Sie sind auf Seite 1von 21

LAPORAN PENDAHULUAN, ASUHAN KEPERAWATAN SERTA

RESUME PADA SDRA.R DENGAN DIAGNOSA FRAKTUR PATELLA


DEXTRA DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT
RSUD PRAMBANAN YOGYAKARTA

MARIA MERDIANA, S.Kep


17400024

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN GUNA BANGSA
YOGYAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Fraktur patella merupakan penyakit yang jarang ditemui dan bahkan satu-

satunya yang ditemui dibangsal/ruangan. Tulang patella merupakan tulang

sesamoid terbesar dalam tubuh manusia dan mempunyai fungsi mekanis dalam

ekstensi anggota gerak bawah. Untuk mengatasi masalah ini diperlikan strategi-

strategi khusus dan ahli bedah kusus dalam melakukan pembedahan.

Asuhan keperawatan Fraktur Patella diangkat karna Fraktur. Patella merupakan

satu-satunya kasus yang dianggap lebih bertentangan dibandingkan dengan

kasus-kasus lainnya.

Untuk membahas lebih lanjut, berikut akan dipaparkan materi mengenai

Fraktur Patella.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas penulis merumusakan masalah sebagai

berikut:

1. Apa pengertian dari fraktur patella ?

2. Bagaimana Anatomi fisiologi tulang ?

3. Apa saja etiologi fraktur patella ?

4. Apa saja klasifisikasi fraktur ?

5. Bagaimana patofisiologi fraktur ?

6. Apa saja manifestasi klinis fraktur ?


7. Pemeriksaan apa saja yang dilakukan ?

8. Komplikasi apa saja yang timbul akibat fraktur patella ?

9. Bagaimana penatalaksanaan fraktur patella ?

10. Bagaimana proses penyembuhan tulang pada fraktur patella ?


BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Fraktur didefinisikan sebagai deformitas linear atau terjadinya diskontinuitas
tulang yang disebabkan oleh rudapaksa. Fraktur dapat terjadi akibat trauma atau
karena proses patologis. Fraktur akibat trauma dapat terjadi akibat perkelahian,
kecelakaan lalulintas, kecelakaan kerja, luka tembak, jatuh ataupun trauma saat
pencabutan gigi. Fraktur patologis dapat terjadi karena kekuatan tulang
berkurang akibat adanya kista, tumor jinak atau ganas rahang, osteogenesis
imperfecta, osteomyelitis, osteomalacia, atrofi tulang secara menyeluruh atau
osteoporosis nekrosis atau metabolic bone disease. Akibat adanya proses
patologis tersebut, fraktur dapat terjadi secara spontan seperti waktu bicara,
makan atau mengunyah.
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya. (Brunner and Suddarth, 2001).
Fraktur adalah putusnya kontinuitas sebuah tulang yang ditandai oleh rasa
nyeri, pembengkakan, deformitas, gangguan fungsi, pemendekan dan krepitasi.
(Brooker, 2001)
Sedangkan menurut anatominya, patella adalah tempurung lutut. Dari
pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa fraktur patella merupakan suatu
gangguan integritas tulang yang ditandai dengan rusaknya atau terputusnya
kontinuitas jaringan tulang dikarenakan tekanan yang berlebihan yang terjadi
pada tempurung lutut.
B. Anatomi Fisiologi

