You are on page 1of 168

Akhsanul In’am, Ph.

Akhsanul In’am, Ph.D


Fakta menunjukkan bahwa guru sebagai sumber informasi utama dan
peserta didik sebagai penerima informasi dalam kegiatan pembelajaran,
sehingga aktivitas berpusat pada guru. Selain itu, kurangnya penyadaran peserta
didik mengenai pentingnya materi yang dipelajarinya, hal ini mempunyai dampak
kepada prestasi hasil belajar peserta didik. Sebagian dari penyebab keadaan
tersebut adalah peranan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
Dampak yang diperoleh dengan penggunaan metode yang digunakan guru,
pencapaian hasil ujian pelajaran matematika di Indonesia termasuk dalam
kategori rendah, hal ini dapat dilihat dari hasil ujian nasional pelajaran
matematika yang masih rendah. Memperhatikan keadaan tersebut, hendaknya
pembelajaran matematika dirancang untuk memudahkan peserta didik

Model Pembelajaran Matematika Berbasis Metakognitif


memahami pelajaran.
Usaha untuk meningkatkan pembelajaran matematika menjadi perhatian
utama dan kebanyakan negara berusaha mencari jalan untuk meningkatkan
pembelajaran di kalangan peserta didik. Oleh karena itu, keputusan yang dibuat
guru pada kegiatan pembelajaran, baik sebelum, semasa maupun setelah
pelaksanaan adalah sangat bermakna bagi peserta didik dan guru. Pembelajaran
matematika mestilah berdasarkan kepada situasi masalah dan memberikan
kesadaran terkait dengan materi yang dipelajarinya. Hal ini sebagai usaha agar
peserta didik memperoleh kepiawaian matematika melalui analisis, ketepatan
jawaban serta proses komunikasi berasaskan ide matematika. Wawasan
pembelajaran matematika yang dikembangkan dalam buku ini menganjurkan
peranan guru dikembangkan dari seorang penyampai informasi kepada seorang
fasilitator dan bagaimana langkah-langkah mengarahkan dan membimbing
kesadaran peserta didik untuk belajar melalui pengembangan model
pembelajaran matematika berbasis metakognitif.

ISBN 978-602-8299-28-2
Penerbit Selaras
Anggota IKAPI Jatim
Perum Pesona Griya Asri A-11
Malang 65154
Tlp. (0341) 9405080
Selaras

9 786028 299282
Model Pembelajaran
Matematika berbasis
Metakognitif

i
ii
Akhsanul In’am, Ph.D

Model Pembelajaran
Matematika berbasis
Metakognitif

iii
Model Pembelajaran Matematika Berbasis Metakognitif

Penulis: Akhsanul In’am, Ph.D


Editor: Team Selaras
Layout Isi dan Sampul: Team Selaras

@ Copyright 2012

Hak cipta dilindungi Undang-undang

Diterbitkan oleh:
Penerbit Selaras
Perum Pesona Griya Asri A-11 Malang 65154
Tlp.: (0341) 9405080

Anggota IKAPI Jawa Timur

Cetakan 1, Desember 2012

ISBN: 978-602-8299-28-2

Jumlah: x + 157 hlm.


Ukuran 15,5 x 23 cm

Sanksi Pelanggaran Pasal 22


Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta:
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing
paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau
pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah).
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum
suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagimana dimaksud
pada ayat (1) dipidanya dengan penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian


atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

iv
v
KATA PENGANTAR

Stagnasi pembelajaran yang seringkali ditemui


dilapangan menjadikan proses pembelajaran tidak dapat
berkembang mengikuti irama perkembangan peserta didik.
Kondisi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor,
antaranya guru, kurikulum, sarana dan kondisi input yang
variatif. Guru merupakan faktor utama menjadikan kegiatan
pembelajaran dapat mengikuti perkembangan kondisi
peserta didik. Proses menyampaikan materi pelajaran
memerlukan seni, inovasi dan dinamisasi dalam
pelaksanaannya.
Memandang perlunya kreatifitas, seorang guru
hendaknya selalu berusaha untuk mengembangkan proses
pembelajaran yang mengedepankan dinamika dan
memperhatikan perkembangan pengetahuan. Pesatnya
perkembangan dunia, terutama dibidang ilmu pengetahuan
dan teknologi menjadikan kehidupan dunia menjadi
mudah, berbagai informasi yang diperlukan cukup dalam
hitungan detik dapat diperolehnya. Kondisi ini menjadikan
guru adalah bagian dari sumber ilmu pengetahuan dan
bukan satu-satunya untuk memperoleh pengetahuan.
Memperhatikan yang demikian, proses pembelajaran
yang dirancang guru hendaknya memperhatikan kemajuan
dan dinamisasi pengetahuan. Perencanaan yang telah
dilakukan pada tahun pelajaran sebelumnya, sudah
seharusnya dilakukan perbaikan mengikuti perkembangan.
Usaha yang hendaknya dilakukan adalah melakukan
pengembangan proses pembelajaran yang dilakukan
melalui pengembangan model pembelajaran.

vi
Paparan dalam buku ini memberikan arahan kepada
guru untuk dapat melakukan pengembangan model
pembelajaran matematika disertakan mengenai langkah-
langkah yang hendaknya dilakukan dalam proses
pengembangan model pembelajaran. Secara khusus,
dipaparkan contoh pengembangan model pembelajaran
matematika berbasis metakognitif yang mengedepankan
adanya kesadaran, baik oleh guru maupun peserta didik.
Sadar mengenai apa yang dipelajarinya, sadar apa yang
belum dikuasainya dan sadar bagaimana cara
memperolehnya. Selain itu dikemukakan beberapa kajian
yang telah dilakukan dalam pengembangan model
pembelajaran dan dapat dijadikan bahan awal untuk
melakukan pengembangan model pembelajaran
matematika yang mengedepankan prinsip konstuktivisme.

Malang, Agustus 2012

vii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................... vi


Daftar Isi .......................................................................... viii

BAB 1 Pendahuluan
A. Matematika Sekolah dan Psikologi
Pembelajaran Matematika ............................ 6
B. Permasalahan Pembelajaran Matematika .. 14
C. Kerangka Kerja Konseptual Pembelajaran
Matematika ..................................................... 22
D. Manfaat Pembelajaran Matematika berbasis
Metakognitif ................................................... 25

BAB 2 Belajar dan Pembelajaran


A. Pembelajaran .................................................. 30
B. Teori Pembelajaran ........................................ 38
C. Teori Belajar Behavioristik ........................... 45
D. Teori Belajar Konstruktivistik ..................... 52

BAB 3 Langkah-langkah Pengembangan Model


Pembelajaran
A. Desain Pengembangan Model ..................... 63
B. Pemilihan Tempat Impelementasi .............. 64
C. Tahap Pengembangan Model ...................... 65
D. Pengembangan Instrumen ............................ 71
E. Validitas dan Reliabilitas Instrumen .......... 89

BAB 4 Pengembangan Model Pembelajaran


Matematika Berbasis Metakognitif
A. Pendekatan Metakognitif ............................. 100
B. Kemahiran Berpikir ....................................... 101
C. Aspek Metakognitif ....................................... 105
D. Strategi Pengembangan Tingkah Laku
Metakognitif ................................................... 110

viii
BAB 5 Model Pembelajaran Matematika Berdasarkan
Metakognitif
A. Komponen Model Pembelajaran
Matematika berdasarkan Metakognitif ...... 117
B. Aspek-aspek Metakognitif dalam
Pembelajaran .................................................. 120

BAB 6 Kajian Pengembangan Model Pembelajaran


Matematika
A. Pengembangan model pembelajaran
kooperatif matematika yang berorientasi
pada keperibadian peserta didik
(Model PKBK) di Sekolah Dasar ................. 131
B. Pengembangan Model Pembelajaran
untuk Menumbuhkan Kemampuan
Metakognitif ................................................... 136
C. Pengembangan Model Pembelajaran
Matematika secara Membumi ..................... 138
D. Pengembangan Model Pembelajaran
Matematika berdasarkan Konstruktivisme
untuk Peserta Didik SMP ............................. 140

Daftar Pustaka ..................................................................... 142


Glosarium .......................................................................... 151
Biodata Penulis ................................................................... 156

ix
x
BAB
1 PENDAHULUAN

Ditinjau dari segi sejarah evolusi dan kurikulum


pendidikan, tujuan pendidikan secara umum dapat
dipahami dari tiga perspektif, yaitu: a) pengembangan
manusia; b) pembangunan negara; dan c) pengembangan
sumber daya manusia untuk kapitalisme (Sufean, 2002).
Ditinjau dari sudut pengembangan manusia, dibagi menjadi
empat dasar utama, yaitu learning to know ialah proses
pembelajaran yang dilaksanakan agar peserta didik
memperoleh pengetahuan yang luas, terutama tentang ilmu
dasar yang akan digunakan dalam kehidupan, learning to
do ialah proses pembelajaran yang mengarah kepada aspek
keterampilan, peserta didik diharapkan dapat
mengimplementasikan apa yang telah diketahuinya, learning
to be ialah proses pembelajaran yang menekankan kepada
peningkatan potensi peserta didik sesuai dengan minat dan
bakatnya, dan yang terakhir adalah learning to live together
ialah proses pendidikan yang dapat menghasilkan peserta
didik memiliki kemampuan untuk hidup secara damai,
toleran, dan bekerjasama dengan sesamanya (Suparlan,
2004; Asri, 2005).
Ditinjau dari segi pengembangan nasional Indonesia,
tujuan pendidikan adalah usaha mencerdaskan kehidupan
bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang
beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai
ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni bagi mewujudkan
masyarakat yang maju, adil, makmur dan beradap
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (UU
No. 20 Tahun 2003).
Manakala ditinjau dari segi pengembangan ekonomi,
pendidikan merupakan salah satu bentuk investasi jangka
pajang yang menanamkan ilmu pengetahuan, keterampilan,

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 1


kepakaran, nilai, norma, sikap, dan perilaku yang berguna
bagi manusia sehingga dapat meningkatkan kualitas belajar
dan produktifitasnya. Terjadinya peningkatan kualitas
belajar mempunyai implikasi kepada produktivitas
seseorang meningkat sehingga akan meningkatkan
pendapatan dan dapat menghasilkan sesuatu yang berupa
barang dan jasa untuk masyarakat. Keadaan ini memberikan
makna bahwa peningkatan pendidikan mempunyai
dampak kepada peningkatan pertumbuhan ekonomi (Abas,
2004), selain itu, pendidikan juga menjadi agen untuk
melahirkan sumber daya manusia termasuk didalamnya
adalah guru (Sufean, 2002).
Terdapat beberapa aspek yang mempengaruhi
pencapaian tujuan pendidikan, yaitu peserta didik,
kurikulum, sarana dan guru (Abd Rahim, 2005; Ibrahim,
2004). Guru merupakan faktor utama berbanding ketiga
faktor lainnya dalam proses pendidikan dan merupakan
bagian yang sangat penting dalam proses pembelajaran
(Ibrahim, 2004; Fasli & Dedi, 2001; Syaiful, 2000). Guru yang
berkualitas dapat melakukan pembelajaran yang
berkualitas, implikasinya akan dihasilkan peserta didik
yang berkualitas dan hal ini berarti akan memberikan
dampak kepada pendidikan yang berkualitas. Guru yang
berkualitas merupakan salah satu dari pelaksanaan
profesionalisme dalam menjalankan tugas.
Seseorang akan bekerja secara profesional apabila
memiliki kemampuan dan motivasi, artinya jika seseorang
bekerja secara profesional maka ia memiliki kemampuan
kerja yang tinggi dan kesungguhan hati untuk mengerjakan
pekerjaannya dengan sebaik-baiknya (Ibrahim, 2004). Guru
sebagai tenaga profesional berperan untuk meningkatkan
martabat dan sebagai agen pembelajaran yang berperan
untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional (UU
No.14 Tahun 2005). Jika profesionalisme guru ditingkatkan,
sudah pasti meningkatnya kualitas pembelajaran dan
implikasinya ialah meningkatnya kualitas prestasi peserta

2 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


didik. Implikasi yang diperoleh dengan meningkatnya
kualitas prestasi peserta didik, sekolah menjadi berkualitas
dan hal ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat,
terutama orang tua.
Sebagai usaha yang dijalankan pemerintah yang
mempunyai kewajiban untuk meningkatkan kualitas guru
melalui berbagai aktivitas, antaranya adalah kegiatan
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), sebagai
kumpulan guru-guru untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran untuk setiap materi pelajaran. Melalui
kegiatan MGMP, guru mendisksuikan berbagai hal
berkenaan dengan materi dan pembelajaran, baik mengenai
pemecahan permasalahan maupun pemunculan ide dan
gagasan serta kreativitas dalam upayanya untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran. Memperhatikan yang
demikian perlu dilakukan perbaikan melalui reformasi
pendidikan dengan memperhatikan konsep belajar dan
pembelajaran, bagaimana seharusnya peserta didik belajar
dan bagaimana pula guru melakukan aktivitas pengajaran
(Brook & Brook, 1993; Wina, 2008).
Reformasi pendidikan berarti usaha penciptaan
program-program yang berfokus kepada perbaikan kualitas
pembelajaran, sehingga kegiatan pengajaran betul-betul
sebagai aktivitas untuk menyelesaikan kegagalan peserta
didik dalam belajar (Podhorsky & Moore, 2006). Sehingga,
seorang guru dalam menjalankan tugas hendaknya
memiliki minimum empat kompetensi dasar, yaitu
kompetensi pedagogikk, kepribadian, profesional dan
sosial.
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola
pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap peserta
didik, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran
serta pengembangan peserta didik untuk
mengimplementasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Kompetensi ini terdiri dari: a) memahami bentuk ciri
khusus peserta didik dari aspek-aspek fisik, sosial, moral,

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 3


kultural, emosional dan intelektual; b) memahami keadaan
latar belakang keluarga dan sosial masyarakat dari peserta
didik dan keperluan kegiatan belajar dalam konteks
multikulturanisme; c) memahami gaya belajar dan
kesukaran belajarnya; d) memberikan sarana bagi
pengembangan potensi yang dimiliki peserta didik; e)
menguasai prinsip dan teori pembelajaran; f)
mengembangkan kurikulum bagi peningkatan kualitas
prestasi peserta didik; g) mengembangkan pembelajaran
yang mendidik; dan h) melaksanakan evaluasi proses dan
hasil pembelajaran (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
No. 16 Tahun 2007).
Kompetensi kepribadian adalah sifat mantap, stabil,
dewasa, bijak, berwibawa, sehingga dapat menjadi teladan
bagi peserta didik. Hal ini meliputi: a) penampilan diri
sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, bijak dan
berwibawa; b) penampilan diri sebagai pribadi yang
berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan bagi peserta
didik dan masyarakat; dan c) mengevaluasi prestasi kerja
diri sendiri; d) mengembangkan diri secara berkelanjutan.
Kompetensi profesional adalah kemampuan
penguasaan materi pembelajaran secara luas dan
mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik
memenuhi Standard kompetensi. Kompetensi ini meliputi:
a) menguasai materi pembelajaran dan metodologi
keilmuannya; b) menguasai struktur dan kurikulum materi
pembelajaran; c) menguasai dan dapat memanfaatkan
teknologi informasi dalam kegiatan pembelajaran; d)
mengorganisasikan kurikulum; dan e) meningkatkan
kualitas pembelajaran melalui paparan.
Kompetensi sosial adalah kemampuan berkomunikasi
secara efektif dengan peserta didik, teman sejawat, dan
masyarakat. Dengan kompetensi ini diharapkan guru dapat:
a) berkomunikasi secara efektif dan empati dengan peserta
didik, teman sejawat dan masyarakat; b) memiliki
sumbangan yang bermakna bagi pengembangan

4 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


pendidikan, baik di lingkungan mereka berada, ditingkat
daerah, nasional maupun internasional; c) memanfaatkan
teknologi informasi untuk berkomunikasi dan
pengembangan diri (Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional No.16 Tahun 2007).
Keempat kompetensi tersebut hendaknya dapat
dimiliki oleh guru dan diharapkan guru dapat
meningkatkan kemampuan dirinya serta mengembangkan
pendidikan secara berkelanjutan mengikut perkembangan
zaman. Keadaan peserta didik juga memerlukan perhatian
berkaitan dengan hasil belajarnya. Dampak yang
ditimbulkan adalah terdapat peserta didik yang proses
belajarnya tidak hanya menjalankan aktivitas belajar dan
tidak menyadari apa yang dipelajari. Memperhatikan yang
demikian, diperlukan adanya guru yang menjalankan
aktivitas pembelajaran yang dapat meningkatkan kesadaran
peserta didik berkaitan dengan materi yang sedang
dipelajarinya. Sebagai usaha untuk meningkatkan
kesadaran peserta didik terkait dengan subjek yang sedang
dipelajari dapat dijalankan melalui pembelajaran yang
berdasarkan metakognitif.
Berkaitan dengan matematika, banyak kajian
mendapati bahwa matematika merupakan materi pelajaran
yang mempunyai persentase kegagalan tinggi dan
pencapaian peserta didik mayoritasnya pada tahap sedang
(Noorshah, 2004). Hasil paparan tersebut sejalan dengan
keprihatinan para cendekiawan matematika terhadap
masalah peserta didik dalam menyelesaikan masalah
matematika, namun kebanyakan pendidik menyadari
bahwa peserta didik menghadapi kesukaran dalam
penyelesaian masalah matematika (Noor Shah, 2004).
Penyelesaian masalah matematika merupakan suatu proses
yang abstrak dan rumit dan hal ini melibatkan pemikiran
dan daya imajinasi manusia (NCTM,1980).
Beberapa kajian yang telah dilaksanakan dalam bidang
aljabar bertumpu kepada penyelesaian masalah yang terkait

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 5


dengan strategi dan konsep yang mana ia menyarankan
supaya guru-guru dapat melaksanakan pembelajaran yang
lebih efektif dalam kelas (Noor Shah, 2004). Sedangkan
aspek yang perlu memperoleh perhatian terhadap
pembelajaran aljabar adalah cara peserta didik berpikir
semasa menyelesaikan masalah. Hal ini diperlukan untuk
mengetahui proses pemikiran matematika peserta didik.
Proses pemikiran matematika peserta didik merupakan
faktor yang kurang memperoleh perhatian, namun
mempunyai peran yang sangat berarti dalam penyelesaian
masalah matematika, yaitu perlakuan metakognitif. Dengan
demikian diperlukan adanya penekanan dalam
pelaksanaan pembelajaran matematika yang berfokus
kepada proses berpikir peserta didik, dan hal ini dapat
dilaksanakan melalui pendekatan metakognitif.

A. Matematika Sekolah dan Psikologi Pembelajaran


Matematika
Seorang guru dalam menjalankan aktivitas hendaknya
mengetahui mengenai pengertian, fungsi, tujuan dan peran
matematika sekolah dan dilengkapkan dengan
pengetahuan mengenai psikologi pembelajaran
matematika. Efektivitas pelaksanaan pembelajaran
matematika dapat dipenuhi oleh seorang guru jika
mengetahui fungsi dan peran matematika serta secara
psikologis memahaminya.
1. Matematika Sekolah
Dampak dari peningkatan globalisasi dan liberasisasi
serta kemajuan teknologi informasi, perlu dilakukan usaha
untuk menghadapi keadaan tersebut. Sebagian usaha yang
dapat dijalankan untuk menghadapi keadaan tersebut
adalah dengan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia
yang kuat dan dapat mendukung pengembangan ekonomi
yang berdasarkan pengetahuan, mengukuhkan aktivitas
paparan dan pengembangan serta sains dan teknologi.

6 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


Usaha mencapai keadaan tersebut diperlukan adanya
wawasan pendidikan matematika, sehingga sumberdaya
manusia mempunyai pemikiran yang kritis, inovatif,
mempunyai berbagai kemahiran, berdaya saing dan
mempunyai kesanggupan untuk belajar secara
berkelanjutan.
Kekuatan matematika adalah konsep yang dimajukan
oleh National Council of Teacher of Mathematics (1991) dengan
berlandaskan konstruktivisme untuk menandakan beberapa
hal yang dianggap perlu dimiliki oleh peserta didik: a)
kemampuan untuk menjalankan aktivitas seperti dugaan,
membuat inferensi secara logis; b) kemampuan
menyelesaikan permasalahan yang bukan rutin; c)
kemampuan untuk mengaitkan ide-ide dalam bidang
matematika dan ide matematika dengan aktivitas intelektual
yang lain; d) kemampuan untuk berkomunikasi tentang dan
melalui matematika; e) kemampuan untuk
mengembangkan keyakinan diri dan kecenderungan untuk
mencari, menilai dan menggunakan informasi kuantitatif
dan ruang dalam menyelesaikan masalah dan membuat
keputusan. (Nik Aziz, 2008)
Matematika merupakan ilmu yang mendasari
perkembangan teknologi modern, mempunyai peran
penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir
manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi
informasi dan komunikasi dilandasi oleh perkembangan
matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori
peluang dan matematika diskrit.
Materi matematika perlu diberikan kepada semua
peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali
peserta didik dengan kemampuan berpikir logik, analitis,
sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama.
Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat
memiliki kemampuan memperoleh, mengorganisir dan
memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada
keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif.

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 7


Proses yang dijalankan melibatkan penglibatan peserta
didik dalam berbagai pengalaman bermakna yang dapat
mendorong peserta didik untuk menilai daya usaha
matematika dan memahami serta menghargai peran
matematika dalam pengembangan masyarakat. Peran
tersebut dapat diambil oleh peserta didik untuk membina
kekuatan matematika setinggi mungkin sebagai inti dari visi
mengenai program matematika yang berkualitas (Nik Aziz,
2008).
Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan
di sekolah, baik di pendidikan dasar (Sekolah Dasar/SD,
Sekolah Menengah Pertama/SMP) maupun pendidikan
menengah (Sekolah Menengah Atas/SMA), yang terdiri dari
bagian-bagian matematika yang dipilih guna membangun
kemampuan-kemampuan dan membentuk keperibadian
yang berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi
(Turmudi, 2001). Informasi yang demikian sangat
diperlukan bagi sekolah dan guru dalam melaksanakan
kegiatan pembelajaran, sehingga aktivitas yang dijalankan
guru sesuai dengan arah yang diharapkan dalam mencapai
tujuan pembelajaran matematika.
Sebagai seorang guru dalam menjalankan tugas
hendaknya mengetahui fungsi materi yang diajarkan,
termasuk guru matematika hendaknya mengetahui fungsi
dan kegunaan dari matematika sekolah. Pemahaman
terhadap fungsi dan kegunaan matematika sekolah, guru
dapat mengaitkan dengan lingkungan sekolah, dalam hal
ini sesuai dengan rancangan kurikulum yang
dikembangkan. Selain itu, informasi yang diperoleh guru
dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan permasalahan
yang ditemui pada materi lainnya, ataupun dalam
kehidupan nyata.
Memperhatikan uraian diatas, dapat disampaikan
fungsi dari matematika sekolah yaitu: a) sebagai alat, pola
pikir atau pengetahuan yang dapat dijadikan dasar dalam
pembelajaran; b) pembentukan pola pikir dalam

8 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


pemahaman sesuatu pengertian maupun dalam penalaran
suatu hubungan antara pengertian-pengertian tersebut; dan
c) matematika sebagai ilmu pengetahuan (Turmudi, 2001;
Wahyudin, 2007).
Setiap materi pelajaran mempunyai tujuan untuk
diajarkannya dan secara umum tujuan pembelajaran
matematika adalah: a) melatih cara berpikir dan bernalar
dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan
penelitian, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan
kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi; b)
mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan
imajinasi, intuisi dan penemuan dengan mengembangkan
pemikiran divergen, asal, rasa ingin tahu, membuat prediksi
dan dugaan, serta mencoba-coba; c) mengembangkan
kemampuan memecahkan masalah; d) mengembangkan
kemampuan menyampaikan informasi gagasan antara lain
melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta, diagram,
dalam menjelaskan gagasan. (Puskur, 2003)
Sedangkan secara menyeluruh matematika SMP
dikelompokkan kedalam tujuh kompetensi: a) memahami
konsep bilangan real, operasi hitung dan sifat-sifatnya
(komutatif, asosiatif, distributif), barisan bilangan sederhana
(barisan aritmetika dan sifat-sifatnya), serta penggunaannya
dalam pemecahan masalah; b) memahami konsep aljabar
meliputi: bentuk aljabar dan unsur-unsurnya, persamaan
dan pertidaksamaan linear serta penyelesaiannya,
himpunan dan operasinya, relasi, fungsi dan grafiknya,
sistem persamaan linear dan penyelesaiannya, serta
menggunakannya dalam pemecahan masalah; c) memahami
bangun-bangun geometri, unsur-unsur dan sifat-sifatnya,
ukuran dan pengukurannya, meliputi: hubungan antar
garis, sudut (melukis sudut dan membagi sudut), segitiga
(termasuk melukis segitiga) dan segi empat, teorema
Pythagoras, lingkaran (garis singgung sekutu, lingkaran luar
dan lingkaran dalam segitiga, dan melukisnya), kubus,
balok, prisma, limas dan jaring-jaringnya, kesebangunan

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 9


dan kongruensi, tabung, kerucut, bola, serta
menggunakannya dalam pemecahan masalah; d)
memahami konsep data, pengumpulan dan penyajian data
(dengan tabel, gambar, diagram, grafik), rentangan data,
rerata hitung, modus dan median, serta menerapkannya
dalam pemecahan masalah; e) memahami konsep ruang
sampel dan peluang kejadian, serta memanfaatkan dalam
pemecahan masalah; f) memiliki sikap menghargai
matematikaa dan kegunaannya dalam kehidupan; g)
memiliki kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis,
kritis, dan kreatif, serta mempunyai kemampuan bekerja
sama (Sri, 2008).
Manakala secara khusus, tujuan pembelajaran
matematika di sekolah menengah adalah: a) peserta didik
memiliki kemampuan yang dapat digunakan melalui
kegiatan matematika; b) peserta didik memiliki
pengetahuan sebagai bekal bagi melanjutkan pendidikan
ke peringkat yang lebih tinggi; c) peserta didik memiliki
keterampilan matematika sebagai peningkatan dan
perluasan dari matematika sekolah dasar untuk kehidupan
sehari-hari; dan d) peserta didik memilik pandangan yang
cukup luas dan memiliki sikap logik, kritis, cermat dan
disiplin serta menghargai kegunaan matematika. (Turmudi,
2001; Akhsanul, 2010b). Dikatakan juga bahwa kurikulum
matematika sekolah bertujuan membentuk peserta didik
yang berpikiran logik, bersistem serta berketerampilan
menggunakan pengetahuan matematika secara efektif dan
bertanggungjawab dalam menyelesaikan masalah dan
membuat keputusan supaya berupaya menangani keadaan
dalam era informasi (Noraini, 2005).
Kompetensi dasar matematika dirancang sebagai
landasan pembelajaran membangun kemampuan tersebut
di atas, dan juga untuk mengembangkan kemampuan
menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan
menyampaikan ide atau gagasan dengan menggunakan
simbol, tabel, gambar, atau media lain.

10 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus
dalam pembelajaran matematika yang meliputi masalah
tertutup dengan penyelesaian tunggal, masalah terbuka
dengan penyelesaian tidak tunggal, dan masalah dengan
berbagai cara penyelesaian. Bagi meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah perlu dikembangkan
keterampilan memahami masalah, membangun model
matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan
pemecahannya.
Adapun tujuan pembelajaran matematika agar peserta
didik memiliki beberapa kemampuan seperti berikut: a)
memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan
antara konsep dan mengimplementasikan konsep atau
algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam
pemecahan masalah; b) menggunakan penalaran pada pola
dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam
membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan
gagasan dan pernyataan matematika; c) memecahkan
masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model dan
menafsirkan solusi yang diperoleh; d) mengomunikasikan
gagasan dengan simbol, tabel, gambar, atau media lain
untuk memperjelas keadaan atau masalah; dan e) memiliki
sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan,
yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam
mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri
dalam pemecahan masalah (Turmudi, 2001; Akhsanul,
2010b)
2. Psikologi Pembelajaran Matematika
Pelaksanaan pembelajaran matematika selalu
memanfaatkan psikologi sebagai pendekatan yang
digunakan guru dalam menjalankan tugas. Bagi guru
matematika, mempelajari, memahami dan dapat
mengimplementasikan teori-teori psikologi belajar dapat
meningkatkan kemampuan dan keterampilannya sehingga
profesionalisme guru menjadi lebih baik.
Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 11
Secara umumnya, terdapat dua faham psikologi
pembelajaran, yaitu psikologi tingkah laku dan psikologi
kognitif. Psikologi tingkah laku menggabungkan antara
pengetahuan guru untuk mengetahui bagaimana peserta
didik belajar yang dinamakan dengan psikologi belajar, dan
apa yang seharusnya dijalankan guru dalam melaksanakan
tugas mengajar sebagai psikologi pengajaran. Dengan
menggabungkan kedua teori tersebut maka kegiatan
pembelajaran mencapai tujuan yang diharapkan. Beberapa
pakar yang termasuk dalam faham aliran psikologi tingkah
laku adalah Edward Thorndike yang menguraikan
mengenai hukum belajar yang dikenal dengan Law of Effect,
yang menyatakan bahwa pembelajaran adalah
pembentukan hubungan antara stimulus dan respon melalui
langkah-langkah penguatan yang kemudian dibarengi
dengan perasaan kepuasan (Hill, 1990).
Kepuasan diperoleh peserta didik karena adanya pujian
atau ganjaran terhadap keberhasilan pekerjaan yang
diselesaikannya dan kepuasan yang diperoleh dapat
menghantarkan kepada keberhasilan selanjutnya. Sementara
B.F. Skinner mengemukakan bahwa penguatan mempunyai
peran yang penting dalam proses pembelajaran, karena
dapat meningkatkan perilaku peserta didik bagi
melaksanakan aktivitas belajarnya. Ausubel yang terkenal
dengan belajar bermakna, bahwa pembelajaran akan
berhasil dan peserta didik akan mempunyai pengetahuan
yang baik jika pengajaran dilakukan dengan bermakna,
dalam arti bahwa proses pembelajaran hendaknya
dijalankan tidak hanya menghafal, namun mencari arti
dalam materi yang dipelajarinya.
Manakala Gagne mengemukakan bahwa dalam belajar
matematika terdapat dua objek yang dapat diperoleh
peserta didik, yaitu objek tak langsung antaranya
kemampuan menyelidik dan memecahkan permasalahan,
belajar kendiri, bersikap positif terhadap matematika,
mengetahui bagaimana semestinya belajar. Sedangkan

12 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


objek tak langsung adalah fakta, keterampilan, konsep dan
aturan (Asri, 2005; Turmudi, 2001).
Selanjutnya adalah aliran psikologi kognitif yang tokoh-
tokohnya antaranya adalah Jean Piaget menguraikan bahwa
pengetahuan didapatkan melalui informasi yang
diterimanya dan diolah berdasarkan pengetahuan yang
sudah dimilikinya, oleh karena itu dalam belajar terjadi dua
proses, yaitu proses organisasi informasi dan adaptasi.
Sehingga ketika seseorang menerima informasi, mereka
akan mengaitkan dengan struktur-struktur pengetahuan
yang sudah dimiliki dan tersimpan dalam otaknya, yang
demikian disebut dengan proses organisasi informasi.
Melalui proses ini manusia dapat memahami sebuah
informasi baru yang diperolehnya dengan menyesuaikan
informasi yang diperoleh dengan struktur pengetahuan
yang dimilikinya. Bruner dalam teorinya menyatakan
bahwa belajar matematika dapat berhasil jika proses
pembelajaran diarahkan kepada konsep-konsep dan
struktur-struktur yang terkait dengan tajuk pembahasan,
selain perhubungan antara konsep-konsep dan struktur-
struktur berkenaan. Manakala Brownell mengemukakan
bahwa belajar matematika harus merupakan belajar
bermakan dan pengertian. Ditegaskan pula, bahwa belajar
pada hakikatnya merupakan suatu proses yang bermakna
(Hill, 1990; Elliot, 2000; Turmudi, 2001).
Memperhatikan uraian mengenai matematika sekolah
dan psikologi pembelajaran seperti tersebut di atas, dalam
kajian ini dibangun model pembelajaran matematika
berdasarkan metakognitif. Dasar pembelajaran dalam kajian
ini cenderung mengikut psikologi pembelajaran kognitif,
karena dalam pembahasannya selalu berkenaan dengan
perkembangan pola pikir dan pemahaman mengenai suatu
subjek yang dipelajarinya.

