Sie sind auf Seite 1von 36

Laporan Kasus

Benign Prostat Hiperplasia (BPH)

Diajukan Oleh :
Widjayanti, S.Ked

Pembimbing :
dr. Silman Hadori, Sp. Rad, M.H Kes

KEPANITRAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
RS. PERTAMINA BINTANG AMIN BANDAR LAMPUNG
2017

0
BAB I

PENDAHULUAN

Hyperplasia prostat jinak (benign prostat hyperplasia, BPH) merupakan

kelainan pembesaran kelenjar yaitu hiperplasia yang mendesak jaringan asli

keporifer. Pada pasien BPH usia lanjut sangat memerlukan tindakan yang tepat

untuk mengantisipasinya. Sebagai salah satu tindakan yang akan dilakukan

adalah dengan operasi prostat atau prostatektomi untuk mengangkat

pembesaran prostat. Dari pengangkatan prostat, pasien harus dirawat inap sampai

keadaannya membaik, guna mencegah komplikasi lebih lanjut. (Suwandi, 2007)

Menurut Silva (2007), BPH dianggap menjadi bagian dari proses

penuaan yang normal. Walaupun demikian, jika menimbulkan gejala yang berat

dan tidak segera ditangani dapat menimbulkan komplikasi yang mungkin

terjadi pada penderita BPH yang dibiarkan tanpa pengobatan adalah

pembentukan batu vesika akibat selalu terdapat sisa urin setelah buang air kecil,

sehingga terjadi pengendapan batu. Bila tekanan intra vesika yang selalu

tinggi tersebut diteruskan ke ureter dan ginjal, akan terjadi hidroureter dan

hidronefrosis yang akan mengakibatkan penurunan fungsi ginjal.

Di Dunia, dapat dilihat kadar insidensi BPH, pada usia 40-an,

kemungkinan seseorang itu menderita penyakit ini adalah sebesar 40%, dan

setelah meningkatnya usia 60 hingga 70 tahun, persentasenya meningkat

menjadi 50% dan diatas 70 tahun, persen untuk mendapatkannya bisa

1
sehingga 90%. Sedangkan hasil penelitian di Amerika 20% penderita BPH terjadi

pada usia 41-50 tahun, 50% terjadi pada usia 51-60 tahun dan 90% terjadi pada

usia 80 tahun (Johan, 2005).

Di Indonesia pada usia lanjut, beberapa pria mengalami pembesaran

prostat benigna. Keadaan ini di alami oleh 50% pria yang berusia 60 tahun dan

kurang lebih 80% pria yang berusia 80 tahun (Nursalam dan Fransisca, 2006).

2
BAB II

LAPORAN KASUS

I. IDENTIFIKASI PASIEN

MR : 11.47.00

Nama lengkap : Tn. D

Jenis kelamin : Laki-laki

Tempat Tanggal Lahir : Lampung, 24-02-1927

Umur : 91 tahun

Status perkawinan : Menikah

Agama : Islam

Pekerjaan :-

Pendidikan : SD

Alamat : Sumber agung tanjung iman, Lampung Selatan

II. ANAMNESIS

Diambil dari : Autoanamnesa dan Alloanamnesa

MRS : 15 November 2018

Jam : 11:20 WIB

Keluhan utama : Sulit BAK sejak ± 2 bulan yang lalu

Keluhan tambahan : Nyeri saat BAK (+), BAK tidak tuntas (+),pancaran urin
menetes (+), pusing (+).

3
III. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Sejak ± 2 bulan yang lalu Os merasa sulit untuk BAK. Os juga mengeluh

saat BAK Os membutuhkan waktu sekitar 3-5 menit. Os juga harus

mengedan agar air kencing keluar. Os mengatakan pancaran air saat kencing

mulai melemah, terputus-putus dan lalu menetes.

Sejak ±10 hari yang lalu Os mengaku BAK semakin sulit dan mulai

merasa nyeri saat BAK. Pacaran air saat BAK juga hanya menetes dan pasien

juga mengeluhkan BAK merasa tidak lampias dan merasa masih ada sisa air

kencing di kandung kencing pasien.

Sebelumnya Os sudah pernah operasi BPH pada tahun 2003 dan 2008 di

RSUD Abdul Moeloek, Os juga mengaku 1 bulan lalu melakukan operasi

hernia inguinalis lateralis di RSPBA.

Riwayat kencing berdarah disangkal, kencing berpasir atau batu

disangkal, kencing bernanah disangkal, riwayat trauma pada saluran kencing

disangkal, nyeri pinggang disangkal, demam disangkal, penurunan berat

badan yang drastis disangkal. Susah buang air besar (BAB) dan BAB

berdarah juga disangkal oleh Os.

IV. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

√ Cacar - Malaria - Batu ginjal/saluran kemih

- Cacar air - Disentri √ Hernia


- Difteri - Hepatitis √ Penyakit prostat
- Batuk rejan - Tifus abdomen - Wasir

4
√ Campak - Hipotensi - Diabetes
√ Influenza - Sifilis - Alergi
- Tonsilitis - Gonore - Tumor
- Kholera √ Hipertensi - Penyakit Jantung
Demam rematik Ulkus
- - - Asma Bronkhial
akut ventrikulus
- Pneumonia - Ulkus duodeni - Gagal Ginjal Kronik
- Pleuritis - Gastritis - Sirosis Hepatis
- Tuberkulosis - Batu empedu

V. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

Keadaan
Hubungan Diagnosa Penyebab Meninggal
Kesehatan
Kakek - - -
Nenek - - -
Ayah - - -
Ibu - - -
Saudara - - -
Anak-anak - - -

