You are on page 1of 28

CRITICAL REVIEW

2014
LOCATION AND SPATIAL ANALYSIS

Location analysis of new market development


STUDY
CASE In Muaradua, South OKU District

RIZKI ADRIADI GHIFFARI


CREATED BY
NRP 3611100067

DEPARTEMENT OF URBAN AND REGIONAL PLANNING

FACULTY OF CIVIL ENGINEERING AND PLANNING

SEPULUH NOPEMBER INSTITUTE OF TECHNOLOGY


TUGAS CRITICAL REVIEW

2014
ANALISIS LOKASI DAN KERUANGAN

ANALISA PEMILIHAN LOKASI PEMBANGUNAN PASAR BARU


STUDI
KASUS DI KECAMATAN MUARADUA KABUPATEN OKU SELATAN

RIZKI ADRIADI GHIFFARI


DISUSUN OLEH
NRP 3611100067

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi,
atau ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-sumber yang potensial, serta
hubungannya dengan atau pengaruhnya terhadap keberadaan berbagai macam usaha atau
kegiatan lain baik ekonomi maupun sosial (Ibrahim,1998). Pengertian lainnya terkait teori
lokasi adalah suatu penjelasan teoritis yang dikaitkan dengan tata ruang dari kegiatan
ekonomi. Hal ini selalu dikaitkan pula dengan alokasi geografis dari sumber daya yang
terbatas yang pada gilirannya akan berpengaruh dan berdampak terhadap lokasi berbagai
aktivitas baik ekonomi maupun sosial ( Nitisemito & Umar, 2004).

Christaller dalam bukunya Central Place In Southern Germany (terjemahan C.W.


Baskin, 1996) mendefinisikan Teori Tempat Pusat atau Teori Pusat Pelayanan (central place
theory) sebagai suatu kesatuan unit dasar permukiman yang dilengkapi pusat-pusat
pelayanan di dalamnya. Unit permukiman yang dimaksud dapat berupa satu kota besar, kota-
kota kecil, wilayah kota atau satuan lingkungan hunian tertentu. Dan menurut Daldjoeni
(1997), ciri dari pusat pelayanan adalah bahwa pusat tersebut menyediakan pelayanan
(barang dan jasa) untuk wilayah pemukiman itu sendiri dan daerah sekitarnya yang lebih
besar.

Sementara itu, dalam menetukan lokasi pusat perbelanjaan atau pasar, terdapat
secara berurutan terdapat empat hal penting yang harus diputuskan untuk memilih lokasi
perdagangan, yaitu pertimbangan wilayah, pertimbangan cakupan pasar, pertimbangan area
perdagangan, dan pertimbangan tapak (Diktat Anlok, 2012).

Kemudian, dalam menentukan posisi pasar saat ini atau pasar yang dikehendaki harus
di pertimbangan dari berbagai segi. Seperti melihat bentuk pasarnya, Jika Berupa pasar
monopolistik yang berarti pasar yang terdapat banyak produsen yang memiliki perbedaan
dalam beberapa aspek, atau berupa bentuk pasar yang lain. Setelah itu penempatan outlet-
outlet untuk membagi pasar pada skala ekonomi. Penempatan ditentukan dengan asumsi
bentuk pasar monopolistik atau oligopolistik. Penentuan lokasi pasar dan cara distribusi
pasarnya.

Penentuan lokasi pasar baru merupakan hal yang sangat krusial di Kabupaten OKU
Selatan, karena kondisi eksisting pasar yang ada sudah tidak bisa lagi menampung aktivitas
perekonomian yang semakin bertambah padat setiap tahunnya. Jadi, tujuan dari penyusunan
critical review terhadap hasil penelitian ini, adalah untuk menguji ketepatan peneliti dalam
menentukan lokasi pasar baru di Kabupaten OKU Selatan.

Critical Review Analisis Lokasi dan Keruangan | ”Penentuan Lokasi Pasar Baru di OKU Selatan” 1
TINJAUAN PUSTAKA

Analisis Multi Kriteria


Analisis multi kriteria mulai diperkenalkan sejak tahun 1970-an oleh Benjamin Franklin
seorang negarawan Amerika Serikat (Jones et al., 2000). Teknik penilaian temuan Franklin
ini adalah teknik penelitian terhadap Pilihan yang bersifat Ganda dan biasanya saling
bertentangan (Azwar, 2000). Analisis multi kriteria ini pernah digunakan dengan pendekatan
bendera / rezim (Flag Approach), dan juga menggunakan pendekatan Regim (Regim
Approach), (Brown et al., 2001). Tujuan penggunaan dari 2 pendekatan ini adalah:
 Pendekatan Rezim digunakan untuk menilai secara rasional dalam memilih Pilihan
berganda yang unik dimana bersifat tidak nyata dan tidak dapat dibandingkan (Hinloopen
et al., 1982).
 Pendekatan Regim adalah salah satu metode penilaian multi kriteria yang didasari oleh
dua masukan data, yakni : (1) matriks dampak, dan (2) kumpulan bobot yang menyertai
efek-efek dari nilainya. Matriks dampak mewakili nilai-nilai indikator yang diperkirakan
untuk masing-masing skenario (Brown et al., 2001).

Kriteria Penentuan Lokasi Pasar


Menurut Diktat Analisis Lokasi dan Keruangan, faktor lokasi yang berkontribusi
terhadap pemilihan lokasi pasar yaitu demografi, permintaan konsumen, kepadataan lalu
lintas, generator lalu lintas (pusat perbelanjaan lain, Rumah Sakit, bandara, stadion, dan Lain-
lain), populasi harian, kompetisi, bisnis pelengkap, dan gaya hidup. Terkait dengan faktor
lokasi tersebut, terdapat dua pertimbangan penting yang harus diputuskan untuk menentukan
lokasi sebuah pasar, yaitu:
 Memilih target pasar
 Menentukan format retail yang paling efektif untuk menjangkau pasar.

Sebuah study mengungkapkan bahwa faktanya retailer memiliki kriteria tertentu yang
mereka gunakan untuk mencari lokasi baru untuk sebuah toko. (Charles G. Schimdt dalam
Diktat Anlok, 2012), mengemukakan empat karakteristik utama dalam memilih lokasi retail
yaitu:
 Volume lalu lintas yang padat
 Frontage yang lebar dan akses yang aman untuk keluar masuk menuju tapak
 Ukuran tapak untuk ekspansi
 Threshold populasi

Sementara itu, (Davidson, 1980 dalam Diktat Anlok, 2012) mengungkapkan bahwa
terdapat secara berurutan terdapat empat hal penting yang harus diputuskan untuk memilih

Critical Review Analisis Lokasi dan Keruangan | ”Penentuan Lokasi Pasar Baru di OKU Selatan” 2
lokasi perdagangan, yaitu pertimbangan wilayah, pertimbangan cakupan pasar, pertimbangan
area perdagangan, dan pertimbangan tapak.
 Pertimbangan yang digunakan untuk memutuskan lokasi wilayah adalah
a. Kondisi populasi (ukuran, pertumbuhan, kepadatan, distribusi, dan lahan kosong)
b. Jaringan kota (ukuran, jarak dan hubungan dengan kota disekitarnya)
c. Karakteristik lingkungan (iklim, vegatasi, karakteristik medan)
d. Karakteristik ekonomi (tenaga kerja, industry, trend)
e. Target pasar (jumlah dan prosentas populasi yang dibidik)
f. Budaya local
g. Kompetisi
h. Tingkat kejenuhan pusat perbelanjaan
i. Daya beli
 Pertimbangan Kawasan Pasar
a. Dimensi populasi (ukuran, pertumbuhan, kepadatan, distribusi) dan dimensi target
populasi pasar
b. Publik transportasi dan jaringan jalan
c. Karakteristik ekonomi dan daya beli efektif
d. Potensi pasar dalam hal barang
e. Selera konsumen
f. Intensitas persaingan (kejenuhan pasar)
g. Kemampuan distribusi
h. Karakteristik lingkungan
i. Batasan peraturan dan zonasi
j. Iklim bisnis
 Pertimbangan Area Perdagangan (Trade Area)
Area perdagangan adalah wilayah geografis yang berdekatan yang menyumbangkan
sebagian besar jumlah penjualan dan konsumen. Area perdagangan bisa dibagi menjadi tiga
polygon yaitu zona utama, zona sekunder, dan zona tersier (cincin terluar).
a. Zona utama merupakan area geografis dimana pusat perbelanjaan atau toko
memperoleh 60% - 65% tingkat penjualan dari total konsumen.
b. Zona sekunder merupakan area geografis yang menyumbangkan 20% tingkat
penjualan dari total konsumen.
c. Sedangkan zona tersier merupakan zona dimana pengunjung hanya sesekali saja
untuk berbelanja di pusat perdagangan.
 Pertimbangan Karakteristik Tapak
a. Profil tapak (ukuran dan bentuk)

