Sie sind auf Seite 1von 14

PROPOSAL MINI

1. PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP PENINGKATAN


PENGETAHUAN IBU DAN CAPAIAN IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA
BAYI USIA 0-11 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS COT GIREK
KECAMATAN COT GIREK KABUPATEN ACEH UTARA
2. HUBUNGAN PENGETAHUAN REMAJA DENGAN SIKAP REMAJA TERHADAP
NARKOBA DI SMA NEGERI 1 COT GIREK KECAMATAN COT GIREK
KABUPATEN ACEH UTARA
3. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU RUMAH TANGGA DENGAN
UPAYA PENCEGAHAN DBD” DI GAMPONG BATU XII KECAMATAN COT
GIREK KABUPATEN ACEH UTARA

Oleh

YUNIZAR

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) GETSEMPENA


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
COT GIREK ACEH UTARA
2017
Proposal Mini
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Peningkatan Pengetahuan Ibu dan Capaian
Imunisasi Dasar Lengkap Pada Bayi 0-11 Bulan di Wilayah kerja Puskesmas Cot Girek
Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara

A. Latar Belakang

Pembangunan bidang kesehatan diindonesia saat ini mempunyai beban ganda (double

burden). Penyakit menular masih merupakan masalah, sementara penyakit degeratif juga muncul

sebagai masalah. Penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administrasi, sehingga

menyulitkan pemberantasannya. Dengan tersediannya vaksin yang dapat mencegah penyakit

menular tertentu, maka tindakan pencegahan untuk mencegah berpindahnya penyakit dari satu

wilayah kewilayah lain dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat dan dengan hasil yang efektif.

Program imunisasi merupakan salah satu upaya untuk melindungi penduduk terhadap

penyakit tertentu. Program imunisasi diberikan kepada populasi yang dianggap rentan terjangkit

penyakit menular, yaitu bayi, balita, anak-anak, wanita usia subur dan ibu hamil. Sebagai salah satu

kelompok yang menjadi sasaran program imunisasi, setiap bayi wajib mendapatkan imunisasi dasar

lengkap yang terdiri dari satu dosis BCG, tiga dosis DPT-HB dan atau DPT-HB-Hib, empat dosis

polio, dan satu dosis campak (Kemenkes, 2016).

Program imunisasi pada bayi bertujuan agar setiap bayi mendapatkan imunisasi dasar secara

lengkap. Keberhasilan seorang bayi dalam mendapatkan imunisasi dasar tersebut diukur melalui

indikator imunisasi dasar lengkap. Capaian indikator ini di Indonesia pada tahun 2015 sebesar

86,54%. Angka ini belum mencapai target renstra pada tahun 2015 yang sebesar 91%. Indikator lain

yang diukur untuk menilai keberhasilan pelaksanaan imunisasi yaitu Universal Child Immunization

(UCI) desa/kelurahan. Desa/kelurahan UCI adalah gambaran suatu desa/kelurahan dimana ≥ 80%

dari jumlah bayi (0-11 bulan) yang ada didesa/kelurahan tersebut sudah mendapat imunisasi dasar

lengkap (Kemenkes, 2016).

Provinsi aceh mendapatkan raport buruk dalam masalah cakupan imunisasi dasar lengkap.

Provinsi aceh menduduki peringkat empat terbawah dengan cakupan imunisasi dasar lengkap
dengan hanya mencapai 67,05% , dan peringkat ketiga terbawah provinsi dengan desa/kelurahan

UCI dengan cakupan hanya 67,56% terkait capaian desa UCI pada tahun 2013-2015 (Kemenkes,

2016).

Pada tahun 2015 dari 23 kabupaten/kota yang ada di provinsi aceh hanya 12 kabupaten/kota

yang mencapai target desa UCI 80%, sedangkan Kabupaten Aceh Utara hanya mampu mencapi

62% desa UCI (Dnkes Provinsi Aceh, 2016).

