Sie sind auf Seite 1von 37

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Umum

Sistem perencanaan penyaluran air buangan menggunakan suatu metode pembuangan air
buangan yang dipilih berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Desain sistem penyaluran air
buangan untuk suatu kawasan disesuaikan dengan kebutuhan dari daerah yang akan dilayani
dan prediksi perkembangan wilayah perencanaan selama periode perencanaan. Desain yang
dibuat diusahakan mengeluarkan dana pembangunan dan perawatan yang sedikit tetapi masih
memenuhi kriteria teknis. Hal yang dilakukan terlebih dahulu adalah analisis terhadap
kondisi umum, batasan-batasan yang ada dan potensi yang dimiliki daerah pelayanan untuk
menentukan teknologi yang akan digunakan.

Desain sistem penyaluran air buangan sangat dipengaruhi oleh kondisi eksisiting topografi
dari daerah pelayanan. Kondisi topografi yang tidak teratur akan menambah biaya
pembangunan SPAB karena kemungkinan akan menambah bangunan pelengkap seperti
pompa ataupun joint pipa. Desain sistem penyaluran air buangan diusahakan penyaluran
dilakukan secara gravitasi, karena dengan gravitasi tidak diperlukan energi tambahan untuk
menyalurkan air limbah. Namun pada beberapa kasus tertentu penggunaan pompa untuk
menambah tekanan bagi aliran air buangan tidak dapat dihindarkan. Pompa yang dipilih
harus memiliki kualitas baik, biaya terjangkau, dan perawatannya mudah (Hardjosuprapto,
2000).

Hal penting yang harus diperhatikan dalam perencanaan sistem penyaluran air buangan,
diantaranya mengenai sumber air buangan yang akan disalurkan. Beberapa jenis sumber air
buangan, antara lain (Burton, 1979):
1. Air buangan domestik
Air buangan domestik berasal dari proses pemakaian air bersih dalam rumah tangga.
2. Air buangan industri
Air buangan industri berasal dari proses industri, dan komposisinya tergantung dari jenis
produksinya.
3. Infiltrasi
Yaitu adanya air yang menelusup ke dalam tanah yang disebabkan adanya kebocoran pipa
dari suatu saluran.
Prinsip pengaliran air buangan terdiri atas (Babbit, 1982):
1. Prinsip pengaliran air buangan.
a. Saluran tertutup;
b. Saluran sepanjang mungkin agar semua area air buangan terlayani;
c. BPAB sejauh mungkin;
d. Memerlukan vent karena dekomposisi air buangan;
e. Daerah pelayanan seluas mungkin;
f. Saluran air buangan mengikuti jalur jalan.
2. Prinsip pengaliran air hujan:
a. Saluran terbuka;
Saluran sependek mungkin;
b. Tempat pembuangan air hujan sedekat mungkin;
c. Tidak memerlukan vent;
d. Daerah pengaliran sekecil mungkin;
e. Jalur induk harus keluar dari jalan.

Pada penyaluran air buangan, sistem pengaliran yang digunakan adalah (Burton, 1979):
1. Pengaliran secara gravitasi, yaitu pengaliran yang bersifat terbuka dalam saluran tertutup.
Pengaliran memanfaatkan gaya gravitasi dalam saluran;
2. Pengaliran yang bertekanan atau menggunakan pompa, yaitu pengaliran yang terjadi
karena ada pemompaan yang dilakukan dalam saluran tertutup karena muka air tidak dapat
berhubungan secara bebas dengan atmosfer.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pengaliran air buangan (Babbit, 1982):
1. Pengaliran secara gravitasi;
2. Aliran dalam debit minimum harus tetap dapat membawa material yang ada dalam saluran;
3. Dianjurkan dengan kecepatan yang disyaratkan dapat membersihkan saluran dengan
sendirinya;
4. Pengaliran harus dapat mensirkulasikan udara dan air buangan sehingga tidak terjadi
akumulasi gas-gas dalam pipa yang dapat mengakibatkan ledakan/kondisi vakum;
5. Pengaliran harus tiba secepatnya ke BPAB untuk menghindari terjadinya pembusukan,
untuk itu disyaratkan pengaliran tidak lebih dari 18 jam;
6. Pipa air buangan tidak boleh penuh (maximal 80%);
7. Pengaliran selalu unsteady terkadang uniform.

II-2
2. 2 Tingkat Pelayanan

Tingkat pelayanan penyaluran air limbah yang masih relatif kecil bila dibandingkan dengan
perkembangan dan pertumbuhan jumlah penduduk yang pesat. Saat ini Indonesia masih
menghadapi tantangan untuk menuntaskan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang menetapkan untuk air limbah sanitasi onsite system harus
mencapai 85% dan sanitasi offsite system 15%. Tujuan dari Universal Acces adalah
menciptakan 0% pemukiman kumuh, meningkatk akses penduduk terhadap sanitasi layak (air
limbah domestik, sampah dan drainase lingkungan) menjadi 100% pada tingkat kebutuhan
dasar dan tercapainya 100% air minum. Adapun strategi untuk menuju Universal Access
adalah Pengembangan inovasi teknologi air minum, air limbah, persampahan dan drainase
(Universal Access, 2019).

Proyeksi jumlah penduduk diperlukan dalam perancangan sistem penyaluran air buangan
yang akan digunakan untuk jangka waktu panjang. Hal ini penting dilakukan agar bangunan
tersebut dapat digunakan sesuai dengan periode desain yang telah direncanakan dan tidak
menimbulkan masalah pada masa yang akan datang. Begitu juga halnya dalam mendesain
penyaluran air buangan bagi penduduk suatu kota, maka jumlah penduduk kota pada masa
yang akan datang haruslah diketahui. Jumlah penduduk pada masa yang akan datang dapat
diketahui menggunakan metode proyeksi jumlah penduduk (Soeparman, 2001).

Ada beberapa jenis metode yang dipakai untuk menentukan proyeksi penduduk, diantaranya
(Soeparman, 2001):
1. Metode Least Square;
2. Metode Decreasing Rate of Increase;
3. Metode Ratio dan Korelasi;
4. Metode Aritmatika/linear;
5. Metode Logaritma;
6. Metode Eksponensial;
7. Metode Geometri.
Metode yang digunakan untuk menghitung proyeksi penduduk pada tugas besar ini yaitu
dengan membandingkan metode aritmatika, eksponensial, logaritma dan geometri.

II-3
2. 3 Sistem Pengelolaan Air Buangan

Sistem pengelolaan, penyaluran, dan prinsip penyaluran air buangan mempunyai karakteristik
dan spesifikasi tertentu yang akan membedakannya dengan sistem penyediaan air minum
yaitu (Burton, 1979):
1. Sistem pengelolaan air buangan terdiri dari 2 sistem, yaitu:
a. Sistem individual (on site sanitation), yakni sistem dengan kriteria sebagai berikut:
1) Untuk daerah low income (pedesaan, pinggiran kota);
2) Untuk industri;
Contohnya ialah jamban cubluk dan tangki septik.
b. Sistem komunal (off site sanitation), yakni sistem yang pengelolaannya dilakukan secara
keseluruhan untuk suatu kota atau daerah.
Contoh dari sistem ini antara lain: mandi cuci kakus (MCK), jaringan air perpipaan atau
limbah (public sewer).
2. Selain sumber air buangan, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan juga dan menjadi
dasar penting dalam perencanaan sistem penyaluran air buangan. Hal-hal tersebut yaitu
jenis pengaliran, sistem pengelolaan, sistem penyaluran, prinsip pengaliran air buangan,
jenis-jenis pipa air buangan dan pola jaringan.

2.3.1 Sistem Pengelolaan Air Buangan Onsite

Sistem pengelolaan air buangan onsite terdiri dari (Babbit, 1982):


1. Onsite individual
Sistem sanitasi setempat (on site sanitation) adalah sistem pembuangan air limbah dimana
air limbah tidak dikumpulkan serta disalurkan ke dalam suatu jaringan saluran yang akan
membawanya ke suatu tempat pengolahan air buangan atau badan air penerima, melainkan
dibuang di tempat. Contohnya adalah jamban cubluk dan tangki septik. Sistem ini dipakai
jika syarat-syarat teknis lokasi dapat dipenuhi dan menggunakan biaya relatif rendah.
Sistem ini sudah umum karena telah banyak digunakan di Indonesia (Zevri, 2010).