Critical Review Analisis Lokasi dan Keruangan | ”Penentuan Lokasi Pasar Baru di OKU Selatan” 3
b. Kebutuhan sewa/harga tanah
c. Rasio parkir
d. Arus pejalan kaki
e. Akses public transportasi
f. Visibilitas
g. Akses menuju area perdagangan

Klasifikasi Pasar
Kegiatan pasar dalam menggerakkan perekonomian kota juga seharusnya memiliki
hirarki pelayanan yang didasarkan pada spesifikasi, fasilitas, populasi pelayanan, skala radius
pelayanan, perkiraan kepadatan dan status pasar. Hirarki pasar menurut Nining J. Soesilo
(2000), terbagi menjadi:
 Hirarki yang pertama adalah pasar-pasar komersial yang berdiri sendiri, misalnya
warung-warung kecil, restoran terpencil atau pompa bensin terpencil yang daerah
operasinya kecil, threshold maupun range-nya kecil.
 Hirarki kedua adalah pasar desa, di mana barang-barang yang dijajakan harganya relatif
murah, tetapi dibutuhkan dalam jumlah banyak oleh rumah tangga sehingga threeshold-
nya relatif kecil.
 Hirarki ketiga adalah pasar kecamatan, terdiri dari pasar dengan pertokoan di sekitarnya
yang memberikan pelayanan terhadap kebutuhan sehari-hari masyarakat.
 Hirarki keempat adalah regional shopping centre atau pasar kabupaten, di mana pada
pasar tersebut ditemui 40 sampai dengan 200 unit usaha atau lebih dan terdapat fungsi
yang tidak dapat ditemui pada tempat sentral hirarki ketiga dan terjadi lebih banyak
duplikasi dari unit-unit fungsi antara barang-barang sehari-hari (primer), barang sekunder
dan tersier.
 Hirarki kelima adalah metropolitan central business district, tempat komersil ini
merupakan jenis yang paling dominan sebab mempunyai lebih banyak macam fungsi
komersial yang unit-unit fungsinya lebih banyak dan memakan tempat perdagangan dan
pelayanan yang lebih besar.

Menurut Perpres No 112 Tahun 2007 Bab I tentang ketentuan umum, telah dengan
jelas memaparkan tentang konsep dan definisi dari pasar dan pasar tradisional. Menurut
perpres tersebut, lokasi pendirian pasar tradisional wajib mengacu pada Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten/Kota dan Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota, termasuk
peraturan zonasinya dan pasar tradisional boleh berlokasi pada setiap sistem jaringan jalan,
termasuk sistem jaringan jalan lokal atau jalan lingkungan pada kawasan pelayanan bagian
kota/kabupaten atau lokal atau lingkungan (perumahan) di dalam kota/kabupaten. Dari

Critical Review Analisis Lokasi dan Keruangan | ”Penentuan Lokasi Pasar Baru di OKU Selatan” 4
ketentuan ini, aspek lokasi pasar tradisional relatif fleksibel dibandingkan dengan ketentuan
lokasi bagi pasar modern dan pusat perbelanjaan, utamanya untuk kelas supermarket,
hypermarket/grosir (perkulakan), yang melarang berlokasi di jaringan jalan dengan sistem
pelayanan lokal dan lingkungan.

Dari Perpres No. 112 Tahun 2007, secara tidak langsung tersirat usaha untuk
melakukan harmonisasi antara eksistensi pasar tradisional dan toko modern. Dan dengan
jelas, pemerintah berupaya melindungi keberadaan pasar tradisional, yang makin terdesak
oleh hadirnya pusat perbalanjaan dan pasar modern, melalui pembatasan lokasi bagi pasar
modern dan pusat perbelanjaan, untuk kategori kelas tertentu seperti supermarket dan
hypermarket.

Sementara itu dalam sumber lain, apabila dilihat dari jenisnya, pasar tradisional
dibedakan dalam kelas atas hirarkhi sebagai berikut:
 Menurut kementerian DPU dalam lampiran No. 22 Kep. Menteri PU No. 378/UPTS/1987
Tanggal 31-08-1987 tentang pengesahan 33 standar konstruksi bangunan di Indonesia
perihal petunjuk perencanaan kawasan kota, menetapkan jenis sarana niga dan industri
dalam 5 hirarki, yaitu: warung, pertokoan, pusat perbelanjaan lingkungan untuk 30.000
penduduk, pusat perbelanjaan dan niaga untuk 120.000 penduduk, serta pusat
perbelanjaan dan niaga untuk 480.000 penduduk.
 Profil dan direktori pasar di DKI Jakarta (1994) secara berurutan hirarkinya terbagi atas :
pasar regional, pasar kota, pasar wilayah, dan pasar lingkungan.
 Menurut Jahara T.Jayadinata (1999) mendefinisikan bahwa jarak tempuh antara pusat
kota dengan pasar dan sebagainya harus bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 30
atau 45 menit, sedangkan pasar lokal harus bisa ditempuh dari lingkungan yang
dilayaninya (market area) sampai jarak ¾ km atau 10 menit perjalanan, sedangkan untuk
standar luasnya ditetapkan 500 m2/1.000 penduduk.

Critical Review Analisis Lokasi dan Keruangan | ”Penentuan Lokasi Pasar Baru di OKU Selatan” 5
PEMBAHASAN

Ringkasan Hasil Penelitian

Dalam menanggapi pemekaran wilayah Kabupaten OKU Selatan, pihak pemerintah


daerah berencana membangun pasar baru berskala regional yang merupakan hasil relokasi
dari pasar lama yang lebih kecil, karena di lokasi tersebut luas lahan yang ada sudah tidak
bisa lagi menampung perkembangan aktivitas pasar setempat. Pembangunan pasar baru
tersebut kemudian diarahkan pada kawasan pengembangan B dan C yang diarahkan sebagai
lokasi aktivitas perdagangan dan jasa tingkat regional. Dalam pembangunan pasar di lokasi
ini, secara lebih detail terdapat 3 alternatif lokasi, yaitu Desa Batu Belang, Desa Sumber Jaya
dan Desa Bumi Agung.

Penelitian kemudian dilakukan dengan pendekatan Multi Criteria Analysis melalui


AHP. Kriteria yang digunakan adalah kriteria teknik, sosial dan ekonomi, serta kriteria sarana
dan prasarana. Selanjutnya dilakukan AHP untuk menentukan bobot masing-masing kriteria
terhadap penentuan lokasi pasar. Pada akhirnya peneliti kemudian menentukan 9 sub kriteria
yang dibagi berdasarkan 3 kriteria tersebut. Sub kriteria yang digunakan adalah : luas lahan,
kedekatan dengan terminal, topografi, kerawanan bencana, ketersediaan jaringan jalan dan
ketersediaan transportasi publik.

Setelah melakukan AHP yang ditujukan kepada para stakeholders yang terkait dengan
pembangunan pasar, peneliti melakukan validasi menggunakan analisis sensitivitas untuk
melihat tingkat pengaruh masing-masing kriteria dan sub kriteria terhadap pembangunan
pasar baru di OKU Selatan. Secara teknis hasil analisis ini ditampilkan dalam grafik yang
menunjukkan perubahan nilai setiap alternatif lokasi apabila diturunkan atau dinaikkannya
besaran bobot pada masing-masing kriteria yang digunakan.

Setelah melakukan analisis sensitivitas, peneliti menyimpulkan bahwa dari ketiga


alternatif lokasi pembangunan pasar, Desa Batu Belang merupakan alternatif utama lokasi
pembangunan pasar baru di Kabupaten OKU Selatan. Hal ini telah diuji secara AHP dan
divalidasi menggunakan analisis sensitivitas.

Critical Review Analisis Lokasi dan Keruangan | ”Penentuan Lokasi Pasar Baru di OKU Selatan” 6
Kajian Kritis Terhadap Metode Penelitian

Pada hasil penelitian penentuan lokasi pasar baru di OKU Selatan, Peneliti
menggunakan AHP langsung sebagai hasil akhir pada setiap sub kriteria yang telah
ditentukan. Padahal sebaiknya setiap sub kriteria dapat diperhitungkan secara spasial,
sehingga lebih terukur secara kuantitatif, bukan preferensi yang subjektif dari beberapa
stakeholders saja. Beberapa cara untuk mengukur setiap sub kriteria adalah sebagai berikut.

