You are on page 1of 6

KUALITAS UDARA DALAM RUANG KERJA

Ida Ayu Made Sri Arjani1

Abstract. Indoor air quality is a factor that can affect the health workforce.
Low air quality within a building closely associated with the occurrence of
problems Sick Building Syndrome (SBS) and Building Related Illeness (BLI).
Factors that influence the level of air quality in the work space is indoor air
contaminants, physical factors including air temperature, humidity and velocity
of air movement and air ventilation systems are used. A workspace is occupied
by many people with various health conditions it may be exposed to risk of
infection through contact with others is very great. Work space is too crowded
and air conditioning systems that are less well maintained with inadequate air
circulation will increase the risk of health problems. Taking into account the
quality of the air that meets the sanitary requirements and security is necessary
for all the occupants of the room (the employee) then always must be maintained
and stays within the range that is comfortable to work.
Keywords: work space, air quality and ergonomics.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
di dunia telah membawa dampak pada kualitas udara yang tidak memenuhi syarat
perubahan peradaban masyarakat. Di era menyebabkan biaya tinggi yang meliputi
globalisasi seperti sekarang ini biaya pemeliharaan kesehatan langsung,
menunjukkan perubahan yang sangat cepat kerusakan bahan dan peralatan serta biaya
dari peradaban masyarakat industri kehilangan produksi. Di Amerika Serikat
menuju masyarakat informasi. Salah satu diperkirakan bahwa kehilangan produksi
ciri dari masyarakat informasi adalah mendekati lima kali dari biaya
menghabiskan sebagian besar waktunya pemeliharaan kesehatan (WHS,1992).
untuk bekerja di dalam gedung dengan Ketidaknyamanan atau gangguan
menggunakan ventilasi buatan seperti Air kesehatan yang disebabkan karena
Conditioning (AC). Kualitas udara dalam kualitas udara dalam kenyataan di lapangan
suatu ruangan merupakan faktor yang menunjukkan, bahwa akibat
signifikan yang dapat mempengaruhi ketidaknyamanan, gangguan kesehatan
derajat kesehatan tenaga kerja. Hal dan kecelakaan tidak saja memperlambat
tersebut menurut Morey et all (1991) pelayanan atau ketepatan waktu produksi,
disebabkan oleh keadaan-keadaan tetapi juga dapat mengurangi kepercayaan
semakin meningkatnya jumlah orang yang pelanggan.
menghabiskan waktunya di dalam Berdasarkan laporan dari Lieckfield dan
ruangan, konstruksi – konstruksi bangunan Farrar (1991) dikutif dari WHO (1983)
gedung yang dirancang tidak bahwa kualitas udara yang rendah dalam
menggunakan jendela yang dapat dibuka, suatu bangunan berhubungan erat terhadap
meningkatnya penggunaan teknologi baru terjadinya problem Sick Building
dan bahan-bahan sintetis dan sarana energi Syndrome (SBS) dan Building Related
konservasi yang dapat menurunkan jumlah Illeness ( BLI). SBS yang di definisikan
udara dari luar yang disirkulasikan. oleh WHO yaitu sebagai suatu komplain

1 Dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Denpasar


178
Sri Arjani, IAM., (Kualitas udara dalam...)

yang tidak spesifik ditandai dengan Konsentrasi Oksigen (O2)


