Sie sind auf Seite 1von 36

REFERAT

FRAKTUR

Disusun Oleh :

Tiara Naviera Putri Sivila (030.14.193)

Pembimbing :

dr. Inez Noviani I, Sp.Rad

dr. Ratna Gina, Sp.Rad

KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARAWANG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

PERIODE 26 MARET – 27 APRIL 2018


BAB I

PENDAHULUAN

Tulang merupakan salah satu anggota tubuh yang sangat penting bagi manusia,
sehingga kerusakan pada tulang sangat berpengaruh pada keadaan tubuh yang dimana
fungsi dari tulang sendiri adalah sebagai kerangka, penopang tubu dan tempat
melekatnya otot sehingga tubuh dapat bergerak maksimal. Salah satu jenis
kecacatan/kerusakan pada tulang yang kerap dijumpai adalah fraktur. Fraktur
merupakan suatu patahan pada kontinuitas struktur jaringan tulang atau tulang rawan
yang umumnya disebabkan trauma, baik trauma langsung ataupun tidak langsung.
Kekuatan, sudut, tenaga, keadaan tulang dan jaringan lunak yang ada disekitar tulang
akan menentukan apakah fraktur yang terjadi disebut lengkap atau tidak lengkap.
Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan fraktur tidak lengkap
tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang.(1,2)

Berdasarkan RISKESDAS tahun 2013, disebutkan dari 84.774 orang kasus


cedera 5,8% mengalami patah tulang (fraktur).(3) Penyebab terbanyak fraktur adalah
insiden kecelakaan, tetapi terdapat faktor lain seperti proses degeneratif dan
osteoporosis yang juga dapat berpengaruh terhadap terjadinya fraktur.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Trauma yang menyebabkan
patah tulang dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung.(4)

II.2 Anatomi Tulang


Tulang kerangka manusia terdiri dari susunan berbagai macam tulang-tulang yang
banyakanya kira-kira 214 buah tulang yang satu sama lainnya saling berhubungan yang
terbagi menjadi 2 bagian, yaitu aksial skeletal dan apendikular skeletal. Aksial skeletal
terdiri dari 80 tulang yaitu, tulang tengkorak, tulang telinga tengah, tulang hyoid
tenggorokkan, tulang rusuk, dan tulang belakang. Apendikular skeletat terdiri dari 134
tulang yang terlibat dalam pergerakan dari aksial seperti tungkai atas, tungkai bawah,
panggul, tulang selangka, dan tulang belikat.(5)
Bagian-bagian yang sering terdapat pada tulang;(5)
a. Foramen, suatu lubang tempat pembuluh darah, saraf, dan ligamentum
(misalnya pada tulang kepala belakang yang disebut foramen occipital)
b. Fosa, suatu lekukan dalam atau pada permukaan tulang (misalnya pada scapula
yang disebut fosa supraskapula)
c. Prosesus, suatu tonjolan atau taju (misalnya pada ruas tulang belakang yang
disebut prosesus spinosus)
d. Kondilus taju yang bentuknya bundar merupakan sebuah tonjolan
e. Tuberkulum, tonjolan kecil yang dibentuk tulang
f. Tuberositas, tonjolan besar yang dibentuk tulang
g. Trochanter, tonjolan besar, pada umumnya tonjolan ini pada tulang paha
h. Krista pinggir atau tepi tulang (misalnya pada tulang ilium yang disebut krista
iliaka)
i. Spina, tonjolan tulang yang bentuknya agak runcik (misalnya pada tulan ilium
yang disebut spina iliaka)
j. Caput (kepala tulang), bagian ujung yang bentuknya bundar (misalnya pada
tulang paha yang disebut caput femoris)

3
Gambar Anatomi Tulang

Berdasarkan bentuknya tulang dapat dibagi menjadi tulang panjang (humerus,


tibia, ulna), tulang pendek (karpal dan tarsal), tulang pipih (tulang cranial seperti
frontal, parietal, occipital temporal), dan tulang tidak beraturan (vertebra, sacrum,
maxilla, mandibular).

4
II.3 Fisiologi
Sistem skelet (tulang) dibentuk oleh sebuah matriks dari seabut-serabut dan
protein yang diperkeras dengan kalsium, magnesium fosfat, dan karbonat. Bahan-bahan
tersebut berasal dari embrio hyaline tulang rawan melalui osteogenesis kemudian
menjadi tulang, proses ini dilakukan oleh sel-sel yang disebut osteoblast.

Tabel. Fungsi utama tulang.(6)


Fungsi Keterangan

Menopang tubuh Sistem kerangka adalah system yang memberikan bentuk


pada tubuh juga menopang jaringan lunak sebagai titik
perlekatan tendon dari sebagian besar otot
Proteksi Melindungi sebagian besar organ dalam tubuh yang sangat
penting untuk berlangsungnya kehidupan, seperti otak yang
dilindungi tulang cranial, system saraf yang dilindungi
vertebra, jantung dan paru yang dilindungi oleh tulang
costa
Mendasari gerakan Sebagian besar otot melekat pada tulang, dan ketika otot
berkontraksi, maka otot akan menarik tulang untuk
melakukan sebuah gerakan
Homeostasis mineral Jaringan tulang menyimpan beberapa mineral, khususnya
(penyimpanan dan kalsium dan fosfat yang berkontribusi untuk menguatkan
pelepasan) tulang. Jika diperlukan mineral akan disimpan dan dilepas
untuk keseimbangan dan memenuhi kebutuhan bagian
tubuh yang lain
Memproduksi sel darah Sumsum tulang merah adalah tempat dibentuknya sel darah
merah, beberapa limfosit, sel darah putih, granulosit dan
trombosit
Penyimpanan Trigliserid Sumsum tulang kuning adalah sebagian besar terdiri dari sel
adiposa yang menyimpan trigliserid