 Sub kriteria luas lahan dapat diukur melalui fungsi “Calculate Geometry” di software
ArcGIS, dengan terlebih dahulu melakukan deleniasi wilayah pada lahan kosong di 3
desa tersebut.
 Sub kriteria kedekatan lokasi dengan terminal dapat diukur melalui fungsi “Multiple Ring
Buffer” di software ArcGIS, dengan terlebih dahulu menentukan kriteria jarak yang
diperbolehkan. Misalnya 0-200 meter dikategorikan sebagai jarak sangat optimal, 200-
500 meter jarak optimal, dan >500 meter dikategorikan sebagai jarak yang kurang
optimal.
 Sub Kriteria topografi dapat diukur melalui fungsi “TIN” di software ArcGIS, dengan
terlebih dahulu mengumpulkan data kontur dari instansi pemerintah yang bersangkutan.
Setelah diolah melalui TIN, data kontur akan menjadi klaster-klaster kemiringan lahan
dan ditampilkan dalam satuan persentase.
 Sub kriteria rawan bencana biasanya telah terdapat pada peta RTRW dan RDTR
setempat yang bentuknya berupa Peta Multi Rawan Bencana. Namun jika belum ada,
peneliti dapat membuat sendiri melalui overlay antar peta rawan tsunami, gempa bumi,
banjir dan tanah longsor.
 Sub kriteria kedekatan dengan permukiman penduduk dapat dibuat melalui peta
penggunaan lahan eksisting, dengan dilakukan Multiple Ring Buffer pada alternatif lokasi
pembangunan pasar. Sehingga permukiman terdekat yang masuk ke area buffer dari
lokasi pasar dapat dijadikan referensi.
 Sub kriteria kepadatan penduduk dapat dibuat melalui data profil monografi desa yang
diolah bersama data luas masing-masing desa, baru kemudian dipetakan di ArcGIS.
Melalui ArcGIS, kepadatan penduduk dapat dipetakan melalui degradasi warna dari gelap
(kepadatan tinggi) ke terang (kepadatan rendah).
 Sub kriteria sikap masyarakat terhadap pembangunan pasar dapat dibuat dengan
melakukan survei secara random sampling pada masyarakat di 3 desa tersebut. Namun
banyaknya sampel yang digunakan juga harus diuji validitasnya dengan uji H0.

Critical Review Analisis Lokasi dan Keruangan | ”Penentuan Lokasi Pasar Baru di OKU Selatan” 7
 Sub kriteria jaringan jalan bisa didapatkan melalui deskripsi data statistik terkait panjang
jalan, kualitas jalan di 3 desa dan kondisi akses jalan pada alternatif lokasi pembangunan
pasar baru di 3 desa tersebut.
 Sub kriteria ketersediaan angkutan menuju pasar bisa didapatkan melalui data jumlah
transportasi publik di ketiga desa tersebut. Ketersediaan angkutan umum menuju pasar
dapat dicerminkan dari ketersediaan angkutan umum di ketiga desa yang mungkin pada
saat pasar telah terbangun, trayek angkutan umum dapat diubah sesuai kebutuhan.

Penggunaan metode AHP dalam melakukan analisis penentuan lokasi, memang


memiliki banyak kelemahan. Menurut Kadarsyah Suryadi dan Ali Ramdhani (1998),
kelemahan metode AHP adalah:

 Ketergantungan model AHP pada input utamanya. Input utama ini berupa persepsi
seorang ahli sehingga dalam hal ini melibatkan subyektifitas sang ahli selain itu juga
model menjadi tidak berarti jika ahli tersebut memberikan penilaian yang keliru.
 Metode AHP ini hanya metode matematis tanpa ada pengujian secara statistik sehingga
tidak ada batas kepercayaan dari kebenaran model yang terbentuk

Metode AHP merupakan salah satu dari sekian banyak penerapan analisis multi
kriteria dengan pendekatan rezim dari Benjamin Franklin. Metode lain yang bisa digunakan
dalam analisis multi kriteria dengan pendekatan rezim adalah:

 Analitical Network Process (ANP)


Metode Analytic Network Process (ANP) merupakan pengembangan metode Analytical
Hierarchy Process (AHP). Metode ANP mampu memperbaiki kelemahan AHP berupa
kemampuan mengakomodasi keterkaitan antar kriteria atau alternatif (Saaty, 1999).
Keterkaitan pada metode ANP ada 2 jenis yaitu keterkaitan dalam satu set elemen (inner
dependence) dan keterkaitan antar elemen yang berbeda (outer dependence). Adanya
keterkaitan tersebut menyebabkan metode ANP lebih kompleks dibanding metode AHP
(Vanany, 2003).
 Spatial Analytical Hieratical Process (Spatial-AHP)
AHP adalah suatu metode matematika untuk menganalisis keputusan yang kompleks
dengan multi kriteria. Ketika metode AHP diaplikasikan untuk memecahkan masalah
keputusan spasial dalam suatu lingkungan GIS maka metode ini disebut metode Spatial-
AHP (Osaragi, 2002). Pada dasarnya langkah-langkah dalam metode Spatial-AHP sama
dengan pada metode AHP, hanya saja berbeda pada representasi data alternatifnya.
Langkah-langkahnya meliputi: Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang
diinginkan; Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan
dengan sub-sub tujuan, kriteria dan kemungkinan alternatif (Malczewski,1999).

Critical Review Analisis Lokasi dan Keruangan | ”Penentuan Lokasi Pasar Baru di OKU Selatan” 8
 Spatial Multi Criteria Decision Making (Spatial-MCDM)
Spatial-MCDM adalah suatu proses kombinasi dan transformasi data geografi
menjadi sebuah keputusan. Dalam Spatial-MCDM, data masukan adalah data geografi.
Spatial-MCDM lebih kompleks dan sulit untuk mencocokkan dengan MCDM
konvensional, seperti jumlah faktor yang besar membutuhkan untuk
diindentifikasi dan dipertimbangkan, dengan hubungan keterkaitan yang
tinggi antara faktor-faktornya (Malczewski , 1999). Menurut Malczewski (1999), masalah
keputusan spasial adalah perbedaan antara keadaan yang diinginkan dalam suatu sistem
geografi dan suatu keadaan yang telah ada dalam dunia nyata. Tujuan Spatial-MCDM
adalah untuk mencapai solusi terhadap masalah-
masalah keputusan spasial yang diperoleh dari kriteria majemuk. Berdasarkan
pada klasifikasi secara umum dari permasalahan MCDM,
masalah spatial multi criteria decision dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu
spatial multi attribute decision making (spatial-MADM) dan spatial multi object decision
making (spatial-MODM)

Kelemahan paling mendasar dari penelitian yang dilakukan peneliti adalah belum
memahami esensi analisis multi kriteria secara lengkap. Karena ditinjau dari literatur, analisis
multi kriteria secara spasial membutuhkan informasi pada nilai-nilai kriteria dan lokasi-lokasi
geografi dari alternatif-alternatif untuk preferensi pengambil keputusan dengan didasari pada
setiap evaluasi kriteria (Malczewski, 1999). Artinya hasil analisis tidak hanya bergantung pada
nilai judgment yang dihasilkan dalam proses pembuatan keputusan, tetapi juga pada distribusi
atribut-atribut geografis. Sehingga terdapat dua pertimbangan terpenting dari analisis
keputusan multi kriteria secara spasial, yaitu :

 Komponen GIS (pengambilan data, penyimpanan, pemanggilan kembali, manipulasi,


dan kemampuan analisis)
 Komponen analisis MCDM (agregasi data spasial dan preferensi-preferensi pengambil
keputusan dalam alternatif-alternatif keputusan yang berlainan) (Jankowski, 1995).

Sementara itu, dalam penelitian yang dilakukan peneliti, baru sebatas komponen
analisis MCDM, itupun hanya pada tahapan preferensi pengambil keputusan (Stakeholders).
Sehingga dapat dikatakan bahwa hasil penelitian ini belum valid secara spasial.

Kajian Kritis Terhadap Substansi Penelitian


Pada pembahasan penelitian, peneliti tidak sama sekali menampilkan data spasial,
terutama peta lokasi ketiga desa yang diteliti. Padahal dalam penentuan lokasi melalui analisis
Multi kriteria, data spasial merupakan salah satu komponen penting (Jankowski, 1995).

Critical Review Analisis Lokasi dan Keruangan | ”Penentuan Lokasi Pasar Baru di OKU Selatan” 9
Berikut ini merupakan peta lokasi ketiga desa yang menjadi alternatif lokasi pembangunan
pasar baru di Kabupaten OKU Selatan.

