Sie sind auf Seite 1von 8

Jurnal Pendidikan Kimia (JPK), Vol. 6 No. 1 Tahun 2017 Hal.

54-61
Program Studi Pendidikan Kimia ISSN 2337-9995
Universitas Sebelas Maret http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/kimia

PENERAPAN PEMBELAJARAN PROJECT BASED


LEARNING (PjBL) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN
PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PERIODIK
UNSUR (SPU) KELAS X MIA 1 SMA NEGERI 1 TERAS
BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Kun Sasanti Sitaresmi, Sulistyo Saputro*, dan Suryadi Budi Utomo


Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Sebelas Maret
Jl. Ir. Sutami No.36A, Surakarta, Indonesia 57126

*keperluan korespondensi, tel/fax : 081329196891, email: sulistyo68@yahoo.com

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi dan aktivitas belajar siswa pada
sub pokok bahasan sifat keperiodikan unsur kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Teras Boyolali
melalui penerapan Pembelajaran project Based Learning (PjBL). Penelitian ini merupakan
Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam dua siklus,
setiap siklus terdiri atas perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X MIA 1 SMA Negeri1 Teras Boyolali tahun
pelajaran 2015/2016 semester gasal. Sumber data berasal dari guru, observer, dan siswa.
Teknik pengumpulan data adalah dengan tes dan nontes (angket, observasi, dan wawancara).
Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan
bahwa metode Project Based Learning (PjBL) pada materi sifat keperiodikan unsur siswa kelas
X MIA 1 SMA Negeri1 Teras Boyolali tahun pelajaran 2015/2016 dapat meningkatkan aktivitas
belajar dengan ketuntasan 72,31% pada siklus I menjadi 75,76% pada siklus II, sedangkan
pada prestasi belajar siswa pada kompetensi pengetahuan meningkat dari 52,94% pada siklus I
menjadi 73,53% pada siklus II, pada kompetensi sikap meningkat dari 73,53% pada siklus I
menjadi 79,41% pada siklus II dan pada kompetensi keterampilan meningkat dari 82,35% pada
siklus I menjadi 97,06% pada siklus II.

Kata Kunci: penelitian tindakan kelas, project based learning (PjBL), Sistem Periodik Unsur
(SPU), prestasi belajar, aktivitas belajar

PENDAHULUAN
Bidang pendidikan merupakan dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha
salah satu bidang yang penting pada Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
pembentukan kualitas sumber daya cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
manusia. Seperti yang tercantum dalam warga negara yang demokratis serta
Pasal 1 Undang-Undang Sistem Pen- bertanggung jawab [1]. Oleh karena itu,
didikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 maka setiap lembaga pendidik seharus-
yang menyatakan bahwa pendidikan nya dapat mengembangkan potensi
nasional berfungsi mengembangkan peserta didik sehingga menjadi pribadi
kemampuan dan membentuk watak yang berakhlak mulia, berilmu, cakap,
serta peradaban bangsa yang ber- kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab
martabat dalam rangka mencerdaskan agar dihasilkan output yang unggul
kehidupan bangsa, bertujuan untuk dalam dunia pendidikan.
berkembangnya potensi peserta didik Pembaharuan untuk mening-
agar menjadi manusia yang beriman katkan kualitas pendidikan dilakukan