II.4 Epidemiologi
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) oleh Badan Penelitian
dan Pengembangan tahun 2007 di Indonesia terjadi kasus fraktur yang disebabkan oleh
cedera antara lain karena jatuh, kecelakaan lalu lintas dan trauma benda tajam/tumpul.
Dari 45.987 peristiwa terjatuh yang mengalami fraktur sebanyak 1.775 orang (3,8%),
dari 20.829 kasus kecelakaan lalu lintas, yang mengalami fraktur sebanyak 1.770 orang
(8,5%), dari 14.127 trauma benda tajam/ tumpul, yang mengalami fraktur sebanyak 236
orang (1,7%). Dan berdasarkan RISKESDAS tahun 2013 dari 84.774 peristiwa cedera
yang mengalami fraktur sebanyak 4.916 orang (5,8%).(1,2)

5
Menurut Depkes RI 2011, dari sekian banyak kasus fraktur di indonesia, fraktur
pada ekstremitas bawah akibat kecelakaan memiliki prevalensi yang paling tinggi
diantara fraktur lainnya yaitu sekitar 46,2%. Dari 45.987 orang dengan kasus fraktur
ekstremitas bawah akibat kecelakaan, 19.629 orang mengalami fraktur pada tulang
femur.(2)

II.5 Etiologi
Fraktur dapat terjadi akibat adanya tekanan yang melebihi kemampuan tulang
dalam menahan tekanan. Tekanan pada tulang dapat berupa tekanan berputar yang
menyebabkan fraktur bersifat spiral atau obliq, tekanan membengkok yang
menyebabkan fraktur transversal, tekanan sepanjang aksis tulang yang menyebabkan
fraktur impaksi atau dislokasi, kompresi vertikal dapat menyebabkan fraktur komunitif
atau memecah, misalnya pada badan vertebra, talus, atau fraktur buckle pada anak-
anak.(7)
Fraktur disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir
mendadak dan bahkan kontraksi otot yang ekstrim. Umumnya fraktur disebabkan oleh
trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang. Fraktur cenderung terjadi
pada laki-laki, biasanya fraktur terjadi pada umur dibawah 45 tahun dan sering
berhubungan dengan olahraga, pekerjaan, atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan
kendaraan bermotor.(7)
Pada orang tua, perempuan lebih sering mengalami fraktur daripada laki-laki, hal
ini berhubungan dengan meningkatnya tingkat osteoporosis yang terkait dengan
perubahan hormon pada menopause.

II.6 Klasifikasi Fraktur(7)


1. Menurut Penyebab terjadinya;
a. Fraktur Patologi
Fraktur patologik merupakan fraktur yang terjadi pada tulang sebelumnya
mengalami proses patologik seperti tumor tulang, myeloma multiple, kista
tulang, osteomyelitis, osteochondroma penyakit paget (kaki melengkung)
dan sebagainya. Biasanya trauma ringan saja dapat menimbulkan fraktur.

6
Gambar Fraktur pada Osteochondroma

Gambar Fraktur pada Osteomyelitis


b. Fraktur Stress
Fraktur stress disebabkan oleh trauma ringang tetapi terjadi terus menerus,
misalnya fraktur march pada metatarsa, fraktur tibia pada penari balet,
fraktur fibula pada pelari jarak jauh, dan sebagainya.

7
Gambar Fraktur Stress pada tulang Metatarsal

2. Berdasarkan hubungan dengan jaringan ikat disekitarnya;


a. Fraktur Terbuka
Fraktur terbuka (compound) terjadi bila terdapat hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan dikulit dan otot. Fraktur
terbuka terbagi atas tiga derajat menurut R. Gustillo, yaitu;

8
- Derajat I: Luka <1cm, kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada luka
remuk. Fraktur berbentuk sederhana transversal, obliq, atau komunitif
ringan. Kontaminasi minimal.
- Derajat II: Laserasi >1cm, kerusakan jaringan lunak, tidak luas,
flap/avulsi. Fraktur kominutif sedang. Kontaminasi sedang.
- Derajat III: Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur
kulit, otot, dan neurovaskular serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur
derajat III terbagi atas;
a) Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang masih adekuat,
meskipun terdapat laserasi luas/flap/avulsi, atau fraktur segmental /
sangan kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa
melihat besarnya ukuran luka.
b) Jaringan lunak yang menutupi telah hilang disertai dengan pengikisan
jaringan periosteal dan tulang mulai tampak dari luar.
c) Kehilangan jaringan lunak dengan cedera arteri utama pada daerah
fraktur yang membutuhkan perbaikan segera untuk mempertahnkan
bagian distal dari fraktur.

Gambar Fraktur Terbuka

9
b. Fraktur Tertutup
Fraktur tertutup adalah fraktur yang fragmen tulangnya tida menembus kulit
sehingga fraktur tidak tercemar oleh udara / lingkungan luar tubuh.