B. Permasalahan Pembelajaran Matematika


Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 13


membangun rancangan dan melaksanakan proses
pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan paparan dan
pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik
pada perguruan tinggi (UU RI No. 20 Tahun 2003).
Guru merupakan bagian dari tenaga pendidik
sebagaimana diuraikan dalam undang-undang tersebut dan
juga sebagai faktor yang sangat penting dalam proses
pembelajaran dan aspek manusiawi yang sangat
menentukan keberhasilan pendidikan (Fasli & Dedi, 2001).
Guru menduduki peringkat utama dalam setiap
pembicaraan yang terkait dengan pembelajaran, guru
adalah faktor dominan dalam proses pendidikan dan salah
satu unsur yang sangat penting dalam kegiatan belajar
mengajar (Maeroff, 1988; Firestone & Pennell, 1993; Blasé J
& Blasé J, 1996; Fasli & Dedi, 2001; Andreas, 2001). Namun
keadaan guru di Indonesia berada dalam posisi lemah yang
dikarenakan oleh situasi politik (Dedi, 2003; Amir,2005), dan
akibat yang ditimbulkan adalah kualitas pendidikan yang
kurang memuaskan (Syaiful, 2000; Syafrudin, 2005;
Suparlan, 2005; E Mulyasa, 2005), untuk itu perlu dilakukan
pemberdayaan (Fasli & Dedi, 2001; Amir, 2005), karena
usaha tersebut mempunyai hubungan yang berarti dengan
pengajaran dan peningkatan akademik peserta didik (Mark
& Louis, 1997; E Mulyasa, 2005).
Selain itu, guru yang profesional ialah guru yang
mampu mengurus dirinya sendiri dalam mengimple-
mentasikan tugas sehari-hari (Suparlan, 2005; Syafruddin,
2005), sedangkan profesionalisme guru ialah suatu proses
yang bergerak dari ketidaktahuan menjadi tahu, dari
ketidakmatangan menjadi matang, dari diarahkan orang lain
menjadi mengarahkan diri sendiri, dan seorang guru adalah
profesional jika memiliki kemampuan dan motivasi. Hal
ini bermakna bahwa disebut bekerja secara profesional jika
memiliki kemampuan kerja yang tinggi dan kesungguhan

14 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


hati untuk mengerjakan pekerjaannya dengan sebaik-
baiknya dan memperoleh kualitas yang tinggi (Ibrahim,
2004; Asri, 2005).
Usaha untuk menjadi profesional, seorang guru
dituntut untuk memiliki lima hal, yaitu: a) memiliki
komitmen kepada profesinya; b) secara mendalam
menguasai bahan ajar dan cara mengajarnya; c)
bertanggungjawab memantau kemampuan belajar peserta
didik melalui berbagai metode penilaian; d) mampu
berpikir sistematik tentang apa yang dilakukanya dan
belajar dari pengalamannya; dan e) menjadi anggota dari
masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya (Dedi,
1998; Syafruddin, 2005). Untuk itu guru hendaknya selalu
berusaha untuk meningkatkan profesionalismenya
sehingga dalam melaksanakan tugas mengajar menjadi
lebih baik.
Berkaitan dengan pembelajaran matematika, diperoleh
informasi bahwa nilai matematika peserta didik adalah
rendah, sebagian faktor yang menjadi penyebab rendahnya
perolehan nilai matematika disebabkan oleh faktor guru.
Antaranya adalah pada saat melaksanakan kegiatan
pembelajaran guru menggunakan model pembelajaran
yang tidak sesuai dengan materi yang diajarkan dalam
pembelajaran di kelas.
Fakta menunjukkan bahwa mayoritas guru dalam
melaksanakan aktivitas pembelajaran menggunakan model
konvensional, yaitu model pembelajaran yang
mengutamakan guru sebagai sumber informasi dan peserta
didik hanya sebagai penerima informasi, sehingga aktivitas
berpusat pada guru. Guru sebagai sumber utama dari
pengetahuan, dan peserta didik dianggap sebagai objek
yang harus menerima pengetahuan yang disampaikan guru,
sehingga peserta didik bersifat pasif (Hudoyo, 2005).
Kepraktisan model pembelajaran selama ini, yaitu
pengajaran yang berpusat pada guru, peserta didik hanya

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 15


sebagai objek dan belajar dianggap sebagai proses untuk
memperoleh pengetahuan bukan mengolah pengetahuan
dan memprosesnya sehingga dapat menyempurnakan
pengetahuan yang telah dimilikinya. Selain itu, kurangnya
penyadaran terhadap peserta didik mengenai pentingnya
materi yang dipelajari, hal ini mempunyai dampak kepada
perolehan prestasi matematika peserta didik. Informasi
yang diperoleh dari The Third International Mathematics and
Science Study (TIMSS), lembaga yang mengukur hasil
pendidikan matematika dan sains melaporkan bahwa
kemampuan matematika peserta didik kelas delapan dari
beberapa negara, dan berdasarkan keperluan dari kajian ini
data tersebut diolah dengan menyajikan perolehan
matematika kelas delapan untuk tahun 1999 dan 2003 untuk
negara-negara yang berada di sekitar Indonesia seperti
berikut:
Tabel 1.1: Kecenderungan Pencapaian Matematika
Peserta didik Kelas delapan

No Negara Rata-rata Skor


1999 2003
1. Singapore 604 605
2. China 585 585
3. Jepun 579 570
4. Malaysia 519 508
5. Australia 509 505
6. New Zealand 491 494
7. Indonesia 403 411
8. Filipina 345 378

(Data dikaji peneliti dari TIMSS & PIRLS International Study Center,
Lynch School of Education, Boston College)

16 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


Tabel 1.1 memberikan informasi bahwa dari delapan
negara di lingkungan Indonesia, diperoleh informasi bahwa
Indonesia menduduki peringkat tujuh dari delapan negara.
Singapore adalah negara yang menempati peringkat
tertinggi mengenai perolehan matematika peserta didik
peringkat lapan dan juga diperoleh informasi bahwa terjadi
kenaikan rata-rata skor dari tahun 1999 ke tahun 2003. Meski
Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah, namun
masih termasuk negara yang mempunyai kenaikan
perolehan matematika dari tahun 1999 ke tahun 2003
bersama-sama dengan New Zealand dan Filipina.
Sedangkan negara-negara Jepang, Malaysia, dan Australia
mengalami penurunan perolehan matematika, manakala
China tidak mengalami perubahan perolehan matematika
dari peserta didik kelas delapan. Berdasarkan informasi
tersebut, dapat dikemukakan bahwa Indonesia selalu
mengusahakan untuk selalu meningkatkan pencapaian
prestasi matematika, dan hal ini terlihat diperolehnya
peningkatan dari tahun 1999 dengan skor 403 dan naik
menjadi 411 pada tahun 2003, meski hasil tersebut belum
meningkatkan peringkat Indonesia berbanding dengan
negara-negara terkait.
Sebagian dari penyebab keadaan tersebut adalah peran
guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Keadaan
di Indonesia, model pembelajaran yang dilaksanakan guru
kebanyakannya menggunakan penggabungan dari metode
ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas (Turmudi, 2001;
Hudoyo, 2005; Ipung, 2006; Cholis, 2006; Dwi, 2007).
Dampak yang diperoleh dengan penggunaan metode
tersebut, pencapaian hasil ujian matematika di Indonesia
termasuk dalam kategori rendah, hal ini dapat dilihat dari
perolehan hasil ujian yang dilaksanakan secara nasional
yang disebut dengan Nilai Ebtanas Murni (NEM) matematika
di SMP yang masih rendah. Perolehan rata-rata NEM materi
matematika SMP bermula dari tahun 1997 sehingga tahun
2001 antara 5.13 dan 5.48. Sedangkan untuk tahun 2003

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 17


sehingga 2005 perolehan nilai antara 5.55 sehingga 6.76
(Puskur, 2005).
Sementara hasil ujian untuk materi matematika SMP,
baik sekolah swasta maupun negeri, bahwa pencapaian
hasil ujian matematika untuk tingkat Propinsi Jawa Timur
pada tahun 2008 mempunyai rata-rata sebesar 7.11 dengan
nilai terendah 0.50 dari skor maksimum 10. Sedangkan
untuk tingkat daerah Malang rata-rata perolehan ujian
subjek matematika adalah 6.92, dengan nilai terendah 1.25.
Keadaan ini menunjukkan bahwa pencapaian ujian
matematika SMP di Kota Malang masih tergolong rendah
(Diknas, 2009).
Memperhatikan keadaan tersebut, hendaknya
pembelajaran matematika dirancang untuk memudahkan
peserta didik memahami materi yang sedang dipelajari, hal
ini sebagaimana dinyatakan dalam dokumen National Council
of Teaching of Mathematics (NCTM, 1991), yang mencadangkan
tentang peran guru dan peserta didik dalam pembelajaran
matematika di kelas. Usaha bagi meningkatkan pembelajaran
matematika menjadi perhatian utama di mana kebanyakan
Negara berusaha mencari jalan untuk meningkatkan
pembelajaran di kalangan peserta didik. Oleh karena itu,
keputusan yang dibuat guru pada kegiatan pengajaran, baik
sebelum, semasa maupun setelah pelaksanaan adalah sangat
bermakna bagi peserta didik dan juga guru sebagai jalan
untuk meningkatkan profesionalismenya.
Dikuatkan juga bahwa pembelajaran matematika
mestilah berdasarkan kepada situasi masalah dan
memberikan kesadaran terkait dengan materi yang
dipelajari. Hal ini sebagai usaha agar peserta didik
memperoleh kemahiran matematika melalui penyiasatan,
ketepatan jawapan serta proses komunikasi berdasarkan ide
matematika dalam kelas. Wawasan pembelajaran
matematika yang dicadangkan ini menganjurkan peran
guru diubah dari seorang penyampai informasi kepada
seorang fasilitator.

18 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


Keberhasilan pembelajaran matematika didukung oleh
kemahiran guru dalam melaksanakan aktivitas pengajaran
serta kesadaran peserta didik dalam mengikuti aktivitas
pembelajaran. Adapun tiga ciri penting tentang
pembelajaran matematika adalah seperti berikut:
1. Mengetahui matematika dengan melakukan aktivitas-
aktivitas matematika yaitu peserta didik menghimpun,
menjumpai atau mencipta pengetahuan melalui proses
penyelesaian masalah. Untuk itu diperlukan: a)
aktivitas pembelajaran harus berdasarkan situasi
masalah; dan b) pembelajaran berlaku melalui
penglibatan dengan matematika secara aktif atau pasif;
2. Kefahaman yang mendalam dan meluas yaitu
matematika merupakan disiplin yang dasar bagi ilmu
yang lain. Kurikulum matematika haruslah memberi
peluang kepada peserta didik untuk menghayati
model, struktur dan aplikasinya dalam bidang-bidang
lain; dan
3. Pendekatan seimbang kepada proses pengajaran yaitu
peserta didik mampu memilih prosedur yang sesuai
untuk melakukan pengiraan dan memutuskan
kemunasabahan jawapan yang diperoleh (Noor Shah,
2006).

Pembelajaran yang berpusat pada guru memberikan


dampak bahwa peserta didik hanya menerima informasi
yang disampaikan oleh guru dan kurang dapat menyadari
terhadap materi yang dipelajarinya. Sehingga pada masa
kini terdapat kecenderungan bahwa pembelajaran
cenderung berpusat kepada peserta didik dan guru sebagai
fasilitator, yang disebut dengan pembelajaran
konstruktivisme. Dalam pembelajaran matematika,
menurut pandangan konstruktivisme adalah sesuatu cara
membantu peserta didik untuk membangun konsep
matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 19


internalisasi, sehingga konsep berkenaan dapat terbina dan
transformasi informasi yang diperoleh menjadi konsep
baru (Hudojo, 2005). Oleh karena itu, membangun konsep
pemahaman adalah lebih penting untuk dijalankan dari
hasil belajar itu sendiri, sehingga pembelajaran yang
dijalankan hendaknya dapat membangun pemahaman
peserta didik terhadap sesuatu materi.
Sementara, pembelajaran yang dijalankan secara
umumnya banyak yang mengimplementasikan
pembelajaran yang berorientasi kepada pandangan
behavioristik, yaitu pembelajaran yang berorientasi kepada
hasil belajar yang dapat diamati dan diukur dan hasilnya
kurang memuaskan. Hal ini sebagiannya disebabkan
adanya kesalahan dalam memandang proses pembelajaran.
Pandangan behavioristik yang dikembangkan dengan
sendirinya dapat melemahkan pembelajaran matematika.
Walau bagaimanapun penganut behavioristik telahpun
mengakui bahwa kecepatan dan ketelitian dalam
perhitungan matematika dan metode yang membanyakkan
latihan telahpun tidak diterima oleh peneliti pendidikan
matematika (Golgin, 1990; Turmudi, 2001; Syafruddin, 2005).
Sebagai implikasi dari pembelajaran matematika
menurut pandangan konstruktivis, perlu diusahakan
lingkungan belajar yang memenuhi beberapa hal, yaitu: a)
menyediakan pengalaman belajar dengan mengaitkan
pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik sehingga
belajar melalui proses pembentukan pengetahuan; b)
menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar;
c) mengintegrasikan pembelajaran dengan keadaan yang
nyata dan sesuai dengan melibatkan pengalaman nyata bagi
peserta didik; d) mengintegrasikan pembelajaran sehingga
memungkinkan terjadinya interaksi dan kerjasama
seseorang dengan lingkungannya; e) memanfaatkan
berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tulisan; dan
f) melibatkan peserta didik secara emosional dan sosial

20 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


sehingga matematika menjadi menarik dan peserta didik
berkehendak belajar. (Hudoyo, 2005).
Selain itu, tugas guru adalah sebagai mediator dan
fasilitator dengan tugas, yaitu: a) menyediakan pengalaman
belajar yang memungkinkan peserta didik bertanggung
jawab dalam membuat rancangan, proses, dan paparan, oleh
karena itu mengajar dengan metode ceramah bukanlah
metode utama seorang guru; b) menyediakan atau
memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang
keingintahuan peserta didik dan membantu mereka untuk
mengekspresikan gagasan-gagasannya dan menyampaikan
ide ilmiah mereka; c) menyediakan sarana yang memotivasi
peserta didik berpikir secara produktif; d) menyediakan
peluang dan pengalaman yang paling mendokong proses
belajar peserta didik, selain itu tugas guru adalah
memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan apakah
pemikiran peserta didik berhasil atau tidak; dan e)
menunjukkan dan menyoal apakah pengetahuan peserta
didik itu berlaku untuk menghadapi persoal baru yang
berkaitan dan membantu mengevaluasi hipotesis dan
kesimpulan peserta didik (Paul, 1997; Asri, 2005).
Sementara itu, Saito (2006) mengemukakan adanya
perubahan dalam aktivitas pembelajaran matematika di
Indonesia setelah dimulainya pengkajian pembelajaran
yang dilaksanakn oleh Indonesian Mathematics and Science
Teacher Education Project (IMSTEP). Perubahan tersebut
antaranya adalah: a) perubahan landasan akademik dalam
kegiatan pembelajaran, sebagai dampak dari pelaksanaan
kerja sama antara guru dengan dosen dari universitas dalam
uji coba pelaksanaan lesson study; b) perubahan dalam
struktur pembelajaran, hal ini dapat dilihat dengan
dilaksanakannya diskusi terhadap proses pelaksanaan
pembelajaran; dan c) perubahan umpan balik peserta didik
selama proses pembelajaran.

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 21


Kajian yang dilakukan berkaitan dengan pemecahan
masalah matematika menyarankan supaya guru-guru dapat
melaksanakan pedagogik yang lebih efektif dalam kelas
supaya peserta didik dapat memahami materi dengan lebih
mudah (Tall, 1994).

C. Kerangka Kerja Konseptual Pembelajaran Matematika


Metakognitif ialah kemampuan untuk mengetahui apa
yang diketahui dan yang tidak diketahui. (Costa,1985),
berpikir tentang berpikir atau belajar bagaimana belajar
(Livington, 1997; Blakey, 1990), proses berpikir tentang
berpikir mereka sendiri dalam rangka membina strategi bagi
memecahkan masalah (O’Neil & Brown,1997), berhubungan
dengan berpikir tentang berpikir mereka sendiri dan
kemampuan mereka menggunakan strategi-strategi belajar
tertentu dengan tepat (Mohamad, 2000).
Pengetahuan metakognitif merujuk kepada
pengetahuan umum tentang bagaimana seseorang dapat
belajar dan memproses informasi, seperti pengetahuan
seseorang tentang proses belajarnya sendiri. Pengetahuan
metakognisi dikatakan juga sebagai pengetahuan tentang
kognisi secara umum, seperti kesadaran sendiri dan
pengetahuan tentang kognisi (Anderson & Krathwohl,
2001). Sedangkan pengetahuan tentang kognitif terdiri dari
informasi dan pemahaman yang dimiliki seorang peserta
didik tentang proses berpikirnya sendiri selain pengetahuan
tentang berbagai strategi belajar untuk digunakan dalam
kegiatan pembelajaran tertentu (Mohamad, 2000; Asri, 2005).
Sebagai contoh dalam pengembangan model
pembelajaran, yaitu kajian pengembangan model
pembelajaran matematika berdasarkan metakognitif.
Melalui pendekatan metakognitif, peserta didik akan
menyadari pembelajaran yang sedang diikutinya serta
dapat mengevaluasi diri sendiri mengenai kemampuan
dirinya. Sehingga melalui pengembangan model

22 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


pembelajaran matematika berdasarkan metakognitif
diperoleh suatu model pembelajaran yang benar-benar
dapat meningkatkan kualitas prestasi peserta didik.
Pelaksanaan kajian ini terdiri atas tiga tahap, yaitu: a).
merancang pembelajaran dengan dasar akademik pada
tema dan sarana pembelajaran yang digunakan; b)
melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rancangan
pembelajaran dan sarana yang disediakan, serta memberi
peluang kepada teman sejawat serta pakar untuk
melakukan pemerhatian dalam pelaksanaan kegiatan
pembelajaran; dan c) melaksanakan renungan melalui
umpan balik serta diskusi bersama pemerhati sebagai usaha
untuk mencermati dan mencari kelemahan maupun
kelebihan dalam pelaksanaan pembelajaran (Clea &
Makoto, 2004; Sumar, 2006).
Pelaksanaan pembelajaran dalam pengembangan
model ini dijalankan dengan dasar metakognitif. Suatu
dasar yang merupakan rangkaian kesadaran peserta didik
dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, adanya
strategi kognitif bagi memahami materi dan penyelesaian
sesuatu soal, mempunyai perencanaan dalam melaksanakan
kegiatan dan melakukan evaluasi terhadap hasil dan proses
yang telah dilakukannya. Rangkaian kegiatan tersebut dapat
dilihat sebagaimana Gambar 1.1 seperti berikut:

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 23


Perencanaan Evaluasi
1. Perencanaan model 1. Renungan praktis
2. Perencanaan dan kefektifan model
komponen model 2. Kerja berkelompok
3. Realisasi model memperbaiki
4. Realisasi komponen kelemahan dan
model kesalahan selama
proses

Pelaksanaan
1. Melaksanakan
pembelajaran
berpedoman pada
model
2. Teman sejawat
sebagai pemerhati

Perlakuan Metakognisi

Strategi Mengevaluasi
Kesadaran Perencanaan
Kognitif sendiri

Gambar 1.1 : Kerangka kerja konseptual kegiatan pembelajaran


matematika berasaskan metakognisi

Berdasarkan Gambar 1.1 terlihat bahwa pelaksanaan


pembelajaran yang meliputi tiga tahap kegiatan, yaitu
perencanaan, pelaksanaan dan renungan terhadap
perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran tersebut bagi
meningkatkan kualitas pembelajaran. Sedangkan cara
perlakuan metakognitif terdiri dari empat aspek, yaitu:
1. Aspek kesadaran, dalam aspek ini berkaitan dengan
dimilikinya penyadaran terhadap kegiatan yang
hendak dijalankan termasuk pemikiran sendiri, strategi
yang digunakan, keperluan merancang, proses
pemikiran dan usaha memahami soal;

24 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


2. Aspek strategi kognitif adalah aktivitas yang dijalankan
untuk merancang cara yang dapat dilaksanakn bagi
memahami dan juga menyelesaikan permasalahan,
yang terdiri dari aspek-aspek ide utama, keterkaitan
dengan pengetahuan tang dimiliki, memikirkan maksud
soal, penggunaan berbagai strategi yang
memungkinkan untuk menyelesaikan persoal,
pemilihan kalimat yang sesuai;
3. Aspek perencanaan, dalam aspek ini terdiri dari aspek-
aspek memahami kehendak soal, mengenal pasti apa
yang perlu dibuat dan begaimana melaksanakannya,
menentukan bagaimana dengan soal berikutnya dan
pemahaman terhadap soal sebelum menyelesaikannya;
4. Aspek mengevaluasi sendiri adalah aktivitas yang
hendaknya dijalankan setelah sebuah proses aktivitas
dijalankan sebagai usaha untuk melihat kembali hasil
dari unjuk kerja yang dijalankan, baik didapati
kelebihan maupun kelemahan. Aspek-aspek dalam
aspek ini adalah menyemak cara penyelesaian,
membetulkan kesalahan, sadar jumlah soal yang belum
diselesaikan, menyemak perkembangan penyelesaian
jika diperlukan menukar strategi, menyemak apakah
betul atau tidak jalan kerja sepanjang dalam soal.

D. Manfaat Pembelajaran Matematika berbasis


Metakognitif
Profesionalisme guru dapat meningkat terkait dengan
penguasaan materi pembelajaran dan metodologi
keilmuan, struktur dan kurikulum pemanfaatan teknologi
informasi dalam kegiatan pembelajaran, pengurusan
kurikulum materi pelajaran, serta penggunaan paparan bagi
meningkatkan kualitas pembelajaran. Sebagaimana
diuraikan bahwa guru matematika dapat meningkatkan
pengetahuan tentang pembelajaran dan memperoleh
informasi yang berguna dari internet.

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 25


Informasi perkembangan pendidikan matematika yang
terkini, rancangan-rancangan pengajaran, pedagogik
pengajaran, hasil paparan dan bahan-bahan pengajaran
yang berbagai bentuk dapat diperoleh dengan mudah dari
internet. Bahkan guru-guru matematika juga dapat
bentukan pengalaman dengan teman yang lain, di mana
mereka berada melalui email (Noraini, 2005). Demikian juga
dalam mengurus pemahaman peserta didik mengenai
materi yang sedang dipelajari dengan mengenal tahap
perkembangan cara perlakuan metakognitif peserta didik
dalam menyelesaikan masalah matematika. Seorang peserta
didik yang memahami dan menyadari apa yang dijalankan
memberikan dampak kepada hasil yang diperoleh menjadi
lebih baik, karena dalam menyelesaikan tugas tersebut
peserta didik mengetahui bagaimana seharusnya
memahami dan strategi apa yang sesuai untuk dilaksanakan
dalam menyelesaikan sesuatu permasalahan.
Secara praktis pula, paparan ini memberikan manfaat
kepada guru, sekolah dan pengkaji pengembangan model
pembelajaran yang dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Bagi guru, hasil dari paparan ini dapat meningkatkan
kemampuan mengurus pembelajaran yang meliputi
pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta
pengembangan peserta didik untuk
mengimplementasikan berbagai potensi yang
dimilikinya. Diperoleh sifat mantap, stabil, dewasa,
bijak, berwibawa, sehingga dapat menjadi teladan bagi
peserta didik, dan hal ini mengembangkan kompetensi
kepribadian yang hendaknya dapat dimiliki dan
dilaksanakn guru dalam kegiatan di sekolah maupun
dalam hubungannya dengan masayarakat di
lingkungannya;
2. Meningkatnya kemampuan penguasaan materi
pembelajaran secara luas dan mendalam yang

26 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi
Standard kompetensi, serta peningkatan kemampuan
berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik,
teman sejawat, dan masyarakat. Selain itu dengan
melaksanakan kegiatan pembelajaran matematika
berdasarkan metakognitif dapat meningkatkan keempat
kompetensi guru, yaitu kompetensi pedagogik,
kepribadian, profesional dan kompetensi sosial;
3. Bagi sekolah, hasil dari paparan dapat dijadikan
sebagian dari bahan bacaan bagi pengembangan model
pembelajaran. Hasil yang diperoleh berkaitan dengan
keempat-empat faktor yang mempengaruhi
peningkatan kualitas hasil belajar, yaitu peserta didik,
kurikulum, sarana dan guru. Melalui pembelajaran
yang berdasarkan metakognitif dapat dibangun suatu
kurikulum yang dapat meningkatkan kesadaran peserta
didik melalui pembelajaran yang dilakukan oleh guru
melalui pengembangan empat aspek.
Pertama, aspek yang berkaitan dengan pemikiran
sendiri, strategi yang digunakan, keperluan merancang,
proses pemikiran dan usaha memahami soal. Kedua,
pembelajaran mengandung aspek-aspek ide-ide utama,
keterkaitan dengan pengetahuan semula, memikirkan
maksud soal, penggunaan berbagai strategi yang
memungkinkan bagi menyelesaikan soal, pemilihan
kalimat yang sesuai. Ketiga dalam pelaksanaan
pembelajaran meliputi pengembangan aspek-aspek
memahami kehendak soal, mengenal pasti apa yang
perlu dibuat dan bagaimana melaksanakannya,
menentukan bagaimana dengan soal berikutnya dan
pemahaman terhadap soal sebelum menyelesaikannya.
Sedangkan yang terakhir, diperoleh kesadaran peserta
didik untuk menyemak cara penyelesaian,
membetulkan kesalahan, sadar jumlah soal yang belum
diselesaikan, menyemak perkembangan penyelesaian

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 27


jika diperlukan menukar strategi, menyemak apakah
betul atau tidak jalan kerja sepanjang menjawab soal.
Selain itu juga dapat mengembangkan kemahiran
peserta didik terkait dengan kemampuan
berkomunikasi, berpikir kritis, pemecahan masalah dan
hal dapat dijadikan bekal bagi peserta didik untuk
melaksanakan pengajian selanjutnya maupun dalam
kaitannya dengan hubungan terhadap teman sejawat.

28 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


BAB
2 BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Kajian teoritis melibatkan proses membuat ringkasan,


analisis, tafsiran, dan penilaian kritis terhadap literatur teori,
konsep, dan paparan yang berkaitan dengan tema kajian
yang hendak dijalankan (Nana, 2005; Nik Aziz, 2008). Kajian
tersebut merujuk satu kaedah yang eksplisit, sistematik dan
dapat dilakukan kajian kembali untuk mengidentifikasikan,
menilai dan mentafsirkan satu himpunan kerja yang
dihasilkan oleh peneliti, ilmuwan, dan praktisi tertentu
(Fink, 1998). Dikatakan juga bahwa kajian literatur merujuk
kupasan tentang apa yang telah diterbitkan oleh pakar dan
para peneliti yang disahkan tentang topik tertentu (Chua,
2006). Sedangkan Polit & Hungler (2000) mendefinisikan
bahwa tinjauan teoritis sebagai ringkasan kritis tentang
paparan yang terkait dengan topik yang diminati, dan
lazimnya dibuat sebagai latar belakang kepada kajian
tertentu untuk meletakkan konteks yang sesuai.
Tinjauan teoritis mempunyai fungsi: a) mendasari
pembaca dengan informasi latar belakang tentang kajian
yang hendak dijalankan; b) menunjukkan bahwa pengkaji
mengetahui paparan yang telah dijalankan dalam bidang
kajian pilihan; dan c) menunjukkan bagaimana kajian yang
hendak dijalankan akan menyumbangkan satu lagi
pemikiran dalam teka-teki untuk mengembangkan
pengetahuan dalam bidang kajian pilihan (Weissberg &
Buker, 1990; Chua, 2006; Nik Aziz, 2008). Penulisan literatur
terutama untuk menunjukkan bahwa pengkaji benar-benar
memahami apa yang telah dilakukan dan dicapai oleh
pengkaji lain dalam bidang kajian pilihan dan menjelaskan
bagaimana kajian yang akan dijalankan berbeda dari kajian
lain (Nana, 2005; Nik Aziz, 2008).

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 29


Memperhatikan yang demikian, bagian ini menguraikan
mengenai berbagai teori yang dapat dijadikan dasar dalam
merancang model pembelajaran. Teori yang berkenaan
adalah mengenai teori belajar dan pembelajaran yang
membahas dasar-dasar pelaksanaan pembelajaran.

A. Pembelajaran
Pembelajaran merupakan aktivitas guru melaksanakan
tugas menyampaikan materi kepada peserta didik sesuai
dengan perencanaan yang telah dirancang. Pembelajaran
bukan hanya proses menyampaikan ilmu pengetahuan oleh
guru kepada peserta didik, namun peran guru adalah
mengenal kemampuan dan potensi yang dimilikinya dan
berusaha bagi mengembangkannya. Hal ini didasarkan
kepada tiga hal:
1. Peserta didik adalah manusia yang sedang
berkembang.
Sebagai makhluk yang berkembang, agar
perkembangan peserta didik terjadi sesuai dengan
tugas-tugas perkembangannya diperlukan orang lain
yang dapat mengarahkan dan membimbing agar
tumbuh dan berkembang secara optimal.
Perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor
internal dan eksternal. Berdasarkan faktor internal,
manusia hendaknya selalu belajar dan belajar untuk
mendewasakan pemikirannya menuju manusia yang
bermakna dalam menjalani hidup didunia. Manakala
faktor eksternal, salah satunya adalah melalui
pembelajaran yang dipandu dan dibimbing guru dalam
proses pembelajaran. Selain itu, dalam dunia informasi,
peran guru untuk memperoleh informasi, digantikan
oleh media informasi yang disebabkan kemajuan
teknologi dan informasi yang begitu pesat. Oleh karena
itu, kemajuan teknologi dan informasi memungkinkan
peserta didik dengan mudah memperoleh berbagai

30 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


informasi, sehingga tugas dan kewajiban guru menjadi
lebih rumit dan luas (Asri, 2005; Nik Aziz, 2008).
Memperhatikan dunia yang semakin canggih dan
informasi dapat diperoleh dengan cepat dan tepat
melalui media informasi, peran guru tidak hanya
dituntut untuk lebih aktif memperoleh informasi yang
diperlukan terkait dengan materi yang diajarkan,
namun hendaknya mempunyai kemampuan memilih
informasi yang sesuai untuk disampaikan kepada
peserta didik. Selain itu, guru hendaknya mengawal
peserta didik agar tidak terpengaruh dengan informasi
yang menyesatkan dan mengganggu perkembangan
peserta didik. Pesatnya kemajuan teknologi informasi,
guru bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar,
namun mempunyai peran sebagai pengurus sumber
belajar yang dapat dimanfaatkan peserta didik.
Memperhatikan yang demikian, adanya kemajuan
teknologi informasi memungkinkan peserta didik
memperoleh pengetahuan lebih yang tidak hanya
diperoleh dari guru. Namun dampak negatif dari
kemajuan tersebut, yang antaranya diperoleh dengan
mudah informasi yang dapat membelokkan pemikiran
peserta didik. Sehingga peran guru juga ditambahkan
dengan memberikan arah dan tujuan agar peserta didik
dapat memilih informasi yang bermanfaat bagi
kemajuan pengetahuannya.
2. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan.
Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat dapat
membukakan tabir alam semesta yang sebelumnya
terbatas hanya sebagai pengetahuan saja. Misal dengan
ditemukannya sarana bagi diskusi antara berbagai
tempat dengan menggunakan diskusi jarak jauh, hal ini
sebagai sarana bagi memperoleh pengetahuan.
Sehingga peran guru pada masa kini tidak hanya
menyampaikan pengetahuan saja, namun bagaimana
dapat mengetahui potensi yang dimiliki peserta didik

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 31


sehingga dapat mengembangkannya (Nik Aziz, 2008;
Topik, 2010). Selain itu, guru hendaknya memberikan
motivasi dan arahan kepada peserta didik agar
mengetahui potensi yang dimilikinya dengan cara
menyadari apa yang dijalankannya dan di pikirkannya.
Dengan demikian kemampuan berpikir peserta didik
menjadi lebih baik untuk mengembangkan pengetahuan
bagi kemanfaatan masyarakat secara umumnya.
3. Penemuan baru terkait dengan konsep perubahan
perilaku manusia.
Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan melahirkan
berbagai penemuan baru, termasuk bidang perubahan
tingkah laku. Berkaitan dengan perubahan tingkah laku,
bidang psikologi mengalami pembaruan dan
perkembangan, yakni terkait dengan psikologi belajar.
Hingga saat ini, manusia dianggap sebagai makhluk
yang pasif dengan perilaku dan dapat ditentukan oleh
lingkungannya, sebagaimana diuraikan oleh aliran
behavioristik. Perubahan cara pandang terhadap
manusia sebagai makhluk yang mempunyai potensi
sebagaimana aliran yang dibangun Kognitif-Wholistik,
yang mana potensi yang dimiliki tersebut akan
menentukan perilaku manusia (Asri, 2005; Wina, 2008;
Joyce, Bruce & Weil, 2009). Oleh karena itu, proses
pendidikan bukan lagi memberikan stimulus, namun
mengembangkan potensi yang dimiliki oleh manusia.
Sehingga peserta didik bukan merupakan objek belajar,
namun sebagai materi yang harus mencari dan
membangun pengetahuan berdasarkan pengetahuan
yang telah dimilikinya.

