Sie sind auf Seite 1von 10

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Lahirnya Teori Konflik
Teori konflik yang lahir sampai saat ini adalah merupakan karya-karya besar dari para
ahli seperti yang diungkapkan oleh Jessi Bernard dalam bukunya The Sociological of Conflict
yakni terbit pada tahun 7957, Lewis Coser dengan bukunya The Function of Social Conflict
terbit pada tahun 1956 dan Ralf Dahrendorf dengan bukunya Class and Claas Conflict in
Industrial Society terbit pada tahun 1957. Teori konflik merupakan bagian dari Teori
Sosiologi Modern, yakni para penganut Teori Sosiologis Naturalis. Perlu diketahui bahwa
para pencetus dahulu yakni para penganut Aliran Naturalis terdahulu sering terikat pada ide
yang memandang sosiologi sebagai suatu ilmu seperti halnya dengan ilmu-ilmu Alam adalah
ilmu. Diantara para ahli sosiologi Naturalis terdapat mereka yang menggunakan ilmu fisika
dan biologi sebagai model, maupun mereka yang terikat pada kesatuan semua ilmu, yakni
Ilmu Alam dan Ilmu Sosial, tanpa membedakan kedudukan setiap ilmu satu sama lain. Catton
(1961), telah mengakui bahrva fisikalisme (menggabungkan Sosiologi dengan Ilmu Kimia
Fisika dan mekanisme menggunakan prinsip-prinsip fisika mekanik untuk membantu
menjelaskan fenonema sosial) sesuai dengan Aliran sosiologi Natural. Ia lebih jauh
menyaksikan pengaruh kuat kaum empiris di dalam sosiologi Naturalis dengan tekanan pada
data yang dapat diuji. Oleh karena itu salah satu ciri yang paling penting dalam aliran
naturalis adalah keyakinan bahwa fenomena sosial telah memiliki pola naturalis adalah
keyakinan bahwa fenomena sosial telah memiliki pola dan tunduk pada hukum-hukum
dengan deterministis seperti layaknya hukum-hukum suatu pencarian hukum-hukum yang
sama dengan Hukum Gravitasi dan Hukum Kepadatan Materi dalam Ilmu Fisika Pendekatan
pada teori seperti ini paling tidak telah melahirkan tuntutan akan batasan Teori Sosiologi yang
sederhana tetapi tepat.
Richard Rudher, seorang ahli filsafat ilmu mendefinisikan Teori sebagai seperangkat
pernyataan yang secaxa sistematis berhubungan termasuk beberapa generalisasi yang
memiliki kemiripan sebagai hukum, yang dapat diuji secara empiris. Batasan demikian
membutuhkan batasan konsen variabel setepat-tepatnya yang kemudian akan melahirkan
pernyataan-pernyataan atau proporsi-proporsi yang saling berkaitan satu sama lain untuk
membentuk suatu teori ilmiah.
Hanya setelah diperiksa dalam berbagai pengujian dan secara empiris ternyata benar,
barulah teori itu dapat diangkat ke dunia Hukum Ilmiah. Definisi Teori Rudner ini menuntut
pembahasan lebih cepat bilamana kita ingin memahami hakekat teori Natural, khususnya
mengenai pembatasan konsep, pembentukan proposisi dan keterkaitan dalam teori. unit dasar
teori ini adalah konsep atau variabel sosiologis yang memberikan dasar pengujian empiris.
Emile Durkhein Ahli Sosiologi yang menghasilkan karya klasik yang menjadi dasar tumpuan
Teori Naturalis, menyebut konsep tersebut sebagai fakta sosial. Suatu fakta sosial adalah
suatu konsep yang memiliki empiris di luar imajinasi seseorang. Bagi Durkheim fakta sosial
meliputi antara status perkawinan, usia, agama, kondisi ekonomi, tingkat bunuh diri bisa naik
atau turun, status seseorang bisa belum kawin atau sudah kawin. Fakta sosial atau konkrit
seperti itu tentu dapat diamati. Konsep-konsep variabel dari para ahli sosiologi tersebut adalah
merupakan dasar bagi pembentukan teori pada aliran Teori Naturalis telah terikat pada
ketepatan konstruksi teori namun terdapat keragaman derajat keterikatan. oleh karena itu
secaxa singkat dapat dikatakan bahwa teori Naturalis dapat bertemu pada Citra Ilmu Alam,
lalu bagaimana dengan lahirnya Teori Konflik? Misalnya seperti tokoh-tokoh klasik pada
abad ke-19 telah memberi perhatian besar pada teori Konflik. Tokoh-tokoh Darwinisme
Sosial misalnya telah melukiskan kehidupan bersama dengan memakai istilah Struggle for
live and Survival of the Fiftes. Vilfredo Pareto telah menerangkan pergolakan dunia politik
sebagai akibat mekanis pertentangan antara dua tipe individu yang disebut The Lions and rhe
Foxes, yang secara bergilir menunggu kesempatan untuk berkuasa. W.G. Summer telah
menciptakan konsep kerjasama yang antagonistis yang diandalkan mewakili inti hakekat
masyarakat. Dalam abad yang lalu juga Karl Marx sebagai yang dikutip oleh K.J. veger