Gambar Fraktur Tertutup

3. Berdasarkan bentuk gari fraktur dan hubungan dengan mekanisme trauma


a. Fraktur Transversal
Fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang.
Pada fraktur ini, segmen-segmen tulang yang patah di reposisiatau direduksi
kembali ke tempat semua. Biasanya mudah di kontrol dengan bidai gips.

10
Gambar Fraktur Transversal

b. Fraktur Obliq
Fraktur obliq merupakan fraktur yang garis patahnya membentuk sudut
terhadap tulang. Fraktur tipe ini cenderung tidak stabil dan sulit untuk
diperbaiki

Gambar Fraktur Obliq

11
c. Fraktur Kominutif
Fraktur kominutif merupakan fraktur berupa serpihaan-serpihan atau
terputusnya keutuhan jaringan dengan lebih dari dua fragmen tulang.

Gambar Fraktur Komunituf


d. Fraktur Avulsi
Memisahkan suatu fragmen tulang pada tempat insersi tendon ataupun
ligament. Bila diduga akan terjadi ketidakstabilan sendi atau hal-hal lain
yang dapat menyebabkan kecacatan, perlu dilakukan pembedahan untuk
membuang atau meletakkan kembali fragmen tulang tersebut.

Gambar Fraktur Avulsi

12
e. Fraktur Greenstick
Fraktur tidak sempurna dan sering terjadi pada anak-anak. Korteks
tulangnya sebagian masih utuh. Fraktur-fraktur ini biasanya akan segera
sembuh dan segera mengalami remodeling ke bentuk dan fungsi normalnya.

Gambar Fraktur Greenstick


f. Fraktur Kompresi
Fraktur kompresi terjadi ketika dua tulang menumbuk (akibat tubrukan)
tulang ketiga yang berada diantaranya, seperti satu vertebra dengan dua
vertebra lainnya. Pada usia muda, fraktur kompresi dapat juga disertai
dengan perdarahan yang cukup berat. Seperti pada fraktur pelvis, pasien
dapat secara cepat menjadi syok hipovolemik dan meninggal jika tidak
dilakukan pemeriksaan tanda vital secara akurat dan berulang selama 24
sampai 48 jam setelah cedera.

.Gambar Fraktur Kompresi

13
g. Fraktur Impresi
Fraktur impresi adalah fraktur dengan penekanan ke rongga dalam otak
yang diakibatkan oleh adanya benturan pada kepala dengan tenaga yang
besar dan langsung mengenai tulang kepala pada area yang kecil. Benturan
yang terjadi terfokus dan lebih padat serta melebihi kapasitas elastisitas
tulang tengkorang.

Gambar Fraktur Impresi

h. Fraktur Intraartikuler
1) Fraktur Bannett
Fraktur yang disebabkan oleh abduksi ibu jari yang dipaksakan dan
tampak sebagai fraktur obliq yang mengenai permukaan artikulasi
proksimal pada tulang metacarpal I.

Gambar Fraktur Bannett pada tulang Metacarpal I

14
2) Fraktur Barton
Fraktur ini terjadi akibat terjatuh dengan posisi tangan terentang.
Terkadang hal ini juga berkaitan dengan dislokasi persendian
pergelangan tangan

Gambar Fraktur Barton

3) Fraktur Plato Tibia


Kebanyakan fraktur tipe ini mengenai plato tibia lateral. Mekanisme
cedera biasanya karena terpelintir. Kadang fraktur ini tidak terlihat jelas
pada proyeksi AP dan lateral yang standar sehingga memungkinkan
dibutuhkan pandangan obliq atau tomografi untuk mengenali dan menilai
derajat beratnya fraktur.

Gambar Fraktur Depresi pada Plato Tibia

15
4) Fraktur Pergelangan Kaki
Fraktur ini disebabkan oleh cedera inversi atau eversi, atau kombinasi
dari kedua mekanisme tersebut. Jenis fraktur dapat berupa fraktur
unimaleolar (malleolus medial atau lateral), fraktur bimaleolar, atau
fraktur kompleks bila terjadi fraktur komunitif pada bagian distal dan
fibula.

Gambar Fraktur Maleolus Medialis dengan Fragmen Terlepas

Gambar Fraktur Dislokasi pada Pergelangan Kaki

16
5) Fraktur Calcaneus
Fraktur ini merupakan fraktur tulang tarsus yang paling sering terjadi.
Fraktur ini terjadi akibar terjatuh dari ketinggian dan biasanya bilateral.
Kemungkinan disertai dengan fraktur tulang belakang, terutama pada
vertebra lumbal kedua.

Gambar Faktur Kominutif pada Calcaneus

i. Fraktur Non-artikuler
1) Fraktur Colles
Fraktur ini akibat terjatuh dengan tangan terentang. Fraktur radius terjadi
dikorpus distal, biasanya sekitar 2cm dari permukaan artikuler. Fragmen
distal bergeser kearah dorsal dan proksimal, memperlohatkan gambaran
deformitas “garpu makan malam”.

Gambar Fraktur Colles pada Pergelangan Tangan (Foto AP dan Lateral)

17
2) Fraktur Smith
Fraktur ini biasanya akibat terjatuh pada punggung tangan atau pukulan
keras secara langsung pada punggung tangan. Fragmen distal bergeser
kea rah ventral dengan deviasi radius tangan yang memberikan gambaran
deformitas “sekop”.

