You are on page 1of 14

LAPORAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN BERDASARKAN

EVIDENCE BASED NURSING PRACTICE (EBNP)


EFEKTIVITAS PEMBERIAN POSISI SEMIFOWLER PADA PASIEN
CKD TERHADAP PENURUNAN SESAK NAFAS DI RUANG
RAJAWALI 3A RSUP DR KARIADI

DISUSUN OLEH ;

1. M. SHOFIYUDDIN (P1337420616022)
2. AGUNG SEKAR PALUPI (P1337420616023)
3. ALFANIA ZULFA (P1337420616024)
4. VIKY SUTOPO (P1337420616025)
5. FADILA SYAHIDITA S (P1337420616026)
6. DHIVYA MAULIDA (P1337420616027)
7. WAHYU WIDYASTUTI (P1337420616028)
8. NASTITI DRIAN U (P1337420616029)
9. DHERYKA AGUSTIN (P1337420616030)
10. MAYRA MARLYN (P1337420616031)

PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN


POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. PENDAHULUAN
Chronic kidney disease (CKD) adalah suatu kerusakan pada struktur atau fungsi
ginjal yang berlangsung ≥ 3 bulan, dengan atau tanpa disertai penurunan glomerular filtration
rate (GFR). Selain itu, CKD dapat pula didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana GFR < 60
mL/menit/1,73 m2 selama ≥ 3 bulan dengan atau tanpa disertai kerusakan ginjal (National
Kidney Foundation, 2002).
Penyebab tersering terjadinya CKD adalah diabetes dan tekanan darah tinggi, yaitu
sekitar dua pertiga dari seluruh kasus (National Kidney Foundation, 2015). Keadaan lain yang
dapat menyebabkan kerusakan ginjal diantaranya adalah penyakit peradangan seperti
glomerulonefritis, penyakit ginjal polikistik, malformasi saat perkembangan janin dalam
rahim ibu, lupus, obstruksi akibat batu ginjal, tumor atau pembesaran kelenjar prostat, dan
infeksi saluran kemih yang berulang (Wilson, 2005).
Penyakit ginjal kronis dapat menyebabkan timbulnya berbagai manifestasi yang
komplek, diantaranya, penumpukan cairan, edema paru, edema perifer, kelebihan toksik
uremik bertanggung jawab terhadap perikarditis dan iritasi, sepanjang saluran gastrointestinal
dari mulut sampai anus. Edema pada paru dicirikan dengan dispneu, kusmaul, batuk dengan
sputum dan suara krekels. Untuk itu perlu dilakukan asuhan keperawatan guna mengurangi
gejala yang dtimbulkan dari penyakit CKD, salah satunya adalah manajemen sesak nafas.

B. TUJUAN
Tujuan dari dilaksanakannya implemantasi keperawatan EBNP penatalaksanaan
sesak nafas dengan posisi semifowler adalah untuk mengurangi sesak yang dirasakan pasien
serta meningkatkan kualitas hidup penderita untuk tetap semangat menjalani pengobatan yang
dilaksanakan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN

Gagal ginjal kronis (Chronic Renal Failure) adalah kerusakan ginjal


progresif yang berakibat fatal dan ditandai dengan uremia (urea dan limbah
nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak
dilakukan dialisis atau transplantasi ginjal) (Nursalam, 2006).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa CKD adalah penyakit
ginjal yang tidak dapat lagi pulih atau kembali sembuh secara total seperti
sediakala. CKD adalah penyakit ginjal tahap akhir yang dapat disebabkan oleh
berbagai hal. Dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan
metabolisme dan keseimbangan cairan elektrolit, yang menyebabkan uremia.
Penyebab yang mendasari CKD bermacam-macam seperti penyakit glomerulus baik
primer maupun sekunder, penyakit vaskular, infeksi, nefritis interstisial, obstruksi saluran
kemih. Patofisiologi penyakit ginjal kronik melibatkan 2 mekanisme kerusakan : (1)
mekanisme pencetus spesifik yang mendasari kerusakan selanjutnya seperti kompleks
imun dan mediator inflamasi pada glomerulus nefritis, atau pajanan zat toksin pada
penyakit tubulus ginjal dan interstitium; (2) mekanisme kerusakan progresif yang ditandai
dengan adanya hiperfiltrasi dan hipertrofi nefron yang tersisa.