frekuensi tinggi dari gejala iritasi pada mata, Oksigen merupakan komponen udara
hidung, tenggorokan dan saluran nafas yang dapat mempengaruhi tingkat kualitas
bagian bawah, reaksi kulit, kepenatan, udara dalam ruangan. Gedung-gedung
pusing atau sakit kepala diantara orang yang menggunakan sarana pengatur suhu
yang tinggal dalam satu bangunan tertentu. ruangan (AC) dengan sistem sirkulasi
Sedangkan BLI merupakan problem udara mempunyai kelemahan yaitu
gangguan keseharan dan dapat dikenali semakin lama pengaliran udara akan
sebagai suatu penyakit yang agak spesifik semakin berkurang pula konsentrasi
diduga berhubungan dengan pemaparan oksigennya (Soedirman,1991). Hal
udara dalam ruangan, seperti penyakit tersebut disebabkan karena oksigen selalu
legionnaire, asma, dermatitis dll. Faktor- dibutuhkan oleh proses pernafasan
faktor yang mempengaruhi tingkat kualitas manusia. Pada kondisi normal udara
udara dalam suatu ruangan kerja yang mengandung oksigen sekitar 20,9%.
dapat menyebabkan probem SBS dan Standar minimum yang ditetapkan oleh
BRI adalah ; pertama, kontaminan udara NIOSH (1984) untuk ruang tertutup dan
dalam ruangan seperti : kontaminan ber-AC adalah 19,5%. Apabila
biologis, formaldehid, bahan-bahan yang konsentrasi O2 disuatu ruangan berada
mudah menguap, sisa hasil pernafasan, sisa pada konsentrasi di bawah kadar tersebut
hasil pembakaran dan partikel-partikel dapat mengakibatkan gangguan kesehatan
dalam udara. Kedua faktor fisik meliputi : berupa ; pusing, mudah mengantuk,
suhu udara, kelembaban dan kecepatan pernafasan menjadi sesak, dll.(Tarwaka &
gerakan udara untuk sirkulasi. Ketiga, Bakri,2001).
sistem ventilasi udara yang digunakan.
Suatu ruangan kerja yang ditempati oleh Kontaminasi Udara dalam Ruang
banyak orang dengan berbagai kondisi Kerja
kesehatan maka kemungkinan untuk dapat Pada suatu ruangan kerja, dimana
terpapar oleh resiko infeksi melalui kontak ditempati oleh banyak orang dengan
dengan orang lain sangat besar. Ruang berbagai kondisi kesehatan yang berbeda
kerja yang terlalu padat penghuninya dan tentunya kemungkinan besar untuk dapat
sistem AC yang kurang terawat dengan terpapar oleh resiko infeksi sangat tinggi.
sirkulasi udara yang kurang memadai akan Biasanya dalam suatu observasi lapangan
dapat meningkatkan resiko timbulnya kita sering terpaku hanya kepada
gangguan kesehatan. Resiko tersebut pemaparan bahan –bahan kimia tertentu
kemungkinan dapat lebih terpapar oleh saja yang kadarnya cukup tinggi dan dapat
kondisi seperti : asap rokok dalam menyebabkan keracunan, menimbulkan
ruangan, bahan-bahan bangunan (furniture, penyakit yang parah atau bahkan
peralatan-peralatan modern), produk- menyebabkan kematian. Sementara itu
produk pembersih ruangan dan bahan- pemaparan terhadap kadar kontaminasi
bahan pencemar udara dari luar ruangan. yang rendah yang dapat menyebabkan
Mengingat kualitas udara yang memenuhi ganguan kesehatan meskipun tidak berat
syarat kesehatan dan keselamatan sangat masih sering diabaikan. Padahal apabila
diperlukan oleh semua penghuni ruangan telah terjadi akumulasi dari bahan-bahan
(karyawan) maka harus selalu dijaga dan penemar meskipun kadarya rendah, akan
diupayakan tetap dalam kisaran yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan
nyaman untuk bekerja. yang bersifat kronis.