Gambar Fraktur Smith pada Pergelangan Tangan (Foto Lateral)

3) Fraktur Suprakondiler
Fraktur ini merupakan jenis fraktur siku yang paling sering terjadi pada
anak-anak berusia 3-10 tahun. Sebagian besar fraktur akibat terjatuh pada
tangan terentang dengan hiperekstensi siku.

Gambar Fraktur Suprakondiler pada Humerus Distal

18
4) Fraktur Jones
Fraktur ini dapat mengenai basis tulang metatarsal V. Garis fraktur
berjalan secara transversal bila dibandingkan dengan pusat osifikasi,
yang berjalan secara obliq.

Gambar Fraktur Jones


j. Fraktur Dislokasi
1) Fraktur Galeazzi
Fraktur ini akibat terjatuh dengan terentang dan lengan bawah dalam
kadaan pronasi, atau terjadi karena pukulan langsung pada pergelangan
tangan bagian dorsolateral. Fraktur ini merupakan fraktur sepertiga distal
radius dengan dislokasi sendi radioulna distal. Fragmen distal mengalami
pergeseran dan angulasi ke arah dorsal. Dislokasi mengenai ulna ke arah
dorsal dan medial.

Gambar Fraktur Galeazzi pada Radius

19
2) Fraktur Monteggia
Fraktur jenis ini disebabkan oleh pronasi lengan bawah yang dipaksakan
saat jatuh atau pukulan secara langsung pada bagian dorsal sepertiga
proksimal lengan bawah. Fraktur ini terdiri dari fraktur ulna proksimal
dengan angulasi anterior yang disertai dengan dislokasi anterior kaput
radius.

Gambar Fraktur Monteggia

3) Dislokasi Perilunatum Transkafoid


Fraktur ini merupakan fraktur yang paling sering disebabkan oleh
dislokasi karpal. Proyeksi frontal (AP) memperlihatkan fraktur skafoid
dengan jelas, namun pandangan lateral menunjukkan pergeseran tulang
kapilatum kearah dorsal yang berhubungan dengan tulang lunatum.

20
Gambar Fraktur Transkafoid Pergelangan Tangan dengan Dislokasi
Perunatum (Foto AP dan Lateral)

4) Fraktur Maisonneuve
Terjadi fraktur fibula proksimal yang disebabkan oleh robekan pada
membrane interosus dan sindesmosis tibiofibularis distal. Kemungkinan
juga disertai dengan robek ligamentum deltoid atau fraktur malleolus
medialis yang menyebabkan pelebaran kompartemen sendi medial.

Gambar Fraktur Maisonneuve dengan Fraktur Maleolus Medialis

21
5) Fraktur Lisfranc
Fraktur ini biasanya terjadi sesudah jatuh dari ketinggian atau saat
menuruni tangga pesawat terbang. Ligamentum Lisfranc yang terletak
antara tulang kuneiform I dan basis tulang metatarsal II terputus atau
mengalami avulsi pada tempat insersinya.

Gambar Fraktur Lisfranc

22
II.7 Diagnosis
II.7.1 Anamnesis
Biasanya penderita fraktur datang dengan suatu trauma (fraktur), baik dengan
trauma ringan maupun berat dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggerakkan
anggota gerak. Dalam hal ini anamnesis harus dilakukan dengan cermat karena fraktur
tidak selamanya terjadi di daerah trauma, dan mungkin fraktur dapat terjadi di daerah
lain yang terkena trauma akibat adanya kompresi yang terjadi akibat trauma. Penderita
biasanya datang dengan keluhan nyeri, bengkak, gangguan fungsi anggota gerak,
krepitasi atau dengan gejala-gejala lain seperti rasa baal atau perdarahan pada daerah
trauma.(7)
Anamnesis pada trauma dapat dibagi menjadi beberapa topik utama, yaitu riwayat
penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga dan riwayat
kebiasaan. Riwayat penyakit sekarang yang perlu ditanyakan adalah bagaimana
mekanisme trauma, lokasi nyeri, bagaimana sifat nyeri, ada lebam atau perubahan
warna kulit tidak, apakah ada bengkak atau oedem, apakah ada keterbatasan gerak atau
tidak. Riwayat penyakit dahulu perlu ditanyakan untuk mengetahui adanya penyakit lain
yang dahulu pernah diderita untuk membantu proses penatalaksanaan dan pencegahan
komplikasi. Riwayat keluarga ditanyakan untuk mengeleminiasi kemungkinan penyakit
herediter yang disebabkan karena penularan antar keluarga. Riwaya kebiasaan perlu
ditanyakan kegiatan sehari-hari, pekerjaan yang mungkin dapat membantu dalam
diagnosis berdasar tipe trauma yang diderita.(7)

II.7.2 Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan fisik dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata)
dan pemeriksaan setempat (lokalis).
Pemeriksaan Umum:
 Keadaan Umum: kesadaran, kesan sakit, dan tanda vital
 Status generalisata: kepala, leher, wajah, mata, hidung, telinga, mulut,
tenggorokkan, thoraks (paru dan jantung), abdomen, genitalia, dan
ekstremitas