Onsite individual biasanya digunakan untuk:


a. Masyarakat berpendapatan rendah, yang tidak memungkinkan adanya sistem
penyaluran air buangan;
b. Rural/ area pedesaan: simple pit latrines, bucket latrines, ventilated pit, aquaprived;
c. Urban area/ low income: communal latrines, septic tank;
d. Industri: pengolahan air limbah di lokasi pabrik masing-masing;

II-4
Kelebihan sistem ini adalah:
a. Biaya pembuatan relatif rendah/ murah;
b. Bisa dibuat secara pribadi;
c. Teknologi dan sistem penanganannya cukup sederhana;
d. Operasional dan perawatannya merupakan tanggung jawab pribadi.

Kekurangannya:
a. Umumnya tidak disediakan untuk menampung limbah dari proses mandi, cuci dan
dapur;
b. Dapat mencemari air tanah bila syarat-syarat teknis pembuatan dan pemeliharaan tidak
dilakukan sesuai dengan aturannya.

Kriteria yang harus dipenuhi dalam penerapan sistem setempat antara lain (DPU, 1989):
a. Kepadatan penduduk kurang dari 200 jiwa/ha;
b. Kepadatan penduduk 200 – 500 jiwa/ha masih memungkinkan dengan syarat penduduk
tidak menggunakan air tanah;
c. Tersedia truk penyedotan tinja.

2. Onsite komunal
Sistem sanitasi terpusat (offsite sanitation) merupakan sistem pembuangan air buangan
rumah tangga (mandi, cuci, dapur, dan limbah kotoran) yang disalurkan keluar dari lokasi
pekarangan masing-masing rumah ke saluran pengumpul air buangan dan selanjutnya
disalurkan secara terpusat ke bangunan pengolahan air buangan sebelum dibuang ke badan
perairan. Contoh dari sistem ini antara lain mandi cuci kakus (MCK) dan jaringan air
perpipaan atau limbah (public sewer) (Zevri, 2010).

Perbedaan antara onsite individual dengan onsite komunal adalah bahwa onsite individual
penggunaannya hanya untuk satu keluarga, sedangkan onsite komunal penggunaannya untuk
dipakai bersama, misalnya lebih dari satu kartu keluarga. Sistem setempat/on-site terdiri atas
(Zevri, 2010):

1. Cubluk (pit privy)


Cubluk merupakan sistem pembuangan tinja yang paling sederhana. Terdiri atas lubang
yang digali secara manual dengan dilengkapi dinding rembes air yang dibuat dari pasangan
batu bata berongga, anyaman bambu dan lain lain. Cubluk biasanya berbentuk bulat atau
kotak, dengan potongan melintang sekitar 0,5-1,0 m2, dengan kedalaman 1-3 m. Hanya
sedikit air yang digunakan untuk menggelontorkan tinja ke dalam cubluk. Cubluk ini
biasanya di desain untuk waktu 5-10 tahun (Zevri, 2010).
II-5
Beberapa jenis cubluk antara lain (Zevri, 2010):

a. Cubluk tunggal
Cubluk tunggal dapat digunakan untuk daerah yang memiliki tinggi muka air tanah > 1
m dari dasar cubluk. Cocok untuk daerah dengan kepadatan < 200 jiwa/ha. Pemakaian
cubluk tunggal dihentikan setelah terisi 75%.

b. Cubluk Kembar
Cubluk kembar dapat digunakan untuk daerah dengan kepadatan penduduk < 50 jiwa/ha
dan memiliki tinggi muka air tanah > 2 m dari dasar cubluk. Pemakaian lubang cubluk
pertama dihentikan setelah terisi 75% dan selanjutnya lubang cubluk kedua dapat
disatukan. Jika lubang cubluk kedua terisi 75%, maka lumpur tinja yang ada di lubang
pertama dapat dikosongkan secara manual dan dapat digunakan untuk pupuk tanaman
Setelah itu lubang cubluk dapat difungsikan kembali.

Gambar 2. 1 Jamban Cubluk


Sumber : Pramadhita, 2006

2. Tangki Septik

Tangki septik merupakan suatu ruangan yang terdiri atas beberapa kompartemen yang
berfungsi sebagai bangunan pengendap untuk menampung kotoran padat agar mengalami
pengolahan biologis oleh bakteri anaerob dalam jangka waktu tertentu. Untuk mendapat
proses yang baik, sebuah tangki septik haruslah hampir terisi penuh dengan cairan, oleh
karena itu tangki septik haruslah kedap air (Sugiharto 1987).

Prinsip operasional tangki septik adalah pemisahan partikel dan cairan partikel yang
mengendap (lumpur) dan juga partikel yang mengapung (scum) disisihkan dan diolah
dengan proses dekomposisi anaerobik. Pada umumnya bangunan tangki septik dilengkapi
dengan sarana pengolahan effluent berupa bidang resapan (sumur resapan). Tangki septik
dengan peresapan merupakan jenis fasilitas pengolahan air limbah rumah tangga yang
paling banyak digunakan di Indonesia. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam
penggunaan tangki septik (Zevri, 2010):

II-6
a. Kecepatan daya serap tanah > 0. 0146 cm/menit;
b. Cocok diterapkan di daerah yang memiliki kepadatan penduduk < 500 jiwa/ha;
c. Dapat dijangkau oleh truk penyedot tinja;
d. Tersedia lahan untuk bidang resapan.

Gambar 2. 2 Tangki Septik


Sumber : Pramadhita, 2006

Bangunan tangki septik ini banyak digunakan, baik di kota-kota, kota kabupaten, maupun
di kota kecamatan, bahkan mulai merambah di desa-desa. Tangki septik dapat dibangun
pada lahan yang tidak terlalu luas, bahkan dapat dibangun di dalam ruangan, misalnya
dibawah lantai dapur, ruang keluarga bahkan dibawah ruang tamu. Hanya saja bangunan
ini memerlukan peresapan untukmembuang kelebihan air yang ada dalam tangki septik,
jika kelebihan air tersebut tidak dialirkan ke saluran drainase kota (Hardjosuprapto, 2000).

Material untuk tangki septik harus kedap air untuk itu material yang bisa digunakan adalah
sebagai berikut:
a. Pasangan batu bata dengan campuran spesi 1 : 2 (semen : pasir). Material ini sesuai
untuk daerah dengan ketinggian air tanah yang tidak tinggi dan tanah yang relatif stabil
sehingga saat pelaksanaan pembuatannya tidak sulit untuk menghasilkan konstruksi
yang kedap air.
b. Beton bertulang. Material dari beton bertulang relatif sesuai untuk semua kondisi. Pada
lokasi dengan muka air tanah tinggi bisa digunakan beton pracetak.
c. Plastik atau fiberglass. Material plastik atau fiberglass sangat baik dari segi
karakteristik kedap airnya namun rendah dalam kemampuan menahan tekanan samping
tanah dan yang perlu diperhatikan adalah ketinggian muka air tanah yang yang bisa
memberikan tekanan apung yang besar pada tangki jenis ini pada saat tangki kosong.

II-7
3. Peresapan
Peresapan dapat berupa peresapan sumuran, jika muka air tanah rendah atau peresapan
lapangan jika memungkinkan tersedia lahan yang cukup. Pada daerah perkotaan yang
padat penduduknya dan muka air tanah cukup tinggi, kelebihan air dari tangki septik dapat
dialirkan menuju drainase kota yang kemudian dialirkan menuju Instalasi Pengolah Air
Limbah (IPAL). Pada daerah perkotaan termasuk kota-kota baru / kota satelit, pengolaan
limbah domestik dapat dilakukan secara terpusat, sehingga setiap rumah tidak perlu
membuat tangki septik, cukup limbah yang dihasilkan diolah secara terpusat dan
profesional, sehingga air tanah pada lingkungan tersebut tidak tercemar. Bilamana pada
setiap rumah, limbah domestik dialirkan menuju drainase kota, pemerintah kota dapat
membuat kebijaksanaan menyediakan meteran dan detektor air limbah yang dipasang pada
saluran outlet rumah tangga, dimana biaya pembuangan limbah domestik dapat ditentukan
dengan jumlah limbah yang dibuang dan kandungan kimianya termasuk bahan-bahan
toksik (beracun) untuk menutupi biaya operasional Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL)
yang dimiliki pemerintah kota (Hardjosuprapto, 2000).