© 2017 Program Studi Pendidikan Kimia 54


Jurnal Pendidikan Kimia (JPK) Vol. 6 No. 1 Tahun 2017, Hal. 54-61

pemerintah melalui penataan dalam pem-belajaran kimia. Dimana guru


berbagai komponen pendidikan. Tiga isu menyam-paikan materi kimia dengan
utama yang menjadi fokus dalam ceramah dan tanya jawab. Metode
pembaharuan pendidikan adalah pem- ceramah yang digunakan guru ini
baharuan kurikulum, peningkatan bersifat pemberian informasi kepada
kualitas pembelajaran dan efektivitas siswa, jadi guru menjelaskan materi
metode pembelajaran. Oleh karena itu kepada siswa dan jarang memberikan
pemerintah mengadakan Kurikulum masalah yang bersifat penyelesaian.
2013 yang diterapkan mulai tahun Sedangkan tanya jawab yang
pelajaran 2014/2015 dimana dalam berlangsung di kelas juga cenderung
pengembangannya disesuaikan dengan bersifat pasif, siswa hanya akan
kondisi dari sekolah, guru, siswa dan menjawab pertanyaan yang di
juga sarana prasarana yang ada di kemukakan oleh guru di depan kelas.
sekolah tersebut. Kurikulum adalah Penerapan pembelajaran yang
seperangkat rencana dan pengaturan kurang aktif tersebut berakibat pada
mengenai tujuan, isi, dan bahan prestasi belajar siswa pada materi kimia,
pelajaran serta cara yang digunakan khususya pada materi Sistem Periodik
sebagai pedoman penyelenggaraan Unsur (SPU) pada sub pokok bahasan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai sifat keperiodikan unsur di SMA N 1
tujuan pendidikan tertentu [2]. Teras Boyolali cenderung masih rendah.
Pada dasarnya penerapan Hal ini dibuktikan dengan adanya
Kurikulum 2013 ini ditunjuang oleh prestasi belajar siswa kelas X SMA N 1
kemandirian guru yang dapat mencip- Teras pada tahun 2014/2015 memiliki
takan pembelajaran yang aktif, kreatif, rata-rata dibawah Kriteria Ketuntasan
efektif dan menyenangkan. Dalam hal Minimal (KKM), dengan nilai KKM
ini proses belajar mengajar yang ada di pelajaran kimia adalah 75. Pada tahun
kelas tidak lagi berpusat pada guru tersebut, rata-rata prestasi belajar
(teacher centered) yang menganggap materi Sistem Periodik Unsur (SPU)
siswa hanya sebagai objek pem- siswa hanya mencapai 68,50. Sedang-
belajaran. Pada kurikulum ini menuntut kan untuk jumlah ketuntasan belajarnya
diterapkannya metode yang berpusat dirasa masih kurang, karena siswa kelas
pada siswa (student centered) yang X pada tahun 2014/2015 tersebut hanya
menuntut siswa menjadi subjek dari 42,70% yang dapat mencapai ketuntas-
pembelajaran tersebut. Penerapan an. Banyaknya siswa yang masih
metode yang berpusat pada siswa memiliki nilai rendah tersebut merupa-
(student centered) sangat penting untuk kan suatu indikasi dimana kebanyakan
peningkatan aktivitas siswa saat siswa masih belum dapat memahami
pembelajaran yang berpengaruh pada konsep-konsep pada materi yang telah
tingkat pemahaman siswa, sehingga diberikan.
semakin banyak materi yang dapat Sistem Periodik Unsur (SPU)
dipahami oleh siswa, maka akan adalah salah satu materi yang dipelajari
semakin besar juga ketuntasan siswa siswa kelas X semester gasal dalam
dalam materi tersebut [3]. kurikulum 2013. Salah satu sub pokok
Salah satu sekolah yang bahasan pada materi pokok Sistem
menerapkan Kurikulum 2013 adalah Periodik Unsur (SPU) yaitu sifat-sifat
SMA N 1 Teras Boyolali. Akan tetapi keperiodikan unsur. Sifat keperiodikan
praktik di lapangan masih belum sesuai unsur mempelajari sifat kimia dan fisika
harapan dari yang seharusnya. suatu unsur menurut lajur tegak
Berdasarkan hasil observasi yang telah (golongan) maupun lajur datar (periode)
peneliti lakukan pada tanggal 4-6 berdasarkan kedudukan unsur di dalam
Agustus 2015 dan wawancara pada tabel periodik unsur [4].
tanggal 3 Agustus 2015 di SMA N 1 Menurut wawancara dengan guru
Teras Boyolali, pembelajaran yang mata pelajaran kimia di SMA N 1 Teras
dilakukan di kelas masih didominasi Boyolali, kelas X MIA 1 memiliki nilai
oleh guru (teacher center), khususnya prestasi yang lebih rendah jika diban-