179
Jurnal Skala Husada Volume 8 Nomor 2 September 2011 : 178-183

Beberapa jenis kontaminan atau bahan konsentrasi rendah. Menurut WH0 (1992)
pencemar yang sering dapat menurunkan bahwa ozon dapat menyebabkan iritasi
kualitas udara dalam suatu ruang kerja, pada mata dan saluran pernafasan. Oleh
yaitu : karen ozon merupakan gas yang sangat
Karbon Dioksida (CO2) mudah bereaksi, pada umumnya hanya
dapat dijumpai dekat dengan sumbernya
Kadar CO2 merupakan indikator untuk dan hanya mempunyai pengaruh yang kecil
mengetahui efektif tidaknya sistem ventilasi pada ligkungan udara dalam ruang kerja.
dalam ruangan yang bersangkutan. Kadar
CO 2 dalam suatu ruangan harus Partikel-partikel dalam udara ruang
diusahakan < 1.000 ppm. Apabila kadar kerja
CO 2 melebihi batas tersebut maka Partikel-partkel yang biasanya terdapat di
memberikan indikasi bahwa jumlah udara dalam ruangan kerja meliputi : hasil
segar yang dialirkan melalui sistem ventilasi pembakaan dari proses memasak dan
tidak mencukupi. ASHRAE Standar 62- merokok, debu dari pakaian, kertas dan
1989 merekomendasikan untuk ruang karpet, serat asbes dari bahan banunan,
kerja perkantoran harus mempunyai rata- serat fiberglass yang terdapat dalam
rata aliran udara masuk sekurang-kuranna saluran pipa AC.
10 l/det/orang untuk mempertahankan Secara umum kadar partikel yang
kadar CO2 d ibawah 1000 ppm. Dari hasil berlebihan dapat menyebabkan reaksi
penelitan Tarwaka & Bakri (2001) alergik seperti mata kering, problem
dilaporkan bahwa suatu ruangan dengan kontak lensa mata, iritasi hidung,
konsentrasi karbon dioksida diatas 1000 tenggorokan dan kulit, batuk-batuk an
ppm menyebabkan ganguan kesehatan dan sesak nafas. Pada gedung-gedung
keyamanan pekerjanya. perkantoran rerata partikel debu pada
Formaldehid ruangan non – smoking area adalah 10 µg/
m³ sedangkan pada smoking area berkisar
Formaldehid merupakan gas yang tidak
antara 30 – 100 µg/m³ (Morey et al.,
berwarna dengan bau yang cukup tajam.
1991). Standar maksimum partikel debu
Formaldehid biasanya dihasilkan dari
untuk ruang kerja perkantoran ternyata
bahan-bahan bangunan seperti plywood,
beragam. WHO (1976) menetapkan
karpet, furniture, Urea- Formaldebyde
rerata kadar debu dalam setahun adalah
Foam Insulation (UFFI). Pemaparan
40 µg/m³ dan kadar maksimum 24 jam
formaldehid pada kadar yang cukup
adalah 120 µg/m³ , NH & MRC (1985)
rendah 0,05 – 0,5 ppm dapat
menetapkan rerata kadar dalam setahun
menyebabkan mata terbakar, iritasi pada
adalah 90 µg/m³ . Sedangkan SAA (1980)
saluran nafas bagian atas dan dicurigai
menetapkan rerata kadar dalam setahun
sebagai karsinogen (Heryuni,1993).
adalah 60 µg/m³ µg/m³ dan kadar
Ozon (O3) maksimum 24 jam adalah 150 µg/m³.
Berbagai proses kegiatan dan peralatan Produk hasil Pembakaran
yang menggunakan sinar ultraviolet (UV) Menurut Hau (1997) bahwa produk sisa
atau menyebabkan ionisasi udara mungkin hasil pembakaran dapat meliputi karbon
menghasilkan Ozon. Peralatan kerja yang monoksida (CO), nitrogen oksida (NO &
dapat mengeluarkan ozon antara lain: NO2) dan hidro karbon (HC). Gas-gas
printer laser, lmpuUV, mesin photocopy tersebut dapat bersumber dari dalam
dan ioniser. Ozon merupakan gas yang bangunan itu sendiri seperti: pembakaran
sangat beracun dan mempunyai efek pada
180
Sri Arjani, IAM., (Kualitas udara dalam...)

