You are on page 1of 54

Perdarahan Otak

(Brain Hemorrhage)

Perdarahan otak (brain hemorrhage) adalah tipe stroke. Ia disebabkan oleh arteri dalam otak
yang pecah dan menyebabkan perdarahan lokal pada jaringan-jaringan sekelilingnya. Perdarahan
ini membunuh sel-sel oatk.
Sumber Yunani untuk darah adalah hemo. Hemorrhage secara harafiah berarti "meledaknya
darah terus menerus". Brain hemorrhages juga disebut cerebral hemorrhages, intracranial
hemorrhages, atau intracerebral hemorrhages. Mereka bertanggung jawab untuk kira-kira
13% dari stroke-stroke. Direktur pemenang Oscar dari The English Patient Anthony Minghella,
President Franklin D. Roosevelt, dan aktor Richard Burton semuanya meninggal karena perdarahan
otak (brain hemorrhages).

Apa Yang Terjadi Selama Perdarahan Otak (Brain


Hemorrhage) ?
Ketika darah dari trauma mengiritasi jaringan-jaringan otak, ia menyebabkan pembengkakan. Ini
dikenal sebagai cerebral edema. Darah yang bersatu terkumpul kedalam massa yang
disebut hematoma. Kondisi-kondisi ini meningkatkan tekanan pada jaringan otak yang
berdekatan, dan itu mengurangi aliran darah yang vital dan membunuh sel-sel otak.
Perdarahan dapat terjadi didalam otak, antara otak dan selaput-selaput yang menutupinya, antara
lapisan-lapisan dari penutup otak atau antara tengkorak dan penutup dari otak.

Peny/ebab Perdarahan Otak (Brain Hemorrhage)


Ada beberapa faktor-faktor risiko dan penyebab-penyebab dari perdarahan otak (brain
hemorrhages). Yang paling umum termasuk:
 Trauma kepala. Luka adalah penyebab yang paling umum dari perdarahan dalam otak
pada mereka yang berumur dibawh 50 tahun.
 Tekanan darah tinggi. Kondisi kronis ini dapat, melalui periode waktu yang panjang,
melemahkan dinding-dinding pembuluh darah. Tekanan darah tinggi yang tidak dirawat
adalah penyebab utama yang dapat dicegah dari perdarahan otak (brain hemorrhages).
 Aneurysm. Ini adalah pelemahan pada dinding pembuluh darah yang membengkak. Ia
dapat pecah dan berdarah kedalam otak, menjurus pada stroke.
 Kelainan-kelainan pembuluh darah. Kelemahan-kelemahan pada pembuluh-pembulh
darah di dan sekitar otak mungkin hadir pada waktu kelahiran dan terdiagnosa hanya jika
gejala-gejala berkembang.
 Amyloid angiopathy. Ini adalah ketidaknormalan dari dinding-dinding pembuluh darah
yang adakalanya terjadi dengan penuaan. Ia mungkin menyebabkan banyak perdarahan-
perdarahan yang kecil dan tidak terasa sebelum menyebabkan yang besar.
 Penyakit-penyakit darah atau perdarahan. Hemophilia dan anemia sel sabit dapat
keduanya berkontribusi pada tingkat-tingkat yang berkurang dari platelet-platelet darah.
 Penyakit hati. Kondisi ini berhubungan dengan perdarahan umum yang meningkat.
 Tumor-tumor otak.

Gejala-Gejala Dari Perdarahan Otak (Brain Hemorrhage)


Gejala-gejala dari perdarahan otak (brain hemorrhage) dapat berbeda-beda. Mereka tergantung
pada lokasi perdarahan, keparahan perdarahan, dan jumlah jaringan yang terpengaruh. Gejala-
gejala mungkin berkembang secara tiba-tiba atau melalui waktu. Mereka mungkin memburuk
secara progresif atau nampak secara tiba-tiba.
Jika anda menunjukan apa saja dari gejala-gejala yang berikut, anda mungkin mempunyai
perdarahan otak (brain hemorrhage). Ini adalah kondisi yang mengancam nyawa, dan anda harus
memanggil 911 atau pergi ke ruang darurat segera. Gejala-gejala termasuk:
 sakit kepala parah yang tiba-tiba
 serangan-serangan (seizures) dengan tidak ada sejarah serangan-serangan sebelumnya
 kelemahan pada lengan atau tungkai
 mual atau muntah
 kesiap siagaan yang berkurang; kelesuan
 perubahan-perubahan pada penglihatann
 kesemutan atau mati rasa
 kesulitan berbicara atau mengerti pembicaraan
 kesulitan menelan
 kesulitan menulis atau membaca
 kehilangan ketrampilan-ketrampilan motor yang halus, seperti gemetaran-gemetaran
tangan
 kehilangan koordinasi
 kehilangan keseimbangan
 rasa selera yang abnormal
 kehilangan kesadaran
Ingat bahwa banyak dari gejala-gejala ini seringkali disebabkan oleh kondisi-kondisi yang lain
daripada perdarahan otak (brain hemorrhages).

Merawat Perdarahan Otak (Brain Hemorrhage)


Sekali anda mengunjungi dokter, ia dapat menentukan bagian mana dari otak yang terpengaruh
berdasarkan pada gejala-gejala anda.
Dokter-dokter mungkin menjalankan kebaragaman dari tes-tes pencitraan (imaging), seperti CT
scan, yang dapat mengungkap perdarahan internal atau akumulasi darah, atau MRI. Pemeriksaan
neurological atau pemeriksaan mata, yang dapat menunjukan pembengkakan dari syaraf optik,
mungkin juga dilakukan. Tes-tes darah dan lumbar puncture (spinal tap) mungkin juga
diperlukan.
Perawatan untuk perdarahan dalam otak tergantung pada lokasi, penyebab, dan luas dari
perdarahan (hemorrhage). Operasi mungkin diperlukan untuk meredakan pembengkakan dan
mencegah perdarahan. Obat-obat tertentu mungkin juga diresepkan. Ini
termasuk painkillers (penghilang nyeri), corticosteroids ataudiuretics untuk mengurangi
pembengkakan, dan anticonvulsants untuk mengontrol seizures (serangan-serangan). Produk-
produk darah atau cairan-cairan intravena mungkin dimasukan jika diperlukan.

Dapatkah Orang-Orang Sembuh Dari Perdarahan Otak Dan


Ada Kenmungkinan Komplikasi-Komoplikasi ?
Berapa baik seorang pasien merespon pada perdarahan otak (brain hemorrhage) tergantung pada
ukuran dari perdarahan dan jumlah pembengkakan.
Beberapa pasien-pasien sembuh sepenuhnya. Kemungkinan komplikasi-komplikasi termasuk
stroke, kehilangan fungsi otak, atau efek-efek sampingan dari obat-obat atau perawatan-
perawatan. Kematian adalah mungkin, dan mungkin terjadi dengan cepat meskipun dengan
perawatan medik yang segera.

Dapatkah Perdarahan Otak (Brain Hemorrhage) Dicegah ?


Karena mayoritas dari perdarahan otak (brain hemorrhages) berhubungan dengan faktor-faktor
risiko yang spesifik, anda dapat mengecilkan risiko anda dalam cara-cara yang berikut:
 Rawat hipertensi. Studi-studi menunjukan bahwa 80% dari pasien-pasien cerebral
hemorrhage mempunyai sejarah tekanan darah tinggi. Hal tunggal yang paling penting
yang anda dapat lakukan adalah dengan mengontrol melalui diet, latihan (olahraga), dan
pengobatan.
 Jangan merokok.
 Jangan menggunakan obat-obat terlarang. Cocaine dapat meningkatkan risiko
perdarahan dalam otak.
 Mengemudi secara hati-hati, dan pakai sabuk pengaman anda.
 Jika anda mengendarai motor, selalu memakai helm.
 Selidiki operasi yang memperbaiki. Jika anda menderita kelainan-kelainan, seperti
aneurysms, operasi mungkin membantu mencegah perdarahan masa depan.
 Hati-hati dengan Coumadin. Jika anda memakai warfarin, follow up secara teratur
dengan dokter anda untuk memastikan tingkat-tingkat darah anda berada pada batasan
yang benar.
http://www.totalkesehatananda.com/brainhemorrhage3.html

TRAUMA KEPALA
BY
AMBO DALLE
HEAD INJURY
Trauma pada kepala dapat menyebabkan fraktur pada tengkorak dan trauma jaringan lunak / otak
atau kulit seperti kontusio / memar otak, edema otak, perdarahan atau laserasi, dengan derajat yang
bervariasi tergantung pada luas daerah trauma.
Tipe trauma kepala
Trauma kepala terbuka
Trauma kepala tertutup (Komusio serebri/Gegar otak, Kontusio serebri /Memar otak, Perdarahan
sub dural, Perdarahan Intraserebral )
Trauma kepala terbuka
Trauma kepala ini menyebabkan fraktur tulang tengkorak dan laserasi duramater. Kerusakan otak
dapat terjadi bila tulang tengkorak menusuk otak
Fraktur longitudinal sering menyebabkan kerusakan pada meatus akustikus interna, foramen
jugularis dan tuba eustachius. Setelah 2-3 hari akan tampak battle sign (warna biru dibelakang
telinga diatas os mastoid) dan otorrhoe (liquor keluar dari telinga). Perdarahan dari telinga dengan
trauma kepala hampir selalu disebabkan oleh retak tulang dasar tengkorak.
Fraktur basis tengkorak tidak selalu dapat dideteksi oleh foto rontgen, karena terjadi sangat dasar.
Tanda-tanda klinik yang dapat membantu mendiagnosa adalah :
Battle sign ( warna biru/ekhimosis dibelakang telinga di atas os mastoid )
Hemotipanum ( perdarahan di daerah gendang telinga )
Periorbital ecchymosis ( mata warna hitam tanpa trauma langsung )
Rhinorrhoe ( liquor keluar dari hidung )
Otorrhoe ( liquor keluar dari telinga)
Komplikasi
Komplikasi pada trauma kepala terbuka adalah infeksi, meningitis dan perdarahan / serosanguinis.
Trauma kepala tertutup
Komusio serebri ( Gegar otak )
Merupakan bentuk trauma kapitis ringan, dimana terjadi pingsan (kurang dari 10 menit ). Gejala
lain mungkin termasuk pusing, noda-noda didepan mata dan linglung
Kontusio serebri (Memar otak )
Merupakan perdarahan kecil / ptechie pada jaringan otak akibat pecahnya pembuluh darah kapiler.
Hal ini bersama-sama dengan rusaknya jaringan saraf atau otak yang akan menimbulkan edema
jaringan otak di daerah sekitarnya
Berdasarkan atas lokasi benturan, lesi dibedakan atas koup kontusio dimana lesi terjadi pada sisi
benturan, dan tempat benturan. Pada kepala yang relatif diam biasanya terjadi lesi koup, sedang bila
kepala dalam keadaan bebas bergerak akan terjadi kontra koup.
Gejala perdarahan epidural yang klasik atau temporal berupa kesadaran yang makin menurun,
disertai oleh anisokoria pada mata ke sisi dan mungkin terjadi hemiparese kontralateral. SEdangkan
perdarahan epidural di daerah frontal dan parietal atas tidak memberikan gejala khas selain
penurunan kesadaran (biasanya somnolen) yang tidak membaik setelah beberapa hari.
Perdarahan sub dural
Merupakan perdarahan antara duramater dan arakhnoid, yang biasanya meliputi perdarahan vena.
Perdarahan subdural dibedakan atas akut, subakut, dan kronis
Perdarahan subdural akut sering dihubungkan dengan cedera otak besar dan cedera batang otak.
Tanda-tanda akan gejala klinis berupa sakit kepala, perasaan kantuk, dan kebingungan, respon yang
lambat, dan gelisah. Keadaan kritis terlihat dengan adanya perlambatan reaksi ipsilateral pupil.
Perdarahan subdural subakut, biasanya berkembang 7 sampai 10 hari setelah cedera dan
dihubungkan dengan kontusio serebri yang agak berat. Tekanan serebral yang terus-menerus
menyuebabkan penurunan tingkat kesadaran yang dalam
Perdarahan subdural kronik, terjadi karena luka ringan. Mulanya perdarahan kecil memasuki ruang
subdural. Beberapa minggu kemudian menumpuk di sekitar membran vaskuler dan pelan-pelan
meluas. Gejala mungkin tidak terjadi dalam beberapa mingggu atau bulan. Keadaan ini pada proses
yang lama akan terjadi penurunan reaksi pupil dan motorik.
Perdarahan Intraserebral
Merupakan penumpukan darah pada jaringan otak. Perdarahan mungkin menyertai contra coup
phenomenon. Kebanvalan dihubungkan dengan kontusio dan terjadi dalam area frontal dan tem-
poral. Akibat adanya substansi darah dalam jaringan otak akan menimbulkan edema otak. Gejala
neurologik tergantung dari ukuran dan lokasi perdarahan.
Patofisiologi
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang
dihasilkan di dalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak punya
cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan
gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak,
tidak boleh kurang dari 20 mg%, karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25%
dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70% akan
terjadi gejala-gejala permulaan disfungsi serebral.
Faktor kardiovaskuler
Trauma kepala menyebabkan perubahan fungsi jantung mencakup aktivitas atipikal miokardial,
perubahan tekanan vaskuler dan edema paru.
Tidak adanya stimulus endogen saraf simpatis mempengaruhi penurunan kontraktilitas ventrikel. Hal
ini menyebabkan penurunan curah jantung dan meningkatkan tekanan atrium kiri. Akibatnya tubuh
berkompensasi dengan meningkatkan tekanan sistolik. Pengaruh dari adanya peningkatan tekanan
atrium kiri adalah terjadinya edema paru.
Faktor Respiratori
Adanya edema paru pada trauma kepala dan vasokonstriksi paru atau hipertensi paru menyebabkan
hiperpnoe dan bronkokonstriksi
Konsentrasi oksigen dan karbon dioksida mempengaruhi aliran darah. Bila PO2 rendah, aliran darah
bertambah karena terjadi vasodilatasi. Penurunan PCO2, akan terjadi alkalosis yang menyebabkan
vasokonstriksi (arteri kecil) dan penurunan CBF (cerebral blood fluid).
Edema otak ini menyebabkan kematian otak (iskemik) dan tingginya tekanan intra kranial (TIK) yang
dapat menyebabkan herniasi dan penekanan batang otak atau medulla oblongata.
Faktor metabolisme
Pada trauma kepala terjadi perubahan metabolisme seperti trauma tubuh lainnya yaitu
kecenderungan retensi natrium dan air dan hilangnya sejumlah nitrogen
Retensi natrium juga disebabkan karena adanya stimulus terhadap hipotalamus, yang menyebabkan
pelepasan ACTH dan sekresi aldosteron.
Faktor gastrointestinal
Trauma kepala juga mempengaruhi sistem gastrointestinal. Setelah trauma kepala (3 hari) terdapat
respon tubuh dengan merangsang aktivitas hipotalamus dan stimulus vagal. Hal ini akan merangsang
lambung menjadi hiperasiditas.
Faktor psikologis
Selain dampak masalah yang mempengaruhi fisik pasien, trauma kepala pada pasien adalah suatu
pengalaman yang menakutkan. Gejala sisa yang timbul pascatrauma akan mempengaruhi psikis
pasien. Demikian pula pada trauma berat yang menyebabkan penurunan kesadaran dan penurunan
fungsi neurologis akan mempengaruhi psikososial pasien dan keluarga.
Pemeriksaan diagnostik
X-Ray tengkorak
CT-Scan
Angiografi
Penatalaksanaan medis
pada trauma kepala
Dexamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral, dosis sesuai dengan berat
ringannya trauma.
Therapi hiperventilasi (trauma kepala berat). Untuk mengurangi vasodilatasi.
Pemberian analgetika.
Pengobatan anti edema dengan larutan hipertonis yaitu manitol 20% atau glukosa 40% atau gliserol
10%.
Antibiotika yang mengandung barrier darah otak (penisilin) atau untuk infeksi anaerob diberikan
metronidazole
Makanan atau cairan. Pada trauma ringan bila muntah-muntah tidak dapat diberikan apa-apa, hanya
cairan infus dextrosa 5%, aminofusin, aminofel (18 jam pertama dari terjadinya kecelakaan), 2-3 hari
kemudian diberikan makanan lunak.
Pembedahan.
Pada trauma berat, hari-hari pertama (2-3 hari), tidak terlalu banyak cairan. Dekstrosa 5% 8 jam
pertama, ringer dekstrose 8 jam kedua dan dekstrosa 5% 8 jam ketiga. Pada hari selanjutnya bila
kesadaran rendah, makanan diberikan melalui nasogastric tube (2500-3000 TKTP). Pemberian
protein tergantung nilai urea N.