Ketiga hal tersebut sebagai landasan bahwa makna


mengajar bukan lagi menyampaikan pengetahuan atau
memberikan stimulus sebanyak-banyaknya kepada peserta
didik. Belajar dijalankan untuk mengetahui dan

32 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


mengumpulkan pengetahuan yang dapat diungkapkan
kembali sesuai dengan yang diterimanya, dalam hal ini
belajar bagaikan menyimpan barang dan pada masa
tertentu barang tersebut dapat dikeluarkan. Berkembangnya
reformasi berpikir melalui perkembangan psikologi belajar,
menjadikan terjadinya perubahan terhadap pemahaman
makna belajar, yaitu sebagai proses mengurus lingkungan
agar peserta didik dapat belajar sesuai dengan kemampuan
dan potensi yang dimilikinya.
Memperhatikan uraian tersebut, terdapat beberapa hal
yang hendaknya perlu diperhatikan dalam pelaksanaan
pembelajaran, yaitu strategi, pendekatan, metode dan model
pembelajaran (Turmudi, 2001; Asri, 2005; Wahyudin, 2007;
In’am, 2012). Keempat hal tersebut mempunyai peran yang
sangat berarti bagi membantu peserta didik memahami
materi yang dipelajarinya. Selain itu, keempat hal tersebut
secara bersama-sama merupakan aspek-aspek dalam
pelaksanaan pembelajaran.
1. Strategi Pembelajaran
Segala aktivitas manusia akan berhasil dengan baik
jika sebelumnya dirancang berbagai hal yang berkaitan
dengan aktivitasnya. Bagaimana melaksanakannya,
bahan apa saja yang diperlukan, prosedur mana yang
harus ditempuh sehingga pelaksanaannya efektif dan
efisien, bagaimana mengevaluasinya sehingga dapat
diketahui rintangan dan tingkat keberhasilanya.
Sebagaimana disebutkan dalam fungsi manajemen
yang terdiri dari empat hal, yaitu planning, organizing,
actuating dan controlling. Perencanaan merupakan aspek
pertama dan utama sebelum melaksanakan suatu
kegiatan yang selanjutnya diorganisir berbagai
komponen yang mendukung pelaksanaan kegiatan.
Aktivitas berikutnya adalah aksi yang dilakukan
dengan mendasarkan pada perencanaan dan
memperhatikan berbagai komponen yang mendukung

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 33


dan aktivitas selanjutnya adalah melakukan kontrol
terhadap apa yang telah dilakukannya.
Sebagai seorang guru, mengajar adalah suatu
aktivitas membawa peserta didik bagaimana belajar,
mengingat materi pelajaran, memotivasi diri peserta
didik untuk dapat berpikir dengan betul. Berdasarkan
yang demikian, bagaimana guru dapat membangun
strategi pembelajaran yang dapat mengantarkan peserta
didik menjadi pembelajar yang mempunyai
kemampuan pengendalian diri.
Pembelajar mandiri adalah pembelajar yang
mempunyai ciri-ciri khas seperti: a) mampu melakukan
diagnosis secara cepat dan tepat keberlangsungan
kegiatan pembelajaran; b) memiliki kemampuan dan
mampu melaksanakan strategi belajar yang efektif dan
mengetahui kapan harus menggunakannya; c)
mempunyai kemampuan untuk memotivasi diri
sendiri, tidak hanya karena faktor eksternal; d) istiqomah
dan konsisten dalam melaksanakan kewajiban; dan e)
belajar secara efektif dan memiliki motivasi dalam
belajar (Arends, 2001), sehingga dalam mencapai tujuan
tersebut diperlukan adanya strategi untuk
melaksanakannya.
Strategi belajar adalah operator-operator kognitif
yang terdiri dari proses-proses secara langsung terkait
dalam kegiatan belajar (Nur, 2000; Turmudi, 2001; Asri,
2005), dikatakan juga sebagai tindakan khusus yang
dilakukan oleh seseorang untuk memudahkan,
mempercepat, lebih menikmati, lebih mudah
memahami secara langsung, lebih efektif dan dapat
diubah menjadi keadaan yang baru (Sulistiyono, 2003).
Secara umum dapat dikatakan, bahwa strategi belajar
adalah pola umum yang dapat digunakan dalam
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang
sudah dirancang dan hasil yang diperoleh adalah
adanya keefektifan pembelajaran.

34 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


Kefektifan pembelajaran terdiri dari empat indikator,
yaitu kualitas pembelajaran, kesesuaian tingkat
pembelajaran, insentif dan waktu (Slavin, 1995). Kualitas
pembelajaran dapat dilihat dari seberapa banyaknya
informasi yang diuraikan serta kualitas yang
disampaikannya, sehingga peserta didik dapat
mempelajarinya dengan peringkat kesalahan kecil.
Semakin kecil peringkat kesalahan yang terjadi,
bermakna semakin efektif pembelajaran. Sedangkan
penentuan keefektifan tingkat pembelajaran dapat
ditinjau dari tingkat keberhasilan belajar. Kesesuaian
tingkat pembelajaran adalah sejauh mana guru
membawa peserta didik siap mempelajari materi yang
baru.
Manakala insentif adalah seberapa besar usaha guru
memberikan motivasi kepada peserta didik untuk
menyelesaikan tugas-tugas belajar dan mempelajari
materi yang diberikan. Sedangkan waktu yang
dimaksud adalah seberapa banyak masa yang diberikan
kepada peserta didik untuk mempelajari materi yang
disampaikan. Pembelajaran semakin efektif jika peserta
didik dapat menyelesaikan pembelajaran sesuai dengan
waktu yang disediakan. Dikatakan juga bahwa
keefektifan pembelajaran dilakukan dengan melibatkan
peserta didik dalam pengorganisasian dan penemuan
informasi, sehingga keaktifan peserta didik dalam
kegiatan pembelajaran dapat memberikan dampak
kepada pencapaian keberhasilan belajar (Eggen &
Kauchak, 2009).
2. Pendekatan Pembelajaran
Sebuah aktivitas yang hendak dijalankan, diperlukan
adanya pendekatan dalam melaksanakannya.
Keberhasilan pencapaian suatu aktivitas setelah
dilakukan perencanaan, adalah pendekatan yang sesuai
agar pelaksanaan aktivitas sesuai dengan perencanaan.
Demikian juga dalam kegiatan pembelajaran,

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 35


pendekatan pembelajaran merupakan cara yang dilalui
guru dalam melaksanakan kegiatannya dengan tujuan
agar peserta didik dapat memahami materi yang
disampaikannya.
Pelaksanaan pembelajaran matematika dilakukan
dengan mendasarkan pada dua pendekatan, yaitu
pendekatan yang bersifat metodologi dan yang bersifat
materi (Turmudi, 2001; Wahyudin, 2007). Pendekatan
yang bersifat metodologi berkaitan dengan cara peserta
didik mengadaptasi konsep yang dipelajarinya
kedalam struktur kognitifnya yang sejalan dengan cara
guru menyampaikan materi. Pendekatan ini merupakan
suatu cara agar dapat mengadaptasi, memahami
sesuatu konsep, sehingga dengan pendekatan tersebut
dapat menyelaraskan dengan pengetahuan yang
dimilikinya. Pendekatan ini bermakna bahwa sejauh
mana peserta didik dapat menemukan metode yang
tepat untuk menghubungkan dan menemukan
hubungan antara materi yang dipelajarinya dengan
materi yang sudah dimilikinya. Manakala pendekatan
yang bersifat materi adalah pembelajaran matematika
yang didasarkan kepada materi yang telah dimiliki dan
dipahami oleh peserta didik. Hal ini bermakna bahwa,
seorang guru hendaknya dalam menyampaikan materi
memperhatikan urutan materi yang disampaikannya,
hal ini untuk memudahkan peserta didik
menghubungakan materi yang sudah dipelajarinya
dengan materi baru yang diperolehnya.
Beberapa pendekatan yang termasuk dalam
kelompok metodologi antaranya, pendekatan intuitif,
induktif, deduktif, tematik dan realistik (Nur, 2000;
Turmudi, 2001). Manakala pendekatan yang bersifat
materi dapat diberikan contoh, misal dalam
menyampaikan materi operasi hitung aljabar, peserta
didik telah memahami dan memiliki pengetahuan
tentang bilangan real dan macam-macam operasi.

36 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


3. Metode Pembelajaran
Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk
memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna
mencapai tujuan yang ditentukan, dikatakan juga
sebagai langkah operasional dari strategi pembelajaran
yang dipilih dalam mencapai tujuan belajar. Berkenaan
dengan pengajaran, metode adalah cara menyampaikan
materi yang bersifat umum, misal seorang guru
melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan
menggunakan berbagai cara, ada tanya jawab, ceramah
dan pemberian tugas.
Metode dalam pembelajaran tidak hanya berfungsi
bagi guru untuk menyampaikan materi saja, sebab
dalam kegiatan pembelajaran mempunyai tugas yang
luas yaitu selain sebagai penyampai informasi juga
mempunyai tugas bagi mengurus kegiatan
pembelajaran sehingga peserta didik dapat belajar
untuk mencapai tujuan belajar secara tepat. Sehingga
metode pembelajaran bermakna sebagai cara yang
digunakan untuk mengimplementasikan rancangan
yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan
praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
sudah ditentukan.
Terdapat berbagai metode pembelajaran, antaranya:
a) ceramah; b) demonstrasi; c) diskusi; d) simulasi (Nur,
2000; Turmudi, 2001; Topik, 2010). Namun sebuah
metode yang sesuai dilaksanakan untuk pembelajaran
suatu materi belum tentu dapat dilaksanakan dalam
materi yang lain, termasuk materi matematika.
4. Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah pola interaksi antara
peserta didik dengan guru di dalam kelas yang
menyangkut strategi, pendekatan dan metode
pembelajaran. Dikatakan juga sebagai perencanaan
suatu pola yang dapat dilaksanakan untuk merancang

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 37


aktivitas pembelajaran di dalam kelas (Joyce, Bruce &
Weil, 2009). Terdapat empat ciri khas yang dimiliki
model pembelajaran, yaitu a) rasional teoritikal yang
logik yang dirancang oleh pengembang model; b) dasar
pemikiran mengenai apa dan bagaimana peserta didik
belajar; c) perilaku mengajar yang diperlukan agar
model dapat dilaksanakan dengan berhasil; dan d)
lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan
pembelajaran dapat berhasil (Arends,2001).
Manakala Joyce, Bruce & Weil (2009) mengemukakan
bahwa empat konsep yang diperlukan dalam
perencanaan sebuah model, yaitu: a) tahap, yaitu
langkah-langkah yang hendaknya dapat dilaksanakan
dalam kegiatan pembelajaran; b) sistem sosial, yaitu
sistem yang menunjukkan peran dan hubungan antara
peserta didik dan guru serta peraturan yang diperlukan
baik pada saat kegiatan di dalam maupun di luar kelas;
c) prinsip reaksi yang bermakna sebagai dampak dari
kegiatan pembelajaran yang berbentuk umpan balik
dari peserta didik; dan d) sistem pendukung, yaitu
komponen-komponen yang diperlukan agar model
dapat dilaksanakan.
Berdasarkan uraian tersebut, dalam kajian ini model
pembelajaran dirancang dengan memiliki lima komponen,
yaitu: a) tahap; b) sistem sosial; c) prinsip reaksi; d) sistem
pendukung; dan e) dampak pembelajaran.

B. Teori Pembelajaran
Ditinjau dari konteks asal usul, teori berasal dari
perkataan Yunani, yaitu theoria yang bermakna pandangan,
wawasan, berpikir, kontemplasi atau spekulasi (Nik Aziz,
2008). Berdasarkan konteks makna istilah teori adalah,
pendapat yang dikemukakan untuk menerangkan sesuatu
hal (Noresah, 2005), dikatakan juga bahwa teori adalah suatu
pengetahuan yang tersusun secara sistematik dan
menggunakan hipotesis dan prinsip yang khusus (Hopkins,

38 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


1980). Manakala Corbin & Strauss (1990) dalam Nik Aziz
(2008) mengemukakan bahwa teori adalah himpunan
konsep yang terbentuk dengan baik dan berkaitan satu sama
lain melalui pernyataan hubungan tertentu yang secara
bersama-sama membentuk satu rangka bersepadu yang
dapat digunakan untuk menjelaskan atau meramalkan
fenomena tertentu.
Sedangkan pembelajaran adalah proses yang
dijalankan untuk memperoleh ilmu pengetahuan (Noresah,
2005). Pembelajaran bermakna usaha peserta didik bagi
mempelajari sesuatu materi sebagai dampak dari
pengajaran guru (Wina, 2008; Asri, 2005). Disebutkan bahwa
pembelajaran mempunyai tiga prinsip, yaitu a) proses
pembelajaran membentuk kreasi lingkungan yang dapat
membentuk atau mengubah kognitif peserta didik; b) terkait
dengan jenis pengetahuan yang hendaknya dipelajari; dan
c) melibatkan lingkungan sosial (Wina, 2008).
Memandangkan yang demikian, dapat dikatakan
bahwa teori pembelajaran adalah suatu pendapat yang
digunakan untuk menerangkan suatu proses yang berkaitan
dengan aktivitas untuk memperoleh ilmu pengetahuan atau
kepandaian yang sebelumnya tidak dimiliki, sehingga
manusia dapat mengetahui, mengerti, dapat melaksanakan
dan memiliki tentang sesuatu pengetahuan (Fudyartanto,
2002).
Uraian mengenai teori pembelajaran dalam kajian
sangatlah penting, kegunaan yang diperoleh dengan uraian
ini antaranya adalah: a) suatu cara yang dapat digunakan
untuk menganalisis, membicarakan dan mengkaji
pembelajaran, menggambarkan pandangan peneliti
mengenai aspek-aspek pembelajaran yang bermakna untuk
dipelajari. Sehingga teori pembelajaran berfungsi sebagai
petunjuk dan sumber stimulasi bagi paparan dan pemikiran
ilmiah; b) suatu cara untuk meringkaskan sekumpulan
besar pengetahuan mengenai hukum-hukum pembelajaran
di ruang yang lebih kecil; dan c) menjelaskan bagaimana

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 39


dan mengapa suatu proses pembelajaran berlangsung (Hill,
1990; Asri, 2005).
Mengikut perkembangannya, makna dari belajar
terbagi menjadi dua pandangan, pertama memandangkan
bahwa belajar adalah kegiatan menghafal, sedangkan yang
kedua belajar bermakna sebagai proses perubahan perilaku
sebagai dampak dari pengalaman dan latihan yang
dijalankannya (Hill, 1990; Asri, 2005; Wina, 2008).
Mengikut pandangan yang pertama, belajar adalah
aktivitas mengingat sebuah fakta atau konsep, sehingga
dalam pelaksanaannya, peserta didik hampir tidak
menemukan keterkaitan antara materi yang dihafalkannya
dengan manfaat dari materi tersebut. Ciri-ciri khusus dari
pemahaman ini sebagaimana dikatakan Wina (2008) terdiri
dari tiga ciri yaitu: a) belajar adalah menambah sejumlah
pengetahuan; b) belajar adalah mengembangkan
kemampuan intelektual; dan c) belajar adalah hasil, bukan
suatu proses. Dari ketiga ciri-ciri khas tersebut dapat
diuraikan seperti berikut:
1. Belajar adalah Menambah Sejumlah Pengetahuan
Pengetahuan yang dimiliki oleh manusia sangat
terbatas, bagaikan setetes air di lautan, demikian juga
sebagai peserta didik, ilmu dan pengetahuan yang
dimilikinya adalah terbatas, sehingga melalui belajar
akan selalu diperoleh pengetahuan baru yang
sebelumnya tidak dimilikinya. Pelaksanaan proses
belajar dijalankan untuk menambah pengetahuan yang
dimilikinya dan keberhasilan dari proses ini ditentukan
berdasarkan sejauh mana pengetahuan baru dapat
dikuasai dan difahami oleh peserta didik. Hal ini
bermakna bahwa belajar secara umumnya adalah
mengumpul dan menambah pengetahuan. Manakala
apa kegunaan dari materi yang dipelajari, sejauh mana
pentingnya materi, tidak pernah menjadi soal dari
proses belajar.

40 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


2. Belajar adalah Mengembangkan Kemampuan
Intelektual
Intelektual yang dimiliki oleh seorang peserta didik
adalah berbeda antara yang satu dengan lainya dan
belajar yang dijalankan mempunyai tujuan untuk
mengembangkan kemampuan intelektual yang telah
dimilikinya, dengan kata lain bahwa belajar dijalankan
untuk tujuan mengembangkan aspek kognitif saja.
Keberhasilan dari belajar dapat ditentukan melalui
sejauh mana peserta didik dapat menguraikan dan
mengungkapkan kembali pengetahuan dan materi yang
telah dipelajarinya, bukan diukur dari sejauh mana
peserta didik dapat menganalisis dan melakukan sikap
kritis terhadap pengetahuan yang diterimanya.
Memandangkan yang demikian, ciri khusus ini
bermakna bahwa belajar merupakan aktivitas
mengumpulkan sebanyak-banyaknya pengetahuan,
dan keberhasilan diukur kepada kemampuan untuk
mengungkap kembali pengetahuan yang dimilikinya,
tanpa memberikan analisis atau kritik terhadap
pengetahuan yang diterimanya.
3. Belajar adalah Suatu Hasil Bukan Proses
Keberhasilan dari kegiatan belajar ditentukan
berdasarkan hasil yang diperoleh, semakin banyak
informasi yang diperoleh semakin cemerlang hasil
belajarnya. Demikian juga kemampuan untuk
menguraikan dan mengungkapkan kembali materi
yang sudah dipelajari diperlukan adanya kecepatan dan
ketepatan dalam pengungkapannya. Semakin cepat dan
tepat peserta didik dapat menguraikan atau
mengungkapkan kembali informasi yang telah
dimilikinya, menjadi kriteria keberhasilan dari kegiatan
belajar.
Menurut pandangan pertama, bahwa kegiatan belajar
mengutamakan hasil yang dapat diperoleh peserta didik

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 41


ketika melaksanakan kegiatan, seberapa banyak informasi
diperoleh, seberapa banyak pengetahuan yang didapat dan
tidak memperhatikan proses yang dijalaninya. Manakala
pandangan kedua, belajar adalah sebuah proses perubahan
perilaku sebagai dampak dari pengalaman yang
dijalankannya.
Belajar merupakan proses perubahan melalui kegiatan
atau prosedur latihan baik di dalam laboratorium maupun
di lingkungan sekitar, belajar tidaklah proses
mengumpulkan pengetahuan, namun proses mental yang
terjadi pada seseorang sehingga mempunyai dampak
adanya perubahan perilaku. Menurut pandangan ini
sebagaimana dikemukakan Wina (2008) bahwa terdapat
empat ciri-ciri khusus dari belajar, yaitu: a) belajar adalah
aktivitas yang dirancang dan mempunyai tujuan tertentu;
b) tujuan belajar adalah perubahan perilaku; c) belajar
adalah proses dan bukan sekedar hasil; dan d) belajar adalah
proses pemecahan masalah. Uraian keempat-empat ciri-ciri
khas tersebut dapat diuraikan seperti berikut:
1. Belajar adalah Aktivitas yang Dirancang dan
Mempunyai Tujuan Tertentu
Belajar adalah suatu aktivitas yang dijalankan
dengan penuh kesadaran dan untuk mencapai tujuan
yang dapat dimanfaatkan oleh mereka yang sedang
melaksanakan kegiatan belajar. Karena kegiatan belajar
dijalankan dengan penuh kesadaran, maka perencanaan
adalah suatu aktivitas yang harus dijalankan sebelum
melakukan aktivitas. Sebab dengan perencanaan yang
baik, proses yang dijalankan akan sesuai dengan
harapan dan hasil yang diperoleh mencapai tujuan yang
ditentukan. Oleh karena itu, setiap seseorang yang
sedang melaksanakan kegiatan belajar hendaknya
dirancang terlebih dahulu, sehingga dapat memperoleh
manfaat dengan selalu memperhatikan hubungan
antara tujuan yang hendak dicapainya dengan manfaat

42 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


dari materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata
yang dialaminya.
2. Tujuan Belajar adalah Terjadinya Perubahan Perilaku
Seseorang melaksanakan sesuatu kegiatan salah
satunya didasarkan kepada kefahaman dan
kemanfaatan aktivitas yang hendak dijalankan, sehingga
perilaku seseorang sebagian merupakan cermin dari
pengetahuan yang dimilikinya.
Semakin banyak pengetahuan dan keterampilan
yang dimilikinya, semakin arif perilaku seseorang,
bagai pepatah bagai padi, makin tua makin merunduk, yang
bermakna bahwa seseorang yang semakin banyak
pengetahuan dan keterampilanya maka perilakunya
menjadi lebih arif, tiada kesombongan pada dirinya.
Hal ini mempunyai arti bahwa dalam proses belajar
diperoleh pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan
yang menunjukkan aktivitas apa yang dapat dijalankan
berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya, atau dapat
dikatakan bagaimana melaksanakan sesuatu
berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga
belajar yang dilaksanakan tidaklah hanya untuk
memperoleh ilmu pengetahuan atau mengembangkan
kemampuan intelektual, namun mengembangkan
setiap aspek baik aspek kognititf maupun keterampilan.
Jadi, melalui belajar manusia dipandang sebagai satu
kesatuan, yang bermakna ketika aspek kognitif
berkembang, maka aspek-aspek keterampilan juga
mengalami perkembangan, yang antaranya adalah
keterampilan berkomunikasi, kemampuan
menyelesaikan masalah, kemampuan bekerja
kelompok, penggunaan teknologi informasi,
kepemimpinan, etika, dan kemampuan wirausaha.
3. Belajar adalah Proses Bukan Sekedar Hasil
Sebuah kegiatan yang dijalankan akan diperoleh
hasil, dan kualitas dari hasil terkait dengan berbagai

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 43


faktor. Salah satu faktor yang hendaknya perlu
diperhatikan untuk memperoleh hasil yang
dikehendaki adalah proses yang dijalankan ketika
hendak memperoleh hasil sesuai dengan tujuan yang
ditetapkan. Secara umum dapat dikatakan bahwa
sesuatu aktivitas, jika proses yang dijalankan sesuai
dengan perencanaan yang ditetapkan, maka akan
diperoleh hasil yang sesuai dengan tujuan yang
ditetapkan. Sehingga dapat dikatakan bahwa kualitas
hasil salah satunya adalah bergantung kepada kualitas
proses.
Memperhatikan yang demikian, menurut pandangan
ini keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan
berdasarkan hasil yang diperolehnya, namun proses
menuju hasil juga merupakan belajar. Karena dalam
belajar yang dikembangkan selain pengetahuan adalah
keterampilan dan hal ini memerlukan proses untuk
memperoleh perubahan perilaku yang diharapkan.
4. Belajar adalah Proses Pemecahan Masalah
Setiap aktivitas yang dijalankan manusia mestilah
diperoleh dampak, baik dampak positif maupun
negatif. Dampak negatif dapat wujud sebagai
permasalahan, dan setiap permasalahan yang didapati
haruslah diusahakan untuk diselesaikannya.
Penyelesaian sebuah permasalahan diperlukan ilmu
dan pengetahuan sesuai dengan jenis dan peringkatnya
dan sebuah informasi yang diterimanya bukanlah untuk
dihafalkan. Namun informasi yang diterimanya
merupakan sebagian cara untuk menyelesaikan
permasalahan. Terkait dengan proses belajar, yang
bermakna mengaitkan antara skema yang telah
dimilikinya dalam pikiran dengan perolehan skema
baru yang diperoleh dari belajar, akan diperoleh skema
perpaduan antara kedua skema tersebut.

44 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


Perpaduan skema tersebut sebagai dasar bagi
penyelesaian permasalahan sesuai dengan peringkat
dan jenisnya. Melalui proses yang demikian, diharapkan
belajar bukan hanya untuk merubah dan
menambahbaik pengetahuan saja, namun sikap dan
keterampilannya menjadi lebih baik. Kemampuan
berpikir menjadi lebih bermakna berbanding dengan
hanya mengumpulkan sejumlah fakta yang tidak
difahami kebermaknaannya.
Memperhatikan kedua pandangan mengenai belajar,
dapat dikatakan bahwa pandangan yang pertama mengikut
paham behavioristik yang bertujuan agar peserta didik
dapat mengingat informasi yang faktual. Sedangkan
pandangan yang kedua memandangkan pendekatan
pembelajaran yang berlakunya paham konstruktivistik,
yang diharapkan dapat membantu peserta didik lebih
mudah memperoleh pengetahuan secara optimal, dapat
menyampaikan kembali sesuatu yang telah dipelajarinya
(Hill, 1990; Wina, 2008).

C. Teori Belajar Behavioristik


Adanya perubahan tingkah laku yang disebabkan
adanya stimulus yang mempengaruhi munculnya respon
adalah pengertian belajar menurut teori belajar
Behavioristik (Slavin, 2000). Keberhasilan pelaksanaan
pembelajaran dapat dilihat dari tingkah laku yang dimiliki
oleh seseorang yang sedang belajar, jika terjadi perubahan
tingkah laku bermakna bahwa orang tersebut telah berhasil
dalam belajar, sebaliknya jika tanpa adanya perubahan
tingkah laku, maka pelaksanaan belajar dikatakan belum
berhasil.
Behaviorisme adalah aliran psikologi belajar yang
kurang memperhatikan aspek mental, yang utama dalam
belajar adalah adanya input berupa stimulus dan
mempunyai dampak kepada munculnya respon berupa
stimulus. Behaviorisme tidak memperhatikan adanya

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 45


kecerdasan, bakat, minat dalam pelaksanaan pembelajaran.
Belajar adalah melatih refleks yang dimilikinya sehingga
menjadi kebiasaan individu dalam belajar. Latihan refleks
ini dilakukan oleh guru dengan memberikan stimulus yang
sesuai dengan materi pembelajaran dan diberikan kepada
pembelajar.
Setiap aktivitas untuk menghasilkan sesuatu sudah
semestinya bermula dari input, proses dan out put, namun
dalam teori ini tidak dipertimbangkan bagaimana sebuah
proses terjadi dalam rangka mengolah input agar menjadi
out put. Sehingga sebuah aktivitas belajar yang diutamakan
adalah apa yang disampaikan oleh guru sebagai stimulus
dan hasil yang diperoleh berupa respon pembelajar.
Para tokoh yang mengembangkan teori ini adalah
Edrward Lee Thorndike, John Watson. Clark L. Hull, Edwin
Guthrie dan Burrhus Frederic Skinner.

1. Edward Lee Thorndike (1874-1949)


Edward Lee Thorndike dilahirkan 31 Agustus 1874
Williamsburg. Pendidikan yang ditempuh antaranya
The Roxbury Sekolah Latin di West Roxbury yang
diselesaikan pada rahun 1891, pada tahun 1895
diselesaikannya program sarjana di Massachusetts,
Wesleyan University dan program master dari Harvard
University selesai pada tahun 1897, manakala PhD dari
Columbia University selesai pada tahun 1898.
Pada tahun 1899 Thormdike menjadi instruktur bidang
psikologi yang mengkaji bidang pembelajaran, di
Teachers College di Columbia University. Pada tahun
1912, menjabat sebagai presiden American
Psychological Association pada tahun 1912, yang
sekarang menjadi rujukan penulisan karya ilmiah dari
berbagi penjuru dunia. Selanjutnya pada tahun 1937
Thorndike diangkat sebagai Presiden Psychometric
Society.

46 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


Edward Lee Thorndike mengemukakan bahwa belajar
adalah proses interaksi antara stimulus dan respon.
Input yang dimaksud adalah stimulus yang diberikan
kepada pembelajar yang dapat menimbulkan kegiatan
belajar seperti pikiran, perasaan, dan berbagai hal yang
memungkinkan dan dapat diterima oleh panca indera.
Sedangkan out put yang diharapkan berupa respon
yang disampaikan oleh pembelajar dalam kegiatan
pembelajaran yang berupa pikiran, perasaan atau
tindakan.
Berdasarkan paparan tersebut, Thorndike
mengemukakan, bahwa belajar menurut teori ini adalah
terjadinya perubahan tingkah laku yang merupakan
dampak dari belajar berupa sesuatu yang dapat diamati
secara nyata maupun sesuatu yang tidak dapat diamati
atau diukur. Sebagaimana dikemukakan sebelum ini,
bahwa teori ini mengutamakan pengukuran, namun
dalam hal penentuan stimulus yang tidak dapat diamati
tidak dijelaskan secara nyata bagaimana hal ini dapat
diketahui.
Teori yang dikemukakan oleh Thorndike disebut
dengan aliran Koneksionisme dan teori ini dihasilkan oleh
Thorndike yang melakukan percobaan terhadap kucing
dan menghasilkan hukum belajar.
a. Law of Effect, hukum ini bermakna, bahwa interaksi
yang terjadi antara stimulus dan respon yang
berdampak kepada efek yang memuaskan akan
menjadikan hubungan antara stimulus dan respon
semakin kuat, sebaliknya jika efek yang ditimbulkan
tidak dapat memberikan dampak yang memuaskan
berdampak kepada hubungan yang kurang kuat
antara stimulus dan respon.
b. Law of Readiness, hukum ini menjelaskan bagaimana
kesiapan pembelajar dalam melaksanakan suatu
kegiatan mempengaruhi kepada hasil dari belajar.

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 47


Seorang pembelajar yang melakukan aktivitas
tertentu dan kegiatan tersebut adalah benar, maka
tindakannya akan menghasilan kepuasan dalam diri
pembelajar. Jika pembelajar melakukan aktivitas
dan ternyata menghasilkan ketidakpuasan dalam
diri pembelajar, maka pembelajar akan mencoba
menghindari dari aktivitas yang menghasilkan
ketidakpuasan. Sedangkan pembelajar yang enggan
untuk melakukan aktivitas namun ternyata dia
melakukan suatu kegiatan dan hal tersebut
menghasilkan suatu ketidapuasan, maka pembelajar
berusaha untuk menghilangkan ketidakpuasan
tersebut.
c. Law of Exercise, hukum ini mengemukakan bahwa
hubungan antara stimulus dan respon semakin baik
dan kuat jika sering dilakukan pengulangan, dan
dampak yang ditimbulkan hubungan yang terjadi
menjadi semakin otomatis. Sebaliknya jika jarang
dilakukan pengulangan, menimbulkan yang terjadi
antara stimulus dan respon adalah kurang baik,
sehingga dapat dikatakan bahwa belajar akan
berhasil dengan baik jika dalam melakukan belajar
sering mengulang-ulang. Sedangkan jika
pengulangan dalam proses pembelajaran jarang
dilakukan maka hasil belajar boleh dikatakan kurang
memuaskan.
2. John Broadus Watson (1878–1958)
Tokoh selanjutnya setelah Thorndike adalah John
Broadus Watson dilahirkan pada tahun 1878 di
Greenville, Carolina selatan. Watson mengemukakan
bahwa belajar merupakan proses interaksi yang terjadi
antara stimulus dan respon, namun hubungan tersebut
harus menghasilkan respon berupa tingkah laku yang
dapat diamati dan diukur.
Seorang pembelajar dalam melaksanakan aktivitas
belajar dapat mengakibatkan adanya perubahan
48 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif
pemikiran dan mental, namun hal tersebut belum dapat
digunakan sebagai ukuran untuk menilai keberhasilan
proses pembelajaran, karena hal tersebut belum dapat
diamati dan diukur.
Watson sesungguhnya pakar dibidang Fisika dan
Biologi, sehingga kajian yang dilakukan dalam
pembelajaran dikaitkan dengan keahliannya dibidang
pengetahuan alam, dan ukuran yang dilakukan untuk
menilai keberhasilan belajar disejajarkan dengan ukuran
yang biasanya diimplementasikan dibidang
pengetahuan alam.
Watson mengemukakan asumsi yang digunakan
dalam pembelajaran, bahwa dengan menetapkan aturan
terhadap respon yang berupa sesuatu yang dapat
diamati dan dapat diukur, menjadikan keberhasilan
belajar dapat dilihat dan ditentukan. Namun tetap
mengakui bahwa perkembangan mental pembelajar
memang terjadi perubahan dan hal ini sangat penting,
akan tetapi hal tersebut tidak dijadikan ukuran untuk
menilai keberhasilan belajar.
3. Clark Leonard Hull (1884 – 1952)
Clark Leonard Hull memperoleh gelar Ph. D. dari
university of Wisconsin pada 1918. Hull adalah toko
Behariorisme yang seangkatan dengan Watson. Hull,
dalam paparannya mengenai belajar diilhami oleh teori
evolusi Charles Darwin, bahwa semua fungsi perilaku
manusia akan sangat mempengaruhi dalam menjaga
kelangsungan hidup. Memperhatikan yang demikian
Hull mengemukakan bahwa kebutuhan biologis dan
pemuasan kebutuhan biologis merupakan sesuatu yang
sangat bermakna dan merupakan variabel utama yang
mempengaruhi kegiatan manusia, sehingga stimulus
dalam belajarpun tidak luput dari kebutuhan biologis,
meski respon yang ditimbulkan dapat berbeda-beda
bentuknya.

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 49


Prinsip utama yang mendukung teorinya adalah
Reinforcement yaitu faktor utama dalam kegiatan
pembelajaran yang harus ada, namun fungsinya drive
reduction daripada satisfied factor. Hubungan antara
stimulus dan respon yang perlu dikaji adalah peranan
dari variabel perantara sebagai unsur organisme,
sedangkan faktor organisma adalah kondisi internal dan
sesuatu yang disimpulkan. Sehingga Hull memberikan
kesimpulan bahwa belajar baru terjadi jika
keseimbangan biologis terjadi.
4. Edwin Ray Guthrie (1886-1959)
Edwin Ray Guthrie dilahirkan di Lincoln pada tanggal
9 Januari 1886 dari seorang ayah yang aktivitasnya
seorang bisnisman dan ibu seorang guru. Edwin adalah
sarjana dibidang matematika dari Universitas
Nebraska, namun dalam aktivitasnya selain mengajar
matematika melanjutkan Ph.D dalam bidang Filsafat di
Universitas Pennsylvania . Selain sebagai seorang guru,
aktivitas lainya adalah menjadi instruktur filsafat di
Universitas Washington, dan karena ketertarikannya
mengenai belajar dan pembelajaran dan latar belakang
filsafat yang dimilikinya, selanjutnya ia aktif mengajar
di psikologi hingga akhir pengabdiannya. Gigihnya
dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, Edwin Ray
Guthrie sempat menjadi pemenang hadiah nobel yang
diberikan oleh Asosiasi Psikologi Amerika.
Sebagaimana tokoh Behavioristik yang terdahulu,
Guthrie juga mendefinisikan, bahwa proses belajar akan
terjadi jika ada interaksi antara stimulus dan respon,
namun dalam mengemukakan mengenai hubungan ini
berbeda dengan para tokoh sebelumnya. Guthrie juga
mengemukakan bahwa untuk keberhasilan belajar
tidaklah dilakukan sesering mungkin memberikan
stimulus, sehingga stimulus bersifat sementara.
Menurutnya, proses belajar dapat berlangsung

50 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


disebabkan adanya gerakan terakhir yang dilakukan
untuk mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada
respon lain yang dapat terjadi. Penguatan dilakukan
untuk melindungi hasil belajar yang baru agar tidak
hilang dengan jalan mencegah terjadinya perolehan
respon bukan disebabkan loleh adanya stimulus
yangtelah dilakukan. Guthrie juga memberikan
penguatan bahwa hukuman mempunyai peranan
penting dalam proses belajar, sebab hal tersebut pada
saat yang tepat akan dapat mengubah respon seseorang.
Guthrie dalam menerapkan pembelajaran
mengemukakan adanya hukum kontinguiti, yaitu
gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu
gerakan akan mempengaruhi terjadinya respon.
5. Burrhus Frederic Skinner (1904 – 1990)
Skinner sebagai tokoh Behavioristik mempunyai
kemampuan untuk menjelaskan makna belajar secara
sederhana, namun lebih komprehensif. Interaksi yang
terjadi antara stimulus dan respon melalui interaksi
dengan lingkungannya akan menimbulkan perubahan
tingkah laku. Menurutnya respon yang diterima oleh
pembelajar tidak dapat dikemukakan secara sederhana
sebagaimana dikemukakan para tokoh sebelumnya. Hal
ini disebabkan, bahwa stimulus yang diberikan dalam
kegiatan pembelajaran dengan sendirinya dapat saling
berinteraksi dan hal ini dengan sendirinya dapat
mempengaruhi kondisi respon yang dihasilkan.
Kondisi respon inilah yang dapat mempengaruhi
munculnya beraneka perilaku yang terjadi.
Skinner menyarankan, bahwa dalam memahami
perilaku seseorang agar diperoleh penilaian yang tepat
dan benar hendaknya dapat memahami hubungan antar
stimulus. Selain itu perlu dipahami konsep yang
mungkin dapat muncul dari berbagai konsekuensi yang
timbul sebagai dampak respon tersebut. Selain itu juga

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 51


perubahan mental sebagaimana diakui oleh Watson
bahwa perubahan mental pasti ada dalam proses
pembelajaran, namun Watson tidak menggunakannya
sebagai alat ukur keberhasilan belajar demikian juga
Skinner mengemukakan bahwa hal itu dapat menambah
rumitnya masalah karena perlu adanya penjelasan
mengenai adanya perubahan tersebut.
Hukum belajar yang dihasilkan Skinner disebut
dengan Operant Conditioning sebagai hasil percobaan
yang dilakukan terhadap tikus dan menghasilkan
hukum-hukum belajar, diantaranya:
a. Law of operant conditining yang mempunyai arti, jika
dampak yang berupa perilaku diiringi dengan
stimulus yang dapat menguatkan kondisi tersebut,
maka kekuatan perilaku akan semakin meningkat.
b. Law of operant extinction yaitu jika efek yang berupa
perilaku telah diperkuat melalui proses conditioning
tidak diiringi adanya stimulus yang dapat
menguatkanya, maka kekuatan perilaku yang
muncul akan menurun dan bahkan mungkin dapat
hilang.

