Sie sind auf Seite 1von 296

MANAJEMEN PENGELOLAAN TEMPAT

PELELANGAN IKAN PANIMBANG DI


KABUPATEN PANDEGLANG
SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh


Gelar Sarjana Ilmu Sosial pada Konsentrasi Manajemen Publik
Program Studi Ilmu Administrasi Negara

Oleh:

DONI WINARNO

6661091421

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
SERANG JUNI 2015
“Kesulitan itu sementara

seperti semua yang sebelumnya pernah terrjadi”

“Kebaikan tidak bernilai selama diucapkan

tetapi bernilai sesudah dikerjakan”

Skripsi ini kupersembahkan:

kepada kedua orang tuaku

yang telah membesarkan,

mendidik dan membuatku

mampu menyelesaikan skripsi ini


ABSTRAK

Doni Winarno. NIM 6661091421. 2015. Skripsi. Manajemen Pengelolaan Tempat


Pelelangan Ikan (TPI) Panimbang di Kabupaten Pandeglang. Program Studi Ilmu
Administrasi Negara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Sultan
Ageng Tirtayasa. Pembimbing 1: Drs. Oman Spriyadi, M.Si dan Pembimbing 2: Ipah Ema
Jumiati, S.Ip, M.Si.

Latar belakang masalah penelitian yaitu tidak adanya standar operasional prosedur
(SOP) yang secara spesifik mengelola TPI, sarana yang buruk dan tidak adanya
anggaran untuk TPI, sulit tercapainya target retribusi, kurangnya upaya pemerintah
daerah untuk menertibkan TPI ilegal dan kurangnya upaya memberikan sanksi.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana manajemen pengelolaan TPI
Panimbang di Kabupaten Pandeglang. Penelitian ini menggunakan teori Fungsi
Manajemen dari G.R Terry terdiri dari Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan
dan Pengawasan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan
pendekatan kualitatif. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dari Miles
dan Huberman, meliputi reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan
verifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa manajemen pengelolaan TPI
Panimbang di Kabupaten Pandeglang belum berjalan dengan baik. Kesimpulan
penelitian tidak adanya SOP yang matang, kurangnya kerja sama antar lini dan sarana
yang masih belum memadai, tidak tercapainya target retribusi dan lemahnya
pengawasan serta tidak ada sanksi tegas kepada TPI ilegal. Saran peneliti TPI harus
membuat SOP yang baik, perbaikan sarana dan prasarana harus ditingkatkan, TPI
harus bekerjasama dengan instansi terkait Satpol PP dan Ditpolair untuk menutup TPI
ilegal, serta perlu adanya sanksi tegas kepada TPI ilegal.

Kata kunci: Manajemen, TPI.


ABSTRACT

Doni Winarno. NIM 6661091421. 2015. Thesis. Management of Fish Auction Place
(TPI) Panimbang in Pandeglang. Study of Public Administration. Faculty of Social
Science and Political Science. University of Sultan Ageng Tirtayasa. 1st Advisor: Drs.
Oman Spriyadi, M.Si and 2nd Advis0r: Ipah Ema Jumiati, S.Ip, M.Si.

Background research problem is the lack of standard operating procedures (SOP),


which specifically manage TPI, poor facilities and lack of budget for TPI, it is
difficult to achieve the target of retribution, lack of local government efforts to curb
illegal TPI and the lack of efforts to impose sanctions. The purpose of this study to
determine how the management of TPI Panimbang in Pandeglang. This study uses the
theory of GR Terry management function consists of Planning, Organizing, Actuating
and Controlling. The method used is descriptive method with qualitative
approach. Analysis of the data used in this study of Miles and Huberman, including
data reduction, data display, conclusion and verification. The results showed that the
management of TPI Panimbang in Pandeglang not run well. Research conclusions
absence SOP mature, the lack of cooperation between lines and facilities are not
sufficient, not achieving the target of retribution and a lack of oversight and there is
no strict punishment to illegal TPI. Suggestions TPI researchers must make a good
SOP, repair facilities and infrastructure should be improved, TPI must cooperate
with relevant agencies as Satpol PP and Ditpolair to close illegal TPI, as well as the
need for strict punishment to illegal TPI.

Keywords: Management, TPI.


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum. Wr. Wb.

Dengan mengucap syukur Alhamdulillahirobbil’alamin peneliti panjatkan

kehadirat ALLAH SWT, serta shalawat serta salam selalu tercurahkan untuk Nabi

Muhammad SAW, sahabat beserta keluarganya, karena dengan ridho, rahmat,

karunia dan kasih sayang-Nya yang berlimpah sehingga akhirnya peneliti dapat

menyelesaikan skripsi yang berjudul “Manajemen Pengelolaan Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang di Kabupaten Pandeglang".

Dengan selesainya skripsi ini tentu tidak terlepas dari bantuan dan

dukungan dari berbagai pihak yang senantiasa selalu mendukung peneliti. Maka

peneliti ingin mengucapkan terima kasihkepada:

1. Prof. Drs. Sholeh Hidayat, M.Pd Rektor Universitas Sultan Ageng

Tirtayasa.

2. Dr. Agus Sjafari, S.Sos, M.Si Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3. Kandung Sapto Nugroho, S.Sos, M.Si Wakil Dekan I Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sekaligus

dosen pembimbing akademik, terimakasih atas kesabaran dan nasehat-

nasehatnya selama ini.

4. Mia Dwianna M, S.Sos, M.I.Kom Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial

dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

i
5. Ismanto, S.Sos, MM Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

6. Rahmawati, S.Sos, M.Si Ketua Prodi Ilmu Administrasi Negara

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng

Tirtayasa.

7. Ipah Ema Jumiati, S.Ip, M.Si Sekretaris Prodi Ilmu Administrasi

Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng

Tirtayasa sekaligus Dosen Pembimbing II atas kebaikan dan waktu

yang telah diberikan kepada penulis dalam memberikan arahan dan

bimbingan untuk menyelesaikan SKRIPSI ini.

8. Drs. Oman Spriyadi, M.Si dosen pembimbing I atas kebaikan dan

waktu yang telah diberikan kepada penulis dalam memberikan arahan

dan bimbingan untuk menyelesaikan SKRIPSI ini.

9. Semua Dosen dan Staf Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang

membekali peneliti dengan ilmu pengetahuan selama perkuliahan.

10. Ibunda Sugiyah dan almarhum ayahanda Waluyo Sutopo, atas cinta

kasih yang tulus tak terhingga dan sekaligus merupakan motivator

terbesar dalam menyelasaikan SKRIPSI ini.

11. Tempat pelelangaan ikan Panimbang yang telah membantu serta

memberikan data untuk pengerjaan dan kelengkapan SKRIPSI ini.

12. Teman-teman satu kelas ANE C 2009, Ari Hardiawan, Bagus Pratama,

Elisa Tanini, Lutfi Hardiyansyah, M. Irsyad Mahdi, Rizki Panji

i
i
DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ..................................................... i

LEMBAR PERSETUJUAN

LEMBAR PENGESAHAN

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

ABSTRAK

KATA PENGANTAR ............................................................................................. ii

DAFTAR ISI ............................................................................................................ iii

DAFTAR TABEL .................................................................................................. iv

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... v

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... vi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah............................................................................. 1

1.2 Identifikasi Masalah ……………………………………………….. ........ 17

1.3 Batasan Masalah……………………………………................................ 17

1.4 Rumusan Masalah ..................................................................................... 18

1.5 Tujuan Penelitian ………………………………………………….. ....... 18

1.6 Manfaat Penelitian…………………………………………………. ....... 18

1.6.1 Secara Teoritis ................................................................................... 18

1.6.2 Secara Praktis .................................................................................... 19

iii
BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Tinjauan Pustaka ........................................................................................ 20

2.1.1 Definisi Manajemen .......................................................................... 20

2.1.2 Tujuan Manajemen............................................................................ 23

2.1.3 Fungsi-fungsi Manajemen ................................................................ 27

2.1.4 Definisi Pengelolaan…………………………………. .................... 33

2.1.5 Definisi Nelayan……………………………………………............ 35

2.1.6 Pengertian Tempat Pelelangan Ikan .................................................. 37

2.2 Penelitian Terdahulu ……………………………………………….. ......... 38

2.3 Kerangka Berfikir ………………………………………………….. ......... 41

2.4 Asumsi Dasar Penelitian .............................................................................. 43

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Pendekatan dan Metode Penelitian .............................................................. 44

3.2 Ruang Lingkup Penelitian ………………………………………… ......... 46

3.3 Lokasi Penelitian ………………………………………………. .............. 47

3.4 Variabel Penelitian …………………………………………. ................... 48

3.4.1Definisi Konsep…………………………………………….............. 48

3.4.2 Definisi Oprasional………………………………………… ........... 50

3.5 Instrumen Penelitian……………………………………………....... ......... 51

3.6 Informan Penelitian .................................................................................... 53

iii
3.7 Teknik Pengolahan dan Analisis Data ....................................................... 55

3.7.1 Teknik Pengolahan Data…………………………………… ........... 55

3.7.2 Teknik Analisis Data ……………………………………… ............ 61

3.7.3 Uji Keabsahan Data .......................................................................... 64

3.7.3.1 Trriangulasi .............................................................................. 65

3.7.3.2 Member Check ......................................................................... 67

3.8 Jadwal Penelitian ......................................................................................... 68

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.1 Deskripsi Objek Penelitian .......................................................................... 70

4.1.1 Deskripsi Kabupaten Pandeglang ..................................................... 70

4.1.2 Deskripsi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang .... 72

4.1.3 Potensi Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Pandeglang .............. 74

4.1.4 Visi dan Misi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang 75

4.1.5 Gambaran Umum UPT Pangkalan Pendaratan Ikan dan Tempat

Pelelangan Ikan (PPI dan TPI) Kecamatan Labuan ............................. 76

4.1.5.1 Kedudukan Tugas Fungsi dan Rincian Tugas UPT Pangkalan

Pendaratan Ikan dan Tempat Pelelangan Ikan (PPI dan TPI)

Kecamatan Labuan ................................................................... 76

4.1.5.2 Susunan Organisasi UPT Pangkalan Pendaratan Ikan dan Tempat

Pelelangan Ikan (PPI dan TPI) Kecamatan Labuan ................. 81

4.1.6 Gambaran Umum Tempat Pelelangan Ikan Panimbang .................. 82

iii
4.2 Deskripsi Data ............................................................................................. 84

4.2.1 Deskripsi Data Penelitian .................................................................. 84

4.2.2 Data Informan Penelitian ................................................................. 87

4.3 Pembahasan ................................................................................................ 89

4.3.1 Planning (Perencanaan) .................................................................. 89

4.3.2 Organizing (Pengorganisasian) ......................................................... 102

4.3.3 Actuating (Pelaksanaan) .................................................................. 111

4.3.4 Controlling (Pengawasan) ............................................................... 127

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ................................................................................................. 152

5.2 Saran ........................................................................................................... 154

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

iii
DAFTAR TABEL

1.1 Luas Perairan Laut Banten ........................................................................... 4

1.2 Tempat Pelelangan ikan di banten ............................................................... 8

1.3 Laporan Penerimaan dan Penyetoran Pungutan Tempat Pelelangan

Ikan Panimbang 2014 ......................................................................... 14

1.4 Laporan Penerimaan dan Penyetoran Pungutan Tempat Pelelangan

Ikan Panimbang 2015 ......................................................................... 15

2.1 Fungsi-Fungsi Manajemen ........................................................................... 27

3.1 Daftar Informan Penelitian ........................................................................... 52

3.2 Jadwal Penelitian ......................................................................................... 67

4.1 Kecamatan, Desa Pantai dan Panjang Pantai ................................................ 72

4.2 Jenis Kapal berdasarkan Gross Tonase (GT) ............................................... 82

4.3 Daftar Informan ............................................................................................ 87

4.4 Target Retribusi TPI Panimbang Januari s/d Desember 2014 ...................... 112

4.5 Target Retribusi TPI Panimbang Januari s/d Juni 2015 ................................ 113

4.6 Temuan Lapangan ........................................................................................ 149

iv
DAFTAR GAMBAR

3.1 Kerangka Berpikir ` ..................................................................................... 42

4.1 Peta Kabupaten Pandeglang ....................................................................... 69

4.2 Struktur Organisasi UPT Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan Ikan

Kecamatan Labuan ...................................................................... 80

4.3 Struktur Organisasi TPI Panimbang ............................................................ 82

v
DAFTAR LAMPIRAN

1 Pedoman Wawancara

2 Dokumentasi Poto Hasil Penelitian

3 Matrix Wawancara

4 Catatan Lapangan

5 Member Check

6 Surat Izin Penelitian

7 Laporan Penyelenggaraan Pelelangan Ikan Januari s/d September

8 Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang No 11 Tahun 2011 Tentang Retribusi

Jasa Usaha

9 Daftar Riwayat Hidup

vi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dari 34 Provinsi yang ada di Indonesia, Banten adalah salah satu Provinsi

yang relatif masih muda. Provinsi ini dulunya merupakan bagian dari Provinsi

Jawa Barat, namun di pisahkan sejak tahun 2000, dengan keputusan Undang-

Undang Nomor 23 Tahun 2000 Tentang Pembentukan Provinsi Banten. Pusat

pemerintahannya berada di Kota Serang. Sebagai Provinsi baru, Provinsi Banten

akan menghadapi tantangan ketertinggalan dan permasalahan. Tetapi Provinsi

Banten memiliki potensi yang dapat didayagunakan dan dimanfaatkan secara

optimal untuk di jadikan modal dalam mengatasinya.

Potensi yang dimiliki Provinsi Banten salah satunya adalah sumber daya

kelautan yang melimpah diantaranya terumbu karang, rumput laut dan ikan laut.

Ada juga yang disebut padang lamun, yaitu sejenis rerumputan laut yang amat

penting sebagai habitat ikan-ikan laut. Terumbu karang sebagai sumber daya alam

hayati kelautan merupakan suatu hasil proses pertumbuhan dari koral yang masih

berlangsung di bawah permukaan air laut dengan temperatur sekitar 250oc dan

kandungan kegaraman sekitar 35,300/00 (persen permil) dengan kedalaman laut

sekitar 25 meter dari permukaan air laut. Kegunaan terumbu karang ini ialah

sebagai tempat yang sangat baik dan strategis bagi pertumbuhan dan

1
2

perkembangbiakan ikan laut. Karena itu pula, padang terumbu karang bisa di

jadikan tempat wisata laut (penyelaman), atau menggunakan perahu beralas kaca,

untuk menyaksikan keindahan dan keragaman ikan laut serta terumbu karangnya

sendiri. Terumbu karang dengan kondisi alam yang sangat baik dengan ukuran

yang relatif luas, di provinsi Banten terdapat beberapa daerah yaitu di pantai

Labuan, Panimbang, di Selat Pulau Panaitan dan Pantai Selatan Pulau Jawa

(Banten). Pemanfaatan lahan ini menuntut pengelolaan yang intensif dengan

mempertimbangkan antara pengelola sektor pariwisata dengan sektor kelautan dan

perikanan.

Sumber daya kelautan lain yang terdapat di laut Banten ialah rumput laut.

Rumput laut ini merupakan tumbuhan laut yang hidup di dasar laut. Tingkat

kedalaman laut yang di tumbuhi atau untuk pengembangan rumput laut berkisar

antara 3 sampai dengan 50 meter dari permukaan air laut. Di laut batas secara

alami dengan kondisi yang amat baik terdapat di daerah pantai Labuan,

Panimbang, daerah Teluk Lada dan daerah-daerah pantai Selatan. Kondisi

lingkungan laut Banten ternyata cocok untuk pengembangan rumput laut. Potensi

ini harus di manfaatkan karena rumput laut mempunyai nilai ekonomi yang bagus.

Kegunaan rumput laut ini ialah sebagai bahan dasar keperluan kosmetik dan

makanan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi. Kemudian secara langsung juga,

rumput laut itu merupakan sumber nutrisi bagi kehidupan ikan dan biota laut.

Lingkungan laut yang cocok dengan pengembangan rumput laut, dapat juga di

lakukan budidaya yang secara ekonomis menghasilkan devisa. Karena itu perlu

kemampuan yang memadai, cerdas dan kreatif. Tumbuhan laut yang kegunaannya
3

bagi pembiakan ikan laut ialah rumput lama yang karena luasnya biasa dsebut

padang lama. Tumbuhan ini banyak di dapati terutama di sepanjang pantai utara

Banten, misalnya di teluk Banten.

Sumber daya kelautan berikutnya yang ada di laut Banten yang tidak kalah

penting ialah ikan laut. Sumber daya hayati ikan laut merupakan makanan dengan

nilai gizi dan protein amat tinggi. Seluruh kawasan laut dari bagian utara, barat

dan selatan Banten mempunyai potensi ikan laut yang cukup besar. Jenis-jenis

ikan yang banyak di dapati hidup di laut Banten ialah ikan layang, ikan kerapu,

bawal putih dan kakap putih. Jenis-jenis lain juga banyak didapati misalnya cumi,

teri dan lain-lain, yang jumlahnya tidak sebesar ikan-ikan tersebut di atas. Daerah

hidup dan tangkap ikan yang amat potensial ialah di daerah-daerah pantai Labuan,

Panimbang dan Pantai Selatan Pulau Jawa.

Potensi kelautan yang besar di Provinsi Banten ini dipengaruhi karena

Provinsi Banten memiliki perairan laut yang sangat luas yang tersebar di beberapa

kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Banten, selain luas perairan di Provinsi

Banten yang sangat luas Provinsi Banten di untungkan oleh letak geografis yang

sangat strategis, letak geografis laut Banten berada diantara samudera indonesia

dan selat sunda. Karena memiliki perairan laut yang luas juga di untungkan oleh

letak geografis maka menjadi penting untuk memanfatkan dan mengelola potensi

kelautan diantaranya adalah dari sektor perikanan.Pada tabel 1.1 ini peneliti

mendeskripsikan luasnya perairan laut yang ada di Provinsi Banten;


4

Tabel 1.1

Luas Perairan Laut Banten

Luas Perairan (Km2)

No Kabupaten/Kota Samudera Laut Selat


Total
Indonesia Jawa Sunda

1 Kab. Lebak 676,51 - - 676,51

2 Kab. Pandeglang 349,28 - 1.352,72 1.702,00

3 Kab. Serang - 487,66 193,14 680,80

4 Kab. Tangerang - 377,40 - 377,40

5 Kota Tangerang - - - -

6 Kota Cilegon - - 185,00 185,00

7 Kota Serang - 18,75 - 74,00

8 Kota Tangerang Selatan - - - -

Provinsi 3.077,36 2.797,20 5.612,16 11.486,72

(Sumber: BPS, 2013)

Melihat potensi kelautan yang sangat besar ini maka penting untuk

mengelola seluruh hasil laut yang besar untuk menjadikannya sebagai salah satu

sumber pendapatan daerah juga sebagai salah satu penghidupan bagi masyarakat

sekitar. Untuk mendukung optimalisasi potensi kelautan maka di sediakan sarana

dan prasarana laut, seperti pangkalan pendaratan dan pelelangan ikan. Hal ini

guna mempermudah para nelayan untuk mendaratkan perahu serta menjual hasil

tangkapannya. Pengelolaan fasilitas yang tidak baik dapat mengakibatkan ketidak

efektifannya proses pengoptimalisasian dari hasil potensi kelautan sehingga dapat


5

menjadi penyebab kurang terserapnya semua hasil potensi kelautan yang dimiliki

dan menyebabkan kerugian bagi pihak pengelola maupun daerah tersebut.

Tempat pelelangan ikan memegang peranan penting dalam suatu

pelabuhan perikanan dan perlu dikelola dengan sebaik-baiknya agar tercapai

manfaat secara optimal. Tempat pelelangan ikan merupakan salah satu fungsi

utama dalam kegiatan perikanan dan juga merupakan salah satu faktor yang

menggerakan dan meningkatkan usaha dan kesejahteraan nelayan, tujuan

didirikanya tempat pelelangan ikan adalah untuk membantu memasarkan hasil

tangkapan ikan secara cepat untuk menjaga kualitas ikan, serta melindungi

nelayan dari permainan harga dari tengkulak, membantu nelayan mendapatkan

harga ikan yang layak. Selain membantu nelayan memasarkan hasil tangkapannya

tempat pelelangan ikan didirikan juga untuk menjadi sarana pemungutan retribusi

oleh pemerintah daerah setempat.

Pengelolaan perikanan diatur oleh Undang-undang, yaitu Undang-undang

Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Undang-undang

Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan, bahwa pengelolaan perikanan adalah

semua upaya, termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan informasi,

analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumber daya

ikan, dan implementasi serta penegakan hukum dari peraturan perundang-

undangan di bidang perikanan, yang dilakukan oleh pemerintah atau otoritas lain

yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan produktifitas sumber daya hayati

perairan dan tujuan yang telah disepakati. Pengelolaan perikanan didasarkan atas
6

asas manfaat, keadilan, kebersamaan, kemitraan, kemandirian, pemerataan,

keterpaduan, keterbukaan, efesiensi, kelestarian, dan pembangunan yang

berkelanjutan.

Manajemen pengelolaan yang baik menjadi penting untuk di

implementasikan, hal ini karena manajemen pengelolaan yang baik di perlukan

untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna sehingga potensi kelautan yang

dimiliki dapat terkelola dengan baik dan bermanfaat untuk semua. Manajemen

adalah seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,

pengkoordinasian dan pengontrolan manusia dan sumber daya alam untuk

mencapai tujuan yang telah di tetapkan, sedangkan mengelola pada dasarnya

adalah pengendalian dan pemanfaatan semua sumber daya yang menurut suatu

perencanaan di perlukan untuk atau penyelesaian suatu tujuan tertentu. Dalam

konsep manajemen ada enam unsur manajemen yang biasa digunakan untuk

menentukan arah kebijakan organisasi yaitu;

1. Men, tenaga kerja manusia, baik tenaga kerja eksekutif maupun operatif;

2. Money, uang yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan;

3. Method, cara-cara yang dipergunakan dalam usaha untuk menapai tujuan;

4. Materials, bahan-bahan yang diperuntukan untuk mencapai tujuan;

5. Machines, mesin-mesin atau alat-alat yang diperlukan guna mencapai tujuan;

6. Market, pasar untuk menjual output dan jasa-jasa yang dihasilkan (Hasibuan,

2008.1)
7

Dari paparan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa manajemen atau

pengelolaan adalah suatu seni untuk mengatur atau mengelola seluruh sumber

daya yang dimiliki oleh organisasi dalam rangka mencapai tujuan organisasi

secara bersama-sama. Dalam hal ini, organisasi yang dimaksud merupakan

pemerintah sebagai penanggung jawab dalam mengelola potensi kelautan.

Pemerintah bertanggung jawab juga memberdayakan nelayan kecil dan

pembudidayaan ikan serta pengembangan SDM dengan adanya pembangunan

Pelabuhan Perikanan, juga Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sebagai tempat

pemasaran ikan. Seperti tertera pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan

Nomor Per. 16/MEN/2006 tentang Pelabuhan Perikanan, bahwa Pelabuhan

Perikanan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya

dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan

sistem bisnis perikanan yang dipergunakan sebagai tempat kapal perikanan

bersandar, berlabuh dan/atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas

keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan lainnya.

Tempat pelelangan ikan sebagai bagian dari pembangunan fasilitas

perikanan ini diharapkan akan dapat meningkatkan nelayan dalam melaksanakan

aktivitas produktifnya, baik dalam hal pendaratan ikan, pelelangan, pengolahan,

maupun proses pemasarannya, serta diharapkan mengurangi kebocoran hasil

tangkapan. Provinsi Banten memiliki sejumlah Tempat Pelelangan Ikan (TPI)

yang tersebar di beberapa kabupaten atau kota, Provinsi Banten memiliki 33

tempat pelelangan ikan (TPI), seperti pada tabel 1.2 dibawah;


8

Tabel 1.2

Tempat Pelelangan ikan di Banten

No Kabupaten/Kota Nama TPI


1 Kabupaten Lebak 1. Binuangeun
2. Tanjung Panto
3. Sukahujan
4. Cipunaga
5. Panyungan
6. Situregen
7. Bayah
8. Sawarna
9. Cibareno

2 Kabupaten Pandeglang 1. Labuan 1


2. Labuan 2
3. Labuan 3
4. Sidamukti
5. Sumur
6. Carita
7. Citeureup
8. Tamanjaya
9. Panimbang
10. Cikeusik
11. Banyuasih
12. Sukanegara
13. Rancacecet

3 Kabupaten Serang 1. Pulomanuk


2. Bojonegara

4 Kota Serang 1. Karangantu


2. Banten Lama
3. Pulokali
4. Tenjo Ayu
5. Lontar Tirtayasa

5 Kabupaten Tangerang 1. Kronjo


2. Tanjung Pasir
3. Tanjung Kait
4. Dadap

(Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang 2014)


9

Dari tabel 1.2 diatas dapat diketahui nama dan lokasi tempat pelelangan

ikan yang ada di Provinsi Banten. Pada tabel diatas dapat diketahui Kabupaten

yang memiliki tempat pelelangan ikan terbanyak berada di Kabupaten

Pandeglang, banyaknya jumlah tempat pelelangan ikan ini diharapkan mampu

memberi sumbangan besar bagi pemerintah daerah dalam menghasilkan PAD.

Kabupaten Pandeglang dipilih peneliti sebagai lokasi penelitian ini karena

memiliki luas perairan laut terbesar di Banten yaitu 1.702,00 km², karena

memiliki perairan laut yang luas potensi perikanan di Kabupaten Pandeglang

sangat besar, potensi ini dapat dijadikan menjadi salah satu sumber pendapatan

asli daerah yang besar apabila dikelola dengan baik. Salah cara untuk mengelola

hasil kelautan itu Kabupaten Pandeglang mendirikan TPI untuk mengelola hasil

ikan tangkap. Salah satu TPI yang berada di Pandeglang ialah TPI Panimbang

yang berada dibawah UPT Kecamatan Labuan seperti tercantum dalam Peraturan

Bupati Pandeglang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Pembentukan Unit Pelaksana

Teknis Dinas pada Dinas Daerah Kabupaten Pandeglang mengatakan bahwa UPT

Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan Ikan Kecamatan Labuan yang wilayah

kerjanya meliputi Kecamatan Labuan, Sidamukti, Panimbang, Citeurep, Carita,

Sumur, Taman Jaya dan Cikeusik, Banyuasih, Sukanegara, Rancacecet.

Tempat pelelangan ikan adalah pasar yang biasanya terletak di dalam

pelabuhan atau pangkalan pendaratan ikan dan di tempat tersebut terjadi transaksi

penjualan ikan hasil laut secara lelang (tidak termasuk TPI yang menjual atau

melelang ikan darat). Biasanya Tempat pelelangan ikan ini di koordinasi oleh
10

Dinas Perikanan atau Pemerintahan Daerah. Tempat Pelelangan Ikan tersebut

harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Tempat tetap (tidak berpindah-pindah);

2. Mempunyai bangunan tempat transaksi penjualan ikan;

3. Ada yang mengkoordinasi prosedur lelang atau penjualan;

4. Mendapat izin dari instansi yang berwenang (Dinas Perikanan atau Pemerintah

Daerah) (http://id.wikipedia.org/wiki/Tempat_Pelelangan_Ikan).

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) merupakan pusat dari seluruh kegiatan

perikanan yang mengumpulkan semua hasil tangkapan untuk dijual melalui sistem

lelang. Secara umum pelelangan ikan diartikan sebagai suatu metode transaksi di

pusat produksi yang di selenggarakan di TPI antara nelayan dan bakul dengan

tujuan agar dapat diperoleh harga yang wajar serta pembayaran secara tunai

kepada nelayan.

Aktivitas pelelangan ikan di TPI merupakan salah satu aktivitas di suatu

pelabuhan perikanan yang termasuk dalam kelompok aktivitas yang berhubungan

dengan pendaratan dan pemasaran ikan. Pelelangan ikan memiliki peran yang

cukup penting untuk menciptakan iklim yang kondusif dalam pemasaran

ikan. Pelelangan ikan adalah suatu kegiatan di tempat pelelangan ikan guna

mempertemukan penjual dan pembeli sehingga terjadi tawar-menawar harga ikan

yang disepakati bersama. Pelelangan ikan adalah salah satu mata rantai tata niaga

ikan.
11

Pada dasarnya sistem dari TPI adalah suatu pasar dengan sistem perantara

(dalam hal ini adalah tukang tawar) melalui penawaran umum dan yang berhak

mendapatkan ikan yang dilelang tersebut adalah penawar tertinggi. Tujuan

pendirian TPI yang semula didirikan semata-mata hanya untuk kepentingan

nelayan dan koperasi perikanan dengan tujuan untuk melepaskan dari kemiskinan,

semakin berkembang menjadi sarana untuk memungut retribusi oleh Pemda

Tingkat I, Tingkat II dan sebagainya. TPI sebagai salah satu unit kegiatan

ekonomi yang potensial dalam menunjang PAD melalui sumbangan retribusinya.

Besaran nilai retribusi tempat pelelangan ikan di atur dalam Peraturan Daerah

Kabupaten Pandeglang Nomor 11 tahun 2011 Tentang Retribusi Jasa Usaha

sebesar 4 % (empat perseratus) dari nilai transaksi lelang.

Setelah melakukan observasi awal di tempat pelelangan ikan Panimbang,

peneliti menemukan berbagai masalah terkait dengan manajemen pengelolaan

tempat pelelangan ikan di Panimbang. Pertama, dari segi teknis perencanaan

belum adanya standar operasional prosedur (SOP) yang secara spesifik mengatur

teknis pengelolaan tempat pelelangan ikan, oleh karena itu penarikan retribusi

dalam pelaksanaanya tidak sesuai dengan peraturan daerah yang telah ada. Jika

dalam Perda retribusi dipungut sebesar 4% namun dalam pelaksanaannya di

sejumlah tempat pelelangan ikan berbeda. Hal ini dipertegas oleh Manajer tempat

pelelangan ikan Panimbang dalam wawancara peneliti pada selasa 7 Oktober 2014

pukul 09:25 menyatakan: Retribusi di tempat pelelangan ikan Panimbang sebesar

6%, 4 % disetorkan ke pemerintah daerah Kabupaten, sedangkan 2% digunakan

untuk kegiatan operasional tempat pelelangan ikan, Sedangkan menurut Kepala


12

UPT Dinas Kelautan dan Perikanan Labuan dalam wawancara peneliti pada hari

Jum’at 10 Oktober 2014, pukul 14:00 yang menyatakan: untuk penarikan retribusi

di Tempat Pelelangan Ikan sesuai dengan kesepakatan bersama antara tempat

pelelangan ikan, nelayan dan bakul ikan. Ditempat pelelangan ikan Labuan 2

jumlah retribusi yang diambil sebesar 8 %, 4% di setorkan ke pemerintah daerah,

2% untuk operasional pegawai tempat pelelangan dan 2% untuk dana simpanan

nelayan.

Kedua, dari segi pengorganisasian tempat pelelangan ikan Panimbang

terkendala dengan sarana prasarana yang ada, sarana prasarana yang dimaksud

adalah dangkalnya muara sungai Ciliman. Dangkalnya muara sungai Ciliman ini

mengakibatkan nelayan tidak bisa menyandarkan perahu, terlebih perahu-perahu

besar, hal ini dijelaskan oleh Manajer tempat pelelangan ikan Panimbang dalam

wawancara peneliti pada selasa 7 Oktober 2014, pukul 09:25 yang menyatakan:

Muara ditempat pelelangan ikan Panimbang mengalami pendangkalan, jadi

nelayan sulit melakukan aktifitas melaut dan mendaratkan perahunya, kalau air

laut mulai surut muaranya bisa dipakai bermain bola, jika laut pasang baru bisa

digunakan aktifitas perahu. Selain terkendala dengan sarana dan prasarana Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang (TPI) juga terkendala oleh anggaran, anggaran adalah

sejumlah uang yang digunakan untuk melaksanakan suatu program yang akan

dilaksanakan. Dalam manajemen pengelolaan tempat pelelangan ikan anggaran

bersifat sangat penting, anggaran ini digunakaan untuk modal membeli ikan ke

nelayan atau juragan ikan juga sebagai dana operasional tempat pelelangan ikan

(gaji pegawai tempat pelelangan ikan, perawatan fasilitas). Dalam hal ini yang
13

menjadi masalah adalah pemerintah daerah tidak memberikan anggaran untuk

kegiatan pelelangan ikan, tempat pelelangan ikan mencari sendiri anggaran yang

akan digunakan sebagai modal membeli ikan juga biaya operasional tempat

pelelangan ikan. Anggaran tempat pelelangan ikan didapat dari pemungutan

retribusi pelelangan ikan sebesar 2%.

Ketiga, pelaksanaan juga menjadi masalah yang peneliti temukan dari

observasi yang peneliti lakukan, pelaksanaan disini terkait pada target

pengumpulan atau penarikan retribusi. Pada tahun 2014 ini tempat pelelangaan

ikan memiliki target retribusi sebesar Rp. 115,775,000 Target ini ditentukan oleh

pemerintah daerah Kabupaten Pandeglang, namun pengumpulan atau penarikan

retribusi di tempat pelelangan ikan panimbang masih jauh dari target yang

ditentukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Pandeglang. Hal ini dijelaskan oleh

Manajer tempat pelelangan ikan Panimbang dalam wawancara peneliti pada selasa

7 Oktober 2014, pukul 09:25 yang menyatakan: Target yang diberikan oleh

pemerintah daerah Kabupaten Pandeglang ke tempat pelelangan ikan panimbang

adalah sebesar Rp. 115,775,000 tapi dalam pelaksanaannya tempat pelelangan

ikan panimbang belum bisa memenuhi target yang diberikan, pada tahun 2014

tempat pelelangan ikan panimbang hanya mengumpulkan retribusi sebesar Rp.

41.127.016 dan pada tahun 2015 (Januari-Juni) tempat pelelangan ikan panimbang

baru mengumpulkan retribusi sebesar Rp. 12.053.166. Berikut laporan

penerimaan dan penyetoran pungutan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Panimbang

disajikan pada tabel 1.3 dan 1.4 berikut;


14

Tabel 1.3

Laporan Penerimaan dan Penyetoran Pungutan

TPI Panimbang 2014


Penerimaan
Produksi
No Bulan Raman (Rp) Retribusi 4% BOP 2%
(kg)
(Rp) (Rp)
1 Januari 10.241,5 50.583.000 2.023.320 1.011.660
2 Februari 10.377,8 68.266.700 2.730.668 1.365.334
3 Maret 31.500 175.000.000 7.000.000 3.500.000
4 April 29.932,6 114.898.900 4.595.956 2.297.978
5 Mei 29.811,8 150.042.800 6.001.712 3.000.856
6 Juni 25.740,6 150.861.440 6.354.440 3.177.220
7 Juli 14.073,3 64.060.000 2.562.400 1.281.200
8 Agustus 21.940 73.960.000 2.958.400 1.479.200
9 September 17.661,3 76.642.000 3.065.680 1.532.840
10 Oktober 10.399 42.899.000 1.715.960 857.980
11 November 12.374 36.074.000 1.442.960 721.480
12 Desember 4.413 16.913.000 675.520 338.260
Jumlah 218.478,6 836.872.800 41.127.016 20.564.008
(Sumber: laporan penyelenggaraan pelelangan ikan panimbang 2014)

Dari tabel 1.3 diatas dapat diketahui rincian penerimaan pungutan retribusi

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Panimbang dari bulan Januari sampai dengan bulan

Desember 2014. Penerimaan pungutan retribusi masih jauh dari target yang di

tetapkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Pandeglang yakni sebesar Rp.

115,775,000 sedangkan penerimaan retribusi di Tempat Pelelangan Ikan (TPI)

Panimbang hanya mencapai Rp. 41.127.016.


15

Tabel 1.4

Laporan Penerimaan dan Penyetoran Pungutan

TPI Panimbang 2015


Penerimaan
Produksi
No Bulan Raman (Rp) Retribusi 4% BOP 2%
(kg)
(Rp) (Rp)
1 Januari - - - -
2 Februari 6.316 41.665.000 1.665.600 833.300
3 Maret 11.718,3 83.072.450 3.322.900 1.661.450
4 April 4.307 33.410.500 1.336.426 668.213
5 Mei 11.988 63.732.000 2.509.280 1.254.640
6 Juni 22.316 80.474.000 3.218.960 1.609.480
Jumlah 56.645,3 302.353.950 12.053.166 6.027.083
(Sumber: laporan penyelenggaraan pelelangan ikan panimbang 2015)

Dari tabel 1.4 diatas dapat diketahui rincian penerimaan pungutan retribusi

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Panimbang dari bulan Januari sampai dengan bulan

juni 2015. Pemungutn retribusi tempat pelelangan ikan panimbang pada bulan

Januari sampai dengan Juli 2015 masih jauh dari target yang telah diberikan oleh

pemerintah daerah Kabupaten Pandeglang, penerimaan retribusi tempat

pelelangan ikan penimbang baru mencapai Rp. 12.053.166 sedangkan target

retribusi tempat pelelangan ikan Panimbang Rp. 115,775,000.

Keempat, terkait fungsi pengendalian, di Panimbang ada tempat

pelelangan ikan yang di bangun oleh pemerintah daerah (resmi) ada juga tempat

pelelangan ikan yang dibangun oleh juragan nelayan (pelelangan ilegal),

pelelangan ilegal ini mengalihkan sebagian besar proses lelang ikan yang

harusnya dilakukan pada tempat pelelangan ikan panimbang yang dibangun oleh

pemerintah daerah. Hal ini mengakibatkan kerugian bagi pemerintah daerah,


16

karena nelayan tidak melakukan kewajiban membayar retribusi sesuai yang telah

ditetapkan oleh pemerintah yaitu sebesar 4% dari hasil raman (=nilai transaksi

lelang) melainkan hanya Rp.150.000 per sekali bongkar ikan. Nilai Rp.150.000

muncul dari proses musyawarah antara juragan nelayan dengan pihak pengelola

tempat pelelangan ikan yang resmi. Hal ini di jelaskan oleh Kepala UPT Dinas

Kelautan dan Perikanan Labuan dalam wawancara peneliti pada hari Jum’at 10

Oktober 20014, pukul 14:00 yang menyatakan: Retribusi ditentukan dari

kesepakatan bersama antara tempat pelelangan ikan bersama juragan nelayan,

nelayan dan bakul ikan. Dalam hal ini pemerintah daerah kurang berupaya untuk

menertibkan tempat pelelangan ikan yang dibangun oleh juragan nelayan (ilegal)

atau memberikan sanksi kepada nelayan yang tidak membayar kewajiban

retribusinya.

Sebagai acuan yaitu Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 11

Tahun 2011 Tentang Retribusi Jasa Usaha, maka sanksi dalam hal wajib retribusi

tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi

administratif berupa bunga sebesar 2% setiap bulan yang terutang atau kurang

bayar. Dalam prakteknya Dinas Kelautan dan Perikanan yang berperan sebagai

fungsi kontrol kurang berupaya melakukan fungsinya, hal ini dapat di ketahui dari

penarikan retribusi yang belum maksimal dari target yang telah di tetapkan dan

masih banyak berdirinya bangunan tempat pelelangan ikan ilegal.


17

Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di

tempat pelelangn ikan panimbang yang berjudul “Manajemen Pengelolaan

Tempat Pelelangan Ikan Panimbang Kabupaten Pandeglang”.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, penelitian ini perlu adanya

identifikasi masalah, dari hasil studi pendahuluan peneliti mengidentifikasi

masalah-masalah penelitian yaitu sebagai berikut:

1. Tidak adanya standar operasional prosedur (SOP) yang secara spesifik

mengelola tempat pelelangan ikan;

2. Sarana dan prasarana yang buruk, tidak adanya anggaran untuk tempat

pelelangan ikan dari pemerintah setempat;

3. Sulit tercapainya target retribusi yang ditetapkan;

4. Kurangnya upaya pemerintah daerah untuk menertibkan TPI yang tidak

resmi dan kurangnya upaya memberikan sanksi.

1.3 Batasan Masalah

Dari uraian-uraian yang ada dalam latar belakang dan identifikasi masalah,

maka peneliti mencoba membatasi masalah penelitiannya. Dalam penelitian ini,

peneliti membatasi masalah yang akan diteliti yaitu mengenai manajemen

pengelolaan tempat pelelangan ikan Panimbang Kabupaten Pandeglang.


18

1.4 Rumusan Masalah

Mengacu pada latar belakang penelitian yang telah dipaparkan di atas,

maka sebagai rumusan masalah yang akan dikaji sebagai berikut “Bagaimana

Manajemen Pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan Panimbang Kabupaten

Pandeglang?

1.5 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah

untuk mengetahui bagaimana manajemen pengelolaan tempat pelelangan ikan

panimbang Kabupaten Pandeglang.

1.6 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat memberikan saran untuk:

1.6.1 Secara teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi

pengembangan Ilmu Administrasi dan pemecahan permasalahan

administrasi khususnya mengenai “Manajemen Pengelolaan Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang di Kabupaten Pandeglang” dan dapat

digunakan sebagai dasar atau referensi dalam melakukan penelitian

sejenis atau penelitian selanjutnya dibidang Manajemen Publik.


19

1.6.2 Secara praktis:

1) Bagi Peneliti

Seluruh rangkaian kegiatan dari hasil penelitian diharapkan dapat

lebih memantapkan penguasaan fungsi keilmuan yang dipelajari

selama mengikuti program perkuliahan Ilmu Administrasi Negara

pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng

Tirtayasa.

2) Bagi Perguruan Tinggi

Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dokumen akademik yang

berguna untuk dijadikan sebagai acuan bagi civitas akademika.

3) Bagi Pengelola Tempat Pelelangan Ikan Panimbang

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan yang berguna

untuk meningkatkan kinerja aparatur dan fasilitas tempat pelelangan

ikan sehingga menjadikan tempat pelelangan tersebut kembali

optimal.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka

Pada bab ini peneliti akan menggunakan beberapa teori yang mendukung

masalah dalam penelitian ini, di mana berfungsi untuk menjelaskan dan menjadi

panduan dalam penelitian. Teori yang akan digunakan adalah beberapa teori yang

mendukung masalah penelitian mengenai Manajemen Pengelolaan Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang, Pandeglang diantaranya adalah teori manajemen,

pengelolaan dan yang berhubungan dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

2.1.1 Definisi Manajemen

Secara etimologi, management (di Indonesia diterjemahkan sebagai

“manajemen”) berasal dari kata manus (tangan) dan agree (melakukan), yang

setelah digabung menjadi kata manage (bahasa Inggris) berarti mengurus atau

managiere (bahasa latin) yang berarti melatih. Sedangkan menurut Hasibuan

(2011:1), manajemen berasal dari kata to manage yang artinya mengatur.

Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dari fungsi-

fungsi manajemen itu. Jadi, manajemen itu merupakan suatu proses untuk

mewujudkan tujuan yang diinginkan.

20
21

Menurut Stoner dalam Handoko (2003:2), manajemen adalah proses

perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para

anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya

agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Sedangkan Terry

(2008:85) mendefinisikan manajemen sebagai suatu proses yang khas yang

terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan

pengendalian yang dilakukan untuk menentukan sasaran-sasaran yang telah

ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber

lainnya. Sementara menurut Koontz dan O’Donnel dalam Amirullah (2004:7)

sebagai berikut:

“Management is getting things done through people. In bringing


about this coordinating of group activity, the manager, as a manager
plans, organizes, staffs, direct and control the activities other people”
yang dapat diterjemahkan bahwa manajemen adalah usaha mencapai
tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. Dengan demikian manajer
mengadakan koordinasi atau sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi
perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan, dan
pengendalian.

Pada dasarnya kemampuan manusia itu terbatas (fisik, pengetahuan, waktu

dan perhatian) sedangkan kebutuhannya tidak terbatas. Usaha untuk memenuhi

kebutuhan dan terbatasnya kemampuan dalam melakukan pekerjaan mendorong

manusia membagi pekerjaan, tugas dan tanggung jawab ini maka terbentuklah

kerjasama dan keterikatan formal dalam suatu organisasi. Dalam organisasi maka

pekerjaan yang berat dan sulit akan dapat diselesaikan dengan baik serta tujuan yang

diinginkan tercapai.
22

Siagian (2007:1) mendefinisikan manajemen dari dua sudut pandang

berbeda, yaitu; ”sebagai proses penyelenggaraan berbagai kegiatan dalam rangka

penerapan tujuan dan sebagai kemampuan atau keterampilan orang yang

menduduki jabatan manajerial untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka

pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain”. Penekanan yang

disampaikan Sondang lebih menekankan pada bagaimana seorang manajemen

merupakan inti dari administrasi karena memang manajemen merupakan alat

pelaksana utama administrasi.

Dari pengertian di atas maka penekanan pengertian manajemen adalah

pada dua kategori yaitu ilmu dan seni dalam mengatur berbagai macam

sumberdaya sehingga dapat di manfaatkan secara efektif dan efisien dalam

mencapai tujuan. Model penerapan ilmu dan seni dalam manajemen merupakan

suatu model yang menyangkut bagaimana seorang pemimpin dapat

mengoptimalkan kemampuan mengelolanya.

Dari beberapa pengertian tersebut, penulis dapat mengambil kesimpulan

bahwa manajemen adalah suatu proses pemanfaatan sumber daya yang ada

melalui tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan

pengawasan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan yang dapat di uraikan

menjadi beberapa unsur pokok yaitu:

1. Bahwa manajemen selalu diterapkan pada suatu kelompok atau organisasi

formal, dimana di dalamnya terdapat orang-orang yang saling

mengikatkan diri;
23

2. Bahwa manajemen senantiasa memanfaatkan segenap sumber-sumber

yang ada dalam proses kegiatannya;

3. Bahwa manajemen terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan,

pengorganisasian, penggerakkan dan pengawasan;

4. Bahwa di dalam manajemen senantiasa terdapat adanya tujuan yang ingin

dicapai atau diwujudkan.

2.1.2 Tujuan Manajemen

Pada dasarnya setiap aktivitas atau kegiatan selalu mempunyai tujuan yang

ingin dicapai (Hasibuan, 2011:17-20). Tujuan individu adalah untuk memenuhi

kebutuhan-kebutuhannya berupa materi dan non materi dari hasl kerjanya. Tujuan

organisasi adalah mendapatkan laba (business organization) atau

pelayanan/pengabdian (public organization) melalui proses manajemen itu.

Tujuan yang ingin dicapai selalu ditetapkan dalam suatu rencana (plan), karena itu

hendaknya ditetapkan “jelas, realistis dan cukup menantang” untuk di

perjuangkan berdasarkan potensi yang dimiliki. Jika tujuannya jelas, realistis dan

cukup menantang maka usaha-usaha untuk mencapainya cukup besar. Sebaliknya,

jika tujuan ditetapkan terlalu mudah atau terlalu muluk maka motivasi untuk

mencapainya rendah. Jadi, semangat kerja karyawan akan termotivasi, kalau

tujuan ditetapkan jelas, realistis dan cukup menantang untuk dicapainya.