PATOFISIOLOGI TRAUMA KEPALA DAN DAMPAK


PADA SISTEM TUBUH LAINNYA
Posted on 02:46 komentar (2)
Label: Materi Kuliah Keperawatan
PATOFISIOLOGI
Jika terjadi trauma kepala dengan kekuatan/gaya akeselereasi, deselerasi dan rotatorik akan
menimbulkan lesi atau perdarahan di berbagai tempat sehingga timbul gejala deficit neurologist
berupa babinski yang positif dan GCS kurang dari 15 (Sindrom Otak Organik).
Dari trauma kepala tersebut juga bisa terjadi pergerakan, penekanan dan pengembangan gaya
kompresi yang destruktif sehingga otak akan membentang batang otak dengan sangat kuat dan
terjadi blokade reversible terhadap lintasan assendens retikularis difus serta berakibat otak tidak
mendapatkan input afferent yang akhirnya kesadaran hilang selama blockade tersebut
berlangsung. Dari trauma kepala tersebut juga bisa berdampak pada sistem tubuh yang lainnya.

DAMPAK PADA SISTEM TUBUH LAINNYA


1. Sistem Kardiovaskuler
Trauma kepala bisa menyebabkan perubahan fungsi jantung mencakup aktivitas atipikal
miokardial, perubahan tekanan vaskuler dan edema paru. Perubahan otonom pada fungsi
ventrikel adalah perubahan gelombang T, P dan disritmia, vibrilisi atrium serta ventrikel
takhikardia. Akiba t adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana
penurunan tekanan vaskuler pembuluh darah arteriol berkontraksi. Aktivitas myokard berubah
termasuk peningkatan frekuensi jantung dan menurunnya stroke work dimana pembacaan
pembacaan CVP abnormal. Tidak adanya stimulus endogen saraf simpatis mempengaruhi
penurunan kontraktilitas ventrikel. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya penurunan curah jantung
dan meningkatkan atrium kiri, sehingga tubuh akan berkompensasi dengan meningkatkan
tekanan sistolik. Pengaruh dari adanya peningkatan tekanan atrium kiri adalah terjadinya edema
paru.

2. Sistem Respirasi
Adanya edema paru pada trauma kepala dan vasokonstriksi paru atau hipertensi paru
menyebabkan hiperapneu dan bronkho kontriksi. Terjadinya pernafasan chynestoke
dihubungkan dengan adanya sensitivitas yang menigkat pada mekanisme terhadap
karbondioksida dan episode pasca hiperventilasi apneu. Konsenterasi oksigen dan
karbondioksida dalam darah arteri mempengaruhi aliran darah. Bila tekanan oksigen rendah,
aliran darah bertambah karena terjadi vasodilatasi, jika terjadi penurunan tekanan
karbondioksida akan menimbulkan alkalosis sehingga terjadi vasokontriksi dan penurunan CBF
(Cerebral Blood Fluid). Bila tekanan karbondioksida bertambah akibat gangguan sistem
pernafasan akan menyebabkan asidosis dan vasodilatasi. Hal tersebut menyebabkan
penambahan CBF yang kemudian terjadi peningkatan tingginya TIK.
Edema otak akibat trauma adalah bentuk vasogenik. Pada kontusio otak terjadi robekan pada
pembuluh kapiler atau cairan traumatic yang mengandung protein yang berisi albumin. Albumin
pada cairan interstisial otak normal tidak didapatkan. Edema otak terjadi karena penekanan
pembuluh darah dan jaringan sekitarnya. Edema otak ini dapat menyebabkan kematian otak
(iskemia) dan tingginya TIK yang dapat menyebabkan terjadinya herniasi dan penekanan batang
otak atau medula oblongata. Akibat penekanan pada medulla oblongata menyebabkan
pernafasan ataksia dimana ditandai dengan irama nafas tidak teratur atau pola nafas tidak
efektif.
3. Sistem Genito-Urinaria
Pada trauma kepala terjadi perubahan metabolisme yaitu kecenderungan retensi natrium dan air
serta hilangnya sejumlah nitrogen.
Haluaran Urin sedikit dan Meningkatnya konsentrasi elektrolit. Retensi Cairan  Pelepasan
ADH Trauma
Retensi natrium juga disebabkan karena adanya stimulus terhadap hipotalamus, yang
menyebabkan pelepasan ACTH dan sekresi aldosteron. Ginjal mengambil peran dalam proses
hemodinamik ginjal untuk mengatasi retensi cairan dan natrium. Setelah tiga sampai 4 hari
retensi cairan dan natrium mulai berkurang dan pasca trauma dapat timbul hiponatremia. Untuk
itu, selama 3-4 hari tidak perlu dilakukan pemberian hidrasi. Hal tersebut dapat dilihat dari
haluaran urin. Pemeberian cairan harus hati – hati untuk mencegah TTIK. Demikian pula
sangatlah penting melakukan pemeriksaan serum elektrolit. Hal ini untuk mengantisipasi agar
tiadk terjadi kelainan pada kardiovaskuler.
Peningkatan hilangnya nitrogen adalah signifikan dengan respon metabolic terhadap trauma,
karena dengan adanya trauma tubuh memerlukan energi untuk menangani perubahan –
perubahan seluruh sistem tubuh. Namun masukan makanan kurang, maka akan terjadi
pengahncuran protein otot sebagai sumber nitrogen utama. Hal ini menambah terjadinya
asidosis metabolik karena adanya metabolisme anaerob glukosa. Dalam hal ini diperlukan
masukan makanan yang disesuaikan dengan perubahan metabolisme yang terjadi pada trauma.
Pemasukan makanan pada trauma kepala harus mempertimbangkan tingkat kesadaran pasien
atau kemampuan melakukan reflek menelan.
4. Sistem Pencernaan
3 hari) terdapat respon tubuh yang merangsang aktivitas hipotalamus dan stimulus vagal. Hal ini
akan merangsang lambung untuk terjadi hiperasiditas. Hipotalamus merangsang anterior
hipofise untuk mengeluarkan steroid adrenal. Hal ini adalah kompensasi tubuh untuk menangani
edema serebral, namun pengaruhnya terhadap lambung adalah terjadinya peningkatan ekskresi
asam lambung yang menyebabkan hiperasiditas. Selain itu juga hiperasiditas terjadi karena
adanya peningkatan pengeluaran katekolamin dalam menangani stress yang mempengaruhi
produksi asam lambung. Jika hiperasiditas ini tidak segera ditangani, akan menyebabkan
perdarah lambung.Setelah trauma kepala (
5. Sistem Muskuloskeletal
Akibat utama dari cederaotak berat dapat mempengaruhi gerakan tubuh. Hemisfer atau
hemiplegia dapat terjadi sebagai akibat dari kerusakan pada area motorik otak. Selain itu, pasien
dapat mempunyai control vaolunter terhadap gerakan dalam menghadapi kesulitan perawatan
diri dan kehidupan sehari – hari yang berhubungan dengan postur, spastisitas atau kontraktur.
Gerakan volunter terjadi sebagai akibat dari hubungan sinapsis dari 2 kelompok neuron yang
besar. Sel saraf pada kelompok pertama muncul pada bagian posterior lobus frontalis yang
disebut girus presentral atau “strip motorik “. Di sini kedua bagian saraf itu bersinaps
dengannkelompok neuron – neuron motorik bawah yang berjalan dari batang otak atau medulla
spinalis atau otot – otot tertentu. Masing – masing dari kelompok neuron ini mentransmisikan
informasi tertentu pada gerakan. Sehingga ,pasien akan menunjukan gejala khusus jika ada
salah satu dari jaras neuron ini cidera.
Pada disfungsi hemisfer bilateral atau disfungsi pada tingkat batang otak, terdapat kehilangan
penghambatan serebral dari gerakan involunter. Terdapat gangguan tonus otot dan penamilan
postur abnormal, yang pada saatny dapat membuat komplikasi seperti peningkatan saptisitas
dan kontraktur. (dikumpulkan dari berbagai sumber, sebagai tugas kuliah..silahkan anda cari
sumber referensi lain)
Apa itu Trauma Kepala?

 inShare

Ada dua jenis utama lesi trauma serebral: lesi primer, yang
dihasilkan dari dampak traumatis langsung (trauma kepala), dan lesi sekunder yang terjadi setelah
dampak langsung atau sebagai gejala sisa dari cedera primer ( Tabel 1 ).

Cedera neuronal
Di bidang cedera neuronal utama, diffuse cedera aksonal (DAI) adalah jenis yang paling umum dari lesi
traumatik primer.
Memar kortikal adalah jenis yang paling umum kedua primer lesi intra-aksial. Hal ini terbatas pada
materi abu-abu dangkal otak dengan hemat relatif materi putih yang mendasari, selain dari kontusio
yang lebih parah yang dapat melibatkan materi putih yg terletak di bawah. Hal ini sering berdarah,
mulai dari petechiae microhaemorrhagic untuk hematoma nyata. Kontusio cenderung bilateral dan
multipel, dan mereka kebanyakan melibatkan lobus frontal dan temporal. Lesi frontal cenderung terletak
di dekat piring berkisi, orbit atau sphenoidale planum, sedangkan lesi temporal yang kebanyakan terjadi
tepat di atas tulang kaku atau di belakang sayap sphenoid lebih besar. Bagian lain dari otak juga dapat
terlibat, meskipun lebih jarang, dan zona paling sering adalah lobus parietal dan oksipital dan
cerebellum.
Memar Cerebral cenderung berhubungan dengan gangguan klinis; hanya ketika memar yang sangat
besar akan kesadaran secara serius terganggu.
Subkortikal cedera materi abu-abu adalah entitas tertentu yang ditandai dengan pendarahan beberapa
petechial terutama yang terletak di mesencephalon, ganglia basal, thalamus dan hipotalamus. Lesi ini
khas dalam trauma kepala yang sangat parah dan pada pasien yang sering mati dalam waktu beberapa
hari setelah cedera.
Cedera otak primer dan sekunder batang adalah lesi yang dapat berdarah atau tidak, tergantung pada
saat cedera terjadi. Aspek radiologi mereka berasal dari mekanisme dari trauma yang dapat dibagi ke
dalam kategori yang tepat:
 hipoksia / iskemia;

 perdarahan atau cedera sekunder pada batang otak perforantes kapal;


 dampak langsung / penetrasi cedera;
 robek kekuatan, dan
 robeknya persimpangan pontomedullary.
MR adalah metode pilihan untuk studi ini menunjukkan luka dan lesi fokal hyperintense T2 jika tidak ada
komponen perdarahan atau memperpendek T2 jika ada haemosiderin konsekuen pada komponen
perdarahan.

Pendarahan
Hematoma epidural adalah yang paling sering asal arteri, akibat dari laserasi langsung atau robeknya
arteri meningeal (biasanya arteri meningeal tengah) dengan patah tulang tengkorak. Mereka adalah
khas daerah temporal atau temporoparietal.
Vena epidural hematoma jauh kurang umum daripada yang asal arteri. Mereka biasanya berhubungan
dengan laserasi sinus dural disebabkan oleh oksipital, parietal atau patah tulang sphenoid.
Mereka sebagian besar terletak di fosa posterior sebagai akibat dari laserasi dari sinus melintang atau
sigmoid di fosa tengah akibat cedera sphenoparietal sinus atau di daerah parasagittal sebagai akibat dari
laserasi sinus sagital superior.