(Sumber : RTRW Kabupaten OKU Selatan 2012-2032)

Pada peta diatas, dapat terlihat bahwa letak ketiga desa tidak semuanya berada di Kecamatan
Muaradua. Desa Sumber Jaya justru berada di Kecamatan Buay Pematang Ribu Ranau
Tengah (www.okuselatankab.go.id). Berdasarkan RTRW Kabupaten OKU Selatan 2012-
2032, juga dapat diketahui profil masing-masing desa, berikut rinciannya:

 Desa Batu Belang: sebagai salah satu desa yang berada di Kecamatan Muaradua
(ibukota OKU Selatan), Desa Batu Belang diarahkan sebagai pusat pelayanan kawasan
(PPK), kawasan pusat Kota Muaradua dan sebagai kawasan cepat tumbuh dengan
arahan kepadatan tinggi (96-137 jiwa/km2). Desa Batu Belang juga direncanakan memiliki
terminal tipe B.
 Desa Sumber Jaya: berada di Kecamatan Buay Pematang Ribu Ranau Tengah, Desa
Sumber Jaya diarahkan sebagai pusat pelayanan lingkungan (PPL), kawasan wisata
danau ranau, kawasan pengembangan ekonomi terpadu danau ranau, kawasan
minapolitan, dan sebagai kawasan cepat tumbuh dengan arahan kepadatan rendah (0-
74 jiwa/km2). Desa Sumber Jaya juga direncanakan memiliki terminal tipe C dan juga
Bandara.

Critical Review Analisis Lokasi dan Keruangan | ”Penentuan Lokasi Pasar Baru di OKU Selatan” 10
 Desa Bumi Agung: sama dengan Desa Batu Belang, Desa Bumi Agung juga berada di
Kecamatan Muaradua. Desa Bumi Agung diarahkan sebagai pusat pelayanan kawasan
(PPK), kawasan pusat kota Muaradua, namun berada di kawasan kritis lingkungan,
sehingga diarahkan sebagai kawasan berkepadatan rendah (0-74 jiwa/km2), (RTRW
OKU Selatan 2012-2032).

Berdasarkan penjabaran diatas, Desa Batu Belang memang telah diarahkan


pemerintah OKU Selatan sebagai ibukota, termasuk paling sesuai sebagai lokasi pendirian
pasar baru di OKU Selatan. Sementara Desa Sumber Jaya lebih diarahkan ke kawasan budi
daya perikanan (Minapolitan), sedangkan Desa Bumi Agung lebih diarahkan sebagai
kawasan kritis lingkungan, sehingga pembangunan di Desa Bumi Agung cenderung dibatasi.

Oleh karena itu, menurut kondisi eksisting yang ada, sebenarnya hasil penelitian yang
telah dilakukan telah sesuai. Hanya saja pada penelitian yang telah dilakukan, peneliti belum
menggambarkan fakta empirik terhadap eksisiting Desa Batu Belang yang pada akhirnya
menjadi alternatif utama pembangunan pasar baru di Kabupaten Oku Selatan, seperti yang
di deskripsikan di atas.

Hal paling fatal dari penelitian yang dilakukan peneliti adalah penyebutan letak ketiga
desa, yang dalam penelitiannya disebutkan sama-sama berada di Kecamatan Muaradua.
Padahal Desa Sumber Jaya berada di Kecamatan Buay Pematang Ribu Ranau Tengah,
bukan di Kecamatan Muaradua. Oleh karena itu, dalam penelitian selanjutnya, diharapkan
peneliti dapat menampilkan peta orientasi wilayah, agar tidak terjadi dis-orientasi di kalangan
akademisi yang merujuk hasil penelitian yang telah dilakukan.

Kerangka Pemikiran Penelitian yang Disarankan


Meninjau dari kelemahan cara analisis yang dilakukan peneliti, penulis ingin
menyarankan cara meneliti yang baik untuk kasus serupa pada penentuan lokasi pasar.
Metode ini merupakan penerapan dari tinjauan pustaka yang telah dilakukan sebelumnya.
Berikut kerangka pemikiran penelitian yang disarankan penulis.

Critical Review Analisis Lokasi dan Keruangan | ”Penentuan Lokasi Pasar Baru di OKU Selatan” 11
Penentuan
Klasifikasi Pasar

Penentuan Kriteria-
kriteria berdasarkan
klasifikasi pasar

Pembobotan
masing-masing
kriteria

Kriteria I Kriteria II Kriteria III

Peta Klasifikasi pada Peta Klasifikasi pada Peta Klasifikasi pada


Kriteria I Kriteria II Kriteria III

Overlay peta
kalsifikasi Kriteria I,
II, dan III

Peta alternatif
Lokasi pasar

(Sumber : Penulis, 2014)

Critical Review Analisis Lokasi dan Keruangan | ”Penentuan Lokasi Pasar Baru di OKU Selatan” 12
Penjelasan dari kerangka berpikir diatas, adalah sebagai berikut:

 Langkah pertama adalah menetukan klasifikasi pasar. Klasifikasi pasar dapat dilakukan
melalui konsep hierarki pasar 1-5 (Nining J. Soesilo, 2000). Kriteria-kriteria yang
dibutuhkan dapat ditinjau dari hierarki pasar tersebut yang kemudian dikombinasikan
dengan teori pemilihan lokasi perdagangan oleh (Davidson et al, 1980).
 Langkah kedua adalah melakukan pembobotan terhadap kriteria-kriteria yang
dibutuhkan. Analisis yang bisa dilakukan pada tahap ini adalah AHP atau ANP.
 Langkah ketiga adalah menyiapkan data berupa peta pada masing-masing kriteria. Pada
peta tersebut, dapat dibagi klasifikasinya. Misalnya pada peta kedekatan dengan
terminal, dapat dilakukan analisis multiple ring buffer, yang selanjutnya menghasilkan
peta klasifikasi jarak dengan terminal (jauh, sedang, dekat).
 Langkah keempat adalah melakukan overlay, yang bertujuan menggabungkan peta dari
masing-masing kriteria. Hasil overlay inilah yang kemudian digunakan sebagai acuan
penentuan lokasi pasar.

Critical Review Analisis Lokasi dan Keruangan | ”Penentuan Lokasi Pasar Baru di OKU Selatan” 13
PENUTUP

Lesson Learned
Pembelajaran yang didapat dari hasil penelitian yang telah dilakukan adalah :
 AHP dapat dijadikan salah satu langkah dalam menentukan lokasi pasar. Namun, melalui
AHP saja, masih belum kuat untuk dijadikan kesimpulan penentuan lokasi pasar tanpa
perhitungan secara kuantitatif melalui data-data spasial.
 Uji sensitivitas diperlukan sebagai alat validasi hasil AHP yang telah dilakukan. Semakin
statis grafik uji sensitivitas, maka semakin valid hasil AHP yang dilakukan, begitupun
sebaliknya.
 Analisis Multi kriteria adalah salah satu teori dalam menentukan lokasi, dan AHP
merupakan salah satu metode dalam analisis Multi kriteria. Terdapat pula jenis analisis
lain selain AHP yang juga merupakan pendekatan dari analisis Multi kriteria.

Kesimpulan
Hal yang dapat disimpulkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan adalah :
 Analytical Hierarcy Process (AHP) merupakan salah satu cara dalam menentukan lokasi
melalui pendekatan analisis multi kriteria. Namun cara ini belum sepenuhnya valid,
karena tidak menggambarkan data secara spasial, padahal orientasi lokasi sangat
berhubungan dengan data spasial.
 Meskipun pada hasil penelitian, Desa Batu Belang dianggap sebagai alternatif utama
lokasi pembangunan pasar baru di Kabupaten OKU Selatan, hal ini masih perlu
dibuktikan secara fakta empirik, melalui kondisi eksisting dan arahan rencana tata ruang.
 Dalam menentukan lokasi pasar, perlu diketahui terlebih dahulu klasifikasi pasar yang
akan ditentukan lokasinya. Karena terdapat perbedaan fungsi dan kriteria pada
penentuan pasar tingkat lokal, lingkungan dan pasar tingkat regional.

Rekomendasi
Hal yang dapat direkomendasikan pada penelitian sejenis adalah :
 Dalam menentukan lokasi pasar sebaiknya terlebih dahulu menentukan klasifikasi
pelayanan pasar yang akan ditentukan lokasinya (lokal, lingkungan atau regional).
 AHP dapat menjadi salah satu analisis yang digunakan dalam menentukan lokasi pasar,
namun perlu digabung dengan analisis-analisis lainnya seperti analisis overlay, atau
langsung menggunakan metode Spatial-AHP.
 Data-data spasial merupakan kunci utama dalam penentuan lokasi, karena konteks lokasi
sangat berhubungan erat dengan konteks spasial. Jadi pendapat pakar saja belum cukup
untuk menentukan lokasi. Harus ada pembuktian melalui fakta empirik yang sifatnya
spasial.