Dalam menetapkan tujuan ini harus didasarkan pada analisis “data,

informasi dan potensi” yang dimiliki serta memilihnya dari alternatif-alternatif

yang ada. Tujuan organisasi dapat diketahui dalam Anggaran Dasar (AD) dan
24

Anggaran Rumah Tangga (ART)-nya. Tujuan-tujuan ini dapat kita kaji dari fungsi

beberapa sudut dan dibedakan sebagai berikut:

1. Menurut tipenya, tujuan dibagi atas:

a. Profit objectives, bertujuan untuk mendapatkan laba bagi pemiliknya;

b. Service objective, bertujuan untuk memberikan pelayanan yang baik

bagi konsumen dengan mempertinggi nilai barang dan jasa yang

ditawarkan kepada konsumen;

c. Social objective, bertujuan meningkatkan nilai guna yang diciptakan

perusahaan untuk kesejahteraan masyarakat;

d. Personal objective, bertujuan agar para karyawan secara individual

economic, social psychological mendapatkan kepuasan di bidang

pekerjaannya dalam perusahaan.

2. Menurut prioritasnya, tujuan dibagi atas:

a. Tujuan primer;

b. Tujuan sekunder;

c. Tujuan individual, dan;

d. Tujuan sosial.

3. Menurut jangka waktunya, tujuan dibagi atas:

a. Tujuan jangka panjang;

b. Tujuan jangka menengah, dan;

c. Tujuan jangka pendek.

4. Menurut sifatnya, tujuan dibagi atas:


25

a. Management objective, tujuan dari segi efektif yang harus ditimbulkan

oleh manajer;

b. Managerial objectives, tujuan yang harus dicapai daya upaya atau

kreativitas-kreativitas yang bersifat manajerial;

c. Administrative objectives, tujuan-tujuan yang pencapaiannya

memenuhi administrasi;

d. Economic objectives, tujuan-tujuan yang bermaksud memenuhi

kebutuhan-kebutuhan dan memerlukan efisiensi untuk pencapaiannya;

e. Social objectives, tujuan suatu tanggung jawab , terutama tanggung

jawab moral;

f. Technical objectives, tujuan berupa detail teknis, detail kerja, dan

detail karya;

g. Work objectives, yaitu tujuan-tujuan yang merupakan kondisi

kerampungan suatu pekerjaan.

5. Menurut tingkatnya, tujuan dibagi atas:

a. Overall enterprise objectives, adalah tujuan semesta (generalis) yang

harus dicapai oleh badan usaha secara keseluruhan;

b. Divisional objectives, adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap

divisi;

c. Departemental objectives, adalah tujuan-tujuan yang harus dicapai

oleh setiap masing-masing bagian;

d. Sectional objectives, adalah tujuan-tujuan yang harus dicaoai oleh

setiap seksi;
26

e. Group objectives, adalah tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh setiap

kelompok urusan;

f. Individual objectives, adalah tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh

masing-masing individu.

6. Menurut bidangnya, tujuan dibagi atas:

a. Top level objectives, adalah tujuan-tujuan umum, menyeluruh dan

menyangkut berbagai bidang sekaligus;

b. Finance objectives, adalah tujuan-tujuan tentang modal;

c. Production objectives, adalah tujuan-tujuan tentang produksi;

d. Marketing objectives, adalah tujuan-tujuan mengenai bidang

pemasaran barang dan jasa-jasa;

e. Office objectives, adalah tujuan-tujuan mengenai bidang

ketatausahaan dan administrasinya.

7. Menurut motifnya, tujuan dibagi atas:

a. Public objectives, adalah tujuan-tujuan yang harus dicapai

berdasarkan ketentuan-ketentuan undang-undang Negara;

b. Organizational objectives, adalah tujuan-tujuan yang harus dicapai

berdasarkan ketentuan-ketentuan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah

Tangga dan status organisasi yang bersifat nyata dan impersonal

(tidak boleh berdasarkan pertimbangan perasaan atau selera pribadi)

daam upaya pencapaiannya;

c. Personal objectives, adalah tujuan pribadi atau individual (walaupun

mungkin berhubungan dengan organisasi) yang dalam usaha


27

pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh selera ataupun pandangan

pribadi.

Dari hal-hal diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan merupakan hal

terjadinya proses manajemen dan aktivitas kerja, tujuan beraneka macam tetapi

harus ditetapkan secara jelas, realistis dan cukup menantang berdasarkan analisis

data, informasi dan pemilihan alternatif-alternatif yang ada. Kecakapan manajer

dalam menetapkan tujuan dan kemampuannya memanfaatkan peluang,

mencerminkan tingkat hasil yang dapat dicapainya.

2.1.3 Fungsi-fungsi Manajemen

Hasibuan (2001:37) Manajemen oleh para penulis dibagi atas beberapa

fungsi. Pembagian fungsi-fungsi manajemen ini tujuannya adalah:

a. Supaya sistematika urutan pembahasannya lebih teratur;

b. Agar analisis pembahasannya lebih mudah dan lebih mendalam;

c. Untuk menjadi pedoman pelaksanaan proses manajemen bagi manajer.

Fungsi-fungsi manajemen yang dikemukakan para penulis tidak sama. Hal

ini disebabkan latar belakang penulis, pendekatan yang dilakukan tidak sama.

Untuk bahan perbandingan fungsi-fungsi manajemen yang dikemukakan para ahli,

penulis mengutip beberapa fungsi manajemen menurut para ahli, berikut fungsi-

fungsi manajemen peneliti sajikan pada tabel 2.3:


28

Tabel 2.1

Fungsi-fungsi Manajemen Menurut Para Ahli

G. R. TERRY JOHN F. MEE LOUIS A. ALLEN MC NAMARA


1. Planning 1. Planning 1. Leading 1. Planning
2. Organizing 2. Organizing 2. Planning 2. Programming
3. Actuating 3. Motivating 3. Organizing 3. Budgeting
4. Controlling 4. Controlling 4. Controlling 4. System
HENRY FAYOL HAROLD DR. P. SIAGIAN PROF. DRS. OEY
1. Planning KOONTS & 1. Planning LIANG LEE
2. Organizing CYRIL 2. Organizing 1. Perencanaan
3. Commanding O’DONNEL 3. Motivating 2. Pengorganisasian
4. Coordinatin 1. Planning 4. Controling 3. Pengarahan
5. Controlling 2. Organizing 5. Evaluating 4. Pengkoordinasian
3. Staffing 5. Pengontrolan
4. Directing
5. Controlling
W. H. NEWMAN LUTHER LYNDALL F. JOHN D. MILLET
1. Planning GULLICK URWICK 1. Directing
2. Organizing 1. Planning 1. Forecasting 2. Facilitating
3. Assembling 2. Organizing 2. Planning
4. Resources 3. Staffing 3. Organizing
5. Directing 4. Directing 4. Commanding
6. Controlling 5. Coordinating 5. Coordinatig
7. -------------- 6. Reporting 6. Controlling
7. Budgeting 7. --------------
Sumber: (Hasibuan, 2001:38)

Berikut adalah pengertian fungsi-fungsi Manajemen menurut para ahli :

Planning (perencanaan) ialah menetapkan pekerjaan yang harus

dilaksanakan untuk mencapi tujuan yang digariskan, planning mencakup kegiatan

pengambilan keputusan, karena termasuk pemilihan alternatif-alternatif

keputusan. Diperlukan kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat

kedepan guna merumuskan suatu pola dari himpunan tindakan untuk masa

mendatang (Terry, 2008:17). Planning merupakan pemilihan dan menghubungkan

fakta, menggunakan asumsi-asumsi tentang masa depan dalam membuat

visualisasi dan perumusan kegiatan yang di usulkan dan memang perlu dilakukan

untuk mencapai hasil yang diinginkan (Terry, 2008:46).


29

Organizing (pengorganisasian) merupakan kegiatan dasar dari manajemen

dilaksanakan untuk dan mengatur seluruh komponen-komponen yang dibutuhkan

termasuk unsur manusia, sehingga pekerjaan dapat dilaksanakan dengan sukses.

Manusia merupakan unsur yang terpenting melalui pengorganisasian manusia

dapat di dalam tugas-tugas yang saling berhubungan (Terry, 2008:73). Organizing

mencakup: membagi komponen-komponen kegiatan yang dibutuhkan untuk

mencapai tujuan ke dalam kelompok-kelompok, membagi tugas kepada seorang

manajer untuk mengadakan pengelompokan tersebut dan menetapkan wewenang

diantara kelompok atau unit-unit organisasi. Pengorganisasian berhubungan erat

dengan manusia, sehingga pencaharian dan penugasannya ke dalam unit-unit

organisasis dimasukan sebagai bagian dari unsur organizing. Ada yang tidak

berpendapat demikian, dan memasukan staffing sebagai fungsi utama. Di dalam

setiap kejadian, pengorganisasian melahirkan peranan kerja dalam struktur formal

dan dirancang untuk memungkinkan manusia bekerja sama secara efektif guna

mencapai tujuan bersama (Terry, 2008:17).

Actuating, atau disebut juga “gerakan aksi” mencakup kegiatan yang

dilakukan seorang manajer untuk mengawali dan melanjutkan kegiatan yang

ditetapkan oleh unsur perencanaan dan pengorganisasian agar ujuan-tujuan dapat

tercapai. Actuating mencakup penetapan dan pemuasan kebutuhan manusiawi dari

pegawai-pegawainya, memberi penghargaan, memimpin, mengembangkan dan

memberi komponsasi kepada mereka (Terry, 2008:17). Pengarahan merupakan

suatu kegiatan untuk mengintergasikan usaha-usaha angota-anggota dari suatu

kelompok, sehingga melalui ugas-tugas mereka dapat terpenuhi tujuan pribadi


30

dan kelompoknya. Semua usaha kelompok menghendaki pengarahan apabila ingin

secara sukses mencapai tujuan akhir kelompok tersebut (Terry, 2008:138).

Controlling (Pengendalian) ialah suatu usaha untuk meneiliti kegiatan-

kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan. Pengendalian berorientasi pada objek

yang dituju dan merupakan alat untuk menyuruh orang-orang bekerja menuju

sasaran yang ingin dicapai (Terry, 2008:18). Controlling mencakup kelanjutan

tugas untuk melihat apakah kegiatan-kegiatan dilaksanakan sesuai rencana.

Pelaksanaan kegiatan di evaluasi dan penyimpangan-penyimpangan yang tidak di

inginkan diperbaiki supaya tujuan-tujuan dapat tercapai dengan baik. Ada

berbagai cara untuk mengadakan perbaikan, termasuk merubah rencana dan

bahkan tujuannya, mengatur kembali tugas-tugas dan wewenang, tetapi seluruh

perubahan dilakukan melalui manusianya. Orang yang bertanggung jawab atas

penyimpangan yang tidak di inginkan itu harus dicari dan mengambil langkah-

langkah perbaikan terhadap hal-hal yang sudah atau akan dilaksanakan (Terry,

2008:166).

Staffing atau Assembling resources adalah fungsi manajemen yang

berkenaan dengan penarikan, penempatan, pemberian latihan dan pengembangan

anggota-anggota organisasi (Handoko, 2003:233). Staffing merupakan kegiatan

merekrut, memilih, mempromosikan, memindahkan dan pengunduran diri dari

para anggota manajemen. Pendekatan tersebut mengemukakan hal-hal yang

penting dalam mengisi tugas-tugas manajerial dengan orang-orang yang tepat

(Terry, 2008:112).
31

Motivating (Motivasi) berasal dari bahasa latin, Mavare yang berarti

dorongan atau daya penggerak. Motivasi ini hanya di berikan kepada manusia,

khususnya di berikan kepada bawahan atau pengikut. Menurut Hasibuan dalam

(Hasibuan, 2001:219) motivasi adalah pemberian daya penggerak yang

menciptakan kegairahan kerja seseorang, agar mereka mau bekerja sama, bekerja

efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan

Budgeting (Anggaran) adalah laporan-laporan formal sumber daya

keuangan yang disisihkan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu selama

periode waktu yang ditetapkan. Anggaran menunjukkan pengeluaran, penerimaan,

atau laba yang direncanakan di waktu yang akan datang. Anggaran mencerminkan

sasaran, rencana dan program-program organisasi yang dinyatakan dalam bentuk

bilangan. Angka-angka perencanaan ini menjadi standar dimana pelaksanaan di

waktu yang akan datang diukur (Handoko, 2003:377).

System (sistem) menurut Davis dalam Hasibuan (2001:253) adalah sebagai

berikut:

“System can be abstract or physical. An abstract system is an orderly


arrangement of interdependent ideas or constructs. For example, a system
of theology is an orderly arrangement of ideas about God, man, etc. A
physical system is a set of elements which operate together to accomplish
an objective”. Artinya: sistem dapat abstrak atau fisis. Sistem yang abstrak
adalah susunan yang teratur dari gagasan-gagasan atau konsepsi-konsepsi
yang saling bergantungan. Misalnya, sistem teologi adalah sistem yang
teratur dari gagasan-gagasan tentang Tuhan, manusia dan sebagainya.
Sistem yang bersifat fisis adalah serangkaian unsur yang bekerja sama
untuk mencapai tujuan.

Coordinating (Koordinasi) adalah kegiatan mengarahkan, mengintegrasikan

dan mengkoordinasikan unsur-unsur manajemen (6M) dan pekerjaan-pekerjaan

para bawahan dalam mencapai tujuan organisasi (Hasibuan, 2001:85). Terry


32

dalam (Hasibuan, 2001:96) Koordinasi adalah suatu usaha yang sinkron dan

teratur untuk menyediakan jumlah dan waktu yang tepat dan mengarahkan

pelaksanaan untuk menghasilkan suatu tindakan yang seragam dan harmonis pada

sasaran yang telah ditentukan. Definisi Terry ini berarti bahwa koordinasi adalah

pernyataan usaha dan meliputi ciri-ciri sebagai berikut:

1. Jumlah usaha, baik secara kuantitatif maupun kualitatif;

2. Waktu yang tepat dari usaha-usaha ini;

3. Pengarahan usaha-usaha ini.

Evaluating (Penilaian) adalah proses pengukuran dan perbandingan hasil-

hasil pekerjaan yang nyatanya dicapai dengan hasil-hasil yang seharusnya dicapai.

Penilaian itu sendiri mengandung tujuan-tujuan motivatif. Apabila para manajer

mengevaluasikan hasil-hasil pekerjaan dan potensi bawahan mereka, maka

mereka mengetahui hal-hal yang telah dikerjakan oleh bawahan dan mereka

sendiri juga harus meningkatkan keterampilan dan kemampuan mereka (Terry,

2008:160).

Reporting (Laporan), Pelaporan adalah kegiatan berhubungan dengan

laporan dari setiap kejadian, lancar tidaknya aktivitas, apakah ada kemajuan atau

tidak. Ini kebalikan dari directing yang datang dari atasan ke bawahan sedang ini

dari bawah keatas. Disini terjadi “two-way traffic”. Kegiatan eksekutif

menyampaikan informasi tentang apa yang sedang terjadi kepada atasannya,

termasuk menjaga agar dirinya dan bawahannya tetap mengetahui informasi lewat

laporan-laporan, penelitian dan inspeksi.


33

Forecasting (Peramalan) merupakan usaha untuk meramal melalui studi dan

analisa terhadap data yang tersedia, potensi operasional dan kondisi kondisi

dimasa yang akan datang. Forecasting juga mencoba untuk mengetahui lebih

dahulu situasi dari lingkungan sosial di masa yang akan datang dimana

perusahaan akan melakukan kegiatannya (Terry, 2008:52).

Facilitating, fungsi fasilitas meliputi pemberian fasilitas dalam arti luas

yakni memberikan kesempatan kepada anak buah agar dapat berkembang ide-ide

dari bawahan diakomodir dan kalau memungkinkan dikembangkan dan diberi

ruang untuk dapat dilaksanakan.

2.1.4 Definisi Pengelolaan

Pengelolaan adalah suatu istilah yang berasal dari kata “kelola”

mengandung arti serangkaian usaha yang bertujuan untuk menggali dan

memanfaatkan segala potensi yang dimiliki secara efektif dan efisien guna

mencapai tujuan tertentu yang telah direncanakan sebelumnya. Pengelolaan

adalah suatu rangkaian kegiatan yang berintikan perencanaan, pengorganisasian,

pengerakan dan pengawasan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan

sebelumnya. Pengelolaan diartikan sebagai suatu rangkaian pekerjaan atau usaha

yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk melakukan serangkaian kerja dalam

mencapai tujan tertentu.

Definisi pengelolaan oleh para ahli terdapat perbedaan–perbedaan hal ini

disebabkan karena para ahli meninjau pengertian dari sudut yang berbeda-beda.

Ada yang meninjau pengelolaan dari segi fungsi, benda, kelembagaan dan yang

meninjau pengelolaan sebagai suatu kesatuan. Namun jika di pelajari pada


34

prinsipnya definisi-definisi tersebut mengandung pengertian dan tujuan yang sama

(http://ado1esen.blogspot.com/2014/02/menurut-para-ahli.html).

Definisi dan pengertian pengelolaan menggunakan beberapa pemahaman,

yaitu: Proses mempertimbangkan hubungan timbal balik antara kegiatan

pembangunan yang secara potensial terkena dampak kegiatan-kegiatan tersebut.

Dapat juga diartikan sebagai suatu proses penyusunan dan pengambilan keputusan

secara rasional tentang pemanfaatan segenap sumber daya alam yang terkandung

di dalamnya secara berkelanjutan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Pengelolaan,)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengelolaan adalah (1) proses,

cara, perbuatan mengelola; (2) proses melakukan kegiatan tertentu dengan

menggerakkan tenaga orang lain; (3) proses yang membantu merumuskan

kebijaksanaan dan tujuan organisasi; (4) proses yang memberikan pengawasan

pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian

tujuan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Pengelolaan perikanan menurut Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009

Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan

adalah semua upaya, termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan

informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi

sumber daya ikan dan implementasi serta penegakan hukum dari peraturan

perundang-undangan di bidang perikanan, yang dilakukan oleh pemerintah atau

otoritas lain yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan produktivitas sumber

daya hayati perairan dan tujuan yang telah disepakati.


35

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan

pengelolaan adalah suatu rangkaian kegiatan yang berintikan perencanaan,

pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan yang bertujuan menggali dan

memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara efektif untuk mencapai tujuan

organisasi yang telah ditentukan.

2.1.5 Definisi Nelayan

Nelayan menurut Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009 Tentang

Perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan, nelayan

adalah orang yang mata pencaharianya melakukan penangkapan ikan. Nelayan

kecil adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan

untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang menggunakan kapal

perikanan berukuran paling besar 5 (lima) gross ton (GT).

Nelayan adalah istilah bagi orang-orang yang sehari-harinya bekerja

menangkap ikan atau biota lainnya yang hidup di dasar, kolom maupun

permukaan perairan. Perairan yang menjadi daerah aktivitas nelayan ini dapat

merupakan perairan tawar, payau maupun laut. Di negara-negara berkembang

seperti di Asia Tenggara atau di Afrika, masih banyak nelayan yang

menggunakan peralatan yang sederhana dalam menangkap ikan. Nelayan di

negara-negara maju biasanya menggunakan peralatan modern dan kapal yang

besar yang dilengkapi teknologi canggih (http://id.wikipedia.org/wiki/Nelayan).

Nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang kehidupannya

tergantung langsung pada hasil laut, baik dengan cara melakukan penangkapan
36

ataupun budi daya. Mereka pada umumnya bermukim di pinggir pantai, sebuah

lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya (Imron, 2003:68).

Sesungguhnya, nelayan bukanlah suatu entitas tunggal, mereka terdiri dari

beberapa kelompok. Dilihat dari segi pemilihan alat tangkap, nelayan dapat

dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu nelayan buruh, nelayan juragan, dan

nelayan perorangan. Nelayan buruh adalah nelayan yang bekerja dengan alat

tangkap milik orang lain. Sebaliknya, nelayan juragan adalah adalah nelayan yang

memiliki alat tangkap yang dioperasikan oleh orang lain. Adapun nelayan

perorangan adalah nelayan yang memiliki peralatan tangkap sendiri dan dalam

pengoperasiannya tidak melibatkan orang lain (Mulyadi, 2005:7).

Nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam

operasi penangkapan ikan. Orang yang hanya melakukan pekerjaan seperti

membuat jaring, mengangkut alat-alat perlengkapan ke dalam perahu atau kapal,

tidak dimasukan sebagai nelayan, tetapi ahli mesin dan juru masak yang bekerja di

atas kapal penangkapan dikatakan sebagai nelayan, walaupun mereka tidak secara

langsung melakukan penangkapan. Berdasarkan waktu yang digunakan untuk

melakukan pekerjaan operasi penangkapan, nelayan diklasifikasikan sebagai

berikut:

1. Nelayan penuh, yaitu nelayan yang seluruh waktu kerjanya digunakan

untuk melakukan pekerjaan operasi penangkapan ikan;

2. Nelayan sambilan utama, yaitu nelayan yang sebagian besar waktu

kerjanya digunakan untuk melakukan pekerjaan operasi penangkapan ikan.


37

Disamping melakukan pekerjaan penangkapan, nelayan kategori ini dapat

pula mempunyai pekerjaan lain;

3. Nelayan sambilan tambahan, yaitu nelayan yang sebagian besar waktu

kerjanya digunakan untuk melakukan pekerjaan penangkapan,

pemeliharaan ikan, binatang lainnya dan tanaman air (DKP Provinsi

Banten, 2012).

2.1.6 Pengertian Tempat Pelelangan Ikan

Tempat pelelangan ikan atau yang sering disingkat TPI yaitu pasar yang

biasanya terletak di dalam pelabuhan atau pengkalan pendaratan ikan dan di

tempat tersebut terjadi transaksi penjualan ikan hasil laut baik secara lelang atau

tidak. Biasanya TPI ini dikordinasi oleh dinas perikanan, koperasi atau pemerintah

daerah. TPI tersebut harus memenuhi kriteria sebagai berikut; memiliki tempat

tetap (tidak berpindah-pindah), mempunyai bangunan tempat transaksi jual beli

ikan, ada yang mengkoordinasi prosedur lelang dan mendapat izin dari instansi

yang berwenang (Dinas Perikanan/Pemerintah Daerah)

(http://id.wikipedia.org/wiki/Tempat_Pelelangan_Ikan).

TPI kalau di tinjau dari manajemen operasi, maka TPI merupakan tempat

penjual jasa pelayanan antara lain sebagai tempat pelelangan, tempat perbaikan

jaring, tempat perbaikan mesin dan lain sebagainya. Disamping itu TPI

merupakan tempat berkumpulnya nelayan dan pedagang-pedagang ikan atau

pembeli ikan dalam rangka mengadakan transaksi jual beli ikan. Nelayan ingin

menjual hasil tangkapan ikanya dengan harga sebaik mungkin, sedangkan pembeli
38

ingin membeli dengan harga serendah mungkin. Untuk mempertemukan

penawaran dan permintaan itu, diselenggarakan pelelangan ikan agar tercapai

harga yang sesuai, sehingga masing-masing pihak tidak merasa dirugikan.

Pelelangan ikan merupakan suatu kegiatan dimana penjual dan pembeli

bertemu dalam satu tempat (gedung TPI), didalamnya terjadi proses tawar-

menawar harga ikan sehingga diperoleh harga yang mereka sepakati bersama.

Dalam proses tawar menawar ini, kualitas ikan akan memegang peranan penting

dalam penentuan harga. Pembeli akan memberikan penawaran yang lebih tinggi

terhadap ikan yang memiliki kualitas lebih baik. Meskipun pada awalnya nelayan

yang akan mengajukan harga terlebih dahulu “melalui” petugas lelang.

Aktivitas pelelangan ikan di TPI merupakan salah satu aktivitas di suatu

pelabuhan perikanan yang termasuk dalam kelompok aktivitas yang berhubungan

dengan pendaratan dan pemasaran ikan. Pelelangan ikan memiliki peran yang

cukup penting untuk menciptakan iklim yang kondusif dalam pemasaran

ikan. Pelelangan ikan adalah suatu kegiatan di tempat pelelangan ikan guna

mempertemukan penjual dan pembeli sehingga terjadi tawar-menawar harga ikan

yang disepakati bersama. Pelelangan ikan adalah salah satu mata rantai tata niaga

ikan.

2.2 Penelitian Terdahulu

Sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian ini akan dicantumkan

beberapa hasil penelitian terdahulu oleh beberapa peneliti yang pernah penulis

baca diantaranya :
39

1. Jurnal Ilmu Pemerintahan Volume D2B Nomor 088 122 Fisip Universitas

Diponegoro yang ditulis oleh Sandi Hertanto, Kushandayani, Puji Astuti,

Reni Windiani Tahun 2013, dengan judul Peran Pemerintah Daerah Dalam

Pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan di Kabupaten Jepara, pada penelitian

tersebut peneliti menggunakan Teori Fungsi Manajemen POAC G.R. Terry

sebagai pedoman dalam melakukan penelitiannya. Indikator penelitian

terdiri dari; Planning, Organizing, Actuating, Controlling. Metodelogi

dalam penelitian ini menggunakan Metode Kualitatif Deskriptif. Adapun

hasil dari penelitian Peran Pemerintah Daerah Dalam Pengelolaan Tempat

Pelelangan Ikan di Kabupaten Jepara menunjukan bahwa peran pemerintah

daerah dalam pengelolaan tempat pelelangan ikan di Kabupaten Jepara

belum dapat dikatakan optimal karena masih terdapat beberapa kendala dan

permasalahan, sehingga perlu adanya perhatian khusus dari pemerintah

daerah untuk meminimalisir keadaan tersebut. Persamaan penelitian ini

dengan penelitian yang sedang peneliti lakukan adalah fokus penelitian

adalah tempat pelelangan ikan, juga metode yang digunakan dalam

penelitian, yaitu penelitian dengan menggunakan metode kualitatif

deskriptif, teori yang digunakan juga sama yaitu teori fungsi manajemen

dari G.R. Terry POAC (planning, organizing, actuating, controlling).

Sedangkan perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang sedang peneliti

lakukan adalah locus penelitian, jurnal ilmiah ini dilakukan di Kabupaten

Jepara sedangkan peneliti melakukan penelitian di Kabupaten Pandeglang,


40

selanjutnya pada jurnal ilmiah ini tidak ada uji keabsahan data sedangkan

peneliti menggunakan uji keabsahan data (triangulasi dan member chek).

2. SKRIPSI Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap

Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Periknan Fakultas Perikanan Dan

Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor ditulis oleh Resti, Fifi Dewi tahun

2012, dengan judul Pengukuran Kinerja Pengelolaan Tempat Pelelangan

Ikan di PPI Muara Angke. Pada penelitian tersebut peneliti menggunakan

teori pengukuran kinerja metode value for money, pengukuran kepuasan

dengan metode infortance performance analysis (skala likert) dan

pengukuran tingkat kepuasan pengguna pelelangan dengan menggunakan

metode infortance and performance analysis (IPA). Adapun hasil penelitian

dari penelitian pengukuran kinerja pengelolaan tempat pelelangan ikan di

PPI muara angke menunjukan bahwa aktivitas di tempat pelelangan ikan PPI

Muara Angke sudah berjalan dan dikelola oleh seksi pelelangan serta

koperasi. Berdasarkan pengukuran kepuasan pengguna pelelangan diketahui

bahwa kepuasan pengguna pelelangan masih berada di bawah kriteria puas

yaitu agen merasa cukup puas terhadap pengelolaan yang terdapat di TPI

sedangkan pedagang merasa kurang puas terhadap pengelolaan yang

terdapat di TPI PPI Muara Angke tersebut. Adapun untuk kinerja TPI dinilai

tidak ekonomis dari segi input karena memiliki nilai rataan sebesar 33% dan

kinerja dinilai cukup efisien dengan nilai rataan sebesar 100%. Nilai tersebut

dapat digunakan oleh pengelola TPI PPI Muara Angke sebagai dasar untuk

memperbaiki kinerja TPI, agar dapat mencapai tujuan awal


41

pembangunannya serta meningkatkan kepuasan pengguna pelelangan.

Penelitian ini memiliki tujuan yang sama dengan penelitian yang sedang

peneliti lakukan yaitu ingin mengetahui atau mendeskripsikan pengeloalaan

tempat pelelangan ikan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang

sedang peneliti lakukan adalah pada teori, pada penelitian yang dilakukan

oleh Fifi Dewi Resti ada tiga teori yang digunakan dalam penelitiannya

(menggabungkan beberapa teori) sedangkan penelitian yang sedang peneliti

lakukan hanya menggunakan satu teori saja yaitu teori fungsi manajemen

POAC (planning, organizing, actuating, controlling) dari G.R. Terry.

2.3 Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir dari penelitian ini tentang Manajemen Pengelolaan

Hasil Tangkapan Nelayan Pada Tempat Pelelangan Ikan Panimbang Kabupaten

Pandeglang. Tempat pelelangan ikan (TPI), selain merupakan pintu gerbang

nelayan dalam memasarkan hasil tangkapan ikannya, juga menjadi tempat untuk

memperbaiki jaring, motor, serta kapal dalam persiapan operasi penangkapan

ikan. Tujuan utama didirikannya TPI adalah untuk menarik sejumlah pembeli,

sehingga nelayan dapat menjual hasil tangkapannya sesegera mungkin dengan

harga yang baik serta dapat menciptakan perasaan yang sehat melalui lelang

murni. Disamping itu secara fungsional, sasaran yang diharapkan oleh TPI adalah

tersedianya ikan bagi kebutuhan penduduk sekitarnya dengan kualitas yang baik

serta harga yang wajar. Perbaikan manajemen pengelolaan dalam tempat


42

pelelangan ikan diharapkan mampu mensejahterakan nelayan serta menjadikan

tempat pelelangan ikan sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah.

Untuk mengetahui sejauh mana manajemen pengelolaan tempat

pelelangan ikan panimbang Kabupaten Pandeglang peneliti menggunakan teori

POAC G.R. Terry dalam Terry (2008:17): Planning, Organizing, Actuating,

Controlling.

Karena untuk menjadikan sebuah tempat pelelangan ikan yang ideal

diperlukan Planning (rencana) yang baik untuk dijadikan penentuan tujuan dan

pedoman pelaksanaan dengan memilih yang teraik dari alternatif-alternatif yang

ada. Kemudian Organizing (pengorganisasian) menentukan, mengelompokan, dan

mengatur bermacam-macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan,

menempatkan orang-orang pada setiap aktivitas ini, menyediakan alat-alat yang

diperlukan, menetapkan wewenang yang secara relatif didelegasikan kepada

setiap individu yang akan melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. Actuating

(pengarahan) mengarahkan semua bawahan, agar mau bekerja sama dalam

mengelola tempat pelelangan ikan dan bekerja efektif untuk mencapai tujuan.

Controlling (pengendalian) pengukuran dan perbaikan terhadap pelaksanaan kerja

bawahan, agar rencana-rencana yang telah dibuat untuk mencapai tujuan-tujuan

dapat terselenggara Maka untuk mempermudah memahami alur berpikir peneliti

menggambarkan kerangka berpikirnya sebagai berikut seperti pada gambar 2.1

dibawah:
43

Permasalahan: G.R. Terry dalam


Hasibuan (2001:38)
1. Tidak adanya standar
operasional prosedur (SOP) 1. Planning
yang secara spesifik mengelola
2. Organizing
tempat pelelangan ikan;
3. Actuating
2. Mendangkalnya muara sungai 4. cotrolling
Ciliman menyebabkan akses
menuju TPI menjadi terhambat
dan tidak adanya anggaraan
untuk tempat pelelangan ikan Perbaikan manajemen
dari pemerintah setempat. pengelolaan tempat pelelangan
ikan Panimbang
3. Sulit tercapainya target
retribusi yang diharapkan;

4. Tidak ada sanksi tegas untuk


tempat pelelangan ilegal. Tempat pelelangan menjadi pusat
kegiatan lelang dari hasil
tangkapan nelayan panimbang.

Gambar 2.1

Alur Kerangka Berpikir

2.4 Asumsi Dasar Penelitian

Asumsi dasar merupakan hasil dari refleksi penelitian berdasarkan kajian

pustaka dan kajian teori yang digunakan sebagai dasar argumentasi. Berdasarkan

pada kerangka pemikiran yang telah dipaparkan di atas, peneliti telah

melakukan observasi awal terhadap objek penelitian. Maka peneliti berasumsi

bahwa penelitian tentang Manajemen Pengelolaan Hasil Pada Tempat Pelelangan

Ikan Panimbang Pandeglang belum berjalan dengan baik.


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Pendekatan dan Metode Penelitian

Metodologi penelitan merupakan studi yang logis dan sistematis tentang

prinsip-prinsip dasar yang mengarahkan penelitian. Menurut Arikunto (2002:136)

metode penelitian adalah cara yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data

penelitiannya. Dalam arti umum dan awam, metodologi biasa digunakan dalam

konteks apa saja, misalnya berpikir, metodologi pendidikan, atau metodologi

pengajaran. Menurut Garna (2009:21) Metoda penelitian ialah suatu upaya untuk

memperoleh tambahan pemahaman tentang gejala-gejala melalui (1)

mendefinisikan masalah sebagai cara membentuk pengetahuan yang ada; (2)

memperoleh informasi penting berkenaan dengan masalah atau gejala itu; (3)

analisis dan interpretasi data yang jelas dalam kaitan dengan masalah yang

didentifikasi; dan (4) melakukan komunikasi hasil upaya itu kepada yang lain.

Dengan demikian yang dimaksud dengan metode ilmiah yaitu: a way of

collceting, processing, and communicating information, based on activities

designed to increase existing information, maka metoda itu diberi batasan secara

pragmatik, yang artinya cara yang digunakan melalui efektivitas perolehan

pemahaman berfaedah bagi individu dan masyarakat.

44
45

Dalam penelitian sosial, masalah penelitian, tema, topik, dan judul

penelitian berbeda secara kuantitatif maupun kualitatif. Baik substansial maupun

materiil kedua penelitian itu berbeda berdasarkan filosofis dan metodologis.

Masalah kuantitatif lebih umum memiliki wilayah yang luas, tingkat variasi yang

kompleks namun berlokasi dipermukaan. Akan tetapi masalah-masalah kualitatif

berwilayah pada ruang yang sempit dengan tingkat variasi yang rendah namun

memiliki kedalaman bahasan yang tidak terbatas. Dalam penelitian mengenai

Manajemen Pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan Panimbang Kabupaten

Pandeglang, berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka penelitian

ini menggunakan metode penelitian deskriptif, sedangkan bentuknya yaitu

dengan menggunakan penelitian kualitatif. Deskriptif kualitatif merupakan

metode yang bertujuan menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu,

keadaan, gejala, atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan frekuensi atau

penyebaran suatu gejala atau frekuensi adanya hubungan tertentu anatara suatu

gejala dan gejala lainya dalam masyarakat. Itulah alasan mengapa peneliti

mengambil penelitian deskriptif kualitatif.

Penelitian deskriptif kualitatif ini berusaha untuk mencari atau menggali

informasi mengenai permasalahan yang ada dalam kaitannya dengan Manajemen

Pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan Panimbang Kabupaten Pandeglang.

Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2006:4) mendefinisikan metodologi

kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa

kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Pendekatan ini di arahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh).
46

Sejalan dengan definisi tersebut, Kirk dan Miller dalam Moleong (2006:4)

mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu

pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada

manusia baik dalam kawasannya maupun dalam peristilahannya. Selanjutnya

menurut Denzin dan Lincoln dalam Moleong (2006:5) menyatakan penelitian

kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud

menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan

berbagai metode yang ada.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut, Moleong dalam bukunya

Metodologi Penelitian Kualitatif (2006:6) mendefinisiskan bahwa Penelitian

kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang

apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi dan

tindakan yang secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata

dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan

berbagai metode alamiah.

3.2. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian menjelaskan substansi materi kajian penelitian

yang akan dilakukan. Dalam penelitian ini ruang lingkup penelitian adalah

manajemen pengelolaan tempat pelelangan ikan panimbang Kabupaten

Pandeglang.
47

3.3. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian menjelaskan tempat (locus) penelitian, serta alasan

memilih lokasi penelitian tersebut. Lokasi Penelitian mengenai Manajemen

Pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan Lelang Panimbang Kabupaten Pandeglang

berada di Desa Panimbangjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang,

Provinsi Banten. Kabupaten Pandeglang dipilih peneliti sebagai lokasi penelitian

ini karena memiliki luas perairan laut terbesar di Banten yaitu 1.702,00 km²,

karena memiliki perairan laut yang luas potensi perikanan di Kabupaten

Pandeglang sangat besar, potensi ini dapat dijadikan menjadi salah satu sumber

pendapatan asli daerah yang besar apabila dikelola dengan baik. Salah cara untuk

mengelola hasil kelautan itu Kabupaten Pandeglang mendirikan TPI untuk

mengelola hasil ikan tangkap. Salah satu TPI yang berada di Pandeglang ialah TPI

Panimbang yang berada dibawah UPT Kecamatan Labuan seperti tercantum

dalam Peraturan Bupati Pandeglang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Pembentukan

Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Daerah Kabupaten Pandeglang

mengatakan bahwa UPT Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan Ikan Kecamatan

Labuan yang wilayah kerjanya meliputi Kecamatan Labuan, Sidamukti,

Panimbang, Citeurep, Carita, Sumur, Taman Jaya dan Cikeusik, Banyuasih,

Sukanegara, Rancacecet. Selain karena memiliki luas perairan laut terbesar di

Provinsi Banten, lokasi penelitian dipilih karena dekat dekat dengan tempat

tinggal peneliti guna mempersingkat waktu peneliti untuk mencapai lokasi

penelitian serta peneliti ingin mengungkap masalah yang terjadi di daerah peneliti
48

guna memberi solusi yang berguna untuk perbaikan mutu pengelolaan tempat

pelelangan ikan di daerah peneliti yaitu di Panimbang.

3.4. Variabel Penelitian

3.4.1. Definisi Konsep

Definisi konseptual memberikan penjelasan tentang konsep dari

variabel yang akan diteliti berdasarkan kerangka teori yang digunakan.

Pada peneitian ini variabelnya adalah Manajemen Pengelolaan Tempat

Pelelangan Ikan yang akan diteliti menggunakan teori fungsi manajemen

POAC (Planning, Organizing, Actuating,Controlling) dari G.R. Terry.

1. Planning ialah menetapkan pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk

mencapi tujuan yang digariskan, planning mencakup kegiatan

pengambilan keputusan, karena termasuk pemilihan laternatif-

alternatif keputusan. Diperlukan kemampuan untuk mengadakan

visualisasi dan melihat kedepan guna merumuskan suatu pola dari

himpunan tindakan untuk masa mendatang (Terry, 2008:17). Planning

merupakan pemilihan dan menghubungkan fakta, menggunaka asumsi-

asumsi tentang masa depan dalam membuat visualisasi dan perumusan

kegiatan yang diuslukan dan memang perlu dilakukan untuk mencapai

hasil yang diinginkan (Terry, 2008:46).

2. Organizing merupakan kegiatan dasar dari manajemen dilaksanakan

untuk dan mengatur seluruh komponen-komponen yang dibutuhkan

termasuk unsur manusia, sehingga pekerjaan dapat dilaksanakan


49

dengan sukses. Manusia merupakan unsur yang terpenting melalui

pengorganisasian manusia dapat di dalam tugas-tugas yang saling

berhubungan (Terry, 2008:73). Organizing mencakup: membagi

komponen-komponen kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai

tujuan kedalam kelompok-kelompok, membagi tugas kepada seorang

manajer untuk mengadakan pengelompokan tersebut dan menetapkan

wewenang diantara kelompok atau unit-unit organisasi.

Pengorganisasian berhubungan erat dengan manusia, sehingga

pencaharian dan penugasannya kedalam unit-unit organisasis

dimasukan sebagai bagian dari unsur organizing. Ada yang tidak

berpendapat demikian, dan memasukan stafing sebagai fungsi utama.

Di dalam setiap kejadian, pengorganisasian melahirkan peranan kerja

dalam struktur formal dan dirancang untuk memungkinkan manusia

bekerja sama secara efektif guna mencapai tujuan bersama (Terry,

2008:17).

3. Actuating, atau diseut juga “gerakan aksi” mencakup kegiatan yang

dilakukan seorang manajer untuk mengawali dan melanjutkan kegiatan

yang ditetapkan oleh unsur perencanaan dan pengorganisasian agar

ujuan-tujuan dapat tercapai. Actuating mencakup pentapan dan

pemuasan kebutuhan manusiawi dari pegawai-pegawainya, memberi

penghargaan, memimpin, mengembangkan dan memberi komponsasi

kepada mereka (Terry, 2008:17). Pengarahan merupakan suatu kegitan

untuk mengintergasikan usaha-usaha angota-anggota dari suatu


50

kelompok, sehingga melalui ugas-tugas mereka dapat terpenuhi tujuan

pribadi dan kelomponya. Semua usaha kelompok menghendaki

pengarahan apabila ingin secara sukses mencapai tujuan akhir

kelompok tersebut (Terry, 2008:138).

4. Controlling (pengendalian) ialah suatu usaha untuk meneiliti kegiatan-

kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan. Pengendalian berorientasi

pada objek yang dituju dan merupakan alat untuk menyuruh orang-

orang bekerja menuju sasaran yang ingin dicapai (Terry, 2008:18).

Controlling mencakup kelanjutan tugas untuk melihat apakah

kegiatan-kegiatan dilaksanakan sesuai rencana. Pelaksanaan kegiatan

dievaluasi dan penyimpangan-penyimpangan yang tidak diinginkan

diperbaiki supaya tujuan-tujuan dapat tercapai dengan baik. Ada

berbagai cara untuk mengadakan perbaikan, termasuk merubah

rencana dan bahkan tujuanya, mengatur kembali tugas-tugas dan

wewenang, tetapi seluruh perubahan dilakukan melalui manusianya.

Orang yang bertanggung jawab atas penyimpagan yang tidak

diinginkan itu harus dicari dan mengambil langkah-langkah perbaikan

terhadap hal-hal yang sudah atau akan dilaksanakan (Terry, 2008:166).

3.4.2. Definisi Operasional

Definisi operasinal merupakan penjabaran konsep atau variabel

yang akan diteliti dalam rincian yang terukur. Adapun variabel dalam

penelitian ini ialah manajemen pengelolaan yang bertujuan meningkatkan


51

nilai guna yang diciptakan organisasi untuk kesejahteraan masyarakat,

berhubungan dengan itu masalah yang terjadi dilapangan yakni;

1. Tidak adanya standar oprasional pelayanan (SOP) yang secara spesifik

mengelola tempat pelelangan ikan;

2. Sarana dan prasarana yang buruk, Tidak adanya anggaraan untuk

tempat pelelangan ikan dari pemerintah setempat;

3. Sulit tercapainya target retribusi yang ditetapkan;

4. Kurangnya upaya pemerintah daerah untuk menertibkan TPI yang

tidak resmi dan kurangnya upaya memberikan sanksi tegas.

Permasalahan tersebut dapat terjawab dengan menggunakan teori

Fungsi Manajemen POAC (Planning,Organizing, Actuating, Controlling)

dari G.R. Terry. Yang peneliti simpulkan sementara bahwa proses

manajemen di tempat pelelangan ikan belum berjalan dengan baik.

3.5. Instrumen Penelitian

Menurut Nasution dalam Sugiyono (2009:60-61), dalam penelitian

kualitatif, tidak ada pilihan lain dari pada menjadikan manusia sebagai instrumen

penelitian utama. Alasannya ialah bahwa, segala sesuatu belum mempunyai

bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang

digunakan,bahkan hasil yang diharapkan, itu semuanya tidak dapat ditentukan

secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu dikembangkan

sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang serba tidak pasti dan tidak jelas itu,

tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-satunya yang
52

dapat mencapainya.Peneliti sebagai instrumen penelitian serasi untuk penelitian

serupa karena memiliki ciri-ciri antara lain:

1. Peneliti sebagai alat peka dan dapat beraksi terhadap segala

stimulus dari lingkungan yang harus diperkirakannya bermakna

atau tidak bagi penelitian.

2. Peneliti sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek

keadaan dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus.

3. Tiap situasi merupakan keseluruhan. Tidak ada suatu instrument

berupa tes atau angket yang dapat menangkap keseluruhan situasi

kecuali manusia.

4. Suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia, tidak dapat

dipahami dengan pengetahuan semata. Jadi, untuk memahaminya

kita perlu sering merasakannya, menyelaminya berdasarkan

pengetahuan kita.

5. Peneliti sebagai instrument dapat segera menganalisis data yang

diperoleh. Ia dapat menafsirkannya, melahirkan hipotesis dengan

segera untuk menentukan arah pengamatan, untuk mentest

hipotesis yang timbul seketika.

6. Hanya manusia sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan

berdasarkan data yang dikumpulkan pada pada suatu saat dan

menggunakan dengan segera sebagai balikan untuk memperoleh

penegasan, perubahan, perbaikan atau pelakan.


53

7. Dalam manusia sebagai instrumen, responden yang aneh dan

menyimpang diberi perhatian. Respon yang lain daripada yang

lain, bahkan yang bertentangan dipakai untuk mempertinggi

tingkat kepercayaan dan tingkat pemahaman mengenai aspek yang

diteliti.

Hal ini sejalan dengan pendapat Irawan, bahwa satu-satunya instrumen

terpenting dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri (2006:15). Dan

pendapat yang sama juga dikatakan Moleong (2005:19), bahwa pencari tahu

alamiah (peneliti) dalam pengumpulan data lebih banyak bergantung pada dirinya

sebagai alat pengumpul data. Oleh karena itu, instrument dalam penelitian ini

adalah peneliti sendiri dengan membuat pedoman wawancara dan pedoman

observasi dalam rangka mempermudah proses pengumpulan dan analisis data.

Sehingga peneliti dapat mengumpulkan data secara lebih utuh dan alamiah dalam

rangka memperoleh hasil penelitian yang lebih mendalam.

3.6. Informan Penelitian

Penentuan informan dalam penelitian mengenai manajemen pengelolaan

ini adalah dengan menggunakan teknik Purposive sampling (sampel bertujuan),

yaitu merupakan metode penetapan sampel dengan berdasarkan pada kriteria-

kriteria tertentu disesuaikan dengan informasi yang dibutuhkan.

Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini antara lain peneliti muat

dalam tabel 3.1


54

Tabel 3.1
Daftar Informan Penelitian

Kode Informan Informan

I1-1 Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan


Kabupaten Pandeglang

I2-1 Kepala UPT pangkalan pendaratan dan


pelelangan ikan Kecamatan Labuan

I3-1 Manajer Tempat Pelelangan Ikan Lelang


Panimbang

I4-1 Juragan Nelayan

I5-1 Masyarakat Nelayan Panimbang


(nelayan buruh dan perorangan)

I6-1 dan I6-2 Instansi terkait (Satpol PP dan Ditpolair


Polres Pandeglang)

(Sumber : Peneliti 2014)

Dri tabel 3.1 di atas peneliti akan menjelaskan peran informan pada penelitian

ini:

1. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang adalah

pembuat kebijakan pengelolaan perikanan di Kabupaten Pandeglang.

