You are on page 1of 18

HOSPITALITY

“ FRONT OF THE HOUSE PADA DOUBLE SIX LUXURY HOTEL”

Oleh:

I Komang Agus Sukariawan 1304205024

Putri Dwi Anggraeni 1304205080

Putu Bunga Asmarani W. 1304205092

Ni Komang Indra Mahayani 1304205096

Putu Ayu Vindytha Amanda P. 1304205121

Jurusan Arsitektur

Fakultas Teknik

Universitas Udayana

2016-2017
1
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat
dan nikmatNya kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Arsitektur Indonesia yang
membahas tentang tempat ibadah umat Kong Hu Cu. Semoga dengan hadirnya makalah ini
dapat dijadikan pegangan dan sumber informasi untuk para pembaca dan untuk
memperlancar saya dalam mengikuti proses belajar mata kuliah Arsitektur Indonesia.

Tentunya makalah ini masih belum sempurna, karena makalah ini masih memerlukan
penjelasan yang lebih rinci lagi. Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat berguna bagi
seluruh pembacanya, dan semoga informasi dalam makalah ini dapat diterapkan dalam
kehidupan nyata.

Denpasar, 01 April 2016

Penulis

DAFTAR ISI
2
Kata Pengantar .................................................................................................................. 2

Daftar Isi ............................................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................. 4

1.1 Latar Belakang............................................................................................................... 4

1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................... 5

1.3 Tujuan Penelitian........................................................................................................... 5

1.4 Manfaat Penelitian......................................................................................................... 5

BAB II Tinjauan Teori


........................................................................................................................................
6

2.1 Sejarah Agama Konghucu............................................................................................. 6

2.2 Kelnteng Sebagai Tempat Ibadah Agama Kong Hu Cu................................................ 7

2.3 Ciri-ciri Tempat Ibadah Agama Kong Hu Cu................................................................ 8

BAB III Data dan Pembahasan


........................................................................................................................................
10

3.1 Data Klenteng Kong Cu Bio.......................................................................................... 10

3.2 Pembahasan Klenteng Kong Cu Bio............................................................................. 12

BAB IV Penutup
........................................................................................................................................
16

4.1 Kesimpulan.................................................................................................................... 16

4.2 Saran.............................................................................................................................. 16

Daftar Pustaka...................................................................................................................... 17

Lampiran.............................................................................................................................. 18

3
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Mata kuliah Arsitektur Indonesia merupakan salah satu prasyarat yang harus
ditempuh oleh penulis untuk menyelesaikan program sarjana pada Jurusan Arsitektur
Fakultas Teknik, Universitas Udayana. Mata kuliah ini memberikan penggambaran
tentang bagaimana arsitektur yang ada dan berkembang di Indonesia. Umumnya
perkembangan arsitektur di Indonesia terlihat jelas sesuai dengan perkembangan
jaman, ada periode - periode atau pembabakan yang sangat jelas jika menelusuri
sejarah corak arsitektur di Indonesia. Perkembangan arsitektur di Indonesia dapat
diurutkan menjadi ; arsitektur vernakular, arsitektur klasik, arsitektur masa
perabdaban, arsitektur kolonial, dan arsitektur modern (pasca kemerdekaan).