D. Teori Belajar Konstruktivistik


Melalui pendekatan konstruktivistik dapat dibangun
dan diciptakan pengetahuan dengan cara memberi makna
pada pengetahuan yang sesuai dengan pengalamannya.
Oleh karena itu, pengetahuan adalah konstruksi manusia
secara langsung melalui pengalaman-pengalaman baru
yang diperoleh, sehingga pengetahuan mempunyai sifat
tidak pernah langgeng. Sebab pemahaman yang diperoleh
bersifat sementara dan akan selalu berubah mengikut
pengalaman baru yang diperoleh.
Terkait dengan materi matematika, pembelajaran yang
berorientasi konstruktivisme secara khusus mempunyai
tiga ciri, yaitu: a) peserta didik aktif dalam melaksanakan

52 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


aktivitas belajarnya; b) informasi baru yang disampaikan
dikaitkan dengan informasi lain sehingga menyatu dengan
skema yang dimiliki oleh peserta didik, agar pemahaman
informasi yang lebih rumit dapat wujud; dan c)
pembelajaran berorientasi kepada pemecahan masalah
(Hudoyo, 2005; Cholis, 2006; Wahyudin, 2007). Melalui
ketiga aspek tersebut peserta didik dibina untuk
membangun pemahaman matematika lebih bermakna
dengan memahami secara konseptual dan prosedural, dan
keadaan ini dapat wujud melalui pembelajaran
konstruktivisme.
Pengembangan konstruktivisme telah dilakukan oleh
Jean Piaget dan Vigotsky, dimana kedua pakar menekankan
bahwa perubahan kognitif dapat wujud jika konsepsi-
konsepsi yang telah difahami dan diolah melalui suatu
proses ketidakseimbangan bagi memperoleh informasi
baru. Teori ini memandangkan bahwa peserta didik secara
berkelanjutan memeriksa informasi-informasi baru yang
tidak sesuai dengan konsepsi lama dan memperbaikinya.
Salah satu prinsip utama adalah guru tidak hanya
memberikan pengetahuan kepada peserta didik, namun
mempunyai kewajiban untuk membina pengetahuan
didalam pikiran sendiri. Guru membantu proses ini dengan
melaksanakan aktivitas pembelajaran yang menjadikan
informasi menjadi sangat bermakna dan sesuai bagi peserta
didik dengan memberikan kesimpulan kepada peserta
didik untuk mengimplementasikan sendiri ide-ide dan
secara sadar menggali strategi-strategi mereka sendiri untuk
belajar.
Berdasar faham tersebut, dikatakan bahwa pengetahuan
seseorang diperoleh melalui interaksi yang dilakukan
dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungan ketika
mereka melaksanakan aktivitas. Kebenaran sesuatu
pengetahuan didasarkan kepada kemanfaatan yang dapat
dilaksanakan untuk memperoleh penyelesaian yang sesuai
dari sesuatu persoal. Sebuah pengetahuan tidak dapat

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 53


diterima begitu saja dari orang lain, namun dapat diperoleh
melalui interpretasi sendiri oleh masing-masing orang.
Setiap orang harus mengkonstruksi pengetahuan yang
diperoleh, karena pengetahuan bukan sesuatu yang sudah
jadi, melainkan suatu proses yang berkembang secara
berkelanjutan (Paul, 1997; Asri, 2005).
Belajar menurut konstruktivisme adalah suatu proses
mengasimilasikan dan mengaitkan pengalaman atau materi
yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dimilikinya,
sehingga pengetahuannya dapat dikembangkan. Ciri-ciri
yang dimiliki adalah: a) belajar dapat membentuk makna
yang diciptakan oleh peserta didik yang berasal dari
sesuatu yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialaminya;
b) konstruksi arti bermakna proses yang berkelanjutan,
setiap menemui fenomena yang baru dilakukan rekonstruksi
secara berkelanjutan; c) belajar bukanlah aktivitas
mengumpulkan fakta, melainkan suatu pengembangan
pemikiran sebagai usaha untuk membuat pengetahuan
yang baru; d) proses belajar yang sebenarnya terjadi pada
waktu skema seseorang dalam keraguan yang memotivasi
pemikiran lebih lanjut, yaitu keadaan ketidakseimbangan,
yaitu keadaan yang baik untuk meningkatkan kualitas
belajar; dan e) hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman
belajar dengan dunia fisik dan lingkungannya (Paul, 1997;
Hudoyo, 2005).
Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan, bahwa
makna belajar menurut konstruktivisme adalah aktivitas
yang aktif, peserta didik membina sendiri pengetahuannya,
mencari arti dari yang mereka pelajari dan merupakan
proses menyesuaikan konsep dan ide-ide baru dengan
kerangka berpikir semula dan dimilikinya (Shymansky,
1992). Belajar adalah suatu proses organik bagi menemukan
sesuatu, bukan suatu proses mekanik bagi mengumpulkan
fakta, suatu perkembangan pemikiran dengan membuat
kerangka pengertian yang didasarkan kepada pengetahuan

54 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


yang dimilikinya sehingga diperoleh kerangka baru (Hill,
1990; Asri, 2005).
Pelaksanaan konstruksi pengetahuan yang dapat
dijalankan antaranya mengharuskan peserta didik
mempunyai dasar bagaimana membuat hipotesis dan
mempunyai kemampuan untuk mengujinya, menyelesai-
kan permasalahan, mencari jawapan dari permasalahan
yang ditemuinya, mengadakan renungan, mengekspresikan
ide dan gagasan sehingga diperoleh konstruksi yang baru.
Tokoh yang terdepan dalam pengembangan teori
belajar Konstruktivisme adalah Jean Piaget dan Lev Vygotsky,
kiprah dan aktivitas yang dilakukan untuk
mengembangkan teori belajar, dapat dikemukakan pada
paparan berikut.
1. Jean Piaget (1896-1980)
Jean Piaget dilahirkan di Neuchâtel, Swiss tanggal 9
Agustus 1896 dari seorang ibu Rebecca Jackson dan
ayahnya bernama Arthur Piaget yang bekerja sebagai
seorang Profesor sastra. Setelah menyelesaikan Sekolah
Menengah Atas, Jean melanjutkan belajarnya ke
Universitas Neuchâtel. Gelar Ph.D diperoleh dari
Universitas Neuchâtel pada tahun 1918. Aktivitas yang
dilakukan antaranya sebagai pengajar bidang psikologi
di Sorbonne Paris. Sebagai seorang pengajar, ia selalu
melakukan penelitian dan mempublikasikan artikelnya
sebagai sarana untuk menyebarluaskan hasil riset dan
pemikirannya. Pada tahun 1921 Jean melibatkan diri di
JJ Rousseau di Geneva. Selanjutnya pada tahun 1929,
membagi waktunya sebagai Direktur Biro Pendidikan
Internasional. Masih dalam aktivitasnya dibidang
Psikologi, pada tahun 1940 berakvitas di Laboratorium
Psikologi dengan melakukan penelitian yang
berkenaan dengan eksperimen bidang psikologi.
Sebagai seorang pakar, Jean akhirnya memperoleh
Profesor di Sorbonne yang diterimanya pada tahun 1952

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 55


dan juga mendirikan dan sekaligus direktur International
Center for Genetic Epistemologi.
Teori yang dikembangkan Jean berkenaan dengan
pengetahuan yang didapatkan oleh peserta didik
melalui informasi yang diterimanya dan diolah
berdasarkan pengetahuan yang sudah dimilikinya, oleh
karena itu dalam belajar terjadi dua proses, yaitu proses
organisasi informasi dan adaptasi (Joyce, Bruce & Weil,
2009).
Ketika seseorang menerima informasi, mereka akan
mengkaitkan dengan struktur-struktur pengetahuan
yang sudah dimiliki dan tersimpan dalam otaknya, yang
demikian disebut dengan proses organisasi informasi.
Melalui proses ini manusia dapat memahami sebuah
informasi baru yang diperolehnya dengan
menyesuaikan informasi yang diperoleh dengan
struktur pengetahuan yang dimilikinya.
Manakala aktivitas adaptasi terdiri dari dua proses,
iaitu: a) proses menggabungkan pengetahuan yang
diterimanya; b) proses mengubah struktur pengetahuan
yang dimiliki dengan pengetahuan baru sehingga
diperoleh keseimbangan. Proses perubahan struktur
pengetahuan dapat dibagi menjadi empat konsep asas,
iaitu skemata, asimilasi, akomodasi dan keseimbangan
(Nurhadi, 2003; Asri, 2005).
Skemata adalah sekumpulan konsep yang
digunakan ketika berinteraksi dengan lingkungan.
Dalam menjalani kehidupan, manusia selalu
menyesuaikan diri dengan lingkungannya, hal ini
dilakukan dengan mengorganisasikan perilaku dan
pikirannya. Adaptasi yang dilakukan mengakibatkan
perubahan yang berkelanjutan dari sejumlah struktur
psikologis yang berbeda bentuk dari setiap tahap yang
dilaluinya.
Asimilasi adalah suatu proses kognitif dan adaptasi

56 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


pengalaman baru ketika seseorang memadukan
persepsi kedalam struktur yang ada. Dalam prosesnya,
asimilasi mempengaruhi pertumbuhan skemata,
sehingga dapat dikatakan bahwa asimilasi adalah
proses kognitif individu dalam usahanya
mengadaptasikan diri dengan lingkungannya.
Sedangkan skemata adalah suatu proses struktur
kognitif yang berlangsung sesuai dengan pengalaman
baru, dimana skemata yang lama dilakukan perubahan
berdasarkan struktur kognitif yang dimilikinya dan
diperoleh skemata baru.
Manakala keseimbangan adalah keserasian antara
kedua proses, yaitu asimilasi dan akomodasi. Dalam
proses adaptasi terhadap lingkungan, individu
berusaha mencapai struktur skemata yang relatif tetap,
yang berarti diperoleh keseimbangan antara proses
asimilasi dan proses akomodasi. Karena jika hanya
proses asimilasi yang terjadi akan diperoleh skemata
umum yang tidak memberikan kekuatan bagi melihat
perbedaan antara berbagai hal, sedangkan jika proses
akomodasi saja yang terjadi secara berkelanjutan, akan
diperolehi skemata yang khas dan tidak diperoleh
skemata yang bersifat umum.
2. Lev Vygotsky (1896- 1934)
Lev Vygotsky adalah filusuf yang lahir dan dibesarkan
di Rusia, sejak muda berminat terhadap sastra dan
filsafat. Perjalanan belajarnya boleh dikatakan berliku,
meski diterima di Universitas Moscow untuk mengikuti
perkuliahan dibidang kedokteran, namun dia lebih
tertarik belajar dibidang hukum dan secara bersamaan
dia belajar tentang sastra di perguruan tinggi yang lain.
Selanjutnya Vygotsky berminat pada bidang psikologi
dan juga menjadi pengajar bidang psikologi di sebuah
lembaga pendidikan tenaga kependidikan. Kajian
pertama yang dilakukan The Psichology of Art (1925)
ketika menyelesaikan Ph.D di Institut Psikologi

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 57


Moscow. Bersama dengan dua orang temannya,
Alexander Luria dan Alexei Lrontiev, Vygotsky berhasil
membuat penelitian yang dinamakan dengan
pendekatan Vygotsky.
Semasa hidupnya, disebabkan kondisi Russia yang
tidak memungkinkan untuk mengembangkan teori
pembelajaran, Vygotsky dengan terpaksa
menyesuiakan kajianya kepada ideologi politik yang
berkembang masa itu. Selepas Vygotsky meninggal
dunia pada tahun 1934 yang disebabkan penyakit yang
dideritanya tuberculosis, teori yang dikembangkannya
tidaklah dapat dilanjutkan, namun para mahasiswanya
yang mengembangkan kajiannya pada permulaan abad
ke-20.
Belajar merupakan interaksi sosial individu dengan
lingkungannya, demikian salah satu konsep belajar
menurut pendekatan konstruktivisme. Menurut
Vygotsky belajar adalah sebuah proses yang melibatkan
dua unsur, yaitu: a) belajar merupakan proses secara
biologikal sebagai proses dasar; b) proses secara
psikososial sebagai proses yang lebih tinggi dan
keperluannya berkaitan dengan lingkungan sosial
budaya (Elliot, 2000; Asri, 2005). Sehingga dapat
dikatakan bahwa munculnya perilaku seseorang
disebabkan adanya perantara kedua unsur tersebut.
Seseorang yang memperoleh rangsangan dari
lingkungannya, akan menggunakan inderanya untuk
menangkap rangsangan tersebut, kemudian diolahnya
dengan menggunakan saraf otaknya. Dengan demikian
pengetahuan seseorang akan selalu berkembang yang
disebabkan adanya interaksi yang berkelanjutan
dengan lingkungan tempat mereka melaksanakan
aktivitas. Oleh karena itu, Vygotsky mengutamakan
pentingnya peran interaksi sosial bagi perkembangan
belajar seseorang.

58 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


Teori Vygotsky mempunyai dua implikasi utama
dalam pembelajaran, yaitu: a) perlunya mengurus
pembelajaran secara kooperatif dengan
pengelompokan peserta didik secara heterogen dari sisi
kemampuan akademik; dan b) pendekatan
pembelajaran yang menekankan pentingnya bimbingan
atau bantuan, dengan pentingnya tanggung jawab
peserta didik pada tugas belajarnya (Slavin, 2000).
Interaksi sosial individu dengan lingkungannya
sangat mempengaruhi perkembangan belajar
seseorang, sehingga perkembangan sifat-sifat dan jenis
manusia akan dipengaruhi oleh kedua unsur tersebut.
Menurut Vygotsky dalam Slavin (2000), peserta didik
melaksanakan aktivitas belajar melalui interaksi dengan
orang dewasa dan teman sejawat yang mempunyai
kemampuan lebih. Interaksi sosial ini memacu
terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan
intelektual peserta didik.
Menurut Vygotsky, tujuan belajar akan tercapai
dengan belajar menyelesaikan tugas-tugas yang belum
dipelajari tetapi tugas-tugas tersebut masih berada
dalam daerah perkembangan terdekat mereka (Asri,
2005; Wina,2008), yaitu tugas-tugas yang terletak di atas
peringkat perkembangannya. Vygotsky dalam Wertsch
(1985) mendefinisikan bahwa zone of proximal development
(ZPD) adalah daerah antara tahap perkembangan
sebenar yang ditentukan melalui penyelesaian masalah
secara sendiri dan tahap perkembangan anak, yang
ditentukan melalui pemecahan masalah dengan bantuan
atau bimbingan orang dewasa atau teman sejawat.
Menurut Vygotsky, pada saat peserta didik
melaksanakan aktivitas di dalam daerah perkembangan
terdekat mereka, tugas yang tidak dapat diselesaikan
sendiri akan dapat mereka selesaikan dengan
bimbingan atau bantuan orang lain.

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 59


Sebuah pengetahuan didapatkan oleh peserta didik
melalui informasi yang diterimanya dan diolah
berdasarkan pengetahuan yang sudah dimilikinya, oleh
karena itu dalam belajar terjadi dua proses, yaitu proses
organisasi informasi dan adaptasi (Joyce, Bruce & Weil,
2009).
Ketika seseorang menerima informasi, mereka akan
mengaitkan dengan struktur-struktur pengetahuan
yang sudah dimiliki dan tersimpan dalam otaknya, yang
demikian disebut dengan proses organisasi informasi.
Melalui proses ini manusia dapat memahami sebuah
informasi baru yang diperolehnya dengan
menyesuaikan informasi yang diperoleh dengan
struktur pengetahuan yang dimilikinya.
Manakala aktivitas adaptasi terdiri dari dua proses,
yaitu: a) proses menggabungkan pengetahuan yang
diterimanya; b) proses mengubah struktur pengetahuan
yang dimiliki dengan pengetahuan baru sehingga
diperoleh keseimbangan. Dalam proses mengubah
struktur pengetahuan dapat dibagi menjadi empat
konsep dasar, yaitu skemata, asimilasi, akomodasi dan
keseimbangan (Nurhadi, 2003; Asri, 2005).
Skemata adalah sekumpulan konsep yang
digunakan ketika berinteraksi dengan lingkungan.
Dalam menjalani kehidupan, manusia selalu
menyesuaikan diri dengan lingkungannya, hal ini
dilakukan dengan mengorganisasikan perilaku dan
pikirannya. Adaptasi yang dilakukan mengakibatkan
perubahan yang berkelanjutan dari sejumlah struktur
psikologikal yang berbeda bentuk dari setiap tahap
yang dilaluinya.
Asimilasi adalah suatu proses kognitif dan adaptasi
pengalaman baru ketika seseorang memadukan
persepsi kedalam struktur yang ada. Dalam prosesnya,
asimilasi mempengaruhi pertumbuhan skemata,

60 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


sehingga dapat dikatakan bahwa asimilasi adalah
proses kognitif individu dalam usahanya
mengadaptasikan diri dengan lingkungannya.
Sedangkan skemata adalah suatu proses struktur
kognitif yang berlangsung sesuai dengan pengalaman
baru, dimana skemata yang lama dilakukan perubahan
berdasarkan struktur kognitif yang dimilikinya dan
diperoleh skemata baru.
Manakala keseimbangan adalah keserasian antara
kedua proses, yaitu asimilasi dan akomodasi. Dalam
proses adaptasi terhadap lingkungan, individu
berusaha mencapai struktur skemata yang relatif tetap,
yang berarti diperoleh keseimbangan antara proses
asimilasi dan proses akomodasi. Karena jika hanya
proses asimilasi yang terjadi akan diperoleh skemata
umum yang tidak memberikan kekuatan bagi melihat
perbedaan antara berbagai hal, sedangkan jika proses
akomodasi saja yang terjadi secara berkelanjutan, akan
diperoleh skemata yang khusus dan tidak diperoleh
skemata yang bersifat umum.

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 61


62 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif
BAB
3 LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN
MODEL PEMBELAJARAN

A. Desain Pengembangan Model


Terdapat beberapa pendapat mengenai desain
pengembangan model pembelajaran. Desain pengembangan
model terdiri dari dua fase, yaitu fase pengembangan dan
fase implementasi model. Fase pengembangan model
dilaksanakan melalui proses pengembangan bermula dari
kajian awal, perencanaan, realisasi dan penilaian validitas
dari model dan dilanjutkan dengan menilai kepraktisan dan
efektif melalui uji coba. Sedangkan fase implementasi model
dilaksanakan melalui implementasi terbatas untuk satu kelas.
Desain pengembangan model dapat ditunjukkan
sebagaimana gambar berikut:

Kajian Awal

Perencanaan

Realisasi dan
Kesahan Model

Penilaian Praktikal
dan Keberkesanan

Implementasi

Gambar 3.1: Desain Pengembangan Model


(Diadaptasi dari Model Plomp, 1997)

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 63


Gambar 3.1 mengenai desain pengembangan model
bermula dari kajian awal hingga penilaian kepraktisan dan
keefektifan kembali kepada aktivitas sebelumnya sebagai
dasar. Setelah memenuhi validitas, kepraktisan dan
efektifitas dilakukan implementasi model.

B. Pemilihan Tempat Implementasi


Sebagai langkah selanjutnya dalam proses
pengembangan model, adalah menentukan sekolah tempat
kajian. Pilihlah sebuah sekolah, ambil salah satu kelas yang
sesuai digunakan sebagai tempat ujicoba dan implementasi
model yang dikembangkan.
Selanjutnya memilih guru yang dapat digunakan
sebagai guru model yang akan mengimplementasikan
model yang telah dikembangkan. Langkah berikutnya
adalah memilih dua orang yang bertugas sebagai pemantau,
dengan mempertimbangkan kelayakan akademik dan
bidang studi yang diampu oleh guru.
Aktivitas berikutnya adalah melakukan pemilihan
subjek yang akan menjadi tempat pelaksanaan ujicoba dan
implementasi model yang dikembangkan. Pertimbangan
yang hendaknya menjadi dasar antaranya: a) pilihlah
sekolah yang termasuk kategori rendah, atau sekolah yang
termasuk sekolah unggul, hal ini sesuai dengan
pertimbangan pengembangan model yang dilakukan; b)
ambil kelas yang memungkinkan dapat dilakukan kajian
dan tidak mengganggu pelaksanaan pembelaajran, misal
mengambil Sekolah Menengah Pertama (SMP), maka
dengan pertimbangan agar tidak mengganggu persiapan
ujian nasional dan juga telah diperoleh stabilitas emosional,
dapat dipilih kelas 8. Sebab kelas 7 kondisi kejiwaan masih
labil dan dipengaruhi oleh tingkat sekolah sebelumnya, dan
kelas 9 sedang mempersiapkan ujian nasional.
Demikian juga dalam pemilihan guru model,
hendaknya memperhatikan dan mengikut kelas yang

64 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


diambil untuk pelaksanaan uji coba dan implementasi
model. Jika kelas 8 ternyata terdiri dari beberapa kelas
paralel, dengan memperhatikan kondisi sekolah, dapat
dipilih kelas yang sesuai untuk uji coba dan pelaksanaan
model dan juga perlu diperhatikan homogenitas
kemampuan. Kondisi ini dapat diperoleh melalui
wawancara dengan kepala sekolah mengenai kebijakan
yang dilakukan untuk menentukan kelas, dan juga dapat
dilaksanakan melalui tes awal untuk memperoleh
kemampuan awal sebagai dasar pemilihan kelas.

C. Tahap Pengembangan Model


Sebagaimana disebutkan sebelum ini, bahwa
pengembangan model mengikut model pengembangan
Plomp (1997) yang terdiri dari lima tahap yang
dikelompokkan menjadi dua fase. Fase pertama terdiri dari
empat tahap pengembangan, yaitu: a) kajian awal; b)
rancangan model; c) realisasi; d) kajian rintis; penilaian,
dan perbaikan, manakala fase kedua adalah implementasi
model.
Sebuah kajian yang dilaksanakan akan diperolehhasil
yang optimal jika perencanaan kegiatan direncanakan
dengan baik, sehingga dalam paparan ini diuraikan
rancangan tahap pengembangan model pembelajaran
sebagai berikut:
1. Fase 1-Pengembangan Model
Fase satu merupakan proses pengembangan yang
menghasilkan rancangan model yang hendak
diimplementasikan di kelas terbatas, dan terdiri dari
empat tahap dengan uraian masing-masing tahap
adalah seperti berikut:
a) Kajian Awal
Pelaksanaan kajian awal adalah mengkaji keadaan
yang terkait dengan pembelajaran matematika dan
teori-teori yang terkait dengan pelaksanaannya.

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 65


Aktivitas pada tahap ini meliputi empat hal, yaitu:
i) melakukan kajian teori sesuai dengan dasar yang
akan digunakan dalam pengembangan model
pembelajaran; ii) melakukan kajian teori–teori
pembelajaran; iii) melakukan kajian pembelajaran
matematika; dan iv) menganalisis keadaan lapangan
berkaitan dengan peserta didik, kurikulum yang
digunakan di sekolah tempat kajian, keadaan guru,
dan aktivitas pembelajaran matematika.
b) Rancangan Model
Pengembangan rancangan model pembelajaran
dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal,
yaitu: i) teori-teori pembelajaran, pengembangan
komponen pembelajaran; dan ii) keadaan tentang
komponen model pembelajaran yang secara umum
dilakukan oleh guru. Berdasarkan teori
pembelajaran serta pengembangan komponen-
komponen model pembelajaran yang dilaksanakan
di sekolah diperoleh dasar dalam melaksanakan
perencanaan model. Rancangan model pembelajaran
yang dikembangkan terdiri dari buku model serta
komponen-komponennya, yaitu buku peserta didik,
lembaran kerja peserta didik, dan rancangan
pembelajaran (RPP), serta dilengkapkan dengan
instrumen untuk menilai buku model, komponen-
komponenya serta dalam pelaksanaan uji coba untuk
mengetahui kepraktisan dan efektivitas model.
Rancangan model yang dikembangkan dapat
diringkaskan seperti gambar berikut:

66 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


Rancangan Model

Model dan Komponen


1. Buku Model
2. Buku Peserta didik
3. Lembaran Kerja Peserta didik
4. RPP Aspek-aspek
Teori yang
digunakan
dasar
Instrumen pengembangan
1. Penilaian Buku Model
2. Penilaian Buku Peserta didik
3. Penilaian LKP
4. Penilaian RPP
5. Penilaian Pelaksanan P & P
6. Penilaian Keterlaksanaan Model
7. Penilaian Aktivitas Peserta didik
8. Penilaian Prestasi Peserta didik
9. Penilaian Respon Peserta didik

Gambar 3.2: Rancangan Model

c) Realisasi Model
Tahap ketiga dalam pengembangan model adalah
realisasi dari rancangan yang hendak dikembangkan.
Dalam paparan ini, langkah yang perlu
direalisasikan dalam proses pengembangan adalah
buku model dan komponen-komponennya yang
terdiri dari buku peserta didik, lembaran kerja
peserta didik, rancangan pembelajaran dan juga
dikembangkan instrumen-instrumen yang

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 67


digunakan untuk menguji validitas dan reliabilitas
model dan komponennya. Instrumen-instrumen
yang direalisasikan sebanyak 9 instrumen, yaitu: a)
penilaian model; b) penilaian buku peserta didik; c)
lembaran kerja peserta didik; d) rancangan
pembelajaran; e) pelaksanaan pembelajaran; f)
keterlaksanaan model; g) aktivitas peserta didik; h)
prestasi peserta didik.
d) Uji coba
Sebelum dilaksanakan uji coba, terlebih dahulu
dilakukan penilaian validitas model dan
komponennya. Jika model dan komponen belum
memenuhi validitas yang dipersyaratkan, maka
dilakukan perbaikan hingga model memenuhi
validitas, sehingga pengembangan model dapat
dilanjutkan. Selanjutnya dilaksanakan uji coba untuk
mengetahui kepraktisan dan efektivitas model, dan
pelaksanaan uji coba boleh dikatakan berhasil jika
telah memenuhi kriteria kepraktisan dan keefektifan.
2. Fase 2 Implementasi Model
Pelaksanaan implementasi model pembelajaran
matematika yang telah dikembangkan dilaksanakan
dengan tiga rangkaian aktivitas yaitu: a) perencanaan;
b) pelaksanaan; dan c) refleksi (Clea & Makoto, 2004;
Sumar, 2006) dari pelaksanaan pembelajaran. Uraian
ketiga-tiga hal tersebut boleh diuraikan seperti berikut:
a) Membuat perencanaan pembelajaran
Perencanaan model pembelajaran matematika dan
komponen-komponennya kemudian didiskusikan
dengan tim guru untuk menyempurnakan rancangan
yang dikembangkan. Sehingga rancangan model
yang telah dikembangkan dalam langkah awal dari
kegiatan ini adalah mendiskusikan dengan beberapa
guru dan pakar untuk menyempurnakan model
sebelum dilakukan implementasi.

68 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


b) Melaksanakan pengajaran dan pembelajaran
Setelah rancangan pembelajaran memenuhi validitas
dan reliabilitas, kegiatan selanjutnya dilaksanakan
pembelajaran untuk melaksanakan penilaian
kepraktisan dan keefektifan model.
c) Merefleksikan kegiatan pembelajaran;
Sebaik apapun pelaksanaan suatu kegiatan atau
sebuah program, mestilah mempunyai kelebihan
dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan, dan
sebagai usaha untuk memperbaikinya dilaksanakan
refleksi untuk meninjau kembali program atau
pelaksanaan kegiatan tersebut. Rangkaian proses
pengembangan model sebagaimana diuraikan
sebelum ini, secara grafik dapat diringkaskan
sebagaimana gambar berikut:

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 69


Analisis Teori dan model
pembelajaran Tahap 1

Rancangan Model

Komponen model: Rancangan Rancangan


sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi komponen instrumen
sistem pendukung dampak pembelajaran kajian Tahap 2
pembelajaran

Rancangan 1

Validitas

Analisis hasil Tahap 3


Validitas
Fase 1
ya tidak
Valid?