23
Pemeriksaan Setempat (Lokalis)
 Inspeksi (Look)
Pada look, kita menilai warna dan perfusi, luka, deformitas (kelainan
bentuk) seperti bengkak, pemendekan, rotasi, angulasi, fragmen tulang dan
perdarahan eksternal aktif (pada fraktur terbuka),
 Palpasi (Feel)
Adanya nyeri tekan (tenderness), krepitasi, pemeriksaan status neurologis
dan vaskuler pada bagian distal fraktur. Palpasi daerah ekstremitas tempat
fraktur tersebut, di bagian distal cedera meliputi pulsasi arteri, warna kulit,
capillary refill test.
 Gerakan (Move)
Melihat pergerakan aktif dan pasif pada daerah fraktur untuk melihan
adanya keterbatas gerak.
Pemeriksaan Neurologis
Pemeriksaan tambahan seperti pemeriksaan neurologis perlu juga
diperhatikan. Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan
motoris serta gradasi kelainan neurologis yaitu neuropiraksia atau neurotemesis.
II.7.3 Pemeriksaan Penunjang
Radiologis(7)
Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi,
serta ekstensi fraktur. Untuk menghindari nyeri serta kerusakan jaringan lunak
sebelumnya, maka sebaiknya mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen
untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis
Tujuan pemeriksaan radiologis:
- Mempelajari gambaran normal tulang dan sendi
- Konfirmasi adanya fraktur
- Melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta
pergerakannya
- Menentukan teknik pengobatan
- Menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak
- Menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau eksra-artikuler
- Melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang
- Melihat adanya benda asing, misalnya peluru

24
1) Foto Polos
Pemeriksaan yang dapat dilakukan yakni foto polos, CT-Scan, MRI, tomografi
dan radioisotope scanning. Umumnya dengan foto polos kita dapat mendiagnosis
fraktur, tetapi perlu ditanyakan apakah fraktur terbuka atau tertutup, tulang mana
yang terkena dan lokasinya, apakah sendi juga mengalami fraktur serta bentuk
fraktur itu sendiri.
Foto Rontgen harus memenuhi beberapa syarat (rule of two);(7)
 Dua pandangan
Fraktur atau dislokasi mungkin tidak terlihat pada film sinar-X
tunggal dan sekurang-kurangnya harus dilakukan 2 sudut pandang (AP &
Lateral/Oblique).
 Dua sendi
Pada lengan bawah atau kaki, satu tulang dapat mengalami fraktur atau
angulasi. Tetapi angulasi tidak mungkin terjadi kecuali kalau tulang yang lain
juga patah, atau suatu sendi mengalami dislokasi. Sendi-sendi diatas dan di
bawah fraktur keduanya harus disertakan dalam foto sinar-X.
 Dua tungkai
Pada sinar-X anak-anak epifise dapat mengacaukan diagnosis fraktur. Foto
pada tungkai yang tidak cedera akan bermanfaat.
 Dua cedera
Kekuatan yang hebat sering menyebabkan cedera pada lebih dari 1 tingkat.
Karena itu bila ada fraktur pada kalkaneus atau femur perlu juga diambil foto
sinar-X pada pelvis dan tulang belakang.
 Dua kesempatan
Segera setelah cedera, suatu fraktur mungkin sulit dilihat, kalau ragu-ragu,
sebagai akibat resorbsi tulang, pemeriksaan lebih jauh 10-14 hari
kemudian dapat memudahkan diagnosis.

2) CT-Scan
Suatu jenis pemeriksaan untuk melihat lebih detail mengenai bagian tulang atau
sendi, dengan membuat foto irisal lapis demi lapis. CT Scan diindikasikan untuk
semua pasien dengan cedera kepala ringan dengan GCS <15, sedang dan berat.

25
Gambar CT-Scan Fraktur Depresi (A) dan Linier (B) pada Cranium

3) MRI
MRI dapat digunakan untuk memeriksa hampir seluruh tulang, sendi, dan jaringan
lunak. MRI dapat digunakan untuk mengidentifikasi cedera tendon, ligamen, otot,
tulang rawan, tulang dan jaringan lunak.

Gambar MRI Fraktur Dislokasi Th-12 dan Fraktur L-1

26
II.8. Tatalaksana (7)
1 Penatalaksanaan awal
Sebelum dilakukan pengobatan defenitif pada satu fraktur, maka diperlukan:
a) Pertolongan pertama
Pada penderita fraktur yang penting dilakukan adalah membersihkan jalan
napas, menutup luka dengan perban bersih dan imobilisasi fraktur pada
anggota gerak yang terkena agar penderita merasa nyaman dan mengurangi
nyeri sebelum diangkut dengan ambulans.
b) Penilaian Klinis
Sebelum menilai fraktur itu sendiri, perlu dilakukan penilaian klinis, pakah
luka itu tembus tulang, adakah trauma pembuluh
darah/saraf ataukah trauma alat-alat dalam yang lain
c) Resusitasi
Kebanyakan penderita fraktur multiple tiba di rumah sakit dengan syok,
sehingga diperlukan resusitasi sebelum diberikan terapi pada frakturnya sendiri
berupa pemberian transfusi darah dan cairan lainnya serta obat-obat anti nyeri