Dalam tingkat manajemen disebut top mangement (manajemen puncak)

Keahlian yang dimiliki para manajer tinggkat puncak adalah konseptual,

artinya keahlian untuk membuat dan merumuskan konsep untuk

dilaksanakan oleh tingkatan manajer dibawahnya.

2. Kepala UPT pangkalan pendaratan dan pelelangan ikan Kecamatan

Labuan adalah orang yang bertanggung jawab memastikan rencana dan


55

memastikan tercapainya suatu tujuan. Dalam tingkat manajemen disebut

middle management (manajemen menengah) oran yang memiliki keahlian

interpersonal/manusiawi artinya keahlian untuk berkomunikasi, bekerja

sama dan memotivasi orang lain.

3. Manajer Tempat Pelelangan Ikan Lelang Panimbang adalah orang yang

bertanggung jawab menyelesaikan rencana-rencana yng telah ditetapkan

oleh manajer yang lebih tinggi. Dalam tingkat manajemen disebut low

management (manajemen tingkat bawah) pada tingkatan ini manajer

memiliki keahlian di bidang teknis artinya keahlian yang mencakup

prosedur, teknik dan pengetahuan lapangan.

4. Masyarakat Nelayan Panimbang (nelayan buruh dan perorangan) adalah

sasaran dari target rencana manjemen pengelolaan tempat pelelangan ikan.

5. Juragan nelayan adalah orang yang membiayai kegiatan-kegiatan para

nelayan dalam melakuka aktivitas mencari ikan.

6. Instansi terkait adalah instansi yang menurut peneliti memeiliki hubungan

dengan pengelolaan tempat pelelangan ikan Panimbang.

3.7. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

3.7.1 Teknik Pengolahan Data

Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada

natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer, dan teknik

pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta (participant

observation), wawancara mendalam (in depth interview) dan dokumentasi.


56

C. Marshall, Gretchen B. Rossman, menyatakan bahwa “the fundamental

methods relied on by qualitative researchers for gathering information

are, participation in the setting, direct observation, in–depth interviewing,

document review (Sugiyono, 2009:63)”.

1. Sumber data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya

dan masih bersifat mentah karena belum diolah. Data ini diperoleh

melalui:

A. Pengamatan/Observasi

Observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan

dengan sistematis terhadap fenomena-fenomena yang diteliti. Dalam

penelitian ini peneliti langsung terjun ke lokasi penelitian dan

melakukan pengamatan langsung terhadap obyek-obyek yang diteliti,

kemudian dari pengamatan tersebut melakukan pencatatan-pencatatan

data-data yang di peroleh yang berkaitan dengan aktivitas penelitian.

Selain itu, observasi merupakan kegiatan yang meliputi

pencatatan secara sistematik kejadian-kejadian perilaku, objek-objek

yang dilihat dan hal-hal lain yang diperlukan dalam mendukung

penelitian yang sedang dilakukan. Konsep yang dikemukakan oleh

Faisal dalam sugiyono (2009:64) yang mengklasifikasikan observasi,

yaitu:
57

a. Observasi berpartisipasi (participant observation)

b. Observasi yang secara terang-terangan dan tersamar (overt

observation and convert observation), dan

c. Observasi yang tidak terstruktur (unstructured observation)).

Maka, observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah

observasi terang-terangan, dimana peneliti dalam melakukan

pengumpulan data menyatakan terus terang kepada sumber data,

bahwa peneliti sedang melakukan penelitian. Sehingga mereka yang

diteliti mengetahui sejak awal sampai akhir tentang aktivitas peneliti.

Dan juga peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari yang menjadi

sumber data penelitian. Sehingga diperlukan data yang akurat lengkap,

tajam dan terpercaya.

B. Wawancara

Esterberg dalam Sugiyono (2009:72) mendefinisikan interview

atau wawancara sebagai berikut.

“a meeting of two person to exchange information and idea


through question in respond, resulting in communication and
joint construction of meaning about a particular topic”.
Artinya: wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang
untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab,
sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik
tertentu.

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data

apabila peneliti ingin meneliti studi pendahuluan untuk menemukan

permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti


58

mengetahui hal-hal dari responden yang mendalam. Teknik

pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri

sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan

keyakinan pribadi.

Selanjutnya Esterberg dalam Sugiyono (2002:72) menyatakan

bahwa:

“interviewing is at the heartof social research. If you look


trough almost any socialogical journal, you will find that much
social research is based on interview, either standardized or
more in-depth”. Artinya intreview merupakan hatiny peneliti
sosial, bila anda lihat jurnal dalam ilmu sosial, maka akan anda
temui semua penelitian sosial didasarkan pada interview baik
yang standar maupun yangdalam.

Dalam penelitian kualitatif, sering menggabungkan teknik

observasi partisipatif dengan wawancaa mendalam. Selama melakukan

observasi, peneliti juga melakukan interview kepada orang-orang yang

ada di dalamnya. Esteberg mengemukakan beberapa macam

wawancara yaitu, wawancara terstruktur, semitersturktur dan tidak

terstruktur.

1. Wawancara terstruktur (structured interview)

Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik

pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah

mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan

diperoleh.
59

2. Wawancara semi terstruktur (semistructure interview)

Jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in-dept

interview, dimana dalam palaksanaannya lebih bebas bila di

bandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari

wawancara jenis ini adalah untuk menemukan

permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang

diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya. Dalam

melakukan wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara

teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh nforman.

3. Wawancara tak berstruktur (unstructured inerview)

Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas

dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara

yang telah tersusun scara sistematis dan lengkap untuk

pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang

digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan

yang akan ditanyakan.

Selanjutnya Lincon and Guba dalam Sugiyono (2009:76),

mengemukakan ada tujuh langkah dalam pengunaan wawancara untuk

mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif, yaitu:

1. Menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan

2. Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadibahan

pembicaraan
60

3. Mengawali atau membuka alur wawancara

4. Melangsungkan alur wawancara

5. Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan

mengakhirinya

6. Menuliskan hasil wawancara kedalam catatan lapangan

7. Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah

diperoleh.

2. Sumber data Sekunder

Sumber data sekunder ini merupakan sumber data yang diperoleh

melalui kegiatan studi literatur atau studi kepustakaan dan dokumentasi

mengenai data yang diteliti.

A. Studi Kepustakaan

Pengumpulan data ini diperoleh dari berbagai referensi yang

relevan dengan penelitian yang dijalankan dan teknik ini berdasarkan

text books maupun jurnal ilmiah.

B. Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi, yakni pengumpulan data yang bersumber

dari dokumen yang resmi dan relevan dengan penelitian yang sedang

dilakukan.Dokumen yang diperoleh tersebut dapat berupa tulisan,

gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.

Adapun alat pengumpulan data yang digunakan dalam

penelitian ini, khususnya dalam melakukan wawancara adalah:


61

a. Buku catatan: untuk mencatat pencatatan dengan sumber data.

b. Recorder: untuk merekam semua percakapan karena jika

hanya menggunakan buku catatan, peneliti sulit untu

mendapatkan informasi yang telah diberikan oleh informan.

c. Handphone camera: untuk memotret/mengambil gambar

semua kegiatan yang berkaitan dengan penelitian. Hal ini

dimaksudkan untuk meningkatkan keabsahan dari suatu

penelitian.

Selanjutnya sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini

terbagi atas data primer dan data skunder. Data primer diambil

langsung dari informan penelitian. Dalam hal ini data primer ini

diambil melalui wawancara (interview). Sedangkan data skunder

adalah data yang tidak langsung berasal dari informan. Oleh karena itu

dalam penelitian ini, data skunder diperoleh melalui data-data dan

dokumen-dokumen yang relevan mengenai masalah yang diteliti.

Data-data tersebut merupakan data yang diperlukan dalam

menyelesaikan masalah yang dibahas dalam penelitian ini.

3.7.2. Teknik Analisis Data

Proses analisa data dilakukan secara terus menerus sejak awal

data dikumpulkan sampai dengan penelitian berakhir. Untuk

memberikan makna terhadap data yang telah disimpulkan, dilakukan

analisis data dan interpretasi. Mengingat ini dilaksanakan melalui


62

pendekatan kualitatif, maka analisis dilakukan sejak data pertama

sampai penelitian berakhir.

Dalam penelitian kualitatif, data diperoleh dari berbagai sumber,

dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam

(triangulasi), dan dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh.

Dengan pengamatan yang terus menerus tersebut mengakibatkan variasi

data tinggi sekali. Data yang diperoleh pada umumnya adalah data

kualitatif (walaupun tidak menolak data kuantitatif), sehingga teknik

analisis data yang digunakan belum ada polanya yang jelas. Oleh karena

itu sering mengalami kesulitan dalam melakukan analisis. Seperti

dinyatakan oleh Miles and Huberman dalam Sugiyono (2009:87), bahwa

“the most serious and central difficulity in the use ofcentral


difficulity in the use of qualitative data is that methods of analysis
are not well formulate”. Artinya yang paling serius dan sulit
dalam analisis data kualitatif adalah karena, metode analisis belum
dirumuskan dengan baik.

Selanjutnya Susan Stainback dalam sugiyono (2009:88)


menyatakan:

“the are no guidelines in qualitative research for determining how


much data analysis are necessary to support and assertion,
conclusion, on theory”. Artinya belum ada panduan dalam
penelitian kualitatif untuk menentukn berapa banyak data dan
analisis yang diperlukan untuk mendkung kesimpulan atau teori.

Analisis data dalam penelitan kualitatif, dilakukan apabila data

empiris yang diperoleh adalah data kualitatif berua kumpulan berwujud

kata-kata dan bukan rangkaian angka serta tidak dapat disusun dalam

kategori-kategori/struktur klasifikasi. Menurut Miles dan Huberman


63

Kegiatan analisis data kualitatif terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi

bersamaan, yaitu Data Reduksi (Reduksi Data), Data Display (Penyajian

Data), dan Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi)

(Silalahi 2009:339):

1. Data Reduction (Reduksi data)

Reduksi data merupakan sauatu bentuk analisis yang

menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak

perlu, dan mengorganisasikan data sedemikian rupa hingga

kesimpulan-kesimpulanya dapat ditarik dan di verifikasi. Reduksi

data atau proses transformasi ini berlanjut terus sesudah penelitian

lapangan, sampai laporan akhir tersusun lengkap.

2. Data Display (penyajian data)

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data yaitu sebagai

sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya

penarikan kesimpulandan pengambilan tindakan. Melalui data yang

disajikan, kita melihat dan kan memahami apa yang sedang terjadi dan

apa yang harus di lakukan lebih jauh menganalisis ataukah mengambil

tindakan berdasarkan atas pemahaman yang didapat dari penyajian-

penyajian tersebut. Penyajian data dapat dilakukan dalam uraian

singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya.

Dalam hal ini Miles and Huberman menyatakan “the most frequent

from display data for qualitatif ressearch data in the past has ben

narrative text”. Artinya yang paling sering digunakan untuk


64

menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang

bersifat naratif.

3. Conclusion Drawing and verifikasi

Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara,

dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang

mendukung pada tahap pengumpulan berikutnya. Tetapi apabila

kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-

bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan

mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan

kesimpulan yang kredibel. Dengan demikian kesimpulan dalam

penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang

dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah

dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian

kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah

peneliti berada di lapangan.

Kesimpula dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan

baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa

deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-

remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa

hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.

3.7.3. Uji Keabsahan Data

Yang dimaksud dengan keabsahan data adalah bahwa setiap

keadaan harus memenuhi: 1) Mendemostrasikan nilai yang benar, 2)


65

Menyediakan dasar agar hal itu dapat diterapkan, dan 3)

Memperbolehkan keputusan luar yang dapat dibuat tentang konsistensi

dari prosedurnya dan kenetralan dari temuan dan keputusan-

keputusannya. (Moleong, 2006:320) isu dasar dari hubungan keabsahan

data pada dasarnya adalah sederhana.Bagaimana peneliti membujuk agar

pesertanya (termasuk dirinya) bahwa temuan-temuan penelitian dapat

dipercaya. Untuk menguji keabsahan data, dapat dilakukan dengan tujuh

teknik, yaitu perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan,

triangulasi, pengecekan sejawat, kecukupan referensial, kajian kasus

negatif, pengecekan anggota (member check).

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan uji keabsahan data

dengan teknik triangulasi dan pengecekan anggota (member check).

3.7.3.1 Triangulasi

Moleong (2006 :330) menjelaskan bahwa triangulasi

merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan

sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau

sebagai pembanding terhadap data itu. Denzin (Prastowo, 2011 :269)

membedakan teknik ini menjadi 5 macam yaitu :

1. Triangulasi sumber yaitu suatu teknis pengecekan kredibilitas

data yang dilakukan dengan memeriksa data yang didapatkan

melalui beberapa sumber. Triangulasi dengan sumber berarti

membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan atau


66

informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda

dalam penelitian kualitatif.

2. Triangulasi teknik yaitu suatu tekhnik pengecekan kredibilitas

dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang

sama dengan teknik yang berbeda yaitu melalui wawancara,

observasi dan studi dokumentasi.

3. Triangulasi waktu yaitu suatu teknik pengecekan kredibilitas

dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan

wawancara, observasi atau tekhnik lain dalam waktu atau

situasi yang berbeda.

4. Triangulasi penyidik, suatu teknik pengecekan kredibilitas

dilakukan dengan cara memanfaatkan pengamat lain untuk

pengecekan derajat kepercayaan data.

5. Triangulasi teori, suatu tekhnik pengecekan kredibilitas

dilakukan dengan cara menggunakan lebih dari satu teori untuk

memeriksa data temuan penelitian.

Adapun untuk menguji keabsahan data pada penelitian ini

dilakukan melalui teknik Triangulasi Sumber dan Triangulasi Teknik

Menurut Moleong (2005: 330) hal tersebut dapat tercapai dengan cara:

1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil

wawancara;
67

2. Membandingkan apa yang di katakan orang di depan umum

dengan apa yang dikatakan secara pribadi;

3. Membandingkan apa yang di katakan orang tentang situasi

peneliti dengan apa yang di katakannya sepanjang waktu;

4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan

berbagai pendapat dan pandangan orang seperti masyarakat

biasa, kalangan yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang

pemerintahan;

5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen

yang berkaitan.

3.7.3.2 Member Check

Selain itu peneliti pun melakukan member check, yaitu

proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data.

Tujuan member check adalah mengetahui seberapa jauh data yang

diperoleh sesuai dengan apa yang di berikan oleh pemberi data.

Selain itu, member check adalah agar informasi yang diperoleh dan

akan di gunakan dalam penulisan laporan sesuai dengan apa yang

dimaksud sumber data atau informan. Setelah member check

dilakukan, maka pemberi data di mintai tandatangan sebagai bukti

otentik bahwa peneliti telah melakukan member check dalam

Moelong (2005: 276).


68

3.8 Jadwal Penelitian

Pada umumnya penelitian kualitatif memerlukan waktu yang relatif lama,

anatara 6 bulan sampai 24 bulan. Untuk itu perlu direncanakan jadwal

pelaksanaan penelitian. Jadwal penelitian berisi aktivitas yang dilakukan dan

kapan akan dilakukan (Sugiyono, 2009:148). Berikut ini merupakan jadwal

penelitian Manajemen Pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan Lelang Panimbang

Kabupaten Pandeglang. Jadwal penelitian Manajemen Pengelolaan Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang Kabupaten Pandeglang peneliti sajikan pada Tabel

3.2 dibawah:
69

Tabel 3.2

Jadwal Penelitian

Waktu Pelaksanaan
Kegiatan 2014-2015
3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7
Pengajuan
Judul
Observasi
Awal
Pengumpula
Data
Penyusunan
Proposal
Seminar
Proposal
Penelitian
Lapangan
Reduksi
Data
Penyajian
Data
Penarikan
Kesimpulan
Dan
Verifikasi
Sidang
Skripsi
(Sumber : Peneliti 2015)

Keterangan Nama Bulan:

1: Januari 7: Juli

2: Februari 8: Agustus

3: Maret 9: September

4: April 10: Oktober

5: Mei 11: November

6: Juni 12: Desember


BAB IV

HASIL PENELITIIAN

4.1 Deskripsi Objek Penelitian

Deskripsi objek penelitian ini akan menjelaskan tentang objek penelitian yang

meliputi lokasi penelitian yang diteliti dan memberikan gambaran umum

Kabupaten Pandeglang, gambaran umum Dinas Kelautan dan Perikanan

Kabupaten Pandeglang, UPT Pangkalan Pendaratan Ikan dan Tempat Pelelangan

Ikan (PPI dan TPI) Kecamatan Labuan dan gambaran umum Tempat Pelelangan

Ikan Panimbang. Hal tersebut dipaparkan dibawah ini.

4.1.1 Deskripsi Kabupaten Pandeglang

Berdasarkan staatsblad 1874 No. 73 Ordonasi, mulai berlaku

pembagian daerah sejak tanggal 1 April 1874, Kabupaten Pandeglang terdiri

dari Kewedanan Pandeglang, Baros, Ciomas, Kolelet, Cimanuk, Caringin,

Panimbang, Menes dan Cibaliung. Atas dasar inilah disepakati bersama

bahwa tanggal 1 April ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Pandeglang.

Menurut data tersebut di atas, Pandeglang sejak 1 April 1874 telah memiliki

pemerintahan sendiri. Hal ini dipertegas lagi oleh Ordonasi 1877 Nomor 224

tentang batas-batas Keresidenan Banten, termasuk batas-batas Kabupaten

Pandeglang dalam tahun 1925 dengan keputusan Gubernur Jenderal Hindia

Belanda tanggal 14 Agustus 1925 Nomor XI.

Daerah Kabupaten Pandeglang secara geografis terletak antara 6º21‟-

7º10‟ LS dan 104º48‟ - 106º11‟ BT dengan luas 2.747 km2 (274.689,91

70
71

ha)atau sebesar 29,98% dari luas Provinsi Banten, dengan panjang garis

pantai termasuk dengan pulau-pulau kecil sepanjang 307 km. Wilayah yang

berada diujung Barat dari Provinsi Banten ini mempunyai batas administrasi

sebagai berikut:

Utara : Kabupaten Serang


Selatan : Samudera Indonesia
Barat : Selat Sunda
Timur : Kabupaten Lebak

Wilayah Administrasi Kabupaten Pandeglang terdiri dari 35 Kecamatan

dan 339 Desa/Kelurahan dengan luas wilayah daerah sebesar 2.747 km2.

Kecamatan Cikeusik merupakan kecamatan terluas di Kabupaten Pandeglang

dengan luas sekitar 322,76 km2, sedangkan Labuan merupakan Kecamatan

terkecil dengan luas sekitar 15,66 km2.

Gambar 4.1 Peta Kabupaten Pandeglang


72

4.1.2 Deskripsi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang

Mengacu pada amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945, bahwa pemerintah daerah berwenang untuk mengatur

dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas

pembantuan. Pemberian otonomi luas kepada daerah diarahkan untuk

memepercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat itu melalui otonomi

luas, daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan

memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan

kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem Negara

Kesatuan Republik Indonesia.

Kondisi wilayah geografis Kabupaten Pandeglang yang dikelilingi laut

akan sangat berpengaruh pada pola pembangunan di Kabupaten Pandeglang.

Dengan demikian, perencanaan pembangunan di sektor kelautan dan

perikanan tidak dapat dilepaskan dan harus mampu menjadi leading sektor

pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Pandeglang.

Sektor kelautan dan perikanan mempunyai karakteristik yang berbeda

dengan sektor lain, khususnya sumberdaya perikanan laut yang pada

hakekatnya tidak dapat dibatasi berdasarkan wilayah administrasi dan bersifat

terbuka dalam pemanfaatannya. Sumberdaya perikanan laut tropis memiliki

banyak spesies yang relatif terbatas.

Disisi lain, pembangunan kelautan dan perikanan di Kabupaten

Pandeglang masih memerlukan perhatian seperti belum optimalnya

eksploitasi dan pemanfaatan perairan ZEE di Samudera Hindia. Untuk


73

menjawab peluang yang dimaksud di atas Pemerintah Kabupaten Pandeglang

menerbitkan Perda Kabupaten Pandeglang Nomor 6 Tahun 2008 tentang

Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah

Kabupaten Pandeglang.

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang adalah salah satu

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) milik Pemerintah Kabupaten

Pandeglang yang beralamat di Jalan Raya Labuan Km 5. Dinas ini

mempunyai tugas untuk melaksanakan urusan pemerintah dibidang Kelautan

dan Perikanan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.

Pada awal tahun pembentukannya, Dinas Kelautan dan Perikanan

Kabupaten Pandeglang bernama Jawatan Perikanan Darat dan Perikanan

Laut, kemudian dirubah menjadi Dinas Perikanan. Pada era Gusdur, Dinas

Perikanan diganti kembali menjadi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten

Pandeglang.

Semangat untuk menghasilkan kemajuan di bidang kelautan dan

perikanan didorong oleh motivasi yang kuat untuk menggali dan

memanfaatkan potensi kelautan dan perikanan sebagai sumber pertumbuhan

ekonomi. Dinas Kelautan dan Perikanan sesuai dengan tugas pokok dan

fungsinya diberi wewenang untuk mengelola, memanfaatkan dan

melestarikan sumber daya kelautan dan perikanan demi kesejahteraan

masyarakat Pandeglang, khususnya masyarakat nelayan, pembudidaya,

pengolah dan pemasar ikan, serta untuk meningkatkan kontribusi bagi

Pendapatan Asli Daerah (PAD).


74

4.1.3 Potensi Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Pandeglang

Besarnya potensi sumber daya alam kelautan Kabupaten Pandeglang

dapat dilihat dari besarnya luas wilayah perairan dan panjang pantai, yaitu

sebagai berikut:

Tabel 4.1

Kecamatan, Desa Pantai dan Panjang Pantai

No Kecamatan Desa
1 Carita Pejamben
Banjarmasin
Carita
Sukajadi
Sukarame
Sukanegara
2 Labuan Caringin
Teluk
Cigondang
Margasana
3 Pagelaran Margagiri
Tegal Papak
4 Sukaresmi Sidamukti
5 Panimbang Panimbang Jaya
Mekarsari
Citeurep
Tanjung Jaya
6 Cigeulis Banyuasih
7 Sumur Sumber Jaya
Kerta jaya
Kertamukti
Tutidakl Jaya
Cigorondong
Tamanjaya
Ujung Jaya
Cihonje
8 Cikeusik Tanjungan
Cikiruh wetan
9 Cibitung Citeluk
Siding Kerta
Kiara Jangkung
Kuta karang
Cikiruh
10 Cimanggu Rancapinang
11 Cibaliung Citeluk
Siding Kerta
Kiara Jangkung
Kuta Karang
12 Taman nasional Ujung Kulon
(Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang
2013)
75

Kecamatan dan Desa tersebut berhadapan dengan laut:

a. Menghadap Samudera Indonesia : 124 Km2

b. Menghadap Selat Sunda : 106 Km2

4.1.4 Visi dan Misi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten

Pandeglang

1. Visi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang merupakan

unsur pelaksana Pemerintah Daerah sesuai dengan Perda Nomor 6 Tahun

2008 yang melaksanakan tugas desentralisasi di bidang Kelautan dan

Perikanan, serta selayaknya visi dan misi Dinas Kelautan dan Perikanan

Kabupaten Pandeglang mendukung pencapaian visi dan misi Pemerintah

Daerah Kabupaten Pandeglang. Berdasarkan Rencana Pembangunan

Jangka Menengah (RPJM) Daerah Kabupaten Pandeglang Tahun 2011,

bahwa visi Kabupaten Pandeglang adalah “Kabupaten Pandeglang

sebagai daerah mandiri dan berkembang agribisnis dan pariwisata

berbasis pembangunan perdesaan”.

Atas dasar visi Kabupaten Pandeglang tersebut, maka visi Dinas

Kelautan dan Perikanan Kabupaten untuk periode 2011 – 2016

adalah“Melalui pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya kelautan

dan perikanan yang berwawasan agribisnis berbasis pembangunan

pedesaan mewujudkan pembangunan sektor kelautan dan

perikanan yang mandiri dan berkembang”.


76

2. Misi Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Pandeglang

1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia baik

masyarakat maupun aparatur kelautan dan perikanan;

2. Meningkatkan sarana dan prasarana yang mendukung pengelolaan

pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan;

3. Meningkatkan pendapatan nelayan, pembudidaya ikan dan pelaku

usaha kelautan dan perikanan;

4. Mengembangkan usaha agribisnis di bidang kelautan dan

perikanan;

5. Mengawasi dan mengendalikan pengelolaan sumber daya kelautan

dan perikanan.

4.1.5 Gambaran Umum UPT Pangkalan Pendaratan Ikan dan Tempat

Pelelangan Ikan (PPI dan TPI) Kecamatan Labuan

UPT Pangkalan Pendaratan Ikan dan Tempat Pelelangan Ikan (PPI dan

TPI) Kecamatan Labuan adalah yang menaungi PPI/TPI di Kabupaten

Pandeglang yang wilayah kerjanya meliputi Kecamatan Labuan, Kecamatan

Sidamukti, Kecamatan Panimbang, Kecamatan Citeureup, Kecamatan Carita,

Kecamatan Sumur, Kecamatan Tamanjaya dan Kecamatan Cikeusik.

4.1.5.1 Kedudukan, Tugas, Fungsi, Tujuan dan Rincian Tugas UPT

Pangkalan Pendaratan Ikan dan Tempat Pelelangan Ikan

(PPI dan TPI) Kecamatan Labuan

Adapun kedudukan, fungsi dan rincian tugas Tempat Pelelangan

Ikan yaitusesuai dengan Bab X Pasal 63-66 Peraturan Bupati Nomor 20


77

Tahun 2008 tentang Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Dinas pada

Dinas Daerah Kabupaten Pandeglang;

1) UPT Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan Ikan Kecamatan

Labuan dipimpin oleh seorang kepala UPT yang berada di

bawah dan bertanggung jawab kepada kepala Dinas Kelautan

dan Perikanan;

2) UPT Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan Ikan Kecamatan

Labuan mempunyai tugas pokok melaksanakan pengelolaan

dan pembinaan kegiatan pangkalan pendaratan dan Tempat

Pelelangan Ikan sesuai dengan peraturan perundang-

undangan yang berlaku;

3) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat

(2), UPT Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan Ikan

Kecamatan Labuan melaksanakan fungsi:

a. Penyusunan bahan kebijakan operasional UPT Pangkalan

Pendaratan dan Pelelangan Ikan Kecamatan Labuan;

b. Penyusunan perencanaan operasional UPT Pangkalan

Pendaratan dan Pelelangan Ikan Kecamatan Labuan;

c. Pelaksanaan pembinaan, koordinasi, monitoring dan

evaluasi pelaksanaan kegiatan operasional UPT

Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan Ikan Kecamatan

Labuan.
78

Rincian tugas UPT Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan Ikan

Kecamatan Labuan adalah sebagai berikut:

a. Menyusun rencana kerja UPT Pangkalan Pendaratan dan

Pelelangan Ikan Kecamatan Labuan;

b. Mengelola dan membina kegiatan Pendaratan Ikan (PPI) dan

Tempat Pelelangan Ikan (TPI);

c. Mengoordinasi kegiatan PPI, TPI, pasar ikan dan

kelembagaan usaha perikanan;

d. Melaksanakan pembinaan kepada nelayan dan masyarakat

pesisir;

e. Memelihara sarana dan prasarana perikanan di lingkungan

Unit Pelaksana Teknis;

f. Memonitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan

pelelangan, harga ikan dan distribusinya;

g. Melaksanakan pendataan sarana dan prasarana kelautan dan

serta inventarisasi aset-aset milik pemerintah daerah;

h. Melaksanakan pembinaan perizinan usaha perikanan sesuai

peraturan perundang-undangan yang berlaku;

i. Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan

kegiatan UPT Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan Ikan

Kecamatan Labuan;

j. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas

sesuai dengan tugas dan fungsinya.


79

Rincian tugas UPT Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan Ikan

Kecamatan Labuan adalah sebagai berikut:

a. Menyusun rencana kerja UPT Pangkalan Pendaratan dan

Pelelangan Ikan Kecamatan Labuan;

b. Mengelola dan membina kegiatan Pendaratan Ikan (PPI) dan

Tempat Pelelangan Ikan (TPI);

c. Mengordinasi kegiatan PPI, TPI, Pasar ikan dan kelembagaan

usaha perikanan;

d. Melaksanakan pembinaan kepada nelayan dan masyarakat

pesisir;

e. Memelihara sarana dan prasarana perikanan di lingkungan

Unit Pelaksana Teknis;

f. Memonitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan

pelelangan, harga ikan dan distribusinya;

g. Melaksanakan pendataan sarana dan prasarana kelautan dan

serta inventarisasi aset-aset milik pemerintah daerah;

h. Melaksanakan pembinaan perizinan usaha perikanan sesuai

peraturan perundang-undangan yang berlaku;

i. Melakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan

kegiatan UPT Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan Ikan

Kecamatan Labuan;

j. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas

sesuai dengan tugas dan fungsinya.


80

Rincian subbagian tata usaha UPT Pangkalan Pendaratan dan

Pelelangan Ikanadalah sebagai berikut;

1) Subbagian Tata Usaha UPT Pangkalan Pendaratan dan

Pelelangan Ikan dipimpin oleh Kepala Subbagian yang

berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala UPT

Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan Ikan;

2) Subbagian Tata Usaha UPT Pangkalan Pendaratan dan

Pelelangan Ikan mempunyai tugas pokok melaksanakan

pengelolaan administrasi perkantoran, kepegawaian dan

keuangan;

3) Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud

pada ayat (2), Subbagian Tata Usaha UPT Pangkalan

Pendaratan dan Pelelangan Ikan melaksanakan fungsi:

a. Penyusunan rencana kerja UPT Pangkalan Pendaratan dan

Pelelangan Ikan;

b. Pengelolaan Administrasi perkantoran, administrasi

kepegawaian dan administrasi keuangan UPT Pangkalan

Pendaratan dan Pelelangan Ikan;

c. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan kegiatan UPT

Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan Ikan.

Rincian tugas Subbagian Tata Usaha UPT Pangkalan Pendaratan

dan Pelelangan Ikan:


81

a. Melaksanakan pengelolaan administrasi perkantoran UPT

Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan Ikan;

b. Melaksanakan pengelolaan adminstrasi kepegawaian UPT

Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan Ikan;

c. Melaksanakan pengelolaan administrasi keuangan UPT

Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan Ikan;

d. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai

dengan tugas dan fungsinya.

4.1.5.2 Susunan Organisasi UPT Pangkalan Pendaratan dan

Pelelangan Ikan Kecamatan Labuan

(1) Susunan Organisasi UPT Pangkalan Pendaratan dan

Pelelangan Ikan Kecamatan Labuan terdiri dari:

a. Kepala UPT;

b. Kepala Bagian Subbagian Tata Usaha.

(2) Bagan Organisasi UPT Pangkalan Pendaratan dan

Pelelangan Ikan Kecamatan Labuan


82

Gambar 4.2

Struktur Organisasi UPT Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan Ikan

Kecamatan Labuan
KEPALA DINAS

KEPALA UPT

KELOMPOK JABATAN
KEPALA
FUNGSIONAL SUBBAGIAN TATA
USAHA

(Sumber:Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang,2008)

4.1.6 Gambaran Umum Tempat Pelelangan Ikan Panimbang

Tempat Pelelangan Ikan Panimbang merupakan salah satu dari 13

Tempat Pelelangan Ikan yang berada di Kabupaten Pandeglang. Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang berada dibawah UPT Kecamatan Labuan seperti

tercantum dalam Peraturan Bupati Pandeglang Nomor 20 Tahun 2008 tentang

Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Daerah Kabupaten

Pandeglang mengatakan bahwa UPT Pangkalan Pendaratan dan Pelelangan

Ikan Kecamatan Labuan yang wilayah kerjanya meliputi Kecamatan Labuan,


83

Sidamukti, Panimbang, Citeurep, Carita, Sumur, Taman Jaya dan Cikeusik,

Banyuasih, Sukanegara, Rancacecet.

Tempat Pelelangan Ikan Panimbang berada di Kecamatan Panimbang.

Wilayah Kecamatan Panimbang secara geografis terletak pada 06º29‟00”-

06º36‟00” Lintang Selatan dan 105º38‟00” - 104º50‟00” Bujur Timur.

Dengan luas wilayah 97,75 km² atau sebesar 3,56% dari luas Kabupaten

Pandeglang. Kecamatan Panimbang berjarak 60 km dari Kecamatan

Pandeglang sebagai Ibukota Kabupaten Pandeglang dan memiliki batas

administrasi, sebagai berikut:

Utara : Kecamatan Sukaresmi

Selatan : Kecamatan Cigeulis

Barat : Selat Sunda

Timur : Kecamatan Sobang

Tempat Pelelangan Ikan Panimbang merupakan Unit Pelaksana Teknis

dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang, tujuan

didirikannya Tempat Pelelangan Ikan Panimbang adalah untuk mengelola

potensi perikanan laut yang ada di wilayah Panimbang, meningkatkan

pendapatan nelayan, pembudidaya ikan dan pelaku usaha kelautan dan

perikanan serta menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk

Kabupaten Pandeglang.
84

Gambar 4.3
Struktur Organisasi TPI Panimbang

MANAGER
EDI SUHENDI

KASIR TU JURU JURU TAGIH


LELANG
ABDUL AZIS AYIP HADI
ADI AMIN

JURU RESI PENGAWAS DKP KEB/KEAMANAN

(Sumber: Tempat Pelelangan Ikan Panimbang, 2014)

Tabel 4.2

Jenis Kapal Panimbang Berdasarkan Gross Tonase (GT)

No Gross Tonase
(GT)
1 0-3
2 4-7
3 8-10
4 11-30
(Sumber: Tempat Pelelangan Ikan Panimbang, 2014)

4.2 Deskripsi data

4.2.1 Deskripsi Data Penelitian

Deskripsi data merupakan penjelasan mengenai data yang didapat dari

hasil penelitian. Data ini didapat dari hasil penelitian dengan menggunakan

teknik analisa data kualitatif. Dalam penelitian mengenai Manajemen

Pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan Panimbang di Kabupaten Pandeglang.

Peneliti menggunakan teori fungsi-fungsi manajemen menurut G.R Terry.


85

Teori tersebut memberikan gambaran atas fungsi-fungsi manajemen yaitu,

Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling.

Kemudian data yang peneliti dapatkan lebih banyak berupa kata-kata

dan kalimat yang berasal dari hasil wawancara, observasi penelitian, catatan

lapangan atau hasil dokumentasi lainnya yang relevan dengan fokus

penelitian ini. Proses pencarian dan pengumpulan data dilakukan secara

investigasi dimana peneliti melakukan waawancara kepada sejumlah

informan yang berkaitan dengan masalah penelitian sehinggainformasi yang

didapat sesuai dengan apa yang diharapkan. Informan yang adapun sudah

ditentukan dari awal karena peneliti menggunakan teknik purposive.

Selanjutnya karena penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, maka

dalam proses menganalisis datanya pun peneliti melakukan analisa secara

bersamaan. Seperti yang telah dipaparkan dalam bab 3 (tiga) sebelumnya,

bahwa dalam prosesnya analisa dalam penelitian ini yaitu dengan

menggunakan teknik analisis data menurut Miles dan Huberman.Menurut

Miles dan Huberman kegiatan analisis data kualitatif terdiri dari tiga alur

kegiatan yang terjadi bersamaan, yaitu Data Reduksi (reduksi data), Data

Display (penyajian data), dan Conclusion Drawing (penarikan

kesimpulan/verifikasi) (Silalahi, 2009:339).

Reduksi data merupakan suatu proses pemilihan, merangkum,

memfokuskan pada hal yang penting, dicari tema dan polanya. Untuk

mempermudah peneliti dalam melakukan reduksi data, peneliti memberikan

kode pada aspek tertentu, yaitu:


86

1. Kode Q menunjukkan item pertanyaan

2. Kode A menunjukkan item jawaban

3. Kode I1-1 menunjukkan daftar informan dari Kepala Dinas Kelautan

dan Perikanan Kabupaten Pandeglang

4. Kode I2-1 menunjukkan daftar informan dari Kepala UPT PPI/TPI

Labuan

5. Kode I3-1 menunjukkan daftar informan Manajer TPI Panimbang

6. Kode I3-2 menunjukkan daftar informan Kasir TPI Panimbang

7. Kode I4-1, I4-2, I4-3 … menunjukkan daftar informan Juragan Nelayan

Panimbang

8. Kode I5-1, I5-2, I5-3… menunjukkan daftar informan Nelayan

Panimbang.

9. Kode I6-1 dan I6-2 menunjukan daftar informan dari instansi terkait.

Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data,

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data yaitu sebagai sekumpulan

informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan

kesimpulandan pengambilan tindakan. Melalui data yang disajikan, kita

melihat dan akan memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus

dilakukan lebih jauh menganalisis ataukah mengambil tindakan berdasarkan

atas pemahaman yang didapat dari penyajian-penyajian tersebut. Penyajian

data dapat dilakukan dalam uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori,

flowchart dan sejenisnya. Dalam hal ini Miles and Huberman menyatakan

“the most frequent from display data for qualitatif research data in the past
87

has been narrative text”. Artinya yang paling sering digunakan untuk

menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat

naratif.

Kemudian yang terakhir adalah penarikan kesimpulan atau verifikasi

kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan

berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuatyang mendukung pada

tahap pengumpulan berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan

pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat

peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang

dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Dengan demikian

kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan

masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena

seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam

penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah

peneliti berada di lapangan. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah

merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat

berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-

remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa

hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.

4.2.2 Data Informan Penelitian

Pada penelitian mengenai Manajemen Pengelolaan Tempat Pelelangan

Ikan Panimbang di Kabupaten Pandeglang, peneliti menggunakan teknik

purposive. Teknik purposive merupakan metode penentuan informan dengan


88

berdasarkan pada kriteria-kriteria tertentu disesuaikan dengan informasi yang

dibutuhkan. Adapun informan yang peneliti tentukan, merupakan orang-

orang yang menurut peneliti memiliki informasi yang peneliti butuhkan

dalam penelitian ini, karena mereka (informan) dalam kesehariannya

senantiasa berurusan dengan permasalahan yang sedang diteliti.

Informan dalam penelitian ini adalah pengelola Tempat Pelelangan Ikan

Panimbang baik manajer Tempat Pelelangan Ikan dan instansi yang terlibat

dalam pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan serta pihak-pihak lain yang

terkait dalam pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan. Adapun SKPD yang

tersebut diantaranya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang

dan UPT PPI/TPI Labuan. Untuk keabsahan data dan untuk menggali secara

mendalam mengenai penelitian ini maka peneliti pun mengambil informan

dari juragan nelayan Panimbang, serta nelayan-nelayan yang ada di

Panimbang. Adapaun informan yang bersedia diwawancarai adalah:

Tabel 4.3
Daftar Informan
Kode Jenis kelamin
No Nama Keterangan Umur
informan (L/P)
1 I1-1 Ir. H. T. Nanzar Kepala Dinas
Riadi, MM Kelautan dan 57 L
Perikanan
2 I2-1 Asep Kenedi Kepala UPT
49 L
PPI/TPI
3 I3-1 Edi Suhandi Manajer TPI 50 L
4 I3-2 Ayip TU TPI 47 L
6 I4-1 Soebah Juragan Nelayan 36 P
7 I4-2 H. Mista Juragan Nelayan 62 L
8 I4-3 Tasbin Juragan Nelayan 54 L
9 I5-1 Muin Nelayan 36 L
10 I5-2 Radi Nelayan 34 L
11 I5-3 Cecep Nelayan 34 L
89

12 I5-4 Aan Nelayan 27 L


13 I5-5 Wasdi Nelayan 25 L
14 I5-6 Wasto Nelayan 51 L
15 I6-1 Tata Miharja Satpol PP 50 L
16 I6-2 Nur Said Ditpolair Polres
50 L
Pandeglang
(Sumber: Peneliti, 2015)

4.2 Pembahasan

Pembahasan dalam penelitian ini merupakan data dan fakta yang peneliti

dapatkan langsung dari lapangan serta disesuaikan dengan teori yang peneliti

gunakan. Untuk mengetahui bagaimana manajemen pengelolaan Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang di Kabupaten Pandeglang, menggunakan teori fungsi

manajemen dari G.R Terry (2008:17) dimana dalam teori ini memberikan tolak

ukur atas komponen-komponen penting yang harus dipertimbangkan dalam

melakukan manajemen pengelolaan untuk mencapai tujuan yang diinginkan yaitu:

1. Planning (perencanaan);

2. Organizing (pengorganisasian);

3. Actuating (pelaksanaan);

4. Controlling (pengawasan).

4.3.1 Planning (perencanaan)

Planning (perencanaan) ialah menetapkan pekerjaan yang harus

dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang digariskan, planning mencakup

kegiatan pengambilan keputusan karena termasuk pemilihan alternatif-

alternatif keputusan. Diperlukan kemampuan untuk mengadakan visualisasi

dan melihat kedepan guna merumuskan suatu pola dari himpunan tindakan

untuk masa mendatang (Terry, 2008:17).


90

Dalam manajemen pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan seharusnya

memiliki perencanan yang matang dan baik karena tujuan utama di

dirikannya Tempat Pelelangan Ikan adalah untuk mengelola seluruh potensi

perikanan laut yang ada di sekitar daerah tempat pelelangan tersebut. Selain

itu, Tempat Pelelangan Ikan di dirikan untuk menaikkan taraf hidup para

nelayan serta tujuan utama yang paling penting didirikannya Tempat

Pelelangan Ikan adalah untuk memungut retribusi dari kegiatan pelelangan

ikan guna memberikan sumbangan untuk Penerimaan Asli Daerah. Dalam

penelitian ini peneliti menanyakan apa rencana yang dibuat untuk mengelola

TPI. Menurut wawancara penelitian dengan kepala Dinas Kelautan dan

Perikanan (I1-1);

“Untuk mengelolannya memanfaatkan potensi SDM yang ada


melalui seleksi pegawai baik tenaga kerja sukarela maupun PNS,
di SK-kan oleh Kepala Dinas kemudian dikukuhkan oleh Bupati
Pandeglang”

Dari hasil wawancara di atas dapat di analisis rencana yang dibuat oleh

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang adalah menyiapkan

sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dalam hal kelautan dan

perikanan guna menjalankan Tempat Pelelangan Ikan, kemudian pernyataan

ini ditambahkan oleh kepala UPT PPI/TPI Labuan (I2-1) pada wawancara

penelitian;

“Rencana mengelola Tempat Pelelangan Ikan adalah menyiapkan


sumber daya manusia (manajer dan staf) melalui penyeleksian
yang kemudian di SK-kan oleh Kepala Dinas Kelautan dan
Perikanan”
91

Karena tujuan utama didirikannya Tempat Pelelangan Ikan adalah

untuk mengelola seluruh potensi perikanan laut yang ada di sekitar daerah

tempat pelelangan tersebut maka menjadi penting untuk menyiapkan sumber

daya manusia yang memiliki kompetensi tinggi untuk mengatur dan

mengelola Tempat Pelelangan Ikan. Selain sumber daya manusia seharusnya

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang memiliki standar

operasional prosedur (SOP) yang matang untuk mengelola seluruh potensi

kelautan yang ada, standar operasional prosedur adalah serangkaian intruksi

kerja tertulis yang dibakukan (terdokumentasi) mengenai proses

penyelenggaraan administrasi perusahaan, bagaimana dan kapan harus

dilakukan, dimana dan oleh siapa dilakukan.

Dilapangan peneliti menemukan Tempat Pelelangan Ikan Panimbang

memiliki rencana atau program sendiri untuk mengelola Tempat Pelelangan

Ikan hal ini dijelaskan oleh Manajer TPI Panimbang (I3-1) pada wawancara

penelitian;

“Rencana kita ini ingin TPI Panimbang hidup seperti dulu saat
saya menjadi karyawan (juru lelang). Dulu saat saya jadi juru
lelang TPI disini ramai terus, kegiatan pelelangan ikan dari jam 9
malam sampai jam 9 pagi tidak berhenti, sekarang kondisinya
seperti ini, sepi, perahu kecil saja itu juga hanya beberapa”

Dari hasil wawancara di atas dapat dianalisis bahwa program dari

Tempat Pelelangan Ikan adalah ingin mengembalikan kegiatan pelelangan

ikan menjadi ramai kembali seperti pada awal didirikannya. Kemudian

pernyataan ini diperkuat oleh Kasir TPI Panimbang (I3-2) pada wawancara

penelitian;
92

“Rencana manajer ingin mengembalikan fungsi TPI seperti dulu


lagi aktivitas pelelangan ikan di Panimbang itu semuanya
dilakukan disini, kalau dari Dinas tidak ada rencana yang
diberikan untuk TPI disini”.

Dari hasil wawancara di atas dapat dianalisis, dalam hal ini Tempat

Pelelangan Ikan memiliki inisiatif sendiri untuk membuat rencana dalam

mengelola Tempat Pelelangan Ikan, hal ini dikarenakan kondisi pelelangan

ikan yang semakin hari semakin sepi, aktivitas bongkar muat dan lelang ikan

mulai berkurang namun rencana kerja yang dibuat oleh manajer Tempat

Pelelangan Ikan tidak tertulis atau dibakukan (terdokumentasi) sehingga

mengakibatkan rencana yang di buat oleh manajer Tempat Pelelangan Ikan

tidak berjalan sesuai dengan apa yang di inginkan.

Dari hasil wawancara dengan beberapa informan penelitian di atas

dapat disimpulkan bahwa rencana yang dibuat oleh Dinas Kelautan dan

Perikanan Kabupaten Pandeglang dan UPT PPI/TPI Kecamatan Labuan

adalah menyiapkan sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi tinggi di

bidang kelautan dan perikanan guna menjalankan kegiatan pengelolaan

Tempat Pelelangan Ikan. Namun UPT PPI/TPI Labuan serta Dinas Kelautan

dan Perikanan Kabupaten Pandeglang tidak memiliki standar operasional

(SOP) sehingga mengakibatkan kurang optimalnya proses penyelenggaraan

Tempat Pelelangan Ikan Panimbang. Namun dilapangan peneliti menemukan

program untuk mengelola Tempat Pelelangan Ikan dibuat oleh manajer

Tempat Pelelangan Ikan Panimbang, yaitu: Tempat Pelelangan Ikan

Panimbang ingin mengembalikan aktivitas pelelangan ikan menjadi ramai

kembali seperti pada awal didirikannya, namun program yang dibuat ini tidak
93

tertulis atu dibakukan sehingga program atau rencana yang telah dibuat

menjadi tidak efektiv.

Kemudian peneliti menanyakan kenapa Tempat Pelelangan Ikan

Panimbang sepi tidak ramai seperti dulu, dijelaskan oleh Manajer TPI

Panimbang (I3-1);

“Sudah beberapa tahun belakangan TPI sepi karena nelayan ada


yang menjual ikan di tengah laut dan di Panimbang itu banyak
TPI-TPI bayangan yang dibangun oleh juragan nelayan, jadi
nelayan melelangkan ikannya tidak disini”

Dari wawancara di atas dapat dianalisis bahwa penyebab sepinya

aktivitas pelelangan ikan di Tempat Pelelangan Ikan Panimbang disebabkan

oleh aktivitas jual beli ikan yang dilakukan di tengah laut kemudian banyak

bermunculan Tempat Pelelangan Ikan bayangan di Panimbang yang dibangun

oleh para juragan nelayan Panimbang. Hal ini mengakibatkan kebocoran

penerimaan retribusi yang diterima oleh pemerintah Kabupaten Pandeglang.