(1993), memahami kehidupan manusia yakni pada kehidupan sosial budaya ditentukan oleh
adanya dua kelas sosial yang terlibat dalam proses produksi, yang kaum industriawan yang
mengontrol alat-alat produksi, dan kaum proletariat yang diandalkan hanya berhak melahirkan
keturunan. Pada awalnya abad ini C.H. Simmel, dan Max weber, masih tetap menarik
perhatian pada gejala konflik, yang nampaknya tak mungkin terhindarkan, namun memainkan
peranan positif dalam memperhatikan masyarakat dan memupuk rasa persafuan. Tetapi
sesudah mereka kata konflik tidak terdengar lagi kecuali dalam arti negatif. Paradigma atau
bagan masyarakat yang mengarahkan dan menuntun kebanyakan sosiolog sampai dengan
dasawarsa keenam, masih menempatkan konsep pada kesesuaian paham atau konsensus
sedangkan konflik dapat dianggap sebagai penyakit masyarakat seperti apa yar.g
dikemukakan oleh Talcot Parsons. Iklim sosial telah berubah dengan tepat. Di satu pihak apa
yang lazim disebut Dunia Barat mengalami perkembangan ekonomi dan tingkat kemakmuran
yang tak ada bandingnya. Sementara negara-negara baru merdeka menggugat kapitalisme
Barat dan bertanggung jawab atas kemiskinan dan keterbelakangan. Oleh karena itu dentuman
seperti kata Imperialisme dan Neo Kolonialisme Amerika Serikat misalnya telah melibatkan
diri dalam perang Vietnam. Para kulit hitam di Amerika Serikat mengamuk untuk menentang
deskriminasi. Peristiwa Little Rock misalnya telah menyadarkan orang bahwa penolakan
anak-anak negro dari sekolah-sekolah negeri bersifat anti konstitusional. Lalu dengan adanya
pergulatan ini maka lahirnya sebuah teori baru yakni teori konflik. Studi tentang lahirnya teori
konflik seperti yang dikemukakan oleh Lewis A. Coser bahwa para ahli sosiologi sebelumnya
(klasik) justru selalu mengabaikan studi tentang konflik. Coser dalam membahas teorinya,
yakni seorang berkebangsaan Amerika menyatakan pemahaman tentang konflik sebagai
kesadaran yang tercermin dalam semangat pembaharuan masyarakat. Albion Amall dan
George E. Vincen sebagai pengarang terkenal buku teks pertama Sosiologi Amerika, misalnya
mencerminkan orientasi pembaharuan sosiologi ketika menulis sosiologi dilahirkan dalam
semangat modern untuk memperbaiki masyarakat. Akan tetapi para ahli sosiologi
kontemporer telah mengabaikan analisa konflik sosial, sebagai implicit melihatnya sebagai
destruktil atau patologi bagi kelompok sosial. Coser selanjutnya memilih menunjukkan
berbagai sumbangan konflik yang secara potensial positif untuk membentuk serta
mempertahankan struktur. Dia melalcukan hal ini dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan
yang berhubungan dengan konflik sosial, seperti kuryu George Simmel yang sudah diuraikan
sebelumnya. Konflik adalah salah satu bentuk sosiologiyarrg dibahas oleh Simmel. Konflik
merupakan bentuk interaksi dimana tempat waktu seperti intensitas dan merupakan bentuk
interaksi dimana tempat, waktu dan intensitas dan sebagainya tunduk pada perubahan,
sebagaimana dapat dilihat dalam isi segitiga yang telah berubah (dalam Aliran Geometri)
Coser mengambil pemahaman atau buah karya dari Simmel dan memodifikasi proporsi dan
memperluas konsep Simmel dalam mengembangkan kondisikondisi dimana konflik secara
positif membantu struktural sosial dan bila terjadi secara negatif akan memperlemah kerangka
masyarakat. Bukan saja Lewis Coser yang tidak puas dengan mengabaikan konflik dalam
pembentukan Teori Sosiologi Moder, tetapi juga Ralf Dahrendrof seorang Sosiolog Jerman
pada tahun 1957-1958 berkunjung ke Amerika Serikat telah menyadur kembali teori kelas dan
konflik kelas ke dalam Bahasa Inggris. Seperti Coser, Dahrendrof merupakan seorang
pengkritik fungsional struktural tradisional oleh karena gagal memahami masalah perubahan
sosial. Sebagai landasan teorinya Dehrendrof tidak menggunakan teori Simmel melainkan
membangun teorinya dengan setengah penolakan, separuh permintaan dan modifikasi teori
sosiologi Karl Marx. Dahrendrof melihat teori konflik sebagai teori parsial, menganggap teori
itu merupakan perspektif yang dapat dipakai untuk menganalisa fenomena sosial Dahrendrof
menganggap masyarakat berisi ganda, memiliki sisi konflik dan sisi kerjasama (kemudian dia
menyempurnakan posisi ini dengan menyatakan bahwa segala sesuatu yang dapat dianalisa
dengan fungsionalisme struktural dapat pula dianalisa dengan teori konflik. Dia menegaskan
bahwa proses konflik sosial merupakan kunci bagi struktural sosial.1

