You are on page 1of 8

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN HEMORID

I. PENGKAJIAN
1. Data Demografi
Di dalam data demografi terdapat identitas pasien dan identitas penaggung
jawab terdiri dari nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan,
pekerjaan, agama, alamat, suku bangsa, tanggal masuk rumah sakit dan
diagnosa medis.
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama :
Perdarahan terus menerus saat BAB. Ada benjolan pada anus atau nyeri
pada saat defekasi.
b. Riwayat kesehatan sekarang :
Riwayat kesehatan sekarang meliputi keluhan utama pada klien. Biasanya
klien yang mengalami hemoroid, didapatkan mengeluh terasa adanya
tonjolan pada anus, terkadang merasa nyeri dan gatal pada daerah anus.
Selain itu, terkadang klien datang ke rumah sakit dengan keluhan adanya
perdarahan dari anus saat buang air besar (BAB) yang menyebabkan
klien menjadi anemia.
c. Riwayat kesehatan terdahulu :
Apakah klien pernah mengalami hemoroid sebelumnya. Apakah klien
mempunyai alergi terhadap suatu obat, lingkungan, binatang atau
terhadap cuaca. Klien juga ditanyakan apakah pernah menggunakan obat
terutama untuk pengobatan hemoroid sebelumnya.
d. Riwayat kesehatan keluarga :
Adakah riwayat hemoroid dalam keluarga.
3. Pola fungsi kesehatan
a. Pola nutrisi dan cairan
Klien yang mengalami hemoroid mempunyai kebiasaan makan yang
kurang serat dan jarang minum sehingga terjadi konstipasi.
b. Pola eliminasi
Klien yang mengalami hemoroid biasanya akan mengeluarkan darah
berwarna merah terang. Dan keenggaanan untuk Bab sehingga terjadi
konstipasi.
c. Pola istirahat tidur
Klien yang mengalami hemoroid, pola istirahat tidurnya akan terganggu
hal ini berkaitan dengan rasa nyeri pada daerah anus
4. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi :
Perhatikan tonjolan pada daerah anus klien, perhatikan adakah
perdarahan dari daerah anus. Selain menginspeksi hemoroid pada klien,
sebagai seorang perawat juga harus memperhatikan komplikasi yang
terjadi, seperti terjadinya anemia yang dapat dilihat dengan konjungtiva
anemis, capillary refill>3 detik, kulit klien pucat.
b. Palpasi : Palpasi area anal, adakah keluhan nyeri pada klien
5. Pemeriksaan Diagnostik
a. Contoh feses (pemeriksaan digunakan dalam diagnosa awal dan selama
kemajuan penyakit) : terutama yang mengandung mukosa, darah, pus,
dan organisme usus, khususnya entamoba histolitika.
b. Darah lengkap : dapat menunjukkan anemia hiperkronik
c. Kadar besi serum : rendah karena kehilangan darah.
d. Masa protombin : memanjan pada kasus yang berat karena gangguan
faktor VII dan X disebabkan karena kekurangan vitamin K.
e. Prostagsimoidoskopi : memperlihatkan ulkus, edema, hiperemia, dan
inflamasi (akibat infeksi sekunder mukosa dan submukosa). Area yang
menurun fungsinya dan perdarahan karena nekrosis dan ulkus terjadi
pada 85% bagian pada pasien ini.
f. Elektrolit : penurunan kalium dan magnesium umum pada penyakit berat.
g. Kadar albumin : penurunan karena kehilangan protein plasma/ gangguan
fungsi hati.
h. Alkali fosfatase : meningkat, juga dengan kolesterol serum dan
hipoproteinemia, menunjukkan gangguan fungsi hati.
i. Trombositosis : dapat terjadi karena proses penyakit inflamasi.
j. Sitologi dan biopsi rektal : membedakan antara proses infeksi dan
karsinoma.
k. Enema barium : dapat dilakukan setelah pemeriksaan visualisasi dapat
dilakukan meskipun jarang dilakukan selama akut, tahap kambuh, karena
dapat membuat kondisi eksorsibasi.
l. Kolonoskopi : mengidentifikasi adesi, perubahan lumen dinding.
m. ESR (Erythrocyte Sedimentation Rate) atau LED (Laju Endap Darah ) :
meningkat karena beratnya penyakit.
n. Sumsum tulang : menurun secara umum pada tipe berat/ setelah inflamasi
panjang.

