You are on page 1of 28

ASUHAN KEPERAWATAN

PENYAKIT TERMINAL PADA LANSIA

Disusun Oleh:
1. Faishol Afifi
2. Sari Apriliyana Setyarsono

2B DIPLOMA IV KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SURAKARTA
SURAKARTA
2017/2018
1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan
hidayahnya kita bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN
PADA LANSIA MENGHADAPI PENYAKIT TERMINAL”
Adapun harapan kami pada para pembaca atau kalangan lain makalah ini dapat
menampah pengetahuan dan wawasan pada para pembaca.
Namun kami menyadari bahwa makalah ini ,masih banyak kekurangannya, karena
keterbatasan ilmu yang kita miliki, oleh karena itu saran pada pembaca sangat kami
harapkan agar makalah ini lebih terkonsep dengan baik.
Kritik dan saran sangat kami harapkan untuk memperbaiki makalah ini, dan kami
berharap makalah ini dapat menambah wawasan yang lebih.
Sekian dan terima kasih.

2
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Penuaan penduduk terkait dengan transisi demografi dan epidemiologi pada lansia.
Penuaan penduduk telah berlangsung secara pesat, terutama di negara berkembang pada
dekade pertama abad milenium. Data komnaslansia (2011), di Indonesia terjadi
percepatan peningkatan penduduk lansia secara signifikan. Tercatat 7,18% (14,4 juta
orang)di tahun 2000 dan diperkirakan akan menjadi 11,34%(28,8 juta orang) pada 2020.
Undang-undang kesehatan no 23 pasal 4 tahun 2003 tentang hak dan kewajiban,
menjelaskan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat
kesehatan yang optimal, tidak terkecuali orang berusia lanjut. Salah satu hasil
pembangunan nasional dibidang kesehatan adalah meningkat pula kelompok lanjut usia
di masyarakat.
Munculnya jumlah penduduk lansia dalam jumlah besar secara mendadak telah
memberikan implikasi khusus bagi keperawatan dan perawatan kesehatan. Pertama, jika
dibandingkan dengan umur yang lain, kelompok lansia secara umum merupakan
pengguna layanan kesehatan yang paling banyak, dan peningkatan jumlahnya berarti
membuat mereka semakin tidak terwakili secara proporsional di kalangan lansia dan
kelompok usia yang memiliki pertumbuhan tercepat. Sebagai suatu kelompok, wanita
menggunakan pelayanan kesehatan lebih banyak daripada pria, dan mereka menemui
tenaga kerja professional lebih awal daripada pria, walaupun untuk masalah atau
gangguan yang kecil. Perawat diberbagai latar belakang budaya dan etnik serta
spesialisasi perlu membangun dan meningkatkan keterampilan dalam merawat klien
lansia dan lebih dominan klien wanita.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan keperawatan gerontik?
2. Apa peran, fungsi, dan tanggung jawab perawat gerontik?
3. Apa yang dimaksud lansia?
4. Apa tujuan pemberian asuhan keperawatan pada lansia?
5. Apa yang dimaksud penyakit terminal?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari keperawatan gerontik.

3
2. Untuk mengetahui peran, fungsi dan tanggung jawab perawat grontik.
3. Untuk mengetahui pengertian dari lansia
4. Untuk mengetahui tujuan pemberian asuhan keperawatan.
5. Untuk mengetahui pengertian dari penyakit terminal.

4
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
keperawatan gerontik adalah bidang keperawatan spesifik yang memfokuskan
perhatian terhadap pengkajian kesehatan dan status fungsional usia lanjut,
merencanakan, mengimplementasikan pelayanan keperawatan untuk memenuhi
kepatuhan yang terganggu serta mengevaluasi efektifitas dan pelayanan keperawatan
yang diberikan (Lueckenotte, 2000).
Peran, fungsi, dan tanggung jawab perawat gerontik yaitu: care provider, advocat,
educator, counselor, motivator, case manager, consultant, researcher, collaborator.
a. Care provider artinya memberikan asuhan keperawatan kepada lansia yang
meliputi intervensi/tindakan keperawatan, observasi, pendidikan kesehatan, dan
menjalankan tindakan medis sesuai dengan pendelegasian yang diberikan.
b. Advocat artinya perawat berfungsi sebagai penghubung antara klien dengan tim
kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan
klien, dan membantu klien memahami semua informasi dan upaya kesehatan
dengan pendekatan tradisional maupun profesional.
c. Educator artinya perawat membantu lansia meningkatkan kesehatannya melalui
pemberian pengetahuan yang terkait dengan keperawatan dan tindakan medik
yang diterima sehingga klen/keluarga dapat menerima tanggung jawab terhadap
hal-hal yang diketahuiny.
d. Counselor artinya perawat sebagai pemberi bimbingan/konseling.
e. Motivator artinya perawat memberi motvasi kepada lansia.
f. Case manager artinya perawat mengkoordinasi aktivitas anggota tim kesehatan
lainnya, misalnya ahli gizi dan ahli terapi fisik, ketika mengatur kelompok yang
memberikan perawatan pada klien.
g. Consultant artinya perawat sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau
tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan.
h. Researcher artinya perawat sebagai peneliti dibidang keperawatan gerontik
dimana perawat diharapkan mampu mengidentifikasi masalah penelitian
menerapkan prinsip dan metode penelitian, serta memnafaatkan hasil penelitian
untuk meningkatkan asuhan atau pelayanan dan pendidikan keperawatan.