Air buangan dari tangki septik dapat dialirkan menuju pipa saluran drainase primer atau
menuju ke peresapan. Peresapan dapat dibuat bentuk sumuran atau bentuk lapangan.
Peresapan sumuran dapat dibuat pada lokasi dimana kondisi muka air tanah
rendah,misalnya sedalam 7 meter dari muka tanah. Untuk Muka air tanah sedalam kurang
dari 2 meter, sebaiknya menggunakan peresapan lapangan. Peresapan lapangan dapat
dibuat berbagai macam bentuk yang tergantung dari tersedianya dana dan luas lahan
(tanah) yang tersedia. Jika lahan untuk peresapan cukup luas, peresapan lapangan dapat
dibuat 2, 3 atau 4 lajur. Jika lahan sempit, cukup dibuat 1 lajur saja. Bahan pipa untuk
peresapan lapangan, dapat dibuat dari pipa PVC/UPVC, pipa beton atau pipa tanah liat
lokal/pabrik. Tetapi untuk pipa-pipa tersebut sebaiknya berbentuk pervorasi (berlubang-
lubang) yang berfungsi untuk menyebarkan aliran air buangan kesegala arah. Jika tidak
didapat pipa bentuk pervorasi, untuk pipa beton maupun pipa tanahliat, maka
penyambungan pipa tersebut tanpa spesi (adukan), cukup ditutup dengan batu bata.
Sedangkan untuk pipa PVC/UPVC dapat dibuatkan lubang-lubang.

II-8
Gambar 2. 3 Peresap Sumuran
Sumber : Pramadhita, 2006

4. Beerput

Sistem ini merupakan gabungan antara bak septik dan peresapan. Oleh karena itu
bentuknya hampir seperti sumur resapan (Sugiharto 1987). Untuk penerapan sistem
beerput, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu tinggi air dalam saluran
beerput pada musim kemarau tidak kurang dari 1,3 m dari dasar, jarak dengan sumur
minimal 8 m, volume diameternya tidak boleh < 1m dan apabila dibuat segi empat maka
sisi-sisinya harus lebih besar dari 0. 9 m.

Gambar 2. 4 Beerput
Sumber :Pramadhita, 2006

2.3.2 Sistem Pengelolaan Air Buangan Off Site


Sistem sanitasi terpusat (off site sanitation) merupakan sistem pembuangan air buangan
rumah tangga (mandi, cuci, dapur, dan limbah kotoran) yang disalurkan keluar dari lokasi
pekarangan masing-masing rumah ke saluran pengumpul air buangan dan selanjutnya
disalurkan secara terpusat ke bangunan pengolahan air buangan sebelum dibuang ke badan
perairan.

II-9
Gambar 2. 5 Skema Sistem Penyaluran Terpusat
Sumber : Zevri, 2010

Sistem penyaluran air buangan terdiri dari 5 sistem (Babbit, 1982):


1. Sistem terpisah (separate system) dan sistem tercampur (combinate system)
a. Sistem terpisah
1) Diterapkan bila suatu daerah mempunyai fluktuasi hujan yang besar;
2) Penyaluran air buangan (sanitary sewage) dan air hujan (storm sewage) terpisah;
3) Masing-masing mempunyai saluran sendiri;
4) Saluran air buangan menggunakan saluran tertutup;
5) Saluran air hujan menggunakan saluran terbuka dan konstruksi mudah.
6) Keuntungan dari sistem ini ialah diameter pipa air buangan lebih kecil karena hanya
untuk air buangan saja, tidak dipengaruhi oleh perbedaan debit musim hujan ataupun
kemarau, dan debit air buangan (Qab) kecil dan lebih higienis;
7) Kerugian dari sistem ini ialah biayanya lebih besar karena ada 2 saluran dan beban
pengolahan untuk Bangunan Pengolahan Air Buangan (BPAB) lebih besar.

Gambar 2. 6 Skema Sistem Penyaluran Terpisah


Sumber : Zevri, 2010
II-10
b. Sistem tercampur (Combinate System)
1) Penyaluran air hujan dan air buangan disatukan;
2) Lebih cocok untuk daerah yang fluktuasi hujan dan kemarau kecil dimana
mempunyai perbedaan yang sedikit sekali;
3) Dapat berupa saluran tertutup/terbuka.
4) Keuntungan dari sistem ini yaitu memperhatikan purification alamiah sehingga
beban pengolahan berkurang;
5) Kerugian dari sistem ini yaituDiameter saluran lebih besar, kurang efisien karena
saluran panjang dan diameter besar, pemakaian sebentar tidak ekonomis, biaya
operasi dan pemeliharaanbesar, debit pengolahan lebih besar dan kurang higienis.

Gambar 2. 7 Skema Sistem Penyaluran Tercampur


Sumber :Zevri, 2010

2. Small Bore Sewers


a. Sistem penyaluran air efluen tangki septik dan/atau air limbah cucian (grey water);
b. Keadaan pengaliran bertebaran, tetapi gradien hidrolisnya masih di bawah elevasi
tangki septik dan alat-alat saniter daerah pelayanannya tidak terjadi air balik
(backwater);
c. Diameter saluran lebih kecil;
d. Lebih cocok diterapkan untuk daerah di mana semula sistem penyaluran air
buangannya adalah sistem setempat (tangki septik dan bidang rembesan);
e. Dialirkan ke BPAB;
f. Sebaiknya td ≤ 10 menit agar tidak septik (DO <);
g. Isi tangki septik secara periodik perlu dikuras dan diolah di IPLT (Instalasi
Pengolahan Limbah Tinja).

II-11
Gambar 2. 8 Sistem Penyaluran Riol Ukuran Kecil
Sumber : Zevri, 2010

3. Shallow Sewer
a. Sistem riol dengan pembebanan pipa relatif dangkal;
b. Luas dan unit pelayanan sistem riol maksimum sekitar 4 unit luas daerah pelayanan
retikulasi;
c. Satu unit daerah retikulasi sama dengan 800 jumlah rumah ukuran riol 225 mm, jadi 4
kali 800 sambungan rumah yang masuk ke BPAB;
d. Luas maksimum daerah pelayanan shallow sama dengan 4 kali 25 Ha adalah 100 Ha
dengan kepadatan rata-rata 160 jiwa/Ha.

(A) (B)
Gambar 2. 9 Layout saluran Shallow Sewerage pada perumahan tidak
teratur (A) dan teratur (B).
Sumber : Pramadhita, 2006

II-12
4. Pressure sewer
Pressure sewer adalah sistem saluran pembuangan terpusat yang memanfaatkan kecil,
bertenaga, pompa penggiling rendah setiap properti yang kemudian terhubung ke jaringan
debit terpusat. Tekanan dibuat pada setiap sambungan properti memungkinkan limbah
yang akan diangkut ke pabrik pengolahan atau lain sistem saluran pembuangan yang
menghubungkannya.

Gambar 2.10 Pressure Sewer


Sumber: http://clsholdings.us/low-pressure-sewer-systems

5. Vaccum sewer
Sistem saluran pembuangan vakum yang menggunakan tekanan diferensial antara tekanan
atmosfer dan vakum parsial yang dipertahankan dalam jaringan pipa dan stasiun vakum
kapal koleksi. Tekanan diferensial ini memungkinkan stasiun vakum sentral untuk
mengumpulkan air limbah dari beberapa ribu rumah masing-masing, tergantung pada
medan dan situasi lokal. Vaccum selokan memanfaatkan lereng alam yang tersedia di
daerah dan yang paling ekonomis dalam tanah berpasir datar dengan air tanah yang tinggi.