Ginjal kita memiliki 1 juta nefron, dan masing – masing memiliki kontribusi terhadap
total GFR. Pada saat terjadi renal injury karena etiologi seperti yang telah dijelaskan di
atas, pada awalnya ginjal masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan GFR.
Namun pada akhirnya nefron sehat yang tersisa ini akan mengalami kegagalan dalam
mengatur autoregulasi tekanan glomerular, dan akan menyebabkan hipertensi sistemik
dalam glomerulus. Peningkatan tekanan glomerulus ini akan menyebabkan hipertrofi
nefron yang sehat sebagai mekanisme kompensasi. Pada tahap ini akan terjadi poliuria,
yang bisa menyebabkan dehidrasi dan hiponatremia akibat ekskresi Na melalui urin
meningkat. Peningkatan tekanan glomerulus ini akan menyebabkan proteinuria. Derajat
proteinuria sebanding dengan tingkat progresi dari gagal ginjal. Reabsorpsi protein pada
sel tubuloepitelial dapat menyebabkan kerusakan langsung terhadap jalur lisosomal
intraselular, meningkatkan stres oksidatif, meningkatkan ekspresi lokal growth faktor, dan
melepaskan faktor kemotaktik yang pada akhirnya akan menyebabkan inflamasi dan
fibrosis tubulointerstitiel melalui pengambilan dan aktivasi makrofag.
Inflamasi kronik pada glomerulus dan tubuli akan meningkatkan sintesis matriks
ektraseluler dan mengurangi degradasinya, dengan akumulasi kolagen tubulointerstitiel
yang berlebihan. Glomerular sklerosis, fibrosis tubulointerstitiel, dan atropi tubuler akan
menyebabkan massa ginjal yang sehat menjadi berkurang dan akan menghentikan siklus
progresi penyakit oleh hiperfiltrasi dan hipertrofi nefron.

Kerusakan struktur ginjal tersebut akan menyebabkan kerusakan fungsi ekskretorik


maupun non-ekskretorik ginjal. Kerusakan fungsi ekskretorik ginjal antara lain penurunan
ekskresi sisa nitrogen, penurunan reabsorbsi Na pada tubuli, penurunan ekskresi kalium,
penurunan ekskresi fosfat, penurunan ekskresi hidrogen.

Kerusakan fungsi non-ekskretorik ginjal antara lain kegagalan mengubah bentuk


inaktif Ca, menyebabkan penurunan produksi eritropoetin (EPO), menurunkan fungsi
insulin, meningkatkan produksi lipid, gangguan sistem imun, dan sistem reproduksi.

Angiotensin II memiliki peran penting dalam pengaturan tekanan intraglomerular.


Angiotensin II diproduksi secara sistemik dan secara lokal di ginjal dan merupakan
vasokonstriktor kuat yang akan mengatur tekanan intraglomerular dengan cara
meningkatkan irama arteriole efferent. Angiotensin II akan memicu stres oksidatif yang
pada akhirnya akan meningkatkan ekspresi sitokin, molekul adesi, dan kemoaktraktan,
sehingga angiotensin II memiliki peran penting dalam patofisiologi CKD.

Gangguan tulang pada CKD terutama stadium akhir disebabkan karena banyak sebab,
salah satunya adalah penurunan sintesis 1,25-dihydroxyvitamin D atau kalsitriol, yang
akan menyebabkan kegagalan mengubah bentuk inaktif Ca sehingga terjadi penurunan
absorbsi Ca. Penurunan absorbsi Ca ini akan menyebabkan hipokalsemia dan osteodistrofi.
Pada CKD akan terjadi hiperparatiroidisme sekunder yang terjadi karena hipokalsemia,
hiperfosfatemia, resistensi skeletal terhadap PTH. Kalsium dan kalsitriol merupakan
feedback negatif inhibitor, sedangkan hiperfosfatemia akan menstimulasi sintesis dan
sekresi PTH.

Karena penurunan laju filtrasi glomerulus, maka ginjal tidak mampu untuk
mengekskresikan zat – zat tertentu seperti fosfat sehingga timbul hiperfosfatemia.
Hiperfosfatemia akan menstimulasi FGF-23, growth faktor ini akan menyebabkan inhibisi
1- α hydroxylase. Enzim ini digunakan dalam sintesis kalsitriol. Karena inhibisi oleh
FGF-23 maka sintesis kalsitriol pun akan menurun. Akan terjadi resistensi terhadap
vitamin D. Sehingga feedback negatif terhadap PTH tidak berjalan. Terjadi peningkatan
hormon parathormon. Akhirnya akan timbul hiperparatiroidisme sekunder.
Hiperparatiroidisme sekunder akan menyebabkan depresi pada sumsum tulang sehingga
akan menurunkan pembentukan eritropoetin yang pada akhirnya akan menyebabkan
anemia. Selain itu hiperparatiroidisme sekunder juga akan menyebkan osteodistrofi yang
diklasifikasikan menjadi osteitis fibrosa cystic, osteomalasia, adinamik bone disorder, dan
mixed osteodistrofi.