2.2 Teori Konflik Ralf Dahrendorf


Teori konflik dibangun dalam rangka menentang secara langsung terhadap teori
fungsionalisme struktural. Oleh karena itu tidak heran apabila proposisi yang dikemukakan
oleh penganut teori ini bertentangan dengan proposisi yang terdapat dalam teori
fungsionalisme struktural.
Kalau menurut teori fungsionalisme struktural masyarakat berada dalam kondisi statis
atau tepatnya bergerak dalam kondisi keseimbangan, maka menurut teori konflik malah hal
sebaliknya. Masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai oleh
pertentangan yang terus menerus diantara unsur-unsurnya. Kalau menurut teori
fungsionalisme struktural setiap elemen atau setiap institusi memberikan dukungan terhadap
stabilitas maka teori konflik melihat bahwa setiap elemen memberikan sumbangan terhadap
disintegrasi sosial. Teori konflik menilai keteraturan yang terdapat dalam masyarakat
hanyalah disebabkan karena adanya tekanan atau pemaksaan kekuasaan dari atas oleh
golongan yang berkuasa.
Konsep sentral dari teori ini adalah wewenang dan posisi. Keduanya merupakan fakta
sosial. Distribusi kekuasaan dan wewenang secara tidak merata tanpa kecuali menjadi faktor
yang menentukan konflik sosial secara sistematis. Perbedaan wewenang adalah suatu tanda
dari adanya berbagai posisi dalam masyarakat.
Kekuasaan dan wewenang senantiasa menempatkan individu pada posisi atas dan
posisi bawah dalam setiap struktur. Karena wewenang itu adalah sah, maka setiap individu
yang tidak tunduk terhadap wewenang yang ada akan terkena sanksi. Dengan demikian
Dahrendorf menyebut masyarakat sebagai persekutuan yang terkoordinasi secara paksa
(imperatively coordinated associations).2