Gambar 2.11 Vaccum Sewer


Sumber: http://www.airvac.com
II-13
2.4 Perhitungan Hidrolis Perpipaan
Dalam perhitungan hidrolisis perpipaan di dalam penyaluran air buangan ini terdapat
beberapa metoda dasar dalam analisis aliran dalam pipa riol, di antaranya :
1. Persamaan Kontuinitas
Persamaan ini digunakan dalam alkiran tunak tak bertekanan, persamaan yang digunakan
adalah:

Q = A1 x v1 = A2 x v2 = tetap ……………………………………………………...(2.1)

Dimana: Q = debit aliran (m3/dt)


A1, A2 = luas penampang (m2)
V1, V2 = keceptan (m/dt)

2. Persamaan Momentum
Untuk memperoleh gaya-gaya aliran:
ρxQ
∑F x= ( ) [(vx )2- (vx )1] …………….………………………………………(2.2)
q

Dimana: ΣFx = jumlah gaya-gaya luar aliran badan cairan (kg)


ρ = berat jenis cairan (kg/m3)
Q = debit aliran (m3/dt)
q = gaya gravitasi (9,81 m2/dt)
vx = kecepatan rata-rata sepanjang arah aliran (m/dt)
1,2 = penampang 1, 2 dengan Q tetap

3. Persamaan Energi
Energi mekanis akibat tinggi tempat dan tekanan. Nilai energi spesifik per kg air pada
setiap titik sepanjang jalur dalam pipa adalah:
v2
H0 = d + hp + (2g) …………………………………………………………………(2.3)

Dimana: H0 = tinggi energi spesisifik (m)


d = kedalaman aliran diatas dasar saluran (m)
hp = tinggi tekan (m)
v = kecepatan (m/dt)
g = percepatan gravitasi (9,81 m2/dt)

Persamaan di atas ditulis terhadap bidang persamaan horizontal dengan persamaan


Bernoulli sebagai berikut:
v2 v2
Z1 + 2g1 + hp1 + d1 + E1 = Z2 + 2g2 + hp2 + d2 + E2 …………………………………………………………(2.4)

Dimana : Z = elevasi saluran


E = energy tambahan dari luar oleh pompa (m)
hf = kehilangan tekanan akibat geseran/ turbulensi sepanjang pipa

II-14
4. Persamaan Geser Aliran
Air mengalir dalam pipa oleh adanya gaya gravitasi dan pompa. Tinggi tekan atau
perbedaan elevasi yang dibutuhkan untuk air mengalir disebut kehilangan tekanan atau
energi. Kehilangan energi akibat geseran oleh kekasaran pipa disebut kehilangan energi
mayor, sedangkan kehilangan energi oleh perubahan arah dan sebagiannya disebut
kehilangan energi minor.
Persamaan yang digunakan dalam pipa adalah:
a. Persamaan Darcy-Weisbach
L v2
H=f ……………………………………………………………(2.5)
d 2g

Dimana: H = kehilangan tekanan (m)


F = Faktor gesekan Darcy-Weisbach
v = kecepatan rerata (m/dt)
g = percepatan gravitasi (9,81 m/dt2)
L = panjang pipa (m)
D = diameter pipa (m)

b. Persamaan Hazen William


Q = 02785 C d2,63 S0,54 ……………………………………………………………..(2.6)
Dimana: Q = debit aliran (m3/dt)
d = diameter pipa (m)
S = kemiringan gradient hidrolik
C = koefisien Hazen William
100-140 untuk air limbah baku (riol)
120-130 tergantung pada bahan pipa
100untuk air limbah terolah

c. Persamaan Manning
𝐴
Q = 𝑁 R2/3 S1/2 ……………………………………………………………………..(2.7)

Dimana: Q = debit aliran (m3/dt)


n = koefisien kekasaran Manning
R = jari-jari hidrolis (m)
S = kemiringan pipa (m/m)

II-15
Gambar 2.12 Desain untuk Profil Pipa Bulat Lingkaran
Sumber: Babbit, 1982

Tabel 2.1 Koefisien Kekasaran Manning


Bahan Pipa Koefeisien Kekasaran Manning (n)
Pipa semen asbes 0,0011 – 1,015
Bata 0,012 – 0,018
Pipa beton 0,011 – 0,015
Beton kasar 0,015 – 0,020
Pipa baja gelombang 0,022 – 0,026
Pipa plastik 0,011 – 0,015
Pipa keramik 0,011 – 0,015
Sumber: Tim Dosen Teknik Lingkungan Unand, 2017

Persamaan yang digunakan dalam desain saluran air buangan biasanya adalah persamaan
Hazen-Williams dan persamaan Manning. Persamaan Manning telah diaplikasikan secara luas
dalam saluran air buangan, berlaku baik untuk saluran aliran penuh daln aliran sebagian
penuh yang terakhir adalah kondisi yang paling sering ditemui. Tiga bentuk dari persamaan
Manning yang sering digunakan adalah:

1
v = 𝑛 R2/3 S1/2 ………………………………………………………………………. (2.8)

2 2
(v ) (n )(6,3448) ………………………………………………………………(2.9)
S= D1,333

1
Q= R2/3 S1/2 A ……………………………………………………………………...(2.10)
𝑛

Dimana: v = kecepatan (m/s)


R = jari-jari hidrolik
S = garis kemiringan energy (m/m)
D = dimeter pipa (m)
Q = laju aliran (m3/s)
A = luas permukaan melintang aliran (m2)

II-16
Untuk pipa aliran peuh atau setengah penuh, bentuklain persamaan Manning adalah:

1
v = 𝑛 R2/3 S1/2 ……………………………………………………………………………(2.11)

2 2
(v ) (n )(6,3448) ……………………………………………………………....(2.12)
S= D1,333

1
Q= R2/3 S1/2 A ……………………………………………………………………….(2.13)
𝑛

2.5 Perhitungan Debit Air Buangan

Khusus untuk air limbah yang berasal dari industri, besarnya debit tergantung dari jenis dan
kapasitas produksi dari industri itu sendiri sehingga tidak ada ketentuan baku untuk
perhitungannya, sedangkan air limbah yang berasal dari domestik dapat dilakukan pendekatan
rumus sebagai berikut (Metcalf and Eddy, 1979):
Qrata = (60% - 80%)  Qam
……………………………………………………...(2.14)
Dimana: Qr = debit air limbah rata-rata (liter/detik) ;
Qair bersih = debit pemakaian air bersih (liter/detik);

Air yang masuk ke dalam jalur perpipaan pada pengaliran air buangan, juga akan bertambah,
yaitu air yang berasal dari infiltrasi tanah, air hujan dan air permukaan.
Debit infiltrasi air tanah berkisar 1-3 l/detik/1000 m panjang pipa, resapan air tanah ke dalam
sistem di perhitungkan dengan persamaan (Hardjosuprapto, 2000) :
L  qinf
Qinf = .................................................................................................................................(2.15)

Dimana: Qinf = debit tambahan dari limpasan air hujan (l/detik);


L = panjang lajur pipa (m);
qinf = debit satuan infiltrasi dalam pipa, harganya antara 1-3 l/detik/km dari debit

Besarnya harga debit harian maksimum (Qmd) bervariasi antara 1,1-1,25 dari debit rata-rata air
buangan (DPU, 1986). Rumus yang digunakan adalah (Hardjosuprapto, 2000):

fmd  Qrata
Qmd =.................................................................................................................................(2.16)

Dimana: Qmd = Debit air buangan maksimum dalam 1 hari (l/detik)


fmd = Faktor debit harian maksimum = 1,1-1,25
Qrata = Debit rata-rata air buangan (l/detik)

Sistem sistem riol ukuran (small bore sewer) mempunyai debit maksimum (Qmax) sama besar
dengan debit rata-rata (Qr). Hal ini disebabkan adanya tangki interseptor yang berfungsi juga
II-17
sebagai penyeimbang aliran yang masuk ke saluran menjadi rata-rata. Aliran air buangan yang
masuk ke saluran akan berkurang dalam tangki. Besarnya pengurangan ini merupakan fungsi
dari luas permukaan cairan tangki dan lamanya waktu pembuangan ke dalam tangki.
Berdasarkan penelitian yang ada, besarnya faktor puncak (fp) mencapai 1,2 -1,3 bahkan 2.
Rumus yang digunakan adalah (Hardjosuprapto, 2000):
Qp = Qr × fp .....................................................................................................................(2.17)