Penurunan ekskresi Na akan menyebabkan retensi air sehingga pada akhirnya dapat
menyebabkan oedem, hipertensi. Penurunan ekskresi kalium juga terjadi terutama bila
GFR < 25 ml/mnt, terlebih pada CKD stadium 5. Penuruan ekskresi ini akan menyebabkan
hiperkalemia sehingga meningkatkan resiko terjadinya kardiak arrest pada pasien.

Asidosis metabolik pada pasien CKD biasanya merupakan kombinasi adanya anion
gap yang normal maupun peningkatan anion gap. Pada CKD, ginjal tidak mampu
membuat ammonia yang cukup pada tubulus proksimal untuk mengekskresikan asam
endogen ke dalam urin dalam bentuk ammonium. Peningkatan anion gap biasanya terjadi
pada CKD stadium 5. Anion gap terjadi karena akumulasi dari fosfat, sulfat, dan anion –
anion lain yang tidak terekskresi dengan baik. Asidosis metabolik pada CKD dapat
menyebabkan gangguan metabolisme protein. Selain itu asidosis metabolic juga
merupakan salah satu faktor dalam perkembangan osteodistrofi ginjal.

Pada CKD terutama stadium 5, juga dijumpai penurunan ekskresi sisa nitrogen dalam
tubuh. Sehingga akan terjadi uremia. Pada uremia, basal urea nitrogen akan meningkat,
begitu juga dengan ureum, kreatinin, serta asam urat. Uremia yang bersifat toksik dapat
menyebar ke seluruh tubuh dan dapat mengenai sistem saraf perifer dan sistem saraf pusat.
Selain itu sindrom uremia ini akan menyebabkan trombositopati dan memperpendek usia
sel darah merah. Trombositopati akan meningkatkan resiko perdarahan spontan terutama
pada GIT, dan dapat berkembang menjadi anemia bila penanganannya tidak adekuat.
Uremia bila sampai di kulit akan menyebabkan pasien merasa gatal – gatal.

Pada CKD akan terjadi penurunan fungsi insulin, peningkatan produksi lipid,
gangguan sistem imun, dan gangguan reproduksi. Karena fungsi insulin menurun, maka
gula darah akan meningkat. Peningkatan produksi lipid akan memicu timbulnya
aterosklerosis, yang pada akhirnya dapat menyebabkan gagal jantung.

Anemia pada CKD terjadi karena depresi sumsum tulang pada hiperparatiroidisme
sekunder yang akan menurunkan sintesis EPO. Selain itu anemia dapat terjadi juga karena
masa hidup eritrosit yang memendek akibat pengaruh dari sindrom uremia. Anemia dapat
juga terjadi karena malnutrisi.
B. MEKANISME
Dispnea atau sesak nafas adalah perasaan sulit bernafas dan merupakan gejala utama
dari penyakit kardiopulmonar. Dispnea disebabkan oleh peningkatan kerja pernafasan
akibat kongestivaskuler paru yang mengurangi kelenturan paru, seseorang yang
mengalami dispnea sering mengeluh napasnya menjadi pendek atau merasa tercekik.
Gejala objektif sesak nafas termasuk juga pengunaan otot-otot pernapasan tambahan,
pernapasan cuping hidung, takipnea dan hiperventilasi. Besarnya tenaga fisik yang
dikeluarkan untuk menimbulkan dispnea tergantung pada usia, jenis kelamin, ketinggian
tempat, jenis latihan fisik, dan terlibatnya emosi dalam melakukan kegiatan itu. Dispnea
yang terjadi pada seseorang harus dikaitkan dengan tingkat aktivitas minimal yang
menyebabkan dispnea.

C. MANAJEMEN
Nonfarmakologis
 Menyediakan sirkulasi udara yang baik
 Suhu udara sejuk yang dapat ditolerir oleh pasien
 Menjelaskan kepada keluarga bahwa tanda-tanda eksternal (misalnya takipnea)
tidak selalu mengindikasikan ketidaknyamanan pasien
 Humidifikasi udara yang dihirup pasien
 Meminimalisir stres dengan mendorong keluarga untuk menghindari perselisihan
dengan pasien
 Meminimalisasi pergerakan dengan menyediakan toilet di sisi tempat tidur dan
menggunakan kursi roda untuk pergerakan; hindari pajanan panas, udara
lembaba, dan suhu ekstrim
 Drainase postural
 Berikan pijat dan alihkan perhatian pasien dengan musik atau membaca dengan
keras
 Berikan oksigen dan kipas di kamar pasien