Ulang

Rancangan i, i ≥ 2

Uji Coba
Tahap 4

Rancangan Validitas Praktis


akhir ya Keefektivan
tidak

Implementasi
model Fase 2

Gambar 3.3: Alur pengembangan model

70 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


D. Pengembangan Instrumen
Pengembangan instrumen digunakan untuk
memperoleh data yang diperlukan dalam proses
pengembangan model yang bermula dari perencanaan
hingga implementasi, yang terdiri dari 9 instrumen yang
dapat diringkaskan jenis dan kegunaan instrumen seperti
berikut:
Tabel 3.1: Jenis Instrumen dan Kegunaannya
No Instrumen Kegunaan
1. Penilaian Buku Model Penilaian Model dan
2. Penilaian Buku Peserta didik Komponen Model
3. Penilaian Lembaran Kerja Peserta didik
4. Penilaian RPP
5. Pelaksanaan Pembelajaran Penilaian Kepraktisan
6. Penilaian Keterlaksanaan Model Model
7. Aktivitas Peserta didik Penilaian Efektivitas
8. Prestasi Peserta didik Model
9. Respon Peserta didik terhadap
Pelaksanaan Pembelajaran

Tabel 3.1 memberikan informasi bahwa instrumen yang


dikembangkan mempunyai empat kelompok kegunaan.
Sebuah model yang dikembangkan meliputi empat aspek
yaitu: i) buku model; ii) buku peserta didik; iii) lembaran
kerja peserta didik dan iv) perencanaan pembelajaran,
keempatnya dinilai dengan instrumen yang bersesuaian.
Berikutnya adalah penilaian kepraktisan dan penilaian
keefektifan model, yang mana hal ini sebagai satu kesatuan
bagi menilai model yang dilaksanakan melalui uji coba,
selain validitas dan reliabilitas model.
1. Instrumen Penilaian Komponen Model
Seperti mana disebutkan sebelum ini, bahwa model
yang dikembangkan dilengkapkan dengan komponen-

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 71


komponen, sehingga dalam pengembangan model secara
bersamaan dikembangkan juga instrumen untuk menilai
model dan komponen yang sedang dikembangkan.
Instrumen yang dikembangkan bagi menguji komponen
model terdiri dari empat instrumen, yaitu: i) instrumen
penilaian model; ii) instrumen penilaian buku peserta
didik; iii) instrumen penilaian lembaran kerja peserta
didik; dan iv) instrumen penilaian rancangan
pembelajaran. Uraian pengembangan dari masing-
masing instrumen adalah seperti berikut:
a) Instrumen Penilaian Model
Instrumen penilaian model digunakan untuk
memperoleh informasi tentang validitas, reliabilitas
dan komentar dari ahli mengenai model dan
komponen yang dikembangkan. Instrumen yang
dikembangkan terdiri dari tujuh indikator, yaitu: i)
landasan teoritikal model; ii) sintaks model; iii)
sistem sosial; iv) perilaku guru; v) sistem pendokong;
vi) impak pembelajaran; dan vii) pelaksanaan
pembelajaran. dengan keseluruhan jumlah item
instrumen sejumlah 25 item soal. Contoh Indikator
dan sebaran item soal boleh dilihat sebagaimana
Tabel 3.2 berikut:
Tabel 3.2: Indikator Penilaian Model
No Indikator Nomor Item Soal Jumlah
1 Landasan Teoritikal 1,2 2
2 Sintaks 3,4,5,6 4
3 Sistem Sosial 7,8 2
4 Perilaku guru 9,10,11 3
5 Sistem pendokong 12,13,14,15 4
6 Impak pembelajaran 16,17,18,19 4
7 Pelaksanaan pembelajaran 20,21,22,23,24,25 6
Jumlah 25

72 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


Berdasarkan tujuh indikator dibuat item soal
untuk masing-masing indikator dengan jumlah
variatif dengan mendasarkan kepada keperluan
pengungkapan informasi dari masing-masing
indikator. Demikian juga nomor item soal tidaklah
ada aturan harus berurutan dari indikator pertama
hingga indikator selanjutnya.
Penentuan jumlah item soal selidik dapat
dilakukan sebelum menyusun instrumen, namun
dapat juga secara bersamaan penentuan jumlah item
soal dilakukan dengan membuat pernyataan yang
bersesuaian dengan indikator yang telah dibuat.
Selanjutnya penentuan skor dilakukan dengan
berbagai pertimbangan, misal dalam instrumen ini
dibuat skor dengan skala likert empat pilihan,
dengan pertimbangan penilai dapat membuat
sebuah keputusan yang pasti tanpa harus memilih
skor yang berada ditengah-tengah, misal jika ada lima
pilihan.
Instrumen penilaian yang bersesuaian dengan
tabel 3.3 dapat dikemukakan sebagai berikut:

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 73


Tabel 3.3: Instrumen Penilaian Model
Skor
No Aspek Pernyataan
1 2 3 4
1 Landasan 1. Relevansi pengembangan model
Teoritikal 2. Relevansi landasan teoritikal
Model dalam pengembangan model
2 Sintaks 3. Sintaks akivitas model memuat
Model aktivitas yang dapat dilaksanakan
guru
4. Sintaks aktivitas model memuat
langkah dan urutan yang cukup logis
5. Sintaks aktivitas model memuat
aktivitas yang dapat dilaksanakan
peserta didik
6. Sintaks aktivitas model memuat
langkah-langkah yang dapat
dilaksanakan oleh peserta didik
dan guru dengan jelas
3 Sistem 7. Kejelasan situasi dalam kegiatan
Sosial pembelajaran
8. Kemungkinan merealisasikan sistem
sosial dalam kegiatan pembelajaran
4 Perilaku 9. Relevansi perilaku guru dalam
Guru kegiatan pembelajaran
10. Kejelasan perilaku guru dalam
kegiatan pembelajaran
11. Kemungkinan perilaku guru dalam
merealisasikan kegiatan pembelajaran
5 Sistem 12. Kesesuaian rencana pembelajaran
Pendukung dengan model
13. Keterlaksanaan rencana pembelajaran
dengan pelaksanaan pembelajaran
sesuai model
14. Kesesuaian lembar kerja peserta didik
dengan model
15. Keterlaksanaan lembar kerja peserta
didik dengan pelaksanaan
pembelajaran sesuai model

74 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


b) Instrumen Penilaian Buku Peserta Didik
Instrumen penilaian buku peserta didik digunakan
untuk memperoleh informasi mengenai kelayakan buku
peserta didik yang dikembangkan. Jumlah item instrumen
penilaian buku peserta didik adalah 25 item soal yang
terbagi menjadi tiga indikator, yaitu isi buku, soal-soal
latihan dan bahasa serta tampilan. Instrumen penilaian yang
bersesuaian dengan tabel 3.4 dapat dikemukakan sebagai
berikut:
Tabel 3.4: Instrumen Penilaian Buku Peserta Didik
Skor
No Aspek Pernyataan
1 2 3 4
1 Isi Buku 1. Materi yang disajikan sesuai dengan
perkembangan kognitif peserta didik
2. Materi yang disajikan sesuai dengan
pengalaman peserta didik sebelumnya
3. Materi yang disajikan memungkinkan
peserta didik menggunakan intuisinya
4. Materi yang disajikan memungkinkan
peserta didik melakukan dugaan yang
mengarah kepada suatu konsep
5. Materi yang disajikan bermula dari
konsep yang sederhana
6. Materi yang disajikan berawal dari
masalah yang sederhana
7. Materi yang disajikan memungkinkan
peserta didik melakukan generalisasi
horizontal
8. Materi yang disajikan memungkinkan
guru memberikan fasilitas untuk
membuat generalisasi vertikal
9. Materi yang disajikan memungkinkan
peserta didik menggunakan strategi
kognitif memahami masalah
10. Materi yang disajikan memungkinkan
peserta didik menggunakan strategi
kognititf memecahkan masalah

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 75


11. Menyertakan tugas rumah yang
memungkinkan peserta didik
melakukan latihan keterampilan
prosedural
2 Soal-soal 12. Kesesuain soal-soal latihan dengan
latihan materi
13. Kesesuain soal-soal latihan dengan
indikator
14. Pengorganisasian soal-soal latihan
15. Proporsi sebaran item soal berkait
dengan indikator
3 Bahasa dan 16. Bahasa yang digunakan sesuai dengan
Tampilan tahap umur peserta didik
17. Bahasa yang digunakan cukup menarik
bagi peserta didik
18. Istilah dan lambang yang digunakan
tepat dan reliabel
19. Bahasa yang digunakan dapat
meningkatkan motivasi, minat dan rasa
ingin tahu peserta didik
20. Dapat memberikan motivasi kepada
peserta didik untuk terlibat aktif
21. Dapat membantu peserta didik dan
guru dalam aktivitas pembelajaran
22. Kejelasan bentuk grafik
23. Jenis huruf
24. Ukuran huruf
25. Penilaian keseluruhan dari buku

76 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


Adapun indikator dari instrumen tersebut dapat dilihat
pada tabel 3.5 berikut.
Tabel 3.5: Indikator Penilaian Buku Peserta didik

No Indikator Nomor Item Soal Jumlah


1 Isi buku 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 11
10, 11
2 Soal-soal latihan 12, 13, 14, 15 4
3 Bahasan dan tampilan 16, 17, 18, 19, 20, 21, 10
22, 23, 24, 25
Jumlah 25

c) Instrumen Lembaran Kerja Peserta didik


Instrumen lembaran kerja peserta didik digunakan
bagi memperoleh informasi mengenai kelayakan
lembaran kerja yang dikembangkan. Jumlah item
instrumen penilaian buku peserta didik adalah 20
item soal yang terbagi menjadi tiga indikator, yaitu
isi LKP, soal-soal latihan dan bahasa serta tampilan,
seperti mana Tabel 3.6 berikut:
Tabel 3.6: Indikator Lembaran Kerja Peserta didik*)

No Indikator Nomor Item Soal Jumlah


1 Isi LKP 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 9
2 Soal–soal latihan 10, 11, 12 3
3 Bahasan dan tampilan 13, 14, 15, 16, 17, 18, 8
19, 20
Jumlah 20

Lembar kerja yang dibuat memang sudah


seharusnya dilakukan penilaian untuk mengetahui
kelayakannya, apakah lembar kerja tersebut perlu

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 77


diperbaiki atau langsung dapat digunakan untuk
pelaksanaan penelitian. Penentuan indikator
tergantung kepada faktor-faktor yang hendak
diketahui dari lembar kerja yang dibuat. Pemaparan
dalam kajian ini ditentukan adanya tiga indikator
untuk menentukan kelayakan lembar kerja dan
diikuti sebanyak 20 item soal dengan sebaran
sebagaimana tersebut pada tabel. Mengenai sebaran
item soal, tergantung kepada tujuan dan harapan
dari pengembang model, sehingga tidak ada suatu
ketentuan yang dibakukannya.
Instrumen penilaian yang bersesuaian dengan Tabel
3.7 dapat dikemukakan sebagai berikut:

Tabel 3.7: Instrumen

Skor
No Aspek Pernyataan
1 2 3 4
1 Isi LKS 1. Kegiatan yang disajikan sesuai dengan
perkembangan kognitif peserta didik
2. Kegiatan yang disajikan
memungkinkan peserta didik
menggunakan intuisinya
3. Kegiatan yang disajikan
memungkinkan peserta didik
melakukan dugaan yang mengarah
kepada suatu konsep
4. Kegiatan yang disajikan bermula dari
konsep yang sederhana
5. Kegiatan yang disajikan berawal dari
soal yang sederhana
6. Kegiatan yang disajikan
memungkinkan peserta didik
melakukan generalisasi horizontal
7. Kegiatan yang disajikan
memungkinkan guru memberikan
fasilitas untuk membuat generalisasi
vertikal

78 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


8. Kegiatan yang disajikan
memungkinkan peserta didik
menggunakan strategi kognitif
memahami masalah
9. Kegiatan yang disajikan
memungkinkan peserta didik
menggunakan strategi kognitif
menyelesaikan masalah
2 Soal-soal 10. Soal-soal latihan mendukung konsep
latihan yang sedang dipelajari
11. Soal-soal latihan memungkinkan
peserta didik mengkonstruk matematika
sendiri
12. Pengorganisasian soal-soal latihan
3 Bahasa dan 13. Bahasa yang digunakan cukup menarik
Tampilan bagi peserta didik
14. Istilah dan lambang yang digunakan
tepat dan reliabel
15. Bahasa yang digunakan dapat
meningkatkan motivasi, minat dan rasa
ingin tahu peserta didik
16. LKS ini dapat memberikan motivasi
kepada peserta didik untuk terlibat aktif
17. LKS ini dapat membantu peserta didik
dan guru dalam aktivitas pembelajaran
18. Kejelasan bentuk grafik
19. Jenis huruf
20. Ukuran huruf

d) Instrumen Penilaian Rancangan Pembelajaran


Seorang guru sebelum melaksanakan aktivitas
pembelajaran mempunyai kewajiban untuk
mempersiapkan materi yang hendak diajarkan
kepada peserta didik. Persiapan yang hendaknya
dilaksanakan oleh guru adalah mengembangkan
rancangan pembelajaran, yang merupakan pedoman
guru untuk melaksanakan aktivitas pembelajaran.

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 79


Tabel 3.8: Aspek Penilaian Rancangan Pembelajaran
No Aspek Penilaian Nomor Item Soal Jumlah
1 Tujuan 1, 2 2
2 Metod pelaksanaan 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 7
3 Penilaian 10, 11 2
Jumlah 11

Instrumen penilaian yang bersesuaian dengan tabel


3.8 dapat dikemukakan sebagai berikut:
Tabel 3.9: Instrumen Penilaian Rancangan Pembelajaran
Skor
No Aspek Aspek penilaian
1 2 3 4
1 Tujuan 1. Kejelasan perumusan tujuan
pembelajaran, sehingga tidak
menimbulkan pentafsiran ganda
dan mengandungi perilaku hasil
belajar
2. Materi pembelajaran sesuai
dengan tujuan dan karakteristik
peserta didik
2 Metode 3. Pengorganisasian materi
pelaksanaan pembelajaran memenuhi kriteria
keruntutan, sistematik serta
kesesuaian dengan waktu yang
diperlukan
4. Sumber atau media pembelajaran
sesuai dengan tujuan, materi, dan
karakteristik peserta didik
5. Memberikan peluang kepada
peserta didik untuk aktif
6. Memberikan peluang terjadinya
interaksi antara peserta didik
7. Kejelasan skenario pembelajaran,
meliputi tahapan kegiatan awal,
proses dan akhir pembelajaran

80 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


8. Kerincian skenario pembelajaran,
setiap langkah tercermin dalam
metode dan alokasi waktu pada
setiap tahap
9. Mengarahkan pelaksanaan
pembelajaran yang interaktif
3 Penilaian 10. Kesesuain teknik evaluasi
dengan tujuan pembelajaran
11. Kelengkapan instrumen evaluasi
pembelajaran (soal, penyelesaian
dan pedoman penilaian)

2. Instrumen bagi Penilaian Kepraktisan Model


Instrumen untuk menguji kepraktisan model terdiri
dari dua instrumen, yaitu; a) instrumen keterlaksanaan
model dan b). instrumen pelaksanaan pembelajaran.
a) Instrumen Keterlaksanaan Model
Instrumen ini jumlah item sebanyak 25 soal
sebagaimana berikut:
Tabel 3.10: Instrumen Penilaian Kepraktisan Model
Skor
No Tahap Aktivitas guru
1 2 3 4
1 Awal 1. Guru mengawali pembelajaran dengan
menyampaikan tujuan pembelajaran
2. Guru mengawali pembelajaran dengan
memberikan motivasi
3. Guru mengawali pembelajaran dengan
mengingatkan pengalaman yang telah
dimiliki peserta didik
4. Guru mengawali pembelajaran dengan
mengingatkan materi yang pernah
dipelajarinya
5. Guru mengawali pembelajaran dengan
menjelaskan strategi kognitif untuk
memahami dan memecahkan masalah

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 81


2 Inti 6. Guru memberikan peluang kepada
peserta didik untuk menggunakan
strateginya untuk memahami materi
7. Guru memberikan peluang kepada
peserta didik untuk menggunakan
strateginya untuk memecahkan
masalah
8. Guru membantu peserta didik
memahami materi
9. Guru membantu peserta didik dalam
menyelesaikan masalah
10. Guru memberikan peluang kepada
peserta didik untuk menduga-duga
keberlakuan suatu konsep atau
algoritma
11. Guru memberikan kesempatan
terjadinya interaksi diskusi antara
peserta didik
12. Guru memberikan arahan jika peserta
didik mengalami kesukaran dalam
memahami materi
13. Guru memberikan arahan jika peserta
didik mengalami kesukaran dalam
memecahkan masalah
14. Guru memberikan bimbingan kepada
peserta didik untuk memperoleh konsep
15. Guru menghargai jawaban peserta didik
meski jawaban salah
16. Guru memberikan peluang kepada
peserta didik untuk menggunakan
intuisinya
17. Guru memberikan peluang untuk
pertukaran idea dalam diskusi kelas
3 Akhir 18. Guru memberikan peluang kepada
peserta didik untuk membuat
kesimpulan
19. Guru mengingatkan agar peserta didik
mencoba mengecek kembali hasil
diskusi
20. Guru menjelaskan jawaban peserta
didik dalam pelaksanaan akhir diskusi

82 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


Sedangkan indikator dari instrumen tersebut dapat
dipaparkan sebagai berikut:
Tabel 3.11: Indikator Keterlaksanaan Model*)

No Tahap Nomor Item Soal Jumlah


1 Awal 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 7
2 Inti 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14,
15, 16, 17, 18, 19, 20 13
3 Akhir 21, 22, 23, 24, 25 5
Jumlah 25

b) Instrumen Pelaksanaan Pembelajaran


Pelaksanaan pembelajaran dilakukan oleh guru
model dan untuk menilai apakah pelaksanaan
pembelajaran sesuai dengan tujuan dan rancangan
yang telah ditetapkan, diperlukan adanya pemantau
pelaksanaan pembelajaran. Sebagaimana
dipaparkan sebelum ini, pemantau dalam
pelaksanaan pembelajaran hendaknya adalah
mereka yang mempunyai kompetensi profesional
sebagai pengajar, meski mereka dalam
melaksanakan tugas pemantauan sudah disiapkan
instrumen yang diisinya.
Instrumen pelaksanaan pembelajaran adalah untuk
menilai aktivitas guru dalam melaksanakan tugas
pengajaran, yang terdiri dari 25 item soal dengan
indikator dan nomor soal sebagaimana Tabel 3.11
berikut

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 83


Tabel 3.12: Indikator Pelaksanaan Pembelajaran
No Indikator Nomor Item Soal Jumlah
1 Tahap awal 1, 2 ,3, 4, 5 5
2 Pelaksanaan pembelajaran 6, 7, 8, 9, 10, 11 6
3 Pemanfaatan sumber atau
media pembelajaran 12, 13, 14 3
4 Pembelajaran yang
memelihara keterlibatan
peserta didik 15, 16, 17, 18 4
5 Penilaian proses dan hasil
belajar 19, 20 2
6 Penggunaan bahasa 21, 22, 23 3
7 Tahap penutup 24, 25 2
Jumlah 25

Instrumen penilaian yang bersesuaian dengan tabel 3.12


dapat dikemukakan sebagai berikut:
Tabel 3.13: Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran

Skor
No Tahap Aktivitas guru
1 2 3 4
1 Awal 1. Memulai proses pembelajaran dengan
menyampaikan tujuan pembelajaran
2. Memulai proses pembelajaran dengan
mengingatkan kembali materi yang
sudah dipelajari
3. Mengingatkan kepada peserta didik
agar menyadari tentang perlunya
mengetahui kemampuan diri sendiri
4. Memberikan motivasi untuk
mengatakan mengenai materi yang
sudah dipahami dan yang belum
5. Mendiskusikan tugas dan
penyelesaiannya

84 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


2 Pelaksanaan 6. Memulai proses pembelajaran dengan
Pembelajaran mengingatkan materi yang pernah
dipelajari
7. Mengkaitkan materi dengan
pengetahuan lain yang sesuai
8. Menyampaikan strategi kognitif bagi
memahami masalah aljabar
9. Menyampaikan strategi kognitif bagi
memecahkan masalah aljabar
10. Memberikan peluang kepada peserta
didik untuk memahami permasalahan
dengan strategi yang dimilikinya
11. Memberikan peluang kepada peserta
didik untuk menyelesaikan
permasalahan dengan strategi yang
dimilikinya
3 Pemanfaatan 12. Menggunakan media secara efektif
Sumber 13. Menghasilkan pesan yang menarik
Pembelajaran 14. Melibatkan peserta didik dalam
pemanfaatan media
4 Penglibatan 15. Menumbuhkan partisipasi aktif peserta
Peserta didik didik dalam pembelajaran
16. Menunjukkan sikap terbuka terhadap
masukan peserta didik
17. Mengarahkan peserta didik dalam
pelaksanaan diskusi
18. Memberi kesempatan kepada peserta
didik untuk menyampaikan hasil
diskusi kelompok
5 Penilaian 19. Memantau kemajuan belajar selama
Proses dan proses
Hasil Belajar 20. Menyampaikan pesan dengan gaya
yang sesuai
6 Penggunaan 21. Menggunakan bahasa lisan dan tulis
Bahasa secara jelas, baik, dan benar
22. Bahasa yang digunakan dapat
menumbuhkan motivasi, minat dan
semangat peserta didik untuk belajar

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 85


23. Menyampaikan pesan dengan gaya
yang sesuai
7 Penutup 24. Membuat rangkuman pembelajaran
dengan melibatkan peserta didik
25. Melaksanakan tindak lanjut dengan
memberikan arahan, kegiatan, atau
tugas sebagai bagian dari perbaikan
atau pengayaan

3. Instrumen bagi Penilaian Efektivitas Model


Instrumen yang digunakan bagi penilaian efektif
model terdiri dari tiga instrumen, yaitu: a) instrumen
aktivitas peserta didik; b) instrumen prestasi peserta
didik; dan c) instrumen respon peserta didik terhadap
pelaksanaan pembelajaran. Pengembangan dari ketiga-
tiga instrumen adalah seperti berikut:
4. Instrumen Aktivitas Peserta didik
Instrumen aktivitas peserta didik dikembangkan
untuk memperoleh informasi semasa pelaksanaan
kegiatan pembelajaran, yang terdiri dari delapan hal
dengan kriteria aktivitas peserta didik sebagaimana
Tabel 3.13 berikut:
Tabel 3.13: Kategori Aktivitas Peserta didik
Kode Aktivitas Peserta didik

1 Mendengarkan dan memperhatikan


penerangan guru
2 Membaca Lembaran Kerja Peserta didik untuk
menemukan strategi memahami masalah
3 Menemukan strategi untuk menyelesaikan
masalah
4 Menyampaikan pertanyaan, idea atau meminta
penjelasan kepada rekan atau guru

86 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


5 Memberikan umpan balik kepada guru atau
memberikan bantuan kepada rekan
6. Membuat ringkasan cara pemahaman masalah
atau cara menyelesaikan masalah
7 Membaiki hasil kerja sendiri atau menuliskan
sesuatu yang baharu dari hasil diskusi
8 Melakukan aktivitas diluar proses pembelajaran,
yaitu aktivitas yang tidak terkait dengan
pembelajaran, seperti bermain, mengganggu
rekan

5. Instrumen Prestasi Peserta didik


Instrumen prestasi peserta didik digunakan bagi
memperoleh informasi mengenai pemahaman
matematika yang berkaitan dengan kompetensi asas
yang hendaknya dikuasai oleh peserta didik, yaitu
operasi aljabar dan menguraikan bentuk aljabar ke
dalam faktor-faktornya. Indikator penilaian penguasaan
aljabar seperti mana Tabel 3.15 berikut:
Tabel 3.15: Indikator Penilaian Penguasaan Aljabar*)
Tajuk Indikator Nomor
Hasil Belajar Soal
Operasi Aljabar 1. Menjumlahkan dan mengurangkan 1
koefisien suku-suku sejenis,
menentukan hasil perkalian suku dua
dengan suku dua
2. Menentukan pembagian bentuk- 2
bentuk aljabar dan pemangkatan
bentuk-bentuk aljabar
Faktorisasi 1. Memfaktorkan bentuk x2 ± 2xy + y2 3
suku aljabar dan x2 - y2, bentuk ax2 + bx + c dengan
harga a = 1 dan bentuk ax2 + bx + c
dengan harga a ≠ 1

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 87


Pecahan 1. Menjumlahkan, mengurangkan dan 4
Bentuk aljabar mengalikan membagi dan
memangkat kan pecahan
Terapan bentuk 1. Terapan bentuk aljabar 5
aljabar

6. Instrumen Respon Peserta didik tehadap Pembelajaran


Respon peserta didik merupakan salah satu dari
komponen bagi menilai efektif model. Melalui
instrumen ini diharapkan boleh diketahui respon
peserta didik terhadap pembelajaran matematika
berasaskan metakognitif. Item soal yang ditanyakan
kepada peserta didik meliputi ketertarikan,
kemutakhiran dan peringkat kemudahan. Ketiga
indikator instrumen dapat dilihat pada Tabel 3.16
berikut:
Tabel 3.16: Indikator Respon Peserta didik

No Indikator Nomor Item Soal Jumlah


1 Ketertarikan 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7,
8, 9 9
2 Kemutakhiran 10, 11, 12, 13, 14 5
3 Peringkat kemudahan 15, 16, 17, 18,
19, 20 6
Jumlah 20

88 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


Instrumen penilaian yang bersesuaian dengan tabel 3.17
dapat dikemukakan sebagai berikut:
Tabel 3.17: Instrumen Respon Peserta didik
Skor
No Indikator Pernyataan
1 2 3 4
1 Ketertarikan 1.Materi pelajaran
2.Buku peserta didik
3.Bahasa dalam buku peserta didik
4.Gambar dalam buku peserta didik
5.Lembar kerja peserta didik
6.Bahasa dalam lembar kegiatan peserta
didik
7. Pelaksanaan diskusi
8. Cara guru melaksanakan kegiatan
pembelajaran
9. Pelaksanaan pembelajaran secara
umum
2 Kemutakhiran 10. Penyajian materi pelajaran
11. Buku peserta didik
12. Lembar kerja peserta didik
13. Kegiaatan diskusi
14. Cara guru melaksanakan kegiatan
pembelajaran
3 Peringkat 15. Bahasa yang digunakan dalam buku
kemudahan 16. Gambar dalam buku
17. Soal-soal dalam buku
18. Soal-soal dalam lembar kerja
19. Pelaksanaan kegiatan diskusi
20. Cara guru memberi petunjuk dalam
kegiatan pengajaran dan pembelajaran

E. Validitas dan Reliabilitas Instrumen.


Validitas instrumen merujuk kepada sejauhmana
instrumen mengukur data yang sepatutnya ia kehendaki
diukur (Mohd, 2005; Nana, 2005; Sukardi, 2005). Manakala
reliabilitas adalah terkait dengan tingkat ketetapan hasil
pengukuran (Nana, 2005), reliabilitas sesuatu alat ukur
dalam mengukur variabel maupun gagasan (Mohd, 2005).

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 89


Penentuan validitas dan reliabilitas instrumen,
dilakukan beberapa langkah, yaitu: i) mendiskusikan
dengan pakar untuk memperoleh masukan mengenai isi
dari instrumen dan juga bahasa; ii) menggunakan tim ahli
untuk menentukan validitas dan reliabilitas instrumen.
Langkah berikutnya adalah memohon kepada para ahli
untuk menilai validitas dari instrumen. Instrumen yang
dinilai oleh ahli adalah: a) validitas model pembelajaran;
b) penilaian buku peserta didik; c) penilaian lembaran kerja
peserta didik; d) rancangan pembelajaran; e) keterlaksanaan
model; f) aktivitas peserta didik; g) respon peserta didik;
dan h) pelaksanaan pembelajaran.
Manakala bagi menguji reliabilitas instrumen dilakukan
melalui penilaian ahli dan uji coba. Reliabilitas instrumen
yang diuji oleh ahli adalah: a) model pembelajaran; b)
penilaian buku peserta didik; c) penilaian lembaran kerja
peserta didik; d) rancangan pembelajaran, sedangkan untuk
instrumen: a) keterlaksanaan model; b) aktivitas peserta
didik; c) respon peserta didik; dan d) pelaksanaan
pembelajaran dilakukan dengan uji coba.
Validitas instrumen prestasi belajar dan tahap
perlakuan metakognitif dalam menyelesaikan masalah yang
diuji adalah validitas item, yaitu besarnya dukungan setiap
item terhadap skor keseluruhan, sehingga untuk
mengetahui validitas item dilakukan korelasi antara skor
item dengan skor keseluruhan. Sedangkan bagi menilai
reliabilitas dari instrumen prestasi belajar dilakukan
dengan menganalisis korelasi r dengan metode korelasi item
genap dan item ganjil, yaitu dengan cara menjumlahkan skor
pada item genap dan item ganjil, kemudian dihitung
korelasi antara keduanya.
Manakala reliabilitas dari item soal dianalisis
menggunakan penilaian korelasi r dengan metod split-half
(Suharsimi, 2009), yaitu menganalisis korelasi dari skor data
setengah yang pertama dalam hal ini skor dari item nomor

90 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


1 sehingga 10, dengan setengah kedua yang ditunjukkan
oleh jumlah skor item soal nomor 11 sehingga 20. Hal ini
dilakukan dengan cara menjumlahkan skor yang terdapat
pada setengah yang pertama, demikian juga skor pada
setengah yang kedua. Kemudian dianalisis dengan bantuan
program SPSS.

F. Analisis Data
Analisis data digunakan untuk menilai validitas,
reliabilitas instrumen, kepraktisan dan kefektivan model.
Analisis data pengembangan model pembelajaran terdiri
dari tiga penilaian, yaitu: a) analisis validitas model; b)
analisis kepraktisan model; dan c) analisis efektif model
(Nieveen, 1999). Selain itu, penilaian validitas berikut juga
digunakan untuk menilai validitas dari instrumen.
Sedangkan penilaian reliabilitas dilakukan hanya untuk
menilai reliabilitas dari instrumen. Uraian masing-masing
analisis adalah seperti berikut.

1. Penilaian Validitas Instrumen dan Model


Penilaian mengenai validitas model berkenaan
dilaksanakan melalui lima tahap seperti berikut :
a) Menjumlahkan semua skor instrumen yang telah diisi
oleh ahli, meliputi: a) segi (Ai); b) sub-segi (Ki); c)
hasil penilaian dari pakar (Vji).
b) Mencari rata-rata skor dari semua pakar untuk setiap

sub–segi dengan rumus dengan ki = rata-

rata sub–segi ke–i, Vji = skor ke–j terhadap sub-segi


ke–i, n = banyaknya ahli.

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 91


c) Mencari rata-rata tiap segi dengan rumus

dengan Ai = rata-rata segi ke–i, kij = rata-rata untuk


segi ke–i sub–segi ke–j, n = banyaknya sub–segi
dalam segi ke–i.
d) Mencari rata-rata keseluruhan (MK) dengan rumus

, dengan MK = rata-rata keseluruhan, Ai

= rata-rata segi ke–i, n = banyaknya segi, kemudian


ditulis pada kolom dalam Tabel yang sesuai.
e) Menentukan kategori validitas model pembelajaran
seperti mana Tabel berikut:
Tabel 3.18: Kategori Validitas

No Rata-rata Keseluruhan (MK) Kategori


1 3 ≤ MK < 4 Valid
2 2 ≤ MK < 3 Kurang Valid
3 1 ≤ MK < 2 Tidak Valid

f) Jika validitas model belum wujud, maka dilakukan


perbaikan terhadap model pembelajaran yang
sedang dikembangkan. Kategori validitas ini juga
digunakan bagi menilai validitas instrumen yang
dinilai oleh pakar. Penilaian ini berasaskan penilaian
produk yang terdiri dari tiga hal, yaitu: a) validitas;
b) kepraktisan dan c) efektif (Nieveen, 1999),
dikembangkan oleh Ipung (2006) dan digunakan
juga oleh Cholis (2007), Nurdin (2007), Dwi PU (2007),
dan I Nengah (2009).

92 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


Penilaian reliabilitas dari instrumen dilakukan
dengan menggunakan rumus persetujuan (Grinnell,
1988), dengan rumus sebagai berikut:
Kesesuaian (A)
Koefisien reliabilitas (R)=
Ketaksesuaian (D) + Kesesuaian (A)

Keterangan:
A = Besarnya frekuensi kesesuaian dari data dua
pemantau,
D = Besarnya frekuensi yang tidak sesuai dari data
dua pemantau,
R = Koefisien k.
Instrumen memenuhi syarat reliabilitas jika
koefisien reliabilitasnya lebih besar atau sama
dengan 0.75 (Borich, 1994).
2. Analisis Data Kepraktisan Model
Kepraktisan model dilihat dari keterlaksanaan
komponen-komponen model termasuk komponen
pembelajaran. Data kepraktisan model diperoleh dari
pemantauan pelaksanaan pembelajaran dan
keterlaksanaan model secara umum dari beberapa
pemantau.
a) Pelaksanaan Pengajaran dan Pembelajaran
Analisis dilakukan terhadap hasil penilaian dari
pemantau (minimal dua pemantau) yang memantau
guru melaksanakan pembelajaran. Pemantauan
dilakukan terhadap kemampuan guru mengelola
setiap fase dalam tahap model. Dari hasil penilaian
pemantau, ditentukan nilai rata-rata M dengan M1
= nilai rata-rata hasil penilaian pemantau pertama
dan M2 = nilai rata-rata hasil penilaian pemantau
kedua. Nilai M ini selanjutnya dikonfirmasikan
dengan interval penentuan kategori kemampuan
guru mengelola pelaksanaan pembelajaran, yaitu:

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 93


Tabel 3.19: Kategori Pelaksanaan Pembelajaran
No Rata-rata skor pemantauan (M) Kategori
1 3≤ M < 4 Tinggi
2 2 ≤ M < 3 Sedang
3 1 < M < 2 Rendah

Kriteria yang digunakan untuk memutuskan bahwa


kemampuan guru mengelola pembelajaran
memadai adalah nilai M minimal berada dalam
kategori tinggi berarti penampilan guru dapat
dipertahankan. Apabila nilai M berada di dalam
kategori lainnya, maka guru harus meningkatkan
kemampuannya dengan memperhatikan kembali
segi-segi yang nilainya kurang. Selanjutnya
dilakukan kembali pemantauan terhadap
kemampuan guru mengelola pembelajaran, lalu
dianalisis kembali. Demikian seterusnya sampai
memenuhi nilai M minimal berada dalam kategori
sedang.
b) Keterlaksanaan Model
Proses analisis data keterlaksanaan model adalah
sebagai berikut:
1) Menjumlahkan semua hasil pemantauan
keterlaksanaan model yang meliputi: a) segi (Ai);
b) kriteria (Ki).
2) Mencari rata-rata setiap segi pemantauan setiap
pertemuan dengan rumus:

3) , dengan: = rata-rata segi ke i

pertemuan ke m, = hasil pemantauan untuk


segi ke i kriteria ke j, n = banyaknya kriteria segi
ke i.

94 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


4) Mencari rata-rata tiap segi pemantauan untuk n

kali pertemuan dengan rumus : ,

dengan: = rata-rata segi ke i, = rata-rata segi


ke-i pertemuan ke m
5) Mencari rata-rata keseluruhan berupa rata-rata

semua segi ( )dengan rumus , dengan:

= rata-rata semua segi, = rata-rata segi ke i, n


= banyaknya segi.
6) Menentukan kategori keterlaksanaan setiap segi
atau keseluruhan segi model dengan
memperhatikan rata-rata setiap segi ( ) atau rata-
rata keseluruhan segi ( ) dengan kategori yang
ditetapkan.
Kategori keterlaksanaan model dapat dilihat
sebagaimana seperti berikut:
Tabel 3.20: Kategori Keterlaksanaan Model

No Rata-rata Segi atau Kategori


Rata-rata Keseluruhan (M)
1 3 ≤ M < 4 Terlaksana seluruhnya
2 2 ≤ M < 3 Terlaksana sebagian
3 1 < M < 2 Tidak terlaksana

Keterangan :
M = untuk mencari validitas setiap segi,
M= untuk mencari validitas keseluruhan segi.

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 95


Model memiliki peringkat keterlaksanaan yang
memadai, manakala skor dan minimal berada
dalam kategori terlaksana sebagian, dan hal ini
berarti bahwa model tidak perlu dilakukan
perbaikan. Manakala skor berkenaan berada di
dalam kategori tidak terlaksana, maka perlu
dilakukan perbaikan dengan memperhatikan
kembali segi-segi yang nilainya belum memenuhi
kriteria. Selanjutnya dilakukan pemantauan lagi
terhadap pembelajaran dengan model dari hasil
perbaikan, dan seterusnya di lakukan analisis seperti
semula. Demikian dilaksanakan seterusnya sehingga
skor berada dalam kategori sebagian besar
terlaksana.
3. Analisis Data Efektif Model
Efektif model didasarkan dari hasil analisis data
empat aspek, yaitu: a) prestasi peserta didik; b) aktivitas
peserta didik; dan c) respon peserta didik terhadap
pembelajaran.
a) Prestasi peserta didik
Analisis dilakukan terhadap skor yang diperoleh
peserta didik dari penilaian penguasaan materi yang
dikembangkan. Analisis prestasi peserta didik
diarahkan pada pencapaian keberhasilan individu
dan ketuntasan klas. Jika seorang peserta didik
memperoleh skor ≥ 65 maka peserta didik yang
bersangkutan mencapai ketuntasan individu.
Manakala ketuntasan klas didasarkan kepada
pencapaian minimum 75% dari peserta didik
mencapai skor minimum 65 (sesuai KKM yang
ditentukan sekolah). dasarini dilaksanakan di
sekolah tempat kajian, karena setiap sekolah dapat
menentukan keberhasilan pencapaian pembelajaran
sesuai dengan keadaan sekolah.