Pada masa perabdaban, arsitektur di Indonesia berkembang sesuai dengan


kebudayaan yang menyebar pada suatu tempat, misalnya mulai masuknya kebudayaan
islam di Pulau Jawa membuat berapa perubahan terhadap bentukan dan cara pandang
masyarakat terhadap arsitekturnya. Di Indonesia hingga sekarang ini terdapat enam
agama/kepercayaan yang telah diakui oleh pemerintah. Ke enam agama ini sudah ada
dan berkembang di Indonesia sejak jaman kerajaan. Pada umumnya agama yang
berkembang di Indonesia saat ini merupakan pengaruh dari tempat lain (bersumber
dari tempat lain) yang dibawa dan disebarkan oleh para pedagang atau pendeta pada
jaman dulu ketika mereka datang ke Indonesia. Setiap agama memiliki kepercayaan
tersendiri termasuk bagaimana dalam membangun tempat ibadahnya masing – masing
sebagai sarana yang dapat digunakan oleh umat untuk memuja tuhan-nya.
Klenteng sebagai tempat ibadah bagi umat beragama Kong Hu Cu, merupakan
arsitektur yang dilhasilkan akibat masuknya kebudayaan Kong Hu Cu ke Indonesia.
Di Bali terdapat beberapa tempat ibadah khusus untuk umat beragama Kong Hu Cu
salah satunya adalah Klenteng Kongcu Bio yang terletak di Denpasar. Klenteng
Kongcu Bio ini merupakan objek yang digunakan oleh penulis sebagai objek dari
4
tugas ini. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai corak arsitekturnya, dalam
penyusunan tugas ini penulis akan membahas secara mendalam mengenai bagaimana
bentuk dan filosofi yang ada pada Klenteng Kongcu Bio ini.

I.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dalam penulisan ini akan
diuraikan beberapa rumusan masalah yang nantinya dapat dijadikan pedoman dalam
penulisan, sehingga permasalahan itu terfokus. Adapun rumusan masalahnya adalah :

a. Bagaimana bentuk dan filosofi tempat ibadah Kong Hu Cu pada umumnya?


b. Bagaimana bentuk dan filosofi yang terdapat pada Klenteng Kongcu Bio, apakah
sudah sesuai dengan konsep bentuk dan filosofi tempat ibadah Kong Hu Cu pada
umumnya?

I.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah :

a. Mengetahui lebih dalam tentang bentuk dan filosofi tempat ibadah Kong Hu Cu pada
umumnya.
b. Dapat mendeskripsikan dan memahami bagaimana bentuk dan filosofi yang
diterapkan pada Klenteng Kongcu Bio.

1.4 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat yang dikemukakan dalam penulisan ini yaitu :

a. Sebagai dasar untuk menanamkan dan memberikan pemahaman mengenai bagaimana


bentuk dan filosofi tempat ibadah Kong Hu Cu pada umumnyya.

b. Dapat dijadikan acuan sebagai sumber bacaan, khususnya mahasiswa arsitektur untuk
menambah wawasan dan khasanah pengetahuan di bidang arsitektur.

5
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Sejarah Agama Kong Hu Cu

Agama merupakan sistem yang mengatur tentang tata keimanan maupun kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa, selain itu agama juga berisi tentang tata kaidah
antaramanusia dengan manusia maupun manusia dengan lingkungannya. Pada era order baru
agama yang diakui oleh pemerintah ada 5 agama yaitu agama Hindu, Islam, Kristen, Katolik,
dan Buddha, tetapi pada orde reformasi keluarlah Surat Keputusan (SK) yang menyatakan
bahwa agama Hong Hu Cu sudah diakui di Indonesia.

Setiap agama tentunya memiliki tempat ibadah masing-masing, seperti Islam di


Masjid, Hindu di Pura, Kristen di gereja, Katolik di Gereja, Buddha di Vihara, dan Konghucu
di Klenteng. Banyak masyarakat yang bingung dengan perbedaan antara agama Buddha dan
Kong Hu Cu tetapi jika dilihat dari tempat ibadah sebenarnya sudah sangat berbeda. Pada
umumnya masyarakat awam banyak yang tidak mengetahui perbedaan dari Klenteng dan
Vihara banyak yang beranggapan bahwa keduanya merupakan kedua tempat yang sama
hanya penyebutannya saja yang berbeda tetapi anggapan tersebut salah, Klenteng dan Vihara
pada dasarnya memiliki perbedaan dalam arsitektur, umat dan fungsi. Jika ditinjau dari segi
arsitektur maka Klenteng pada dasarnya memiliki arsitektur tradisional Tionghoa dan
berfungsi sebagai tempat aktivitas masyarakat selain sebagai tempat spiritual, sedangkan
Vihara memiliki desain arsitektur lokal dan biasanya hanya berfungsi sebagai tempat spiritual
saja.