© 2017 Program Studi Pendidikan Kimia 55


Jurnal Pendidikan Kimia (JPK) Vol. 6 No. 1 Tahun 2017, Hal. 54-61

dingkan dengan kelas X MIA yang lain. untuk aktif, salah satu model yang
Hal ini dapat diketahui berdasarkan nilai dianjurkan adalah model pembelajaran
ulangan harian maupun nilai ulangan berbasis proyek [6]. Di dalam penelitian
semester ganjil tahun ajaran 2014/2015 tersebut, dengan diterapkannya
yang menunjukkan bahwa rata-rata nilai pembelajaran berbasis proyek, dapat
siswa kelas X MIA 1 berada dibawah meningkatkan prestasi belajar terutama
kelas X MIA yang lain. Berdasarkan aspek ketrampilan siswa hingga 94%
alasan tersebut, peneliti melakukan dan aktivitas siswa saat pembelajaran
observasi lebih lanjut pada kelas X MIA hingga 74%. Dalam penelitian lain yang
1 di SMA N 1 Teras Boyolali. Setelah serupa juga menyebutkan bahwa project
dilakukannya observasi di kelas X MIA 1, based learning dapat meningkatkan
dapat diidentifikasi perma-salahan yang kualitas proses dan hasil belajar siswa
ada pada kelas tersebut, antara lain [7]. Pembelajaran berbasis proyek ini
pembelajaran pada kelas tersebut masih merupakan model yang dilakukan untuk
berpusat pada guru sehingga melatih para siswa menyeleseikan
menimbulkan kejenuhan pada siswa berbagai masalah yang mereka hadapi
saat kegiatan pembelajaran. Selain itu, secara mandiri ataupun berkelompok.
masih banyak siswa yang prestasi Dalam pembelajaran berbasis
belajarnya belum dapat mencapai KKM proyek, siswa dituntut untuk mem-
dan rendahnya aktivitas siswa pada bangun pemikirannya dan keterampilan
pembelajaran kimia yang ditunjukkan berkomunikasi. Pembelajaran berbasis
dengan masih banyaknya siswa yang proyek adalah metode pembelajaran
mengobrol dengan temannya, kurang yang memberikan kesempatan guru
memperhatikan penjelasan guru, hanya untuk mengelola pembelajaran di kelas
sebagian kecil siswa yang bertanya dan dengan melibatkan kerja proyek [8].
menjawab pertanyaan yang diajukan Langkah-langkah dalam pembelajaran
guru, serta siswa masih mengalami Berbasis Proyek (Project Based
kesulitan dalam memecahkan masalah Learning) terdiri dari 6 tahap, yaitu: start
yang diberikan oleh guru. with essential question, design a plan of
Berdasarkan permasalahan the project, create a schedule, monitor
tersebut, dapat disimpulkan bahwa the student and the progress of the
penyebab rendahnya prestasi belajar project, ases the outcome dan evaluated
siswa dikarenakan metode pembelajar- the experience [9]. Project Based
an yang diterapkan oleh guru dalam Learning dapat membantu siswa dalam
menyampaikan materi. Sehingga belajar kelompok, mengembangkan
diperlukan peran guru untuk memberi- ketrampilan dan proyek yang dikerjakan
kan motivasi serta pengarahan pada mampu memberikan pengalaman
siswa. Kurangnya motivasi siswa akan pribadi pada siswa dan dapat
menye-babkan rendahnya aktivitas menekankan kegiatan belajar yang
pembelajaran di kelas. berpusat pada siswa. Dengan demikian
Karakteristik siswa adalah guru tidak lagi berperan sebagai sumber
keseluruhan kelakuan dan kemampuan belajar melainkan hanya sebagai
yang ada pada siswa sebagai hasil dari fasilitator, artinya guru lebih banyak
pembawaan dan lingkungan sosialnya membantu siswa untuk belajar, guru
sehingga menentukan pola aktivitas juga memonitoring kegiatan siswa
dalam meraih cita-citanya [5]. Oleh dalam proses pembelajaran (student
karena itu, tujuan pendidikan harus centered).
disesuaikan dengan kondisi dan Melalui penerapan metode project
karakter dari siswa itu sendiri. Jika based learning ini, siswa dituntut untuk
tujuan pembelajaran telah ditetapkan dapat meningkatkan aktivitas dalam
dengan jelas, maka proses belajar kegiatan belajar di kelas. Aktivitas ini
mengajar akan berjalan secara efektif. tidak hanya dilihat dari keaktifan siswa
Mengacu pada penelitian dalam bertanya maupun menjawab
terdahulu penerapan model pertanyaan dari guru. Akan tetapi,
pembelajaran yang menuntut siswa aktivitas belajar yang dimaksud disini