VI. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan Umum

Keadaan umum : tampak sakit sedang

Kesadaran : compos mentis

GCS : E4V5M6

Tekanan darah : 140/80 mmHg

Nadi : 86 x/menit

Suhu : 36,7⁰C

Pernapasan : 20 x/menit

5
VII. STATUS GENERALIS

1 Kulit : Warna kulit sawo matang, tidak ikterik, tidak sianosis, turgor
kulit cukup, capilary refill kurang dari 2 detik dan teraba hangat.
2 Kepala : Normosefali, rambut berwarna hitam distribusi merata
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), RCL +/+,
RCTL +/+, pupil isokor 3mm/3mm
Hidung : Deformitas (-), nyeri tekan (-), krepitasi (-),
deviasi septum (-), sekret (-/-)
Telinga : Normotia (+/+), nyeri tekan (-/-), nyeri tarik (-/-),
sekret (-/-)
Mulut : Sudur bibir kanan turun, kering (-), sianosis (-),
lidah sedikit mencong ke kanan
Tenggorokan: Trismus (-); arkus faring simetris, hiperemis (-);
uvula di tengah
Pemeriksaan Leher
Inspeksi : Tidak terdapat tanda trauma maupun massa
Palpasi : Tidak terdapat pembesaran KGB maupun kelenjar tiroid,
tidak terdapat deviasi trakea
Pemeriksaan Toraks
Jantung
Inspeksi : Tidak tampak iktus kordis
Palpasi : Iktus kordis teraba di ICS V linea axila mediana sinistra

Perkusi :
Batas atas : ICS II garis parasternal sinsitra
Batas kiri : ICS V garis midklavikula sinistra
Batas kanan : ICS V garis parasternal dekstra
Auskultasi: Bunyi jantung I dan II regular, murmur (-), gallop (-)

6
Paru

Depan Belakang
Inspeksi Kanan
Kiri Simetris dalam statis dan dinamis
Palpasi Kanan
Kiri Vocal fremitus normal kanan dan
kiri
Perkusi Kanan Sonor Sonor
Kiri Sonor Sonor
Auskultasi Kanan
Kiri Rh (-/-)
Wh(-/-)

Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : Perut datar, massa (-), pulsasi abnormal (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi : Timpani pada seluruh lapang abdomen
Palpasi : Supel, hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan simpisis
pubis (-), nyeri ketok CVA (-)
Pemeriksaan Ekstremitas
Ekstremitas superior dextra dan sinistra:
Oedem ( - ), Deformitas (-)
Bengkak (-), Sianosis (-)
Ekstremitas inferior dextra dan sinistra:
Oedem (-), Deformitas (-)
Bengkak (-), Sianosis (-)

7
VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG

A. Laboratorium : 15 November 2018

HEMATOLOGI

PEMERIKSAAN HASIL NORMAL


Lk: 14-18 gr%
Hemoglobin 10,3
Wn: 12-16 gr%
Leukosit 5.600 4500-10.700 ul
Hitung jenis leukosit
 Basofil 0 0-1 %
 Eosinofil 0 1-3%
 Batang 1 2-6 %
 Segmen 65 50-70 %
 Limposit 31 20-40 %
 Monosit 3 2-8 %
Lk: 4.6- 6.2 ul
Eritrosit 3,6
Wn: 4.2- 5,4 ul
Lk: 40-54 %
Hematokrit 31
Wn: 38-47 %
Trombosit 169.000 159-400 ul
MCV 89 80-96
MCH 29 27-31 pg
MCHC 32 32-36 g/dl

HEMATOLOGI

PEMERIKSAAN HASIL NORMAL

CT (Masa Pembekuan) 14 9-15 menit

BT (Masa Perdarahan) 4 1-7 menit

IMUNOLOGI

PEMERIKSAAN HASIL NORMAL

HBsAg Non – reaktif (-)

8
HEMATOLOGI

PEMERIKSAAN HASIL NORMAL

Gula Darah Sewaktu 71 < 200mg/dl

Urea 35 10-50mg/dl

Creatinin 0,7 Lk 0,6-1,1 Wn 0,5-


0,9mg/dl

B. Ekspertise Pemeriksaan USG Lower Abdomen

9
Ginjal kanan :

Besar dan bentuk normal, kontur normal, parenkim normal, intensitas

gema normal, batas tekstur parenkim dengan central echo-complex

normal, tidak tampak bayangan hiperechoic dengan acustic shadow,

tidak tampak massa, sistem pelvokalises tidak melebar.

10
Ginjal kiri :

Besar dan bentuk normal, kontur normal, parenkim normal, intensitas

gema normal, batas tekstur parenkim dengan central echo-complex

normal, tidak tampak bayangan hiperechoic dengan acustic shadow,

tidak tampak massa, sistem pelvokalises tidak melebar.

Vesika Urinaria :

Besar dan bentuk normal, dinding menebal (±0,64cm), irregular, tampak

bayangan hiperechoic dengan acustic shadow, multipl (2bh), diameter

±1,52cm dan ±0,64cm, tidak tampak massa, tampak balon kateter di

intra luminal.

Prostat :

Tampak membesar, ukuran ±5,26 x 4,47 x 5,14 cm, Vol: ±63,35 ml,

tekstur homogeny halus, tidak tampak massa/kalsifikasi.