2.3 Kelompok Semu dan Kelompok Kepentingan


Teori Dahrendorf tidak hanya dapat diterapkan pada tingkat kemasyarakatan.
Dahrendorf memberikan contoh penerapannya pada tingkat organisasi; yakni dalam sebuah
organisasi industri. Ia menyatakan bahwa perusahaan industri adalah sebuah kelompok

1
Selvie M. Tumengkol, Teori Sosiologi Suatu Perspektif tentang Teori Konflik dalam Masyarakat Industri,
(Manado, 2012), hal 1-5 diakses melalui http://repo.unsrat.ac.id/627/1/KARYA_ILMIAH_TUMENGKOL6.pdf.
2
George Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, (Jakarta: CV Rajawali, 1985), hal 30-31.
kekuasaan (an imperatively coordinated group) karena perusahaan ini mempunyai hirarki
kekuasaan yang ditandai oleh buruh di bawah (tingkat kekuasaan terendah) dan beberapa
tingkat pimpinan (manajemen) di atasnya. Kekuasaan manajemen adalah sah dan
dipertahankan melalui beberapa sanksi (penurunan pangkat, pemecatan). Karena itu konflik
kepentingan yang melekat antara manajer dan buruh.3
Dahrendorf membedakan golongan yang terlibat konflik menjadi dua tipe, yaitu
kelompok semu (quasi group) dan kelompok kepentingan (interest group). Kelompok semu
merupakan kumpulan dari para pemegang kekuasaan atau jabatan dengan kepentingan yang
sama yang terbentuk karena munculnya kelompok kepentingan. Kelompok kepentingan
terbentuk dari kelompok semu yang lebih luas. Kelompok kepentingan mempunyai struktur,
organisasi, program, tujuan, serta anggota yang jelas. Kelompok kepentingan inilah yang
menjadi sumber nyata timbulnya konflik dalam masyarakat.
Imperatively Coordinated Associations (ICAs) muncul melalui suatu proses sosiologis
yang sistematis. Pada kondisi awal dalam suatu wilayah sosial, seperti sebuah perusahaan,
mereka yang berada pada posisi subordinat atau sebagai the ruled class menyadari
ketertindasan mereka namun mereka masih belum memiliki kepentingan untuk mengubah
posisi subordinat itu. Pada dasarnya mereka hanya memiliki kepentingan semu (latent
interest). Kepentingan semu berada di level individu, tersimpan di bawah sadar. Namun
kepentingan semu ini tersebar pada mereka yang merasa ditindas sebagai kelompok
subordinasi. Sehingga menciptakan kelompok semu pula (quasi groups).
Kepentingan-kepentingan semu dari kelompok semu ini menjadi kepentingan nyata
(manifest interest) tatkala terdapat proses penyadaran yang dilakukan oleh beberapa orang
yang terlebih dahulu mengerti kepentingan yang harus diperjuangkan. Mereka menciptakan
kelompok yang benar-benar sadar pada kepentingan bersama dan perlu diperjuangkan. Proses
ini menumbuhkan bentuk kesadaran pada kepentingan yang nyata, yaitu lepas dari
ketertindasan. Pada fase inilah terjadi proses pembentukan kelompok teroganisir, kelompok
kepentingan (interest groups), (ICAs)yang siap melakukan gerakan perlawanan terhadap
posisi dominan kelompok terorganisisr lainnya. Seperti kelompok terorganisir buruh terhadap
kelompok terorganisir pengusaha.
Dahrendorf berpendapat bahwa konsep-konsep seperti kepentingan nyata dan
kepentingan laten, kelompok kepentingan dan kelompok semu, posisi dan wewenang
merupakan unsur-unsur dasar untuk dapat menerangkan bentuk-bentuk dari konflik. Di bawah