Kemudian pernyataan di atas di pertegas oleh Kasir TPI Panimbang (I3-2);

“Sulit untuk melaksanakan program dari manajer karena di


Panimbang sendiri nelayannya kurang kesadaran untuk
melelangkan hasil tangkapannya di sini, nelayannya tidak mau
membayar retribusi kemudian banyak TPI-TPI bayangan di
Panimbang”

Dari hasil wawancara di atas dapat di analisis bahwa sepinya aktivitas

lelang ikan di Tempat Pelelangan Ikan Panimbang dipengaruhi oleh tingkat

kesadaran nelayan yang kurang dalam hal membayar retribusi yang

mengakibatkan nelayan enggan untuk melelangkan hasil tangkapannya di

Tempat Pelelangan Ikan Panimbang, hal ini kemudian di perparah oleh


94

munculnya Tempat Pelelangan Ikan bayangan yang dibangun oleh juragan

nelayan Panimbang.

Kemudian peneliti menanyakan apa yang sudah dilakukan untuk

mengembalikan Tempat Pelelangan Ikan Panimbang agar menjadi ramai

kembali, dijelaskan oleh Manajer TPI Panimbang (I3-1);

“Saya sudah sering mengajak nelayan-nelayan untuk menjual


ikannya di TPI Panimbang, himbauan serta arahan untuk
membayar retribusi sudah sering saya lakukan tapi sulit nelayannya
tidak mau sadar dengan retribusi. Kalau saya mau keras-keras ini
sudah bukan zamanya nanti malah pada tidak mau sama sekali,
dihalusin juga sama saja seperti ini. Jadi susah juga ini
mengembalikan TPI Panimbang seperti dulu lagi kalau hanya saya
yang memberi himbauan harusnya pemerintah daerah turun
langsung”

Dari wawancara di atas dapat dianalisis bahwa upaya-upaya pemberian

himbauan dan arahan untuk melakukan pelelangan ikan di Tempat Pelelangan

Ikan Panimbang sudah diupayakan oleh manajer Tempat Pelelangan Ikan

Panimbang namun himbauan dan pengarahan yang diberikan tidak membuat

nelayan panimbang tergerak untuk menjual ikannya di Tempat Pelelangan

Ikan Panimbang karena tingkat kesadaran nelayan untuk membayar retribusi

rendah. Kemudian kendala yang di hadapi untuk membuat Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang ramai kembali terkendala karena kurangnya

dukungan dari pemerintah daerah setempat.

Kemudian selain tidak adanya standar operasional prosedur (SOP) yang

dibuat oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang,

pemerintah Kabupaten Pandeglang sendiri pun tidak memiliki peraturan

khusus untuk mengelola atau mengatur Tempat Pelelangan Ikan, dalam hal
95

ini aturan yang ada hanya aturan terkait besaran pemungutan retribusi sedang

peraturan terkait teknis pengelolaan perikanan atau Tempat Pelelangan Ikan

tidak ada, hal ini dijabarkan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (I1-1).

“Diatur oleh PERDA Nomor 11 tahun 2011 tentang Pendapatan


Asli Daerah, tentang PAD. Retribusi dipungut 4% dari nelayan
kemudian 2% untuk pengelola”.

Namun dalam Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang tentang

Retribusi Jasa Usaha No. 11 tahun 2011 pada Paragraf 3 (tiga) mengenai

struktur dan besarnya tarif retribusi pelelangan ditetapkan sebesar 4% (empat

perseratus) dari nilai transaksi lelang, dalam peraturan daerah ini tidak ada

aturan mengenai penarikan retribusi sebesar 2% untuk pengelola Tempat

Pelelangan Ikan. Kemudian pernyataan berbeda dikemukakan oleh Kepala

UPT PPI/TPI Labuan (I2-1).

“Perda tahun 2011 tentang retribusi jasa usaha untuk disetor ke


kas daerah sebesar 4%, kalau diluar itu ada kesepakatan bersama
antara nelayan dan bakul ikan yang kemudian dibuat berita
acara”.

Dari hasil wawancara di atas dapat dianalisis bahwa penarikan retribusi

Tempat Pelelangan Ikan sebesar 4% hal ini tertulis pada Peraturan Daerah

Kabupaten Pandeglang No 11 Tahun 2011 tentang Retribusi jasa Usaha.

Namun dalam pelaksanaanya penarikan retribusi bisa mencapai 8% atas

kesepakatan yang dilakukan oleh nelayan, juragan nelayan dan pihak Tempat

Pelelangan Ikan. Kemudian hal ini di perjelas oleh Manajer TPI Panimbang

(I3-1).
96

“Tidak ada, kalau retribusi ada diatur dulu sama Perda tahun
2011, tapi dalam pelaksanaanya bisa berbeda, kalau retribusi
sesuai dengan kesapakatan antara bakul ikan dan nelayan, karena
kalau tidak seperti itu tempat pelelangan ikan tidak punya biaya
operasional”

Dari hasil wawancara di atas dapat dianalisis bahwa peraturan

mengenai pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan di kabupaten Pandeglang

belum ada. Kabupaten Pandeglang hanya memiliki peraturan mengenai

besarnya tarif retribusi jasa usaha. Hal ini kemudian diperjelas oleh Kasir TPI

Panimbang (I3-2);

“Peraturan retribusi saja paling, perda yang khusus mengatur atau


mengelola Tempat Pelelangan Ikan tidak ada”

Dari wawancara di atas,dapat dianalisis seharusnya Pemerintah Daerah

Kabupaten Pandeglang memiliki peraturan khusus yang spesifik mengenai

pengelolaan perikanan laut serta peraturan mengenai Tempat Pelelangan Ikan

dikarenakan oleh luasnya wilayah perairan laut yang ada di Kabupaten

Pandeglang, guna meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat disekitar

laut juga bagi Penerimaan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pandeglang.

Kemudian peneliti menanyakan peraturan yang secara spesifik

mengatur aktivitas jual beli ikan dan pembangunan Tempat Pelelangan

Ikan.menurut Kepala Dinas Kelautan (I1-1) pada wawancara penelitian.

“Ada di peraturan menteri, semua ikan harus dijual di Tempat


Pelelangan Ikan yang di bangun oleh pemerintah. TPI harus
dibangun di tanah negara dan dibangun oleh pemerintah”

Dari hasil wawancara di atas informan mengemukakan bahwa peraturan

yang secara spesifik mengatur aktivitas jual beli ikan dan pembangunan
97

Tempat Pelelangan Ikan ada dalam Peraturan Menteri Kelautan Dan

Perikanan. Peraturan ini tertulis dalam Peraturan Menteri Kelautan dan

Perikanan Nomor Per. 16/MEN/2006 tentang Pelabuhan Perikanan pada pasal

bab V Pasal 6 Pembangunan Pelabuhan Perikanan sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 5 ayat (1), sekurang-kurangnya wajib memenuhi persyaratan:

a. penetapan lokasi dari Pemerintah Kabupaten/Kota setempat;

b. persetujuan pembangunan dari Menteri.

Pernyataan ini kemudian diperkuat oleh Kepala UPT PPI/TPI Labuan

(I2-1) pada wawancara penelitian:

“Ada misalkan ikan aturannya harus dilelang di TPI, aturannya


ada di Peraturan Menteri, nelayan tidak boleh menjual ikannya di
tengah laut, kadang-kadang yang namanya di daerah kadang-
kadang suka ada yang di plele (= aktivitas jual beli ikan ditengah
laut), sebetulnya tidak boleh itu, harus di lelang di TPI tidak boleh
jual ikan di laut, kenapa karena pemerintah sudah membangun
TPI. Pemerintah membangunkan TPI untuk memudahkan nelayan
sebetulnya”

Dari hasil wawancara dianalisis bahwa nelayan di Panimbang masih

ada yang melakukan aktivitas jual beli ikan di tengah laut dalam hal ini

nelayan tidak boleh melakukan aktivitas jual beli ikan di tengah laut karena

ketika melakukan aktivitas jual beli ikan di tengah laut tidak ada retribusi

yang diterima oleh Tempat Pelelangan Ikan, oleh karena itu pemerintah

daerah mengalami kebocoran dalam hal penerimaan retribusi.

Dari beberapa hasil wawancara dengan informan penelitian di atas

dapat disimpulkan seharusnya peraturan mengenai pengelolaan perikanan laut

dan peraturan pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan dibuat oleh pemerintah

daerah Kabupaten Pandeglang atau dibuat Dinas Kelautan dan Perikanan


98

yang mengetahui kondisi alam dan juga armada kelautan yang ada di

wilayahnya tersebut guna mendapatkan hasil yang efektif dan efisien. Jika

pemerintah daerah maupun Dinas Kelautan dan Perikanan memiliki peraturan

yang khusus secara spesifik menegenai pengelolaan perikanan laut juga

pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan bukan tidak mungkin Penerimaan Asli

Daerah akan meningkat juga kesejahteraan nelayan pun akan meningkat

ketaraf hidup yang lebih baik.

Selanjutnya untuk melakukan manajemen pengelolaan Tempat

Pelelangan Ikan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang juga

UPT PPI/TPI Dinas Kelautan dan Perikanan membutuhkan manajer Tempat

Pelelangan Ikan yang baik dan berwawasan luas mengenai kenelayanan dan

ikan guna memperoleh hasil maksimal dalam pengelolaan perikanan laut,

dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang

menjelaskan apa yang dibutuhkan untuk menentukan manajer yang baik dan

berwawasan luas. Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (I1-1) dalam

wawancara penelitian;

“Misalnya ketrampilannya ada keberanian, ada semacam


wawasan tentang pengetahuan kenelayanan, kemudian tentang
pengetahuan tentang jenis ikan, ini berkaitan dengan jenis ikan
yang dijual dan dilelang, jadi manajer harus tau mana ikan yang
mahal, mana ikan yang murah”

Menurut hasil wawancara di atas dapat dianalisis yang harus dimiliki

oleh manajer Tempat Pelelangan Ikan adalah mengenai wawasan tentang

jenis-jenis ikan laut, menurut informan penelitian sangatlah penting untuk


99

mengetahui jenis-jenis ikan agar tidak terjadi salah harga ikan juga tidak

merugikan bagi nelayan.

Hal lain untuk mengelola Tempat Pelelangan Ikan kemudian dijelaskan

oleh Kpala UPT PPI/TPI (I2-1) dalam wawancara penelitian;

“Yang diperlukan untuk mengelola TPI itu misalkan karcis lelang


(=resi). Surat jalan, yang dimaksudkan ikan yang sudah dilelang
ini mau berangkat ke Jakarta harus memakai surat jalan misalkan
mau berangkat ke Jakarta berapa blong, ikan apa. Nanti ada
petugas yang di Sidamukti ada petugas pemeriksaan hasil laut,
nanti yang lewat DISHUB itu ada dipinggir jalan. Sarana prasana
lain itu blong (=wadah ikan besar), trais (=wadah ikan), terus
timbangan, freezer (=tempat pengawet ikan)kalau ga ada freezer
es,cool box (=wadah pendingin ikan) dan kendaraan operasional”

Untuk manajemen pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan manajer yang

berwawasan luas juga mempunyai etos kerja yang tinggi harus dimiliki oleh

Tempat Pelelangan Ikan agar mampu menciptakan manajemen yang baik

juga menciptakan iklim kerja yang efektif dan efisien dalam pengelolaan

Tempat Pelelangan Ikan, sarana pendukung lain juga harus disediakan agar

kegiatan pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan dapat berjalan dengan baik,

cepat dan maksimal.

Selain menyediakan manajer yang berwawasan tinggi juga mempunyai

etos kerja yang baik Tempat Pelelangan Ikan juga harus mempunyai

program-program dan standar operasional prosedur yang harus dilakukan

dalam periode tertentu agar tujuan utama di dirikannya Tempat Pelelangan

Ikan dapat tercapai. Dalam hal ini program pengelolaan perikanan maupun

pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan yang menyediakan adalah Dinas

Kelautan dan Perikanan juga UPT PPI/TPI Dinas Kelautan dan Perikanan
100

Labuan karena tugas pokok dan fungsi membuat rencana ada di Dinas

Kelautan dan Perikanan dan UPT PPI/TPI Dinas Kelautan dan Perikanan

Labuan sedangkan Tempat Pelelangan Ikan yang melaksanakan program-

program yang telah ditetapkan tersebut. Program yang telah dibuat oleh Dinas

Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang dijelaskan oleh Kepala Dinas

Kelautan dan Perikanan (I1-1 ) pada wawancara penelitan;

“Programnya dari DKP sendiri itu membentuk 14 TPI di


Kabupaten Pandeglang, memberikan/membagi target retribusi ke
masing-masing TPI yang ada di Kabupaten Pandeglang. target
retribusinya ditentukan oleh pemerintah daerah”

Dari hasil wawancara di atas dapat dianalisis bahwa program dari Dinas

Kelautan dan Perikanan adalah membentuk 14 (empat belas) tempat

pelelangan ikan, program pembentukan 14 (empat belas) tempat pelelangan

itu merupakan program pengelolaan sumber daya kelautan, selain

membangun 14 (empat belas) Tempat Pelelangan IkanDinas Kelautan dan

Perikanan juga memeberikan target retribusi kepada masing-masing Tempat

Pelelangan Ikan yang sudah dibangun tersebut. Dari hasil wawancara di atas

juga dapat dianalisis bahwa Dinas Kelautan dan Perikanan tidak memiliki

program yang secara khusus dibuat untuk mengelolaTempat Pelelangan Ikan.

Selanjutnya pernyataan berbeda dinyatakan oleh Kepala UPT PPI/TPI

Labuan (I2-1);

“Kalau sifatnya yang dari UPT program tidak ada, programnya


dari Dinas Kelautan. Kalau dari UPT cuma sesuai dengan tupoksi
UPT mengevaluasi takut ada terjadinya monopoli harga,
selanjutnya monitoring, pembinaan ke nelayan. Kalau program
ada di masing-masing bidang. TPI itu ada dibidang perairan
tangkap programnya”.
101

Dari wawancara di atas dapat dianalisis bahwa tidak ada program yang

secara spesifik untuk mengatur kegiatan pengelolaan Tempat Pelelangan

Ikan. Sedangkan UPT PPI/TPI Dinas Kelautan dan Perikanan Labuan tidak

mempunyai program kerja untuk kegiatan pengelolaan Tempat Pelelangan

Ikan sedangkan dalam Bab X Pasal 63-66 Peraturan Bupati Nomor 20 Tahun

2008 tentang Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Daerah

Kabupaten Pandeglang UPT PPI/TPI diantaranya mempunyai tugas

Penyusunan bahan kebijakan operasional UPT Pangkalan Pendaratan dan

Pelelangan Ikan Kecamatan Labuan, menyusun rencana kerja UPT Pangkalan

Pendaratan dan Pelelangan Ikan Kecamatan Labuan.

Selanjutnya peneliti menanyakan hal yang serupa kepada pihak

pelelangan ikan Panimbang, adakah program khusus yang diberikan oleh

Dinas Kelautan dan Perikanan maupun UPT PPI/TPI kepada Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang. Dijelaskan oleh Manajer TPI Panimbang (I3-1):

“Programnya itu memberikan target retribusi saja, kalau program


yang untuk penegelolaan tidak ada. Mengelola TPI bagaimana
kita aja sebagai petugas TPI”.

Dari hasil wawancara di atas dapat dianalisis bahwa program yang

diberikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan maupun dari UPT PPI/TPI

hanya memberikan target retribusi sedangkan program-program yang secara

khusus untuk pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan tidak ada. Kemudian

pernyataan di atas ditambahkan oleh Kasir TPI Panimbang (I3-2):

“Tidak ada program khusus yang diberikan oleh Dinas maupun


UPT, programnya itu saja ada target retribusi yang diberikan ke
TPI. Jadi kita berinisiatif sendiri membuat programnya untuk
memenuhi beban retribusi yang sudah diberikan”.
102

Dari hasil wawancara di atas dapat dianalisis bahwa Dinas Kelautan

dan Perikanan serta UPT PPI/TPI tidak mempunyai program yang secara

khuusus untuk mengelola Tempat Pelelangan Ikan selain memeberikan target

retribusi kepada Tempat Pelelangan Ikan Panimbang, untuk pengelolaanya

Tempat Pelelangan Ikan harus memiliki inisiatif sendiri agar bisa memenuhi

target retribusi yang telah diberikan.

Dari hasil wawancara dengan beberapa informan penelitian di atas

dapat disimpulkan bahwa program yang diberikan adalah memberikan target

retribusi kepada Tempat Pelelangan Ikan, namun Dinas Kelautan dan

Perikanan serta UPT PPI/TPI tidak memiliki program yang secara khusus

mengatur jalannya pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan agar bisa memenuhi

beban retribusi yang telah diberikan kepada Tempat Pelelangan Ikan

Panimbang sehingga masalah-masalah yang muncul di Tempat Pelelangan

Ikan Panimbang terkait masalah retribusi belum bisa ditanggulangi.

4.3.2 Organizing (pengorganisasian)

Organizing mencakup: membagi komponen-komponen kegiatan yang

dibutuhkan untuk mencapai tujuan kedalam kelompok-kelompok, membagi

tugas kepada seorang manajer untuk mengadakan pengelompokan tersebut

dan menetapkan wewenang diantara kelompok atau unit-unit organisasi.

Pengorganisasian berhubungan erat dengan manusia, sehingga pencaharian

dan penugasannya ke dalam unit-unit organisasi dimasukkan sebagai bagian

dari unsur organizing. Ada yang tidak berpendapat demikian, dan


103

memasukan staffing sebagai fungsi utama. Di dalam setiap kejadian,

pengorganisasian melahirkan peranan kerja dalam struktur formal dan

dirancang untuk memungkinkan manusia bekerja sama secara efektif guna

mencapai tujuan bersama (Terry, 2008:17).

Pada penelitian tahap pengorganisasian juga menjadi tahapan yang

paling penting dalam melakukan manajemen pengelolaan pada Tempat

Pelelangan Ikan, pengorganisasian dalam manajemen pengelolaan pelelangan

ikan salah satunya adalah memberikan arahan-arahan pada manajer dalam

periode waktu tertentu. Seperti yang dijelaskan oleh Kepala Dinas Kelautan

dan Perikanan (I1-1) yaitu;

“Ada setiap satu bulan sekali diadakan rapat evaluasi,


pemberdayaan target dan strategi ke manajer”.

Dari wawancara di atas dapat dianalisisbahwa pengarahan yang

dilakukan sudah baik karena dilakukan secara berkelanjutan agar kinerja

manajer Tempat Pelelangan Ikan menjadi lebih membaik.Kemudian

pernyataan di atas ditambahkan oleh Kepala UPT PPI/TPI Labuan (I2-1);

“Kalau pembagian kerja itu terus setiap hari. Ada juga rapat
setiap satu bulan sekali dan tiga bulan sekali”

Dalam hal pemberian arahan dinilai cukup bagus karena memiliki

waktu yang cukup banyak dan sering dilakukan, pengarahan disini juga tidak

hanya dari satu unit kerja. Pemeberian arahan dilakukan oleh dua unit kerja

yaitu Dinas Kelautan dan Perikanan dan juga UPT PPI/TPI Dinas Kelautan

dan Perikanan Kabupaten Pandeglang, pernyataan yang sama juga

dikemukakan kemudian oleh Manajer TPI Panimbang (I3-1);


104

“Ada, satu bulan sekali, kadang-kadang dua bulan sekali ke UPT


diadakan rapat ”

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa pengarahan yang

dilakukan sudah cukup baik karena dilakukan secara berjenjang dan

berkelanjutan. Pengarahan yang dimaksud adalah pengarahan yang dilakukan

di UPT PPI/TPI maupun pengarahan yang diberikan langsung ke Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang, serta rapat evaluasi pengelolaan Tempat

Pelelangan Ikan, selanjutnya ditambahkan oleh Kasir TPI Panimbang (I3-2);

“Pengarahan ada, sering ada rapat evaluasi dan kunjungan kerja


kesini, tapi belum ada perubahan signifikan dari hasil rapat-rapat
dan kunjungan kerja, Tempat Pelelangan Ikan disini masih sepi
saja”

Dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa pengarahan yang

dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan serta UPT PPI/TPI sudah

cukup baik karena dilakukan secara berkala namun menurut informan di atas,

dari hasil rapat-rapat dan kunjungan kerja yang telah dilakukan oleh Dinas

Kelautan dan Perikanan serta UPT PPI/TPI tidak memberikan perubahan

yang signifikan dalam pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan Panimbang

aktivitas pelelangan ikan Panimbang masih sepi dari kegiatan pelelangan

ikan.

Kemudian bentuk pengorganisasian yang lain adalah menyiapkan

komponen-komponen yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan

pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan. Komponen-komponen ini diperlukan

unuk menjunjang kegiatan pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan Panimbang

agar kegiatan pelelangan ikan dapat berjalan dengan baik efektif dan efisien.
105

Menurut hasil wawancara penelitian, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan

(I1-1) menjelaskan apa saja yang dibutuhkan dalam pelelangan ikan, yaitu;

“Komponennya pegawai sama bangunan Tempat Pelelangan Ikan


serta sarana kelautan seperti dermaga”

Dari wawancara di atas komponen-kompenen yang harus dimiliki oleh

Tempat Pelelangan Ikan adalah pegawai pelelangan ikan, bangunan Tempat

Pelelangan Ikan serta sarana prasarana kelautan seperti dermaga. Komponen-

komponen ini merupakan komponen utama dalam kegiatan pengelolaan

Tempat Pelelangan Ikan di Tempat Pelelangan Ikan Panimbang. Kemudian

ditambahkan oleh Kepala UPT PPI/TPI Labuan (I2-1) pada wawancara

penelitian;

“Manajer, staf, gedung TPI dan dermaga”

Pernyataan serupa pun dinyatakan oleh informan penelitian yang lain,

komponen utama dalam kegiatan pelelangan ikan adalah pegawai Tempat

Pelelangan Ikan (manajer beserta staf), bangunan Tempat Pelelangan Ikan

kemudian sarana prasarana laut seperti dermaga. Namun dalam penelitian ini

muncul masalah dalam komponen pendukung pengelolaan tempat pelelangan

ikan seperti dinyatakan oleh Manajer TPI Panimbang (I3-1);

“Muara komponen utamanya untuk keluar masuk kapal, kapal


saya sendiri tenggelam karena muaranya dangkal, terus kemarin
juga ada yang kena benturan kayu baling-balingnya patah.
Kemudian muncul tantangan untuk pemerintah, nelayan mau
membayar retribusi ke TPIkalau muaranya di perbaiki dilakukan
pengerukan”

Dari wawancara di atas dapat di ketahui bahwa komponen utama untuk

mendukung kegiatan manajemen pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan


106

memiliki kendala yaitu dangkalnya muara sungai, muara sungai merupakan

komponen utama dalam kegiatan pelelangan ikan karena muara sungai

merupakan satu-satunya akses utama kegiatan pencarian ikan bagi nelayan.

Kemudian ditambahkan oleh Kasir TPI Panimbang (I3-2);

„Pegawai, bangunan TPI yang layak (=luas), sarana penghubung


jalur nelayan seperti muara sama lampu mercusuar”

Dari hasil wawancara di atas dapat dianalisis komponen yang

dibutuhkan dalam manajemen pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan yaitu

manajer beserta staf, kemudian bangunan Tempat Pelelangan Ikan dan sarana

prasarana laut seperti muara, dermaga serta lampu mercusuar. Komponen-

komponen tersebut berperan sangat penting dalam kegiatan pengelolaan

pelelangan ikan untuk menunjang kegiatan pelelangan ikan juga sebagai

sarana penunjang kegiatan nelayan untuk melaut juga mendaratkan

perahunya. Namun dalam penelitian ini ditemukan bahwa muara sungai di

Panimbang terjadi pendangkalan sehingga menghambat kegiatan nelayan

Panimbang untuk melakukan aktivitas kenelayanannya. Sampai saat ini

belum ada upaya pengerukan kembali muara sungai, pihak pelelangan ikan

sebagai pihak yang mengetahui jelas keadaan muara sungai di Panimbang

sudah berupaya mengajukan pengerukan sungai ke Dinas Kelautan dan

Perikanan namun sampai dengan saat ini belum ada pengerukan muara

sungai.

Kemudian komponen lain yang dibutuhkan Tempat Pelelangan Ikan

dijelaskan oleh Manajer TPI Panimbang (I3-1);


107

“ Komponen penting lainnya adalah pendanaan, nelayan ingin


uang cash ketika ikannya dilelangkan, yang jadi kendala tapi TPI
tidak punya simpanan untuk menalangi hasil pelelangan ikan”

Dari wawancara di atas dapat di ketahui bahwa masalah yang terjadi

adalah terbatasnya pendanaan untuk Tempat Pelelangan Ikan Panimbang.

Pendanaan yang dimaksud adalah untuk menalangi ikan-ikan hasil lelang

yang dilakukan, menurut wawancara di atas nelayan di Panimbang ketika

melelangkan ikan di Panimbang ingin langsung dilunasi atau dibayar cash

oleh Tempat Pelelangan Ikan Panimbang. Namun dalam hal ini Tempat

Pelelangan Ikan tidak memiliki kewajiban untuk membayar seluruh ikan

hasil lelang yang dilakukan dikarenakan Tempat Pelelangan Ikan Panimbang

adalah sebagai perantara penjualan ikan antara nelayan dengan bakul agar

tidak terjadi monopoli harga serta guna menjaga kualitas ikan hasil tangkapan

nelayan, Tempat Pelelangan Ikan Panimbang bukan sebagai pembeli ikan

hasil tangkapan nelayan.

Dalam hal ini pihak Dinas Kelautan memberikan jawaban atas

dangkalnya muara sungai seperti yang dikemukakan oleh Kepala Dinas

Kelautan dan Perikanan (I1-1);

“Untuk sementara ini memang dermaga belum bisa dibangun


karena anggaran yang belum ada, tapi pengajuan-pengajuan ke
instansi lainnya yang terkait sudah diupayakan. Namun belum
bisa terealisasikan karena anggaran yang belum ada”

Menurut wawancara di atas dapat dianalisis bahwa Dinas Kelautan dan

Perikanan sudah berupaya untuk melakukan pengerukan dermaga sungai

yang dangkal namun masih terkendala oleh anggaran. Namun menurut

peneliti selain anggaran yang belum tersedia untuk mengeruk dermaga Dinas
108

Kelautan dan Perikanan tidak serius untuk menyediakan salah satu komponen

pendukung pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan tersebut karena

pendangkalan sungai ini sudah terjadi bertahun-tahun. Kemudian

ditambahkan oleh Kepala UPT PPI/TPI Labuan (I2-1);

“Jadi masalah muara itu memang Dinas Kelautan sudah beberapa


kali mengajukan ke Dinas Kelautan pusat, sementara ini mungkin
kewenangan ada dari Dinas PU sumber daya air, jadi harus harus
kerjasama antara Dinas Kelautan dan sumberdaya air, jadi
pendanaanya itu belum ada. Pengajuansudah beberapa kali tapi
harus kerjasama, jadi dana itu harus kerjasama dari dinas kelautan
dengan sumber daya air.Kalau sendiri satu SKPD tidak mungkin
karna APBD kecil. Memang bapak Kepala Dinas sudah
mengajukan beberapa kali tapi belum terealisasi. Memang itu
yang jadi keluhan nelayan Panimbang, muara dangkal”

Dari wawancara di atas sudah ada upaya yang dilakukan namun masih

terkendala dari anggaran yang ada, kemudian respon dari satuan kerja lain

pun belum mendukung pengajuan yang sudah dilakukan oleh Dinas Kelautan

dan Perikanan Kabupaten Pandeglang. Perlu adanya kerjasama antar

beberapa satuan kerja pada dinas pemerintah Kabupaten Pandeglang untuk

mengeruk muara sungai Panimbang yang mengalami pendangkalan.

Selanjutnya selain komponen-kommponen pendukung seperti bangunan

tempat pelelangan, sarana prasarana laut sepeti dermaga dan mercusuar serta

alat-alat pelelangan ikan seperti blong, cool box, timbangan, trais, freezer

serta kendaraan operasional pelelangan ikan dan karcis lelang. Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang juga harus memiliki anggaran untuk membiayai

operasional pegawai Tempat Pelelangan Ikan Panimbang. Dari hasil

penelitian yang dilakukan Tempat Pelelangan Ikan tidak memiliki anggaran

khusus dari Dinas Keluatan dan Perikanan Kabupaten Pandeglangmaupun


109

dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang, seperti yang dikemukakan

oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (I1-1);

“Anggaran langsung tidak ada untuk TPI, TPI mencari sendiri


anggaran tersebut caranya dengan memungut retribusi dari proses
pelelangan, TPI berhak memungut retribusi sebesar 6% (4%
untuk pemerintah daerah, 2% untuk biaya operasional TPI)”.

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa anggaran untuk

Tempat Pelelangan Ikan tidak disediakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan

maupun oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang, tempat pelelangan

harus bekerja sebaik mungkin untuk mendapat anggaran untuk seluruh biaya

yang dikeluarkan. Artinya Tempat Pelelangan Ikan harus mencari sendiri

anggaranTempat Pelelangan Ikan, anggaran tempat pelelangan dihasilkan dari

hasil penarikan retribusi dari aktivitas pelelangan ikan yang dilakukan yaitu

sebesar 2% (dua perseratus). Selanjutnya pernyataan di atas ditambahkan oleh

Kepala UPT PPI/TPI Labuan (I2-1);

“Tidak ada. Hanya ada bantuan hibah saja, tapi sifatnya bukan ke
TPI, hibahnya diberikan ke kelompok nelayan, tapi kelompok
nelayan yang menjual ikan ke TPI, mekanismenya kelompok
nelyan harus membuat proposal. Kalau TPI itu mengambil dari
retribusi 2% untuk biaya operasionalnya”

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa Tempat Pelelangan

Ikan tidak mendapatkan anggaran dari Dinas maupun dari pemerintah daerah

Tempat Pelelangan Ikan harus mencari sendiri anggaran yang dibutuhkan

Tempat Pelelangan Ikan dengan menarik retribusi dari kegiatan lelang yang

di lakukan oleh Tempat Pelelangan Ikan yaitu sebesar 2% (dua

perseratus).Kemudian diperjelas oeh Manajer TPI Panimbang (I3-1);


110

“Kita tidak adaanggaran dari pemerintah, kita hanya dari 2%


retribusi”

Kemudian ditambahkan oleh Kasir TPI Panimbang (I3-2);

“Tidak ada, anggaran untuk biaya operasional dari retribusi, 4%


untuk pemerintah, 2% untuk TPI”.

Dari kedua hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa Tempat

Pelelangan Ikan tidak memiliki anggaran khusus yang diberikan oleh Dinas

Kelautan dan Perikanan maupun dari UPT PPI/TPI. Dalam anggaran untuk

membiayai seluruh aktivitas kegiatan pelelangan ikan anggaran didapat dari

hasil pemungutan retribusi pelelangan ikan yaitu sebesar 2% ( dua perseratus)

dari hasil kegiatan pelelangan ikan.

Dari hasi wawancara dengan beberapa informan penelitian dapat

dianalisis bahwa anggaran sangat penting dalam kegiatan manajemen,

anggaran dibutuhkan untuk memperlancar semua kegiatan Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang. Untuk mendapatkan hasil yang optimal Tempat

Pelelangan Ikan harus memiliki anggaran yang cukup untuk melakukan

kegiatan manajemen pengelolaan pelelangan ikan. Karena tidak ada anggaran

yang diberikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang

maupun Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang, Tempat Pelelangan Ikan

tidak dapat memberikan upah yang pasti kepada pegawainya, upah yang

diberikan kepada pegawai pelelangan ikan Panimbang diberikan berdasarkan

penerimaan retribusi yang diterima Tempat Pelelangan Ikan, apabila tidak ada

retribusi yang masuk pegawai Tempat Pelelangan Ikan tidak mendapatkan

upah.
111

4.3.3 Actuating (pelaksanaan)

Actuating, atau disebut juga “gerakan aksi” mencakup kegiatan yang

dilakukan seorang manajer untuk mengawali dan melanjutkan kegiatan yang

ditetapkan oleh unsur perencanaan dan pengorganisasian agar tujuan-tujuan

dapat tercapai. Actuating mencakup penetapan dan pemuasan kebutuhan

manusiawi dari pegawai-pegawainya, memberi penghargaan, memimpin,

mengembangkan dan memberi komponsasi kepada mereka.

Dalam proses manajemen pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan tidak

terlepas dari berbagai masalah pelaksanaan, masalah yang muncul dalam

pelaksanaan pengelolaan tempat pelelangan ikan Panimbang begitu

kompleks, dalam penelitian ini peneliti mencoba mengungkap masalah-

masalah yang muncul dalam manajemen pengelolaan tempat pelelangan ikan

Panimbang.

Setelah memberikan pengarahan-pengarahan khusus Tempat

Pelelangan Ikan juga di berikan target pencapaian retribusi oleh Dinas

Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang serta UPT PPI/TPI Dinas

Kelautan dan Perikanan Labuan, yang jumlahnya disesuaikan oleh armada

kelautan yang ada serta jumlah nelayan yang ada di wilayah tertentu seperti

dinyatakan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (I1-1);

“Ada, masing-masing TPI memiliki target dalam pemungutan


retribusi, TPi diberikan target berdeda-beda, dibagi-bagi menurut
keadaan alam dan jumlah armada kelautannya, untuk TPI
Panimbang sebesar 115 juta kurang lebih”

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa pemberian target

retribusi diukur dari kondisi alam serta jumlah armada kelautan yang ada
112

didaerah tempat pelelangan, di Tempat Pelelangan Ikan Panimbang target

retribusi yang diberikan adalah sebesar 115 juta. Kemudian di tambahkan

oleh Kepala UPT PPI/TPI Labuan (I2-1);

“Ada ada, TPI harus mengumpulkan retribusi yang sudah


diberikan oleh Dinas Kelautan. Jumlahnya sesuai denganjumlah
nelayan serta perahu. tidak mungkin kalau TPI yang sedikit
jumlah nelayannya diberikan target yang besar”

Dari wawancara di atas dapat dianalisis bahwa Tempat Pelelangan Ikan

harus mengumpulkan retribusi sesuai dengan yang sudah ditetapkan oleh

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang, target yang diberikan

disesuaikan dengan jumlah nelayan serta jumlah armada kelautan yang ada di

daerah Tempat Pelelangan Ikan. Kemudian diperjelas oleh Manajer TPI

Panimbang (I3-1);

“Ada 115 juta lebih diberikana oleh Dinas Kelautan dan


Perikanan, kita harus memenuhi itu dalam satu tahun”

Dari wawancara di atas menurut informan penelitian dapat diketahui

Tempat Pelelangan Ikan Panimbang diberikan target sebesar Rp. 115,775,000

oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang. Selanjutnya

ditambahkan oleh Kasir TPI Panimbang (I3-2);

“Target tinggi 115 juta tapi kondisinya seperti ini susah, tapi jika
aktivitas lelang berjalan jangankan 115 juta lebih sanggup, kalau
semua aktivitas lelang disini”

Menurut hasil wawancara di atasTempat Pelelangan Ikan Panimbang

memiliki target retribusi sebesar Rp. 115,775,000 namun dalam pelaksanaan

pemungutan retribusi Tempat Pelelangan Ikan kesulitan untuk

mengumpulkannya di karenakan oleh kurangnya kegiatan lelang ikan yang di


113

lakukan di Tempat Pelelangan Ikan Panimbang. Jika melihat jumlah nelayan

beserta armada laut yang ada di wilayah Tempat Pelelangan Ikan Panimbang

target yang diberikan sudah sesuai namun karena aktivitas pelelangan ikan

yang sedikit Tempat Pelelangan Ikan sulit untuk memenuhi target retribusi

tersebut.

Hal terkait retribusi di atas kemudian diperjelas oleh data penarikan

retibusi TPI yang disajikan pada tabel dibawah;

Tabel 4.4

Target Retribusi TPI Januari s/d Desember 2014


Pencapaian
Target Realisasi Sisa target
2014 target
(Rp) (Rp) (Rp)
(%)

TPI
115,775,000 41.127.016 74.647.984 35,52
Panimbang

(Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang 2014)

Dari tabel 4.4 di atas dapat dilihat target retribusi Tempat Pelelangan

Ikan Panimbang pada tahun 2014 sebesar Rp. 115,775,000. Sementara

realisasi pencapaian target retribusi Tempat Pelelangan Ikan Panimbang pada

tahun 2014 sebesar Rp. 40,363,000, sisa target yang belum terpenuhi sebesar

Rp. 75.412.000. Jadi pencapaian target Tempat Pelelangan Ikan Panimbang

hanya mencapai 35,52% sedangkan target yang dicapai secara keseluruhan

adalah 100% untuk retribusi TPI tersebut.


114

Tabel 4.5

Target Retribusi TPI Januari s/d Desember 2014


Pencapaian
Target Realisasi Sisa target
2014 target
(Rp) (Rp) (Rp)
(%)

TPI
115,775,000 12.053.166 103.721.834 10,41
Panimbang

(Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang 2015)

Dari tabel 4.5 di atas dapat diketahui target retribusi Tempat Pelelangan

Ikan Panimbang pada tahun 2015 sebesar Rp. 115,775,000. Sementara

realisasi pencapaian target retribusi Tempat Pelelangan Ikan Panimbang pada

tahun 2015 (Januari-Juni) sebesar Rp. 12.053.166, sisa target yang belum

terpenuhi sebesar Rp. 103.721.834. Jadi pencapaian target Tempat Pelelangan

Ikan Panimbang pada tahun 2015 (januari-juni) adalah 10,41% sehingga

target Tempat Pelelangan Ikan Panimbang yang belum terpenui adalah

89,59%.

Kemudian setelah pembagian target retribusi yang telah ditentukan oleh

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang kemudian di berikan

tenggang waktu untuk mencapai atau melunasi beban target yang telah di

tentukan sebelumnya. Peneliti mencoba menanyakan berapa lama tenggang

waktu yang diberikan untuk mencapai target retribusi tersebut, yang

dikemukakan di jawab oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (I1-1);

“Satu tahun. Satu tahun harus tercapai itu target retribusi,


kalautidak tercapai ya jadi hutang untuk TPI tersebut”

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa target pencapaian

retribusi Tempat Pelelangan Ikan adalah satu tahun, apabila target retribusi
115

tersebut tidak dapat terpenuhi dalam satu tahun maka akan menjadi beban

hutang yang harus dibayarkan oleh Tempat Pelelangan Ikan dalam tahun

berikutnya. Kemudian ditambahkan oleh Kepala UPT PPI/TPI Labuan (I2-1);

“Target itu satu tahun. Harus tercapai semua,kalautidak nanti


kena sanksi hutang untuk TPI, TPI punya hutang ditambah
bunganya 2% jikatidak terpenuhi targetnya”

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa pencapaian target

retribusi Tempat Pelelangan Ikan adalah dalam satu tahun, apabila tidak

tercapai maka akan menjadi beban hutang untuk Tempat Pelelangan Ikan

kemudian hutang tersebut akan ditambahkan bunga hutang sebesar 2% (dua

perseratus). Selanjutnya pernyataan di atas ditambahkan oleh Manajer TPI

Panimbang (I3-1);

“Satu tahun targetnya harus terpenuhi, kalau tidak terpenuhi nanti


jadi hutang untuk TPI”

Kemudian pernyataan di atas di perkuat oleh Kasir TPI Panimbang (I3-

2);

“Satu tahun targetnya harus terpenuhi, kita harus berusaha


memenuhi target itu kalau tidak mau kena hutang di tahun
depannya”

Dari hasil dua wawancara di atas maka dapat diketahui bahwa

pencapaian target retribusi Tempat Pelelangan Ikan Panimbang harus

terpenuhi dalam jangka waktu satu tahun. Pencapaian target tersebut harus

terpenuhi 100% apabila tidak terpenuhi 100% maka akan menjadi beban

hutang untuk periode tahun berikutnya dan ditambah bunga sebesar 2%.

Namun dalam pelaksanaan pemungutan retribusi tidak terlepas dari berbagai


116

masalah yang muncul. Kemudian peneliti menanyakan kenapa target retribusi

yang diberikan pemerintah daerah untuk Tempat Pelelangan Ikan sulit tercapai

dalam rentang waktu satu tahun, jika dilihat dari jumlah nelayan dan armada

laut yang ada di wilayah Tempat Pelelangan Ikan Panimbang target yang

diberikan oleh pemerintah daerah seharusnya dapat terpenuhi. Dijelaskan oleh

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (I1-1) hambatan yang terjadi dalam

pemungutan retribusi;

“Kendala utamanya cuaca (musim hujan)”

Menurut hasil wawancara di atas kendala utama yang dihadapi oleh

Tempat Pelelangan Ikan adalah masalah cuaca. Kemudian peneliti

menanyakan kembali, kenapa cuaca berpengaruh dalam pencapaian retribusi.

Dijelaskan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (I1-1) dalam

wawancara penelitian;

“Mayoritas nelayan Panimbang takut melaut jika kondisi cuaca


sedang buruk karena membahayakan para awak kapalnya dan
hasil tangkapanya juga tidak banyak jika cuaca sedang buruk”

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa masalah cuaca

berpengaruh kepada penerimaan retribusi karena mayoritas nelayan di

Panimbang tidak berani berlayar mencari ikan karena dalam cuaca yang

buruk ditengah laut sangat beresiko kepada keselamatan parak awak kapal

nelayan tersebut dan juga ketika cuaca sedang buruk tangkapan nelayan

mengalami penurunan. Kemudian pernyataan di atas ditambahkan oleh

Kepala UPT PPI/TPI Labuan (I2-1);


117

“Kendalanya musim cuaca buruk, seperti bulan November


Desember nelayan tidak ada kegiatan melaut. Biasanya kerja TPI
itu tidak 12 (duabelas) bulan dan tidak 30 (tigapuluh) hari
kerjanya 10(sepuluh) bulan yang dua bulan kena cuaca buruk,
kadang-kadang hanya 7 (tujuh) bulan kalau musim hujannya
panjang”

Dari hasil wawancara di atas dapat dianalisis cuaca buruk sangat

berpengaruh terhadap kerja nelayan dalam mencari ikan, pada bulan-bulan

tertentu seperti November dan Desember nelayan tidak ada kegiatan mencari

ikan kemudian apabila cuaca buruk berlangsung lama nelayan bisa

menganggur selama lima bulan, hal ini mengakibatkan penerimaan retribusi

tidak terpenuhi. Kemudian ditambahkan oleh Manajer TPI Panimbang (I3-1);

“Kondisi alam, kalau sedang ombak tinggi nelayan tidak berani


melaut”

Menurut wawancara di atas dapat di ketahui bahwa kondisi alam atau

cuaca sedang buruk maka penerimaan retribusi akan menurun drastis

dikarenakan mayoritas nelayan tidak berani untuk berangkat mencari ikan

karena resiko kesalamatan yang terancam. Kemudian peneliti menanyaka

pertanyaan serupa kepada nelayan Panimbang, kemudian dijawab oleh

Juragan Nelayan (I4-1);

“Cuaca, cuaca itu hambatan paling susah karena dari alam, jadi
tidak bisa ditloak, nelayannya jadi tidak berani melaut takut
terjadi hal buruk ditengah laut”

Dari hasil wawancara di atas dapat dianalisis bahwa cuaca buruk

merupakan faktor penghambat bagi nelayan Panimbang, karena cuaca buruk

yang datang dari alam yang tidak bisa di hindari nelayan takut untuk

melakukan aktivitas kenalayanannya karena takut terjadi hal buruk ketika


118

berada di laut. Pernyataan ini kemudian ditambahkan oleh Juragan Nelayan

(I4-2);

“Kalau sekarang ini cuaca yang tidak mendukung, susah mau


melautnya juga ombaknya besar takut nelayan mau berangkat
melautnya”

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa cuaca yang tidak

mendukung menjadi penghambat bagi nelayan dalam mencari ikan, mayoritas

nelayan Panimbang takut melaut pada saat kondisi cuaca sedang tidak baik di

karenakan cuaca yang buruk itu bisa mengancam kesalamatan nelayan ketika

sedang mencari ikan. Kemudian ditambahkan oleh Nelayan Panimbang (I5-2);

“Cuacanya sedang tidak bagus sekarang ini, nelayan di sini


sekarang sedang menganggur tidak berani berangkat melaut
ombaknya besar sama takut petir kalau cuaca sedang seperti ini,
didarat sama dilaut itu beda, lebih bahaya dilaut”.

Dari hasil wawancara di atas dapat di ketahui bahwa cuaca buruk

menjadi kendala nelayan dalam mencari ikan, kondisi laut yang berbahaya

mengakibatkan nelayan Panimbang tidak melaut mencari ikan, pada kondisi

cuaca buruk nelayan di Panimbang menganggur menunggu sampai kondisi

cuaca membaik.Ditambahkan Nelayan Panimbang (I5-4);

“Kalau sedang musim begini mau ngelautnya juga takut, tidak


ada yang berani kelaut kalau lagi musim angin barat”

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa cuaca sangat

berperan penting dalam aktivitas kenelayanan, nelayan sangat bergantung

pada kondisi cuaca saat melakukan ikan di laut. Ketika laut dalam kondisi

yang buruk nelayan tidak akan melakukan aktivitas kenelayanannya karena


119

bisa membahayakan jiwa para awak kapal. Ditambahkan Nelayan Panimbang

(I5-5);

“Kalau musim seperti ini cuaca yang menghambat tidak ada yang
berani melaut, cuacanya sedang tidak baik, kalau di laut
ombaknnya besar-besar itu bisa sampai 15 meter lebih”.

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa kondisi cuaca yang

buruk dapat menghambat nelayan dalam melakukan penangkapan ikan,

nelayan tidak akan berani mencari ikan dalam kondisi cuaca yang buruk

dikarenakan hasil tangkapan yang menurun juga cuaca yang buruk dapat

mengancam keselamatan nelayan tersebut. Ditambahkan Nelayan Panimbang

(I5-6);

“cuaca susah dilawan, tidak bisa kelaut kalau lagi cuaca buruk
seperti ini”.

Dari hasil wawancara diatas dapat di ketahui bahwa nelayan tidak bisa

berangkat kelaut dalam kondisi cuaca yang buruk, menurut wawancara di atas

cuaca yang buruk tidak bisa dilawan oleh nelayan karena sangat berbahaya,

nelayan harus menunggu cuaca membaik ketika akan melakukan aktivitas

mencari ikan.