Sendi lutut merupakan sendi yang terbesar pada tubuh manusia. Sendi ini
terletak pada kaki yaitu antara tungkai atas dan tungkai bawah. Pada dasarnya sendi
lutut ini terdiri dari dua articulation condylaris diantara condylus femoris medialis,
lateralis dan condylus tibiae yang terkait dalam sebuah sendi pelana , diantara patella
dan fascies patellaris femoris. Sendi lutut dibentuk dari tiga buah tulang yaitu tulang
femur, tulang tibia, tulang fibula dan tulang patella. Yang akan kita bahas pada kasus ini,
yaitu tentang tulang Patella.
Tulang patella merupakan tulang sesamoid terbesar dalam tubuh manusia dan
mempunyai fungsi mekanis dalam ekstensi anggota gerak bawah dengan bentuk
segitiga dan gepeng dengan aspex menghadap kearah distal. Pada permukaan depan
atau anterior tulang patella kasar sedangkan permukaan dalam atau dorsal memiliki
permukaan sendi yang lebih besar dan facies medial yang lebih kecil.
Fraktur patela
Disebelah proksimal melekat otot kuadriseps dan di bagian distal melekat
ligament patella.
Mekanisme trauma yang terjadi pada Patella:
A. Kontraksi yang hebat otot kuadriseps, misalnya menekuk secara keras dan
tiba-tiba
B. Jatuh dan mengenai langsung tulang patella.
C. Etiologi
Menurut Smeltzer dan Bare (2001), fraktur terjadi jika tulang dikenai stress
yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan oleh
pukulan langsung, gaya remuk, gerakan puntir mendadak, dan bahkan kontraksi
otot ekstrem. Meskipun tulang patah, jaringan sekitarnya juga akan berpengaruh
mengakibatkan edema jaringan lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi
sendi, rupture tendon, kerusakan saraf, dan kerusakan pembuluh darah.
Menurut Corwin (2009), penyebab fraktur tulang paling sering adalah trauma,
terutama pada anak-anak dan dewasa muda. Beberapa fraktur dapat terjadi
setelah trauma minimal atau tekanan ringan apabila tulang lemah (fraktur
patologis) fraktur patologis sering terjadi pada lansia yang mengalami
osteoporosis, atau individu yang mengalmai tumor tulang, infeksi, atau penyakit
lain. Fraktur stress atau fraktur keletihan dapat terjadi pada tulang normal akibat
stress tingkat rendah yang berkepanjangan atau berulang, biasanya menyertai
peningkatan yang cepat tingkat latihan atlet atau permulaan aktivitas fisik yang
baru (Corwin, 2009).
Patah tulang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan
sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak di sekitar tulang
yang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak
lengkap. Penyebab terjadinya fraktur adalah trauma, stres kronis dan berulang
maupun pelunakan tulang yang abnormal.
Sebagian besar patah tulang merupakan akibat dari cedera, seperti kecelakan
mobil, olah raga atau karena jatuh. Patah tulang terjadi jika tenaga yang
melawan tulang lebih besar daripada kekuatan tulang. Jenis dan beratnya patah
tulang dipengaruhi oleh:
1. Arah, kecepatan dan kekuatan dari tenaga yang melawan tulang.

2. Usia penderita.

3. Kelenturan tulang.
4. Jenis tulang.

Lewis (2000) berpendapat bahwa tulang bersifat relatif rapuh namun

mempunyai cukup kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan. Fraktur

dapat diakibatkan oleh beberapa hal yaitu:

a. Fraktur akibat peristiwa trauma

Sebagian Fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang

dapat berupa pemukulan, penghancuran, perubahan pemuntiran atau

penarikan. Bila tekanan kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat

yang terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut rusak. Pemukulan

biasanya menyebabkan Fraktur lunak juga pasti akan ikut rusak. Pemukulan

biasanya menyebabkan Fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya.

Penghancuran kemungkinan akan menyebabkan Fraktur komunitif disertai

kerusakan jaringan lunak yang luas.

b. Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan

Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain

akibat tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering dikemukakan pada

tibia, fibula atau matatarsal terutama pada atlet, penari atau calon tentara yang

berjalan baris-berbaris dalam jarak jauh.

c. Fraktur petologik karena kelemahan pada tulang

Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang tersebut lunak

(misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh.


D. Klasifikasi
Berikut ini terdapat beberapa klasifikasi Fraktur sebagaimana yang dikemukakan
oleh para ahli:
1. Menurut Depkes RI (1995), berdasarkan luas dan garis Fraktur meliputi:

a. Fraktur komplit

Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang luas sehingga tulang

terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya menyeberang dari satu sisi

ke sisi lain serta mengenai seluruh kerteks.

b. Fraktur inkomplit

Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan garis patah tidak

menyeberang, sehingga tidak mengenai korteks (masih ada korteks yang

utuh).

2. Menurut Black dan Matassarin (1993) yaitu Fraktur berdasarkan hubungan

dengan dunia luar, meliputi:

a. Fraktur tertutup yaitu Fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih utuh,

tulang tidak menonjol melalui kulit.

b. Fraktur terbuka yaitu Fraktur yang merusak jaringan kulit, karena adanya

hubungan dengan lingkungan luar, maka Fraktur terbuka potensial terjadi

infeksi. Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 grade yaitu:

1) Grade I : Robekan kulit dengan kerusakan kulit otot

2) Grade II : Seperti grade I dengan memar kulit dan otot


3) Grade III : Luka sebesar 6-8 cm dengan kerusakan pembuluh darah,

syaraf otot dan kulit.