2 Prinsip umum pengobatan fraktur (8,9)


Ada enam prinsip pengobatan fraktur :
a) Jangan membuat keadaan buruk
Beberapa komplikasi fraktur terjadi akibat trauma yang antara lain disebabkan
karena pengobatan yang diberikan disebut sebagai iatrogenic. Beberapa
komplikasi yang bersifat iatrogenic, dapat dicegah dengan melakukan tindakan
yang memadai seperti mencegah kerusakan jaringan lunak pada saat mobilisasi
penderita
b) Pengobatan berdasarkan diagnosis dan prognosis yang tepat
Dengan melakukan diagnosis yang tepat pada fraktur, kita dapat menentukan
prognosis trauma sehingga dapat memilih metode pengobatan yang tepat dan
sesuai.
c) Seleksi pengobatan dengan tujuan khusus
1) Menghilangkan nyeri, nyeri timbul karena trauma pada jaringan lunak
termasuk periosteum dan endosteum. Nyeri dapat diatasi dengan imobilisasi
fraktur dan pemberian analgetik.

27
2) Memperoleh posisi yang baik dari fragmen, tanpa pergeseran fragmen
tulang atau pergeseran yang sedikit saja tidak diperlukan reduksi.
3) Mengusahakan terjadinya penyembuhan tulang dalam waktu yang singkat.
Pada fraktur tertentu, bila terjadi kerusakan yang hebat, kemungkinan
diperlukan usaha agar terjadi perbaikan, misalnya dengan menggunakan
bone graft.
4) Mengembakikan fungsi secara normal, dengan memberikan latihan yang
bersifat aktif dinamik akan mencegah terjadinya atrofi otot pada anggota
gerak.
5) Bersifat realistik dan praktis dalam memilih jenis pengobatan dengan
mempertimbangkan segala indikasi dan kontraindikasi penderita.
6) Seleksi pengobatan sesuai dengan penderita, perlu dipertimbangkan keadaan
sosial-ekonomi penderita secara individual.

Sebelum mengambil keputusan untuk melakukan pengobatan definitif perlu


diperhatikan empat prinsip pengobatan, yaitu;(8)
o Recognition, prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur
dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan radiologis. Pada awal perlu diperhatikan
lokasi dan bentuk fraktur, menentukan teknik yang sesuai, dan komplikasi yang
mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan
o Reduction, restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang
dapat diterima. Pada fraktur intra-artikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat
mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti
kekakuan, deformitas, serta perubahan lainnya dikemudian hari.
o Retention, imobilisasi fraktur diperlukan untuk mencegah adanya cedera berulang
atau tambahan.
o Rehabilitation, mengembalikan fungsional bagian yang cedera semaksimal
mungkin.
Penatalaksanaan fraktur meliputi reposisi dan imobilisasi fraktur dengan splint.
Status neurologis dan vaskuler di bagian distal harus diperiksa baik sebelum maupun
sesudah reposisi dan imobilisasi. Pada pasien dengan multipel trauma, sebaiknya
dilakukan stabilisasi awal fraktur tulang panjang setelah hemodinamis pasien stabil.
Sedangkan penatalaksanaan definitif fraktur adalah dengan menggunakan gips atau
dilakukan operasi dengan “ORIF” maupun “OREF”(4,9).

28
Tujuan pengobatan fraktur yaitu :
a. REPOSISI dengan tujuan mengembalikan fragmen keposisi anatomi. Teknik
reposisi terdiri dari reposisi tertutup dan terbuka. Reposisi tertutup dapat
dilakukan dengan fiksasi eksterna atau traksi kulit dan skeletal. Cara lain yaitu
dengan reposisi terbuka yang dilakukan pada pasien yang telah mengalami
gagal reposisi tertutup, fragmen bergeser, mobilisasi dini, fraktur multipel, dan
fraktur patologis.
b. IMOBILISASI / FIKSASI dengan tujuan mempertahankan posisi fragmen post
reposisi sampai Union. Indikasi dilakukannya fiksasi yaitu pada pemendekan
(shortening), fraktur tidak stabil serta kerusakan hebat pada kulit dan jaringan
sekitar.

Jenis Fiksasi :
a. Eksternal / OREF (Open Reduction External Fixation)
OREF adalah reduksi terbuka dengan fiksasi eksternal dengan prinsip tulang
ditransfiksasikan di atas dan di bawah fraktur, sekrup atau kawat ditransfiksi di
bagian proksimal dan distal kemudian dihubungkan satu sama lain.
1) Gips (plester cast)
2) Traksi
Jenis traksi :
 Traksi Gravitasi : U- Slab pada fraktur humerus
 Skin traksi. Tujuan menarik otot dari jaringan sekitar fraktur sehingga fragmen
akan kembali ke posisi semula. Beban maksimal 4-5 kg karena bila kelebihan
kulit akan lepas
 Sekeletal traksi : K-wire, Steinmann pin atau Denham pin.
Traksi dipasang pada distal tuberositas tibia (trauma sendi koksea, femur,
lutut), pada tibia atau kalkaneus (fraktur kruris). Komplikasi yang dapat terjadi
pada pemasangan traksi yaitu gangguan sirkulasi darah, trauma saraf peroneus,
sindroma kompartemen, infeksi tempat masuknya pin.

