You are on page 1of 138

1

BAB I
ASET TETAP (FIXED ASSET)
Definisi Aset Tetap
Aset Tetap merupakan komponen dari Aset Tidak Lancar dan paling besar di nilainya di
Laporan Posisi Keuangan, terutama di Entitas yang bergerak di bidang manufaktur (industri).
Standar Akuntansi yang mengatur tentang Aset Tetap adalah PSAK 16. Karakteristik Aset
Tetap adalah:
1. Aset Tetap mempunyai bentuk fisik.
2. Aset Tetap digunakan untuk tujuan khusus, seperti dalam produksi, untuk disewakan, dan
untuk tujuan administratif.
3. Aset Tetap memiliki umur ekonomis lebih dari 1(satu) periode Akuntansi.

Aset Tetap dapat diakui sebagai Aset jika dan hanya jika:
1. Besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan yang berkenaan dengan Aset
tersebut akan mengalir ke Entitas.
2. Biaya Perolehan Aset dapat diukur secara andal.

Pengukuran Awal Aset Tetap


Aset Tetap pada awalnya harus diukur sebesar Biaya Perolehannya, adapun Biaya Perolehan
meliputi:
1. Harga Perolehan termasuk bea impor, pajak pembelian yang tidak boleh dikreditkan
setelah dikurangi diskon pembelian dan potongan lainnya.
2. Biaya – biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa Aset ke lokasi
dan kondisi yang diinginkan agar Aset siap digunakan sesuai keinginan dan tujuan.
3. Estimasi awal Biaya Pembongkaran dan Pemindahan Aset Tetap dan restorasi lokasi
Aset.

Contoh dari Biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah:


1. Biaya Imbalan Kerja (PSAK 24 tentang Imbalan Kerja) yang timbul secara langsung dari
pembangunan atau akuisisi Aset Tetap.
2. Biaya Penanganan (handling) dan Penyerahan awal.
3. Biaya Perakitan dan Instalasi.
4. Biaya Penyiapan Lahan.
5. Biaya Pengujian Aset.
6. Komisi untuk professional yang diperlukan oleh Aset Tetap.

Pencatatan Perolehan Aset Tetap

1. Aset Tetap diperoleh secara tunai

Contoh 1 – Perolehan secara tunai


Entitas memutuskan untuk membeli tiga buah Mesin dari Jepang untuk memproduksi
produk baru. Total harga ketika Mesin itu adalah Rp 1.200.000.000,-. Bea Impor yang
dikenakan adalah Rp 200.000.000,-. Untuk mempersiapkan Mesin tersebut diperlukan
Instalasi dengan Biaya sebesar Rp 15.000.000,-. Entitas juga memperkerjakan seorang
tenaga ahli untuk menyiapkan Mesin tersebut dengan honor Rp10.000.000,-.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


2

Diminta:
Catatlah Perolehan Aset Tetap tersebut.

Jawab 1
Mesin Rp 1.425.000.000,-
Kas Rp 1.425.000.000,-

2. Aset Tetap diperoleh secara lump – sum (gabungan)


Pembelian Aset Tetap dapat dilakukan secara gabungan, misalnya Tanah dengan
Bangunan. Untuk mengukur Harga Perolehan Aset Tetap yang dibeli secara gabungan,
maka harga perolehan masing – masing Aset dihitung dengan mengalokasikan harga
perolehan gabungannya.

Contoh 2 – Perolehan Aset Tetap secara lump – sum


Entitas membeli Tanah, Bangunan dan Kendaraan secara lump – sum dengan harga Rp
1.500.000.000,-. Nilai wajar dari masing – masing Aset tersebut adalah sbb:
Tanah Rp 1.000.000.000,-
Bangunan Rp 500.000.000,-
Kendaraan Rp 250.000.000,-
Total Rp 1.750.000.000,-

Diminta:
Hitunglah Harga Perolehan masing – masing Aset dan buatlah pencatatan yang
diperlukan.

Jawab 2

1.000.000.000, −
𝑇𝑎𝑛𝑎ℎ = 𝑥 𝑅𝑝 1.500.000.000, − = 𝑅𝑝 857.142.857,1, −
1.750.000.000, −

500.000.000, −
𝐵𝑎𝑛𝑔𝑢𝑛𝑎𝑛 = 𝑥 𝑅𝑝 1.500.000.000, − = 𝑅𝑝 428.571.428,6, −
1.750.000.000, −

250.000.000, −
𝐾𝑒𝑛𝑑𝑎𝑟𝑎𝑎𝑛 = 𝑥 𝑅𝑝 1.500.000.000, − = 214.285.714,3, −
1.750.000.000, −

Pencatatan untuk perolehan Aset Tetap adalah sbb:

Tanah Rp 857.142.857,1,-
Bangunan 428.571.428,6,-
Kendaraan 214.285.714,3,-
Kas Rp 1.500.000.000,-

3. Aset Tetap diperoleh dari pertukaran dengan Aset lain.


a. Pertukaran memiliki Substansi komersial.
Aset Tetap yang diperoleh dengan cara pertukaran dengan Aset lain yang memiliki
substansi komersial dicatat dengan nilai wajar Aset yang ditukarkan dikurangi Kas
yang diterima, jika ada.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


3

Contoh 3 – Pertukaran Aset Tetap yang memiliki substansi komersial


Entitas menukar sebuah Kendaraan dengan nilai buku Rp 35.000.000,- dengan Kas Rp
10.000.000,- dan Mesin dengan nilai 75.000.000,-. Nilai wajar Kendaraan adalah Rp
105.000.000,-.

Diminta:
Catatlah transaksi pertukaran Aset Tetap tersebut.
Jawab 3
Kas Rp 10.000.000,-
Mesin Rp 95.000.000,-
Kendaraan Rp 35.000.000,-
Laba Pelepasan Kendaraan Rp 70.000.000,-

b. Pertukaran tidak memiliki Substansi komersial.


Aset Tetap yang diperoleh dengan cara pertukaran dengan Aset lain yang tidak
memiliki substansi komersial dicatat sebesar nilai buku dari Aset yang ditukarkan,
dikurangi Kas yang diterima, jika ada.

Contoh 4 – Pertukaran Aset Tetap yang tidak memiliki substansi komersial


Entitas menukarkan sebuah Mesin A dengan nilai buku Rp 150.000.000,-(harga
perolehan Rp 230.000.000,- dan Akumulasi Depresiasi adalah Rp 80.000.000,-). Nilai
wajar dari Mesin A adalah Rp 250.000.000,-. Mesin A tersebut ditukarkan dengan Mesin
B, nilai wajar Mesin B adalah Rp 160.000.000,- dan Kas sebesar Rp 15.000.000,-. Kedua
Mesin tersebut tidak memiliki substansi komersial.

Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan atas pertukaran Aset tersebut.

Jawab 4
Kas Rp 15.000.000,-
Mesin B Rp 135.000.000,-
Akumulasi Penyusutan Mesin A Rp 80.000.000,-
Mesin A Rp 230.000.000,-

4. Aset Tetap diperoleh dari hibah


Harga Perolehan Aset Tetap yang diperoleh dari hibah atau pemberian ditetapkan
berdasarkan harga pasar Aset sejenis pada saat diterimanya Aset tersebut.

Contoh 5 – Aset Tetap diperoleh dari hibah.


Entitas memperoleh hibah sebuah kendaraan dari pemerintah dengan taksiran harga pasar
kendaraan tersebut adalah Rp 50.000.000,- yang memiliki masa manfaat selama 5 tahun
dan didepresiasi dengan metode Garis Lurus.

Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


4

Jawab 5
a. Pada saat diperoleh
Kendaraan - Hibah Rp 50.000.000,-
Pendapatan Ditangguhkan – Hibah Rp50.000.000,-

b. Pada akhir periode Akuntansi


Beban Depresiasi Kendaraan – Hibah Rp 10.000.000,-
Akumulasi Depresiasi Kendaraan – Hibah Rp10.000.000,-

Pendapatan Ditangguhkan- Hibah Rp 10.000.000,-


Pendapatan Hibah Rp 10.000.000,-

5. Aset Tetap Dibangun Sendiri dengan Biaya Pinjaman


Aset Tetap dapat dibangun sendiri dengan meminjam dana dari Bank. Biaya Pinjaman
(Borrowing Cost) dapat diakui sebagai komponen biaya perolehan Aset Tetap jika
memenuhi kriteria sebagaimana diatur dalam PSAK 26 tentang Biaya Pinjaman, yaitu
jika Biaya Pinjaman secara langsung dapat diatribusikan langsung dengan perolehan,
konstruksi atau produksi suatu Aset Tetap kualifikasian. Aset Tetap kualifikasian adalah
Aset yang membutuhkan waktu cukup lama agar siap digunakan sesuai maksudnya,
waktu tersebut disepakati minimal 6 bulan. Jumlah Biaya Pinjaman yang dapat
dikapitalisasi adalah seluruh Biaya Pinjaman yang terjadi dari pinjaman yang digunakan
untuk pembangunan Aset Tetap dikurangi dengan Pendapatan Bunga yang diperoleh dari
Investasi sementara atas dana hasil pinjaman yang belum digunakan selama periode
pembangunan.

Contoh 6 – Aset Tetap Dibangun Sendiri dengan Biaya Pinjaman


Pada awal Januari 2013, Entitas memutuskan untuk membangun sendiri Gedung yang
akan digunakan untuk pabrik. Gedung tersebut diestimasi memiliki nilai wajar sebesar Rp
700.000.000,-. Pada saat ini Entitas memiliki dua pinjaman, yang salah satunya
digunakan spesifik untuk membangun Gedung. Berikut ini merupakan data tentang
Pinjaman:
Pinjaman A – spesifik untuk membangun Gedung, Rp 500.000.000,-, bunga 10%.
Pinjaman B – Rp 400.000.000,- ,bunga 9%.
Pinjaman yang belum digunakan diinvestasikan dengan pengembalian sebesar 5%.
Biaya Pinjaman dikapitalisasi selama periode pembangunan berikut ini:
31 Januari Rp 450.000.000,-
31 Juli Rp 250.000.000,-

Diminta:
Hitunglah Bunga yang dapat dikapitalisasi selama periode pembangunan dan buatlah
pencatatan yang diperlukan selama periode pembangunan Gedung tersebut.

Jawab 6
Bunga Pinjaman A = 10% x Rp 500.000.000,- x 11/12 = Rp 45.833.333,34,-
Bunga Pinjaman B = 9% x Rp 200.000.000,- x 5/12 = 7.500.000,-
Total Bunga Pinjaman = Rp 53.333.333,34,-
Pinjaman diinvestasikan:
Pinjaman B = 5% x Rp 200.000.000,- x 5/12 = ( 4.166.666,67,-)
Bunga Pinjaman yang dapat dikapitalisasi Rp 49.166.666,67,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


5

Total Biaya Bunga yang seharusnya dibayarkan:


Pinjaman A = 10% x Rp 500.000.000,- = Rp 50.000.000,-
Pinjaman B = 9% x Rp 400.000.000,- = 36.000.000,-
Rp 86.000.000,-
Biaya Bunga dikapitalisasi = ( 49.166.666,67,-)
Biaya Bunga = Rp 36.833.333,33,-

Pencatatan yang diperlukan


31 Januari
Gedung Rp 450.000.000,-
Kas Rp 450.000.000,-

31 Juli
Gedung Rp 250.000.000,-
Kas Rp 250.000.000,-

31 Desember
Kas Rp 4.166.666,67,-
Pendapatan Investasi Rp 4.166.666,67,-

Gedung Rp 49.166.666,67,-
Biaya Bunga 36.833.333,33
Kas Rp 86.000.000,-

Penyusutan Aset Tetap


Penyusutan adalah proses pengalokasian Biaya Perolehan suatu Aset Tetap sedemikian
sehingga jumlah yang dapat disusutkan dari suatu Aset Tetap dapat dialokasikan secara
sistematis selama umur manfaatnya.

Terdapat 3 hal penting yang diperhitungkan dalam menentukan nilai Penyusutan suatu
Aset Tetap, yaitu:
1. Masa Manfaat,
2. Nilai Residu,
3. Jumlah yang dapat disusutkan.

Masa Manfaat
Masa manfaat adalah estimasi periode tertentu dimana Aset Tetap diharapkan dapat
digunakan sehingga manfaat ekonomis dari Aset Tetap dapat diperoleh Entitas. Adapun
faktor – faktor yang diperhitungkan:
1. Prakiraan daya pakai dari Aset, daya pakai ini merujukk pada prakiraan kapasitas atau
kemampuan fisik Aset tersebut untuk menghasilkan sesuatu.
2. Prakiraan tingkat keausan fisik, memperhitungkan factor pengoprasian Aset seperti
jumlah shift penggunaan Aset, program pemeliharaan Aset dan perawatannya baik
pada saat digunakan maupun pada saat menganggur.
3. Keusangan teknis dan keusangan komersial yang diakibatkan oleh perubahan atau
peningkatan produksi, dan juga karena periubahan permintaan pasar atas produk atau
jasa yang dihasilkan Aset tersebut.
4. Pembatasan waktu penggunaan Aset karena aspek hukum atau peraturan tertentu,
seperti berakhirnya waktu penggunaan sehubungan dengan sewa.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


6

Nilai Residu
Nilai residu merupakan suatu nilai taksiran harga jual atau harga pasar suatu Aset Tetap yang
telah habis masa manfaatnya, atau telah habis disusutkan.

Jumlah yang dapat disusutkan


Jumlah yang dapat disusutkan dari suatu Aset Tetap adalah Biaya Perolehan atau jumlah lain
yang menjadi pengganti Biaya Perolehan dikurangi nilai residunya.

Metode Penyusutan
Terdapat beberapa metode penyusutan yang dapat dipilih oleh Entitas dalam mengalokasikan
Biaya Perolehannya, yaitu:
1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)
2. Metode Saldo Menurun Ganda (Double Declining Balance Method)
3. Metode Jumlah Unit Produksi (Sum of Unit Production Method)

Metode Garis Lurus (Straight Line Method)


Metode ini mengestimasikan bahwa manfaat Aset akan diperoleh secara merata selama masa
manfaat Aset tersebut, Beban penyusutan dihitung sbb:

𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑃𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛 − 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑅𝑒𝑠𝑖𝑑𝑢


𝑀𝑎𝑠𝑎 𝑀𝑎𝑛𝑓𝑎𝑎𝑡

Contoh 7 – Penyusutan dengan Metode Garis Lurus


Entitas memiliki Mesin dengan Harga Perolehan Rp 100.000.000,- yang dibeli pada awal
tahun, dengan Masa Manfaat 5 tahun. Estimasi nilai residu adalah Rp 5.000.000,-,

Diminta:
Hitunglah Nilai Penyusutannya per tahun.

Jawab 7

𝑅𝑝 100.000.000 – 𝑅𝑝 5.000.000
𝑃𝑒𝑛𝑦𝑢𝑠𝑢𝑡𝑎𝑛/𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 = = 𝑅𝑝 19.000.000, −/𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
5

Metode Saldo Menurun Ganda (Double Declining Balance Method)


Metode ini memberikan membebankan tarif ganda pada awal Masa Manfaat untuk kemudian
semakin menurun secara periodic hingga akhir Masa Manfaat. Tarif tersebut dibebankan
secara tetap terhadap nilai buku.

Contoh 8 – Metode Saldo Menurun Ganda


Sebuah Gedung diperoleh Entitas dengan Harga Rp 500.000.000,-. Masa Manfaat ditaksir
adalah 10 tahun dengan Nilai Residu Rp 75.000.000,-.
Diminta:
Hitunglah Penyusutan setiap tahun jika Entitas menggunakan metode Saldo Menurun Ganda.

Jawab 8
Tarif Penyusutan = (2 x 100%)/n
= 200% / 10
= 20%

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


7

Untuk mempermudah perhitungan digunakan tabel Penyusutan sbb:

Tahun ke Beban Penyusutan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku


Rp 500.000.000,-
1 Rp100.000.000,- * Rp 100.000.000,- 400.000.000,-
2 80.000.000,- 180.000.000,- 320.000.000,-
3 64.000.000,- 244.000.000,- 256.000.000,-
4 51.200.000,- 295.200.000,- 204.800.000,-
5 40.960.000,- 336.160.000,- 163.840.000,-
6 32.768.000,- 368.928.000,- 131.072.000,-
7 26.214.400,- 395.142.400,- 104.857.600,-
8 20.971.520,- 416.113.920,- 83.886.080,-
9 16.777.216,- 432.891.136,- 67.108.864,-
10 13.421.772,8,- 446.312.908,8,- 53.687.091,2,-

*20% x Rp 500.000.000,- = Rp 100.000.000,-

Metode Unit Produksi (Sum of Unit Production Method)


Metode ini memberikan pembebanan berdasarkan pada penggunaan atau output yang
diharapkan dari suatu Aset. Faktor yang digunakan bisa jumlah unit produksi atau jam
produksi.

Contoh 9 – Metode Unit Produksi


Mesin yang dimiliki Entitas seharga Rp 100.000.000,- memiliki Nilai Residu Rp 5.000.000,-
dan Masa Manfaat selama 5 tahun. Ditaksir Mesin tersebut dapat memproduksi unit dalam
satu tahun adalah sbb:
Tahun 1 50.000 unit
Tahun 2 35.000 unit
Tahun 3 40.000 unit
Tahun 4 15.000 unit
Tahun 5 20.000 unit

Diminta:
Hitunglah Penyusutan setiap tahun berdasarkan jumlah unit produksi.

Jawab 9
Total estimasi Unit Produksi selama 5 (lima) tahun adalah:
Tahun 1 50.000 unit
Tahun 2 35.000 unit
Tahun 3 40.000 unit
Tahun 4 15.000 unit
Tahun 5 20.000 unit
Total 160.000 unit

50.000 𝑢𝑛𝑖𝑡
𝑃𝑒𝑛𝑦𝑢𝑠𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑘𝑒 1 = 𝑥 𝑅𝑝 95.000.000, −= 𝑅𝑝 29.687.500, −
160.000 𝑢𝑛𝑖𝑡

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


8

35.000 𝑢𝑛𝑖𝑡
𝑃𝑒𝑛𝑦𝑢𝑠𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑘𝑒 2 = 𝑥 𝑅𝑝 95.000.000, −= 𝑅𝑝 20.781.250, −
160.000 𝑢𝑛𝑖𝑡

40.000 𝑢𝑛𝑖𝑡
𝑃𝑒𝑛𝑦𝑢𝑠𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑘𝑒 3 = 𝑥 𝑅𝑝 95.000.000, −= 𝑅𝑝 23.750.000, −
160.000 𝑢𝑛𝑖𝑡

15.000 𝑢𝑛𝑖𝑡
𝑃𝑒𝑛𝑦𝑢𝑠𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑘𝑒 4 = 𝑥 𝑅𝑝 95.000.000, −= 𝑅𝑝 8.906.250, −
160.000 𝑢𝑛𝑖𝑡

20.000 𝑢𝑛𝑖𝑡
𝑃𝑒𝑛𝑦𝑢𝑠𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑘𝑒 4 = 𝑥 𝑅𝑝 95.000.000, −= 𝑅𝑝 11.875.000, −
160.000 𝑢𝑛𝑖𝑡

Pencatatan Penyusutan
Pencatatan Penyusutan dalam Jurnal Penyesuaian di akhir periode adalah:
Beban Penyusutan Aset Tetap xxx
Akumulasi Penyusutan Aset Tetap xxx

Penurunan Nilai (Impairment) Aset Tetap


Suatu Aset Tetap dapat mengalami penurunan nilai (Impairment), SAK mengatur Penurunan
Nilai Aset pada PSAK 48. Suatu Aset dikatakan mengalami penurunan nilai apabila jumlah
tercatatnya lebih besar daripada jumlah yang dapat dipulihkan (recoverable amount). Jika
terdapat indikasi penurunan nilai perhitungan penurunan nilai harus dilakukan Entitas pada
tanggal pelaporan keuangan, namun jika tidak terdapat indikasi maka Entitas tidak perlu
menghitung lebih lanjut.

Indikasi Penurunan Nilai


PSAK 48 memberikan pedoman informasi yang dapat digunakan untuk indikasi penurunan
nilai sbb:
1. Informasi Eksternal
a. Terdapat penurunan nilai pasar Aset secara signifikan selama periode tersebut.
b. Terdapat perubahan yang signifikan dalam hal teknologi, pasar, ekonomi atau lingkup
hukum tempat Entitas beroperasi dimana Aset digunakan.
c. Terdapat peningkatan suku bunga pasar atau tingkat imbalan pasar dari investasi
selama periode tersebut.
d. Jumlah tercatat Aset bersih Entitas melebihi kapitalisasi pasarnya.
2. Informasi Internal
a. Terdapat bukti keusangan atau kerusakan fisik Aset.
b. Telah terjadi atau akan terjadi perubahan signifikan yang berdampak merugikan
sehubungan dengan seberapa jauh, atau cara Aset digunakan atau diharapkan akan
digunakan.
c. Terdapat bukti dari pelaporan internal yang mengindikasikan bahwa kinerja ekonomi
Aset lebih buruk dari yang diharapkan.

Pengujian Impairment
Impairment terjadi apabila nilai tercatat lebih besar daripada nilai yang dapat dipulihkan.
Nilai tercatat Aset harus diturunkan menjadi sebesar nilai yang dapat dipulihkan, dan
penurunan tersebut merupakan Rugi penurunan nilai Aset yang diakui dalam Laporan Laba
Rugi. Sedangkan nilai yang dapat dipulihkan (recoverable amount) merupakan perbandingan

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


9

antara harga jual dikurangi biaya untuk menjual dengan nilai pakai, mana yang lebih tinggi.
Berikut adalah skema pengujian impairment:

Nilai Tercatat Nilai


˃ Terpulihkan

Lebih Tinggi

Harga Jual – Biaya Nilai Pakai


untuk menjual

Pencatatan yang perlu dilakukan apabila terjadi Impairment adalah sbb:


Rugi Penurunan Nilai xxx
Aset Tetap xxx

Pengukuran Aset Tetap Setelah Pengakuan Awal


Pengakuan awal Aset Tetap adalah pada Harga Perolehan, namun setelah pengakuan awal
Entitas bisa memilih untuk pengukuran selanjutnya dengan menggunakan salah satu dari
model berikut ini:
1. Model Biaya (Cost Model)
2. Model Revaluasi (Revaluation Model)

Model Biaya (Cost Model)


Pengukuran dengan Model Biaya adalah Aset Tetap dicatat sebesar Harga Perolehan
dikurangi Akumulasi Depresiasi dan Akumulasi Rugi Penurunan Nilai Aset.

Contoh 7 – Pengukuran Aset Tetap dengan Model Biaya


Berikut ini adalah data terkait dengan Kendaraan yang dimiliki oleh Entitas pada akhir
periode Akuntansi. Harga Perolehan Kendaraan adalah Rp 120.000.000,- dengan Nilai
Residu sebesar Rp 20.000.000,-. Masa Manfaat Aset diestimasikan adalah 5 tahun dan
disusutkan dengan Metode Garis Lurus. Kendaraan telah disusutkan selama 2 tahun. Pada
akhir tahun kedua Kendaraan terindikasi mengalami penurunan nilai. Nilai tercatat adalah Rp
100.000.000,- dan nilai pakai adalah Rp 70.000.000,-. Entitas memperkirakan dapat menjual
Kendaraan tersebut dengan harga Rp 100.000.000,- dengan Biaya Penjualan Rp 20.000.000,-

Diminta:
Catatlah Kendaraan tersebut dengan Model Biaya.
Jawab 7
Harga Perolehan Kendaraan Rp 120.000.000,-
Akumulasi Penyusutan Aset = 2 x Rp 20.000.000,- ( 40.000.000,-)
Pengujian Penurunan Nilai
Nilai Tercatat = Rp 100.000.000,-
Nilai Terpulihkan:

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


10

Harga Jual – Biaya Penjualan = Rp 80.000.000,-


Nilai Pakai = Rp 70.000.000,-
Nilai Terpulihkan = Rp 80.000.000,-
Penurunan Nilai Kendaraan ( 20.000.000,-)
Kendaraan Net Rp 60.000.000,-

Model Revaluasi (Revaluation Model)


Suatu Aset Tetap yang nilai wajarnya dapat diukur secara andal harus dicatat pada jumlah
revaluasian, yaitu nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan
akumulasi rugi penurunan nilai, jika ada.

Nilai Wajar
Menurut PSAK 16 Nilai Wajar adalah jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu
Aset antara pihak – pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam
suatu transaksi dengan nilai wajar (arm’s length transaction). Nilai wajar dari Aset Tetap
biasanya ditentukan oleh penilai, namun Entitas dapat mengestimasi nilai wajar
menggunakan pendekatan penghasilan atau biaya pengganti yang telah disusutkan.
Jika suatu Aset Tetap direvaluasi maka terdapat dua alternatif dalam memperlakukan
Penyusutannya, yaitu:
1. Disajikan kembali secara proporsional, sehingga jumlah tercatat Aset setelah revaluasi
sama dengan jumlah revaluasian.
2. Dieliminasi terhadap jumlah tercatat bruto dari Aset dan jumlah tercatat neto setelah
eliminasi disajikan kembali sebesar jumlah revaluasian Aset tersebut.

Contoh 8 – Pengukuran Model Revaluasi


Entitas memiliki Kendaraan dengan Harga Perolehan Rp 250.000.000,- yang diperoleh pada
tanggal 1 Januari 2012. Masa Manfaat Aset adalah 5 tahun tanpa nilai Residu. Entitas
memilih untuk menggunakan model revaluasi untuk Kendaraan tersebut. Pada tanggal 31
Desember 2013 nilai wajar Kendaraan tersebut adalah Rp 450.000.000,-.

Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan jika Penyusutan disajikan secara proposional dan
eliminasi.

Jawab 8
Penyusutan per tahun = Rp 250.000.000,-/ 5 tahun = Rp 50.000.000,-
Nilai Buku Kendaraan = Rp 250.000.000, - Rp 100.000.000,- = Rp 150.000.000,-
Selisih Surplus Revaluasi = Rp 450.000.000,- - Rp 150.000.000,- = Rp 300.000.000,-

a. Metode Proposional
Kendaraan Rp 500.000.000,-
Akumulasi Penyusutan Kendaraan Rp 200.000.000,-
Surplus Revaluasi 300.000.000,-

∗ 𝑅𝑝 450.000.000 − 𝑅𝑝 150.000.000
𝑥 𝑅𝑝 100.000.000 = 𝑅𝑝 200.000.000, −
𝑅𝑝 150.000.000

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


11

b. Metode Eliminasi
Akumulasi Penyusutan Kendaraan Rp 100.000.000,-
Kendaraan Rp 100.000.000,-

Kendaraan Rp 300.000.000,-
Surplus Revaluasi Rp 300.000.000,-

Jika jumlah tercatat Aset meningkat karena revaluasi maka peningkatannya langsung
dicatat ke Surplus Revaluasi, namun jika sebelumnya terdapat Impairment yang telah
diakui dalam Laporan Laba Rugi Komprehensif, maka kenaikan tersebut harus diakui
hingga sebesar jumlah Impairment. Sebaliknya, jika jumlah tercatat Aset menurun karena
revaluasi, maka penurunan tersebut dicatat dalam Laporan Laba Rugi Komprehensif
sebagai Rugi Revaluasi, namun jika terdapat saldo kredit dari Surplus Revaluasi maka
penurunan revaluasi di debit ke Surplus Revaluasi.

Penghentian Aset Tetap


Jumlah tercatat Aset Tetap dihentikan pengakuannya pada saat:
1. Disingkirkan karena rusak sehingga tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang
diharapkan dari penggunaannya atau pelepasannya.
2. Dijual.

Jika terdapat Laba atau Rugi yang timbul dari penghentian Aset Tetap maka harus
dilaporkan dalam Laporan Laba Rugi Komprehensif pada saat Aset tersebut dihentikan
pengakuannya.

Contoh 9 – Penghentian Aset Tetap karena rusak


Pada awal Juli 2013, sebuah Kendaraan yang dimiliki Entitas mengalami kecelakaan yang
mengakibatkan kerusakan permanen dan tidak dapat lagi digunakan. Kendaraan itu
diperoleh pada awal April 2011 dengan Harga Perolehan Rp 200.000.000,-. Kendaraan
tersebut disusutkan selama 5 tahun sejak tanggal perolehan tanpa taksiran nilai Residu.
Entitas dalam melakukan pengukuran menggunakan model Biaya.

Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan dalam penghentian Kendaraan.

Jawab 9
Penyusutan = Rp 200.000.000,- / 5 = Rp 40.000.000,-
Harga Perolehan Kendaraan Rp 200.000.000,-
Akumulasi Penyusutan Kendaraan:
Tahun 2011 = 9/12 x Rp 40.000.000,- = Rp 30.000.000,-
Tahun 2012 = = Rp 40.000.000,-
Tahun 2013 = 6/12 x Rp 40.000.000,- = Rp 20.000.000,-
Jumlah Akumulasi Penyusutan Kendaraan (Rp 90.000.000,-)
Rugi Penyingkiran Kendaraan Rp 110.000.000,-

Pencatatan penghentian Kendaraan adalah sbb:


1. Pencatatan Penyusutan Kendaraan 1 Januari – 30 Juni 2013
Beban Penyusutan Kendaraan Rp 20.000.000,-
Akumulasi Penyusutan Kendaraan Rp 20.000.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


12

2. Pencatatan penghentian Kendaraan


Akumulasi Penyusutan Kendaraan Rp 90.000.000,-
Rugi Penyingkiran Kendaraan Rp 110.000.000,-
Kendaraan Rp 200.000.000,-

Contoh 10 – Penghentian Aset Tetap karena dijual


Kendaraan yang dimiliki Entitas dari awal Januari 2012 dijual dengan hasil Penjualan
bersih Rp 70.000.000,- pada awal April 2013. Kendaraan tersebut diperoleh dengan harga
Rp 100.000.000,-, diestimasi memiliki Masa Manfaat selama 10 tahun. Entitas
menggunakan Cost Model dalam pengukuran Kendaraan tersebut. Buatlah pencatatan
yang diperlukan.

Jawab 10
Penyusutan Kendaraan = Rp 100.000.000,-/10 = Rp 10.000.000,-/tahun
Harga Perolehan Kendaraan Rp 100.000.000,-
Akumulasi Penyusutan
Tahun 2012 = Rp 10.000.000,-
Tahun 2013 = 3/12 x Rp 10.000.000,- = Rp 2.500.000,-
Jumlah Akumulasi Penyusutan ( Rp 12.500.000,-)
Nilai Buku Kendaraan saat dijual Rp 87.500.000,-
Hasil Bersih Penjualan Rp 70.000.000,-
Rugi Penjualan Kendaraan Rp 17.500.000,-

Pencatatan penjualan Kendaraan adalah sbb:


1. Pencatatan Penyusutan Kendaraan 1 Januari – 28 Februari 2013
Beban Penyusutan Kendaraan Rp 2.500.000,-
Akumulasi Penyusutan Kendaraan Rp 2.500.000,-

2. Pencatatan penjualan Kendaraan


Kas Rp 70.000.000,-
Akumulasi Penyusutan Kendaraan 12.500.000,-
Rugi Penjualan Kendaraan 17.500.000,-
Kendaraan Rp 100.000.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


13

Soal Latihan – Aset Tetap

Soal 1
Javanese Retail bergerak dalam bidang retail barang – barang konsumsi. Untuk keperluan
jasa pengiriman barang kepada konsumen, Entitas membeli 3 Truk baru pada tanggal 1
Oktober 2013. Berikut ini adalah keterangan tentang Pembelian Truk tersebut.
1. Truk A, Harga beli Rp 65.000.000,-, Uang Muka dibayarkan adalah 20%. Ditaksir
memiliki masa manfaat selama 10 tahun.
2. Truk B, Harga beli Rp 84.000.000,-, dibeli secara tunai. Ditaksir memiliki masa manfaat
selama 7 (Tujuh) tahun.
3. Truk C, Harga beli Rp 58.000.000,- memerlukan beberapa renovasi untuk
mempersiapkan Truk tersebut sesuai yang diinginkan Entitas. Renovasi memerlukan
biaya Rp 15.000.000,-. Masa manfaat ditaksir 5 tahun.

Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan untuk ketiga jenis Truk ini pada saat Perolehan dan pada
saat Penyusutan di akhir tahun 2013 apabila Entitas menggunakan Metode Garis Lurus untuk
Penyusutannya.

Soal 2
PT Wealthy membeli Mesin baru untuk keperluan produksinya pada tanggal 1 Juli 2013.
Harga Perolehan dari Mesin tersebut adalah Rp 250.000.000,-. Entitas mengestimasi bahwa
Mesin akan memiliki masa manfaat selama 5 tahun, memiliki Nilai Residu Rp 50.000.000,-,
dan dapat memproduksi sebanyak 25.000 unit setahun.

Diminta:
Catatlah Penyusutan jika Entitas menggunakan metode:
1. Garis Lurus
2. Saldo Menurun Ganda
3. Metode Aktivitas, dengan asumsi bahwa selama tahun 2013 Mesin memproduksi
sebanyak 500 unit.

Soal 3
Entitas membeli sebuah Bangunan tua untuk dibongkar dan dijadikan kantor. Berikut adalah
Biaya – biaya yang timbul dalam transaksi pembelian Bangunan tersebut:
Harga Bangunan Rp 7.500.000.000,-
PPN 750.000.000,-
Biaya Notaris 75.000.000,-
Biaya Agen Properti 15.000.000,-
Biaya Alat Berat 100.000.000,-
Biaya Negosiasi 10.000.000,-
Biaya Tenaga Ahli dan Tukang 55.000.000,-

Diminta:
Tentukan Harga Perolehan Gedung tersebut.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


14

Soal 4
Entitas membeli Tanah dan Bangunan secara lump – sum dengan harga Rp 1.200.000.000,-.
Nilai wajar dari masing – masing Aset tersebut adalah sbb:
Tanah Rp 1.000.000.000,-
Bangunan Rp 300.000.000,-
Total Rp1.300.000.000,-

Diminta:
Hitunglah Harga Perolehan masing – masing Aset dan buatlah pencatatan yang diperlukan.

Soal 5
Entitas menukar sebuah Bangunan dengan nilai buku Rp 110.000.000,- dengan Kas Rp
50.000.000,- dan Tanah dengan nilai 250.000.000,-. Nilai wajar Kendaraan adalah Rp
120.000.000,-.

Diminta:
Catatlah transaksi pertukaran Aset Tetap tersebut.

Soal 6
Entitas menukarkan sebuah Kendaraan A dengan nilai buku Rp 110.000.000,-(harga
perolehan Rp 250.000.000,- dan Akumulasi Depresiasi adalah Rp 50.000.000,-). Nilai wajar
dari Kendaraan A adalah Rp 280.000.000,-. Kendaraan A tersebut ditukarkan dengan
Kendaraan B, nilai wajar Kendaraan B adalah Rp 220.000.000,- dan Kas sebesar Rp
25.000.000,-. Kedua Kendaraan tersebut tidak memiliki substansi komersial.

Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan dalam pertukaran Aset Tetap tersebut.

Soal 7
Pada awal Maret 2013, Entitas memutuskan untuk membuat sendiri Mesin yang akan
digunakan untuk produksi. Mesin tersebut diestimasi memiliki nilai wajar sebesar Rp
200.000.000,-. Pada saat ini Entitas memiliki dua pinjaman, yang salah satunya digunakan
spesifik untuk membuat Mesin. Berikut ini merupakan data tentang Pinjaman:
Pinjaman Bank – spesifik untuk membuat Mesin, Rp 175.000.000,-, bunga 9%.
Utang Obligasi – Rp 100.000.000,- ,bunga 8%.
Pinjaman yang belum digunakan diinvestasikan dengan return sebesar Rp 10.000.000,-.
Biaya Pinjaman dikapitalisasi selama periode pembangunan berikut ini:
1 April Rp 120.000.000,-
1 September Rp 80.000.000,-

Diminta:
Hitunglah Bunga yang dapat dikapitalisasi selama periode pembuatan dan buatlah pencatatan
yang diperlukan selama periode pembuatan Mesin tersebut.

Soal 8
Pada awal Bulan April 2012 Entitas memperoleh sebuah Kendaraan dengan Harga Rp
150.000.000,-. Kendaraan tersebut diestimasi dapat dipakai selama 10 tahun dan Nilai Residu
adalah Rp 5.000.000,-.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


15

Diminta:
Hitunglah Penyusutan pada tahun 2012 dan tahun – tahun selanjutnya.

Soal 9
Sebuah Kendaraan diperoleh Entitas dengan Harga Rp 200.000.000,- pada bulan Juli 2011.
Masa Manfaat ditaksir adalah 5 tahun dengan Nilai Residu Rp 50.000.000,-.

Diminta:
Hitunglah Penyusutan setiap tahun jika Entitas menggunakan metode Saldo Menurun Ganda.

Soal 10
Sebuah Mesin diperoleh dengan Harga Rp 14.500.000.000, yang selama Masa Manfaatnya
diperkirakan dapat digunakan selama 12.000 jam. Taksiran Nilai Residu adalah Rp
2.500.000.000,-. Pada tahun 2013, Mesin tersebut memberikan kontribusi selama 5.000 jam
kerja.

Diminta:
Hitunglah Penyusutan pada tahun 2013.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


16

BAB II
ASET TIDAK BERWUJUD (INTANGIBLE ASSET)
Definisi Aset Tidak Berwujud
Aset tidak berwujud adalah Aset non moneter yang dapat diindentifikasi namun tidak
memiliki substansi fisik, adapun Aset ini dimiliki atau dikuasai oleh Entitas dan dapat
memberikan nilai ekonomis bagi Entitas. Nilai dari Aset tidak berwujud berasal dari hak atau
keistimewaan yang diperoleh entitas dari memiliki Aset tersebut. Standar Akuntansi yang
mengatur tentang Aset tidak berwujud adalah PSAK 19. Beberapa contoh dari Aset tidak
berwujud adalah:

1. Hak Paten (Patent)


Hak Paten adalah hak yang diberikan kepada seseorang, sekelompok orang, entitas,
organisasi ataupun negara yang menemukan hal baru baik formula maupun teknologi untuk
memproduksi, menjual atau mengawasi penemuannya dalam periode waktu tertentu. Harga
perolehan Paten meliputi biaya penelitian, pembuatan model dan gambar, biaya percobaan
produk, biaya pengembangan, biaya pendaftaran paten sampai ke biaya sertifikat ketika paten
telah disetujui. Jika paten diperoleh dengan cara membeli maka harga perolehannya adalah
sebesar harga beli dan pengeluaran lainnya yang terkait dengan pembelian paten tersebut.

2. Hak Cipta (Copyright)


Hak Cipta adalah hak ekslusif pencipta atau pemegang hak cipta untuk menggunakan,
menerbitkan, menjual dan mengawasi karyanya termasuk melarang atau membatasi
penggandaan secara tidak sah atas ciptaannya. Hak cipta berlaku pada berbagai jenis karya
seni, misalnya musik, aransemen musik, puisi, drama, film, koreografi (tari, dansa), lukisan,
patung, desain, pola, dll. Hak cipta termasuk salah satu hak kekayaan intelektual namun tidak
memonopoli dalam menciptakan sesuatu, misalnya dalam hal karya sastra novel Laskar
Pelangi Andrea Hirata, hak cipta pada naskah novel Laskar Pelangi tersebut adalah ekslusif
milik Andrea Hirata namun tidak dapat melarang orang lain atau pihak lain untuk menulis
novel. Hak cipta dapat dijual ke pihak lain dengan perjanjian – perjanjian yang telah
disepakati. Harga perolehan hak cipta mencakup semua biaya yang dikeluarkan mulai saat
pembuatan karya, pengurusan izin hak cipta sampai dengan biaya sertifikat ketika hak cipta
telah disetujui. Jika hak cipta diperoleh dengan cara membeli maka harga perolehannya
adalah sebesar harga beli dan pengeluaran lainnya yang terkait dengan pembelian hak cipta
tersebut. Hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas.

3. Hak Merek Dagang (Trade Mark)


Hak Merek Dagang adalah hak kepada pemilik merek untuk menggunakan nama, logo,
simbol, desain, gambar, atau tanda tertentu atas suatu barang atau jasa yang diusahakannya.
Hak Merek Dagang juga termasuk mengawasi dan melarang pihak lain menggunakan merek
entitas tanpa izin yang sah. Merek merupakan suatu motivasi konsumen dalam memilih
produk karena merek bukan hanya melekat pada produk melainkan juga apa yang ada di
pemikiran konsumen, karena itu merek menjadi teramat penting bagi entitas. Suatu merek
bisa saja menunjuk kepada suatu produk tertentu yang diproduksi atau diusahakan oleh
entitas meski entitas tidak hanya memproduksi atau mengusahakan satu jenis barang itu saja.
Contohnya adalah merek Sanyo, konsumen di Indonesia telah memiliki mind set bahwa
merek Sanyo adalah Pompa Air, meski sebenarnya merek Sanyo bukan hanya untuk Pompa
Air melainkan juga untuk berbagai jenis barang elektronik lain yang diproduksi oleh Sanyo.
Harga perolehan hak merek dagang meliputi biaya desain, biaya pembuatan merek, biaya

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


17

sayembara jika pembuatan gambar/logo/simbol merek tersebut disayembarakan, biaya


pengurusan izin merek sampai biaya sertifikat ketika merek tersebut disetujui.

4. Waralaba (Franchise)
Hak Franchise adalah hak untuk menjual suatu produk, jasa, atau layanan suatu pihak
(franchisor) oleh pihak lain (franchisee) sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Hak
ini termasuk menggunakan fasilitas, simbol, merek, dan SDM namun tidak termasuk hak
untuk menjual atau mengalihkan hak franchise tersebut ke pihak lainnya lagi. Harga
perolehan hak franchise bagi franchisor adalah sebesar biaya perizinan franchise sampai
dengan sertifikat jika franchisenya disetujui, sedangkan harga perolehan hak franchise bagi
franchisee adalah sebesar harga yang dibayarkan kepada franchisor serta biaya lain yang
terkait sampai dengan hak franchise tersebut siap untuk digunakan.
a. Hak Sewa (Lease)
b. Goodwill
c. Software

5. Goodwill
Goodwill biasa disebut nama baik. Goodwill dapat diperoleh dari kombinasi bisnis, yaitu
dimana terdapat perbedaan antara nilai wajar dengan investasi yang dibayarkan untuk
memperoleh Aset, Liabilitas dan Ekuitas Entitas yang digabungkan. Goodwill bisa berupa
Laporan Keuangan yang akuntabel, Karyawan yang setia, Lokasi yang strategis, Pelanggan
yang loyal, Kepercayaan dari Investor dan Pemberi Pinjaman, dan nama baik lainnya.

Pengakuan Aset Tidak Berwujud


Kriteria utama dalam menentukan suatu Aset tidak berwujud harus diakui adalah:
1. Aset tidak berwujud dapat diindentifikasi secara terpisah dari aspek Entitas yang lain.
2. Penggunaan Aset tidak berwujud dikendalikan oleh Entitas sebagai akibat atau kejadian
di masa lalu.
3. Terdapat manfaat ekonomi di masa mendatang untuk Entitas.
4. Biaya Perolehan Aset dapat diukur secara andal.

Pengukuran Aset Tidak Berwujud


Aset tidak berwujud dapat diperoleh langsung secara terpisah dengan aspek Entitas lain, dan
ada pula yang diperoleh karena kombinasi bisnis.
1. Aset tidak berwujud diperoleh secara terpisah. Untuk kondisi Aset tidak berwujud yang
diperoleh terpisah maka pengukuran Harga Perolehannya sama dengan pengukuran Aset
Tetap, yaitu sebesar harga pembelian, pajak, bea impor, dan biaya – biaya yang dapat
diatribusikan secara langsung untuk menyiapkan Aset tersebut sampai siap digunakan
sesuai tujuan.
2. Aset tidak berwujud diperoleh karena kombinasi bisnis. Ketika Aset tidak berwujud
diperoleh dari kombinasi bisnis, Aset tidak berwujud diukur sebesar nilai wajarnya pada
tanggal akuisisi. Jika Aset tidak bewujud tidak mempunyai pasar aktif maka Aset tidak
berwujud diukur berdasarkan jumlah yang akan dibayarkan Entitas dalam transaksi
normal. Jika Harga Perolehan tidak dapat diukur secara andal maka Aset tersebut
dimasukkan ke dalam Goodwill.