© 2017 Program Studi Pendidikan Kimia 56


Jurnal Pendidikan Kimia (JPK) Vol. 6 No. 1 Tahun 2017, Hal. 54-61

adalah keseluruhan kegiatan belajar diberikan, siswa membangun konsep


siswa di dalam kelas yang dapat pengetahuan mereka pada materi sifat
menunjang rangkaian proses kegiatan keperiodikan unsur.
metode project based learning pada Melalui penerapan metode project
materi sistem periodik unsur. Melalui based learning ini, siswa dituntut untuk
pengerjaan proyek, siswa akan menjadi dapat meningkatkan aktivitas dalam
lebih aktif untuk berusaha menye- kegiatan belajar di kelas. Aktivitas ini
lesaikan masalah yang ada dan tidak hanya dilihat dari keaktifan siswa
menuangkan hasilnya kedalam sebuah dalam bertanya maupun menjawab
produk, sehingga hal ini dapat pertanyaan dari guru. Akan tetapi,
meningkatkan pemahaman siswa aktivitas belajar yang dimaksud disini
terhadap materi tersebut. Dengan adalah keseluruhan kegiatan belajar
penggunaan metode project based siswa di dalam kelas yang dapat
learning, siswa dapat bekerja dan menunjang rangkaian proses kegiatan
berpikir sendiri, dengan demikian siswa metode project based learning pada
akan dapat mengingat dan memahami materi sistem periodik unsur.
materi pelajaran dari pada hanya
mendengarkan saja. Peningkatan METODE PENELITIAN
pemahaman siswa terhadap suatu
Penelitian ini merupakan
materi pelajaran akan meningkatkan
penelitian tindakan kelas (Classroom
hasil belajar yang ditunjukkan dengan
Action Research) yang dilaksanakan
nilai prestasi belajar siswa. Berdasarkan
dalam dua siklus dimana pada setiap
hal tersebut, diprediksi bahwa
siklus terdiri dari beberapa tahap yaitu
penerapan metode project based
persiapan, perencanaan, pelaksanaan,
learning akan dapat meningkatkan
observasi, dan refleksi [14]. Subjek
aktivitas dan prestasi belajar siswa SMA
penelitian adalah siswa kelas X MIA 1
N 1 Teras Boyolali pada sub pokok
semester gasal SMA N 1 Teras Boyolali
bahasan sifat keperiodikan unsur.
tahun pelajaran 2015/2016. Obyek
Pembelajaran project based
penelitian ini adalah aktivitas belajar dan
learning memberikan peluang kepada
prestasi belajar siswa.
siswa secara bebas melakukan kegiatan
Data yang dikumpulkan dalam
percobaan, mengkaji literatur, melaku-
penelitian ini meliputi data informasi
kan browsing di internet, dan berkola-
tentang keadaan siswa dilihat dari aspek
borasi dengan guru. Siswa akan belajar
kualitatif dan kuantitatif [15]. Aspek
penuh dengan kesungguhan karena
kualitatif adalah data lapangan tentang
termotivasi oleh keinginan untuk men-
hasil observasi, wawancara, kajian
jawab pertanyaan yang telah diajukan
dokumen atau arsip yang menggam-
sehingga pembelajaran menjadi lebih
barkan proses belajar mengajar di kelas,
efektif dan bermakna [10,11]. Project
kesulitan yang dialami guru ketika
based learning mampu meningkatkan
proses belajar mengajar, dan model
prestasi belajar dan keterampilan siswa
pembelajaran yang digunakan. Aspek
jika dibandingkan dengan metode
kuantitatif berupa data penelitian
ceramah dan diskusi [12].
prestasi siswa dari materi sifat
Pada penelitian ini produk yang
keperiodi-kan unsur meliputi nilai yang
dihasilkan dari proyek yang ditugaskan
diperoleh siswa dari tes kompetensi
berupa maket unsur yang akan
pengetahuan, angket kompetensi sikap,
digunakan sebagai media pembelajaran
dan angket aktivitas belajar siswa
visualisasi keperiodikan sifat unsur.
terhadap pembelajaran baik siklus I
Maket merupakan tiruan visual tiga
maupun siklus II.
dimensi dari objek nyata yang terlalu
Teknik pengumpulan data
besar, terlalu jauh, terlalu kecil, terlalu
dilakukan dengan observasi, wawan-
jarang, dan terlalu ruwet untuk dibawa
cara dan angket. Analisis data dilakukan
ke dalam kelas dan dipelajari siswa
dalam tiga tahap yaitu reduksi data,
dalam wujud aslinya [13]. Dengan
penyajian data dan penarikan kesimpul-
membuat produk dari proyek yang