Perbedaan antara Klenteng dan Vihara menjadi semakin rancu akibat peristiwa
Gerakan 30 September pada tahun 1965. Pada saat itu semua yang berhubungan dengan
Tionghoa dilarang keras berada di Indonesia tidak hanya kebudayaan saja tetapi juga
kepercayaan yang memiliki sangkut paut dengan Tionghoa sehingga Klenteng-Klenteng yang
ada pada saat iu terpaksa ditutup dan banyak yang mengganti nama sebagai Vihara dan
mencatatkan diri pada naungan agama Buddha. Setelah masa Ore Baru selesai dan digantikan
oleh Orde Reformasi banyak Vihara yang awalnya merupakan klenteng kembali berani

6
menggunakan nama Klenteng seperti semula atau menamakan diri sebagai tempat beribadah
Tridharma.

2.2 Klenteng Sebagai Tempat Ibadah Kong Hu Cu

Terdapat beberapa nama yang digunakan untuk menyebutkan tempat ibadah Kong Hu
Cu yaitu Litang, Miao (Bio), kongzi miao, Khongcu Bio, dan Klenteng. Litang selain
digunakan sebagai tempat sembahyang juga dapat dijadikan tempat kebaktian berkala,
biasanya kebaktian diaakan setiap hati minggu maupun setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan
imlek. Berbeda dengan Litang, Miao dan Klenteng biasanya lebih fokus menjadi tempat
sembahyang kalaupun ada kegiatan tambahan seperti kebaktian maka terdapat ruangan
khusus yang disediakan terpisah agar tak mengganggu aktivitas sembahyang. Klenteng selain
digunakan sebagai tempat ibadah agama Kong Hu Cu juga dapat digunakan oleh agama Tao
dan Buddha Mahayana dan bukan hanya sekedar sebagai tempat ibadah tetapi dapat menjadi
tempat bersejarah untuk memahami sejarah sosial masyarakat Tionghoa yang berada
disekitarnya. Pada jaman penjajahan belanda pemerintah kolonial memilih seseorang untuk
menjadi opsir Tionghoa, opsir tionghoa dan Klenteng memiliki hubungan yang erat karena
tugas dari opsir adalah mengawasi masyarakat, mengurus Klenteng-Klenteng, membiayai
upacara keagamaan dan mengurusi upacara pemakaman. Untuk menghargai jasa para opsir
tidak jarang dapat ditemui prasasti pada beberapa Klenteng dan pada prasasti tersebut dapat
ditemukan nama-nama dari opsir yang telah menjaga dan merawat Klenteng pada masa
penjajahan.

Klenteng pada umumnya terdiri dari 4 bagian, yaitu :