Kesan :

 Pelvokaliektasis ginjal bilateral

 Cystitis disertai multiple vesicolithiasis

 Pembesaran prostate ec. BPH

11
C. Ekspertise Pemeriksaan Thorax AP

Radiografi asimetris

Posisi trakea masih di tengah

Mediastinum superior tidak melebar

Jantung tampak membesar ke lateral kiri dengan apex tertanam pada diafragma,

pinggang jantung normal (CTR >50 %)

Aorta masih tampak normal

Sinus costophrenicus dan cardiophrenicus kiri kabur

Sinus costophrenicus dan cardiophrenicus kanan dan diafragma kiri normal

diafragma kanan bulging

Skletal : Scoliosis vertebra thoracalis

12
Pulmo :

- Hilus kanan dan kiri normal


- Corakan bronkovaskuler meningkat
- Tampak suspek perselubungan opak homogeny tipis di hemithorax kiri

bawah
- Kranialisasi (-)

KESAN :

 Kardiomegali (LV) tanpa bendungan paru


 Suspek effusi
 Scoliosis vertebra thoracalis

C. Ekspertise Pemeriksaan BNO

- Pre- peritoneal fat normal


- Psoas line normal
- Kontur ginjal kanan dan kiri tidak jelas
- Gambaran udara dalam gaster normal
- Tidak ada gambaran udara pada usus halus
- Distribusi udara dalam colon normal dengan fecal material di dalamnya

13
- Tampak kongkramen opak bulat multiple di rongga pelvis kanan tengah

dan bawah
- Skletal : Scoliosis dan osteofit pada endplate corpora vertebra lumbalis
KESAN :
 Multiple vesicolithiasis
 Scoliosis dan osteofit a/r endplate corpora vertebra lumbalis
 Tidak ada gambaran ileus

X. RESUME

Laki-laki 91 tahun mengeluh Sejak ± 2 bulan yang lalu merasa sulit

untuk BAK. Os juga mengeluh saat BAK Os membutuhkan waktu sekitar 3-5

menit. Os juga harus mengedan agar air kencing keluar. Os mengatakan

pancaran air saat kencing mulai melemah, terputus-putus dan lalu menetes.

Sejak ±10 hari yang lalu Os mengaku BAK semakin sulit dan mulai

merasa nyeri saat BAK. Pacaran air saat BAK juga hanya menetes dan pasien

juga mengeluhkan BAK merasa tidak lampias dan merasa masih ada sisa air

kencing di kandung kencing pasien.

Sebelumnya Os sudah pernah operasi BPH pada tahun 2003 dan 2008 di

RSUD Abdul Moeloek, Os juga mengaku 1 bulan lalu melakukan operasi

hernia inguinalis lateralis di RSPBA.

Riwayat kencing berdarah disangkal, kencing berpasir atau batu

disangkal, kencing bernanah disangkal, riwayat trauma pada saluran kencing

disangkal, nyeri pinggang disangkal, demam disangkal, penurunan berat

badan yang drastis disangkal. Susah buang air besar (BAB) dan BAB

berdarah juga disangkal oleh Os, nyeri ketok CVA (-).

14
XI. DIAGNOSIS KERJA

Benign prostat hyperplasia (BPH)

XII. DIAGNOSIS BANDING

 Nefrolithiasis

XIII. PENATALAKSANAAN

Non Farmakologis

 Istirahat

Farmakologis
- Keterolac 1 amp (drip)
- Ceftriaxone 1gr/12jam
- Harnal tab 1 x 1
- Captopril 2 x 25mg

XIV. PROGNOSIS

Quo ad vitam : dubia ad bonam


Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad Sanactionam : dubia ad bonam

BAB III

ANALISA KASUS

ANAMNESA :

Nyeri perut bawah dan Sulit BAK sejak 6 bulan yang lalu. Os juga harus

mengedan agar air kencing keluar. Os mengatakan pancaran air kencing Os mulai

15
melemah, terputus-putus dan lalu menetes. Os juga mengeluhkan buang air kecil

merasa tidak lampias dan merasa masih ada sisa air kencing.

TEORI :

Karena hiperplasia nodular terutama mengenai bagian dalam prostat,

manifestasinya yang tersering adalah gejala obstruksi saluran kemih bawah.

Gejala ini mencakup kesulitan memulai aliran urin (hesitancy) dan interupsi

intermiten aliran urin sewaktu berkemih. Pada beberapa pasien dapat terjadi

obstruksi total aliran kemih yang menyebabkan peregangan kandung kemih yang

nyeri dan kadang-kadang hidronefrosis. Gejala obstruksi sering disertai oleh

urgency, frequency, dan nokturia, yang semuanya menunjukan iritasi kandung

kemih. Kombinasi urin residual di kandung kemih dan obstruksi kronis

meningkatkan resiko infeksi saluran kemih.

Pada kasus pasien berusia 72 tahun dengan bertambahnya usia, akan terjadi

kelemahan umum termasuk kelemahan pada buli (otot detrusor) dan penurunan

fungsi persarafan. Perubahan karena pengaruh usia tua menurunkan kemampuan

buli-buli dalam mempertahankan aliran urin pada proses adaptasi oleh adanya

obstruksi karena pembesaran prostat. Testis menghasilkan beberapa hormon seks

pria, yang secara keseluruhan dinamakan androgen. Hormon tersebut mencakup

testosteron, dihidrotestosteron dan androstenesdion. Kadar testosteron mulai

menurun secara perlahan pada usia 30 tahun dan turun lebih cepat pada usia 60

tahun keatas.