Dimana: Qp = Debit puncak (l/detik)


fP = Faktor puncak = 1,2 – 2

Perhitungan debit minimum dari air buangan diperlukan dalam perencanaan penyaluran dan
instalasi pengolahan air buangan, karena pada kondisi ini aliran akan menjadi kecil. Hal ini
dapat menimbulkan pengaruh pada saluran air buangan yaitu :
1. Aliran menjadi lambat dan memungkinkan terjadinya pengendapan partikel air dalam
saluran;
2. Adanya pengendapan dan aliran yang lambat akan menyebabkan pembusukkan zat-zat
organik yang terdapat di dalam air buangan tersebut oleh aktivitas bakteri;
3. Perlu atau tidaknya suatu bangunan penggelontor dengan mengetahui kondisi aliran
maksimum.
Debit minimum diperoleh dari persamaan:
fmin  Qrata
Qmin =.................................................................................................................................(2.18)

Dimana : Qmin = Debit hari minimum (l/detik)


fmin = Faktor debit hari minimum = 0,3 – 0,5

Debit perencanaan yang merupakan akumulasi debit puncak dengan debit infiltrasi dalam
desain penyaluran dan instalasi pengolahan air buangan (Hardjosuprapto, 2000):

Qdesain.................................................................................................................................(2.19)
= Qp + Qinf

Kandungan yang ada dalam air buangan adalah bahan organik dan bahan anorganik.
Sedangkan debit air buangan sangat bergantung kepada (Metcalf & Eddy, 1979):
1. Pemakaian air minum, biasanya 60-80% dari debit air minum;
2. Jenis sambungan rumah;
3. Untuk industri, tergantung dari jenis industrinya;
4. Untuk daerah komersil tergantung dari jenis penggunaan daerah tersebut (misalnya untuk
hotel, restoran, toko dan lain-lain).

II-18
2. 6 Kriteria Perencanaan

2. 6. 1 Kecepatan Aliran

Dalam kriteria perencanaan air buangan kecepatan adalah hal penting yang harus
diperhatikan. Kecepatan aliran dibagi dua, yaitu (Babbit, 1982):
1. Kecepatan maksimum
a. Jika air buangan mengandung pasir, v = 2 - 2,4 m/det;
b. Jika air buangan tanpa pasir, v = 3 m/det.
Kecepatan di atas memenuhi kebutuhan untuk mengantarkan air buangan secepatnya
menuju instalasi, tidak terjadi penggerusan sehingga ketahanan pipa dapat dijaga.
2. Kecepatan minimum
a. Untuk daerah datar, v = 0,6 m/det;
b. Daerah tropis, v = 0,9 m/det
Kecepatan diatas mempertimbangkan kemampuan air buangan untuk self purification dan
mencegah air buangan lebih lama dalam pipa (sulfur tidak mengoksidasi pipa).

2. 6. 2 Kedalaman Aliran

Kedalaman aliran pada saluran air buangan sangat mempengaruhi kecepatan aliran.
Hubungannya dapat dilihat pada di bawah ini (Babbit 1960):
1. Kedalaman minimum pada pipa PVC adalah 5 cm, sedangkan beton 7,5-10 cm;
2. Kedalaman berenang adalah kedalaman yang dianggap mampu membawa partikel saat
kecepatan minimum. Pada saat debit minimum dan kedalaman berenang tidak tercapai,
maka saluran harus digelontor;
3. Kedalaman maksimum adalah 2/3 dari diameter pipa.

Hubungan kedalaman aliran dengan diameter saluran :


1. Awal saluran (d/D) = 0,6;
2. Akhir saluran (d/D) = 0,8.
Jika d/D>0,8 maka diameter atau kemiringan saluran harus diperbesar. Sedangkan untuk
kedalaman maksimum (d max) = 2/3 D.

2. 6. 3 Kemiringan Saluran

Kemiringan saluran berpengaruh besar terhadap kecepatan aliran, biaya operasi dan
pemeliharaaan serta berhubungan dengan kedalaman pemasangan pipa. Pada penyaluran air
buangan, dikenal dua sistem pengaliran yang digunakan dan keduanya menggunakan
kemiringan yang berbeda yaitu (Babbit, 1982):
II-19
1. Pengaliran secara gravitasi, yaitu pengaliran yang memanfaatkan gaya gravitasi untuk
mengalirkan air dalam saluran baik saluran terbuka maupun saluran tertutup. Kemiringan
saluran disesuaikan antara topografi dengan rentang kemiringan yang diperbolehkan.
2. Pengaliran yang bertekanan atau menggunakan pompa, yaitu pengaliran yang terjadi
karena ada pemompaan yang dilakukan dalam saluran tertutup karena muka air tidak dapat
berhubungan secara bebas dengan atmosfer. Pompa biasanya dipakai pada daerah
cenderung mendatar atau mendaki. Kemiringan saluran dibuat efisien agar penggunaan
pompa dapat dihemat.

Kemiringan (slope) dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain (Nugroho, 2005):
1. Debit aliran;
2. Diameter pipa;
3. Profil dan badan jalan;
4. Kecepatan aliran yang diinginkan;
5. Karakteristik air buangan;
6. Kondisi daerah dan topografinya.

Mengingat sifat aliran air alami adalah aliran terbuka dan memanfaatkan gravitasi, maka
kemiringan saluran sangat berpengaruh pada kecepatan aliran. Dalam hal ini kemiringan
harus diusahakan sekecil mungkin, tapi mampu memberikan kecepatan yang diharapkan.
Keterangan lebih lanjut mengenai hubungan antara diameter pipa dengan slope dapat dilihat
pada Tabel 2.2 dibawah ini.

Tabel 2. 2 Kemiringan Pipa Untuk Berbagai Diameter


Diameter
Kemiringan
(inci) (mm)
8 200 0,0040
10 250 0,0030
12 300 0,0022
15 375 0,0015
18 450 0,0012
21 525 0,0010
24 600 0,0009
>27 675 0,0008
Sumber: Design and Construction of Sanitary and Storm Sewer, 1968

2. 6. 4 Perletakan Saluran

Perletakan saluran merupakan kriteria perencanaan yang penting dalam penyaluran air
buangan. Hal- hal yang harus diperhatikan dalam perletakan saluran adalah (Babbit, 1982):
1. Saluran mengikuti jalan yang ada;
2. Pengaruh bangunan yang sudah ada;
II-20
3. Jenis dan kondisi topografi tanah yang akan dilalui pipa;
4. Adanya saluran lain, jika ada maka saluran air buangan diletakkan paling bawah;
5. Ketebalan tanah urugan dan kedalaman pipa, minimal 1,2 m dan maksimum 7 m.

Penempatan pipa pada jaringan jalan (Metcalf & Eddy, 1979):


1. Penempatan saluran pada sisi jalan dengan elevasi yang lebih tinggi, yaitu bila jalan-jalan
dengan rumah atau bangunan di satu sisi lebih tinggi dari sisi lain;

Saluran pipa

Gambar 2. 13 Penempatan Saluran pada Sisi Jalan dengan Elevasi yang Lebih Tinggi
Sumber: Metcalf & Eddy, 1979

2. Penempatan saluran pada tepi jalan, sebaiknya di bawah trotoar atau tanggul jalan untuk
menjaga kemungkinan dilakukan penggalian dikemudian hari untuk perbaikan;

Saluran pipa

Gambar 2. 14 Penempatan Di Tepi Jalan


Sumber: Metcalf & Eddy, 1979

3. Penempatan saluran pada tengah, bawah jalan, bila jalan tidak terlalu lebar dan penerimaan
air buangan dari dua arah, yaitu kanan dan kiri jalan;

Saluran pipa

Gambar 2.15 Penempatan Di Tengah


Sumber: Metcalf & Eddy, 1979

II-21
4. Penempatan saluran pada tepi jalan pada bagian yang paling banyak memberikan beban air
buangan, bila penerimaan beban air buangan dari kiri dan kanan jalan tidak sama;

Saluran pipa

Gambar 2. 16 Penempatan Di Tepi Jalan pada Bagian yang paling Banyak Memberikan Beban
Air Buangan
Sumber: Metcalf & Eddy, 1979

5. Penempatan saluran pada kedua sisi jalan, bila di sebelah kanan dan kiri jalan terdapat
banyak sekali rumah atau bangunan;

Saluran pipa

Gambar 2. 17 Penempatan Di Kedua Sisi Jalan


Sumber: Metcalf & Eddy, 1979

6. Penempatan saluran pada tengah jalan bila jalan tersebut mempunyai jumlah rumah atau
bangunan sama banyak di kedua sisinya dan mempunyai elevasi lebih tinggi dari jalan.