Farmakologis
 Dispnea ringan
 Hidrokodon, 5 mg tiap 4 jam po Asetaminofen-kodein (325-30 mg), 1 tablet tiap
4 jam
 Dispnea berat
 Morfin, 5 mg po; titrasi dosis tiap 4 jam Oksikodon, 5 mg po; titrasi dosis tiap 4
jam
 Hidromorfon, 0.-2 mg po; titrasi dosis tiap 4 jam
 Benzodiazepine, titrasi dosis untuk mengurangi komponen ansietas
 Bronkodilator

D. TEKNIK/CARA
Mengurangi sesak secara nonfarmakologis adalah menyediakan sirkulasi yang baik
dengan cara memposisikan pasien semifowler.
 Posisi Semi Fowler
1) Pasien di dudukkan, sandaran punggung atau kursi di letakkan di bawah
atau di atas kasur di bagian kepala, di atur sampai setengah duduk dan di
rapikan. Bantal di susun menurut kebutuhan. Pasien di baringkan kembali
dan pada ujung kakinya di pasang penahan.
2) Pada tempat tidur khusus (functional bed) pasien dan tempat tidurnya
langsung di atur setengah duduk, di bawah lutut di tinggikan sesuai
kebutuhan. Kedua lengan di topang dengan bantal.
3) Pasien di rapikan

E. KONTRA INDIKASI
- Fraktur tulang pelvis
- Post operasi abdomen
- Fraktur tulang belakang
BAB III
METODOLOGI
A. TOPIK
Penatalaksanaan sesak nafas
B. SUB TOPIK
Penatalaksanaan sesak nafas nonfarmakologi dengan posisi semifowler
C. TUJUAN
Mengurangi sesak nafas dan meningkatkan saturasi pasien
D. WAKTU
Selasa, 13 November 2018
E. TEMPAT
Tempat Rajawali 3A RSUP Dr. Kariadi Semarang
F. MEDIA/ALAT YANG DIGUNAKAN
Oxymeter, bantal
G. PROSEDUR
Implementasi dilaksanakan di ruang Rajawali 3A RSUP dr Kariadi Semarang
pada tanggal 13 November 2018. Responden terdiri dari 2 orang pasien CKD
yang terpasang oksigen. Saat dikaji responden pada posisi tiduran dan diukur
saturasi nya menggunakan oxymeter. Kemudian pasien dibantu untuk posisi
semifowler, setelah itu saturasi kembali diukur. Didapatkan hasil sebagai
berikut :

Pasien Sebelum diposisikan Semi Fowler Setelah diposisi Semi Fowler


dengan oksigen dengan oksigen
Ny. I 92% 96%
Ny. S 88% 90%

H. PENGKAJIAN
Dalam implementasi keperawatan berdasarkan EBNP, kami mempraktikan pada dua
pasien. Pasien pertama yaitu Ny. I, usia 39 tahun dengan diagnosa CKD + satu bulan
yang lalu. Pada saat pengkajian, diperoleh data bahwa SPO2 klien 92%, TD =
160/100 mmHg, edema di kedua kaki, klien terlihat pucat, klien terpasang nasal kanul
dengan O2 sebanyak 5 lpm. Pasien yang kedua yaitu Ny.S, usia klien 45 tahun dan
klien terdiagnosa CKD + satu tahun yang lalu. Didapatkan hasil TD klien 180/100
mmHg, edema pada kedua kaki dan kedua tangan. SPO2 klien 88%, klien terlihat
pucat dan terpasang O2 masker sebanyak 7 lpm.
I. REFERENSI
Safitri,Refi dan Annisa Adriyani. 2011. KEEFEKTIFAN PEMBERIAN POSISI SEMI
FOWLER TERHADAP PENURUNAN SESAK NAFAS PADA PASIEN ASMA
DIRUANG RAWAT INAP KELAS III RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA. Stikes
Aisiyah Surakarta.
BAB IV
LAPORAN KEGIATAN