Menurut Aslinar, (2016), vaksin sering ditakuti masyarakat aceh karena mengandung bahan

kimia yang dikhawatirkan membahayakan kesehatan. Ditambah lagi dengan bermunculannya

kelompok antivaksin yang menyebarkan bahaya imunisasi secara luas kepada masyarakat,

menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran. Banyak para orang tua yang terpengaruh setelah

membaca informasi dari buku dan berita yang disebar oleh pegiat antivaksin, dan memutuskan

untuk tidak memberikan imunisasi kepada anaknya. Hal ini tentu saja meyebabkan angka cakupan

imunisasi semakin berkurang. Berbagai isu yang dilempar oleh pegiat antivaksin antara lain bahwa

imunisasi merupakan konspirasi yahudi yang bertujuan melenyapkan umat. Isu lain yang dilempar

dan sangat mempengaruhi masyarakat muslim diindonesia umumnya dan di Aceh khususnya, yaitu

haramnya vaksin. Persoalan yang dikaitkan dengan persoalan isu haram ini yaitu pemakaian enzim

babi dalam pembuatan vaksin. Konseling dari tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk

mengantisipasi semakin merebakmya isu tersebut. Hal ini menjadi tugas para petugas kesehatan

untuk memberikan informasi yang valid, dan mengedukasi masyarakat (Serambi Indonesia, 2016).

Beredarnya vaksin palsu di Bogor jawa Barat juga dapat menurunkan minat masyarakat

untuk melakukan imunisasi pada anaknya. Vaksin palsu tentunya mempunyai efek yang tidak bagus

bagi tubuh manusia, begitupun dengan isu beredarnya vaksin tersebut memberikan akibat tersendiri

bagi masyarakat. Menurut Media Yulizar, MPH Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh,

ditakutkan efek dari beredarnya isu tentang vaksin palsu ini adalah menurunnya minat masyarakat

untuk melakukan imunisasi. Hal tersebut dikarenakan masyarakat akan merasa ragu dan enggan
melakukan imunisasi, melihat vaksin yang digunakan belum dipercayai keasliannya (Klik

kabar.com, 2016).

Dengan beredarnya berita tentang vaksin palsu, membuat sebagian orang tua bayi di

kabupaten aceh barat resah. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat menyatakan sudah

menerima laporan dari beberapa unit fasilitas kesehatan bahwa masyarakat enggan bayi mereka

diimunisasi (Antara News.Com, 2016).

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimanakah pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi usia 0-11 bulan

diwilayah kerja Puskesmas Cot Girek Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara sebelum

diberikan pendidikan kesehatan.

2. Bagaimanakah capaian imunisasi dasar lengkap pada bayi 0-11 bulan diwilayah kerja

Puskesmas Cot Girek Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara sebelum diberikan

pendidikan kesehatan.

3. Bagaimanakah pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi usia 0-11 bulan

diwilayah kerja Puskesmas Cot Girek Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara setelah

diberikan pendidikan kesehatan.

4. Bagaimanakah capaian imunisasi dasar lengkap pada bayi 0-11 bulan diwilayah kerja

Puskesmas Cot Girek Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara setelah diberikan

pendidikan kesehatan.

5. Adakah pengaruh pendidikan kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan ibu tentang

imunisasi dasar lengkap pada bayi usia 0-11 bulan diwilayah kerja Puskesmas Cot Girek

Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara.

6. Adakah pengaruh pendidikan kesehatan terhadap peningkatan capaian imunisasi dasar lengkap

pada bayi usia 0-11 bulan diwilayah kerja Puskesmas Cot Girek Kecamatan Cot Girek

Kabupaten Aceh Utara.


C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan ibu dan capaian

imunisasi dasar lengkap pada bayi usia 0-11 bulan diwilayah kerja Puskesmas Cot Girek

Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi usia 0-11

bulan diwilayah kerja Puskesmas Cot Girek Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara

sebelum diberikan pendidikan kesehatan.

b. Mengidentifikasi capaian imunisasi dasar lengkap pada bayi 0-11 bulan diwilayah kerja

Puskesmas Cot Girek Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara sebelum diberikan

pendidikan kesehatan.

c. Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi usia 0-11

bulan diwilayah kerja Puskesmas Cot Girek Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara

setelah diberikan pendidikan kesehatan.

d. Mengidentifikasi capaian imunisasi dasar lengkap pada bayi 0-11 bulan diwilayah kerja

Puskesmas Cot Girek Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara setelah diberikan

pendidikan kesehatan.

e. Mengidentifikasi pengaruh pendidikan kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan ibu

tentang imunisasi dasar lengkap pada bayi usia 0-11 bulan diwilayah kerja Puskesmas Cot

Girek Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara.

f. Mengidentifikasi pengaruh pendidikan kesehatan terhadap peningkatan capaian imunisasi

dasar lengkap pada bayi usia 0-11 bulan diwilayah kerja Puskesmas Cot Girek Kecamatan