Critical Review Analisis Lokasi dan Keruangan | ”Penentuan Lokasi Pasar Baru di OKU Selatan” 14
DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2011. Rencana Tata Ruang Wilayah Ogan Komeling Ulu Selatan. Pemerintah
OKU Selatan. Muaradua, Sumatera Selatan.
Ilyas, Susanti. 2011. Analisis Kegiatan Eceran. Jakarta
Kadarsah, Suryadi dan M Ali Ramdani. 1998. Sistem Pendukung Keputusan. PT Remaja
Rasdakarya. Bandung
Kismartini. 2003. Analisis Trade-Off Sebagai Alat Analisis Kebijakan Publik. Universitas
Diponegoro. Semarang
Brown, K.; Tompkins, E. and Adger, W.N. 2001. Trade-Off Analysis for Participatory Coastal
Zone Decision Making. ODG DEA. Csserge. UEA Norwich.
Hinloopen, E., P. Nijkkamp, and P Rietveld. 1982. Qualitative Discrete Multiple Criteria :
Choice Models in Regional Planning, Research Memorandum 1982-23. Vrije
Universiteit. Amsterdam.
Nitisemito, Alex dan Umar Burhan. 2004. Wawasan Studi Kelayakan dan Evaluasi Proyek.
Bumi Aksara. Jakarta
Daldjoeni, N. 1997. Seluk Beluk Masyarakat Kota. Alumni. Jakarta
Baskin, C. W. 1996. Walter Christaller : Central Places in Southern Germany. Prentic-Hall.
USA
Jones, M. A. And Suh, J. 2000. Transaction-Specific Satisfaction and Overall Satisfaction: 102
an Ampiric Analysis. Journal of Services Marketing, Vol. 14 / No. 2.
Azwar, Saifuddin. 2000. Reliabilitas dan Validitas. Pustaka Belajar. Yogyakarta
Soesilo, Nining L. 2000. Reformasi Pembangunan dengan Langkah-langkah Manajemen
Strategik. Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik, FE - UI. Jakarta
Malczewski, J. 1999. GIS and Multicriteria Decision Analysis. John Wiley and Sons, 392 pp.
New York
Jankowski, P. 1995. Integrating geographical information systems and multiple criteria
decision making methods. Int. J. Geo. Inform. Sys., 9(3), 251-273.
Osaragi, Toshihiro. 2002. Spatial Clustering Method for Geographic Data. University College
London. England
Jayadinata T. Johara. 1999. Tata Guna Tanah Dalam Perencanaan Desa, Perkotaan dan
Wilayah. ITB. Bandung
Saaty, TL. 1999. Fundamentals of the Analytic Network Process. ISAHP. Kobe, Japan.
Vanany, Iwan. 2003. Aplikasi Analytic Network Process (ANP) Pada Perancangan Sistem
Pengukuran Kinerja. Universitas Kristen Petra. Surabaya
Indryani, Retno. 2012. Analisa Pemilihan Lokasi Pembangunan Pasar Baru di Kecamatan
Muaradua Kabupaten OKU Selatan. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya

Critical Review Analisis Lokasi dan Keruangan | ”Penentuan Lokasi Pasar Baru di OKU Selatan” 15
Critical Review Analisis Lokasi dan Keruangan | ”Penentuan Lokasi Pasar Baru di OKU Selatan” 16
ANALISA PEMILIHAN LOKASI PEMBANGUNAN PASAR BARU
DI KECAMATAN MUARADUA KABUPATEN OKU SELATAN

Yusrinawati
Mahasiswa Magister Manajemen Aset FTSP ITS
Email: yusri47@yahoo.com

Retno Indryani
Eko Budi Santoso
Dosen Pembina Magister Manajemen Aset FTSP ITS

ABSTRAK
Dalam rangka menampung aktifitas perdagangan di Kecamatan Muaradua
sebagai Ibu kota kabupaten, Pemerintah kabupaten merencanakan akan
merelokasi pasar dengan membangun pasar baru yang bersekala regional di
Kecamatan Muaradua. Dalam perencanaan pembangunan tersebut, terdapat 3
lokasi yang akan dipilih yaitu Desa Batu Belang, Desa Sumber Jaya, Desa Bumi
Agung. Tujuan penelitian ini adalah untuk memilih lokasi yang terbaik untuk
pembangunan pasar baru tersebut. Methode yang dipergunakan adalah
Analytical Hyerarchi Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kriteria teknik adalah kriteria terpenting dalam penentuan lokasi pembangunan
pasar. Urutan prioritas pemilihan lokasi adalah : Desa Batu Belang dengan bobot
0,5128 , Desa Sumber Jaya dengan bobot 0, 2538 dan Desa Bumi Agung dengan
Bobot 0,2334.

Kata kunci: AHP, Pembangunan Pasar, Penentuan Lokasi

1. PENDAHULUAN sebagai lahan untuk pembangunan pasar


baru tersebut. Ketiga lokasi tersebut berada
Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan
pada wilayah pengembangan B dan C dan
merupakan salah satu kabupaten yang baru
merupakan wilayah yang menjadi pusat
dimekarkan di Propinsi Sumatera Selatan
kegiatan perdagangan barang dan jasa yang
berdasarkan Undang-Undang Nomor 37
berskala regional. Lokasi tersebut terletak
tahun 2003 pada bulan Juli th 2003 dengan
di desa Batu Belang, Sumber Jaya dan Bumi
Muaradua sebagai ibukota kabupaten.
Agung. Penelitian ini bertujuan untuk
Dengan dijadikannya ibukota kabupaten,
memilih lokasi terbaik dari ketiga lokasi
Muaradua menjadi pusat pemerintahan.
tersebut.
Selain itu, Muaradua juga merupakan pusat
kegiatan perdagangan barang dan jasa dan
2. KAJIAN PUSTAKA
pusat pelayanan ekonomi yang bersekala
regional. Pasar sebagai salah satu tempat 2.1 Penentuan Lokasi Pasar
aktifitas ekonomi yang ada di Muaradua,
Badan Pembinaan Perdagangan Dalam
sudah tidak mampu lagi menampung
Negeri dalam Anwar (2001) menyatakan
aktifitas perdagangan. Oleh karena itu
bahwa untuk menetapkan lokasi
pemerintah Kabupaten OKU Selatan
pembangunan pasar tradisional harus
mengeluarkan kebijakan untuk membangun
memperhatikan letak strategis,luas lahan
pasar baru pada lokasi lain dan pasar yang
yang dapat menampung bangunan dan
lama akan ditutup. Hal ini dikarenakan pada
fasilitas, mudahnya komunikasi dan
lokasi pasar yang lama tidak memungkinkan
transportasi, bukan lokasi banjir serta sesuai
untuk melakukan pengembangan karena luas
dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
lahan tidak cukup untuk menampung
setempat. Disamping hal tersebut dalam
bangunan pasar dan fasilitasnya. Ada tiga
penyediaan lahan untuk lokasi pasar perlu
alternatif lokasi yang dapat diajadikan
memperhatikan mengenai:

ISBN No. 978-979-18342-0-9 D-10


Analisa Pemilihan Lokasi Pembangunan Pasar Baru
Di Kecamatan Muaradua Kabupaten Oku Selatan