Perolehan Aset Tidak Berwujud


Aset Tidak Berwujud dapat diperoleh dengan berbagai cara, yaitu:
1. Perolehan langsung secara terpisah.
2. Perolehan karena kombinasi bisnis.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


18

3. Akuisisi dengan hibah pemerintah.


4. Pertukaran Aset.
5. Aset Tidak Berwujud yang dihasilkan internal.

Contoh 1 – Perolehan Aset Tidak Berwujud


Pada tanggal 1 Maret 2013, Entitas membeli Hak Franchise dari PT OKmart dengan Harga
beli Rp 150.000.000,-. Adapun Hak Franchise yang dibeli Entitas merupakan hak untuk
menjual retail barang – barang konsumsi masyarakat secara umum dalam bentuk mini
market. Untuk menyiapkan mini market tersebut, Entitas memerlukan renovasi tempat senilai
Rp 40.000.000,- dan perizinan usaha senilai Rp 10.000.000,-. Hak Franchise ini ditaksir
memiliki masa manfaat selama 5 tahun.

Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan dalam perolehan Hak Franchise.

Jawab 1
Harga Beli Hak Franchise = Rp 150.000.000,-
Renovasi tempat = 40.000.000,-
Perizinan Usaha = 10.000.000,-
Harga Perolehan = Rp 200.000.000,-

Pencatatan:
1 Maret 2013
Hak Franchise Rp 200.000.000,-
Kas Rp 200.000.000,-

Contoh 2 – Perolehan Aset Tidak Berwujud


PT MEGAH akan mengakuisisi UD MELATI PUTIH dengan menerbitkan Saham Biasa
sebanyak 100.000 lembar dengan nilai nominal Rp 2.000,- per lembar dan nilai wajar Rp
2.500,- per lembar. Selain itu PT MEGAH juga mengeluarkan Kas tunai sebesar Rp
300.000.000,-. Berikut ini adalah Nilai Buku dan Nilai Wajar dari komponen Laporan Posisi
Keuangan UD MELATI PUTIH sesaat sebelum diakuisisi oleh PT MEGAH.

Nilai Buku Nilai Wajar


ASET
Kas Rp 50.000.000,- Rp 50.000.000,-
Piutang, Net 120.000.000,- 170.000.000,-
Persediaan Barang 200.000.000,- 250.000.000,-
Perlengkapan 25.000.000,- 30.000.000,-
Bangunan, Net 500.000.000,- 650.000.000,-
Kendaraan, Net 280.000.000,- 350.000.000,-
TOTAL ASET Rp 1.175.000.000,- Rp 1.500.000.000,-

LIABILITAS
Utang Lancar Rp 75.000.000,- 125.000.000,-
Utang Bank Jangka Panjang 700.000.000,- 1.000.000.000,-
TOTAL LIABILITAS Rp 775.000.000,- Rp 1.125.000.000,-
TOTAL ASET BERSIH Rp 400.000.000,- Rp 375.000.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


19

Diminta:
1. Hitunglah Goodwill.
2. Buatlah Pencatatan yang diperlukan.

Jawab 2
1. Nilai Wajar Saham diterbitkan = 100.000 lembar x Rp 2.500,- = Rp 250.000.000,-
Kas dibayarkan 300.000.000,-
Nilai Wajar Aset Entitas diakuisisi (375.000.000,-)
Goodwill Rp 175.000.000,-

2. Pencatatan yang diperlukan oleh PT MEGAH


Investasi pada UD MELATI PUTIH Rp 550.000.000,-
Modal Saham Biasa 200.000.000,-
Agio Saham Biasa 50.000.000,-
Kas 300.000.000,-

Kas Rp 50.000.000,-
Piutang, Net 170.000.000,-
Persediaan Barang 250.000.000,-
Perlengkapan 30.000.000,-
Bangunan, Net 650.000.000,-
Kendaraan, Net 350.000.000,-
Goodwill 175.000.000,-
Utang Lancar Rp 125.000.000,-
Utang Bank Jangka Panjang 1.000.000.000,-
Investasi pada UD MELATI PUTIH 550.000.000,-

Aset Tidak Berwujud yang dihasilkan secara Internal


Beberapa aktivitas internal Entitas dapat menyebabkan Aset Tidak Berwujud. Aset Tidak
Berwujud yang dihasilkan Internal bisa diakui sebagai Aset Tidak Berwujud apabila
memenuhi kriteria tertentu. Berikut ini adalah proses yang mungkin dapat menghasilkan Aset
Tidak Berwujud Internal:
1. Tahap Riset
2. Tahap Pengembangan

Riset
Riset adalah penelitian orisinal dan terencana yang dilaksanakan dengan harapan memperoleh
pembaruan pengetahuan dan pemahaman teknis atas ilmu yang baru. Aset Tidak Berwujud
yang dihasilkan dari tahap riset tidak dapat diakui, dan Biaya yang terjadi pada saat riset
diakui sebagai Biaya pada saat terjadinya.

Pengembangan
Pengembangan adalah penerapan temuan riset atau pengetahuan lainnya pada suatu rencana
atau rancangan produksi bahan baku, alat, produk, proses, sistem, atau jasa yang sifatnya baru
atau yang mengalami perbaikan substansial, sebelum dimulainya produksi komersial atau
pemakaian. Aset Tidak Berwujud yang dihasilkan dari tahap pengembangan dapat diakui jika
memenuhi persyaratan:
1. Teknis penyelesaian layak.
2. Terdapat niat untuk menyelesaikan, menggunakan dan menjual Aset tersebut.
3. Terdapat kemampuan untuk menggunakan dan menjual Aset tersebut.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


20

4. Hasil dari tahap pengembangan tersebut kemungkinan besar dapat menghasilkan manfaat
ekonomis di masa depan.
5. Tersedia sumber daya yang cukup untuk menyelesaikan, menggunakan atau menjual Aset
tersebut baik sumber daya teknis maupun keuangan.
6. Pengeluaran terkait Aset dapat diukur secara andal.
Ketika Aset Tidak Berwujud Internal hasil dari pengembangan diakui, maka Biaya yang
terjadi dapat dikapitalisasi.

Pengembangan Situs Web


Entitas dalam menjaga keberlanjutan usahanya perlu menyesuaikan diri dengan
perkembangan jaman. Era teknologi beberapa tahun terakhir ini berkembang pesat.
Transaksi-transaksi dapat terjadi tanpa harus melakukan pertemuan secara fisik. Entitas
dalam mengenalkan usahanya, atau melakukan transaksinya dapat menggunakan jaringan
komunikasi internet yang dirasa lebih cepat dan efisien dengan membuat Situs Web.
Pengembangan Situs Web oleh Entitas dapat dipergunakan untuk kebutuhan internal maupun
eksternal.

Penggunaan Situs Web untuk internal diantaranya sebagai berikut:


1. Sebagai data base customer dan supplier
2. Sebagai data base kebijakan Entitas
3. Dapat membantu Entitas mencari dan mengupdate informasi terbaru

Penggunaan Situs Web untuk eksternal diantaranya sebagai berikut:


1. Memperkenalkan Entitas kepada masyarakat
2. Mengiklankan produk atau kegiatan jasa yang dilakukan oleh Entitas
3. Menjual produk Entitas secara online
4. Memberikan pelayanan secara online

Pengembangan Situs Web dapat diakui sebagai Aset Tidak Berwujud jika memenuhi
persyaratan dari ketentuan PSAK 19 tentang pengakuan Aset Tidak Berwujud, terutama yaitu
besar kemungkinan hasil dari pengembangan Situs Web ini dapat memberikan manfaat
ekonomis bagi Entitas.

Biaya Pengembangan Situs Web diatur oleh ISAK 14 tentang Biaya Situs Web, dimana
Intepretasi ini tidak berlaku terhadap:
1. Pengeluaran untuk pembelian, pengembangan dan pengoperasian perangkat
keras/hardware dari Situs Web, misalnya server web, server produksi, koneksi internet.
2. Jasa internet hosting Situs Web Entitas.

Berikut merupakan penerapan ISAK 14 yang berhubungan dengan PSAK:

Tahapan dan Sifat Pengeluaran Perlakuan Akuntansi


Perencanaan, terdiri dari: Diakui sebagai biaya pada saat terjadinya,
1. Melakukan Studi Kelayakan sesuai dengan PSAK 19 tentang Aset Tidak
2. Mendefinisikan spesifikasi perangkat Berwujud.
keras dan piranti lunak
3. Mengevaluasi produk dan supplier
alternative
4. Memilih preferensi

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


21

Pengembangan aplikasi dan infrastruktur, Diatur dengan PSAK 16 tentang Aset Tetap,
terdiri dari: kecuali biaya dapat diatribusikan secara
1. Pembelian atau pengembangan perangkat langsung dengan penyiapan Situs Web untuk
keras beroperasi dengan cara yang dimaksudkan
2. Mendapatkan nama domain manajemen, dan apabila Situs Web
3. Mengembangkan piranti lunak operasi memenuhi kriteria pengakuan PSAK 19.
4. Mengembangkan kode aplikasi
5. Memasang aplikasi yang dikembangkan
pada server web
6. Pengujian stabilitas server
Pengembangan desain grafis Diakui sebagai biaya pada saat terjadinya.
Pengembangan konten, yaitu pembelian, Diakui sebagai biaya pada saat terjadinya
persiapan, persiapan dan mengunduh sesuai dengan PSAK 19 selama konten
informasi baik secara tekstual maupun grafis dikembangkan untuk mengiklankan dan
pada Situs Web yang digunakan untuk mempromosikan produk dan jasa Entitas.
menyebarkan informasi mengenai Entitas,
produk atau layanan yang ditawarkan untuk
dijual dan data akses pelanggan.
Operasi, terdiri dari: Dinilai apakah memenuhi definisi Aset Tidak
1. Memperbarui atau merevisi konten Berwujud dan kriteria pengakuan menurut
2. Menambahkan fungsi baru, fitur dan PSAK 19.
konten baru
3. Mendaftarkan situs web dengan alat
pencarian
4. Membuat cadangan data
5. Menelaah ulang akses keamanan
6. Menganalisa penggunaan situs web
Lain-lain, terdiri dari: Diakui sebagai biaya pada saat terjadinya
1. Pengeluaran Penjualan, administrasi dan sesuai dengan PSAK 19.
overhead umum lain
2. Inefiesiensi yang teridentifikasi dengan
jelas dan kerugian awal operasi yang
terjadi sebelum situs web mencapai
kinerja yang direncanakan
3. Pelatihan karyawan untuk pengoperasian
situs web

Amortisasi Aset Tidak Berwujud


Amortisasi adalah alokasi Harga Perolehan Aset tidak berwujud secara sistematis selama
Masa Manfaatnya. Konsep Amortisasi pada Aset tidak berwujud sama dengan konsep
Penyusutan untuk Aset Tetap.

Masa Manfaat
Entitas perlu mempertimbangkan dua hal dalam mengestimasi Masa Manfaat Aset tidak
berwujud, yaitu:
1. Faktor Ekonomi.
Faktor Ekonomi menentukan periode manfaat ekonomis masa depan yang akan diperoleh
Entitas.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


22

2. Faktor Hukum.
Beberapa Aset tidak berwujud memiliki Masa Manfaat yang dibatasi oleh kontrak atau
ketentuan legal karena itu mungkin dapat membatas Entitas dalam akses pengendalian atas
manfaat tersebut.

Masa Manfaat terbatas.


Amortisasi dilakukan pada Aset tidak berwujud yang memiliki Masa Manfaat yang terbatas,
yang dimulai ketika Aset tersedia untuk digunakan. Ketika Aset tidak berwujud dengan masa
manfaat terbatas dihentikan pengakuannya, maka penghentian pengakuan dilakukan dalam
waktu yang terlebih dahulu antara penggolongan Aset menjadi Tersedia Untuk Dijual atau
Aset Dihentikan Pengakuannya. Metode Amortisasi Aset tidak berwujud sama dengan
metode Penyusutan Aset Tetap. Adapun nilai residu Aset direview secara berkala di akhir
periode.

Masa Manfaat tidak terbatas.


Aset tidak berwujud yang Masa Manfaatnya tidak terbatas tidak perlu dilakukan Amortisasi
namun harus dilakukan uji penurunan nilai secara berkala. Adapun masa manfaat tersebut
juga harus selalu diperhitungkan kembali, karena bisa saja masa manfaat Aset tersebut
menjadi terbatas dikarenakan adanya indikasi penurunan nilai.

Pengukuran Aset Tidak Berwujud setelah Pengakuan Awal


PSAK 19 memperbolehkan 2 dasar untuk pengukuran Aset tidak berwujud, yaitu Model
Biaya (Cost Model) dan Model Revaluasi (Revaluation Model).

Model Biaya (Cost Model)


Dalam model ini, setelah pengukuran awal maka Aset tidak berwujud akan dinilai
berdasarkan Harga Perolehannya, dikurangi dengan akumulasi amortisasi dan akumulasi rugi
penurunan nilai (apabila ada).

Model Revaluasi (Revaluation Model)


Penjelasan tentang model revaluasi pada Aset Tetap juga berlaku untuk Aset tidak berwujud,
dimana Aset tidak berwujud akan dinilai sesuai dengan nilai wajarnya. Namun ada beberapa
hal yang diperhatikan dalam Revaluasi Aset tidak berwujud, yaitu:
1. Jika Aset tidak berwujud tidak diakui pada awalnya, yaitu pada saat terjadinya langsung
dibebankan dan tidak dikapitalisasi), maka tidak boleh mengakui Aset tidak berwujud
pada nilai wajarnya.
2. Dalam PSAK 16 tentang Aset Tetap, perhitungan nilai wajar dapat ditentukan dengan
menggunakan konsep nilai wajar atas proyeksi arus kas, namun hal ini tidak dapat
diterapkan di Aset tidak berwujud, sehingga untuk menentukan nilai wajar dari Aset tidak
berwujud hanya dapat ditentukan dengan mengacu pada pasar aktif Aset tidak berwujud
tersebut.

Penurunan nilai (Impairment) Aset Tidak Berwujud


Aturan tentang penurunan nilai pada Aset Tetap juga berlaku untuk Aset tidak berwujud.
Penurunan nilai terjadi apabila jumlah tercatat lebih besar dari jumlah terpulihkan
(recoverable amount), dimana jumlah terpulihkan adalah jumlah yang lebih tinggi antara nilai
wajar dikurangi biaya untuk menjual dan nilai pakainya.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


23

Ketika Aset Tidak Berwujud mengalami penurunan nilai, maka Entitas mencatatnya sebagai
berikut:

Rugi Penurunan Nilai xxx


Aset Tidak Berwujud xxx

Penghentian Aset Tidak Berwujud


Aset tidak berwujud dihentikan pengakuannya apabila:
1. Dalam proses pelepasan, atau
2. Ketika tidak terdapat lagi manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari
penggunaan atau pelepasannya.
Jika terdapat keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian Aset tidak berwujud
maka diakui dalam Laporan Laba Rugi Komprehensif.

Penyajian Aset Tidak Berwujud


Aset tidak berwujud disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan, yaitu dalam kelompok Aset
tidak lancar. Aset tidak berwujud disajikan bersih setelah dikurangi amortisasi. Sedangkan
Beban Amortisasi dan kerugian dari impairment disajikan dalam Laporan Laba Rugi
komprehensif.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


24

Soal Latihan – Aset Tidak Berwujud

Soal 1
Entitas membeli Hak Franchise dari PT OKmart dengan Harga beli Rp 150.000.000,-.
Adapun Hak Franchise yang dibeli Entitas merupakan hak untuk menjual retail barang –
barang konsumsi masyarakat secara umum dalam bentuk mini market. Untuk menyiapkan
mini market tersebut, Entitas memerlukan renovasi tempat senilai Rp 40.000.000,- dan
perizinan usaha senilai Rp 10.000.000,-. Hak Franchise ini ditaksir memiliki masa manfaat
selama 5 tahun.

Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan dalam perolehan Hak Franchise.

Soal 2
Rumah Produksi Cipta Kreasi memiliki Hak Penyiaran atas sebuah video klip penyiaran iklan
komersial suatu produk kecantikan. Nilai dari hak ini adalah sebesar Rp 500.000.000,-, dan
untuk memperolehnya Entitas juga membayar Biaya Profesional Notaris sebesar Rp
15.000.000,- dan Biaya lainnya terkait dengan penyiarannya di media digital yaitu Rp
25.000.000,-. Hak ini diestimasi berusia 10 tahun.

Diminta:
Hitung dan catatlah amortisasi Hak Siar yang dimiliki Entitas.

Soal 3
PT Kusuma memperoleh sebuah Merek seharga Rp 1.000.000.000,- . Diestimasikan merek
ini akan menghasilkan arus kas selama 20 tahun ke depan. Merek ini diamortisasi selama 20
tahun metode garis lurus. Pada awal tahun kesebelas PT Lancar Sukses membeli Merek ini
dengan harga Rp 750.000.000,-

Diminta:
Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan dalam pengalihan Merek dari PT Kusuma
kepada PT Lancar Sukses.

Soal 4
PT Agri Food adalah Entitas yang bergerak di bidang makanan olahan, pada awal tahun 2014
memperoleh sebuah formula baru yang memungkinkan untuk Entitas memproses makanan
olahan menjadi lebih sehat. Biaya yang terjadi terkait dengan perolehan formula tersebut
adalah sebagai berikut:
Biaya Formula baru Rp 5.000.000.000,-
Training karyawan untuk formula baru Rp 25.000.000,-
Diskon yang diberikan Rp 500.000.000,-
Uji Formula baru Rp 50.000.000,-
Kerugian awal operasi dengan formula baru Rp 20.000.000,-

Diminta:
Hitunglah berapa biaya yang dapat dikapitalisir sebagai Aset Tidak Berwujud

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


25

Soal 5
Pada akhir tahun 2014, Entitas menguji penurunan nilai Hak Merek Dagang yang
dimilikinya. Saat itu, nilai tercatat Merek adalah Rp 300.000.000,-, nilai wajarnya adalah Rp
250.000.000,- dan biaya yang terjadi untuk menjual merek tersebut adalah Rp 50.000.000,-.
Nilai pakai Merek diketahui adalah Rp 150.000.000,-.

Diminta:
Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan jika Merek tersebut teruji mengalami
penurunan nilai.

Soal 6
Entitas tengah mengembangkan Situs Web untuk memperluas jaringan usahanya, berikut ini
adalah beberapa Biaya yang terjadi sehubungan dengan pengembangan Situs Web Entitas:
Biaya spesifikasi hadware dan software Rp 20.000.000,-
Pembelian hardware Rp 100.000.000,-
Biaya pengisian konten untuk promosi produk Rp 35.000.000,-
Pembelian nama domain Rp 10.000.000,-
Biaya pemasangan aplikasi server Rp 25.000.000,-
Biaya desain Situs Web Rp 30.000.000,-

Diminta:
Hitunglah Biaya yang diakui pada saat terjadinya sesuai dengan PSAK 19

Soal 7
PT Tambang Jaya adalah Entitas yang bergerak di bidang pertambangan. Berikut ini
merupakan sebagian dari data Biaya yang ada di Entitas pada tahun 2014.
Biaya Pengeboran Rp 500.000.000-
Biaya Pekerja Lepas Tambang Rp 45.000.000,-
Biaya Perolehan Hak Menambang Rp 1.000.000.000,-
Biaya Pemindahan alat berat Rp 200.000.000,-

Diminta:
Klasifikasikan Biaya yang diatur oleh PSAK 19 tentang Aset Tidak Berwujud.

Soal 8
PT Batik Abadi memiliki hak cipta atas sebuah desain batik kontemporer yang diciptakannya.
Hak cipta tersebut adalah senilai Rp 700.000.000,-dan diamortisasi selama 20 tahun. Pada
awal tahun ke 16, hak cipta tersebut dihentikan penggunaannya karena diketahui Entitas
mencuri desain batik tersebut dari seorang desaigner amatir.

Diminta:
Hitung dan buatlah pencatatan terhadap penghentian Aset tersebut.

Soal 9
PT Pringgodani mengakuisisi CV Renita dengan menerbitkan 20.000 lembar Saham Biasa
nominal Rp 15.000,- per lembar pada tanggal 3 Juni 2014. Pada tanggal tersebut nilai wajar
Saham Biasa adalah Rp 17.000,-. Ketika mengakusisi Saham, Entitas juga mengeluarkan
Biaya untuk konsultan Merger dan Akuisisi sebesar Rp 20.000.000,- dan konsultan Akuntansi
sebesar Rp 15.000.000,-. Ketika diakuisi nilai wajar dari Aset Bersih CV Renita yang dapat
teridentifikasi adalah Rp 280.000.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


26

Diminta:
Hitunglah Goodwill yang mungkin terjadi atas akuisisi CV Renita oleh PT Pringgodani.

Soal 10
PT Yamuna memiliki hak Franchise senilai Rp 450.000.000,- yang diamortisasi selama 10
tahun. Pada awal tahun ke 6 Entitas menjual hak tersebut kepada PT Elena dengan harga Rp
250.000.000,-.

Diminta:
Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan dalam penjualan hak tersebut.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


27

BAB III
PROPERTI INVESTASI
Definisi Properti Investasi
Properti Investasi adalah properti (Tanah atau Bangunan, atau bagian dari Bangunan atau
keduanya) yang dikuasai oleh pemilik (Entitas/Lessee melalui Sewa Pembiayaan) untuk
menghasilkan rental atau untuk kenaikan nilai. PSAK yang mengatur tentang Properti
Investasi adalah PSAK 13.

Berikut adalah beberapa contoh dari Properti Investasi:


1. Tanah yang dikuasai dalam jangka panjang untuk kenaikan nilai atau dikuasai saat ini
namun penggunaannya di masa depan belum ditentukan dan bukan untuk dijual dalam
jangka pendek di kegiatan sehari – hari.
2. Bangunan yang dimilikioleh Entitas, atau dikuasai Entitas melalui Sewa Pembiayaan, dan
disewakan kepada pihak lain melalui satu atau lebih Sewa Operasi.
3. Bangunan yang belum terpakai namun tersedia untuk disewakan kepada pihak lain
melalui satu atau lebih Sewa Operasi.

Sedangkan Aset berikut ini bukan merupakan Properti Investasi:


1. Properti yang dimaksudkan untuk dijual dalam kegiatan usaha sehari – hari atau sedang
dalam proses pembangunan atau pengembangan untuk dijual.
2. Properti dalam proses pembangunan atau pengembangan atas nama pihak ketiga.
3. Properti yang digunakan sendiri.
4. Properti dalam proses konstruksi atau pengembangan di masa depan digunakan sebagai
Properti Investasi.
5. Properti yang disewakan kepada entitas lain dengan cara Sewa Pembiayaan.

Contoh 1 – Klasifikasi Properti Investasi


Entitas dan anak perusahaannya memiliki Properti sbb:
1. Tanah yang dimiliki dibeli dengan tujuan untuk dijual kembali apabila harganya
meningkat.
2. Bangunan kosong yang dimiliki dan disewakan dengan Sewa Operasi.
3. Properti yang dimiliki anak perusahaan yang akan dijual Entitas sebagai bagian dari
aktivitas bisnisnya.
4. Properti milik Entitas yang digunakan dalam proses produksi.

Diminta:
Klasifikasikan Properti yang dimiliki Entitas dan anak perusahaannya, manakah merupakan
Properti Investasi, Persediaan atau Aset Tetap.

Jawab 1
1. Properti Investasi
2. Properti Investasi
3. Persediaan Properti
4. Aset Tetap

Contoh 2 – Klasifikasi Properti Investasi


Berikut ini adalah beberapa jenis Properti yang ada di Entitas:
1. Properti yang disewakan oleh Entitas dengan Sewa Pembiayaan.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


28

2. Properti yang telah selesai dibangun dan akan dijual sebagai aktivitas sehari-hari.
3. Properti yang dimiliki untuk digunakan pada kegiatan operasional Entitas.
4. Properti yang disewakan oleh Entitas dengan Sewa Operasi.
5. Properti yang sedang dibangun atas nama pihak ketiga.

Diminta:
Sesuaikan jenis-jenis Properti tersebut dengan PSAK yang mengaturnya.

Jawab 2
1. Properti ini merupakan salah satu jenis Sewa/Leasing yang diatur oleh PSAK 30
2. Properti ini merupakan jenis Persediaan yang diatur oleh PSAK 14
3. Properti ini merupakan jenis Aset Tetap yang diatur oleh PSAK 16
4. Properti ini merupakan jenis Properti Investasi yang diatur oleh PSAK 13
5. Properti ini merupakan jenis Kontrak Konstruksi yang diatur oleh PSAK 34

Pengakuan Properti Investasi


Harga Perolehan Properti Investasi diakui sebagai Aset jika dan hanya jika:
1. Besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan Aset tersebut
akan mengalir ke Entitas.
2. Biaya Perolehan Aset dapat diukur secara andal.

Pengukuran Awal Properti Investasi


Properti Investasi yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai Aset harus diukur sebesar
Biaya Perolehan. Biaya Perolehan tersebut meliputi harga pembelian, dan setiap pengeluaran
yang dapat diatribusikan secara langsung. Jika Entitas memperoleh Properti Investasi dengan
cara kredit dan pembayaran untuk Aset melampaui jangka waktu kredit normal, maka
perbedaan antara total pembayaran dengan nilai tunainya diakui sebagai Beban Bunga selama
periode kredit. Biaya perolehan awal hak atas properti yang dikuasai dengan cara sewa dan
dikelompokkan sebagai Properti Investasi yang harus dicatat sebagai sewa pembiayaan
seperti diatur dalam PSAK 30. Sewa harus diakui pada jumlah mana yang lebih rendah
antara nilai wajar dan nilai kini dari pembayaran sewa minimum. Jumlah yang setara harus
diakui sebagai kewajiban.

Properti Investasi juga dapat diperoleh melalui pertukaran Aset non moneter, atau kombinasi
Aset moneter dan non moneter. Jika diperoleh melalui pertukaran, Harga Perolehan diukur
pada nilai wajar, kecuali:
1. Transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial,
2. Nilai wajar dari Aset yang diterima dan diserahkan tidak dapat diukur secara andal.

Contoh 3 – Perolehan Properti Investasi


Pada tanggal 5 Maret 2014, Entitas membeli secara tunai sebuah Gedung perkantoran yang
akan disewakan kepada beberapa usaha. Gedung tersebut senilai Rp 2.000.000.000-. Ketika
Entitas membeli Gedung, Entitas membayar biaya legal sebesar Rp 25.000.000,-, dan biaya
untuk mempersiapkan Gedung tersebut menjadi beberapa unit kantor yang akan disewakan
senilai Rp 700.000.000,-.

Diminta:
Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan sehubungan dengan perolehan Properti
Investasi tersebut.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


29

Jawab 3
Harga Gedung Rp 2.000.000.000,-
Biaya Legal Rp 25.000.000,-
Biaya Persiapan Gedung Rp 700.000.000,-
Total Harga Perolehan Rp 2.725.000.000,-

Pencatatan
Properti Investasi Rp 2.725.000.000,-
Kas Rp 2.725.000.000,-

Contoh 4 – Perolehan Properti Investasi


PT Snowflake memperoleh sebuah Gedung dengan cara Sewa Pembiayaan ke PT Borobudur
pada awal tahun 2011. Gedung tersebut diniatkan akan direntalkan dengan cara Sewa
Operasi. Nilai Gedung tersebut adalah Rp 100.000.000,- yang disewa selama 5 tahun. Bunga
Efektif yang diberlakukan adalah 11% dan pembayaran sewa dilakukan setiap awal tahun.

Diminta:
1. Buatlah uji PV dari pembayaran Sewa minimum jika diketahui Nilai Wajar dari Gedung
adalah Rp 125.000.000,-.
2. Klasifikasikan apakah Gedung tersebut dapat dikategorikan sebagai Properti Investasi.
3. Buatlah pencatatan yang diperlukan.

Jawab 4
1. PV dari pembayaran Sewa minimum dihitung dengan rumusan PV Annuity Due sebagai
berikut:

1 − (1 + 11%)−5
100.000.000, −= 𝑛 𝑥 𝑥(1 + 11%)
11%

100.000.000, −= 𝑛 𝑥 4.10145

𝑛 = 𝑅𝑝 24.381.621, −

Jumlah dikapitalisasi = Rp 24.381.621 x5


= Rp 121.908.120,-

2. Hasil uji PV dari pembayaran Sewa minimum mendekati Nilai Wajar, sehingga Gedung
tersebut dapat dinyatakan diperoleh dengan Sewa Pembiayaan. Adapun dengan
penggunaan Gedung untuk direntalkan secara Sewa Operasi dan diperoleh secara Sewa
Pembiayaan, maka Kendaraan dapat dikatoegorikan sebagai Properti Investasi yang diatur
oleh PSAK 13.
3. Pencatatan yang diperlukan:
Properti Investasi 100.000.000,-
Utang Sewa Pembiayaan 100.000.000,-

Pengukuran Setelah Perolehan


Setelah perolehan Properti Investasi dapat diukur dengan Model Biaya atau Model Nilai
Wajar sesuai dengan jenis Propertinya. Seperti yang dijelaskan berikut ini:

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


30

Jenis Properti Model Pengukuran


Properti yang dikuasai melalui Sewa Model Nilai Wajar
Pembiayaan dan diklasifikasikan sebagai
Properti Investasi
Properti investasi yang menjadi agunan Dapat menggunakan Model Nilai Wajar atau
kewajiban yang menghasilkan imbalan yang Model Biaya
terkait langsung dengan nilai wajar dari, atau
imbalan dari, aset tertentu termasuk properti
investasi
Properti Investasi yang nilai wajarnya tidak Model Biaya
dapat ditentukan secara andal

Model Biaya
Perlakuan Properti Investasi setelah perolehan dengan menggunakan Model Biaya sama
seperti Model Biaya pada Aset Tetap.

Model Nilai Wajar


Model Nilai Wajar dalam Properti Investasi harus diterapkan untuk seluruh Properti
Investasi, bukan hanya kelompok tertentu saja. Seluruh Properti yang diakui sebagai Properti
Investasi diukur berdasarkan nilai wajar. Selisih yang timbul dari penyesuaian ke nilai wajar
langsung diakui dalam Laporan Laba Rugi komprehensif dan tidak dilakukan perhitungan
Penyusutan.

Nilai Wajar
Nilai Wajar adalah nilai pada tanggal tertentu. Pedoman nilai wajar terbaik mengacu pada
harga kini dalam pasar aktif untuk properti serupa dalam lokasi dan kondisi yang sarna dan
berdasarkan pada sewa dan kontrak lain yang serupa. Entitas harus memperhatikan adanya
perbedaan dalam sifat, lokasi, atau kondisi properti, atau ketentuan yang disepakati dalam
sewa dan kontrak lain yang berhubungan dengan properti. Nilai wajar properti investasi
mencerminkan, antara lain, penghasilan rental dari sewa yang sedang berjalan dan asumsi-
asumsi yang layak dan rasional yang mencerminkan keyakinan pihak-pihak yang
berkeinginan bertransaksi dan memiliki pengetahuan memadai mengenai asumsi tentang
penghasilan rental dari sewa di masa depan dengan mengingat kondisi sekarang. Nilai wajar
juga mencerminkan arus kas keluar yang dapat diperkirakan sehubungan dengan properti
tersebut.

Apabila Nilai Wajar dalam pasar aktif yang sejenis tidak dapat ditemukan atau diukur secara
andal, suatu entitas harus mempertimbangkan informasi dari berbagai sumber, termasuk:
1. Nilai Wajar dalam pasar aktif untuk properti yang memiliki sifat, kondisi dan lokasi
berbeda atau berdasarkan pada sewa atau kontrak lain yang berbeda yang disesuaikan
untuk mencerminkan perbedaan tersebut
2. Nilai Wajar properti serupa dalam pasar yang kurang aktif, dengan penyesuaian untuk
mencerminkan adanya perubahan dalam kondisi ekonomi sejakt anggal transaksi terjadi
pada harga tersebut
3. Proyeksi arus kas diskontoan berdasarkan estimasi arus kas di masa depan yang dapat
diandalkan yang didukung dengan syarat/klausul yang terdapat dalam sewa dan kontrak
lain yang ada dan jika mungkin dengan bukti ekstemal seperti pasar kini rental untuk
properti serupa dalam lokasi dan kondisi yang sama, dan penggunaan tarif diskonto yang
mencerrninkan penilaian pasar kini dari ketidakpastian dalam jumlah atau waktu arus kas.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


31

Model Nilai Wajar dan Model Revaluasi


Sebuah Properti yang diklasifikasikan menjadi Properti Investasi (PSAK 13) dan Aset Tetap
(PSAK 16) terkadang menimbulkan permasalahan ketika pengukuran selanjutnya, yaitu
pengukuran dengan Model Nilai Wajar dan Model Revaluasi, karena seperti tidak ada
perbedaan diantara kedua pengukuran tersebut, namun kedua model tersebut tentu saja
berbeda. Berikut ini adalah penjelasan tentang perbedaan pengukuran dengan Model Nilai
Wajar dan Model Revaluasi:

Model Nilai Wajar Model Revaluasi (PSAK 13)


(PSAK 16)
Pengukuran Nilai Wajar Nilai Wajar
Perubahan Nilai Wajar Diakui dalam Laporan Laba Diakui dalam Laporan Laba
Rugi pada saat terjadinya Rugi atau Perubahan Ekuitas
Penyusutan Tidak terdapat Penyusutan Terdapat Penyusutan
Syarat Nilai Wajar Sesuai nilai pasar pada Tidak spesifik, hanya secara
tanggal Laporan Posisi reguler
Keuangan

Contoh 5 – Pengukuran Model Biaya


Gedung yang dimiliki Entitas dimaksudkan untuk dikontrakkan. Gedung tersebut diperoleh
Entitas pada 1 Januari 2014 dengan harga Rp 700.000.000,-. Biaya perbaikan untuk
mempersiapkan Gedung yang dibayarkan oleh Entitas adalah Rp 50.000.000,-. Gedung
tersebut diestimasi memiliki masa manfaat 10 tahun, Nilai Residu diperkirakan adalah Rp
150.000.000,-, sedangkan metode penyusutan yang dilakukan adalah metode Garis Lurus.

Diminta:
Hitunglah nilai Gedung pada akhir tahun 2014 jika Entitas melakukan penilaian berdasarkan
model Biaya.

Jawab 5
Harga Gedung Rp 700.000.000,-
Biaya Perolehan Rp 50.000.000,-
Harga Perolehan Gedung Rp 750.000.000,-

Penyusutan Gedung dengan metode Garis Lurus.

750.000.000 − 150.000.000
Penyusutan = = Rp 60.000.000, −/tahun
10

Nilai Buku di akhir tahun 2014


Harga Perolehan Rp 750.000.000,-
Penyusutan Rp 60.000.000,-
Nilai Buku Rp 690.000.000,-

Contoh 6 – Pengukuran Model Nilai Wajar


Entitas memiliki Gedung yang digunakan untuk disewakan dengan cara Sewa Operasi. Harga
Perolehan Gedung tersebut adalah Rp 200.000.000,- yang diperoleh pada tanggal 1 Januari
2014. Masa Manfaat Aset adalah 5 tahun tanpa nilai Residu. Pada tanggal 31 Desember 2014
nilai wajar Gedung tersebut adalah Rp 350.000.000,-.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


32

Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan jika Entitas melakukan penilaian berdasarkan model
Nilai Wajar.

Jawab 6

Harga Perolehan Gedung Rp 200.000.000,-


Nilai Wajar Gedung Rp 350.000.000,-
Surplus Nilai Wajar Rp 150.000.000,-

Pencatatan yang diperlukan


Properti Investasi 150.000.000,-
Surplus Nilai WajarGedung 150.000.000,-

TRANSFER PROPERTI INVESTASI


Dalam kegiatan usaha sebuah Properti bisa saja mengalami perubahan status. Status sebuah
Properti dapat menjadi Aset Tetap, Persediaan, Konstruksi atau Properti Investasi. Transfer
status sebuah Properti dijelaskan sebagai berikut:

1. Aset Tetap yang dimiliki dan digunakan sendiri, Persediaan untuk dijual atau Kosntruksi
menjadi Properti Investasi. Hal ini terjadi apabila Aset Tetap berhenti digunakan oleh
Entitas/pemilik kemudian disewakan ke pihak lain dengan Sewa Operasi, Persediaan
dihentikan untuk dijual melainkan disewakan atau ditahan sampai nilainya naik, serta
Konstruksi telah selesai dibangun dan mulai digunakan untuk disewakan.
2. Properti Investasi menjadi Aset Tetap atau Persediaan. Hal ini terjadi apabila Properti
Investasi mulai digunakan sendiri oleh Entitas/pemilik untuk kegiatan operasional sehari-
hari atau disediakan khusus untuk dijual.

Pengukuran sebuah properti yang ditransfer statusnya terkait dengan model pengukuran yang
sebelumnya digunakan.

Transfer dengan Model Biaya


Sebuah properti yang sebelumnya menggunakan pengukuran model Biaya dan mengalami
transfer status tidak akan merubah nilai tercatat dari properti tersebut.

Transfer dengan Model Nilai Wajar


Jika sebuah properti sebelumnya menggunakan pengukuran model Nilai Wajar dan
mengalami transfer status, maka hal-hal berikut diberlakukan:
1. Aset Tetap atau Konstruksi berubah menjadi Properti Investasi. Pada tanggal perubahan
maka memberlakukan perbedaan jumlah tercatat antara PSAK 16 dan PSAK 34 dengan
model Nilai Wajar menurut PSAK 13. Perbedaan antara nilai tercatat menurut PSAK
sebelumnya dengan Nilai Wajar diakui dalam Laporan Laba Rugi.
2. Properti Investasi berubah menjadi Aset Tetap atau Persediaan. Pada tanggal perubahan
maka memberlakukan penilaian Nilai Wajar menurut PSAK 16 dan PSAK 14.

Contoh 7
Sebuah Gedung milik Entitas yang biasanya dipakai sendiri untuk kegiatan sehari-hari mulai
tanggal 1 Juli 2014 diputuskan untuk disewakan dengan menggunakan Sewa Operasi.
Gedung diperoleh pada tanggal 1 Januari 2012 dengan harga Rp 1.000.000.000,-. Gedung
tersebut disusutkan selama 10 tahun dengan metode penyusutan Garis Lurus, dan dinilai

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


33

dengan model Revaluasi. Pada tanggal 1 Juli 2014 Nilai Wajar Gedung adalah Rp
1.100.000.000,-.

Diminta:
1. Hitunglah perbedaan antara Nilai tercatat Gedung dengan Nilai Wajarnya.
2. Buatlah pencatatan yang diperlukan.

Jawab 7
1. Revaluasi menurut PSAK 16
Harga Perolehan Gedung Rp 1.000.000.000,-
Penyusutan s.d 1 Juli 2014 Rp (250.000.000,-)
Nilai Buku Gedung Rp 750.000.000,-

Nilai Wajar pada tanggal 1 Juli 2014 Rp 1.100.000.000,-


Nilai Buku Gedung Rp 750.000.000,-
Surplus Revaluasi Rp 350.000.000,-

Model Nilai Wajar menurut PSAK 13


Harga Perolehan Gedung Rp 1.000.000.000,-
Nilai Wajar pada tanggal 1 Juli 2014 Rp 1.100.000.000,-
Surplus Nilai Wajar Rp 100.000.000,-

Total Surplus yang diperoleh dari Nilai Buku Gedung dengan Nilai Wajarnya menjadi
Rp 450.000.000,-

2. Pencatatan yang diperlukan


1 Juli 2014 – Mencatat Surplus Revaluasi Gedung
Gedung 350.000.000,-
Surplus Revaluasi Gedung 350.000.000,-

1 Juli 2014 – Mencatat Perolehan Properti Investasi


Properti Investasi 1.100.000.000,-
Gedung 1.100.000.000,-

Penghentian Properti Investasi


Properti Investasi dihentikan pengakuannya pada saat pelepasan atau ketika Properti Investasi
tersebut tidak digunakan lagi secara permanen dan tidak memiliki manfaat ekonomis di masa
depan. Laba atau Rugi yang timbul dari pelepasan Properti Investasi merupakan selisih antara
hasil neto pelepasan dengan jumlah tercatat Aset, dan diakui dalam Laba Rugi Komprehensif
pada periode terjadinya penghentian.

Penyajian Properti Investasi


Properti Investasi disajikan sebagai bagian dari Aset tidak lancar dalam Laporan Posisi
Keuangan, Properti Investasi disajikan bersih setelah dikurangi Akumulasi Penyusutan dan
Akumulasi Rugi Penurunan Nilai jika menggunakan pengukuran dengan Model Biaya.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


34

Soal Latihan – Properti Investasi

Soal 1
Entitas memiliki sebuah Gedung berlantai 10. Adapun penggunaan setiap lantai dari Gedung
tersebut berbeda-beda, yaitu:
Lantai 1 Digunakan untuk kegiatan operasional dari Entitas
Lantai 2 Disewakan kepada beberapa butik pakaian dan restoran cepat saji
dengan Sewa Pembiayaan
Lantai 3-7 Disewakan kepada Entitas lain dan beberapa jasa pendidikan dengan
Sewa Operasi
Lantai 8-10 Dijual untuk apartemen

Diminta:
Klasifikasikan Gedung tersebut menjadi berbagai jenis properti dan sebutkan PSAK yang
mengaturnya.

Soal 2
Pada tanggal 21 April 2014, Entitas membeli secara tunai sebuah Gedung yang akan
direntalkan menggunakan Sewa Operasi. Harga beli Gedung adalah Rp 300.000.000-. Untuk
keperluan Gedung tersebut Entitas membayar biaya legal sebesar Rp 5.000.000,- dan untuk
mempersiapkan Gedung Entitas juga mengeluarkan biaya sebesar Rp 2.000.000,-.

Diminta:
Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan sehubungan dengan perolehan Properti
Investasi tersebut.

Soal 3
Entitas memiliki Gedung yang digunakan untuk disewakan dengan cara Sewa Operasi. Harga
Perolehan Kendaraan tersebut adalah Rp 2.500.000.000,- yang diperoleh pada tanggal 1
Januari 2014. Masa Manfaat Aset adalah 20 tahun tanpa nilai Residu. Pada tanggal 31
Desember 2014 nilai wajar Kendaraan tersebut adalah Rp 2.750.000.000,-

Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan jika Entitas melakukan penilaian berdasarkan model
Nilai Wajar.

Soal 4
Sebuah Gedung diperoleh Entitas pada tanggal 1 Januari 2014 dengan Sewa Pembiayaan,
Gedung tersebut akan digunakan untuk disewakan dengan Sewa Operasi. Nilai Gedung
adalah Rp 2.000.000.000,-. Jangka waktu Leasing adalah 5 tahun dengan tingkat bunga
efektif adalah 10%. Pembayaran Sewa Pembiayaan dilakukan setiap awal tahun.

Diminta:
1. Buatlah uji PV dari pembayaran Sewa minimum jika diketahui Nilai Wajar dari
Kendaraan adalah Rp 2.400.000.000,-.
2. Klasifikasikan apakah Gedung tersebut dapat dikategorikan sebagai Properti Investasi.
3. Buatlah pencatatan yang diperlukan.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


35

Soal 5
Entitas memiliki sebidang Tanah yang diperolehnya pada awal tahun 2014 ditanami hasil
bumi dan menghasilkan Pendapatan. Tanah tersebut diperoleh Entitas pada harga Rp
1.500.000.000,-. Entitas juga membayar biaya legal atas Tanah tersebut senilai Rp
25.000.000,- dan mempersiapkan Tanah sampai siap digunakan Rp 50.000.000,-. Entitas
menilai Tanah tersebut dengan model Nilai Wajar.

Diminta:
Hitunglah penilaian atas Tanah di akhir tahun 2014 jika diketahui Nilai Wajar Tanah adalah
Rp 1.700.000.000,-, dan buatlah pencatatannya.

Soal 6
Gedung yang dimiliki Entitas dimaksudkan untuk disewakan dengan Sewa Operasi. Gedung
tersebut diperoleh Entitas pada 1 Januari 2014 dengan harga Rp 400.000.000,-. Biaya
persiapan untuk Gedung yang dibayarkan oleh Entitas adalah Rp 10.000.000,-. Gedung
tersebut diestimasi memiliki masa manfaat 5 tahun, tanpa nilai residu, sedangkan metode
penyusutan yang dilakukan adalah metode Garis Lurus.