3. Long (1996) membagi Fraktur berdasarkan garis patah tulang, yaitu:

a. Green Stick yaitu pada sebelah sisi dari tulang, sering terjadi pada anak-

anak dengan tulang lembek

b. Transverse yaitu patah melintang

c. Longitudinal yaitu patah memanjang

d. Oblique yaitu garis patah miring

e. Spiral yaitu patah melingkar

4. Black dan Matassarin (1993) mengklasifikasi lagi Fraktur berdasarkan

kedudukan Frakturagmen yaitu:

a. Tidak ada dislokasi

b. Adanya dislokasi, yang dibedakan menjadi:

1) Disklokasi at axim yaitu membentuk sudut

2) Dislokasi at lotus yaitu Frakturagmen tulang menjauh

3) Dislokasi at longitudinal yaitu berjauhan memanjang

4) Dislokasi at lotuscum controltinicum yaitu Frakturagmen tulang

berjauhan dan memendek.

E. PATOFISIOLOGI

Fraktur disebabkan oleh adanya trauma (langsung dan tidak langsung), stress

fatique (kelelahan akibat tekanan berulang) dan pathologis. Karena adanya

tekanan atau daya yang mengenai tulang maka akan mengakibatkan terjadinya
fraktur dan perdarahan biasanya terjadi disekitar tempat patahan dan kedalam

jaringan lunak disekitar tulang tersebut. Bila terjadi hematoma maka pembuluh

darah vena akan mengalami pelebaran sehingga terjadi penumpukan cairan dan

kehilangan leukosit yang berakibat terjadinya perpindahan, menimbulkan

implamasi atau peradangan yang menyebabkan bengkak dan akhirnya terjadi

nyeri. Selain itu karena kerusakan pembuluh darah kecil atau besar pada waktu

terjadi fraktur menyebabkan tekanan darah menjadi turun, begitupula dengan

suplai darah ke otak sehingga kesadaran pun menurun yang mengakibatkan syok

hipovolemi. Bila mengenai jaringan lunak maka akan terjadi luka dan kuman

akan mudah untuk masuk sehingga mudah terinfeksi dan lama kelamaan akan

berakibat delayed union dan mal union dan yang tidak terinfeksi mengakibatkan

non union. Apabila fraktur mengenai peristeum atau jaringan tulang dan korteks

maka akan mengkibatkan deformitas, krepitasi dan pemendekan ekstremitas.

Berdasarkan proses diatas tanda dan gejalanya yaitu nyeri/tenderness,

deformitas/perubahan bentuk, bengkak, peningkatan suhu tubuh/demam,

krepitasi, kehilangan fungsi dan apabila hal ini tidak teratasi, maka akan

menimbulkan komplikasi yaitu komplikasi umum misalnya : syok, sindrom

remuk dan emboli lemak. Komplikasi dini misalnya : cedera syaraf, cedara arteri,

cedera organ vital, cedera kulit dan jaringan lunak, sedangkan komplikasi lanjut

misalnya : delayed union, mal union, non union, kontraktur sendi dan miossitis

ossifycans, avaseural necrosis dan osteo arthritis.


F. Manifestasi Klinik
Adanya fraktur dapat ditandai dengan adanya:
1. Pembengkakan.

2. Perubahan bentuk, dapat terjadi angulasi (terbentuk sudut), rotasi (terputar),

atau pemendekan.

3. Terdapat rasa nyeri yang sangat pada daerah fraktur.

Menurut Smeltzer dan Bare (2001), manifestasi klinis fraktur antara lain:

1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang

diimobilisasi.

2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung

bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti

normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai

menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas yang bias

diketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal.

3. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya kerena

kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur.

4. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang

dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan

yang lainnya.

5. Pembengkakan dan perubahan warna local pada kulit terjadi sebagai akibat

trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.