96 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


b) Aktivitas peserta didik
Analisis terhadap aktivitas peserta didik
dilaksanakan untuk memperoleh informasi semasa
pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Aktivitas
peserta didik yang diperhatikan terdiri dari delapan
hal, yaitu: a) memperhatikan penjelasan guru; b)
membaca atau memahami masalah; c) menemukan
cara untuk menyelesaikan masalah; d)
menyampaikan idea; e) memberikan masukan
kepada guru; f) berdiskusi dengan rakan; g)
membuat kesimpulan; dan h) aktivitas lain yang
tidak berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran
(Ipung, 2006).
c) Respon Peserta didik Terhadap Pelaksanaan
Pembelajaran
Analisis respon peserta didik terhadap pelaksanaan
model dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1). Menghitung jumlah peserta didik yang memberi
respon sesuai dengan segi yang ditanyakan.
2). Menghitung frekuensi dan rata-rata dari tahap i).
3). Menentukan kategori untuk respon peserta didik
dengan cara mencocokkan hasil rata-rata dengan
kriteria yang ditetapkan.
4). Jika hasil analisis menunjukkan bahwa respon
peserta didik dalam kategori rendah, maka
dilakukan perbaikan terhadap komponen yang
dikembangkan atau memberikan arahan kepada
guru terkait dengan segi-segi yang nilainya
kurang.
Kriteria yang ditetapkan untuk menyatakan respon
peserta didik terhadap pelaksanaan pembelajaran
adalah seperti mana Tabel berikut:

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 97


Tabel 3.21: Kategori Respon Peserta didik

No Rata-rata Skor Respon Kategori


Peserta didik
1 3 ≤ <4 Tinggi
2 2 ≤ < 3 Sedang
3 1 ≤ < 2 Rendah

98 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


BAB PENGEMBANGAN MODEL
4 PEMBELAJARAN MATEMATIKA
BERDASARKAN METAKOGNITIF

Model pembelajaran adalah suatu rancangan yang


dapat digunakan untuk menyusun kurikulum, merancang
materi pembelajaran, dan menjadi panduan baik di dalam
kelas maupun di luar kelas yang terdiri dari empat hal,
yaitu: a) sintaks, ialah suatu langkah-langkah guru dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran; b) sistem sosial,
sesuatu yang menggambarkan peran dan hubungan antara
peserta didik dengan guru selama proses pembelajaran
berlangsung; c) prinsip reaksi yang memberikan gambaran
tentang peran guru dalam melaksanakan pembelajaran dan
juga respon yang dilakukan kepada peserta didik; dan d)
sistem pendukung, yaitu segala sarana yang mendukung
pelaksanaan pembelajaran (Joyce, Bruce & Weil, 2009).
Dikatakan juga bahwa model pembelajaran terdiri dari
sejumlah pendekatan pembelajaran dan fasilitas untuk
komunikasi, yang terdiri dari empat tahap, yaitu: a)
kerangka teoritik yang menjadi dasar dari model; b) dasar
bagi pemikiran tentang apa dan bagaimana peserta didik
belajar; c) perilaku mengajar yang diperlukan agar model
tersebut dapat dijalankan dengan berhasil; dan d)
lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan
pembelajaran dapat berhasil (Arends, 2001).
Pelaksanaan suatu model pembelajaran, lingkungan
belajar yang tercipta akan mempunyai dampak langsung
maupun tidak langsung (Joyce, Bruce & Weil, 2009).
Dampak pengajaran adalah hasil belajar yang dicapai secara
langsung dengan cara mengarahkan para peserta didik pada
tujuan yang diharapkan. Dampak tidak langsung yang
disebut juga dengan dampak pengikut adalah hasil belajar
lainnya yang diakibatkan oleh suatu proses pembelajaran
sebagai dampak terciptanya lingkungan belajar yang

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 99


dialami langsung oleh peserta didik tanpa adanya
pengarahan langsung oleh guru.
Memperhatikan uraian mengenai model pembelajaran
sebelum ini, dapat diinformasikan bahwa dalam
pengembangan model pembelajaran hendaknya
diperhatikan beberapa hal yang berkenaan, antaranya: a)
langkah-langkah guru dalam pelaksanaan pembelajaran
yang didasarkan kepada dasar dalam pengembangan
model, dalam hal ini adalah dasar metakognitif yang
menjadi landasan dalam menyusun sintaks; b) peran guru
dalam rangkaian pembelajaran; c) hubungan yang dibangun
antara guru dan peserta didik dalam proses pengajaran,
dalam hal ini hubungan banyak arah, yang bermakna
hubungan dapat berlangsung antara guru dengan peserta
didik dan juga antara peserta didik dengan peserta didik
dibangun dalam model ini; dan d) lingkungan yang
mendukung pelaksanaan pembelajaran serta berbagai
sarana hendaknya juga melengkapkan model yang
dibangun.

A. Pendekatan Metakognitif
Pembahasan dalam bidang psikologi pendidikan,
metakognitif merupakan suatu konsep yang banyak
dikemukakan, dan sesungguhnya secara tidak sadar makna
dari metakognitif sudah diimplementasikan dalam
kehidupan sehari-hari. Metakognitif memungkinkan
peserta didik menjadi pembelajar yang berhasil, dan juga
terkait dengan kecerdasan (Fortunato et.al,1991; Fiona,2004).
Aktivitas seperti merancang bagaimana menyelesaikan
masalah, memantau pemahaman dan mengevaluasi
kemajuan penyelesaian masalah, pada hakikatnya
merupakan aktivitas metakognitif (Fiona, 2004; Claudia,
2005).
Memperhatikan arti dari metakognitif seperti demikian,
dapat dikatakan bahwa metakognitif mempunyai peran
penting dalam kegiatan pembelajaran. Seorang peserta

100 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


didik yang menyadari dirinya sedang belajar dan berpikir
tentang sesuatu, merupakan faktor yang sangat berperan
terhadap keberhasilan peserta didik dalam melaksanakan
kegiatan belajar. Memperhatikan yang demikian, dalam
kajian ini dijalankan pembelajaran melalui pendekatan
metakognitif.
Pembahasan metakognitif dalam kajian ini bermula dari
uraian mengenai konsep pemikiran yang mengkaji
mengenai kemahiran berpikir yang diteruskan dengan
pemikiran kritis dalam matematika. Selanjutnya
menguraikan mengenai pengertian metakognitif serta
aspek-aspeknya yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan
pembelajaran.

B. Kemahiran Berpikir
Proses berpikir adalah suatu aktivitas mental yang
disadari dan mempunyai tujuan tertentu, yaitu membangun
dan memperoleh pengetahuan, mengambil keputusan,
membuat perencanaan, menyelesaikan permasalahan, serta
menilai sesuatu tindakan (Liputo, 1996). Berpikir adalah
manipulasi input deria dan persepsi yang diingat kembali
secara mental bagi membentuk pemikiran, sebab ataupun
keputusan (Mardzelah, 2007). Dikatakan juga bahwa berpikir
adalah suatu proses yang mempengaruhi pentafsiran
terhadap rangsangan-rangsangan yang dimulai dengan
proses sensasi, yaitu menangkap tulisan, gambar, kemudian
mengalami proses persepsi, yaitu aktivitas membaca,
mendengar dan memahami apa yang diminta dalam
masalah tersebut dan terakhir adalah memori, yaitu suatu
aktivitas untuk memahami istilah-istilah baru yang ada
pada masalah tersebut (Sobur, 2003).
John Dewey dalam Poh (2006) mendefinisikan bahwa
berpikir sebagai operasi yang menggunakan fakta-fakta
yang ada untuk mencadangkan fakta-fakta lain supaya fakta
yang baru dapat dipercayai berdasarkan fakta yang ada.

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 101


Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa berpikir
merupakan proses di dalam pikiran bagi mengolah fakta
dan data yang dimiliki, baik yang baru diterimanya maupun
yang sudah ada dalam diri, sehingga dicadangkan dan
diperoleh fakta atau data baru yang dikelurkan dengan
dasar segala fakta dan data yang sudah dimilikinya.
Proses berpikir merupakan suatu proses yang
mempengaruhi pentafsiran terhadap rangsangan-
rangsangan yang melibatkan proses sensasi, persepsi, dan
memori (Sobur, 2003). Sensasi adalah kemampuan
menangkap apa yang dilihat atau didengar, sedangkan
persepsi, adalah aktivitas yang dilakukan untuk
mengetahui melalui kegiatan membaca, mendengar, dan
memahami apa yang diharap sesuatu soal tersebut.
Manakala pada kedua aktivitas tersebut juga melibatkan
proses memorinya untuk memahami istilah-istilah baru
yang ditemui ataupun melakukan tinjauan kembali
mengenai pengetahuan yang dimilikinya ketika yang
dihadapi adalah permasalahan yang sama pada masa yang
telah lalu.
Proses berpikir seseorang dapat dibagi menjadi tiga,
yaitu pengetahuan, operasi mental dan sikap (Poh, 2006;
Mardzelah, 2007). Operasi mental terdiri dari kognitif dan
metakognitif. Operasi kognitif digunakan bagi mencari
makna, sedangkan operasi kognitif meliputi kemahiran
yang tersendiri dan ringkas seperti kemahiran pemrosesan
yaitu menganalisis dan mensintesis, serta pemikiran kritis
dan kreatif, strategi ataupun proses yang kompleks, seperti
membuat keputusan dan menyelesaikan masalah.
Sedangkan operasi metakognitif meliputi operasi yang
mengarahkan dan mengawal kemahiran dan proses kognitif.
Metakognitif melibatkan operasi bagi memandu usaha
individu mencari makna, suatu proses dalam pikiran untuk
memperoleh sesuatu pernyataan yang dapat dimanfaatkan
bagi menjelaskan sesuatu konsep, khususnya operasi

102 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


merancang, mengarah dan menilai pemikirannya.
Rangkaian proses berpikir sebagaimana diuraikan sebelum
ini dapat dilihat sebagaimana Gambar 4.1 berikut.

Berpikir

Pengetahuan Operasi Mental Sikap

Kognitif Metakogntif

Kemahiran Proses Masalah

Kesadaran Strategi Perencanaan Mengevaluasi


Kognitif sendiri

Gambar 4.1 Komponen berpikir


(dibina berdasar O’Neil & Abedi ,1996;Poh,2006; Mardzelah, 2007)

Berlakunya proses berpikir menghasilkan pemikiran


kritis, sejenis pemikiran yang bersifat terbuka menerima
sesuatu ide atau pendapat dan berusaha mempertimbangkan
ide itu semula dengan menganalisa secara kritis dan
mengambil kira berbagai sudut dan aspek (Mardzelah, 2007).
Dikatakan juga bahwa pemikiran kritis ialah pemikiran yang
mahir dan bertanggung jawab untuk memudahkan proses
memberi pendapat, membuat anggaran, kesimpulan atau
keputusan bijak (Poh, 2006; Lok, 2008). Berpikir kritis adalah
mengorganisasikan proses yang digunakan dalam aktivitas
mental seperti pemecahan masalah, pengambilan keputusan,
meyakinkan, menganalisis keputusan dan penemuan ilmiah
(Johnson, 2002).

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 103


Berpikir kritis dapat dimaknai sebagai: a) berpikir
secara beralasan dan reflektif dengan menekankan
pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai
atau dilakukan; b) merupakan proses kompleks yang
melibatkan penerimaan dan penguasaan data, analisis data,
evaluasi, serta membuat seleksi; c) bertujuan untuk
mencapai penilaian yang kritis terhadap apa yang akan
diterima atau apa yang akan dilakukan dengan alasan yang
logik; d) memakai standard penilaian sebagai hasil dari
berpikir kritis dalam membuat keputusan; e)
mengimplementasikan berbagai strategi yang terancang
dan memberikan alasan untuk menentukan dan
mengimplementasikan standard tersebut; dan f) mencari dan
menghimpun informasi yang dapat dipercaya bagi bukti
yang dapat mendukung suatu penilaian (Mayadiana, 2005).
Pemikiran kritis turut memungkinkan pencernaan
beberapa ide dan konsep baru yang lebih sempurna dari
pandangan atau ide yang diterima sebelumnya. Pemikiran
kritis juga mampu memdapatkan individu menganalisis
alasan yang diterimanya baik alasan yang kuat ataupun
alasan yang lemah. Teori yang berguna diguna pakai,
manakala teori yang lemah disangkal oleh pemikir yang
bersifat kritis. Dengan demikian melalui pemikiran kritis
mampu membuatkan alasan dengan baik dan sentiasa
melaksanakan analisis terhadap alasan dengan baik dan
senantiasa lengkap.
Selain itu, melalui pemikiran kritis mampu membuka
pikiran agar dapat menerima sesuatu pendapat orang lain
berbanding terus menolak tanpa berpikir terlebih dahulu.
Melalui pemikiran kritis diperoleh kemampuan untuk
membuat alasan secara efektif, menganalisis alasan secara
kritis dan lengkap, memungkinkan berpikir positif dan
inovatif serta terbuka.
Pemikiran kritis terdiri dari dua jenis, yaitu pemikiran
kritis rendah dan pemikiran kritis tinggi (Mardzelah, 2007).
Kategori yang pertama melibatkan proses kognitif yang

104 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


sederhana, antaranya adalah membandingkan,
membedakan, membuat kategori, membuat urutan,
meneliti bagian-bagian kecil serta keseluruhan dan
menerangkan sebabnya. Manakala yang kedua melibatkan
proses kognitif dan metakognitif. Pemikiran tahap ini
menggunakan kemahiran metakognitif, antaranya adalah
membuat ramalan, membuat inferens, mengesahkan
sumber informasi, membuat generalisasi dan mencari sebab
serta membuat kesimpulan.
Sebagai pendidik, memiliki tangungjawab membantu
peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir secara
kritis. Pemikiran merupakan proses dasar dalam keadaan
dinamis yang memungkinkan peserta didik untuk
menanggulangi dan mereduksi ketidakpastian masa depan,
oleh karena itu sungguh sangat naif apabila mengajarkan
berpikir kritis diabaikan oleh guru (Cabrera,1992).
Memperhatikan uraian tersebut, dalam kegiatan
pembelajaran guru hendaknya dapat melaksanakan
aktivitas yang dapat mengembangkan proses berpikir
peserta didik sehingga diperoleh pemikiran yang dapat
meningkatkan kualitas kemahiran peserta didik. Kemahiran
berpikir peserta didik dapat meningkat jika dalam
pelaksanaan pembelajaran selalu dikembangkan
kemampuan berpikir kritis, yang demikian dapat
dipertingkatkan melalui kegiatan pembelajaran yang
berdasarkan metakognitif.

C. Aspek Metakognitif
Berpikir adalah proses menggunakan pikiran, baik
untuk mencari makna dan pemahaman terhadap sesuatu,
membuat pertimbangan atau keputusan dan menyelesaikan
sesuatu masalah (Noraini, 2005; Mardzelah, 2007).
Dikatakan juga sebagai kemampuan manusia untuk
membentuk konsep, memberi sebab atau membuat
penentuan (Beyer, 1991). Berkaitan dengan aktivitas

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 105


pembelajaran, terdapat beberapa kemahiran berpikir yang
dapat digunakannya, antaranya adalah kemahiran
metakognitif.
Metakognitif ialah kesadaran untuk mengetahui apa
yang diketahui dan yang tidak diketahui. (Costa,1985),
dikenali sebagai pemikiran tentang pemikiran (Flavell,
1979). Merupakan pengetahuan, keperihatinan dan
kemampuan seseorang untuk menilai, mengawal dan
memantau pemikiran mereka terhadap proses kognitif
secara efektif bagi membentuk pembelajaran aktif.
Dikatakan juga sebagai berpikir tentang berpikir atau belajar
bagaimana belajar (Livington, 1997), proses berpikir tentang
berpikir mereka sendiri dalam rangka membina strategi bagi
memecahkan masalah (O’Neil & Brown,1997).
Metakognitif berhubungan dengan berpikir tentang
berpikir mereka sendiri dan kemampuan mereka
menggunakan strategi-strategi belajar tertentu dengan tepat
(Mohamad, 2000). Manakala Anderson & Kathwohl (2001)
menyatakan bahwa pengetahuan metakognitif adalah
pengetahuan tentang kognisi, secara umum dapat dikatakan
sebagai kesadaran dan pengetahuan tentang kognisi diri
seseorang, sehingga dapat dikatakan bahwa metakognitif
merupakan kesadaran tentang apa yang diketahui dan apa
yang tidak diketahui.
Metakognitif merupakan pendekatan kognitif untuk
memahami perlakuan peserta didik dalam menyelesaikan
masalah. Martinez (1998) menjelaskan bahwa seorang
penyelesai masalah perlu sadar tentang apa yang
dilakukannya, strategi yang digunakannya dan kefektifan
dari strategi tersebut. Masalah-masalah seperti apa yang
sedang saya lakukan?, apakah tindakan ini membanggakan
diri saya?, bagaimanakah tindakan ini sepatutnya saya
lakukan?, apakah perencanaan yang harus saya lakukan
untuk menyelesaikan masalah ini? mengapa saya
mengalami kesukaran menyesaikan masalah ini?, adalah

106 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


soal yang sering diajukan kepada diri sendiri bagi peserta
didik yang mengimplementasikan metakognitif.
Pengetahuan metakognitif terkait dengan pemahaman
seseorang, sehingga pemahaman yang mendalam tentang
pengetahuannya akan mencerminkan penggunaannya
efektif, yang bermakna bahwa uraian yang jelas tentang
pengetahuan yang menjadi pembahasan. Hal ini
menunjukkan bahwa pengetahuan kognisi adalah
kesadaran seseorang tentang apa yang sesungguhnya
diketahuinya dan regulasi kognisi adalah bagaimana
seseorang mengatur aktivitas kognisinya secara efektif. Oleh
karena itu, pengetahuan kognisi memuat pengetahuan
deklaratif, prosedural, dan kondisional, sedang regulasi kognisi
meliputi kegiatan perencanaan, peramalan, pemantauan,
pengujian, perbaikan, pemeriksaan, dan evaluasi.
Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan mengenai
sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural adalah
pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu. Sedangkan
pengetahuan kondisional adalah pengetahuan mengenai
kapan menggunakan pengetahuan deklaratif dan
prosedural tertentu (Nur, 2000).
Metakognitif mengacu kepada berpikir peringkat tinggi
yang melibatkan pengendalian aktif atas proses kognitif
yang dilakukan dalam aktivitas belajar. Aktivitas seperti
merancang bagaimana mendekati suatu tugas tertentu,
alatan apa saja yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu
tugas, memantau pelaksanaan aktivitas yang sudah
dirancang dan mengevaluasi kemajuan penyelesaian suatu
tugasan pada hakikatnya merupakan aktivitas metakognitif.
Sesuatu yang mendasar dalam konsep metakognitif adalah
gagasan berpikir tentang pemikiran seseorang itu sendiri.
Pemikiran tersebut merupakan apa yang dia ketahui
(pengetahuan metakognitif), apa yang sedang dia kerjakan
(keterampilan metakognitif), atau bagaimana kondisi
kognitif atau afektifnya (pengalaman metakognitif).

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 107


Kemampuan pemecahan masalah dalam bidang
pendidikan matematika dipandang sebagai sesuatu
keadaan saling mempengaruhi yang rumit antara kognisi
dan metakognitif. Agar dapat mencari penyelesaian yang
tepat terhadap masalah yang rumit, diperlukan berbagai
ragam proses metakognitif. Pemecahan masalah yang
berhasil menyadari bahwa dirinya dapat menuntun
usahanya sendiri dengan cara mencari dan mengenali cara-
cara yang sebelumnya diabaikan dalam menggabungkan
informasi dan hubungan antara pengetahuan sebelumnya
dengan keadaan masalah yang ada. Pemecah masalah yang
kurang berpengalaman tidak dapat memantau proses
penyelesaian masalahnya secara efektif dan dia dapat saja
terus menggunakan strategi-strategi yang tidak berhasil
(Lerch, 2004).
Menurut O’Neil & Abedi (1996) pula metakognitif
adalah terdiri dari aspek kesadaran, strategi kognitif,
perencanaan dan mengevaluasi sendiri. Uraian dari masing-
masing aspek adalah seperti berikut:
1. Kesadaran sebagai salah satu aspek metakognitif,
merupakan aspek yang berkaitan dengan kesadaran
terhadap berpikir yang dilakukannya, termasuk strategi
yang digunakan dalam berpikir. Berikutnya menyadari
proses berpikir yang terjadi untuk merancang tindakan
yang hendak dilakukan sehingga dapat memahami
permasalahan yang dihadapinya. Seseorang yang
melaksanakan aktivitas akan berhasil jika memahami
dan mengetahui kesadaran dirinya dan juga rangkaian
aktivitas yang hendak dilaksanakan. Dalam
pembelajaran aspek kesadaran hendaknya dimiliki oleh
peserta didik baik dalam mengikuti serangkaian
pembelajaran, memahami sesuasu subjek maupun
menyelesaikan sesuatu soal. Salah satu usaha yang
dapat dilaksanakan bagi meningkatkan kesadaran
adalah peran guru yang selalu mengingatkan dan
memberikan arahan serta dorongan untuk selalu

108 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


mencoba menghadirkan kesadaran dalam setiap
aktivitas belajar.
2. Strategi kognitif adalah berkaitan dengan cara dalam
menyelesaikan suatu soal dengan menemukan pikiran
utamanya dan mengkaitkan masalah tersebut dengan
pengetahuan yang sudah dimilikinya. Dalam
menghadapi soal, mencoba memikirkan makna setiap
soal tersebut, hal ini berkaitan dengan melihat berbagai
strategi pemecahan yang memungkinkan untuk
dilaksanakan dan mengaitkan dengan berbagai
informasi yang dikusainya. Setiap aktivitas untuk
memahami suatu materi atau hendak menyelesaikan
sesuatu permasalahan, hendaknya seorang peserta
didik selalunya mempunyai strategi yang dapat
dilaksanakn untuk memudahkan melaksanakan
aktivitas berkenaan. Kegiatan yang dapat dilaksanakan
guru untuk membantu aspek strategi kognitif adalah
memberikan arahan beberapa langkah yang dapat
digunakan untuk memahami masalah dan berikutnya
adalah jenis strategi yang dapat dijalankan bagi
menyelesaikan masalah.
3. Perencanaan adalah sebuah program yang dibangun
sebelum melaksanakan suatu aktivitas. Setiap
pelaksanaan suatu program dapat berhasil dengan baik
jika dilakukan perencanaan dengan baik. Perencanaan
dalam metakognitif bermakna bahwa seseorang dalam
melaksanakan suatu aktivitas maupun menyelesaikan
suatu permasalahan hendaknya memahami terlebih
dahulu tujuan dari aktivitas atau permasalahan yang
dihadapinya. Setelah memahaminya, mencoba
menemukan berbagai persyaratan yang ditentukan
untuk melaksanakan aktivitas atau menyelesaikan
permasalahan tersebut. Berikutnya adalah berusaha
untuk memahami cara yang hendak ditempuh dan
bagaimana melaksanakannya, dan cara yang hendaknya
dapat dilakukan.

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 109


4. Mengevaluasi sendiri merupakan usaha untuk
mengetahui keadaan diri sendiri. Dalam proses
melaksanakan aktivitas hendaknya mengkaji berbagai
hal yang mungkin menjadi kendala dalam
melaksanakan tugas dan kewajiban, antaranya
kesalahan-kesalahan yang mungkin pernah
dilakukanya dan mengantisipasi untuk tidak
mengulanginya. Apa yang dilakukan tersebut sebagai
cara untuk mengawal kemajuan pelaksanaan tugas yang
menjadi kewajibannya. Namun agar pelaksanaan suatu
aktivitas berhasil sesuai dengan perencanaan yang telah
dibangun, perlu dilakukan pengawalan dan hal ini
memungkinkan untuk mengubah suatu strategi yang
sudah ditetapkan dengan memperhatikan keadaan yang
sebenar. Selain mengawal sebuah program, aktivitas
yang hendaknya dijalankan adalah merefleksikan setiap
hasil yang diperoleh, karena dengan aktivitas refleksi
dapat dilakukan peninjauan sesuatu aktivitas, baik
mengenai kelebihan yang mungkin ditemuinya maupun
kelemahan yang mestinya tidak terjadi dalam
pelaksanaan. Hal ini digunakan sebagai dasar bagi
membaiki suatu kegiatan atau program yang dirancang.

D. Strategi Mengembangkan Tingkah Laku Metakognitif


Metakognitif bukanlah suatu pelajaran yang harus
disampaikan kepada peserta didik, karena ianya adalah
kesadaran yang dimiliki dalam menghadapi sesuatu soal,
demikian juga dalam mengikuti suatu materi pembelajaran.
Namun tingkah laku metakognitif dapat dikembangkan.
Strategi metakognitif adalah amat penting bagi
pembelajaran, para guru haruslah mengajar strategi
metakognitif kepada peserta didik. Berbagai strategi
pengajaran metakognitif telah disarankan oleh para peneliti,
antaranya Schraw (1999) mencadangkan metakognitif dalam
konteks pendidikan harus digunakan untuk memperbaiki

110 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


pencapaian dan pemahaman proses pembelajaran, dan
bukan hanya hasil pembelajaran.
Effandi dkk (2007) mengemukakan bahwa terdapat 12
strategi yang dapat digunakan dalam pembelajaran untuk
mengembangkan metakognitif peserta didik, yaitu: a)
merancang; b) menyoal pada semua peringkat; c) memilih
secara sadar; d) menilai berdasarkan berbagai kriteria; e)
mengambil kredit; f) mengelak dari menyatakan ‘saya tidak
dapat’; g) menggalakkan ide dari peserta didik; h) memberi
label bagi sesuatu tindakan; i) memberi label bagi sesuatu
tindakan; j) menjelaskan maksud perkataan tertentu kepada
peserta didik; k) main peran dan simulasi; dan l)
menyimpan jurnal. Paparan proses yang dapat digunakan
dalam strategi metakognitif dan mengawal
pembelajarannya adalah:
1. Merancang
Setiap aktivitas yang hendak dilaksanakan, agar terarah
dan memenuhi harapan dari tujuan yang dikehendaki,
maka diperlukan adanya perencanaan. Aktivitas
merancang dalam kegiatan pembelajaran melibatkan
tiga peringkat, yaitu sebelum, semasa dan selepas
kegiatan. Sebelum melaksanakan kegiatan
pembelajaran guru hendaknya perlu menyampaikan
peraturan yang perlu dipatuhi dan strategi untuk
menyelesaikan suatu soal serta arah yang hendak
diikuti sesuai dengan perencanaan pembelajaran.
Berikutnya kegiatan semasa pelaksanaan kegiatan
pembelajaran, pada masa ini guru tidak hanya
menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik,
namun memberikan peluang kepada peserta didik
untuk bertukar pengalaman, menyadarkan mereka
dalam pelaksanaan proses berpikir dan pandangan
mengenai tingkah laku yang mereka lakukan selama
mengikuti kegiatan pembelajaran. Setiap pelaksanaan
aktivitas hendaknya diakhiri dengan adanya evaluasi

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 111


pelaksanaan, hal ini untuk mengetahui sejauh mana
pelaksanaan tersebut dapat dilaksanakan dan juga
mengetahui berbagai kelemahan yang terjadi pada saat
pelaksanaan aktivitas. Kegiatan ini diakhiri dengan
evaluasi pembelajaran, guru menyampaikan kepada
peserta didik, bahwa setelah mengikuti kegiatan
pembelajaran hendaknya peserta didik dapat
melakukan evaluasi kepada diri sendiri untuk
mengetahui sejauh mana perkara yang telah diajarkan
oleh guru dapat dipatuhi.
2. Menyoal pada Semua Peringkat
Dalam setiap kegiatan tidaklah dapat dilaksanakan
dengan sempurna tanpa terdapat suatu kesalahan,
demikian juga dalam kegiatan pembelajaran. Sebagai
usaha untuk meningkatkan tingkah laku metakognitif
peserta didik, maka dalam strategi ini, guru perlu
menggalakkan dan menyadarkan kepada peserta didik
agar dapat menimbulkan soal kepada diri sendiri
dalam kegiatan pembelajaran, baik sebelum, semasa
maupun selepas kegiatan pembelajaran sudah selesai.
Melalui menyoal kepada diri sendiri, diharapkan
peserta didik akan menyadari berbagai pengetahuan
yang telah diterimanya, apakah mereka memahaminya
ataukah masih belum dapat mengerti apa yang sudah
diikuti dalam kegiatan pembelajaran.
3. Memilih Secara Sadar
Dalam melaksanakan suatu aktivitas hendaknya
dilakukan dengan sadar, baik masa perencanaan
maupun pelaksanaannya. Dalam kegiatan
pembelajaran diperlukan adanya pembicaraan, dalam
hal ini guru hendaknya melakukan pembicaraan
dengan peserta didik tentang pemilihan dibuat oleh
peserta didik dari kesan baik atau buruknya sebelum
sesuatu keputusan dibuat.

112 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


4. Menilai Berdasarkan Berbagai Kriteria
Memandangkan sebuah soal, penyelesaian terhadapnya
dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan
kriteria yang dijadikan landasannya. Cara yang
digunakan bagi menyelesaikan satu masalah belum
tentu dapat dilaksanakan bagi menyelesaikan masalah
yang lain, sehingga memahami dan menilai suatu
masalah adalah sangat diperlukan. Metakognitif dapat
dikembangkan dengan memberikan peluang kepada
peserta didik untuk membuat renungan dan
mengkategorikan tindakannya berdasarkan berbagai
kriteria penilaian. Contohnya mengenal sesuatu yang
disukai dan tidak disukai, memaparkan baik dan buruk
sesuatu aktivitas.
5. Mengambil Kredit
Sesuatu tindakan yang dilakukan pastilah mengandung
suatu perkara yang positif atau negatif, sesuatu yang
disukai dan tidak disukai, kelebihan dan kelemahan.
Berdasarkan yang demikian, dalam kegiatan
pembelajaran guru hendaknya memberikan peluang
kepada peserta didik untuk mengenal pasti apa yang
positif dan negatif dari tindakan yang mereka lakukan.
Selain itu, peserta didik juga dapat mendapatkan
umpan balik dari teman sejawat untuk mengetahui hal
tersebut. Melalui cara yang demikian peserta didik
akan menyadari tingkah laku yang baik, kelebihan
dalam suatu tindakan yang diambil, benar atau salah
apa yang sudah dilakukannya, sehingga mereka dapat
mengimplementasikan tingkah laku tersebut dalam
situasi yang berbeda.
6. Mengelak dari Menyatakan ‘saya tidak dapat’
Aktivitas yang dilakukan dalam mengikuti suatu
kegiatan, terdapat sebagian yang merasa bahwa mereka
tidak mungkin dapat mengikutinya, demikian juga
dalam menghadapi suatu soal, mereka merasa tidak

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 113


dapat menyelesaikanya dengan hanya membaca soal.
Untuk itu guru perlu membicarakan dengan peserta
didik, bahwa dalam menghadapi suatu soal peserta
didik hendaknya mengelak dari menyatakan “saya
tidak dapat melakukannya…”. Guru dapat
menimbulkan kesadaran kepada peserta didik tentang
pengetahuan yang diketahui dan apa yang perlu
diketahui, dan juga kesadaran ini akan membangkitkan
keyakinan peserta didik bahwa mereka dapat
melakukannya. Beberapa soal tersebut antaranya,
apakah informasi yang diperlukan?, apakah alat yang
diperlukan?, apakah kemahiran yang diperlukan untuk
melakukan tingkah laku berkenaan? Strategi apa yang
dapat digunakan untuk menyelesaikan soal?
7. Menggalakkan Ide dari Peserta didik
Penyelesaian suatu soal dapat dilakukan mengikuti
berbagai cara yang digunakannya. Guru dapat
membantu dan menggalakan peserta didik serta
membimbing agar mereka dapat menjelaskan,
memikirkan ide mereka secara lebih mendalam.
Beberapa soal yang dapat disampaikan kepada peserta
didik antaranya adalah, ‘saya rasa anda akan
memberitahu saya bahwa...’ ‘saya lihat anda telah
menyampaikan gagasan awal dari penyelesaian soal...’,
8. Memberi Label bagi Sesuatu Tindakan
Sebagai usaha untuk memberikan motivasi, sebagian
caranya adalah dengan memberikan penghargaan
terhadap apa yang sudah dilakukan atau disampaikan
dalam suatu kegiatan. Demikian juga dalam kegiatan
pembelajaran, sebagai usaha untuk mengembangkan
tingkah laku kognitif peserta didik, dapat dilakukan
dengan memberikan label terhadap suatu tindakan
yang dilakukan oleh peserta didik, terutamanya bagi
mereka yang melakukan suatu kerja yang baik. Guru
dapat memuji dan memberi pengakuan terhadap

114 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


tingkah laku peserta didik yang baik, antaranya, ‘bagus,
awak sudah membuat langkah kerja yang baik bagi
menyelesaikan soal bidang datar tersebut’, ‘bagus, awak
telah melakukan kerja sama kepada rakan kamu, dan
itu adalah satu sifat yang terpuji dan perlu dicontoh
oleh yang lain’.
9. Menjelaskan Maksud Perkataan Tertentu Kepada
Peserta didik
Guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran
hendaknya selalu memperhatikan apa yang diucapkan
berkaitan dengan materi pembelajaran yang menjadi
tugas kewajibannya. Usaha meningkatkan tingkah laku
metakognitif peserta didik dapat dilaksanakan melalui
dialog dengan peserta didik tentang pemikirannya, hal
ini terlihat dari yang dikatakannya. Contoh, jika seorang
peserta didik mengatakan ‘saya benar-benar tidak
setuju...’, maka seorang guru mempunyai kewajiban
untuk bertanya apa yang dimaksudkannya, hal ini
sebagai usaha agar peserta didik lebih sadar dan
bertanggung jawab terhadap dampak dari kata-kata
yang mereka ucapkan.
10. Main Peran dan Simulasi
Pembelajaran yang menggunakan simulasi dapat
dijadikan suatu cara untuk meningkatkan tingkah laku
metakognitif peserta didik. Pelaksanaan simulasi,
peserta didik akan berlaku main peran. Metode ini dapat
membayangkan diri peserta didik dalam sesuatu watak
dan membuat modifikasi tingkah laku secara
metakognitif terhadap peran tersebut. Simulasi
memberikan peluang kepada peserta didik untuk
memikirkan bagaimana peserta didik akan bertindak
dalam situasi yang berlainan.
11. Menyimpan Jurnal
Aktivitas yang selalu diharapkan dalam kegiatan
pembelajaran, peserta didik hendaknya selalu mencatat

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 115


dan mengilustrasikan sesuatu pengalaman dalam buku
log sepanjang pengalamannya. Kegiatan mencatat
dalam buku log atau buku harian, dapat membantu
peserta didik dalam: a) mensintesiskan dan
menterjemahkan pikiran dan kelakuan mereka dalam
bentuk simbol atau grafik; b) memperhatikan kembali
persepsi mereka serta membandingkan dengan
keputusan yang diambil; c) mencatatkan proses
pemikiran tentang strategi tersebut dan cara membuat
keputusan; d) mengenal pasti kelemahan dalam
tindakan yang diambil dan mengingat kembali
keberhasilan dan kesulitan dalam sesuatu percobaan.
12. Memberikan Teladan
Guru adalah sebuah profesi yang mempunyai
kedudukan tinggi baik di masyarakat umum maupun
di masyarakat pendidikan, karena tugas pengembangan
keilmuan yang menjadi kewajibannya. Perilaku dan
tindakan guru akan dijadikan contoh dan teladan oleh
peserta didik. Oleh karena itu, seorang guru hendaknya
menunjukkan dengan jelas bagaimana melakukan
perencanaan, mengenal pasti dan menilai sesuatu
tingkah lakunya agar peserta didik dapat
mencontohnya.