3
Robert H. Lauer, Perspektif tentang Perubahan Sosial, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1993), hal 282.
kondisi ideal, tidak ada lagi variabel lain yang diperlukan untuk dapat menerangkan sebab-
sebab timbulnya konflik sosial. Dalam kondisi yang tidak ideal masih terdapat beberapa
faktor yang dapat berpengaruh dalam proses terjadinya konflik sosial. Diantaranya kondisi
teknik dengan personal yang cukup, kondisi politik dengan suhu yang normal, kondisi sosial
dengan adanya rantai komunikasi. Faktor lain menyangkut cara pembentukan kelompoksemu.
Kalau pembentukannya cukup acak serta benar-benar ditentukan oleh keempatan maka
konflik kelompok tidak akan muncul.
Namun Dahrendorf memberi beberapa kondisi sosiologis agar formasi kelompok
kepentingan laten bisa menjadi kelompok kepentingan manifest, yaitu: 1) dalam kelompok
laten terdapat pemimpin yang berani dengan hubungan konflik; 2) kelompok memiliki
ideologi konflik; 3) para anggota kelompok laten memiliki kebebasan untuk mengorganisasi
konflik. Refleksikan kondisi pada masa orde baru; 4) memiliki anggota-anggota yang
komitmen dan berkomunikasi di antara sesama.
Resolusi dalam konflik kelompok-kelompok itu adalah redistribusi kekuasaaan, atau
wewenang, kemudian mejadikan konflik itu sebagai sumber dari perubahan dalam sistem
sosial. Selanjutnya,sekelompok peran baru memegang kunci kekuasaan dan wewenang dan
yang lainnya dalam posisi di bawahnya yang diatur. Redistribusi kekuasaan dan wewenang
merupakan pelembagaan dari kelompok peranan baru yang mengatur (ruling class) versus
peranan yang diatur (ruled class), yaitu dalam kondisi khusus kontes perebutan wewenang
yang akan kembali muncul dengan inisiatif kelompok kepentingan yang ada, dan dengan
situasi kondisi yang bisa berbeda. Sehingga kenyataan sosial merupakan siklus tak berakhir
dari adanya konflik wewenang dalam bermacam-macam tipe kelompok terkoordinasi dari
sistem sosial.4
Dahrendorf menyebut teori konfliknya sebagai sosiologi konflik dialektis yang
menjelaskan proses terus-menerus distribusi kekuasaan dan wewenang diantara kelompok-
kelompok terkoordinasi (ICAs). Sehingga kenyataan sosial, bagi Dahrendorf, merupakan
siklus tak berakhir dari adanya terkoordinasi dari sistem sosial.
Menurut Dahrendorf, konflik sosial mempunyai sumber struktural, yakni hubungan
kekuasaan yang berlaku dalam struktur organisasi sosial. Dengan kata lain, konflik antar
kelompok dapat dilihat dari sudut konflik tentang keabsahan hubungan kekuasaan yang ada.
Kekuasaan dalam masyarakat modern dan industrial bisa diterjemahkan sebagai
wewenang (authority). Model kekuasaan Dahrendorf ini tampaknya dipengaruhi oleh tipe

