You are on page 1of 4

KATARAK SENILIS

BATASAN
Setiap kekeruhan lensa yang terjadi pada usia lanjut.

PATOFISIOLOGI
Penyebab pasti sampai sekarang belum diketahui. Terjadi perubahan kimia pada
protein lensa dan agregasi menjadi protein dengan berat molekul tinggi. Agregasi protein ini
mengakibatkan fluktuasi indeks refraksi lensa, pemendaran cahaya dan mengurangi
kejernihan lensa. Perubahan kimia pada protein inti lensa mengkibatkan pigmentasi progresif
menjadi kuning atau kecoklatan dengan bertambahnya umur, juga terjadi penurunan
konsentrasi glutation dan kalium, peningkatan konsentrasi natrium dan kalsium serta
peningkatan hidrasi lensa. Faktor yang berperan pada pembentukan katarak antara lain proses
oksidasi dari radikal bebas, paparan sinar ultra violet dan malnutrisi.

PEMBAGIAN
Menurut tebal tipisnya kekeruhan lensa, katarak senil dibagi menurut 4 stadia:
1. Katarak insipien
Kekeruhan lensa tampak terutama di bagian perifer korteks berupa garis-garis yang
melebar dan makin ke sentral menyerupai ruji sebuah roda.
Biasanya pada stadium ini tidak menimbulkan gangguan tajam penglihatan dan masih bisa
dikoreksi mencapai 6/6.
2. Katarak imatur atau katarak intumesen
Kekeruhan terutama di bagian posterior nukleus dan belum mengenai seluruh lapisan
lensa. Terjadi pencembungan lensa karena lensa menyerap cairan, akan mendorong iris ke
depan yang menyebabkan bilik mata depan menjadi dangkal dan bisa menimbulkan
glauoma sekunder.
Lensa yang menjadi lebih cembung akan meningkatkan daya bias, sehingga kelainan
refraksi menjadi lebih miop.
3. Katarak matur
Kekeruhan sudah mengenai seluruh lensa, warna menjadi putih keabu-abuan.
Tajam penglihatan menurun tinggal melihat gerakan tangan atau persepsi cahaya.
4. Katarak hipermatur
Apabila stadium matur dibiarkan akan terjadi pencairan korteks dan nukleus tenggelam ke
bawah (KATARAK MORGAGNI), atau lensa akan terus kehilangan cairan dan keriput
(SHRUNKEN CATARACT). Operasi pada stadium ini kurang menguntungkan karen
menimbulkan penyulit.

GEJALA KLINIS
Subyektif:
 Tajam penglihatan menurun; makin tebal kekeruhan lensa, tajam penglihatan makin
mundur
Demikian pula bila kekeruhan terletak di sentral dari lensa penderita merasa lebih kabur
dibandingkan kekeruhan di perifer.
 Penderita merasa lebih enak membaca dekat tanpa kacamata seperti biasanya karena
miopisasi.
 Kekeruhan di kapsular posterior menyebabkan penderita mengeluh silau dan penurunan
penglihatan pada keadaan terang.
Obyektif:
 Leukokoria: pupil berwarna putih pda katarak matur
 Tes iris shadow (bayangan iris pada lensa): yang positif pada katarak imatur dan negatif
pada katarak matur
 Refleks fundus yang berwarna jingga akan menjadi gelap (refleks fundus negatif) pada
katarak matur.

DIAGNOSIS/ CARA PEMERIKSAAN


 Optotip Snellen: untuk mengetahui tajam penglihatan penderita. pada stadis insipien dan
imatur bisa dicoba koreksi dengan lensa kacamata yang terbaik.
 Lampu senter: refleks pupil terhadap cahaya pada katarak masih normal. Tampak
kekeruhan pada lensa terutama bila pupil dilebarkan, berwarna putih keabu-abuan yang
harus dibedakan dengan refleks senil. Diperiksa proyeksi iluminasi dari segala arah pada
katarak matur untuk mengetahui fungsi retina secara garis besar.
 Oftalmoskopi: untuk pemeriksaan ini sebaiknya pupil dilebarkan. Pada stadium insipien
dan imatur tampak kekeruhan kehitam-hitaman dengan latar belakang jingga sedangkan
pada stadium matur hanya didapatkan warna kehitaman tanpa latar belakang jingga atau
refleks fundus negatif.
 Slit lamp biomikroskopi: dengan alat ini dapat dievaluasi luas, tebal dan lokasi kekeruhan
lensa.

DIAGNOSA BANDING
1. Refleks senil: pada orang tua dengan lampu senter tampak warna pupil keabu-abuan mirip
katarak, tetapi pada pemeriksaan refleks fundus positif.
2. Katarak komplikata: katarak terjadi sebagai penyulit dari penyakit mata (misal uveitis
anterior) atau penyakit sistemik (misal Diabetes Mellitus).
3. Katarak karena penyebab lain: misal obat-obatan (kortikosteroid), radiasi, rudapaksa mta
dan lain-lain.
4. Kekeruhan badan kaca.
5. Ablasi retina.

PENYULIT
 Glaukoma sekunder: terjadi pada katarak intumesen, karena pencembungan lensa.
 Uveitis pakotoksik atau glaukoma fakolitik: terjadi pada stadium hipermatur sebagai
akibat massa lensa yang keluar dan masuk ke dalam balik mata depan.

PENATALAKSANAAN
1. Pencegahan sampai saat ini belum ada
2. Pembedahan: dilakukan apabila kemunduran tajam penglihatan penderita telah
mengganggu pekerjaan sehari-hari dan tidak dapat dikoreksi dengan kaca mata.
3. Pembedahan berupa ekstraksi katarak yang dapat dikerjakan dengan cara:
a. Intra kapsuler: massa lensa dan kapsul dikeluarkan seluruhnya
b. Ekstra kapsuler: massa lensa dikeluarkan dengan merobek kapsul bagian anterior dan
meninggalkan kapsul bagian posterior.
c. Fakoemulsifikasi: inti lensa dihancurkan di dalam kapsul dan sisa massa lensa
dibersihkan dengan irigasi dan aspirasi
4. Koreksi afakia (mata tanpa lensa)
a. Implantasi intra okuler: lensa intra okuler ditanam setelah lensa mata diangkat.
b. Kaca mata.
Kekurangannya adalah distorsi yang cukup besar dan lapang pandangan terbatas.
Kekuatan lensa yang diberikan sekitar+10 D bila sebelumnya emetrop.
c. Lensa kontak: diberikan pada afakia monokuler dimana penderita koperatif, trampil dan
kebersihan terjamin
Kaca mata dan lensa kontak diberikan apabila pemasangan lensa intra okuler tidak
dapat dipasang dengan baik atau merupakan kontra indikasi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Vughan D, Asbury T: General Ophthalology, 15th ed, Lange Medical Publication,
California, 1995, pp. 160, 164-165
2. Basic And Clinical Science Course: Lens and Cataract, The Foundation of The American
Academy of Ophthalmology, 2001-2002, pp. 40-45, 96-110