Hematoma
Hematoma subdural yang disebabkan oleh robeknya vena bridging yang berjalan melalui ruang subdural
dan sangat sensitif terhadap percepatan rotasi atau linier. Presentasi klinis adalah variabel, mulai dari
penurunan kesadaran ke headhache umum.
Mereka biasanya terletak di konveksitas supratentorial walaupun mereka juga bisa dalam fosa posterior,
sepanjang tentorium dan falx tersebut. Kedua lokasi terakhir yang paling umum pada anak-anak dan
korban luka nonaccidental (sindrom anak belur), tetapi mereka tidak spesifik untuk penyiksaan anak.
CT scan sangat sensitif terhadap perdarahan akut atau kronis, tetapi tidak begitu banyak untuk
hematoma subakut, sehingga sebenarnya CT mendeteksi hanya sekitar 50 - 60% dari hematoma
subdural.
MR menawarkan banyak keuntungan dibandingkan CT: MR lebih unggul dalam menemukan lesi karena
fosa posterior, tentorium dan tabel dalam tengkorak baik divisualisasikan tanpa artefak dan dengan
sensitivitas 1-2mm; MR perdarahan dapat juga mudah tahap dalam berbagai tahap evolusi. Untuk
alasan ini MR sangat membantu dalam hematoma subdural subakut yang isodense CT, karena MR
sensitif terhadap kehadiran methaemoglobin bebas dalam larutan, subakut subdural hematoma memiliki
intensitas tinggi pada T2 dan urutan T1. Kontras ditingkatkan CT tidak lagi diperlukan untuk konfirmasi
diagnosis ini. Akhirnya, MR juga sangat membantu juga karena kapasitas intrinsik untuk
memvisualisasikan lesi dalam tiga dimensi; ini sering berguna dalam menentukan tingkat keparahan
efek massa hematoma, dan pilihan terapi konsekuen (konservatif atau pembedahan).
Hematoma intraserebral adalah koleksi fokus darah yang sebagian besar timbul dari rotationally induksi
shearstrain cedera vena atau arteri intraparenchymal, atau kadang-kadang dari cedera penetrasi
langsung ke kapal. Hematoma intraserebral biasanya terletak di bagian putih frontotemporal atau
ganglia basal dan ini sering berhubungan dengan patah tulang calvarian. Perjalanan klinis ringan, tanpa
kehilangan kesadaran, kadang-kadang sakit kepala hadir.
Mereka mungkin bervariasi dalam dimensi dari beberapa mm untuk beberapa cm.
Kadang-kadang sulit untuk membedakan hematoma intraserebral dari kontusio berdarah atau DAI.
Perbedaannya adalah bahwa hematoma intraserebral memperluas antara neuron relatif normal,
sedangkan kontusio berdarah berada di otak bersamaan terluka dan edema.
Perdarahan intraventricular adalah karena robeknya rotationally diinduksi subependymal vena pada
permukaan ventral corpus callosum dan di sepanjang septum pellucidum atau forniks.
perdarahan subarachnoid sangat sering pada trauma kepala, bahkan dalam trauma ringan. CT adalah
metode pencitraan pilihan MR tidak sensitif pada fase akut (meskipun lebih baik untuk mendeteksi
perdarahan subarahcnoid subakut).
Trauma kepala, Tabel 1 .

Lesi primer

cedera saraf:

menyebar aksonal cedera (DAI)

kortikal memar

materi abu-abu subkortikal cedera

cedera otak primer batang

pendarahan:

epidural hematoma

Hematoma subdural

hematoma intraserebral

perdarahan intraventrikular

perdarahan subarachnoid

cedera vaskular

fistula karotid gua

arteri pseudoaneurysm

diseksi / oklusi / laserasi

sinus dural laserasi / oklusi

lainnya

saraf kranial cedera

subdural hygromas

Lesi sekunder

infark zona terminal

menyebar cedera hipoksia

berdifusi pembengkakan otak / edema

batang otak cedera

pendarahan

lemak emboli
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Trauma Kepala
Trauma kepala atau trauma kapitis adalah suatu ruda paksa
(trauma) yang menimpa struktur kepala sehingga dapat menimbulkan
kelainan struktural dan atau gangguan fungsional jaringan otak
(Sastrodiningrat, 2009). Menurut Brain Injury Association of America,
cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat
kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan atau
benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran
yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik
(Langlois, Rutland-Brown, Thomas, 2006).
2.2. Kareteristik Penderita Trauma Kepala
2.2.1. Jenis Kelamin
Pada populasi secara keseluruhan, laki-laki dua kali ganda lebih
banyak mengalami trauma kepala dari perempuan. Namun, pada usia lebih
tua perbandingan hampir sama. Hal ini dapat terjadi pada usia yang lebih
tua disebabkan karena terjatuh. Mortalitas laki-laki dan perempuan
terhadap trauma kepala adalah 3,4:1 (Jagger, Levine, Jane et al., 1984).
Menurut Brain Injury Association of America, laki-laki cenderung
mengalami trauma kepala 1,5 kali lebih banyak daripada perempuan
(CDC, 2006).
2.2.2. Umur
Resiko trauma kepala adalah dari umur 15-30 tahun, hal ini
disebabkan karena pada kelompok umur ini banyak terpengaruh dengan
alkohol, narkoba dan kehidupan sosial yang tidak bertanggungjawab
Universitas Sumatera Utara(Jagger, Levine, Jane et al., 1984). Menurut Brain Injury Association of
America, dua kelompok umur mengalami risiko yang tertinggi adalah dari
umur 0 sampai 4 tahun dan 15 sampai 19 tahun (CDC, 2006).

2.3. Trauma Kepala


2.3.1. Jenis Trauma
Luka pada kulit dan tulang dapat menunjukkan lokasi (area)
dimana terjadi trauma (Sastrodiningrat, 2009). Cedera yang tampak pada
kepala bagian luar terdiri dari dua, yaitu secara garis besar adalah trauma
kepala tertutup dan terbuka. Trauma kepala tertutup merupakan fragmenfragmen tengkorak yang
masih intak atau utuh pada kepala setelah luka. The
Brain and Spinal Cord Organization 2009, mengatakan trauma kepala
tertutup adalah apabila suatu pukulan yang kuat pada kepala secara tiba-tiba
sehingga menyebabkan jaringan otak menekan tengkorak.
Trauma kepala terbuka adalah yaitu luka tampak luka telah
menembus sampai kepada dura mater. (Anderson, Heitger, and Macleod,
2006). Kemungkinan kecederaan atau trauma adalah seperti berikut;
a) Fraktur
Menurut American Accreditation Health Care Commission,
terdapat 4 jenis fraktur yaitu simple fracture, linear or hairline fracture,
depressed fracture, compound fracture. Pengertian dari setiap fraktur
adalah sebagai berikut:
Simple : retak pada tengkorak tanpa kecederaan pada kulit
Linear or hairline: retak pada kranial yang berbentuk garis halus
tanpa depresi, distorsi dan ‘splintering’.
Depressed: retak pada kranial dengan depresi ke arah otak.
Compound : retak atau kehilangan kulit dan splintering pada
tengkorak. Selain retak terdapat juga hematoma subdural (Duldner,
2008).
Universitas Sumatera UtaraTerdapat jenis fraktur berdasarkan lokasi anatomis yaitu terjadinya
retak atau kelainan pada bagian kranium. Fraktur basis kranii retak pada
basis kranium. Hal ini memerlukan gaya yang lebih kuat dari fraktur linear
pada kranium. Insidensi kasus ini sangat sedikit dan hanya pada 4% pasien
yang mengalami trauma kepala berat (Graham and Gennareli, 2000;
Orlando Regional Healthcare, 2004). Terdapat tanda-tanda yang
menunjukkan fraktur basis kranii yaitu rhinorrhea (cairan serobrospinal
keluar dari rongga hidung) dan gejala raccoon’s eye (penumpukan darah
pada orbital mata). Tulang pada foramen magnum bisa retak sehingga
menyebabkan kerusakan saraf dan pembuluh darah. Fraktur basis kranii
bisa terjadi pada fossa anterior, media dan posterior (Garg, 2004).
Fraktur maxsilofasial adalah retak atau kelainan pada tulang
maxilofasial yang merupakan tulang yang kedua terbesar setelah tulang
mandibula. Fraktur pada bagian ini boleh menyebabkan kelainan pada
sinus maxilari (Garg, 2004).
b) Luka memar (kontosio)
Luka memar adalah apabila terjadi kerusakan jaringan subkutan
dimana pembuluh darah (kapiler) pecah sehingga darah meresap ke
jaringan sekitarnya, kulit tidak rusak, menjadi bengkak dan berwarna
merah kebiruan. Luka memar pada otak terjadi apabila otak menekan
tengkorak. Biasanya terjadi pada ujung otak seperti pada frontal, temporal
dan oksipital. Kontusio yang besar dapat terlihat di CT-Scan atau MRI
(Magnetic Resonance Imaging) seperti luka besar. Pada kontusio dapat
terlihat suatu daerah yang mengalami pembengkakan yang di sebut edema.
Jika pembengkakan cukup besar dapat mengubah tingkat kesadaran
(Corrigan, 2004).
c) Laserasi (luka robek atau koyak)
Luka laserasi adalah luka robek tetapi disebabkan oleh benda
tumpul atau runcing. Dengan kata lain, pada luka yang disebabkan oleh
Universitas Sumatera Utarabenda bermata tajam dimana lukanya akan tampak rata dan teratur.
Luka
robek adalah apabila terjadi kerusakan seluruh tebal kulit dan jaringan
bawah kulit. Luka ini biasanya terjadi pada kulit yang ada tulang
dibawahnya pada proses penyembuhan dan biasanya pada penyembuhan
dapat menimbulkan jaringan parut.
d) Abrasi
Luka abrasi yaitu luka yang tidak begitu dalam, hanya superfisial.
Luka ini bisa mengenai sebagian atau seluruh kulit. Luka ini tidak sampai
pada jaringan subkutis tetapi akan terasa sangat nyeri karena banyak
ujung-ujung saraf yang rusak.
e) Avulsi
Luka avulsi yaitu apabila kulit dan jaringan bawah kulit
terkelupas,tetapi sebagian masih berhubungan dengan tulang kranial.
Dengan kata lain intak kulit pada kranial terlepas setelah kecederaan
(Mansjoer, 2000).
2.4. Perdarahan Intrakranial
2.4.1. Perdarahan Epidural
• Perdarahan epidural adalah antara tulang kranial dan dura mater.
Gejala perdarahan epidural yang klasik atau temporal berupa
kesadaran yang semakin menurun, disertai oleh anisokoria pada
mata ke sisi dan mungkin terjadi hemiparese kontralateral.
• Perdarahan epidural di daerah frontal dan parietal atas tidak
memberikan gejala khas selain penurunan kesadaran (biasanya
somnolen) yang membaik setelah beberapa hari.
Universitas Sumatera Utara2.4.2. Perdarahan Subdural
Perdarahan subdural adalah perdarahan antara dura mater dan
araknoid, yang biasanya meliputi perdarahan vena. Terbagi atas 3 bagian
iaitu:
a) Perdarahan subdural akut
• Gejala klinis berupa sakit kepala, perasaan mengantuk, dan
kebingungan, respon yang lambat, serta gelisah.
• Keadaan kritis terlihat dengan adanya perlambatan reaksi ipsilateral
pupil.
• Perdarahan subdural akut sering dihubungkan dengan cedera otak
besar dan cedera batang otak.
b) Perdarahan subdural subakut
• Perdarahan subdural subakut, biasanya terjadi 7 sampai 10 hari setelah
cedera dan dihubungkan dengan kontusio serebri yang agak berat.
• Tekanan serebral yang terus-menerus menyebabkan penurunan tingkat
kesadaran.
c) Perdarahan subdural kronis
Terjadi karena luka ringan.
Mulanya perdarahan kecil memasuki ruang subdural.
Beberapa minggu kemudian menumpuk di sekitar membran
vaskuler dan secara pelan-pelan ia meluas.
Gejala mungkin tidak terjadi dalam beberapa minggu atau beberapa
bulan.
Pada proses yang lama akan terjadi penurunan reaksi pupil dan
motorik.
Universitas Sumatera Utara2.4.3. Perdarahan Subaraknoid
Perdarahan subaraknoid adalah perdarahan antara rongga otak dan
lapisan otak yaitu yang dikenal sebagai ruang subaraknoid (Ausiello,
2007).
2.4.4. Perdarahan Intraventrikular
Perdarahan intraventrikular merupakan penumpukan darah pada
ventrikel otak. Perdarahan intraventrikular selalu timbul apabila terjadi
perdarahan intraserebral.
2.4.5. Perdarahan Intraserebral
Perdarahan intraserebral merupakan penumpukan darah pada
jaringan otak. Di mana terjadi penumpukan darah pada sebelah otak yang
sejajar dengan hentaman, ini dikenali sebagai counter coup phenomenon.
(Hallevi, Albright, Aronowski, Barreto, 2008).
2.5. Trauma Murni atau Multipel
Menurut Barell, Heruti, Abargel dan Ziv (1999), sebanyak 1465
korban mengalami trauma kepala, sedangkan 1795 korban mengalami
trauma yang multipel dalam penelitian di Israel. Kecederaan multipel
berkaitan dengan keparahan dan ia adalah asas dalam mendiagnosa
gambaran keseluruhan kecederaan. Dengan merekam seluruh kecederaan
yang dialami oleh korban, ia dapat membantu dalam mengidentifikasi
kecederaan yang sering mengikut penyebab trauma pada korban.
2.5.1. Trauma Murni
Trauma Murni adalah apabila korban didiagnosa dengan satu
kecederaan pada salah satu regio atau bagian anatomis yang mayor (Barell,
Heruti, Abargel dan Ziv, 1999).
Universitas Sumatera Utara2.5.2. Trauma Multipel
Trauma multipel atau politrauma adalah apabila terdapat 2 atau
lebih kecederaan secara fisikal pada regio atau organ tertentu, dimana
salah satunya bisa menyebabkan kematian dan memberi impak pada
fisikal, kognitif, psikologik atau kelainan psikososial dan disabilitas
fungsional. Trauma kepala paling banyak dicatat pada pasien politrauma
dengan kombinasi dari kondisi yang cacat seperti amputasi, kelainan
pendengaran dan penglihatan, post-traumatic stress syndrome dan kondisi
kelainan jiwa yang lain (Veterans Health Administration Transmittal
Sheet).
1. Trauma servikal, batang otak dan tulang belakang
Trauma yang diakibatkan kecelakaan lalu lintas, jatuh dari tempat
yang tinggi serta pada aktivitas olahraga yang berbahaya boleh
menyebabkan cedera pada beberapa bagian ini. Antara kemungkinan
kecederaan yang bisa timbul adalah seperti berikut:
• Kerusakan pada tulang servikal C1-C7; cedera pada C3 bisa
menyebabkan pasien apnu. Cedera dari C4-C6 bisa menyebabkan
pasien kuadriplegi, paralisis hipotonus tungkai atas dan bawah serta
syok batang otak.
• Fraktur Hangman terjadi apabila terdapat fraktur hiperekstensi yang
bilateral pada tapak tulang servikal C2.
• Tulang belakang torak dan lumbar bisa diakibatkan oleh cedera
kompresi dan cedera dislokasi.
• Spondilosis servikal juga dapat terjadi.
• Cedera ekstensi yaitu cedera ‘Whiplash’ terjadi apabila berlaku
ekstensi pada tulang servikal.
Universitas Sumatera Utara2. Trauma toraks
Trauma toraks bisa terbagi kepada dua yaitu cedera dinding toraks
dan cedera paru.
a) Cedera dinding torak seperti berikut:
• Patah tulang rusuk.
• Cedera pada sternum atau ‘steering wheel’.
• Flail chest.
• Open ‘sucking’ pneumothorax.
b) Cedera pada paru adalah seperti berikut:
• Pneumotoraks.
• hematorak.
• Subcutaneous(SQ) dan mediastinal emphysema.
• Kontusio pulmonal.
• Hematom pulmonal.
• Emboli paru.
3. Trauma abdominal
Trauma abdominal terjadi apabila berlaku cedera pada bagian
organ dalam dan bagian luar abdominal yaitu seperti berikut:
• Kecederaan yang bisa berlaku pada kuadran kanan abdomen adalah
seperti cedera pada organ hati, pundi empedu, traktus biliar,
duodenum dan ginjal kanan.
• Kecederaan yang bisa berlaku pada kuadran kiri abdomen adalah
seperti cedera pada organ limpa, lambung dan ginjal kiri.
• Kecederaan pada kuadran bawah abdomen adalah cedera pada salur
ureter, salur uretral anterior dan posterior, kolon dan rektum.
• Kecederaan juga bisa terjadi pada organ genital yang terbagi dua yaitu
cedera penis dan skrotum.
Universitas Sumatera Utara4. Tungkai atas
Trauma tungkai atas adalah apabila berlaku benturan hingga
menyebabkan cedera dan putus ekstrimitas. Cedera bisa terjadi dari
tulang bahu, lengan atas, siku, lengan bawah, pergelangan tangan, jarijari tangan serta ibu jari.
5. Tungkai bawah
Kecederaan yang paling sering adalah fraktur tulang pelvik. Cedera
pada bagian lain ekstrimitas bawah seperti patah tulang femur, lutut
atau patella, ke arah distal lagi yaitu fraktur tibia, fraktur fibula, tumit
dan telapak kaki (James, Corry dan Perry, 2000).
2.6. Tingkat Keparahan Trauma Kepala dengan Skor Koma
Glasgow (SKG)
Skala koma Glasgow adalah nilai (skor) yang diberikan pada
pasien trauma kapitis, gangguan kesadaran dinilai secara kwantitatif pada
setiap tingkat kesadaran. Bagian-bagian yang dinilai adalah;
1. Proses membuka mata (Eye Opening)
2. Reaksi gerak motorik ekstrimitas (Best Motor Response)
3. Reaksi bicara (Best Verbal Response)
Pemeriksaan Tingkat Keparahan Trauma kepala disimpulkan dalam suatu
tabel Skala Koma Glasgow (Glasgow Coma Scale).
Universitas Sumatera UtaraTable 2.1 Skala Koma Glasgow
Eye Opening
Mata terbuka dengan spontan 4
Mata membuka setelah diperintah 3
Mata membuka setelah diberi rangsang nyeri 2
Tidak membuka mata 1
Best Motor Response
Menurut perintah 6
Dapat melokalisir nyeri 5
Menghindari nyeri 4
Fleksi (dekortikasi) 3
Ekstensi (decerebrasi) 2
Tidak ada gerakan 1
Best Verbal Response
Menjawab pertanyaan dengan benar 5
Salah menjawab pertanyaan 4
Mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai 3
Mengeluarkan suara yang tidak ada artinya 2
Tidak ada jawaban 1