 Halaman Depan
Halaman depan Klenteng biasanya memiliki luasan yang cukup luas karena
pada bagian ini digunakan untuk tempat berlangsungnya upacara keagamaan.
Alas dari halaman depan ini biasanya dilapisi dengan ubin tetapi ada pula yang
hanya berupa tanah yang diperkeras. Tata cara ibadah di Klenteng tidak seperti
di Masjid maupun gereja yang dilakukan bersama-sama oleh semua umat
tetapi mayoritas umat Klenteng menjalankannya secara pribadi jadi tidak
terdapat cukup ruang untuk menampung seluruh umat. Upacara yang
diselenggarakan pada halaman depan Klenteng biasanya adalah Cap Gomeh,
wayang tionghoa, dan Barongsai. Halaman depan biasanya terdiri dari tempat
pembakaran kertas, tiang-tiang pagoda, dan sepasang singa batu.
7
 Ruang Suci Utama
Ruangan ini merupakan bagian utama dari sebuah Klenteng, pada ruangan ini
terdapat altar utama yang terdapat pada dinding belakang ruang suci utama ini.
Dewa utama terletak di altar ini. Di depan altar terdapat meja yang digunakan
sebagai tempat pendupaan, di depan tempat pendupaan terdapat batang hio
yang selalu mengepulkan asap. Meja di depan latar juga digunakan sebagai
tempat meletakan sesajen tertentu berupa buah-buahan, kue-kue dan makanan
yang biasanya akan penuh pada hari keagamaan. Bagian pintu saat masuk ke
ruang suci utama biasanya dihiasi dengan lukisan dua orang penjaga, tetapi
banyak Klenteng yang membiarkan pintunya terbuka.
 Ruang Tambahan
Ruangan-ruangan tambahan biasanya dibangun seelah bangunan utama selesai
dibangun, bahkan tidak jarang ruang tambahan dibangun setelah bangunan
Klenteng lama berdiri ini diakibatkan karena adanya kebutuhan yang terus
meningkat dari Klenteng yang bersangkutan sehingga membutuhkan ruangan
tambahan.
 Bangunan Samping
Seperti namanya bangunan ini berada disamping ruangan utama yang
memiliki fungsi untuk menyimpan peralatan yang sering digunakan pada
upacara keagamaan.

2.3 Ciri Arsitektur Tempat Ibadah Kong Hu Cu

Terdapat beberapa ciri-ciri arsitektur dari orang Tionghoa yang juga diterapkan pada
Klenteng menurut David G. Khol yaitu :

 Courtyard
Courtyard merupakan ruang terbuka yang memiliki fungsi memasukan cahaya
alami dan digunakan sebagai ventilasi
 Bentuk atap yang khas
Bentuk atap arsitektur Tionghoa memiliki ciri khasyang kuat yaitu denggan
ujung yang melengkung ke atas
 Elemen struktural yang terbuka
Ukir-ukiran srta konstruksi kayu sebagai bagian dari ciri khas arsitektur
Tionghoa. Detail konstruksi pertemuan antara balok dan kolom dibuat sangat
indah sehingga tidak perlu ditutupi
 Warna yang khas

8
Warna yang umum dipakai pada arsitektur Tionghoa aalah merah dan kuning,
warna merah biasanya diaplikasikan pada interior bangunan. Warna merah
menyimbolkan warna api dan darah yang dhubungkan dengan kemakmuran
dan keberuntungan. Selain itu merah juga merupakan simbol kebajikan dan
kebenaran

BAB III

DATA & PEMBAHASAN

3.1 Data
9
3.1.1 Identitas Objek

Nama Tempat Ibadah : Klenteng Kongcu Bio

Agama : Kong Hu Cu

Alamat : Jl. Bisma No.5,Denpasar-Bali

Tahun dibangun s/d selesai : awal tahun 1977 - oktober 1977

3.1.2 Dokumentasi Observasi

b c

10
d
d

Gambar 3.1
a) suasana dari luar klenteng, b) Pintu gerbang Klenteng, c) hiasan dinding,
d) beberapa pernak – pernik klenteng , e) area utama pemujaan, f) suasana
tempat pemujaan
Sumber : Dokumen observasi Maret , 2016

3.2 Pembahasan

3.2.1 Klenteng Kongcu Bio sebagai Tempat Ibadah

11
Klenteng Kongcu Bio merupakan salah satu tempat ibadah agama Kong
Hu Cu yang ada di Denpasar. Selain sebagai tempat ibadah klenteng ini juga
memiliki beberapa fungsi antara lain :
1. Sebagai tempat untuk Kebaktian Rohani
2. Sekolah agama (Pendalaman agama)
3. Tempat untuk belajar Bahasa Mandarin
4. Tempat untuk pelatihan pernafasan
5. Tempat untuk pelatihan Barongsai
dan masih ada beberapa fungsi lagi yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan
yang dilakukan di tempat ini.