Diminta:
Hitunglah nilai Properti Investasi pada akhir tahun 2014 jika Entitas melakukan penilaian
berdasarkan model Biaya.

Soal 7
Sebuah Gedung yang dimiliki Entitas untuk dipakai kegiatan sehari-hari mengalami transfer
status pada tanggal 1 Januari 2014 karena akan disewakan dengan menggunakan Sewa
Operasi. Perolehan Gedung tersebut adalah Rp 1.700.000.000,-. Selama ini Gedung dinilai
dengan model Revaluasi. Pada tanggal transfer surplus Revaluasi diketahui adalah Rp
200.000.000,-, sedangkan Nilai Wajar Gedung adalah Rp 1.850.000.000,-.

Diminta:
Hitunglah total Surplus dan buatlah pencatatan yang diperlukan pada tanggal transfer.

Soal 8
Gedung yang dimiliki Entitas dan diakui sebagai Properti Investasi diperoleh pada tanggal 1
Januari 2012. Harga perolehan Gedung tersebut adalah Rp 200.000.000,- dan diestimasi akan
memiliki masa manfaat selama 5 tahun. Gedung disusutkan dengan metode Garis Lurus dan
dinilai dengan model Biaya. Pada tanggal awal April 2014 Gedung tersebut dihentikan
penggunaannya karena rusak dan tidak dapat digunakan lagi.

Diminta:
Hitunglah Laba/Rugi yang terjadi akibat penghentikan Properti Investasi dan buatlah
pencatatan yang diperlukan.

Soal 9
Sebuah Gedung diperoleh Entitas pada tanggal 1 Januari 2014 dengan Sewa Pembiayaan,
Gedung tersebut akan digunakan untuk disewakan dengan Sewa Operasi. Nilai Gedung
adalah Rp 500.000.000,-. Jangka waktu Leasing adalah 5 tahun dengan tingkat bunga efektif
adalah 12%. Pembayaran Sewa Pembiayaan dilakukan setiap akhir tahun.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


36

Diminta:
1. Buatlah uji PV dari pembayaran Sewa minimum jika diketahui Nilai Wajar dari Gedung
adalah Rp 600.000.000,-.
2. Klasifikasikan apakah Gedung tersebut dapat dikategorikan sebagai Properti Investasi.
3. Buatlah pencatatan yang diperlukan.

Soal 10
Sebuah Gedung yang diakui Entitas sebagai Properti Investasi diperoleh Entitas pada tanggal
1 Januari 2011 dengan harga Rp 300.000.000,-. Gedung tersebut diestimasi akan memiliki
masa manfaat selama 3 tahun. Pada akhir tahun 2013 diketahui Nilai Wajar Gedung tersebut
adalah Rp 310.000.000,-.

Diminta:
Hitunglah nilai Properti Investasi apabila digunakan

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


37

BAB IV
LIABILITAS LANCAR (CURRENT LIABILITIES)
Liabilitas Lancar merupakan kewajiban di masa kini akibat kejadian ekonomi di kini maupun
masa lalu yang memerlukan penyelesaian (dilunasi) dalam waktu satu periode Akuntansi.
Liabilitas Lancar merupakan sumber pendanaan bagi keperluan/kepentingan jangka pendek
entitas. Liabilitas Lancar harus diklasifikasikan agar dapat memberikan informasi yang cukup
bagi pihak – pihak yang berkepentingan terhadap Laporan Keuangan. Liabilitas Lancar bisa
terjadi dikarenakan terdapatnya Pembelian secara Kredit, atau Pinjaman ke pihak lain baik ke
entitas afiliasi maupun pihak ketiga yang sifatnya jangka pendek.

Liabilitas Lancar termasuk dalam kategori Instrumen Keuangan yaitu Liabilitas Keuangan.
Standar yang mengaturnya adalah:
1. PSAK 1 – Penyajian Laporan Keuangan
2. PSAK 50 – Penyajian Instrumen Keuangan
3. PSAK 55 – Pengukuran Instrumen Keuangan
4. PSAK 60 – Pengungkapan Instrumen Keuangan

Liabilitas Lancar dapat diukur dengan Nilai Wajar atau dengan Harga Perolehan serta
disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan pada sisi Kredit.

Liabilitas Lancar yang Jumlahnya Sudah Pasti


Liabilitas Lancar yang Jumlahnya Sudah Pasti adalah Liabilitas yang nilai nominalnya dapat
dipastikan ketika menyusun Laporan Posisi Keuangan. Beberapa jenis Liabilitas ini adalah:

1. Utang Usaha/Utang Dagang


Utang Usaha/Utang Dagang terjadi karena Pembelian Barang Dagangan, Jasa atau Aset
lainnya yang dilakukan secara kredit atau angsuran lainnya yang harus dibayarkan dalam
jangka waktu satu periode Akuntansi/perputaran usaha. Hal – hal yang berkaitan dengan
Utang Dagang adalah:

a. Syarat Pengiriman Barang


1) Free On Board (FOB) Shipping Point, adalah pemindah kepemilikan barang kepada
pembeli ketika barang tersebut telah keluar dari gudang penjual.
2) Free on Board (FOB) Destination, adalah pemindah kepemilikan barang kepada
pembeli ketika barang tersebut telah sampai di gudang pembeli.

b. Syarat Pembayaran
Syarat Pembayaran yang tertera dalam faktur terkait dengan Potongan Pembelian yang
merupakan hak Entitas jika membayar Utangnya jika memenuhi syarat pembayaran
tersebut.

Pembelian Barang Dagangan secara kredit yang menimbulkan Utang Dagang dicatat sesuai
dengan metode pencatatan Persediaan dalam masing – masing Entitas.

a. Pencatatan Metode Periodik (Fisik)


1) Saat pengakuan Utang Dagang
Pembelian xxx
Utang Dagang xxx

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


38

2) Saat melunasi Utang dalam masa syarat pembayaran


Utang Dagang xxx
Potongan Pembelian xxx
Kas xxx

3) Saat terjadi Retur Pembelian


Utang Dagang xxx
Retur Pembelian xxx

b. Pencatatan Metode Perpetual


1) Saat Pengakuan Utang Dagang
Persediaan Barang Dagangan xxx
Utang Dagang xxx

2) Saat melunasi Utang dalam masa syarat pembayaran


Utang Dagang xxx
Persediaan Barang Dagangan xxx
Kas xxx

3) Saat terjadi Retur Pembelian


Utang Dagang xxx
Persediaan Barang Dagangan xxx

Contoh 1 – Pencatatan Utang Dagang


Pada tanggal 1 Mei 2014 Entitas membeli Barang Dagangan senilai Rp 50.000.000,- dengan
syarat pembayaran yang berlaku adalah 2/10, n/30. Pada tanggal 3 Mei 2014 Entitas
mengembalikan sejumlah barang yang cacat kepada Supplier senilai Rp 1.000.000,-. Entitas
melunasi Utangnya pada tanggal 5 Mei 2014. Buatlah pencatatan yang diperlukan Entitas
sehubungan dengan Utang Dagangnya jika Entitas mencatatnya dengan metode Periodik dan
Perpetual.

Jawaban 1
a. Metode Periodik
1 Mei 2014
Pembelian Rp 50.000.000,-
Utang Dagang Rp 50.000.000,-

3 Mei 2014
Utang Dagang Rp 1.000.000,-
Retur Pembelian Rp 1.000.000,-

5 Mei 2014
Utang Dagang Rp 49.000.000,-
Potongan Pembelian Rp 980.000,-
Kas Rp 48.020.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


39

b. Metode Perpetual
1 Mei 2014
Persediaan Barang Dagangan Rp 50.000.000,-
Utang Dagang Rp 50.000.000,-

3 Mei 2014
Utang Dagang Rp 1.000.000,-
Persediaan Barang Dagangan Rp 1.000.000,-

5 Mei 2014
Utang Dagang Rp 49.000.000,-
Persediaan Barang Dagangan Rp 980.000,-
Kas Rp 48.020.000,-

2. Utang Wesel/Wesel Bayar (Notes Payable)


Utang Wesel adalah Liabilitas yang dinyatakan dalam bentuk surat kesanggupan membayar
(Promissory Note) atau surat perintah membayar. Dalam Wesel telah tertera kepastian
kepada siapa Wesel tersebut akan dibayarkan, jumlah yang harus dibayarkan dan tanggal
pembayarannya. Utang Wesel dapat dengan bunga maupun tanpa bunga, dan bisa jangka
pendek maupun jangka panjang. Utang Wesel jangka pendek termasuk dalam kategori
Liabilitas Lancar.

Gambar.1 – Promissory note

Contoh 2 – Transaksi Utang Wesel dengan bunga


Pada tanggal 2 November 2013 PT Dominique membeli Barang Dagangan senilai Rp
250.000.000,- dan menerbitkan Wesel Bayar 90 hari dengan bunga 11% per annum. Wesel
akan jatuh tempo pada tanggal 30 Januari 2014. Buatlah pencatatan yang diperlukan untuk
transaksi yang berhubungan dengan Utang Wesel tersebut.

Jawaban 2
2 November 2013
Persediaan Barang Dagangan Rp 250.000.000,-
Utang Wesel Rp 250.000.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


40

31 Desember 2013
Biaya Bunga Wesel Rp 4.583.333,-
Utang Bunga Wesel Rp 4.583.333,-1)
1)

60
𝑥 11% 𝑥 𝑅𝑝 250.000.000, − = 𝑅𝑝 4.583.333, −
360

1 Januari 2014
Utang Bunga Wesel Rp 4.583.333,-
Biaya Bunga Wesel Rp 4.583.333,-

30 Januari 2014
Utang Wesel Rp 250.000.000,-
Biaya Bunga Wesel Rp 6.875.000,-2)
Kas Rp 256.875.000,-
2)

90
𝑥 11% 𝑥 𝑅𝑝 250.000.000, − = 𝑅𝑝 6.875.000, −
360

Contoh 3 – Transaksi Utang Wesel tanpa bunga


PT Utama Karya melunasi Utangnya sebesar Rp 50.000.000,- dengan menerbitkan Wesel
tanpa bunga berjangka waktu 360 hari sebesar Rp 56.000.000,- pada tanggal 1 Maret 2013.
Wesel dilunasi tanggal 23 Februari 2014. Buatlah pencatatan yang diperlukan untuk transaksi
Utang Wesel tersebut.

Jawaban 3
Wesel dengan jenis ini harus dihitung tarif bunga efektif untuk mencari berapa sebenarnya
jumlah bunganya.

56.000.000 − 50.000.000
𝐵𝑢𝑛𝑔𝑎 𝐸𝑓𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓 = = 12% 𝑝𝑒𝑟 𝑎𝑛𝑛𝑢𝑚
50.000.000

1 Maret 2013
Utang Dagang Rp 50.000.000,-
Utang Wesel Rp 50.000.000,-

31 Desember 2013
Biaya Bunga Wesel Rp 5.100.000,-
Utang Bunga Wesel Rp 5.100.000,-3)
3)

306
𝑥 12% 𝑥 50.000.000, −= 𝑅𝑝 5.100.000, −
360

1 Januari 2014
Utang Bunga Wesel Rp 5.100.000,-
Biaya Bunga Wesel Rp 5.100.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


41

23 Februari 2014
Utang Wesel Rp 56.000.000,-
Kas Rp 56.000.000,-

3. Utang Bank Jangka Pendek


Utang Bank Jangka Pendek termasuk ke dalam klasifikasi Liabilitas Lancar. Utang ini
berbunga, namun perhitungan bunga dihitung ulang untuk mendapatkan tingkat bunga
efektif. Dalam Utang Bank Jangka Pendek terdapat Biaya Transaksi dan Provisi, dimana
keduanya akan mempengaruhi jumlah total Utang Jangka Pendek Entitas di Bank.

Contoh 4 – Utang Bank Jangka Pendek


Tanggal 1 Oktober 2013 PT Gemilang meminjam kepada Bank Fulus sebesar Rp
35.000.000,- dengan Provisi sebesar 2% dan Biaya Transaksi Rp 200.000,- berjangka waktu
satu tahun. Tingkat suku bunga adalah 12% setahun. Pokok Utang dan Bunga dibayarkan
pada saat jatuh tempo.

Jawaban 4
Jumlah Pinjaman = Rp 35.000.000,-
Provisi 2% = ( Rp 700.000,-)
Biaya Transaksi = Rp 200.000,-
Total Pinjaman = Rp 34.500.000,-

Perhitungan Bunga Efektif


Jumlah Pinjaman Jatuh Tempo dengan tingkat bunga 12%
Pinjaman = Rp 35.000.000,-
Bunga = 12% x Rp 35.000.000,- = Rp 4.200.000,-
Rp 39.200.000,-

39.200.000 − 34.500.000
𝑇𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑏𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑒𝑓𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓 = = 13.62%
34.500.000

Pencatatan:

1 Oktober 2013
Kas Rp 34.500.000,-
Utang Bank Fulus Rp 34.500.000,-

31 Desember 2013
Biaya Bunga Bank Fulus Rp 1.174.725,-
Utang Bunga Bank Fulus Rp 1.174.725,-4)
4)

3
𝑥 13.62% 𝑥 𝑅𝑝 34.500.000, − = 𝑅𝑝 1.174.725, −
12

1 Januari 2014
Utang Bunga Bank Fulus Rp 1.174.725,-
Biaya Bunga Bank Fulus Rp 1.174.725,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


42

30 September 2014
Biaya Bunga Bank Fulus Rp 4.700.000
Utang Bank Fulus Rp 34.500.000,-
Kas Rp 39.200.000,-

4. Bagian Liabilitas Jangka Panjang yang Jatuh Tempo dalam periode berikutnya.
Bagian Liabilitas Jangka Panjang yang Jatuh Tempo pada periode berikutnya termasuk dalam
kategori Liabilitas Jangka Pendek kecuali:
a. Dilunasi dengan akumulasi dana yang tidak diklasifikasikan sebagai Aset Lancar.
b. Dibiayai kembali atau dilunasi dengan penerbitan Utang Jangka Panjang baru.
c. Dikonversi menjadi Saham Biasa.
Contoh dari Liabilitas ini adalah Obligasi berseri yang salah satu serinya jatuh tempo pada
periode berikutnya. Seri Obligasi yang jatuh tempo harus diklasifikasikan sebagai Liabilitas
Lancar. Adapun Liabilitas jangka panjang yang diminta percepatan pembayaran oleh
krediturnya karena debitur melakukan wan prestasi atau pelanggaran perjanjian juga harus
diklasifikasikan sebagai Liabilitas Lancar. Kreditur bisa saja memberikan kelonggaran waktu
selama 12 bulan, namun jika kelonggaran waktu tersebut diberikan setelah melewati tanggal
pelaporan keuangan maka Liabilitas Jangka Panjang tersebut tetap harus diklasifikasikan
sebagai Liabilitas Lancar.

Contoh 5 – Bagian Utang Jangka Panjang yang Jatuh Tempo pada periode berikutnya.
PT Maju Jaya memiliki Obligasi Berseri dengan total nilai nominal Rp 50.000.000,- yang
diperoleh pada tanggal 1 Januari 2012. Obligasi yang terdiri dari 5 (Lima) seri ini masing –
masing serinya jatuh tempo pada tiap tahun dengan masing – masing nominal Rp
10.000.000,-. Pada tahun 2015 Obligasi seri D akan jatuh tempo. Sehubungan dengan itu PT
Maju Jaya mengakui bagian dari Utang Jangka Panjang yang akan segera jatuh tempo.
Buatlah pencatatan yang diperlukan.

Jawaban 5
Tahun 2015 Obligasi seri D jatuh tempo Rp 10.000.000,-
Pencatatan:
Utang Obligasi Rp 10.000.000,-
Utang Obligasi segera Jatuh Tempo Rp 10.000.000,-

5. Utang Dividen
Secara umum pembagian Dividen oleh Entitas dilakukan dalam dua tanggal, yaitu tanggal
pengumuman dan tanggal pelunasan Dividen. Ketika Entitas mengumumkan akan
membagikan Dividen kepada pemegang Saham, saat itu pula Utang Dividen diakui. Beberapa
hal yang terkait dengan pengakuan Utang Dividen adalah sbb:
a. Utang Dividen diakui pada saat pengumuman pembagian Dividen dalam Rapat
Umum Pemegang Saham.
b. Utang Dividen yang diakui hanyalah Utang Dividen dalam bentuk tunai atau dalam
bentuk Aset.
c. Jika Dividen dibagikan dalam bentuk saham maka tidak boleh diakui sebagai Utang
Dividen.

Pencatatan yang diperlukan terkait dengan Utang Dividen adalah sbb:


1. Tanggal Pengumuman
Laba Ditahan xxx
Utang Dividen xxx

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


43

2. Tanggal Pelunasan
Utang Dividen xxx
Kas xxx

Contoh 6 – Pengakuan Utang Dividen


Pada tanggal 1 Juni 2013 Entitas mengumumkan akan membagikan Dividen Kas senilai Rp
500.000.000,-. Adapun Dividen akan dibagikan pada tanggal 2 Agustus 2013. Buatlah
pencatatan yang diperlukan untuk Utang Dividen tsb.

Jawaban 6
1 Juni 2013
Laba Ditahan Rp 500.000.000,-
Utang Dividen Rp 500.000.000,-

2 Agustus 2013
Utang Dividen Rp 500.000.000,-
Kas Rp 500.000.000,-

6. Pembayaran Jaminan oleh Pelanggan


Entitas mungkin menjual barang atau jasa disertai pembayaran uang jaminan. Jaminan ini
hanya untuk memastikan keselamatan dari barang atau jasa yang ditransaksikan. Contoh dari
penjualan barang atau jasa yang disertai jaminan dari pelanggan adalah penjualan air
kemasan galon. Pelanggan ketika pertama kali membeli air kemasan harus memberikan
jaminan sejumlah uang untuk keselamatan galon selama berlangganan air kemasan. Ketika
pembeli berhenti berlangganan air kemasan, uang jaminan tersebut akan dikembalikan oleh
perusahaan. Uang jaminan diperlakukan sebagai Liabilitas Lancar oleh entitas.

Contoh 7 – Utang Jaminan


Apartemen Gold menyewakan beberapa unit – unitnya. Harga sewa satu unit apartemen
untuk satu bulan adalah Rp 2.500.000,-. Untuk menyewa satu unit apartemen, di bulan
pertama penyewa diwajibkan membayar uang jaminan untuk biaya perbaikan jika penyewa
merusak apartemen yang disewanya. Uang jaminan tersebut adalah sebesar 2 bulan sewa,
akan dikembalikan kepada penyewa apabila masa sewa telah berakhir dan tidak ada
kerusakan yang diperbuat terhadap apartemen yang disewanya. Buatlah pencatatan yang
diperlukan untuk transaksi tersebut.

Jawaban 7
14 Mei 2013
Kas Rp 7.500.000,-
Pendapatan Sewa Apartemen Rp 2.500.000,-
Utang Jaminan Sewa Apartemen Rp 5.000.000,-

7. Pendapatan Diterima di Muka


Pendapatan Diterima di Muka adalah Pendapatan di muka atas barang yang belum dikirimkan
atau jasa yang belum dilakukan oleh entitas. Penerimaan semacam ini belum dapat diakui
sebagai Pendapatan oleh entitas, melainkan diakui sebagai Liabilitas Lancar, karena entitas
masih memiliki kewajiban untuk mengirimkan barang atau melakukan jasanya. Pencatatan
Pendapatan Diterima di Muka dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


44

a. Dianggap sebagai Liabilitas/Utang, yaitu saat terjadi transaksi Pendapatan Diterima di


Muka langsung diakui sebagai Liabilitas/Utang.
Saat transaksi Pendapatan Diterima di Muka mencatat sbb:
Kas xxx
Pendapatan Diterima di Muka xxx

Saat Penyesuaian Pendapatan yang sesungguhnya diakui mencatat sbb:


Pendapatan Diterima di Muka xxx
Pendapatan xxx

b. Dianggap sebagai Pendapatan, yaitu saat terjadinya transaksi Pendapatan Diterima di


Muka langsung diakui sebagai Pendapatan.
Saat transaksi Pendapatan Diterima di Muka mencatat sbb:
Kas xxx
Pendapatan xxx

Saat Penyesuaian Pendapatan yang sesungguhnya diakui mencatat sbb:


Pendapatan xxx
Pendapatan Diterima di Muka xxx

Contoh 8 – Pendapatan Diterima di Muka


Entitas menyewakan sebagian ruangan di Gedung yang dimilikinya dengan harga Rp
300.000.000,-/ tahun. Pada tahun Januari 2012 sebuah kantor konsultan menyewa ruangan itu
untuk 3 tahun sekaligus dan membayar tunai Rp 900.000.000,-. Buatlah pencatatan yang
diperlukan Entitas jika memperlakukannya sebagai:
a. Pendapatan Diterima di Muka
b. Pendapatan

Jawaban 8
a. Januari 2012
Kas Rp 900.000.000,-
Pendapatan Sewa Diterima di Muka Rp 900.000.000,-

Penyesuaian di akhir Desember 2012


Pendapatan Sewa Diterima di Muka Rp 300.000.000,-
Pendapatan Rp 300.000.000,-

b. Januari 2012
Kas Rp 900.000.000,-
Pendapatan Sewa Rp 900.000.000,-

Penyesuaian di akhir Desember 2012


Pendapatan Sewa Rp 600.000.000,-
Pendapatan Sewa Diterima di Muka Rp 600.000.000,-

8. Utang Biaya (Biaya yang masih harus dibayar)


Adakalanya sampai dengan akhir periode Akuntansi, masih terdapat biaya – biaya yang
belum dibayarkan oleh Entitas. Biaya – biaya seperti ini diakui sebagai Liabilitas Lancar
yang harus dibayarkan oleh Entitas pada periode selanjutnya. Contoh dari Utang Biaya

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


45

adalah Biaya gaji yang masih harus dibayarkan. Pencatatan yang diperlukan untuk pengakuan
Utang Biaya adalah sbb:
Biaya ....... xxx
Utang ...... xxx

Contoh 9 – Utang Biaya


Pada akhir periode akuntansi masih terdapat Biaya Gaji yang belum dibayarkan oleh Entitas
sebesar Rp 6.500.000,-. Gaji ini akan dibayarkan pada periode selanjutnya. Buatlah
pencatatan yang diperlukan.

Jawaban 9
Biaya Gaji Rp 6.500.000,-
Utang Gaji Rp 6.500.000,-

9. Utang Pajak
Utang Pajak timbul karena ketentuan perpajakan. Utang Pajak bisa berupa Pajak Penjualan
(PPN Keluaran/Sales Tax) yang belum disetor, Pajak Bumi dan Bangunan, PPh Kurang
Bayar, dll.

Contoh 10 – Utang Pajak


Entitas melakukan pengumpulan PPN Keluaran atas barang – barang yang dijualnya, yaitu
sebesar 10%. Penjualan yang terjadi di Entitas pada tanggal 2 Juli 2013 adalah Rp
150.000.000,-. Buatlah pencatatan Utang PPN.

Jawaban 10
2 Juli 2013
Kas Rp 165.000.000,-
Utang PPN Keluaran Rp 15.000.000,-
Penjualan Rp 150.000.000,-

Pada saat menyetorkan PPN Keluaran ke Kas Negara


Utang PPN Keluaran Rp 15.000.000,-
Kas Rp 15.000.000,-

10. Utang terkait dengan Karyawan.


Dalam beberapa hal, Entitas memiliki Utang terkait dengan pelayanan kepada karyawannya.
Jenis Utang ini dikategorikan sebagai Liabilitas Lancar karena waktu penyelesaiannya kurang
dari satu periode Akuntansi. Beberapa Utang yang terkait dengan karyawan adalah:
a. Hal – hal yang langsung dipotong dari gaji karyawan.
b. Kompensasi ketidak hadiran
c. Bonus

Hal – hal yang langsung dipotong dari gaji karyawan


Beberapa hal terkait dengan pelayanan kepada karyawan yang langsung dipotong dari gaji
karyawan misalnya Pajak Penghasilan karyawan, premi asuransi dan tabungan pensiun yang
harus dibayarkan oleh karyawan, dsb. Ketika Pajak Penghasilan atau premi asuransi masih
ada di entitas sampai tanggal pelaporan (belum disetorkan ke Kas Negara atau ke pihak
pengelola asuransi dan dana pensiun), maka harus diakui sebagai Liabilitas Lancar.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


46

Contoh 11 – Utang terkait dengan Karyawan


Entitas membayar gaji karyawan A sebesar Rp 15.000.000,- dari jumlah tersebut dipotong
2% untuk asuransi kecelakaan kerja dan 5% untuk PPh. Buatlah pencatatan yang diperlukan.

Jawaban 11
Biaya Gaji Rp 15.000.000,-
Utang PPh Karyawan Rp 750.000,-
Utang Premi Asuransi Karyawan Rp 300.000,-
Kas Rp 13.950.000,-

Ketika PPh disetorkan ke Kas Negara maka Entitas membuat pencatatan sbb:
Utang PPh Karyawan Rp 750.000,-
Kas Rp 750.000,-

Kompensasi Ketidak hadiran


Ada beberapa kompensasi yang tetap diberikan kepada karyawan meski karyawan tersebut
tidak hadir dalam waktu kerja. Contohnya adalah cuti karena sakit, cuti karena melahirkan,
cuti karena perjalanan dinas atau ibadah, dll. Ketika karyawan cuti Entitas tetap memiliki
kewajiban untuk membayarkan gajinya. Ketika entitas belum menyerahkan secara tunai
kompensasi karyawan pada tanggal pelaporan karena karyawan masih dalam masa cuti maka
hal tersebut diperlakukan sebagai Liabilitas Lancar.

Contoh 12 – Kompensasi Ketidak hadiran


Pada tanggal 31 Oktober 2013 masih terdapat gaji karyawan A sebesar Rp 7.500.000,- yang
belum diambil karena yang bersangkutan sedang cuti untuk perjalanan dinas. Buatlah
pencatatan yang diperlukan.

Jawaban 12
31 Oktober 2013
Biaya Gaji Rp 7.500.000,-
Utang Gaji Rp 7.500.000,-

Bonus
Di akhir periode ketika masih terdapat profit dari hasil kinerja karyawan yang bagus selama
satu periode, Entitas dapat memberikan bonus kepada karyawannya. Bonus yang diberikan
namun belum diambil oleh karyawan yang bersangkutan dicatat sebagai Liabilitas Lancar
oleh Entitas.

Contoh 13 – Utang Bonus


Entitas memutuskan untuk memberikan bonus kepada karyawannya atas hasil kerja yang baik
selama satu periode pada tahun 2013. Bonus tahun 2013 yaitu Rp 12.500.000,- akan
diberikan pada awal tahun 2014. Buatlah pencatatan yang diperlukan.

Jawaban 13
Akhir tahun 2013
Biaya Bonus Karyawan Rp 12.500.000,-
Utang Bonus Karyawan Rp 12.500.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


47

Awal tahun 2014


Utang Bonus Karyawan Rp 12.500.000,-
Kas Rp 12.500.000,-

Penyajian Liabilitas Lancar


Menurut PSAK 1 (Revisi 2009) tentang Penyajian Laporan Keuangan, Liabilitas Lancar
disajikan sebelum Liabilitas Jangka Panjang. Tidak ada penjelasan yang rinci dari PSAK 1
untuk klasifikasi dan jenis Liabilitas Lancar namun Entitas harus menentukan informasi yang
material dan signifikan untuk mengklasifikasikan Liabilitas Lancar. Adapun untuk transaksi
dengan pihak – pihak berelasi, menurut PSAK 7 tentang Pengungkapan dengan Pihak- pihak
berelasi, Entitas harus memisahkan Utang dengan pihak berelasi dengan yang tidak berelasi.

Pengungkapan Liabilitas Lancar


Pengungkapan Liabilitas Lancar berisi rincian dan tambahan penjelasan, misalnya detail
Utang Dagang yaitu nilai, umur, mata uang yang digunakan, pemasok, dll.

Analisis Laporan Keuangan yang berhubungan dengan Liabilitas Lancar


Analisis Liabilitas Lancar dilakukan Entitas untuk melihat kemampuan Entitas untuk
membayar Utangnya yang jatuh tempo dalam kurun waktu kurang dari satu periode
Akuntansi. Rasio yang biasanya digunakan untuk Analisis Laporan Keuangan yang
berhubungan dengan Liabilitas Lancar adalah:
1. Rasio Lancar (Current Ratio)
Rasio Lancar adalah kemampuan Entitas untuk melunasi Liabilitas Lancarnya dengan
menggunakan Aset Lancarnya. Pada umumnya, Entitas dinilai baik jika Rasio Lancarnya
lebih dari 1 (Satu). Rasio Lancar dihitung dengan rumusan sbb:

𝐴𝑠𝑒𝑡 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟
𝑅𝑎𝑠𝑖𝑜 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟 =
𝐿𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟

2. Rasio Cepat (Quick Ratio)


Rasio Cepat adalah kemampuan Entitas untuk melunasi Liabilitas Lancarnya dengan
menggunakan Aset yang sangat likuid. Aset Likuid merupakan Aset Lancar yang telah
dikurangi Persediaan dan Biaya Dibayar di Muka. Rasio Cepat dihitung dengan rumusan
sbb:

𝐴𝑠𝑒𝑡 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟 − 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛 − 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑑𝑖𝑏𝑎𝑦𝑎𝑟 𝑑𝑖 𝑀𝑢𝑘𝑎


𝑅𝑎𝑠𝑖𝑜 𝐶𝑒𝑝𝑎𝑡 =
𝐿𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟

3. Rasio Kas
Rasio Kas adalah kemampuan Entitas untuk melunasi Liabilitas Lancarnya dengan Kas
yang ada. Rasio Kas dihitung dengan rumusan sbb:

𝐾𝑎𝑠
𝑅𝑎𝑠𝑖𝑜 𝐾𝑎𝑠 =
𝐿𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


48

Latihan Soal – Liabilitas Lancar

Soal 1
PT Jaya Sentosa pada tanggal 1 April 2012 menerbitkan Wesel tanpa bunga berjangka waktu
360 hari dengan nilai Rp 330.000.000,- untuk melunasi Utangnya sebesar Rp 300.000.000,-.
Wesel jatuh tempo pada tanggal 26 Maret 2013.
Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan untuk transaksi Utang Wesel tersebut.

Soal 2
Entitas meminjam ke Bank sejumlah uang senilai Rp 88.000.000,- pada tanggal 1 Juli 2013
dengan Provisi sebesar 3% dan Biaya Transaksi Rp 300.000,- berjangka waktu satu tahun.
Tingkat suku bunga adalah 11% setahun. Pokok Utang dan Bunga dibayarkan pada saat jatuh
tempo.
Diminta:
Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan dalam transaksi Utang Bank jangka pendek
tersebut.

Soal 3
Berikut ini adalah Neraca Saldo dari Makmur Service pada tanggal 31 Desember 2014.
MAKMUR SERVICE
Neraca Saldo
Per 31 Desember 2014
Aset Liabilitas dan Ekuitas
Kas Rp 17.000.000,- Utang Usaha Rp 2.000.000,-
Piutang Rp 6.500.000,- Pendapatan diterima di Muka Rp 10.000.000,-
Kendaraan Rp 13.500.000,-
Akm Peny.Kend (Rp 2.700.000,-) Modal Rp 22.300.000,-
Kendaraan Net Rp 10.800.000,-
Total Aset Rp 34.300.000,- Total Liabilitas dan Ekuitas Rp 34.300.000,-

Berikut adalah data tambahan untuk keperluan penyesuaian:


1. Penyusutan Kendaraan per tahun adalah Rp 2.700.000,-
2. Pendapatan diterima di Muka adalah untuk kontrak service computer selama 2 tahun
sejak tanggal 1 Januari 2014.
Diminta:
Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan untuk penyesuaian tanggal 31 Desember
2014.

Soal 4
Pada tanggal 7 Mei 2014, PT Don Farma Tbk mengumumkan pembagian Dividen untuk para
pemegang sahamnya sebesar Rp 180.000.000,-. Dividen akan dilunasi pada tanggal 15
Agustus 2014.
Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan untuk Utang Dividen tersebut.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


49

Soal 5
Kebijakan bonus yang akan diberikan Entitas pada tahun 2014 adalah 10% dari Laba Bersih
setelah Pajak. Bonus akan diberikan pada tanggal 2 Januari 2015. Sedangkan data keuangan
Entitas pada tanggal 31 Desember adalah sbb:
Penjualan Rp 275.000.000,-
Harga Pokok Penjualan Rp 110.000.000,-
Biaya Operasional Rp 78.000.000,-
Pajak 25%
Diminta:
Hitunglah Bonus dan buatlah pencatatan yang diperlukan.

Soal 6
Berikut ini merupakan Laporan Posisi Keuangan sebuah entitas periode 2X13:

Kas .................................................................... Rp 35.625,-


Piutang Usaha. Net............................................ Rp 62.500,-
Persediaan Barang Dagang ............................... Rp 82.500,-
Beban dibayar di Muka ....................................... Rp 9.375,-
Aset Tetap, net ................................................ Rp 255.000,-
Total Aset .......................................................Rp 445.000,-

Utang Usaha ...................................................... Rp 75.250,-


Utang Jk. Panjang ........................................... Rp 102.500,-
Saham Biasa par Rp10,- .................................. Rp 162.500,-
Sado Laba........................................................ Rp 104.750,-
Total Liabilitas dan Ekuitas.........................Rp 445.000,-
Diminta:
Hitunglah Rasio Cepat dari entitas tersebut dan berikan analisisnya.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


50

Tugas – Liabilitas Lancar

Soal 1
Entitas menjual air kemasan galon dengan harga Rp 15.000,-per galon. Pada tanggal 25
September 2014 seorang pembeli baru pertama kali membeli galon, sebab itu ia membayar
Rp 75.000,-, yaitu uang jaminan galon sebesar Rp 50.000,- dan air kemasan seharga Rp
15.000,-.
Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan.

Soal 2
Entitas memperkerjakan 10 (Sepuluh) orang tenaga kerja langsung yang dibayar harian yaitu
Rp 25.000,- per hari. Upah harian diberikan setiap akhir minggu, yaitu hari Sabtu. Akhir
periode Akuntansi pada tahun 2014 jatuh pada hari Senin, karena itu masih terdapat Upah
harian yang belum dibayarkan oleh Entitas.
Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan untuk pengakuan Biaya terutang.

Soal 3
Entitas bergerak di bidang usaha dagang, aktivitas Penjualan dan Pembelian Barang Dagang
melekat dengan PPN Keluaran dan PPN Masukan sebesar 10%. Pada tahun 2014 Entitas
berhasil melakukan Penjualan Rp 650.000.000,- dan melakukan Pembelian Barang dagangan
Rp 620.000.000,-.
Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan untuk Utang PPN Entitas.

Soal 4
Entitas tetap memberikan kompensasi terhadap karyawan yang cuti sakit dan melahirkan
yaitu 50% dari gaji perbulan. Ketika pelaporan keuangan dibuat di akhir periode akuntansi,
terdapat beberapa karyawan yang sedang cuti sakit dan melahirkan. Berikut keterangan dari
karyawan yang sedang mengambil cuti:

Nama Karyawan Gaji Karyawan/bulan Keterangan cuti


Mickey Rp 7.500.000,- Sakit
Goofy Rp 5.700.000,- Sakit
Daisy Rp 8.000.000,- Melahirkan
Clarabella Rp 6.300.000,- Sakit

Diminta:
Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan untuk kompensasi gaji karyawan.

Soal 5
Berikut ini merupakan Laporan Posisi Keuangan sebuah entitas periode 2X12:
Kas .................................................................... Rp 30.800,-
Piutang Usaha. Net............................................ Rp 88.500,-
Persediaan Barang Dagang ............................. Rp 111.500,-
Beban dibayar di Muka ....................................... Rp 9.700,-
Aset Tetap, net ................................................ Rp 277.500,-
Total Aset .......................................................Rp 518.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


51

Utang Usaha .................................................... Rp 128.900,-


Utang Jk. Panjang ............................................. Rp 97.500,-
Saham Biasa par Rp10,- .................................. Rp 162.500,-
Sado Laba........................................................ Rp 129.100,-
Total Liabilitas dan Ekuitas.........................Rp 518.000,-
Diminta:
Hitunglah Rasio Lancar dari entitas tersebut dan berikan analisisnya.

Soal 6
Berikut ini adalah transaksi yang terjadi selama bulan Agustus 2014 di PT Cipta Kreasi yang
berhubungan dengan Utang Dagang. PT Cipta Kreasi mencatat Persediaan Barang Dagangan
dengan metode Perpetual.

Tanggal Transaksi
2 Agustus Entitas membeli Peralatan Kantor secara Kredit senilai Rp 12.500.000,-.
5 Agustus Entitas membeli sejumlah Barang Dagangan dengan syarat pembayaran
1/10, n/45 senilai Rp 37.000.000,-.
7 Agustus Entitas membeli sejumlah Barang Dagangan dengan syarat pembayaran
2/10, n/45 senilai Rp 62.000.000,-. Uang muka dibayarkan adalah Rp
2.000.000,-. Sisanya diakui sebagai Utang Dagang.
8 Agustus Entitas melunasi sebagian Utangnya tertanggal 5 Agustus sebesar Rp
15.000.000,-.
12 Agustus Entitas membeli 3 unit Komputer @Rp 3.000.000,- secara kredit.
13 Agustus Entitas melunasi Utangnya tertanggal 2 Agustus.
14 Agustus Entitas mengembalikan sebagian barang yang cacat atas transaksi tanggal 7
Agustus, senilai Rp 2.500.000,-
18 Agustus Entitas membeli sejumlah Barang dagangan dengan syarat pembayaran
n/EOM senilai Rp 58.000.000,-
20 Agustus Entitas melunasi Utangnya tertanggal 7 Agustus.
22 Agustus Entitas melunasi Utangnya tertanggal 12 Agustus
24 Agustus Entitas melunasi sisa Utangnya tertanggal 5 Agustus
27 Agustus Entitas membeli Mebel untuk Kantor senilai Rp 25.000.000,- secara kredit.
29 Agustus Entitas membeli sejumlah Barang Dagangan dengan syarat pembayaran
2/10, n/60 senilai Rp 43.000.000,-
30 Agustus Entitas melunasi Utangnya tertanggal 18 Agustus.

Diminta:
Catatlah transaksi-transaksi tersebut dalam jurnal.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


52

BAB V
PROVISI DAN KONTIJENSI
(PROVISIONS AND CONTIGENCIES)
Laporan Keuangan harus mampu memberikan informasi yang jujur dan relevan untuk
kepentingan ekonomis dari para pengguna. Dengan demikian akun – akun dari Laporan
Keuangan seperti Aset dan Liabilitas sudah seharusnya diakui dan dilaporkan dalam jumlah
yang wajar pada saat tanggal pelaporan. Namun seringkali pada tanggal pelaporan masih
terdapat akun – akun yang masih meragukan dalam hal keberadaannya, jumlah pastinya dan
bagaimana pengungkapannya. Akun – akun yang masih diragukan ini disebut Provisi
(Provision) dan Kontijensi (Contigencies). PSAK yang mengatur tentang Provisi dan
Kontijensi adalah PSAK 57 (Revisi 2009) yang membahas mengenai kriteria pengakuan,
pengukuran serta pengungkapan terkait Provisi, Liabilitas Kontijensi dan Aset Kontijensi.

PROVISI (PROVISIONS)
PSAK 57 mendefinisikan Provisi adalah Liabilitas yang waktu dan jumlahnya belum pasti.
Provisi berbeda dengan Liabilitas yang lain misalnya Utang Dagang dan Biaya terutang
karena meskipun keberadaannya sudah pasti, waktu (kapan harus dilunasi) dan jumlahnya
ketika penyusunan Laporan Keuangan masih belum dapat dipastikan.

Pengakuan Provisi
Suatu Liabilitas diakui sebagai provisi apabila ketiga kondisi dibawah ini terpenuhi:
a. Entitas mempunyai kewajiban kini sebagai akibat dari peristiwa di masa lalu,
b. Besar kemungkinan penyelesaian Liabilitas tersebut mengakibatkan arus keluar sumber
daya,
c. Liabilitas tersebut dapat diestimasi secara andal.

Beberapa hal dapat membuat keraguan apakah suatu Liabilitas dapat diakui sebagai Provisi
atau tidak. Misalnya kewajiban konstruktif. Kewajiban konstruktif adalah kewajiban yang
timbul dari tindakan Entitas dalam hal berikut ini:
a. Berdasarkan praktik baku masa lalu, kebijakan yang telah dipublikasi atau pernyataan
baru yang cukup spesifik, Entitas telah memberikan indikasi kepada pihak lain bahwa
akan menerima tanggung jawab tertentu,
b. Entitas telah menimbulkan ekspektasi kuat dan sah bagi pihak lain bahwa Entitas akan
melaksanakan tanggung jawab tersebut.
Kewajiban konstruktif intinya adalah komitmen Entitas kepada pihak lain (misalnya
pelanggan) yang ada akibat tindakan Entitas, yaitu adanya praktik baku di masa lalu dan telah
membuat pernyataan ke pihak luar.

Contoh 1 – Pengakuan Provisi.


PT New Electronic memberikan garansi untuk produk electronic yang dijualnya. Garansi
tersebut diberikan selama 3 tahun terhitung sejak tanggal penjualan. Berdasarkan pengalaman
masa lalu, selalu ada saja klaim garansi dari pelanggan. Apakah Garansi ini dapat diakui
sebagai Provisi?.

Jawaban 1
Garansi yang diberikan PT New Electronic dapat diakui sebagai Provisi, karena Garansi ini
terjadi akibat peristiwa di masa lalu (Penjualan barang elektronik), besar kemungkinan
terdapat arus keluar sumber daya (jika terdapat klaim, sedangkan dari pengalaman masa lalu

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


53

selalu terdapat klaim atas garansi tsb), dan Garansi dapat diestimasi secara andal (kerusakan
apa saja yang bisa diklaim oleh pelanggan telah ada di kartu garansi).

Contoh 2 – Pengakuan Provisi


Iconic Fashion memiliki kebijakan untuk mengembalikan uang pelanggan apabila pelanggan
merasa tidak puas atas produk pakaian yang dijualnya. Meskipun tidak ada aturan tertulis
mengenai hal itu, kebijakan dari Iconic Fashion telah diketahui masyarakat umum. Apakah
garansi ini dapat diakui sebagai Provisi?

Jawaban 2
Kebijakan Iconic Fashion dapat diakui sebagai Provisi, karena kebijakan ini diberikan atas
transaksi yang terjadi di masa lalu (Penjualan produk pakaian), dan kebijakan ini juga telah
diketahui oleh masyarakat umum sehingga masyarakat memiliki ekspektasi bahwa Entitas
pasti akan melakukan kebijakan tersebut.

Mekanisme Pengakuan Provisi

Kewajiban Kini akibat Tidak Kemungkinan Tidak


peristiwa di masa lalu Kewajiban?
yang mengikat?

Ya

Kemungkinan besar Tidak Kemungkinan kecil


terjadinya arus keluar arus sumber daya
sumber daya? keluar?

Ya
Tidak

Ada estimasi yang Tidak


andal?

Ya

Mengakui Liabilitas Tidak ada yang


Mengakui provisi
Kontijensi diakui/diungkapkan

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


54

Pengukuran Provisi
Menurut PSAK 57 Paragraf 36 jumlah yang diakui sebagai provisi adalah hasil estimasi
terbaik pengeluaran yang diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban kini pada akhir periode
pelaporan. Estimasi terbaik adalah jumlah yang secara rasional akan dibayar entitas untuk
menyelesaikan kewajibannya pada akhir pelaporan.
Mengukur jumlah kewajiban yang belum pasti dapat dilakukan dengan cara berikut:
a. Bila populasi meliputi sejumlah besar unsur, liabilitas ditentukan berdasarkan metode
estimasi statistic yaitu metode nilai yang diharapkan (expected value) dengan menimbang
berbagai kemungkinan hasil berdasarkan probabilitas terkait.
b. Jika Liabilitas yang perlu diestimasi jumlahnya hanya terdiri dari satu unsur, hasil
perhitungan yang probabilitas terjadinya paling tinggi adalah estimasi terbaik tentang
jumlah Utang tersebut.