Kemudian peneliti mencoba menanyakan apakah ada masalah lain yang

terjadi terkait tidak terpenuhiinya target retribusi yang diberikan untuk

Tempat Pelelangan Ikan Panimbang. Dijelaskan oleh Kepala UPT PPI/TPI

Labuan (I2-1) dalam wawancara penelitian;

“kerja TPI dipotong oleh bulan purnama, kalau terang bulan


nelayan tidak bisa mencari ikan, kerja TPI paling maksimal itu 20
(duapuluh) hari karena terbentur terang bulan”.
120

Dari hasil wawancara di atas dapat di ketahui bahwa bulan purnama

juga menjadi kendala nelayan untuk mencari ikan sehingga mengakibatkan

kerja Tempat Pelelangan Ikan dalam satu bulan kerja itu tidak mencapai 30

(tigapuluh) hari melainkan hanya 20 (duapuluh) hari karena tidak ada

aktivitas mencari ikan yang disebabkan oleh bulan purnama.

Kemudian pernyataan serupa terkait kendala cuaca buruk dan bulan

purnama juga dikemukakan oleh Manajer TPI Panimbang (I3-1);

“Selain cuaca buruk terang bulan (=bulan purnama) juga menjadi


salah satu kendala nelayan dalam mencari ikan, terutama nelayan
kecil yang kerjanya sehari, terutama nelayan yang mengandalkan
cahaya lampu untuk memancing ikan”

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa bulan purnama

menjadi salah satu faktor penghambat bagi nelayan dalam melakukan

aktivitas kenelayanannya, pada saat terang bulan nelayan tidak bisa mencari

ikan terutama nelayan kecil yang mengandalkan cahaya lampu untuk

memancing ikannya. Kemudian peneliti menanyakan kenapa terang bulan

(=bulan purnama) menjadi faktor penghambat nelayan dalam mencari ikan.

Kemudian dijelaskan oleh Juragan Nelayan (I4-1);

“kalau terang bulan ikan tangkapannya sedikit, soalnya laut sudah


terang karena cahaya bulan, kitakan menggunakan lampu untuk
memancing ikan berkumpul”

Ditambahkan pula oleh Juragan Nelayan (I4-3);

“kalau bulan purnama ikannya susah ditangkap karena lautnya


sudah terang, kitakan untuk nyari ikan mengandalkan lampu agar
ikannya berkumpul”
121

Dari dua hasil wawancara di atas dapat di ketahui bahwa saat terang

bulan nelayan tidak akan melakukan aktivitas penangkapan ikan dikarenakan

oleh penggunaan cahaya lampu yang tidak akan maksimal dalam memancing

ikan, karena kondisi laut yang sudah diterangi oleh cahaya bulan, dalam

kondisi seperti ini ikan hasil tangkapan akan berkurang sehingga nelayan

tidak berangkat mencari ikan pada saat terang bulan. Ditambahkan Nelayan

Panimbang (I5-3);

“ikan jarang muncul kalau purnama, ikannya bermigrasi ke laut


yang lebih dalam untuk menghindari cahaya terang bulan,
biasanya kita mamanfaatkan kondisi terang bulan untuk
memperbaiki jaring di darat”

Dari hasil wawancara di atas dapat dianalisis bahwa ketika bulan

purnama hasil tangkapan ikan akan menurun karena ikan bermigrasi ke laut

yang lebih dalam untuk menghindari cahaya bulan purnama, oleh karena hal

tersebut nelayan tidak pergi ke laut untuk mencari ikan, nelayan lebih

memilih untuk memperbaiki jaringnya di darat.

Karena mayoritas nelayan Panimbang adalah nelayan tradisonal, salah

satu cara tradisonal dalam penangkapan ikan adalah penggunaan cahaya

untuk menarik perhatian ikan. Cahaya digunakan untuk menarik perhatian

ikan-ikan yang bersifat fototaksis positif dan akan direspon dengan

berkumpulnnya ikan pada suumber cahaya atau catchable area tertentu

kemudian ditangkap menggunakan jaring maupun alat pancing lainnya.

Penangkapan ikan dengan memanfaatkan cahaya sebagai alat bantu umumnya

disebut dengan light fishing. Persyaratan utama dalam penggunaan cahaya


122

lampu sebagai alat bantu penangkapan ikan (light fishing) adalah kondisi

lingkungan yang mendukung sehingga peran dan fungsi cahaya menjadi

efisien. Kondisi lingkungan yang baik adalah cahaya lampu yang digunakan

pada malam yang gelap. Fase bulan menjadi faktor yang menentukan gelap

dan terangnya bulan, light fishing hanya akan efektif dilaksanakan pada bulan

gelap, pada saat bulan terang maka penggunaan cahaya sebagai alat bantu

penangkapan menjadi sangat tidak efektif akibat ada cahaya lain yang turut

mempengaruhi behaviour dari ikan-ikan di perairan.

Dapat disimpulkan dari beberapa hasil wawancara dengan informan

penelitian bahwa kendala utama yang dihadapi oleh nelayan untuk melakukan

aktivitas menangkap ikan adalah kendala cuaca buruk dan bulan purnama.

Cuaca buruk adalah keadaan dimana kondisi laut sedang tidak bersahabat

dengan nelayan seperti gelombang ombak yang besar, hujan deras, dan badai

yang ada di tengah perairan laut hal ini membuat nelayan tidak berani untuk

melaut dikarenakan resiko besar yang di hadapi oleh nelayan yaitu resiko

kesalamatan yang terancam di hadapi oleh awak kapal ketika melakukan

aktivitas mencari ikan di tengah laut. Kemudian ketika bulan purnama

nelayan juga tidak bisa melakukan aktivitas penangkapan ikan karena nelayan

Panimbang masih menggunakan cara tradisonal dalam penangkapan ikan

yaitu dengan menggunakan bantuan cahaya lampu (light fishing), penggunaan

cahaya lampu dalam penangkapan ikan sangat bergantung pada fase bulan,

fase bulan gelaplah yang mendukung penggunaan bantuan cahaya lampu ini

sedangkan bila bulan pada fase terang bulan atau bulan purnama maka
123

penangkapan ikan menggunakan bantuan cahaya lampu sangat tidak efektif

dan efisien.

Kemudian peneliti mencari tahu kendala lain yang di hadapai oleh

Tempat Pelelangan Ikan dalam pemungutan retribusi selain karena cuaca

buruk dan bulan purnama yang mengakibatkan nelayan tidak bisa melakukan

aktivitas penangkapan ikan yang berpengaruh pada penerimaan retribusi

Tempat Pelelangan Ikan. Kemudian pertanyaan peneliti dijelaskan oleh

Manajer TPI Panimbang (I3-1) dalam wawancara penelitian;

“Masalah retribusi kita berbenturan dengan nelayan, bakul ikan,


dan juragan tidak menjual di TPI, mereka itu bikin tempat sendiri.
Masalahnya tadinya dibiarkan membeli dilaut, dibiarkan yang
penting masuk retribusi aja ternyata lama kelamaan jadi terus,
generasinya lama sudah tidak ada sedangkan generasi yang baru
tidak tau peraturan TPI itu seperti apa. Padahal Panimbang
potensinya besar saya dulu ketikamenjadi juru lelang
melelangkan ikan dari jam 9 malam sampai jam 9 pagi”.

Dari hasil wawancara di atas masalah yang dihadapi oleh Tempat

Pelelangan Ikan adalah karena tidak dijualnya hasil tangkapan ikan di Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang, ikan hasil tangkapan nelayan dijual di tengah

laut dan dijual di Tempat Pelelangan Ikan yang dibangun oleh juragan

nelayan sehingga mengakibatkan penerimaan retribusi kepada Tempat

Pelelangan Ikan tidak ada. Hal ini terjadi karena ada pembiaran dari

pengelola Tempat Pelelangan Ikan yang sebelumnya. Kemudian ditambahkan

pernyataan lain oleh Kasir TPI Panimbang (I3-2);

“Keadaan disini seperti ini pelelangannya tidak hanya satu, ada


pelelangan bayangan juga. Kemudian retribusinya tidak sesuai
dengan yang ada di PERDA, juragan nelayannya tidak mau
membayar retribusi sesuai dengan yang di PERDA, alasanya
banyak macam-macam. Ada yang bilang perahu-perahu saya
124

yang modalin saya ngapain saya bayar retribusi, pernah kita


diskusi bersama dengan nelayan rapat disini membahas
kesepakatan retribusi hasil musyawarah itu sebenarnya 250 ribu
per trip, pada saaat itu kesepakatan pemberangkatan itu per trip 7
hari maksimal 10 hari, kemudian disitu ada tantangan untuk
pemerintah kalau ada lampu mercusuar mau si nelayan membayar
250 pertrip kalau tidak ada maka 150 ribu. Ya sampai sekarang
ini”

Dari hasil wawancara di atas disimpulkan bahwa kendala pencapaian

retribusi terjadi dikarenakan adanya pelelangan-pelelangan ikan bayangan

yang muncul di Panimbang, Tempat Pelelangan Ikan bayangan ini di bangun

oleh juragan nelayan yang memiliki modal besar, oleh karena adanya tempat

pelelangan bayangan inilah Tempat Pelelangan Ikan Panimbang menjadi sepi

dari kegiatan pelelangan ikan sehingga Tempat Pelelangan Ikan Panimbang

tidak mendapatkan retribusi dari kegiatan pelelangan ikan. kemudian

dilapangan ditemukan bahwa pernah terjadi kesepakatan antara Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang dan jurgan nelayan terkait pebayaran retribusi.

Dari musyawarah pembayaran retribusi tersebut muncul hasil kesepakatan

yaitu; pembayaran retribusi sebesar 250 ribu per trip, pemberangkatan per trip

7 hari maksimal 10 hari, kemudian ada tatangan untuk pemerintah jika ada

lampu mercusuar nelayan membayar 250 pertrip kalau tidak ada maka 150

ribu. Hasil kesepakatan inilah yang mengakibatkan ketidaksesuaian

pembayaran retribusi dengan PERDA yang dalam peraturan Daerah

Kabupaten Pandeglang Nomor 11 tahun 2011 Tentang Retribusi Jasa Usaha,

Tempat Pelelangan Ikan dikenakan retribusi sebesar 4% (empat perseratus)

dari nilai transaksi lelang.


125

Kemudian peneliti menyakan kepada nelayan dan juragan nelayan

apakah membayar retribusi sesuai dengan peraturan yang berlaku? Dijelaskan

oleh Juragan Nelayan (I4-1);

“Sesuai kalau retibusi, bayar terus disini, 150 ribu sekali bongkar
ikan”

Dari hasil wawancara dengan informan penelitian di atas dapat di

ketahui bahwa nelayan membayar retribusi sebesar Rp. 150.000 per sekali

bongkar ikan, sedangkan menurut peraturan daerah yang berlaku mengenai

besarnya penarikan retribsusi Tempat Pelelangan Ikan adalah 4% (empat

perseratus) dari nilai transaksi lelang. Kemudian ditambahkan oleh Juragan

Nelayan (I4-2);

“Sesuailah pembayaran retibusi kan sudah ada kesepakatan, 150


ribu kalau lagi banyak ikan, kalau lagi sedikit mau bayar gimana
ikanya juga tidak ada, tidak dapat uang mau bayar pake apa”

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa pembayaran

retribusi yang dibayarkan oleh juragan nelayan pemilik Tempat Pelelangan

Ikan bayangan adalah Rp.150.000 hasil kesepakatan musyawarah

pembayaran retribusi antara juragan nelayan dengan pihak pelelangan ikan.

Ditambahkan oleh Juragan Nelayan (I4-3);

“Sesuailah pembayaran retibusi kan sudah ada kesepakatan, 150


ribu sesuai dengan kesepakatan dulu, kalau permintaan nelayan
dipenuhi seperti muara dikeruk sama ada lampu mercusuar lebih
dari 150 ribu juga saya bayar, inikan saya ada biaya tambahan
lagi kalau muaranya dangkal seperti ini, belum kalau malam tidak
ada lampu mercusuar takut kandas perahunya gelap soalnya”

Dari hasil wawancara dengan informan penelitian di atas dapat

diketahui pembayaran retribusi yang di bayarkan oleh nelayan adalah Rp.


126

150.000 per sekali bongkar ikan, nominal Rp. 150.000 tersebut muncul dari

hasil kesepakatan antara nelayan dengan pihak Tempat Pelelangan Ikan

akibat buruknya sarana dan prasarana laut yang menghubungkan muara

sungai tempat hilir mudik kapal nelayan dalam mencari ikan serta tidak

adanya mercusuar penanda daratan Panimbang.

Dari hasil wawancara penelitian dengan beberapa informan penelitian

di atas dapat disimpulkan bahwa Tempat Pelelangan Ikan yang ada di

Panimbang juga memebayar retribusi kepada pemerintah daerah yaitu sebesar

Rp. 150.000 per sekali bongkar ikan, Namun dalam Peraturan Daerah

Kabupaten Pandeglang No 11 tahun 2011 Tentang Retribusi Jasa Usaha pada

Paragraf 3 mengenai struktur dan besarnya tarif retribusi pelelangan

ditetapkan sebesar 4% (empat perseratus) dari nilai transaksi lelang. Dapat

disimpulkan oleh karena adanya Tempat Pelelangan Ikan illegal ini

mengaakibatkan pemerintah daerah Kabupaten Pandegalang mengalami

kebocoran dalam hal penerimaan retribusi.

Kemudian masalah lain yang dihadapi oleh Tempat Pelelangan Ikan

Panimbang dalam pelaksanaan pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan

dijelaskan oleh Manajer TPI PAnimbang (I3-1);

“Lahan juga sempit terutama ketika ada bangunan pom dengan


tembok air untuk mengubah air laut agar bisa diminum langsung
tapi orang Panimbang tidak mau, dari pertama dibangun sampai
sekarang belum pernah berfungsi tembok itu, dulukan tidak ada
harusnya di perlebar agar perahu bisa menyandar 3 sampai 4,
sekarang malah jadi sempit”

Dari hasil wawancara di atas kendala lain yang dihadapi oleh Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang dalam pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan


127

adalah menyempitnya lahan Tempat Pelelangan Ikan Panimbang yang di

akbitkan oleh pembangunan stasiun pengisian bahan bakar nelayan dan

pembangunan tembok pengubah air laut menjadi air minum.

4.3.4 Controlling (pengawasan)

Controlling ialah suatu usaha untu meneiliti kegiatan-kegiatan yang

telah dan akan dilaksanakan. Pengendalian berorientasi pada objek yang

dituju dan merupakan alat untuk menyuruh orang-orang bekerja menuju

sasaran yang ingin dicapai (Terry, 2008:18). Controlling mencakup

kelanjutan tugas untuk melihat apakah kegiatan-kegiatan dilaksanakan sesuai

rencana. Pelaksanaan kegiatan di evaluasi dan penyimpangan-penyimpangan

yang tidak diinginkan diperbaiki supaya tujuan-tujuan dapat tercapai dengan

baik. Ada berbagai cara untuk mengadakan perbaikan, termasuk merubah

rencana dan bahkan tujuanya, mengatur kembali tugas-tugas dan wewenang,

tetapi seluruh perubahan dilakukan melalui manusianya. Orang yang

bertanggung jawab atas penyimpagan yang tidak diinginkan itu harus dicari

dan mengambil langkah-langkah perbaikan terhadap hal-hal yang ssudah atau

akan dilaksanakan (Terry, 2008:166).

Dalam manajemen pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan Paimbang

perlu ada pengawasan yang berkesinambungan agar meminimalisir masalah-

masalah yang ada di Tempat Pelelangan Ikan juga agar Tempat Pelelangan

Ikan dapat beroprasi secara maksimal, ada beberapa cara yang dilakukan

untuk mengontrol Tempat Pelelangan Ikan Panimbang hal ini dijelaskan oleh
128

innforman penelitian. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (I1-1)

menjelaskan bahwa;

“Ada kunjungan kerja dari dinas kelautan, bapak suka keliling ke


TPI-TPI”

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa salah satu cara

mengontrol Tempat Pelelangan Ikan adalah dengan melakukan kunjungan

kerja secara mendadak ke Tempat Pelelangan Ikan yang dilakukan oleh

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan secara langsung. Kemudian

ditambahkan Kemudian ditambahkan oleh Manajer TPI Panimbang (I3-1)

“Sering ada dari upt kesini mengontrol dari dinas juga suka ada
kesini”

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui cara mengontrol Tempat

Pelelangan Ikan adalah dengan melakukan kujungan kerja ke Tempat

Pelelangan Ikan. Kunjungan kerja dilakukan oleh Dinas Kelautan dan

Perikanan serta oleh UPT PPI/TPI Dinas Kelautan dan Perikakanan Labuan.

Selanjutnya ditambahkan oleh Kasir TPI Panimbang (I3-2);

“Ada dari dinas dan UPT kunjungan kesini, sebenarnya orang


dinas juga melihat kalau ada pelelangan bayangan. Pelelangan
bayangannya juga terlihat jelas disebelah pelelangan resmi karena
hanya berjarak tak lebih dari 100 meter”
Menurut hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi

kontrol yang dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan dan UPT PPI/TPI

Dinas Kelautan dan Perikanan menggunakan cara kunjungan kerja, namun

dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa kunjungan kerja yang

dilakukan tidak efektif karena kunjungan yang dilakukan tiidak memberikan

solusi terkait permasalahan-permasalahan yang muncul, seperti masalah


129

muculnya Tempat Pelelangan Ikan bayangan yang ada di Panimbang.

Pernyataan berbeda kemudian dikemukakan oleh Kepala UPT TPI/PPI

Labuan (I2-1);

“Untuk mengontrol TPI dari karcis lelang, karcis lelangkan ada


bonggolnya. Itu harus di hitung berapa habisnya, berapa yang
dilaporkan dari jumlah lelang dan jumlah raman, nanti karcis
lelang disamakan dengan raman jadi itu kontrolnya, jadi karcis
lelang ada tiga, satu untuk juragan, satu untuk bakul, satu untuk
TPI. Fungsi kontrolnya dari situ, kemudianbonggolnya harus
dilaporkan ke Pandeglang. Misalkan bulan ini habis berapa,
berapa buku, nanti disesuaikan dengan laporan bulanan ada
kesesuaian atau tidak”

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa cara mengontrol

Tempat Pelelangan Ikan adalah dengan menyesuaikan karcis lelang yang

sudah digunakan oleh Tempat Pelelangan Ikan. Karcis lelang yang sudah

dikeluarkan disesuaikan dengan hasil raman yang diperoleh dari hasil

pelelangan ikan, yang kemudian disetorkan kepada pemerintah daerah.

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa pengawasan

dilakukan langsung oleh Dinas Kelautan dan Perikanan dan UPT PPI/TPI

yang berkedudukan lebih tinggi dari Tempat Pelelangan Ikan Panimbang,

dinaslah yang melakukan pengawasan juga yang dapat memberikan sanksi,

sedangkan Tempat Pelelangan Ikan Panimbang hanya sebagai pelaksana

pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan. Kemudian peneliti menanyakan berapa

kali kontrol dilakukan dalam satu tahun. Dijelaskan oleh Kepala Dinas

Kelautan dan Perikanan (I1-1);

“tidak pasti, bapak biasanya mendadak melakukan kontrolnnya,


dalam kunjungan kerja biasanya bapak melakukan kontrol, ada
juga saat rapat evaluasi bulanan di UPT kontrolnya”
130

Dari hasil wawancara di atas dapat di ketahui bahwa rentang waktu

dalam mengontrol Tempat Pelelangan Ikan tidak memiliki waktu yang pasti,

kontrol dilakukan setiap Kepala Dinas melakukan kunjungan kerja ke Tempat

Pelelangan Ikan, kemudian fungsi kontrol terhadapTempat Pelelangan Ikan

dilakukan juga saat rapat evaluasi yang diakukan di UPT PPI/TPI Labuan.

Kemudian ditambahkan oleh Kepala UPT PPI/TPI Labuan (I2-1);

“kontrol itu dilakukan setiap rapat yang dilakukan di sini (=UPT


PPI/TPI Labuan) setiap 1 (satu) bulan sekali, kadang kita
kunjungan kerja ke TPI mendadak juga”

Dari hasil wawancara di atas dapat di ketahui bahwa fungsi kontrol

yang dilakukan adalah setiap satu bulan sekali dilakukan setiap rapat di UPT

PPI/TPI Labuan, kemudian dilakukan secara mendadak setiap kunjungan

kerja yang dilakukan oleh UPT PPI/TPI Labuan, jadi fungsi kontrol

dilakukan dengan dua cara yaitu saat rapat dan saat kunjungan kerja.

Kemudian ditambahkan oleh Manajer TPI Panimbang (I3-1);

“kalau kontrol itu dilakukan saat rapat evaluasi satu bulan sekali,
disitu di bahas apa saja yang kurang apa saja kendalanya di TPI,
kadang-kadang ada kunjungan kerja dari UPT sama Bapak
Kepala Dinas juga, tapi tidak pasti kalau kunjungan kerja”

Dari hasil wawancara di atas dapat di ketahui bahwa kontrol yang

dilakukan kepada Tempat Pelelangan Ikan dilakukan satu bulan sekali yang

dilakukan dalam rapat bulanan yang dilaksanakan di UPT PPI/TPI Labuan,

kemudian ada kunjungan kerja yang dilakukan oleh Kepala Dinas Kelautan

dan Perikanan Kabupaten Pandeglang secara mendadak. Kemudian peneliti

menanyakan siapa yang melakukan fungsi kontrol, dijelaskan oleh Kepala

Dinas Kelautan dan Perikanan (I1-1);


131

“fungsi kontrol bapak lakukan sendiri, setelah menerima hasil


rapat evaluasi nanti bapak langsung kelapangan melihat langsung
laporan yang diberikan kepada bapak”

Dari hasil wawancara di atas dapat di ketahui bahwa yang melakukan

fungsi kontrol dalam manajemen pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan adalah

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, kontrol yang dilakukan oleh Kepala

Dinas Kelautan dan Perikanan dilakukan setelah menerima laporan rapat

evaluasi bulanan yang telah dilakukan di UPT PPI/TPI Labuan. Kemudian

ditamahkan oleh Kepala UPT PPI/TPI Labuan (I2-1);

“Kalau kontrol itu dilakukan oleh kepala dinas langsung, saya


juga kadang-kadang ikut mengontrol TPI nanti saya laporkan ke
kepala dinas hasilnya”

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa fungsi kontrol yang

dilakukan untuk mengontrol Tempat Pelelangan Ikan dilakukan oleh Kepala

Dinas Kelautan dan Perikanan secara langsung namun tidak hanya Kepala

Dinas saja yang melakukan fungsi kontrol terhadap Tempat Pelelangan Ikan,

kepala UPT PPI/TPI juga ikut melaksanakan fungsi kontrol terhadap Tempat

Pelelangan Ikan, yang kemudian hasil dari kontrol yang dilakukan diserahkan

kepada kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang.

kemudian pernyataan di atas ditambahkan oleh Manajer TPI Panimbang (I3-

1);

“Kalau kontrol untuk TPI Panimbang biasanya dilakukan oleh


bapak kepala dinas, kadang-kadang ada dari UPT kesini juga”

Dari hasil wawancara di atas dapat di ketahui bahwa fungsi kontrol

untuk Tempat Pelelangan Ikan Panimbang dilakukan oleh kepala Dinas

Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang serta oleh Kepala UPT


132

PPI/TPI Labuan secara langsung maupun dilakukan saat rapat evaluasi

bulanan yang dilakukan di UPT PPI/TPI Dinas Kelautan dan Perikanan

Labuan.

Dalam penelitian ini sebelumnya telah membahas masalah yang muncul

adalah munculnya Tempat Pelelangan Ikan bayangan di wilayah Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang.Tempat Pelelangan Ikan adalah tempat untuk

melancarkan semua kegiatan melelangkan ikan untuk meningkatkan taraf

kesejahteraan nelayan, menjaga kualitas ikan serta menghasilkan retribusi

kepada pemerintah daerah. Pada hakekatnya Tempat Pelelangan Ikan tidak

dapat dibangun oleh individu, Tempat Pelelangan Ikan hanya dapat dibangun

oleh pemerintah daerah, seperti dikemukakan oleh Kepla Dinas Kelautan dan

Perikanan (I1-1);

“Syarat didirikanya TPI adalah dibangun di tanah negara dan


dibangun oleh pemerintah. Selain itu, tidak ada izin untuk
mendirikan TPI apalagi di tanah milik pribadi”

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa TPI memang

tidak boleh didirikan oleh pribadi. Tempat Pelelangan Ikan harus dibangun

oleh pihak pemerintah setempat karena pada hakikatnya TPI dibangun untuk

membantu nelayan dalam menjaga kualitas ikan, mengontrol harga ikan serta

sebagai penghasil retribusi bagi pemerintah daerah setempat. Kemudian

peneliti menanyakan hal yang sama kepada Kepala UPT PPI/TPI Labuan (I2-

1) terkait perizinan pembangunan TPI;

“Tidak ada yang memberikan izin. Tidak boleh membangun tanpa


izin dari dinas. TPI seharusnya dibangun di tanah negara dan
dibangun oleh pemerintah”
133

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa TPI memang

tidak boleh didirikan oleh perusahaan swasta/pribadi tanpa adanya izin dari

pemerintah. Pembangunan TPI hanya dapat dilakukan oleh pemerintah

setempat di tanah milik negara dan di bangun oleh pemerintah. Kemudian

pertanyaan serupa juga peneliti tanyakan kepada pihak Tempat Pelelangan

Ikan, yang kemudian dijawab oleh Manajer TPI Panimbang (I3-1);

“Saya tidak mengetahui izin tersebut dari siapa. Dia membuat


tempat sendiri, membeli tanah di pinggir kali,lalu mendirikan
TPI”

Menurut hasil wawancara di atas dapat dilihat bahwa pihak Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang tidak tahu terkait perizinan pembangunan

Tempat Pelelangan Ikan bayangan yang banyak muncul di wilayah

Panimbang. Kemudian ditambahkan oleh Kasir TPI Panimbang (I3-2);

“Mengenai izin saya kurang tahu, saya juga mau menanyakan


apakah ada izin untuk pelelangan bayangan itu ke dinas”

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa memang

Tempat Pelelangan Ikan Panimbang tidak tahu izin pendirianTempat

Pelelangan Ikan lain yang ada di Panimbang, karena hal itu pihak Tempat

Pelelangan Ikan akan berupaya menanyakan izin tersebut ke Dinas Kelautan

dan Perikanan.

Ketika berbicara fungsi kontrol Tempat Pelelangan Ikan Panimbang

harus berkoordinasi dengan UPT PPI/TPI Dinas Kelautan dan Perikanan

Labuan Serta Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang agar ada

tindak lanjut untuk mendapat tindak lanjut terkait munculnya tempat

pelelangan bayangan yang ada di wilayah Tempat Pelelangan Ikan


134

Panimbang. Dalam hal ini penelitian mencoba menanyakan kepada Dinas

Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang terkait pengendalian

munculnya Tempat Pelelangan Ikan bayangan, kemudian dijelaskan oleh

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (I1-1);

“Selama ini belum ada laporan yang masuk dari manajer ataupun
UPT”.

Dari hasil wawancara di atas pihak Dinas Kelautan dan Perikanan

Kabupaten Pandeglang mengutarakan bahwa selama ini pengendalian

munculnya Tempat Pelelangan Ikan bayangan belum dilakukan karena belum

ada pelaporan resmi dari Tempat Pelelangan Ikan Panimbang maupun dari

UPT PPI/TPI Labuan terkait munculnya Tempat Pelelangan Ikan bayangan

yang ada diwilayah Panimbang. Kemudian pertanyaan serupa peneliti

tanyakan kepada UPT PPI/TPI Labuan, yang kemudian dijelaskan oleh

Kepala UPT PPI/TPI Labuan (I2-1);

“Selama ini belum ada, laporannya belum ada dari manajer,


seharusnya manajer melaporkan ke Dinas”

Menurut hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa UPT PPI/TPI

Labuan belum melakukan pengendalian atau tindakan terkait munculnya

Tempat Pelelangan Ikan bayangan dikarenakan belum menerima laporan

adanyaTempat Pelelangan Ikan bayangan yang ada di panimbang, kemudian

menurut informan penelitian di atas pelaporan tekait munculnya Tempat

Pelelangan Ikan bayangan seharusnya dilaukan oleh manajer Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten

Pandeglang. kemudian peneliti juga menanyakan hal serupa terkait


135

pengendalian adanya Tempat Pelelangan Ikan bayangan kepada Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang, yang kemudian dijawab oleh Manjer TPI

Panimbang (I3-1);

“Belum ada, saya sudah sering memberi himbauan kalau bisa di


TPI semua, sudah saya ajak di TPI mau apa, maunya gimana
nelayan. Kalau saya yang menutup tempat pelelangan bayangan
bukan wewenang saya”
Menurut hasil wawancara penelitian pihak pelelangan ikan belum

melakukan upaya pengendalian terkait munculnya Tempat Pelelangan Ikan

bayangan, namun Tempat Pelelangan Ikan Panimbang sudah mengupayakan

memberi himbauan kepada Tempat Pelelangan Ikan bayangan agar

melakukan aktivitas pelelangan ikan di Tempat Pelelangan Ikan Panimbang.

Tempat Pelelangan Ikan Panimbang tidak bisa melakukan upaya penindakan

kepada Tempat Pelelangan Ikan bayangan karena bukan wewenang Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang yang bisa melakukan penindakan maupun

pengendalian terkait munculnya Tempat Pelelangan Ikan bayangan, yang bisa

melakukan tindakan adalah Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten

Pandeglang. Kemudian peneliti menanyakan apakah Tempat Pelelangan Ikan

Panimbang berupaya melaporkan adanya Tempat Pelelangan Ikan bayangan

kepada Dinas Kelautan dan Perikanan maupun UPT PPI/TPI Labuan.

Kemudian di jelaskan oleh Manajer TPI Panimbang (I3-1);

”Sudah pernah saya laporkan, bahkan UPT pernah tahu, pernah


memeriksa. Pak UPT juga tahu ada TPIbayangan itu, dulu pak
UPT pernah jadi manajer disini juga”

Menurut hasil wawancara di atas bahwa pihak Tempat Pelelangan Ikan

Panimbang sudah berupaya melaporkan adanya Tempat Pelelangan Ikan


136

bayangan yang ada di Panimbang, menurut hasil wawancara di atas juga

dapat diketahui bahwa pihak UPT PPI/TPI Labuan mengetahui akan adanya

Tempat Pelelangan Ikan bayangan di Panimbang karena Kepala UPT PPI/TPI

Labuan pernah menjabat menjadi manajer di Tempat Pelelangan Ikan

Panimbang. Kemudian pernyataan di atas ditambahkan oleh Kasir TPI

Panimbang (I3-2);

“Sudah, hanya mungkin dengar tidak dengar saja. Sebenarnya


juga bukan tidak tahu, orang dinasnya juga tahu, mereka juga tahu
bahwa ada sandaran disitu. Kembali ke fungsi utama awalnya
dibangun pelelangan ikan bayangan itu, awalnya tempat packing,
tempat sandaran perahu, sama untuk bongkar es, tapi ada jual beli
ikan itukan namanya pelelangan ikan, berarti tempat pelelangan
ini tidak hanya satu saja”
Menurut hasil wawacara di atas dapat diketahui bahwa Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang sudah berupaya memberikan laporan akan

adanya Tempat Pelelangan Ikan bayanagan, Pihak Dinas Kelautan dan

Perikanan Kabupaten Pandeglang juga mengetahui akan adanya Tempat

Pelelangan Ikan bayangan. Menurut informan penelitian awal munculnya

Tempat Pelelangan Ikan bayangan adalah berubah fungsinya tempat packing,

sandaran perahu dan bongkar es, kemudian ada aktivitas jual beli ikan yang

hingga sekarang dilakukan.

Kemudian peneliti menyakan apakah ada pengawasan yang dilakukan

oleh instansi lain yang seperti Satpol PP dan Ditpolair terkait munculnya

Tempat Pelelangan Ikan ilegal? Dijelaskan oleh Kasir TPI Panimbang (I3-2);

“Sementara ini tidak ada upaya pengawasan yang dilakukan oleh


instansi lain, karena fungsi pengawasan ada pada Dinas Kelautan
dan Perikanan”
137

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa tidak ada upaya

pengawasan yang dilakukan oleh instansi lain terkait munculnya Tempat

Pelelangan ilegal karna fungsi pengawasan Tempat Pelelangan Ikan ada di

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang. Kemudian peneliti

menanyakan kepada Satpol PP terkait upaya Pengawasan terkait munculnya

tempat pelelangan ilegal, kemudian dijelaskan oleh Satpol PP Panimbang (I6-

1);

“kalau Satpol PP kaitan langsungnya tidak ada dengan TPI,


namun jika ada perintah dari Dinas untuk melakukan tindakan
terhadap tempat Pelelangan illegal kita akan segera turun
kelapangan”

Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa upaya penindakan

langsung oleh Satpol PP tidak ada, Satpol PP akan melakukan tindakan tegas

apabila ada perintah dari pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten

Pandeglang. Kemudian pertanyaan serupa peneliti tanyakan kepada Ditpolair

Polres Pandeglang terkait munculnya tempat pelelangan ilegal, kemudian

dijelaskan oleh Ditpolair Polres Pandeglang (I6-2);

“polair tidak berkaitan langsung dengan penyelenggaraan


pelelangan ikan, polair berkaitanya dengan masyarakat pesisir
sebagai pelayan, pelindung, pengayom dan penegakan hukum
diwilayah perairan laut. Kalau memang diminta baru kita terjun
ke TPI”
Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa polair polres

Pandeglang tidak berkaitan langsung dengan proses penyelenggaran tempat

pelelangan ikan, polair Polres Pandeglang berkaitanya dengan masyarakat

pesisir sebagai pelayan, pelindung, pengayom dan penegak hukum diwilayah

perairan laut.
138

Terkait masalah munculnya Tempat Pelelangan Ikan bayangan peneliti

mencoba melakukan wawancara kepada juragan nelayan Panimbang. Hal

pertama yang peneliti tanyakan adalah kenapa membangun tempat pelelangan

bayangan. Kemudian dijawab oleh Juragan Nelayan (I4-1);

“Biar mandiri, biar tidak campur sama nelayan yang lain kitakan
punya langganan, biar gampang aja jualnya”

Menurut hasil wawancara penelitian dengan juragan nelayan di atas

dapat disimpulkan alasan juragan nelayan membangun Tempat Pelelangan

Ikan adalah agar mandiri tidak campur dengan nelayan lainnya dalam hal

melelangkan ikan, kemudian agar memudahkan langganannya membeli ikan.

Kemudian pertanyaan serupa peneliti tanyakan kepada juragan nelayan

lainnya, kemudian dijawab oleh Juragan Nelayan (I4-2);

“Biar cepat saja dek, biar tidak rebutan dengan yang lain, sayakan
jaga kualitas ikan supaya bagus,kalau kelamaan nunggu ikannya
takut jelek kualitasnya”

Menurut hasil wawancara dengan juragan nelayan di atas dapat

dianalisis bahwa alasan juragan nelayan membangun Tempat Pelelangan Ikan

adalah untuk memepercepat proses pelelangan ikan supaya tidak berebutan

dengan nelayan lainnya, serta juragan nelayan pun beralasan untuk menjaga

kualitas ikan yang didapatnya. Pertanyaan serupa pun peneliti tanyakan

kepada juragan nelayan yang lain, yang kemudian dijawab oleh Juragan

Nelayan (I4-3);

“Enak kalau disini luas, perahunya bisa banyak yang bongkar


ikan sekaligus”
139

Menurut hasil wawancara dengan juragan nelayan di atas dapat di

ketahui bahwa alasan juragan nelayan membangun Tempat Pelelangan Ikan

adalah karena juragan di atas memiliki lahan yang lebih luas dibandingkan

dengan Tempat Pelelangan Ikan Panimbang yang resmi, karena alasan tempat

yang luas tersebut banyak perahu yang dapat melakukan aktivitas bongkar

ikan sekaligus.

Kemudian peneliti menayakan perizinan pembangunan Tempat

Pelelangan Ikan. Ketika ditanya apakah tempat pelelangan ini bayangan ini

memiliki izin Juragan Nelayan (I4-1) berkata;

“Ada, untuk menyandarkan perahu”

Menurut hasil wawancara di atas dapat dianalisis bahwa Tempat

Pelelangan Ikan yang dimiliki oleh juragan nelayan di atas hanya memliki

izin penyandaran untuk perahu, jadi dapat disimpulkan bahwa tempat

pelelangan yang dibangun oleh juragan nelayan tersebut adalah karena hanya

mengantongi izin untuk penyandaran perahu saja bukan izin untuk Tempat

Pelelangan Ikan. Kemudian pertanyaan serupa peneliti tanyakan kepada

Juragan Nelayan (I4-2);

“Izin yah, lupa saya dulu bikin izinnya”

Dari hasil wawancara di atas dapat dianalisis bahwa juragan nelayan

berdalih lupa ketika peneliti mencoba menanyakan perizinan Tempat

Pelelangan Ikan yang dimilikinya oleh karena itu peneliti menyimpulkan

bahwa Tempat Pelelangan Ikan yang dibangun oleh juragan nelayan di atas

adalah Tempat Pelelangan Ikanbayangan. Kemudian pertanyaan serupa


140

peneliti tanyakan kepada juragan nelayan yang lain, kemudian dijawab oleh

Juragan Nelayan (I4-3);

“Ada izin untuk membangun tempat packing dan depot es”

Menurut hasil wawancara dengan informan penelitian di atas dapat

disimpulkan bahwa Tempat Pelelangan Ikan yang dibangun oleh juragan

nelayan tersebut adalah karena Tempat Pelelangan Ikan tersebut tidak

memiliki izin untuk menjadi Tempat Pelelangan Ikan namun hanya izin untuk

tempat packing ikan dan depot es.

Selanjutnya peneliti menanyakan kenapa tidak menjual ikan di Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang, dijelaskan oleh Juragan Nelayan (I4-1);

“Enak kalau disini tidak campur dengan langgan-langgan


orang,kalaulangganan itusudah memberi modal jadi perbekalan
apa segala macam untuk nelayan sudah diberikan, jadi
nelayannya jual ikan disini, cepat disini jualnya kalau di TPI
umum suka campur-campur ya pokoknya biar lebih enak, bisa
sambil masak disini, bisa solat disini,kalau di TPI umumkan kan
tidak bisa. Terus kalau pagikan rame banyak perahu yang datang
terus tempatnya sempit ada SPBN ada tembok jadi enakdisini
saja”

Dari hasil wawancara di atas dapat di ketahui bahwa alasan nelayan

tidak menjual ikan di Tempat Pelelangan Ikan yang resmi adalah karena jika

dilakukan di tempat pelelangan yang dibangun secara pribadi aktivitas

pelelangan ikan tidak bercampur dengan orang lain, secara umum juragan

nelayan yang ada di Panimbang sudah memiliki langganan sendiri dalam

menjual ikan hasil tangkapannya, langganan itu sendiri sudah menaruh modal

bagi nelayan untuk melakukan aktivitas penangkapan ikan agar ikan hasil

tangkapan nelayan tidak dijual kepada orang lain. Kemudian selain hal
141

tersebut nelayan beralasan tempat yang dimilikinya lebih luas dibandingkan

dengan Tempat Pelelangan Ikan yang resmi. Kemudian peneliti menanyakan

hal serupa kepada nelayan yang lain yang kemudian dijawab oleh Juragan

Nelayan (I4-2);

“Sempit kalau disana ada SPBN sama tembok, disitu tidak tahu
apa fungsinya, tidakbisa buru-buru suka rebutan dengan yang
lain, keamanannya juga kurang ya takutnya kan ada ribut-ribut
karena rebutan ingin duluan jual ikan, kalau disini aman. Langgan
juga sudah hapal jam bongkar ikannya jam berapa jadi gampang
jualnya cepat”

Dari hasil wawancara penelitian dengan juragan nelayan di atas dapat di

ketahui bahwa alasan tidak menjual ikan ditempat pelelangan resmi adalah

karena lahan Tempat Pelelangan Ikan Panimbang sempit karena ada

bangunan SPBN (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan) dan tembok

pengubah air laut menjadi air minum, alasan lain yang melatarbelakangi tidak

dijualnya ikan di Tempat Pelelangan Ikan Panimbang adalah karena nelayan

ingin menjual ikannya secara cepat dan nelayan pun beralasan bahwa Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang keamananannya kurang terjaga, nelayan takut

terjadi keributan karena berebutan dalam melakukan pelelangan ikan.

Kemudian pertanyaan serupa peneliti berikan kepada nelayan lain, yang

dijawab oleh Juragan Nelayan (I4-3);

“Enak disini cepat, perahu-perahu saya sendiri modal saya


sendiri, solar bekal apalah semua kan saya yang nanggung, narik
perahu segala pemerintahkan tidak mau memberikan biaya
tarikan perahu sedangkan perahu harus ditarik karena muaranya
dangkal tidak di keruk-keruk oleh pemerintah, kita minta lampu
mercusuar dari dulu sampe sekarang belum ada aja”
142

Dari hasil wawancara di atas dapat di analisis bahwa alasan nelayan

tidak mau menjual ikanya di Tempat Pelelangan Ikan Panimbang karena jika

dijual diTempat Pelelangan Ikan yang dibangun oleh sendiri aktivitas

pelelangan ikan akan lebih cepat dibandingkan dengan menjual ikan di

Tempat Pelelangan Ikan Panimbang, kemudian karena pemerintah tidak

menuruti apa yang diinginkan nelayan seperti pengerukan muara sungai dan

pembangunan mercusuar nelayan menjadi enggan untuk menjual ikannya di

Tempat Pelelangan Ikan Panimbang dengan beralasan semua biaya

operasional dan kapal penangkapan ikan adalah dengan modal sendiri.

Kemudian pertanyaan yang sama peneliti tanyakan kepada nelayan lain

Nelayan Panimbang (I5-1);

“Sempit, kalau ramai rebutan susah jadinya mau bongkar


ikannya”

Ditambahkan oleh Nelayan Panimbang (I5-4);

“Sempit, kemudian dangkal lautnya. Susah mendaratkan


perahunya”

Dari dua hasil wawancara penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa

alasan nelayan tidak menjual ikannya di Tempat Pelelangan Ikan

Panimbangadalah karena Tempat Pelelangan Ikan Panimbang memiliki lahan

yang sempit dan perairan di sekitar Tempat Pelelangan Ikan juga dangkal.

Kemudian ditambahkan oleh Nelayan Panimbang (I5-2);

“Kan modal sama perahunya punya bos jadi jualnya sama bos”

Dari hasil wawancara di atas dapat dianalisis bahwa alasan nelayan

tidak menjual ikannya di Tempat Pelelangan Ikan Panimbang adalah karena


143

seluruh permodalan nelayan di beri oleh juragan nelayan sehingga membuat

nelayan tersebut menjual ikannya di Tempat Pelelangan Ikan yang dimiliki

oleh juragan nelayan tersebut, kemudian di tambahkan oleh Nelayan

Panimbang (I5-3);

“Modal melaut dikasih sama bos, jadi jualnya di lapaknya bos aja
biar gampang itung-itungan”

Menurut hasil wawancara di atas dapat dianalisis bahwa alasan nelayan

tidak menjual ikan di Tempat Pelelangan Ikan Panimbang karena nelayan di

berikan modal oleh juragan nelayan, dengan alasan agar mempermudah

hitung-hitungan modal dan keuntungan nelayan menjual ikannya di Tempat

Pelelangan Ikan bayangan milik juragan nelayan, selanjutnya ditambahkan

oleh Nelayan Panimbang (I5-5);

“Kapalnya punya bos, tidak bisa kalau jual di TPI umum nanti
dimarahin bos”

Dari hasil wawancara penelitian dengan informan di atas dapat

dianalisis karena kapal yang digunakan menangkap ikan milik juragan

nelayan, nelayan menjual ikannya ke Tempat Pelelangan Ikan bayangan milik

juragan nelayan tersebut agar nelayan tersebut tidak mendapat masalah

dengan juragan nelayannya tersebut. Kemudian ditambahkan oleh Nelayan

Panimbang (I5-6);

“Langganannya nanti tidak ada kalau di umum kan biasa di lelang


tempat bos, modal perahu segala macam kan punya bos susah
kalau jual TPI umum”

Dari hasil wawancara di atas dapat dianalisis bahwa alasan nelayan

tidak menjual ikannya di Tempat Pelelangan Ikan Panimbang adalah karena


144

permodal nelayan diberi oleh juragan nelayannya masing-masing sehingga

nelayan-nelayan tersebut menjual ikan hasil tangkapannya di Tempat

Pelelangan Ikanbayangan milik juragannya tersebut.

Kemudian ketika ditanya pernahkah mendapat pengarahan dari

pemerintah daerah. Kemudian dijawab oleh Jurgan Nelayan (I4-1);

“Kalau dari TPI sih dulu ada,kalau dari pemerintah tidak ada”

Menurut hasil wawancara penelitian di atas dapat dilihat bahwa jika

pengarahan dari pemerintah daerah terkait penjualan ikan di Tempat

Pelelangan Ikan resmi belum pernah dilakukan namun dari Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang sendiri pernah ada upaya memberikan

pengarahan kepada nelayan agar menjual ikanya ke Tempat Pelelangan Ikan

Panimbang. Kemudian pendapat lain muncul dengan pertanyaan yang sama

yaitu; pernahkah mendapat pengarahan dari pemerintah daerah. Dijelaskan

oleh Juragan Nelayan (I4-2);

“Ada dulu itu musyawarah pembayaran retribusi”

Kemudian ditambahkan oleh Juragan Nelayan (I4-3);

“Tidak ada, dulu saja ketika musyawarah retribusi saja sampai


sekarang tidak ada lagi. Kalau ada apa-apa ya liat dari berita saja”

Menurut dua hasil wawancara penelitian dengan informan penelitian di

atas dapat dianalisis bahwa belum ada pengarahan khusus dari pemerintah

daerah kepada nelayan terkait pengarahan penjualan ikan harus dilakukan di

Tempat Pelelangan Ikan yang resmi (Tempat Pelelangan Ikan Panimbang),

pengarahan yang pernah dilakukan adalah musyawarah besaran pembayaran


145

retribusi kepada nelayan yang tidak menjual ikannya di Tempat Pelelangan

Ikan saja.

Kemudian ketika ditanya apakah Tempat Pelelangan Ikan Panimbang

layak sebagai Tempat Pelelangan Ikan, kemudian dijelaskan oleh Nelayan

Panimbang (I5-1) seperti di bawah;

“Layak cuma sempit tempatnya tidak bisa kalau buru-buru ingin


bongkar ikan”

Dari hasil wawancara penelitian di atas dapat di analisis bahwa Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang layak dijadikan sebagai Tempat Pelelangan Ikan,

namun karena tempat pelelangan Panimbang memiliki lahan yang sempit

mengakibatkan aktivitas melelangkan ikan menjadi lamban, alasan inilah

yang mengakibatkan juragan nelayan yang memiliki modal besar membangun

Tempat Pelelangan Ikan sendiri. Kemudian ditambahkan oleh Nelayan

Panimbang (I5-3);

“Layak tapi sempit, paling perahu kecil, kalau perahu besar


masuk kasihan yang kecil tidak kebagian tempat”

Dari hasil wawancara di atas dapat di ketahu bahwa Tempat Pelelangan

Ikan Panimbang layak di gunakan sebagai Tempat Pelelangan Ikan, namun

karena luas Tempat Pelelangan Ikan yang sempit mengakibatkan tidak bisa

menyandarnya beberapa perahu besar, hal inilah yang mendorong munculnya

Tempat Pelelangan Ikan bayangan di Panimbang.