a. Adanya embrio 6. Adanya perlindungan terhadap bahaya


• Adanya pedagang dan pembeli kebakaran, perlindungan polisi dan
• Adanya kegiatan jual beli pelayanan kesehatan
(perdagangan) 7. Terdapatnya perumahan /permukiman
• Ada barang yang diperdagangkan penduduk
• Belum ada wujud fisik pasar 8. Sikap masyarakat
b. Penyediaan lahan 9. Peraturan setempat
• Swadaya masyarakat 10. Pertumbuhan kota di masa yang akan
• Dibeli dengan dana APBD datang
Kabupaten/Kota, APBD Propinsi atau Lokasi pasar merupakan faktor yang
APBN (dana pusat) penting/berpengaruh terhadap
c. Status lahan keberhasilan pengembangan pasar tersebut
• Tidak dalam sengketa dan menurut pendapat David Dewar
• Tidak sedang dalam jaminan atau Vanessa W (1990), pada skala kota ada
penyitaan Tiga faktor yang mempengaruhi pemilihan
• Sudah ada ketetapan hukum lokasi pasar, yaitu sebagai berikut :
1. Location of generator of population
Duncan dan Hollander, dalam Desmianti
movement (lokasi yang menimbulkan
(2004), mengemukakan bahwa hal-hal yang
pergerakan populasi/orang).
harus diperhatikan dalam penentuan lokasi
2. Sources of supply (sumber persediaan
pasar adalah :
barang yang diperjual belikan)
- Populasi yang terdapat pada daerah
3. Location of consumers (lokasi yang
perdagangan, meliputi komposisi dan
berada dekat dengan pembeli)
pertumbuhannya
- Perkembangan kota yang dapat diukur 2.2. Analisa Multi Kriteria
dari perubahan sosial ekonomi
Analisa multi kriteria adalah analisa yang
- Kebiasaan belanja penduduk
dipakai untuk menentukan pilihan dengan
- Daya beli penduduk yang dapat dilihat
menggunakan metode penilaian dan
dari jumlah tenaga kerja, jenis
pembobotan terhadap beberapa kriteria
pekerjaan, tingkat pendapatan dan
yang mempengaruhi pengambil keputusan
jumlah tabungan yang dimiliki
dalam membuat keputusan. Salah satu
- Perbedaan status sosial yang dapat
analisa multi kriteria yang sering dipakai
dilihat dari tipe rumah, kepemilikan
adalah Analytical Hierarchy Process (AHP)
rumah, tingkat pendidikan dan jumlah
yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty.
kepemilikan kendaraan
- Jumlah, luas , tipe dan lokasi pasar Proses penyelesaian masalah dengan
lama AHP :
- Aksesibilitas berupa fasilitas a. Mengidentifikasi masalah dan
transportasi umum, kedekatan dengan menentukan solusi yang diinginkan
konsumen potensial yang dapat berupa b. Membuat struktur hierarki yang diawali
daerah perumahan dan perkantoran dengan tujuan umum, dilanjutkan
- Kondisi fisik lahan, dapat dilihat dari dengan sub-sub tujuan, kriteria dan
tofografi, kondisi geologis, rawan kemungkinan alternatif-alternatif pada
bencana dan sebagainya tingkatan kriteria paling bawah
Chiara dan Koppelman (1997) c. Membuat matrik perbandingan
mengemukakan bahwa kriteria yang harus berpasangan yang menggambarkan
dipenuhi dalam menentukan lokasi suatu kontribusi relatif atau pengaruh setiap
pusat perbelanjaan adalah : elemen terhadap masing-masing tujuan
1. Kedekatan terhadap pangsa pasar / kriteria yang setingkat di atasnya.
2. Kedekatan terhadap bahan baku Perbandingan dilakukan berdasarkan
3. Ketersediaan tenaga listrik dan air judgement dari pengambil keputusan
4. Ketersediaan modal dengan menilai tingkat kepentingan
5. Iklim suatu elemen dibandingkan elemen
lainnya.

ISBN No. 978-979-18342-0-9 D-11


Yusrinawati, Retno Indryani, Eko Budi Santoso

d. Melakukan perbandingan berpasangan mewakili populasi. Purposive sampling


hingga diperoleh judgment seluruhnya disebut juga judgment sampling, dimana
sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n pemilihan subjek didasarkan atas ciri-ciri
adalah banyak elemen yang atau sifat tertentu yang dipandang
dibandingkan. mempunyai sangkut paut erat dengan ciri-
e. Menghitung nilai eigen dan menguji ciri populasi yang sudah diketahui.
konsistensinya. Jika tidak konsisten,
maka pengambilan data diulangi. 3.3. Metoda Analisa
f. Mengulangi langkah 3,4,5 untuk seluruh
Untuk melakukan pemilihan lokasi
tingkat hirarki
pembangunan pasar, menggunakan Analisa
g. Menghitung vektor eigen dari setiap
Hyerarchy Process (AHP).Faktor yang
matrik perbandingan berpasangan. Nilai
berpengaruh dalam penentuan lokasi
faktor eigen merupakan bobot setiap
pembangunan pasar dijadikan sebagai sub
elemen, langkah ini untuk mensistensi
kriteria. Ada tiga Kriteria yang ditentukan
judgment dalam penentuan prioritas
dalam penelitian ini yaitu : Kriteria teknik,
elemen pada tingkat hirarki terendah
sosial ekonomi dan sarana prasarana. Sub
sampai mencapai tujuan
kriteria yang sejenis kemudian
h. Memeriksa konsistensi hirarki. Jika
dikelompokkan dalam kriteria.
nilainya lebih dari 10 persen maka
Pengelompokan seperti yang tercantum
penilaian data judgment harus
pada tabel dibawah ini
diperbaiki
Tabel 1. Kriteria dan Sub Kriteria Penentuan
3. METODA PENELITIAN
Lokasi
3.1. Responden Penelitian
No Kriteria Sub Kriteria
Responden dalam penelitian ini ditentukan
dari instansi pemerintah kabupaten OKU 1 Teknik 1. Luas lahan
Selatan yang terkait dengan masalah 2. Berada di sekitar terminal
penentuan alternatif lokasi pembangunan 3. Topografi rendah
pasar baru di kecamatan Muaradua 4. Tidak Rawan Bencana
Kabupaten OKU Selatan.Responden dari
instansi tersebut ada 7 orang yaitu : 2 Sosial 1. Dekat dengan pemukiman
1. Sekretaris Daerah Ekonomi penduduk
2. Kepala Badan Perencanaan 2. Kepadatan penduduk tinggi
3. Sikap masyarakat terhadap
Pembangunan Daerah pembangunan pasar
3. Kepala Dinas Kebersihan keindahan dan
Pertamanan
4. Kepala Dinas Pekerjaan Umum 3 Sarana 1. Adanya jaringan jalan
5. Kepala Dinas Pendapatan Daerah dan menuju lokasi pasar
Prasarana 2. Tersedia alat angkutan
6. Kepala Bagian Perekonomian
7. Camat Muaradua
Sumber : Hasil analisa
3.2. Teknik Pengambilan sampel Setelah semua unsur didapatkan dari setiap
Teknik Pengambilan sampel yang dilakukan level hirarki pengambilan keputusan, maka
dalam penelitian ini menggunakan Purposive disusun hirarki tersebut seperti pada gambar
Sampling. Pengambilan elemen yang 3.1
dimasukkan dalam sampel dilakukan secara
sengaja dengan catatan sampel harus

ISBN No. 978-979-18342-0-9 D-12


Analisa Pemilihan Lokasi Pembangunan Pasar Baru
Di Kecamatan Muaradua Kabupaten Oku Selatan

Gambar 1. Rancangan Pemilihan Lokasi Pembangunan Pasar

4. Hasil Penelitian dan Pembahasan 2. Membuat matriks normalisasi


perbandingan berpasangan, dengan
4.1. Penentuan Bobot Kriteria
membagi semua nilai pada kolom dengan
Pada penelitian ini ada 3 kriteria yang akan jumlah dari semua nilai per kolom.
dibandingkan yaitu kriteria teknik,sosial
ekonomi dan sarana prasarana. Jawaban
dari setiap responden dihitung rata-ratanya Tabel 3. Matrik Normalisasi Perbandingan
dengan menggunakan rata-rata geometrik. Berpasangan
Setelah nilai rata-rata dari jawaban seluruh
KRITERIA T SE SP
responden didapat langkah selanjutnya
Teknik 0,5714 0,4444 0,6154
adalah menghitung bobot prioritas kriteria
Sosial Ekonomi (SE) 0,1429 0,1111 0,0769
dan penentuan nilai konsistensi :
Sarana Pras 0,2857 0,4444 0,3077
Jumlah 1,0000 1,0000 1,0000
1. Memasukkan nilai matriks yang diperoleh
dari hasil nilai rata-rata jawaban
responden 3. Jumlahkan semua hasil normalisasi
Tabel 2. Matrik Perbandingan Berpasangan perbandingan berpasangan (tahap 2) per
baris, kemudian masing-masing hasil
KRITERIA T SE SP penjumlahan dibagi dengan jumlah
Teknik (T) 1 4 2
kriteria untuk mendapatkan bobot.
Sosial Ekonomi (SE) 1/4 1 1/4
Sarana Prasarana (SP) 1/2 4 1
Jumlah 1,75 9 3,25

Tabel 4. Matrik Normalisasi Perbandingan Berpasangan Level Kriteria


KRITERIA T SE SP Jumlah Bobot
Teknik 0,5714 0,4444 0,6154 1,6313 0,5437
Sosial Ekonomi (SE) 0,1429 0,1111 0,0769 0,3309 0,1103
Sarana Pras 0,2857 0,4444 0,3077 1,0379 0,3460
Jumlah 1,0000 1,0000 1,0000 3,0000 0,9999