116 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


BAB
5 MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA
BERDASAR METAKOGNITIF

Pendekatan metakognitif memberikan peran penting


dalam menyelesaikan masalah, dan juga peserta didik lebih
terampil memecahkan masalah jika mereka memiliki
pengetahuan metakognitif (Keichii, 2000). Hal ini bermakna
bahwa metakognitif dapat memberdayakan peserta didik
dalam melaksanakan tugas belajar. Pengetahuan peserta
didik tentang kognisi mereka yang meliputi pengetahuan
mengenai bagian dari proses yang membantu aspek
reflektif metakognitif, yaitu pengetahuan deklaratif,
pengetahuan prosedural dan pengetahuan kondisional serta
tahap regulasi mereka, yaitu amalan regulasi kognisi
membantu aspek pengawalan pembelajaran dan
menimbulkan dampak ke atas pencapaian akademik
peserta didik.

A. Komponen Model Pembelajaran Matematika


berdasarkan Metakognitif
Komponen model pembelajaran aljabar berdasarkan
metakognitif terdiri dari lima hal, yaitu: a) sintaks model;
b) sistem sosial; c) prinsip reaksi; d) sistem pendukung; dan
e) dampak pengajaran dan dampak pengikut (Joyce, Bruce
& Weil, 2009).
1. Sintaks (tahapan) Model
Sintaks model adalah tahapan aktivitas yang
diwujudkan dalam rangkaian aktivitas pembelajaran.
Sintaks model menentukan jenis-jenis aktivitas guru,
dan tugas untuk peserta didik (Arends, 1997), sehingga
dapat diuraikan aktivitas yang dilakukan oleh guru dan
peserta didik dalam aktivitas pembelajaran (Joyce,
Bruce & Weil, 2009).

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 117


Sebagaimana diuraikan sebelum ini, bahwa
pembelajaran konstruktivistik mayoritasnya
dilaksanakan oleh guru yang mengutamakan peran
peserta didik, namun model yang dikembangkan dalam
pembelajaran berdasarkan metakognitif dilakukan
dengan menambahkan peran guru untuk selalu
mengingatkan kepada peserta didik untuk
menggabungkan pengetahuan yang telah dimilikinya
sehingga terjadi keseimbangan dalam memahami
pengetahuan. Tahapan model pembelajaran ini
dirancang dalam lima tahap yaitu: a) penyampaian
tujuan pembelajaran; b) penyampaian aspek kesadaran;
c) pelaksanaan strategi kognitif bagi memahami
masalah aljabar; d) penggunaan strategi kognitif bagi
penyelesaian masalah aljabar; dan e) mengevaluasi
sendiri.
2. Sistem Sosial
Faktor keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran
yang sudah dirancang antaranya adalah hubungan yang
baik dan jelas antara guru dan peserta didik dalam
proses pembelajaran, yang dinamakan dengan sistem
sosial. Terdapat tiga pola hubungan yang dapat
digunakan bagi mengembangkan interaksi dinamik
antara guru dengan peserta didik dalam aktivitas
pembelajaran, yaitu: a) hubungan satu arah, guru
berperan sebagai pemberi aksi dan peserta didik
sebagai penerima aksi sehingga guru lebih aktif dari
peserta didik; b) hubungan dua arah, guru dan peserta
didik dapat berperan sama, yakni masing-masing
sebagai pemberi dan penerima aksi. Hal ini dapat lebih
menghidupkan suasana aktivitas belajar peserta didik;
dan c) hubungan banyak arah, proses pembelajaran lebih
memungkinkan peserta didik berkembang secara
optimal dalam aktivitas belajarnya (Nana, 2000).
Memperhatikan berbagai pola hubungan antara guru
dan peserta didik dalam aktivitas pembelajaran, maka

118 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


dalam pelaksanaan model pembelajaran ini pola
hubungan yang dapat diimplementasikan adalah pola
hubungan banyak arah. Aktivitas yang terjadi sesuai
dengan keadaan, pada tahap penyampaian materi
pengajaran, guru dan peserta didik mempunyai peran
yang berimbang, pada tahap penyampaian deklaratif
peran guru dominan, pada tahap penyampaian materi
matematika disertai pelatihan strategi kognitif,
manakala pada tahap penyelesaian soal-soal peran
peserta didik cukup dominan.
3. Prinsip Reaksi
Prinsip reaksi merupakan aktivitas guru dalam
menjelaskan, menghargai dan merespon perilaku
peserta didik dalam proses pembelajaran (Joyce, Bruce
& Weil, 2009), berkaitan dengan cara yang dilaksanakan
guru dalam memberi reaksi terhadap perilaku-perilaku
peserta didik dalam aktivitas pembelajaran. Peran guru
dalam model pembelajaran ini adalah menumbuhkan
kemampuan metakognitif peserta didik, yaitu: a)
menyediakan sumber-sumber belajar; b)
menyampaikan informasi tentang materi aljabar dan
pengetahuan strategi kognitif dalam memahami
masalah; dan c) membimbing peserta didik dalam
mengimplementasikan pengetahuan strategi kognitif
dalam penyelesaian masalah.
4. Sistem Pendukung
Sistem pendukung model pembelajaran adalah hal-
hal yang dapat mendukung tercapainya tujuan
pembelajaran dalam mengimplementasikan model
pembelajaran (Paul, 2002), antaranya sarana, bahan,
komponen dan media. Implementasi model
pembelajaran sistem pendukungnya adalah : a)
rancangan persiapan pembelajaran; b) buku peserta
didik; c) lembaran kerja peserta didik; dan d) instrumen
evaluasi hasil belajar.

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 119


5. Dampak Instruksional dan Dampak Pengikut
Terdapat dua dampak dalam aktivitas pembelajaran
yang ingin dicapai dalam pelaksanaannya, yaitu
dampak instruksional yang merupakan hasil belajar
yang langsung dicapai sebagai akibat dari pengarahan
langsung kepada peserta didik dalam pencapaian
tujuan pembelajaran. Dampak kedua adalah dampak
pengikut sebagai akibat tidak langsung dari aktivitas
pembelajaran.
Dalam model pembelajaran ini, dampak instruksional
yang diharapkan dapat dikuasai peserta didik adalah:
a) penguasaan materi dengan indikator prestasi hasil
belajar; b) kemampuan metakognitif pemecahan masalah
aljabar dengan indikator pelatihan strategi kognitif yang
dirancang dalam RPP, yang terdiri dari heuristik, berpikir
maju, berpikir ke belakang, dan berpikir deduktif
(Nurdin, 2007).
Sedang dampak pengikut dalam aktivitas
pembelajaran adalah: a) kebiasaan membuat
perencanaan sebelum melakukan suatu aktivitas; b)
adanya kesadaran terhadap apa yang sedang dipelajari;
dan c) mengevaluasi aktivitas yang sudah dilaksanakan
untuk membuat perencanaan aktivitas berikutnya.

B. Aspek-aspek Metakognitif dalam Pembelajaran


Seperti diuraikan sebelum ini bahwa dalam kajian ini
aspek-aspek metakognitif yang dikembangkan terdiri dari
empat, yaitu kesadaran, perencanaan, strategi kognitif dan
mengevaluasi sendiri. Terkait dengan pelaksanaan
pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam sintaks atau
tahapan dari pembelajaran, dapat diuraikan keempat-
empat aspek sebagai berikut:
1. Aspek Kesadaran
Sadar adalah tahu dan ingat akan keadaan
sebenarnya, sedangkan kesadaran adalah perihal sadar

120 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


akan sesuatu (Noresah, 2005). Berkenaan dengan
kegiatan pembelajaran, yang dimaksud dengan kajian
ini adalah kesadaran mengenai diri seorang peserta
didik dalam proses belajar. Hal ini bermakna bahwa
peserta didik mengetahui dan memahami mengenai
proses yang dijalani peserta didik dalam kegiatan
mengaitkan pengetahuan yang sedang dipelajari
dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya.
Peran guru dalam kegiatan pembelajaran adalah
mengingatkan dan memberikan dorongan kepada
peserta didik agar mengetahui bahwa berkenaan
dengan belajar seorang peserta didik benar-benar
mempersiapkan diri dan mengetahuai apa yang
seharusnya dilaksanakan. Sebagaimana pada tahap 2
dalam sintaks pembelajaran, proses yang dijalankan
guru untuk menggugah kesadaran peserta didik
mengenai berbagai materi yang pernah dipelajari
berkenaan dengan materi aljabar yang akan dibahas.
Aktivitas ini dijalankan dengan tanya jawab secara lisan
sebelum mengawali kegiatan pengajaran, sedangkan
aktivitas peserta didik adalah menyampaikan materi
yang telah diketahuinya yang berkaitan dengan materi
yang akan dipelajari.
2. Aspek Strategi Kognitif
Terdapat dua hal terkait dengan menyelesaikan
masalah, yang pertama diuraikan mengenai strategi
memahami masalah dan selanjutnya adalah strategi
yang dilaksanakan bagi menyelesaikan masalah.
a) Strategi Kognitif dalam Memahami Aljabar
Terdapat empat strategi dalam memahami masalah
berdasarkan strategi kognitif, yaitu: a) memberi tanda
pada ide penting; b) membuat catatan pinggir; c)
membuat ringkasan; dan d) membuat peta konsep,
dengan uraian masing-masing strategi seperti
berikut:

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 121


1) Memberi Tanda pada Ide Penting
Memberi tanda ide atau rumus-rumus penting
dari bacaan dengan menggunakan garisan bawah
atau bangun persegi panjang. Strategi ini
bermanfaat untuk membuat pengulangan dan
penghafalan lebih cepat dan lebih efisien, selain
itu juga dapat membantu mengkaitkan informasi
baru dengan pengetahuan yang sedia ada.
Terdapat dua cara untuk melakukan strategi ini,
yaitu: (i) memberi garisan bawah pada ide-ide
atau rumus penting dari suatu bacaan; (ii)
menghindarkan memberi garis bawah pada
informasi yang tidak sesuai.
Contoh:
Bentuk-bentuk seperti 2a, 7a2b, 2b-8, 5x-6, 8x2 - 5y +
7, 6a + 2b-c disebut bentuk aljabar. Bentuk-bentuk
seperti 2a dan 7a2b disebut bentuk aljabar suku satu
atau suku tunggal, manakala 2b-8 dan 5x-6 disebut
bentuk aljabar suku dua atau binom, sedangkan
bentuk 8x2 - 5y + 7dan 6a + 2b-c yang terdiri lebih
dari dua suku, disebut suku banyak atau polinom.
Perhatikan bentuk aljabar 2a, 7a2b, 8x2 - 5y + 7.
Pada bentuk 2a, 2 disebut koefisien dan a disebut
pemdapatubah, manakala pada bentuk 8x2 - 5y +
7, 8 dan 5 adalah koefisien, x dan y adalah
pemdapatubah dan 7 adalah konstant.

x adalah variabel
y adalah variabel
8x2 - 5y + 7
7 adalah konstanta
5 adalah koefisien
8 adalah koefisien

Gambar 5.1: Contoh memberi tanda idea penting

122 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


2) Membuat Catatan Pinggir
Catatan pinggir adalah informasi untuk diingat
tentang suatu ide atau rumus penting yang dicatat
pada bagian-bagian yang kosong dari bacaan.
Manfaat strategi ini dapat melengkapkan garisan
bawah dalam membuat pengulangan dan juga
dapat membantu mengkaitkan informasi baru
dengan pengetahuan yang sedia ada.
Contoh:
Penjumlahan dan pengurangan
bentuk aljabar
Untuk menentukan hasil dari
penjumlahan atau pengurangan Hasil
pada bentuk aljabar, hendaknya penjumlahan
diperhatikan hal-hal seperti berikut: maupun
1. Suku-suku yang sama pengurangan
2. Sifat distributif pendarapan pada bentuk
terhadap penjumlahan atau aljabar dapat
pengurangan, yaitu : disederhakan
a. ab + ac = a(b + c) atau a(b + c) = dengan cara
ab + ac mengelompokkan
b. ab - ac = a(b - c) atau a(b - c) = ab dan
– ac menyederhanakan
3. Hasil pendarapan dua bilangan suku-suku yang
bulat, yaitu: sejenis
a. Hasil perkalian dua bilangan
bulat positif adalah bilangan
bulat positif
b. Hasil perkalian dua bilangan
bulat negatif adalah bilangan
bulat positif
c. Hasil perkalian bilangan bulat
positif dengan bilangan bulat
negatif adalah bilangan bulat
negatif

Gambar 5.2: Contoh membuat catatan pinggir

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 123


3) Membuat Ringkasan
Membuat ringkasan adalah menuliskan secara
ringkas pernyataan atau rumus yang
menunjukkan ide utama dari teks atau bacaan.
Strategi ini bermanfaat bagi membantu memahami
dan mengingat materi aljabar yang sudah
dipelajari dan dapat digunakan oleh peserta didik
lain dalam mempelajari materi tersebut. Beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam membuat
ringkasan adalah: (i) catatan pinggir dan memberi
garisan bawah dapat dijadikan alat bagi membuat
ringkasan; dan (ii) pertimbangkan sungguh-
sungguh mana yang penting dan mana yang tidak
penting.
Contoh:
Untuk setiap bilangan cacah x dan y dapat
dijelaskan bahwa bentuk
(x + y) (x - y) dapat diuraikan sebagai berikut :
(x + y) (x - y) = x (x - y) + y (x - y)
= x2- xy + yx - y2
= x2- y2
Bentuk tersebut dapat juga dituliskan sebagai
bentuk pemfaktoran, yaitu :
x2- y2 = (x + y) (x - y)
Bentuk x2- y2 disebut sebagai selisih dua kuadrat,
karena terdiri dari dua suku yang masing-masing
berbentuk kuadrat dan merupakan bentuk
pengurangan, manakala bagian kanan merupakan
pendarapan faktor-faktor.

Pemfaktoran selisih dua kuadrat adalah:


x2- y2 = (x + y) (x - y)

124 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


4) Membuat Peta Konsep
Peta konsep adalah suatu gambar tentang konsep
dari suatu topik tertentu yang dihubung kait
antara berbagai bagian dengan pola logik.
Adapun manfaat peta konsep dapat membuat
makna ide-ide dan istilah-istilah menjadi jelas dan
membantu peserta didik memahami lebih baik
materi yang dipelajari. Manakala langkah-langkah
dalam membuat peta konsep adalah: (i)
mengidentifikasi ide-ide atau konsep utama; (ii)
mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep
yang dapat membantu terhadap pemahaman ide-
ide utama; (iii) letak ide utama di bagian tengah
atau di bagian puncak peta tersebut; dan (iv)
kelompokkan ide-ide sekunder di lingkungan (di
bawah) ide utama yang secara gambar
menunjukkan hubungan ide-ide tersebut.
Contoh :
Aljabar

mempelakari tentang

Operasi Hitung Faktorisasi Pecahan


Bentuk Aljabar Bentuk Aljabar Bentuk Aljabar

Penjumlahan dan
Pengurangan
Penjumlahan Perkalian dan Perpangkatan
dan Pembagian Perkalian dan
Pengurangan Pembagian

Perpangkatan

Sifat Selisih Dua Bentuk Penyederhanaan


Distributif Kuadrat ax2 + bx + c

Gambar 5.3: Contoh peta konsep mempelajari aljabar kelas 8


SMP

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 125


b) Strategi Kognitif dalam Penyelesaian Masalah
Aljabar
Terdapat empat strategi dalam penyelesaian masalah
aljabar berdasarkan strategi kognitif, yaitu: a) strategi
heuristik; b) strategi berpikir ke belakang; c) strategi
berpikir maju; dan d) strategi berpikir deduktif,
dengan uraian masing-masing strategi seperti
berikut:
1) Strategi Heuristik
Prosedur heuristik yaitu menemukan jawapan
atas suatu masalah dengan cara seperti
menggambar, membuat gambar, atau analogi.
Manfaat dari strategi ini dapat menyalurkan
pikiran peserta didik sehingga dia tidak bekerja
dengan cara mencoba-coba tanpa arah. Langkah
yang dapat dilakukan melalui strategi ini adalah
memilih strategi heuristik yang sesuai dengan ciri-
ciri khas masalah yang sedang diselesaikan.
Contoh:
Bentuk-bentuk perkalian suku dua dan suku
banyak yang perlu diingat adalah sesuatu seperti
berikut:
1. x(x + a) = x2 + xa

x x x2 ax

x a x a
2. (x + a) (x + b) = x + ax + bx + ab
2

a a ab ab
x x x2 bx
x b x b
Gambar 5.4: Contoh heuristik dalam penyelesaian masalah
aljabar

126 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


2) Strategi Berpikir ke belakang
Prosedur berpikir ke belakang dalam
penyelesaian masalah adalah prosedur
penyelesaian masalah yang bertitik tolak dari
tujuan yang telah diketahui dan menemukan jalan
untuk menuju ke tujuan tersebut. Manfaat strategi
berpikir ke belakang adalah bagi menemukan
cara penyelesaian terhadap masalah yang dapat
dilaksanakan melalui berbagai cara dan banyak
melibatkan konsep atau prinsip. Langkah yang
dapat dilaksanakan adalah: a) identifikasi hal yang
ditanyakan dalam soal atau masalah; b) pikirkan
komponen yang harus disediakan untuk
menjawab pertanyaan tersebut; dan c) selidiki
apakah komponen tersebut sudah tersedia dalam
soal atau harus dicari menggunakan sesuatu yang
diketahui dalam soal.
Contoh:
Sebuah batu dilempar vertikal ke atas dengan
tinggi batu setelah t detik dinyatakan dengan
rumus h = 20 t-2t2 , hitunglah tinggi batu pada saat
4 detik setelah batu dilemparkan.
Jawab:
Prosedur berpikir ke belakang dalam
menyelesaikan masalah tersebut sebagai berikut:
(1). Soal yang ditanyakan adalah nilai h (tinggi
kelereng).
(2). h = 20 t-2t2, untuk t = 4
(3). Penyelesaiannya adalah:
h = 20 t-2t2, h = 20.4-2.42, h = 80-32 = 48
3) Strategi Berpikir Maju
Prosedur berpikir maju dalam penyelesaian
masalah adalah bermula dari hal yang diketahui
kemudian memikirkan berbagai jalan untuk

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 127


sampai kepada hal yang ditanyakan, bahkan
dengan jalan mencobanya. Manfaat strategi ini
bagi menyelesaikan masalah yang tidak terlalu
banyak melibatkan konsep atau prinsip. Beberapa
langkah yang dapat dilaksanakn adalah: a)
identifikasi hal yang diketahui dan hal yang
ditanyakan dalam soal; b) memikirkan rumus
atau cara yang dapat menghubung kaitkan hal
yang diketahui dengan hal yang ditanyakan; c)
pilih rumus atau cara yang efektif bagi
menyelesaikan soal.
Contoh:
Dalam sebuah bas terdapat 30 penumpang dengan
seorang pemandu dengan berat purata masing-
masing x kg dan bagasi mempunyai berat (4x+8)
kg. Tentukan berat keseluruhan penumpang dan
bagasi jika x = 10.
Jawab :
Untuk menyelesaikan soal tersebut dengan
menggunakan strategi berpikir maju adalah
sebagai berikut:
(1). Informasi yang diketahui adalah, 30
penumpang, seorang pemandu, (4x + 8) kg
bagasi dan x = 15
(2). Hal yang ditanyakan adalah berat
keseluruhan penumpang dan bagasi
(3). Rumus yang digunakan adalah
Berat keseluruhan = [30x + x + (4x + 8)]
= [30x + x + 4x + 8]
= [35x + 8]
Jika harga x=10, maka berat keseluruhan
adalah = 358 kg

128 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


4) Strategi Berpikir Deduktif
Prosedur berpikir deduktif dalam penyelesaian
masalah adalah bermula dari sesuatu yang
bersifat umum untuk mendapatkan sesuatu yang
bersifat khas. Strategi ini bermanfaat bagi
menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan
penggunaan rumus umum, sifat-sifat umum, atau
syarat-syarat umum dari suatu prinsip pada
sesuatu yang bersifat khas. Beberapa langkah
yang dapat dilaksanakan adalah: a) identifikasi
sesuatu yang diketahui dan yang ditanyakan
dalam soal; b) pilih rumus, sifat, atau syarat
umum dari suatu prinsip yang mengkaitkan
sesuatu yang diketahui dengan sesuatu yang
ditanyakan; c) substitusi sesuatu yang diketahui
ke dalam rumus, sifat, atau syarat umum untuk
memperoleh jawapan dari hal yang ditanyakan.
Contoh:
Tentukan hasil pemangkatan dari (a + b + c)2
Jawab :
Untuk menyelesaikan masalah dengan strategi
berpikir deduktif adalah seperti berikut
(1). Hal yang diketahui (a + b + c)2 = [(a + b) + c]2
(2). Rumus yang dapat digunakan (x + y)2 = x2 +
2x y + y2
(3). Hasil pemangkatan adalah :
[(a + b) + c]2 = (a + b)2 + 2(a + b)c+ c2
= (a2 + 2a b + b2) + 2ac + 2bc + c2
= a2+ b2 + c2+ 2ab + 2ac + 2bc
3. Aspek Perencanaan
Perencanaan bermakna aktivitas atau perbuatan
merancang mengenai sesuatu (Noresah, 2005).
Berkenaan dengan pembelajaran, perencanaan
pengajaran dilakukan oleh guru sebelum melaksanakan

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 129


kegiatan pengajaran, manakala perencanaan
pembelajaran adalah persiapan yang dilakukan oleh
peserta didik sebelum mengikuti kegiatan
pembelajaran atau merancang mengenai persiapan
belajar berkenaan dengan materi yang hendak
dipelajarinya.
Berkenaan dengan pengajaran, guru mengingatkan
kembali berkenaan dengan strategi kognitif untuk
memahami masalah yang sesuai dapat dilaksanakan
untuk memahami materi yang sedang dipelajari dan
strategi kognitif yang sesuai untuk menyelesaikan
masalah yang sesuai dengan soal yang dihadapinya.
Sedangkan peserta didik hendaknya berusaha membuat
perencanaan yang sesuai untuk memahami maupun
menyelesaikan soal.
4. Aspek Mengevaluasi sendiri
Sebagaimana diuraikan sebelum ini, bahwa
pendekatan metakognitif dalam pembelajaran
merupakan kesadaran dari guru maupun belajar
terhadap aktivitas yang dijalankan. Salah satu aspek
yang dapat dikembangkan adalah mengevaluasi sendiri
terkait dengan proses yang dilakukan dalam
memahami permasalahan atau menyelesaikan soal.
Aktivitas mengevaluasi sendiri hendaknya selalu
dilakukan dalam kegiatan pembelajaran, hal ini sangat
bermanfaat bagi melihat kembali berbagai rancangan
dan pelaksanaan bagi memahami permasalahan dan
pemecahan soal sudah sesuai dengan tujuan yang
ditetapkan. Dengan melaksanakan mengevaluasi
sendiri hasil kerja yang dilaksanakn dapat menuju
kepada kesempurnaan, karena jika diperoleh kesalahan
maka dapat membetulkan kesalahan tersebut, dan jika
ditemukan hasil yang kurang sempurna, dapat
dilakukan penyempurnaan dari hasil kerja yang
dijalankan.

130 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


BAB BEBERAPA PENELITIAN
6 PENGEMBANGAN MODEL
PEMBELAJARAN

Sebuah paparan, hendaknya dapat diuraikan paparan


terdahulu yang pernah dijalankan, hal ini bermanfaat bagi
pengembang model untuk mengetahui kajian yang telah
dijalankan, sejauhmana hasil paparan yang telah dijalankan.
Hasil paparan terdahulu dapat dijadikan landasan bagi
pelaksanaan kajian berikutnya, dan juga sumbangan apa
yang dapat diberikan bagi paparan selanjutnya. Pada bagian
ini diuraikan beberapa penelitian yang berkenaan dengan
pengembangan model pembelajaran,

A. Pengembangan model pembelajaran kooperatif


matematika yang berorientasi pada keperibadian
peserta didik (Model PKBK) di Sekolah Dasar
Pengembangan model pembelajaran telah dilakukan
oleh beberapa peneliti, antaranya Dwi (2006), dalam disertasi
Doktor Pendidikan Matematika dengan judul sebagaimana
tersebut dan hasil yang diperoleh seperti berikut:
Proses pengembangan model PKBK yang digunakan
adalah diadaptasi dari model Plomp (1997) yang terdiri dari
empat tahap, yaitu: a) penelitian awal; b) tahap perencanaan;
c) tahap realisasi; dan d) tahap penilaian validitas, uji coba,
dan perbaikan. Pelaksanaan tahap pertama yaitu penelitian
awal sehingga tahap realisasi merupakan tahap proses
pengembangan model, termasuk menilai validitas dari
model. Setelah proses pengembangan dapat dijalankan, dan
telah memenuhi validitas dari model, selanjutnya adalah
melaksanakan uji coba untuk menilai mengenai praktis dan
keefektifan dari model.
Kriteria yang digunakan bagi menilai validitas adalah
memenuhi validitas isi dan konstruk yang ditentukan oleh

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 131


ahli. Sedangkan aspek praktis dipenuhi jika ahli dan guru
menyatakan bahwa model yang dibangun dapat
dilaksanakan dan hasil pemantauan tentang keterlaksanaan
pembelajaran menunjukkan kategori baik. Model
pembelajaran dikatakan memenuhi kategori keefektifan
jika tujuan yang diharapkan dari pembelajaran yang
dilaksanakan tercapai.
Penilaian praktis dan keefektifan model dijalankan
melalui dua kali uji coba. Dari uji coba pertama dapat
diketahui bahwa peringkat keterlaksanaan model PKBK
sebesar 91.42%, dan menurut kriteria keterlaksanaan,
keadaan ini termasuk dalam kategori sangat tinggi. Rincian
dari peringkat keterlaksanaan adalah seperti berikut; a) rata-
rata peringkat keterlaksanaan sebelum sintaks sebesar
90.00%; b) rata-rata peringkat keterlaksanaan sintaks sebesar
91.20%; c) rata-rata peringkat keterlaksanaan sistem sosial
sebesar 92.86%; dan d) rata-rata peringkat keterlaksanaan
prinsip reaksi sebesar 91.65%. Sedangkan dari uji coba
kedua dapat diketahui bahwa peringkat keterlaksanaan
model PKBK sebesar 92.36%, dan keadaan ini termasuk
dalam kategori sangat tinggi. Rincian dari peringkat
keterlaksanaan adalah seperti berikut: a) rata-rata peringkat
keterlaksanaan sebelum sintaks sebesar 90.0%; b) rata-rata
peringkat keterlaksanaan sintaks sebesar 91.8%; c) rata-rata
peringkat keterlaksanaan sistem sosial sebesar 94.6%; dan
d) rata-rata peringkat keterlaksanaan prinsip reaksi sebesar
93.0%.
Selain memiliki peringkat keterlaksanaan yang sangat
tinggi, perbaikan yang terjadi pada masa proses
pengembangan model PKBK ini juga tergolong kecil. Hal
ini sangat mungkin disebabkan oleh: a) penelitian teoritik
pendukung model PKBK yang kuat; b) penelitian empirikal
yang baik; dan c) pertimbangan yang matang dan umpan
balik yang baik dari ahli.
Berbagai penelitian teoritikal yang dilakukan antaranya
adalah: a) penelitian terhadap berbagai model

132 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


pembelajaran, terutama model pembelajaran kooperatif; b)
teori-teori kepribadian yang terkait dengan prestasi belajar;
dan c) teori yang terkait dengan pembelajaran, yang
meliputi: teori psikologi kognitif-konstruktivistik, psikologi
sosial, belajar aksi. Sedangkan penelitian empirik yang
dilakukan adalah analisis keadaan peserta didik, dan
analisis materi pembelajaran.
Penelitian teoritikal terhadap berbagai model
pembelajaran, kepribadian yang terkait dengan hasil belajar,
serta psikologi pembelajaran digunakan sebagai dasar
dalam penyusunan sintaks, sistem sosial, serta prinsip
reaksi. Sedangkan analisis keadaan peserta didik, dan
materi pembelajaran digunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam merancang sistem pendukung model
PKBK. Penyusunan dampak instruksional dan pengiring
didasarkan pada pertimbangan rasional mengenai dampak
yang muncul setelah dan selama pelaksanaan pembelajaran
berlangsung dengan menggunakan model PKBK.
Rancangan model PKBK tersebut kemudian dihantar
kepada para ahli untuk dilakukan penilaian dan umpan
balik bagi perbaikan.
Pengembangan model PKBK ini dilakukan secara
bersama-sama dengan pengembangan komponen
pembelajaran serta instrumen penelitian. Pengembangan
secara bersamaan tersebut mengandung kelemahan.
Kelemahan dimaksud muncul bila hasil-hasil penelitian
belum mencapai sesuai yang diharapkan. Sebagai contoh,
dalam uji coba model, ternyata belum dicapai hasil yang
efektif. Ketidakeefektifan model tersebut apakah disebabkan
oleh komponen yang kurang baik, ataukah instrumen
penelitian yang belum memenuhi validitas dan reliabilitas,
ataukah model pembelajarannya sendiri yang masih perlu
dilakukan perbaikan. Untuk mengurangkan hal yang
demikian, maka diperlukan suatu analisis yang teliti bahkan
berulang-ulang untuk memastikan penyebab ketidak
efektifan model. Pada penelitian ini, dari hasil uji coba

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 133


pertama diperoleh informasi bahwa ternyata tes formatif
yang digunakan perlu dilakukan perbaikan.
Sedangkan pengembangan komponen model
pembelajaran dilakukan mengikuti tahap-tahap
penyesuaian dari model Plomp (1997) seperti diuraikan
sebelum ini. Karena terbatasnya masa, maka komponen
pengajaran dan pembelajaran tersebut dibangun secara
bersama-sama dengan model PKBK. Hal ini mengandung
kelemahan, yaitu jika terjadi perubahan pada model
pembelajaran, maka komponen tersebut juga dimungkinkan
terjadi perubahan. Dalam penelitian ini perubahan kecil
yang terjadi pada model ternyata tidak perlu melakukan
perubahan besar pada komponen yang telah disusun.
Pada bagian ini dibangun komponen pembelajaran
yang sesuai dengan model PKBK, yaitu buku peserta didik,
rancangan pembelajaran, serta lembaran kerja peserta didik.
Dalam tahap penelitian awal, selain dilakukan analisis
materi, juga dilakukan penelitian terhadap keadaan peserta
didik. Hasil analisis materi dan keadaan peserta didik
sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan dan
pelaksanaan pembelajaran. Penyusunan komponen-
komponen tersebut serta pelaksanaan pembelajaran
mendasarkan diri pada hasil analisis yang dilaksanakan.
Penyusunan komponen pembelajaran yang sesuai
dengan model PKBK, selain mengikuti pedoman
penyusunan komponen yang baik, hal yang perlu
disesuaikan adalah pemberian peluang dan arahan sehingga
peserta didik mampu membangun pengetahuannya sendiri.
Konstruksi pengetahuan oleh peserta didik sendiri harus
menjadi perhatian utama dalam penyusunan komponen,
karena model PKBK sebagaimana model pembelajaran
kooperatif secara umumnya, memiliki basis
konstruktivisme.
Berdasarkan proses pengembangan komponen
pembelajaran, terjadi beberapa perbaikan terhadap

134 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


rancangan komponen. Perbaikan yang dilakukan
didasarkan atas umpan balik dari para ahli yang menilai
validitas, guru pelaksana dan hasil uji coba. Jenis perbaikan
yang dilakukan antaranya adalah: penyederhanaan kalimat,
pembetulan gambar dan kata, serta susunan penyajian.
Perbaikan juga dilakukan pada lembaran kerja peserta didik
yang peringkat konstruktivistiknya lemah menjadi lebih
kuat.
Pelaksanaan uji coba model PKBK dengan
menggunakan komponen pembelajaran tersebut diketahui
bahwa komponen pembelajaran sudah dapat berfungsi
sebagaimana yang diharapkan. Kegiatan pembelajaran
berlangsung sebagaimana yang direncanakan dalam
rancangan pembelajaran. Buku peserta didik dapat menjadi
sumber belajar bagi peserta didik sehingga peserta didik
dapat melakukan aktivitas belajarnya sesuai dengan model
PKBK. Demikian pula, lembaran kerja peserta didik yang
dapat menjadi sarana bagi peserta didik bekerja secara
kooperatif untuk menyelesaikan tugas-tugas kelompoknya,
sehingga peserta didik dapat mencapai tujuan-tujuan
belajarnya, baik tujuan akademik, afektif maupun sosial.
Manakala pengembangan instrumen penelitian yang
dijalankan adalah seperti berikut:Instrumen yang dibangun
dalam penelitian ini terdiri dari tujuh jenis instrumen, yaitu:
a) inventori kepribadian peserta didik; b) lembar observasi
pengesanan dominansi peserta didik; c) lembar pemantauan
aktivitas peserta didik dan guru; d) lembar observasi
ketrampilan kooperatif peserta didik; e) tes formatif; f)
lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran; dan
g) instrumen respon peserta didik.
Berdasarkan hasil pengembangan inventori
keperibadian peserta didik diperoleh instrumen yang
terdiri dari 17 item pernyataan yang memenuhi validitas
dan reliabilitas (dari 32 item). Item-tem pernyataan tersebut
ternyata sudah mencerminkan semua aspek dari dominansi
peserta didik. Masing-masing aspek (terdapat 5 aspek)

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 135


diwakili oleh 3 atau 4 item yang memenuhi validitas dan
reliabilitas.
Lembaran observasi keterampilan kooperatif peserta
didik dibangun berdasarkan aktivitas-aktivitas
keterampilan kooperatif peringkat awal, menengah, dan
tinggi. Lembaran tersebut terdiri aspek: a) bekerja dengan
bantuan lembaran kerja peserta didik; b) mengambil urutan
dan berbagi tugas; c) bertanya atau menjawab pertanyaan;
d) mendengarkan dengan aktif; e) menghargai sumbangan
atau pemikiran rekan; f) mendorong partisipasi; g)
menyelesaikan sebarang gangguan; dan h) menggunakan
kesepakatan. Kedelapan sub-aspek yang dinilai tersebut
dipilih dari aktivitas-aktivitas kooperatif dari Lundgren,
baik tingkat awal, menengah maupun tinggi.

