TRANSDERMAL PATCH DEXTROMETORPAN HBr
DENGAN MODIFIKASI POLIMER Na CMC DAN HPMC

Transdermal Patch Formulation Of Dextrometorphan HBr With Polimers


Modification of Na CMC and HPMC

Putri Anggriani*, Febri Riwayati N.*, Amalia Nita A., Desica Nuramienda A.
P., Dina Putri F., Fitria Tri Rahayu, Zhafran Khalish.

Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Islam Indonesia, Jl. Kaliurang Km. 14,5

Email korespondensi 1 : putri.anggriani.59@gmail.com

Email korespondensi 2 : febriningrum.fn@gmail.com

ABSTRAK

Dextrometorphan HBr biasa dikenal sebagai antithusive non-narkotik yang


umumnya digunakan sebagai salah satu komposisi dalam formulasi sediaan obat
flu dan batuk. Tujuan digunakannya Dextrometorphan HBr sebagai bahan aktif
dalam formulasi pembuatan transdermal patch adalah untuk meningkatkan
berbagai aspek pengguanaan sediaan ditinjau dari sisi keamanan, kenyamanan,
keefektifan dan dari segi kepraktisan penggunaan dari sediaan, selain itu tujuan
modifikasi polimer adalah untuk mendapatkan hasil terbaik dari formulasi
transdermal patch. Pembuatan transdermal patch menggunakan formulasi dengan
modifikasi polimer Na CMC dan HPMC K15 yang diformulasikan dengan
pembawa, bahan aktif dextrometorphan HBr, dan DMSO sebagai enhancher
kemudian dicetak dan dioven selama 24 jam pada suhu 38º C dengan pemantauan
berkelanjutan. Evalusi yang dilakukan meliputi uji ketebalan, pH, elastisitas,
tampilan fisik, keseragaman bobot dan diameter didapatkan hasil patch paling
baik pada F1 dengan perbandingan Na CMC : HPMC (1:1).
Kata kunci : Dextrometorphan HBr, Transdermal patch, Na CMC, HPMC.

Abstract
Dextrometorphan HBr is well known as non-narcotic antithusive agent, is
generally used as ingredient in cough and cold remedies. The aim of using
Dextrometorphan HBr as active ingredient in transdermal patch formulation is to
increase many aspect reviewed from savety, comfortability, efficacy, and
practicability in generally use, another aim of polimer’s modification is to get the
best result of transdermal patch formulation. Transdermal patch formulation is

1
use polimers modification of Na CMC and HPMC K15 were formulated with
active agent Dextrometorphan HBr, and DMSO as enhancher then be heated in
38º C for 24 hours with monitoring. Evaluation involve thickness test, pH test,
elasticity test, physical appearance, weight uniformity test, and diameter
measurement, we got F1 as the best formulation of transdermal patch with Na
CMC and HPMC comparison 1:1.
Keywords : Dextrometorphan HBr, Transdermal patch, Na CMC, HPMC.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Batuk adalah suatu refleks fisiologi pada keadaan sehat maupun sakit dan
dapat Ditimbulkan oleh berbagai sebab. Refleks batuk lazimnya diakibatkan oleh
rangsangan dari selaput lendir saluran pernapasan, yang terletak dibeberapa
bagian dari tenggorokan. Batuk merupakan suatu mekanisme fisiologi yang
bermanfaat untuk mengeluarkan dan membersihkan saluran pernapasan dari
dahak, zat-zat perangsang asing, dan unsure infeksi. Dengan demikian, batuk
merupakan suatu mekanisme perlindungan(PDPI 2003).