ISBN No. 978-979-18342-0-9 D-13


Yusrinawati, Retno Indryani, Eko Budi Santoso

4. Menghitung eigen value terbesar (λmaks) Tabel 5. Bobot dan Prioritas Level Kriteria
yaitu dengan menjumlahkan hasil
Kriteria Bobot Prioritas
perkalian jumlah kolom matrik
perbandingan berpasangan dengan Teknik (T) 0.5437 1
bobot.
Sosial Ekonomi (SE) 0.1103 3
λmaks = (1,75 x 0,5437) +
Sarana Prasarana (SP) 0.3460 2
(9 x 0,1103 ) + (3,25 x 0,3460)
λmaks = 3,0686
Dari tabel 5 di atas diketahui bahwa kriteria
5. Menghitung Indeks Konsistensi (CI) teknik / fisik mempunyai bobot yang paling
tinggi yaitu sebesar 0,5437, urutan kedua
λmaks − n 3,0686 − 3
CI = = = 0,0343 adalah kriteria sarana prasarana dengan nilai
n −1 3 −1 0,3460, urutan ketiga adalah kriteria sosial
ekonomi dengan nilai 0,1103 .
6. Menghitung Rasio Konsistensi (CR),
dengan nilai RI = 0,58 (sesuai dengan
tabel 5.10 dengan ukuran matrik = 3) 4.2 Penentuan Bobot Sub Kriteria
CI 0,0343 Pada penelitian ini ada 9 sub kriteria yang
CR = = = 0,0591. Karena dikelompokkan dalam 3 kriteria. Langkah-
RI 0,58
langkah perhitungan bobot sub kriteria sama
CR < 0,1 maka matrik diatas konsisten. dengan langkah-langkah perhitungan bobot
Dari langkah di atas maka dapat diketahui kriteria.
bobot dan prioritas level kriteria seperti Hasil perhitungan bobot sub kriteria seperti
pada tabel 5 : pada tabel 6, tabel 7 dan tabel 8

Tabel 6. Bobot Sub Kriteria dalam Kriteria Teknis


T
Sub Kriteria Bobot Prioritas
0,5437
Luas Lahan ( T1 ) 0,5388 0,2930 1
Berada di Sekitar Lokasi Terminal (T2) 0,2523 0,1372 2
Topografi (T3) 0,0625 0,0340 4
Tidak rawan Bencana (T4) 0,1464 0,0796 3

Tabel 7. Bobot Sub Kriteria dalam Kriteria Sosial Ekonomi


SE
Sub Kriteria Bobot Prioritas
0.1103
Dekat dengan permukiman (SE1) 0.2605 0.0287 2
Kepadatan Penduduk (SE2) 0.6333 0.0699 1
Sikap Masyarakat (SE3) 0.1062 0.0117 3

Tabel 8. Bobot Sub Kriteria dalam Kriteria Sarana Prasarana


SP
Sub Kriteria Bobot Prioritas
0.3460
Adanya jaringan jalan (SP1) 0.7500 0.2595 1
Tersedia alat angkutan (SP2) 0.2500 0.0865 2

ISBN No. 978-979-18342-0-9 D-14


Analisa Pemilihan Lokasi Pembangunan Pasar Baru
Di Kecamatan Muaradua Kabupaten Oku Selatan

4.3 Penentuan Lokasi kriteria yang ada. Langkah yang dilakukan


dalam perhitungan bobot sama dengan
Pada level ini penentuan lokasi
langkah perhitungan pada kriteria dan sub
dilakukan dengan cara menentukan bobot
kriteria. Hasil perhitungan bobot dalam
pada setiap alternatif lokasi sebagai
penentuan lokasi seperti tercantum pada
alternatif keputusan dalam semua sub
tabel 9 sampai tabel 17

Tabel 9.Penentuan Lokasi berdasarkan Luas Lahan


KRITERIA L1 L2 L3 Bobot λ maks = 3,0048
Desa batu Belang (L1) 1 2 5 0,5812 CI = 0,0024
Desa Sumber jaya (L2) 1/2 1 3 0,3092 RI = 0,58
Desa Bumi Agung (L3) 1/5 1/3 1 0,1096 CR = 0,0042
Jumlah 1,7 3,3333 9 1,0000

Tabel 10. Penentuan Lokasi berdasarkan Berada di sekitar lokasi Terminal


KRITERIA L1 L2 L3 Bobot λ maks = 3,0793
Desa batu Belang (L1) 1 3 6 0,6393 CI = 0,0397
Desa Sumber jaya (L2) 1/3 1 4 0,2737 RI = 0,58
Desa Bumi Agung (L3) 1/6 1/4 1 0,0870 CR = 0,0684
Jumlah 1,5 4,25 11 1,0000

Tabel 11. Penentuan lokasi berdasrkan Topografi


KRITERIA L1 L2 L3 Bobot λ maks = 3,0000
Desa batu Belang (L1) 1 2 6 0,6000 CI = 0,0000
Desa Sumber jaya (L2) 1/2 1 3 0,3000 RI = 0,58
Desa Bumi Agung (L3) 1/6 1/3 1 0,1000 CR = 0,0000
Jumlah 1,6667 3,3333 10 1,0000

Tabel 12. Penentuan lokasi berdasarkan tidak rawan bencana


KRITERIA L1 L2 L3 Bobot λ maks = 3,0000
Desa batu Belang (L1) 1 2 6 0,6000 CI = 0,0000
Desa Sumber jaya (L2) 1/2 1 3 0,3000 RI = 0,58
Desa Bumi Agung (L3) 1/6 1/3 1 0,1000 CR = 0,0000
Jumlah 1,6667 3,3333 10 1,0000

Tabel 13. Penentuan lokasi berdasarkan dekat dengan pemukiman penduduk


KRITERIA L1 L2 L3 Bobot λ maks = 3,0255
Desa batu Belang (L1) 1 3 4 0,6232 CI = 0,0127
Desa Sumber jaya (L2) 1/3 1 2 0,2395 RI = 0,58
Desa Bumi Agung (L3) 1/4 1/2 1 0,1373 CR = 0,0220
Jumlah 1,5833 4,5 7 1,0000

Tabel 14. Penentuan lokasi berdasarkan Kepadatan Penduduk Tinggi


KRITERIA L1 L2 L3 Bobot λ maks = 3,0650
Desa batu Belang (L1) 1 3 2 0,5247 CI = 0,0325
Desa Sumber jaya (L2) 1/3 1 1/3 0,1415 RI = 0,58
Desa Bumi Agung (L3) 1/2 3 1 0,3338 CR = 0,0560
Jumlah 1,8333 7 3,3333 1,0000

ISBN No. 978-979-18342-0-9 D-15


Yusrinawati, Retno Indryani, Eko Budi Santoso

Tabel 15. Penentuan lokasi berdasrkan sikap masyarakat terhadap pembangunan pasar
KRITERIA L1 L2 L3 Bobot λ maks = 3,0650
Desa batu Belang (L1) 1 3 2 0,5247 CI = 0,0325
Desa Sumber jaya (L2) 1/3 1 1/3 0,1415 RI = 0,58
Desa Bumi Agung (L3) 1/2 3 1 0,3338 CR = 0,0560
Jumlah 1,8333 7 3,3333 1,0000

Tabel 16.Penentuan lokasi berdasarkan adanya jaringan jalan


KRITERIA L1 L2 L3 Bobot λ maks = 3,0075
Desa batu Belang (L1) 1 2 1/2 0,2766 CI = 0,0037
Desa Sumber jaya (L2) 1/2 1 1/5 0,1285 RI = 0,58
Desa Bumi Agung (L3) 2 5 1 0,5949 CR = 0,0064
Jumlah 3,5 8,0 1,7 1,0000

Tabel 17. Penentuan lokasi berdasarkan tersedia alat angkutan menuju pasar
KRITERIA L1 L2 L3 Bobot λ maks = 3,0326
Desa batu Belang (L1) 1 2 5 0,5679 CI = 0,0163
Desa Sumber jaya (L2) 1/2 1 4 0,3339 RI = 0,58
Desa Bumi Agung (L3) 1/5 1/4 1 0,0982 CR = 0,0281
Jumlah 1,7 3,25 10 1,0000

Setelah bobot dari alternatif lokasi untuk terakhir adalah menentukan bobot dan
setiap sub kriteria diketahui maka prioritas alternatif lokasi dengan cara
selanjutnya dilakukan perhitungan mengalikan bobot alternatif lokasi dalam sub
konsistensi keseluruhan (CRgabungan). Hasilnya kriteria dengan bobot sub kriterianya
adalah 0,0438. Karena CRgabungan < 0,1 maka masing-masing. Seperti pada Tabel 18:
hirarki keseluruhan konsisten. Langkah