Berdasarkan Skala Koma Glasgow, berat ringan trauma kapitis dibagi atas;
1. Trauma kapitis Ringan, Skor Skala Koma Glasgow 14 – 15
2. Trauma kapitis Sedang, Skor Skala Koma Glasgow 9 – 13
3. Trauma kapitis Berat, Skor Skala Koma Glasgow 3– 8
a) Trauma Kepala Ringan
Dengan Skala Koma Glasgow >12, tidak ada kelainan dalam CTscan, tiada lesi operatif dalam 48 jam
rawat inap di Rumah Sakit (Torner,
Universitas Sumatera UtaraChoi, Barnes, 1999). Trauma kepala ringan atau cedera kepala ringan
adalah hilangnya fungsi neurologi atau menurunnya kesadaran tanpa
menyebabkan kerusakan lainnya (Smeltzer, 2001). Cedera kepala ringan
adalah trauma kepala dengan GCS: 15 (sadar penuh) tidak kehilangan
kesadaran, mengeluh pusing dan nyeri kepala, hematoma, laserasi dan
abrasi (Mansjoer, 2000). Cedera kepala ringan adalah cedara otak karena
tekanan atau terkena benda tumpul (Bedong, 2001). Cedera kepala ringan
adalah cedera kepala tertutup yang ditandai dengan hilangnya kesadaran
sementara (Corwin, 2000). Pada penelitian ini didapat kadar laktat rata-rata
pada penderita cedera kepala ringan 1,59 mmol/L (Parenrengi, 2004).
b) Trauma Kepala Sedang
Dengan Skala Koma Glasgow 9 - 12, lesi operatif dan abnormalitas
dalam CT-scan dalam 48 jam rawat inap di Rumah Sakit (Torner, Choi,
Barnes, 1999). Pasien mungkin bingung atau somnolen namun tetap
mampu untuk mengikuti perintah sederhana (SKG 9-13). Pada suatu
penelitian penderita cedera kepala sedang mencatat bahwa kadar asam
laktat rata-rata 3,15 mmol/L (Parenrengi, 2004).
c) Trauma Kepala Berat
Dengan Skala Koma Glasgow < 9 dalam 48 jam rawat inap di
Rumah Sakit (Torner C, Choi S, Barnes Y, 1999). Hampir 100% cedera
kepala berat dan 66% cedera kepala sedang menyebabkan cacat yang
permanen. Pada cedera kepala berat terjadinya cedera otak primer
seringkali disertai cedera otak sekunder apabila proses patofisiologi
sekunder yang menyertai tidak segera dicegah dan dihentikan (Parenrengi,
2004). Penelitian pada penderita cedera kepala secara klinis dan
eksperimental menunjukkan bahwa pada cedera kepala berat dapat disertai
dengan peningkatan titer asam laktat dalam jaringan otak dan cairan
serebrospinalis (CSS) ini mencerminkan kondisi asidosis otak (DeSalles et
Universitas Sumatera Utaraal., 1986). Penderita cedera kepala berat, penelitian menunjukkan kadar
rata-rata asam laktat 3,25 mmol/L (Parenrengi, 2004).
2.7. Gejala Klinis Trauma Kepala
Menurut Reissner (2009), gejala klinis trauma kepala adalah seperti
berikut:
2.7.1. Tanda-tanda klinis yang dapat membantu mendiagnosa adalah:
a. Battle sign (warna biru atau ekhimosis dibelakang telinga di atas os
mastoid)
b. Hemotipanum (perdarahan di daerah menbran timpani telinga)
c. Periorbital ecchymosis (mata warna hitam tanpa trauma langsung)
d. Rhinorrhoe (cairan serobrospinal keluar dari hidung)
e. Otorrhoe (cairan serobrospinal keluar dari telinga)
2.7.2. Tanda-tanda atau gejala klinis untuk yang trauma kepala ringan;
a. Pasien tertidur atau kesadaran yang menurun selama beberapa saat
kemudian sembuh.
b. Sakit kepala yang menetap atau berkepanjangan.
c. Mual atau dan muntah.
d. Gangguan tidur dan nafsu makan yang menurun.
e. Perubahan keperibadian diri.
f. Letargik.
2.7.3. Tanda-tanda atau gejala klinis untuk yang trauma kepala berat;
a. Simptom atau tanda-tanda cardinal yang menunjukkan peningkatan
di otak menurun atau meningkat.
b. Perubahan ukuran pupil (anisokoria).
c. Triad Cushing (denyut jantung menurun, hipertensi, depresi
pernafasan).
Universitas Sumatera Utarad. Apabila meningkatnya tekanan intrakranial, terdapat pergerakan
atau posisi abnormal ekstrimitas.
2.8. Penyebab Trauma Kepala
2.8.1. Mekanisme Terjadinya Kecederaan
Beberapa mekanisme yang timbul terjadi trauma kepala adalah
seperti translasi yang terdiri dari akselerasi dan deselerasi. Akselerasi
apabila kepala bergerak ke suatu arah atau tidak bergerak dengan tiba-tiba
suatu gaya yang kuat searah dengan gerakan kepala, maka kepala akan
mendapat percepatan (akselerasi) pada arah tersebut.
Deselerasi apabila kepala bergerak dengan cepat ke suatu arah
secara tiba-tiba dan dihentikan oleh suatu benda misalnya kepala
menabrak tembok maka kepala tiba-tiba terhenti gerakannya. Rotasi
adalah apabila tengkorak tiba-tiba mendapat gaya mendadak sehingga
membentuk sudut terhadap gerak kepala. Kecederaan di bagian muka
dikatakan fraktur maksilofasial (Sastrodiningrat, 2009).
2.8.2. Penyebab Trauma Kepala
Menurut Brain Injury Association of America, penyebab utama
trauma kepala adalah karena terjatuh sebanyak 28%, kecelakaan lalu lintas
sebanyak 20%, karena disebabkan kecelakaan secara umum sebanyak 19%
dan kekerasan sebanyak 11% dan akibat ledakan di medan perang
merupakan penyebab utama trauma kepala (Langlois, Rutland-Brown,
Thomas, 2006).
Kecelakaan lalu lintas dan terjatuh merupakan penyebab rawat inap
pasien trauma kepala yaitu sebanyak 32,1 dan 29,8 per100.000 populasi.
Kekerasan adalah penyebab ketiga rawat inap pasien trauma kepala
mencatat sebanyak 7,1 per100.000 populasi di Amerika Serikat (
Coronado, Thomas, 2007). Penyebab utama terjadinya trauma kepala
adalah seperti berikut:
Kecelakaan Lalu Lintas
Kecelakaan lalu lintas adalah dimana sebuah kenderan bermotor
bertabrakan dengan kenderaan yang lain atau benda lain sehingga
menyebabkan kerusakan atau kecederaan kepada pengguna jalan raya
(IRTAD, 1995).
b) Jatuh
Menurut KBBI, jatuh didefinisikan sebagai (terlepas) turun atau
meluncur ke bawah dengan cepat karena gravitasi bumi, baik ketika masih
di gerakan turun maupun sesudah sampai ke tanah.
c) Kekerasan
Menurut KBBI, kekerasan didefinisikan sebagai suatu perihal atau
perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau
matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik pada barang atau
orang lain (secara paksaan).
2.9. Indikasi CT –Scan pada Trauma Kepala
CT-Scan adalah suatu alat foto yang membuat foto suatu objek
dalam sudut 360 derajat melalui bidang datar dalam jumlah yang tidak
terbatas. Bayangan foto akan direkonstruksi oleh komputer sehingga objek
foto akan tampak secara menyeluruh (luar dan dalam). Foto CT-Scan akan
tampak sebagai penampang-penampang melintang dari objeknya.
Dengan CT-Scan isi kepala secara anatomis akan tampak dengan
jelas. Pada trauma kapitis, fraktur, perdarahan dan edema akan tampak
dengan jelas baik bentuk maupun ukurannya (Sastrodiningrat, 2009).
Indikasi pemeriksaan CT-scan pada kasus trauma kepala adalah seperti
berikut:
1. Bila secara klinis (penilaian GCS) didapatkan klasifikasi trauma
kepala sedang dan berat.
Universitas Sumatera Utara2. Trauma kepala ringan yang disertai fraktur tengkorak.
3. Adanya kecurigaan dan tanda terjadinya fraktur basis kranii.
4. Adanya defisit neurologi, seperti kejang dan penurunan gangguan
kesadaran.
5. Sakit kepala yang hebat.
6. Adanya tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial atau herniasi
jaringan otak.
7. Kesulitan dalam mengeliminasi kemungkinan perdarahan intraserebral
(Irwan, 2009).
Perdarahan subaraknoid terbukti sebanyak 98% yang mengalami
trauma kepala jika dilakukan CT-Scan dalam waktu 48 jam paska trauma.
Indikasi untuk melakukan CT-Scan adalah jika pasien mengeluh sakit
kepala akut yang diikuti dengan kelainan neurologis seperti mual, muntah
atau dengan SKG (Skor Koma Glasgow) <14 (Haydel, Preston, Mills, et
al., 2000).
ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA KEPALA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Trauma kepala merupakan suatu kegawatan yang paling sering dijumpai di unit gawat
darurat suatu rumah sakit.”No head injury is so serious that it should be despaired of, nor so
trivial as to be lightly ignored”, menurut Hippocrates bahwa tidak ada cedera kepala yang
perlu dikhawatirkan serius yang bisa kita putus harapan dan tidak ada juga keluhan yang
dapat kita abaikan. Setiap tahun di Amerika Serikat mencatat 1,7 juta kasus trauma kepala,
52.000 pasien meninggal dan selebihnya dirawat inap. Trauma kepala juga merupakan
penyebab kematian ketiga dari semua jenis trauma yang dikaitkan dengan kematian (CDC,
2010). Menurut penelitian yang dilakukan olehNational Trauma Project di Islamic Republic of
Iran bahwa diantara semua jenis trauma tertinggi yang dilaporkan yaitu sebanyak 78,7%
trauma kepala dan kematian paling banyak juga disebabkan oleh trauma kepala
(Karbakhsh, Zandi, Rouzrokh, Zarei, 2009).
Rata-rata rawat inap pada lelaki dan wanita akibat terjatuh dengan diagnosa trauma kepala
sebanyak 146,3 per100.000 dan 158,3 per100.000 (Thomas, 2006). Angka kematian trauma
kepala akibat terjatuh lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan yaitu sebanyak 26,9
per100.000 dan 1,8 per100.000. Bagi lansia pada usia 65 tahun ke atas, kematian akibat
trauma kepala mencatat 16.000 kematian dari 1,8 juta lansia di Amerika yang mangalami
trauma kepala akibat terjatuh (CDC, 2005). Menurut Kraus (1993), dalam penelitiannya
ditemukan bahwa anak remaja hingga dewasa muda mengalami cedera kepala akibat
terlibat dalam kecelakaan lalu lintas dan akibat kekerasan sedangkan orang yang lebih tua
cenderung mengalami trauma kepala disebabkan oleh terjatuh.
Penyebab utama trauma kepala adalah kecelakaan lalu lintas, kekerasan dan terjatuh
(Langlois, Rutland-Brown, Thomas, 2006). Pejalan kaki yang mengalami tabrakan
kendaraan bermotor merupakan penyebab trauma kepala terhadap pasien anak-anak bila
dibandingkan dengan pasien dewasa (Adeolu, Malomo, Shokunbi, Komolafe dan Abio,
2005). Estimasi sebanyak 1,9 juta hingga 2,3 juta orang menerima perawatan kecederaan
yang tidak fatal akibat kekerasan (Rosenberg, Fenley, 1991).
Menurut Akbar (2000), insiden trauma kepala pada tahun 1995 sampai 1998 terdiri dari tiga
tingkat keparahan trauma kepala yaitu trauma kepala ringan sebanyak 60,3% (2463 kasus),
trauma kepala sedang sebanyak 27,3% (1114 kasus) dan trauma kepala berat sebanyak
12,4% (505 kasus). Kematian akibat trauma kepala mencatatkan sebanyak 11% berjumlah
448 .Bila dilihat prevalensi penderita trauma kepala cukup besar dan meningkat dari tahun
ke tahun, hal ini menjadi perhatian khusus bagi tenaga kesehatan, khususnya perawat .
Supaya lebih meningkatkan pengetahuan tentang trauma kepala , sehingga bisa
memberikan pelayanan yang lebih baik dan maksimal dibidangnya.
1.2 Rumusan Masalah
 Apa pengertian dari trauma kepala?
 Apa saja klasifikasi dari trauma kepala?
 Apa saja etiologi dari trauma kepala?
 Bagaimana patofisiologi dari trauma kepala?
 Apa saja manifestasi klinis dari trauma kepala?
 Komplikasi apa yg dapat terjadi akibat trauma kepala?
 Pemeriksaan punujang apa yang dilakukan pada pasien trauma kepala?
 Penatalaksanaan apa yang dilakuka n pada pasien trauma kepala?
1.3. Tujuan