Pada pemeriksaan penunjang :

16
1. Laboratorium : hemoglobin, leukosit, eritrosit, trombosit normal

2. USG didapatkan :

Prostat tampak membesar, ukuran ±4,76 x 3,99 x 3,89 cm, Vol: ±38,3 ml, tidak

tampak massa/kalsifikasi

BAB IV

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)


2.1.1 Anatomi Prostat

Berat prostat pada orang dewasa normal kira-kira 20 gram. Prostat

terletak retroperitoneal, melingkar leher kandung kemih dan urethra serta

17
dipisahkan dari alat-alat tubuh yang dilingkarinya ini oleh suatu simpai.

Mula-mula prostat terdiri atas 5 lobus yakni lobus posterior, medius,

anterior dan 2 buah lobus lateralis, tetapi selama perkembangan

selanjutnya ketiga lobus anterior, medius dan posterior bersatu dan disebut

lobus medius saja. Pada penampang, lobus medius kadang-kadang tidak

tampak karena terlalu kecil dan lobus lain-lain tampak homogen berwarna

keabu-abuan, dengan kista kecil-kecil berisi cairan seperti susu. Kista-kista

ini ialah kelenjar-kelenjar prostat ( Patologi UI ).

Gambar 2.1 Prostat Normal (Robbins, 2007)

2.1.2 Fisiologi Prostat


Prostat ialah suatu alat tubuh yang bergantung kepada pengaruh

endokrin dan dapat dianggap imbangan (counterpart) dari pada payudara

pada wanita.
Pengetahuan mengenai sifat endokrin ini masih belum pasti, tetapi

jelas bahwa pengembirian menyebabkan kelenjar prostat mengecil. Pada

binatang percobaan ternyata apabila kelenjar hipofisis diangkat, maka

18
prostat akan mengecil dan atrofi ini dapat dicegah dengan pemberian

testosteron. Jadi prostat di pengaruhi oleh hormon androgen.


Percobaan selanjutnya menunjukkan bahwa prostat akan membesar

setelah pemberian estrogen pada binatang yang dikebiri. Tenyata bagian

yang peka terhadap estrogen ialah bagian tengah sedangkan bagian tepi

peka terhadap androgen. Karena itu pada orang tua bagian tengahlah yang

mengalami hiperplasia, yaitu disebabkan ekskresi androgen berkurang

sehingga estrogen bertambah relatif atau absolut. Sel-sel epitel kelenjar

prostat dapat membentuk enzim fosfatase asam yang paling aktif bekerja

pada pH 5. Enzim ini sangat sedikit sehingga tidak dapat di ukur dalam

darah. Pada neoplasma prostat pembentukan enzim cukup banyak,

sehingga dapat diukur dalam darah (Patologi UI).

2.1.3 Definisi Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Benign hyperplasia prostat (BPH) merupakan kelainan yang sering

ditemukan. Istilah hipertrofi sebenarnya kurang tepat karena yang terjadi

sebenarnya ialah hiperplasia kelenjar periuretral yang mendesak jaringan

prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah (Sjamsuhidajat, De

Jong, 2012).
Prostat normal terdiri dari elemen kelenjar dan stroma yang

mengelilingi uretra. Parenkim prostat dapat dibagi menjadi beberapa regio

yang secara biologis berbeda, yang terpenting adalah zona perifer, sentral,

transisional dan periuretra. Jenis lesi proliferatif pada setiap regio berbeda.

Sebagai contoh, sebagian besar lesi hiperplastik terjadi di zona sentral dan

19
transisional dalam prostat, sedangkan sebagian besar karsinoma (70%

hingga 80%) timbul di zona perifer (Robbins, 2007).


BPH adalah pertumbuhan berlebihan sel-sel prostat yang tidak

ganas. BPH kadang tidak menimbulkan gejala, tetapi jika tumor ini terus

berkembang, pada akhirnya akan mendesak uretra yang mengakibatkan

rasa tidak nyaman pada penderita.

Gambar 2.2. Aliran Urin Yang Normal (NKUDIC, 2006).

Gambar 2.3. Aliran Urin Yang Normal (NKUDIC, 2006).

2.1.4 Epidemiologi BPH

20
BPH menjadi masalah global pada pria usia lanjut. Di dunia, hampir 30

juta pria menderita BPH. Pada usia 40 tahun sekitar 40%, usia 60-70 tahun

meningkat menjadi 50% dan usia lebih dari 70 tahun mencapai 90%.

Diperkirakan sebanyak 60% pria usia lebih dari 80 tahun memberikan

gejala Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS). Di Amerika Serikat,

hampir 14 juta pria menderita BPH. Prevalensi dan kejadian BPH di

Amerika Serikat terus meningkat pada tahun 1994-2000 dan tahun 1998-

2007. Peningkatan jumlah insiden ini akan terus berlangsung sampai

beberapa dekade mendatang ( Parsons, 2010, Girman, 1998 ).

Di Indonesia, BPH merupakan penyakit tersering kedua setelah

batu saluran kemih. Diperkirakan sekitar 5 juta pria usia diatas 60 tahun

menderita LUTS oleh karena BPH. Di RSCM ditemukan 423 kasus BPH

pada tahun 1994-1997 dan RS Sumber Waras ditemukan sebanyak 617

kasus pada tahun yang sama. BPH merupakan masalah serius yang harus

diperhatikan karena dapat mempengaruhi kualitas hidup pada pria usia

lanjut (Wei dkk, 2005, Verhame dkk, 2002).