akibat proses masak memasak, merokok Cuaca Kerja


dalam ruang kerja. Timbal (Pb) merupakan Cuaca kerja merupakan kombinasi dari
bahan pencemar yang potensial yang komponen suhu udara, kecepatan gerakan
sering ditemukan dalam kadar cukup tinggi udara dan kelembaban udara. Komponen
di ruangan kerja dekat dengan parkir. – komponen tersebut dapat mempengaruhi
Sumber-sumber bahan pencemaran yang persepsi kualitas udara dalam ruangan
berasal dari luar bangunan biasanya kerja, sehingga harus selalu dijaga agar
dibawa masuk ke dalam ruangan melalui berada pada kisaran yang dapat diterima
aliran udara ventilasi. CO yang terikat untuk kenyamanan penghuninya. Untuk
dalam darah terutama haemoglobin akan mendapatkan tingkat kenyamanan yang
menghambat fungsi oksigen dalam dapat diterima oleh semua karyawan maka
sirkulasi. Pada konsentrasi tinggi CO perpaduan antara suhu udara, kecepatan
dapat menyebabkan kematian, sedangkan gerakan udara dan kelembaban udara
NO dapat menyebabkan iritasi pada mata harus diatur sesuai dengan standar yang
dan saluran pernafasan. Mesin-mesin ditetapkan.
pembangkit yang sering digunakan seperti Komplain tentang ketidaknyamanan suhu
generator, mesin diesel, kompresor dll, udara dalam ruang kerja sering terjadi pada
harus ditempatkan pada ruang yang penghuni gedung-gedung perkantoran.
terpisah dengan gedung induk dan Masalah kualitas udara dalam ruangan
dipelihara agar pekerja tidak terpaparoleh tersebut biasanya disebabkan karena
gas emisi dari mesin-mesin tersebut. kelembaban dan gerakan udara di luar
Pencemaran Mikrobiologi batas yang dianjurkan. Didasarkan pada
Kelembaban udara yang tinggi, sirkulasi rekomendasi NIOSH (1984), tentang
udara yang tidak seimbang, bangunan yang kriteria untuk suhu nyaman ; suhu udara
terlalu rapat satu sama lain, sistem AC yang dalam ruang yang dapat diterima adalah
menggunakan air dan kondensasi akan berkisar antara :20-24oC untuk musim
merangsang tumbuh dan berkembangnya dingin berkisar antara : 23-26oC untuk
mikrobiologi seperti pirus, bakteri, jamur, musim panas pada kelembaban 35-65%.
protozoa dll. Rata-rata gerakan udara untuk ruang yang
Virus, bakteri dan jamur dapat ditempati tidak melebihi 0,15m/det untuk
menyebabkan infeksi dan reaksi alergik musim dingin dan 0,25 m/det untuk musim
pada lingkungan dalam ruangan tertutup. panas. Kecepatan udara dibawah 0,07 m/
Infeksi oleh bakteri tertentu seperti det akan memberikan rasa yang tidak enak
penyakit legionnaire dapat disebarkan di badan dan rasa tidak nyaman. WHO
melalui sistem AC yang menggunakan (1976) memberikan rekomendasi tentang
cooling towers (Lieckfild & Farrar, 1991). kecepatan gerakan udara dan kelembaban
Pemeliharaan yang kurang bagus dari yang harus disesuaikan dengan kondisi
sistem ventilasi tersebut akan membantu udara setempat untuk mendapatkan udara
pertumbuhan organisme mikrobiologi. yang nyaman.
Sedang pemaparan untuk waktu yang lama Pengujian Kualitas Udara
oleh jamur dan mikroorganisme lainnya
dapat menyebabkan alergi atau reaksi Untuk mengetahui dan menilai kondisi
asmatik bagi penghuni gedung ber-AC. kualitas udara dalam ruangan maka faktor-
faktor yang harus diuji setidaknya meliputi
parameter faktor fisik lingkungan kerja
seperti suhu (basah & kering), Indek Suhu