Dextrometorphan HBr biasa dikenal sebagai antithusive non-narkotik yang


umumnya digunakan sebagai salah satu komposisi dalam formulasi sediaan obat
flu dan batuk(Silvati, Y., et al, 1987). Penggunaan Dextrometorphan HBr sebagai
zat aktif dalam formulasi pembuatan transdermal patch dimaksudkan untuk dapat
meningkatkan berbagai aspek ditinjau dari sisi keamanan, kenyamanan,
keefektifan dan dari segi kepraktisan dari sediaan(Sheth & Mistry 2011). Selain
memerhatikan keamanan pada sediaan patch yang dibuat. Sebagai seorang tenaga
kesehatan pembuatan sediaan perlu memperhatikan aspek kenyamanan pasien,
dengan menggunakan patch pasien tidak perlu mengkonsumsi obat secara peroral
karena sediaan dextromethorphan yang beredar dipasaran masih dalam bentuk
(tablet dan sirup)(Aulton, M. E., and Wells 1988).

Beberapa pasien tidak suka mengkonsumsi obat secara peroral dalam


sediaan tablet. Untuk sediaan bentuk sirup banyak pasien menyukainya akan
tetapi untuk pasien pediatric atau beberapa pasien tertentu masih tetap merasa

2
tidak nyaman mengonsumsi obat dalam bentuk sediaan sirup. Pada pasien
pediatric sirup yang dikonsumsi harus memiliki citra rasa yang manis, dan
memiliki berbagai macam rasa dan aroma. Karena itulah kami membuat sediaan
patch untuk memudahkan pasien yang tidak bisa mengkonsumsi sediaan yang
dikonsumsi secara peroral, karena penggunaanya sangat memudahkan pasien,
hanya dengan menempelkan patch pada tubuh bagian atas(Meyyanathan et al.
2008).

Polimer merupakan matriks yang dapat dipakai sebagai sediaan patch


transdermal. Pada pengamatan pelepasan ampicillin natrium yang dilakukan
secara in vitro dengan membran selulosa dalam buffer fosfat pH 7,4 menunjukkan
bahwa penggunaan Na CMC berhasil menurunkan pelepasan ampicillin
dibandingkan sediaan peroral dan adapun jenis matriks lain yang digunakan
adalah HPMC dan EC(Fuad, Muhammad Faisal, Herlina, Eka, Taufiq 2015).

Tujuan

Tujuan formulasi dextrometorphan HBr dalam bentuk sediaan transdermal


patch adalah untuk meningkatkan beberapa aspek dari bentuk sediaan sebelumnya
ditinjau dari aspek kenyamanan, keamanan, efektifitas, dan kepraktisan dalam
penggunaannya di masyarakat. Tujuan dari modifikasi polimer dalam formulasi
transdermal patch ini adalah untuk mendapatkan hasil terbaik dari formulasi
transdermal patch.

METODOLOGI PENELITIAN

Alat dan Bahan

Pada formulasi transdermal patch Dextrometorphan HBr digunakan


beberapa alat penunjang penelitian antara lain adalah alat-alat gelas (Pyrex),
cetakan patch, hot plate (Mammert), jangka sorong, oven , penangas air (Mottler
Toledo), pH meter (Mammert), timbangan analitik (Mottler Toledo). Bahan-bahan
yang digunakan dalam formulasi sediaan ini adalah aquades (Merck),
dextrometrophan HBr, DMSO, Etanol 96%, HPMC K-15, kertas timbang,
aluminium foil, Na-CMC (Brataco Chemika), Propilen Glikol (Brataco Chemika).

3
Metode

Pada formulasi transdermal patch dextrometorphan HBr ini digunakan


beberapa modifikasi terhadap jumlah polimer dan pelarut yang digunakan. Berikut
ini merupaka formulasi sediaan transdermal patch melalu beberapa optimasi yang
telah dilakukan.

Table 1 : Formulasi transdermal patch Dextrometorphan HBr dengan modifikasi


polimer Na CMC dengan HPMCdan modifikasi pelarut.