G. Tes Diagnostik
1. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi

Adanya deformitas, seperti bengkak, pemendekan, rotasi, angulasi,

fragmen tulang (pada fraktur terbuka)

b. Palpasi

Adanya nyeri tekan (tenderness), krepitasi. Palpasi pada daerah distal

terjadinya fraktur meliputi pulsasi arteri, warna kulit, capillary refill test

c. Gerakan

Adanya keterbatasan gerak pada daerah fraktur

2. Pemeriksaan penunjang

a. Pemeriksaan radiologis

Dilakukan pada daerah yang dicurigai fraktur, harus mengikuti aturan role

of two yang terdiri dari:

1) Mencakup dua gambaran yaitu anteroposterior dan lateral

2) Memuat dua sendi antara fraktur, yaitu bagian proksimal dan distal

3) Memuat dua ekstremitas (terutama pada anak-anak) baik yang cedera

maupun tidak (untuk membandingkan dengan yang normal)

4) Dilakukan 2 kali, yaitu sebelum dan sesudah tindakan

b. Pemeriksaan laboratorium

1) Hb dan Ht mungkin rendah akibat perdarahan

2) LED meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas


3) Ca dan P dalam darah meningkat pada masa penyembuhan

c. Pemeriksaan arteriografi

Dilakukan jika dicurigai telah terjadi kerusakan vaskular akibat fraktur

d. Foto Rontgen

Untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara langsung

mengetahui tempat dan type fraktur. Biasanya diambil sebelum dan

sesudah dilakukan operasi dan selama proses penyembuhan secara

periodic.

H. Komplikasi
1. Komplikasi Awal
a. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi,
CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin
pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting,
perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
b. Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena
terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut.
Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf,
dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan
embebatan yang terlalu kuat.
c. Fat Embolism Syndrom

Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering

terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak

yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan


menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan

gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea, demam.

d. Infeksi

System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada

trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke

dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga

karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.

e. Avaskuler Nekrosis

Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak

atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali

dengan adanya Volkman’s Ischemia.

f. Shock

Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya

permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini

biasanya terjadi pada fraktur.

2. Komplikasi Dalam Waktu Lama

a. Delayed Union

Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan

waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena

penurunan supai darah ke tulang.

b. Nonunion

Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan


memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan.

Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi

fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga

disebabkan karena aliran darah yang kurang.

c. Malunion

Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya

tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan

dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik.

I. Penatalaksanaan
Terdapat beberapa tujuan penatalaksanaan Fraktur menurut Henderson
(1997), yaitu mengembalikan atau memperbaiki bagian-bagian yang patah ke
dalam bentuk semula (anatomis), imobiusasi untuk mempertahankan bentuk dan
memperbaiki fungsi bagian tulang yang rusak. Jenis-jenis Fraktur reduction
yaitu:
1. Manipulasi atau close red

Adalah tindakan non bedah untuk mengembalikan posisi, panjang dan bentuk.

Close reduksi dilakukan dengan local anesthesia ataupun umum.

2. Open reduksi

Adalah perbaikan bentuk tulang dengan tindakan pembedahan sering

dilakukan dengan internal fixasi menggunakan kawat, screlus, pins, plate,

intermedullary rods atau nail. Kelemahan tindakan ini adalah kemungkinan

infeksi dan komplikasi berhubungan dengan anesthesia. Jika dilakukan open


reduksi internal fixasi pada tulang (termasuk sendi) maka akan ada indikasi

untuk melakukan ROM.

3. Traksi

Alat traksi diberikan dengan kekuatan tarikan pada anggota yang Fraktur

untuk meluruskan bentuk tulang. Ada 3 macam yaitu:

a. Skin traksi

Skin traksi adalah menarik bagian tulang yang Fraktur dengan

menempelkan plester langsung pada kulit untuk mempertahankan bentuk,

membantu menimbulkan spasme otot pada bagian yang cedera, dan

biasanya digunakan untuk jangka pendek (48-72 jam).

b. Skeletal traksi

Adalah traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang yang cedera dan

sendi panjang untuk mempertahankan traksi, memutuskan pins (kawat) ke

dalam tulang.

c. Maintenance traksi

Merupakan lanjutan dari traksi, kekuatan lanjutan dapat diberikan secara

langsung pada tulang dengan kawat

J. Proses Penyembuhan Tulang

Proses penyembuhan tulang terdiri dari 5 tahap yang meliputi:

1. Fase inflamasi

Fase inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya

pembengkakan dan nyeri. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cidera dan
pembentukan hematoma di tempat terjadinya fraktur. Ujung fragmen tulang

mengalami devitalisasi karena terputusnya suplai darah. Tempat cidera

kemudian akan diinvasi oleh magrofag yang akan membersihkan daerah

tersebut. Terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri.