5
i. Collaborator artinya perawat bekerja sama dengan tim kesehatan lain keluarga
dalam menentukan rencana maupun pelaksanaan asuhan keperawatan guna
memenuhi kebutuhan kesehatan klien.

Lansia adalah kelompok manusia yang berusia 60 tahun keatas (Hardywinoto dan
Setiabudhi, 1999;8). Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan
jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya
secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki
kerusakan yang terjadi (Constantinides, 1994).
Tujuan asuhan keperawatan gerontik yaitu meningkatkan kemandirian dalam
Activity Daily Living (ADL) dengan upaya promotif, preventif, dan rehabilitatif.
Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan dan kemampuan lansia dalam melakukan
tindakan pencegahan dan perawatan. Membantu mempertahankan serta membesarkan
daya hidup atau semangat hidup klien lanjut usia. Menolong dan merawat klien lansia
yang menderita atau mengalami gangguan tertentu (kronis maupun akut) sesuai dengan
kemampuan lansia. Mempertahankan kebabasan yang maksimal dengan meningkatkan
kemandirian. Membantu memahami individu terhadap perubahan usia lanjut.
Memotuvasi masyarakat dalam upaya meningkatkan keejahteraan hidup lansia.
Merangsang para petugas kesehatan, khususnya perawat, untuk dapat mengenal dan
menegakkan diagnosis yang tepat dan dini apabila mereka menjumpai suatu kelainan
tertentu.

Penyakit terminal adalah tahap perkembangan dalam kehidupan keluarga/sistem


sosial dan dalam kehidupan individu yang menjelang ajal.

Masalah psikososial dan masalah yang terkait/saling terkait yaitu kehilangan dan
dukacita, kesepian dan isolasi, perasaan tidak berguna, kemarahan, ansietas dan
ketakutan, depresi, bunuh diri, kehilangan keintiman seksual,manipulasi, ketergantungan
perspektif lain tentang menjelang ajal dan kematian.

6
1. Pengertian Penyakit Terminal

Keadaan Terminal adalah suatu keadaan sakit dimana menurut akal sehat
tidak ada harapan lagi bagi si sakit untuk sembuh. Keadaan sakit itu dapat
disebabkan oleh suatu penyakit atau suatu kecelakaan. Kondisi terminal adalah
suatu proses yang progresif menuju kematian berjalan melalui suatu tahapan
proses penurunan fisik, psikososial dan spiritual bagi individu (Kubler-Ross,
1969).

Kondisi terminal adalah suatu proses yang progresif menuju kematian


berjalan melalui suatu tahapan proses penurunan fisik, psikososial dan spiritual
bagi individu (Carpenito, 1999).

Penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan tidak ada obatnya, kematian
tidak dapat dihindari dalam waktu yang bervariasi. (Stuard & Sundeen, 1995).
Penyakit pada stadium lanjut, penyakit utama tidak dapat diobati, bersifat
progresif, pengobatan hanya bersifat paliatif (mengurangi gejala dan keluhan,
memperbaiki kualitas hidup). ( Tim medis RS Kanker Darmais, 1996)

Pada stadium lanjut, pasien dengan penyakit kronis tidak hanya


mengalami berbagai masalah fisik seperti nyeri, sesak nafas, penurunan berat
badan, gangguan aktivitas tetapi juga mengalami gangguan psikososial dan
spiritual yang mempengaruhi kualitas hidup pasien dan keluarganya. Maka
kebutuhan pasien pada stadium lanjut suatu penyakit tidak hanya pemenuhan/
pengobatan gejala fisik,, namun juga pentingnya dukungan terhadap kebutuhan
psikologis, sosial dan spiritual yang dilakukandengan pendekatan interdisiplin
yang dikenal sebagai perawatan paliatif. (Doyle & Macdonald, 2003)

7
Pada pasien penyakit terminal akan melalui fase – fase berduka akibat
kekhwatiran akan penyakitnya. Sering kali penyakit terminal membawa efek
psikologis terhadap klien, seperti kekhawatiran berlebihan akan penyakit
atau kondisis yang akan dialami, serta kekawatiran akan kematian yang
disebabkan oleh penyakitnya. Kehilangan aspek diri biasanya dialami oleh
pasien terminal, akibat kondisi tubuh yang semakin melemah, terjadi
penurunan kemampuan fisik, dan diikuti perubahan citra tubuh, yang
menyebabkan kehilangan pada aspek diri klien.

Perawatan terminal dapat dimulai pada minggu-minggu, hari-hari dan


jaminan terakhir kehidupan dimana bertujuan:

a. Mempertahankan hidup
b. Menurunkan stress
c. Meringankan dan mempertahankan kenyamanan selama mungkin

(Weisman)

Secara umum kematian adalah sebagian proses dari kehidupan


yang dialami oleh siapa saja meskipun demikian, hal tersebut tetap saja
menimbulkan perasaan nyeri dan takut, tidak hanya pasien akan juga
keluarganya bahkan pada mereka yang merawat dan mengurusnya.