1.3.1. Tujuan Instruksional Umum

Mahasiswa keperawatan diharapkan mampu untuk mengerti dan memahami asuhan


keperawatan pada pasien yang mengalami Trauma Kepala dengan menggunakan
pendekatan proses keperawatan

1.3.2. Tujuan Instruksional Khusus

Diharapkan pada akhir penulisan ini mahasiswa mengetahui gambaran penderita yang
mengalami trauma kepala dengan rumusan seperti berikut:

a. Anatomi dan fisiologi kepala


b. Pengertian trauma kepala
c. Etiologi trauma kepala
d. Klasifikasi trauma kepala
e. Patofisiologi trauma kepala
f. Manifestasi klinik trauma kepala
g. Penatalaksanaan trauma kepala
h. Pembuatan dan penerapan asuhan keperawaratan trauma kepala
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1. Anatomi dan Fisiologi


Anatomi Kepala
A. Kulit Kepala
Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut SCALP yaitu; skin atau kulit, connective
tissue atau jaringan penyambung, aponeurosis atau galea aponeurotika, loose conective
tissue atau jaringan penunjang longgar danpericranium
B. Tulang tengkorak
Tulang kepala terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis kranii . Tulang tengkorak terdiri dari
beberapa tulang yaitu frontal, parietal, temporal dan oksipital . Kalvaria khususnya diregio
temporal adalah tipis, namun disini dilapisi oleh otot temporalis. Basis cranii berbentuk tidak
rata sehingga dapat melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi dan
deselerasi. Rongga tengkorak dasar dibagi atas 3 fosa yaitu : fosa anterior tempat lobus
frontalis, fosa media tempat temporalis dan fosa posterior ruang bagi bagian bawah batang
otak dan serebelum .
C. Meningen
Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari 3 lapisan yaitu :
1. Dura mater
Dura mater secara konvensional terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan endosteal dan lapisan
meningeal. Dura mater merupakan selaput yang keras, terdiri atas jaringan ikat fibrisa yang
melekat erat pada permukaan dalam dari kranium. Karena tidak melekat pada selaput
arachnoid di bawahnya, maka terdapat suatu ruang potensial (ruang subdura) yang terletak
antara dura mater dan arachnoid, dimana sering dijumpai perdarahan subdural. Pada
cedera otak, pembuluh-pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus
sagitalis superior di garis tengah atau disebut Bridging Veins, dapat mengalami robekan dan
menyebabkan perdarahan subdural. Sinus sagitalis superior mengalirkan darah vena ke
sinus transversus dan sinus sigmoideus. Laserasi dari sinus-sinus ini dapat mengakibatkan
perdarahan hebat .
Arteri-arteri meningea terletak antara dura mater dan permukaan dalam dari kranium (ruang
epidural). Adanya fraktur dari tulang kepala dapat menyebabkan laserasi pada arteri-arteri
ini dan menyebabkan perdarahan epidural. Yang paling sering mengalami cedera adalah
arteri meningea media yang terletak pada fosa temporalis (fosa media) .
2. Selaput Arakhnoid
Selaput arakhnoid merupakan lapisan yang tipis dan tembus pandang . Selaput arakhnoid
terletak antara pia mater sebelah dalam dan dura mater sebelah luar yang meliputi otak.
Selaput ini dipisahkan dari dura mater oleh ruang potensial, disebut spatium subdural dan
dari pia mater oleh spatium subarakhnoid yang terisi olehliquor serebrospinalis . Perdarahan
sub arakhnoid umumnya disebabkan akibat cedera kepala .
3. Pia mater
Pia mater melekat erat pada permukaan korteks serebri . Pia mater adarah membrana
vaskular yang dengan erat membungkus otak, meliputi gyri dan masuk kedalam sulci yang
paling dalam. Membrana ini membungkus saraf otak dan menyatu dengan epineuriumnya.
Arteri-arteri yang masuk kedalam substansi otak juga diliputi oleh pia mater .
D. Otak
Otak merupakan suatu struktur gelatin yang mana berat pada orang dewasa sekitar 14 kg).
Otak terdiri dari beberapa bagian yaitu; Proensefalon (otak depan) terdiri dari serebrum dan
diensefalon, mesensefalon (otak tengah) dan rhombensefalon (otak belakang) terdiri dari
pons, medula oblongata dan serebellum .
Fisura membagi otak menjadi beberapa lobus . Lobus frontal berkaitan dengan fungsi
emosi, fungsi motorik dan pusat ekspresi bicara. Lobus parietal berhubungan dengan fungsi
sensorik dan orientasi ruang. Lobus temporal mengatur fungsi memori tertentu. Lobus
oksipital bertanggungjawab dalam proses penglihatan. Mesensefalon dan pons bagian atas
berisi sistem aktivasi retikular yang berfungsi dalam kesadaran dan kewapadaan. Pada
medula oblongata terdapat pusat kardiorespiratorik. Serebellum bertanggungjawab dalam
fungsi koordinasi dan keseimbangan .
E. Cairan serebrospinalis
Cairan serebrospinal (CSS) dihasilkan oleh plexus khoroideus dengan kecepatan produksi
sebanyak 20 ml/jam. CSS mengalir dari dari ventrikel lateral melalui foramen monro menuju
ventrikel III, akuaduktus dari sylvius menuju ventrikel IV. CSS akan direabsorbsi ke dalam
sirkulasi vena melalui granulasio arakhnoid yang terdapat pada sinus sagitalis superior.
Adanya darah dalam CSS dapat menyumbat granulasio arakhnoid sehingga mengganggu
penyerapan CSS dan menyebabkan kenaikan takanan intrakranial . Angka rata-rata pada
kelompok populasi dewasa volume CSS sekitar 150 ml dan dihasilkan sekitar 500 ml CSS
per hari..
F. Tentorium
Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang supratentorial (terdiri dari fosa
kranii anterior dan fosa kranii media) dan ruang infratentorial (berisi fosa kranii posterior).
G. Perdarahan Otak
Otak disuplai oleh dua arteri carotis interna dan dua arteri vertebralis. Keempat arteri ini
beranastomosis pada permukaan inferior otak dan membentuk circulus Willisi. Vena-vena
otak tidak mempunyai jaringan otot didalam dindingnya yang sangat tipis dan tidak
mempunyai katup. Vena tersebut keluar dari otak dan bermuara ke dalam sinus venosus
cranialis..

Fisiologi Kepala
Tekanan intrakranial (TIK) dipengaruhi oleh volume darah intrakranial, cairan secebrospinal
dan parenkim otak. Dalam keadaan normal TIK orang dewasa dalam posisi terlentang sama
dengan tekanan CSS yang diperoleh dari lumbal pungsi yaitu 4 – 10 mmHg . Kenaikan TIK
dapat menurunkan perfusi otak dan menyebabkan atau memperberat iskemia. Prognosis
yang buruk terjadi pada penderita dengan TIK lebih dari 20 mmHg, terutama bila menetap .
Pada saat cedera, segera terjadi massa seperti gumpalan darah dapat terus bertambah
sementara TIK masih dalam keadaan normal. Saat pengaliran CSS dan darah intravaskuler
mencapai titik dekompensasi maka TIK secara cepat akan meningkat. Sebuah konsep
sederhana dapat menerangkan tentang dinamika TIK. Konsep utamanya adalah bahwa
volume intrakranial harus selalu konstan, konsep ini dikenal dengan Doktrin Monro-Kellie
.Otak memperoleh suplai darah yang besar yaitu sekitar 800ml/min atau 16% dari cardiac
output, untuk menyuplai oksigen dan glukosa yang cukup . Aliran darah otak (ADO) normal
ke dalam otak pada orang dewasa antara 50-55 ml per 100 gram jaringan otak per menit.
Pada anak, ADO bisa lebih besar tergantung pada usainya . ADO dapat menurun 50%
dalam 6-12 jam pertama sejak cedera pada keadaan cedera otak berat dan koma. ADO
akan meningkat dalam 2-3 hari berikutnya, tetapi pada penderita yang tetap koma ADO
tetap di bawah normal sampai beberapa hari atau minggu setelah cedera. Mempertahankan
tekanan perfusi otak/TPO (MAP-TIK) pada level 60-70 mmHg sangat rirekomendasikan
untuk meningkatkan ADO .
2.2. Definisi
Cedera kepala adalah kekerasan pada kepala yang dapat menyebabkan kerusakan yang
kompleks di kulit kepala, tulang tempurung kepala, selaput otak, dan jaringan otak itu
sendiri. Menurut Brain Injury Assosiation of America cedera kepala adalah suatu kerusakan
pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh
serangan/benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang
mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik. Menurut David A Olson
dalam artikelnya cedera kepala didefenisikan sebagai beberapa perubahan pada mental
dan fungsi fisik yang disebabkan oleh suatu benturan keras pada kepala.
2.3. Klasifikasi
Cedera kepala diklasifikasikan dalam berbagai aspek. Secara praktis dikenal 3 deskripsi
klasifikasi yaitu berdasarkan mekanisme, berat dan morfologi .

Berdasarkan mekanismenya cedera kepala dibagi atas;


1. Cedera kepala tumpul; biasanya berkaitan dengan kecelakaan lalu lintas, jatuh atau
pukulan benda tumpul. Pada cedera tumpul terjadi akselerasi dan deselerasi yang cepat
menyebabkan otak bergerak di dalam rongga cranial dan melakukan kontak pada
protuberans tulang tengkorak .
2. Cedera tembus; disebabkan oleh luka tembak ataupun tusukan.
Berdasarkan morfologinya cedera kepala dikelompokkan menjadi;
1. Fraktur tengkorak; Fraktur tengkorak dapat terjadi pada atap dan dasar tengkorak .
Fraktur dapat berupa garis/ linear, mutlipel dan menyebar dari satu titik (stelata) dan
membentuk fragmen-fragmen tulang (kominutif). Fraktur tengkorak dapat berupa fraktur
tertutup yang secara normal tidak memerlukan perlakuan spesifik dan fraktur tertutup yang
memerlukan perlakuan untuk memperbaiki tulang tengkorak .
2. Lesi intrakranial; dapat berbentuk lesi fokal (perdarahan epidural, perdarahan subdural,
kontusio, dan peradarahan intraserebral), lesi difus dan terjadi secara bersamaan .
Berdasarkan beratnya cedera kepala dikelompokkan menjadi :
Secara umum untuk mendeskripsikan beratnya penderita cedera kepala digunakan Glasgow
Coma Scale (GCS). Penilaian ini dilakukan terhadap respon motorik (1-6), respon verbal (1-
5) dan buka mata (1-4), dengan interval GCS 3-15. Berdasarkan beratnya cedera kepala
dikelompokkam menjadi :
1. Nilai GCS sama atau kurang dari 8 didefenisikan sebagai cedera kepala berat.
2. Cedera kepala sedang memiliki nilai GCS 9-13 dan,
3. Cedera kepala ringan dengan nilai GCS 14-15.