3.2.2 Bentuk dan Filosofi pada Klenteng Kongcu Bio

Gambar 3.2
Bentuk Klenteng Kongcu Bio
Sumber : Dokumen observasi Maret , 2016

Bentuk arsitektur Klenteng umumnya sangat berbeda dengan bentuk


arsitektur pada Vihara, meskipun sebagaian besar masyarakat melihatnya sebagai
sesuatu yang sama namun jika ditinjau lebih dalam lagi dari segi arsitekturnya
maka Klenteng pada dasarnya memiliki arsitektur tradisional Tionghoa dan
berfungsi sebagai tempat aktivitas masyarakat selain sebagai tempat spiritual,
sedangkan Vihara memiliki desain arsitektur lokal dan biasanya hanya berfungsi
sebagai tempat spiritual saja. Agama Kong Hu Cu berasal dari daerah cina
sehingga bentuk bangunan agama Kong Hu Cu pada umumnya menggunakan atap
melengkung seperti daerah cina. Namun pada Klenteng Kongcu Bio ini tidak
ditemukannya bentuk atap yang melengkung. Bentuk yang digunakan adalah
12
bentuk atap limas segi empat biasa, namun atapnya bertumpang sama seperti
arstitektur tempat Kong Hu Cu pada umumnya.

Gambar 3.3
Bentuk atap yang bertumpang sama dengan yang ada di Cina
Sumber : Dokumen observasi Maret , 2016 &
http://www.tionghoa.info/klenteng/

Klenteng Kongcu Bio memiliki gerbang yang sangat khas, menurut


keterangan narasamber, memang bentuk tempat ibadah agama Kong Hu Cu
memiliki banyak kemiripan dengan tempat ibadah di Cina, itu karena memang apa
yang ada di sini diadopsi dari bentuk arsitektur yang ada di Cina. Gerbang pada
bagian depan Klenteng Kongcu Bio ini juga termasuk salah satunya.

13
Gambar 3.4
Bentuk gerbang sama dengan apa yang ada di Cina
Sumber : Dokumen observasi Maret , 2016 & http://www.tionghoa.info/klenteng/

Klenteng Kongcu Bio ini juga menggunakan warna – warna yang


umumnya dijumpai pada tempat ibadah Kong Hu Cu. Menurut keterangan
narasumber warna – warna tersebut memiliki arti dan filosofi tersendiri. Warna
merah melambangkan kebahagian atau kehidupan. Selain menggunakan unsur
warna merah pada klenteng juga menggunakan unsur warna hitam yang berarti
kebijaksanaan, warna putih yang berarti kesucian, dan unsur warna kuning yang
berarti keagungan. Pada umumnya bagian atas terdapat hiasan berupa patung naga
dan bagian depan terdapat patung singa penjaga pintu. 2 naga yang biasanya
dijumpai di atap bangunan ibadah Kong Hu Cu melambangkan kewibawaan,
kekuasaan, dan kemegahan dari bangunan klenteng, sedangkan patung singa pada
bagian depan berfungsi sebagai penjaga pintu yang artinya “berwibawa”. Pada
Klenteng Kongcu Bio ini tidak ditemukan adanya hiasan berupa patung naga dan
patung singa.