A. PELAKSANAAN KEGIATAN
Implementasi dilaksanakan di ruang Rajawali 3A RSUP dr Kariadi Semarang pada
tanggal 13 November 2018. Responden terdiri dari 2 orang pasien CKD yang
terpasang oksigen. Saat dikaji responden pada posisi tiduran dan diukur saturasi nya
menggunakan oxymeter. Kemudian pasien dibantu untuk posisi semifowler, setelah
itu saturasi diukur kembali.
Kegiatan dilakukan di ruang Rajawali 3A RSUP dr Kariadi Semarang , dengan
susunan acara sebagai berikut :
No Waktu Acara Penanggung
Jawab
1. 09.00 Pengkajian Nastiti dan Wahyu
2. 09.30 Kontrak waktu pada pasien Nastiti dan Wahyu
1. 10.00 Pembukaan Dheryka dan
Mayra
3. 10.05 Implementasi membandingkan posisi Dhivya dan Fadila
semifowler dan posisi condong kedepan.
4. 10.15 Evaluasi dan Kesimpulan Dhivya dan Fadila
5. 10.20 Dokumentasi Shofiyuddin dan
Agung
6. 10.30 Penutup Viky dan Alfania

B. FAKTOR PENDUKUNG
Faktor pendukung dari kegiatan ini adalah sebagai berikut :
- Tersedianya media serta sarana dan prasarana untuk melakukan implementasi
keperawatan EBNP
- Pasien yang kooperatif dan mau berkerjasama dalam acara ini
- Perawat yang bertugas membantu dalam mengkondisikan ruangan dan pasien

A. FAKTOR PENGHAMBAT
Tidak ada penghambat dalam berjalannya acara tersebut dikarenakan kondisi ruangan
yang mendukung dan pasien yang kooperatif sehingga dapat berjalan sesuai rencana.
C. EVALUASI KEGIATAN
NO IDENTITAS DIAGNOSA Waktu IMPLEMENTASI RESPON
1. Ny. I dengan Ketidakefektifan 13 Posisikan pasien Pasien
CKD pola nafas November untuk mengatakan
terpasang berhubungan 2018 memaksimalkan sesak berkurang
nasal kanul dengan ventilasi saat posisi
oksigen 5 lpm deformitas semifowler.
dinding dada. Saturasi dari
92% menjadi
96%

2. Ny. S dengan Ketidakefektifan 13 Posisikan pasien Pasien


CKD pola nafas November untuk mengatakan
terpasang berhubungan 2018 memaksimalkan sesak berkurang
masker dengan ventilasi saat posisi
oksigen 7 lpm deformitas semifowler.
dinding dada. Saturasi dari
88% menjadi
90%.

Dari hasil analisa data didapat bahwa pasien yang mengalami sesak nafas, lebih
efektif untuk mengurangi sesak nafas apabila diberikan posisi semifowler. Hal ini
berdasarkan pada jurnal, Posisi Semifowler menggunakan gaya gravitasi untuk
membantu pengembangan paru dan mengurangi tekanan dari abdomen pada
diafragma dengan kemiringan 45O (Burn dalam Potter, 2005).

Dijelaskan oleh Wilkison (Supadi, dkk 2008) bahwa posisi semifowler dimana kepala
dan tubuh dinaikkan 45O membuat oksigen di dalam paru-paru semakin meningkat
sehingga memperingan kesukaran nafas. Penurunan sesak nafas tersebut didukung
juga dengan sikap pasien yang kooperatif, patuh pada saat diberikan posisi
semifowler.

Saat sesak nafas pasien lebih nyaman dengan posisi duduk atau setengah duduk
sehingga posisi semifowler memberikan kenyamanan dan membantu memperingan
kesukaran bernafas. Menurut Supadi, dkk. 2008 saat terjadi serangan sesak nafas
biasanya klien merasa sesak dan tidak dapat tidur dengan posisi baring. Melainkan
harus dalam posisi duduk atau setengah duduk untuk meredakan penyempitan jalan
nafas dan memenuhi O2 dalam darah. Dengan posisi tersebut, pasien lebih rileks saat
makan dan berbicara.
BAB V

PENUTUP

A. SIMPULAN
Dari pembuatan EBNP dan penerapan jurnal yang telah kami ambil,dibuktikan
bahwa pasien yang memiliki diagnosa CKD(Chronic Kidney Disease) yang
mengalami dipsneu akan lebih efektif diberikan posisi semifowler untuk mengatasi
dipsneu tersebut.

B. SARAN
Penerapan tersebut sangat baik untuk diberikan kepada pasien yang
mengalami dipsneu tetapi kita sebagai perawat sebelum memberikan tindakan
tersebut juga harus memperhatikan lagi bagaimana kondisi pasien tersebut supaya
dalam pelaksanaan nya dapat berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan.
DAFTAR PUSTAKA

Safitri,Refi dan Annisa Adriyani. 2011. KEEFEKTIFAN PEMBERIAN POSISI SEMI FOWLER
TERHADAP PENURUNAN SESAK NAFAS PADA PASIENASMA DIRUANGRAWATINAP KELAS
III RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA. Stikes Aisiyah Surakarta.