Gambar Acute Subdural Hematoma


2.4. Patofisiologi
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi.
Energi yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi.
Otak tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun
sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen
sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg %, karena akan
menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa
tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala-gejala
permulaan disfungsi cerebral.
Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui
proses metabolik anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada
kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat
metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan asidosis metabolik.
Dalam keadaan normal cerebral blood flow (CBF) adalah 50 - 60 ml / menit / 100 gr. jaringan
otak, yang merupakan 15 % dari cardiac output.
Trauma kepala meyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktivitas atypical-
myocardial, perubahan tekanan vaskuler dan udem paru. Perubahan otonom pada fungsi
ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P dan disritmia, fibrilasi atrium dan vebtrikel,
takikardia.
Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana penurunan
tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi . Pengaruh
persarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol otak tidak
begitu besar.
Dalam mekanisme cedera kepala dapat terjadi peristiwa contre coup dan coup. Contre coup
dan coup pada cedera kepala dapat terjadi kapan saja pada orang-orang yang mengalami
percepatan pergerakan kepala. Cedera kepala pada coup disebabkan hantaman pada otak
bagian dalam pada sisi yang terkena sedangkan contre coup terjadi pada sisi yang
berlawanan dengan daerah benturan. Kejadian coup dan contre coup dapat terjadi pada
keadaan .;
1. Rear end Impact
keadaan ini terjadi ketika pengereman mendadak pada mobil. Otak pertama kali akan
menghantam bagian depan dari tulang kepala meskipun kepala pada awalnya bergerak ke
belakang. Sehingga trauma terjadi pada otak bagian depan.
2. Backward/forward motion of head
Karena pergerakan ke belakang yang cepat dari kepala, sehingga pergerakan otak
terlambat dari tulang tengkorak, dan bagian depan otak menabrak tulang tengkorak bagian
depan. Pada keadaan ini, terdapat daerah yang secara mendadak terjadi penurunan
tekanan sehingga membuat ruang antara otak dan tulang tengkorak bagian belakang dan
terbentuk gelembung udara. Pada saat otak bergerak ke belakang maka ruangan yang
tadinya bertekanan rendah menjadi tekanan tinggi dan menekan gelembung udara tersebut.
Terbentuknya dan kolapsnya gelembung yang mendadak sangat berbahaya bagi pembuluh
darah otak karena terjadi penekanan, sehingga daerah yang memperoleh suplai darah dari
pembuluh tersebut dapat terjadi kematian sel-sel otak. Begitu juga bila terjadi pergerakan
kepala ke depan.
Berdasarkan patofisiologinya cedera kepala dibagi menjadi 2
1.
Cedera kepala primer merupakan cedera yang terjadi saat atau bersamaan dengan
kejadian cedera, dan merupakan suatu fenomena mekanik. Cedera ini umumnya
menimbulkan lesi permanen. Tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali membuat fungsi
stabil, sehingga sel-sel yang sakit dapat menjalani proses penyembuhan yang optimal
2.Cedera kepala skunder merupakan proses lanjutan dari cedera primer dan lebih
merupakan fenomena metabolik.Pada penderita cedera kepala berat, pencegahan cedera
kepala skunder dapat mempengaruhi tingkat kesembuhan/keluaran penderita.Penyebab
cedera kepala skunder antara lain; penyebab sistemik (hipotensi, hipoksemia,
hipo/hiperkapnea, hipertermia, dan hiponatremia) dan penyebab intracranial (tekanan
intrakranial meningkat, hematoma, edema, pergeseran otak (brain shift), vasospasme,
kejang, dan infeksi)
Aspek patologis
Aspek patologis dari cedera kepala antara lain; hematoma epidural (perdarahan yang
terjadi antara tulang tengkorak dan dura mater), perdarahan subdural (perdarahan yang
terjadi antara dura mater dan arakhnoidea), higroma subdural (penimbunan cairan antara
dura mater dan arakhnoidea), perdarahan subarakhnoidal cederatik (perdarahan yangterjadi
di dalam ruangan antara arakhnoidea dan permukaan otak), hematoma serebri (massa
darah yang mendesak jaringan di sekitarnya akibat robekan sebuah arteri), edema otak
(tertimbunnya cairan secara berlebihan didalam jaringan otak), kongesti otak
(pembengkakan otak yang tampak terutama berupa sulsi dan ventrikel yang menyempit),
cedera otak fokal (kontusio, laserasio, hemoragia dan hematoma serebri setempat), lesi
nervi kranialis dan lesi sekunder pada cedera otak .
Cidera Kepala

Cidera otak primer Cidera otak sekunder


 Kontosio
 Laserasi Kerusakan sel otak Respon biologik
Sembuh Gangguan aliran darah otak TIK meningkat :
 Edema
 Hematom
#Metabolisme anaerobik
#Hipoximia
Respon biologik
Trauma Kepala

Gangguan auto regulasi

TIK meningkat Aliran darah otak menurun

Edema otak Gangguan etabolisme


 O2 menurun.
 CO2 meningkat.
Asamlaktatmeningkat
Metabolik anaerobik
2.5. Mekanisme Klinis

Gejala :
1. Jika klien sadar ----- sakit kepala hebat.
2. Muntah proyektil.
3. Papil edema.
4. Kesadaran makin menurun.
5. Perubahan tipe kesadaran.
6. Tekanan darah menurun, bradikardia.
7. An isokor.
8. Suhu tubuh yang sulit dikendalikan.
Tipe / macam Trauma kepala antara lain :
1. Trauma kepala terbuka.
Kerusakan otak dapat terjadi bila tulang tengkorak masuk kedalam jaringan otak dan
melukai :
 Merobek duramater -----LCS merembes.
 Saraf otak
 Jaringan otak.
Gejala fraktur basis :
 Battle sign.
 Hemotympanum.
 Periorbital echymosis.
 Rhinorrhoe.
 Orthorrhoe.
 Brill hematom.
2. Trauma kepala tertutup
a) Komosio
Cidera kepala ringan
Disfungsi neurologis sementara dan dapat pulih kembali.
Hilang kesadaran sementara , kurang dari 10 - 20 menit.
Tanpa kerusakan otak permanen.
Muncul gejala nyeri kepala, pusing, muntah.
Disorientasi sementara.
Tidak ada gejala sisa.
MRS kurang 48 jam ---- kontrol 24 jam I , observasi tanda-tanda vital.
Tidak ada terapi khusus.
Istirahat mutlak ---- setelah keluhan hilang coba mobilisasi bertahap, duduk --- berdiri --
pulang.
Setelah pulang ---- kontrol, aktivitas sesuai, istirahat cukup, diet cukup.
b) Kontosio.
 Ada memar otak.
 Perdarahan kecil lokal/difus ---- gangguan lokal --- perdarahan.
Gejala :
Gangguan kesadaran lebih lama.
Kelainan neurologik positip, reflek patologik positip, lumpuh, konvulsi.
Gejala TIK meningkat.
Amnesia retrograd lebih nyata.
c) Hematom epidural.
Perdarahan anatara tulang tengkorak dan duramater.
Lokasi tersering temporal dan frontal.
Sumber : pecahnya pembuluh darah meningen dan sinus venosus.
Katagori talk and die.
Gejala : (manifestasi adanya proses desak ruang).
Penurunan kesadaran ringan saat kejadian ----- periode Lucid (beberapa menit - beberapa
jam) ---- penurunan kesadaran hebat --- koma, deserebrasi, dekortisasi, pupil an isokor,
nyeri kepala hebat, reflek patologik positip.
d) Hematom subdural.
 Perdarahan antara duramater dan arachnoid.
Biasanya pecah vena --- akut, sub akut, kronis.
 Akut :
Gejala 24 - 48 jam.
Sering berhubungan dnegan cidera otak & medulla oblongata.
PTIK meningkat.
Sakit kepala, kantuk, reflek melambat, bingung, reflek pupil lambat.
 Sub Akut :
Berkembang 7 - 10 hari, kontosio agak berat, adanya gejala
TIK meningkat --- kesadaran menurun.
 Kronis :
Ringan , 2 minggu - 3 - 4 bulan.
Perdarahan kecil-kecil terkumpul pelan dan meluas.
Gejala sakit kepala, letargi, kacau mental, kejang, disfagia.

e) Hematom intrakranial.
Perdarahan intraserebral ± 25 cc atau lebih.
Selalu diikuti oleh kontosio.
Penyebab : Fraktur depresi, penetrasi peluru, gerakan akselerasi - deselerasi mendadak.
Herniasi merupakan ancaman nyata, adanya bekuan darah, edema lokal.

Pengaruh Trauma Kepala :


 Sistem pernapasan
 Sistem kardiovaskuler.
 Sistem Metabolisme.

Sistem Pernapasan :
TIK meningkat
Hipoksemia, hiperkapnia Meningkatkan rangsang simpatis

Peningkatan hambatan difusi O2 - Co2.


Edema paru Meningkatkan tahanan vask. sistemik dan tek darah

Meningkatkan tek, hidrostatik


Kebocoran cairan kapiler
Sistem pembuluh darah pulmonal tek. rendah.

Karena adanya kompresi langsung pada batang otak ---- gejala pernapasan abnormal :
 Chyne stokes.
 Hiperventilasi.
 Apneu.
Sistem Kardivaskuler :
 Trauma kepala --- perubahan fungsi jantung : kontraksi, edema paru, tek. Vaskuler.
 Perubahan saraf otonom pada fungsi ventrikel :
Disritmia.
Fibrilasi.
Takikardia.
 Tidak adanya stimulus endogen saraf simpatis --- terjadi penurunan kontraktilitas ventrikel. ----
curah jantung menurun --- menigkatkan tahanan ventrikel kiri --- edema paru.
Sistem Metabolisme :
 Trauma kepala --- cenderung terjadi retensi Na, air, dan hilangnya sejumlah nitrogen.

 Dalam keadaan stress fisiologis.

Trauma

ADHdilepas

Retensi Na dan air


Out put urine menurun

Konsentrasi elektrolit meningkat

Normal kembali setelah 1 - 2 hari.

 Pada keadaan lain :

Fraktur Tengkorak Kerusakan hipofisis


Atau hipotalamus

Penurunan ADH Diabetes Mellitus

Ginjal

Ekskresi air Dehidrasi Hilang nitrogen meningkat--- respon metabolik terhadap trauma.

Trauma

Tubuh perlu energi untuk perbaikan

Nutrisi berkurang
Penghancuran protein otot sebagai sumber nitrogen utama.

Pengaruh Pada G.I Tract. :


3 hari pasca trauma --- respon tubuh merangsang hipotalamus dan stimulus vagal.

Lambung hiperacidi
Hipotalamus ------ hipofisis anterior

Adrenal

Steroid

Peningkatan sekresi asam lambung

Hiperacidi
Trauma

Stress Perdarahan lambung

Katekolamin meningkat.
2.6. Komplikasi
Koma. Penderita tidak sadar dan tidak memberikan respon disebut coma. Pada situasi ini,
secara khas berlangsung hanya beberapa hari atau minggu, setelah masa ini penderita
akan terbangun, sedangkan beberapa kasus lainya memasuki vegetative state atau mati
penderita pada masa vegetative statesering membuka matanya dan mengerakkannya,
menjerit atau menjukan respon reflek. Walaupun demikian penderita masih tidak sadar dan
tidak menyadari lingkungan sekitarnya. Penderita pada masa vegetative state lebih dari satu
tahun jarang sembuh .
Seizure. Pederita yang mengalami cedera kepala akan mengalami sekurang-kurangnya
sekali seizure pada masa minggu pertama setelah cedera. Meskipun demikian, keadaan ini
berkembang menjadi epilepsy
Infeksi. Faktur tengkorak atau luka terbuka dapat merobekan membran (meningen)
sehingga kuman dapat masuk. Infeksi meningen ini biasanya berbahaya karena keadaan ini
memiliki potensial untuk menyebar ke sistem saraf yang lain .
Kerusakan saraf. Cedera pada basis tengkorak dapat menyebabkan kerusakan pada
nervus facialis. Sehingga terjadi paralysis dari otot-otot facialis atau kerusakan dari saraf
untuk pergerakan bola mata yang menyebabkan terjadinya penglihatan ganda .

1. Hilangnya kemampuan kognitif. Berfikir, akal sehat, penyelesaian masalah, proses


informasi dan memori merupakan kemampuan kognitif. Banyak penderita dengan cedera
kepala berat mengalami masalah kesadaran .
2. Penyakit Alzheimer dan Parkinson. Pada kasus cedera kapala resiko perkembangan
terjadinya penyakit alzheimer tinggi dan sedikit terjadi parkinson. Resiko akan semakin tinggi
tergantung frekuensi dan keparahan cedera
2.7. Pemeriksaan klinis
Pemeriksaan klinis pada pasien cedera kepala secara umum meliputi anamnesis,
pemeriksaan fisik umum, pemeriksaan neurologis dan pemeriksaan radiologi, pemeriksaan
tanda-tanda vital juga dilakukan yaitu kesadaran, nadi, tekanan darah, frekuensi dan jenis
pernafasan serta suhu badan Pengukuran tingkat keparahan pada pasien cedera kepala
harus dilakukan yaitu dengan Glasgow Coma Scale (GCS) yang pertama kali dikenalkan
oleh Teasdale dan Jennett pada tahun 1974 yang digunakan sebagai standar internasional

Tabel 2.1 Glasgow Coma Scale

Glasgow Coma Scale Nilai

Responmembukamata (E)
Buka mata spontan 4
Buka mata bila dipanggil/rangsangan suara 3
Buka mata bila dirangsang nyeri 2
Tak ada reaksi dengan rangsangan apapun 1
Respon verbal (V)
Komunikasi verbal baik, jawaban tepat 5
Bingung, disorientasi waktu, tempat, dan orang 4
Kata-kata tidak teratur 3
Suara tidak jelas 2
Tak ada reaksi dengan rangsangan apapun 1
Respon motorik (M)
Mengikuti perintah 6
Dengan rangsangan nyeri, dapat mengetahui tempat rangsangan 5
Dengan rangsangan nyeri, menarik anggota badan 4
Dengan rangsangan nyeri, timbul reaksi fleksi abnormal 3
Dengan rangsangan nyeri, timbul reaksi ekstensi abnormal 2
Dengan rangsangan nyeri, tidak ada reaksi 1
Nilai GCS = ( E+V+M), nilai terbaik = 15 dan nilai terburuk = 3
Pada pemerikasaan neurologis respon pupil, pergerakan mata, pergerakan wajah, respon
sensorik dan pemeriksaan terhadap nervus cranial perlu dilakukan. Pupil pada penderita
cedera kepala didak berdilatasi pada keadaan akut, jadi jika terjadi perubahan dari pupil
dapat dijadikan sebagai tanda awal terjadinya herniasi. Kekuatan dan simetris dari letak
anggota gerak ekstrimitas dapat dijadikan dasar untuk mencari tanda gangguan otak dan
medula spinalis. Respon sensorik dapat dijadikan dasar menentukan tingkat kesadaran
dengan memberikan rangsangan pada kulit penderita CT scan merupakan study diagnosis
pilihan dalam evaluasi penderita cedera kepala CT scan idealnya dilakukan pada semua
cedera otak dengan kehilangan kesadaran lebih dari 5 menit, amnesia, sakit kepala hebat,
GCS<15>. CT scan dapat memperlihatkan tanda terjadinya fraktur, perdarahan pada otak
(hemoragi), gumpalan darah (hematom), luka memar pada jaringan otak (kontusio), dan
udem pada jaringan otak .Selain itu juga dapat digunakan foto rongen sinar X, MRI,
angiografi dan sken tomografik terkomputerisasi. Pada pasien cedera kepala berat,
penundaan transportasi penderita karena menunggu CT scan sangat berbahaya karena
diagnosis serta terapi yang cepat sangat penting..