Komposisi/10 patch F1 F2 F3 F4
Dextrometrophan Hbr 500 mg 500 mg 500 mg 500 mg
HPMC K 15 500 mg 800 mg 500 mg 400 mg
Na CMC 500 mg 200 mg 500 mg 200 mg
DMSO 2 ml 2 ml 2 ml -
Propilen Glikol 2 ml 2 ml 2 ml 2 ml
Etanol 8 ml - 20 ml -
ad Aquadest 32 ml 50 ml 30 ml 20 ml

Metode pembuatan transdermal patch yaitu pertama ditimbang 500 mg


dextrometrophan HBR, kemudian dimasukkan dalam cawan porselin dan
dilarutkan dengan 4 ml etanol 96% hingga larut dan ditutup dengan aluminium
foil. Ditimbang juga HPMC K-15 dan Na-CMC masing-masing 500 mg.
Dimasukkan HPMC K-15 kedalam 4 ml etanol 96% diaduk hingga larut dan
ditutup dengan aluminium foil. Dimasukkan juga Na-CMC kedalam 5 ml
aquadest yang telah dipanaskan sebelumnya, diaduk diatas penangas air sampai
Na-CMC larut. Ditambahkan 2 ml DMSO kedalam larutan dextrometrophan dan
pada larutan HPMC K-15 ditambahkan juga 2 ml propilen glikol diaduk hingga
larut dan homogen. Selanjutnya dimasukkan larutan dextrometrophan kedalam
larutan polimer (campuran HPMC K-15 dan propilen glikol), terakhir dimasukkan
larutan Na-CMC dan diaduk sampai larut dan homogen dengan menggunakan
pelarut aquadest hingga volume yang telah ditentukan. Jika terdapat gelembung

4
selama pengadukan, maka sediaan harus didiamkan terlebih dahulu selama satu
atau dua hari untuk menghilangkan gelembungnya. Setelah terbentuk massa patch
yang diinginkan, dituang sediaan kecetakan patch dan disamakan volume yang
dituang kedalam cetakan dengan minimal didapatakan 10 pacth untuk
keseragaman bobot. Selanjutnya cetakan yang telah berisi sediaan dimasukkan
kedalam oven dengan suhu 380C selama maksimal 24 jam agar hasil patch tidak
mengalami kekeringan. Selama patch berada didalam oven dilakukan
pengontrolan agar dapat mengetahui apakah patch yang dibuat sudah sesuai
dengan yang diinginkan, pengontrolan dilakukan juga agar tidak terjadi
kekeringan pada sediaan patch. Setelah sediaan jadi, diambil cetakan dari oven
dan diambil sediaan patchnya untuk selanjutnya dilakukan evaluasi(viresh, K. C.,
Anilkumar, K., Aamir, Syed, Shabaraya, 2012).

Evaluasi

Tampilan fisik: Patch dilihat tampilannya secara visual untuk melihat bentuk,
warna serta transparansi dari patch.

Ketebalan: Patch diukur ketebalannya dengan menggunakan mikrometer scrub.


Diambil tiga buah patch untuk mewakili setiap formulasi.

Diameter: Diukur diameter tiga buah patch untuk setiap formulasi menggunakan
jangka sorong.

pH patch: pH dari patch diukur dengan menggunakan pH meter dengan


menempelkannya diatas permukaan patch.

Elastisistas: Patch diuji elastisitasnya dengan menarik dan melipat sediaan patch
berkali-kali dan dilihat apakah patch elastis atau tidak.

Keseragaman bobot: Dilakukan dengan menimbang 10 patch untuk setiap


formulasi. Sehingga didapatkan ukuran dan bobot patch yang seragam.

5
HASIL DAN PEMBAHASAN

Setelah dilakukan formulasi dan dilakukan berbagai evaluasi terhadap


beberapa parameter untuk mengetahui keberhasilan dari formulasi patch maka
didapatkan hasil yang dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2 : Hasil evaluasi transdermal patch Dextrometorphan HBr.