2. Fase proliferasi sel

Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro

kartilago yang berasal dari periosteum,`endosteum, dan bone marrow yang

telah mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk

ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan

terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru

yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung

selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya.

3. Fase pembentukan kallus

Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik,

bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan

juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan

osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati.

Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago, membentuk

kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang

yang imatur (anyaman tulang) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada

tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.


4. Fase konsolidasi

Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah

menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan

osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat

dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen

dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu

beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal.

5. Fase remodelling

Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama

beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses

resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih

tebal diletakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak

dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk

struktur yang mirip dengan normalnya.

K. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan menurut Doengoes, (2000) ditemukan diagnosa
keperawatan sebagai berikut :
1. Risiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan integritas
tulang (fraktur).
2. Nyeri (akut) berhubungan dengan spasme otot gerakan fragmen tulang, edema
dan cedera pada jaringan lunak, alat traksi/imobilisasi, stress, ansietas
3. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan
penurunan/interupsi aliran darah : cedera vaskuler langsung, edema
berlebihan, pembentukan thrombus, hipovolemia.
4. Risiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan
pertukaran aliran : darah/emboli lemak, perubahan membran alveolar/kapiler
intestisial, edema paru, kongesti.
5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka
neuromuskuler : nyeri/ketidaknyamanan : terapi restriktif (imobilisasi
tungkai).
K. PERENCANAAN
1. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan integritas
tulang (fraktur).
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperaatan diharapkan trauma tidak terjadi
Kriteria evaluasi :
a. Mempertahankan stabilitas dan posisi fraktur
b. Menunjukan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilitas pada sisi
fraktur.
c. Menunjukan pembentukan kallus/mulai penyatuan fraktur yang tepat.
Intervensi :
a. Pertahankan tirah baring atau ekstremitas sesuai indikasi, berikan
sokongan sendi di atas dan di bawah fraktur bila bergerak.
b. Letakkan papan di bawah tempat tidur, pertahankan posisi netral pada
bagian yang sakit dengan bantal pasir, gulungan trochanter, papan kaki.
c. Kaji integritas alat fiksasi eksternal.
d. Kaji tulang foto atau evaluasi.
2. Nyeri (akut) berhubungan dengan spasme otot gerakan ragmen tulang, edema
dan cedera pada jaringan lunak, alat traksi/imobilisasi, stress, ansietas.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang/hilang
Kriteria evaluasi :
a. Menyatakan nyeri hilang
b. Menunjukan sikap santai
c. Menunjukan keterampilan penggunaan relaksasi dan aktifitas terapeutik
sesuai indikasi untuk situasi individu.
Intervensi :
a. Kaji tingkat nyeri, lokasi nyeri, kedalaman, karakteristik serta intensitas
b. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips,
pemberat, traksi
c. Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena.
d. Berikan alternatif tindakan kenyamanan misalnya : pijatan dan perubahan
posisi.
e. Ajarkan menggunakan teknik manajemen stress misalnya : relaksasi
progresif, latihan nafas dalam.
f. Kolaborasi, berikan analgetik sesuai program.
3. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka
neuromuskuler : nyeri / ketidaknyamanan : terapi restriktif (imobilisasi
tungkai)
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan mobilitas fisik
terpenuhi.
Kriteria evaluasi :
a. Meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang
mungkin.
b. Mempertahankan posisi fungsional.
c. Meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian
tubuh.
d. Menunjukan teknik yang memampukan melakukan aktivitas.
Intervensi :
a. Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan oleh cidera atau pengobatan dan
perhatikan persepsi klien tehadap imobilisasi.
b. Instruksikan dan Bantu dalam gerak aktif atau pasif pada ekstremitas yang
sakit dan tidak sakit.
c. Bantu dan dorong perawatan diri dan Bantu imobilitas dengan kursi roda
dan tongkat.
d. Observasi TTV.
e. Konsul dengan ahli terapi atau okupasi dan spesifikasi rehabilitasi.