181
Jurnal Skala Husada Volume 8 Nomor 2 September 2011 : 178-183

Basah dan Bola (ISBB), kelembaban Kesimpulan


relatif dan kecepatan gerakan udara (m/ Perhatian utama ergonomi adalah pada
det) dan kontaminan udara yang meliputi manusia dan interaksinya dengan
partikel (debu), hasil pernafasan (karbon lingkungan tempatnya bekerja. Tujuan
dioksida), pembakaran gas-gas (karbon utamanya untuk meningkatkan
monoksida, nitrogen dioksida dan sulfur keselamatan, keamanan, kepuasan
dioksida), konsentrasi Oksigen (O2) di bekerja dan kualitas hidup serta
udara, Ozon (O 3) dan formaldehid mengurangi kelelahan dan stress manusia,
(HCHO). Ada beberapa langkah yang dengan segala kemampuan dan
dipergunakan dalam pengujian udara keterbatasannya. Faktor manusia
seperti pertama, melakukan survey awal memegang peranan penting pada masalah
yang meliputi mengidentifikasi tanda-tanda, keselamatan dan kesehatan pekerja
gejala dan keluhan yang dalami oleh dengan memperhatikan lingkungan fisiknya
sebagian besar karyawan, membagikan termasuk kualitas udaranya dalam ruang
kuesioner tentang keluhan subyektif kerjanya. Beberapa jenis kontaminan atau
karyawan dan pengujian awal terhadap bahan pencemar yang sering dapat
parameter suhu udara, kelembaban dan menurunkan kualitas udara dalam suatu
aliran atau sirkulasi udara. Kedua, survey ruang kerja, yaitu : Karbon Dioksida
lengkap yang meliputi penilaian sistem (CO2), Formaldehid, Ozon (O3),
ventilasi, pengujian suhu udara, Partikel-partikel dalam udara ruang kerja,
kelembaban udara, aliran udara dan Produk hasil Pembakatan dan
pengambilan sampel gas-gas dan partikel Pencemaran Mikrobiologi. Untuk
udara yang diduga sebagai penyebab mengatasi masalah tersebut maka
rendahnya kualitas udara ruangan kerja diperlukan langkah-langkah pengen-
seperti kadar O2, O3, CO, NO2, SO2, daliannya seperti : pemindahan atau
formaldehid, debu dll. penggantian sumber pencemaran,
Langkah-Langkah Alternatif modifikasi tempat atau proses kerja dan
Pengendalian mendesain sistem ventilasi udara.
Apabila kualitas udara dalam ruang kerja
telah diidentifikasi dan dinilai
keberadaannya, maka apabila
diketemukan hal-hal yang dapat
menurunkan kualitas udara dalam suatu
ruangan harus segera dilakukan perbaikan
sebagai upaya pengendalian. Pengendalian
terhadap kualitas udara dalam ruang kerja
dapat ditempuh melalui cara pemindahan
atau penggantian sumber pencemaran
dimana dimaksudkan untuk menurunkan
atau menggantikan bahan-bahan yang
lebih berbahaya dengan yang kurang
berbahaya. Disamping itu dapat juga
dengan modifikasi tempat atau proses
kerja, mendesain sistem ventilasi udara
agar dicapai kualitas udara yang
diinginkan.
182
Sri Arjani, IAM., (Kualitas udara dalam...)

Daftar Pustaka Tarwaka & Bakri, S.A 2001. Kurangnya


Hau,E,1997. Lecture and practical session sirkulasi udara menyebabkan
on Indoor Air Quality, The gangguan kesehatan dan
University of Queensland, Australia. kenyamanan Karyawan di
Heryuni,S.,1993. Kualitas Lingkungan Basemen Hotel. Majalah Hiperkes
Kerja Perkantoran dan Standarnya, dan keselamatan Kerja, Jakarta:
Majalah Hiperkes dan XXXIV (3): 26-33.
Keselamatan Kerja, Jakarta,XXVI World Health Organisation (WHO),
(2dan3): 11-27. 1976. Suess, M.J. & Craxford,
Morey,P.R., & Singh, J. 1991. Indoor Air Eds. Manual on Urban Air
Quality in Nonindustrial Quality Management,
Occupational Environment. Patty’s Copenhagen.
Industrial Hygiene and Workplace Health and Safety ( WHS),
Toxicology, 4 th Edt. USA. 1992. Indoor Air Quality, Aguide
Mutchler,J.E. & Golenblewski, for Healthy and Safe Workplaces,
M.A.1991. Air Pollution Control. Queensland Government, Australia
In: Clayton, G.D. & Clayton, F.E.
Eds. Patty’s Industrial Hygiene
and Toxicology, General Principles
4th Edt. Vol I (A), John Wiley &
Sons, Inc, Amerika.
Standards Association of Australia (SAA),
1980. Mechanical Ventilation and
Air Conditioning Code, part 2,
Australia

183