2.8. Data statistik


Pengukuran keluaran penderita cedera kepala
Berdasarkan pengukuran GCS di Amerika mayoritas (75-80%) penderita cedera kepala
adalah cedera kepala ringan, cedera kepala sedang dan berat yang masing-masingnya
antara 10% dan 20% . Sebagian besar penderita dengan cedera otak ringan pulih
sempurna, tapi terkadang ada gejala sisa yang sangat ringan. Perburukan yang tidak
terduga pada penderita cedera kepala ringan lebih kurang 3% yang mengakibatkan
disfungsi neurologis yang berat kecuali bila perubahan kesadaran dapat dideteksi lebih
awal. Sekitar 10-20% dari penderita cedera kepala sedang mengalami perburukan dan jatuh
dalam koma. Pada penderita dengan cedera kepala berat sering diperburuk dengan cedera
skunder. Hipoksia yang disertai dengan hipotensi pada penderita cedera kepala berat akan
menyebabkan mortalitas mencapai 75% .
Kecacatan akibat cedera kepala tergantung dari tingkat beratnya cedera, lokasi cedera,
umur dan kesehatan penderita. Beberapa kejadian kecacatan tersering yaitu masalah
kesadaran (fikiran, ingatan dan akal sehat), proses sensorik (melihat, mendengar, meraba,
mengecap dan menghidu), berkomunikasi (ekspresi dan pemahaman) dan tingkah laku atau
kesehatan mental (depresi, gelisah/cemas, perubahan kepribadian, agresif/menyerang, dan
keadaan sosial yang tidak normal) .
Menentukan keluaran dan prognosis dari cedera kepala sangat sulit . Terlambatnya
penanganan awal/resusitasi, pengangkutan/transport yang tidak adekuat, dikirim ke rumah
sakit yang tidak adekuat, terlambatnya dilakukan tindakan bedah dan adanya cedera
multiple yang lain merupakan faktor-faktor yang memperburuk prognosis penderita cedera
kepala . Untuk keluaran penderita, pengukuran standar yang biasa digunakan adalah
Glasgow Outcome Scale (GOS) yang dikemukakan oleh Jennett dan Bond (1975)..
2.9. Penatalaksanaan

2.9.1. Tindakan dan terapi


Penatalaksanaan awal penderita cedara kepala pada dasarnya memikili tujuan untuk
memantau sedini mungkin dan mencegah cedera kepala sekunder serta memperbaiki
keadaan umum seoptimal mungkin sehingga dapat membantu penyembuhan sel-sel otak
yang sakit . Untuk penatalaksanaan penderita cedera kepala, Adveanced Cedera Life
Support (2004) telah menepatkan standar yang disesuaikan dengan tingkat keparahan
cedera yaitu ringan, sedang dan berat .
Penatalaksanaan penderita cerdera kepala meliputi survei primer dan survei sekunder.
Dalam penatalaksanaan survei primer hal-hal yang diprioritaskan antara lain : A (airway), B
(breathing), C (circulation), D (disability), dan E (exposure/environmental control) yang
kemudian dilanjutkan dengan resusitasi. Pada penderita cedera kepala khususnya dengan
cedera kepala berat survei primer sangatlah penting untuk mencegah cedera otak skunder
dan menjaga homeostasis otak .
Kelancaran jalan napas (airway) merupakan hal pertama yang harus diperhatikan.Jika
penderita dapat berbicara maka jalan napas kemungkinan besar dalam keadaan adekuat.
Obstruksi jalan napas sering terjadi pada penderita yang tidak sadar, yang dapat
disebabkan oleh benda asing, muntahan, jatuhnya pangkal lidah, atau akibat fraktur tulang
wajah. Usaha untuk membebaskan jalan napas harus melindungi vertebra servikalis
(cervicalspinecontrol), yaitu tidak boleh melakukan ekstensi, fleksi, atau rotasi yang
berlebihan dari leher. Dalam hal ini, kita dapat melakukan chin lift atau jaw thrust sambil
merasakan hembusan napas yang keluar melalui hidung. Bila ada sumbatan maka dapat
dihilangkan dengan cara membersihkan dengan jari atau suction jika tersedia. Untuk
menjaga patensi jalan napas selanjutnya dilakukan pemasangan pipa orofaring. Bila
hembusan napas tidak adekuat, perlu bantuan napas. Bantuan napas dari mulut ke mulut
akan sangat bermanfaat (breathing). Apabila tersedia, O2 dapat diberikan dalam jumlah
yang memadai. Pada penderita dengan cedera kepala berat atau jika penguasaan jalan
napas belum dapat memberikan oksigenasi yang adekuat, bila memungkinkan sebaiknya
dilakukan intubasi endotrakheal
Status sirkulasi dapat dinilai secara cepat dengan memeriksa tingkat kesadaran dan denyut
nadi (circulation). Tindakan lain yang dapat dilakukan adalah mencari ada tidaknya
perdarahan eksternal, menilai warna serta temperatur kulit, dan mengukur tekanan darah.
Denyut nadi perifer yang teratur, penuh, dan lambat biasanya menunjukkan status sirkulasi
yang relatif normovolemik. Pada penderita dengan cedera kepala, tekanan darah sistolik
sebaiknya dipertahankan di atas 100 mmHg untuk mempertahankan perfusi ke otak yang
adekuat. Denyut nadi dapat digunakan secara kasar untuk memperkirakan tekanan sistolik.
Bila denyut arteri radialis dapat teraba maka tekanan sistolik lebih dari 90 mmHg. Bila
denyut arteri femoralis yang dapat teraba maka tekanan sistolik lebih dari 70 mmHg.
Sedangkan bila denyut nadi hanya teraba pada arteri karotis maka tekanan sistolik hanya
berkisar 50 mmHg. Bila ada perdarahan eksterna, segera hentikan dengan penekanan pada
luka
Setelah survei primer, hal selanjutnya yang dilakukan yaitu resusitasi. Cairan resusitasi yang
dipakai adalah Ringer Laktat atau NaCl 0,9%, sebaiknya dengan duajalur intra vena.
Pemberian cairan jangan ragu-ragu, karena cedera sekunder akibat hipotensi lebih
berbahaya terhadap cedera otak dibandingkan keadaan udem otak akibat pemberian cairan
yang berlebihan. Posisi tidur yang baik adalah kepala dalam posisi datar, cegah head
down (kepala lebih rendah dari leher) karena dapat menyebabkan bendungan vena di
kepala dan menaikkan tekanan intracranial
Pada penderita cedera kepala berat cedera otak sekunder sangat menentukan keluaran
penderita. Survei sekunder dapat dilakukan apabila keadaan penderita sudah stabil yang
berupa pemeriksaan keseluruhan fisik penderita. Pemeriksaan neurologis pada penderita
cedera kepala meliputi respos buka mata, respon motorik, respon verbal, refleks cahaya
pupil, gerakan bola mata (doll's eye phonomenome, refleks okulosefalik), test kalori dengan
suhu dingin (refleks okulo vestibuler) dan refleks kornea
Tidak semua pederita cedera kepala harus dirawat di rumah sakit. Indikasi perawatan di
rumah sakit antara lain; fasilitas CT scan tidak ada, hasil CT scan abnormal, semua cedera
tembus, riwayat hilangnya kesadaran, kesadaran menurun, sakit kepala sedang-berat,
intoksikasi alkohol/obat-obatan, kebocoran liquor (rhinorea-otorea), cedera penyerta yang
bermakna, GCS<15>..
Terapi medikamentosa pada penderita cedera kepala dilakukan untuk memberikan suasana
yang optimal untuk kesembuhan. Hal-hal yang dilakukan dalam terapi ini dapat berupa
pemberian cairan intravena, hiperventilasi, pemberian manitol, steroid, furosemid, barbitirat
dan antikonvulsan .
Indikasi pembedahan pada penderita cedera kepala bila hematom intrakranial >30 ml,
midline shift >5 mm, fraktur tengkorak terbuka, dan fraktur tengkorak depres dengan
kedalaman >1 cm
2.9.2. Rencana pemulangan
1. Jelaskan tentang kondisi anak yang memerlukan perawatan dan pengobatan.
2. Ajarkan orang tua untuk mengenal komplikasi, termasuk menurunnya kesadaran, perubahan
gaya berjalan, demam, kejang, sering muntah, dan perubahan bicara.
3. Jelaskan tentang maksud dan tujuan pengobatan, efek samping, dan reaksi dari pemberian
obat.
4. Ajarkan orang tua untuk menghindari injuri bila kejang: penggunaan sudip lidah,
mempertahankan jalan nafas selama kejang.
5. Jelaskan dan ajarkan bagaimana memberikan stimulasi untuk aktivitas sehari-hari di rumah,
kebutuhan kebersihan personal, makan-minum. Aktivitas bermain, dan latihan ROM bila
anak mengalami gangguan mobilitas fisik.
6. Ajarkan bagaimana untuk mencegah injuri, seperti gangguan alat pengaman.
7. Tekankan pentingnya kontrol ulang sesuai dengan jadual.
8. Ajarkan pada orang tua bagaimana mengurangi peningkatan tekanan intrakranial.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1. PENGKAJIAN
Pengumpulan data klien baik subyektif atau obyektif pada gangguan sistem persarafan
sehubungan dengan cedera kepala tergantung pada bentuk, lokasi, jenis injuri dan adanya
komplikasi pada organ vital lainnya. Data yang perlu didapati adalah sebagai berikut :

1. Identitas klien dan keluarga (penanggung jawab)


nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, status perkawinan, alamat, golongan
darah, pengahasilan, hubungan klien dengan penanggung jawab.

2. Riwayat kesehatan :
Tingkat kesadaran/GCS (< 15), konvulsi, muntah, dispnea / takipnea, sakit kepala, wajah
simetris / tidak, lemah, luka di kepala, paralise, akumulasi sekret pada saluran napas,
adanya liquor dari hidung dan telinga dan kejang
Riwayat penyakit dahulu haruslah diketahui baik yang berhubungan dengan sistem
persarafan maupun penyakit sistem sistemik lainnya. demikian pula riwayat penyakit
keluarga terutama yang mempunyai penyakit menular.
Riwayat kesehatan tersebut dapat dikaji dari klien atau keluarga sebagai data subyektif.
Data-data ini sangat berarti karena dapat mempengaruhi prognosa klien.
3. Pemeriksaan Fisik
Aspek neurologis yang dikaji adalah tingkat kesadaran, biasanya GCS < 15, disorientasi
orang, tempat dan waktu. Adanya refleks babinski yang positif, perubahan nilai tanda-tanda
vital kaku kuduk, hemiparese.
Nervus cranialis dapat terganggu bila cedera kepala meluas sampai batang otak karena
udema otak atau perdarahan otak juga mengkaji nervus I, II, III, V, VII, IX, XII.
4. Penatalaksanaan Medis Pada Trauma Kepala :
Obat-obatan :
ò Dexamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral, dosis sesuai
dengan berat ringanya trauma.
ò Terapi hiperventilasi (trauma kepala berat), untuk mengurnagi vasodilatasi.
ò Pengobatan anti edema dnegan larutan hipertonis yaitu manitol 20 % atau glukosa 40 %
atau gliserol 10 %.

ò Antibiotika yang mengandung barrier darah otak (penisillin) atau untuk infeksi anaerob
diberikan metronidasol.
ò Makanan atau cairan, Pada trauma ringan bila muntah-muntah tidak dapat diberikan apa-
apa, hanya cairan infus dextrosa 5 %, amnifusin, aminofel (18 jam pertama dari terjadinya
kecelakaan), 2 - 3 hari kemudian diberikan makanan lunak.
ò Pada trauma berat. Karena hari-hari pertama didapat penderita mengalami penurunan
kesadaran dan cenderung terjadi retensi natrium dan elektrolit maka hari-hari pertama (2-3
hari) tidak terlalu banyak cairan. Dextosa 5 % 8 jam pertama, ringer dextrosa 8 jam kedua
dan dextrosa 5 % 8 jam ketiga. Pada hari selanjutnya bila kesadaran rendah makanan
diberikan melalui nasogastric tube (2500 - 3000 TKTP). Pemberian protein tergantung nilai
ure nitrogennya.
ò Pembedahan.

5. Pemeriksaan Penujang
 CT-Scan (dengan atau tanpa kontras) : mengidentifikasi luasnya lesi, perdarahan,
determinan ventrikuler, dan perubahan jaringan otak. Catatan : Untuk mengetahui adanya
infark / iskemia jangan dilekukan pada 24 - 72 jam setelah injuri.
 MRI : Digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif.
 Cerebral Angiography: Menunjukan anomali sirkulasi cerebral, seperti : perubahan jaringan
otak sekunder menjadi udema, perdarahan dan trauma.
 Serial EEG: Dapat melihat perkembangan gelombang yang patologis
 X-Ray: Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur
garis(perdarahan/edema), fragmen tulang.
 BAER: Mengoreksi batas fungsi corteks dan otak kecil
 PET: Mendeteksi perubahan aktivitas metabolisme otak
 CSF, Lumbal Punksi :Dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachnoid.
 ABGs: Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah pernapasan (oksigenisasi) jika
terjadi peningkatan tekanan intrakranial
 Kadar Elektrolit : Untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan
tekanan intrkranial
 Screen Toxicologi: Untuk mendeteksi pengaruh obat sehingga menyebabkan penurunan
kesadaran.
Penatalaksanaan
Konservatif:
 Bedrest total
 Pemberian obat-obatan
 Observasi tanda-tanda vital (GCS dan tingkat kesadaran)
Prioritas Perawatan:
1. Maksimalkan perfusi / fungsi otak
2. Mencegah komplikasi
3. Pengaturan fungsi secara optimal / mengembalikan ke fungsi normal
4. Mendukung proses pemulihan koping klien / keluarga
5. Pemberian informasi tentang proses penyakit, prognosis, rencana pengobatan, dan
rehabilitasi.
Tujuan:
1. Fungsi otak membaik : defisit neurologis berkurang/tetap
2. Komplikasi tidak terjadi
3. Kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi sendiri atau dibantu orang lain
4. Keluarga dapat menerima kenyataan dan berpartisipasi dalam perawatan
5. Proses penyakit, prognosis, program pengobatan dapat dimengerti oleh keluarga sebagai
sumber informasi.

3.2. DIAGNOSA KEPERAWATAN


Diagnosa Keperawatan yang biasanya muncul adalah:
1. Tidak efektifnya pola napas sehubungan dengan depresi pada pusat napas di otak.
2. Tidak efektifnya kebersihan jalan napas sehubungan dengan penumpukan sputum.
3. Gangguan perfusi jaringan otak sehubungan dengan odem otak
4. Keterbatasan aktifitas sehubungan dengan penurunan kesadaran (soporos - coma)
5. Kecemasan keluarga sehubungan keadaan yang kritis pada pasien.
6 Resiko tinggi gangguan integritas kulit sehubungan dengan immobilisasi, tidak adekuatnya
sirkulasi perifer.