Saluran pipa

Gambar 2. 18 Penempatan Di Tengah Jalan yang Mempenyai jumlah Rumah atau Bangunan
yang Sama Banyak
Sumber: Metcalf & Eddy, 1979

II-22
2. 6. 5 Waktu Tempuh

Pengaliran harus tiba secepatnya ke BPAB untuk menghindari terjadinya pembusukan, untuk
itu disyaratkan pengaliran tidak lebih dari 18 jam (Babbit, 1982). Rumus waktu tempuh
(Babbit,1960):

T = Li / Vi ≤ 18 jam
.......................................................................................................................................... (2. 20)

Dimana:
Li= jarak yang ditempuh tiap segmen (m)
Vi = kecepatan aliran tiap segmen pipa (m/det)

2. 6. 6 Jenis dan Profil Saluran

Beberapa pertimbangan dalam pemilihan bentuk pipa ialah:


1. Segi hidrolis pengaliran, dipertimbangkan kedalaman berenang dan kecepatan minimum;
2. Segi kontruksi
Harus tertutup, kedap air, memiliki kekuatan dan daya tahan yang cukup besar.
3. Kondisi lapangan dan topografi
Jika daerahnya memiliki kemiringan yang cukup untuk mengalirkan digunakan saluran
bersifat terbuka dalam saluran tertutup, namun untuk daerah yang relatif datar digunakan
saluran tertutup (sebaiknya dihindarkan karena biaya akan bertambah besar.
4. Ketersediaan tempat untuk penempatan saluran
Jika lahan cukup besar lebih baik menggunakan saluran tipe trapesium, sedangkan jika
lahannya kecil sebaiknya digunakan yang berbentuk segitiga atau segiempat.
5. Segi ekonomis dan teknis
Mempertimbangkan biaya yang akan digunakan pada perancangan (cost minimal) dan
kemudahan dalam konstruksi.
6. Bentuk-bentuk pipa yang digunakan bulat lingkaran, debit konstan dan diameter kecil.

Bentuk-bentuk dari saluran air buangan adalah (Babbit, 1982):


1. Saluran terbuka, bentuk saluran yang dipakai yaitu:
a. Saluran terbuka dengan fluktuasi aliran kecil

Gambar 2. 19 Saluran terbuka dengan fluktuasi aliran kecil


Sumber : Pramadhita, 2006

II-23
b. Saluran terbuka dengan fluktuasi besar

Gambar 2. 20 Saluran terbuka dengan fluktuasi aliran besar


Sumber : Pramadhita, 2006

2. Bentuk saluran yang dipakai untuk saluran tertutup:

Bulat telur Bulat lingkaran persegi


Gambar 2.21 Saluran tertutup
Sumber :Pramadhita, 2006

Keuntungan dan kerugian saluran yang berbentuk bulat telur:


1. Kedalaman (d) berenang lebih tinggi;
2. Dapat mengatasi fluktuasi yang berlebihan;
3. Sambungannya susah dalam pemasangan;
4. Biayanya lebih mahal;
5. Sulit diperoleh di pasaran.

Keuntungan dan kerugian saluran yang berbentuk bulat lingkaran:


1. Lebih kuat;
2. Gaya-gaya yang terjadi lebih merata;
3. Mudah didapat;
4. Diameter dan panjangnya terbatas.

Keuntungan dan kerugian saluran berbentuk persegi:


1. Bisa dibangun di tempat;
2. Kurang dan tidak begitu kuat;
3. Lebih tebal;
4. Gaya-gaya yang terjadi tidak terurai dengan merata.

II-24
Jenis-jenis pipa yang ada pada jaringan perpipaan air buangan ialah (Babbit, 1982):
1. Pipa persil
Adalah pipa yang langsung menerima air buangan dari sumbernya. Letaknya di
pekarangan rumah atau gedung. Biasanya berdiameter 4-5 inchi dan berupa pipa PVC.
2. Pipa servis
Adalah pipa yang menerima air buangan dari pipa persil. Letaknya di luar pekarangan
rumah atau gedung. Biasanya berdiameter 6-8 inchi. Pemasangan pipa servis dapat
dilakukan dengan dua sistem, yaitu:
3. Sistem brandgang (dibelakang rumah)
Sistem penyaluran air buangan dari pipa persil dari belakang rumah.
4. Sistem trotoir (didepan rumah)
Sistem penyaluran air buangan dari pipa persil dari depan rumah.
5. Pipa lateral
Pipa yang menerima air buangan dari pipa servis. Letaknya memanjang di sepanjang jalan
di depan rumah/gedung. Biasanya berdiameter 8 inchi.
6. Pipa cabang
Pipa yang menerima air buangan dari pipa lateral dan berdiameter minimal 8 inchi.

7. Pipa induk
Pipa yang menerima air buangan dari pipa cabang dan membawanya ke BPAB.

1 1
1 1 1
2
2

4
5

BPAB

Gambar 2. 22 Istilah jaringan perpipaan air buangan


Sumber :Pramadhita, 2006

II-25
Keterangan:
1. Pipa persil
2. Pipa servis
3. Pipa lateral
4. Pipa cabang
5. Pipa induk

Material pipa yang digunakan dalam penyaluran air buangan:


1. Pipa Plastik/ Polyvinyl chloride (PVC)
Polyvinyl chloride (PVC) adalah pipa yang terbuat dari plastik dan beberapa kombinasi
vinyl lainnya. Memiliki sifat yang tahan lama dan tidak gampang dirusak. Pipa PVC juga
tidak berkarat atau membusuk (Pramadhita, 2006).

Kekurangan:
a. Kurang tahan terhadap sinar ultraviolet, sehingga sebaiknya diberi lapisan penutup;
b. Diameternya relative kecil.

Kelebihan:
a. Ringan, mudah penanganan dan pemasangannya;
b. Tahan asam dan reaktifitas rendah;
c. Kekuatannya tinggi;
d. Lajurnya panjang;
e. Kedap air dan halus;
f. Lebih fleksibel.

Gambar 2.23 Pipa PVC


Sumber : Pramadhita, 2006

2. Pipa Besi/ Baja (GIP /Galvanized Iron Pipe)


Kelebihan pipa besi sangat tahan lama dan dapat digunakan untuk pelayanan lebih dari
100 tahun. Pipa besi dalam penggunaannya dengan cara di las. Dapat digunakan untuk air
panas dan air dingin. Kekurangannya tidak tahan terhadap korosi, yang dapat
menghasilkan tuberculation fenomena yang disebut, di mana skala lapisan karat dalam

II-26
pipa, mengurangi diameternya dan meningkatkan kekasaran relatif. Kombinasi dari efek
ini dapat menghasilkan penurunan kapasitas hidrolik dari 70 persen atau lebih. Eksternal
korosi pipa besi jarang masalah besar karena ketebalan dinding yang relatif hebat. Dalam
kondisi tanah terutama yang tidak menguntungkan, mungkin dikemas dalam tabung
polietilen sebagai hasil konstruksi. Teknik ini telah terbukti efektif dalam melindungi pipa
terhadap korosi eksternal.