2.1.5 Tanda dan Gejala BPH


Gejala klinis BPH terjadi pada hanya sekitar 10% laki-laki yang

mengidap kelainan ini. Karena hiperplasia nodular terutama mengenai

bagian dalam prostat, manifestasinya yang tersering adalah gejala

obstruksi saluran kemih bawah. Gejala ini mencakup kesulitan memulai

aliran urin (hesitancy) dan interupsi intermiten aliran urin sewaktu

21
berkemih. Pada beberapa pasien dapat terjadi obstruksi total aliran kemih

yang menyebabkan peregangan kandung kemih yang nyeri dan kadang-

kadang hidronefrosis. Gejala obstruksi sering disertai oleh urgency,

frequency, dan nokturia, yang semuanya menunjukan iritasi kandung

kemih. Kombinasi urin residual di kandung kemih dan obstruksi kronis

meningkatkan resiko infeksi saluran kemih (Robbins, 2007).


Pada pemeriksaan colok dubur dapat memberi kesan keadaan tonus

sfingter anus, mukosa rektum, kelainan lain seperti benjolan didalam

rektum dan prostat. Pada perabaan melalui colok dubur, harus diperhatikan

konsistensi prostat (pada pembesaran prostat jinak konsistensinya kenyal),

apakah asimetris, adakah nodul pada prostat, apakah batas atas dapat

diraba. Derajat berat obstruksi dapat diukur dengan menentukan jumlah

sisa urin setelah miksi spontan. Sisa urin ditentukan dengan mengukur urin

yang masih dapat keluar dengan kateterisasi. Sisa urin dapat pula diketahui

dengan melakukan ultrasonografi kandung kemih setelah miksi. Sisa urin

lebih dari 100cc biasanya dianggap sebagai batas untuk indikasi

melakukan intervensi pada hiperplasia prostat (Sjamsuhidajat, De Jong,

2012).

2.1.6 Etiologi BPH


Penyebab BPH belum jelas. Beberapa teori telah dikemukakan

berdasarkan faktor histologi, hormon dan faktor perubahan usia, di

antaranya:
a. Teori DHT (dihidrotestosteron): testosteron dengan bantuan

enzim 5- a reduktase diubah menjadi DHT yang merangsang

pertumbuhan kelenjar prostat.

22
b. Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron: estrogen

berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel prostat,

rangsangan terbentuknya sel-sel baru akibat rangsangan

testosteron menurun, tetapi sel-sel prostat yang telah ada

mempunyai umur yang lebih panjang sehingga massa prostat

jadi lebih besar.


c. Teori interaksi stroma-epitel: setelah sel-sel stroma

mendapatkan stimulasi dari DHT dan estradiol, sel-sel stroma

mensintesis suatu growth factors yang selanjutnya

mempengaruhi sel-sel stroma itu sendiri secara intakrin dan

autokrin, serta mempengaruhi sel-sel epitel secara parakrin.

Stimulasi itu menyebabkan terjadinya proliferasi sel-sel epitel

maupun sel stroma.


d. Berkurangnya kematian sel prostat. Pada jaringan normal,

terdapat keseimbangan antara laju proliferasi sel dengan

kematian sel. Pada saat terjadi pertumbuhan prostat sampai

pada prostat dewasa, penambahan jumlah sel-sel prostat baru

dengan yang mati dalam keadaan seimbang. Berkurangnya

jumlah sel-sel prostat yang mengalami apoptosis menyebabkan

jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan menjadi meningkat

sehingga menyebabkan pertambahan massa prostat.


e. Teori sel stem. Untuk menggantikan sel-sel yang telah

mengalami apoptosis, selalu dibentuk sel-sel baru. Di dalam

kelenjar prostat dikenal suatu sel stem, yaitu sel yang

mempunyai kemampuan berproliferasi sangat ekstensif.

23
Kehidupan sel ini sangat tergantung pada keberadaan hormon

androgen, sehingga jika hormon ini kadarnya menurun dapat

menyebabkan terjadinya apoptosis. Terjadinya proliferasi sel-

sel pada BPH dipostulasikan sebagai ketidaktepatan aktivitas

sel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel stroma

maupun sel epitel (Purnomo, 2014).

Namun demikian, diyakini ada 2 faktor penting untuk terjadinya

BPH, yaitu adanya dihidrotestosteron (DHT) dan proses penuaan. Pada

pasien dengan kelainan kongenital berupa defisiensi 5- a reduktase, yaitu

enzim yang mengkonversi testosteron ke DHT, kadar serum DHT-nya

rendah, sehingga prostat tidak membesar. Sedangkan pada proses penuaan,

kadar testosteron serum menurun disertai meningkatnya konversi

testosteron menjadi estrogen pada jaringan periperal. Tindakan kastrasi

sebelum masa pubertas dapat mencegah pembesaran prostat benigna.

Penderita dengan kelainan genetik pada fungsi androgen juga mempunyai

gangguan pertumbuhan prostat. Dalam hal ini, barangkali androgen

diperlukan untuk memulai proses BPH, tetapi tidak dalam hal proses

pemeliharaan. Estrogen berperan dalam proses pembesaran stroma yang

selanjutnya merangsang pembesaran epitel (Purnomo B, 2014).

2.1.7 Faktor-faktor Resiko BPH


Faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya BPH adalah :
1. Kadar Hormon

24
Kadar hormon testosteron yang tinggi berhubungan dengan

peningkatan risiko BPH. Testosteron akan diubah menjadi

androgen yang lebih poten yaitu dihydrotestosteron (DHT)

oleh enzim 5a-reductase, yang memegang peran penting

dalam proses pertumbuhan sel-sel prostat(Sjamsuhidajat, De

Jong, 2012).
2. Usia

Pada usia tua terjadi kelemahan umum termasuk kelemahan

pada buli (otot detrusor) dan penurunan fungsi persarafan.