Indikasi OREF :
- Fraktur terbuka derajat II dan III
- Fraktur terbuka yang disertai hilangnya jaringan atau tulang yang parah

29
- Fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang luas
- Fraktur dengan gangguan neurovaskuler
- Fraktur Kominutif dan tidak stabil
- Fraktur Pelvis yang tidak bisa diatasi dengan cara lain
- Fraktur infeksi yang kontraindikasi dengan ORIF
- Non Union yang memerlukan kompresi dan perpanjangan
- Trauma Multipel

b. Internal / ORIF (Open Reduction Internal Fixation)


ORIF adalah suatu bentuk pembedahan dengan pemasangan fiksasi pada tulang
yang mengalami fraktur untuk memanipulasi fragmen-fragmen tulang yang
patah/fraktur secepat mungkin kembali seperti posisi semula. ORIF ini dapat
menggunakan K-wire, plating, screw, k-nail. Keuntungan cara ini adalah reposisi
anatomis dan mobilisasi dini tanpa fiksasi luar.
Indikasi ORIF :
- Fraktur yang tak bisa sembuh atau bahaya avascular nekrosis tinggi, misalnya
fraktur talus dan fraktur collum femur.
- Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. Misalnya fraktur avulsi dan fraktur
dislokasi.
- Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan. Misalnya fraktur
Monteggia, fraktur Galeazzi, fraktur antebrachii, dan fraktur pergelangan
kaki.
- Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan
operasi, misalnya : fraktur femur.

II.9. Komplikasi(7)
Komplikasi fraktur dapat diakibatkan oleh trauma itu sendiri atau akibat
penanganan fraktur yang disebut komplikasi iatrogenik.
1. Komplikasi Umum
Syok karena perdarahan ataupun oleh karena nyeri, koagulopati difus dan
gangguan fungsi pernafasan. Ketiga macam komplikasi tersebut dapat terjadi dalam
24 jam pertama pasca trauma dan setelah beberapa hari atau minggu akan terjadi
gangguan metabolisme, berupa peningkatan katabolisme. Komplikasi umum lain

30
dapat berupa emboli lemak, trombosis vena dalam (DVT), tetanus atau gas
gangren.

2. Komplikasi Lokal
a. Komplikasi dini
Komplikasi dini adalah kejadian komplikasi dalam satu minggu pasca
trauma, sedangkan apabila kejadiannya sesudah satu minggu pasca trauma
disebut komplikasi lanjut.
• Pada Tulang
1. Infeksi, terutama pada fraktur terbuka.
2. Osteomielitis dapat diakibatkan oleh fraktur terbuka atau tindakan operasi
pada fraktur tertutup. Keadaan ini dapat menimbulkan delayed union atau
bahkan non union
Komplikasi sendi dan tulang dapat berupa artritis supuratif yang sering
terjadi pada fraktur terbuka atau pasca operasi yang melibatkan sendi sehingga
terjadi kerusakan kartilago sendi dan berakhir dengan degenerasi.
• Pada Jaringan lunak
1. Lepuh , Kulit yang melepuh adalah akibat dari elevasi kulit superfisial karena
edema. Terapinya adalah dengan menutup kasa steril kering dan melakukan
pemasangan elastik.
2. Dekubitus. terjadi akibat penekanan jaringan lunak tulang oleh gips. Oleh
karena itu perlu diberikan bantalan yang tebal pada daerah-daerah yang
menonjol.

• Pada Otot
Terputusnya serabut otot yang mengakibatkan gerakan aktif otot tersebut
terganggu. Hal ini terjadi karena serabut otot yang robek melekat pada serabut
yang utuh, kapsul sendi dan tulang. Kehancuran otot akibat trauma dan terjepit
dalam waktu cukup lama akan menimbulkan sindroma crush atau thrombus.

• Pada Pembuluh Darah


Pada robekan arteri inkomplit akan terjadi perdarahan terus
menerus.Sedangkan pada robekan yang komplit ujung pembuluh darah
mengalami retraksi dan perdarahan berhenti spontan.

31
Pada jaringan distal dari lesi akan mengalami iskemi bahkan nekrosis.
Trauma atau manipulasi sewaktu melakukan reposisi dapat menimbulkan
tarikanmendadak pada pembuluh darah sehingga dapat menimbulkan spasme.
Lapisan intima pembuluh darah tersebut terlepas dan terjadi trombus. Pada
kompresi arteri yang lama seperti pemasangan torniquet dapat terjadi sindrome
crush. Pembuluh vena yang putus perlu dilakukan repair untuk mencegah
kongesti bagian distal lesi.
Sindroma kompartemen terjadi akibat tekanan intra kompartemen otot
pada tungkai atas maupun tungkai bawah sehingga terjadi penekanan
neurovaskuler sekitarnya. Fenomena ini disebut Iskhemi Volkmann. Ini dapat
terjadi pada pemasangan gips yang terlalu ketat sehingga dapat menggangu
aliran darah dan terjadi edema dalam otot.
Apabila iskemi dalam 6 jam pertama tidak mendapat tindakan dapat
menimbulkan kematian/nekrosis otot yang nantinya akan diganti dengan
jaringan fibrosa yang secara periahan-lahan menjadi pendek dan disebut dengan
kontraktur volkmann. Gejala klinisnya adalah 5 P yaitu Pain (nyeri), Parestesia,
Pallor (pucat), Pulseness (denyut nadi hilang) dan Paralisis.