Cot Girek Kabupaten Aceh Utara


Proposal Mini

Hubungan pengetahuan remaja dengan sikap remaja terhadap narkoba di SMA Negeri 1 Cot

Girek Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara

A. Latar Belakang

Saat ini korban pengguna narkoba di Indonesia berkisar kurang lebih sebanyak

2.000.000 jiwa dan hanya 10.000 yang masuk di tempat rehabilitasi. Data tersebut menunjukkan

hanya sekitar 0,5 % korban yang bersedia berobat. Selain itu, diperkirakan setiap harinya

masing-masing korban mengkonsumsi zat terlarang itu sekitar 20 mg. Kalau benar, jumlah yang

dihabiskan pada setiap bulan mencapai 3,98 kg atau 4 kg, dan jika pergramnya sesenilai Rp

600.000 dalam perhari, berarti uang yang dibelanjakan oleh para korban perbulannya mencapai

angka Rp 18.000.000 (Hawari, 2002).

Di Indonesia, masalah penyalahgunaan narkoba menjadi perhatian berbagai kalangan.

Mulai dari pemerintah, LSM, Ormas, bahkan masyarakat juga turut serta membicarakan tentang

bahaya narkoba. Hampir semuanya mengingatkan sekaligus menginginkan agar masyarakat

Indonesia, khususnya kaum remaja (generasi muda) untuk tidak sekali-kali mencoba dan

mengkonsumsi barang haram yang bernama narkoba (Ahmadi, 2007).

Saat ini jumlah penyalahgunaan narkoba meningkat drastis. Tidak hanya di Kabupaten/

Kecamatan/Kelurahan yang bebas dari narkoba. Kasus ini bagaikan gunung es, yang tampak

hanya ada diatas permukaan. Bagian terbesar dibawah permukaan tidaklah tampak. Bahkan

menurut data WHO, jika ada 1 kasus, maka sesungguhnya ada 10 kasus ditempat tersebut

(Ahmadi, 2007 ).

Semakin mengkhawatirkan kita ternyata para korban penyalahgunaan narkoba tersebut

adalah anak-anak remaja kita yang menjadi penerus keberlangsungan bangsa ini. Sebagaimana

kita ketahui, bahwa generasi muda ada pilar (tiang besar) dari keberlangsungan sebuah bangsa,

dan mereka adalah matahari yang nanti akan memberikan sinar atau warna Indonesia dimasa
yang akan datang. Penyalahgunaan narkoba dikalangan remaja tidak hanya terjadi di perkotaan,

akan tetapi masuk ke dalam wilayah terpelosok sekalipun. Berbagai kasus terungkap membuat

kita para orang tua, guru, dan orang-orang yang peduli akan keberlangsungan negeri ini menjadi

miris. Karena bagaimana wajah generasi nanti jika hal tersebut tidak kita cegah sejak dini

(Ahmadi, 2007 ).

Sampai saat ini kejahatan dan penyalahgunaan narkoba di Indonesia masih mengancam

remaja meskipun Indonesia sudah berkomitmen bebas narkoba dan HIV AIDS pada 2015.

Ancaman tersebut terlihat dari trend jumlah pengguna narkoba di kalangan pelajar dan

mahasiswa yang meningkat. Hal ini sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan Badan

Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan Universitas Indonesia tahun 2008

menunjukkan bahwa ada peningkatan jumlah pengguna narkoba sebesar 22,7%. Dari sejumlah

1,1 juta di tahun 2006 menjadi 1,35 juta di tahun 2008. Hal ini telah membuktikan telah terjadi

stagnansi upaya penurunan pengguna narkoba di Indonesia. Diakuinya memang sangat sulit

untuk melakukan pencegahan penggunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa. Karena

peredaran narkoba juga semakin gencar dibarengi perkembangan teknologi produksi narkoba di

Indonesia. Hal ini sebagimana data BNN 2008 menyebutkan bahwa ada 3,6 juta penyalahguna

narkoba di indonesia. Dimana 41% diantara mereka pertama kali mencoba narkoba di usia 16-

18 tahun (BNN, 2008).