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN


Pre Operatif
1. Resiko kekurangan nutrisi (defisiensi zat ) berhubungan dengan pecahnya
vena plexus hemmoroidalis ditandai dengan perdarahan yang terus - menerus
waktu BAB.
2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan adanya massa anal atau anus,
yang ditandai benjolan didaerah anus, terasa nyeri dan gatal pada daerah
anus.
3. Personal hygene pada anus kurang berhubungan dengan massa yang keluar
pada daerah eksternal.
Postoperasi
1. Nyeri berhubungan dengan adanya jahitan pada luka operasi dan
terpasangnya cerobong angin.
2. Resikol terjadinya infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak
adekuat
3. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang
perawatan dirumah.
III. INTERVENSI & IMPLEMENTASI
Preoperatif
1. Resiko kekurangan nutrisi berhubungan dengan pecahnya vena plexus
hemmoroidalis ditandai dengan perdarahan yang terus - menerus waktu
BAB.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam,
resiko kekurangan nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil : Tidak terdapat anemis, perdarahan terhenti, BB tidak turun.
Intervensi :
a. Observasi tanda-tanda anemis.
R : Tanda – tanda anemis diduga adanykekurangan zat besi (Hb
turun)
b. Diet rendah sisa atau serat selama terjadinya perdarahan.
R : Dapat mengurangi perangsangan pada daerah anus sehingga
tidak terjadi perdarahan.
c. Berikan penjelasan tentang pentingnya diet kesembuhan penyakitnya.
R : Pendidikan tentang diet, membantu keikut sertaan pasien
dalameningkatkan keadaan penyakitnya.
d. Beri kompres es pada daerah terjadinya perdarahan.
R : Pasien dengan pecahnya vena plexus hemoriodalis perlu obat
yang dapat membantu pencegahan terhadap perdarahan yang
mememrlukan penilaian terhadap respon secara periodik.
e. Beri obat atau terapi sesuai dengan pesanan dokter.
R : Pasien dengan pecahnya vena flexus hemmoroidalis perlu obat
yang dapat membantu pencegahan terhadap perdarahan yang
memerlukan penilayan terhadap respon obat tersebut secara periodik.
2. Defisit personal hygene pada anus berhubungan dengan massa yang
keluar pada daerah eksternal.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam,
terjaganya kebersihan anus.
Kriteria Hasil : -tidak ada tanda-tanda infeksi. -Tidak terasa gatal-gatal
pada daerah anus. - Rasa gatal pada anus berkurang
Intervensi :
a. Berikan sit bath dengan larutan permagan 1/1000% pada pagi dan
sore hari.
R : Meningkatkan kebersihan dan memudahkan terjadinya
penyembuhan prolaps.
b. Obserpasi keluhan dan adanya tanda- tanda peradangan anus.
R : Peradangan pada anus menandakan adanya suatu infeksi pada
anus.
c. Beri penjelasan cara membersihkan anus dan menjaga kebersihanya.
R : Pengetahuan tentang cara membersihkan anus membantu
keikutsertaan pasien dalam mempercepat kesembuhanya.
Postoperatif
I. Nyeri berhubungan dengan adanya jahitan pada luka operasi dan
terpasangnya cerobong angin.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam,
gangguan rasa nyaman terpenuhi.
Kriteria Hasil : Tidak terdapat anemis,perdarahan terhenti BB tidak turun.
Tidak terdapat rasa nyeri pada luka operasi,.pasien dapat melakukan
aktivitas ringan. skala nyeri 0-1. klien tampak rileks.
Intervensi :
a. Beri posisi tidur yang menyenangkan pasien.
R : Dapat menurunkan tegangan abdomen dan meningkatkan rasa
kontrol.
b. Ganti balutan setiap pagi sesuai tehnik aseptik.
R : Melindungi pasien dari kontaminasi silang selama penggantian
balutan. Balutan basah bertindak sebagai penyerap kontaminasi
eksternal dan menimbulkan rasa tidak nyaman.
c. Latihan jalan sedini mungkin.
R : Menurunkan masalah yang terjadi karena imobilisasi.
d. Observasi daerah rektal apakah ada perdarahan.