Dari hasil wawancara penelitian di atas dapat di ketahui bahwa Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang layak menjadi Tempat Pelelangan Ikan namun

Tempat Pelelangan Ikan Panimbang memiliki kelemahan dari segi


146

luasTempat Pelelangan Ikan, Tempat Pelelangan Ikan Panimbang sebelum di

bangun stasiun pengisian bahan bakar nelayan memiliki lahan yang cukup

luas, oleh karena tempat yang sempit ini Tempat Pelelangan Ikan menjadi

sepi dari kegiatan pelelangan ikan. Pertanyaan yang sama peneliti berikan

kepada nelayan yang lain, namun muncul jawaban berbeda dari hasil

wawancara penelitian seperti dibawah yang dikemukakan oleh Nelayan

Panimbang (I5-2);

“Layak, hanya bos tidak mau menjual ikan disitu takut


langganannya tidak mau, bos sudah punya tempat sendiri”

Dari hasil wawancara di atas dapat di ketahui bahawa Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang layak sebagai Tempat Pelelangan Ikan, namun

karena di Panimbang Tempat Pelelangan Ikan tidak hanya ada satu

mengakibatkan sebagian besar kegiatan pelelangan ikan berpindah, seperti

penyataan di atas dapat diketahui karena juragan nelayan memiliki tempat

pelelangan sendiri dengan alasan takut kehilangan pelanggan makan kegiatan

lelang ikan tidak dilakukan di Tempat Pelelangan Ikan Panimbang. Kemudian

ditambahkan oleh Nelayan Panimbang (I5-5);

“Layak-layak aja tapi tidak ada langganannya kalau di TPI


Panimbang”

Dari hasil wawancara di atas dapat di ketahui bahwa Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang layak digunakan sebagai Tempat Pelelangan

Ikan, namun karena takut kehilangan pelanggannya maka nelayan tidak

melelangkan hasil tangkapannya di Tempat Pelelangan Ikan

Panimbang.Kemudian ditambahkan oleh Nelayan Panimbang (I5-6);


147

“Layak hanya bos punya lelang sendiri, langganannya juga ada di


tempat bos di tempat pelelangan umum tidak ada langganannya”

Menurut hasil wawancara penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa

Tempat Pelelangan Ikan Panimbang layak dijadikan sebagai Tempat

Pelelangan Ikan, namun dikarenakan di Panimbang Tempat Pelelangan Ikan

tidak hanya ada satu ada juga tempat pelelangan nelayan lebih memilih

menjual ikan hasil tangkapannya di tempat juragan nelayan tempat nelayan

tersebut bekerja dengan alasan langgan ikan nelayan tersebut ada di Tempat

Pelelangan Ikan yang dimiliki oleh juragan nelayan tersebut.

Selanjutnya yang terakhir adalah penerapan sanksi, dalam penelitian ini

peneliti ingin mencari tahu sejauh mana penerapan sanksi dilakukan oleh

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang. peneliti mencoba

mewawancara juragan nelayan terkait sanksi. Peneliti menanyakan kepada

pemilik tempat pelelangan pernahkah mendapat teguran atau sanksi. Dari

pemerintah daerah terkait pembangunan TPI, dijawab oleh Juragan Nelayan

(I4-1);

“Tidak ada sih, sampai sekarang belum ada dari Dinas datang
kesini”

Dari hasil wawancara di atas dapat di ketahui bahwa upaya teguran atau

penerapan sanksi terkait munculnya Tempat Pelelangan Ikan bayangan belum

diupayakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang,

Tempat Pelelangan Ikanbayangan masih ada di wilayah Panimbang.

Kemudian ditambahkan oleh Juragan Nelayan (I4-2);

“Tidak ada belum pernah ada teguran dari pemerintah”


148

Dari hasil wawancara di atas dapat di ketahui bahwa upaya pemberian

teguran dan sanksi kepada tempat pelelangan bayangan belum pernah

dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang,

sehingga sampai saat ini Tempat Pelelangan Ikan bayangan masih bisa

dijumpai di wilayah Panimbang. Ditambahkan oleh Juragan Nelayan (I4-3);

“Belum pernah ada, aman-aman saja”

Dari hasil wawancara penelitian di atas dapat dianalisis bahwa belum

pernah ada teguran atau sanksi yang diberikan oleh pemerintah daerah

ataupun dai Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang kepada

tempat pelelangan bayangan yang ada di Panimbang yang dalam hal ini

merugikan pemerintah daerah dalam hal retribusi karena diselenggarakannya

pelelangan ikan di tempat yang tidak resmi ini pemerintah mengalami

kebocoran dalam pendapatan retribusi pelelangan ikan karena tidak sesuainya

besaran pembayaran retribusi Tempat Pelelangan Ikan.

Selanjutnya peneliti menanyakan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan

Kabupaten Pandeglang terkait pemeberian sanksi kepada tempat pelelangan

bayangan atau tempat pelelangan ilegal, kemudian dijawab oleh Kepala Dinas

Kelautan dan Perikanan (I1-1);

“Ya kalau ada TPI yang tidak resmi harus ditertibkan. Itukan
merugikan pemerintah daerah. Nanti yang menertibkan satpol pp
atas rekomendasi dari Dinas Kelautan”

Menurut hasil wawancara penelitian dengan informan penelitian di atas

dapat disimpulkan bahwa seharusnya tempat pelelangan ilegal yang ada di

wilayah Panimbang harus ditertibkan, yang data menertibkan adalah satuan


149

polisi pamong praja daeraha Kabupaten Pandeglang atas rekomendasi dari

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang. namun sampai saat ini

belum ada upaya penertiban yang dilakukan. Kemudian peneliti memberikan

pertanyaan serupa kepada UPT PPI/TPI Labuan, kemudian dijawab oleh

Kepala UPT PPI/TPI Labuan (I2-1);

“Kalau masalah sanksi sih tidak ada yang penting dia membayar
retribusi ke TPI, karna toh dia‟kan membangun di tanah sendiri
yang penting membayar retribusi. Dalam aturan sebetulnya tidak
boleh, karena pemerintah sudah menyediakan TPI kenapa dia
membangun sendiri harusnya pola pikirnya kesana mengapa
nelayan membangun sendiri pusing-pusing pemerintah sudah
menyediakan”

Dari hasil wawancara penelitian di atas dapat dianalisis bahwa menurut

informan penelitian di atas tidak ada sanksi yang diberikan kepada tempat

pelelangan ilegal yang ada di Panimbang dengan catatan tempat pelelangan

yang tidak resmi itu juga harus membayar retribusi pelelangan ikan

sebagaimana telah diatur. Kemudian peneliti menyakan kepada Tempat

Pelelangan Ikan Panimbang terkait pemberian sanksi, kemudian dijawab oleh

Manajer TPI Panimbang (I 3-1);

“Ada sebetulnya sanksinya tapi belum pernah dilaksanakan, yang


memberikan sanksi kan bukan saya tapi pemerintah”

Dari hasil wawancara penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa

seharusnya ada sanksi yang diberikan kepada Tempat Pelelangan Ikan

bayangan tapi dalam pelaksanaannya belum pernah ada tindakan dari

pemerintah daerah terkait munculnya tempat pelelangan ilegal tersebut,

dalam hal pemberian sanksi ini yang bisa memberikan sanksi adalah Dinas

Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang.


150

Dari hasil wawancara di atas dapat dilihat bahwa peran Dinas Kelautan

dan Perikanan Kabupaten Pandeglang dalam memberikan sanksi belum

pernah dilakukan menurut Dinas Kelautan dan Perikanan belum ada upaya

pelaporan yang dilakukan oleh Tempat Pelelangan Ikan Panimbang, namun

menurut pernyataan Tempat Pelelangan Ikan Panimbangsudah ada upaya

pelaporan yang dilakukan baik dari manajer terdahulu maupun dari manajer

yang sekarang. Sedangkan menurut UPT PPI/TPI Dinas Kelautan dan

Perikanan Labuan menyatakan bahwa tidak ada sanksi yang harus diberikan

kepada pemilik Tempat Pelelangan Ikan bayangan asalkan pemilik Tempat

Pelelangan Ikan membayar retribusi, sedangkan menurut aturan yang ada

harus ada sanksi yang diberikan kepada pelanggar terlebih lagi sebelumnya

sudah dijelaskan bahwa syarat utama membangun Tempat Pelelangan Ikan

haruslah di atas tanah negara serta yang membangun pemerintah daerah bukan

perorangan ataupun perusahaan.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, manajemen pengelolaan

Tempat Pelelangan Ikan Panimbang di Kabupaten Pandeglang belum

terlaksana dengan baik. Gambaran penelitian disajikan sebagai berikut:

Tabel 4.6

Temuan Lapangan
No Kriteria Pembahasan Temuan di lapangan
1. Planning Standar oprasional a. Tidak adanya SOP yang secara
(perencanaan) prosedur pengelolaan spesifik untuk mengelola TPI
pelelangan ikan b. Tidak adanya peraturan khusus
untuk pengelolaan Tempat
Pelelangan Ikan di Kabupaten
Pandeglang
2. Organizing Pemberian arahan dan a. adanya rapat evaluasi 1 (satu)
(pengorganisasian) penyediaan komponen bulan satu kali namun tidak
Tempat Pelelangan Ikan memberikan dampak yang
151

signifikan terhadap pengelolaan


Tempat Pelelangan Ikan
b. terjadinya pendangkalan muara
sungai Panimbang, serta tidak
adanya lampu mercusuar di
perairan Panimbang
c. tidak adanya anggaran khusus
yang diberikan oleh Dinas
Kelautan dan Perikanan kepada
Tempat Pelelangan Ikan
Panimbang.
3. Actuating Pencapaian target a. tidak terpenuhinya target
(pelaksanaan) retribusi Tempat retribusi Tempat Pelelangan Ikan
Pelelangan Ikan Panimbang karena terjadi
Panimbang ketidaksesuaian pembayaran
retribusi Tempat Pelelangan Ikan
dengan peraturan retribusi yang
ada karena adanya musyawarah
antara nelayan dan pihak Tempat
Pelelangan Ikan Panimbang
sehingga mengakibatkan
kebocoran dalam penerimaan
retribusi
b. munculnya tempat pelelangan
ilegal, yang mengakibatkan ikan
hasil tangkapan nelayan tidak di
jual ke Tempat Pelelangan Ikan
Panimbang.
4. Controlling Usaha pengendalian a. tidak ada upaya tindak lanjut
(pengendalian) yang dilakukan Dinas dari usaha kontrol yang
Kelautan dan Perikanan dilakukan
Kabupaten pandeglang b. adanya upaya pembiaran
dalam pengelolaan terkait munculnya Tempat
Tempat Pelelangan Ikan Pelelangan Ikan bayangan oleh
UPT PPI/TPI Labuan dan tidak
adanya sanksi yang diberikan
kepada Tempat Pelelangan
Ikan bayangan.
(sumber: peneliti 2015)
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan perumusan masalah penelitian, maka peneliti melakukan

penyimpulan terhadap hasil penelitian dan temuan di lapangan. Peneliti

menyimpulkan bahwa Manajemen Pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan

Panimbang Kabupaten Pandeglang masih belum berjalan dengan baik.

Pertama pada dimensi perencanaan, tidak adanya Standar Oprasional

Prosedur (SOP) yang matang untuk mengelola potensi tempat pelelangan

ikan sehingga kegiatan pelelangan ikan tidak efektiv baik dari tempat

pelelangan ikan Panimbang, UPT PPI/TPI Labuan dan Dinas Kelautan dan

Perikanan Kabupaten Pandeglang.

Kedua pada dimensi pengorganisasian belum berjalan dengan baik

karena kurangnya kerja sama antara tempat pelelangan ikan Panimbang, UPT

PPI/TPI Labuan dan Dinas Kelautan dan Perikanan dalam menangani dan

mengelola tempat pelelangan ikan panimbang dimana kerja sama yang

mereka lakukan hanya pada sebatas wacana saja tetapi tidak terjadi dalam

pelaksanaannya dan tidak adanya perbaikan yang berarti terhadap kondisi

lingkungan serta sarana prasarana di tempat pelelangan ikan Panimbang.

152
153

Ketiga dimensi pelaksanaan belum berjalan dengan optimal. Tempat

pelelangan ikan Panimbang masih belum optimal dalam memperbaiki serta

mengelola tempat pelelangan ikan Panimbang menjadi ramai seperti

sebelumnya dan dalam pelaksanaanya tempat pelelangan ikan Panimbang

belum bisa memenuhi target penerimaan retribusi yang telah diberikan oleh

pemerintah Daerah, tempat pelelangan ikan Panimbang dalam hal

pemungatan retribusi masih jauh dari target yang telah diberikan sebelumnya

oleh pemerintah Daerah karena tidak sesuainya pembayaran retribusi dengan

apa yang ada dalam Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang tentang

Retribusi Jasa Usaha No. 11 tahun 2011 dan karena di panimbang ada

tempat pelelangan ikan yang tidak resmi.

Keempat untuk dimensi pengendalian/pengawasan belum berjalan

dengan baik, lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah

membuat tempat pelelangan ikan Panimbang semakin terbengkalai

dikarenakan, tidak ada upaya untuk memperbaiki ketidaksesuaian

pembayaran retribusi nelayan Panimbang kepada tempat pelelangan ikan

Panimbang dengan Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang No. 11 tahun

2011 tentang Retribusi Jasa Usaha yang mengakibatkan kebocoran

penerimaan retribusi untuk Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang,

kemudian tidak adanya upaya Pemerintah Daerah untuk menindak tegas dan

menertibkan tempat pelelangan ikan bayangan (ilegal) yang ada di daerah

Panimbang.
154

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian diatas maka

peneliti memberikan beberapa saran yang dapat dijadikan masukan bagi

pihak-pihak yang terlibat dalam manajemen pengelolaan Tempat Pelelangan

Ikan Panimbang Kabupaten Pandeglang, yaitu:

1. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang, UPT PPI/TPI

Labuan dan tempat pelelangan ikan Panimbang harus membuat Standar

Oprasional Prosedur (SOP) yang baik untuk mengelola tempat pelelangan

ikan Panimbang agar target retrbusi yang telah dibuat dapat terpenuhi.

2. Perlu upaya peningkatan kordinasi antara Tempat pelelangan ikan

Panimbang, UPT PPI/TPI Labuan dan Dinas Kelautan dan Perikanan

Kabupaten Pandeglang untuk melakukan pengelolaan tempat pelelangan

ikan, serta perbaikan sarana prasarana tempat pelelangan ikan dan sarana

penunjang aktivitas nelayan untuk memperlancar kegiatan pelelangan ikan

dan kegiatan kenelayanan.

3. Untuk lebih meningkatkan kegiatan pelelangan ikan, tempat pelelangan

ikan Panimbang harus bekerja sama dengan jajaranya dan instansi terkait

seperti Satpol PP dan Ditpolair untuk menutup tempat pelelangan ikan

ilegal serta melakukan sosialisasi dan pendekatan terhadap juragan dan

nelayan agar menjual ikan di tempat pelelangan ikan Panimbang kembali

guna mencapai target retribusi yang sudah diberikan;

4. Harus ada upaya tegas pemberian sanksi dari Dinas Perikanan dan

Kelautan Kabupaten Pandeglang serta jajaranya kepada juragan nelayan


155

yang membangun tempat pelelangan ikan bayangan (ilegal) untuk

meminimalisir kebocoran penerimaan pendapatan asli daerah dari sektor

retribusi jasa usaha tempat pelelangan ikan


DAFTAR PUSTAKA

Amirullah dan Budiyono, Haris. 2004. Pengantar Manajemen. Yogyakarta: Graha


Ilmu.
Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Bungin, Burhan. 2007. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali
Press.
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten. 2012. Profil Keberhasilan Sektor
Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten. Banten: Dinas Kelautan dan
Perikanan Provinsi Banten.
Garna K. Judistira. 2009. Metoda Penelitian Kualitatif. Bandung: The Judistira
Garna Foundation dan Primako Akademika.
Handoko, T. Hani. 2003. Manajemen. Yogyakarta: BPFE.
Hasibuan, H. Malayu S.P 2001. Manajemen: Dasar, Pengertian, dan Masalah.
Jakarta: Bumi Aksara.
____________________. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta:Bumi
Aksara.
Imron, Masyuri. 2003. Pemberdayaan Masyarakat Nelayan. Yogyakarta: Media
Pressindo.
Irawan, Prasetya. 2006. Metodelogi Penelitian Administrasi. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Moleong, Lexy.J. 2006. Metode penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Mulyadi. 2005. Ekonomi Kelautan. RajaGrafindo Persada: Jakarta.
Prastowo, Andi. 2011. Metode Penelitian kualitatif Dalam Prespektif Rancangan
Penelitian. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Grup.
Siagian, Sondang. 2007. Fungsi-fungsi Manajerial. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Silalahi, Ulber. 2009. Metode Penelitian Sosial. Bandung: PT. Refika Aditama.
Siswanto, H.B. 2005. Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.
Sugiyono. 2009. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Terry, Goerge. R. 2008. Prinsip-prinsip Manajemen. PT. Bumi Aksara: Jakarta.
Dokumen
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 Tentang Pembentukan Provinsi Banten.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan
Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang perikanan.
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Per. 16/MEN/2006 Tentang
Pelabuhan Perikanan.
Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 11 Tahun 2011 Tentang
Retribusi Jasa Usaha.
Peraturan Bupati Pandeglang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Pembentukan Unit
Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Daerah Kabupaten Pandeglang.
Laporan Penerimaan dan Penyetoran Pungutan TPI Panimbang 2014.
Laporan Penerimaan dan Penyetoran Pungutan TPI Panimbang 2015.

Sumber lainnya
Mariyam lesens. 2014. Menurut Para Ahli.
http://ado1esen.blogspot.com/2014/02/menurut-para-ahli.html. diakses pada
tanggal 21 November 2014 pukul 20:09
Wikipedia bahasa Indonesia. 2013. Nelayan. http://id.wikipedia.org/wiki/Nelayan.
diakses pada tanggal 21 November 2014 pukul 21.18 WIB
Wikipedia bahasa Indonesia. 2009. Definisi Pengelolaan.
http://id.wikipedia.org/wiki/Pengelolaan. diakses pada tanggal 21 November
2014 pukul 20:20 WIB
Wikipedia bahasa Indonesia. 2014. Tempat Pelelangan Ikan.
http://id.wikipedia.org/wiki/Tempat_Pelelangan_Ikan diakses pada tanggal
21 November 2014 pukul 20:30 WIB
Resti, Fifi Dewi. 2012. Pengukuran Kinerja Pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan
di PPI Muara Angke. http://repository.ipb.ac.id diakses pada tanggal 10
Agustus 2014 pukul 02:15 WIB
Hertanto, Sandi., Kushandajani Nur Astuti, Puji. 2013. Peran Pemerintah Daerah
Dalam Pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan.
http://id.portalgaruda.org/?ref=browse&mod=viewarticle&article=72859.
diakses pada tanggal 18 Agustus 2014 pukul pukul 14:50 WIB
PEDOMAN WAWANCARA

1. Pertanyaan untuk kepala dinas kelautan dan perikanan Kabupaten Pandeglang

Planning (perencanaan)

1. Apa rencana yang dibuat untuk mengelola TPI?

2. Adakah peraturan khusus yang mengatur Pengelolaan TPI?

3. Apa yang diperlukan untuk mengelola TPI?

4. Berapa lama waktu pelaksanaan program?

5. Siapa yang melaksanakan?

6. Bagaimana pelaskanaan program?

7. Apa kendala yang dihadapi?

8. Siapa yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program?

Organizing (pengorganisasian)

1. Bagaiamana cara mengorganisasikan TPI?

2. Komponen apa saja yang dibutuhkan?

3. Apa komponen penting dalampengeloaan TPI?

4. Siapa yang menyediakan komponen tersebut?

5. Adakah angaran yang diberikan untuk mengorganisasikan TPI?

6. Darimana sumber angaran tersebut?


Actuating (pengarahan)

1. Adakah pengarah khusus untuk mengelola TPI?

2. Adakah target yang diberikan untuk TPI?

3. Berapa lama pencapai target tersebut harus tercapai?

4. Siapa yang melaksanakan?

Controlling (pengawasan)

1. Apa yang sudah dilakukan untuk mengontrol TPI?

2. Adakah pengendalian terkait munculnya TPI-TPI baru?

3. Apakah ada izin yang diberikan untuk pembangunan TPI?

7. Apa sanksi yang diberikan kepada pelanggar

2. Pertanyaan untuk kepala UPT pangkalan pendaratan dan pelelangan ikan

Kecamatan Labuan

Planning (perencanaan)

1. Apa rencana yang dibuat untuk mengelola TPI?

2. Adakah peraturan khusus yang mengatur Pengelolaan TPI?

3. Apa yang diperlukan untuk mengelola TPI?

4. Berapa lama waktu pelaksanaan program? Bagaimana pelaskanaan

program?

5. Apa kendala yang dihadapi?

6. Siapa yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program?


Organizing (pengorganisasian)

1. Bagaiamana cara mengorganisasikan TPI?

2. Komponen apa saja yang dibutuhkan?

3. Apa komponen penting dalam pengeloaan TPI?

4. Siapa yang menyediakan komponen tersebut?

5. Adakah angaran yang diberikan untuk mengorganisasikan TPI?

6. Darimana sumber angaran tersebut?

Actuating (pengarahan)

1. Adakah pengarah khusus untuk mengelola TPI?

2. Adakah target yang diberikan untuk TPI?

3. Berapa lama pencapai target tersebut harus tercapai?

4. Siapa yang melaksanakan?

Controlling (pengawasan)

1. Apa yang sudah dilakukan untuk mengontrol TPI?

2. Adakah pengendalian terkait munculnya TPI-TPI baru?

3. Apakah ada izin yang diberikan untuk pembangunan TPI?

4. Apa sanksi yang diberikan kepada pelanggar?


3. Pertanyaan untuk manajer tempat pelelangan ikan panimbang

Planning(perencanaan)

1. Apa rencana yang dibuat untuk mengelola TPI?

2. Adakah peraturan khusus yang mengatur Pengelolaan TPI?

3. Apa yang diperlukan untuk mengelola TPI?

4. Berapa lama waktu pelaksanaan program?

5. Bagaimana pelaskanaan program?

6. Apa kendala yang dihadapi?

7. Siapa yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program?

Organizing (pengorganisasian)

1. Komponen apa saja yang dibutuhkan untuk mengelola TPI?

2. Apa komponen penting dalam pengeloaan TPI?

3. Siapa yang menyediakan komponen tersebut?

4. Adakah angaran yang diberikan untuk mengorganisasikan TPI?

5. Darimana sumber angaran tersebut?

Actuating (pengarahan)

1. Adakah pengarah khusus untuk mengelola TPI?

2. Adakah target yang diberikan untuk TPI?

3. Berapa lama pencapai target tersebut harus tercapai?


Controlling (pengawasan)

1. Apa yang sudah dilakukan untuk mengontrol TPI?

2. Adakah pengendalian terkait munculnya TPI-TPI baru?

3. Apakah ada izin yang diberikan untuk pembangunan TPI?

4. Apa sanksi yang diberikan kepada pelanggar?

5. Pertanyaan untuk juragan nelayan

1. Kenapa membangun TPI/PPI disisni?

2. Apa TPI/PPI ini memiliki izin?

3. Siapa yang memberikan izin?

4. Kenapa tidak menjual ikan TPI yang sudah dibangun pemerintah?

5. Apakah pembayara retribusi sesuai dengan peraturan?

6. Berapa besaranya?

7. Pernahkah ada pengarahan dari pemerintah?

8. Pernahkah mendapat teguran atau sanksi dari pemerintah?

5. Pertanyaan untuk nelayan panimbang (nelayan buruh dan perorangan)

1. Dimana anda menjual ikan?

2. Apakah anda tahu TPI disisni (TPI tidak resmi) memiliki izin dari

pemerintah?

3. Kenapa tidak menjual ikan TPI yang sudah dibangun pemerintah?

4. Apakah ada kendala untuk menjual ikan di TPI resmi?

5. Tahukan anda harus membayar retribusi?


6. Menurut anda layak tidak TPI resmi untuk jual beli ikan?Apakah

pembayara retribusi sesuai dengan peraturan?

7. Pernahkah ada pengarahan dari pemerintah?

8. Pernahkah mendapat teguran atau sanksi dari pemerintah?


DOKUMENTASI FOTO PENELITIAN

Wawancara dengan manajer TPI Panimbang

Wawancara dengan tata usaha TPI Panimbang


Wawancara dengan kapala UPT PPI/TPI Labuan

Wawancara dengan Kepala Dinas kelautan dan Perikanan


Kondisi tempat pelelangan ikan panimbang pada siang hari

Kondisi tempat pelelangan ikan panimbang pada siang hari


Kondisi tempat pelelangan ikan panimbang pada siang hari

Tembok pengubah air laut di TPI Panimbang


Kondisi muara sungai Panimbang

Kondisi muara sungai Panimbang


Proses penarikan kapal nelayan karena pendangkalan muara
Panimbang

Kondisi tempat pelelangan ikan Panimbang malam hari


Proses packing ikan di tempat pelelangan ikan ilegal

Proses bongkar ikan di tempat pelelangan ikan ilegal


Proses menimbang ikan di tempat pelelangan ikan ilegal

Transaksi pelelangan ikan di tempat pelelangan ilegal


MATRIX WAWANCARA

Q Pertanyaan dan Jawaban Koding


I jawaban
Q Apa rencana yang dibuat untuk mengelola TPI?
I1-1 Untuk mengelolanya memanfaatkan potensi SDM 1
yang ada melalui seleksi pegawai baik tenaga kerja
sukarela maupun PNS. Nah kemudia di testing
diangkat, di SK kan oleh Kepala dinas kemudian
dikukuhkan oleh Bupati Pandeglang
12-1 Rencana mengelola tempat pelelangan ikan adalah 2
menyiapkan sumber daya manusia (manajer dan staf)
melalui penyeleksian yang kemudian di SK kan oleh
kepala dinas kelautan dan perikanan
Q Adakah peraturan khusus yang mengatur Pengelolaan
TPI?
I1-1 Ada, diatur oleh pemda nomor 12 tahun 2011 tentang 3
pendapatan asli daeah, tentang PAD. Retribusi
dipungut 4% dari nelayan kemudian 2% untuk
pengelola
12-1 Perda no 12 tahun 2001 pemerintah daerah tentang 4
pemungutan retribusi. Ngga ngga Perda tahun 2011
tentang retribusi 4% untuk di setor ke kas daerah
sebesar 4%, kalau diluar itu ada kesepakatan bersama
antar nelayan dan bakul ikan yang kemudian dibuat
berita acara.
Q Kalau peraturan yang secara spesifik tentang
pelelangan ikan ada nga pak?
I1-1 Ada di perturan mentri, semua ikan harus dijual di 5
tempat pelelangan ikan yang di bangun sama
pemerintah. TPI kan harus dibangun di tanah negara
dan dibangun oleh pemerintah
I2-1 Ada misalkankan gini misalkan kan ikan aturanya 6
harus dilelalang kan di tpi aturan kan semua ikan harus
dilelang di TPI, aturanya ada di peraturan mentri,
nelayan tidak boleh di ikanya di jual di tengah laut
kan kadang kadang yang namanya di daerah kadang
kadang suka ada yang di plele itu, sebetulya tidak
boleh itu kan harus di lelang di TPI tidak boleh jual
ikan di laut, kenapa karena pemerintah sudah
membangun TPI itu kan di gedung itu kan disitu.
Pemerintah membangunkan untuk memudahkan.
Q Apa yang diperlukan untuk mengelola TPI?
I1-1 Misalnya ketrampilannya ya ada keberanian, ada 7
semacam begini, ada semacam wawasan tentang
pengetahuan kenelayanan, kan profesi yah. Tentang
kenelayanan kemudian tentang pengetahuan tentang
jenis ikan, kan inikan berkaitan dengan jenis ikan yang
dijual, di lelang, jadi itu harus tau mana yang mahal,
mana yang murah
I2-1 Yang diperlukan untuk mengelola tpi itu misalkan 8
karcis lelang (resi itukan), surat jalan misalkan yang
dimaksudkan ikan yang sudah dilelang kan ini mau
berangkat kejakarta pake surat jalan misalkan mau
berangkat ke jakarta berapa blong ikan apa?. Nanti
ada petugas yang di sidamukti ada petugas
pemeriksaan hasil laut, nanti yang lewat dishub itu ada
di pinngir jalan di depan onderdil. Sarana prasana lain
itu blong, trais (wadah ikan), terus apatuh blong udah
yah? terus timbangan, terus fizer kalau ga ada frizer es
itukan terus apatuh yang kuning-kuning (cool box)
udah seperti itu ya sama kendaraan.
Apakah ada program-program yang direncanakan
Q untuk masing-masing TPI?
I1-1 Programnya dari dkp sendiri itu membuat 14 TPI di 9
Kabuupaten Pandeglang, memberikan/membagi target
retribusi ke masing-masing TPI yang ada di Kabupaten
Pandeglang. target retribusinya ditentukan oleh
pemerinta daerah.
I2-1 Kalau sifatnya yang dari UPT program mah gak ada 10
kan, programnya dari dinas kelautan. Kalau dari UPT
Cuma sesuai dengan tupoksi upt mengevaluasi takut
ada terjadinya monopoli harga, terus monitoring,
pembinaan ke nelayan. Kalau program ada sih yang
nentuin dinas (masing-masing bidang sih) kalau TPI
kan bidangnya bidang perairan tangkap. misalnya
programnya sih misalkan pengadaan gedung,
pembangunan gedung, terus program hibah apatuh
hibang jaring, motor, perahu motor, blong. Insyaalah
sih tahun ini ada program motor yang 3 gt. Jaring juga
yang ramah lingkungan.
Q Berapa lama waktu pelaksanaan program?

I1-1 Targetnya harus tercapai setahun, penyetoran dalam 11


peraturan harusnya 1x 24 jam karena ada yang jauh
jadi sekarang di setorkanya seminggu sekali
I2-1 Target itukan setahun, yang nentuinn pemerintah 12
daerah
Q Siapa yang melaksanakan?

I1-1 Ya masing-massing TPI, masing-masing manajer 13


bertanggung jawab atas target retribusi yang sudah di
bebankan
I2-1 Yang melaksanakan manajer masing-masing TPI kan 14
sebelumnya apanamanya sebelum diangkat jadi
manajer ditanya dulu kan? Sanggup tidak mencapai
retribusi yang udah dikasihkan.
Q6 Bagaimana pelaksanaan program?

I1-1 Sementara ini sih masih belum tercapai, ada saja TPI 15
yang tidak mencapai targetnya
I2-1 Ya gimana ya? Rada (agak) susah sih, ada aja yang 16
macet mah
Q Apa kendala yang dihadapi?

I1-1 Kendala utamanya cuaca (musim hujan) 17


I2-1 kendalanya sementara ini kan yang namanya musim 18
kan cuaca, gabisa di prediksikan ya model gini aja
November desember ga ada kegiatan,musim barat. B
biasanya kerja tpi itu ngga 12 bulan dan ngga 30 hari
kerjaya 10 bulan yang dua bulan kena musim kadang-
kadang 7 bulan, terus kerja bulan itu dipotong terang
bulan, kalau terang bulan itukan gabisa paling minimal
itu 20 hari karena terbentur terang bulan.
Q Siapa yang bertanggung jawab atas pelaksanaan
program?
I1-1 Kalau retribusi sih manajer sama TPInya. Kalau 19
keseluruhan saya yang bertanggung jawab
I2-1 Kalau dilapangan Itukan manajer, itu tnggung jawaba 20
manajer setiap satu bulan sekalli melaporrkan hasil
produksi raman itukan ke upt terus upt ke dinas.
Q Bagaimana cara mengorganisasikan TPI?
I1-1 Ada setiap satu bulan sekali diadakan rapat evaluasi, 21
pemberdayaan target dan strategi ke manajer
I2-1 Kalau pembagian kerja itu terus setiap hari. Ada juga 22
rapat setiap satu bulan sekali, tiga bulan sekali
Q Komponen apa saja yang dibutuhkan?
I1-1 Komponennya ya pegawai sama bangunan tempat 23
pelelangan ikan serta sarana kelautan seperti dermaga
I2-1 Manajer sama staf, terus itu gedung TPI, sama 24
apanamanya (dermaga)
Q Apa komponen terpenting dalam pelangan ikan?
I1-1 Sarana prasarana laut (dermaga) 25
I2-1 Komponen paling pneting itu paling penting itukan 26
komponen paling penting PAD, karena pemerintah ini
darimana kan sedangkan dinas kelautan itu dinas
kelautan itu penghasi, karena selama ni kan kepala
dinass di tuntut sama bapak bupati. Itu juga dermaga.
Q Siapa yang menyediakan komponen tersebut?
I1-1 Penyedia komponen ya dinas kelautan dan pemerintah 27
daerah. Untuk sementara ini memang dermaga belum
bisa dibangun karena anggaran yang belum ada, tapi
pengajuan pengajuan ke instansi lainya yang terkait
sudah di upayakan. Cuma belum bisa terealisasikan
karena anggaran yang belum ada.
I2-1 Jadi gini yang masalah muara itukan memang dinas 28
kelautan udah beberapa kali mengajukan ke dinas
kelautan pusat sementara ini itukan mungkin gimana
yah kewenangan itukan dari dinas PU sumber daya air,
jadi harus apatuh harus gotong royong anatara dinas
kelautan dan sumberdaya air itukan, jadi pendanaanya
itu belum ada tuh. Pengajuan mah udah beberapa kali
tapi harus keroyokan, jadi dana itu harus keroyokan
dari dinas kelautan sama sumber daya air kalau
sendirikan satu SKPD ngga mungkin karna APBD kan
kecil. Emang pak kepala dinas sudah mengajukan
bebarapa kali tapi belum terealisasi. Emang itu sih
yang jadi keluhan nelayan panimbang
Q Adakah anggaran yang diberikan untuk
mengornaisasikan TPI?
I1-1 Anggaran langsung tidak ada untuk TPI, TPI mencari 29
sendiri anggaran tersebut caranya dengan memungut
retribusi dari proses pelelangan, TPI berhak memungut
retribusi sebesar 6% (4% untuk pemerintah daerah, 2%
untuk biaya oprasional TPI).
I2-1 Ngga ada. Cuman ada bantuan hibah aja itukan, tapi 30
sifatnya bukan ke TPI hibahnya diberikan ke
kelompok nelayan, tapi kelompok nelyan yang
menjual ke TPI itukan, mekanismenya kelompok
nelyan harus bikin proposal. Kalau TPI itukan
mengambil dari retribusi 2% untuk biaya
oprasionalnya.
Q Adakah pengarahan khusu untuk mengelola TPI
I1-1 Pengarahan diberikan 1 bulan sekali, seperti rapat 31
evaluasi, pemberdayaan target dan strategi.
I2-1 Pengrah yang 3 bulan, yang setiap 1 minggu sekali 32
seperti yng bapak katakana, kitakan langsung
kelapangan, upt kan punya jadwal dari senin sampai
jumat keliling ke TPI-TPI, orang upt sibuk kalau ada
kegiatan di TPI.
Q Adakah target yang diberikan untuk TPI?
I1-1 Ada, masing-masing TPI memiliki target masing- 33
masing dalam pemungutan retribusi, TPi diberikan
target berdeda-beda, dibagi-bagi menurut keadaan
alam sama jumlah armada kelautanya, untuk TPI
Panimbang sebesar 115 juta kurang lebih.
I2-1 Ada ada, itukan TPI harus mengumpulkan retribusi 34
yang udah dikasih sama Dinas Kelautan. Beda beda
jumlahnya sesuai sama jumlah nelayan sama perahu.
Itukan ngga mungkin kalau TPI yang sedikit jumlah
nelayanya dikasih target yang besar.
Q Berapa lama pencapaian target?
I1-1 Satu tahun dek. Satu tahun harus tercapai itu target 35
retribusi, kalau ngga tercapai ya jadi hutang untuk TPI
tersebut.
I2-1 Target itukan satu tahun. Harus tercapai itukan kalau 36
ngga nanti kena sanksi hutang TPI itukan, TPI punya
hutang ditambah bungan 2% itukan.
Q Siapa yang melaksanakan?
I1-1 Masing-masing TPI. Ada 14 TPI yang harus 37
memungut retribusi, kan sudah dibentuk 14 TPI
sekabupaten pandeglang
I2-1 Manajer yang melaksanakan sama bertanggung jawab. 38
Q Apa yang sudah dilakukan untuk mengontrol TPI?
I1-1 Ada kunjungan kerja dari dinas kelautan, bapak suka 39
keliling ke TPI-TPI.
I2-1 Untuk mengontrol TPI dari karcis lelang karcis 40
lelangkan ada bonggolnya. Itu harus di hitung Berapa
habisnya berapa yang dilaporkan dan jumlah lelang
dan jumlah raman, nanti karcis lelang disamakan
dengan raman jadi itu kontrolnya, jadi karcis lelang
ada tiga, satu untuk juragan, satu untuk bakul, satu
untuk TPI. Kalau ga salah kuning, putih, merah kalau
gasalah itu. Fungsi kontrolnya dari situ, terus si
bonggolnya harus dilaporkan ke pandeglang.
Misalnkan bulan ini habis berapa, berapa buku, nanti
disesuaikan dengan laporan bulanan ada kesusaian
atau tidak.
Q Adakah pengendalian terkait munculnya TPI-TPI
baru?
I1-1 Selama ini belum ada laporan yang masuk dari 41
manajer ataupun UPT.
I2-1 Selama ini belum ada, laporanya belum ada dari 42
manajer, seharusnya manajer melaporkan melaporkan
ke dinas.
Q Adakah izin yang diberikan?
I1-1 Sarat di dirikanya TPI adalah dibangun di tanah 43
negara, dan dibangun oleh pemerintah selain itu tidak
aja izin untuk mendirikan TPI apalagi di tanah milik
pribadi.
I2-1 Tidak ada, ngga ada yang memebrikan izin. Tidak 44
boleh membangun tanpa izin dari dinas. TPI kan harus
itukan harus dibangun di tanah negara dan dibangun
sama pemerintah
Q Apa sanksi yang diberikan untu TPI-TPi tidak resmi?
I1-1 Ya kalau ada TPI yang tidak resmi harus ditertibkan. 45
Itukan merugikan pemerintah daerah. Nanti yang
menertibkan satpol pp atas rekomendasi dari dinas
kelautan
I2 Kalau masalah sanksi sih tidak ada yang pnting dia 46
memebayar retribusi ke TPI, karna toh diakan itukan
membangun di tanah sendiri yang penting si itukan
membayar retribusi. Dalam aturan kan si tidak boleh
sih, kenapa pemerintah menyidiakan TPI kenapa dia
membangun sendiri harusnya sih pola pikirnya kesana
ngapain dia ngebangun sendiri pusing-pusing
pemerintah sudah menyediakan.
Q Apa rencana yang dibuat untuk mengelola TPI 47
I3-1 Ada ada, rencana kita ini ingin, ingin TPI panimbang 48
hidup seperti dulu saat saya menjadi karyawan (juru
lelang). Dulu saat saya jadi juru lelang TPI disini rame
terus, saya melelangkan ikan dari jam 9 malam sampe
jam 9 pagi itu ngga berhenit, ya sekarang mah
kondisinya kayak gini sepi, paling perahu kecil aja itu
juga hanya beberapa.
I3-2 Rencana manejer sih pengen mengembalikan funggsi 49
TPI kaya dulu lagi aktivitas pelelangan ikan di
panimbang itu semuanya dilakukan disini, kalau dari
dinas mah sih tidak ada rencana yang diberikan untuk
TPI disini, kalau target ada.
Q Adakah peraturan khusus yang mengatur pengelolaan
pelelangan ikan?
I3-1 Ada kalau retribusi kan di atur dulu sama perda tahun 50
2008, terus sekarang ada selentingan nada sumbang
dari mentri retribusi untuk kapal 10 gt kebawah bebas
dari retribusi, jadi karyawan saya kalau mungut
retribusi banyak yang nolak padahal hanya
selentingan.
I3-2 Peraturan mah peraturan retribusi aja paling dek, perda 51
tentang retribusi yang khusus mengatur atau
menegelola tempat pelelangan ikan mah tidak ada.
Q Berapa lama waktu pelaksanaan program?
I3-1 Target saya 3 bulan sampai 6 bulan 52
I3-2 Ya pengenya sih secepatnya kurang dari 6 bulan lah, 53
tapi udah setaun belum kesampaian aja
Q Apa kendala yang dihadapi?
I3-1 Kita berbenturan aja masalah retribusi dengan nelayan 54
sama bakul lah, itu tidak jual di tpi mereka itu bikin
tempat sendiri, itu yang jadi pemikiran saya bagaimana
kita sebagai manajer dan seharusnya memang semua
harus kita pikirkan, kalau manajer aja ngga kuat, kalau
semuanya ya mungkin bisa. Terutama ya saya minta
perizinan, perizinanya kalau di atur dulu jangan
senaknya, padahal saya kurang gimana? beh padahal
manajer kerja terus. Terus kalau musim gini ya ombak
makanya saya minta cepat dibikin dam di muara.
Masrakatnya kurang sadar juga, masalahnya tadinya
dibiarkan beli dilaut dibiarkan yang penting masuk
retribusi aja, ternyata lama kelamaan jadi terus
generasinya sudah tidak ada sedangkan generasi yang
baru tidak tau peraturan tpi itu gimana. Padahal
panimbang beh potensinya besar saya dulu pas jadi
juru lelang saya melelangkan ikan dari jam 9 malam
sampai jam 9 pagi. Terus lahanya jugga sempit
terutama pas ada bangunan-bangunan pom sama
tembok air buat ngubah air laut supaya bisa diminum
langsung tapi orang panimbang ngga mau, ya dari
pertama dibangun sampai sekarang belum pernah
berfungsi tembok itu dulukan tidak ada, harunya di
perlebar biar perahu bisa menyandar 3, 4 gitu
sekarang malah jadi sempit.
I3-2 Kendalanya nelayan tidak mau menjualkan ikanya 55
disini, pada bikin pelelangan ikan masing-masing,
terus kendala cuaca yang ngga tentu namanya juga
alam. Yang paling penting mah muara sih dek, dangkal
muaranya disini mah jadi susah nelayan mau
ngelautnya juga perahunya harus ditarik sama perahu
yang lain yang lebih kecil buat berangkat atau
pulangnya juga.
Q Siapa yang bertangggung jawab atas pelaksanaan
program?
I3-1 Manajer kalau dibagian wilayah ini, yak lo semuanya 56
kepala dinas
I3-2 Kepala dinas untuk keseluruhan mah, kalau di TPI sini 57
ya manajer yang tanggung jawab.
Q Komponen apa saja yang dibutuhkan?
I3-1 Muara komponen utamanya keluar masuk, kapal saya 58
sendiri tenggelam ngga kena, kemaren aja ada yang
kena benturan kayu baling-balingnya potong. Nelayan
mau bayar retribusi ke tpi kalo muaranya di perbaiki
nelayan sini mintanya begitu. Ya komponen penting
pendanaan, nelayan pengen uang cash itu yang jadi
kendalakan tapi tpi ngga punya simpenan.
I3-2 Pegawai, banguanan TPI yang layak (luas), sarana 59
penghubung jalur nelayan seperti muara sama lampu
mercusuar.
Q Tapikan tpi cuma sebagai penyedia jasa aja pak,
aktivitas jual beli ikan kan antara nelayan sama bakul?
I3-1 Betul, tapi itukan istilahnya kalau yang membeli 60
langsung, nah tapi kalau yang dilelang ke kita ke tpi
kan maunya ditalangin sama TPI, sementara bakul itu
tidak langsung membayar langsung semua saat itu
juga, kita mau nalangin uang dari mana.
Q Siapa yang menyediakan komponen itu?
I3-1 Ya pemerintah daerah, ngga mungkin kan kalau tpi 61
yang membangun muara yag dangkal.
I3-2 Pemerintah yang menyediakan harusnya kita mah 62
hanya mengajukan aja, tapi gimana gini-gini aja
TPInya, udah berapa kali kita ngajuin pengerukan
muara tapi sampai sekarang belum dilaksanakan aja.
Q Adakah anggaran yang diberikan untuk TPI?
I3-1 Kita tidak ada, kita hanya dari 2% retribusi 63
I3-2 Tidak ada, anggaran buat biaya oprasional mah dari 64
retribusi, 4% buat pemerintah 2% untuk TPI
Q Adakah pengarahan khusus untu pengelolaan TPI?
I3-1 Ada, paling itu juga satu buan sekali, kadang-kadang 2 65
bulan sekali ke upt rapat gitu.
I3-2 Pengarahan ada, sering ada ravat evaluasi sama 66
kunjungan kesini ya tapi gitu gada perubahan gini-gini
aja.
Q Adakah target yang diberikan untuk tpi?
I3-1 Ada 120 juta 67
I3-2 Target mah tinggi 120 juta tapi kondisinya gini ya 68
susah, tapi lelang jalan mah jangankan 120 juta lebih
sanggup kalau semua aktivitas lelang disini mah.
Q Berapa lama target tesebut harus tercapai?
I3-1 Satu tahun, ya tapi gimana alam kan kitakan banyak 69
ombak aja untuk bulan bulan ini mah?
I3-2 Satu tahu targetnya harus terpenuhi tapi gimana 70
keadaan disini kayak gini pelelanganya ngga hanya
satu, ada pelelangan bayangan juga. Sama retribusinya
ngga sesuai sama di perda juragan nelayannya ngga
mau bayar retribusi sesuai sama yang diperda,
alasanya banyak macem-macem. Ada yang bilang
perahu-perahu saya yang modalin saya ngapain saya
bayar retribusi, pernah kita ngobrol bareng (pihak TPI
dengan nelayan) rapat disini ngebahas kesepakatan
retribusi hasil musyawarah itu sebenarnya 250 ribu per
trip, pada saaat itu kespakatan pemberangkatan itu per
trip 7 hari maksimal 10 hari, cuma disitu ada tatangan
buat pemerintah kalau ada lampu mercusuar mau si
nelayan membayar 250 pertrip kalau tidak ada maka
150 ribu. Ya sampai sekarang ini.
Q Ada yang sudah dilakukan untuk mengontrol tpi?
I3-1 Sering ada dari upt kesini mengontrol dari dinas juga 71
suka ada kesini. Kalau saya sendiri sudah sering
mengajak yang melelangkan ikan di tpi yang lain yuk
kita jual di tpi tapi pada ngomong aman ngga, modal-
modal sendiri terus saya mau kejam-kejam udah bukan
zamanya.
I3-2 Ada dari dinas sama upt kunjungan keisini, liat ko 72
orang dinas juga kalau ada pelelangan bayangan.
Pelelangan bayanganya juga kelitan jelas ini disebelah
kan ada pelelangan bayangan keliatan dari sisni juga
masa ngga lebih dari 50 meter dari sini ngga keliatan.
Q Adakah pengendalian terkait munculnya tpi-tpi baru?
I3-1 Belum ada, saya sudah sering memberi himbauan 73
kalau bisa di tpi semua, sudah saya ajak ayo di tpi mau
apa mau gimana (wah ngga bisa saya sudah enak disini
gitu bilangnya) kalau saya menutup wih bukan
wewenang saya.
I3-2 Kembali ke fungsi utama awalnya dibangun pelelngan 74
ikan bayangan itu, awalnya tempat paking, tempat
sandaran perahu, sama buat bongkar es ya tapi kan ada
jual beli ikan itukan namanya pelelangan ikan, berarti
kita inni bukan pelelangan satu aja.
Q Adakah izin yang dibeikan untuk pembangunan TPI
liar?
I3-1 Itu tidak tau saya, mungkin izinya dari siapa dia bikin 75
tempat sendiri beli tanah di pinngir kali bikin sendiri
saya tidak tahu izin-izinya.
I3-2 Kalau izin saya kurang tau, saya juga mau 76
menanyakan apakah ada izin untuk pelelangan
bayangan itu ke dinas.
Q Apakah bapak pernah melaporkan ke upt atau dinas?
I3-1 Sudah, sudah pernah saya laporkan bahkan upt pernah 77
tau pernah meriksa. Pak upt juga tau ada tpi itu,
dulukan pak upt pernah jadi manajer disini ya tapi
ngga tau saya terusnya mah.
I3-2 Dulu juga waktu pak beni (manajer sebelumnya), kita 78
ini susah untuk membongkar muat ikan di pelelangan
karena mereka ini pada buat pelelangan ikan
bayangan. Udah, hanya mungkin dengar tidak dengar
istilahnya mah. Sebenrnya juga bukan tidak tahu orang
dinasnya juga tau, mereka juga tau bahwa ada
sanadaran disitu.
Q Apa sanksi yang diberikan kepada pelanggar?
13-1 Ada sebetulnya sanksinya mah tapi belum pernah 79
dilaksanakan, yang memberikan sanksi kan bukan saya
13-2 Yaitulah belum ada, nanti saya juga mau angkat bicara 80
pas rapat evaluasi yang akan datang ini sejauh mana
lapak yang dulunya hanya bongkar muat es kenyataan
sekarang ini jadi tempat jual beli ikan. Nah nanti
sejauh mana tindakan dari pemerintah, nanti saya
tanyakan apa tindakan dari pemerintah, kitakan tidak
punya wewenang untuk menertibkan. Terus sanksi di
perda setelah dirubah yang sekarang kena sanksi TPI
kena utang kalau target ngga tercapai sisanya terus
kena bunga kalau dulu mah kenelayan apabila
nelayannya membandel tidak melelangkan ikan di
pelelangan atau tidak membayara retribusi maka akan
kena sanksi tipiring (tindak pidana ringan) itu
kenelayan dulu mah gitu, sekarang setelah dirubah
malah TPI yang kena sanksi.
Q Kenapa membangun TPI disini?
I4-1 Biar mandiri, biar ngga campur sama nelayan yang 81
lain kitakan punya langgan (bakul ikan) biar gampang
aja jualnya sih
I4-2 Biar cepet aja dek, biar ngga rebutan sama yang lain, 82
sayakan jaga kualitas ikan supaya bagus kalau
kelamaan nunggu ikanya takut jelek kualitasnya
I4-3 Enak kalau disini luas, perahunya bisa banyak yang 83
bongkar ikan sekaligus
Q Apa TPI ini memiliki izin?
I4-1 Ada, buat nyandarin perahu 84
I4-2 Izin yah, lupa saya dulu bikin izinya 85
I4-3 Ada izin untuk membangun tempat paking mah 86
Q Siapa yang memberikan izin?
I4-1 Dari TPI kalo ngga salah 87
I4-2 Lupa saya izinya dari siapa. Sudah lama soalnya 88
I4-3 Dari pemerintah sih izinya 89
Q Kenapa tidak menjual ikan di TPI yang dibangun oleh
pemerintah?
I4-1 Enak kalau disini ngga campur sama langgan-langgan 90
orang kalau langgan itukan udah ngasih modal jadi
perbekalan apa segala macem buat nelayan udah
dikasih jadi nelayanya jual ikan disini, cepet disini
jualnya kalau di TPI suka campur-campur ya
pokoknya biar lebih enak bisa sambil masak disini bisa
solat disini kalau di TPI umumkan kan ngga bisa.
Terus kalau pagikan rame banyak perahu yang dating
terus tempatnya sempit ada pomlah ada tembok lah
jadi enakaan disini ajalah.
I4-2 Sempit kalau disana ada pom sama tembok apasih itu 91
disitu ngga tau apa fungsinyaa mah, ngga bisa buru-
buru suka rebutan sama yang lain, keamananya juga
kurang ya takutnya kan ada rebut-ribut gara-gara
rebutan pengen duluan jual ikan, kalau disinikan
engga, amanlah disini mah. Langggan juga udah hapal
jam bongkar ikanya disini jam berapa jadi gampang
jualnya, cepet.
I4-3 Enakan disini lah cepet, perahu-perahu saya sendiri 92
modal saya sendiri, solar bekel apalah semua kan saya
yang bayarin, narik perahu segala pemerintahkan ngga
mau bayarin biaya tarikan perahu sedangkan perahu
harus ditarik yak karena muaranya dangkal ngga di
keruk-keruk sama itu tuh kita (nelayan) minta lampu
mercusuar dari dulu sampe sekarang belum ada aja
Q Apakah pembayaran retribusi sesuai dengan peraturan
daerah?
I4-1 Sesuai retibusi mah bayar terus disini mah 93
I4-2 Sesuailah pembayaran retibusi mah kan udah ada 94
kesapakatan
I4-3 Sesuai sama kesapakatan yang udah aja bayar retribusi 95
mah
Q Berapa besaran retribusi yang dibayarkan?
I4-1 150 ribu sekali bongkar ikan 96
I4-2 150 ribu kalau lagi banyak ikan mah, kalau lagi sedikit 97
mah mau bayar gimana ikanya juga ngga ada kan
enggak dapat uang
I4-3 150 ribu sesuai sama kespakatan dulu, kalau 98
permintaan nelayan dipenuhi seperti muara dikeruk
sama da lampu mercusuar mah lebih dari 150 ribu juga
saya bayar, inikan saya ada biaya tambahan lagi kalau
muaranya dangkal ginni, belum kalau malem engga
ada lampu mercusuar takut kandas perahunya gelap
kan soalnya
Q Pernahkah ada pengarahan dari penmerintah atau dari
TPI?
I4-1 Pengarahan untuk jual ikan di TPI umum? Kalau dari 99
TPI sih dulu ada kalau dari pemerintah ngga ada
I4-2 Ada dulu itu musyawarah pembeyaran retribusi 100
I4-3 Ngga ada sih dek, dulu aja pas musyawarah retribusi 101
aja sampai sekarang ngga ada. Kalau ada apa-apa ya
liat dari berita aja
Q Pernahkah mendapat teguran atau sanksi dari
pemerintah?
I4-1 Ngga ada sih 102
I4-2 Ngga ada belum pernah 103
I4-3 Belum pernah ada aman-aman aja dek 104
Q Dimana anda menjual hasil tangkapan ikan?
I5-1 Di juragan, perahu, modal, sama solar dikasih sama 105
juragan soalnya
I5-2 Di sini di bos jualya, kan perahu punya bos saya cuma 106
kerja aja
I5-3 Di Oscar perahunya punya Oscar sih 107
I5-4 Dibawah jembatan panimbang enak disana mah luas 108
tempatnya, langganya banyak, ambil esnya disana sih.
Sekalian beli es disana
I5-5 Di Oscar langganya ada di Oscar sih 109
I5-6 Di sibolga, kesini mau berangkat beli solar sama ngisi 110
es dulu
Q Apakah anda tahu TPI disisni (TPI tidak resmi)
memiliki izin dari pemerintah?
I5-1 Ngga tau saya anak buah, izin segaala macem mah bos 111
I5-2 Kurang tau ya 112
I5-3 Kurang tau ya 113
I5-4 Ada kayaknya, tapi ngga tau bos yang ngurusin izin 114
I5-5 Ada kayaknya, kalau ngga ada izin ngga bisa ngelaut 115
soalnya
I5-6 Ada sih, yakan izin ngelaut segala macem dari bos 116
kalau ngga ada izin ya ngga bisa ngelaut
Q Kenapa tidak menjual ikan di TPI resmi?
I5-1 Sempit, kalau rame rebutan susah jadinya 117
I5-2 Kan modal sama perahunya punya bos ya jualnya 118
sama bos
I5-3 Modal ngelaut dikasih sama bos, jual ya di lapaknya 119
bos aja biar gampan itung-itungan
I5-4 Sempit, dangkal lautntya. Susah mendaratkan 120
perahunya
I5-5 Kapalnya (perahu) punya bos, ngga bisa kalau jual di 121
TPI umum nanti dimarahin bos
I5-6 Langganya nanti ngga ada kalau di umum kan biasa di 123
lelang punya bos, modal perahu segala macem kan
punya bos susah kalau jual disini mah
Q Menurut anda layak tidak TPI resmi untuk jual beli
ikan?
I5-1 Layak sih cuma sempit tempatnya ngga bisa kalau 124
buru-buru pengen bongkar
I5-2 Layak mah layak, cuma bos ngga mau jual disitu takut 125
langganya ngga mau
I5-3 Layak tempat mah paling perahu kecil, kalau yang 126
gede masuk kasian yang kecil ngga kebagian tempat
I5-4 Layak sih tempat mah 127
I5-5 Layak-layak saja tapi ngga ada langgangnya disitunya 128
I5-6 Layak sih cuma bos punya lelang sendiri 129
Q Apakah ada kendala untuk menjual ikan di TPI resmi?
I5-1 Langganya engga ada kalau disitu, langganya ada di 130
lelang bos
I5-2 Sempit disitunya, rebutan sama perahu kecil juga 131
I5-3 Ngga ada 132
I5-4 Dangkal lautnya, harus nungggu laut pasang ngga bisa 133
di buru-buru
I5-5 Rebutan sama perahu kecil takut jadi masalah, suka 134
ngga kebagian tempat perahu kecilnya takut rebut
I5-6 Ngga tau ya, belum pernah jual disitu sih paling beli 135
soalar sama ngisi es saja
Q Tahukan anda harus membayar retribusi?
I5-1 Urusanya bos retribusi mah 136
I5-2 Tahu, bos aja yang ngurus retribusi mah 137
I5-3 Bos yang bayar retribusi mah, saya ngga ngurusin 138
I5-4 Retribusi sama bos aja 139
I5-5 Tahu, tapi bos yang bayarnya 140
I5-6 Si bos yang bayar retribusi mah 141
Q Pernahkah ada pengarahan dari pemerintah?
I5-1 Jarang-jarang 142
I5-2 Belum pernah ikut, ada kayaknya 143
I5-3 Jarang pemerintah mah, dari berita paling 144
I5-4 Ngga ada, paling liat berita sama ngobrol sama bos aja 145
kalau ada apa apa
I5-5 Ngga ada sih kayaknya 146
I5-6 Ngga ada 147
Q Pernahkah mendapat teguran dari pemerintah karena
menjual ikan disini (TPI tidak resmi)?
I5-1 Belum pernah 148
I5-2 Belum, kalau di ajak sama orang TPI pernah 149
I5-3 Belum pernah, tapi tidak tahu juga saya kan hidupnya 150
banyak di laut
I5-4 Belum pernah ada 151
I5-5 Belum, paling dari TPI saja 152
I5-6 Belum pernah, orang TPI saja paling yang sering negur 153
CATATAN LAPANGAN PENELITIAN