Jenis – jenis Provisi


Beberapa jenis Provisi adalah:
1. Tuntutan hukum
2. Garansi
3. Hadiah
4. Provisi Lingkungan
5. Kontrak yang memberatkan
6. Restrukturisasi

Tuntutan Hukum
Entitas dapat terkena masalah dengan hukum, misalnya dituntut oleh pihak lain karena
kesalahan yang dilakukan Entitas. Entitas harus mempertimbangkan hal – hal berikut ini
sebelum mengakui Provisi atas tuntutan hukum tersebut:
1. Periode waktu kapan sebab tuntutan hukum tersebut dimulai.
2. Kemungkinan akan adanya pengeluaran yang tidak diinginkan.
3. Kemampuan untuk membuat estimasi yang masuk akal dari jumlah kerugian.

Contoh 3 – Provisi tuntutan hukum


Pada tanggal 9 November 2013 seorang karyawan yang baru saja bekerja mendapatkan
kecelakaan yang serius karena kerusakan mesin milik Entitas. Karyawan tersebut menuntut
Entitas ke pengadilan dengan tuntutan ganti rugi sebesar Rp 1.500.000.000,-. Tuntutan
hukum tersebut sedang dalam proses pengadilan. Kuasa hukum Entitas menyatakan bahwa
kemungkinan Entitas tidak akan kalah dalam menghadapi tuntutan hukum ini, kemungkinan
kemenangan Entitas adalah 75%. Apakah tuntutan hukum ini harus dicatat sebagai Provisi
oleh Entitas?

Jawaban 3
Tuntutan hukum ini belum perlu dicatat sebagai provisi oleh Entitas karena meskipun terjadi
sebelum pelaporan keuangan, kemungkinan besar Entitas akan memenangkan kasus ini
sehingga Entitas tidak terbebani dengan pengeluaran yang tidak diinginkan. Namun seiring
berjalan proses pengadilan, jika ternyata Entitas kalah dalam kasus ini, Entitas harus mencatat
Provisi di akhir periode Laporan Keuangan yaitu 31 Desember 2013.

Garansi
Garansi adalah janji yang dibuat oleh Entitas kepada pelanggannya untuk memberikan
kepastian bahwa produk yang dibuat atau diperjual belikannya adalah produk yang
berkualitas dan berfungsi optimal, selain itu Entitas juga memastikan pelayanan yang

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


55

menyeluruh kepada pelanggan sejak dari pra sampai dengan purna jual. Garansi seringkali
dijadikan salah satu bahan untuk mempromosikan produknya. Garansi bentuknya bisa
bermacam – macam, misalnya, sebuah Entitas manufaktur Mobil memberikan garansi atas
kerusakan dan aksesoris mobil yang diproduksinya sampai dengan 250.000 km. Sampai
dengan batas tersebut Entitas memberikan layanan perbaikan gratis.

Garansi akan menyebabkan Biaya di masa mendatang jika terdapat klaim dari pelanggan.
Oleh sebab itu meskipun jumlah dan waktu klaim dari pelanggan belum dapat dipastikan,
namun status kewajiban Entitas untuk mengeluarkan Biaya Garansi sudah pasti, karena itu
Garansi harus dicatat sebagai Provisi.

Entitas dapat menggunakan dua metode akuntansi dalam mencatat Biaya Garansi, yaitu:
1. Cash Basis
Entitas menggunakan Cash Basis dalam mencatat Biaya Garansi apabila:
a. Kemungkinan kecil akan terjadi klaim Garansi.
b. Tidak dapat mengestimasi jumlah Garansi secara andal.
Saat Entitas menggunakan Cash Basis, Entitas membiayakan Garansi hanya pada saat
terjadinya, Entitas tidak mengakui Utang Garansi.

2. Accrual Basis
Jika kemungkinan besar pelanggan akan melakukan klaim terhadap produk Entitas dan Biaya
Garansi dapat diestimasi secara andal maka Entitas harus mengakui Biaya Garansi sejak awal
produk Entitas terjual.

Contoh 4 – Garansi dengan Accrual Basis


Entitas memberikan garansi atas barang elektronik yang dijualnya, setiap barang elektronik
diberikan garansi selama dua tahun. Estimasi dari biaya garansi berdasarkan data historis
adalah Rp 100.000,- setiap satu barang. Selama tahun 2012 dan 2013 diestimasi Entitas
berhasil menjual 150 unit dan 260 unit barang. Pada tahun 2012 terjadi klaim garansi
sebanyak 35 unit barang. Di tahun 2013 terdapat klaim dari penjualan tahun 2012 sebanyak
42 unit, dan klaim dari penjualan tahun 2013 sebanyak 68 unit. Hitunglah:
1. Estimasi garansi tahun 2012.
2. Garansi yang diklaim pada tahun 2012.
3. Estimasi garansi tahun 2013.
4. Garansi yang diklaim pada tahun 2013.
5. Pencatatan yang diperlukan pada akhir tahun 2013.

Jawaban 4

Garansi diestimasi awal tahun 2012 adalah:


1. Rp 100.000 x 150 unit = Rp 15.000.000,-
2. Garansi yang diklaim pada tahun 2012
Rp 100.000,- x 35 unit = Rp 3.500.000,-
Pencatatan Garansi diklaim:
Biaya Garansi Rp 3.500.000,-
Kas Rp 3.500.000,-

Garansi diestimasi = Rp 15.000.000,-


Garansi diklaim = ( Rp 3.500.000,-)
Garansi terutang = Rp 11.500.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


56

Pada akhir periode 2012 mengakui Utang Garansi yang masih tersisa untuk digunakan di
periode selanjutnya jika terdapat klaim dari penjualan di tahun 2012.
Biaya Garansi Rp 11.500.000,-
Utang Garansi Rp 11.500.000,-

3. Estimasi garansi awal tahun 2013 adalah:


Rp 100.000,- x 260 unit = Rp 26.000.000,-

4. Klaim garansi dari penjualan tahun 2012


Rp 100.000,- x 42 unit = Rp 4.200.000,-, dicatat sbb:
Utang Garansi Rp 4.200.000,-
Kas Rp 4.200.000,-

Klaim garansi dari penjualan tahun 2013


Rp 100.000,- x 68 unit = Rp 6.800.000,-, dicatat sbb:
Biaya Garansi Rp 6.800.000,-
Kas Rp 6.800.000,-

5. Masa garansi atas penjualan tahun 2012 habis di akhir 2013, maka menutup Utang
Garansi tahun 2012 sbb:
Utang Garansi 7.300.000,-
Pendapatan dari Garansi tidak diklaim 7.300.000,-

Perhitungan untuk penyesuaian garansi tahun 2013.


Garansi diestimasi tahun 2013 = Rp 26.000.000,-
Garansi diklaim untuk penjualan tahun 2013 = (Rp 6.800.000,-)
Garansi terutang = Rp 19.200.000,-

Pencatatan yang diperlukan


Biaya Garansi Rp 19.200.000,-
Utang Garansi Rp 19.200.000,-

Hadiah
Untuk menarik pelanggan, seringkali Entitas memberikan hadiah kepada pelanggannya.
Hadiah yang diberikan bisa berupa barang atau pengembalian kas (cash back) dengan
beberapa syarat tertentu, misalnya mengembalikan sejumlah wadah bekas produk atau
mengumpulkan kupon dengan syarat nilai belanja. Hadiah merupakan salah satu bentuk
promosi dalam penjualan produk. Tidak jauh berbeda dengan garansi, Entitas tidak dapat
memastikan waktu dan jumlah hadiah yang akan diklaim oleh pelanggan, namun status
kewajiban memberikan hadiah sudah bisa dipastikan karena itu hadiah harus dicatat sebagai
Provisi selama periode pemberian hadiah.

Contoh 5 – Hadiah
Entitas memberikan hadiah sebuah Piring Cantik kepada pelanggannya yang mengembalikan
5 kotak sabun disertai pembayaran kas sebesar Rp 15.000,-. Periode promosi berhadiah ini
berlangsung selama 5 tahun. Piring Cantik dibeli Entitas dengan total harga Rp 5.000.000,-
harga per unit Piring Cantik adalah Rp 5.000,-. Sabun yang dijual oleh Entitas adalah seharga
Rp 25.000,- per kotak. Estimasi hadiah ditukarkan pada tahun pertama adalah 30% dari
keseluruhan sabun yang terjual. Pada tahun pertama total penjualan sabun adalah Rp

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


57

20.000.000,- sedangkan kotak sabun yang ditukarkan oleh pelanggan adalah 170 kotak. Dari
keterangan tersebut hitunglah Provisi hadiah yang masih terutang untuk periode selanjutnya
dan buatlah pencatatan yang diperlukan.

Jawaban 5
1. Pembelian Hadiah Piring Cantik.
𝑅𝑝 5.000.000, −
𝑃𝑒𝑚𝑏𝑒𝑙𝑖𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑖𝑡 ℎ𝑎𝑑𝑖𝑎ℎ = = 1.000 𝑢𝑛𝑖𝑡
𝑅𝑝 5.000, −

Persediaan Hadiah Piring Cantik Rp 5.000.000,-


Kas Rp 5.000.000,-

2. Penjualan produk sabun selama tahun pertama.


Kas Rp 20.000.000,-
Penjualan Rp 20.000.000,-

3. Perhitungan Utang Hadiah.

𝑅𝑝 20.000.000, −
𝑆𝑎𝑏𝑢𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑗𝑢𝑎𝑙 = = 800 𝑘𝑜𝑡𝑎𝑘
𝑅𝑝 25.000, −

= 30% x 800 kotak


= 240 kotak

240 𝑘𝑜𝑡𝑎𝑘 𝑠𝑎𝑏𝑢𝑛


𝐸𝑠𝑡𝑖𝑚𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑖𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑢𝑘𝑎𝑟 =
5
= 48 𝑃𝑖𝑟𝑖𝑛𝑔 𝐶𝑎𝑛𝑡𝑖𝑘 x Rp 5.000,-
= Rp 240.000,-

170 𝑘𝑜𝑡𝑎𝑘 𝑠𝑎𝑏𝑢𝑛


𝑅𝑒𝑎𝑙𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 ℎ𝑎𝑑𝑖𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑡𝑢𝑘𝑎𝑟 =
5
= 34 Piring Cantik x Rp 5.000,-
= Rp 170.000,-

Pencatatan klaim hadiah


Biaya Hadiah Piring Cantik Rp 170.000,-
Persediaan Hadiah Piring Cantik Rp 170.000,-

Hadiah terutang
Estimasi Nilai Piring Ditukar = Rp 240.000,-
Realisasi Nilai Piring Ditukar = (Rp 170.000,-)
Nilai hadiah terutang = Rp 70.000,-

Pencatatan Utang Hadiah


Biaya Hadiah Rp 70.000,-
Utang Hadiah Rp 70.000,-

4. Pencatatan Kas diterima yang ditukarkan bersama kotak sabun.


Kas Rp 510.000,-
Pendapatan Lain lain Rp 510.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


58

Provisi Lingkungan
Entitas dalam melakukan operasinya tidak jarang merusak lingkungan sekitar, misalnya
Entitas yang bergerak di bidang manufaktur, limbah akhir dari proses produksi bisa merusak
lingkungan. Jumlah kerugian untuk kerusakan lingkungan yang diakibatkan Entitas memang
tidak pasti, namun status kewajiban untuk mengganti rugi atas kerusakan lingkungan sudah
dapat dipastikan karena itu Entitas harus mengakuinya sebagai Provisi. Beberapa peristiwa
yang menyebabkan Entitas secara legal harus memenuhi kewajiban mengganti rugi atas
kerusakan lingkungan termasuk:
1. Menon-aktifkan fasilitas nuklir.
2. Pembongkaran dan pemulihan dari properti migas.
3. Penutupan dan pemindahan fasilitas tambang.
4. Penutupan dari Tempat Pembuangan Sampah akhir.

Pengukuran dari Provisi Lingkungan adalah dengan mengestimasi nilai kerugian


menggunakan nilai wajarnya (Fair Value).

Contoh 6 – Provisi Lingkungan


PT Jaya Tambang melakukan kerusakan pada kondisi tanah di lingkungan sekitar dimana
tambang Entitas berada. Secara legal Entitas harus melakukan pemulihan kondisi tanah
setelah terlebih dahulu membongkar tambangnya. Proses pembongkaran tambang dan
pemulihan tanah diperkirakan akan memakan waktu selama 5 tahun. Pembongkaran tambang
dan pemulihan tanah memerlukan alat berat senilai Rp 20.000.000.000,-. Hitunglah estimasi
Provisi lingkungan jika tingkat bunga yang berlaku adalah 10%, dan buatlah pencatatan yang
diperlukan.

Jawaban 6
Estimasi provisi lingkungan dihitung dari nilai kini penggunaan alat untuk membongkar dan
memulihkan tanah.

𝐸𝑠𝑡𝑖𝑚𝑎𝑠𝑖 𝑝𝑟𝑜𝑣𝑖𝑠𝑖 𝑙𝑖𝑛𝑔𝑘𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = (1 + 10%)−5 𝑥 𝑅𝑝 20.000.000.000, −


= Rp 12.418.426.460,-

Pencatatan yang diperlukan:


Biaya Kerusakan Lingkungan Rp 12.418.426.460,-
Provisi Lingkungan Rp 12.418.426.460,-

Kontrak yang memberatkan


Adakalanya Entitas harus menghadapi apa yang dinamakan Kontrak yang memberatkan.
Kontrak yang memberatkan adalah kontrak yang menyebabkan biaya tak terhindarkan untuk
memenuhi kewajiban kontraknya, dimana biaya tak terhindarkan tersebut lebih besar
daripada manfaat ekonomis yang diperolehnya. Contoh dari kontrak yang memberatkan
adalah kerugian yang terjadi karena komitmen pembelian barang dagangan yang tidak dapat
dibatalkan. Kontrak yang tidak dapat dibatalkan ini akan tetap menimbulkan kewajiban bagi
Entitas, dan Entitas mengakuinya sebagai Provisi.

Contoh 7 – Kontrak yang memberatkan


Entitas menyewa sebuah bangunan untuk usahanya selama 5 tahun dengan menyetujui untuk
membayar sewa Rp 25.000.000,- per bulan. Pada awal tahun kedua Entitas memutuskan
untuk memindahkan usahanya ke lokasi lain yang lebih menguntungkan, namun kontrak

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


59

sewa tidak dapat dibatalkan. Catatlah kerugian dari kontrak sewa yang memberatkan Entitas
per bulan.

Jawaban 7
Rugi dalam Kontrak Sewa Rp 25.000.000,-
Utang Kontrak Sewa Rp 25.000.000,-

Restrukturisasi
Restrukturisasi adalah program yang direncanakan dan dikendalikan oleh manajemen dan
secara material mengubah:
a. Lingkup kegiatan usaha suatu Entitas,
b. Cara mengelola usaha tersebut.
Contohnya adalah penghentian atau penjualan usaha, penutupan lokasi usaha dalam suatu
negara atau kawasan lain, perubahan dalam struktur manajemen, reorganisasi mendasar.
Kewajiban konstruktif dari restrukturisasi hanya diperbolehkan apabila Entitas memiliki
rencana yang rinci dan menciptakan ekspektasi yang kuat pada pihak – pihak yang terkena
dampak restrukturisasi. Provisi hanya mencakup pengeluaran langsung yang timbul dari
restrukturisasi yaitu yang memenuhi persyaratan:
a. Benar – benar harus dikeluarkan dalam restrukturisasi,
b. Tidak terkait dengan aktivitas yang masih berlangsung di Entitas.

Pengungkapan Provisi
Untuk setiap provisi, Entitas harus mengungkapkan hal – hal berikut ini:
1. Nilai tercatat pada awal periode.
2. Provisi tambahan pada periode yang bersangkutan jika ada perubahan jumlah Provisi.
3. Jumlah Provisi yang digunakan.
4. Peningkatan Provisi yang mungkin terjadi karena perubahan tingkat bunga jika diukur
menggunakan Nilai Wajar.
5. Uraian secara singkat mengenai karakteristik Provisi dan perkiraan saat arus keluar
sumber daya terjadi.
6. Indikasi ketidak pastian saat atau jumlah arus keluar tersebut jika diperlukan dalam rangka
menyediakan informasi yang memadai.
7. Jumlah estimasi penggantian yang akan diterima.

KONTIJENSI (CONTIGENCIES)
Kontijensi dapat dalam bentuk Aset atau Liabilitas yang selain kapan dan jumlahnya
belum dapat dipastikan, keberadaannya pun belum bisa dipastikan.

Liabilitas Kontijensi
Suatu Liabilitas Kontijensi tidak perlu dilaporkan di dalam Laporan Keuangan karena status
kepastiannya belum ada apakah Entitas harus membayar kewajibannya atau tidak. Pisah
batasnya adalah jika suatu Liabilitas kemungkinannya kurang dari 50% untuk mengeluarkan
sumber daya, maka Liabilitas tersebut adalah Liabilitas Kontijensi. Liabilitas Kontijensi
hanya diungkapkan dalam Catatan Atas Laporan Keuangan, dan setiap periode harus selalu
dievaluasi apakah statusnya telah berubah menjadi Provisi.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


60

Aset Kontijensi
Aset Kontijensi adalah Aset potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu dan
keberadaannya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya satu peristiwa atau lebih
pada masa depan yang tidak sepenuhnya berada pada kendali Entitas.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


61

Latihan Soal – Provisi dan Kontijensi

Soal 1
Entitas memberikan garansi untuk barang elektronik yang dijualnya selama dua tahun. Biaya
untuk setiap garansi adalah maksimal Rp 100.000,- dan maksimal Rp 50.000,- untuk
aksesoris. Pada tahun 2013 Entitas berhasil menjual 15 unit barang, dan terdapat klaim dari
pelanggan seperti data berikut ini:

Nama Barang Unit Perbaikan Aksesoris


Televisi 1 Rp 55.000,-
DVD Player 1 Rp 40.000,- Rp 10.000,-
Kompor Gas 1 Rp100.000,-

Diminta:
Hitunglah klaim garansi pada tahun 2013 dan pencatatan yang diperlukan untuk mencatat
garansi terutang periode selanjutnya.

Soal 2
Entitas memberikan kebijakan pemberian hadiah kepada pelanggan dengan cara
mengumpulkan stiker. Promo berhadiah ini berlangsung selama 5 tahun. Setiap 100 stiker
mendapatkan hadiah satu buah Payung Cantik senilai Rp 50.000,-, setiap 200 stiker
mendapatkan satu buah Jam Dinding senilai Rp 200.000,- , dan setiap 300 stiker
mendapatkan satu voucher belanja senilai Rp 300.000,-. Satu buah stiker diperoleh apabila
pelanggan berbelanja minimal Rp 100.000,- berlaku kelipatan.

Pada awal tahun 2014, Entitas membeli persediaan hadiah Payung Cantik dengan harga Rp
25.000.000,-, dan Jam Dinding dengan harga Rp 40.000.000,-. Voucher belanja tersedia
sebanyak 100 lembar. Entitas mengestimasi bahwa semua jenis hadiah akan ditukarkan oleh
pelanggan sebanyak 15%. Selama tahun 2014 hasil penjualan Entitas adalah Rp
2.000.000.000,-, sedangkan data dari penukaran hadiah adalah sbb:

Payung Cantik Jam Dinding Voucher Belanja


Jumlah stiker 6000 stiker 7000 stiker 2100 stiker
ditukarkan
Diminta:
Hitunglah Hadiah yang masih terutang dan buatlah pencatatan yang diperlukan.

Soal 3
Karena masalah iklan yang dianggap melecehkan suatu pihak pada periode 2013, Entitas
dianggap melakukan pencemaran nama baik dan dituntut untuk membayar Rp
1.500.000.000,-. Proses pengadilan dimenangkan oleh pihak yang menuntut dan oleh
pengadilan Entitas dikenakan kewajiban untuk membayar sesuai dengan tuntutan pada
periode 2015.
Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan atas provisi tuntutan hukum tersebut.

Soal 4
PT Koelbi dalam usahanya melakukan kerusakan di lingkungan sekitar dimana Entitas
berada. Secara legal Entitas harus melakukan perbaikan lingkungan tersebut. Proses
perbaikan lingkungan diperkirakan akan memakan waktu selama 7 tahun dan memerlukan

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


62

peralatan senilai Rp 1.500.000.000,-. Hitunglah estimasi Provisi lingkungan jika tingkat


bunga yang berlaku adalah 9%, dan buatlah pencatatan yang diperlukan.

Soal 5
Slogan Entitas dalam memasarkan produknya secara tidak sengaja mencemarkan nama baik
sebuah komunitas masyarakat. Oleh sebab itu masyarakat menuntut Entitas melalui jalur
hukum. Masyarakat menuntut Entitas untuk membayar atas pencemaran nama baik tersebut
sebesar Rp 100.000.000,-. Kuasa hukum Entitas menyatakan bahwa kemungkinan besar
Entitas akan menang dalam kasus ini, kemungkinan kemenangannya telah mencapai 85%.
Bagaimana perlakuan Entitas terhadap kasus hukum ini?. Jelaskan.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


63

Tugas – Provisi dan Kontijensi

Soal 1
Toko perhiasan Diamond sedang dalam masa promosi selama dua tahun yaitu tahun 2013 dan
2014 berupa memberikan hadiah boneka Kelinci untuk setiap pembelian 2 produk A, dan Jam
tangan digital untuk pembelian 2 produk B. Berikut ini merupakan data yang terkait dengan
produk:
1. Harga jual Produk A : Rp 2.000.000,-
2. Harga jual Produk B : Rp 5.000.000,-
3. Data Penjualan Produk A dan B per bulan pada tahun 2013 dan 2014:

Bulan Produk A Produk B Produk A Produk B


Terjual 2013 Terjual 2013 Terjual 2014 Terjual 2014
Unit Jumlah Unit Jumlah Unit Jumlah Unit Jumlah
Pembeli Pembeli Pembeli Pembeli

Januari 1 1 2 1 2 1 2 1
Februari 2 1 3 1 1 1 4 4
Maret 2 2 1 1 2 1 3 1
April 2 1 3 2 4 4 4 2
Mei 1 1 3 1 2 1 1 1
Juni 1 1 2 2 1 1 1 1
Juli 1 1 1 1 2 1 1 1
Agustus 2 1 1 1 3 1 3 1
September 2 2 2 1 2 2 3 1
Oktober 3 1 3 1 2 1 2 1
November 2 1 1 1 1 1 1 1
Desember 4 2 3 1 2 1 4 1

Berikut adalah data yang terkait dengan hadiah:


1. Unit Boneka Kelinci tersedia : 20 unit
2. Unit Jam Tangan tersedia : 15 unit
3. Harga beli Boneka Kelinci : Rp 150.000,-
4. Harga beli Jam Tangan : Rp 300.000,-
Diminta:
Hitunglah Utang masing-masing hadiah pada akhir tahun 2013 dan akhir tahun 2014 jika ada
dan buatlah pencatatan yang diperlukan.

Soal 2
Pada awal tahun 2012 Entitas yang mempunyai usaha percetakan undangan, brosur dan
spanduk menandatangani kontrak dengan PT Abadi Makmur untuk membeli barang
dagangan berupa kertas. Setiap tahun Entitas sepakat membayar Rp 1.500.000,- untuk 100
rim kertas putih dan Rp 2.000.000,- untuk kertas berwarna. Pada tahun 2013 Entitas
menemukan supplier kertas dengan harga lebih murah yaitu Rp 880.000,- untuk kertas putih
dan Rp 1.200.000,- untuk kertas berwarna. Namun kontrak dengan PT Abadi Makmur tidak
dapat dibatalkan. Buatlah pencatatan yang diperlukan untuk provisi atas kontrak yang
memberatkan.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


64

Soal 3
Entitas memberikan kebijakan garansi terhadap produk otomotif yang dijualnya berupa
perbaikan dan ganti oli. Untuk Sepeda Motor Entitas sampai dengan 300.000 km. Sedangkan
untuk mobil Entitas memberikan garansi sampai dengan 750.000 km. Pada tahun 2014 Biaya
Garansi yang diestimasi adalah Rp 20.000.000,-. Adapun klaim yang terjadi terkait dengan
Garansi pada tahun 2014 adalah sbb:

No. Jenis Kendaraan Km terpakai Jenis Garansi Biaya dikeluarkan


1. Mobil 200.000 km Perbaikan Rp 1.300.000,-
2. Sepeda Motor 420.000 km Ganti Oli Rp 500.000,-
3. Mobil 370.000 km Ganti Oli Rp 2.000.000,-
4. Sepeda Motor 150.000 km Perbaikan Rp 750.000,-
5. Mobil 500.000 km Perbaikan Rp 4.700.000,-

Hitunglah Biaya Garansi dan Biaya Garansi terutang pada tahun 2014,dan buatlah pencatatan
yang diperlukan.

Soal 4
Entitas dalam menjalankan aktivitas produksinya merusak lingkungan karena pembuangan
limbah ke sungai terdekat. Atas hal tersebut masyarakat menuntut ganti rugi sebesar Rp
5.000.000.000,- untuk biaya pengobatan masyarakat yang terjangkit penyakit akibat
mengkonsumsi air sungai dan Rp 10.000.000.000,- untuk pengembalian kondisi sungai
seperti semula. Kuasa hukum Entitas memperkirakan bahwa Entitas akan kalah dalam kasus
ini, kemungkinan kekalahannya mencapai 70%. Namun Entitas terus berusaha untuk
menekan biaya kerugian yang dituntut masyarakat, yaitu hanya 50%nya saja. Belum ada
informasi yang jelas apakah usaha Entitas akan disetujui oleh pengadilan. Jelaskan
bagaimana Entitas memperlakukan kasus ini, dan buatlah pencatatan yang diperlukan.

Soal 5
Kebijakan Entitas tentang penggantian barang rusak atau cacat yang dibeli oleh customer
telah dikenal oleh masyarakat. Barang yang rusak atau cacat akan diganti oleh Entitas berupa
barang yang sama dalam kondisi baik. Barang yang dijual Entitas berupa sepatu olahraga ada
5 jenis dengan informasi sebagai berikut:

Jenis Barang Harga


A Rp 500.000,-
B Rp 430.000,-
C Rp 750.000,-
D Rp 550.000,-
E Rp 680.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


65

Selama tahun 2014 Entitas telah menganggarkan untuk penggantian barang yang rusak
adalah Rp 10.000.000,-. Adapun data klaim dari pelanggan selama tahun 2014 adalah sebagai
berikut:

Jenis Barang Klaim


C Cacat bagian sol sepatu
A Rusak bagian dalam sepatu
D Sepatu rusak terkena air banjir
D Warna sepatu pudar
B Ukuran sepatu kanan dan sepatu kiri tidak sama

Buatlah perhitungan dan pencatatan yang diperlukan atas klaim yang terjadi terkait dengan
produk Entitas selama tahun 2014.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


66

BAB VI
LIABILITAS JANGKA PANJANG
(LONG TERM LIABILITIES)
Liabilitas Jangka Panjang adalah Liabilitas yang mempunyai masa pelunasan/penyelesaian
lebih dari satu periode akuntansi. Liabilitas Jangka Panjang diperlukan oleh Entitas untuk
kebutuhan dana dalam mewujudkan rencana strategis yang biasanya memerlukan pendanaan
cukup besar, misalnya untuk pembukaan lini usaha baru, penambahan Aset – aset jangka
panjang, pelunasan Liabilitas jangka panjang lainnya yang jatuh tempo dan untuk keperluan
akuisisi atau merger.
Liabilitas jangka panjang dapat berupa:
1. Utang Obligasi (Bond Payable)
2. Utang Hipotik (Mortgage Notes Payable)
3. Utang Wesel Jangka Panjang (Long term Notes)
4. Utang Bank Jangka Panjang (Long term Liabilities)
5. Perjanjian dengan pembayaran angsuran (Installment Payment Contract)

Utang Obligasi (Bond Payable)


Sebuah Obligasi merepresentasikan sebuah janji untuk membayar:
1. Sejumlah uang pada saat jatuh tempo, dan
2. Bunga periodik di rate yang spesifik.
Bunga Obligasi (Coupon) biasanya adalah per tahun, namun dapat dibayarkan dalam masa
yang berbeda – beda, bisa setengah tahunan, per tiga bulanan atau per empat bulanan. Sebuah
Entitas menjual sebuah Obligasi biasanya karena memerlukan dana yang sangat besar.

Gambar 2 – Obligasi

Jenis Obligasi
1. Term Bond, yaitu Obligasi dengan satu tanggal jatuh tempo.
2. Serial Bond, yaitu Obligasi yang tanggal jatuh temponya tidak dalam satu tanggal,
melainkan berurutan dalam periode – periode tertentu.
3. Mortgage Bond, yaitu Obligasi yang dijamin dengan Aset Tetap yang nilainya besar.
4. Collateral Bond, yaitu Obligasi yang dijamin dengan dengan Saham.
5. Callable Bond, yaitu Obligasi yang dapat dilunasi sewaktu – waktu tanpa harus menunggu
waktu jatuh tempo.
6. Convertible Bond, yaitu Obligasi yang dapat ditukar dengan surat berharga yang lain.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


67

7. Commodity - Backed Bond, yaitu Obligasi yang dapat ditukarkan dengan barang – barang
komoditas, misalnya dengan minyak, batu bara atau dengan logam – logam tertentu.
8. Registered Bond, yaitu Obligasi yang mencantumkan nama pemilik Obligasi tersebut,
Obligasi ini jika dijual maka Obligasi diganti nama dengan pemilik yang baru dan bunga
Obligasi secara periodik dikirimkan ke pemilik yang baru.
9. Coupon Bond adalah Obligasi yang tidak mencantumkan nama pemiliknya. Bunga
Obligasi dapat dikirim ke siapa saja selama dapat menunjukkan kupon bunga Obligasi,
karena itu dalam penyerahan Obligasi disertakan lembar kupon Obligasi sebanyak tanggal
pembayaran bunga sampai jatuh temponya.
10.Income Bond, yaitu Obligasi yang berbunga jika Entitas yang menerbitkan Obligasi
tersebut memperoleh Laba.
11.Revenue Bond, yaitu Obligasi yang bunganya dibayarkan dari sumber pendapatan tertentu
dari Entitas yang menerbitkan Obligasi.

Penilaian Obligasi
Penjualan Obligasi memerlukan waktu, bisa berminggu – minggu atau bahkan berbulan –
bulan. Di awal penerbitan, Entitas penerbit Obligasi harus mengatur underwiters yang akan
membantu pasar dan menjual obligasi. Setelah itu Entitas harus mendapatkan persetujuan
peraturan, menjalani audit dan menerbitkan prospektus (yaitu dokumen yang berisi
keterangan tentang Laporan Keuangan yang terkait atau keterangan tentang Obligasi). Ada
kalanya Entitas penerbit Obligasi menentukan persyaratan di awal sebelum penjualan,
padahal selama waktu antara penentuan syarat Obligasi sampai Penjualan kondisi pasar terus
berubah. Sebab itu penilaian Obligasi dilakukan berdasarkan nilai kini (present value) dari
aliran kas yang diharapkan di masa depan. Harga Obligasi tersebut terdiri dari Pokok Utang
dan Bunga.

Bunga Obligasi
Ketika sebuah Entitas menerbitkan Obligasi maka Entitas berkewajiban untuk membayar
bunga kepada Investor yang membelinya, bunga Obligasi sering disebut sebagai kupon
(Coupon). Kupon Obligasi tertera dalam lembaran Obligasi, begitu pula waktu
pembayarannya, karena kupon Obligasi dapat dibayarkan secara tahunan, setengah tahunan,
per empat bulanan ataupun per tiga bulanan. Kupon Obligasi terus dibayarkan sampai dengan
Obligasi tersebut jatuh tempo.

Ketentuan tentang kupon Obligasi telah tertera di dalam lembaran Obligasi, baik jumlahnya
maupun tanggal pembayarannya. Ketika tanggal penjualan Obligasi tidak bertepatan dengan
waktu pembayaran bunga maka diperhitungkan bunga berjalan dimana bunga berjalan ini
menjadi hak Entitas penjual Obligasi. Ketentuan tentang bunga berjalan adalah sbb:
1. Satu tahun ditetapkan 360 hari. Umur bulan ditetapkan 30 hari, bila Obligasi
ditransaksikan pada tanggal 31 suatu bulan maka dianggap ditransaksikan pada tanggal 1
bulan berikutnya.
2. Banyaknya hari bunga berjalan dihitung mulai tanggal kupon bunga terakhir dibayarkan
sampai dengan tanggal transaksi jual beli Obligasi.
3. Besarnya bunga Obligasi dihitung berdasarkan persentase tertentu (tercantum pada
lembaran Obligasi) dari nilai nominal.

Pengakuan Obligasi
Obligasi diakui pada nilai nominalnya, namun dapat dijual pada nilai nominal (par value),
atau pada harga Premium atau Diskon.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


68

Penempatan harga Obligasi dapat dilakukan dengan:


a. Penjualan Tunai
b. Obligasi ditukar dengan Aset Lain
c. Obligasi Dijual dengan cara Pesanan

a. Penjualan Tunai Obligasi


Obligasi dapat dijual pada nilai nominal atau pada harga Premium atau Diskon.

Obligasi dijual pada nilai nominal


Obligasi yang dijual pada saat kurs pasar sama dengan tingkat bunga Obligasi, maka Obligasi
dijual pada nilai nominal (par value).

Contoh 1 – Pencatatan Obligasi pada nilai nominal.


Pada tanggal 1 Januari 2013 PT Perjuangan menerbitkan Obligasi senilai Rp 500.000.000,-
dengan tingkat bunga 8% setahun, Obligasi ini berusia 7 tahun dan ketika diterbitkan kurs
pasar adalah 8%. Adapun bunga Obligasi dibayarkan tahunan. Buatlah pencatatan yang
diperlukan dalam pengakuan Obligasi dan pembayaran bunganya.

Jawaban 1

𝑃𝑉 𝑃𝑜𝑘𝑜𝑘 = (1 + 8%)−7 𝑥 𝑅𝑝 500.000.000, − = Rp 291.745.198,-

1−(1+8%)−7
𝑃𝑉 𝐵𝑢𝑛𝑔𝑎 = 𝑥 𝑅𝑝 40.000.000, − = Rp 208.254.802,-
8%

Harga Jual Obligasi = Rp 500.000.000,-

Pencatatan Obligasi

1 Januari 2013
Kas Rp 500.000.000,-
Utang Obligasi Rp 500.000.000,-

31 Desember 2013
Biaya Bunga Obligasi Rp 40.000.000,-
Utang Bunga Obligasi Rp 40.000.000,-

1 Januari 2014
Utang Bunga Obligasi Rp 40.000.000,-
Kas Rp 40.000.000,-

Obligasi Dijual pada harga Premium atau Diskon


Obligasi dikatakan dijual pada harga Premium atau Diskon apabila rate pasar berbeda dengan
kupon Obligasi. Setelah total harga jual dibandingkan dengan nominal maka dapat terjadi
kondisi sbb:
1. Total Harga Jual lebih tinggi daripada Nominal, maka penjualan Obligasi dikatakan pada
harga Premium.
2. Total Harga Jual lebih rendah daripada Nominal, maka penjualan Obligasi dikatakan
pada harga Diskon.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


69

Premium atau Diskon dicatat bersamaan dengan pencatatan pada tanggal penjualan Obligasi.
Keduanya akan diamortisasi bertepatan dengan tanggal pembayaran bunga, sehingga pada
saat Obligasi jatuh tempo yang tersisa hanya nilai nominalnya saja. Amortisasi Premium dan
Diskon dapat dilakukan dengan metode garis lurus atau dengan metode bunga efektif. Entitas
dapat memilih salah satu dari kedua metode tersebut.

Contoh 2 – Penjualan Obligasi pada harga Premium atau Diskon.


Pada tanggal 2 Juni 2014 PT Utama Karya menjual Obligasi dengan nominal Rp
750.000.000,-. Obligasi berbunga 9% setahun dan bunga Obligasi dibayarkan secara tahunan.
Obligasi ini berusia 5 tahun. Pada saat penjualan Obligasi rate pasar yang sedang berlaku
adalah 11%. Hitung dan buatlah pencatatan penjualan Obligasi yang diperlukan.

Jawaban 2
𝑃𝑉 𝑃𝑜𝑘𝑜𝑘 = (1 + 11%)−5 𝑥 𝑅𝑝 750.000.000, − = Rp 445.088.496,-

1−(1+11%)−5
𝑃𝑉 𝐵𝑢𝑛𝑔𝑎 = 𝑥 𝑅𝑝 67.500.000, − = Rp 249.473.049,-
11%

Total Harga Jual Obligasi = Rp 694.561.545,-


Nominal Obligasi = Rp 750.000.000,-
Diskon Obligasi = Rp 55.438.455,-

Pencatatan yang diperlukan


2 Juni 2014
Kas Rp 694.561.545,-
Diskon Obligasi Rp 55.438.455,-
Utang Obligasi Rp 750.000.000,-

Amortisasi Premium atau Diskon Obligasi


Ketika Obligasi dijual dengan Premium atau Diskon, penyesuaian Biaya Bunga Obligasi
pada tanggal pembayaran bunga melalui proses amortisasi dengan menggunakan metode
bunga efektif. Premium atau Diskon yang diamortisasi akan habis pada tanggal jatuh tempo
Obligasi. Jumlah amortisasi Premium atau Diskon Obligasi diperoleh dengan mekanisme
perhitungan sbb:

Biaya Bunga Obligasi Biaya Bunga Obligasi dibayarkan


Amortisasi
Nilai Tercatat awal periode Nilai Nominal Obligasi Premium/Diskon
x _ =
x Obligasi
Rate Bunga Efektif Rate Bunga Obligasi

Pencatatan Amortisasi Premium atau Diskon Obligasi


Pencatatan Amortisasi Premium atau Diskon Obligasi bersamaan dengan waktu pembayaran
bunga Obligasi.
1. Amortisasi Premium
Premium Obligasi xxx
Biaya Bunga Obligasi xxx

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


70

2. Amortisasi Diskon Obligasi


Biaya Bunga Obligasi xxx
Diskon Obligasi xxx

Contoh 3 – Amortisasi Premium atau Diskon Obligasi


Pada tanggal 1 April 2012 PT Nusa Persada menjual Obligasi berbunga 10%, berjangka
waktu 5 tahun dengan total nominal Rp 550.000.000,-. Bunga dibayarkan dua kali dalam
setahun yaitu setiap tanggal 1 April dan 1 Oktober. Ketika Obligasi dijual rate bunga yang
sedang berlaku di pasar adalah 9%. Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan dalam
transaksi Obligasi tersebut.

Jawaban 3
1. Transaksi Penjualan Obligasi
𝑃𝑉 𝑃𝑜𝑘𝑜𝑘 = (1 + 4.5%)−10 𝑥 𝑅𝑝 550.000.000, − = Rp 354.160.225,-

1−(1+4.5%)−10
𝑃𝑉 𝐵𝑢𝑛𝑔𝑎 = x Rp 27.500.000,- = Rp 217.599.749,-
4.5%

Total Harga Jual = Rp 571.759.974,-


Nominal Obligasi = Rp 550.000.000,-
Premium Obligasi = Rp 21.759.974,-

Pencatatan Penjualan Obligasi


1 April 2012
Kas Rp 571.759.974,-
Utang Obligasi Rp 550.000.000,-
Premium Obligasi Rp 21.759.974,-

2. Amortisasi Premium Obligasi


Pembayaran Bunga Bunga Amortisasi Akumulasi Nilai Buku
bunga ke Efektif Obligasi Premium Premium Obligasi
Obligasi Obligasi
571.759.974,-
1 25.729.199,- 27.500.000,- 1.770.801,- 1.770.801,- 569.989.173,-
2 25.649.513,- 27.500.000,- 1.850.487,- 3.621.288,- 568.138.686,-
3 25.611.241,- 27.500.000,- 1.888.759,- 5.510.047,- 566.249.927,-
4 25.481.247,- 27.500.000,- 2.018.753,- 7.528.800,- 564.231.174,-
5 25.390.403,- 27.500.000,- 2.109.597,- 9.638.397,- 562.121.577,-
6 25.295.471,- 27.500.000,- 2.204.529,- 11.842.926,- 559.917.048,-
7 25.196.267,- 27.500.000,- 2.303.733,- 14.146.659,- 557.613.315,-
8 25.092.599,- 27.500.000,- 2.407.401,- 16.554.060,- 555.205.914,-
9 24.984.266,- 27.500.000,- 2.515.734,- 19.069.794,- 552.690.180,-
10 24.809.820,- 27.500.000,- 2.690.180,- 21.698.736,- 550.000.000,-

Perhitungan bunga efektif


1. 6/12 x 9% x Rp 571.759.974,- = Rp 25.729.199,-
2. 6/12 x 9% x Rp 569.989.173,- = Rp 25.649.513,-
3. 6/12 x 9% x Rp 568.138.686,- = Rp 25.611.241,-
4. 6/12 x 9% x Rp 566.249.927,- = Rp 25.481.247,-
5. 6/12 x 9% x Rp 564.231.174,- = Rp 25.390.403,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


71

6. 6/12 x 9% x Rp 562.121.577,- = Rp 25.295.471,-


7. 6/12 x 9% x Rp 559.917.048,- = Rp 25.196.267,-
8. 6/12 x 9% x Rp 557.613.315,- = Rp 25.092.599,-
9. 6/12 x 9% x Rp 555.205.914,- = Rp 24.984.266,-
10. 6/12 x 9% x Rp 552.690.180,- = Rp 24.809.820,-

Pencatatan Amortisasi Premium Obligasi


1 Oktober 2012
Biaya Bunga Obligasi Rp 27.500.000,-
Kas Rp 27.500.000,-

Premium Obligasi Rp 1.770.801,-


Biaya Bunga Obligasi Rp 1.770.801,-

31 Desember 2012
Biaya Bunga Obligasi Rp 13.750.000,-
Utang Bunga Obligasi Rp 13.750.000,-

1 Januari 2013
Utang Bunga Obligasi Rp 13.750.000,-
Biaya Bunga Obligasi Rp 13.750.000,-

1 April 2013
Biaya Bunga Obligasi Rp 27.500.000,-
Kas Rp 27.500.000,-

Premium Obligasi Rp 1.850.487,-


Biaya Bunga Obligasi Rp 1.850.487,-

Penjualan Obligasi di tengah – tengah waktu pembayaran bunga.


Bunga Obligasi telah dinyatakan dalam lembaran Obligasi, berupa jumlahnya, dan tanggal
pembayarannya. Obligasi yang dijual di tengah – tengah waktu pembayaran bunga harus
memperhitungkan bunga berjalan. Bunga berjalan dihitung sejak tanggal terakhir pembayaran
bunga sampai dengan tanggal penjualan Obligasi dilakukan. Jumlah bunga berjalan menjadi
hak penjual.

Contoh 4 – Penjualan Obligasi di tengah – tengah waktu pembayaran bunga


PT Golden Metal menjual Obligasi dengan nominal Rp 600.000.000,- pada tanggal 2 Mei
2014. Obligasi tersebut berbunga 10% yang dibayarkan dua kali setahun yaitu setiap tanggal
1 Maret dan 1 September. Obligasi itu berusia 5 tahun. Adapun rate yang berlaku di pasar
pada tanggal penjualan tersebut adalah 8%. Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan
dalam transaksi Obligasi tersebut.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


72

Jawaban 4

𝑃𝑉 𝑃𝑜𝑘𝑜𝑘 = (1 + 4%)−10 𝑥 𝑅𝑝 600.000.000, − = Rp 405.338.501,-

1−(1+4%)−10
𝑃𝑉 𝐵𝑢𝑛𝑔𝑎 = 𝑥 𝑅𝑝 30.000.000, − = Rp 243.326.873,-
4%

Total Harga Jual = Rp 648.665.374,-

Bunga Berjalan 2/12 x 10% x Rp 600.000.000,- = Rp 10.000.000,-

Kas Diterima = Rp 658.665.374,-


Pencatatan yang diperlukan

2 Mei 2014
Kas Rp 658.665.374,-
Utang Obligasi Rp 600.000.000,-
Premium Obligasi Rp 48.665.374,-
Biaya Bunga Obligasi Rp 10.000.000,-

b. Obligasi ditukar dengan Aset Lain


Obligasi dapat ditukar dengan Aset Lain yang nilainya besar, misalnya Aset Tetap.
Mekanisme pencatatannya tetap sama dengan penjualan secara tunai.