Perubahan karena pengaruh usia tua menurunkan kemampuan

buli-buli dalam mempertahankan aliran urin pada proses

adaptasi oleh adanya obstruksi karena pembesaran prostat,

sehingga menimbulkan gejala ( Rahardjo D, 2003).

Testis menghasilkan beberapa hormon seks pria, yang

secara keseluruhan dinamakan androgen. Hormon tersebut

mencakup testosteron, dihidrotestosteron dan androstenesdion.

Testosteron sebagian besar dikonversikan oleh enzim 5-alfa-

reduktase menjadi dihidrotestosteron. Sesuai dengan

pertambahan usia, kadar testosteron mulai menurun secara

perlahan pada usia 30 tahun dan turun lebih cepat pada usia 60

tahun keatas. Laki-laki yang memiliki usia ≥ 50 tahun

memiliki risiko lebih tinggi dibanding dengan laki-laki yang

berusia < 50 tahun (Roehrborn, 2012).

25
3. Ras
Orang dari ras kulit hitam memiliki risiko 2 kali lebih besar

untuk terjadi BPH dibanding ras lain. Orang-orang Asia

memiliki insidensi BPH paling rendah (Roehrborn, 2012).


4. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga pada penderita BPH dapat meningkatkan

risiko terjadinya kondisi yang sama pada anggota keluarga

yang lain. Semakin banyak anggota keluarga yang mengidap

penyakit ini, semakin besar risiko anggota keluarga yang lain

untuk dapat terkena BPH. Bila satu anggota keluarga mengidap

penyakit ini, maka risiko meningkat 2 kali bagi yang lain. Bila

2 anggota keluarga, maka risiko meningkat menjadi 2-5 kali

(Roehrborn, 2012).
5. Obesitas

Obesitas akan membuat gangguan pada prostat dan

kemampuan seksual, tipe bentuk tubuh yang mengganggu

prostat adalah tipe bentuk tubuh yang membesar di bagian

pinggang dengan perut buncit, seperti buah apel. Beban di

perut itulah yang menekan otot organ seksual, sehingga lama-

lama organ seksual kehilangan kelenturannya, selain itu

deposit lemak berlebihan juga akan mengganggu kinerja testis.

Pada obesitas terjadi peningkatan kadar estrogen yang

berpengaruh terhadap pembentukan BPH melalui peningkatan

sensitisasi prostat terhadap androgen dan menghambat proses

kematian sel-sel kelenjar prostat. Pola obesitas pada laki-laki

26
biasanya berupa penimbunan lemak pada abdomen. Salah satu

cara pengukuran untuk memperkirakan lemak tubuh adalah

teknik indirek, di antaranya yang banyak dipakai adalah Body

Mass Indeks (BMI). BMI diukur dengan cara berat badan (kg)

dibagi dengan kuadrat tinggi badan (m). Interpretasinya

(WHO) adalah overweight (BMI 25-29,9 kg/m2) dan obesitas

(BMI > 30 kg/m2). Pengukuran BMI mudah dilakukan, murah

dan mempunyai akurasi tinggi. (Walsh, Patrick C, 2003)

6. Pola Diet
Kekurangan mineral penting seperti seng, tembaga,

selenium berpengaruh pada fungsi reproduksi pria. Yang paling

penting adalah seng, karena defisiensi seng berat dapat

menyebabkan pengecilan testis yang selanjutnya berakibat

penurunan kadar testosteron. Makanan tinggi lemak dan

rendah serat juga membuat penurunan kadar testosteron.

Walaupun kolesterol merupakan bahan dasar untuk sintesis zat

pregnolone yang merupakan bahan baku DHEA

(dehidroepian-androsteron) yang dapat memproduksi

testosteron, tetapi bila berlebihan tentunya akan terjadi

penumpukan lemak pada perut yang akan menekan otot-otot

seksual dan mengganggu testis, sehingga kelebihan lemak

tersebut justru dapat menurunkan kemampuan seksual. Akibat

lebih lanjut adalah penurunan produksi testosteron, yang

27
nantinya mengganggu prostat (Rahardjo D, 2003, Nugroho A,

2002).
7. Aktivitas Seksual

Kalenjar prostat adalah organ yang bertanggung jawab

untuk pembentukan hormon laki-laki. BPH dihubungkan

dengan kegiatan seks berlebihan dan alasan kebersihan. Saat

kegiatan seksual, kelenjar prostat mengalami peningkatan

tekanan darah sebelum terjadi ejakulasi. Jika suplai darah ke

prostat selalu tinggi, akan terjadi hambatan prostat yang

mengakibatkan kalenjar tersebut bengkak permanen. Seks

yang tidak bersih akan mengakibatkan infeksi prostat yang

mengakibatkan BPH. Aktivitas seksual yang tinggi juga

berhubungan dengan meningkatnya kadar hormon testosterone

(Rahardjo D, 2003).

8. Kebiasaan Merokok
Nikotin dan konitin (produk pemecahan nikotin) pada rokok

meningkatkan aktifitas enzim perusak androgen, sehingga

menyebabkan penurunan kadar testosteron (Walsh, Patrick C,

2003).
9. Kebiasaan Minum-minuman Beralkohol
Konsumsi alkohol akan menghilangkan kandungan zink dan

vitamin B6 yang penting untuk prostat yang sehat. Zink sangat

penting untuk kelenjar prostat. Prostat menggunakan zink 10

kali lipat dibandingkan dengan organ yang lain. Zink

membantu mengurangi kandungan prolaktin di dalam darah.