Gambar 2.24 Pipa Besi


Sumber : Pramadhita, 2006

3. Pipa Beton (Concrete Pipe)


Kelebihannya beton pipa silinder sering digunakan dalam penyaluran air.
Kekurangannya pipa beton (kecuali dalam kasus air asam) tidak tahan pada korosi dan
tidak menderita rugi dalam kapasitas hidrolik dengan usia. Sebuah perkiraan yang wajar
dari umur adalah 75 tahun.

Gambar 2.52 Pipa Beton


Sumber : Pramadhita, 2006

4. Pipa Clay (Tanah Liat)


Kekurangan;
a. Mudah pecah;
b. Untuk diameter kecil, ukurannya pendek.

II-27
Kelebihan;
a. Tahan terhadap asam, sehingga tidak perlu diberi lapisan gelas email, kecuali jika
diperlukan untuk kehalusan permukaan dinding bagian dalam.

Gambar 2. 26 Pipa Beton


Sumber : Pramadhita, 2006

5. Pipa Fiberglass
Kekurangan:
a. Harganya sangat mahal.
Kelebihan:
a. Sangat tahan terhadap asam dan elastis;
b. Tahan terhadap korosi (air limbah industri);
c. Cocok untuk pipa induk karena diameternya besar.

6. Pipa Asbes
Asbeston telah terbukti menjadi karsinogen ketika serat yang terhirup, dan ada beberapa
bukti meskipun masih bisa diperdebatkan, bahwa serat asbes dalam air dapat menyebabkan
kanker untestinal juga. Tidak ada standar wajib untuk asbes di air ini telah ditetapkan
sebagai tahun 1989. Serat asbes ditemukan di beberapa perairan alami dan dapat
kehabisan dari pipa semen asbes oleh perairan yang sangat agresif-orang yang
membubarkan semen itu sendiri. Beberapa utilitas air tidak lagi menggunakan pipa asbes
semen dalam konstruksi baru. Kelebihannya adalah memiliki karakteristik hidrolik yang
sangat baik.

7. Pipa HDPE
Keuntungan pipa HDPE adalah:
a. Pipa HDPE memiliki berat jenis material yang relatif lebih ringan dibandingkan baja,
sehingga memudahkan handling material di site, mengingat pembangunan pembangkit
listrik tenaga air relatif lebih banyak di daerah pegunungan.

II-28
b. Pipa HDPE relatif lebih mudah dalam penyambungannya, karena hanya menggunakan
sistem pemanasan untuk menyambung (butt joint).
c. Pipa HDPE relatif lebih murah dibandingkan pipa baja.
d. Pipa HDPE memiliki kemampuan menahan tekanan sampai 6,3 bar.

Gambar 2. 27 Pipa HDPE


Sumber : Pramadhita, 2006

Material saluran yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat secara teknis yaitu:
1. Saluran harus tertutup;
2. Kedap air, sehingga kemungkinan terjadinya infiltrasi bisa diatasi.

Selain syarat-syarat di atas, dalam pemilihan material saluran air buangan juga harus
memperhatikan faktor-faktor berikut ini:
1. Saluran harus tertutup;
2. Kedap air, sehingga kemungkinan terjadinya infiltrasi akan bisa diatasi;
3. Material saluran yang dipakai harus dapat mengalirkan air buangan dengan baik;
4. Memiliki kekuatan dan daya tekan yang tinggi;
5. Tahan terhadap asam dan korosi;
6. Kekasaran pipa, yang akan mempengaruhi aliran dalam saluran;
7. Kemudahan dalam konstruksi, mudah didapat di pasaran;
8. Tanah tempat penanaman pipa.

Material-material saluran yang disebut diatas mempunyai kekurangan dan kelebihan


tersendiri. Hal ini harus diperhatikan dalam pemilihan material saluran sehingga bisa
disesuaikan dengan situasi dan kondisi dimana saluran akan dibangun.

2. 6. 7 Pola jaringan Saluran

Pola-pola jaringan sistem penyaluran air buangan itu adalah (Metcalf & Eddy, 1979):
1. Pola interseptor, digunakan untuk sistem terpisah dan tercampur dan umumnya digunakan
karena faktor curah hujan yang besar;

II-29
Gambar 2. 28 Pola Interseptor
Sumber : Metcalf & Eddy, 1979

2. Pola zona, digunakan untuk sistem tercampur dan diterapkan pada daerah pelayanan yang
terbagi-bagi oleh adanya sungai, dimana pipa penyebarangan/perlintasannya mahal;

Gambar 2. 29 Pola Zona


Sumber : Metcalf & Eddy, 1979

3. Pola fan, digunakan untuk sistem terpisah dan pada daerah pelayanan yang terletak pada
suatu lembah.

Gambar 2. 30 Pola Fan


Sumber : Metcalf & Eddy, 1979

4. Pola radial, digunakan untuk sistem tercampur dan terpisah dengan pola jaringan
pengaliran dari tengah kota, menyebar ke segala arah memerlukan instalasi yang banyak,
dan cocok diterapkan pada daerah pelayanan yang berupa bukit.

II-30
Gambar 2. 31 Pola Radial
Sumber : Metcalf & Eddy, 1979

5. Pola Perpendicular (Tegak Lurus)


Pola ini dapat diterapkan untuk sistem jaringan penyaluran air buangan pada sistem
terpisah maupun tercampur, namun pada pola ini banyak diperlukan Bangunan Pengolahan
Air Buangan (BPAB).

Gambar 2.32 Pola Perpendicular


Sumber : Metcalf & Eddy, 1979

Dalam penentuan pola jaringan yang akan dibuat pada suatu kota/wilayah/daerah
perencanaan, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, yakni:
1. Tipe saluran air buangan;
2. Luas dan jalur jalan;
3. Topografi, hidrologi, dan geologi;
4. Batas kota/wilayah/daerah perencanaan;
5. Lokasi pengolahan dan pembuangan.

2. 6. 8 Kedalaman Pemasangan Saluran

Penentuan kedalaman pemasangan berdasarkan pada kebiasaan dan pengalaman. Kedalaman


pemasangan juga berbeda untuk masing-masing jenis pipa penyaluran. Biasanya untuk pipa

II-31
persil 0,45 m, pipa servis 0,6 mm dan pipa lateral dan selanjutnya antara 1 s/d 1,2 m (Babbit,
1982).

2. 6. 9 Bangunan Pelengkap

Beberapa bangunan pelengkap dalam penyaluran air buangan (Babbit, 1982):

2. 6. 9. 1. Manhole

Merupakan lubang pada jalur pipa yang berfungsi untuk mengontrol dan membersihkan
saluran. Manhole ditutup dan dilengkapi dengan ventilasi udara, ukurannya biasanya 80-100
cm. Manhole biasanya diletakkan pada:
1. Setiap perubahan diameter;
2. Setiap perubahan kemiringan saluran;
3. Setiap perubahan arah aliran (vertikal, horizontal > 22,5o);
4. Setiap pertemuan aliran/percabangan saluran.

Diameter manhole harus cukup untuk memasukkan pekerja dan peralatannya. Diameter juga
bervariasi ditiap kedalamannya. Data lebih lanjut dapat dilihat pada Tabel 2.3

Tabel 2.3 Diameter Manhole Pada TiapKedalaman Pipa


No Kedalaman (m) Diameter Minimum (mm)
1 <0,8 0,8
2 0,8-2,1 1
3 >2,1 1,5
Sumber: Metcalf & Eddy, 1991

Kriteria manhole:
1. Dinding dan pondasi kedap air;
2. Harus tahan terhadap gaya luar;
3. Luas manhole harus cukup dimasuki operator;
4. Badan manhole dapat berupa beton, pasangan batu kali dan beton bertulang;
5. Bagian atap (tutup) harus fleksibel, mudah diperbaiki, kuat menahan gaya di atasnya,
mudah didapat di pasaran dan berfungsi sebagai vent.
6. Semakin besar diameter pipa maka jarak antar manhole nya juga semakin besar dan
sebaliknya, seperti yang terlihat pada Tabel 2.4.
Tabel 2. 4 Jarak Manhole Pada Jalur Lurus
Diameter (mm) Jarak Manhole
100 – 500 50 – 100
500 – 1000 100 – 125
1000 – 2000 125 – 150
> 2000 150 - 200
Sumber : Metcalf & Eddy, 1979

II-32
Drop Manhole

Ada beberapa kriteria pemasangan dropmanhole dalam sistem penyaluran air buangan, yaitu:
1. Digunakan jika elevasi muka air riol penerima lebih rendah dan mempunyai beda tinggi ≥
0,45 m terhadap riol;
2. Riol pemasukan dibuat di luar manhole dengan sambungan Y atau T;
3. Digunakan untuk mencegah terjunan bebas air yang dapat merusak dasar manhole&
mengganggu operator.
4. Mengurangi gas H2S yang lepas.