Contoh 5 – Obligasi ditukar dengan Aset Lain


Pada tanggal 3 November 2013 Entitas menerbitkan 10.000 lembar Obligasi dengan nilai
nominal Rp 25.000,- untuk memperoleh sebuah Mesin Diesel. Obligasi berusia 8 tahun itu
berbunga 10% dan dibayarkan per tahun, adapun rate bunga yang sedang berlaku adalah 9%.
Hitung dan catatlah transaksi tersebut.

Jawaban 5
Total Nominal Obligasi = 10.000 lembar x Rp 25.000,- = Rp 250.000.000,-

PV Pokok = 0.50186 (PV Faktor n=8, i=9%) x Rp 250.000.000,- = Rp 125.465.000,-


PV Bunga = 5.53482 (PV Faktor OA n=8, i=9%) x Rp 25.000.000,- = Rp 138.370.500,-
Total Harga Obligasi = Rp 263.835.500,-
Nominal Obligasi = Rp 250.000.000,-
Premium Obligasi = Rp 13.835.500,-

Pencatatan pertukaran Obligasi


Mesin Diesel Rp 263.835.500,-
Utang Obligasi Rp 250.000.000,-
Premium Obligasi Rp 13.835.500,-

c. Obligasi dijual dengan cara Pesanan


Penjualan Obligasi dapat dilakukan dengan cara pesanan. Ketika penjualan dilakukan
dengan menerima pesanan, maka Entitas mengakui Piutang pesanan Obligasi sebelum
Obligasi tersebut benar – benar diberikan kepada pemesan.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


73

Contoh 6 – Obligasi dijual dengan cara Pesanan


PT Cipta Karsa menerima pemesanan 100.000 lembar Obligasi dengan nilai nominal @Rp
50.000,- pada tanggal 25 Oktober 2013. Obligasi ini berusia 10 tahun dan berbunga 12%.
Adapun rate bunga yang sedang berlaku di pasar saat itu adalah 12% sehingga Obligasi dijual
pada nilai nominalnya. Uang muka yang diterima adalah 20% sedangkan sisanya akan
dibayarkan sebulan kemudian. Entitas menjanjikan akan menyerahkan seluruh Obligasi pada
tanggal 1 Desember 2013. Biaya penempatan atas transaksi Obligasi tersebut adalah Rp
500.000,-. Hitung dan catatlah transaksi pemesanan Obligasi tersebut.

Jawaban 6
Total nominal Obligasi = 100.000 lembar x Rp 50.000,- = Rp 5.000.000.000,-
Biaya Penempatan = Rp 500.000,-
Rp 4.999.500.000,-
Uang Muka
20% x Rp 4.999.500.000,- (Rp 999.900.000,-)
Piutang Pesanan Obligasi Rp 3.999.600.000,-

Pencatatan transaksi pesanan Obligasi

25 Oktober 2013
Kas Rp 999.900.000,-
Piutang Pesanan Obligasi Rp 3.999.600.000,-
Biaya Penempatan Obligasi Rp 500.000,-
Utang Obligasi Dipesan Rp 5.000.0000.000,-

25 November 2013
Kas Rp 3.999.600.000,-
Piutang Pesanan Obligasi Rp 3.999.600.000,-

1 Desember 2013
Utang Obligasi Dipesan Rp 5.000.000.000,-
Utang Obligasi Rp 5.000.000.000,-

Penghentian Utang Obligasi


Utang Obligasi dihentikan jika dilunasi. Pelunasan Obligasi adalah saat jatuh tempo
sebesar nilai nominalnya. Pencatatan untuk penghentian Utang Obligasi adalah sbb:

Utang Obligasi xxx


Kas xxx

Penghentian Obligasi sebelum jatuh tempo


Utang Obligasi dapat juga dihentikan walaupun belum jatuh tempo, perhitungan pelunasan
Utang Obligasi sebelum jatuh tempo terkait dengan amortisasi premium atau diskon obligasi
untuk memperoleh nilai buku.

Contoh 7 – Penghentian Obligasi sebelum jatuh tempo


PT Makmur Jaya pada tanggal 1 Februari 2012 menerbitkan Obligasi berusia 5 tahun dengan
total nominal Rp 700.000.000,-. Obligasi tersebut berbunga 10% dan bunga dibayarkan per
tahun. Ketika transaksi Obligasi, rate bunga yang sedang berlaku di pasar adalah 11%.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


74

Obligasi akan jatuh tempo pada tanggal 1 Februari 2017. Pada awal tahun 2015 Entitas
memutuskan untuk melunasi Obligasi tersebut. Hitung dan buatlah pencatatan yang
diperlukan untuk transaksi pelunasan Obligasi.

Jawaban 7

Penjualan Obligasi
PV Pokok = 0.59345 (PV Faktor n=5, i=11%) x Rp 700.000.000,- = Rp 415.415.000,-
PV Bunga = 3.69589 (PV Faktor OA n=5, i=9%) x Rp 70.000.000,- = Rp 258.712.300,-
Total Harga Obligasi = Rp 674.127.300,-
Nominal Obligasi = Rp 700.000.000,-
Diskon Obligasi = Rp 25.872.700,-

Pencatatan penjualan Obligasi


Kas Rp 674.127.300,-
Diskon Obligasi Rp 25.872.700,-
Utang Obligasi Rp 700.000.000,-

Amortisasi Diskon Obligasi


Pembayaran Bunga Bunga Amortisasi Akumulasi Nilai Buku
bunga ke Efektif Obligasi Diskon Diskon Obligasi
Obligasi Obligasi
674.127.300,-
1 74.154.003,- 70.000.000,- 4.154.003,- 4.154.003,- 678.281.303,-
2 74.610.943,- 70.000.000,- 4.610.943,- 8.764.946,- 682.892.246,-
3 75.118.147,- 70.000.000,- 5.118.147,- 13.883.093,- 688.010.393,-
4 75.681.143,- 70.000.000,- 5.681.143,- 19.564.236,- 693.691.536,-
5 76.306.069,- 70.000.000,- 6.306.069,- 25.870.305,- 700.000.000,-

Perhitungan bunga efektif


1. 11% x Rp 674.127.300,- = Rp 74.154.003,-
2. 11% x Rp 678.281.303,- = Rp 74.610.943,-
3. 11% x Rp 682.892.246,- = Rp 75.118.147,-
4. 11% x Rp 688.010.393,- = Rp 75.681.143,-
5. 11% x Rp 693.691.536,- = Rp 76.306.069,-

Perhitungan Laba/Rugi Pelunasan Obligasi sebelum jatuh tempo.

Diskon Obligasi = Rp 25.872.700,-


Amortisasi Diskon
2013 Rp 4.154.003,-
2014 Rp 4.610.943,-
Jumlah Amortisasi (Rp 8.764.946,-)
Sisa Diskon Obligasi Rp 17.107.754,-
Nilai Nominal Obligasi Rp 700.000.000,-
Nilai Buku Obligasi dilunasi Rp 682.892.246,-
Harga pelunasan Obligasi Rp 700.000.000,-
Rugi pelunasan Obligasi Rp 17.107.754,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


75

Pencatatan Pelunasan Obligasi

Utang Obligasi Rp 700.000.000,-


Rugi Pelunasan Obligasi Rp 17.107.754,-
Kas Rp 700.000.000,-
Diskon Obligasi Rp 17.107.754,-

Obligasi Berseri (Serial Bond)


Obligasi berseri adalah Obligasi yang dikeluarkan oleh Entitas pada suatu emisi Obligasi
yang mempunyai tanggal jatuh tempo tidak bersamaan, namun berurutan sesuai dengan seri
Obligasi. Setiap serinya mungkin memiliki nilai nominal yang sama ataupun berbeda – beda,
dan mencantumkan tanggal jatuh tempo.

Contoh 8 – Obligasi Berseri


Entitas pada tanggal 1 Januari 2012 menerbitkan Obligasi Berseri dengan total nominal Rp
250.000.000,-. Obligasi seri A adalah senilai Rp 100.000.000,- jatuh tempo pada 1 Januari
2013, seri B adalah senilai Rp 100.000.000,- jatuh tempo 1 Januari 2014 dan seri C adalah
senilai Rp 50.000.000,- jatuh tempo 1 Januari 2015. Buatlah pencatatan yang diperlukan.

Jawaban 8
1 Januari 2012
Kas Rp 250.000.000,-
Utang Obligasi Rp 250.000.000,-

31 Desember 2012
Utang Obligasi Rp 100.000.000,-
Utang Obligasi seri A Rp 100.000.000.-

1 Januari 2013
Utang Obligasi seri A Rp 100.000.000,-
Kas Rp 100.000.000,-

Amortisasi Premium atau Diskon Obligasi


Ketika Obligasi Berseri dijual dengan Premium atau Diskon, maka sama dengan Obligasi
Biasa, Premium atau Diskon tersebut harus diamortisasi. Amortisasi Premium atau Diskon
Obligasi berseri untuk suatu periode Akuntansi dihitung berdasarkan rasio seperti tampak
dalam rumusan berikut ini:

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑛𝑜𝑚𝑖𝑛𝑎𝑙 𝑂𝑏𝑙𝑖𝑔𝑎𝑠𝑖 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑃𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 𝐴𝑘𝑢𝑛𝑡𝑎𝑛𝑠𝑖


𝑥𝑃𝑟𝑒𝑚𝑖𝑢𝑚 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝐷𝑖𝑠𝑘𝑜𝑛 𝑂𝑏𝑙𝑖𝑔𝑎𝑠𝑖
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑛𝑜𝑚𝑖𝑛𝑎𝑙 𝑂𝑏𝑙𝑖𝑔𝑎𝑠𝑖 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑚𝑎 𝑚𝑎𝑠𝑎 𝑂𝑏𝑙𝑖𝑔𝑎𝑠𝑖

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


76

Contoh 9 – Amortisasi Premium atau Diskon Obligasi Berseri


Pada tanggal 1 Januari 2012 PT Sinar Terang Tbk menerbitkan Obligasi berseri dengan total
nominal Rp 500.000.000,- dengan harga Rp 530.000.000,-. Obligasi berbunga 10% per tahun
yang dibayarkan setiap tanggal 1 Januari, dan terbagi atas 5 seri sbb:

Seri Obligasi Total Nominal Jatuh Tempo


A Rp 100.000.000,- 1 Januari 2013
B Rp 150.000.000,- 1 Januari 2014
C Rp 100.000.000,- 1 Januari 2015
D Rp 50.000.000,- 1 Januari 2016
E Rp 100.000.000,- 1 Januari 2017

Hitunglah Amortisasi Premium atau Diskon pada Obligasi berseri tersebut.

Jawaban 9
Tahun Nominal Obligasi Rasio Premium Amortisasi
Beredar Amortisasi Obligasi Premium setiap
tahun
2012 Rp 500.000.000,- 500/1.400 Rp 30.000.000,- Rp 10.714.286,-
2013 Rp 400.000.000,- 400/1.400 Rp 30.000.000,- Rp 8.571.428,-
2014 Rp 250.000.000,- 250/1.400 Rp 30.000.000,- Rp 5.357.143,-
2015 Rp 150.000.000,- 200/1.400 Rp 30.000.000,- Rp 4.285.714,-
2016 Rp 100.000.000,- 100/1.400 Rp 30.000.000,- Rp 2.142.857,-
Jumlah Rp 1.400.000.000,- Rp 30.000.000,-

Pencatatan Amortisasi Premium


1 Januari 2013
Premium Obligasi Rp 10.714.286,-
Biaya Bunga Obligasi Rp 10.714.286,-

Pelunasan Obligasi Berseri sebelum Tanggal Jatuh Tempo


Jika Obligasi Berseri dilunasi sebelum tanggal jatuh tempo, maka sisa Premium atau
Diskon yang masih ada dihapus dan dikapitalisasi ke dalam nilai buku Obligasi yang dilunasi.

Contoh 10 – Pelunasan Obligasi Berseri sebelum Tanggal Jatuh Tempo


Pada tanggal 1 Januari 2012 Entitas menerbitkan Obligasi Berseri dengan total nominal Rp
300.000.000,- pada harga Rp 280.000.000,-. Obligasi ini adalah seri A, B, dan C dengan
masing – masing nominal Rp 100.000.000, yang jatuh tempo berurutan yaitu tanggal 1
Januari 2013, 1 Januari 2014 dan 1 Januari 2015. Pada tanggal 1 April 2014 Obligasi seri C
dilunasi Rp 100.000.000,-. Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan pada transaksi
pelunasan Obligasi seri C tersebut.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


77

Jawaban 10

Tabel Amortisasi Diskon Obligasi Berseri


Tahun Nominal Obligasi Rasio Diskon Amortisasi
Beredar Amortisasi Obligasi Diskon Tiap
Tahun
2012 Rp 300.000.000,- 300/600 Rp 20.000.000,- Rp 10.000.000,-
2013 Rp 200.000.000,- 200/600 Rp 20.000.000,- Rp 6.666.667,-
2014 Rp 100.000.000,- 100/600 Rp 20.000.000,- Rp 3.333.333,-
Jumlah Rp 600.000.000,- Rp 20.000.000,-

1. Amortisasi Diskon selama 3 bulan


3/12 x Rp 3.333.333,- = Rp 833.333,-

Pencatatan:
Biaya Bunga Obligasi Rp 833.333,-
Diskon Obligasi Rp 833.333,-

2. Pelunasan Obligasi
Nominal Obligasi dilunasi Rp 100.000.000,-
Sisa Diskon Obligasi (Rp 2.500.000,-)
Nilai Buku Obligasi Rp 97.500.000,-
Nominal Obligasi dilunasi Rp 100.000.000,-
Rugi Pelunasan Obligasi Rp 2.500.000,-

Pencatatan:
Utang Obligasi Rp 100.000.000,-
Rugi Pelunasan Obligasi Rp 2.500.000,-
Diskon Obligasi Rp 2.500.000,-
Kas Rp 100.000.000,-

Obligasi dikonversi dengan Saham


Obligasi konversi (convertible bond) adalah Obligasi yang sewaktu waktu dapat ditukarkan
dengan Saham Biasa. Obligasi konversi adalah satu jenis sekuritas dilutif yang memiliki sifat
campuran (hybrid). Dikatakan campuran karena Obligasi konversi selain memiliki komponen
Liabilitas juga memiliki komponen Ekuitas. Menurut PSAK 25 tentang Laba per lembar
Saham, Entitas harus memisahkan kedua komponen tersebut dalam pengakuan dan
penyajian. Berikut adalah tahapan dalam memisahkan antara komponen Liabilitas dan
Ekuitas yang melekat pada Obligasi konversi:
1. Tentukan nilai pasar Obligasi konversi secara utuh (dengan komponen Liabilitas dan
Ekuitas).
2. Tentukan komponen Liabilitas dengan menghitung nilai kini (Present Value) neto dari
semua aliran kontraktual kas di masa mendatang yang didiskontokan dengan tingkat bunga
pasar. Tingkat bunga pasar yang digunakan adalah tingkat bunga yang dibayarkan oleh
Entitas pada Obligasi yang sama namun tanpa fitur konversi.
3. Selisihkan komponen Liabilitas yang telah dihitung dengan nilai pasar Obligasi konversi,
selisih dari keduanya merupakan komponen Ekuitas.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


78

Contoh 11 – Penerbitan Obligasi Konversi


Entitas pada tanggal 1 April 2012 menerbitkan 1000 lembar Obligasi konversi dengan nilai
nominal Rp 500.000,- per lembar. Obligasi berusia 3 tahun berbunga 10% yang dibayarkan
tahunan yaitu pada setiap tanggal 31 Desember. Pada saat penjualan Obligasi, rate bunga
yang sedang berlaku di pasar adalah 12%. Saat Obligasi diterbitkan nilai pasar Obligasi
tersebut adalah Rp 510.000,- per lembar. Buatlah pencatatan yang diperlukan.

Jawaban 11

Total nominal Obligasi = 1.000 lembar x Rp 500.000,- = Rp 500.000.000,-


PV Pokok = 0.71178 (PV Faktor n=3, i=12%) x Rp 500.000.000,- = Rp 355.890.000,-
PV Bunga = 2.40183 (PV Faktor OA n=3, i=12%) x Rp 50.000.000,- = Rp 120.091.500,-
Total PV Obligasi = Rp 475.981.500,-

Nilai wajar dari Obligasi konversi saat penerbitan = Rp 510.000.000,-


Total PV Obligasi = Rp 475.981.500,-
Nilai komponen Ekuitas = Rp 34.018.500,-

Bunga Berjalan (Jan – Maret) = 3/12 x 10% x Rp 50.000.000,-= Rp 12.500.000,-

Pencatatan:
Kas Rp 522.500.000,-
Diskon Obligasi Rp 24.018.500,-
Utang Obligasi Rp 500.000.000,-
Agio Saham – Ekuitas Konversi Rp 34.018.500,-
Biaya Bunga Obligasi Rp 12.500.000,-

Akuntansi Penyelesaian Obligasi Konversi


Akuntansi penyelesaian Obligasi Konversi berbeda-beda sesuai dengan kondisi
penyelesaiannya. Beberapa kondisi tersebut adalah:
1. Obligasi Dilunasi
Obligasi yang sampai jatuh tempo tidak dikonversi maka saat jatuh tempo Entitas harus
melunasi Obligasinya, atau dibeli kembali. Pelunasan tersebut dilakukan pada harga
nominalnya karena Premium maupun Diskon Obligasi telah diamortisasi.
2. Obligasi dikonversi dengan saham pada saat jatuh tempo
Apabila Obligasi dikonversi pada saat jatuh tempo, jika asumsi dikonversi seluruhnya
maka akun Utang Obligasi dan Agio Saham-Ekuitas konversi ditutup, dan ditukar dengan
nilai saham sesuai dengan nilai yang telah ditentukan. Selisih antara penutupan akun
Utang Obligasi dengan Modal Saham Biasa akan menjadi Agio Saham Biasa. Dan apabila
Obligasi tidak dikonversi seluruhnya maka penutupan Agio Saham-Ekuitas konversi juga
sebesar persentase Obligasi yang dikonversi.
3. Obligasi dikonversi sebelum jatuh tempo
Jika Obligasi dikonversi sebelum jatuh tempo maka akun Utang Obligasi ditutup sebesar
nilai buku Obligasi yaitu nilai nominal yang telah disesuaikan dengan sisa Premium atau
Diskon Obligasi, sedangkan akun Agio Saham-Ekuitas konversi ditutup sejumlah yang
diakui di awal. Modal Saham Biasa dicatat di sisi kredit sesuai dengan total nilai nominal
saham yang telah ditentukan untuk dikonversi, dan sisanya dicatat dalam Agio Saham
Biasa.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


79

Contoh 12 – Penyelesaian Obligasi Konversi.


Berdasarkan data pada Contoh 11, Obligasi tersebut dikonversi dengan Saham Biasa dengan
ratio penukaran 1:2 (satu lembar Obligasi dikonversi dengan dua lembar Saham Biasa).
Nominal Saham adalah Rp 230.000,- sedangkan harga pasar Saham Biasa yang sedang
berlaku adalah Rp 255.000,-. Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan jika:
a. Obligasi dilunasi.
b. Obligasi dikonversi pada saat jatuh tempo, asumsi Obligasi dikonversi seluruhnya.
c. Obligasi dikonversi sebelum jatuh tempo, yaitu pada tanggal 1 Juli 2013.

Jawaban 12
a. Obligasi dilunasi
Utang Obligasi Rp 500.000.000,-
Kas Rp 500.000.000,-

b. Seluruh Obligasi dikonversi pada saat jatuh tempo


Obligasi dikonversi Saham dengan ratio 1:2, yaitu 1 lembar Obligasi ditukarkan dengan 2
lembar Saham. 1.000 lembar Obligasi dikonversi menjadi 2.000 lembar Saham Biasa.
Nominal Saham Biasa ditukar = 2.000 lembar x Rp 230.000,- = Rp 460.000.000,-

Pencatatan:
Utang Obligasi Rp 500.000.000,-
Agio Saham – Ekuitas Konversi Rp 34.018.500,-
Modal Saham Biasa Rp 460.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 74.018.500,-

c. Obligasi dikonversi sebelum jatuh tempo.


Amortisasi Diskon Obligasi
Pembayaran Bunga Bunga Amortisasi Akumulasi Nilai Buku
bunga ke Efektif Obligasi Diskon Diskon Obligasi
Obligasi Obligasi
475.981.500,-
1 57.117.780,- 50.000.000,- 7.117.780,- 7.117.780,- 483.099.280,-
2 57.971.914,- 50.000.000,- 7.971.914,- 15.089.694,- 491.071.194,-
3 58.928.543,- 50.000.000,- 8.928.543,- 24.018.237,- 500.000.000,-

Perhitungan Amortisasi:
1. 12% x Rp 475.981.500,- = Rp 57.117.780,-
2. 12% x Rp 483.099.280,- = Rp 57.971.914,-
3. 12% x Rp 491.071.194,- = Rp 58.928.543,-

Konversi Obligasi pada tanggal 1 Juli 2013


Nominal Obligasi ditarik Rp 500.000.000,-
Diskon Obligasi Rp 24.018.500,-
Amortisasi Diskon Obligasi
Tahun 2012 = 9/12 x Rp 7.117.780,- = Rp 5.338.335,-
Tahun 2013 = 6/12 x Rp 7.971.914,- = Rp 3.985.957,-
Diskon diamortisasi = (Rp 9.324.292,-)
Sisa Diskon = (Rp 14.694.208,-)
Nilai Buku Obligasi Rp 485.305.792,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


80

Pencatatan:
Utang Obligasi Rp 485.305.792,-
Agio Saham – Ekuitas Konversi Rp 34.018.500,-
Modal Saham Biasa Rp 460.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 59.324.292,-

Utang Wesel Jangka Panjang


Perbedaan antara Wesel Jangka Panjang dan Jangka Pendek adalah waktu jatuh temponya.
Wesel Jangka Panjang memiliki usia jatuh tempo lebih dari satu periode Akuntansi dan
berbunga. Perolehan Utang Wesel Jangka Panjang dicatat sebesar PV (Present Value) Kas
yang akan dibayarkan dengan memperhitungkan tingkat bunga Wesel dan rate bunga yang
sedang berlaku di pasar. Selisih antara PV Kas yang akan dibayarkan dengan nominal Wesel
akan menjadi Premium atau Diskon yang setiap periode tertentu diamortisasi. Pengukuran
Utang Wesel Jangka Panjang sama dengan Utang Obligasi.

Contoh 13 – Utang Wesel Jangka Panjang


Pada tanggal 1 Juni 2013 Entitas melunasi Utangnya sebesar Rp 65.000.000,- dengan
menerbitkan Wesel berusia 5 tahun. Wesel tersebut berbunga 9% per tahun yang dibayarkan
setahun dua kali yaitu setiap tanggal 1 Maret dan 1 September. Ketika transaksi Wesel
terjadi, rate bunga yang sedang berlaku di pasar adalah 11%. Hitung dan catatlah transaksi
Wesel tersebut.

Jawaban 13
PV Pokok = 0.58543(PV Faktor n=10, i=5.5%) x Rp 65.000.000,- = Rp 38.052.950,-
PV Bunga = 7.53762 (PV Faktor OA n=10, i=5.5%) x Rp 2.925.000,- = Rp 22.047.538,-
Total Harga Wesel Rp 60.100.488,-
Nominal Wesel Rp 65.000.000,-
Diskon Wesel Rp 4.899.512,-
Bunga Berjalan = 3/12 x 9% x Rp 65.000.000,- = Rp 1.462.500,-

Pencatatan:
1 Juni 2013
Kas Rp 61.562.988,-
Diskon Wesel Rp 4.899.512,-
Utang Wesel Jangka Panjang Rp 65.000.000,-
Biaya Bunga Wesel Rp 1.462.500,-

Analisis Laporan Keuangan yang berhubungan dengan Liabilitas Jangka Panjang


Analisis Laporan Keuangan yang terkait dengan Liabilitas Jangka Panjang dilakukan untuk
melihat seberapa besar proporsi Liabilitas terhadap Aset atau Ekuitas. Jika Liabilitas lebih
besar dibandingkan Aset atau Ekuitas maka dapat dikatakan bahwa Entitas tersebut beresiko
untuk membayar Pokok Utang dan Bunganya di masa mendatang. Berikut adalah rasio yang
sering digunakan dalam melakukan analisis terhadap laporan keuangan terkait dengan
Liabilitas Jangka Panjang.

1. Debt to Equity Ratio (DER)

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐿𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐽𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎 𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔


𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑡𝑜 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 (𝐷𝐸𝑅) =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


81

Rasio DER memperlihatkan seberapa banyak Total Ekuitas yang didukung oleh Liabilitas
Jangka Panjang.

2. Debt to Asset Ratio (DAR)


𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐿𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠
𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑡𝑜 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 (𝐷𝐴𝑅) =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡

Rasio DER memperlihatkan seberapa banyak Total Aset yang didukung oleh Liabilitas.

3. Times Interest Earned (TIE)

𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑆𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝐵𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘


𝑇𝑖𝑚𝑒𝑠 𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑒𝑠𝑡 𝐸𝑎𝑟𝑛𝑒𝑑 (𝑇𝐼𝐸) =
𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝐵𝑢𝑛𝑔𝑎

Rasio TIE mengukur sejauh mana Laba tersedia untuk membayar Biaya Bunga. Rasio ini
merupakan salah satu rasio yang diperlukan oleh kreditur, semakin tinggi rasio ini semakin
tinggi pula tingkat kepercayaan kreditur.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


82

Latihan Soal – Liabilitas Jangka Panjang

Soal 1
Entitas menerbitkan 50.000 lembar Obligasi dengan nominal @Rp 60.000,-. Obligasi tersebut
berbunga 10% setahun dengan bunga dibayarkan tahunan selama 5 tahun. Ketika transaksi
penjualan Obligasi terjadi, tingkat bunga yang sedang berlaku di pasar adalah 12%.
Diminta:
Hitung dan catatlah transaksi penjualan Obligasi tersebut.

Soal 2
Pada tanggal 5 Juni 2013 Entitas menjual Obligasi dengan nilai nominal Rp 650.000.000,-
berusia 5 (Lima) tahun. Obligasi ini berbunga 11% yang dibayarkan setiap tanggal 1 Maret
dan 1 September. Pada saat transaksi terjadi tingkat bunga yang sedang berlaku di pasar
adalah 9%.
Diminta:
Hitung dan catatlah transaksi penjualan Obligasi tersebut.

Soal 3
Pada tanggal 1 Maret 2013 Entitas menjual 75.000 lembar Obligasi dengan nominal @Rp
6.000,-. Obligasi berusia 5 tahun. Obligasi berbunga 10% pertahun yang dibayarkan tahunan
ini dijual dengan cara pesanan. Ketika Obligasi dijual bunga efektif yang sedang berlaku
adalah 9%. Biaya Penempatan adalah Rp 500.000,-. Uang muka adalah 25% dari total yang
seharusnya diterima. Sisa pembayaran akan diterima satu bulan berikutnya sedangkan
Obligasi akan diberikan pada tanggal 1 Mei 2013.
Diminta:
Hitung dan catatlah transaksi penjualan Obligasi secara pesanan tersebut.

Soal 4
Tanggal 2 Agustus 2013 Entitas menjual Obligasi dengan nominal Rp 500.000.000,-.
Obligasi berbunga 11% per tahun yang dibayarkan dua kali dalam setahun yaitu setiap
tanggal 1 April dan 1 Oktober. Obligasi berusia 3 (Tiga) tahun dan pada saat transaksi terjadi
tingkat bunga yang sedang berlaku di pasar adalah 12%. Amortisasi Premium atau Diskon
dilakukan bersamaan pada saat pembayaran bunga.
Diminta:
Hitung dan catatlah:
a. Transaksi Penjualan Obligasi.
b. Amortisasi Premium atau Diskon Obligasi.

Soal 5
Tanggal 1 Juli 2013, Entitas menukarkan Obligasi yang dimilikinya dengan Saham Biasa.
Rasio penukaran Obligasi dengan Saham adalah 2:3. Nominal Obligasi adalah Rp
300.000.000,- dengan jumlah 10.000 lembar dan berusia 5 tahun sejak tanggal dibeli yaitu 1
Januari 2011. Obligasi berbunga 9% yang dibayarkan tahunan dan ketika transaksi penjualan
Obligasi tingkat bunga yang berlaku di pasar adalah 10%. Harga Pasar Obligasi adalah Rp
32.000,-. Nominal Saham adalah Rp 20.000,- sedangkan harga pasarnya adalah Rp 19.500,-
per lembar.
Diminta:
Hitung dan catatlah transaksi konversi Obligasi jika diperlakukan sebagai:
1. Transaksi Pelunasan Obligasi
2. Transaksi Penempatan Saham

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


83

Soal 6
Berikut merupakan Laporan Posisi Keuangan dan Laporan Laba Rugi entitas selama dua
periode, yaitu tahun 2011 dan 2012.

Laporan Posisi Keuangan


2011 2012
Kas Rp 30.800,- Rp 35.625,-
Piutang Usaha, net 88.500,- 62.500,-
Persediaan Barang Dagang 111.500,- 82.500,-
Beban Dibayar di Muka 9.700,- 9.375,-
Aset Tetap, net 277.500,- 255.000,-
Total Aset Rp 518.000,- Rp 445.000,-

Utang Usaha Rp 128.900,- Rp 75.250,-


Utang Jangka Panjang 97.500,- 102.500,-
Saham Biasa, par Rp 10,- 162.500,- 162.500,-
Saldo Laba 129.100,- 104.750,-
Total Liabilitas dan Ekuitas Rp 518.000,- Rp 445.000,-

Diminta:
Hitunglah DAR dan DER serta buatlah analisisnya.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


84

Tugas – Liabilitas Jangka Panjang

Soal 1
Pada tanggal 1 April 2013 Entitas menjual 50.000 lembar Obligasi dengan nominal @Rp
600.000,-. Obligasi ini berusia 5 tahun dan berbunga 11% yang bunganya dibayarkan setiap
tanggal 1 April dan 1 Oktober. Ketika Obligasi dijual tingkat bunga yang sedang berlaku
adalah 10%. Pada tanggal 1 Oktober 2016 Entitas melunasi Obligasi tersebut. Hitung dan
catatlah:
a. Transaksi penjualan Obligasi.
b. Transaksi pelunasan Obligasi sebelum jatuh tempo.

Soal 2
Pada tanggal 3 Januari 2012 PT Sandang Pangan menerbitkan Obligasi berseri dengan total
nominal Rp 1.000.000.000,- dengan harga Rp 980.000.000,-. Obligasi berbunga 9% per tahun
yang dibayarkan setiap tanggal 1 Januari, dan terbagi atas 4 seri sbb:

Seri Obligasi Total Nominal Jatuh Tempo


A Rp 250.000.000,- 1 Januari 2013
B Rp 250.000.000,- 1 Januari 2014
C Rp 250.000.000,- 1 Januari 2015
D Rp 250.000.000,- 1 Januari 2016

Hitunglah Amortisasi Premium atau Diskon pada Obligasi berseri tersebut.

Soal 3
Pada tanggal 3 Juni 2012, Entitas menerbitkan Obligasi dengan total nominal Rp
750.000.000,-. Obligasi ini berusia 3 tahun, berbunga 10% dan ketika transaksi penjualan
terjadi rate bunga yang sedang berlaku adalah 9%. Bunga Obligasi dibayarkan setiap tanggal
1 Maret dan 1 September. Ketika transaksi terjadi terdapat biaya penempatan sebesar Rp
500.000,-. Obligasi ini kemudian pada tanggal 1 April 2014 dilunasi ketika tingkat bunga
yang sedang berlaku adalah 11%. Hitung dan catatlah:
1. Transaksi penjualan Obligasi
2. Amortisasi Premium atau Diskon Obligasi
3. Pelunasan Obligasi sebelum jatuh tempo

Soal 4
Berikut ini merupakan Laporan Laba Rugi Entitas untuk tahun 2011 dan 2012.
2011 2012
Penjualan Rp 672.500,- Rp 530.000,-
Harga Pokok Penjualan (410.225,-) (344.500,-)
Laba Kotor
Beban Operasi Lainnya (208.550,-) (133.980,-)
Laba Sebelum Bunga dan Pajak
Beban Bunga (11.100,-) (12.300,-)
Laba Sebelum Pajak
Pajak Penghasilan (8.525,-) (7.845,-)
Laba Bersih Rp 34.100 Rp 31.375,-
Hitunglah TIE dan buatlah analisanya.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


85

Soal 5
Entitas pada tanggal 1 Oktober 2013 menerbitkan 5000 lembar Obligasi konversi dengan
nilai nominal Rp 700.000,- per lembar. Obligasi berusia 3 tahun berbunga 9% yang
dibayarkan tahunan yaitu pada setiap tanggal 31 Desember. Pada saat penjualan Obligasi, rate
bunga yang sedang berlaku di pasar adalah 10%. Saat Obligasi diterbitkan nilai pasar
Obligasi tersebut adalah Rp 730.000,- per lembar. Obligasi tersebut dikonversi dengan Saham
Biasa dengan ratio penukaran 2:3 (dua lembar Obligasi dikonversi dengan tiga lembar Saham
Biasa). Nominal Saham adalah Rp 550.000,- sedangkan harga pasar Saham Biasa yang
sedang berlaku adalah Rp 560.000,-. Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan pada
saat:
a. Penerbitan Obligasi
b. Obligasi dilunasi.
c. Obligasi dikonversi pada saat jatuh tempo, asumsi Obligasi dikonversi seluruhnya.
d. Obligasi dikonversi sebelum jatuh tempo, yaitu pada tanggal 1 Juli 2015.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


86

BAB VII
EKUITAS – MODAL SAHAM
(SHARE EQUITY)
BENTUK ENTITAS
Berdasarkan kepemilikan, Entitas dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk, yaitu:
1. Entitas Perseorangan, adalah entitas yang dimiliki oleh perseorangan.
2. Entitas Persekutuan, adalah entitas yang dimiliki oleh dua orang atau lebih yang
membentuk persekutuan. Bentuk yang umum adalah Firma (Fa) atau Commanditaire
Venootschaap (CV).
3. Perseroan Terbatas , adalah entitas yang dimiliki oleh dua orang atau lebih, berbadan
hukum dan melalui penerbitan surat saham.

PERSEROAN TERBATAS
Perseroan Terbatas atau yang pada pembahasan selanjutnya disebut PT, adalah Entitas
berbadan hukum yang memiliki struktur modal lebih kompleks daripada jenis entitas lainnya
(perseorangan, Fa, CV). Struktur modal dalam PT terdiri dari Modal Disetor yang terdiri atas
seluruh nominal Saham, Laba Ditahan dan Penghasilan komprehensif lainnya. Perseroan
jenis ini dikatakan terbatas dalam artian bahwa tanggung jawab pemilik entitas hanya terbatas
pada kekayaan yang ditanamkannya ke dalam entitas. Apabila terdapat kerugian maka
pemilik entitas tidak perlu bertanggung jawab sampai menggunakan asset pribadinya untuk
menutup kerugian PT. Selain itu berikut ini merupakan karakteristik PT:
1. Berbentuk Badan Hukum,
2. Dilindungi oleh Undang Undang dan negara. Adapun Undang Undang yang mengatur
tentang PT adalah UU No. 40 tahun 2007.
3. Keberlangsungan usaha tidak terpengaruh oleh kondisi pemilik.
4. Kekayaan PT terpisah dari kekayaan pemilik.
5. Memiliki reputasi yang diakui oleh pihak penyedia fasilitas pendanaan seperti perbankan
atau pasar modal.

Pembentukan PT berdasarkan UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas harus


memenuhi syarat formal sbb:
1. Pendiri minimal terdiri dari 2 (dua) orang atau lebih.
2. Disahkan dengan akta notaris dengan Bahasa Indonesia.
3. Setiap pendiri harus mengambil bagian atas saham, kecuali dalam rangka peleburan.
4. Akta pendirian harus disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM dan diumumkan dalam
Berita Negara Republik Indonesia (BNRI).
5. Modal dasar minimal Rp 50.000.000,- (Lima puluh juta Rupiah) dan
ditempatkan/disetorkan minimal 25% dari modal dasar.
6. Dalam struktur organisasi minimal harus memiliki 1 (satu) orang Direktur dan 1 (satu)
orang komisaris.
7. Pemegang Saham harus Warga Negara Indonesia atau badan hukum yang didirikan
menurut hukum Indonesia, kecuali yang merupakan Penanaman Modal Asing.

Untuk memenuhi persyaratan tersebut, ketika membentuk sebuah PT melalui tahapan –


tahapan sbb:
1. Pengajuan nama PT melalui Sistem Administrasi Badan Hukum (SABH) dalam
Kementerian Hukum dan HAM.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


87

2. Pembuatan Akta Pendirian yang disahkan di depan notaris.


3. Pengajuan Surat Keterangan Domisili Perusahaan (SKDP) di kantor kelurahan setempat.
4. Pengajuan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
setempat.
5. Pengajuan Pengesahan Anggaran Dasar (AD) perusahaan di Kementerian Hukum dan
HAM.
6. Pengajuan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) di kantor Dinas Perindustrian dan
Perdagangan setempat.
7. Pengajuan pengumuman di Berita Negara Republik Indonesia (BNRI).

PT terdiri dari dua jenis, yaitu PT Tertutup dan PT Terbuka. PT Tertutup yaitu perseroan
yang tidak menerbitkan saham untuk publik, investor PT adalah pihak – pihak yang telah
dikenal dan mengenal PT secara langsung. Sedangkan PT Terbuka yang dikenal dengan go
public (Tbk) adalah perseroan yang menerbitkan saham untuk publik di pasar modal.

STRUKTUR EKUITAS PERSEROAN TERBATAS (PT)


Struktur Ekuitas sebuah PT terdiri atas:
1. Modal Disetor/Modal Saham,
2. Saldo Laba/Laba Ditahan,
3. Penghasilan Komprehensif Lainnya.

Modal Disetor/ Modal Saham


Modal Disetor dalam PT berupa seluruh nominal Saham yang diperoleh dengan cara
menerbitkan atau menempatkan saham – saham tersebut kepada pihak tertentu atau publik.
Pihak yang memiliki dana dan membeli saham disebut Investor atau pemegang saham.
Saham memberikan hak kepada pemiliknya beberapa hal sbb:
1. Pembagian Laba dan Rugi Entitas secara proposional sesuai dengan persentase
kepemilikan.
2. Partisipasi dalam manajemen, salah satunya hak suara untuk menunjuk direksi dan
komisaris, juga penentuan rencana strategis Entitas sesuai dengan persentase
kepemilikan.
3. Pembagian Aset Entitas pada saat likuidasi secara proporsional sesuai dengan persentase
kepemilikan.
4. Hak preferen untuk membeli saham yang baru diterbitkan secara proporsional sesuai
dengan persentase kepemilikan, atau biasa dikenal dengan hak memesan terlebih dahulu
(right issue).

JENIS SAHAM
Saham yang diterbitkan oleh PT dapat satu jenis atau lebih. Ketika PT menerbitkan satu jenis
saham, maka saham tersebut adalah saham biasa. Namun sebenarnya jenis saham dapat
dibedakan menjadi sbb:
1. Saham Biasa (Common Share).
Saham Biasa adalah saham yang tidak mempunyai hak istimewa dalam hal pembagian
deviden dan pembagian kekayaan entitas apabila entitas dilikuidasi. Pembagian deviden
dan kekayaan entitas untuk pemegang Saham Biasa dilakukan setelah pembagian kepada
pemegang Saham Preferen.
2. Saham Preferen (Preferred Share).
Saham Preferen adalah Saham yang mempunyai hak istimewa untuk menerima deviden
dan kekayaan perusahaan terlebih dahulu. Adapun deviden Saham Preferen dinyatakan
dengan persentase tertentu dari nilai nominal saham.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


88

3. Saham Preferen Konvertible (Convertible Preferred Share).


Saham Preferen Konvertible adalah Saham Preferen yang dapat dikonversikan menjadi
Saham Biasa.
4. Saham Preferen Kumulatif dan Tidak Kumulatif.
Saham Preferen Kumulatif adalah Saham Preferen yang mempunyai hak terlebih dahulu
untuk menerima deviden atau kekayaan entitas jika dilikuidasi. Adapun jika dalam satu
periode deviden tidak dapat dibayarkan maka pemilik saham preferen kumulatif memiliki
hak untuk menerima deviden tersebut pada periode berikutnya. Sedangkan untuk
pemegang Saham Preferen Tidak Kumulatif mendapatkan pembayaran deviden atau
kekayaan entitas jika dilikuidasi setelah pembayaran kepada pemegang saham Preferen
Kumulatif, dan ketika di suatu periode deviden belum dibayarkan maka pemegang Saham
Preferen Tidak Kumulatif tidak memiliki hak untuk mendapatkan pembayaran deviden
tersebut di periode berikutnya.
5. Saham Preferen Berpartisipasi dan Tidak Berpartisipasi.
Pemegang Saham Preferen Berpartisipasi memiliki hak untuk menerima deviden selain
dari persentase telah tercantum dalam lembar saham. Pemegang Saham Preferen
Berpartisipasi juga berhak atas sisa deviden setelah dibayarkan sampai ke pemegang
Saham Biasa. Besarnya hak atas deviden sisa tersebut berdasarkan pernyataan tingkat
partisipasi Saham Preferen tersebut. Sedangkan untuk pemegang Saham Preferen Tidak
Berpartisipasi hanya akan menerima deviden sebesar persentase yang tercantum dalam
lembar saham.

Gambar 3 - Saham

Pencatatan Modal Saham


Penjualan saham dapat dilakukan secara tunai, dengan pertukaran, melalui pesanan dan
secara lump sum (bersama). Ketika saham terjual maka entitas mendapatkan tambahan
modal. Saham memiliki nilai nominal yang tertera di setiap lembarannya, namun harga pasar
dapat saja lebih atau kurang dari nilai nominalnya. Modal Saham tetap dicatat pada nilai
nominal, adapun kelebihan/ kekurangan dari nilai nominal saham (Additional Paid in
Capital/APIC) atau Agio Saham.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


89

Penjualan Saham secara tunai


Penjualan Saham secara tunai dapat dilakukan langsung per pihak/individu maupun dengan
menjualnya di Pasar Modal, di Indonesia bernama Bursa Efek Indonesia (BEI). Penjualan
saham pertama kali oleh entitas disebut dengan Initial Public Offering (IPO) atau bisa disebut
juga Pasar Perdana. Untuk menjual saham di Pasar Modal sebuah entitas harus memenuhi
berbagai persyaratan yang diatur oleh Bapepam dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Contoh 1 – Penjualan Saham secara tunai


Pada tanggal 1 Januari 2013 PT Samosir Tbk menerbitkan 5.000 lembar Saham Biasa dengan
nominal @Rp 15.000,-. Berikut merupakan transaksi penjualan terkait dengan saham –
saham tersebut.
5 April 2013 Menjual secara tunai 1.000 lembar saham dengan kurs 102%.
20 Juni 2013 Menjual secara tunai 750 lembar saham dengan kurs 95%
14 Agustus 2013 Menjual secara tunai 1.500 lembar saham dengan kurs 105%
Hitung dan catatlah transaksi – transaksi tersebut.

Jawaban 1
1 Januari 2013
Menerbitkan memo:
Diterbitkan 5.000 lembar Saham Biasa dengan nominal @Rp 15.000,-.

5 April 2013
Harga jual saham = 102% x 1.000 lembar x Rp 15.000,- = Rp 15.300.000,-
Nominal saham = 1.000 lembar x Rp 15.000,- = Rp 15.000.000,-
Agio Saham = Rp 300.000,-

Pencatatan
Kas Rp 15.300.000,-
Modal Saham Biasa Rp 15.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 300.000,-

20 Juni 2013
Harga jual saham = 95% x 750 lembar x Rp 15.000,- = Rp 10.687.500,-
Nominal saham = 750 lembar x Rp 15.000,- = Rp 11.250.000,-
Agio Saham = Rp 562.500,-

Pencatatan
Kas Rp 10.687.500,-
Agio Saham Biasa Rp 562.500,-
Modal Saham Biasa Rp 11.250.000,-

14 Agustus 2013
Harga jual saham = 105% x 1.500 lembar x Rp 15.000,- = Rp 23.625.000,-
Nominal saham = 1.500 lembar x Rp 15.000 = Rp 22.500.000,-
Agio saham biasa = Rp 1.125.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


90

Pencatatan
Kas Rp 23.625.000,-
Modal Saham Biasa Rp 22.500.000,-
Agio Saham Biasa Rp 1.125.000,-

Pertukaran Saham dengan Aset lain.