Penderita yang akan meninggal tidak akan kembali lagi ke tengah


keluarga, kenyataan ini sangat berat bagi keluarga yang akan ditinggalkannya
Untuk menghindari hal diatas bukan hanya keluarganya saja yang
berduka bahkan klien lebih tertekan dengan penyakit yang dideritanya.

2. Faktor Predisposisi
1) Usia
2) Lingkungan sosial dan budaya c. Faktor Jenis Kelamin
3) Faktor Tingkat Pendidikan e. Faktor Ekonomi
4) Faktor Pengetahuan
5) Faktor Lama Rawat Inap h. Faktor Caring Perawat

8
3. Klasifikasi
a) Penyakit-penyakit kanker stadium akhir.
b) Penyakit-penyakit infeksi.
c) Congestif Renal Falure (CRF).
d) Stroke Multiple Sklerosis.
e) Akibat kecelakaan fatal.
f) AIDS
g) Diabetes Militus Tipe II

4. Tanda dan Gejala

Ciri – Ciri Penyakit Terminal

a) Penyakit tidak dapat disembuhka


b) Mengarah pada kematian
c) Diagnosa medis sudah jelas
d) Tidak ada obat untuk menyembuhkan
e) Prognosis jelek
f) Bersifat progresif
Fisik

a) Gerakan pengindraan menghilang secara berangsur – angsur dari ujung kaki


dan ujung jari
b) Aktifitas dari GI
berkurang c. Reflek
mulai menghilang
c) Kulit kebiruan dan pucat
d) Denyut nadi tidak teratur dan lemah

9
e) Nafas berbunyi keras dan cepat
ngorok g. Penglihatan mulai kabur
f) Klien kadang-kadang kelihatan rasa
nyeri i. Klien dapat tidak sadarkan diri

Psikososial

Sesuai fase-fase kehilangan menurut seorang ahli E.Kubbler Ross mempelajari


respon-respon atas menerima kematian dan maut secara mendalam dan hasil
penelitiannya yaitu :

a. Respon kehilangan

1) Rasa takut diungkapkan dengan ekspresi wajah , keakutan, cara tertentu


untuk mengatur tangan
2) Cemas diungkapkan dengan cara menggerakan otot rahang dan kemudian
mengendor
3) Rasa sedih diungkapkan dengan mata setengah terbuka / menangi

b. Hubungan dengan orang lain

Kecemasan timbul akibat ketakutan akan ketidakmampuan untuk


berhubungan secara interpersnal serta akibat penolakan. Dr.Elisabeth Kublerr-Ross
telah mengidentifikasi lima tahap berduka yang dapat terjadi pada pasien dengan
penyakit terminal :

1. Denial ( Pengingkaran )

Tidak percaya telah terjadi kehilangan. Tidak siap mengatasi masalah praktis,
seperti pasien yang mengalami penyakit terminal tidak siap atau tidak dapat
menerima bahwa dirinya terkena penyakit terminal. Biasanya klien dapat
menunjukan keceriaan palsu sehingga memperlama penyangkalan.

Reaksi pada Fase Denial :

10
Psikologi

a) Syok
b) Tidak percaya
c) Tidak tahu harus berbuat apa
d) Mengingkari Kenyataan
Fisik

a) Letih
b) Lemah
c) Pucat
d) Mual
e) Diare
f) Menangis
g) Gangguan Pernafasan h) Gelisah
h) Detak jantung meningkat
2. Anger ( Marah )

Pada fase ini pasien dapat mengarahkan kemarahan kepada petugas medis
atau perawat yang melakukan kegiatan atau tindakan normal yang tidak mengganggu
mereka.

Reaksi pada fase anger : Perilaku


a) Agresif
b) Bicara kasar
c) Menyerang orang lain
d) Menolak pengobatan
e) Menuduh dokter atau perawat tidak kompeten

Fisik

11
a) Muka merah
b) Denyut nadi cepat
c) Gelisah
d) Susah tidur
e) Tangan mengepal

3. Bargaining (Tawar-Menawar)
Klien berusaha melakukan tawar menawar terhdap penyakitnya,
biasanya klien takut akan kondisinya yang semakin parah dan juga
kematian akibat penyakitnya. Klien mengalami masa ketakutan akibat
rasa bersalah atau dosa apabila dia mengalami kematian akibat penyakit
terminalnya.

4. Depretion ( Depresi )
Fase dimana ketika klien mengingat akan kondisi penyakitnya,
dan memikirkan dan mendapatkan tekanan dari kondisinya. Pada fase ini
klien biasanya mengingat hal-hal menarik dalam hidupnya, dan takut
kehilangan semua momen atau hal tersebut apabila klien harus
meninggalkan semuanya akibat penyakit terminal yang ia derita. Klien
biasanya cenderung menutup diri, cemas, dan menangis, serta klien dapat
menarik diri dari lingkungan sosial.

Perilaku

a) Menunjukan sikap menarik diri


b) Kadang bersikap sangat penurut
c) Tidak mau bicara
d) Menyatakan keputusasaan
e) Rasa tidak berharga
f) Bisa muncul keinginan bunuh diri

5. Acceptance ( Penerimaan)

Pada fase ini biasanya klien telah menerima kondisinya.