4
Novri Susan, Sosiologi Konflik &Isu-isu Konflik Kontemporer, (Jakarta: Kencana, 2009), hal 48-52.
ideal kekuasaan dari Max Weber yang menyebut wewenang legal formal sebagai sumber
kekuasaan masyarakat modern. Sedangkan Dahrendorf melihat wewenang sebagai berikut:
1. Relasi wewenang, yaitu selalu relasi-relasi antara super dan subordinasi.
2. Di mana ada relasi-relasi wewenang, kelompok-kelompok superordinasi selalu diharapkan
mengontrol perilaku kelompok-kelompok subordinasi melalui permintaan dan perintah
serta peringatan dan larangan.
3. Berbagai harapan tertanam relatif permanen dalam posisi sosial dari pada karakter
individual.
4. Dengan keberadaan fakta ini (kekuasaan superordinasi) mereka selalu melibatkan
spesifikasi subjek-subjek perorangan untuk mengontrol dan spesifikasi dari ruang sosial
yang memungkinkan pengontrolan dilakukan.
5. Wewenang menjadi hubungan terlegitimasi, tanpa protes dengan perintah-perintah
otoritatif dapat diberi sanksi.
Saat kekuasaan merupakan tekanan (koersif) satu sama lain kekuasaan dalam
hubungan kelompok-kelompok terkoordinasi ini memeliharanya menjadi sebuah legitimasi
dan oleh sebab itu, dapat dilihat sebagai hubungan otoritas, beberaa posisi mempunyai hak
normatif untuk menentukan atau memperlakukan yang lain. Tatanan sosial menurut
Dahrendorf dipelihara oleh proses penciptaan hubungan-hubungan wewenang dalam
bermacam-macam tipe kelompok terkoordinasi yang ada hingga seluruh lapisan sistem sosial.
kekuasaan dan wewenang adalah sumber langka yang membuat kelompok-kelompok saling
bersaing dan berkelahi. Dahrendorf menyebut teorinya ini sebagai teori koersi struktur sosial.
Teori konflik Dahrendorf adalah mata rantai antara konflik dan perubahan sosial.
Dahrendorf mengatakan bahwa terdapat hubungan erat antara konflik dan perubahan sosial :
“seluruh kreatifitas, inovasi, dan perkembangan dalam kehidupan indvidu, kelompoknya, dan
masyarakatnya disebabkan terjadinya konflik antara kelompok dan kelompok, individu dan individu,
serta antara emosi dan emosi di dalam diri individu.”5
Inti pemikiran Dahrendorf terkandung dalam empat proposisi berikut:
1. Setiap masyarakat dalam segala hal tunduk pada proses perubahan; perubahan sosial
terjadi di mana saja.
2. Setiap masyarakat dalam segala hal memperlihatkan ketidaksesuaian dan konflik; konflik
sosial terdapat di mana saja.
3. Setiap unsur dalam satu masyarakat memberikan kontribusi terhadap perpecahan dan
perubahannya.
5
Robert H. Lauer, Perspektif tentang Perubahan Sosial, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1993), hal 281.
4. Setiap masyarakat berdasarkan atas penggunaaan kekerasan oleh sebagaian anggotanya
terhadap anggota yang lain.6
Konflik memimpin kearah perubahan dan pembangunan. Karena dalam situasi konflik
golongan yang terlibat konflik melakukan tindakan perubahan dalam struktur sosial. Kalau
konfliknya hebat, maka yang terjadi adalah perubahan secara radikal. Bila konfliknya disertai
kekerasan, maka perubahan struktur akan efektif. Dahrendorf melihat masyarakat selalu
dalam kondisi konflik dengan mengabaikan norma-norma dan nilai yang berlaku umum yang
menjamin terciptanya keseimbangan dalam masyarakat.7
Menurut Dahrendorf, konflik hanya muncul melalui relasi-relasi sosial dalam sistem.
Setiap individu atau kelompok yang tidak berhubungan dalam sistem tidak akan mungkin
terlibat konflik. Dahrendorf menyebutnya sebagai “integrated into a common frame of
reference”. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa unit analisis dalam sosiologi konflik adalah
keterpaksaan yang menciptakan organisasi-organisasi sosial bisa bersama sebagai sistem
sosial. Hal ini berlawanan dari tradisi fungsionalisme struktural yang melihat unit analisis
sosiologi adalah konsensus diantara berbagai organisasi sosial sehingga memungkinkan
berbagai kerjasama.8
Dahrendorf memahami relasi-relasi dalam struktur sosial ditentukan oleh kekuasaan.
Ia mendefinisikan kekuasaan sebagai kemungkinan bahwa satu aktor dalam suatu hubungan
tanpa melihat dari asar kemungkinan itu menyerah.