© 2017 Program Studi Pendidikan Kimia 57


Jurnal Pendidikan Kimia (JPK) Vol. 6 No. 1 Tahun 2017, Hal. 54-61

an [16]. Instrumen diujicobakan terlebih sangat aktif sebanyak 30,30% atau10


dahulu yang dilaksanakan di kelas yang siswa, siswa kategori aktif sebanyak
tidak digunakan penelitian dan divalidasi 60,61% atau 20 siswa, siswa kategori
isi oleh dua panelis. kurang aktif sebanyak 6,06% atau 2
siswa dan 1 anak (3,03%) yang
HASIL DAN PEMBAHASAN tergolong pasif.
Untuk penilaian kompetensi
Berdasarkan hasil wawancara dan
pengetahuan berupa tes yang terdiri dari
observasi, terdapat permasalahan-
20 soal pilihan ganda dengan 3 indikator
permasalahan yang dapat disimpulkan
pencapaian. Instrumen penilaian
bahwa di kelas X MIA 1 mempunyai
kompetensi pengetahuan siklus I. Hasil
permasalahan yaitu pada prestasi dan
tes kompetensi pengetahuan dapat
aktivitas belajar rendah. Oleh karena itu,
diketahui bahwa siswa yang mencapai
perlu adanya upaya untuk mengatasi
ketuntasan ada 18 dari 34 siswa atau
permasalah tersebut dengan mene-
sebesar 52,94%. Persentase ini
rapkan metode yang sesuai.
menunjukkan bahwa hasil belum
Adapun metode yang digunakan
mencapai target yang ditentukan yaitu
yaitu Project Based Learning (PjBL).
70%. Hasil ketercapaian ketuntasan
Metode pembelajaran proyek sesuai
prestasi dan aktivitas belajar siswa
dengan permasalahan yang diidenti-
siklus I dapat dilihat pada Tabel 1 di
fikasi yang melibatkan aktivitas siswa
bawah ini.
dalam proses pembelajaran serta
mempermudah siswa dalam memahami
Tabel 1. Ketercapaian Siklus I
materi pelajaran, karena siswa diharap-
kan dapat menyelesaikan suatu proyek Capian (%)
Aspek Kriteria
membuat model maket sifat periodik Target Hasil
unsur yang mencakup semua indikator Aktivitas Belum
kompetensi pada materi sifat keperiodi- 70 69,22
Belajar Tercapai
kan unsur.
Belum
Siklus I Pengetahuan 70 52,94
Tercapai
Tahap perencanaan siklus I Sikap 70 81,67 Tercapai
meliputi penyusunan Rencana Pelak-
Keterampilan 70 82,35 Tercapai
sanaan Pembelajaran (RPP) yang
didasarkan pada silabus pelajaran kimia
kurikulum 2013, penyusunan penilaian Berdasarkan pelaksanaan Siklus I
aktivitas belajar siswa, penyusunan masih terdapat beberapa kekurangan
penilaian aspek pengetahuan, dalam proses pelaksanaannya. Dalam
penyusunan penilaian aspek sikap dan tahap pembentukan kelompok ini, ada
penyusunan penilaian aspek beberapa siswa yang terlihat malas-
keterampilan. malasan, pasif, dan tidak mau mengikuti
Pelaksanaan tindakan siklus I instruksi guru. Pada saat presentasi
dilaksanakan 3 kali pertemuan dengan pertemuan pertama, mula-mula siswa
rangkaian kegiatan pembelajaran yang cenderung tidak berani maju ke depan
tercantum dalam Rencana Pelaksanaan mempresentasikan hasil diskusi, namun
Pembelajaran kemudian diterapkan di setelah melihat respon audience yang
kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Teras antusias mendengarkan presentasi hasil
Boyolali tahun pelajaran 2015/2016. perencanaan proyek kelompok lain,
Pembelajaran yang digunakan sesuai akhirnya siswa lebih percaya diri untuk
dengan sintaks Project Based Learning mempresentasikan hasil diskusinya di
(PjBL). Pelaksanaan tindakan siklus I depan kelas.
dimulai tanggal 3 September 2015
sampai 17 September 2015. Siklus II
Hasil penilaian aktivitas belajar Peneliti bersama guru
diketahui bahwa siswa dengan kategori mendiskusikan rancangan pelaksanaan