Dua Jenis Drop Manhole yang sering digunakan:


1. Tipe Z (Pipa Drop 90o)
2. Tipe Y (Pipa Drop 45o)

(A) (B)
Gambar 2. 33 Manhole Riol Tipikal (A) dan Drop Manhole (B)
Sumber: Hardjosuprapto, 2000

2. 6. 9. 2 Penggelontoran (Clean Out)

Berfungsi sebagai tempat memasukkan alat pembersih ke saluran pipa untuk penggelontoran.
Biasanya ditempatkan pada ujung pipa lateral dan dekat dengan hidran kebakaran.

2. 6. 9. 3 Sumur Pompa (Lift Station)

Dibutuhkan dalam situasi dimana posisi tangki berada dibawah saluran, serta pada situasi
dimana penggalian lebih dalam akan lebih mahal daripada menyediakan liftstation.
Jumlah dan lokasi stasiun pompa biasanya ditentukan dan perbandingan biaya kontruksi dan
opearasi serta perawatan, dengan biaya konstruksi dan perawatan saluran berdiameter besar
dan dangkal.

II-33
2. 6. 9. 4 Bangunan Perlintasan (Siphon)

Siphon diperlukan bila saluran melewati jalan, sungai, jalan kereta api. Perlu diperhatikan:
1. Kehilangan energi, perlu diberikan tekanan udara;
2. Kemudahan dalam pemasangan dan pemeliharaan.

Kriteria perencanaan:
1. Diameter minimal 15 cm;
2. Pipa harus terisi penuh, agar air tetap mengalir;
3. Kecepatan minimal 1 m/det, bila tidak maka perlu disuntikkan udara;
4. Tidak boleh terlalu tajam belokannya;
5. Perencanaanya harus mempertimbangkan Qmin, Qmax dan Qrata-rata;
6. Pada awal atau akhir siphon dibuat manhole.

Perhitungan kehilangan tekanan dalam siphon sangat penting dalam perencanaan siphon,
sehingga diketahui perbedaan ketinggian pada awal dan akhir siphon.

Cara menghitung kehilangan tekanan siphon:

H = v2 ( 1+ a+ b+ L/D ) ............................................................................................. (2. 21)


2g

a=1 -1 ................................................................................................................... (2. 22)


b = 1,5 ( 0,01989 + 0,0005078/D ) .................................................................................. (2. 23)

Dimana: H = Kehilangan tekanan sepanjang siphon (m)


v = Kecepatan aliran dalam siphon (m/det)
g = Gravitasi (m/det2)
a = Koefisien kontraksi pada mulut dan belokan pipa
b = Koefisien gaya gesek antara air dan pipa
L = Panjang pipa (m)
D = Diameter pipa (m)
Sedangkan untuk menentukan dimensi pipa siphon:
Q = A . v = 1/4 D2. v .................................................................................................. (2. 24)

Dimana: Q = Debit air buangan (m/det)


A = Luas penampang pipa (m2)
D = Diameter pipa (m)

2. 6. 9. 5 Pompa dan rumah pompa


Fungsi pompa dalam penyaluran air(Zevri, 2010):
1. Mengangkat air dari tempat yang rendah ke yang lebih tinggi;
2. Memindahkan air buangan dari suatu zona ke zona lain;
II-34
3. Menghindari galian yang lebih dalam.

Rumah pompa dilengkapi dengan sumur pengumpul (wetwell) dengan waktu detensi 10-30
menit. Pompa yang biasa digunakan adalah pompa centrifugal non clogging yang terbagi atas
(Zevri, 2010):
1. Axial flow
Digunakan untuk air hujan. Karakteristik pompa ini: mahal, tekanan <9 meter dan Ns =
8000-16000 rpm. Gambar dibawah (Gambar 2. 34) merupakan axial flow.

Gambar 2.34 Axial Flow


Sumber: http://www.codecogs.com/library/engineering/aerodynamics/axial-flow-pumps-and-fans.php

2. Mixed flow
Digunakan untuk air hujan dan juga air buangan. Pompa ini memiliki Ns = 4200-9000 rpm
dan paling murah. Gambar dibawah merupakan mixed flow.

Gambar 2. 35 Mixed Flow


Sumber: http://www.codecogs.com/library/engineering/aerodynamics/axial-flow-pumps-and-fans.php

3. Radial flow
Digunakan untuk air buangan, dan banyak yang menggunakannya karena jarak antara
impellernya jauh, sehingga memperkecil penyumbatan. Ns = 4200-6000 rpm dan
harganya sedang. Gambar dibawah merupakan radial flow.

II-35
Gambar 2. 36 Radial Flow
Sumber: http://www.codecogs.com/library/engineering/aerodynamics/axial-flow-pumps-and-fans.php

Ns adalah spesific speed yang menunjukkan efisiensi dari pompa. Cara penentuannya
ialah (Zevri, 2010):

N Q
Ns  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . …….... . . . . . . . . . . . (2. 25)
H 0,75

dimana: Ns = Specific speed (rpm);


N = Jumlah putaran (putaran)
H = Head pompa (Kwatt).
Yang harus diperhatikan dalam perencanaan pompa:
a. Pompa yang direncanakan pada aliran puncak;
b. Head pompa dan jumlah pompa minimal 2 buah;
c. Pompa diatur otomatis sehingga pada saat waktu detensi tertentu pompa bekerja.
Gambar dibawah (Gambar 2.37) merupakan rumah pompa.

Gambar 2. 37 Rumah Pompa


Sumber: http://www.codecogs.com/library/engineering/aerodynamics/axial-flow-pumps-and-fans.php

8. Belokan
Hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan belokan(Zevri, 2010):
a. Pada belokan tidak boleh ada perubahan penampang melintang saluran;
b. Dinding bagian dalam dibuat selicin mungkin;
c. Bentuk harus seragam, baik radius atau kemiringannya;
d. Diatasnya harus ada manhole;
e. Radius lengkung pendek harus dihindari untuk mengurangi kehilangan tinggi tekan.
II-36
9. Junction dan transition
Junction adalah pertemuan beberapa saluran pada satu titik sedangkan transition adalah
perubahan dimensi saluran. Hal-hal yang harus diperhatikan (Zevri, 2010):
a. Dinding bagian dalam selicin mungkin;
b. Kecepatan aliran setiap saluran diusahakan seragam;
c. Perubahan aliran pada junction tidak boleh terlalu tajam, seperti saluran cabang dengan
saluran induk, minimal 45o. Gambar dibawah (Gambar 2. 30) merupakan transition dan
junction.

Gambar 2. 38 Transition dan Junction


Sumber: http://www.codecogs.com/library/engineering/aerodynamics/axial-flow-pumps-and-fans.php

10. Sambungan rumah


Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan(Zevri, 2010):
a. Air buangan tidak boleh mengganggu kelancaran saluran utama;
b. Jika air buangan dari sambungan rumah masuk horizontal ke saluran utama
diusahakan sudut pertemuan maksimum 45o;
c. Jika air buangan dari sambungan rumah masuk vertikal, air buangan tidak boleh
mengalir melalui dinding saluran untuk menghindari kerak;
d. Diameter pipa 100-150 mm, dengan kemiringan 2%, kalau terpaksa bisa 7%;
e. Setiap sambungan rumah harus punya minimal 1 bak kontrol untuk penggelontoran
dan membersihkan saluran.

II-37