Klien membutuhkan perhatian dari orang – orang terdekatnya,
untuk memotivasi psikologis klien dalam menghadapi penyakit
terminal nya, dan juga menghadapi kematian yang akan terjadi
12
padanya. Klien juga biasanya telah merencanakan atau menata
kehidupannya dalam kondisinya.

Reaksi pada fase acceptance:


a) Reorganisasi perasaan kehilangan
b) Pikiran tentang objek yang hilang akan mulai berkurang atau
hilang beralih ke objek baru.
c) Menerima kenyataan kehilangan
d) Mulai memandang ke depan.

13
BAB III
Laporan Pendahuluan
A. Pengertian
Carcinoma sel ginjal (renal cell carcinoma) adalah tumor malignoma rena
l tersering, dua kali lebih sering ditemukan pada laki-
laki dibandingkan pada wanita. Kebanyakan sel ginjal ditemukan di perensim ren
al dan menimbulkan gejala yang baru (Nursalam & Fransisca 2006).
Kanker ginjal juga dikenal dengan nefrrokarsinoma, karsinoma sel renal,
hipernefroma, dan tumor Grawitz. Penyekit ini biasanya muncul pada orang dewa
sa yang lebih tua, dengan sekitar 85% tumor berasal dari ginjal dan sisanya akibat
metastasis dari tempat primer lain (Williams & Wilkins 2011).
Tumor ginjal (yang biasanya besar keras, nodular, terenkapsulasi, unilater
al, dan soliter) bisa dipisahkan secara histologis menjadi tipe sel bersih (Clear cell
), graular, dan sel spindel. Sekitar 50% penderita kanker ginjal dapat bertahan sa
mpai dengan 5 tahun. Insiden kanker ginjal menyerang pria lebih banyak dari pad
a wanita dan biasanya menyerang pada seseorang dengan usia lebih dari 50 tahun
(Williams & Wilkins 2011).
Adenomakarsinoma sel ginjal atau clear cell adenocarcinoma (hipernefro
ma) merupakan jenis kanker ginjal yang paling sering terjadi. Karsinoma sel trans
isional, suatu jenis kanker pelvis renalis yang paling sering terjadi, juga terjadi pa
da ginjal. Jenis kanker ginjal memiliki batas tegas, dikelilingi oleh jaringan lemak
perinefrik dan tidak bersifat infiltratif (Otto 2003).
B. Etiologi
Seperti kanker kandung kemih, merokok dan terpapar secara langsung denga
n bahan industri atau bahan pelarut dapat meningkatkan resiko karsinoma sel transisio
nal di saluran perkemihan atas. Selain itu, tumor ini juga mengalami peningkatan frek
uensi resiko pada pasien dengan riwayat pemberian analgesik berlebih, pasien dengan
Balkan Neuropathy (penyakit ginjal kronis tubulointerstitial), terpapar dengan Thorot
rast (sebuah bentuk thorium dioksida yang digunaka sebagai media kontras radiologis
). Semua unsur utama senyawa analgesik yang dikonsumsi terkait langsung dengan pe
ningkatan kanker saluran perkemihan atas (Tanagho & McAninch 2008).
Penyebab kanker ginjal masih belum diketahui ada beberapa faktor resiko sep
erti merokok berat dan menjalani haemodialisis secara teratur dapat menyebabkan ka
nker ginjal (Williams 2011).
Etiologi dan insiden sekitar 2% dari seluruh kematian akibat kanker disebabk
an oleh tumor ginjal. Tumor munkin timbul dari sel tubular (Schwartz 2000). Selain it
u ada faktor predisposisi yang menyebabkan kanker ginjal yaitu (Grace & Borley 200
6):
1. Diet: konsumsi tinggi lemak, minyak, dan susu
14
2. Agen toksik: timah, kadmium, asbestos, produk-produk petroleum.
3. Merokok
4. Faktor genetik: onkogen pada lengan pendek kromosom 3. Antien HLA BW-
44 dan DR-8.
5. Penyekit lainnya: sindrom vo Hippel-
Lindau (VHL) penyakit polikistik dewasa, pasien dialisis ginjal.
Faktor resiko yang mempengaruhi di antaranya adalah rokok, cerutu, meroko
k pipa, mengunyah tembakau, urbanisasi, obesitas, Diabetes, Hipetensi dan pajanan te
rhadap produk-
produk petrokimia. Diet tinggi lemak menyebabkan obesitas yang berhubungan denga
n kanker gijal (Otto 2005).
C. Pathway

D. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis kanker ginjal (Nursalam & Fransisca 2006) yaitu:
1. Tumor tanpa disertai gejala dan ditemukan pada pemeriksaan fisik secara teratur.
Saat melakukan palpasi ditemukan massa di daerah abdomen.
2. Lemah, anemia, berat badan menurun dan demam akibat efek sistemik kanker gin
jal.
3. Classical triad (gejala lambat).
15
a) Hemturia: intermiten atau terus-
menerus pada pemeriksaan mikroskopis dan kasat mata
b) Nyeri pinggul: distensi kapsul ginjal dan invasi sekitar struktur ginjal.
c) Teraba massa pada pinggul.
Gejala yang muncul pada 10% pasien dapat berupa (Williams & Wilkins 2011):
1. Nyeri abdominal atau di bagian samping tubuh konstan, tidak terasa tajam (ak
ut dan berat disertai perdarahan atau gumpalan darah)
2. Hematuria mikroskopis atau kasar (kemungkinan intermiten)
3. Gumpalan palpabel (umumnya terasa lembut, padat, dan tidak lunak)
Tanda gejala lain yang muncul (Williams & Wilkins 2011):
a) Nyeri atau fraktur tulang akibat lesi yang bermetastasis.
b) Edema di kaki bagian kanan atas.
c) Demam kemungkinan karena hemoragi atau nekrosis
d) Hiperkalemia (berkembang dengan cepat, kemungkinan akibat produksi horm
on paratiroid ektopik oleh tumor)
e) Hipertensi (akibat kompresi arteri renal yang disertai dengan iskemia parenki
mal renal)
f) Mual dan Muntah
g) Retensi urin
h) Berat badan turun

E. Pemeriksaan Diagnostik
Ketika diduga kanker ginjal dapat dilakukan pemeriksaan:
1. Pemeriksaan Radiologi (American Urological Association, april 2014):
2. USG
3. CT-Scan
4. MRI
5. Sinar-X dada
6. Nefrogram
7. Sonogram
8. Urogram IV.
9. Pemeriksaan Laboratorium: (Perawatan Kritis: Seri Panduan Klinis, 2009)
10. Analisis urin
11. Pemeriksaan sel darah lengkap
12. Blood Gas Analysis
13. Pemeriksaan kimia darah lengkap dan koagulasi darah
14. Laju endap eritrosit
15. Kadar human chronic gonadotropin (HCG)
16. Kadar kortisol
17. Kadar renin
18. Kadar hormon adenokortikotropin.

F. Penatalaksanaan

16
Ada beberapa penatalaksanaan yang dapat direfrensikan untuk kanker ginjal s
esuai dengan letak dan ada tidaknya metastase sel kanker, antara lain:
1. Pengangkatan kanker (nephrectomy)
a) Nefrektomi radikal
Nefrektomi radikal adalah pengangkatan ginjal, kelenjar adrenal ipsilater
al, jaringan sekitar, dan kadang, kelenjar limfe sekitarnya. Akibat resiko kekambu
han pada ureter, urektomi juga dapat dilakukan.
b) Nefrektomi parsial
Nefrektomi parsial adalah pengankatan bagian ginjal yang mengandung s
el kanker atau tumor, hal ini dilakukan apabila seseorang hanya mempunyai satu
ginjal ketika kanker sudah mempengaruhi kedua ginjal maupun penderita yang uk
uran tumor ginjalnya kurang dari 4cm.
c) Nefrektomi simple
Nefrektomi simple adalah pengangkatan ginjal, pada penderita kanker stadium 1.
1) Maligna ablation
2) Arterial Embolization
Arterial embolization adalah tipe terapi local yang menyusutkan tumor da
n dilakukan sebelum tindakan pembedahan atau operasi. Dengan cara memasukka
n tabung sempit ke dalam pembuluh darah kaki, tabung dialirkan keatas hingga sa
mpai pembuluh darah arteri utama ginjal yang menyediakan darah pada ginjal kem
udian dokter menyuntikan senyawa pada pembuluh darah untuk menghalangi alira
n darah ke ginjal.
1) Thrombus maligna (metastase kanker dalam vena ginjal atau vena cava)
2) Nephrectomy kemudian thrombus maligna diekstrak.
Nefrektomi dengan thrombus maligna diekstrak adalah operasi pengangka
tan bagian yang berubah menjadi sel kanker, dan mengeluarkan gumpalan sel kank
er yang mengikuti aliran darah dengan cara kleping sisi kanan dan kiri pembuluh d
arah yang terdapat gumpalan sel kanker di dalamnya, kemudian buat sayatan pada
pembuluh darah guna mengeluarkan thrombus keluar tubuh.
Embolisasi (untuk orang yang tidak tahan pembedahan)
Embolisasi adalah terapi local yang menyusutkan tumor dan dilakukan seb
elum tindakan pembedahan atau operasi. Dengan cara memasukkan tabung sempit
ke dalam pembuluh darah kaki, tabung dialirkan keatas hingga sampai pembuluh d
arah besar yang menyediakan darah dalam ginjal kemudian dokter menyuntikan se
nyawa pada pembuluh darah untuk menghalangi aliran darah ke ginjal.
Metastase kanker ke organ lain dapat dilakukan nephrectomy yang diikuti:
a. Terapi Biologi