Gambar 3.5
Bentuk luar klenteng
tanpa hiasan naga dan
singa
Sumber : Dokumen
observasi Maret ,
. 2016.
14
Menurut keterangan narasumber pada umumnya Klenteng yang ada di
Indonesia mempunyai kiblat ke arah Cina. Tempat persembahyangan agama Kong
Hu Cu tidak menggunakan orientasi, orientasi boleh kemana saja. Bangunan
klenteng sebaiknya diletaknya dekat dengan Jalan raya yang diartikan lancar tanpa
hambatan mudah dijangkau, Sungai atau laut yang artinya aliran air yang tidak bisa
diputuskan dan langgeng, Gunung yang artinya rejekinya meningkat. Tempat
ibadah Kong Hu Cu mempunyai tingkat kesucian yang mirip dengan agama hindu.
Tingkat kesucian tersebut ada 3 yaitu bagian luar adalah bagian umum, semua
orang boleh mengaksesnya, bagian tengah adalah tempat untuk kegiatan
keagamaan seperti diskusi tentang agama, pada bagian tengah umat tidak boleh
berbicara kasar. Dan yang terakhir bagian paling dalam adalah tempat
persembahyangan, dan hanya diperuntukan bagi umat yang ingin bersembahyang.

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan akhir dari data yang sudah
dijelaskan pada bab 2 dan bab 3 untuk tempat beribadah agama konghucu yaitu klenteng.
Kesimpulan yang didapat , yaitu:
15
 Bentuk pada klenteng tempat beribadah agama Kong Hu Cu menggunakan
arsitektur Tionghoa (Cina) karena agama ini berasal dari cina sehingga bentuk
bangunanan mengikuti arsitektur tempat asalanya. Klenteng pada umumnya
menggunakan 2 naga yang melambangkan kewibawaan dan didepan gerbang yang
menjadi penjaga pintu dan menggunakan atap melengkung. Tingkat kesucian
agama konhucu hampir sama dengan kepercayaan agama hindu. Tingkat kesucian
ada 3 yaitu area paling luar, area tengah dan area paling dalam.

 Pada klenteng biasanya mengunakan warna-warna yang cerah seperti merah,


kuning, putih dan hitam. Tempat beribadah agama konghucu berkiblat kearah cina
dan tidak mempunyai orientasi sehingga pada persembahyangan agama konghucu
tidak memikirkan orientasi.

 Hasil observasi pada klenteng Kongcu Bio sudah menggunakan warna-warna


yang cerah, memiliki areal tingkat kesucian. Klenteng ini berada dekat dengan
jalan raya sehingga mudah untuk dijangkau. Bangunan Klenteng kongcu Bio tidak
menggunakan atap naga kembar dan penjaga pintu berupa singa.

4.2 Saran

Adapun saran yang diberikan oleh penulis, yaitu:

 Pada klenteng kongcu bio yang berada di Jl. Bisma sebaiknya menggunakan 2
naga dan penjaga pintu yang berupa singa. Atap pada klenteng seharusnya
diaplikasikan atap melengkung agar bangunan klenteng menggunakan arsitektur
dari daerah asalnya.L

DAFTAR PUSTAKA

Frick, Heinz. 1998. Dasar – dasar Eko-Arsitektur : Yogyakarta , Kanisius


Frick, Heinz. 2006. Seri Eko-Arsitektur 2 Arsitektur Ekologis : Yogyakarta , Kanisius

http://www.nahimunkar.com/merebaknya-new-age-movement/
http://www.hdindonesia.com/info-kesehatan/sick-building-syndrome
http://www.hdindonesia.com/info-kesehatan/sick-building-syndrome

http://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur_ekologi
16
http://arsitekturdanlingkungan.blogspot.com/2012/10/ekologi-arsitektur.html

http://ridozah.wordpress.com/2012/11/05/arsitektur-sadar-lingkungan/

http://lusterspot.blogspot.com/2011/08/arsitektur-berwawasan-lingkungan.html

Ridozah, 2012, Arsitektur Sadar Lingkungan, (dalam


https://ridozah.wordpress.com/2012/11/05/arsitektur-sadar-lingkungan/)

Zeiher,L. 1995. The Ecology of Architecture : Newyork, Whitney Library of Desain.

LAMPIRAN

Biodata Narasumber:

Nama : Nusan bagus Hendra W.

Umur : 53

Pekerjaan: Wiraswasta

Alamat : Jl. By Pass Ngurah Rai Sanur

Belia menganut agama konghucu

17
18