Sedangkan menurut data Pusdatin Kesos Tahun 2002 jumlah korban penyalahgunaan

narkoba tercatat sebanyak 23.660 orang. Fakta yang paling memprihatinkan adalah semakin

banyaknya remaja yang memulai perkenalannya dengan narkoba pada usia yang sangat muda,

yaitu : menghisap rokok pada usia 6 tahun dan menggunakan obat-obatan / heroin / narkoba

jenis lain pada usia 10 tahun. Hal lain yang juga perlu mendapat perhatian yang serius adalah

semakin meningkatnya populasi penderita HIV/AIDS di kalangan pecandu, narkoba dengan

cara menggunakan jarum suntik. Penyalahgunaan narkoba melalui jarum suntik saat ini telah

menjadi pilihan yang diminati di kalangan pengguna narkoba, dimana pengguna narkoba
menganggap menghisap atau menghirup narkoba sebagai hal yang tidak ekonomis karena

sebagian besar narkoba terbuang menjadi asap. Inilah alasan utama mengapa pengguna narkoba

beralih ke penyuntikan. Menurut laporan saat ini ada 50 % - 78 % pengguna narkoba jarum

suntikan adalah salah factor terjadinya pengidap HIV (Djauhari, 2002).

Kepala Badan Narkotika Nasional Propinsi Aceh, mengatakan jika penggunaan narkoba

dikalangan remaja Aceh terus meningkat, bukan tak mungkin ancaman lost generation, bahkan

10 tahun mendatang, negeri ini akan mengalami peristiwa strategis. Sebuah bangsa yang tidak

memiliki generasi muda handal karena salah satunya akibat menggunakan narkotika,” Menurut

ujar Saidan kecemasan dan kekhawatiran terhadap narkotika di masyarakat Aceh sangat

beralasan. Selain peredarannya yang sulit dibendung, korban yang harus direhabilitsikan bahkan

yang meninggal pun semakin banyak (Modus aceh. 2010).

Remaja adalah sumber daya manusia yang merupakan tulang punggung penerus

generasi bangsa di masa mendatang. Remaja adalah mereka yang berusia 10-20 tahun, dan

ditandai dengan perubahan dalam bentuk dan ukuran tubuh, fungsi tubuh, psikologi dan aspek

fungsional. Dari segi umur remaja dapat dibagi menjadi remaja awal/early adolescence (10-13

tahun), remaja menengah/middle adolescence (14-16 tahun) dan remaja akhir/late adolescence

17-20 tahun (Behrman, 2004).

Pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “Apa”.

Apabila pengetahuan mempunyai sasaran tertentu, mempunyai metode atau pendekatan untuk

mengkaji obyek tersebut sehingga memperoleh hasil yang dapat disusun secara sistematis dan

diakui secara umum, maka terbentuklah disiplin ilmu (Notoatmodjo, 2007).

Upaya pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi korban narkoba adalah mengadakan

program kegiatan yang memberikan atau menambah pengetahuan dan pengertian tentang

narkoba, kegunaan dan bahayanya, dan menghasilkan sikap dan prilaku yang berkaitan dengan

penyalahgunaan narkoba. Dalam rangka mengembangkan kemampuan individu dalam

mengatasi gejolak dan permasalahan untuk tidak menggunakan narkoba diperlukan berbagai
pertimbangan yang menyangkut tentang, program pendidikan kesehatan yang terencana,

terintegrasi dengan kurikulum sekolah, baik pemerintah maupun swasta dengan tujuan untuk

mencegah penyalahgunaan narkoba (Hawari, 2002).

Pencegahan melului jalur pendidikan merupakan harapan pemecahan masalah yang

sangat membantu untuk berperan dalam mengurangi berkembangnya masalah penyalahgunaan

narkoba. Penyuluhan merupakan salah satu bentuk pendidikan kesehatan, pada hakikatnya

penyuluhan adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada

remaja dan masyarakat, sehingga memperoleh penetahuan kesehatan yang lebih baik khususnya

mengenai narkoba yang akhir berdampak berdampak prilaku. (Notoatmodjo, 2003)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dibuat suatu rumusan masalah yaitu

bagaimana” Hubungan Pengetahuan remaja dengan sikap remaja terhadap narkoba di SMA

Negeri 1 Cot Girek Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Untuk mengetahui “Pengaruh Pengetahuan remaja dengan sikap remaja terhadap narkoba di

SMA Negeri 1 Cot Girek Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara.