17
Terapi sistemis atau terapi yang menggunakan senyawa-
senyawa yang berjalan dalam aliran darah, mencapai dan mempengaruhi sel-
sel seluruh tubuh, terapi biologi menggunakan kemampuan alamiah tubuh atau sy
stem imun untuk melawan kanker.
b. Kemoterapi
Terapi sistematis dengan menggunakan obat-obatan. Obat-
obatan anti kanker memasuki aliran darah dan memasuki seluruh tubuh, meskipu
n berguna untuk kanker-kanker yang lain obat-
obatan tersebut telah menunjukan penggunaan yang teratas terhadap kanker ginjal
.
G. Patofisiologis
Penyebab pasti terjadinya kanker ginjal hingga saat ini idiopatik, namun a
da beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya kanker ginjal seperti rokok, fakt
or keturunan, obesitas, hipertensi, von helper-
lindau syndrome, dialysis >5th pada pasien gagal ginjal kronik, analgesik penaset
in.
Untuk rokok (kandungan cadmium dalam rokok) masuk ke dalam tubuh
melalui air liur hingga masuk ke dalam pembuluh darah menyebabkan vasokontri
ksi arteriol aferen dimana cadmium sendiri saling berikatan dengan protein yang
mengakibatkan konsentrasi dalam darah meningkat menyebabkan penurunan LF
G (Laju filtrasi glomerulus) apabila hal ini terjadi dalam waktu yang lama menim
bulkan obstruksi atau kerusakan lumen tubular dalam ginjal memicu pelepasan za
t-
zat vasoaktiv intrarenal yang merangsang pertumbuhan sel endotel yang abnorma
l dan bersifat merusak.
Jika faktor keturunan dan von helper-
lindau syndrome terkait masalah genetic yang menyebabkan tidak berfungsinya g
en pengekang tumor (VHL) sehingga menyebabkan peningkatan HIF yang meran
gsang peningkatan angiogenesis dan menghasilkan produksi vascular-
endotel growth homon & platelet-
derived growth hormone Peningkatan jumlah platelet dan hormone eritropoetin M
eningkatkan pembentukan sel darah baru dalam tubuh Mengakibatkan produksi si
tokin bertambah Menghasilkan GM-CSF (granulocyte monocyte-
citokinin stimulating hormone) Merangsang pertumbuhan sel endotel yang abnor
mal dan bersifat merusak.
Hipertensi disebabkan karena adanya peningkatan produksi renin oleh ap
paratus jugstakglomerulus yang memicu respon angiotensinaldosteron yang meni
ngkatkan reabsorbsi natrium serta air dalam tubulus renal tekanan pada saat jantu
ng memompa sehingga resistensi pembuluh darah arteri menyebabkan vasokontri
ksi pembuluh darah arteri sehinga darah yang masuk ke ginjal berkurang dan men
yebabkan penurunan laju filtrasi glomerulus apabila hal ini terjadi dalam waktu y
ang lama menimbulkan obstruksi atau kerusakan lumen tubular dalam ginjal mem
icu pelepasan zat-
18
zat vasoaktiv intrarenal yang merangsang pertumbuhan sel endotel yang abnorma
l dan bersifat merusak.
Phenacetin yang masuk dalam pembuluh darah bersifat kurang dapat dila
rutkan sehingga meningkatkan kinerja ginjal, terhambatnya proses filtrasi menyeb
abkan penurunan laju filtrasi glomerus apabila hal ini terjadi dalam waktu yang la
ma menimbulkan obstruksi atau kerusakan lumen tubular dalam ginjal memicu pe
lepasan zat-zat vasoaktiv intrarenal tubular dalam ginjal memicu pelepasan zat-
zat vasoaktiv intrarenal yang merangsang pertumbuhan sel endotel yang abnorma
l dan bersifat merusak.

H. Prognosis
Kondisi pasien lebih lanjut dengan karsinoma ginjal ini tergantung pada t
ahap penyakit dan laju penyakit waktu diketahui. Factor lain yang mempengaruhi
adalah keadaan umum dan status nutrisi pasien.

19
Asuhan Keperawatan

A. PENGKAJIAN
1. Anamnesa
Nama : Ny. S
Umur : 60 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan : -
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Status : Kawin
Penanggung Jawab : Tn. K (suami klien)
2. Keluahan Utama : Nyeri pada pinggang bagian kanan
P: Sakit akibat adanya massa pada pinggang kanan
Q: Klien merasa nyeri seperti dipukul benda tumpul dan nyeri saat berkemih
R : Pinggang kanan
S : Klien mengatakan skala nyeri 7
T: Nyeri dirasakan setiap waktu
3. Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Penyakit Sekarang
Pada tanggal 3 Maret 2016 Ny. S dibawa ke Rumah Sakit Dr. Soetomo oleh
suaminya, klien mengeluh nyeri hebat seperti dipukul benda tumpul pada bagian pin
ggang kanan sejak seminggu yang lalu dan makin buruk sejak 3 hari yang lalu. Terab
a massa pada pinggang bagian kanan. Klien juga merasakan nyeri saat berkemih, he
maturia, volume urin sedikit namun frekuensi berkemih meningkat. Klien
mengatakan keberatan jika harus bergantung kepada keluarganya untuk aktivitas
sehari-hari, klien tampak murung.
b) Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada
c) Riwayat Penyakit Keluarga
Nenek klien mengidap kanker ginjal
4. Pemeriksaan Fisik

20
Kesadaran klien kompos mentis dan konjungtiva tampak anemis
Hb : 11gr/dl
TTV: S: 37 0C; N: 78x/menit, TD: 160/85 mmHg, RR: 22 kali/menit.

