Sie sind auf Seite 1von 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


LPD merupakan salah satu kebijakan pemerintah Daerah Bali di dalam upaya
menyalurkan bantuan permodalan kepada masyarakat desa di Bali. Kegiatan Utama LPD
adalah menghimpun dana masyarakat berupa tabungan dan deposito, dan menyalurkan
kembali kepada masyarakat yang membutuhkan dana dalam bentuk pinjaman atau kredit.
Mengingat pentingnya peranan dari Lembaga Perkreditan Desa (LPD) dalam
perkembangan di pedesaan, maka LPD harus ditopang dengan administrasi dan
pembukuan yang teratur. Dengan melihat laporan keuangan khususnya neraca dan
laporan laba-rugi dapat diketahui kondisi keuangan LPD yang bersangkutan.
Mengingat pentingnya peran dari Lembaga Perkreditan Desa (LPD) dalam
perkembangan di pedesaan, maka LPD ditopang dengan administrasi dan pembukuan
yang teratur. Dengan melihat program keuangan khususnya neraca dan laporan rugi laba
dapat diketahui kondisi keuangan LPD yang bersangkutan. Kemampuan untuk
menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap LPD dapat dilakukan dengan
menunjukan kinerja keuangan LPD tersebut, dimana kinerja keuangan merupakan suatu
analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan
dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan beberapa permasalahan yakni
sebagai berikut:
1. Apa itu laporan keuangan beserta jenisnya?
2. Apa tujuan dibuatnya laporan keuangan?
3. Apa saja jenis laporan keuangan Lembaga Perkreditan Desa (LPD)?
4. Apa saja jenis laporan keuangan Lembaga Perkreditan Desa (LPD)?
5. Apa pengertian dari neraca dan bagian bagiannya?
1.3 Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah di atas dapat di tulis tujuan penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian dari laporan keuangan beserta jenisnya.

1
2. Untuk mengetahui tujuan dibuatnya laporan keuangan
3. Untuk mengetahui jenis laporan keuangan Lembaga Perkreditan Desa (LPD)?
4. Untuk mengetahui jenis laporan keuangan Lembaga Perkreditan Desa (LPD)?
5. Untuk mengetahui pengertian dari neraca dan bagian bagiannya?
1.4 Manfaat Penulisan
Dari makalah ini maka akan diperoleh beberapa manfaat, baik bagi penulis maupun
bagi para pembaca. Manfaat yang dapat diberikan yakni sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Secara akademis manfaat penulisan makalah ini adalah dapat memberikan
sumbangan atau menambah khazanah ilmu dalam bidang pendidikan khususnya
ekonomi dan bisnis.
2. Manfaat Praktis
Dari makalah ini, kami selaku penulis penulis memperoleh pengalaman
langsung untuk menuangkan pikiran dalam suatu tulisan, yang akan bermanfaat di
masa depan. Bagi pembaca, makalah ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan
dan referensi untuk penyusunan tulisan selanjutnya.

BAB II

2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Laporan Keuangan dan Jenisnya
Laporan keuangan adalah laporan yang dibuat pada akhir periode akuntansi yang
terdiri dari laporan laba rugi (income statement), laporan perubahan modal (capital
statement), neraca (balance sheet) dan laporan arus kas (cash flow). Pengertian laporan
keuangan menurut Standar Akuntansi Keuangan adalah “Laporan keuangan merupakan
bagian dari proses pelaporan keuangan.
Dari pengertian di atas laporan keuangan dibuat sebagai bagian dari proses pelaporan
keuangan yang lengkap, dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugas
yang dibebankan kepada manajemen. Penyusunan laporan keuangan disiapkan mulai dari
berbagai sumber data, terdiri dari faktur-faktur, bon-bon, nota kredit, salinan faktur
penjualan, laporan bank dan sebagainya. Jenis-jenis Laporan Keuangan Berdasarkan
Standar Akuntansi Keuangan (2010: 6)
1. Neraca
2. Laporan Laba Rugi
3. Laporan Perubahan Ekuitas
4. Laporan Arus Kas
5. Catatan atas Laporan Keuangan
2.2 Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut
posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang
bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan.
Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 (2010: 5), tujuan
laporan keuangan adalah sebagai berikut:
1. Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan,
kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan
pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi.
2. Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama
sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan
semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan

3
ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian
dimasa lalu dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non keuangan.
3. Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen atau
pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Pemakai yang ingin menilai apa yang telah dilakukan atau pertanggungjawaban
manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi.
Keputusan ini mungkin mencakup, misalnya keputusan untuk menahan atau menjual
investasi mereka dalam perusahaan atau keputusan untuk mengangkat kembali atau
mengganti manajemen.
2.3 Laporan Keuangan LPD
Kebijakan akuntansi LPD adalah prinsip-prinsip dasar dalam pelaporan keuangan
yang disusun berdasarkan kesepakatan bersama sesuai dengan aturan dan standar yang
berlaku. Beberapa contoh yang menyangkut kebijakan akuntansi LPD, diantaranya:
a). Dasar Penyusunan Laporan Keuangan
Laporan keuangan disusun dengan menggunakan harga perolehan.
b). Pengakuan Pendapatan dan Beban
Pencatatan pendapatan dan beban menganut metode akrual basis yaitu diakui pada
saat terjadinya transaksi dan bukan pada saat realisasi pembayaran.
1) Tidak dibenarkan mengantisipasi pendapatan, akan tetapi biaya-biaya yang telah
direalisasi sebelum tanggal neraca walaupun belum dapat diketahui secara pasti,
jumlahnya, harus dilaporkan dengan cara estimasi yang wajar.
2) Namun demikian pelaksanaan prinsip diatas harus tetap memperhatikan asas
“proper matching cost against revenue” yaitu biaya dan pendapatan dihadapkan
secara tepat dalam periode yang sama agar tidak menjadi pergeseran biaya atau
pendapatan ke periode yang lain.
c). Piutang Usaha
Piutang usaha berupa kredit yang diberikan dicatat sebesar nilai perolehan
dikurangi dengan cadangan atas kemungkinan piutang yang tidak dapat ditagih.
d). Beban Ditangguhkan (Biaya Praoperasi)
Semua beban yang dikeluarkan sebelum beroperasi komersial ditangguhkan
pembebanannya dan diamortisasi selama tahun dengan tarif amortisasi 25% setiap
tahun dari nilai saat transaksi.

4
e). Aktiva Tetap
Aktiva tetap dinyatakan di neraca berdasarkan harga peorlehan dikurangi dengan
akumulasi penyusutan. Aktiva tetap tidak termasuk tanah disusutkan dengan metode
garis lurus. Biaya pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada laba-rugi pada saat
terjadinya. Jika aktiva tetap sudah tidak dapat digunakan lagi, maka harga perolehan
dan akumulasi penyusutannya akan dihapus dalam pembukuan. Laba atau rugi atas
pengalihan aktiva tetap diakui pada periode berjalan.
f). Akuntansi Utang Usaha
Utang usaha berupa simpanan dan deposito nasabah dinyatakan secara lengkap
sehingga menggambarkan seluruh kewajiban LPD pada akhir periode. Untuk
mengetahui batas waktu pembayaran, simpanan dan deposito dilakukan
pengelompokkan sesuai dengan jatuh temponya.
g). Penyampaian Laporan Keuangan LPD
Laporan keuangan LPD disampaikan kepada :
1). Bendesa Adat
2). Gubernur Provinsi Bali
3). Bupati Kabupaten
4). Camat
5). Lurah
6). Badan Pengawas LPD
7). Kelian Banjar
Sampai saat ini LPD belum sepenuhnya menerapkan dasar pengakuan akrual
dalam laporan keuangannya. Dasar pengakuan yang digunakan kebanyakan
menggunakan cash basis yang dimodifikasi. Dengan diberlakukan IFRS, ke depan
kemungkinan laporan keuangan LPD akan menunjukkan ke arah fair value.
Akuntan publik independen berperan dalam menilai dan memberikan opini
terhadap laporan keuangan LPD sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima
umum dan standar akuntansi yang ada. Akuntan public harus berkomunikasi dengan
BPI sebelum memulai suatu penugasan audit. Untuk LPD yang mempunyai asset di
atas 5 Milyar disarankan untuk menggunakan jasa akuntan public independen.
2.4 Jenis Laporan Keuangan Lembaga Perkreditan Desa (LPD)
Adapun jenis laporan keuangan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) adalah :