28
Prolaktin meningkatkan penukaran hormon testosteron kepada

DHT ( NKUDIC, 2007, Gass R, 2002).


10. Olah raga

Para pria yang tetap aktif berolahraga secara teratur,

berpeluang lebih sedikit mengalami gangguan prostat,

termasuk BPH. Dengan aktif olahraga, kadar

dihidrotestosteron dapat diturunkan sehingga dapat

memperkecil risiko gangguan prostat. Selain itu, olahraga akan

mengontrol berat badan agar otot lunak yang melingkari

prostat tetap stabil. Olahraga yang dianjurkan adalah jenis

yang berdampak ringan dan dapat memperkuat otot sekitar

pinggul dan organ seksual. Yang baik apabila dilakukan 3 kali

dalam seminggu dalam waktu 30 menit setiap berolahraga,

olahraga yang dilakukan kurang dari 3 kali dalam seminggu

terdapat sedikit sekali perubahan pada kebugaran fisik tetapi

tidak ada tambahan keuntungan yang berarti bila latihan

dilakukan lebih dari 5 kali dalam seminggu. Olahraga akan

mengurangi kadar lemak dalam darah sehingga kadar

kolesterol menurun ( Dharmojo B, Martono H, 2000).

11. Penyakit Diabetes Mellitus

Laki-laki yang mempunyai kadar glukosa dalam darah >

110 mg/dL mempunyai risiko tiga kali terjadinya BPH,

sedangkan untuk laki-laki dengan penyakit Diabetes Mellitus

mempunyai risiko dua kali terjadinya BPH dibandingkan

29
dengan laki-laki dengan kondisi normal (Bridge Sophie Bain,

2007, Parsons J. Kellog, dkk, 2006).

2.1.8 Patofisiologi BPH


Biasanya ditemukan gejala dan tanda obstruksi saluran kemih

adalah penderita harus menunggu keluarnya kemih pertama, miksi

terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran miksi menjadi lemah, dan

rasa belum puas sehabis miksi. Gejala iritasi disebabkan hipersensitivitas

otot detrusor bearti bertambahnya frekuensi miksi, nokturia, miksi sulit

ditahan, dan disuria. Gejala obstruksi terjadi karena detrusor gagal

berkontraksi dengan cukup kuat atau gagal berkontraksi cukup lama

sehingga kontraksi terputus-putus. Gejala iritasi terjadi karena

pengosongan yang tidak sempurna pada saat miksi atau pembesaran

prostat menyebabkan rangsangan pada kandung kemih sehingga vesika

sering berkontraksi meskipun belum penuh. Gejala dan tanda ini diberi

skor untuk menentukan berat keluhan klinis.


Apabila vesika menjadi dekompensasi, akan terjadi retensi urin

sehingga pada akhir miksi masih ditemukan sisa urin didalam kandung

kemih, dan timbul rasa tidak tuntas pada akhir miksi. Jika keadaan ini

berlanjut, pada suatu saat akan terjadi kemacetan total sehingga penderita

tidak mampu lagi miksi. Karena produksi urin terus terjadi pada suatu saat

vesika tidak mampu lagi menampung urin sehingga tekanan intravesika

terus meningkat. Apabila tekanan vesika menjadi lebih tinggi daripada

tekanan sfingter dan obstruksi, akan terjadi inkontinensia paradoks.

30
Retensi kronik menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter,

hidronefrosis, dan gagal ginjal. Proses kerusakkan ginjal dipercepat bila

terjadi infeksi. Pada waktu miksi, penderita harus selalu mengedan

sehingga menyebabkan hernia/hemoroid.


Karena selalu terdapat sisa urin, dapat terbentuk batu endapan di

dalam kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan

hematuria. Batu tersebut dapat pula menyebabkan sistitis dan bila terjadi

refluks, dapat terjadi pielonefritis (Sjamsuhidajat, De Jong, 2012).

2.1.9 Pemeriksaan Penunjang BPH


Dengan pemeriksaan radiologik, seperti foto polos perut dan

pielografi intravena, dapat diperoleh keterangan mengenai penyakit ikutan,

misalnya baru saluran kemih, hidronefrosis, atau divertikulum kandung

kemih. Kalau dibuat foto setelah miksi, dapat dilihat sisa urin. Pembesaran

prostat dapat dilihat sebagai lesi defek isian kontras pada dasar kandung

kemih. Secara tidak langsung, pembesaran prostat dapat diperkirakan

apabila dasar buli-buli pada gambaran sistogram tampak terangkat atau

ujung distal ureter membengkak keatas berbentuk seperti mata kail.

Apabila fungsi ginjal buruk sehingga ekskresi ginjal kurang baik atau

penderita sudah dipasang kateter menetap, dapat dilakukan sistogram

retrograd.
Ultrasonografi dapat dilakukan transabdominal atau transrektal

(transrectal ultrasonography, TRUS). Selain itu untuk mengetahui

pembesaran prostat, pemeriksaan ultrasonograpy dapat pula menentukan

volume buli-buli, mengukur sisa urin, dan keadaan patologi lain seperti

divertikulum, tumor dan batu. Dengan ultrasonograpi transrektal, dapat di

31
ukur besar prostat untuk menentukan jenis terapi yang tepat. Perkiraan

besar prostat dapat pula dilakukan dengan ultrasonografi suprapubik.