© 2017 Program Studi Pendidikan Kimia 58


Jurnal Pendidikan Kimia (JPK) Vol. 6 No. 1 Tahun 2017, Hal. 54-61

tindakan yang dilakukan dalam Berdasarkan hasil analisis


penelitian siklus II. Pada proses penilaian siklus II, dapat disimpulkan
pembelajaran siklus II, penyampaian bahwa penerapan metode Project
materi difokuskan pada indikator Based Learning (PjBL) pada materi sifat
kompetensi yang belum mencapai target keperiodikan unsur telah berhasil yang
70%. ditunjukkan penilaian aspek aktivitas
Pelaksanaan tindakan pada siklus belajar dan aspek prestasi belajar yang
II untuk menyempurnakan dan terdiri dari kompetensi pengetahuan dan
memperbaiki tindakan pada siklus I, keterampilan tersebut telah memenuhi
yakni dengan mengubah kelompok target ketuntasan sehingga pem-
diskusi sesuai dengan hasil tes belajaran dapat diakhiri pada siklus II.
pengetahuan siklus I secara heterogen
sehingga penyebaran siswa dengan Perbandingan Antar Siklus
kemampuan akademik lebih tinggi dapat
Secara umum pembelajaran pada
tersebar merata. Maket yang dibuat
siklus II mempunyai hasil yang lebih
setiap kelompok telah dibenarkan oleh
baik dibandingkan dengan siklus II.
guru digunakan sebagai acuan konsep
Perbandingan hasil tindakan antarsiklus
dan media pembelajaran pada proses
ditunjukkan pada Tabel 3 dan Gambar 1
pembelajaran siklus II. Ketiga, guru
berikut ini.
mendorong siswa agar aktif dalam
mengerjakan proyek dan diskusi dalam
Tabel 3. Perbandingan Capaian antar
kelompok untuk kerjasama saling
Siklus
membantu jika mengalami kesulitan.
Keempat, guru menegaskan agar siswa Capaian (%)
Aspek Ket.
lebih aktif dalam mengikuti proses Siklus I Siklus II
pembelajaran dan setiap siswa harus Aktivitas
69,22 75,76 Meningkat
mempunyai catatan hasil diskusi secara Belajar
lengkap. Pengetahuan 52,94 73,53 Meningkat
Hasil penilaian aktivitas belajar Sikap 81,67 - -
diketahui bahwa siswa dengan kategori Keterampilan 82,35 97,06 Meningkat
sangat aktif sebanyak 54,55% atau 18
siswa, siswa kategori aktif sebanyak
42,42% atau 14 siswa, siswa kategori
kurang aktif sebanyak 3,03% atau 1 100
siswa. Hasil tes kompetensi 80
Capaian (%)

pengetahuan dapat diketahui bahwa 60


siswa yang mencapai ketuntasan ada 40
25 dari 34 siswa atau sebesar 73,53%. 20
Persentase ini menunjukkan bahwa 0
hasil telah mencapai target yang A B C D
ditentukan yaitu 70%. Hasil Aspek
ketercapaian ketuntasan prestasi dan Siklus I
aktivitas belajar siswa siklus II dapat
dilihat pada Tabel 2 di bawah ini. Gambar 1. Perbandingan Ketercapaian
antar Siklus
Tabel 2. Ketercapaian Siklus II
Keterangan:
Capaian (%) A = Aktivitas Belajar Siswa
Aspek Kriteria
Target Hasil B = Pengetahuan
Aktivitas C = Sikap
70 75,76 Tercapai
Belajar D = Keterampilan
Pengetahuan 70 73,53 Tercapai
Setelah dilaksanakan Pembelajar-
Keterampilan 70 97,06 Tercapai an Berbasis Proyek (PjBL) di kelas X
MIA 1 SMA Negeri 1 Teras Boyolali,

© 2017 Program Studi Pendidikan Kimia 59


Jurnal Pendidikan Kimia (JPK) Vol. 6 No. 1 Tahun 2017, Hal. 54-61

hasil belajar dan aktivitas belajar siswa DAFTAR RUJUKAN


mengalami peningkatan jika dibanding-
[1] Mulyasana, D. (2012). Pendidikan
kan dengan sebelum penerapan model
Bermutu dan Berdaya Saing.
Pembelajaran Berbasis Proyek. Dalam
Bandung: PT. Remaja Rosdakrya.
penelitian tindakan kelas, penelitian
dikatakan berhasil jika aspek yang
[2] Undang-undang Republik
diukur mencapai target yang telah
Indonesia No. 20 Tahun 2003
ditentukan. Pada penelitian ini dapat
tentang Sistem Pendidikan
dinyatakan berhasil, karena telah
Nasional. Jakarta: Departemen
mencapai target dalam siklus I dan
Pendidikan Nasional Republik
siklus II.
Indonesia
Hasil penelitian ini relevan dengan
penelitian mengenai efek project based [3] Hasanah, U. (2015). Jurnal
learning yang menyatakan bahwa Pendidikan Kimia, 4 (1): 68-73.
pembelajaran berbasis proyek dapat
meningkatkan prestasi dan aktivitas [4] Sudarmo, U. (2013). Kimia untuk
belajar siswa [17]. Hasil penelitian lain SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga.
juga menyatakan bahwa penerapan
pembelajaran project based learning [5] Sardiman A. M. (2007). Interaksi
dapat meningkatkan aktivitas dan dan Motivasi Belajar-Mengajar.
prestasi siswa pada materi redoks [18]. Jakarta: Rajawali Press.

KESIMPULAN [6] Addiin, I. (2014). Jurnal


Pendidikan Kimia, 3 (4): 7-16.
Berdasarkan penelitian yang
pernah dilakukan, dapat disimpulkan [7] Pradita, Y. (2015). Jurnal
bahwa Penerapan pembelajaran Project Pendidikan Kimia, 4 (1): 89-96.
Based Learning (PjBL) dapat
meningkatkan aktivitas dan prestasi [8] Wena, M. (2013). Strategi
belajar siswa kelas X MIA 1 SMA Negeri Pembelajaran Inovatif
1 Teras Boyolali tahun pelajaran Kontemporer. Jakarta: Bumi
2015/2016 pada materi sistem periodik Aksara.
unsur subpokok bahasan sifat
keperiodikan unsur. [9] Lucas, G. (2005). Instructional
Module Project Based Learning.
UCAPAN TERIMA KASIH http://www.edutopia.org/modules/
Penelitian ini dapat selesai dengan PBL/whatpbl.php. Diakses tanggal
baik karena bantuan dari berbagai pihak. 26 Juli 2015.
Oleh karena itu, penulis mengucapkan
terima kasih kepada Bapak Drs. [10] Yalcin, A. S., Turgut, U., &
Wakimun selaku kepala SMA Negeri 1 Buyukkasap, E. (2009).
Teras Boyolali yang telah mengijinkan International Online Journal of
peneliti melakukan penelitian di SMA Educational Sciences, 1 (1): 81-
Negeri 1 Teras Boyolali dan kepada Ibu 105.
Esti Putriyanti, S.Pd. selaku guru kimia
SMA Negeri 1 Teras Boyolali yang telah [11] Muderawan, I. W., Sastrika, I. A.
berkenan mengijinkan peneliti K., & Sadia, I. W. (2013). Jurnal
melaksanakan penelitian di kelas yang Program Pascasarjana Universitas
beliau ampu dan berkolaborasi dengan Pendidikan Ganesha Program
peneliti demi terseleseikannya penelitian. Studi IPA, 3 (5): 1-12.

[12] Johnson, Cynthia, S., & Delawsky,


S. (2013). Academic Research
International, 4 (4): 560-570.

© 2017 Program Studi Pendidikan Kimia 60


Jurnal Pendidikan Kimia (JPK) Vol. 6 No. 1 Tahun 2017, Hal. 54-61

[13] Sudjana, N. & Ahmad, R. (2010).


Media Pengajaran. Bandung:
Sinar Baru Algensindo.

[14] Arikunto, S., Suhardjono, &


Supardi. (2006). Penilaian
Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi
antariksa

[15] Riduwan. (2012). Belajar Mudah


Penelitian. Bandung: Alfabeta.

[16] Sugiyono. (2010). Metode


Penelitian Pendidikan. Bandung:
Alfabeta.

[17] Bagheri, M., Wan Z. W. A., Maria


C. B. A., & Shaffe M. D. (2013).
Contemporary Educational
Technology, 4 (1) : 15-29.

[18] Rejeki, R. D. (2015). Jurnal


Pendidikan Kimia, 4 (1): 74-81.

© 2017 Program Studi Pendidikan Kimia 61