5
1. Neraca
2. Laporan Laba Rugi
3. Laporan Perubahan Modal
4. Laporan Arus Kas
5. Catatan atas Laporan Keuangan
2.5 Neraca
2.5.1 Pengertian Neraca
Di dalam akuntansi keuangan, neraca adalah bagian dari laporan keuangan suatu
entitas yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan posisi keuangan
entitas tersebut pada akhir periode tersebut. Dengan kata lain, neraca merupakan laporan
yang menunjukkan keadaan keuangan suatu perusahaan pada tanggal tertentu. Informasi
yang dapat disajikan di neraca antara lain posisi sumber kekayaan entitas dan sumber
pembiayaan untuk memperoleh kekayaan entitas tersebut dalam suatu periode akuntansi
(triwulanan, caturwulanan, atau tahunan). Neraca terdiri dari tiga unsur, yaitu aset,
liabilitas, dan ekuitas yang dihubungkan dengan persamaan akuntansi berikut:

ASET = LIABILITAS + EKUITAS

2.5.2 Jenis Neraca Dalam Laporan Keuangan LPD


Dalam laporan keuangan LPD terdapat beberapa jenis neraca yaitu:
1). Neraca Percobaan
Neraca percobaan adalah suatu yang berisi perkiraan-perkiraan buku besar serta
penjumlahan-penjumlahan debet dan kredit perkiraan-perkiraan itu. Neraca
percobaan dibuat secara berkala, baik 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan atau
1 tahun. Tujuan dibuatnya neraca percobaan adalah untuk mengetahui keseimbangan
antara jumlah debet dengan jumlah kredit pada buku besar. Apabila tidak seimbang
antara jumlah debet dengan jumlah kredit pada buku besar, maka buku besar tersebut
salah. Untuk mengetahui dari mana kesalahan yang ada pada buku besar, maka
pertama-tama perlu ditelusuri buku jurnal, sehingga dapat diketahui kesalahannya.
2). Neraca Saldo
Neraca saldo adalah suatu daftar yang dipergunakan untuk mencatat selisih antara
jumlah debet dan kredit yang ada pada neraca percobaan. Neraca saldo dibuat setelah
neraca percobaan disusun. Tata cara mengerjakan neraca saldo yaitu:

6
a). Saldo debet dibukukan pada sisi debet
b). Saldo kredit dibukukan pada sisi kredit
2.5.3 POS – POS NERACA LPD
Secara teknis operasional LPD tidak jauh bedanya dengan bank. Di sisi pasiva
neracanya berisi uang titipan masyarakat anggotanya yang merupakan hutang bagi LPD.
Di sisi aktiva neracanya berisi piutang LPD kepada anggotanya. Seperti halnya bank,
modal LPD relatif sangat kecil dibandingkan dengan dana titipan anggotanya. Di sisi
pasiva LPD menghadapi risiko likuiditas bila anggotanya tiba-tiba menarik dana dalam
jumlah yang jauh melampaui persediaan uang tunai yang dimiliki oleh LPD pada saat itu.
Disisi aktiva neracanya LPD menghadapi risiko kredit yang bias berakibat fatal bila uang
yang dipinjamkan tidak dibayar kembali pada waktunya oleh anggotanya. Berikut adalah
pos – pos Neraca Lembaga Perkreditan Desa (LPD)
No. Aktiva
1. Kas
2. Antar Bank Aktiva
3. Kredit yang Diberikan
a. Pinjaman Yang Diberikan
4. Aktiva Tetap dan Inventaris
a. Harga perolehan
b. Akumulasi Penyusutan
5. Aktiva Lain-lain

No Pasiva
1. Tabungan
2. Simpanan Berjangka
3. Antar Bank Pasiva
4. Pinjaman yang diterima
5. Rupa – Rupa Pasiva
6. Modal
7. Cadangan
8. Laba/Rugi

7
a. Laba
b. Rugi
1. Aktiva
1). Kas
Diisi dengan uang unai yang ada dalam kas LPD berupa uang kertas dan uang
logam yang merupakan alat pembayaran yang sah di Indonesia.
2). Antar Bank Aktiva
Diisi dengan semua jenis simpanan LPD yang ditempatkan di BPD seperti
rekening giro, deposito berjangka dan tabungan. Saldo rekening ini tidak boleh
dikompensasikan dengan saldo rekening – rekening simpanan dan tagihan LPD
atau bank lain.
3). Kredit yang Diberikan
Diisi dengan pinjaman yang diberikan pada nasabah, yaitu penyediaan uang
atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan
pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan
jumlah bunga tertentu.
Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) adalah angka yang menunjukkan
besarnya persentase perbandingan antara batas maksimum pinjaman yang
diberikan yang diperkenankan terhadap modal LPD.BMPK kepada satu peminjam
dimaksudkan untuk mencegah agar risiko pinjaman yang diberikan tidak
terkonsentasi pada satu peminjam. Batas maksimum pemberian kredit kepada satu
peminjam adalah 20% (dua puluh persen) dari jumlah modal LPD. Adapun
penggolongan kolektibilitas pinajaman, sebagai berikut:
a). Lancar
Kualitas pinjaman yang diberikan dikategorikan lancar apabila memenuhi
kriteria dibawah ini:
1. Tidak terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga.
2. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga tetapi tidak lebih dari
3 kali angsuran.
3. Pinjaman yang diberikan belum jatuh tempo.
b). Kurang Lancar