No Tanggal Waktu Tempat Hasil Informan


1 11-03- 10;00 Kantor Dinas Kelautan Data tentang Ibu Dewi
2014 WIB dan Perikanan PERDA
Kabupaten Pandeglang retribusi jasa
usaha dan
tentang
Pembentukan
Unit Pelaksana
Teknis Dinas
pada Dinas
Daerah
Kabupaten
Pandeglang
2 26-03- 09;00 Kantor UPT PPI/TPI Wawancara Bapak
2014 WIB Labuan Asep
3 26-03- 11;00 Tempat pelelangan ikan Wawancara Bapak Edi
2014 WIB Panimbang
4 12- 20;10 Tempat pelelanggan Wawancara Ibu soebah
042014 WIB ikan Oscar
5 06-10- 09; 15 KESBANGPOLINMAS Kartu Bapak Drs.
2014 WIB Kabupaten Pandeglang rekomendasi H.
penelitian Samsudin,
MM
6 06-10- 13;00 Dinas Kelautan dan Wawancara Bapak Ir.
2014 WIB Perikanan Kabupaten dan surat H. T.
Pandeglang penerus Nanzar
disposisi Riadi, MM
7 10-10- 11:00 UPT PPI/TPI Labuan Wawancara Asep
2014 WIB Kenedi
8 07-10- 09:25 Tempat pelelangan ikan Wawancara Bapak Edi
2014 WIB Panimbang Suhandi
9 07-10- 10:00 Tempat pelelangan ikan Wawancara Bapak
2014 WIB Panimbang Ayip
10 07-10- 10:20 Tempat pelelangan ikan Wawancara Bapak
2014 WIB Panimbang Abul Aziz
11 08-10- 21;30 Diluar tempat Wawancara Bapak H.
2014 WIB pelelangan ikan mista
Panimbang
12 16-01- 10;22 KESBANGPOLINMAS Surat Bapak Drs.
2015 WIB Kabupaten Pandeglang rekomdasi H.
penelitian Samsudin,
MM
13 20-01- 13;15 Dinas Kelautan dan Wawancara Bapak Ir.
2015 WIB Perikanan Kabupaten dan Profil H. T.
Pandeglang Dinas Nanzar
Riadi, MM
14 26-01- 10;37 UPT PPI/TPI Labuan Wawancara Bapak
2015 WIB Asep WIB
Kenedi
15 27-01- 11;00 Tempat pelelangan ikan Wawancara Bapa WIB
2015 WIB Panimbang k Edi
Suhend
WIB i
16 27-01- 10;00 Tempat pelelangan ikan Wawancara Bapak
2015 WIB Panimbang Ayip
17 27-01- 12;17 Tempat pelelangan Wawancara Ibuk
2015 WIB Oscar soebah
18 28-01- 20;15 Diluar tempat Wawancara Bapak H.
2015 WIB pelelangan ikan Mista
19 29-01- 08;30 Diluar tempat Wawancara Bapak
2015 WIB pelelangan ikan tasbin
20 29-01- 16;30 Diluar tempat Wawancara Bapak
2015 WIB pelelangan ikan wasto
21 29-01- 20;45 Diluar tempat Wawancara Bapak
2015 WIB pelelangan ikan muin
22 01-02- 20;20 Diluar tempat Wawancara Bapak radi
2015 WIB pelelangan ikan
23 01-02- 22;17 Diluar tempat Wawancara Bapak asep
2015 WIB pelelangan ikan
24 02-02- 21;45 Diluar tempat Wawancara Bapak aan
2015 WIB pelelangan ikan
25 02-02- 22; 15 Diluar tempat Wawancara Bapak
2015 WIB pelelangan ikan cecep
26 10-06- 09; 22 Kantor kecamatan Wawancara Bapak Tata
2015 WIB panimbang Miharja
27 11-06- 19:46 Kantor Ditpolair Wawancara Bapak Nur
2015 WIB Sidamukti Said
MEMBER CHECK

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Ir. H. T. Nanzar Riadi, MM
Pekerjaan/Jabatan : Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang
Usia/Umur : 57 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Menyatakan Benar bahwa dilaksanakan wawancara untuk keperluan penelitian yang
dilakukan oleh nama sebagaimana tersebut dibawah ini :
Nama : DONI WINARNO
Pekerjaan : Mahasiswa
Fakultas/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
NIM : 6661091421
Dan saya tidak berkeberatan apabila mana dalam penelitian ini dicantumkan guna
keperluan keabsahan dalam penelitian ini.

Q: Apa rencana yang dibuat untuk mengelola TPI?

A: Untuk mengelolanya memanfaatkan potensi SDM yang ada melalui seleksi pegawai

baik tenaga kerja sukarela maupun PNS. Nah kemudia di testing diangkat, di SK kan

oleh Kepala dinas kemudian dikukuhkan oleh Bupati Pandeglang

Q: Adakah peraturan khusus yang mengatur Pengelolaan TPI?

A: Ada, diatur oleh pemda nomor 12 tahun 2011 tentang pendapatan asli daeah, tentang

PAD. Retribusi dipungut 4% dari nelayan kemudian 2% untuk pengelola

Q: Kalau peraturan yang secara spesifik tentang pelelangan ikan ada nga pak?

A: Ada di perturan mentri, semua ikan harus dijual di tempat pelelangan ikan yang di

bangun oleh pemerintah. TPI kan harus dibangun di tanah negara dan dibangun oleh

pemerintah

Q: Apa yang diperlukan untuk mengelola TPI?


A: Misalnya ketrampilannya ya ada keberanian, ada semacam begini, ada semacam

wawasan tentang pengetahuan kenelayanan, kan profesi yah. Tentang kenelayanan

kemudian tentang pengetahuan tentang jenis ikan, kan inikan berkaitan dengan jenis

ikan yang dijual, di lelang, jadi itu harus tau mana yang mahal, mana yang murah

Q: Apakah ada program-program yang direncanakan untuk masing-masing TPI?

A: Programnya dari DKP sendiri itu membuat 14 TPI di Kabuupaten Pandeglang,

memberikan/membagi target retribusi ke masing-masing TPI yang ada di Kabupaten

Pandeglang. target retribusinya ditentukan oleh pemerinta daerah.

Q: Berapa lama waktu pelaksanaan program?

A: Targetnya harus tercapai setahun, penyetoran dalam peraturan harusnya 1x 24 jam

karena ada yang jauh jadi sekarang di setorkanya seminggu sekali

Q: Siapa yang melaksanakan?

A: Ya masing-massing TPI, masing-masing manajer bertanggung jawab atas target

retribusi yang sudah di bebankan

Q: Bagaimana pelaskanaan program?

A: Sementara ini masih belum tercapai, ada saja TPI yang tidak mencapai targetnya

Q: Apa kendala yang dihadapi?

A: Kendala utamanya cuaca (musim hujan)

Q: Siapa yang bertanggung jawab atas pelaksanaan?

A: Klo retribusi manajer sama TPInya. Klo keseluruhan saya yang bertanggung jawab

Q: Bagaimana cara mengorganisasikan TPI?

A: Ada setiap satu bulan sekali diadakan rapat evaluasi, pemberdayaan target dan strategi

ke manajer
Q: Komponen apa saja yang dibutuhkan?

A: Komponennya ya pegawai sama bangunan tempat pelelangan ikan serta sarana

kelautan seperti dermaga

Q: Apa komponen terpenting dalam pelangan ikan?

A: Sarana prasarana laut (dermaga)

Q: Siapa yang menyediakan komponen tersebut?

A: Penyedia komponen ya dinas kelautan dan pemerintah daerah. Untuk sementara ini

memang dermaga belum bisa dibangun karena anggaran yang belum ada, tapi

pengajuan pengajuan ke instansi lainya yang terkait sudah di upayakan. Cuma belum

bisa terealisasikan karena anggaran yang belum ada

Q: Adakah anggaran yang diberikan untuk mengornaisasikan TPI?

A: Anggaran langsung tidak ada untuk TPI, TPI mencari sendiri anggaran tersebut

caranya dengan memungut retribusi dari proses pelelangan, TPI berhak memungut

retribusi sebesar 6% (4% untuk pemerintah daerah, 2% untuk biaya oprasional TPI).

Q: Adakah pengarahan khusu untuk mengelola TPI

A: Pengarahan diberikan 1 bulan sekali, seperti rapat evaluasi, pemberdayaan target dan

strategi.

Q: Adakah target yang diberikan untuk TPI?

A: Ada, masing-masing TPI memiliki target masing-masing dalam pemungutan retribusi,

TPi diberikan target berdeda-beda, dibagi-bagi menurut keadaan alam sama jumlah

armada kelautanya, untuk TPI Panimbang sebesar 115 juta kurang lebih.

Q: Berapa lama pencapaian target?


MEMBER CHECK

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Asep Kenedi
Pekerjaan/Jabatan : Kepala UPT PPI/TPI Labuan
Usia/Umur : 49 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Menyatakan Benar bahwa dilaksanakan wawancara untuk keperluan penelitian yang
dilakukan oleh nama sebagaimana tersebut dibawah ini :
Nama : DONI WINARNO
Pekerjaan : Mahasiswa
Fakultas/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
NIM : 6661091421
Dan saya tidak berkeberatan apabila mana dalam penelitian ini dicantumkan guna
keperluan keabsahan dalam penelitian ini.

Q: Apa rencana yang dibuat untuk mengelola TPI?

A: Rencana mengelola tempat pelelangan ikan adalah menyiapkan sumber daya manusia

(manajer dan staf) melalui penyeleksian yang kemudian di SK kan oleh kepala dinas

kelautan dan perikanan,

Q: Adakah peraturan khusus yang mengatur Pengelolaan TPI?

A: Perda no 12 tahun 2001 pemerintah daerah tentang pemungutan retribusi. Ngga ngga

Perda tahun 2011 tentang retribusi 4% untuk disetor ke kas daerah sebesar 4%, klo

diluar itu ada kesepakatan bersama antar nelayan dan bakul ikan yang kemudian

dibuat berita acara.

Q: Kalau peraturan yang secara spesifik tentang pelelangan ikan ada tidak pak?

A: Ada misalkankan gini misalkan kan ikan aturanya harus dilelalang kan di TPI aturan

kan semua ikan harus dilelang di TPI, aturanya ada di peraturan mentri, nelayan tidak
boleh di ikanya di jual di tengah laut kan kadang kadang yang namanya di daerah

kadang kadang suka ada yang di plele itu, sebetulya tidak boleh itu kan harus di lelang

di TPI tidak boleh jual ikan di laut, kenapa karena pemerintah sudah membangun TPI

itu kan di gedung itu kan disitu. Pemerintah membangunkan untuk memudahkan.

Q: Apa yang diperlukan untuk mengelola TPI?

A: Yang diperlukan untuk mengelola tpi itu misalkan karcis lelang (resi itukan), surat

jalan misalkan yang dimaksudkan ikan yang sudah dilelang kan ini mau berangkat

kejakarta pake surat jalan misalkan mau berangkat ke jakarta berapa blong ikan apa?.

Nanti ada petugas yang di sidamukti ada petugas pemeriksaan hasil laut, nanti yang

lewat dishub itu ada di pinngir jalan di depan bengkel onderdil. Sarana prasana lain itu

blong, trais (wadah ikan), terus apatuh blong udah yah? terus timbangan, terus fizer

kalau ga ada frizer es itukan terus apatuh yang kuning-kuning (cool box) udah seperti

itu ya sama kendaraan.

Q: Apakah ada program-program yang direncanakan untuk masing-masing TPI?

A: Kalau sifatnya yang dari UPT program mah gak ada kan, programnya dari dinas

kelautan. Kalau dari UPT Cuma sesuai dengan tupoksi UPT mengevaluasi takut ada

terjadinya monopoli harga, terus monitoring, pembinaan ke nelayan. Kalau program

ada sih yang nentuin dinas (masing-masing bidang ) kalau TPI kan bidangnya bidang

perairan tangkap. misalnya programnya misalkan pengadaan gedung, pembangunan

gedung, terus program hibah apatuh hibang jaring, motor, perahu motor, blong.

Insyaalah sih tahun ini ada program motor yang 3 gt. Jaring juga yang ramah

lingkungan.

Q: Berapa lama waktu pelaksanaan program?


A: Target itukan setahun, yang menentukan pemerintah daerah.

Q: Siapa yang melaksanakan?

A: Yang melaksanakan manajer masing-masing TPI kan sebelumnya apanamanya

sebelum diangkat jadi manajer ditanya dulu kan? Sanggup tidak mencapai retribusi

yang udah dikasihkan.

Q: Bagaimana pelaksanaan program?

A: Ya gimana ya? Agak susah sih, ada aja yang macet mah

Q: Apa kendala yang dihadapi?

A: kendalanya sementara ini kan yang namanya musim kan cuaca, gabisa di prediksikan

ya model gini aja November desember ga ada kegiatan,musim barat. Biasanya kerja

tpi itu tidak 12 bulan dan tidak 30 hari kerjaya 10 bulan yang dua bulan kena musim

kadang-kadang 7 bulan, terus kerja bulan itu dipotong terang bulan, kalau terang bulan

itukan gabisa paling minimal itu 20 hari karena terbentur terang bulan.

Q: Siapa yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program?

A: Kalau dilapangan Itukan manajer, itu tnggung jawaba manajer setiap satu bulan sekali

melaporrkan hasil produksi raman itukan ke upt terus upt ke dinas.

Q: Bagaimana cara mengorganisasikan TPI?

A; Kalau pembagian kerja itu terus setiap hari. Ada juga rapat setiap satu bulan sekali,

tiga bulan sekali

Q: Komponen apa saja yang dibutuhkan?

A: Manajer sama staf, terus itu gedung TPI, sama apanamanya (dermaga)

Q: Apa komponen terpenting dalam pelangan ikan?


A: Komponen paling pneting itu paling penting itukan komponen paling penting PAD,

karena pemerintah ini darimana kan sedangkan dinas kelautan itu dinas kelautan itu

penghasil, karena selama ini kan kepala dinas di tuntut sama bapak bupati. Itu juga

dermaga

Q: Siapa yang menyediakan komponen tersebut?

A: Jadi gini yang masalah muara itukan memang dinas kelautan udah beberapa kali

mengajukan ke dinas kelautan pusat sementara ini itukan mungkin gimana yah

kewenangan itukan dari dinas PU sumber daya air, jadi harus apatuh harus gotong

royong anatara dinas kelautan dan sumberdaya air itukan, jadi pendanaanya itu belum

ada tuh. Pengajuan mah udah beberapa kali tapi harus keroyokan, jadi dana itu harus

keroyokan dari dinas kelautan sama sumber daya air kalau sendirikan satu SKPD ngga

mungkin karna APBD kan kecil. Memang pak kepala dinas sudah mengajukan

bebarapa kali tapi belum terealisasi. Memang itu yang jadi keluhan nelayan

panimbang

Q: Adakah anggaran yang diberikan untuk mengornaisasikan TPI?

A: Tidak ada, hanya ada bantuan hibah saja itukan, tapi sifatnya bukan ke TPI hibahnya

diberikan ke kelompok nelayan, tapi kelompok nelayan yang menjual ke TPI itukan,

mekanismenya kelompok nelyan harus bikin proposal. Kalau TPI itukan mengambil

dari retribusi 2% untuk biaya oprasionalnya.

Q: Adakah pengarahan khusu untuk mengelola TPI?

A: Pengrahan yang 3 bulan, yang setiap 1 minggu sekali seperti yang bapak katakana,

kitakan langsung kelapangan, upt kan punya jadwal dari senin sampai jumat keliling

ke TPI-TPI, orang upt sibuk kalau ada kegiatan di TPI.


Q: Adakah target yang diberikan untuk TPI?

A: Ada ada, itukan TPI harus mengumpulkan retribusi yang udah dikasih sama Dinas

Kelautan. Beda beda jumlahnya sesuai dengan jumlah nelayan sama perahu. Itukan

tidak mungkin kalau TPI yang sedikit jumlah nelayanya dikasih target yang besar.

Q: Berapa lama pencapaian target?

A: Target itukan satu tahun. Harus tercapai itukan kalau ngga nanti kena sanksi hutang

TPI itukan, TPI punya hutang ditambah bungan 2% itukan.

Q: Siapa yang melaksanakan?

A: Manajer yang melaksanakan sama bertanggung jawab.

Q: Apa yang sudah dilakukan untuk mengontrol TPI?

A: Untuk mengontrol TPI dari karcis lelang karcis lelangkan ada bonggolnya. Itu harus di

hitung Berapa habisnya berapa yang dilaporkan dan jumlah lelang dan jumlah raman,

nanti karcis lelang disamakan dengan raman jadi itu kontrolnya, jadi karcis lelang ada

tiga, satu untuk juragan, satu untuk bakul, satu untuk TPI. Kalau ga salah kuning,

putih, merah kalau gasalah itu. Fungsi kontrolnya dari situ, terus si bonggolnya harus

dilaporkan ke Pandeglang. Misalnkan bulan ini habis berapa, berapa buku, nanti

disesuaikan dengan laporan bulanan ada kesusaian atau tidak.

Q: Adakah pengendalian terkait munculnya TPI-TPI baru?

A: Selama ini belum ada, laporanya belum ada dari manajer, seharusnya manajer

melaporkan melaporkan ke dinas.

Q: Adakah izin yang diberikan?


MEMBER CHECK
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Edi Suhendi
Pekerjaan/Jabatan : Manajer TPI Panimbang
Usia/Umur : 50 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Menyatakan Benar bahwa dilaksanakan wawancara untuk keperluan penelitian yang
dilakukan oleh nama sebagaimana tersebut dibawah ini :
Nama : DONI WINARNO
Pekerjaan : Mahasiswa
Fakultas/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
NIM : 6661091421
Dan saya tidak berkeberatan apabila mana dalam penelitian ini dicantumkan guna
keperluan keabsahan dalam penelitian ini.

Q: Apa rencana yang dibuat untuk mengelola TPI?


A: Ada ada, rencana kita ini ingin, ingin TPI panimbang hidup seperti dulu saat saya
menjadi karyawan (juru lelang). Dulu saat saya jadi juru lelang TPI disini ramai terus,
saya melelangkan ikan dari jam 9 malam sampe jam 9 pagi itu ngga berhenit, ya sekarang
kondisinya seperti ini sepi, paling perahu kecil saja itu juga hanya beberapa.
Q: Adakah peraturan khusus yang mengatur pengelolaan pelelangan ikan?
A: Ada kalau retribusi kan di atur dulu sama PERDA tahun 2008, kemudian sekarang ada
selentingan nada sumbang dari menteri retribusi untuk kapal 10 gt kebawah bebas dari
retribusi, jadi saya kalau memungut retribusi banyak yang nolak padahal hanya
selentingan
Q: Berapa lama waktu pelaksanaan program?
A: Target saya 3 bulan sampai 6 bulan
Q: Apa kendala yang dihadapi?
A: Kita berbenturan saja masalah retribusi dengan nelayan sama bakul lah, itu tidak jual
di TPI mereka itu bikin tempat sendiri, itu yang jadi pemikiran saya bagaimana kita
sebagai manajer dan seharusnya memang semua harus kita pikirkan, kalau manajer aja
tidak kuat, kalau semuanya ya mungkin bisa. Terutama ya saya minta perizinan,
perizinanya kalau di atur dulu jangan senaknya, padahal saya kurang gimana? padahal
manajer kerja terus. Terus kalau musim gini ya ombak makanya saya minta cepat dibikin
dam di muara. Masrakatnya kurang sadar juga, masalahnya tadinya dibiarkan membeli
ikan dilaut dibiarkan yang penting masuk retribusi aja, ternyata lama kelamaan jadi terus
generasinya sudah tidak ada sedangkan generasi yang baru tidak tau peraturan tpi itu
gimana. Padahal panimbang potensinya besar saya dulu pas jadi juru lelang saya
melelangkan ikan dari jam 9 malam sampai jam 9 pagi. Terus lahanya juga sempit
terutama ketika ada bangunan-bangunan pom sama tembok air buat ngubah air laut
supaya bisa diminum langsung tapi orang panimbang tidak mau, ya dari pertama
dibangun sampai sekarang belum pernah berfungsi tembok itu dulukan tidak ada,
harusnya di perlebar biar perahu bisa menyandar 3, 4 gitu sekarang malah jadi sempit.
Q: Siapa yang bertangggung jawab atas pelaksanaan program?
A: Manajer kalau dibagian wilayah ini, yak kalau semuanya kepala dinas
Q: Komponen apa saja yang dibutuhkan?
A: Muara komponen utamanya keluar masuk, kapal saya sendiri tenggelam tidak kena,
kemarin saja ada yang kena benturan kayu baling-balingnya patah. Nelayan mau bayar
retribusi ke tpi kalo muaranya di perbaiki nelayan disini mintanya begitu. Ya komponen
penting pendanaan, nelayan pengen uang cash itu yang jadi kendalakan tapi TPI tidak
punya simpanan.
Q: Tapikan tpi cuma sebagai penyedia jasa aja pak, aktivitas jual beli ikan antara nelayan
sama bakul?
A: Betul, tapi itukan istilahnya kalau yang membeli langsung, nah tapi kalau yang
dilelang ke kita ke TPI kan maunya ditalangi sama TPI, sementara bakul itu tidak
langsung membayar langsung semua saat itu juga, kita mau nalangi uang dari mana.
Q: Siapa yang menyediakan komponen itu?
A: Ya pemerintah daerah, tidak mungkin kan kalau TPI yang membangun muara yang
dangkal.
Q: Adakah anggaran yang diberikan untuk TPI?
A: Kita tidak ada, kita hanya dari 2% retribusi
Q: Adakah pengarahan khusus untu pengelolaan TPI?
A: Ada, paling itu juga satu buan sekali, kadang-kadang 2 bulan sekali ke UPT rapat gitu.
Q: Adakah target yang diberikan untuk tpi?
A: Ada 120 juta
Q: Berapa lama target tesebut harus tercapai?
A: Satu tahun, ya tapi gimana alam kan kitakan banyak ombak saja untuk bulan bulan ini
mah?
Q: Ada yang sudah dilakukan untuk mengontrol TPI?
A: Sering ada dari UPT kesini mengontrol dari dinas juga suka ada kesini. Kalau saya
sendiri sudah sering mengajak yang melelangkan ikan di TPI yang lain untuk menjual
ikan di tpi tapi pada ngomong aman ngga, modal-modal sendiri terus saya mau kejam-
kejam udah bukan zamanya.
Q: Adakah pengendalian terkait munculnya TPI baru?
A: Belum ada, saya sudah sering memberi himbauan kalau bisa di TPI semua, sudah saya
ajak ayo di TPI mau apa mau gimana (wah ngga bisa saya sudah enak disini gitu
bilangnya) kalau saya menutup bukan wewenang saya.
Q: Adakah izin yang dibeikan untuk pembangunan TPI liar?
A: Itu tidak tau saya, mungkin izinya dari siapa dia bikin tempat sendiri beli tanah di
pinngir sunggai bikin sendiri saya tidak tahu izin-izinya.
MEMBER CHECK

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Ayip
Pekerjaan/Jabatan : Tata Usaha Tempat Pelelangan ikan Panimbang
Usia/Umur : 47 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Menyatakan Benar bahwa dilaksanakan wawancara untuk keperluan penelitian yang
dilakukan oleh nama sebagaimana tersebut dibawah ini :
Nama : DONI WINARNO
Pekerjaan : Mahasiswa
Fakultas/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
NIM : 6661091421
Dan saya tidak berkeberatan apabila mana dalam penelitian ini dicantumkan guna
keperluan keabsahan dalam penelitian ini.

Q: Apa rencana yang dibuat untuk mengelola TPI?

A: Rencana manejer ingin mengembalikan funggsi TPI kaya dulu lagi aktivitas

pelelangan ikan di panimbang itu semuanya dilakukan disini, kalau dari dinas tidak

ada rencana yang diberikan untuk TPI disini, kalau target ada

Q: Adakah peraturan khusus yang mengatur pengelolaan pelelangan ikan?

A: Peraturan peraturan retribusi aja paling dek, PRRDA tentang retribusi yang khusus

mengatur atau menegelola tempat pelelangan ikan tidak ada

Q: Berapa lama waktu pelaksanaan program?

A: Ya maunya secepatnya kurang dari 6 bulan, tapi udah setauhn belum kesampaian aja

Q: Apa kendala yang dihadapi?

A: Kendalanya nelayan tidak mau menjualkan ikanya disini, juragannya bikin pelelangan

ikan masing-masing, terus kendala cuaca yang ngga tentu namanya juga alam. Yang
paling penting mah muara, dangkal muaranya disini jadi susah nelayan mau

ngelautnya juga perahunya harus ditarik sama perahu yang lain yang lebih kecil buat

berangkat atau pulangnya juga.

Q: Siapa yang bertangggung jawab atas pelaksanaan program?

A: Kepala dinas untuk keseluruhan, kalau di TPI sini ya manajer yang tanggung jawab.

Q: Komponen apa saja yang dibutuhkan?

A: Pegawai, banguanan TPI yang layak (luas), sarana penghubung jalur nelayan seperti

muara dan lampu mercusuar.

Q: Siapa yang menyediakan komponen itu?

A: Pemerintah yang menyediakan harusnya kita hanya mengajukan aja, tapi gimana gini-

gini aja TPInya, udah berapa kali kita mengajukan pengerukan muara tapi sampai

sekarang belum dilaksanakan saja.

Q: Adakah anggaran yang diberikan untuk TPI?

A: Tidak ada, anggaran buat biaya oprasional dari retribusi, 4% buat pemerintah 2%

untuk TPI,

Q: Adakah pngarahan khusus untu pengelolaan TPI?

A: Pengarahan ada, sering ada rapat evaluasi sama kunjungan kesini ya tapi gitu gada

perubahan gini-gini aja.

Q: Adakah target yang diberikan untuk tpi?

A: Target tinggi 120 juta tapi kondisinya gini ya susah, tapi lelang jalan mah jangankan

120 juta lebih sanggup kalau semua aktivitas lelang disini mah

Q: Berapa lama target tesebut harus tercapai?


A: Satu tahu targetnya harus terpenuhi tapi gimana keadaan disini kayak gini

pelelanganya tidak hanya satu, ada pelelangan bayangan juga. Sama retribusinya tidak

sesuai dengan di PERDA juragan nelayannya tidak mau bayar retribusi sesuai dengan

yang diperda, alasanya banyak macam-macam. Ada yang bilang perahu-perahu saya

yang modalin saya ngapain saya bayar retribusi, pernah kita ngobrol bareng (pihak TPI

dengan nelayan) rapat disini ngebahas kesepakatan retribusi hasil musyawarah itu

sebenarnya 250 ribu per trip, pada saaat itu kespakatan pemberangkatan itu per trip 7

hari maksimal 10 hari, cuma disitu ada tatangan buat pemerintah kalau ada lampu

mercusuar mau si nelayan membayar 250 pertrip kalau tidak ada maka 150 ribu. Ya

sampai sekarang ini

Q: Ada yang sudah dilakukan untuk mengontrol TPI?

A: Ada dari dinas sama upt kunjungan keisini, melihat ko orang dinas juga kalau ada

pelelangan bayangan. Pelelangan bayanganya juga kelitan jelas ini disebelah kan ada

pelelangan bayangan kelihatan dari sisni juga masa kurang lebih dari 50 meter dari sini

tidak keliatan

Q: Adakah pengendalian terkait munculnya TPI baru?

A: Kembali ke fungsi utama awalnya dibangun pelelngan ikan bayangan itu, awalnya

tempat packing, tempat sandaran perahu, sama buat bongkar es ya tapi kan ada jual

beli ikan itukan namanya pelelangan ikan, berarti kita ini bukan pelelangan satu aja.

Q: Adakah izin yang dibeikan untuk pembangunan TPI liar?

A: Kalau izin saya kurang tau, saya juga mau menanyakan apakah ada izin untuk

pelelangan bayangan itu ke dinas

Q: Apakah bapak pernah melaporkan ke upt atau dinas?


MEMBER CHECK

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : H. Mista
Pekerjaan/Jabatan : Juragan nelayan
Usia/Umur : 62 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Menyatakan Benar bahwa dilaksanakan wawancara untuk keperluan penelitian yang
dilakukan oleh nama sebagaimana tersebut dibawah ini :
Nama : DONI WINARNO
Pekerjaan : Mahasiswa
Fakultas/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
NIM : 6661091421
Dan saya tidak berkeberatan apabila mana dalam penelitian ini dicantumkan guna
keperluan keabsahan dalam penelitian ini.

Q: Kenapa membangun TPI/PPI disisni?

A: Biar cepet aja dek, biar ngga rebutan sama yang lain, sayakan jaga kualitas ikan
supaya bagus kalau kelamaan nunggu ikanya takut jelek kualitasnya

Q: Apa TPI/PPI ini memiliki izin?

A: Izin yah, lupa saya dulu bikin izinya

Q: Siapa yang memberikan izin?

A: Lupa saya izinya dari siapa. Sudah lama soalnya

Q: Kenapa tidak menjual ikan TPI yang sudah dibangun pemerintah?

A: Sempit kalau disana ada pom sama tembok apasih itu disitu ngga tau apa fungsinyaa
mah, ngga bisa buru-buru suka rebutan sama yang lain, keamananya juga kurang ya
takutnya kan ada rebut-ribut gara-gara rebutan pengen duluan jual ikan, kalau
disinikan engga, amanlah disini mah. Langggan juga udah hapal jam bongkar ikanya
disini jam berapa jadi gampang jualnya, cepat
MEMBER CHECK

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Soebah
Pekerjaan/Jabatan : Juragan nelayan
Usia/Umur : 36 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Menyatakan Benar bahwa dilaksanakan wawancara untuk keperluan penelitian yang
dilakukan oleh nama sebagaimana tersebut dibawah ini :
Nama : DONI WINARNO
Pekerjaan : Mahasiswa
Fakultas/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
NIM : 6661091421
Dan saya tidak berkeberatan apabila mana dalam penelitian ini dicantumkan guna
keperluan keabsahan dalam penelitian ini.

Q: Kenapa membangun TPI/PPI disisni?

A: Biar mandiri, biar ngga campur sama nelayan yang lain kitakan punya langgan (bakul
ikan) biar gampang aja jualnya sih

Q: Apa TPI/PPI ini memiliki izin?

A: Ada, buat nyandarin perahu

Q: Siapa yang memberikan izin?

A: Dari TPI kalo ngga salah

Q: Kenapa tidak menjual ikan TPI yang sudah dibangun pemerintah?

A: Enak kalau disini ngga campur sama langgan-langgan orang kalau langgan itukan udah
ngasih modal jadi perbekalan apa segala macem buat nelayan udah dikasih jadi nelayanya
jual ikan disini, cepet disini jualnya kalau di TPI suka campur-campur ya pokoknya biar
lebih enak bisa sambil masak disini bisa solat disini kalau di TPI umumkan kan ngga
MEMBER CHECK

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Tasbin
Pekerjaan/Jabatan : Juragan nelayan
Usia/Umur : 54 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Menyatakan Benar bahwa dilaksanakan wawancara untuk keperluan penelitian yang
dilakukan oleh nama sebagaimana tersebut dibawah ini :
Nama : DONI WINARNO
Pekerjaan : Mahasiswa
Fakultas/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
NIM : 6661091421
Dan saya tidak berkeberatan apabila mana dalam penelitian ini dicantumkan guna
keperluan keabsahan dalam penelitian ini.

Q: Kenapa membangun TPI/PPI disisni?

A: Enak kalau disini luas, perahunya bisa banyak yang bongkar ikan sekaligus

Q: Apa TPI/PPI ini memiliki izin?

A: Ada izin untuk membangun tempat paking

Q: Siapa yang memberikan izin?

A: Dari pemerintah sih izinya

Q: Kenapa tidak menjual ikan TPI yang sudah dibangun pemerintah?

A: Enakan disini lah cepet, perahu-perahu saya sendiri modal saya sendiri, solar bekel
apalah semua kan saya yang bayarin, narik perahu segala pemerintahkan ngga mau
bayarin biaya tarikan perahu sedangkan perahu harus ditarik yak karena muaranya
dangkal ngga di keruk-keruk sama itu tuh kita (nelayan) minta lampu mercusuar dari
dulu sampe sekarang belum ada aja

Q: Apakah pembayara retribusi sesuai dengan peraturan?


MEMBER CHECK

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Wasto
Pekerjaan/Jabatan : Nelayan
Usia/Umur : 51 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Menyatakan Benar bahwa dilaksanakan wawancara untuk keperluan penelitian yang
dilakukan oleh nama sebagaimana tersebut dibawah ini :
Nama : DONI WINARNO
Pekerjaan : Mahasiswa
Fakultas/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
NIM : 6661091421

Q: Dimana anda menjual ikan?

A: Di sibolga, kesini mau berangkat beli solar sama ngisi es dulu

Q: Apakah anda tahu TPI disisni (TPI tidak resmi) memiliki izin dari pemerintah?

A: Ada sih, yakan izin ngelaut segala macem dari bos kalau ngga ada izin ya ngga bisa

ngelaut

Q: Kenapa tidak menjual ikan TPI yang sudah dibangun pemerintah?

A: Langganya nanti ngga ada kalau di umum kan biasa di lelang punya bos, modal

perahu segala macem kan punya bos susah kalau jual disini mah

Q: Menurut anda layak tidak TPI resmi untuk jual beli ikan?

A: Layak sih cuma bos punya lelang sendiri


MEMBER CHECK

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Aan
Pekerjaan/Jabatan : Nelayan
Usia/Umur : 27 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Menyatakan Benar bahwa dilaksanakan wawancara untuk keperluan penelitian yang
dilakukan oleh nama sebagaimana tersebut dibawah ini :
Nama : DONI WINARNO
Pekerjaan : Mahasiswa
Fakultas/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
NIM : 6661091421

Q: Dimana anda menjual ikan?

A: Dibawah jembatan panimbang enak disana mah luas tempatnya, langganya banyak,

ambil esnya disana sih. Sekalian beli es disana

Q: Apakah anda tahu TPI disisni (TPI tidak resmi) memiliki izin dari pemerintah?

A: Ada kayaknya, tapi ngga tau bos yang ngurusin izin

Q: Kenapa tidak menjual ikan TPI yang sudah dibangun pemerintah?

A: Sempit, dangkal lautntya. Susah mendaratkan perahunya

Q: Menurut anda layak tidak TPI resmi untuk jual beli ikan?

A: Layak sih tempat mah

Q: Apakah ada kendala untuk menjual ikan di TPI resmi?


MEMBER CHECK

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Cecep
Pekerjaan/Jabatan : Nelayan
Usia/Umur : 34 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Menyatakan Benar bahwa dilaksanakan wawancara untuk keperluan penelitian yang
dilakukan oleh nama sebagaimana tersebut dibawah ini :
Nama : DONI WINARNO
Pekerjaan : Mahasiswa
Fakultas/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
NIM : 6661091421

Q: Dimana anda menjual ikan?

A: Di Oscar perahunya punya Oscar sih

Q: Apakah anda tahu TPI disisni (TPI tidak resmi) memiliki izin dari pemerintah?

A: Kurang tau ya

Q: Kenapa tidak menjual ikan TPI yang sudah dibangun pemerintah?

A: Modal ngelaut dikasih sama bos, jual ya di lapaknya bos aja biar gampan itung-

itungan

Q: Menurut anda layak tidak TPI resmi untuk jual beli ikan?

A: Layak tempat mah paling perahu kecil, kalau yang gede masuk kasian yang kecil ngga

kebagian tempat
MEMBER CHECK

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Muin
Pekerjaan/Jabatan : Nelayan
Usia/Umur : 36 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Menyatakan Benar bahwa dilaksanakan wawancara untuk keperluan penelitian yang
dilakukan oleh nama sebagaimana tersebut dibawah ini :
Nama : DONI WINARNO
Pekerjaan : Mahasiswa
Fakultas/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
NIM : 6661091421

Q: Dimana anda menjual ikan?