Saham dapat ditukar dengan Aset lain selain Kas. Aset akan dicatat sebesar harga pasar
saham yang ditukarkan.

Contoh 2 – Pertukaran Saham dengan Aset lain.


Pada tanggal 5 September 2013 entitas menjual 1.000 lembar Saham Biasa dengan nominal
@Rp 20.000,- dengan kurs 103% untuk memperoleh Mesin Cetak. Hitung dan catatlah
transaksi tersebut.

Jawaban 2
5 September 2013
Mesin Cetak Rp 20.600.000,-
Modal Saham Biasa Rp 20.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 600.000,-

Penjualan Saham dengan pesanan.


Saham dapat dijual dengan pesanan, pihak pemesan saham harus membayar uang muka
(down payment) pada saat pemesanan saham dilakukan dan membayarkan sisanya sesuai
dengan kesepakatan antara entitas dan pemesan saham. Adapun saham – saham yang telah
dipesan harus dipisahkan dengan saham lainnya karena saham – saham tersebut harus
diserahkan kepada pemesannya setelah pelunasan pemesanan sahamnya. Jika entitas menjual
sahamnya dengan pesanan maka entitas mengakui Piutang Pesanan Saham.

Contoh 3 – Penjualan Saham dengan pesanan


Entitas menerima pesanan atas 2.500 lembar Saham Biasa dengan nominal @Rp 17.500,-
pada tanggal 6 Februari 2013. Saham dijual pada kurs 98%, dan uang muka yang dibayarkan
oleh pemesan adalah sebesar 20%. Pemesan Saham menjanjikan akan melunasi sisa
Utangnya tanggal 10 Maret 2013. Sedangkan saham – saham yang dipesan akan diserahkan
pada tanggal 1 Mei 2013. Hitung dan catatlah transaksi tersebut.

Jawaban 3
Harga jual Saham = 98% x 2.500 lembar x Rp 17.500,- = Rp 42.875.000,-
Uang muka diterima = 20% x Rp 42.875.000,- = (Rp 8.575.000,-)
Piutang Pesanan Saham = Rp 34.300.000,-

Pencatatan
6 Februari 2013
Kas Rp 8.575.000,-
Piutang Pesanan Saham Rp 34.300.000,-
Agio Saham Biasa Rp 875.000,-
Modal Saham Biasa Dipesan Rp 43.750.000,-

10 Maret 2013
Kas Rp 34.300.000,-
Piutang Pesanan Saham Rp 34.300.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


91

1 Mei 2013
Modal Saham Biasa Dipesan Rp 43.750.000,-
Modal Saham Biasa Rp 43.750.000,-

Pembatalan Pemesanan Saham


Pemesanan Saham dapat dibatalkan apabila pemesan saham tidak dapat memenuhi
kewajibannya membayar Utang pada saat yang telah ditentukan. Terdapat 4 perlakuan yang
dapat dipilih ketika pesanan saham dibatalkan, yaitu:
1. Uang muka dikembalikan seluruhnya kepada pemesan,
2. Uang muka dikembalikan kepada pemesan setelah dikurangi kerugian atas penjualan
kembali saham – saham tersebut,
3. Uang muka digantikan saham yang nilainya sama,
4. Uang muka tidak dikembalikan/dianggap hangus.

Contoh 4 – Uang Muka dikembalikan seluruhnya.


Pada tanggal 1 Agustus 2013 entitas menjual 500 lembar Saham Biasa dengan nominal @Rp
20.000,- secara pesanan. Saham dijual pada kurs 105%. Uang muka yang diterima adalah
10%. Sisa pembayaran akan pesanan saham akan dilunasi 1 bulan kemudian. Namun pada
tanggal 15 Agustus 2013, entitas menerima konfirmasi bahwa pemesan saham tidak dapat
melunasi Utangnya. Sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati, entitas mengembalikan
Uang Muka seluruhnya kepada pemesan. Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan.

Jawaban 4
Harga jual Saham = 105% x 500 lembar x Rp 20.000,- = Rp 10.500.000,-
Uang muka diterima = 10% x Rp 10.500.000,- = (Rp 1.050.000,-)
Piutang Pesanan Saham = Rp 9.450.000,-

Pencatatan
1 Agustus 2013
Kas Rp 1.050.000,-
Piutang Pesanan Saham Rp 9.450.000,-
Modal Saham Biasa Dipesan Rp 10.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 500.000,-

15 Agustus 2013
Modal Saham Biasa Dipesan Rp 10.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 500.000,-
Piutang Pesanan Saham Rp 9.450.000,-
Kas Rp 1.050.000,-

Contoh 5 – Uang Muka dikembalikan setelah dikurangi kerugian penjualan saham


kembali
Pada tanggal 2 Oktober 2013 Entitas menjual 1.000 lembar Saham Biasa dengan nominal
@Rp 15.000,- secara pesanan. Saham dijual pada kurs 105%. Uang muka diterima adalah
20% yang sisanya dijanjikan akan dibayar dalam jangka waktu satu bulan. Pada tanggal 10
Oktober 2013, Entitas menerima konfirmasi bahwa pemesan saham tidak dapat melunasi
Utangnya. Entitas akan mengembalikan uang muka setelah dikurangi kerugian penjualan
saham kembali (jika ada). Pada tanggal 28 Oktober 2013, Entitas berhasil menjual Saham
pesanan tersebut dengan kurs 102%. Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


92

Jawaban 5
Harga jual Saham = 105% x 1.000 lembar x Rp 15.000,- = Rp 15.750.000,-
Uang muka diterima = 20% x Rp 15.750.000,- = (Rp 3.150.000,-)
Piutang Pesanan Saham = Rp 12.600.000,-

2 Oktober 2013
Kas Rp 3.150.000,-
Piutang Pesanan Saham Rp 12.600.000,-
Modal Saham Biasa Dipesan Rp 15.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 750.000,-

10 Oktober 2013
Modal Saham Biasa Dipesan Rp 15.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 750.000,-
Piutang Pesanan Saham Rp 12.600.000,-
Utang kepada pemesan saham Rp 3.150.000,-

28 Oktober 2013
Harga jual saham kembali = 102% x Rp 1.000 lembar x Rp 15.000,- = Rp 15.300.000,-
Harga jual saham jika tidak batal = Rp 15.750.000,-
Kerugian penjualan saham karena batal = Rp 450.000,-

Pencatatan Penjualan Saham kembali


Kas Rp 15.300.000,-
Utang kepada pemesan saham Rp 450.000,-
Modal Saham Biasa Rp 15.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 750.000,-

Pencatatan pengembalian Uang Muka


Utang kepada pemesan saham Rp 2.700.000,-
Kas Rp 2.700.000,-

Contoh 6 – Uang muka diganti Saham yang nilainya sama.


Entitas menjual 20.000 lembar Saham Biasa nominal @Rp 3.000,- pada kurs 103% pada
tanggal 5 Januari 2013 secara pesanan. Uang muka diterima sebanyak 20%. Sisa Piutang
akan dibayarkan satu bulan setelah transaksi. Namun pada tanggal 25 Januari 2013, pemesan
saham membatalkan pesanannya. Entitas memberi kebijakan mengembalikan uang muka
dengan saham yang nilainya sama. Pada tanggal 2 Februari 2013 Entitas berhasil menjual
saham – saham yang batal dipesan tersebut pada kurs 105%. Hitung dan buatlah pencatatan
yang diperlukan dalam transaksi tersebut.

Jawaban 6
5 Januari 2013
Harga Jual Saham = 103% x 20.000 lembar x Rp 3.000,- = Rp 61.800.000,-
Uang muka diterima = 20% x Rp 61.800.000,- = Rp 12.360.000,-
Piutang Pesanan Saham = Rp 49.440.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


93

Pencatatan
Kas Rp 12.360.000,-
Piutang Pesanan Saham Rp 49.440.000,-
Modal Saham Biasa Dipesan Rp 60.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 1.800.000,-

25 Januari 2013
Uang muka diterima = 20%
Lembar saham diberikan = 20% x 20.000 lembar = 4.000 lembar
Nominal saham diberikan = 4.000 lembar x Rp 3.000,- = Rp 12.000.000,-

Pencatatan pembatalan
Modal Saham Biasa Dipesan Rp 60.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 1.440.000,-
Piutang Pesanan Saham Rp 49.440.000,-
Modal Saham Rp 12.000.000,-

2 Februari 2013
Lembar saham tersisa = 20.000 lembar – 4.000 lembar = 16.000 lembar
Harga jual Saham = 105% x 16.000 lembar x Rp 3.000,- = Rp 50.400.000,-
Nominal Saham = 16.000 x Rp 3.000,- = Rp 48.000.000,-
Agio Saham = Rp 2.400.000,-

Pencatatan penjualan saham


Kas Rp 50.400.000,-
Modal Saham Biasa Rp 48.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 2.400.000,-

Contoh 7 – Uang muka tidak dikembalikan


Pada tanggal 16 September 2013 Entitas menjual 1.500 lembar Saham Biasa nominal @Rp
25.000,- secara pesanan pada kurs 102%. Uang muka diterima adalah 20%, dan sisanya akan
dibayarkan pada tanggal 1 November 2013. Namun pada tanggal 12 Oktober 2013 pemesan
saham membatalkan pesanannya. Uang muka yang telah diterima tidak dikembalikan oleh
Entitas.

Jawaban 7
16 September 2013
Harga jual Saham = 102% x 1.500 lembar x Rp 25.000,- = Rp 38.250.000,-
Uang muka diterima = 20% x Rp 38.250.000,- = Rp 7.650.000,-
Piutang Pesanan Saham = Rp 30.600.000,-

Pencatatan
Kas Rp 7.650.000,-
Piutang Pesanan Saham Rp 30.600.000,-
Modal Saham Biasa Dipesan Rp 37.500.000,-
Agio Saham Biasa Rp 750.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


94

12 Oktober 2013
Pencatatan
Modal Saham Biasa Dipesan Rp 37.500.000,-
Agio Saham Biasa Rp 750.000,-
Piutang Pesanan Saham Rp 30.600.000,-
Pendapatan lain – lain Rp 7.650.000,-

Penjualan Saham secara Lumpsum


Penjualan Saham dapat dilakukan secara Lumpsum atau dalam satu paket/slot saham. Dalam
satu slot saham terdapat lebih dari satu jenis saham dengan nominal dan harga pasar yang
berbeda – beda, namun dijual dalam satu harga. Pencatatan akuntansi untuk penjualan saham
secara lumpsum seperti ini dapat menggunakan beberapa cara menyesuaikan kondisi berikut
ini:
1. Harga pasar masing – masing saham diketahui, distribusi hasil penjualan dilakukan
berdasarkan rasio harga pasar masing – masing jenis saham.
2. Harga pasar saham diketahui hanya satu jenis, maka distribusi hasil penjualan sebesar
harga pasar jenis saham yang diketahui lalu sisanya menjadi harga saham yang tidak
diketahui harga pasarnya.
3. Harga pasar masing – masing saham tidak diketahui, maka distribusi hasil penjualan
menunggu sampai harga pasar salah satu jenis saham diketahui.

Contoh 8 – Penjualan Saham secara lumpsum


Tanggal 23 Juni 2014 Entitas menjual 500 slot saham dengan harga Rp 200.000,- per slot.
Satu slot saham terdiri atas 10 lembar saham, yaitu 5 lembar Saham Biasa dan 5 lembar
Saham Preferen. Nominal Saham Biasa adalah Rp 10.000,- sedangkan nominal Saham
Preferen adalah Rp 20.000,-. Harga pasar Saham Biasa adalah Rp 12.500,- sedangkan harga
pasar Saham Preferen adalah Rp 22.000,- Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan
dalam penjualan saham secara lumpsum tersebut.

Jawaban 8
Harga 500 slot saham = 500 slot x Rp 200.000,- = Rp 100.000.000,-
Harga Pasar Saham Biasa = 500 slot x 5 lembar x Rp 12.500,- = Rp 31.250.000,-
Harga Pasar Saham Preferen = 500 slot x 5 lembar x Rp 22.000,- = Rp 55.000.000,-
Jumlah harga pasar saham = Rp 86.250.000,-

Distribusi hasil penjualan saham


Saham Biasa
31.250.000, −
𝑥𝑅𝑝 100.000.000, −= 𝑅𝑝 36.231.884 −
86.250.000, −

Saham Preferen
55.000.000, −
𝑥𝑅𝑝 100.000.000, − = 𝑅𝑝 63.768.116, −
86.250.000, −

Pencatatan
Kas Rp 100.000.000,-
Modal Saham Biasa Rp 25.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 11.231.884,-
Modal Saham Preferen Rp 50.000.000,-
Agio Saham Preferen Rp 13.768.116,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


95

Biaya Penerbitan Saham


Selama proses penerbitan saham seringkali Entitas harus mengeluarkan biaya. Biaya – biaya
tersebut misalnya adalah biaya penjaminan emisi efek, biaya percetakan dokumen, biaya
imbalan jasa penasihat hukum dan jasa audit, dan biaya pajak. Biaya – biaya ini menurut
PSAK 21 tentang Akuntansi Ekuitas, dikurangkan langsung dari penerimaan uang yang
diperoleh melalui penerbitan saham.

Contoh 9 – Biaya penerbitan saham


Pada tanggal 1 Januari 2014 Entitas menerbitkan 25.000 lembar Saham Biasa dengan nilai
nominal @Rp 10.000,-. Saham tersebut dijual pada ketika kurs 102%. Adapun biaya
penerbitan saham adalah Rp 1.000.000,-. Hitung dan catatlah transaksi tersebut.

Jawaban 9
Harga jual Saham = 102% x 25.000 lembar x Rp 10.000,- = Rp 255.000.000,-
Nominal Saham = 25.000 lembar x Rp 10.000,- = Rp 250.000.000,-
Agio Saham = Rp 5.000.000,-

1 Januari 2014
Kas Rp 254.000.000,-
Modal Saham Biasa Rp 250.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 4.000.000,-

Penggunaan Saham
Selain untuk pendanaan modal, Saham juga dapat digunakan untuk bonus atau untuk
pembelian Entitas lain.

Saham Bonus
Entitas dapat memberikan bonus saham kepada Investor atau Kreditornya atas pembelian
Saham Preferen atau Obligasinya dalam jumlah tertentu. Saham yang diberikan sebagai
bonus tetap harus dicatat sebesar nominal dan selisihnya dengan harga penjulan. Sedangkan
untuk harga penjualan adalah selisih antara harga penjualan Saham Preferen atau Obligasi
dengan bonus dengan harga penjualan Saham Preferen atau Obligasi tanpa bonus.

Contoh 10 – Saham Bonus


Pada tanggal 7 Agustus 2014, Entitas menjual 700 lembar Saham Preferen. Entitas
memberikan kebijakan memberikan 1 lembar Saham Biasa nominal @Rp 10.000,- sebagai
bonus untuk setiap pembelian 10 lembar Saham Preferen kumulatif 9% pertahun nominal
@Rp 20.000,- dengan harga jual Rp 23.000,- termasuk bonus. Adapun harga pasar Saham
Preferen adalah Rp 20.500,- per lembar. Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan
untuk transaksi tersebut.

Jawaban 10
Harga pasar Saham Preferen dengan bonus = 700 lembar x Rp 23.000,- = Rp 16.100.000,-
Harga pasar Saham Preferen tanpa bonus = 700 lembar x Rp 20.500,- = Rp 14.350.000,-
Hasil penjualan Saham Biasa = Rp 1.750.000,-
Nominal Saham Biasa
700/5 x Rp 10.000,- = Rp 1.400.000,-
Agio Saham Biasa = Rp 350.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


96

Harga pasar Saham Preferen tanpa bonus = 700 lembar x Rp 20.500,- = Rp 14.350.000,-
Nominal Saham Preferen = 700 lembar x Rp 20.000,- = Rp 14.000.000,-
Agio Saham Preferen = Rp 350.000,-

Pencatatan
7 Agustus 2014
Kas Rp 16.100.000,-
Modal Saham Preferen Rp 14.000.000,-
Agio Saham Preferen Rp 350.000,-
Modal Saham Biasa Rp 1.400.000,-
Agio Saham Biasa Rp 350.000,-

Saham untuk pembelian Entitas lain


PT mungkin saja membeli (mengakuisisi) Entitas lainnya dengan menggunakan saham
sebagai alat pembayarannya. Berdasarkan PSAK 22 tentang Akuntansi Penggabungan Usaha,
Entitas sebagai pihak pembeli harus memperhitungkan semua biaya perolehan sehubungan
dengan akuisisi Aset Neto atau Saham Entitas lain sebagai bagian dari harga beli. Biaya
selain harga beli yang terjadi pada saat proses akuisisi Entitas dapat terbagi menjadi tiga
jenis, yaitu:
1. Biaya langsung. Biaya langsung diperlakukan sebagai bagian dari biaya perolehan (cost)
Entitas yang diakuisisi. Contoh dari biaya langsung adalah biaya imbal jasa bagi pihak
yang membantu Entitas menemukan Entitas yang akan diakuisisi (M&A Consultant),
biaya konsultan yang berhubungan dengan akuntansi, hukum dan appraisal.
2. Biaya pengeluaran efek. Biaya yang timbul dari penerbitan Saham Biasa dan Saham
Preferen sehubungan dengan penggabungan usaha diperlakukan sebagai pengurang harga
efek. Contoh dari biaya pengeluaran efek adalah biaya pendaftaran saham dan biaya
komisi pialang saham.
3. Biaya tidak langsung dan umum. Biaya tidak langsung dan umum sehubungan dengan
penggabungan usaha harus dibebankan pada saat terjadinya. Contoh dari biaya tidak
langsung dan umum adalah gaji dari karyawan akuntansi Entitas.

Pada tanggal akuisisi, Entitas membandingkan total harga beli dengan nilai buku Entitas yang
dibeli. Selisih lebih harga beli dengan nilai wajar yang dapat diidentifikasi dicatat sebagai
goodwill. Goodwill mencerminkan premium yang dibayarkan untuk mendapatkan kendali
atas Entitas yang dibeli, sehingga diperlakukan sebagai Aset.

Contoh 11 – Pengeluaran saham untuk pembelian Entitas lain.


Pada tanggal 1 Januari 2014, PT Karya Mandiri Tbk mengakuisisi PT Alterindo Maju. PT
Karya Mandiri Tbk membeli semua Aset dan Liabilitas dari PT Alterindo Maju dengan
menerbitkan 20.000 lembar Saham bernominal @Rp 30.000,-, sedangkan harga pasar Saham
tersebut adalah Rp 32.000,-. Untuk keperluan akuisisi, PT Karya Mandiri Tbk mengeluarkan
biaya untuk konsultan hukum Rp 2.500.000,-, konsultan akuntansi Rp 3.000.000,- serta biaya
untuk Entitas M&A adalah Rp 15.000.000,-. Sedangkan Biaya terkait penerbitan efek yaitu
biaya pialang adalah Rp 5.000.000,-. Berikut adalah Laporan Posisi Keuangan PT Alterindo
Maju sebelum diakuisisi.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


97

Aset, Liabilitas dan Ekuitas Nilai Buku Nilai Wajar


Kas dan Piutang 60.000.000,- 70.000.000,-
Persediaan 90.000.000,- 110.000.000,-
Bangunan 500.000.000,- 400.000.000,-
Akumulasi Penyust Bangunan (150.000.000,-)
Total Aset Rp 500.000.000,- Rp 580.000.000,-

Liabilitas Lancar Rp 70.000.000,- Rp 90.000.000,-


Liabilitas Jangka Panjang 100.000.000,-
Saham Biasa 300.000.000,-
Agio Saham Biasa 30.000.000,-
Total Liabilitas dan Ekuitas Rp 500.000.000,-
Nilai Wajar Aset Neto Rp 490.000.000,-

Jawaban 11

Nilai wajar Saham diterbitkan = 20.000 lembar x Rp 32.000,- = Rp 640.000.000,-


Biaya Langsung
Biaya konsultan hukum Rp 2.500.000,-
Biaya konsultan akuntansi Rp 3.000.000,-
Biaya M&A Rp 15.000.000,-
Total Biaya Langsung Rp 20.500.000,-
Total Harga Beli Rp 660.500.000,-

Nilai wajar Saham diterbitkan = Rp 640.000.000,-


Biaya penerbitan efek = (Rp 5.000.000,-)
Nilai tercatat saham = Rp 635.000.000,-

Total harga beli PT Alterindo Maju Rp 660.500.000,-


Nilai wajar PT Alterindo Maju yang dapat diindetifikasi (Rp 490.000.000,-)
Goodwill Rp 170.500.000,-

Pencatatan akuisisi PT Alterindo Maju


Kas dan Piutang Rp 70.000.000,-
Persediaan Rp 110.000.000,-
Bangunan Rp 400.000.000,-
Goodwill Rp 170.500.000,-
Liabilitas Lancar Rp 90.000.000,-
Saham Biasa Rp 600.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 35.000.000,-
Biaya Konsultan Hukum Rp 2.500.000,-
Biaya Konsultan Akuntansi Rp 3.000.000,-
Biaya M&A Rp 15.000.000,-
Biaya Penerbitan Efek Rp 5.000.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


98

KEBIJAKAN-KEBIJAKAN SETELAH SAHAM BEREDAR


Entitas bisa saja mengambil kebijakan tertentu terkait dengan saham-saham yang telah
beredar, yaitu:
1. Penarikan Kembali Saham Beredar (Capital Share Reacquisition).
2. Konversi Saham (Share Convertion).
3. Pemecahan Saham (Share Split).

Penarikan Kembali Saham Beredar (Capital Share Reacquistion)


PT dapat menarik kembali saham – sahamnya yang beredar. Penarikan saham – saham yang
beredar tersebut bisa disebabkan:
1. Entitas ingin mengurangi lembar saham yang beredar untuk dimusnahkan (write off),
2. Entitas menarik saham yang beredar untuk sementara, kemudian akan dijual kembali
dengan harga lebih tinggi, sebagai pendanaan.
3. Meningkatkan Laba per lembar saham.
4. Entitas ingin membentuk pasar bagi sahamnya, karena dengan mengurangi jumlah lembar
saham yang beredar maka saham yang beredar akan berkurang jumlahnya. Dengan
demikian permintaan akan tinggi.
5. Saham yang ditarik akan dijual kembali kepada karyawan Entitas, atau dijadikan sebagai
alat pembayaran Deviden.
6. Saham akan ditukarkan dengan surat – surat berharga yang lain.

SAHAM TREASURI (TREASURY SHARE)


Saham Treasuri adalah saham – saham yang dibeli kembali oleh Entitas untuk dijual lagi.
Peraturan dari Bursa Efek Indonesia mewajibkan Entitas untuk menjual kembali Saham
Treasuri yang dimilikinya paling lambat lima tahun setelah tanggal pembelian. Nominal
Saham Treasury akan mengurangi saldo laba.

Pencatatan Akuntansi Saham Treasuri


Saham Treasuri dapat dicatat dalam dua metode, yaitu metode biaya (cost) dan metode
nominal.

Metode Biaya (Cost)


Dengan menggunakan metode biaya (cost), perolehan Saham Treasuri dicatat sebesar harga
perolehannya dengan mendebit akun Saham Treasuri. Jika Saham Treasuri dijual, maka pada
saat penjualan kembali Saham Treasuri dikredit sebesar harga perolehannya. Apabila terjadi
selisih antara harga perolehan (cost) dengan harga jualnya, maka akan dicatat sebagai Agio
Saham Treasuri. Jika Saham Treasuri diperoleh dalam waktu yang berbeda – beda maka
Entitas dapat memilih harga perolehan mana yang akan digunakan ketika penjualan kembali,
dengan menggunakan alternatif metode persediaan, yaitu identifikasi khusus, rata – rata atau
dengan First in First Out (FIFO). Pelaporan Saham Treasuri diperlakukan sebagai pengurang
dari Ekuitas.

Contoh 12 – Saham Treasuri Metode Cost


Pada awal tahun 2014 Saham Biasa Entitas yang beredar di masyarakat berjumlah 200.000
lembar dengan nominal Rp 50.000,-. Adapun Agio Saham Biasa adalah Rp 300.000.000,-.
Berikut adalah aktivitas Entitas terkait dengan akuisisi Saham Treasuri dan penjualannya
kembali.
1. 17 Mei 2014, Entitas membeli 100.000 lembar sahamnya yang beredar dengan harga Rp
52.000,- per lembar.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


99

2. 25 Agustus 2014, Entitas menjual kembali 25.000 lembar Saham Treasurinya dengan
harga Rp 55.000,- per lembar.
3. 16 September 2014, Entitas menjual kembali 55.000 lembar Saham Treasurinya dengan
harga Rp 48.000,-.
4. 23 November 2014, Entitas menjual kembali 10.000 lembar Saham Treasurinya dengan
harga Rp 45.000,- per lembar.
5. 1 Desember 2014, Entitas menjual kembali 10.000 lembar Saham Treasurinya dengan
harga Rp 35.000,- per lembar.

Buatlah pencatatan yang diperlukan dalam transaksi – transaksi tersebut.

Jawaban 12
17 Mei 2014
Saham Treasuri Rp 5.200.000.000,-
Kas Rp 5.200.000.000,-

25 Agustus 2014
Kas Rp 1.375.000.000,-
Saham Treasuri Rp 1.300.000.000,-
Agio Saham Treasuri Rp 75.000.000,-

16 September 2014
Kas Rp 2.640.000.000,-
Agio Saham Treasuri Rp 220.000.000,-
Saham Treasuri Rp 2.860.000.000,-

23 November 2014
Kas Rp 450.000.000,-
Agio Saham Treasuri Rp 70.000.000,-
Saham Treasuri Rp 520.000.000,-

1 Desember 2014
Kas Rp 350.000.000,-
Agio Saham Treasuri Rp 170.000.000,-
Saham Treasuri Rp 520.000.000,-

Metode Nominal
Pada metode nilai nominal, pencatatan perolehan Saham Treasuri dicatat sebesar nominalnya.
Pada saat pembelian Saham Treasuri mendebit akun Saham Treasuri sebesar nominal,
sedangkan selisih lebih/kurang antara nominal dan harga perolehan dicatat dalam Agio
Saham Biasa namun apabila harga beli Saham Treasuri lebih tinggi daripada pengeluaran
Saham awal maka selisihnya dicatat dalam Laba Ditahan. Ketika Saham Treasuri dijual
dengan harga diatas nilai nominal maka Entitas mencatat Saham Treasuri di sisi Kredit tetap
sebesar nominalnya, sedangkan selisih lebihnya dicatat di akun Agio Saham Biasa. Apabila
Saham Treasuri dicatat dibawah nilai nominal, maka Entitas mencatat Saham Treasuri pada
sisi Kredit tetap sebesar nominalnya, sedangkan selisih kurangnya dicatat dalam Laba
Ditahan sisi Debit.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


100

Contoh 13 – Saham Treasuri Metode Nominal


Pada 1 Januari 2014 Entitas menjual Saham Biasa sebanyak 1.500.000 lembar dengan
nominal Rp 1.000,- pada harga Rp 1.100,-. Lalu berikut ini adalah aktivitas Entitas terkait
dengan Saham Treasuri.
5 April 2014 Entitas membeli sejumlah sahamnya yang beredar yaitu 300.000 lembar Saham
dengan harga Rp 1.300,- per lembarnya.
24 Mei 2014 Entitas menjual kembali Saham Treasurinya sebanyak 120.000 lembar dengan
harga Rp 1.500,- per lembar.
3 Juli 2014 Entitas menjual kembali Saham Treasurinya sebanyak 130.000 lembar dengan
harga Rp 800,- per lembar.

Jawaban 13
1 Januari 2014
Kas Rp 1.650.000.000,-
Modal Saham Biasa Rp 1.500.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 150.000.000,-

5 April 2014
Saham Treasuri Rp 300.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 30.000.000,-
Laba Ditahan Rp 60.000.000,-
Kas Rp 390.000.000,-

24 Mei 2014
Kas Rp 180.000.000,-
Saham Treasuri Rp 120.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 60.000.000,-

3 Juli 2014
Kas Rp 104.000.000,-
Laba Ditahan Rp 26.000.000,-
Saham Treasuri Rp 130.000.000,-

Konversi Saham (Share Convertion)


Konversi saham adalah pertukaran surat-surat berharga yang bersifat dapat ditukarkan
(Convertible Securities) dengan Saham Biasa. Surat-surat berharga yang dapat ditukarkan
dengan Saham Biasa adalah Saham Preferen konvertible (Convertible Preferred Share) dan
Obligasi konvertible (Convertible Bond). Jika Entitas mengkonversi suatu jenis surat
berharga menjadi Saham Biasa maka nilai nominal beserta premium/diskon/agio surat
berharga tersebut harus dieliminasi dari catatan Entitas. Sebagai gantinya di dalam struktur
modal Entitas ditambahkan nominal Saham Biasa yang ditukarkan. Nilai nominal Saham
Biasa dibandingkan dengan nilai wajar surat berharga yang ditukarkan, bila terdapat selisih
maka Laba/Rugi konversi diakui.

Pemecahan Saham (Share Split)


Share Split merupakan pemecahan nilai nominal saham tanpa mempengaruhi total nominal
saham beredar. Terdapat dua kebijakan dalam Share Split, yaitu Split Up dan Split Down.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


101

Split Up
Split Up adalah pemecahan nilai nominal saham dari kecil menjadi besar dan mengurangi
jumlah saham yang beredar. Contoh dari Split Up adalah penarikan 10.000 lembar saham
dengan nominal Rp 50.000,- per lembar dan ditukarkan dengan 5.000 lembar saham baru
dengan nominal Rp 100.000,-. Dengan demikian total nominal saham beredar tetap Rp
500.000.000,-.

Split Down
Split Down adalah pemecahan nilai nominal saham dari besar menjadi kecil dan menambah
jumlah saham yang beredar. Contoh dari Split Down adalah penarikan 3.000 lembar saham
dengan nominal Rp 8.000,- per lembar dan ditukarkan dengan 6.000 lembar saham dengan
nominal Rp 4.000,- per lembar. Dengan demikian total nominal saham beredar tetap Rp
24.000.000,-.

Tidak ada pencatatan jurnal dan buku besar untuk Share Split, Entitas hanya perlu melakukan
Pengungkapan (Disclosure) untuk aktivitas ini.

Perhitungan Dividen
Dividen yang diberikan kepada pemegang saham adalah sebesar persentase tertentu dari nilai
nominal saham yang tercantum di setiap lembaran saham. Pada saham Preferen terdapat dua
fitur preferensi pembagian Dividen karena jenis dan karakter dari Saham Preferen. Dua jenis
karakter dari Dividen Saham Preferen adalah:
1. Dividen Kumulatif
2. Dividen Partisipatif

Dividen Kumulatif
Dividen Kumulatif adalah pembagian Dividen suatu periode mendahulukan dividen
pembagian periode sebelumnya yang tidak dibagikan, jika ada sisa baru dianggap sebagai
Dividen periode berjalan.

Contoh 14 – Dividen Kumulatif


Pada tanggal 2 Juni 2014 PT Kreasi Tbk melakukan pembagian Dividen tunai sebesar Rp
150.000.000,- kepada para pemegang saham. Pemegang saham PT Kreasi terdiri dari
komposisi sbb:
Saham Preferen 8% dengan total nominal Rp 300.000.000,-
Saham Biasa dengan total nominal Rp 500.000.000,-
Selama tahun 2013 Entitas tidak membagikan Dividen karena kebutuhan dana untuk
operasional sangat besar. Hitunglah Dividen yang akan dibagikan kepada para pemegang
saham dengan asumsi komposisi pemegang saham tidak berubah apabila:
a. Dividen Non Kumulatif
b. Dividen Kumulatif

Jawaban 14
a. Perhitungan Dividen non kumulatif.
Perhitungan Saham Preferen Saham Biasa Total
8% x Rp 300.000.000,- Rp 24.000.000,- Rp 24.000.000,-
Sisa Rp 126.000.000,- Rp 126.000.000,-
Jumlah Rp 24.000.000,- Rp 126.000.000,- Rp 150.000.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


102

b. Perhitungan Dividen kumulatif


Perhitungan Saham Preferen Saham Biasa Total
Dividen periode lalu: Rp 24.000.000,- Rp 24.000.000,-
8% x Rp 300.000.000,-
8% x Rp 300.000.000,- Rp 24.000.000,- Rp 24.000.000,-
Sisa Rp 102.000.000,- Rp 102.000.000,-
Jumlah Rp 48.000.000,- Rp 102.000.000,- Rp 150.000.000,-

Dividen Partisipatif
Dividen Partisipatif adalah kebijakan Dividen suatu periode yang memberikan tambahan
Dividen kepada pemegang Saham Preferen berpartisipatif apabila masih terdapat kelebihan
setelah pembagian Dividen sebesar persentase kumulatif yang sama kepada pemegang Saham
Biasa. Jika jenis Saham Preferen berpartisipasi penuh maka sisa dari Dividen yang ada
dibagikan dengan persentase antara Dividen tersedia untuk partisipasi dibagi dengan total
nominal Saham Preferen dengan Saham Biasa. Namun apabila jenis Saham Preferen adalah
berpartisipasi sebagian, maka sisa dari Dividen yang dibagikan dengan selisih antara
kumulatif dengan tingkat partisipasi.

Contoh 15 – Dividen Partisipasi


Pada tahun 2014 PT Amora Tbk membagikan Dividen sebesar Rp 300.000.000,- kepada para
pemegang sahamnya. Komposisi pemegang saham PT Amora Tbk adalah:
Saham Preferen kumulatif 9% total nominal Rp 600.000.000,-
Saham Biasa total nominal Rp 800.000.000,-
Pada tahun 2012 dan 2013 Entitas tidak membagian Dividen karena keperluan dana investasi.
Hitunglah Dividen yang dibagikan kepada pemegang saham dengan asumsi komposisi
pemegang saham tidak berubah dan apabila:
a. Dividen non kumulatif berpartisipasi penuh.
b. Dividen kumulatif berpartisipasi penuh.
c. Dividen non kumulatif berpartisipasi sampai dengan 11%.
d. Dividen kumulatif berpartisipasi sampai dengan 11%.

Jawaban 15
a. Dividen non kumulatif berpartisipasi penuh
Perhitungan Saham Preferen Saham Biasa Total
Dividen periode berjalan Rp 54.000.000,- Rp 72.000.000,- Rp 126.000.000,-
9%
Sisa Rp 174.000.000,-
Jumlah Rp 54.000.000,- Rp 72.000.000,- Rp 300.000.000,-

Perhitungan partisipasi penuh


𝑅𝑝 174.000.000, −
= 12.4%
𝑅𝑝 1.400.000.000, −

Perhitungan Saham Preferen Saham Biasa Total


Dividen periode berjalan Rp 54.000.000,- Rp 72.000.000,- Rp 126.000.000,-
9%
Dividen Partisipasi Rp 74.400.000,- Rp 99.600.000,- Rp 74.000.000,-
12.4%
Jumlah Rp 128.400.000,- Rp 171.600.000,- Rp 300.000.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


103

b. Dividen kumulatif berpartisipasi penuh


Perhitungan Saham Preferen Saham Biasa Total
Dividen periode Rp 108.000.000,- Rp 108.000.000,-
sebelumnya:
2x9%x Rp 600.000.000,-
Dividen periode berjalan Rp 54.000.000,- Rp 72.000.000,- Rp 126.000.000,-
9%
Sisa Rp 66.000.000,-
Jumlah Rp 162.000.000,- Rp 72.000.000,- Rp 300.000.000,-

Perhitungan partisipasi penuh


𝑅𝑝 66.000.000, −
= 4.7%
𝑅𝑝 1.400.000.000, −

Perhitungan Saham Preferen Saham Biasa Total


Dividen periode Rp 108.000.000,- Rp 108.000.000,-
sebelumnya:
2x9%x Rp 600.000.000,-
Dividen periode berjalan Rp 54.000.000,- Rp 72.000.000,- Rp 126.000.000,-
9%
Dividen Partisipasi 4.7% Rp 28.200.000,- Rp 37.800.000,- Rp 66.000.000,-
Jumlah Rp 130.200.000,- Rp 109.800.000,- Rp 300.000.000,-

c. Dividen non kumulatif berpartisipasi sampai dengan 11%


Perhitungan Saham Preferen Saham Biasa Total
Dividen periode berjalan Rp 54.000.000,- Rp 72.000.000,- Rp 126.000.000,-
9%
Sisa Rp 174.000.000,-
Jumlah Rp 54.000.000,- Rp 72.000.000,- Rp 300.000.000,-

Perhitungan Saham Preferen Saham Biasa Total


Dividen periode berjalan Rp 54.000.000,- Rp 72.000.000,- Rp 126.000.000,-
9%
Dividen Partisipasi s.d
11%

Saham Preferen:
2% x Rp 600.000.000,- Rp 12.000.000,- Rp 12.000.000,-

Saham Biasa:
Rp 174.000.000 – Rp Rp 162.000.000,- Rp 162.000.000,-
12.000.000,-
Jumlah Rp 66.000.000,- Rp 234.000.000,- Rp 300.000.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


104

d. Dividen kumulatif berpartisipasi sampai dengan 11%


Perhitungan Saham Preferen Saham Biasa Total
Dividen periode Rp 108.000.000,- Rp 108.000.000,-
sebelumnya:
2x9%x Rp 600.000.000,-
Dividen periode berjalan Rp 54.000.000,- Rp 72.000.000,- Rp 126.000.000,-
9%
Sisa Rp 66.000.000,-
Jumlah Rp 162.000.000,- Rp 72.000.000,- Rp 300.000.000,-

Perhitungan Saham Preferen Saham Biasa Total


Dividen periode Rp 108.000.000,- Rp 108.000.000,-
sebelumnya:
2x9%x Rp 600.000.000,-
Dividen periode berjalan Rp 54.000.000,- Rp 72.000.000,- Rp 126.000.000,-
9%
Dividen Partisipasi s.d
11%

Saham Preferen:
2% x Rp 600.000.000,- Rp 12.000.000,- Rp 12.000.000,-

Saham Biasa:
Rp 66.000.000,- - Rp Rp 54.000.000,- Rp 54.000.000,-
12.000.000,-
Jumlah Rp 174.000.000,- Rp 126.000.000,- Rp 300.000.000,-

Analisis Laporan Keuangan yang berhubungan dengan Ekuitas dan Dividen


Analisis Laporan Keuangan yang umum dilakukan terkait dengan Ekuitas adalah:

Return On Equity (ROE)


Return on Equity (ROE) adalah rasio untuk mengukur Laba Bersih setelah Pajak dengan
modal sendiri. Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi
rasio ini menunjukkan kinerja semakin baik. Berikut ini adalah rumusan ROE:

𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑆𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝐵𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘


𝑅𝑂𝐸 =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


105

Latihan Soal – Modal Saham

Soal 1
Berikut adalah informasi yang terkait dengan PT Kaca Piring, Tbk.
a. Entitas menerbitkan 500.000 lembar Saham Biasa dengan nilai nominal @Rp 1.000,- dan
2.000.000 lembar Saham Preferen dengan nilai nominal @Rp 500,-.
b. Tanggal 3 April 2014, Entitas menjual 200.000 lembar Saham Biasa ketika kurs yang
berlaku adalah 105%.
c. Tanggal 6 Juni 2014 Entitas menjual 1.000.000 lembar Saham Preferen pada kurs 98%.
d. Tanggal 12 Agustus 2014 Entitas menjual 150.000 lembar Saham Biasa dan 500.000
lembar Saham Preferen, keduanya pada kurs 102%.
Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan dalam transaksi penerbitan Saham tersebut.

Soal 2
PT Daya Upaya menjual 3.000.000 lembar Saham Biasa dan 500.000 lembar Saham
Preferen dengan masing – masing nominal Rp 500,- untuk Saham Biasa dan nominal Saham
Preferen adalah Rp 2.000,-. Saham – saham tersebut dijual secara lumpsum dengan total
harga Rp 2.500.000.000,- secara tunai.
Diminta:
Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan untuk penjualan saham secara lumpsum
tersebut dengan kondisi sbb:
a. Nilai wajar Saham Biasa adalah Rp 1.200,- sedangkan nilai wajar Saham Preferen adalah
Rp 3.000,-.
b. Nilai wajar Saham Biasa adalah Rp 700,- sedangkan nilai wajar Saham Preferen tidak
diketahui.

Soal 3
Berikut ini adalah aktivitas Entitas terkait dengan Sahamnya:
1. Tanggal 5 Januari 2014, Entitas menjual 2.000.000 lembar Saham Biasa dengan nilai
nominal @Rp 1.500,- pada kurs 103%. Biaya terkait penerbitan adalah Rp 25.000.000,-.
2. Tanggal 7 April 2014, Entitas membeli kembali 1.000.000 lembar sahamnya yang beredar
di masyarakat dengan harga Rp 2.000,- per lembar.
3. Tanggal 12 Juni 2014, Entitas menjual Saham Treasurinya sebanyak 350.000 lembar
dengan harga Rp 1.300,- per lembar.
4. Tanggal 9 Agustus 2014, Entitas menjual 175.000 lembar Saham Treasurinya dengan
harga Rp 2.700,- per lembar.
5. Tanggal 1 Oktober 2014, Entitas menjual 550.000 lembar Saham Treasurinya dengan
harga Rp 1.800,- per lembar.
Diminta:
Hitung dan buatlah pencatatan yangdiperlukan dalam transaksi Saham Treasuri tersebut
apabila dicatat dengan metode:
a. Biaya (cost)
b. Nominal

Soal 4
Pada tanggal 17 Mei 2014 PT Karya Cipta Tbk melakukan pembagian Dividen tunai sebesar
Rp 500.000.000,- kepada para pemegang saham. Pemegang saham PT Karya Cipta Tbk
terdiri dari komposisi sbb:

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


106

Saham Preferen 5% dengan total nominal Rp 800.000.000,-


Saham Biasa dengan total nominal Rp 1.500.000.000,-
Selama tahun 2012 dan 2013 Entitas tidak membagikan Dividen karena kebutuhan dana
untuk Investasi sangat besar.
Diminta:
Hitunglah Dividen yang akan dibagikan kepada para pemegang saham dengan asumsi
komposisi pemegang saham tidak berubah apabila:
a. Dividen non kumulatif non partisipasi
b. Dividen non kumulatif partisipasi penuh
c. Dividen kumulatif non partisipasi
d. Dividen kumulatif partisipasi penuh

Soal 5
PT Purnama Tbk menjual saham-sahamnya secara pesanan. Saham yang diterbitkan oleh PT
Purnama Tbk pada tanggal 1 Januari 2013 berjumlah 1.000.000 lembar dengan nilai nominal
@Rp 2.000,-. Berikut adalah transaksi yang berhubungan dengan pemesanan saham PT
Purnama Tbk.

Tanggal Transaksi
1 Mei Menerima pesanan saham dari PT Sejahtera Merdeka sebanyak 200.000
lembar saham pada kurs 103%. Uang muka yang diterima adalah 20%.
25 Juni Menerima pesanan saham dari PT Pundi Emas sebanyak 150.000 lembar
saham pada kurs 105%. Uang muka yang diterima adalah 25%.
1 Juli Menerima sisa Piutang dari PT Sejahtera Merdeka tertanggal 1 Mei 2013.
5 Juli Menerima pesanan saham dari PT Karisma sebanyak 300.000 lembar
saham pada kurs 103%. Uang mukayang diterima adalah 10%.
10 Juli Menerima konfirmasi dari PT Pundi Emas bahwa pesanan sahamnya
dibatakan. PT Purnama Tbk memberikan kebijakan uang muka
dikembalikan setelah dikurangi kerugian dari hasil penjualan saham yang
dibatalkan.
12 Juli Menyerahkan saham-saham pesanan dari PT Sejahtera Merdeka.
27 Juli Menerima sisa Piutang dari PT Karisma tertanggal 5 Juli 2013.
3 Agustus Menjual saham-saham yang dibatalkan pesanannya oleh PT Pundi Emas
dengan kurs 102%.
5 Agustus Mengembalikan uang muka kepada PT Pundi Emas setelah dikurangi
kerugian dari hasil penjualan kembali.
15 Agustus Menyerahkan saham-saham pesanan dari PT Karisma.

Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan dalam transaksi-transaksi pemesanan saham tersebut.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


107

Tugas – Modal Saham

Soal 1
Pada tanggal 28 April 2014, Entitas menjual 1.000 lembar Saham Preferen. Entitas
memberikan kebijakan memberikan 1 lembar Saham Biasa nominal @Rp 15.000,- sebagai
bonus untuk setiap pembelian 10 lembar Saham Preferen kumulatif 8% pertahun nominal
@Rp 25.000,- dengan harga jual Rp 27.000,- termasuk bonus. Adapun harga pasar Saham
Preferen adalah Rp 26.000,- per lembar. Hitung dan buatlah pencatatan yang diperlukan
untuk transaksi tersebut.

Soal 2
Pada tanggal 1 Januari 2014, PT Pasifik Rim Tbk mengakuisisi PT Kapas Jaya. PT Pasifik
Rim Tbk membeli semua Aset dan Liabilitas dari PT Kapas Jaya dengan mengeluarkan
48.000 lembar Saham bernominal @Rp 8000,-, pada tanggal tersebut saham PT Pasifik Rim
Tbk diperdagangkan dengan harga Rp 45.000,-. Berikut adalah Laporan Posisi Keuangan PT
Kapas Jaya sebelum diakuisisi.

Aset, Liabilitas dan Ekuitas Nilai Buku Nilai Wajar


Kas dan Piutang Rp 56.000.000,- Rp 56.000.000,-
Persediaan Rp 188.000.000,- Rp 216.000.000,-
Bangunan dan Kendaraan Rp 1.200.000.000,- Rp 1.070.000.000,-
Akumulasi Penyust Kendaraan (Rp 480.000.000,-)
Total Aset Rp 964.000.000,- Rp 1.342.000.000,-

Liabilitas Lancar Rp 82.000.000,- Rp 82.000.000,-


Wesel Jangka Panjang Rp 130.000.000,- Rp 110.000.000,-
Saham Biasa Rp 320.000.000,-
Saldo Laba Rp 432.000.000,-
Total Liabilitas dan Ekuitas Rp 964.000.000,-

PT Pasifik Rim Tbk menngeluarkan biaya legal untuk mentransfer Aset dan Liabilitassebesar
Rp 28.000.000,-, membayar jasa akuntansi Rp 42.000.000,- dan biaya untuk pendaftaran
saham sebesar Rp 14.000.000,-.
Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan untuk transaksi akuisisi tersebut.

Soal 3
Berikut ini adalah informasi yang terkait dengan PT Intan Berlian Tbk
1. Untuk anggaran dasar Entitas menyetorkan 25.000.000 lembar Saham Preferen dengan
nilai nominal Rp 1.500,- dan 60.000.000 Saham Biasa dengan nilai nominal Rp500,-.
2. Saham Biasa sebanyak 10.000.000 ditukarkan dengan Tanah yang dinilai oleh appraisal
memiliki harga pasar Rp 6.000.000.000,-. Pada saat itu saham Entitas belum listing di
Bursa Efek.
3. Saham Biasa dijual secara tunai, sebanyak 7.000.000 lembar dengan harga Rp800,-.
4. Saham Preferen dijual secara tunai sebanyak 10.000.000 lembar dengan harga Rp 1.600,-.
5. Proses listing di Bursa Efek menghabiskan biaya pendaftaran saham sebesar
Rp30.000.000,-. Penawaran perdana Saham Biasa terjual secara tunai sebanyak
15.000.000 lembar dengan harga Rp 1.000,- sedangkan Saham Preferen tejual 12.000.000
lembar dengan harga Rp 1.200,-.
Buatlah pencatatan yang diperlukan dalam transaksi-transaksi tersebut.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


108

Soal 4
Berikut ini adalah struktur Ekuitas pada PT Global Atletic Tbk pada tanggal 1 Januari 2014.

Saham Biasa 300.000 lembar ....................................................................Rp 300.000.000,-


Agio Saham ............................................................................................Rp 1.500.000.000,-
Saldo Laba .................................................................................................Rp 750.000.000,-
Jumlah .....................................................................................................Rp 2.550.000.000,-

Pada tanggal 7 Maret 2014, Entitas menerbitkan 200.000 lembar Saham Biasa yang dijual
dengan harga Rp 1.200,- per lembar. Sedangkan pada tanggal 1 Agustus, Entitas menerbitkan
500.000 lembar Saham Preferen yang dijual dengan harga Rp 2.500,- per lembar. Diketahui
Laba pada periode 2014 yang berhasil diperoleh adalah Rp 230.000.000,-.
Diminta:
Buatlah pencatatan yang diperlukan dan buatlah struktur modal yang baru.

Soal 5
Berikut adalah Laporan Posisi Keuangan dan Laporan Laba Rugi selama dua periode:

Laporan Posisi Keuangan

2011 2012
Kas Rp 30.800,- Rp 35.625,-
Piutang Usaha, net 88.500,- 62.500,-
Persediaan Barang Dagang 111.500,- 82.500,-
Beban Dibayar di Muka 9.700,- 9.375,-
Aset Tetap, net 277.500,- 255.000,-
Total Aset Rp 518.000,- Rp 445.000,-

Utang Usaha Rp 128.900,- Rp 75.250,-


Utang Jangka Panjang 97.500,- 102.500,-
Saham Biasa, par Rp 10,- 162.500,- 162.500,-
Saldo Laba 129.100,- 104.750,-
Total Liabilitas dan Ekuitas Rp 518.000,- Rp 445.000,-

Laporan Laba Rugi

2011 2012
Penjualan Rp 672.500,- Rp 530.000,-
Harga Pokok Penjualan (410.225,-) (344.500,-)
Laba Kotor
Beban Operasi Lainnya (208.550,-) (133.980,-)
Laba Sebelum Bunga dan Pajak
Beban Bunga (11.100,-) (12.300,-)
Laba Sebelum Pajak
Pajak Penghasilan (8.525,-) (7.845,-)
Laba Bersih Rp 34.100 Rp 31.375,-

Hitunglah ROE dan berikan analisisnya.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


109

BAB VIII
LABA DITAHAN DAN DIVIDEN
(RETAINED EARNING AND DIVIDEND)
Dalam struktur Ekuitas Entitas terdapat dua sumber utama yaitu jumlah yang diinvestasikan
oleh pemegang saham dalam bentuk saham (share) dan sumber yang menguntungkan dimana
didapatkan oleh Entitas dalam menjalankan bisnisnya. Sumber yang diperoleh dari bisnis
Entitas yang menguntungkan disebut Laba. Pemegang saham berhak atas Dividen yang
diperoleh dari pembagian Laba, namun Laba yang tidak didistribusikan kepada pemegang
saham dan tetap diinvestasikan dalam Entitas disebut Laba Ditahan.

Pembatasan Laba Ditahan


Entitas dapat mengambil kebijakan untuk membatasi atau mengalokasikan atas penggunaan
sebagian dari Laba Ditahan untuk tujuan tertentu. Pembatasan tersebut mencakup hal-hal
berikut ini:
1. Pembatasan untuk keperluan hukum.
2. Pembatasan untuk jaminan Liabilitas Jangka Panjang.
3. Pembatasan untuk tujuan khusus Entitas, misalnya untuk berinvestasi atau membeli Aset
Tetap.

Ketika Entitas telah melakukan pembatasan atau alokasi atas sebagian Laba Ditahan, maka
Entitas tidak dapat menggunakan keseluruhan Laba Ditahan untuk pengembangan usaha
karena Laba Ditahan yang telah dibatasi harus digunakan sesuai dengan tujuan khususnya.
Informasi Laba Ditahan yang dibatasi juga harus disampaikan kepada para pemangku
kepentingan (Stakeholder). Entitas dapat memberikan informasi melalui klasifikasi Laba
Ditahan menjadi Laba Ditahan dan Laba Ditahan yang dibatasi.

Ada kalanya Entitas melakukan perubahan kebijakan akuntansi atau koreksi atas kesalahan.
Menurut PSAK 25 tentang Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi dan
Kesalahan maka pendekatan yang harus dilakukan atas perubahan kebijakan akuntansi atau
koreksi atas kesalahan adalah pendekatan secara retrospektif. Pendekatan retrospektif adalah
pendekatan dimana perubahan kebijakan akuntansi atau koreksi atas kesalahan tersebut
seolah-olah dilakukan sejak awal periode akuntansi, sehingga juga berdampak terhadap Laba
Ditahan. Oleh karena itu Entitas harus melakukan penyajian kembali (restatement).

Secara teknis perhitungan Laba Ditahan adalah sebagai berikut:


Laba Ditahan = Laba Ditahan Awal + Laba (Rugi) Bersih – Dividen

Laba Ditahan juga terpengaruh terhadap elemen-elemen berikut yang didebitkan atau
dikreditkan ke Laba Ditahan:
1. Penutupan saldo rekening Ikhtisar Laba Rugi.
2. Distribusi kepada pemegang saham (baik berbentuk Dividen Kas, Properti atau Saham).
3. Perubahan prinsip Akuntansi.
4. Koreksi kesalahan periode sebelumnya.
5. Transaksi Saham Treasuri.
6. Penyisihan Laba Ditahan untuk tujuan tertentu.
7. Kuasi reorganisasi.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


110

DIVIDEN
Dividen adalah bagian laba yang didistribusikan kepada pemegang saham. Entitas
mengeluarkan dividen berdasarkan keputusan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
dimana dalam RUPS ditentukan persentase rasio pembagian Dividen yang akan dikeluarkan
oleh Entitas. Sebelum membagikan Dividen, Entitas harus mengumumkan pembagian
Dividen tersebut melalui mass media sehingga pemegang saham dapat mengetahui informasi
tersebut. Ketika Entitas mengumumkan pembagian Dividen, Entitas harus memenuhi
beberapa persyaratan legal dan memiliki sejumlah Aset untuk didistribusikan. Entitas dapat
mempertimbangkan jumlah Laba Ditahan yang dibatasi sebagai batasan dari distribusi
Dividen.

Tanggal penting dalam distribusi Dividen.


Dalam pendistribusian Dividen terdapat empat tanggal yang relevan untuk diperhatikan oleh
pemegang saham, yaitu sebagai berikut:
1. Tanggal pengumuman.
Tanggal pengumuman adalah tanggal dilakukannya RUPS dan diumumkannya
pembagian Dividen. Pada tanggal ini Entitas mengakui Utang Dividen dan mendebit Laba
Ditahan.
2. Tanggal ex-Dividen.
Tanggal ex-Dividen adalah tanggal penentuan pihak yang berhak atas kepemilikan
apabila terjadi peralihan kepemilikan atas Dividen. Tanggal ini biasanya berlangsung satu
sampai dua hari kerja sebelum tanggal pencatatan.
3. Tanggal pencatatan.
Tanggal pencatatan adalah tanggal Entitas membuat memorandum pencatatan Dividen
tunai untuk mengidentifikasi pemegang saham yang berhak atas Dividen. Pada tanggal ini
Entitas tidak melakukan pencatatan akuntansi seperti penjurnalan namun membuat
catatan yang bersifat administrative.
4. Tanggal pembayaran.
Tanggal pembayaran adalah tanggal pembayaran Dividen kepada pemegang saham.

JENIS DIVIDEN

Dividen dapat dikeluarkan dalam berbagai jenis, yaitu:


1. Dividen Kas.
Dividen Kas adalah bentuk yang paling umum. Dimana Entitas mendistribusikan Kas
kepada pemegang saham sebesar persentase tertentu mengacu pada rasio pembagian
Dividen dari Laba Bersih.

Contoh 1 – Dividen Kas


PT Sahara Tbk mengumumkan pembagian Dividen pada saat RUPS pada tanggal 17 Mei
2013. Dividen yang akan dibagikan adalah sebanyak 500.000 lembar saham dan jumlahnya
adalah Rp 2.500,- pada tanggal 5 Juni 2013 untuk pemegang saham yang tercatat tanggal 20
Mei 2013. Buatlah pencatatan yang diperlukan.

Jawaban 1

17 Mei 2013
Laba Ditahan Rp 1.250.000.000,-
Utang Dividen Rp 1.250.000.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


111

20 Mei 2013
Tidak melakukan penjurnalan pada tanggal ini, hanya dibuat memorandum pemegang saham
yang berhak atas Dividen.

5 Juni 2013
Utang Dividen Rp 1.250.000.000,-
Kas Rp 1.250.000.000,-

2. Dividen Script
Dividen Script adalah surat yang menyatakan kesanggupan membayar sejumlah tunai
tertentu kepada pemegang saham sebagai Dividen. Seperti promes yang lainnya, surat ini
berbunga sejumlah persentase tertentu yang dihitung dari nominal sejak promes
dikeluarkan sampai dengan Dividen tersebut dibayarkan. Dividen Script dikeluarkan
apabila pada saat pembayaran Dividen Entitas belum memiliki uang tunai untuk
membayarkan Dividennya.

Contoh 2 – Dividen Script


Pada tanggal 1 Maret 2014 Entitas mengumumkan pembagian Dividen berupa Script
berjangka waktu 3 bulan. Dividen tersebut adalah sebesar Rp 1.500,- berjumlah 500.000
lembar saham yang beredar. Adapun Script tersebut berbunga 12% setahun. Buatlah
pencatatan yang diperlukan.

Jawaban 2

1 Maret 2014
Laba Ditahan Rp750.000.000,-
Utang Dividen Script Rp 750.000.000,-

1 Juni 2014 (tanggal jatuh tempo script/pelunasan)


Bunga Script = 3/12 x 12% x Rp 750.000.000,-
= Rp 22.500.000,-

Utang Dividen Script Rp 750.000.000,-


Biaya Bunga Script Rp 22.500.000,-
Kas Rp 772.500.000,-

3. Dividen Properti
Dividen Properti adalah pembagian Dividen dalam bentuk Aset Entitas. Jika Entitas akan
membagikan Dividen ini maka Entitas harus melakukan penilaian atas nilai wajar dari
Aset tersebut dan mengakui adanya keuntungan atau kerugian sebagai selisih dari nilai
wajar Aset dengan nilai buku Aset pada tanggal pengumuman.

Contoh 3 – Dividen Properti


Tanggal 1 Februari 2014 PT Abadi Bersama mengumumkan akan membagikan Dividen
dalam bentuk surat berharga yang diterbitkan oleh PT Samudera Hindia, yaitu surat berharga
yang diklasifikasikan sebagai surat berharga yang diperdagangkan. PT Abadi Bersama
memperoleh surat berharga tersebut dengan harga Rp 400.000.000,-. Pada tanggal
pengumuman nilai wajar dari surat berharga tersebut adalah Rp 750.000.000,-. Deviden
Properti ini akan dibagikan pada tanggal 1 Maret 2014. Buatlah pencatatan yang diperlukan.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


112

Jawaban 3

1 Februari 2014
Investasi pada PT Samudera Hindia Rp 350.000.000,-
Keuntungan yang belum direalisasi Rp 350.000.000,-

Laba Ditahan Rp 750.000.000,-


Utang Dividen Properti Rp 750.000.000,-

1 Maret 2014
Utang Dividen Properti Rp 750.000.000,-
Investasi pada PT Samudera Hindia Rp 750.000.000,-

4. Dividen Saham
Dividen dalam bentuk saham biasanya diberikan secara merata kepada pemegang saham.
Pembagian Dividen Saham akan mengkapitalisasi Laba Ditahan dipindahkan ke Modal
Saham, sehingga kekayaan Entitas tetap seperti sebelum pembagian Dividen. Perlakukan
Dividen Saham berbeda-beda tergantung porsi Dividen Saham yang dibagikan, yaitu:
a. Dividen Saham jumlah kecil (kurang dari 25% saham beredar). Untuk Dividen Saham
dalam jumlah kecil maka saham yang akan diterbitkan sebagai Dividen dinilai sebesar
nilai wajarnya.
b. Dividen Saham jumlah besar (lebih dari 25% saham beredar), maka saham yang akan
diterbitkan sebagai Dividen sebesar nilai nominalnya.

Contoh 4 – Dividen Saham jumlah kecil


Berikut ini adalah posisi Ekuitas dari PT Setia Dharma sebelum Dividen Saham diumumkan.

Saham Biasa, 100.000 lembar Rp 20.000.000,-


Agio Saham Biasa Rp 8.000.000,-
Laba Ditahan Rp 12.000.000,-
Total Ekuitas Rp 40.000.000,-

Pada tanggal 6 April 2014 PT Setia Dharma mengumumkan akan membagikan Dividen
dalam bentuk saham sebesar 15% dari saham beredar. Pada tanggal tersebut nilai wajar
saham adalah Rp 270,- per lembar saham. Dividen Saham akan dibagikan tanggal 15 Mei
2014. Buatlah pencatatan yang diperlukan dan buatlah posisi Ekuitas PT Setia Dharma
setelah pembagian Dividen Saham.

Jawaban 4
Dividen dibagikan = 15% x 100.000 lembar = 15.000 lembar.
Harga pasar Dividen dibagikan = 15.000 lembar x Rp 270,- = Rp 4.050.000,-

6 April 2014
Laba Ditahan Rp 4.050.000,-
Utang Dividen Saham Biasa Rp 3.000.000,-
Agio Saham dari Dividen Saham Rp 1.050.000,-

15 Mei 2014
Utang Dividen Saham Biasa Rp 3.000.000,-
Modal Saham Biasa Rp 3.000.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


113

Posisi Ekuitas PT Setia Dharma setelah pembagian Dividen Saham adalah sebagai berikut:

Saham Biasa, 115.000 lembar Rp 23.000.000,-


Agio Saham Biasa Rp 9.050.000,-
Laba Ditahan Rp 7.950.000,-
Total Ekuitas Rp 40.000.000,-

Contoh 5 – Dividen Saham jumlah besar.

Berikut ini adalah posisi Ekuitas dari PT Anglingdharma sebelum Dividen Saham
diumumkan.

Saham Biasa, 100.000 lembar Rp 60.000.000,-


Agio Saham Biasa Rp 12.000.000,-
Laba Ditahan Rp 85.000.000,-
Total Ekuitas Rp 157.000.000,-

Pada tanggal 20 Juni 2014 PT Anglingdharma mengumumkan akan membagikan Dividen


dalam bentuk saham sebesar 65% dari saham beredar. Pada tanggal tersebut nilai wajar
saham adalah Rp 800,- per lembar saham. Dividen Saham akan dibagikan tanggal 1 Agustus
2014. Buatlah pencatatan yang diperlukan dan buatlah posisi Ekuitas PT Anglingdharma
setelah pembagian Dividen Saham.

Jawaban 5

Dividen dibagikan = 65% x 100.000 lembar = 65.000 lembar.


Harga pasar Dividen dibagikan = 65.000 lembar x Rp 800,- = Rp 52.000.000,-

20 Juni 2014
Laba Ditahan Rp 39.000.000,-
Utang Dividen Saham Biasa Rp 39.000.000,-

1 Agustus 2014
Utang Dividen Saham Biasa Rp 39.000.000,-
Modal Saham Biasa Rp 39.000.000,-

Posisi Ekuitas PT Setia Dharma setelah pembagian Dividen Saham adalah sebagai berikut:

Saham Biasa, 165.000 lembar Rp 99.000.000,-


Agio Saham Biasa Rp 12.000.000,-
Laba Ditahan Rp 46.000.000,-
Total Ekuitas Rp 157.000.000,-

5. Dividen Likuidasi
Dividen Likuidasi adalah Dividen yang dibagikan mengambil dari Modal Saham. Hal ini
bisa terjadi karena jumlah Laba Ditahan tidak mencukupi untuk membayar Dividen.
Dividen ini juga merupakan pengembalian modal kepada pemegang saham. Apabila
Entitas mengeluarkan Dividen Likuidasi maka Entitas wajib memberitahukan kepada
para pemegang sahamnya bahwa Dividen yang dibagikan merupakan Dividen Likuidasi
dimana terdapat beberapa bagian di dalamnya yang merupakan pengembalian modal. Hal

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


114

ini dimaksudkan agar ketika pemegang saham menerima Dividen Likuidasi mereka
segera mencatat pengurangan investasi pada Entitas.

Contoh 6 - Dividen Likuidasi


Berikut ini adalah posisi Ekuitas Entitas per tanggal 31 Desember 2013.

Saham Biasa, nominal Rp 300,- Rp 900.000.000,-


Agio Saham Biasa Rp 225.000.000,-
Laba Ditahan Rp 570.000.000,-
Total Ekuitas Rp 1.695.000.000,-

Pada tanggal 15 Mei 2014 Entitas mengumumkan pembagian Dividen Likuidasi sebesar Rp
250.000.000,- dimana dari jumlah tersebut 75% merupakan pengembalian modal kepada
pemegang saham. Dividen akan dibayarkan pada tanggal 1 Juli 2014. Buatlah pencatatan
yang diperlukan dan buatlah posisi Ekuitas setelah Dividen Likuidasi.

Jawaban 6
Pengembalian Modal = 75% x Rp 250.000.000,- = Rp 187.500.000,-
Eliminasi
𝑅𝑝 900.000.000, −
𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 = 𝑥𝑅𝑝 187.500.000, −= 𝑅𝑝 150.000.000, −
𝑅𝑝 1.125.000.000, −

𝑅𝑝 225.000.000, −
𝐴𝑔𝑖𝑜 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 = 𝑥𝑅𝑝 187.500.000, − = 𝑅𝑝 37.500.000, −
𝑅𝑝 1.125.000.000, −

Pencatatan
15 Mei 2014
Laba Ditahan Rp 62.500.000,-
Modal Saham Biasa Rp 150.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 37.500.000,-
Utang Dividen Likuidasi Rp 250.000.000,-

1 Juli 2014
Utang Dividen Likuidasi Rp 250.000.000,-
Kas Rp 250.000.000,-

Posisi Ekuitas setelah Dividen Likuidasi

Saham Biasa, nominal Rp 300,- Rp 750.000.000,-


Agio Saham Biasa Rp 187.500.000,-
Laba Ditahan Rp 507.500.000,-
Total Ekuitas Rp 1.445.000.000,-

SEKURITAS DILUTIF
Sekuritas Dilutif adalah surat berharga yang dapat dikonversikan menjadi Saham Biasa
sehingga pada saat dikonversikan akan mempengaruhi jumlah saham yang beredar dan
berdampak pada penurunan nilai laba per saham atau terdilusi. Termasuk dalam sekuritas
dilutif adalah:

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


115

1. Opsi
Opsi adalah kontrak yang diterbitkan oleh Investor untuk dijual kepada Investor lainnya
dimana kontrak tersebut memberikan opsi (hak) kepada penerimanya untuk
menjual/membeli suatu saham Entitas yang menjadi dasar perdagangan opsi tersebut.
Dua jenis Opsi adalah Opsi Beli (Call Option) dan Opsi Jual (Put Option). Opsi Beli
memberikan hak kepada pemegang opsi untuk membeli sejumlah tertentu dari instrument
yang menjadi dasar kontrak tersebut. Sedangkan Opsi Jual memberikan hak kepada
pemegang opsi untuk menjual sejumlah tertentu dari sebuah instrument yang menjadi
dasar kontrak tersebut.

2. Waran
Waran merupakan opsi yang memberikan hak kepada pemilik waran untuk membeli
Saham dengan harga tertentu dan dalam waktu tertentu, dan merupakan salah satu jenis
opsi beli. Perbedaan waran dan opsi adalah pada pihak yang mengeluarkannya. Waran
dikeluarkan oleh Entitas, sedangkan Opsi dikeluarkan oleh Investor. Biasanya waran
digunakan ketika:
a. Entitas memberikan kompensasi manajemen dan karyawan
b. Entitas ingin membuat sekuritas lebih menarik
c. Pemilik saham sebelumnya memiliki hak untuk didahulukan dalam pembelian saham
baru.

3. Liabilitas Konversi
Liabilitas konversi merupakan surat utang yang memberikan fitur opsi bagi pemegangnya
untuk mengonversikannya menjadi saham Entitas. Bentuk Liabilitas konversi yang paling
umum dikeluarkan oleh Entitas adalah Obligasi Konversi. Beberapa jenis Liabilitas
Konversi adalah:
a. Liabilitas Konversi dengan fitur konversi sebagian, yaitu jenis Liabilitas Konversi
dimana hanya sebagian saja yang dapat dikonversi menjadi saham. Sisanya tetap
menjadi Liabilitas dan harus dilunasi oleh Entitas.
b. Liabilitas Konversi dengan fitur konversi seluruhnya, yaitu jenis Liabilitas Konversi
yang dapat dikonversikan seluruhnya pada saat penerbitan Liabilitas tersebut.
c. Liabilitas Konversi dengan fitur konversi wajib seluruhnya, yaitu jenis Liabilitas yang
memiliki karakteristik bahwa seluruhnya nilai surat utang akan dikonversi menjadi
saham pada waktu yang telah ditentukan. Setelah konversi dilakukan maka pemegang
sekuritas utang akan menjadi pemegang saham.

4. Saham Preferen Konversi


Saham Preferen selain mempunyai hak lebih utama dalam hal pembagian Laba, seringkali
juga Saham Preferen memiliki fitur konversi. Saham Preferen konversi adalah sekuritas
saham dimana pemiliknya dapat mengkonversinya menjadi Saham Biasa dalam jumlah
yang telah ditentukan sebelumya. Saham Preferen konversi merupakan sekuritas Ekuitas
dan opsi konversinya juga merupakan sekuritas ekuitas. Ketika Saham Preferen dikonversi
tidak terdapat Laba/Rugi konversi.

5. Kompensasi Saham
Kompensasi Saham adalah imbalan yang diberikan Entitas kepada karyawan, atau
pemasok barang dan jasa yang mana kompensasi tersebut berbentuk saham atau
pengakuan utang yang jumlahnya ditentukan berdasarkan harga saham atau instrumen
Ekuitas milik Entitas. Saham, Opsi Saham atau instrumen Ekuitas lain diberikan kepada
karyawan sebagai tambahan dari gaji atau imbalan kerja lainnya. Sekuritas yang diberikan

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


116

kepada karyawan berbasiskan harga saham biasanya adalah opsi untuk membeli Saham
Entitas pada harga dan waktu yang telah ditentukan. Sekuritas ini dikenal dengan nama
ESOP (Employee Share Option Programme). Kompensasi berbasis saham diatur dalam
PSAK 53 tentang Pembayaran Berbasis Saham.

PENGUKURAN EKUITAS ENTITAS.

Penilaian terhadap Ekuitas tidak terbatas hanya sampai Laba saja. Investor memerlukan
pengukuran yang lain untuk menilai kualitas, nilai jual, atau return yang diharapkan oleh
Investor dengan menanamkan modalnya untuk dikelola Entitas. Beberapa pengukuran yang
umum dilakukan untuk menilai Ekuitas adalah:
1. Nilai Buku per lembar saham (Book Value Per Share).
2. Laba per lembar saham (Earning Per Share).
a. Laba per lembar saham dasar (Primary Earning Per Share)
b. Laba per lembar saham dilusian (Dilluted Earning Per Share)
3. Return On Equity.
4. Rasio Harga Pasar terhadap Nilai Buku Saham (Market to Book Value).
5. Rasio Harga Pasar terhadap Laba per lembar Saham (Market to Earning per Share).
6. Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio).

Nilai Buku per lembar Saham (Book Value per Share).


Nilai buku per lembar saham menunjukkan hak/klaim setiap lembar saham atas kekayaan
bersih Entitas ketika Entitas dinyatakan dilikuidasi dengan asumsi seluruh Aset dapat dijual
sesuai dengan nilai bukunya. Jika terdapat saham dipesan ketika perhitungan nilai buku,
maka saham dipesan dapat ditambahkan pada saham beredar, sedangkan jika terdapat saham
treasury maka saham treasury diperlakukan sebagai pengurang saham beredar. Nilai buku per
lembar saham dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Apabila Entitas hanya mempunyai satu jenis saham yaitu saham biasa maka nilai buku
per lembar saham dilakukan dengan membagi total ekuitas dengan banyaknya lembar
saham beredar setelah dikurangi saham treasury (jika ada).
2. Apabila Entitas memiliki lebih dari satu jenis saham maka nilai buku per lembar saham
dilakukan dengan membagi hak untuk tiap jenis saham dengan banyaknya saham tersebut
yang beredar.

Nilai buku per lembar saham dengan satu jenis saham.


Nilai buku per lembar saham jika hanya memiliki satu jenis saham yaitu saham biasa, maka
dihitung dengan rumusan berikut ini:
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑢 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 =
𝐿𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝐵𝑖𝑎𝑠𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟

Contoh 7 – Nilai buku per lembar saham (satu jenis saham dan terdapat saham
treasury)
Struktur Ekuitas Entitas per 31 Desember 2013 adalah sebagai berikut:
Modal Saham Biasa nominal @Rp 20.000,- Rp 3.000.000.000,-
Modal Saham dipesan nominal @Rp 20.000,- Rp 1.000.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 20.000.000,-
Laba Ditahan Rp 350.000.000,-
Saham Treasury @Rp 10.000,- (Rp 300.000.000,-)
Total Ekuitas Rp 4.070.000.000,-
Hitunglah nilai buku per lembar saham.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


117

Jawaban 7
Saham Biasa beredar = 150.000 lembar
Saham dipesan = 50.000 lembar
Saham treasury = ( 30.000 lembar)
Total Saham Beredar = 170.000 lembar

𝑅𝑝 4.070.000.000, −
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑢 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 = = 𝑅𝑝23.941, −
170.000 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟

Nilai buku per lembar saham dengan dua jenis saham.


Apabila Entitas memiliki Saham Biasa dan Saham Preferen maka perhitungan nilai buku per
lembar saham dihitung dengan menghitung bagian Modal Saham Preferen terlebih dahulu
kemudian sisa Ekuitas yang ada menjadi hak Saham Biasa. Hal-hal berikut ini perlu
dipertimbangkan dalam perhitungan bagian Modal Saham Preferen:
1. Nilai Likuidasi, nilai likuidasi adalah jumlah yang akan dibayarkan kepada pemegang
Saham Preferen jika Entitas dilikuidasi. Pada umumnya nilai likuidasi Saham Preferen
adalah nilai wajar (harga pasar) Saham Preferen pada saat likuidasi.
2. Hak Dividen. Jenis Saham Preferen berbeda-beda dan hal ini terkait dengan hak Dividen
bagi para pemegangnya. Pemegang Saham Preferen Kumulatif dan Saham Preferen
Kumulatif Berpartisipasi memiliki hak untuk Dividen periode berjalan dan periode
sebelumnya jika Dividen periode sebelumnya belum dibayarkan oleh Entitas. Hal ini
tentu saja berpengaruh terhadap jumlah Laba Ditahan.

Contoh 8 – Nilai buku per lembar saham (dua jenis saham dan terdapat saham
treasury)
Struktur Ekuitas Entitas per 31 Desember 2013 adalah sebagai berikut:
Modal Saham Preferen 8% nominal @Rp 25.000,- Rp 7.500.000.000,-
Modal Saham Biasa nominal @Rp 20.000,- Rp 3.000.000.000,-
Modal Saham dipesan nominal @Rp 20.000,- Rp 1.000.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 20.000.000,-
Laba Ditahan Rp 350.000.000,-
Saham Treasury @Rp 10.000,- (Rp 300.000.000,-)
Total Ekuitas Rp 11.570.000.000,-
Nilai wajar Saham Preferen adalah Rp 26.000,- per lembar, sedangkan Dividen Saham
Preferen untuk tahun 2012 belum dibayarkan.
Hitunglah nilai buku per lembar saham.

Jawaban 8
Bagian Modal Saham Preferen
Total Ekuitas Rp 11.570.000.000,-
Nilai wajar Saham Preferen= 300.000 lembar x Rp 26.000 = Rp 7.800.000.000,-
Nilai Dividen = 2 x 8% x Rp 7.500.000.000,- = Rp 1.200.000.000,-
Modal Saham Preferen = (Rp 9.000.000.000,-)
Modal untuk Saham Biasa Rp 2.570.000.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


118

Nilai buku per lembar saham


a. Saham Preferen
Saham Preferen beredar = 300.000 lembar

𝑅𝑝 9.000.000.000, −
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑢 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑃𝑟𝑒𝑓𝑒𝑟𝑒𝑛 = = 𝑅𝑝 30.000, −
300.000 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟

b. Saham Biasa
Saham Biasa beredar = 150.000 lembar
Saham dipesan = 50.000 lembar
Saham treasury = ( 30.000 lembar)
Total Saham Beredar = 170.000 lembar

𝑅𝑝 2.570.000.000, −
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑢 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝐵𝑖𝑎𝑠𝑎 = = 𝑅𝑝 15.117, −
170.000 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟

Laba Per Lembar Saham (Earning Per Share)


Laba Per Lembar Saham (LPS) adalah informasi berapa jumlah laba yang dapat diatribusikan
kepada pemegang saham per lembar saham yang dimilikinya. Nilai LPS sangat tergantung
pada jumlah Laba Bersih dan jumlah lembar saham yang beredar. Sesuai dengan struktur
Ekuitas yang dimiliki Entitas maka terdapat dua jenis LPS, yaitu:

1. LPS Dasar (Primary Earning Per Share).


LPS Dasar adalah LPS pada Entitas dengan struktur modal sederhana. LPS Dasar
dihitung dengan membagi Laba Bersih setelah dikurangi Dividen Saham Preferen dengan
jumlah rata-rata tertimbang Saham Biasa yang beredar. LPS Dasar dapat dihitung dengan
rumusan berikut:

𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ − 𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑃𝑟𝑒𝑓𝑒𝑟𝑒𝑛


𝐿𝑃𝑆 𝐷𝑎𝑠𝑎𝑟 =
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝐵𝑖𝑎𝑠𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟

Dividen Saham Preferen terdiri dari


a. Jumlah dari Dividen Saham Preferen non kumulatif pada periode tersebut.
b. Jumlah dari Dividen Saham Preferen kumulatif pada periode ini yang sudah maupun
belum diumumkan sedangkan Dividen Saham Preferen kumulatif periode lalu yang
diumumkan atau dibayarkan pada periode ini tidak masuk dalam perhitungan.

Jumlah rata-rata tertimbang Saham Biasa yang beredar dihitung dengan cara mengalikan
jumlah saham yang beredar selama jangka waktu tertentu dengan factor pembobot waktu.
Faktor pembobot waktu adalah jumlah hari beredarnya saham dibandingkan dengan jumlah
hari dalam satu periode.

Termasuk dalam kategori Saham Biasa beredar adalah:


1. Saham Biasa yang diterbitkan melalui penjualan tunai.
2. Saham Biasa yang diterbitkan melalui konversi dengan instrumen Liabilitas (misalnya
Obligasi konversi) diperhitungkan sejak tanggal utang tidak lagi berbunga.
3. Saham Biasa yang diterbitkan sebagai pembayaran atas perolehan aset bukan kas yang
diperhitungkan sejak tanggal perolehan tersebut diakui.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


119

4. Saham Biasa yang diterbitkan sebagai pembayaran atas jasa kepada Entitas
diperhitungkan sejak jasa yang bersangkutan diterima Entitas.
5. Saham Biasa yang diterbitkan atas reinvestasi sukarela dari Dividen Saham Biasa atau
Saham Utama yang diperhitungkan sejak tanggal pembayaran Dividen.
6. Saham Biasa yang diterbitkan sebagai pengganti bunga atau pokok bagi istrumen
keuangan lainnya diperhitungkan sejak tanggal Liabilitas tak lagi berbunga.
7. Saham Biasa yang diterbitkan dalam rangka penyelesaian Liabilitas Entitas yang
diperhitungkan sejak tanggal penyelesaian tersebut.

Contoh 9 – Laba per lembar saham dasar


Selama tahun 2013 Entitas menghasilkan laba operasi sebesar Rp 700.000.000,- setelah
pajak, Dividen Saham Preferen yang diumumkan adalah Rp 500,- sebanyak 200.000 lembar.
Adapun informasi peredaran Saham Biasa adalah sebagai berikut:

Tanggal Perubahan Jumlah lembar saham beredar


1 Januari Saldo Awal 300.000 lembar
1 April Menjual Saham Biasa 150.000 lembar
1 Juni Menarik kembali Saham Biasa 70.000 lembar
1 September Menjual Saham Biasa 100.000 lembar
31 Desember Saldo Akhir 480.000 lembar

Jawaban 9
Perhitungan rata-rata tertimbang Saham Biasa beredar sebagai berikut:
Tanggal Beredar Masa Jumlah Saham Beredar Rata-rata tertimbang
Peredaran
1 Jan – 31 Maret 3/12 300.000 lembar 75.000 lembar
1 April – 31 Mei 2/12 450.000 lembar 75.000 lembar
1 Juni – 31 Agustus 3/12 380.000 lembar 95.000 lembar
1 Sept – 31 Des 4/12 480.000 lembar 160.000 lembar
Jumlah rata-rata tertimbang Saham Biasa beredar 405.000 lembar

Dividen Saham Preferen = 200.000 lembar x Rp 500,-


= Rp 100.000.000,-

𝑅𝑝 700.000.000 − 𝑅𝑝 100.000.000
𝐿𝑃𝑆 𝐷𝑎𝑠𝑎𝑟 =
405.000 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟

= Rp 1.481,-

2. LPS Dilusian (Dilluted Earning per Share)


LPS Dilusian adalah LPS pada Entitas dengan struktur modal yang kompleks, dimana di
dalam struktur modalnya terdapat sekuritas-sekuritas dilutif. Untuk informasi yang
memadai bagi Investor, Entitas diwajibkan untuk menyajikan LPS Dasar dan LPS
Dilusian dalam Laporan Keuangan. Dalam perhitungan LPS Dilusian, Laba dan jumlah
rata-rata tertimbang Saham Biasa beredar harus disesuaikan dengan memperhitungkan
dampak dari semua sekuritas dilusian yang berpotensi menjadi Saham Biasa.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


120

Dalam perhitungan LPS Diluasian perlu dilakukan penyesuaian atas LPS Dasar, yaitu
dilakukan penyesuaian terhadap Laba setelah pajak dan rata-rata tertimbang Saham Biasa
beredar.
a. Penyesuaian terhadap Laba Bersih setelah Pajak adalah untuk beberapa hal berikut
ini:
1) Setiap Dividen dari sekuritas yang berpotensi Saham Biasa yang bersifat dilutif.
2) Bunga dari sekuritas berpotensi Saham Biasa yang dilutif dan diakui pada periode
yang bersangkutan.
3) Perubahan Pendapatan atau Biaya yang timbul dari konversi sekuritas berpotensi
Saham Biasa yang bersifat dilutif.
b. Penyesuaian terhadap jumlah rata-rata tertimbang Saham Biasa beredar, yaitu
dilakukan dengan menambah jumlah rata-rata tertimbang dalam LPS Dasar dengan
jumlah rata-rata tertimbang Saham Biasa yang akan diterbitkan dengan asumsi semua
sekuritas berpotensi Saham Biasa dikonversikan menjadi Saham Biasa.

Contoh 10 – LPS Dilusian


Entitas memiliki 500.000 lembar Obligasi konversi yang berpotensi Saham Biasa. Obligasi
tersebut bernilai nominal Rp 10.000,-, berbunga 10% setahun dan dapat dikonversi menjadi
10 lembar Saham Biasa. Asumsi pajak yang berlaku adalah 40%. Pada tahun 2013 Entitas
melaporkan Laba Bersih setelah Pajak adalah Rp 450.000.000,- dengan Dividen Saham
Preferen sebesar Rp 20.000.000,- dan Saham Biasa yang beredar adalah 15.000.000 lembar.
Hitunglah LPS Dilusian apabila seluruh Obligasi dapat dikonversi menjadi Saham Biasa.

Jawaban 10

𝑅𝑝 450.000.000 − 𝑅𝑝 20.000.000
𝐿𝑃𝑆 𝐷𝑎𝑠𝑎𝑟 = = 𝑅𝑝 28.67, −
15.000.000 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟

Perhitungan LPS Dilusian


Laba Bersih setelah Saham Rp 450.000.000,-
Ditambah:
Biaya Obligasi = 10% x Rp 5.000.000.000,-x 60% = Rp 300.000.000,-
Laba Disesuaikan = Rp 750.000.000,-

Jumlah lembar Saham Biasa beredar 15.000.000 lembar


Ditambah:
Obligasi dikonversi, 1 lembar Obligasi = 10 lembar Saham
Maka 500.000 lembar Obligasi = 5.000.000 lembar Saham 5.000.000 lembar
Jumlah lembar Saham beredar setelah Obligasi dikonversi 20.000.000 lembar

𝑅𝑝 750.000.000 − 𝑅𝑝 20.000.000
𝐿𝑃𝑆 𝐷𝑖𝑙𝑢𝑠𝑖𝑎𝑛 = = 𝑅𝑝 36.5, −
20.000.000 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟

Dalam perhitungan LPS Dilusian, Entitas harus melakukan uji potensi dilutif terhadap
sekuritas dilusian. Sekuritas dilusian dikatakan dilutif apabila dengan keberadaan sekuritas
tersebut akan menurunkan LPS Dasar, sedangkan dikatakan Anti Dilutif apabila keberadaan
sekuritas tersebut akan menaikkan LPS Dasar. LPS Dilusian dari sekuritas yang termasuk
dalam kategori Anti dilutif tidak perlu dilaporkan dalam Laporan Keuangan.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


121

Apabila Entitas memiliki lebih dari satu sekuritas Dilusian maka Entitas dalam menentukan
LPS Dilusian dapat mengikuti tahapan sebagai berikut:
1. Menghitung satu persatu dampak sekuritas tersebut terhadap LPS secara incremental.
2. Sekuritas diurutkan berdasarkan dampaknya terhadap incremental dalam perhitungan LPS
Dilusian. Sekuritas diurutkan dari yang berdampak menurunkan LPS paling besar sampai
ke yang paling kecil.
3. Setelah mengurutkan sekuritas berdasarkan dampaknya, Laba Bersih setelah pajak
disesuaikan dengan dampak sekuritas-sekuritas tersebut sesuai urutannya, kemudian
jumlah rata-rata tertimbang Saham Biasa beredar juga disesuaikan. Setelah memperoleh
LPS Dilusian bagi masing-masing sekuritas, dipilih LPS Dilusian yang paling kecil sesuai
dengan sifatnya bahwa sekuritas Dilusian haruslah yang menurunkan Laba terbanyak.

Contoh 11 – LPS Dilusian dengan beberapa sekuritas.


Entitas melaporkan Laba Bersih setelah pajak pada periode 2013 adalah Rp 180.000.000,-.
Dividen Saham Preferen untuk periode 2013 diumumkan adalah Rp 50.000.000,-. Sedangkan
Saham Biasa yang beredar adalah 1.000.000 lembar. Entitas juga memiliki sekuritas yang
berpotensi bersifat dilutif, yaitu :
1. Obligasi konversi dengan nilai nominal Rp25.000,- sebanyak 1.000 lembar. Obligasi ini
berbunga 7% per tahun. Adapun satu lembar Obligasi dapat dikonversi menjadi 20
lembar Saham Biasa. Dengan asumsi pajak adalah 40%.
2. Saham Preferen konversi sebanyak 1.500.000 lembar dengan nilai nominal Rp 100,-
kumulatif 9%. Setiap 1 lembar Saham Preferen dapat dikonversi menjadi 5 lembar Saham
Biasa.
Hitunglah:
a. Pengaruh masing-masing sekuritas secara incremental terhadap LPS Dasar.
b. Tentukan kemungkinan dampak dilutif sekuritas dari yang paling dilutif sampai yang
kecil kemungkinan dilutifnya.
c. Tentukan LPS Dilutif.

Jawaban 11
𝑅𝑝 180.000.000 − 𝑅𝑝 50.000.000
𝐿𝑃𝑆 𝐷𝑎𝑠𝑎𝑟 = = 𝑅𝑝 130, −
1.000.000 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟

Perhitungan pengaruh incremental terhadap LPS Dasar dari dua jenis sekuritas dilusian:

a. Pengaruh incremental dari Obligasi konversi.


Peningkatan Laba Bersih disesuaikan dengan Biaya Bunga Obligasi
Biaya Bunga Obligasi = 7% x Rp 25.000.000,- x 60% = Rp 1.050.000,-

Penambahan lembar Saham Biasa beredar dengan Obligasi konversi


1 lembar Obligasi konversi = 20 lembar Saham Biasa
25.000 lembar Obligasi konversi = 500.000 lembar Saham Biasa

𝑅𝑝 1.050.000, −
𝐿𝑃𝑆 𝑖𝑛𝑘𝑟𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑙 = = 𝑅𝑝 2.1, −
500.000 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟

b. Pengaruh incremental dari Saham Preferen konversi.