B. Pengembangan Model Pembelajaran untuk


Menumbuhkan Kemampuan Metakognitif
Nurdin (2007) dalam disertasi Doktor Pendidikan
Matematika dengan judul. penelitian sebagaimana tersebut,
telah melaksanakan penelitian untuk memperoleh suatu
model pembelajaran matematika yang berkualitas, yaitu
model pembelajaran matematika untuk menumbuhkan
kemampuan metakognitif yang berkualitas melalui suatu
proses pengembangan. Hasil paparan dalam paparannya
adalah sebagai berikut:
Teori pengembangan yang digunakan untuk
mengembangkan model pembelajaran matematika untuk
menumbuhkan kemampuan metakognitif (model PMKM)
adalah modifikasi teori pengembangan Plomp (1999). Fase-
fase pengembangan yang ditempuh yaitu: a) fase penelitian
awal; b) fase perencanaan; c) fase realisasi; dan) fase
pengujian, evaluasi, dan perbaikan. Sintaks yang digunakan
dalam pembelajaran model PMKM, yaitu: a) penyampaian
tujuan pembelajaran dan pemberian motivasi; b)
penyampaian informasi dan pengetahuan strategi kognitif;
c) penyajian atau pengkonstruksian pengetahuan dan

136 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


keterampilan matematika; d) pelatihan strategi kognitif
pemecahan masalah, pengesanan pemahaman, dan umpan
balik; dan e) pelatihan starategi kognitif lanjutan.
Pelaksanaan pengembangan model dijalankan melalui dua
kali uji coba setelah model memenuhi syarat validitas.
Dapatan yang diperoleh dari kedua uji coba adalah seperti
berikut :
1. Uji coba 1 hasil yang dicapai yaitu: a) model PMKM
memenuhi praktis, tetapi masih ada beberapa umpan
balik dari pemantau yang perlu diperhatikan untuk
meningkatkan praktis model; b) model PMKM belum
efektif, karena keberhasilan klasikal belum tercapai dan
aktivitas peserta didik belum sesuai yang diharapkan
walau bagaimanapun respon peserta didik sudah positif
dan kemampuan guru mengurus pembelajaran
tergolong tinggi.
2. Uji coba 2 diperoleh hasil: a) model PMKM memenuhi
praktis, karena hampir semua aspek dalam komponen
model PMKM terlaksana seluruhnya; b) model PMKM
memenuhi keefektifan model, karena keberhasilan
klasikal telah tercapai, aktivitas sesuai yang diharapkan,
kemampuan guru mengurus pembelajaran tergolong
tinggi, dan respon peserta didik terhadap pembelajaran
sudah positif.
Model pembelajaran matematika untuk menumbuhkan
kemampuan metakognitif dengan sintaks: a) penyampaian
tujuan pembelajaran dan pemberian motivasi; b)
penyampaian informasi dan pengetahuan strategi kognitif;
c) penyajian atau pengkonstruksian pengetahuan dan
keterampilan matematika; d) pelatihan strategi kognitif
pemecahan masalah, pengesanan pemahaman, dan umpan
balik; e) pelatihan strategi kognitif lanjutan, memenuhi
kriteria validitas, praktis dan keefektifan model telah
diperoleh melalui suatu proses pengembangan. Oleh
karena itu, tujuan memperoleh model PMKM yang
berkualitas telahpun tercapai. Model PMKM merupakan

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 137


hasil pengembangan yang mencakup komponen-
komponen: rasional, teori pendukung, sintaks, prinsip
reaksi, sistem sosial, dan dampak pengajaran dan pengikut.

C. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika


secara Membumi
Ipung (2006) dalam disertasi Doktor Pendidikan
Matematika dengan judul pengembangan model
pembelajaran matematika secara membumi. Penelitian
dijalankan dengan tujuan untuk menghasilkan model
pembelajaran matematika secara membumi yang memenuhi
kriteria validitas, praktis dan keefektifan. Materi penelitian
dalam implementasi model dijalankan di SMPN 4 Malang.
Model adalah sahih jika: a) pengembangan model
berdasarkan teori yang kuat; b) terdapat ketekalan diantara
semua komponen dari model dan validitas dari model
dinilai oleh ahli. Sedangkan model dikatakan praktis jika:
a) ahli dan guru menyatakan bahwa model dapat
diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran; b)
peringkat keterlaksanaan model termasuk dalam kategori
tinggi.
Manakala keefektifan model jika memenuhi empat
aspek, yaitu: a) terdapat peningkatan hasil belajar yang
ditunjukkan dengan rata-rata hasil penilaian; b) aktivitas
peserta didik dalam kegiatan pembelajaran menunjukkan
hasil yang efektif; c) peserta didik memberikan respon
positif terhadap model yang dibangun; dan d) ahli dan guru
memberikan respon positif.
Hasil paparan diperoleh model pembelajaran
matematika secara membumi (PMB) yang terdiri dari: a)
tinjauan secara umum model PMB; b) landasan teoritikal
model PMB; c) sintaks atau tahapan pelaksanaan
pembelajaran model PMB; dan d) petunjuk pelaksanaan
pembelajaran. Selain itu, dilengkapkan juga dengan buku
peserta didik, buku guru dan lembaran kerja peserta didik.

138 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


Uji coba dilaksanakan selama dua kali, karena pada uji
coba pertama terdapat komponen yang belum berhasil.
Pelaksanaan uji coba kedua diperoleh hasil bahwa model
yang dibangun telah memenuhi syarat validitas, praktis, dan
keefektifan.
Hasil lain dari pelaksanaan pengembangan dan
implementasinya adalah diperolehnya pengenalan bilangan
bentuk akar dan sifat-sifatnya melalui pendekatan
geometris. Selain itu juga didapati informasi mengenai
dominannya pola pikir analogi dalam diri peserta didik,
yaitu memperlakukan suatu sifat dengan senantiasa sama
dengan sifat telah dimilikinya. Hasil lain yang merupakan
faktor terkait dan penghambat dalam implementasi model
PMB adalah seperti berikut:
1. Faktor pendukung implementasi model PMB adalah:
(i) setiap peserta didik memperoleh buku peserta didik;
(ii) tingginya semangat peserta didik; (iii) keadaan
dalam kelas yang menyenangkan; dan (iv) guru dalam
melaksanakan pengajaran mampu mengarahkan dan
memberikan motivasi kepada peserta didik dalam
memecahkan permasalahan.
2. Faktor penghambat implementasi PMB adalah: (i) masa
yang terbatas; (ii) kemampuan peserta didik beragam;
(iii) adanya kesukaran bagi mengembangkan buku
peserta didik; (iv) diperlukan persiapan guru yang
relatif lama; dan (v) mahalnya penyediaan buku peserta
didik.
3. Secara umum, guru dan ahli mempunyai umpan balik
yang positif terhadap implementasi model PMB
didalam kelas. Menurut guru, tugas melaksanakan
pembelajaran menjadi lebih ringan, namun diperlukan
persiapan yang lebih berat. Diperlukan pemahaman
guru yang lebih luas, sehingga diperlukan belajar lebih
dan selalunya membaca judul yang hendak diajarkan.
Selain itu tugas guru berasa lebih berat dalam mengurus

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 139


kelas, terutama jika peserta didik lebih aktif dalam
bertanya.
4. Selain kelemahan, diperoleh juga kelebihan model
PMB, yaitu: a) dapat melatih peserta didik menjadi lebih
kreatif dalam menyelesaikan permasalahan; b) dengan
menemukan sendiri konsep matematika, peserta didik
menjadi lebih baik dan mempunyai kemahiran dalam
menganalisis konsep matematika; dan c) bagi peserta
didik yang aktif, dapat menambah keahliannya untuk
belajar lebih mengenai judul yang sedang dipelajari,
namun bagi peserta didik yang pasif atau kurang pandai
semakin tertinggal dengan rakan yang lebih aktif.

D. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika


berdasrkan Konstruktivisme untuk Peserta Didik SMP
Cholis (2006) dalam penelitiannya yang berjudul
pengembangan model pembelajaran matematika
berdasarkan konstruktivisme untuk peserta didik SMP.
Pengembangan model yang dijalankan mengikut model am
pemecahan masalah pendidikan yang dikenalkan oleh
Plomp (1997), dan untuk menilai kualitas produk model
yang dibangun digunakan kriteria dari Nieveen (1999), yaitu
sahih, praktis, dan efektif. Materi penelitian sebagai
implementasi model dijalankan di SMPN 1 Malang.
Hasil penilaian validitas model menunjukkan bahwa
a) model yang dibangun dikembangkan melalui landasan
teori yang kuat; b) komponen-komponen model
mempunyai keterkaitan secara tetap. Setelah penilaian
validitas dari model dan komponennya telah dilakukan,
dijalankan uji coba untuk menilai praktis dan keefektifan
model. Terkait dengan praktis model, diperoleh hasil pada
uji coba pertama, yaitu a) rata-rata keterlaksanaan sintaks
lebih besar dari tiga; b) rata-rata keterlaksanaan sosial lebih
besar dari tiga; dan c) rata-rata keterlaksanaan prinsip reaksi
lebih besar dari tiga, sehingga peringkat keterlaksanaan
model dalam kategori baik. Sedangkan pada saat uji coba

140 Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif


kedua diperoleh, a) rata-rata keterlaksanaan sintaks lebih
besar dari tiga; b) rata-rata keterlaksanaan sosial lebih besar
dari tiga; dan c) rata-rata keterlaksanaan prinsip reaksi lebih
besar dari tiga, sehingga dalam uji coba kedua
keterlaksanaan model dalam kategori baik.
Manakala penilaian keefektifan model, diperoleh
bahwa model telah memenuhi keefektifan, yaitu guru
mengurus pembelajaran sesuai dengan model yang
dilaksanakan dengan baik. Didapati juga rata-rata aktivitas
peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yang sesuai
dengan kegiatan pembelajaran sebesar 85%. Rata-rata
persentase aktivitas peserta didik lebih besar dari 42.5%,
rata-rata hasil pekerjaan peserta didik pada lembaran kerja
peserta didik bernilai baik, rata-rata pencapaian hasil belajar
adalah baik. Selain itu, peserta didik dan guru memberikan
respon positif terhadap pelaksanaan pembelajaran
menggunakan model yang dibangun.
Pelaksanaan pembelajaran matematika yang dibangun
terdiri dari empat fase, yaitu: a) fase kesadaran; b) fase
operasional; c) fase refleksif; dan d) fase penyusunan
persetujuan.

Model Pembelajaran Matematika berbasis Metakognitif 141


D DAFTAR PUSTAKA

Abas G , (2004). Studi Peranan Pendidikan terhadap Pertumbuhan


Ekonomi Surabaya: Konaspi
Abd Rahim A.R.(2005). Profesionalisme Keguruan Prospek dan
Cabarannya. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan
Pustaka
Akhsanul In’am (2010b). Matematika SMP/MTs untuk PLPG
guru Matematika SMP/MTS. Malang: PSG Rayon 44
UMM
Amir ,T.R. (2005). Menjadi Guru Kaya. Bekasi: Pustaka Inti
Anderson, O.W. & Krathwohl, D.R., (2001). A Taxonomy For
Learning, Teaching, and Assessing (A Revision of Bloom’s
Taxonomy of Educational Objectives). New York:
Addision Wesley Longman, Inc.
Andreas, H. (2001). Pembelajaran di Era Serba Autonomi.
Jakarta:Kompas CLE
Arends, R(2001). Learning to Teach. Boston: Mc Graw Hill.
Asri, B ( 2005). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Beyer, B.K. (1991). Developing a Thinking Skills Program,
Boston:Allyn & Boston
Blakey, E. (1990). Developing Metacognition. ERIC
Clearinghouse on Information Resources. Item: EDO-IR-
90-6
Blase, J.,& Blase, J. (1996). Facilitative School Leadership and
Teacher Empowerment : Teachers’perspectives. Social
Psychology of Education. 1, 117-145.

142
Brooks, J.G. & Brooks, M.G. (1993). In Search of
Understanding: The Case for Constructivist Classrooms.
Virginia: Association for Supervision and Curriculum
Development.
Cabrera, G.A. (1992). A Framework for Evaluating the Teaching
of Critical Thinking. R.N. Cassel (ed). Education. 113 (1).
59-63
Cholis, S. (2006). Pengembangan Model Pembelajaran Matematika
beracuan Konstruktivisme untuk Siswa SMP. Disertasi S-
3 Pendidikan Matematika tidak dipublikasikan,
Universitas Negeri Surabaya
Chua Y.P. (2006). Kaedah dan Statistik Pendidikan, buku 1
Kaedah Kajian. Kuala Lumpur: McGraw Hill
Claudia A G (2005) Integrating Metacognition Instruction in
Interactive Learning Environments, Unpublished Thesis
Ph D. University of Sussex
Clea F. & Makoto, Y (2004). Lesson Study: A Japanese Approach
to Improving Mathematics Teaching and Learning.
London: Lawrence Erlbaum Associates Publishers
Costa, A.L.,(1985). Development Mind: A Resource Book for
Teaching Thinking. Alexandria: ASCD.
Dedi S. (1998). Mengangkat Citra dan Martabat Guru.
Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.
Dedi S. (2003). Guru di Indonesia, Pendidikan, Pelatihan dan
Perjuangannya sejak Zaman Kolonial hingga Reformasi.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Dirjen
Dikdasmen Direktorat Tenaga Kependidikan.
Dwi P U (2007). Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif
Matematika yang Berorientasi pada Kepribadian Siswa
(Model PKBK) di Sekolah Dasar Disertasi S-3 Pendidikan
Matematika tidak dipublikasikan,Universitas Negeri
Surabaya

143
E Mulyasa, (2005). Menjadi Guru Profesional Menciptakan
Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung:
Remaja Rosda Karya
Effandi Z, Norazah M N & Sabri A (2007). Trend Pengajaran
dan Pemelajaran Matematik. Kuala Lumpur: Utusan
Publication & Distrubution SDN BHD
Eggen & Kauchak (2009).Methods of Teaching: Promoting
Students Learning in K-12 Classrooms, New Jersey USA:
Pearson Education, Inc, Publishing as Allyn & Bacon.
Elliot, S.N. et. al (2000). Educational Psychology: Effective
Teaching and Effective Learning. Singapore: Mc Graw-
Hill
Fasli J. dan Dedi S. (2001). Reformasi Pendidikan dalam Konteks
Autonomi Daerah, Yogyakarta: Adi Cita Karya Nusa
Fink, A. (1998). Conducting Research Literature Review: From
Paper to Internet. Thousand Oaks, CA: Sage Publication
Fiona L (2004) Using the plenary to develop reflective and
Critical thinking and to enhance metacognitive
Awareness: student teachers’ perceptions andSchool-
based experiences of the daily Mathematics lesson
plenary. McNamara, O. (Ed.) Proceedings of the British
Society for Research into Learning Mathematics 24(2) June
2004
Firestone W.A. & Pennell. J.R. (1993). Teacher Commitment,
Working Conditions and Differential Inentives
Policies Review of Educational Research 63: 489-525
Flavell, J. (1979). Metacognition and Cognitive Monitoring,
American Psychologist, 34,906-911.
Fortunato, I., Hecht, D., Tittle, C., & Alvarez, L. (1991).
Metacognition and Problem Solving, Arithmetic
Teacher, 39(4), 38-40.

144
Fudyartanto (2002). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan
Baru, Yogyakarta: Global Pustaka Ilmu
Golgin, Gerald A (1990). Epistimology, Constructivism, and
Discovery Learning in Mathematics. Journal for Research
in Mathematics Education, Monograph. 4: 31-47, NCTM.
Grinnell, Richard M. (1988). Social Work Research and
Evaluation. Springfield: F.E. Peacock Publishers, Inc.
Hill D (1990). Order in the Classroom. Teacher, 1, 70-77
Hopkins, C.D. (1980). Understanding Educational Research: An
Inquiry Approach, Columbus, Ohio:Charles E. Merrill
Publishing Company
Hudoyo, H.,(2005). Kapita Selekta Pembelajaran Matematika,
Malang:UMPress
Ipung Yuwono (2006). Pengembangan Model Pembelajaran
Matematika secara Membumi, Disertasi S-3 Pendidikan
Matematika tidak dipublikasikan, Universitas Negeri
Surabaya
Joyce, Bruce & Weil. (2009). Models of Teaching. New Jersey
USA: Pearson Education, Inc, Publishing as Allyn &
Bacon.
Keichi, Shigematsu., (2000). Metacognition in Mathematics
Education in Japan. Japan: JSME, July 2000.
Lerch, C. (2004). Control decisions and personal beliefs: their
effect on solving mathematical problems, Journal of
Mathematical Behavior, 23, 21-36.
Liputo, Y. (1996). Kamus Filsafat. Bandung: Rosda Karya
Livingston, J., (1997). Metacognition: An overview. Retrieved
Sept. 23, 2010 from http://www.gse.buffalo.edu/fas/shuell/
cep564/Metacog.htm
Lok C H (2008). Pemikiran Kritis dan Logik. Pulau Pinang:
Penerbit USM

145
Maeroff, G.I. (1988). The Empowerment of Teacher: Overcoming
the Crisis of Confidence, New York: L Teachers College
Press
Mardzelah M (2007). Sains Pemikiran dan Etika. Kuala lumpur:
PTS Professional
Marks, H. M., & Louis, K. S. (1997). Does Teacher
Empowerment Affect The Classroom? The
Implications of Teacher Empowerment for
Instructional Practice and Student Academic
Performance. Educational Evaluation and Policy Analysis,
19, 245-275.
Martinez (1998). What is problem solving? Phi Delta
Kappa,605-609
Mayadiana, D. (2005). Pembelajaran dengan Pendekatan
Diskursif untuk Mengembangkan Kemampuan Berfikir Kritis
Mahasiswa Calon Guru SD. Tesis pada PPs Universitas
Pendidikan Indonesia. Bandung: Tidak diterbitkan.
Muhammad. N (2000). Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan
Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran. Pusat
Pendidikan Sains dan Matematika Sekolah. Unesa-
Surabaya.
Nana S.S. (2005). Metode Penelitian Pendidikan, Bandung:
Remaja Rosdakarya.
National Council of Teachers of Mathematics (1980). An
Agenda for Action: Recommendations for school mathematics
of the 1980s. Reston,VA: The Council.
National Council of Teachers of Mathematics (2000).
Principles and standards for school mathematics.Reston,
VA: NCTM.
National Council of Teachers of Mathematics. (1991).
Professional standards for teaching mathematics. Reston,
VA: The Council

146
Nieveen, Nienke, (1999), Prototyping to Reach Product
Quality. In Jan Van den Akker, R.M Branch, K.
Gustafson, N. Nieveen, & Tj. Plomp. Design Approaches
and Tools in Education and Training. Dordrecht: Kluwer
Academic Publisher.
Nik Aziz Nik Pa (2008). Isu-isu Kritikal dalam Pendidikan
Matematik, Kuala lumpur: Penerbit Universiti Malaya
Noor Shah S (2006). Pengetahuan Pedagogi Kandungan (PCK)
dan Amalannya Di Kalangan Guru Matematik Sekolah
Menengah. Tesis Ph.D tidak dipublikasikan, Universiti
Pendidikan Sultan Idris.
Noor Shah S. Et al (2004). Perlakuann Metakognitif Pelajar
Tingkatan empat Aliran Sains dalam Penyelesaian Masalah
Matematik Tambahan. Kajian Jabatan Matematik tidak
dipublikasikan, Fakulti Sains dan Teknologi Universiti
Pendidikan Sultan Idris.
Noraini Idris (2005). Pedagogi dalam Pendidikan Matematik,
Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributor
Sdn.Bhd
Noresah binti Baharom (ed), (2002). Kamus Dewan edisi 3.
Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka
Nurdin (2007) Model Pembelajaran Matematika untuk
Menumbuhkan Kemampuan Metakognitif (Model PMKM).
Disertasi S-3 Pendidikan Matematika tidak
dipublikasikan, Universitas Negeri Surabaya
Nurhadi & Agus G.S, (2003). Pembelajaran Kontekstual dan
Penerapannya dalam KBK, Malang: Penerbit UM
O’Neil, H.F. & Abedi, J. (1996). Reliability & Validity of State
Metacognitive Inventory: Potential for Alternative
Assesment. Journal of Educational Research, 89, 234-245
Paul S (1997), Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan,
Yogyakarta : Kanisius

147
Paul S, dkk, (2002). Reformasi Pendidikan, sebuah Pengantar
Yogyakarta: Kanisius.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik
dan Kompetensi Guru Retrieved Oktober 8, 2006 from
http://www.depdiknas.go.id
Plomp, Tjeerd. (1997). Educational & Training Systems Design.
Introduction. Enschede: University of Twente, Faculty
of Educational Science and Technology Enschede.
Podhorsky, C.& Moore, V. (2006). Issues in Curriculum:
Improving instructional Practice Through Lesson
Study. http://www.lessonstudy.net Retrieved 2
Nopember 2010.
Poh, S. H (2006). Kemahiran Berpikir, Kuala lumpur:
Kumpulan Budiman
Polit, D.E. & Hungler, B.P. (2000). Nursing Research Principles
and Methods 6th Ed. Philadelphia: J.B. Lippincott
Puskur (2005). Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika.
Jakarta:Balitbang Depdiknas
Saito, E, (2006). Development of School Based in Service
Teacher Training Under The Indonesian Mathematics
and Science Teacher Education Porject, Improving
Schools, vol.32 (2): 171-184
Schraw, G. (2000). Issues in the Measurement of Metacognition.
Lincoln NE: Buros Institute of Mental Mesaurements
and Erlbaum Associates.
Schraw, G., & Sperling-Dennison, R. (1994). Assessing
metacognitive awareness, Contemporary Educational
Psychology, 19, 460-470.
Slavin, Robert E. (1995). Cooperative Learning. Theory,
Reasearch, and Practice. Second Edition. Boston : Allyn
& Bacon Co.

148
Slavin, Robert E. (2000). Educational Psychology: Theory and
Practice. Boston: Allyn & Bacon Publishers.
Sobur, A. (2003). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia
Sri Wardhani (2008) Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran
Matematika SMP/MTs untuk Optimalisasi Tujuan Mata
Pelajaran Matematika, Yogyakarta: Pusat
Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan
Tenaga Kependidikan Matematika
Sternberg R (1998) Abilities are forms of developing
expertise. Educational Researcher, vol 27, no 3, pp 11-
20.
Subanji (2007). Proses Berpikir Penalaran Kovariasional Pseudo
dalam Mengkonstruksi Grafik Fungsi Kejadian Dinamik
Bekebalikan. Disertasi S-3 Pendidikan Matematika,
tidak dipublikasikan Universitas Negeri Surabaya.
Sufean H., (2002). Dasar Pendidikan Progresif Perspektif Makro
dan Mikro, Kuala Lumpur: Utusan Publication &
Distribution, Sdn Bhd.
Suharsimi, A (2009). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta:
Bumi Aksara
Sumar H, dkk (2006). Lesson Study Suatu Strategi untuk
Meningkatkan Keprofesonalan Pendidik (Pengalaman
IMTEP-JICA), Bandung: UPI PRESS
Suparlan (2004). Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dari Konsepsi
sampai dengan Implementasi, Yogyakarta: Hikayat.
Suparlan (2005). Menjadi Guru Efektif, Yogyakarta: Hikayat.
Topik Hidayat (2010). Teori, Paradigma, Prinsip dan Pendekatan
Pembelajaran MIPA dalam Konteks Indonesia, Bandung:
JICA-FPMIPA UPI
Turmudi, (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.
Bandung; JICA-UPI

149
Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Retrieved Oktober 8, 2006 from http://
www.depdiknas.go.id
Undang-undang No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
Retrieved Oktober 8, 2006 from http://
www.depdiknas.go.id
Wahyudin (2007). Strategi Belajar Mengajar Matematika.
Bandung: UPI
Weissberg & Buker, (1990). Writing Up Research, Experimental
Research Report Writing of Sudents of English.
ERnglewoods Cliffs, NJ: Prentice Hall Regents
Wina S. (2008). Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum
Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group

150
G Glosarium
A Belajar
Alur Proses perubahan
Rangkaian aktivitas perilaku sebagai
untuk melaksanakan dampak dari
suatu program pengalaman yang
Aljabar dijalankannya
Cabang matematika D
yang dapat dicirikan Desain
sebagai generalisasi Proses untuk
dari bidang aritmatika membuat dan
Asimilasi menciptakan obyek
Proses kognitif dan baru
adaptasi pengalaman Dampak
baru ketika seseorang Pengaruh yang
memadukan persepsi ditimbulkan karena
kedalam struktur adanya perlakuan
yang ada E
Aspek Efektivitas
Bagian dari sesuatu Keberhasilan suatu
B proses kegiatan
Behaviorisme F
Aliran psikologi Fakta
belajar yang utama Sesuatu yang benar-
dalam belajar adalah benar ada atau
adanya input berupa terjadi
stimulus dan Fase
mempunyai dampak
kepada munculnya Tahapan yang
respon berupa dilakukan dalam
stimulus sebuah aktivitas

151
H Komponen
Heuristik Bagian dari
Cara menemukan keseluruhan
jawapan atas suatu Konstruktivisme
masalah dengan cara Aliran psikologi
seperti menggambar, belajar yang
membuat gambar, membangun
atau analogi. pengetahuan dengan
I cara memberi makna
Indikator pada pengetahuan
Sesuatu yang yang sesuai dengan
memberikan petunjuk pengalamannya
Instrumen Korelasi
Alat yang digunakan Hubungan antara dua
untuk hal
mengumpulkan data Kurikulum
K Seperangkat materi
Kepribadian yang diajarkan
mengenai suatu
Kompetensi guru keahlian
yang terdiri dari sifat
mantap, stabil, M
dewasa, bijak, Media
berwibawa, sehingga Sarana untuk
dapat menjadi teladan menjelaskan sesuatu
bagi peserta didik pengertian
Keseimbangan Memori
Keserasian antara Kesadaran akan
kedua proses pengalaman masa
asimilasi dan lampau yang hidup
akomodasi kembali
Kritis
Selalu berusaha untuk
menganalisis

152
Metode P
Cara kerja yang Pedagogik
bersistem untuk Kompetensi guru
memudahkan yang merupakan
pelaksanaan suatu kemampuan
kegiatan guna mengelola
mencapai tujuan yang pembelajaran yang
ditentukan meliputi pemahaman
Metakognitif terhadap peserta
Kesadaran untuk didik, perencanaan,
mengetahui apa yang pelaksanaan dan
diketahui dan yang evaluasi
tidak diketahui pembelajaran serta
Model pengembangan
peserta didik untuk
Dalam kajian ini mengimplementasikan
yangdimaksud adalah berbagai potensi yang
model pembelajaran, dimilikinya
yaitu suatu rancangan
yang dapat Perencanaan
digunakan untuk Aktivitas atau
menyusun perbuatan merancang
kurikulum, mengenai sesuatu
merancang materi Pembelajaran
pembelajaran, dan Proses yang
menjadi panduan dijalankan untuk
baik di dalam kelas memperoleh ilmu
maupun di luar kelas pengetahuan

153
Profesional Sensasi
Kompetensi guru Kemampuan
yang mempunyai menangkap apa yang
kemampuan dilihat atau didengar
penguasaan materi Sintaks
pembelajaran secara Tahapan aktivitas
luas dan mendalam yang diwujudkan
yang memungkinkan dalam rangkaian
membimbing peserta aktivitas
didik memenuhi pembelajaran.
Standard kompetensi
Sistem Sosial
Persepsi
Hubungan antara
Aktivitas yang guru dan peserta
dilakukan untuk didik dalam proses
mengetahui melalui pembelajaran
kegiatan membaca,
mendengar, dan Skemata
memahami apa yang Sekumpulan konsep
diharap sesuatu soal yang digunakan
tersebut. ketika berinteraksi
R dengan lingkungan
Realisasi Strategi
Proses mewujudkan Tindakan khusus
sesuatu yang dilakukan oleh
seseorang untuk
Respon memudahkan,
Reaksi dari suatu mempercepat, lebih
perlakuan menikmati, lebih
Reliabilitas mudah memahami
Tingkat ketetapan secara langsung, lebih
hasil pengukuran efektif dan dapat
S diubah menjadi
keadaan yang baru
Sadar
Tahu dan mengerti

154
Sosial
Kompetensi guru
yang mempunyai
kemampuan
berkomunikasi secara
efektif dengan peserta
didik, teman sejawat,
dan masyaraka
T
Teori
Asas dan hukum
umum yang menjadi
dasar ilmu
pengetahuan
U
Ujicoba
Pengujian sesuatu
sebelum dilaksanakan
V
Validitas
Kesahihan suatu
instrumen sebelum
digunakan

155
B Biodata Penulis

Akhsanul In’am adalah Ketua


Program Magister Kebijakan dan
Pengembangan Pendidikan Universiti
Muhammadiyah Malang, lahir di
Kediri tahun 1964. Pendidikan S-1
Pendidikan Matematika FKIP UMM
tahun 1988, S-1 Tadris Matematika
Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel
Malang tahun 1990, S-2 Manajemen
Program Pasca Sarjana UMM tahun 1996, Ph.D Kebijakan
Pendidikan dari Universiti Malaya diselesaikan tahun 2009,
dan Ph.D Pendidikan Matematika di Universiti Pendidikan
Sultan Idris Malaysia selesai pada tahun 2012.
Beberapa aktivitas yang dijalankan sebagai seorang
dosen baik sebagai pembentang maupun menulis buku
telahpun dijalankan. Karya yang dihasilkan dalam lima
tahun terakhir dalam penulisan buku adalah 1) Ringkasan
Matematika SMA diterbitkan UMM Press Malang tahun
2008; 2) Kalkulus 1 diterbitkan UMM Press Malang tahun
2008; 3) Bermatematik dengan Balita diterbitkan UMM Press
Malang tahun 2009; 4) Menggagas Makna Menggapai Cita
diterbitkan Aditya Media Malang tahun 2010. Sedangkan
bagian dari buku yang berjudul Peranan Matematika dalam
Penentuan Arah Kiblat dalam buku Muhammadiyah dan
Tantangan Abad Baru, Percikan Pemikiran dari Negeri Jiran
diterbitkan Matan Press Yogyakarta dan PCIM Kualalumpur
tahun 2010. Manakala karya ilmiah yang dibentangkan pada
seminar maupun workshop yang dijalankan dalam
peringkat kebangsaan mahupun antara bangsa antaranya
adalah 1) The Dimentions of Teacher Empowerment for
Improvement of School Quality dibentangkan pada Seminar

156
Antarabangsa Pendidikan di UPI Bandung tahun 2008; 2)
Peningkatan Kualitas Pembelajaran Matematika melalui
Kolaborasi Lesson Study dan Metakognitif dibentangkan
pada Seminar Nasional Matematik di Universiti Negeri
Jember tahun 2009; 5) The Role of Mathematics to Determine
Kiblat Direction, dibentangkan pada 5th International
Conference on Mathematics, Statistics and Their
Applications di Universiti Andalas tahun 2009; 7) Kemana
Arah Solat Kita? Peranan Matematik dalam Penentuan Arah
Kiblat dan Implikasinya, dibentangkan pada Seminar
Nasional Matematik di Universiti Negeri Malang tahun
2009; 9) Menyoal Belajar dan Pembelajaran, dibentangkan
pada Pekerti bagi Dosen UMM tahun 2009; 10) Peningkatan
Profesionalisme Guru dibentangkan pada Workshop
Mahasiswa Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri Kediri tahun 2009; 11) Peningkatan Kualitas
Pengajaran dan Pembelajaran melalui Pengkajian
Pembelajaran berbasis Metakognitif, dalam Jurnal Salam
Program PPS UMM tahun 2009; 12) Dimensi - dimensi
Pemberdayaan Guru dibentangkan pada workshop Guru -
guru Muhammadiyah di Lingkungan Perguruan
Muhammadiyah Kepanjen tahun 2009; 13) Penulisan
Artikel Ilmiah, dibentangkan pada workshop Guru
Matematika di Kabupatan dan kota Blitar tahun 2010; 14)
Peranan Matematika dan Implikasinya dalam Penentuan
Arah Kiblat dan Penentuan Awal bulan dibentangkan pada
acara Pengajian PD Muhammadiyah Balikpapan 2010.
Email: ahsanul_in@yahoo.com

157