1. Pengkajian Head To Toe


a) Kepala
Rambut bersih dan rambut beruban, pada kepala tidak ada
benjolan, telinga bersih tidak kotoran
b) Mata
Tidak terdapat oedema pada muka, konjungtiva anemis
c) Hidung
Hidung bersih,tidak terdapat benjolan pada hidung
d) Mulut & Tenggorokan
Pada mulut dan bibir tidak ada sariawan (stomatitis), lidah
bersih, tidak ada pembengkakan dan perdarahan pada gusi, gigi
ada caries..
e) Telinga
Pada telinga tidak ada benjolan dalan liang telinga dan bersih
f) Leher
Tidak ada pembesaran pada kelenjar thyroid dileher dan kelenjar
getah bening di axilla
g) Dada
Paru – Paru : I : Simetris, Perkembangan dada Kanan – kiri sama

21
P : Vocal Fremitus kanan dan kiri sama
P : Suara sonor
A : Bunyi Vesikuler tidak ada hambatan

Jantung :
I : Ictus kordis Tampak
P : Ictus kordis teraba
P : Suara redup
A : Bunyi jantung s1 dan s2 reguler

h) Abdomen :
I : bentuk simetris, tidak ada asites
A : Peristaltic Usus 10 x / menit
P : bunyi redup pada kuadran kanan bawah(pinggang bagian kanan)
P : teraba masa dipinggang bagian kanan

i) Ekstermitas : Atas : tangan kiri terpasang infuse RL 20 tpm, tidak ada edema
Bawah : tidak ada odema, sering kesemutan pada telapak kaki

j) Genetalia
Nyeri saat berkemih

P: Sakit akibat adanya massa pada pinggang kanan


Q: Klien merasa nyeri seperti dipukul benda tumpul dan nyeri saat berkemih
R : Pinggang kanan
S : Klien mengatakan skala nyeri 7
T: Nyeri dirasakan setiap waktu

k) Integument
22
Kulit putih bersih, keriput tidak ada bekas luka dan tidak ada odema

B. ANALISA DATA

No Data Etiologi Problem


.
1. DS: Nyeri akut
Klien mengeluh nyeri he
bat seperti dipukul benda
tumpul pada pinggang b
agian kanan
DO:
P : Sakit akibat adany
a massa pada pinggan
g kanan
Q : Klien merasa nyer Agen pencedera
i seperti dipukul bend fisiologis neoplasma
a tumpul dan nyeri sa
at berkemih
R : Pinggang kanan
S : Klien mengatakan
skala nyeri 7
T : Nyeri dirasakan set
iap waktu dan bertamb
ah parah sejak seming
gu yang lalu
2. DS: Peningkatan tekanan Retensi urin
Klien mengatakan s uretra
aat berkemih volum
e urin yang dikeluar
kan sedikit namun f
rekuensi berkemih
meningkat
DO:
Klien mengalami disur
ia, oliguri
3. DS: Kelemahan Intoleransi aktivitas
Klien mengeluh lemas
DO:
Hasil lab klien menunj
ukkan Hb: 10 g/dl
4. DS: Klien mengatakan Penyakit terminal Ketidak efektifan koping
keberatan/sungkan jika
harus bergantung kepada
keluarganya untuk
aktivitas sehari-hari.
DO: klien tampak
murung

23
C. DIAGNOSA
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis neoplasma
2) Retensi urin berhubungan dengan kerusakan sel jaringan di ginjal
3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
4) Ketidak efektifan koping keluarga berhubungan dengan penyakit terminal
D. INTERVENSI
1) Nyeri akut berhubungan dengan pertumbuhan sel kanker
Tujuan:
Setelah dilakukan perawatan 3x24 jam klien melaporkan nyeri berkurang atau hilang
Kriteria hasil:
1. Nyeri terkontrol yang dilihat dari indikator:
a) Klien menuliskan skala nyeri berkurang (1-5)
b) Klien dapat menjelaskan faktor penyebab nyeri
c) Klien dapat mengetahui intervensi yang dilakukan untuk mengurangi nyeri (fa
rmaka dan non farmaka)
d) Klien mengetahui onset nyeri
2. TTV dalam batas normal (TD: 120/80 mmHg, nadi 16-20 x/menit)
a) Kaji nyeri secara komprehensif meliputi lokal, karakteristik, onset, frekuensi,
kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan faktor presipitasi
b) Observasi ekspresi klien secara non verbal agar mengetahui tingkat nyeri
c) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai advis dokter dan monitoring respon kli
en
d) Kaji pengetahuan dan perasaan klien mengenai nyeri
e) Kaji dampak nyeri terhadap kualitas hidup klien (ADL)
f) Ajarkan teknik non farmakologi (terapi musik, distraksi, terapi aktivitas, distra
ksi)
g) Observasi respon klien setelah dilakukan tindakan pengontrol nyeri