• Pada saraf
Berupa kompresi, neuropraksi, neurometsis (saraf putus), aksonometsis
(kerusakan akson). Setiap trauma terbuka dilakukan eksplorasi dan identifikasi
nervus.

b. Komplikasi lanjut(7)
Pada tulang dapat berupa malunion, delayed union atau non union. Pada
pemeriksaan terlihat deformitas berupa angulasi, rotasi, perpendekan atau
perpanjangan.
• Delayed union
Proses penyembuhan lambat dari waktu yang dibutuhkan secara normal.
Pada pemeriksaan radiografi, tidak akan terlihat bayangan sklerosis pada
ujung- ujung fraktur.
Terapi konservatif selama 6 bulan bila gagal dilakukan Osteotomi. Bila
lebih 20 minggu dilakukan cancellus grafting (12-16 minggu)

32
• Non union
Dimana secara klinis dan radiologis tidak terjadi penyambungan.
Tipe I (hypertrophic non union)
Tidak akan terjadi proses penyembuhan fraktur dan diantara fragmen
fraktur tumbuh jaringan fibrus yang masih mempunyai potensi untuk union
dengan melakukan koreksi fiksasi dan bone grafting.
Tipe II (atrophic non union)
Disebut juga sendi palsu (pseudoartrosis) terdapat jaringan sinovial
sebagai kapsul sendi beserta rongga sinovial yang berisi cairan, proses union
tidak akan dicapai walaupun dilakukan imobilisasi lama.
Beberapa faktor yang menimbulkan non union seperti disrupsi
periosteum yang luas, hilangnya vaskularisasi fragmen-fragmen fraktur, waktu
imobilisasi yang tidak memadai, implant atau gips yang tidak memadai,
distraksi interposisi, infeksi dan penyakit tulang (fraktur patologis)

• Mal union
Penyambungan fraktur tidak normal sehingga menimbukan deformitas.
Tindakan refraktur atau osteotomi koreksi.

• Osteomielitis
Osteomielitis kronis dapat terjadi pada fraktur terbuka atau tindakan
operasi pada fraktur tertutup sehingga dapat menimbulkan delayed union
sampai non union (infected non union). Imobilisasi anggota gerak yang
mengalami osteomielitis mengakibatkan terjadinya atropi tulang berupa
osteoporosis dan atrofi otot.

• Kekakuan sendi
Kekakuan sendi baik sementara atau menetap dapat diakibatkan
imobilisasi lama, sehingga terjadi perlengketan peri artikuler, perlengketan
intraartikuler, perlengketan antara otot dan tendon. Pencegahannya berupa
memperpendek waktu imobilisasi dan melakukan latihan aktif dan pasif pada
sendi. Pembebasan perlengketan secara pembedahan hanya dilakukan pada
penderita dengan kekakuan sendi menetap.

33
II.10. Prognosis

Penyembuhan fraktur merupakan proses biologis yang tidak sama seperti


jaringan lainnya, tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa jaringan
parut. Pengertian tentang reaksi penyembuhan fraktur mulai terjadi segera
setelah tulang mengalami kerusakan apabila lingkungan untuk penyembuhan
memadai sampai terjadi konsolidasi. Faktor mekanis yang penting seperti
imobilisasi fragmen tulang secara fisik sangat penting dalam penyembuhan,
selain factor biologis yang juga merupakan suatu faktor yang sangat esensial
dalam penyembuhan fraktur.(9)

34
BAB III

KESIMPULAN

Masalah pada tulang yang mengakibatkan keparahan disabilitas adalah fraktur.


Penyebabnya dapat bermacam-macam, bisa berupa trauma langsung dan tidak
langaung. Diagnosis trauma ditegakkan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik serta
pemeriksaan penunjang, terutama radiologis. Tujuan dari tatalaksana fraktur adalah
untuk mengurangi fraktur berulang, mengurangi resiko infeksi, dan terjadinya proses
penyembuhan fraktur.

35
DAFTAR PUSTAKA

1. Triono P, Murinto. Aplikasi Pengolahan Citra untuk Mendeteksi Fraktur Tulang


dengan Metode Deteksi Tepi Canny. J Informatika: 2015(9)2;1115-23
2. Fakhrurrizal A. Pengaruh Pembidaian Terhadap Penurunan Rasa Nyeri pada
Pasien Fraktur Tertutup di Ruang IGD Rumah Sakit Umum Daerah A,M
Parikesit Renggarong. J Ilmu Kesehatan;2015(3)2:1-11
3. Riset Kesehatan Dasar 2013. Cedera. p100-107. Available at
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%202
013.pdf
4. Daniel, Warjiman, Munawaroh S. Gambraran Konsep Diri Pasien Post Op
Fraktur Ekstremitas di Ruang Rawat Inap Tahun 2015. J Kes:2015(1)1; 37-44
5. Hansen JT. Netter’s Clinical Anatomy. 2nd ed. 2010. Philadelphia: Elsevier.
6. Wahyuningsih HP, Kusmiyati Y. Anatomi Fisiologi. Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. 2017:21
7. Solomon L, et al. Apley’s System of Orthopaedics and Fractures. 9th Ed.
London: Hodder Arnold; 2010;687-953
8. Mahartha GR, Maliawan S, Kawiyana KS. Manajemen Fraktur pada Trauma
Muskuloskeletal. J Orthopedic Udayana:2009.
9. Utami NM. Faktor-Faktor Pemilihan Pengobatan Tradisional pada Kasus Patah
Tulang. J Agromed Unila:2015(3)2;339-342

36