Ketebalan Diameter Daya Lekat


Kode Formulasi pH
Patch Patch Patch
F1 ± 0.93 ± 2.800 ± 6.62 Melekat
F2 ± 0.87 ± 2.876 ± 6.62 Melekat
F3 ± 0.92 ± 2.830 ± 6.99 Melekat
F4 ± 0.89 ± 2.643 ± 6.80 Melekat

Pada tabel 2 dapat dilihat data yang telah diperoleh. Dari keempat formula
yang dilakukan, diperoleh patch yang sesuai dengan kriteria pada semua formula
tersebut. Dari hasil tersebut masing-masing Patch dengan formula berbeda
memiliki kriteria yang berbeda-beda pula. Hal ini disebabkan karena perbedaan
setiap kompisisi pada formula yang digunakan dan juga pada proses preparasi
Patch tersebut.

Apabila dibandingkan dari masing-masing hasil Patch yang diperoleh,


semuanya tidak berbeda signifikan atau dengan nama lain yaitu hampir sama.
Untuk nilai pH ± sama dengan pH kulit karena pada dasarnya penggunaan patch
ini digunakan secara transdermal dan daya lekat yang dimaksud disini yaitu, daya
lekat patch pada kulit manusia. Apabila Patch dikatakan melekat maka secara
tidak langsung patch juga dapat diabsorbsi pada kulit manusia sehingga timbul
efek terapi yang diinginkan yaitu meredakan batuk kering yang biasanya
menyertai pilek atau flu atau batuk nonproduktif yang diakibatkan penyakit lain.

KESIMPULAN

6
Dari beberapa optimasi formulasi yang telah dilakukan melalui modifikasi
polimer antara Na CMC dan HPMC dengan beberapa perbandingan polimer, hasil
patch terbaik didapatkan pada F1 dengan perbandingan Na CMC dan HPMC 1:1
dengan ketebalan patch lebih tebal, dan elastis daripada formulasi lainnya dengan
menggunakan etanol dan aquadest sebagai pelarut dalam pembuatan basis
transdermal patch.

UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada laboratorium Teknik Farmasi


Universitas Islam Indonesia yang telah memberikan support terhadap penelitian
dan pembuatan transdermal patch ini hingga selesai. Kepada dosen pembimbing
serta asisten praktikum DBSO atas bimbingannya dalam penyusunan artikel
ilmiah ini hingga selesai.

DAFTAR PUSTAKA

7
Aulton, M. E., and Wells, T.I., 1988. Pharmaceutics: The Science of Dosage
Form Design, London: Churchill Livingstone.

Fuad, Muhammad Faisal, Herlina, Eka, Taufiq, A., 2015. PENGEMBANGAN


METODE ANALISIS DEXTROMETHORPHAN HBr DAN
DIPHENHYDRAMIN HCl DALAM SEDIAAN OBAT BATUK CAIR
MENGGUNAKAN ULTRA PERFORMANCE LIQUID
CHROMATOGRAPH (UPLC). Statewide Agricultural Land Use Baseline
2015, 1.

Meyyanathan, S.N., Rajan, S. & Muralidaharan, S., 2008. Formulation and


Evaluation of Dextromethorphan Hydrobromide Sustained Release Tablets. ,
(Dm), pp.429–435.

PDPI, 2003. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Pedoman Diagnosis &
Penatalaksanaan Di Indonesia, p.32. Available at:
http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-ppok/ppok.pdf.

Sheth, N.S. & Mistry, R.B., 2011. Formulation and evaluation of transdermal
patches and to study permeation enhancement effect of eugenol. Journal of
Applied Pharmaceutical Science, 1(3), pp.96–101.

Silvati, Y., Kartunen, P., Tukiainen, H., Kokkonen, P., Hanninen, U., A. &
Nykanen, S., 1987. Pharmacokinetics of Dextromethorphan and dextrorphan:
a single dose comparison of three preparations in human volunteers.
International Journal of Clinical Pharmacology Therapy and Toxicology, 25,
pp.493–497.

viresh, K. C., Anilkumar, K., Aamir, Syed, Shabaraya, A.R., 2012. Formulation
and Evaluation of Bioadhesive Patches of Dextromethorphan. , 01(01),
pp.67–71.

View publication stats