2) Retensi urin berhubungan dengan kerusakan sel jaringan di ginjal


Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam retensi urin klien dapat terat
asi
Kriteria Hasil:
(Urinary Elimination)
1. Kandung kemih kosong secara penuh
2. Tidak ada residu >100-200 cc
3. Tidak ada spasme bladder
24
4. Balance cairan seimbang
5. Eliminasi urin tidak terganggu (bau, jumlah, warna urin normal. Kejernihan urin)
(Perceived Health) (Pain Level)
a) Laporan nyeri
b) Durasi nyeri
c) Ekspresi wajah klien
d) Tidak terjadi diaporesis
Intervensi:
Urinary Retention Care
1. Monitor intake dan output
2. Monitor penggunaan obat antikolinergik
3. Monitor derajat distensi bladder
4. Instruksikan kepada klien dan keluarga untuk mencatat output urin
5. Sediakan privasi untuk eliminasi
6. Stimulasi reflek bladder dengan kompres dingin pada abdomen
7. Katerisasi jika perlu
8. Monitor tanda dan gejala ISK
9. Monitor kadar albumin, proyein total
10. Kolaborasi obat diuretik
Manajemen Eliminasi Urin
1. Monitor eliminasi urin meliputi frekuensi, konsistensi, bau, volume, d
an warna jika diperlukan
2. Kolaborasi dengan dokter untuk tindakan urinalisis jika diperlukan de
ngan mengumpulkan spesimen urin porsi tengah
3. Ajrakan teknik berkemih yang benar dan kenali urgensi berkemih

3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan


Tujuan:
Setelah dilakuakn perawatan 3x24 jam, klien dapat bertoleransi terhadap aktivitas
Kriteria Hasil:
(Activity Tolerance)
1. Saturasi oksigen dengan aktivitas
2. RR saat beraktifitas dalam rentang normal
3. Kemampuan bicara dengan aktivitas fisik
4. Tidak terjadi anemia
(Psychomotor Energy)
1. Menunjukkan nafsu makan yang baik
2. Menunjukkan kemampuan untuk mencapai tugas sehari-hari
Intervensi:

25
Energy Management
1. Kaji status psikologi klien tentang ketidakmampuan akibat kelemahan dalam pe
menuhan perkembangannya
2. Monitor intake nutrisi untuk keadekuatan energi
3. Konsultasi dengan ahli gizi untuk peningkatan nutrisi
4. Monitor kardiorespiratory dalam saat melakukan aktivitas
Activity Therapy
1. Tentukan kemampuan klien untuk berpartisipasi dalam kegiatan tertentu
2. Membantu klien untuk memilih kegiatan dan tujuan kegiatan sesuai denga kemam
puan fisik, psikologis, dan sosial
3. Membantu klien untuk mengidentifikasi kegiatan bermakna
4. Membantu dengan kegiatan fisik secara teratur (misalnya: ambulasi, berpindah, be
rbalik, dan perawatan pribadi) seperti yang diperlukan.
4) Ketidakefektifan koping keluarga berhubungan dengan penyakit terminal
Tujuan:
Setelah dilakuakn perawatan 3x24 jam, klien dapat bertoleransi terhadap aktivitas
Kriteria Hasil:
1. Pola koping yang efektif
2. Mengungkapkan secara verbal tentang koping yang efektif
3. Mengatakan penurunan stres
4. Klien mengatakan telah menerima tentang keadaanya
5. Mampu mengidentifikasi strategi tentang koping
Intervensi:
1. Menginformasikan klien alternatif atau solusi lain penanganan
2. Memfasilitasi klien untuk membuat keputusan
3. Bantu klien untuk mengidentifikasi keuntungan, kerugian dari keadaan.

Role inhancement
1. Bantu klien untuk mengidentifikasi macam – macam nilai kehidupan
2. Bantu klien identifikasi strategi untuk mengatur pola nilai yang dimiliki

Coping enhancement
1. Anjurkan klien untuk mengidentifikasi gambaran perubahan peran yang realistis
2. Gunakan pendekatan tenang dan meyakinkan
3. Hindari pengambilan keputusan pada saat klien berada dalam stres berat
4. Berikan informasi actual yang terkait dengan diagnosis, terapi dan prognosis

26
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Carcinoma sel ginjal (renal cell carcinoma) adalah tumor malignoma rena
l tersering, dua kali lebih sering ditemukan pada laki-
laki dibandingkan pada wanita. Kebanyakan sel ginjal ditemukan di perensim ren
al dan menimbulkan gejala yang baru (Nursalam & Fransisca 2006)
Eiologi dari cancer finjao yaitu , merokok dan terpapar secara langsung dengan b
ahan industri atau bahan pelarut. Gejalanya yaitu ditemukan massa di daerah abd
omen, lemah, anemi, dan adanya gejala lambat.
Pemeriksaannya dapat menggunakan Pemeriksaan Radiologi, USG ,CT-
Scan, MRI. Sinar-X dada , dan Nefrogram

B. Saran
Bagi para pembaca, kami harap agar tidak merasa puas dengan makalah
yang kami tulis ini, sehingga minat untuk mencari sumber lain. Karena kami
menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan.

27
Daftar Pustaka

Constantinides, P. 1994. In General Pathology, Chap. 3. Connecticut: Appleton


and Lange.

Lueckenote, A.G. 1996. Gerontologc Nursing. Missourri: Mosby Year Book Co.
Inc

Miller A.C. 1995. Nursing Care of Adult, Theori and Practice. 2ndEd.
Philadelphia:J.B lippincott Co

NANDA International Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-


2014. Jakarta: EGC
Nursalam dan Fransisca N. Batticaca. 2006. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan G
anguan Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika

28