2.4 Bentuk-bentuk Konflik


Secara garis besar berbagai konflik dalam masyarakat dapat diklasifikasikan ke dalam
beberapa bentuk konflik berikut ini :
a. Berdasarkan sifatnya
Berdasarkan sifatnya, konflik dapat dibedakan menjadi konflik destruktuif dan konflik
konstruktif.
1. Konflik Destruktif
Merupakan konflik yang muncul karena adanya perasaan tidak senang, rasa benci dan
dendam dari seseorang ataupun kelompok terhadap pihak lain. Pada konflik ini terjadi
bentrokan-bentrokan fisik yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan harta benda seperti
konflik Poso, Ambon, Kupang, Sambas, dan lain sebagainya.

6
Robert H. Lauer, Perspektif tentang Perubahan Sosial, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1993), hal 281.
7
Wirawan, Teori-teori Sosial Dalam Tiga Paradigma, (Jakarta: Kencana, 2012), hlm. 89.
8
Novri Susan, Sosiologi Konflik &Isu-isu Konflik Kontemporer, (Jakarta: Kencana, 2009), hal 49
2. Konflik Konstruktif
Merupakan konflik yang bersifat fungsional, konflik ini muncul karena adanya perbedaan
pendapat dari kelompok-kelompok dalam menghadapi suatu permasalahan. Konflik ini
akan menghasilkan suatu konsensus dari berbagai pendapat tersebut dan menghasilkan
suatu perbaikan. Misalnya perbedaan pendapat dalam sebuah organisasi.9
b. Berdasarkan Posisi Pelaku yang Berkonflik
1. Konflik Vertikal
Merupakan konflik antar komponen masyarakat di dalam satu struktur yang memiliki
hierarki. Contohnya, konflik yang terjadi antara atasan dengan bawahan dalam sebuah
kantor.
2. Konflik Horizontal
Merupakan konflik yang terjadi antara individu atau kelompok yang memiliki kedudukan
yang relatif sama. Contohnya konflik yang terjadi antar organisasi massa.
3. Konflik Diagonal
Merupakan konflik yang terjadi karena adanya ketidakadilan alokasi sumber daya ke
seluruh organisasi sehingga menimbulkan pertentangan yang ekstrim. Contohnya konflik
yang terjadi di Aceh.10
Soerjono Soekanto membagi konflik sosial menjadi lima bentuk yaitu:
1. Konflik atau pertentangan pribadi, yaitu konflik yang terjadi antara dua individu atau lebih
karena perbedaan pandangan dan sebagainya.
2. Konflik atau pertentangan rasial, yaitu konflik yang timbul akibat perbedaan-perbedaan
ras.
3. Konflik atau pertentangan antara kelas-kelas sosial, yaitu konflik yang terjadi disebabkan
adanya perbedaan kepentingan antar kelas sosial.
4. Konflik atau pertentangan politik, yaitu konflik yang terjadi akibat adanya kepentingan
atau tujuan politis seseorang atau kelompok.
5. Konflik atau pertentangan yang bersifat internasional, yaitu konflik yang terjadi karena
perbedaan kepentingan yang kemudian berpengaruh pada kedaulatan negara.11
Sementara itu, Ralf Dahrendorf mengatakan bahwa konflik dapat dibedakan atas
empat macam, yaitu sebagai berikut :
1. Konflik antara atau yang terjadi dalam peranan sosial, atau biasa disebut dengan konflik

9
Dr. Robert H. Lauer, Perspektif Tentang Perubahan Sosial, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2001), hal.98
10
Kusnadi, Masalah Kerja Sama, Konflik dan Kinerja, (Malang : Taroda, 2002), hal. 67.
11
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar,(Jakarta: Rajawali Pers, 1992), hal.86.
peran. Konflik peran adalah suatu keadaan di mana individu menghadapi harapan-harapan
yang berlawanan dari bermacam-macam peranan yang dimilikinya.
2. Konflik antara kelompok-kelompok sosial.
3. Konflik antara kelompok-kelompok yang terorganisir dan tidak terorganisir.
4. Konflik antara satuan nasional, seperti antar partai politik, antar negara, atau organisasi
internasional.12

12
Dr. Robert H. Lauer, Perspektif Tentang Perubahan Sosial, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2001), hal.102