R : Perdarahan pada jaringan, imflamasi lokal atau terjadinya infeksi
dapat meningkatkan rasa nyeri.
e. Cerobong anus dilepaskan sesuai advice dokter (pesanan).
R : Meningkatkan fungsi fisiologis anus dan memberikan rasa nyaman
pada daerah anus pasien karena tidak ada sumbatan.
f. Berikan penjelasan tentang tujuan pemasangan cerobong anus (guna
cerobong anus untuk mengalirkan sisa-sisa perdarahan yang terjadi
didalam agar bisa keluar).
R : Pengetahuan tentang manfaat cerobong anus dapat membuat
pasien paham guna cerobong anus untuk kesembuhan lukanya.
II. Resiko terjadinya infeksi pada luka berhubungan dengan pertahanan
primer tidak adekuat.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24
jam,resiko infeksi teratasi.
Klasifikasi hasil : -Tidak terdapat tanda-tanda infeksi (dolor, kalor, rubor,
tumor, fungsiolesa). -Radang luka mengering.
Intervensi :
a. Observasi tanda vital tiap 4 jam.
R : Respon autonomik meliputi TD, respirasi, nadi yang berhubungan
denagan keluhan / penghilang nyeri . Abnormalitas tanda vital perlu di
observasi secara lanjut
b. Obserpasi balutan setiap 2 – 4 jam, periksa terhadap perdarahan dan
bau.
R : Deteksi dini terjadinya proses infeksi dan / pengawasan
penyembuhan luka oprasi yang ada sebelumnya.
c. Ganti balutan dengan teknik aseptik.
R : Mencegah meluas dan membatasi penyebaran luas infeksi atau
kontaminasi silang
d. Bersihkan area perianal setelah setiap depfikasi
R : Mengurangi / mencegah kontaminasi daerah luka.
e. Berikan diet rendah serat/ sisa dan minum yang cukup
R : Mengurangi ransangan pada anus dan mencegah mengedan pada
waktu defikasi.
III. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang
perawatan dirumah.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24
jam,kurangnya pengetahuan teratas.
Krieteria hasil :
 Klien tidak banyak bertanya tentang penyakitna.
 Pasien dapat menyatakan atau mengerti tentang perawatan dirumah.
 Keluarga klien paham tentang proses penyakit.
 Klien menunjukkan wajah tenang
Intervensi :
a. Diskusikan pentingnya penatalaksanaan diet rendah sisa.
R : Pengetahuan tentang diet berguna untuk melibatkan pasien dalam
merencanakan diet dirumah yang sesuai dengan yang dianjurkan oleh
ahli gizi.
b. Demontrasikan perawatan area anal dan minta pasien
menguilanginya.
R : Pemahaman akan meningkatkan kerja sama pasien dalam
program terapi, meningkatkan penyembuhan dan proses perbaikan
terhadap penyakitnya.
c. Berikan rendam duduk sesuai pesanan.
R : Meningkatkan kebersihan dan kenyaman pada daerah anus (luka
atau polaps).
d. Bersihakan area anus dengan baik dan keringkan seluruhnya setelah
defekasi.
R : Melindungi area anus terhadap kontaminasi kuman-kuman yang
berasal dari sisa defekasi agar tidak terjadi infeksi.
e. Berikan balutan.
R : Melindungi daerah luka dari kontaminasi luar.
f. Diskusikan gejala infeksi luka untuk dilaporkan kedokter.
R : Pengenalan dini dari gejala infeksi dan intervensi segera dapat
mencegah progresi situasi serius.
g. Diskusikan mempertahankan difekasi lunak dengan menggunakan
pelunak feces dan makanan laksatif alami.
R : Mencegah mengejan saat difekasi dan melunakkan feces.
h. Jelaskan pentingnya menghindari mengangkat benda berat dan
mengejan.
R : Menurunkan tekanan intra abdominal yang tidak perlu dan
tegangan otot.
IV. EVALUASI
Kriteria hasil atas pencapaian tujuan sebagai berikut :
1. Rasa nyeri saat defekasi berkurang atau hilang
2. Px tidak mengalami konstipasi, dengan konsistensi feses lunak
3. Pola defekasi px kembali normal
4. Kecemasan px akan operasi berkurang