Pada USG suprapubik didapatkan :
 Pembesaran kelenjar pada zona sentral
 Nodul hipoechoid atau campuran echogenic
 Kalsifikasi antara zona sentral
 Volume prostat > 30 ml

CT-scan atau MRI jarang dilakukan.

Pemeriksaan sistografi dilakukan apabila ada anamnesis ditemukan

hematuria atau pada pemeriksaan urin ditemukan mikrohematuria.

Pemeriksaan untuk ini dapat memberi gambaran kemungkinan tumor

didalam kandung kemih atau sumber perdarahan dari atas bila darah

datang dari muara ureter, atau batu radolusen di dalam vesika. Selain itu,

sistoskopi dapat juga memberi keterangan mengenai besar prostat dengan

mengukur panjang uretra pars prostatika dan melihat penonjolan prostat ke

dalam uretra (Sjamsuhidajat, De Jong, 2012).

2.1.10 Penatalaksanaan BPH


Di dalam praktek pembagian besar prostat derajat I-IV digunakan

untuk menentukan cara penanganan.

Derajat Colok Dubur


I Penonjolan Prostat, batas <50 mL

atas mudah diraba


II Penonjolan prostat jelas, 50-100 mL

batas atas dapat dicapai


III Batas atas prostat tidak >100 mL

32
dapat diraba
IV Retensi urin total

Tabel 2.1 Derajat BPH (Sjamsuhidajat, De Jong, 2012)

Penderita derajat satu biasanya belum memerlukan tindakan bedah

diberikan pengobatan konservatif, misalnya dengan penghambat

adrenoreseptor alfa seperti alfazosin, prazosin, terazosin, dan tamsulosin.

Keuntungan obat adrenoreseptor alfa ialah efek positif segera terhadap

keluhan, tetapi tidak mempengaruhi proses hiperplasia prostat sedikitpun.

Kekurangannya ialah obat ini tidak dianjurkan untuk pemakaian lama.

Derajat dua merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan.

Biasanya dianjurkan reseksi endoskopik melalui uretra (trans urethral

resection, TUR). Mortalitas TUR sekitar 1% dan morbiditas sekitar 8%.

Kadang derajat dua dapat dicoba dengan pengobatan konservatif.

Pada derajat tiga, reseksi endoskopik dapat dikerjakan oleh

pembedah yang cukup berpengalaman. Apabila diperkirakan prostat sudah

cukup berat sehingga reseksi tidak akan sesuai dalam satu jam, sebaiknya

dilakukan pembedahan terbuka.

Pembedahan terbuka dapat dilakukan melalui transvesika,

retropubik atau perineal. Pada operasi melalui kandung kemih dibuat

sayatan perut bagian bawah menurut Pfannenstiel; kemudian prostat

dienukleasi dari dalam simpainya. Keuntungan teknik ini adalah dapat

sekaligus untuk mengangkat batu buli-buli atau divertikelektomi apabila

ada divertikulum yang cukup besar. Cara pembedahan retropubik menurut

33
Millin dikerjakan melalui sayatan kulit Pfannenstiel dengan membuka

simpai prostat tanpa membuka kandung kemih, kemudian prostat

dienukleasi. Cara ini mempunyai keunggulan, yaitu tanpa membuka

kandung kemih sehingga pemasangan kateter tidak lama seperti bila

membuka vesika. Kerugiannya, cara ini tidak dapat dipakai kalau

diperlukan tindakan lain yang harus dikerjakan dari dalam kandung kemih.

Kedua cara pembedahan terbuka tersebuh masih kalah dibandingkan

dengan cara TUR, yaitu morbiditasnya yang lebih lama, tetapi dapat

dikerjakan tanpa memerlukan alat endoskopi yang khusus, dengan alat

bedah baku. Prostatektomi melalui sayatan perineal tidak dikerjakan lagi.

Pada hipertrofi derajat empat, tindakan pertama yang harus segera

dikerjakan ialah membebaskan penderita dari retensi urin total dengan

memasang kateter atau sistomi. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan lebih

lanjut untuk melengkapi diagnosis, kemudian terapi definitif dengan TUR

atau pembedahan terbuka.

Penderita yang keadaan umumnya tidak memungkinkan untuk

dilakukan pembedahan, dapat diusahakan pengobatan konservatif dengan

memberikan obat penghambat adrenoreseptor alfa. Efek samping obat ini

ialah gejala hipotensi, seperti pusing, lemas, palpitasi dan rasa lemas.

Pengobatan konservatif lain ialah dengan pemberian obat

antiandrogen yang menekan produksi LH. Kesulitan pengobatan

konservatif ini ialah menentukan berapa lama obat harus diberikan dan

efek samping obat.

34
Pengobatan lain yang invasif minimal ialah pemanasan prostat

dengan gelombang mikro yang disalurkan ke kelenjar prostat melalui

antena yang dipasang pada ujung kateter. Dengan cara yang disebut

transurethral microwave thermothrapy (TUMT) ini, hasil perbaikan kira-

kira 75% untuk gejala objektif.

Pada penanggulangan invasif minimal lain, yang disebut

transurethal ultrasound guided laser induced prostatectomy (TULIP)

digunakan cahaya laser. Dengan cara ini, diperoleh juga hasil yang cukup

memuaskan.

Uretra di daerah prostat dapat juga diatasi dengan balon yang

dikembangkan di dalamnya (transurethral ballon dilatation, TUBD).

TUBD ini biasanya memberi perbaikan yang bersifat sementara.

(Sjamsuhidajat, De Jong, 2012)

35