8
Kualitas pinjaman yang diberikan dikategorikan kurang lancar apabila
memenuhi kriteria dibawah ini:
1. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga lebih dari 3 kali
angsuran tetapi tidak lebih dari 6 kali angsuran.
2. Pinjaman yang diberikan belum jatuh tempo.
c). Diragukan
Kualitas pinjaman yang diberikan dikategorikan diragukan apabila
memenuhi kriteria dibawah ini:
1. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga lebih dari 6 (enam)
kali angsuran tetapi tidak lebih dari 12 (dua belas) kali angsuran.
2. Pinjaman yang diberikan telah jatuh tempo tetapi tidak lebih dari 3 (tiga)
bulan.
d). Macet
Kualitas pinjaman yang diberikan dikategorikan macet apabila memenuhi
kriteria dibawah ini:
1. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan atau bunga lebih dari 12 (dua
belas) kali angsuran.
2. Pinjaman yang diberikan telah jatuh tempo lebih dari 3 (tiga) bulan.
4). Aktiva Tetap dan Inventaris
Menurut PSAK No. 16, Asset tetap adalah asset berwujud yang :
1. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa,
untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan
2. Diperkirakan untuk digunakan selama lebih dari satu periode
Pembelian aktiva tetap dilakukan oleh LPD harus mendapat persetujuan dari
badan Pembina. Untuk mengontrol aktiva tetap petugas LPD dapat membuat
daftar aktiva tetap. Batas maksimum pengadaan aktiva tetap dan inventaris adalah
50% (lima puluh persen) dari modal.
a). Harga Perolehan
Diisi dengan aktiva tetap, yaitu harga perolehan atau nilai revaluasi
masing-masing dari tanah, gedung kantor, rumah dan prabot milik LPD
termasuk pula ke dalam pos ini biaya – biaya yang dikeluarkan untuk:
1. Pembangunan gedung dalam penyelesaian,

9
2. Mengubah bentuk, menambah, memperbaiki atau mengganti
b). Akumulasi penyusutan
Pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud yang mempunyai masa
manfaat lebih dari 1 (satu) tahun harus dibebankan sebagai biaya untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan dengan cara
mengalokasikan pengeluaran tersebut selama masa manfaat harta tersebut
melalui penyusutan.
Metode penyusutan yang dibolehkan berdasarkan UU Nomor 36 Tahun
2008 Pasal 11 (1)) adalah :
a. Metode garis lurus (straight-line method), yaitu metode yang digunakan
untuk menghitung penyusutan yang dilakukan dalam bagian-bagian yang
sama besar selama masa manfaat yang ditetapkan bagi harta tersebut.
Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian, pendirian, penambahan,
perbaikan atau perubahan harta berwujud, kecuali tanah yang berstatus hak
milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai, yang dimiliki
dan digunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan
yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu (1) tahun dilakukan dalam
bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang ditetapkan bagi
harta tersebut.
b. Metode saldo menurun (declining-balance method), yaitu metode yang
digunakan untuk menghitung penyusutan dalam bagian-bagian yang
menurun dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku dan
nilai sisa buku pada akhir masa manfaat harus disusutkan sekaligus.
Metode ini tidak dapat digunakan untuk menghitung penyusutan atas
bangunan.
Masa manfaat dan tarif penyusutan aktiva untuk masing-masing kelompok
telah ditetapkan sebagai berikut :

10
5). Aktiva Lainnya
Diisi dengan saldo rekening-rekening aktiva lainnya yang tidak dapat
dikelompokkan ke dalam salah satu pos di atas, misalnya persediaan barang yang
tidak merupakan objek penyusutan (persediaan kertas dan formulir) dan
pembebanan sementara setoran jaminan listrik.
2. Pasiva
Pasiva terdiri atas hutang atau kewajiban LPD kepada nasabah dan pihak ketiga
lainnya serta modal sendiri.
1). Tabungan
Tabungan yaitu simpanan dana pihak ketiga bukan bank /BPR yang penarikannya
hanya dapat dilakukan dengan cara – cara tertentu. Dengan adanya berbagai
deregulasi terhadap LPD menyebabkan semua LPD memiliki berbagai jenis produk
tabungan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat tanpa adanya persetujuan dari
BI, seperti tabungan harian, adanya penarikan undian berhadiah, kemudahan untuk
menyetor maupun menarik dana serta berbagai fasilitas lainnya.
2). Deposito Berjangka
Deposito berjangka yaitu deposito yang penarikannya dapat dilakukan pada waktu
tertentu sesuai dengan perjanjian pihak ketiga dengan LPD. Deposito baru bisa
dicairkan sesuai dengan tanggal jatuh temponya, biasanya deposito mempunyai jatuh
tempo 1, 3, 6, atau 12 bulan. Bila deposito dicairkan sebelum tanggal jatuh tempo,
maka akan kena penalti.
3). Antar Bank Pasiva
Merupakan pinjaman yang diterima LPD dari BPD.
4). Pinjaman yang diterima

11
Diisi dengan pinjaman yang diterima dari pihak lain misalnya pinjaman dari LPD
lain.
5). Rupa – Rupa Pasiva
Diisi dengan kewajiban lain-lain atau hutang yaitu saldo rekening pasiva lainnya
yang tidak dapat dimasukkan atau digolongkan ke dalam salah satu pos di atas.
Misalnya bunga simpanan berjangka yang belum dibayarkan.
6). Modal
LPD harus memenuhi kecukupan modal minimum 12% (dua belas persen).
Kecukupan modal ditentukan berdasarkan perbandingan antara modal LPD dengan
ATMR. Modal LPD terdiri dari:
(1) Modal inti
a. Modal disetor;
b. Modal donasi;
c. Modal cadangan;
d. Laba tahun lalu; dan
e. Laba tahun berjalan, diperhitungkan 50% (lima puluh persen)
Modal inti diperhitungkan sebagai faktor pengurang berupa pos rugi tahun-
tahun lalu dan rugi tahun berjalan.
(2) Modal Pelengkap
a. Akumulasi penyusutan aktiva tetap dan inventaris;
b. CPRR, diperhitungkan setinggi-tingginya sebesar 1,25% (satu dua puluh
lima per seratus persen) dari aktiva tertimbang menurut risiko.
7). Cadangan
(1) Cadangan umum, yaitu cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba bersih.
(2) Cadangan tujuan, yaitu bagian laba yang disisihkan untuk tujuan tertentu
(3) Cadangan Piutang Ragu – Ragu (CPRR), yaitu cadangan yang dibentuk untuk
menampung kerugian yang mungkin timbul sebagai dari tidak dapat diterimanya
kembali sebagian/seluruh pinjaman yang diberikan dan disajikan sebagai pos
pengurang pinjaman yang diberikan. Pembentukan CPRR pada LPD didasarkan
kepada kualitas pinjaman yang diberikan yang besarnya ditetapkan sebagai
berikut:
a. 0,5% dari pinjaman yang diberikan yang memiliki kualitas lancar;

12
b. 10% dari pinjaman yang diberikan dengan kualitas kurang lancar;
c. 50% dari pinjaman yang diberikan dengan kualitas diragukan;
d. 100% dari pinjaman yang diberikan dengan kualitas macet.
8). Laba/Rugi
a. Laba adalah laba bersih yang diperoleh yang belum ditetapkan penggunaannya
b. Rugi adalah kerugian yang diderita hingga periode bersangkutan.
2.6 XX
2.7 XX
2.8 XX
2.9 XX
2.10 XXXX

13
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
aaaaaaaaaaaaaaaaa

14
DAFTAR PUSTAKA
Peraturan Derah Provinsi Bali No 11 Tahun 2013 Tentang Lembaga Perkreditan Desa.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2010. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2002 Tentang Lembaga Perkreditan Desa
Peraturan Daerah Provinsi Bali. Nomor 4 Tahun 2012. Perubahan Kedua Atas Peraturan
Peraturan Gubernur Bali. Nomor 11 Tahun 2013. Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah
Provinsi Bali Nomor 4 tahun 2012 Tentang Lembaga Perkreditan Desa.

15