A: Di juragan, perahu, modal, sama solar dikasih sama juragan soalnya

Q: Apakah anda tahu TPI disisni (TPI tidak resmi) memiliki izin dari pemerintah?

A: Ngga tau saya anak buah, izin segaala macem mah bos

Q: Kenapa tidak menjual ikan TPI yang sudah dibangun pemerintah?

A: Sempit, kalau rame rebutan susah jadinya

Q: Menurut anda layak tidak TPI resmi untuk jual beli ikan?

A: Layak sih cuma sempit tempatnya ngga bisa kalau buru-buru pengen bongkar

Q: Apakah ada kendala untuk menjual ikan di TPI resmi?

A: Langganya engga ada kalau disitu, langganya ada di lelang bos


MEMBER CHECK

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Radi
Pekerjaan/Jabatan : Nelayan
Usia/Umur : 34 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Menyatakan Benar bahwa dilaksanakan wawancara untuk keperluan penelitian yang
dilakukan oleh nama sebagaimana tersebut dibawah ini :
Nama : DONI WINARNO
Pekerjaan : Mahasiswa
Fakultas/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
NIM : 6661091421

Q: Dimana anda menjual ikan?

A: Di sini di bos jualya, kan perahu punya bos saya cuma kerja aja

Q: Apakah anda tahu TPI disisni (TPI tidak resmi) memiliki izin dari pemerintah?

A: Kurang tau ya

Q: Kenapa tidak menjual ikan TPI yang sudah dibangun pemerintah?

A: Kan modal sama perahunya punya bos ya jualnya sama bos

Q: Menurut anda layak tidak TPI resmi untuk jual beli ikan?

A: Layak mah layak, cuma bos ngga mau jual disitu takut langganya ngga mau

Q: Apakah ada kendala untuk menjual ikan di TPI resmi?

A: Sempit disitunya, rebutan sama perahu kecil juga


MEMBER CHECK

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Wasdi
Pekerjaan/Jabatan : Nelayan
Usia/Umur : 25 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Menyatakan Benar bahwa dilaksanakan wawancara untuk keperluan penelitian yang
dilakukan oleh nama sebagaimana tersebut dibawah ini :
Nama : DONI WINARNO
Pekerjaan : Mahasiswa
Fakultas/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
NIM : 6661091421

Q: Dimana anda menjual ikan?

A: Di Oscar langganya ada di Oscar sih

Q: Apakah anda tahu TPI disisni (TPI tidak resmi) memiliki izin dari pemerintah?

A: Ada kayaknya, kalau ngga ada izin ngga bisa ngelaut soalnya

Q: Kenapa tidak menjual ikan TPI yang sudah dibangun pemerintah?

A: Kapalnya (perahu) punya bos, ngga bisa kalau jual di TPI umum nanti dimarahin bos

Q: Menurut anda layak tidak TPI resmi untuk jual beli ikan?

A: Layak-layak saja tapi ngga ada langgangnya disitunya

Q: Apakah ada kendala untuk menjual ikan di TPI resmi?


PEMERINTAH KABUPATEN PANDEGLANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG

NOMOR 11 TAHUN 2011

TENTANG

RETRIBUSI JASA USAHA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI PANDEGLANG,

Menimbang : a. bahwa Retribusi Jasa Usaha merupakan salah satu


sumber pendapatan daerah yang penting guna
membiayai pelaksanaan pemerintahan daerah;
b. bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 127 serta Pasal
156 ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009
tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, perlu
menetapkan Peraturan Daerah tentang Retribusi Jasa
Usaha;

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara


Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 2043);
3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum
Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3684);
4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang
Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);
5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang
Pembentukan Propinsi Banten (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 182,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4010);

1
6. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang
Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2002 Nomor 134, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247);
7. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
8. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang
Perikanan sebagaimana diubah dengan Undang-
Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang perubahan
atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang
Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 154, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5073);
9. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan
Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
10. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
11. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4725);
12. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang
Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4966);
13. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang
Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 84, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5015);
14. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025);
15. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5049);

2
16. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011
Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5234);
17. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang
Pelaksanaan Kitab Undang-undang Hukum Acara
Pidana sebagaimana diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 58 Tahun 2010 tentang Perubahan
Atas Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983
tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum
Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2010 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5145);
18. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140 Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
19. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang
Pedoman Pembinaan dan Pengawasan
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4593);
20. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Propinsi, dan Pemerintahan
Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
21. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang
Tata Cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif
Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5161);
22. Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 4
Tahun 1986 Tentang Penunjukan Penyidik Pegawai
Negeri Sipil Yang Melakukan Penyidikan Terhadap
Pelanggaran Peraturan Daerah Yang Memuat
Ketentuan Pidana (Lembaran Daerah Kabupaten
Pandeglang Tahun 1986 Nomor 5 Seri D);
23. Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 10
Tahun 2007 tentang Pokok-pokok Pengelolaan
Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten
Pandeglang Tahun 2007 Nomor 10 Seri E.5);
24. Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 1
Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Daerah
(Lembaran Daerah Kabupaten Pandeglang Tahun 2008
Nomor 1);

3
25. Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 6
Tahun 2008 tentang Pembentukan, Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah
Kabupaten Pandeglang (Lembaran Daerah Kabupaten
Pandeglang Tahun 2008 Nomor 6) sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten
Pandeglang Nomor 4 Tahun 2010 tentang Perubahan
Atas Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor
6 Tahun 2008 tentang Pembentukan Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah
Kabupaten Pandeglang (Lembaran Daerah Kabupaten
Pandeglang Tahun 2010 Nomor 4);
26. Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 3
Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Pandeglang Tahun 2011-2031 (Lembaran
Daerah Kabupaten Pandeglang Tahun 2011 Nomor 3);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG

dan

BUPATI PANDEGLANG

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI JASA


USAHA.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:


1. Daerah adalah Kabupaten Pandeglang.
2. Pemerintah Daerah adalah Bupati beserta perangkat daerah sebagai
unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
3. Bupati adalah Bupati Pandeglang.
4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD,
adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pandeglang.
5. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah
perangkat daerah yang bertanggungjawab dan berwenang dalam
melaksanakan pengelolaan dan pemungutan retribusi daerah.
6. Pejabat adalah pegawai yang diberi tugas tertentu di bidang retribusi
daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

4
7. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan
kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun yang tidak
melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan
komanditer, perseroan lainnya, Badan usaha milik negara (BUMN), atau
Badan usaha milik daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apa
pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan,
yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, organisasi profesi
atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk Badan lainnya
termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
8. Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut Retribusi, adalah pungutan
Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang
khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk
kepentingan orang pribadi atau Badan.
9. Jasa adalah kegiatan Pemerintah Daerah berupa usaha dan pelayanan
yang menyebabkan barang, fasilitas, atau kemanfaatan lainnya yang
dapat dinikmati oleh orang pribadi atau Badan.
10. Jasa Usaha adalah jasa yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan
menganut prinsip-prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula
disediakan oleh sektor swasta.
11. Tanah adalah keseluruhan permukaan bumi yang tidak berupa air.
12. Bangunan adalah suatu perwujudan fisik arsitektur yang digunakan
sebagai wadah kegiatan manusia yang ditanam atau dilekatkan atau
melayang dalam suatu lingkungan secara tetap sebagian atau
seluruhnya pada, di atas atau di bawah permukaan tanah dan atau
perairan yang berupa bangunan.
13. Alat Berat adalah suatu benda/alat yang memiliki kapasitas bagi
pelaksanaan pekerjaan yang bersifat berat dan sulit dilakukan oleh
manusia.
14. Alat Angkutan adalah suatu benda/alat yang dipergunakan untuk
memindahkan suatu barang dari satu tempat ke tempat yang lain.
15. Alat bor dan penunjang lainnya adalah alat bor baik yang dalam maupun
dangkal dan alat lainnya seperti geolistrik, logging, GPS dan meter air.
16. Alat bor dalam adalah alat pengeboran dengan hasil lubang bor antara 6
inch – 10 inch dan kedalaman pengeboran antara 60 m – 150 m.
17. Alat bor dangkal adalah alat pengeboran dengan hasil lubang bor antara
2 inch – 4 inch dan kedalaman pengeboran sampai dengan 60 m.
18. Geolistrik adalah suatu alat untuk pengukuran tahanan jenis tanah dan
batuan.
19. Logging adalah suatu alat untuk mendapatkan formasi batuan pada
hasil lubang bor.
20. GPS (Global Position System) adalah suatu alat penentuan titik kordinat.
21. Meter air adalah suatu alat untuk mengukur volume pemakaian air.
22. Laboratorium adalah sarana ruangan atau fasilitas yang dipergunakan
sebagai alat penguji hasil suatu pekerjaan.
23. Kamar Kecil adalah suatu tempat atau ruangan yang diperuntukan bagi
keperluan pribadi orang.
24. Pangkalan Pendaratan Ikan yang selanjutnya disingkat PPI adalah
pelabuhan perikanan skala kecil yang merupakan tempat berlabuh atau
bertambatnya kapal/perahu perikanan guna mendaratkan hasil
tangkapannya, melakukan persiapan penangkapan ikan termasuk
perbekalan kapal, awak kapal, serta sebagai basis kegiatan produksi
pemasaran ikan, pengolahan hasil tangkapan, dan pembinaan
masyarakat nelayan.

5
25. Fasilitas PPI adalah sarana dan prasarana yang berfungsi untuk
memperlancar kegiatan pelayanan dan pembinaan kenelayanan.
26. Tempat Pelelangan Ikan yang selanjutnya disingkat TPI adalah tempat
yang ditentukan oleh Pemerintah Daerah untuk penjualan ikan secara
lelang dan berada di wilayah kerja pangkalan pendaratan ikan.
27. Penyelenggaraan Pelelangan Ikan adalah kegiatan untuk melaksanakan
pelelangan ikan di TPI mulai dari penerimaan, penimbangan, pelelangan,
sampai dengan pembayaran.
28. Nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan
penangkapan ikan.
29. Bakul adalah mereka yang membeli ikan secara lelang di TPI.
30. Etmal adalah satuan waktu yang digunakan dalam sistem pelayanan
yang setara dengan 24 (dua puluh empat) jam.
31. Trays adalah keranjang sebagai alat penyimpanan ikan.
32. Terminal adalah pangkalan Kendaraan Bermotor Umum yang digunakan
untuk mengatur kedatangan dan keberangkatan, menaikkan dan
menurunkan orang dan/atau barang, serta perpindahan moda
angkutan.
33. Kendaraan adalah suatu sarana angkut di jalan yang terdiri atas
Kendaraan Bermotor dan Kendaraan Tidak Bermotor.
34. Kendaraan Bermotor Umum adalah setiap Kendaraan yang digunakan
untuk angkutan barang dan/atau orang dengan dipungut bayaran.
35. Sepeda Motor adalah Kendaraan Bermotor beroda dua dengan atau
tanpa rumah-rumah dan dengan atau tanpa kereta samping atau
Kendaraan Bermotor beroda tiga tanpa rumah-rumah.
36. Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang bersifat
sementara.
37. Berhenti adalah keadaan Kendaraan tidak bergerak untuk sementara
dan tidak ditinggalkan pengemudinya.
38. Pengemudi adalah orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di
Jalan yang telah memiliki Surat Izin Mengemudi.
39. Tempat Parkir adalah tempat pemberhentian kendaraan di lokasi
tertentu baik di tepi jalan umum, gedung parkir, tempat khusus parkir,
pelataran parkir, atau bangunan umum di wilayah Kabupaten
Pandeglang yang diperuntukkan sebagai tempat parkir kendaraan.
40. Pelayanan Tempat Parkir Khusus adalah pelayanan penyediaan tempat
parkir yang khusus disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh
Pemerintah Daerah, tidak termasuk yang disediakan dan dikelola oleh
Badan Usaha Milik Daerah dan pihak swasta.
41. Sewa Parkir adalah pembayaran atas pemakaian tempat parkir yang
diselenggarakan oleh orang atau Badan.
42. Karcis Parkir adalah tanda bukti masuk tempat parkir dan atau bukti
pembayaran atas pemakaian tempat parkir.
43. Rumah Potong Hewan adalah suatu bangunan atau komplek bangunan
dengan desain tertentu yang digunakan sebagai tempat memotong
hewan selain unggas bagi konsumsi masyarakat luas.

6
44. Hewan adalah semua binatang yang hidup di darat baik yang dipelihara
maupun yang hidup secara liar.
45. Ternak adalah hewan peliharaan yang kehidupannya yakni mengenai
tempat, perkembangbiakannya serta manfaatnya diatur dan diawasi oleh
manusia serta dipelihara khusus sebagai penghasil bahan-bahan dan
jasa-jasa yang berguna bagi kepentingan hidup manusia.
46. Rumah Toko yang selanjutnya disebut Ruko adalah bangunan tetap di
dalam pasar berbentuk bangunan berlantai yang dapat digunakan selain
untuk tempat berdagang dapat pula digunakan untuk tempat tinggal.
47. Toko adalah bangunan tetap di dalam pasar berbentuk bangunan yang
dipisahkan satu dengan lainnya dengan dinding pemisah mulai dari
lantai sampai dengan langit-langit dan digunakan untuk tempat
berdagang.
48. Tempat Grosir dan/atau Pertokoan adalah pasar grosir berbagai jenis
barang dan fasilitas pasar/pertokoan yang dikontrakkan, yang
disediakan/diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah.
49. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau Badan yang menurut
peraturan perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan
pembayaran retribusi, termasuk pemungut atau pemotong retribusi
tertentu.
50. Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan
batas waktu bagi Wajib Retribusi untuk memanfaatkan jasa dan
perizinan tertentu dari Pemerintah Daerah.
51. Surat Setoran Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat SSRD,
adalah bukti pembayaran atau penyetoran retribusi yang telah dilakukan
dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke
kas daerah melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Bupati.
52. Surat Ketetapan Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat SKRD,
adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya jumlah
pokok retribusi yang terutang.
53. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar, yang selanjutnya
disingkat SKRDLB, adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan
jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi
lebih besar daripada retribusi yang terutang atau seharusnya tidak
terutang.
54. Surat Tagihan Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat STRD,
adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi
administratif berupa bunga dan/atau denda.
55. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah
data, keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan
profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji
kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi dan/atau untuk tujuan lain
dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan
dan retribusi daerah.
56. Penyidikan tindak pidana di bidang retribusi adalah serangkaian
tindakan yang dilakukan oleh Penyidik untuk mencari serta
mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak
pidana di bidang retribusi daerah yang terjadi serta menemukan
tersangkanya.
57. Kas Umum Daerah adalah Kas Pemerintah Daerah pada Bank yang
ditunjuk oleh Pemerintah Daerah.

7
BAB II

RETRIBUSI JASA USAHA

Bagian Kesatu

Jenis dan Golongan


Retribusi Jasa Usaha

Paragraf 1

Jenis Retribusi Jasa Usaha

Pasal 2

(1) Jenis Retribusi Jasa Usaha dalam Peraturan Daerah ini meliputi :
a. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah;
b. Retribusi Tempat Pelelangan;
c. Retribusi Terminal;
d. Retribusi Tempat Khusus Parkir;
e. Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa;
f. Retribusi Rumah Potong Hewan;
g. Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga;
h. Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah; dan
i. Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan.
(2) Jenis Retribusi Jasa Usaha selain yang diatur dalam Peraturan Daerah
ini ditetapkan dengan Peraturan Daerah tersendiri yang berpedoman
pada peraturan perundang-undangan.

Paragraf 2

Golongan Retribusi Jasa Usaha

Pasal 3

Setiap jenis Retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 digolongkan


sebagai Retribusi Jasa Usaha.

Bagian Kedua

Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah

Paragraf 1

Nama, Objek dan Subjek


Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah

Pasal 4

Dengan nama Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah dipungut retribusi


sebagai pembayaran atas pelayanan yang disediakan oleh pemerintah dalam
penggunaan atau pemanfaatan kekayaan Daerah.

8
Pasal 5

(1) Objek Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah adalah pemakaian atas


kekayaan Daerah yang meliputi tanah, bangunan, alat angkutan, alat
berat, alat besar, alat bor dan penunjang lainnya, alat dan mesin
pertanian serta alat lainnya, laboratorium/quality control, Klinik
Hewan/Puskeswan, kamar kecil, dan kawasan PPI beserta fasilitasnya.
(2) Dikecualikan dari pengertian pemakaian kekayaan Daerah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah penggunaan tanah yang
tidak mengubah fungsi dari tanah tersebut.

Pasal 6

Subjek Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah adalah orang pribadi atau


Badan yang menggunakan/menikmati pelayanan jasa atas pemakaian
kekayaan Daerah.

Paragraf 2

Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa


Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah

Pasal 7

Tingkat penggunaan jasa pada Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah


diukur berdasarkan jenis, lokasi, dan lamanya pemakaian kekayaan Daerah.

Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif


Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah

Pasal 8

Struktur dan besarnya tarif Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah


ditetapkan dengan rincian sebagaimana tercantum dalam Lampiran I dan
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Ketiga

Retribusi Tempat Pelelangan

Paragraf 1

Nama, Objek, dan Subjek


Retribusi Tempat Pelelangan

Pasal 9

Dengan nama Retribusi Tempat Pelelangan dipungut retribusi sebagai


pembayaran atas pelayanan penyediaan tempat pelelangan yang disediakan
oleh Pemerintah Daerah.

9
Pasal 10

(1) Objek Retribusi Tempat Pelelangan adalah penyediaan tempat


pelelangan yang secara khusus disediakan oleh Pemerintah Daerah
untuk melakukan pelelangan ikan termasuk jasa pelelangan serta
fasilitas lainnya yang disediakan di tempat pelelangan.
(2) Termasuk objek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah
tempat yang dikontrak oleh Pemerintah Daerah dari pihak lain untuk
dijadikan sebagai tempat pelelangan.
(3) Dikecualikan dari objek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah tempat pelelangan yang disediakan, dimiliki dan/atau dikelola
oleh BUMN, BUMD, dan pihak swasta.

Pasal 11

Subjek Retribusi Tempat Pelelangan adalah orang pribadi atau Badan yang
menggunakan/menikmati pelayanan penyediaan tempat pelelangan yang
disediakan oleh Pemerintah Daerah.

Paragraf 2

Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa


Retribusi Tempat Pelelangan

Pasal 12

Tingkat penggunaan jasa pada Retribusi Tempat Pelelangan diukur


berdasarkan nilai transaksi yang dilelang.

Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif


Retribusi Tempat Pelelangan

Pasal 13

Struktur dan besarnya tarif Retribusi Tempat Pelelangan ditetapkan sebesar


4 % (empat perseratus) dari nilai transaksi lelang.

Bagian Keempat

Retribusi Terminal

Paragraf 1

Nama, Objek dan Subjek


Retribusi Terminal

Pasal 14

Dengan nama Retribusi Terminal dipungut retribusi sebagai pembayaran


atas pelayanan penyediaan tempat parkir untuk kendaraan penumpang dan
bis umum, tempat kegiatan usaha, dan fasilitas lainnya di lingkungan
terminal.

10
Pasal 15

(1) Objek Retribusi Terminal adalah pelayanan penyediaan tempat parkir


untuk kendaraan penumpang dan bis umum, tempat kegiatan usaha,
dan fasilitas lainnya di lingkungan terminal, yang disediakan, dimiliki,
dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah.
(2) Dikecualikan dari objek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah terminal yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh
Pemerintah, BUMN, BUMD, dan pihak swasta.

Pasal 16

Subjek Retribusi Terminal adalah orang pribadi atau Badan yang


menggunakan/menikmati pelayanan penyediaan tempat parkir untuk
kendaraan penumpang dan bis umum, tempat kegiatan usaha, dan fasilitas
lainnya di lingkungan terminal.

Paragraf 2

Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa


Retribusi Terminal

Pasal 17

Tingkat penggunaan jasa pada Retribusi Terminal diukur berdasarkan jenis


kendaraan yang parkir di terminal dan waktu pemakaian.

Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif


Retribusi Terminal

Pasal 18

Struktur dan besarnya tarif Retribusi Terminal ditetapkan dengan rincian


sebagaimana tercantum dalam Lampiran II dan merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Kelima

Retribusi Tempat Khusus Parkir

Paragraf 1

Nama, Objek, dan Subjek


Retribusi Tempat Khusus Parkir

Pasal 19

Dengan nama Retribusi Tempat Khusus Parkir dipungut retribusi sebagai


pembayaran atas pelayanan tempat khusus parkir.

Pasal 20

(1) Objek Retribusi Tempat Khusus Parkir adalah pelayanan tempat


khusus parkir yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh
Pemerintah Daerah.

11
(2) Dikecualikan dari objek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah pelayanan tempat parkir yang disediakan, dimiliki, dan/atau
dikelola oleh Pemerintah, BUMN, BUMD, dan pihak swasta.

Pasal 21

Subjek Retribusi Tempat Khusus Parkir adalah orang pribadi atau Badan
yang menggunakan/menikmati pelayanan tempat khusus parkir.

Paragraf 2

Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa


Retribusi Tempat Khusus Parkir

Pasal 22

Tingkat penggunaan jasa pada Retribusi Tempat Khusus Parkir diukur


berdasarkan jenis kendaraan dan lamanya parkir.

Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif


Retribusi Tempat Khusus Parkir

Pasal 23

Struktur dan besarnya tarif Retribusi Tempat Khusus Parkir ditetapkan


dengan rincian sebagaimana tercantum dalam Lampiran III dan merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Keenam

Retribusi Tempat Penginapan/


Pesanggrahan/Villa

Paragraf 1

Nama, Objek, dan Subjek


Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa

Pasal 24

Dengan nama Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa dipungut


retribusi sebagai pembayaran atas pelayanan tempat
penginapan/Pesanggrahan/Villa.

Pasal 25

(1) Objek Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa adalah


pelayanan tempat penginapan/pesanggrahan/villa yang disediakan,
dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah.
(2) Dikecualikan dari objek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah pelayanan tempat penginapan/pesanggrahan/villa yang
disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah, BUMN, BUMD,
dan pihak swasta.

12
Pasal 26

Subjek Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa adalah orang


pribadi atau Badan yang menggunakan/menikmati pelayanan tempat
penginapan/Pesanggrahan/Villa.

Paragraf 2

Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa


Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa

Pasal 27

Tingkat penggunaan jasa pada Retribusi Tempat Penginapan /


Pesanggrahan /Villa diukur berdasarkan jenis fasilitas, jumlah kamar dan
jangka waktu pemakaian penginapan /pesanggrahan/villa.

Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif


Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa

Pasal 28

Struktur dan besarnya tarif Retribusi Tempat Penginapan / Pesanggrahan /


Villa ditetapkan ditetapkan sebesar Rp. 75.000,- (tujuh puluh lima ribu
rupiah) per unit/malam.

Bagian Ketujuh

Retribusi Rumah Potong Hewan

Paragraf 1

Nama, Objek, dan Subjek


Retribusi Rumah Potong Hewan

Pasal 29

Dengan nama Retribusi Rumah Potong Hewan dipungut retribusi sebagai


pembayaran atas pelayanan penyediaan fasilitas rumah pemotongan hewan
ternak.

Pasal 30

(1) Objek Retribusi Rumah Potong Hewan adalah pelayanan penyediaan


fasilitas rumah pemotongan hewan ternak termasuk pelayanan
pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dan sesudah dipotong, yang
disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah.
(2) Dikecualikan dari objek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah pelayanan penyediaan fasilitas rumah pemotongan hewan
ternak yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh BUMN, BUMD,
dan pihak swasta.

13
Pasal 31

Subjek Retribusi Rumah Potong Hewan adalah orang pribadi atau Badan
yang menggunakan/menikmati pelayanan penyediaan fasilitas rumah
pemotongan hewan ternak.

Paragraf 2

Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa


Retribusi Rumah Potong Hewan

Pasal 32

Tingkat penggunaan jasa pada Retribusi Rumah Potong Hewan berdasarkan


jenis pelayanan, jenis hewan ternak, dan jumlah ternak yang akan dipotong.

Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif


Retribusi Rumah Potong Hewan

Pasal 33

Struktur dan besarnya tarif Retribusi Rumah Potong Hewan ditetapkan


dengan rincian sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV dan merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Kedelapan

Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga

Paragraf 1

Nama, Objek, dan Subjek


Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga

Pasal 34

Dengan nama Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga dipungut retribusi


sebagai pembayaran atas pelayanan tempat rekreasi, pariwisata, dan
olahraga.

Pasal 35

(1) Objek Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga adalah pelayanan


tempat rekreasi, pariwisata, dan olahraga yang disediakan, dimiliki,
dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah.
(2) Dikecualikan dari objek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah pelayanan tempat rekreasi, pariwisata, dan olahraga yang
disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh Pemerintah, BUMN, BUMD,
dan pihak swasta.

Pasal 36

Subjek Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga adalah orang pribadi atau
Badan yang menggunakan/menikmati fasilitas tempat rekreasi, pariwisata,
dan olahraga.

14
Paragraf 2
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga
Pasal 37

Tingkat penggunaan jasa pada Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga


diukur berdasarkan jenis pengguna, frekuensi pemanfaatan serta jenis
tempat rekreasi dan olahraga.

Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif


Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga

Pasal 38

Struktur dan besarnya tarif Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga


ditetapkan dengan rincian sebagaimana tercantum dalam Lampiran V dan
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Kesembilan
Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah
Paragraf 1
Nama, Objek, dan Subjek
Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah
Pasal 39

Dengan nama Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah dipungut


retribusi atas penjualan hasil produksi usaha Pemerintah Daerah.

Pasal 40

(1) Objek Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah adalah penjualan


hasil produksi usaha Pemerintah Daerah.
(2) Dikecualikan dari objek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah penjualan produksi oleh Pemerintah, BUMN, BUMD, dan pihak
swasta.

Pasal 41

Subjek Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah adalah orang pribadi


atau Badan yang menggunakan/menikmati pelayanan hasil produksi usaha
Pemerintah Daerah.

Paragraf 2
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah

Pasal 42

Tingkat penggunaan jasa pada Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah


diukur berdasarkan jenis komoditi, ukuran, dan volume hasil produksi
usaha daerah yang dijual.

15
Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif


Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah

Pasal 43

Struktur dan besarnya tarif Retribusi Penjualan Produksi Daerah ditetapkan


dengan rincian sebagaimana tercantum dalam Lampiran VI dan merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Kesepuluh

Retribusi Pasar Grosir dan atau Pertokoan

Paragraf 1

Nama, Objek, dan Subjek


Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan

Pasal 44

Dengan nama Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan dipungut retribusi


atas penyediaan fasilitas pasar grosir berbagai jenis barang, dan fasilitas
pasar/pertokoan yang dikontrakkan, yang disediakan/diselenggarakan oleh
Pemerintah Daerah.

Pasal 45

(1) Objek Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan adalah penyediaan


fasilitas pasar grosir berbagai jenis barang, dan fasilitas
pasar/pertokoan yang dikontrakkan, yang disediakan/diselenggarakan
oleh Pemerintah Daerah.

(2) Dikecualikan dari objek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah fasilitas pasar yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh
BUMN, BUMD, dan pihak swasta.

Pasal 46

Subjek Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan adalah orang pribadi atau
Badan yang menggunakan/menikmati pelayanan penyediaan fasilitas pasar
grosir berbagai jenis barang, dan fasilitas pasar/pertokoan yang
dikontrakkan, yang disediakan/diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah.

Paragraf 2

Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa


Retribusi Pasar Grosir dan atau Pertokoan

Pasal 47

Tingkat penggunaan jasa pada Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan


diukur berdasarkan luas dan jenis bangunan serta jenis penggunaan
fasilitas Pasar Grosir dan/atau Pertokoan.

16
Paragraf 3

Struktur dan Besarnya Tarif


Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan

Pasal 48

Struktur dan besarnya tarif Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan


ditetapkan dengan rincian sebagaimana tercantum dalam Lampiran VII dan
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

BAB III

PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN


STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI

Pasal 49

(1) Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif Retribusi Jasa Usaha
didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak.
(2) Keuntungan yang layak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah
keuntungan yang diperoleh apabila pelayanan jasa usaha tersebut
dilakukan secara efisien dan berorientasi pada harga pasar.

BAB IV

WILAYAH PEMUNGUTAN

Pasal 50

Retribusi Jasa Usaha dipungut di wilayah Daerah.

BAB V

SAAT RETRIBUSI TERUTANG

Pasal 51

Saat Retribusi terutang adalah pada saat diterbitkannya SKRD atau SSRD.

BAB VI

PEMUNGUTAN RETRIBUSI JASA USAHA

Bagian Kesatu

Tata Cara Pemungutan, Tata Cara pembayaran


Sanksi Administratif dan Tata Cara Penagihan

Paragraf 1

Tata Cara Pemungutan

Pasal 52

(1) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain


yang dipersamakan.
(2) Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat berupa karcis, kupon, dan kartu langganan.

17
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk dan isi SKRD atau dokumen
lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
dengan Peraturan Bupati.

Paragraf 2

Tata Cara Pembayaran

Pasal 53

(1) Pembayaran retribusi harus dilakukan secara tunai.


(2) Pembayaran retribusi dilakukan di Kas Umum Daerah atau tempat lain
yang ditunjuk sesuai dengan SKRD.
(3) Seluruh hasil penerimaan retribusi disetor ke Kas Umum Daerah sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Dalam hal pembayaran dilakukan di tempat lain yang ditunjuk, maka
hasil penerimaan Daerah dari retribusi tersebut harus disetor ke Kas
Umum Daerah selambat-lambatnya 1 x 24 jam.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemungutan retribusi
termasuk tata cara pembayaran, penyetoran, tempat pembayaran, dan
angsuran serta penundaan pembayaran retribusi diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Bupati.

Paragraf 3

Sanksi Administrasi

Pasal 54

Dalam hal Wajib Retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau
kurang membayar, dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar
2% (dua persen) setiap bulan dari retribusi yang terutang atau kurang
bayar.

Paragraf 4

Tata Cara Penagihan

Pasal 55

(1) Penagihan retribusi terutang yang tidak atau kurang bayar dilakukan
dengan menggunakan STRD.
(2) Penagihan retribusi terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
didahului dengan Surat Teguran.
(3) Pengeluaran Surat Teguran/Peringatan/Surat lain yang sejenis sebagai
awal tindakan pelaksanaan penagihan retribusi dikeluarkan segera
setelah 15 (lima belas) hari sejak jatuh tempo pembayaran.
(4) Dalam jangka waktu 15 (lima belas) hari setelah tanggal Surat
Teguran/Peringatan/Surat Lain yang sejenis, Wajib Retribusi harus
melunasi Retribusinya yang terutang.
(5) Surat Teguran/Peringatan/Surat lain yang sejenis sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh Pejabat yang ditunjuk.
(6) Tata cara penagihan dan penerbitan surat teguran/peringatan/surat lain
yang sejenis diatur dengan Peraturan Bupati.

18
Bagian Kedua

Pemanfaatan

Pasal 56

(1) Pemanfaatan dari penerimaan masing-masing jenis Retribusi


diutamakan untuk mendanai kegiatan yang berkaitan langsung dengan
penyelenggaraan pelayanan yang bersangkutan.
(2) Ketentuan mengenai alokasi pemanfaatan penerimaan Retribusi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan
Bupati.

Bagian Ketiga

Keberatan

Pasal 57

(1) Wajib Retribusi tertentu dapat mengajukan keberatan hanya kepada


Bupati atau pejabat yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang
dipersamakan.
(2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan
disertai alasan-alasan yang jelas.
(3) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga)
bulan sejak tanggal SKRD diterbitkan, kecuali jika Wajib Retribusi
tertentu dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat
dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya.
(4) Keadaan di luar kekuasaannya sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
adalah suatu keadaan yang terjadi di luar kehendak atau kekuasaan
Wajib Retribusi.
(5) Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar Retribusi
dan pelaksanaan penagihan Retribusi.

Pasal 58

(1) Bupati dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal
Surat Keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan
yang diajukan dengan menerbitkan Surat Keputusan Keberatan.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah untuk
memberikan kepastian hukum bagi Wajib Retribusi, bahwa keberatan
yang diajukan harus diberi keputusan oleh Bupati.
(3) Keputusan Bupati atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya
atau sebagian, menolak, atau menambah besarnya Retribusi yang
terutang.
(4) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat
dan Bupati tidak memberi suatu keputusan, keberatan yang diajukan
tersebut dianggap dikabulkan.

Pasal 59

(1) Jika pengajuan keberatan dikabulkan sebagian atau seluruhnya,


kelebihan pembayaran Retribusi dikembalikan dengan ditambah
imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 12
(dua belas) bulan.
(2) Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung sejak
bulan pelunasan sampai dengan diterbitkannya SKRDLB.

19
BAB VII

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN

Pasal 60

(1) Atas kelebihan pembayaran Retribusi, Wajib Retribusi dapat


mengajukan permohonan pengembalian kepada Bupati.
(2) Bupati dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan, sejak
diterimanya permohonan pengembalian kelebihan pembayaran
Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus memberikan
keputusan.
(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) telah
dilampaui dan Bupati tidak memberikan suatu keputusan,
permohonan pengembalian pembayaran Retribusi dianggap dikabulkan
dan SKRDLB harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1
(satu) bulan.
(4) Apabila Wajib Retribusi mempunyai utang Retribusi lainnya, kelebihan
pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) langsung
diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang Retribusi
tersebut.
(5) Pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan
sejak diterbitkannya SKRDLB.
(6) Jika pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi dilakukan setelah
lewat 2 (dua) bulan, Bupati memberikan imbalan bunga sebesar 2%
(dua persen) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan
pembayaran Retribusi.
(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengembalian kelebihan
pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
dengan Peraturan Bupati.

BAB VIII

KADALUWARSA PENAGIHAN

Pasal 61

(1) Hak untuk melakukan penagihan Retribusi menjadi kadaluwarsa


setelah melampaui waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat
terutangnya Retribusi, kecuali jika Wajib Retribusi melakukan tindak
pidana di bidang Retribusi.
(2) Kadaluwarsa penagihan Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tertangguh jika:
a. diterbitkan Surat Teguran; atau
b. ada pengakuan utang Retribusi dari Wajib Retribusi, baik langsung
maupun tidak langsung.
(3) Dalam hal diterbitkan Surat Teguran sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf a, kadaluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal diterimanya
Surat Teguran tersebut.
(4) Pengakuan utang Retribusi secara langsung sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf b adalah Wajib Retribusi dengan kesadarannya
menyatakan masih mempunyai utang Retribusi dan belum
melunasinya kepada Pemerintah Daerah.

20
(5) Pengakuan utang Retribusi secara tidak langsung sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf b dapat diketahui dari pengajuan
permohonan angsuran atau penundaan pembayaran dan permohonan
keberatan oleh Wajib Retribusi.

Pasal 62

(1) Piutang Retribusi yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk
melakukan penagihan sudah kadaluwarsa dapat dihapuskan.
(2) Bupati menetapkan Keputusan Penghapusan Piutang Retribusi Daerah
yang sudah kadaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penghapusan piutang
Retribusi yang sudah kadaluwarsa diatur dengan Peraturan Bupati.

BAB IX

PEMBUKUAN DAN PEMERIKSAAN

Pasal 63

(1) Bupati berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan


pemenuhan kewajiban Retribusi dalam rangka melaksanakan
peraturan perundang-undangan tentang Retribusi Daerah.
(2) Wajib Retribusi yang diperiksa wajib:
a. Memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan,
dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang
berhubungan dengan objek Retribusi yang terutang;
b. Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan
yang dianggap perlu dan memberikan bantuan guna kelancaran
pemeriksaan; dan/atau
c. Memberikan keterangan yang diperlukan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan Retribusi diatur
dengan Peraturan Bupati.

BAB X

PENINJAUAN KEMBALI TARIF


RETRIBUSI JASA USAHA

Pasal 64

(1) Tarif Retribusi ditinjau kembali paling lama 3 (tiga) tahun sekali.
(2) Peninjauan tarif Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dengan memperhatikan indeks harga dan perkembangan
perekonomian.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan tarif Retribusi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Bupati.

BAB XI

INSENTIF PEMUNGUTAN

Pasal 65

(1) Instansi yang melaksanakan pemungutan Retribusi dapat diberi


insentif atas dasar pencapaian kinerja tertentu.

21
(2) Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian dan pemanfaatan
insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengacu pada ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB XII

PENYIDIKAN

Pasal 66

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah


diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan
penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah, sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
(2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Pejabat Pegawai
Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah yang diangkat
oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(3) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
a. Menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau
laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang Retribusi
Daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih
lengkap dan jelas;
b. Meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang
pribadi atau Badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan
sehubungan dengan tindak pidana Retribusi Daerah;
c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau Badan
sehubungan dengan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah;
d. Memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan
tindak pidana di bidang Retribusi Daerah;
e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti
pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain, serta melakukan
penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;
f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas
penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah;
g. Menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan
ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung
dan memeriksa identitas orang, benda, dan/atau dokumen yang
dibawa;
h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana Retribusi
Daerah;
i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa
sebagai tersangka atau saksi;
j. Menghentikan penyidikan; dan/atau
k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan
tindak pidana di bidang Retribusi Dearah sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(4) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan
dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada
Penuntut Umum melalui Penyidik pejabat Polisi Negara Republik
Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang
Hukum Acara Pidana.

22
BAB XIII

KETENTUAN PIDANA

Pasal 67

Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan


keuangan Daerah diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau
pidana denda paling banyak 3 (tiga) kali jumlah Retribusi terutang yang
tidak atau kurang dibayar.

Pasal 68

Denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 merupakan penerimaan


Negara.

BAB XIV

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 69

Pada saat Peraturan Daerah ini berlaku, Retribusi yang masih terutang
berdasarkan Peraturan Daerah tentang Retribusi Jasa Usaha masih dapat
ditagih selama jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak saat terutang.

BAB XVI

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 70

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku:


1. Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 1 Tahun 2000 tentang
Retribusi Tempat Rekreasi sebagaimana diubah terakhir dengan
Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2003 tentang Perubahan atas
Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 1 Tahun 2000 Tentang
Retribusi Tempat Rekreasi (Lembaran Daerah Kabupaten Pandeglang
Tahun 2003 Nomor 57 Seri C.1);
2. Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 6 Tahun 2000 tentang
Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten
Pandeglang Tahun 2000 Nomor 8 Seri B.6), sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 17
Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten
Pandeglang Nomor 6 Tahun 2000 tentang Retribusi Kekayaan Daerah
(Lembaran Daerah Kabupaten Pandeglang Tahun 2007 Nomor 17);
3. Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 12 Tahun 2001
tentang Retribusi Pasar Grosir dan atau Pertokoan yang diperuntukan
bagi Penyelenggaraan Pelelangan Ikan (Lembaran Daerah Kabupaten
Pandeglang Tahun 2001 Nomor 13 Seri B.7);
4. Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 7 Tahun 2004 tentang
Pemanfaatan Kepelabuhanan (Lembaran Daerah Kabupaten Pandeglang
Tahun 2004 Nomor 16 Seri E.2);
5. Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 9 Tahun 2004 tentang
Retribusi Jasa Pelayanan Kapal (Lembaran Daerah Kabupaten
Pandeglang Tahun 2004 Nomor 18 Seri C.3);

23
6. Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 19 Tahun 2007
tentang Retribusi Terminal (Lembaran Daerah Kabupaten Pandeglang
Tahun 2007 Nomor 19);
7. Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 20 Tahun 2007
tentang Retribusi Parkir (Lembaran Daerah Kabupaten Pandeglang
Tahun 2007 Nomor 20);
8. Peraturan Daerah Kabupaten Pandeglang Nomor 9 Tahun 2008 tentang
Retribusi Rumah Potong Hewan, Pemakaian Kandang, Pemeriksaan
Ternak dan Daging (Lembaran Daerah Kabupaten Pandeglang Tahun
2009 Nomor 9);
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 71

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.


Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah
Kabupaten Pandeglang.

Ditetapkan di Pandeglang
pada tanggal 30 Desember 2011

BUPATI PANDEGLANG,

Cap/t.t.d

ERWAN KURTUBI

Diundangkan di Pandeglang
pada tanggal 30 Desember 2011

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG,

Cap/t.t.d

DODO DJUANDA
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG TAHUN 2011 NOMOR 11
Lan. Retribusi Jasa Usaha

24
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG
NOMOR 11 TAHUN 2011
TENTANG

RETRIBUSI JASA USAHA

I. UMUM
Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah, Pemerintah Daerah berhak mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahannya untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan
kepada masyarakat.
Untuk menyelenggarakan pemerintahan di Daerah, Pemerintah Daerah
berhak mengenakan pungutan kepada masyarakat. Pelaksanaan
pemungutan Retribusi Daerah di daerah harus ditetapkan dalam suatu
Peraturan Daerah yang mengacu kepada ketentuan Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Berbeda dengan Pajak Daerah yang bersifat close list, bagi Retribusi
masih dibuka peluang untuk dapat menambah jenis retribusi selain
yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sepanjang memenuhi kriteria yang
ditetapkan dalam Undang-Undang tersebut dan Peraturan Pemerintah
yang merupakan peraturan pelaksanaannya. Adanya peluang untuk
menambah jenis Retribusi dengan Peraturan Pemerintah juga
dimaksudkan untuk mengantisipasi penyerahan fungsi pelayanan dan
perizinan dari Pemerintah kepada Daerah yang juga diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
Pemerintah Daerah memiliki hak untuk mengenakan pungutan kepada
orang pribadi atau Badan atas jasa usaha tertentu yang disediakan atau
diberikan oleh Pemerintah Daerah dengan tujuan untuk memperoleh
keuntungan yang layak.
Dari 11 (sebelas) jenis Retribusi Jasa Usaha dalam Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2009, Pemerintah Daerah hanya memungut 9
(sembilan) jenis Retribusi Jasa Usaha yang diatur dalam Peraturan
Daerah ini. Sedangkan 2 (dua) jenis Retribusi Jasa Usaha lainnya yaitu
Retribusi Pelayanan kepelabuhanan dan Retribusi Tempat Penyebrangan
di Air belum diatur dalam Peraturan Daerah ini.
Dalam Peraturan Daerah ini, terdapat 1 (satu) jenis retribusi jasa usaha
yang baru yang didasarkan pada Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009
yaitu Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan.
Semula pengaturan mengenai Retribusi Jasa Usaha masih tersebar
dalam beberapa Peraturan Daerah (satu jenis Retribusi jasa Usaha diatur
dalam satu Peraturan Daerah). Saat ini, pengaturan mengenai Retribusi
Jasa Usaha diintegrasikan dalam satu Peraturan Daerah saja yaitu
Peraturan Daerah tentang Retribusi Jasa Usaha.

25
II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.

Pasal 2
Cukup jelas.

Pasal 3
Cukup jelas.

Pasal 4
Cukup jelas.

Pasal 5
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “alat lainnya” adalah antara lain
asphalt mixing plant.

Ayat (2)
Penggunaan tanah yang tidak mengubah fungsi dari tanah,
antara lain pemancangan tiang listrik/telepon atau
penanaman/pembentangan kabel listrik/telepon di tepi jalan umum.

Pasal 6
Cukup jelas.

Pasal 7
Cukup jelas.

Pasal 8
Cukup jelas.

Pasal 9
Cukup jelas.

Pasal 10
Cukup jelas.

Pasal 11
Cukup jelas.

Pasal 12
Cukup jelas.

Pasal 13
Cukup jelas.

Pasal 14
Cukup jelas.

Pasal 15
Cukup jelas.

Pasal 16
Cukup jelas.

26
Pasal 17
Cukup jelas.

Pasal 18
Cukup jelas.

Pasal 19
Cukup jelas.

Pasal 20
Cukup jelas.

Pasal 21
Cukup jelas.

Pasal 22
Cukup jelas.

Pasal 23
Cukup jelas.

Pasal 24
Cukup jelas.

Pasal 25
Cukup jelas.

Pasal 26
Cukup jelas.

Pasal 27
Cukup jelas.

Pasal 28
Cukup jelas.

Pasal 29
Cukup jelas.

Pasal 30
Cukup jelas.

Pasal 31
Cukup jelas.

Pasal 32
Cukup jelas.

Pasal 33
Cukup jelas.

Pasal 34
Cukup jelas.

Pasal 35
Cukup jelas.

27
Pasal 36
Cukup jelas.

Pasal 37
Cukup jelas.

Pasal 38
Cukup jelas.

Pasal 39
Hasil produksi usaha Pemerintah Daerah, antara lain bibit atau
benih tanaman, bibit ternak, dan bibit atau benih ikan.

Pasal 40
Cukup jelas.

Pasal 41
Cukup jelas.

Pasal 42
Cukup jelas.

Pasal 43
Cukup jelas.

Pasal 44
Cukup jelas.

Pasal 45
Cukup jelas.

Pasal 46
Cukup jelas.

Pasal 47
Cukup jelas.

Pasal 48
Cukup jelas.
Pasal 49
Cukup jelas.

Pasal 50
Cukup jelas.

Pasal 51
Cukup jelas.

Pasal 52
Cukup jelas.

Pasal 53
Cukup jelas.

28
Pasal 54
Cukup jelas.

Pasal 55
Cukup jelas.

Pasal 56
Cukup jelas.

Pasal 57
Cukup jelas.

Pasal 58
Cukup jelas.

Pasal 59
Cukup jelas.

Pasal 60
Cukup jelas.

Pasal 61
Cukup jelas.

Pasal 62
Cukup jelas.

Pasal 63
Cukup jelas.

Pasal 64
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Dalam hal besarnya tarif retribusi yang telah ditetapkan dalam
Peraturan Daerah perlu disesuaikan karena biaya penyediaan
layanan cukup besar dan/atau besarnya tarif tidak efektif lagi untuk
mengendalikan permintaan layanan tersebut, Bupati dapat
menyesuaikan tarif retribusi.

Pasal 65
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “instansi yang melaksanakan pemungutan”
adalah dinas/Badan/lembaga yang tugas pokok dan fungsinya
melaksanakan pemungutan Retribusi.

Ayat (2)
Pemberian besarnya insentif dilakukan melalui pembahasan yang
dilakukan oleh Pemerintah Daerah dengan alat kelengkapan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah yang membidangi masalah keuangan.

Ayat (3)
Cukup jelas.

29
Pasal 66
Cukup jelas.

Pasal 67
Cukup jelas.

Pasal 68
Cukup jelas.

Pasal 69
Cukup jelas.

Pasal 70
Cukup jelas.

Pasal 71
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG NOMOR 6

30
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1. Identitas Pribadi:

Nama : DONI WINARNO

Tempat Tanggal Lahir: Pandeglang 15 Maret 1992

Jenis Kelamin : Laki-laki

Kewarganegaraan : Indonesia

Agama : Islam

E-mail : vccawr@gmail.com

Phone : 087809941673

2. Riwayat Pendidikan:
SD : SDN Gombong 3
SMP : SMPN 1 Panimbang
SMA : SMAN 6 Pandeglang