3.3. INTERVENSI

1.Tidak efektifnya pola napas sehubungan dengan depresi pada pusat napas di otak.
~Tujuan :
Mempertahankan pola napas yang efektif melalui ventilator.
~Kriteria evaluasi :
Penggunaan otot bantu napas tidak ada, sianosis tidak ada atau tanda-tanda
hipoksia tidak ada dan gas darah dalam batas-batas normal.
~Rencana tindakan :
 Hitung pernapasan pasien dalam satu menit. pernapasan yang cepat dari pasien dapat
menimbulkan alkalosis respiratori dan pernapasan lambat meningkatkan tekanan Pa Co2
dan menyebabkan asidosis respiratorik.
 Cek pemasangan tube, untuk memberikan ventilasi yang adekuat dalam pemberian tidal
volume.
 Observasi ratio inspirasi dan ekspirasi pada fase ekspirasi biasanya 2 x lebih panjang dari
inspirasi, tapi dapat lebih panjang sebagai kompensasi terperangkapnya udara terhadap
gangguan pertukaran gas.
 Perhatikan kelembaban dan suhu pasien keadaan dehidrasi dapat mengeringkan sekresi /
cairan paru sehingga menjadi kental dan meningkatkan resiko infeksi.
 Cek selang ventilator setiap waktu (15 menit), adanya obstruksi dapat menimbulkan tidak
adekuatnya pengaliran volume dan menimbulkan penyebaran udara yang tidak adekuat.
 Siapkan ambu bag tetap berada di dekat pasien, membantu membarikan ventilasi yang
adekuat bila ada gangguan pada ventilator.

2. Tidak efektifnya kebersihan jalan napas sehubungan dengan penumpukan sputum.


~Tujuan :
Mempertahankan jalan napas dan mencegah aspirasi
~Kriteria Evaluasi :
Suara napas bersih, tidak terdapat suara sekret pada selang dan bunyi alarm karena
peninggian suara mesin, sianosis tidak ada.
~Rencana tindakan :
1. Kaji dengan ketat (tiap 15 menit) kelancaran jalan napas. Obstruksi dapat disebabkan
pengumpulan sputum, perdarahan, bronchospasme atau masalah terhadap tube.
2. Evaluasi pergerakan dada dan auskultasi dada (tiap 1 jam ). Pergerakan yang simetris dan
suara napas yang bersih indikasi pemasangan tube yang tepat dan tidak adanya
penumpukan sputum.
3. Lakukan pengisapan lendir dengan waktu kurang dari 15 detik bila sputum banyak.
Pengisapan lendir tidak selalu rutin dan waktu harus dibatasi untuk mencegah hipoksia.
4. Lakukan fisioterapi dada setiap 2 jam. Meningkatkan ventilasi untuk semua bagian paru dan
memberikan kelancaran aliran serta pelepasan sputum.

3. Gangguan perfusi jaringan otak sehubungan dengan Odem otak


~Tujuan :
Mempertahankan dan memperbaiki tingkat kesadaran fungsi motorik.
~Kriteria hasil :
Tanda-tanda vital stabil, tidak ada peningkatan intrakranial.
~Rencana tindakan :
A. Monitor dan catat status neurologis dengan menggunakan metode GCS.
Refleks membuka mata menentukan pemulihan tingkat kesadaran.
Respon motorik menentukan kemampuan berespon terhadap stimulus eksternal dan
indikasi keadaan kesadaran yang baik.
Reaksi pupil digerakan oleh saraf kranial oculus motorius dan untuk menentukan refleks
batang otak.
Pergerakan mata membantu menentukan area cedera dan tanda awal peningkatan tekanan
intracranial adalah terganggunya abduksi mata.
1) Monitor tanda-tanda vital tiap 30 menit.
Peningkatan sistolik dan penurunan diastolik serta penurunan tingkat kesadaran dan tanda-
tanda peningkatan tekanan intrakranial. Adanya pernapasan yang irreguler indikasi terhadap
adanya peningkatan metabolisme sebagai reaksi terhadap infeksi. Untuk mengetahui tanda-
tanda keadaan syok akibat perdarahan.
3) Pertahankan posisi kepala yang sejajar dan tidak menekan.
Perubahan kepala pada satu sisi dapat menimbulkan penekanan pada vena jugularis ,
menghambat aliran darah otak, untuk itu dapat meningkatkan tekanan intrakranial.
4) Hindari batuk yang berlebihan, muntah, mengedan, pertahankan pengukuran urin
dan hindari konstipasi yang berkepanjangan. Dapat mencetuskan respon otomatik
peningkatan intracranial
5) Observasi kejang dan lindungi pasien dari cedera akibat kejang.
Kejang terjadi akibat iritasi otak, hipoksia, dan kejang dapat meningkatkan tekanan
intrakrania.
B. Berikan oksigen sesuai dengan kondisi pasien.
Dapat menurunkan hipoksia otak.
C. Berikan obat-obatan yang diindikasikan dengan tepat dan benar (kolaborasi).
Membantu menurunkan tekanan intrakranial secara biologi / kimia seperti osmotik diuritik
untuk menarik air dari sel-sel otak sehingga dapat menurunkan udem otak, steroid
(dexametason) untuk menurunkan inflamasi, menurunkan edema jaringan. Obat anti kejang
untuk menurunkan kejang, analgetik untuk menurunkan rasa nyeri efek negatif dari
peningkatan tekanan intrakranial. Antipiretik untuk menurunkan panas yang dapat
meningkatkan pemakaian oksigen otak.

4. Keterbatasan aktifitas sehubungan dengan penurunan kesadaran (soporos - coma )


~Tujuan :
Kebutuhan dasar pasien dapat terpenuhi secara adekuat.
~Kriteria hasil :
Kebersihan terjaga, kebersihan lingkungan terjaga, nutrisi terpenuhi sesuai dengan
kebutuhan, oksigen adekuat.
~Rencana Tindakan :
1) Berikan penjelasan tiap kali melakukan tindakan pada pasien.
Penjelasan dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan kerja sama yang dilakukan
pada pasien dengan kesadaran penuh atau menurun.
2) Beri bantuan untuk memenuhi kebersihan diri.
Kebersihan perorangan, eliminasi, berpakaian, mandi, membersihkan mata dan kuku, mulut,
telinga, merupakan kebutuhan dasar akan kenyamanan yang harus dijaga oleh perawat
untuk meningkatkan rasa nyaman, mencegah infeksi dan keindahan.
3) Berikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan.
Makanan dan minuman merupakan kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi untuk
menjaga kelangsungan perolehan energi. Diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien baik
jumlah, kalori, dan waktu.
4) Jelaskan pada keluarga tindakan yang dapat dilakukan untuk menjaga lingkungan yang
aman dan bersih.
Keikutsertaan keluarga diperlukan untuk menjaga hubungan klien - keluarga. Penjelasan
perlu agar keluarga dapat memahami peraturan yang ada di ruangan.
5) Berikan bantuan untuk memenuhi kebersihan dan keamanan lingkungan.
Lingkungan yang bersih dapat mencegah infeksi dan kecelakaan.

5.Kecemasan keluarga sehubungan keadaan yang kritis pada pasien.


~Tujuan :
Kecemasan keluarga dapat berkurang
~Kriteri evaluasi :
Ekspresi wajah tidak menunjang adanya kecemasan
Keluarga mengerti cara berhubungan dengan pasien
Pengetahuan keluarga mengenai keadaan, pengobatan dan tindakan meningkat.
~Rencana tindakan :
1. Bina hubungan saling percaya.
Untuk membina hubungan terpiutik perawat - keluarga.
Dengarkan dengan aktif dan empati, keluarga akan merasa diperhatikan.
2. Beri penjelasan tentang semua prosedur dan tindakan yang akan dilakukan pada pasien.
Penjelasan akan mengurangi kecemasan akibat ketidak tahuan.
3. Berikan kesempatan pada keluarga untuk bertemu dengan klien.
Mempertahankan hubungan pasien dan keluarga.
4. Berikan dorongan spiritual untuk keluarga.
Semangat keagamaan dapat mengurangi rasa cemas dan meningkatkan keimanan
dan ketabahan dalam menghadapi krisis.

6.Resiko tinggi gangguan integritas kulit sehubungan dengan immobilisasi, tidak


adekuatnya sirkulasi perifer.
~Tujuan :
Gangguan integritas kulit tidak terjadi
~Rencana tindakan :
1. Kaji fungsi motorik dan sensorik pasien dan sirkulasi perifer untuk menetapkan kemungkinan
terjadinya lecet pada kulit.
2. Kaji kulit pasien setiap 8 jam : palpasi pada daerah yang tertekan.
3. Berikan posisi dalam sikap anatomi dan gunakan tempat kaki untuk daerah yang menonjol.
4. Ganti posisi pasien setiap 2 jam
5. Pertahankan kebersihan dan kekeringan pasien : keadaan lembab akan memudahkan
terjadinya kerusakan kulit.
6. Massage dengan lembut di atas daerah yang menonjol setiap 2 jam sekali.
7. Pertahankan alat-alat tenun tetap bersih dan tegang.
8. Kaji daerah kulit yang lecet untuk adanya eritema, keluar cairan setiap 8 jam.
9. Berikan perawatan kulit pada daerah yang rusak / lecet setiap 4 - 8 jam dengan
menggunakan H2O2.
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada bab pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa :


1. Tengkorak sebagai pelindung jaringan otak mempunyai daya elastisistas untuk membatasi
trauma kepala bila terbentur benda tumpul
2. Adanya fenomena yang meningkat setiap tahunnya untuk angka kejadian trauma kepala.
Trauma kepala terdiri dari trauma kulit kepala, tulang kranial dan otak. Klasifikasi cedera
kepala meliputi trauma kepala tertutup dan trauma kepala terbuka yang diakibatkan oleh
mekanisme cedera yaitu cedera percepatan (aselerasi) dan cedera perlambatan
(deselerasi).
Cedera kepala primer pada trauma kepala menyebabkan edema serebral, laserasi atau
hemorragi. Sedangkan cedera kepala sekunder pada trauma kepala menyebabkan
berkurangnya kemampuan autoregulasi pang pada akhirnya menyebabkan terjadinya
hiperemia (peningkatan volume darah dan PTIK). Selain itu juga dapat menyebabkan
terjadinya cedera fokal serta cedera otak menyebar yang berkaitan dengan kerusakan otak
menyeluruh. Komplikasi dari trauma kepala adalah hemorragi, infeksi, odema dan herniasi.
Penatalaksanaan pada pasien dengan trauma kepala adalah dilakukan observasi dalam 24
jam, tirah baring, jika pasien muntah harus dipuasakan terlebih dahulu dan kolaborasi untuk
pemberian program terapi serta tindakan pembedahan.

4.2. Saran

1. Untuk mahasiswa diharapkan supaya lebih bekerja sama dalam pembuatan makalah
asuhan keperawatan Trauma Kapitis.

2. Mahasiswa diharapkan supaya lebih aktip meningkatkan ilmu pengetahuan dan


keterampilan dalam bidang keperawatan khususnya Asuhan Keperawatan Trauma Kapitis.

3. Untuk dosen supaya lebih banyak lagi memberikan pengetahuan tentang Gawat Darurat
.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
1. American College of Surgeon Committe on Trauma. Cedera kepala. Dalam: Advanced
Trauma Life Support for Doctors. Ikatan Ahli Bedah Indonesia, penerjemah. Edisi 7. Komisi
trauma IKABI, 2004; 168-193.
2. Bedong MA. Cedera Jaringan Otak : Pengenalan dan Kemungkinan
Penetalaksanaannya. Mei 2001 [31 Agustus 2007];. Diunduh
dari: http://www.tempo.ci.id/medica/arsip/052001/sek-1.htm
3.Coskey,Mc, et all.2007.Diagnosa Keperawatan NOC-NIC St-Louis . sumber :
4. Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology. 11th ed. Elsevier Saunders, 2006;
685-97.
5..Hartanto, Hurawati.2009. Kamus Saku Mosby. Jakarta. EGC
6. Mc Khann GM, Copass MK, Winn HR. Prehospital Care of the Head-Injuried Patient.
Dalam : Textbooks of Neurotrauma. Mc Graw Hill. 103-112
7. Rappaport WA, Brannan S. Head injury. Dalam: Surgery. Mosby Elsevier, 2005; 216-18.
8. Singh J. Head Trauma. 25 September 2006 [20 September 2007]; Topic 929: [11
screens]. Diunduh dari:http://www.emedicine.com/ped/topic929.htm
9.Snell RS. Clinical Anatomy for Medical Student. 6th ed. Sugiharto L, Hartanto H, Listiawati
E, Susilawati, Suyono J, Mahatmi T, dkk, penerjemah. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa
Kedokteran. Edisi 6. Jakarta: EGC, 2006; 740-59.
10. Stein SC. Classification of the Head Injury. Dalam: Textbook of Neurotrauma. Mc. Graw-
Hill. 31-38.
11.Santosa, Budi. 2005-2006. Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta : Prima Medikal.

12.Rahariyani, Loetfia Dwi. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Trauma kepala,Jakarta: EGC
13. Whittle IR, Myles L. Neurosurgery. Dalam: Prnciples and Practice of Surgery. 4th ed.
Elsevier Churchill Livingstone, 2007; 551-61.
14.Wijanarka A, Dwiphrahasto. Implementasi Clinical Governance: Pengembangan Indikator
Klinik Cedera Kepala di Instalasi Gawat Darurat. Desember 2005 [4 September 2007];
volume 8; [8 screens]. Diunduh dari:http://jmpk-online.net/files/05agus.pdf

Posted 10th November 2011 by myjxt

Add a comment

myjxt
 Classic

 Flipcard

 Magazine

 Mosaic

 Sidebar

 Snapshot

 Timeslide

NOV

10

ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA KEPALA


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Trauma kepala merupakan suatu kegawatan yang paling sering dijumpai di unit gawat darurat suatu
rumah sakit. ”No head injury is so serious that it should be despaired of, nor so trivial as to be lightly
ignored”, menurut Hippocrates bahwa tidak ada cedera kepala yang perlu dikhawatirkan serius yang
bisa kita putus harapan dan tidak ada juga keluhan yang dapat kita abaikan. Setiap tahun di Amerika
Serikat mencatat 1,7 juta kasus trauma kepala, 52.000 pasien meninggal dan selebihnya dirawat
inap. Trauma kepala juga merupakan penyebab kematian ketiga dari semua jenis trauma yang
dikaitkan dengan kematian (CDC, 2010).

OCT

29

kebutuhan nutrisi dan cairan pada bayi dan anak sehat


PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DAN CAIRAN UNTUK ANAK

PENGERTIAN

Ada beberapa pengertian yang menyangkut tentang nutrisi :

Nutrisi adalah proses pengambilan zat-zat makanan penting (Nancy Nuwer

Konstantinides).

• Jumlah dari seluruh interaksi antara organisme dan makanan yang dikonsumsinya (Cristian dan
Gregar 1985).

• Dengan kata lain nutrisi adalah apa yang manusia makan dan bagaimana tubuh menggunakannya.