2. Tujuan khusus

a) Mengidentifikasi pengetahuan remaja tentang narkoba di SMA Negeri 1 Cot Girek

Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara.

b) Mengidentifikasi sikap remaja tentang narkoba di SMA Negeri 1 Cot Girek Kecamatan

Cot Girek Kabupaten Aceh Utara

c) Mengidentifikasi pengaruh pengetahuan remaja terhadap sikap remaja tentang narkoba


Proposal Mini

Hubungan tingkat pengetahuan ibu rumah tangga dengan upaya pencegahan dbd” di Batu
XII kecamatan cot girek kabupaten aceh utara

A. Latar Belakang

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh

infeksi virus Dengue yang menempati posisi penting dalam deretan penyakit infeksi yang

masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Penyakit ini nyaris ditemukan diseluruh

belahan dunia terutama di negara tropik dan subtropik baik secara endemik maupun epidemik

dengan outbreak yang berkaitan dengan datangnya musim hujan (WHO, 2009).

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan suatu penyakit endemik akut yang

disebabkan oleh virus yang ditransisikan oleh Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penderita

yang terinfeksi akan memiliki gejala berupa demam ringan sampai tinggi, disertai dengan sakit

kepala, nyeri pada mata, otot dan persendian hingga perdarahan spontan (WHO, 2009)

Menurut Word Health Organization (1995) populasi di dunia diperkirakan berisiko

terhadap penyakit DBD mencapai 2,5 milyar terutama yang tinggal di perkotaan di negara

tropis dan subtropis. Saat ini juga diperkirakan ada 50 juta infeksi Dengue yang terjadi

diseluruh dunia setiap tahun. Diperkirakan untuk Asia Tenggara terdapat 100 juta kasus demam

Dengue (DD) dan 500.000 kasus Dengue Hemorr Fever (DHF) yang memerlukan perawatan

di rumah sakit dan 90% penderitanya adalah anak-anak yang usia nya kurang 15 tahun dan

jumlah kematian oleh penyakit DHF mencapai 5% dengan perkiraan 25.000 kematian setiap

tahunnya (WHO, 2009)

Data dari seluruh dunia menunjukan Asia menepati urutan pertama dalam jumlah

penderita DBD setiap tahunnya. Sementara itu, terhitung sejak tahun 1968 hingga 2009, WHO

mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara dan

tertinggi nomor dua di dunia setelah Thailand (Depkes RI, 2010)


Di Asia Tenggara termasuk Indonesia epindemik DBD merupakan problem abadi dan

penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak-anak. Hasil studi epidemiologi

menunjukkan bahwa penyakit ini terutama dijumpai pada anak-anak di bawah usia 15 tahun,

tetapi dalam dekade terakhir ini terlihat ada kecenderungan peningkatan proporsi penderita

DBD pada golongan dewasa dan tidak dikemukakan perbedaan signifikan dalam kerentanan

terhadap serangan DBD antara gender (Djunaedi, 2006).

Penyakit DBD menunjukan fluktuasi musiman, biasanya meningkat pada musim hujan

atau beberapa minggu setelah hujan. Pada awalnya kasus DBD memperlihatkan siklus 5 tahun

sekali selanjutnya mengalami perubahan menjadi 3 tahun, 2 tahun dan akhirnya setiap tahun

diikuti dengan adanya kecenderungan peningkatan infeksi virus Dengue pada bulan-bulan

tertentu. Hal ini terjadi, kemungkinan berhubungan erat dengan perubahan iklim dan

kelembaban, terjadi migrasi penduduk dari daerah yang belum ditemukan infeksi virus Dengue

ke daerah endemis penyakit virus Dengue atau dari perdesaan ke perkotaan terutama pada

daerah yang kumuh pada bulan-bulan tertentu (Soegijanto, 2008).

Penyakit DBD merupakan penyakit endemis di Indonesia, sejak pertama kali ditemukan

pada tahun 1968 di Surabaya dan Jakarta, jumlah kasus terus meningkat baik dalam jumlah

maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadik terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB)

setiap tahun, KLB yang besar pada tahun 1998 di laporkan dari 16 Propinsi dengan Insiden

Rate (IR) 35,19 per 100.000 penduduk dan Case Fatality Rate (CFR) 2,0%, kemudian menurun

pada tahun 1991 dengan IR 10,17 per 100.000 penduduk dan kembali meningkat pada tahun

2001 dengan IR 15,99 per 100.000 penduduk dan kembali menurun pada tahun 2002 yaitu IR

19,24 per penduduk dan meningkat tajam kembali pada tahun 2003 yaitu IR 23,87 per 100.000

penduduk. Data ini menunjukan DBD di Indonesia menjadi fenomena yang sangat sulit diatasi

dimana kejadian DBD setiap tahun nya berfluktuasi (Depkes RI, 2010)