Tabel 18. Penentuan Lokasi Pembangunan Pasar


Kriteria T Kriteria SE Kriteria SP
0,5437 0,1103 0,3460
Alternatif Lokasi Bobot
T1 T2 T3 T4 SE1 SE2 SE3 SP1 SP2
0,2929 0,1372 0,0340 0,0796 0,0287 0,0699 0,0117 0,2595 0,0865
Desa batu Belang (L1) 0,5812 0,6393 0,6000 0,5679 0,6232 0,6333 0,5247 0,2766 0,5679 0,5128
Desa Sumber jaya (L2) 0,3092 0,2737 0,3000 0,3339 0,2395 0,2605 0,1415 0,1285 0,3339 0,2538
Desa Bumi Agung (L3) 0,1096 0,0870 0,1000 0,0982 0,1373 0,1062 0,3338 0,5949 0,0982 0,2334

4.4. Analisa Sensitivitas sarana parasarana diturunkan sampai 30 %,


tidak terjadi perubahan prioritas lokasi
Analisa sensitivitas dilakukan dengan cara
pembangunan pasar. Penurunan berdasarkan
merubah bobot setiap kriteria sehingga
proporsi.Tetapi jika bobot kriteria teknik
akan diketahui apakah setiap kriteria
diturunkan sampai dengan 10 % dan kriteria
tersebut berpengaruh (sensitif) atau tidak
sosial ekonomi dan sarana parasarana
dalam menentukan alternatif terbaik lokasi
dinaikkan sampai 10 % hanya berpengaruh
pembangunan pasar di Kecamatan
terhadap prioritas lokasi.Desa Bumi Agung
Muaradua.
yang semula berada pada prioritas nomor 3,
4.4.1 Sensitivitas terhadap Kriteria berubah menjadi prioritas nomor 2. Hal ini
Teknik menunjukkan bahwa kriteria teknik tidak
sensitif terhadap penentuan prioritas lokasi
Jika bobot kriteria teknik dinaikkan sampai
dengan 30 % , kriteria sosial ekonomi dan

ISBN No. 978-979-18342-0-9 D-16


Analisa Pemilihan Lokasi Pembangunan Pasar Baru
Di Kecamatan Muaradua Kabupaten Oku Selatan

Tabel 19. Perhitungan sensitivitas kriteria teknis


PERUBAHAN
KRITERIA
-30% -20% -10% 0% 10% 20% 30%
Teknik (T) 0.3806 0.4350 0.4894 0.5437 0.5981 0.6525 0.7069
KRITERIA LAINNYA
Sosial Ekonomi (SE) 0.1497 0.1366 0.1234 0.1103 0.0972 0.0840 0.0709
Sarana Prasarana (SP) 0.4696 0.4284 0.3872 0.3460 0.3047 0.2635 0.2223
ALTERNATIF LOKASI
Desa Batu Belang (L1) 0.4833 0.4932 0.5030 0.5128 0.5226 0.5324 0.5422
Desa Sumber Jaya (L2) 0.2362 0.2421 0.2480 0.2538 0.2597 0.2656 0.2715
Desa Bumi Agung (L3) 0.2805 0.2648 0.2490 0.2334 0.2177 0.2020 0.1863

0,6000

0,5000

0,4000

0,3000

0,2000

0,1000

0,0000
-30% -20% -10% 0% 10% 20% 30%

Desa Batu Belang (L1) Desa Sumber Jaya (L2) Desa Bumi Agung (L3)

Gambar 2. Grafik sensitivitas kriteria teknis

4.4.2 Sensitivitas terhadap Kriteria Sosial pembangunan pasar.Demikian juga jika


Ekonomi bobot kriteria sarana / prasarana diturunkan
sampai dengan 30% juga tidak berpengaruh
Jika bobot kriteria sarana / prasarana
terhadap prioritas lokasi.
dinaikkan sampai dengan 30% maka tidak
terjadi perubahan prioritas lokasi

Tabel 20. Perhitungan sensitivitas kriteria sosial ekonomi


PERUBAHAN
KRITERIA
-30% -20% -10% 0% 10% 20% 30%
Sosial Ekonomi (SE) 0,0772 0,0882 0,0993 0,1103 0,1213 0,1324 0,1434
KRITERIA LAINNYA
Teknik ( T ) 0,5639 0,5572 0,5504 0,5437 0,5370 0,5302 0,5235
Sarana Prasarana (SP) 0,3588 0,3545 0,3502 0,3460 0,3417 0,3374 0,3331
ALTERNATIF LOKASI
Desa Batu Belang (L1) 0,5088 0,5101 0,5114 0,5127 0,5140 0,5154 0,5167
Desa Sumber jaya (L2) 0,2543 0,2541 0,2540 0,2538 0,2537 0,2536 0,2534
Desa Bumi Agung (L3) 0,2369 0,2357 0,2345 0,2334 0,2322 0,2310 0,2298

ISBN No. 978-979-18342-0-9 D-17


Yusrinawati, Retno Indryani, Eko Budi Santoso

0,6000

0,5000

0,4000

0,3000

0,2000

0,1000

0,0000
-30% -20% -10% 0% 10% 20% 30%

Desa Batu Belang (L1) Desa Sumber jaya (L2) Desa Bumi Agung (L3)

Gambar 3. Grafik sensitivitas kriteria sosial ekonomi

4.4.3 Sensitivitas terhadap Kriteria Demikian juga jika dinaikkan sampai dengan
Sarana Prasarana 30 % tidak mempengaruhi prioritas
lokasi.Hal ini menunjukkan bahwa kriteria
Jika bobot kriteria sarana parasarana
sarana prasarana tidak sensitif terhadap
dinaikkan sampai dengan 20 % maka terjadi
penentuan prioritas lokasi. Jika bobot
perubahan prioritas lokasi pembangunan
kriteria sarana prasarana diturunkan sampai
pasar dimana lokasi di Desa Bumi Agung
dengan 30 % tidak berpengaruh terhadap
yang semula berada pada prioritas nomor
prioritas lokasi.
tiga berubah menjadi prioritas nomor dua.

Tabel 21. Perhitungan sensitivitas kriteria sarana prasarana


PERUBAHAN
KRITERIA
-30% -20% -10% 0% 10% 20% 30%
Sarana Prasarana (SP) 0.2422 0.2768 0.3114 0.3460 0.3805 0.4151 0.4497
KRITERIA LAINNYA
Teknik (T) 0.6300 0.6012 0.5725 0.5437 0.5150 0.4862 0.4575
Sosisl Ekonomi 0.1278 0.1220 0.1161 0.1103 0.1045 0.0986 0.0928
ALTERNATIF LOKASI
Desa batu Belang (L1) 0.5387 0.5301 0.5214 0.5128 0.5040 0.4955 0.4869
Desa Sumber jaya (L2) 0.2656 0.2617 0.2578 0.2538 0.2499 0.2460 0.2421
Desa Bumi Agung (L3) 0.1957 0.2082 0.2208 0.2334 0.2459 0.2585 0.2710

0,6000

0,5000

0,4000

0,3000

0,2000

0,1000

0,0000
-30% -20% -10% 0% 10% 20% 30%

Desa batu Belang (L1) Desa Sumber jaya (L2) Desa Bumi Agung (L3)

Gambar 4. Grafik sensitivitas kriteria sarana prasarana


ISBN No. 978-979-18342-0-9 D-18
Analisa Pemilihan Lokasi Pembangunan Pasar Baru
Di Kecamatan Muaradua Kabupaten Oku Selatan

5. Kesimpulan 2. De Chiara, J dan E lee K (1997), Standar


Perencanaan tapak, PT Erlangga,
Dari hasil penelitian dan pembahasan, maka
Jakarta
kesimpulan yang dapat diambil adalah:
urutan prioritas pemilihan lokasi diperoleh 3. Desmianty, L (2005), Analisis Penentuan
sebagai berikut : Prioritas Pertama Desa Batu Lokasi Pembangunan Pasar di kota Lahat
Belang dengan bobot 0,5128 , Prioritas ke Dua Berdasarkan kajian Faktor-faktor
Desa Sumber Jaya dengan bobot 0, 2538 dan Penentu Lokais Pasar Menurut
prioritas ke Tiga dengan Bobot 0,2334. Hasil Preferensi Pengguna Pasar dan
analisa sensitivitas terhadap perubahan bobot Kebijakan Pemerintah Kabupaten,
masing-masing kriteria tetap memberikan Institut Teknologi Surabaya
Desa Batu Belang sebagai prioritas yang
4. Dewar, D and Watson, V (1990), Urban
pertama.
Market Developing Informal Retailing,
Daftar Pustaka London : Rontledge
1. Anwar, M, (2001), Pedoman Pembinaan 5. Saaty, Thomas L, (1993), Pengambilan
Pasar Tradisional, Dirjen Departemen Keputusan Bagi Para Pemimpin, PT.
Perindustrian dan Perdagangan, Jakarta. Bustaman Binaman presindo, Jakarta

ISBN No. 978-979-18342-0-9 D-19