Peningkatan Laba Bersih disesuaikan dengan Dividen Saham Preferen
1.500.000 lembar x Rp 100,- x 9% = Rp 13.500.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


122

Penambahan lembar Saham Biasa beredar dengan Saham Preferen konversi


1 lembar Saham Preferen konversi = 5 lembar Saham Biasa
1.500.000 lembar Saham Preferen konversi = 7.500.000 lembar Saham Biasa

𝑅𝑝 13.500.000
𝐿𝑃𝑆 𝑖𝑛𝑘𝑟𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑙 = = 𝑅𝑝 1.8, −
7.500.000 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟

Urutan dampak masing-masing sekuritas dilusian terhadap LPS incremental adalah:


Saham Preferen konversi = Rp 1.8,-
Obligasi konversi = Rp 2.1,-

c. Untuk menentukan LPS Dilusian berdasarkan urutan dampak sekuritas tersebut maka
perhitungan LPS Dilusian adalah sbb:

Laba Bersih Lembar saham biasa LPS


beredar
LPS Dasar Rp 130.000.000,- 1.000.000 lembar Rp 130,-
Saham Preferen Rp 13.500.000,- 7.500.000 lembar
konversi
Rp 143.500.000,- 8.500.000 lembar Rp 16.88,- Dilutif
Obligasi Rp 1.050.000,- 500.000 lembar
konversi
Rp144.550.000,- 9.000.000 lembar Rp 16.05,- Dilutif

Maka LPS Dilusian yang disajikan adalah Rp 16.05,-.

Rasio Harga Pasar Saham terhadap Nilai Buku Saham (Market to Book Ratio)
Perhitungan rasio ini dilakukan dengan tujuan mengukur seberapa besar pasar menghargai
saham Entitas. Semakin besar rasio ini semakin menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan
masyarakat terhadap saham Entitas. Rasio ini dapat dihitung dengan rumusan berikut ini:

𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑝𝑎𝑠𝑎𝑟 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎


𝑀𝐵𝑅 =
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑢 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚

Contoh 12 – Market to book ratio.


Struktur Ekuitas Entitas per 31 Desember 2013 adalah sebagai berikut:
Modal Saham Biasa nominal @Rp 500,- Rp 1.250.000.000,-
Modal Saham dipesan nominal @Rp 500,- Rp 350.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 15.000.000,-
Laba Ditahan Rp 500.000.000,-
Saham Treasury @Rp 300,- (Rp 30.000.000,-)
Total Ekuitas Rp 2.145.000.000,-
Jika diketahui harga pasar saham rata-rata adalah Rp 750,- per lembar, maka hitunglah
Market to book ratio.

Jawaban 12
Saham Biasa beredar = 2.500.000 lembar
Saham dipesan = 700.000 lembar
Saham treasury = ( 100.000 lembar)
Total Saham Beredar = 3.100.000 lembar

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


123

𝑅𝑝 2.145.000.000, −
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑢 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 = = 𝑅𝑝 692, −
3.100.000 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟

𝑅𝑝 750, −
𝑀𝑎𝑟𝑘𝑒𝑡 𝑡𝑜 𝑏𝑜𝑜𝑘 𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜 = = 1.08
𝑅𝑝 692, −

Analisa dari hasil perhitungan adalah nilai pasar saham 1.08 kali lebih tinggi dari nilai buku
per lembar saham Entitas. Hal ini baik karena pasar menghargai nilai saham Entitas lebih
tinggi daripada nilai bukunya.

Rasio Harga Pasar Saham terhadap Laba per Lembar Saham (Market to Earning Ratio)
Perhitungan rasio ini bertujuan untuk menganalisa bagiamana perilaku perubahan harga pasar
saham terhadap LPS yang dilaporkan oleh Entitas. Dengan memahami pola historis dari
Market to Earning Ratio, maka dapat diprediksi LPS di masa yang akan datang.

Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio)


Rasio ini dihitung dengan tujuan mengukur seberapa besar pertumbuhan Entitas dalam
jangka waktu tertentu. Selain itu rasio ini dimaksudkan untuk mengetahui posisi Entitas di
sistem ekonomi secara keseluruhan, yang diketahui dari perbandingan rasio pertumbuhan
Entitas dengan rasio pertumbuhan industri secara umum. Tingkat pertumbuhan Entitas yang
stabil memiliki nilai yang baik di masyarakat daripada tingkat pertumbuhan yang
berfluktuasi.

Rasio pertumbuhan dihitung dengan rumusan sebagai berikut:

1/𝑛
𝑅𝑎𝑠𝑖𝑜 𝑃𝑒𝑟𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢ℎ𝑎𝑛 = (𝐷𝑎𝑡𝑎 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑘𝑒 − 𝑛⁄𝐷𝑎𝑡𝑎 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑑𝑎𝑠𝑎𝑟) −1

Contoh 13 – Rasio Pertumbuhan


Berikut ini adalah data hasil kinerja Entitas selama 5 tahun terakhir:

2010 2011 2012 2013 2014


Laba Ditahan (dalam Rp 50.000,- Rp 53.500,- Rp57.000,- Rp 55.000,- Rp 56.000,-
ribuan Rupiah)
LPS Rp 4.5,- Rp 5.3,- Rp 6.7,- Rp 5.8,- Rp 5,-
Dividen Rp 2.000,- Rp 3.200,- Rp 3.500,- Rp 3.750,- Rp 3.300,-

Hitunglah rasio pertumbuhan dari masing-masing hasil kinerja tersebut.

Jawaban 13

1/5
𝑃𝑒𝑟𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢ℎ𝑎𝑛 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐷𝑖𝑡𝑎ℎ𝑎𝑛 = (𝑅𝑝 56.000⁄𝑅𝑝 50.000) − 1 = 2.3%

1/5
𝑃𝑒𝑟𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢ℎ𝑎𝑛 𝐿𝑃𝑆 = (𝑅𝑝 5⁄𝑅𝑝 4.5) − 1 = 2.1%

1/5
𝑃𝑒𝑟𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢ℎ𝑎𝑛 𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛 = (𝑅𝑝 3.300⁄𝑅𝑝 2.000) − 1 = 10.53%

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


124

Latihan Soal – Laba Ditahan dan Dividen

Soal 1
Struktur Ekuitas Entitas per 31 Desember 2013 adalah sebagai berikut:
Modal Saham Preferen 9% nominal @Rp 800,- Rp 1.040.000.000,-
Modal Saham Biasa nominal @Rp 500,- Rp 1.500.000.000,-
Modal Saham dipesan nominal @Rp 500,- Rp 250.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 75.000.000,-
Laba Ditahan Rp 550.000.000,-
Saham Treasury @Rp 600,- (Rp 480.000.000,-)
Total Ekuitas Rp 2.935.000.000,-
Nilai wajar Saham Preferen adalah Rp 900,- per lembar, sedangkan Dividen Saham Preferen
untuk tahun 2011 dan 2012 belum dibayarkan.
Diminta:
Hitunglah nilai buku per lembar saham.

Soal 2
Berikut ini adalah informasi peredaran Saham Biasa di Entitas:

Tanggal Perubahan Jumlah lembar saham beredar


1 Januari Saldo Awal 800.000 lembar
1 Maret Menjual Saham Biasa 150.000 lembar
1 Mei Menjual Saham Biasa 370.000 lembar
1 Agustus Membeli kembali Saham Biasa 75.000 lembar
1 November Split Saham 1:2

Selama tahun 2013 Entitas menghasilkan laba operasi sebesar Rp 1.800.000.000,- setelah
pajak, Dividen Saham Preferen yang diumumkan adalah Rp 1.000,- sebanyak 20.000 lembar.
Diminta:
Hitunglah Laba per Lembar Saham.

Soal 3
Berikut ini adalah posisi Ekuitas Entitas per tanggal 31 Desember 2013.

Saham Biasa, nominal Rp 1.200,- Rp 600.000.000,-


Agio Saham Biasa Rp 850.000.000,-
Laba Ditahan Rp 1.200.000.000,-
Total Ekuitas Rp 2.650.000.000,-

Pada tanggal 15 Mei 2014 Entitas mengumumkan pembagian Dividen Likuidasi sebesar Rp
500.000.000,- dimana dari jumlah tersebut 60% merupakan pengembalian modal kepada
pemegang saham. Dividen akan dibayarkan pada tanggal 25 Mei 2014. Buatlah pencatatan
yang diperlukan dan buatlah posisi Ekuitas setelah Dividen Likuidasi.

Soal 4
Pada tanggal 23 Oktober 2014 PT Aman Damai mengumumkan akan membagikan Dividen
dalam bentuk saham sebesar 80% dari saham beredar. Pada tanggal tersebut nilai wajar
saham adalah Rp 1.300,- per lembar saham. Dividen Saham akan dibagikan tanggal 1
Desember 2014. Buatlah pencatatan yang diperlukan dan buatlah posisi Ekuitas PT Aman
Damai setelah pembagian Dividen Saham.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


125

Adapun berikut ini adalah posisi Ekuitas dari PT Aman Damai sebelum Dividen Saham
diumumkan.
Saham Biasa, 500.000 lembar Rp 500.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 20.000.000,-
Laba Ditahan Rp 700.000.000,-
Total Ekuitas Rp1.220.000.000,-

Soal 5
Berikut ini adalah struktur Ekuitas PT Lautan Emas Tbk per 1 Januari 2014
Modal Saham Biasa beredar 300.000 lembar Rp 600.000.000,-
Agio Saham Biasa Rp 20.000.000,-
Modal Saham Preferen kumulatif 9%
(convertible 1:50) 25.000 lembar Rp 75.000.000,-
Agio Saham Preferen Rp 40.000.000,-
Laba Bersih Rp 1.250.000.000,-
Total Ekuitas Rp 1.985.000.000,-

Adapun informasi tambahan adalah sebagai berikut:


1. Entitas memiliki Obligasi konversi sebanyak 100.000 lembar nominal Rp 5000,-.
Obligasi berbunga 8% per tahun dan dapat dikonversi menjadi 5 lembar Saham Biasa.
Asumsi tarif pajak yang berlaku adalah 40%.
2. Opsi Beli yang beredar di karyawan Entitas adalah 30.000 lembar dengan nilai Rp 1.000,-
3. Harga Saham Biasa rata-rata sepanjang tahun adalah Rp 2.500,-
Dengan asumsi semua sekuritas Dilusian dikonversikan, maka hitunglah LPS Dilusian yang
akan disajikan dalam Laporan Keuangan PT Lautan Emas pada akhir periode 2014.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


126

Tugas – Laba Ditahan dan Dividen

Soal 1
Berikut ini adalah aktivitas yang tidak saling berhubungan. Buatlah pencatatan yang
diperlukan.
1. Tanggal 1 Juni 2013 diumumkan Dividen Script dari 10.000 lembar Saham Biasa dengan
Dividen Rp 60.000,- per lembar Saham. Script itu berbunga 11% per tahun. Dividen
dibayarkan tanggal 1 September 2013.
2. Entitas akan membagikan Dividen dalam bentuk saham. Dividen tersebut adalah 10%
dari seluruh Saham Biasa yang beredar. Saham Biasa yang beredar adalah 800.000
lembar dengan nominal Rp 1.000,-. Dividen diumumkan tanggal 7 Oktober 2013 ketika
harga pasar Saham Biasa adalah Rp 1.100,-.
3. Dividen Kas diumumkan pada tanggal 15 Agustus 2013. Sejumlah Rp 500.000.000,-.
Saham Preferen kumulatif 8% berpartisipasi penuh memiliki total nominal Rp
600.000.000,-. Sedangkan Saham Biasa yang beredar memiliki total nominal Rp
950.000.000,-. Dividen dibagikan tanggal 1 September 2013.

Soal 2
Lembar Saham Biasa PT Sumber Jaya yang beredar per 1 Januari 2013 adalah 2.000.000
lembar dengan nominal Rp 1.000,-. Agio Saham Biasa tercatat adalah Rp 300.000.000,-.
Pada tanggal 1 April 2013 Entitas membeli kembali 200.000 lembar Saham Biasa yang
beredar dengan harga Rp 800,-. Pembelian Saham tersebut dicatat Entitas dengan metode
harga perolehan. Pada tanggal 1 Juli 2013, Entitas menjual 300.000 lembar Saham dengan
harga Rp 1.100,- , 100.000 lembar diantaranya merupakan saham baru. Kemudian pada
tanggal 1 November 2013, Entitas mengkonversi 100.000 lembar Saham Preferen dengan
ratio penukaran 1:2. Saham Preferen tersebut adalah kumulatif 9% dengan total nominal Rp
3.500.000.000,-. Sampai dengan tanggal 31 Desember 2013 tidak terdapat aktivitas Saham
lagi. Pada tanggal 31 Desember 2013, Entitas mencatat Laba Bersih setelah Pajak adalah Rp
12.000.000.000,-.
Diminta:
1. Catatlah transaksi-transaksi diatas dalam jurnal.
2. Hitunglah Laba per lembar saham Dilusian.

Soal 3

Berikut ini adalah data hasil kinerja Entitas selama 3 tahun terakhir:

2012 2013 2014


Laba Ditahan (dalam ribuan Rupiah) Rp 68.000,- Rp 58.000,- Rp 65.000,-
Nilai buku per lembar saham Rp 1.100,- Rp 1.000,- Rp 1.250,-
LPS Rp 2.6,- Rp 3,- Rp 5.1,-
Dividen Rp 4.800,- Rp 3.500,- Rp 4.100,-

Diminta:
Hitunglah rasio pertumbuhan dari masing-masing hasil kinerja tersebut.

Soal 4
Selama tahun 2013 Entitas menghasilkan laba operasi sebesar Rp 250.000.000,- setelah
pajak, Dividen Saham Preferen yang diumumkan adalah Rp 1.000,- sebanyak 50.000 lembar.
Adapun informasi peredaran Saham Biasa adalah sebagai berikut:

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


127

Tanggal Perubahan Jumlah lembar saham beredar


1 Januari Saldo Awal 400.000 lembar
1 Mei Menarik kembali Saham Biasa 75.000 lembar
1 Juli Menjual Saham Biasa 120.000 lembar
1 Oktober Menjual Saham Biasa 350.000 lembar
1 Desember Menjual Saham Biasa 170.000 lembar

Diminta:
Hitunglah LPS Dasar.

Soal 5
Berikut ini adalah Laporan Perubahan Ekuitas untuk periode 2013.
PT NEBULA
Laporan Perubahan Ekuitas
Untuk Periode yang berakhir tanggal 31 Desember 2013
(dalam jutaan Rupiah)
Modal Agio Saham yang Laba Jumlah
Saham Saham diperoleh Ditahan Ekuitas
Biasa Biasa kembali
Saldo 1 Januari Rp 600,- Rp 85,- (Rp 120,-) Rp 1.300,- Rp 1.865,-
2014 setelah
penyesuaian
Penerbitan Saham Rp 200,- Rp 28,- Rp 228,-
baru
Penjualan Saham Rp 20 Rp 20,-
yang diperoleh
kembali
Laba/Rugi Bersih Rp 890,- Rp 890,-
periode berjalan
Saldo 31 Rp 800,- Rp 113,- (Rp 100,-) Rp 2.190,- Rp 3.003,-
Desember 2014

Keterangan:
1. Modal Saham Biasa nominal Rp 20.000,- per lembar saham.
2. Saham diperoleh kembali dengan harga Rp 10.000,- sebanyak 12.000 lembar dicatat
dengan metode nominal, dijual sebanyak 1.000 lembar.
3. Penerbitan Saham baru dengan harga Rp 22.800,-

Diminta:
Hitunglah LPS Dasar.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


128

BAB IX
PERUBAHAN KEBIJAKAN, ESTIMASI,
DAN KOREKSI KESALAHAN AKUNTANSI
PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI
PSAK 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan mewajibkan setiap Entitas untuk membuat
pernyataan secara eksplisit dan tanpa kecuali tentang kepatuhan terhadap semua yang telah
disyaratkan dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Penyajian sesuai SAK
memperbolehkan Entitas memilih dan menerapkan kebijakan Akuntansi sesuai dengan PSAK
25 tentang Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi dan Kesalahan. PSAK 25
mengatur secara komprehensif pemilihan kebijakan Akuntansi, perubahan kebijakan
Akuntansi, perubahan estimasi, dan koreksi kesalahan, PSAK 25 sendiri merupakan adopsi
dari IAS 8 Accounting Policies, Changes in Accounting Estimates and Errors.

Kebijakan Akuntansi dalam PSAK 25 didefinisikan sebagai prinsip dasar, konvensi,


peraturan dan praktik tertentu yang diterapkan Entitas dalam penyusunan dan penyajian
Laporan Keuangan yang akan menentukan saat pengakuan, cara pengukuran, penyajian dan
pengungkapan atas elemen-elemen Laporan Keuangan seperti Aset, Liabilitas, Ekuitas,
Pendapatan dan Biaya dalam Laporan Keuangan. Kebijakan Akuntansi suatu transaksi yang
terjadi di Entitas haruslah mengacu pada PSAK yang terkait dalam SAK. Jika PSAK
memberikan beberapa pilihan kebijakan Akuntansi, maka Entitas dapat memilih salah satu
diantara yang telah ditentukan. Jika tidak ada PSAK yang secara spesifik mengatur tentang
suatu transaksi maka Entitas menggunakan pertimbangannya dalam menggunakan dan
mengembangkan kebijakan Akuntansi sehingga dapat menghasilkan informasi yang andal
dan relevan. Informasi yang andal harus menggunakan kejujuran dalam penyajian, netral,
lengkap, mencerminkan substansi ekonomi dan menggunakan pertimbangan yang sehat
dalam pengukurannya. Sedangkan informasi dikatan relevan apabila tepat waktu dan sesuai
dengan kebutuhan dalam pengambilan keputusan ekonomis pengguna Laporan Keuangan.

Adapun untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (ETAP) ketentuan tentang kepatuhan atas
Standar Akuntansi dan Kebijakan Akuntansi diatur dalam SAK ETAP.

Kebijakan Akuntansi yang telah dipilih oleh Entitas wajib diterapkan secara konsisten untuk
transaksi, peristiwa dan kondisi lainnya yang serupa. Konsistensi penerapan kebijakan
Akuntansi merupakan salah satu karakteristik kualitatif Laporan Keuangan, yaitu pengguna
akan lebih mudah dalam membaca dan membandingkan Laporan Keuangan tersebut dari
periode ke periode sehingga Laporan Keuangan dapat dipercaya.

Perubahan Kebijakan Akuntansi dapat dilakukan Entitas jika memenuhi ketentuan yang
diatur dalam PSAK 25, dimana menjelaskan bahwa Entitas dapat melakukan perubahan
kebijakan Akuntansi jika:
a. Disyaratkan oleh suatu PSAK.
b. Menghasilkan Laporan Keuangan yang memberikan informasi yang lebih andal dan
relevan bagi pengguna Laporan Keuangan.
c. Terdapat aturan baru dalam SAK.
Perubahan kebijakan Akuntansi dilakukan hanya terhadap transaksi atau peristiwa yang
sama, tidak boleh terhadap transaksi atau peristiwa baru.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


129

Berikut adalah beberapa contoh dari perubahan kebijakan Akuntansi:


1. Perubahan metode penilaian Aset Tetap atau Aset Tidak Berwujud, dari metode Biaya ke
metode Revaluasi.
2. Perubahan metode penilaian Persediaan dari FIFO (First In First Out) ke metode rata-rata
(Average).

PERLAKUAN TERHADAP PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI


Jika terjadi perubahan ketentuan atau peraturan dalam PSAK, maka Entitas mencatat
perubahan kebijakan Akuntansi akibat dari penerapan awal suatu PSAK sesuai dengan
ketentuan dari transisi PSAK tersebut. Namun apabila perubahan kebijakan Akuntansi
dilakukan secara sukarela maka Entitas menerapkan perubahan tersebut secara retrospektif.
Penerapan restrospektif adalah penerapan kebijakan Akuntansi baru untuk transaksi,
peristiwa, dan kondisi lain seolah-olah penerapan tersebut telah diterapkan sejak awal
periode. Ketika perubahan kebijakan Akuntansi diterapkan secara retrospektif maka Entitas
melakukan penyesuaian terhadap:
1. Saldo awal setiap komponen Ekuitas yang terpengaruh,
2. Jumlah komparatif lain yang diungkapkan seolah-olah perubahan kebijakan telah
diterapkan sejak awal.

PSAK 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan mengharuskan Entitas yang melakukan


perubahan kebijakan Akuntansi dan menerapkannya secara retrospektif untuk menyajikan
Laporan Posisi Keuangan awal periode sebelumnya. Karena itu dalam penyajiannya terdapat
tiga Laporan Posisi Keuangan, yaitu akhir periode sebelumnya, awal periode sebelumnya
dan akhir periode berjalan. Misalnya, untuk keperluan penyajian Laporan Posisi Keuangan
yang mengalami perubahan kebijakan Akuntansi pada tahun 2014 maka harus menyajikan
Laporan Posisi Keuangan per tanggal 31 Desember 2013 dan per tanggal 1 Januari 2013.

Adapun pengaruh perubahan kebijakan Akuntansi dapat berpengaruh langsung terhadap


Laporan Keuangan (direct effects) dan berpengaruh tidak langsung (indirect effects).
Perubahan kebijakan Akuntansi secara langsung adalah yang langsung mempengaruhi saldo
laba periode sebelumnya sedangkan pengaruh tidak langsung adalah pengaruh perubahan
kebijakan Akuntansi tersebut adalah terhadap Arus kas periode berjalan dan yang akan
datang. Terhadap kedua pengaruh tersebut wajib diterapkan secara retrospektif, hanya saja
pengaruh tidak langsung tidak perlu dilakukan pengungkapan dalam Laporan Keuangan.

Contoh 1 – Perubahan kebijakan Akuntansi


PT Swadaya memulai usahanya pada tanggal 1 Januari 2012. Pada saat itu Entitas
menggunakan metode Rata-rata dalam melakukan penilaian Persediaannya. Pada tanggal 1
Januari 2014 Entitas mengubah metode penilaian Persediaannya menjadi FIFO. Untuk
perubahan kebijakan Akuntansi diterapkan secara retrospektif maka dilakukan perhitungan
ulang terhadap Harga Pokok Penjualan sebagai berikut:

Persediaan Akhir Harga Pokok Penjualan


Rata-rata FIFO Rata-rata FIFO
1 Januari 2012 0 0 0 0
31 Desember 2012 Rp 3.000.000,- Rp 3.500.000,- Rp 15.000.000,- Rp 14.500.000,-
31 Desember 2013 Rp 4.200.000,- Rp 4.500.000,- Rp 28.350.000,- Rp 28.050.000,-
31 Desember 2014 Rp 4.800.000,- Rp 5.400.000,- Rp 29.560.000,- Rp 28.960.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


130

Berikut adalah data yang diperoleh sebelum perubahan kebijakan Akuntansi:


1. Penjualan tahun 2012 adalah Rp 20.500.000,-, tahun 2013 adalah Rp 38.200.000,- dan
tahun 2014 adalah Rp 40.250.000,-.
2. Biaya operasional tahun 2012 adalah Rp 4.200.000,-, tahun 2013 adalah Rp 8.700.000,-
dan tahun 2014 adalah Rp 9.000.000,-.
3. Laba dilaporkan menggunakan metode Rata-rata pada akhir tahun 2012 adalah Rp
1.300.000,- , akhir tahun 2013 adalah Rp 1.150.000,- dan akhir tahun 2014 adalah Rp
1.690.000,-.
4. Pajak yang dikenakan atas kenaikan Laba adalah 25%.

Jawaban 1

Laporan Laba Rugi disajikan kembali

PT SWADAYA
Laporan Laba Rugi Komprehensif
Untuk Laporan yang berakhir tanggal 31 Desember 2014
31 Desember 2014 31 Desember 2013 31 Desember 2012
Penjualan Rp 40.250.000,- Rp 38.200.000,- Rp 20.500.000,-
Harga Pokok Penjualan (28.960.000,-) (28.050.000,-) (14.500.000,-)
Laba Kotor 11.290.000,- 10.150.000,- 6.000.000,-
Biaya Operasi (9.000.000,-) (8.700.000,-) (4.200.000,-)
Laba Operasi 2.290.000,- 1.450.000,- 1.800.000,-
Pajak 25% (572.500,-) (362.500,-) (450.000,-)
Laba Bersih Rp 1.717.500,- Rp 1.087.500,- Rp 1.350.000,-

Penyajian pada Laporan Perubahan Ekuitas


PT SWADAYA
Laporan Perubahan Ekuitas – Saldo Laba
Untuk Laporan yang berakhir tanggal 31 Desember 2013
31 Desember 2013
Saldo Laba 1 Januari 2013 (dilaporkan) Rp 1.300.000,-
Penyesuaian karena perubahan metode 50.000,-
penilaian Persediaan
Saldo Laba 1 Januari 2013 disajikan kembali 1.350.000,-
Laba Bersih 1.087.500,-
Saldo Laba 31 Desember 2013 Rp 2.437.500,-

PT SWADAYA
Laporan Perubahan Ekuitas – Saldo Laba
Untuk Laporan yang berakhir tanggal 31 Desember 2014
31 Desember 2014
Saldo Laba 1 Januari 2014 (dilaporkan) Rp 1.150.000,-
Penyesuaian karena perubahan metode 1.287.500,-
penilaian Persediaan
Saldo Laba 1 Januari 2014 disajikan kembali 2.437.500,-
Laba Bersih 1.717.500,-
Saldo Laba 31 Desember 2014 Rp 4.155.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


131

Penyajian pada Laporan Posisi Keuangan


PT SWADAYA
Laporan Posisi Keuangan Parsial
Per 31 Desember 2014
Per 31 Desember Per 31 Desember Per 1 Januari 2013
2014 2013
Aset Lancar
Persediaan Barang Rp 5.400.000,- Rp 4.500.000,- Rp 3.500.000,-
Liabilitas
Utang Pajak (572.500,-) (362.500,-) (450.000,-)
Ekuitas
Saldo Laba Rp 4.155.000,- Rp 2.437.500,- Rp 1.350.000,-

Pencatatan yang diperlukan adalah:


31 Desember 2012
Persediaan Barang Rp 500.000,-
Utang Pajak Rp 450.000,-
Saldo Laba Rp 50.000,-

31 Desember 2013
Persediaan Barang Rp 300.000,-
Saldo Laba Rp 62.500,-
Utang Pajak Rp 362.500,-

Pengungkapan Perubahan Kebijakan Akuntansi


Ketika terjadi perubahan kebijakan Akuntansi maka Entitas harus menyajikan Laporan
Keuangan periode komparatif dengan menggunakan kebijakan Akuntansi yang baru. Khusus
untuk Laporan Posisi Keuangan harus menyajikan Laporan Posisi Keuangan periode awal
komparatif sehingga terdapat tiga Laporan Posisi Keuangan. Adapun pengungkapan yang
diperlukan jika terjadi perubahan kebijakan Akuntansi adalah:
1. Sifat dari perubahan kebijakan Akuntansi.
2. Alasan Entitas melakukan perubahan kebijakan Akuntansi.
3. Penyesuaian untuk periode berjalan dan setiap periode sebelumnya yang disajikan.
4. Alasan mengapa Entitas tidak melakukan penyesuaian secara retrospektif.

Ketika perubahan kebijakan Akuntansi terjadi karena penerapan PSAK terbaru maka Entitas
mengungkapkan:
1. Judul PSAK baru.
2. Sifat perubahan standar yang belum berlaku efektif.
3. Tanggal disyaratkannya penerapan PSAK.
4. Tanggal ketika Entitas berencana untuk menerapkan PSAK awal.
5. Pernyataan atau pembahasan mengenai dampak penerapan PSAK atas Laporan
Keuangan.

PERUBAHAN ESTIMASI AKUNTANSI


Pengukuran dalam Laporan Keuangan seringkali tidak secara langsung namun dengan
diestimasi. Estimasi yang digunakan dalam pengukuran Laporan Keuangan adalah estimasi
yang rasional. Beberapa aktivitas yang memerlukan estimasi dalam pengukurannya adalah
sebagai berikut:

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


132

1. Masa manfaat, metode penyusutan dan nilai sisa Aset Tetap dan Aset Tidak Berwujud.
2. Piutang tak tertagih.
3. Liabilitas Provisi.
4. Nilai wajar Aset dan Liabilitas Keuangan.
5. Persediaan yang rusak.
6. Masa manfaat Biaya ditangguhkan.

Estimasi dapat dirubah apabila terjadi perubahan keadaan yang menjadi dasar estimasi
tersebut atau terdapat informasi baru dan perkembangan baru. Perubahan estimasi akuntansi
merupakan penyesuaian jumlah tercatat, jumlah pemakaian, penilaian nilai kini, dan
eskpektasi manfaat masa depan dari Aset dan Liabilitas.

Ketika Entitas melakukan perubahan dalam estimasi Akuntansi, maka perubahan tersebut
diterapkan secara prospektif. Penerapan secara prospektif adalah perubahan tersebut
dilaksanakan mulai pada tahun terjadinya perubahan dan setelahnya, sedangkan untuk
periode-periode sebelumnya tidak diterapkan.

Contoh 2 – Perubahan Estimasi Akuntansi


Entitas membeli sebuah Kendaraan dengan harga Rp 250.000.000,- pada tanggal 1 Januari
2010. Kendaraan tersebut diestimasi memiliki masa manfaat selama 10 tahun. Pada tanggal 1
Januari 2014 Kendaraan telah disusutkan selama 4 tahun, dan masa manfaat tersisa 6 tahun.
Namun karena penggunaan dan perawatan yang baik, Entitas mengestimasi bahwa masa
manfaat Kendaraan tersebut masih tersisa 10 tahun. Sehingga jika diestimasi sejak awal
perolehan maka masa manfaat Kendaraan tersebut adalah 14 tahun. Buatlah perhitungan
ulang terhadap Beban Penyusutan Kendaraan tersebut.

Jawaban 2

𝑅𝑝 250.000.000, −
𝐵𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑃𝑒𝑛𝑦𝑢𝑠𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙 = = 𝑅𝑝 25.000.000, −/𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
10 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛

Harga Perolehan Aset = Rp 250.000.000,-


Akumulasi Penyusutan s.d akhir 2013 (4 x Rp 25.000.000,-) = (Rp 100.000.000,-)
Nilai Buku Aset = Rp 150.000.000,-

Sisa masa manfaat seharusnya adalah 6 tahun.


Beban penyusutan diestimasi ulang dengan masa manfaat tersisa adalah 10 tahun.

𝑅𝑝 150.000.000, −
𝐵𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑃𝑒𝑛𝑦𝑢𝑠𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑒𝑠𝑡𝑖𝑚𝑎𝑠𝑖 𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔 = = 𝑅𝑝 15.000.000, −/𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
10 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛

Dengan penerapan secara prospektif maka Beban Penyusutan Kendaraan sebesar Rp


15.000.000,- per tahun mulai diterapkan di tahun 2014.

Pengungkapan Perubahan Estimasi Akuntansi


Penerapan secara prospektif tidak mewajibkan Entitas untuk menyajikan perubahan dan
dampak kumulatif dari perubahan pada periode sebelumnya. Laporan Keuangan tetap
menyajikan hasil perubahan terbaru pada periode dimana perubahan tersebut terjadi,
sedangkan laporan komparatif tetap menyajikan informasi yang terjadi pada periode
bersangkutan.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


133

Namun perubahan estimasi menyebabkan perubahan nilai, sehingga akan mempengaruhi


daya banding dari Laporan Keuangan. Karena itu perubahan estimasi Akuntansi harus
diungkapkan dalam Laporan Keuangan sehingga pemakai dapat mempertimbangkan
perubahan tersebut dalam melakukan analisis Laporan Keuangan.

KOREKSI KESALAHAN
Kesalahan dapat saja terjadi di dalam penyusunan Laporan Keuangan. Kesalahan tersebut
bisa berupa kesalahan dalam perhitungan matematis, kekeliruan dalam mengelompokkan
transaksi ke dalam akun, kesalahan dalam penerapan kebijakan Akuntansi, kesalahan
intepretasi fakta dan kecurangan, kelalaian dan kesalahan dalam pencatatan.

Kesalahan dalam Laporan Keuangan menyebabkan Laporan Keuangan tersebut tidak sesuai
dengan SAK, baik kesalahan material maupun tidak material, baik disengaja maupun tidak
disengaja. Oleh karena itu kesalahan harus dikoreksi. Adapun jika kesalahan ditemukan pada
periode selanjutnya maka tetap dikoreksi dan dampaknya diterapkan secara retrospektif.

Kesalahan dalam penyusunan Laporan Keuangan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1. Kesalahan yang tidak memerlukan koreksi.
2. Kesalahan yang memerlukan koreksi.

Kesalahan yang tidak memerlukan koreksi


Jenis kesalahan ini yaitu kesalahan yang dapat saling mengoreksi secara otomatis seiring
dengan berlalunya waktu (counterbalancing errors). Kesalahan seperti ini jika diketahui
sebelum Pelaporan Keuangan harus segera dikoreksi, namun jika diketahui setelah Pelaporan
Keuangan tidak perlu dikoreksi karena akan saling mengoreksi secara otomatis.

Contoh 1 – Kesalahan penilaian Persediaan Akhir


Berdasarkan perhitungan fisik Persediaan di akhir periode 2013, ternyata masih terdapat 100
unit barang @Rp 65.000,- yang belum terhitung. Nilai Persediaan akhir terlalu kecil dicatat.
Buatlah koreksi yang diperlukan jika:
1. Kesalahan diketahui sebelum pelaporan keuangan.
2. Kesalahan diketahui setelah pelaporan keuangan.

Jawaban 2

1. Kesalahan diketahui sebelum pelaporan keuangan.


Persediaan akhir terlalu kecil dicatat sebesar Rp 6.500.000,-. Kesalahan tersebut dapat
mengakibatkan:
a. Persediaan barang per 31 Desember 2013 terlalu kecil Rp 6.500.000,- dari yang
semestinya sehingga Harga Pokok Penjualan menjadi terlalu besar dan Laba Bersih
periode 2013 terlalu kecil. Pencatatan Laba Bersih yang terlalu kecil akan berdampak
pada pencatatan Laba Ditahan, dimana Laba Ditahan akan juga terlalu kecil dicatat.
b. Ketika Persediaan akhir periode 2013 dicatat terlalu kecil, maka akan menyebabkan
pencatatan Persediaan awal periode 2014 juga terlalu kecil dicatat, sehingga Laba Bersih
periode 2014 akan terlalu besar dicatat.

Sebelum pelaporan keuangan sebaiknya dilakukan pencatatan koreksi sebagai berikut:

Persediaan Barang Rp 6.500.000,-


Laba Ditahan Rp 6.500.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


134

2. Kesalahan diketahui setelah pelaporan keuangan.


Ketika kesalahan tersebut diketahui setelah pelaporan keuangan, maka tidak perlu
dilakukan koreksi karena di dalam kedua Laporan Keuangan (per 2013 dan per 2014)
terdapat kesalahan yang saling mengoreksi.

Laporan Keuangan Laporan Laba Rugi Laporan Posisi Keuangan


periode
2013 Laba Bersih terlalu kecil Laba Ditahan terlalu kecil
dicatat sebesar Rp 6.500.000,- dicatat sebesar Rp 6.500.000,-
2014 Laba Bersih terlalu besar Laba Ditahan terlalu besar
dicatat sebesar Rp 6.500.000,- dicatat sebesar Rp 6.500.000,-

Contoh 2 – Kesalahan pencatatan Beban dibayar di muka.


Pada tanggal 1 Januari 2013 Entitas membayar Iklan untuk jangka waktu 3 tahun sebesar Rp
30.000.000,-. Pada saat itu Entitas mencatatnya sebagai berikut:

Beban Iklan Rp 30.000.000,-


Kas Rp 30.000.000,-

Pada akhir periode 2013, Entitas belum mencatat penyesuaian terhadap Beban dibayar di
muka tersebut. Buatlah koreksi yang diperlukan atas kelalaian Entitas sebelum pelaporan
keuangan.

Jawaban 2
Kelalaian penyesuaian atas Iklan dibayar di muka akan mengakibatkan:
1. Beban Iklan periode 2013 terlalu besar Rp 10.000.000,-. Dengan Beban yang terlalu besar
maka Laba Bersih periode 2013 akan lebih kecil Rp10.000.000,- dari yang semestinya.
Dengan Laba Bersih terlalu kecil maka Laba Ditahan juga akan terlalu kecil dari yang
semestinya.
2. Karena pembebanan Iklan telah dilakukan seluruhnya pada periode 2013, maka Beban
Iklan pada periode 2014 terlalu kecil dari yang semestinya. Dengan Beban Iklan yang
terlalu kecil mengakibatkan Laba Bersih terlalu besar, dan berpengaruh pula terhadap
Laba Ditahan periode 2014.

Sebelum pelaporan keuangan sebaiknya dilakukan pencatatan koreksi sebagai berikut:

Beban Iklan Rp 10.000.000,-


Laba Ditahan Rp 10.000.000,-

Contoh 3 – Kesalahan pencatatan Penjualan.


Penjualan kredit periode 2013 belum dicatat sebesar Rp 500.000.000,- sedangkan
perhitungan Persediaan akhir sudah benar. Transaksi penjualan kredit tersebut baru dicatat
oleh Entitas pada tanggal 17 Januari 2014 sebagai berikut:

Piutang Dagang Rp 500.000.000,-


Penjualan Rp 500.000.000,-

Buatlah koreksi yang diperlukan.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


135

Jawaban 3

Kesalahan pencatatan Penjualan kredit pada periode yang tidak tepat akan mengakibatkan:
1. Laba Bersih periode 2013 terlalu kecil Rp 500.000.000,- karena Penjualan kredit pada
periode 2013 belum dicatat. Karena Laba Bersih terlalu kecil maka Laba Ditahan juga
akan terlalu kecil dari yang semestinya.
2. Laba Bersih periode 2014 terlalu besar Rp 500.000.000,- karena Penjualan kredit pada
periode 2013 dicatat pada periode 2014. Oleh sebab itu Laba Ditahan akan terlalu besar
dicatat dari yang semestinya.

Sebelum pelaporan keuangan 2014 sebaiknya dilakukan pencatatan koreksi sebagai berikut:

Penjualan Rp 500.000.000,-
Piutang Dagang Rp 500.000.000,-

Kesalahan yang memerlukan koreksi.


Kesalahan yang tidak dapat megoreksi secara otomatis dengan berlalunya waktu memerlukan
koreksi. Koreksi tersebut dilakukan dengan:
1. Membuat satu jurnal koreksi yaitu membuat pembetulan terhadap jumlah yang salah.
2. Membuat dua jurnal koreksi yaitu jurnal pertama adalah jurnal pembalik dan jurnal kedua
adalah jurnal yang semestinya dibuat terhadap transaksi tersebut.

Contoh 4
Pada tanggal 2 Oktober 2013 dibeli Peralatan Kantor sebesar Rp 2.500.000,- dan
Perlengkapan sebesar Rp 250.000,- secara tunai. Transaksi tersebut dicatat oleh Entitas
sebagai berikut:

2 Oktober 2013
Perlengkapan Rp 2.500.000,-
Peralatan Kantor Rp 250.000,-
Kas Rp 2.750.000,-

Kesalahan demikian menyebabkan pencatatan terlalu besar untuk Perlengkapan sebesar Rp


2.250.000,- dan pencatatan terlalu kecil untuk Peralatan Kantor Rp 2.250.000,-. Buatlah
koreksi yang diperlukan.

Jawaban 4
1. Dengan satu jurnal.
Peralatan Kantor Rp 2.250.000,-
Perlengkapan Rp 2.250.000,-

2. Dengan dua jurnal


Kas Rp 2.750.000,-
Pelengkapan Rp 2.500.000,-
Peralatan Kantor Rp 250.000,-

Perlengkapan Rp 250.000,-
Peralatan Kantor Rp 2.500.000,-
Kas Rp2.750.000,-

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


136

Soal Latihan – Perubahan Kebijakan dan Estimasi Akuntansi dan Koreksi Kesalahan.

Soal 1
Entitas membeli sebuah Mesin dengan harga Rp 500.000.000,- pada tanggal 1 Januari 2011.
Mesin tersebut memiliki masa manfaat selama 4 tahun dan disusutkan dengan metode Saldo
Menurun Ganda. Pada tanggal 1 Januari 2012 Entitas mengubah metode Penyusutan dengan
metode Garis Lurus. Buatlah perhitungan ulang terhadap Penyusutan Mesin tersebut.

Soal 2
Pada tanggal 1 Januari 2013 telah diterima pembayaran Sewa untuk masa 3 tahun sejumlah
Rp 60.000.000,-. Transaksi tersebut telah dicatat sebagai berikut:

Kas Rp 60.000.000,-
Pendapatan Sewa Rp 60.000.000,-

Namun Entitas belum mencatat penyesuaian atas Pendapatan diterima di muka tersebut di
akhir 2013. Sebelum pelaporan keuangan dilakukan, buatlah koreksi yang diperlukan.

Soal 3
Pembelian Persediaan pada periode 2013 dicatat terlalu besar Rp 250.000.000,-. Adapun
Pembelian tersebut dikurangkan pada periode 2014. Buatlah koreksi yang diperlukan.

Soal 4
Pada akhir periode 2013 terdapat Biaya Gaji yang belum dibayarkan sebesar Rp 7.000.000,-
yang lalai belum dibuatkan penyesuaiannya. Biaya Gaji tersebut dibayarkan pada periode
2014 dan dibuatkan jurnalnya sebagai berikut:

Biaya Gaji Rp 7.000.000,-


Kas Rp 7.000.000,-

Buatlah koreksi yang diperlukan.

Soal 5
Pada tanggal 1 Januari 2013 Entitas membayar Sewa untuk jangka waktu 5 tahun sebesar Rp
150.000.000,-. Pada saat itu Entitas mencatatnya sebagai berikut:

Beban Sewa Rp 150.000.000,-


Kas Rp 150.000.000,-

Pada akhir periode 2013, Entitas belum mencatat penyesuaian terhadap Beban dibayar di
muka tersebut. Buatlah koreksi yang diperlukan atas kelalaian Entitas sebelum pelaporan
keuangan.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


137

Tugas – Perubahan Kebijakan, Estimasi dan Koreksi Kesalahan Akuntansi.

Berikut ini merupakan Neraca Saldo dari PT Mekar Jaya per 31 Desember 2013

PT MEKAR JAYA
Neraca Saldo
Per 31 Desember 2013
Kas Rp 15.000.000,-
Piutang Dagang 23.000.000,-
Persediaan Barang Dagangan 37.000.000,-
Aset Tetap 100.000.000,-
Akumulasi Penyusutan Aset Tetap Rp15.000.000,-
Utang Dagang 17.000.000,-
Utang Wesel 50.000.000,-
Modal Saham 125.000.000,-
Laba Ditahan 20.000.000,-
Penjualan 23.000.000,-
Pembelian 17.000.000,-
Harga Pokok Penjualan 20.000.000,-
Biaya Administrasi dan Umum 38.000.000,-
Total Rp 250.000.000,- Rp 250.000.000,-

Berikut ini merupakan informasi sebelum pelaporan keuangan:


1. Terdapat Biaya Gaji periode 2012 sebesar Rp 7.000.000,- yang belum dibayarkan dan
belum dicatat dalam jurnal penyesuaian. Gaji tersebut dibayarkan di periode 2013 pada
tanggal 5 Februari 2013 dengan pencatatan:

Biaya Administrasi dan Umum Rp 7.000.000,-


Kas Rp 7.000.000,-

2. Penjualan tunai tanggal 8 September 2013 senilai Rp 15.000.000,- belum dicatat.


3. Penilaian Persediaan Akhir dilakukan ulang dan ternyata pencatatan Persediaan terlalu
kecil Rp 5.500.000,-.
4. Utang Dagang sebesar Rp 6.000.000,-telah dicatat sebagai Utang Wesel.
5. Pembayaran Asuransi pada tanggal 5 Agustus 2012 sebesar Rp 24.000.000,- adalah untuk
3 tahun, belum dibuatkan jurnal penyesuaian pada periode 2012. Sedangkan pada periode
2013 dicatat:

Beban Administrasi dan Umum Rp 6.000.000,-


Kas Rp 6.000.000,-

Diminta:
Buatlah koreksi yang diperlukan pada kesalahan-kesalahan tersebut.

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi


138

Akuntansi Keuangan Menengah II Hayuningtyas Pramesti Dewi