Menurut Depkes RI (2009) pada tahun 2008 dijumpai kasus DBD di Indonesia

sebanyak 137.469 kasus dengan CRF 0,86% dengan IR sebesar 66,48 per 100.000 dan pada
tahun 2010 Indonesia menempati urutan tertinggi kasus DBD di ASEAN yaitu sebanyak

156.086 kasus, dengan kematian 1.358 orang (Kompas, 2010). Tahun 2011 kasus DBD

mengalami penurunan yaitu 49.486 kasus dengan kematian 403 orang (Kemkes RI 2011).

Kementrian Kesehatan melalui Dirjen Pengendalian Penyakit mengungkapkan hingga

November 2011 telah terjadi 404 kasus kematian akibat DBD di 31 Propinsi. Angka ini lebih

rendah di bandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1.358 kasus di 33 Propinsi. Penurunan

ini yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, yang makin menurun sejak pertama kali kasus

DBD di Indonesia ditemukan tahun 1968. Jika diambil persentasinya, tingkat kematian DBD

tahun 2011 adalah 0,82% (Kemkes RI 2011).

Kasus penularan DBD sebenarnya juga mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu,

dari 65,70 per 100.000 penduduk menjadi 20.86 per 100.000 penduduk. Namun dibandingkan

tahun-tahun sebelumnya, grafik tidak selalu turun, melainkan sangat bevariasi kadang tinggi

kadang rendah. Perlu dipahami bahwa DBD bukan hanya menjadi masalah di Indonesia saja,

tapi juga di seluruh ASEAN dan beberapa negara yang lain. Bukan Indonesia saja yang naik

turun (Kemkes RI 2011).

Di Propinsi Nanggro Aceh Darusalam angka insiden DBD sebesar 0,21 per 10.000

penduduk dengan (CFR) sebesar 5,4% rata-rata Angka Bebas Jentik (ABI) sebesar 78% (Profil

Kesehatan Aceh 2012).

Upaya-upaya pencegahan seperti Program Pemberatansan Sarang Nyamuk (PSN)

Abatasisasi, dan Fogging, sudah sering dilaksanakan oleh masyarakat itu sendiri ataupun oleh

pihak instansi pemerintah, namun kenyataan penyakit tersebut masih tetap muncul bahkan

mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Disamping itu juga diduga kuat ada pengaruh

pada aspek lingkungan Fisik, lingkungan Biologi, lingkungan Sosial dalam Program

Pemberantasan penyakit demam berdarah Dengue mulai dari perencanaan (Planning)

pelaksanaan (Actuating) dan Monitoring (Controling). Keberhasilan pencegahan DBD

membutuhkan partisipasi dari masyarakat. Di tingkat keluargapun demikian, hendaknya


orangtua khususnya Ibu yang memang memiliki peran penting untuk mengelola rumah tangga,

dan harus memiliki pengetahuan serta pencegahan tentang penyakit DBD. Apabila rendahnya

pengetahuan tentu saja akan menimbulkan resiko terkena penyakit DBD dalam keluarga.

Dengan demikian jika keluarga khusus nya Ibu memiliki pengetahuan yang cukup tentang

penyakit DBD serta pencegahannya, maka anggota keluarga pun dapat terhindar dari penyakit

DBD (Depkes RI, 2010).

Akibat yang ditimbulkan apabila tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi

gejala Dengue Shock Syndrome (DSS), bahkan dapat berakibat kematian. (Depkes RI 2010)

Dari uraian diatas maka dari itu peneliti tertarik mengambil judul Hubungan Tingkat

Pengetahuan Ibu Rumah Tangga Dengan Upaya Pencegahan DBD di Batu XII Kecamatan Cot

Girek Kabupaten Aceh Utara.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut diatas maka dapat diambil rumusan permasalahan dalam

penelitian ini yaitu “Adakah Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Rumah Tangga Dengan

Upaya Pencegahan DBD” di Batu XII Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara.

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Dengan Upaya Pencegahan

DBD di Batu XII Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui pengetahuan Ibu rumah tangga tentang DBD di Batu XII

Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara.

b. Untuk mengetahui upaya pencegahan Ibu rumah tangga tentang DBD di Batu XII

Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara.

c. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan Ibu rumah tangga dengan upaya pencegahan

DBD di Batu XII Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara