You are on page 1of 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang dapat mengenai hampir semua bagian

tubuh namun paling sering menginfeksi paru-paru.3 Tahun 1882 Kock

mengidentifikasi basil tuberkel.4 Pada awalnya penyakit ini secara primer menjangkiti

paru-paru, dan terbawa ke saluran cerna melalui sputum yang tertelan.1 Tuberkulosis

yang menginfeksi traktus intestinal dapat disebabkan oleh baik Mycobacterium

tuberculosis ataupun Mycobacterium bovis.1

Terdapat kurang dari 200 kasus tuberkulosis intestinal yang dilaporkan di Amerika

Serikat dari tahun 1950 sampai 1980, namun insidensinya, terutama di daerah urban

menunjukkan peningkatan yang stabil selama 20 tahun terakhir.1 Saat ini tuberkulosis

peritoneal merupakan tempat tersering terjadinya tuberkulosis ekstrapulmonal ke-enam

di Amerika Serikat, diikuti oleh limfatik, genitourinaria, tulang dan sendi, TBC milier

dan keterlibatan meningeal. Pada negara-negara maju, insidensi tuberkulosis

abdomen sangat rendah, misalnya pada salah satu kota di Inggris diperkirakan

sebanyak 0,43 per 100.000 orang, sedangkan pada populasi imigran dari Asia memiliki

insidensi 75,7 per 100.000 orang.4 Kontrol terhadap tuberkulosis merupakan suatu

tantangan karena riwayat asal muasal dan pola penyakit yang bervariasi yang

bermanifestasi di kelompok populasi yang berbeda.5


Ketika penyakit ini mengenai traktus intestinal, biasanya disebabkan oleh bakteri

yang menginfeksi paru-paru dan lokasi terseringnya adalah regio ileocecal.1 Alasan

dari distribusi ini dikarenakan keberadaan kelenjar limfe yang berlebih pada area

tersebut, peningkatan stasis fisiologis dan peningkatan rata-rata absorbsi di usus

proksimal.1 Meskipun kondisi ini paling sering terlihat di colon proksimal dan ileum,

namun biasanya dapat ditemukan pula keterlibatan usus segmental.1

Di Negara yang sedang berkembang tuberculosis peritoneal masih sering dijumpai

termasuk di Indonesia. Karena perjalanan penyakitnya yang berlangsung secara

perlahan-lahan dan sering tanpa keluhan atau gejala yang jelas maka diagnosa sering

tidak terdiagnosa atau terlambat ditegakkan. Maka dari itu pemeriksaan radiografi pada

tuberkulosis abdomen dengan menggunakan foto polos abdomen, CT-Scan, MRI dan

USG dapat menjadi pemeriksaan penunjang agar diagnosis tersebut bisa dengan cepat

ditegakkan.