You are on page 1of 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Masa remaja adalah suatu fase perkembangan yang dinamis dalam kehidupan seseorang.
Masa ini merupakan periode transisi dari masa anak ke masa dewasa yang ditandai dengan
percepatan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial. Perubahan paling awal
muncul yaitu perkembangan secara biologis (Puji, 2011). Ciri khas kedewasaan seorang
wanita adalah adanya perubahan-perubahan siklik pada alat kandungan sebagai persiapan
untuk kehamilan. Peristiwa penting tersebut ditandai dengan datangnya haid, yaitu
pengeluaran darah tiap bulan dari dalam rahim (Sofian, 2011). Saat atau akan haid, sering
muncul keluhan, khususnya para wanita muda usia produktif. Keluhan ini tidak merupakan
masalah kesehatan reproduksi saja, tetapi dapat juga mengganggu produktivitas wanita
sehari-hari (Kasdu, 2008).
Perubahan fisik pada remaja merupakan tanda-tanda pubertas yang terjadi karena
perubahan hormonal, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya perubahan penampilan pada
remaja (Soetjiningsih, 2010). Perubahan fisik pada remaja juga di tandai dengan percepatan
pertumbuhan. Percepatan pertumbuhan dapat dilihat dari pertambahan tinggi badan yang
mencapai 90% sampai 95%, kenaikan berat badan yang mencapai 59% dan adanya
pertumbuhan jaringan lemak terjadi karena adanya perubahan hormonal dalam tubuh
(Soetjiningsih, 2010). Salah satu perubahan fisik/biologis adalah remaja putri mulai
mengalami menstruasi/haid (Kumalasari, Intan., Andhyantoro, Iwan., 2012).
Menstruasi adalah proses peluruhan lapisan dalam atau endometrium yang banyak
mengandung pembuluh darah dari uterus melalui vagina. Hal ini berlangsung terus sampai
menjelang masa menopause yaitu ketika seorang berumur sekitar 40-50 tahun (Kumalasari &
Andhyantoro, 2012). Ada beberapa perempuan mengalami sakit atau kram di daerah perut
bagian bawah saat haid berlangsung, bahkan ada yang sampai pingsan karena tidak dapat
menahan rasa sakitnya. Gangguan seperti ini disebut dismenorea. Bila rasa sakit tidak disertai
dengan riwayat infeksi pada punggung atau pada keadaan panggul normal, dinamakan
dismenorea primer. Gejalanya ditandai dengan rasa mual, ingin muntah, sakit kepala, nyeri
punggung dan pusing ( Pribakti, 2010).

Dismenorea merupakan nyeri selama atau segera sebelum menstruasi menjadi salah satu
masalah ginekologik yang paling umum terjadi pada wanita dari segala usia (Lowdermilk,
2010). Dismenorea primer terjadi pada 6-12 bulan setelah menarche, disebabkan tingginya
kadar prostaglandin (PGs) yang direlease dari secretory endometrium sehingga menimbulkan
kontraksi uterus yang menyakitkan. Dismenorea sekunder merupakan nyeri menstruasi yang
disebabkan oleh patologi pada pelvik atau uterus, dapat terjadi setiap waktu setelah menarche
(Bajrai, et al., 2010). Hasil penelitian Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi
Remaja (PIK-KRR) di Indonesia tahun 2009 angka kejadian dismenorea primer 72,89% dan
dismenorea sekunder 27,11%. Angka kejadian dismenorea sekitar 45-95% dikalangan wanita
usia produktif (Proverawati & Misaroh, 2009). Dismenorea dibedakan menjadi dua jenis
yaitu dismenore primer dan sekunder. Dismenore primer umumnya terjadi dalam 6-12 bulan
pertama setelah 2 bulan haid pertama, segera setelah siklus ovulasi teratur ditentukan
(Anurogo dan Wulandari, 2011). Sedangkan dismenorea sekunder, hampir sebagian besar
disebabkan karena kelainan organ panggul dan jarang ditemukan pada wanita (Pribakti, 2010)
Berdasarkan data di Indonesia angka kejadian dismenorea sebesar 64,25 % yang terdiri
dari 54,89% dismenorea primer dan 9,36 % dismenorea sekunder (Info sehat, 2008).
Dismenore menyebabkan 14% dari pasien remaja sering tidak hadir di sekolah dan tidak
menjalani kegiatan sehari-hari (Calis, 2011). Hasil Sensus Badan Pusat Statistik Jawa Tengah
Tahun 2010, 11,78% adalah remaja dari jumlah penduduk 32.548.687 jiwa. Indonesia dengan
jumlah remaja putri usia 10-19 tahun sebanyak 2.761.577 jiwa. Sedangkan 2 yang mengalami
dismenorea di propinsi jawa tengah mencapai 1.518.867 jiwa (Badan Pusat Statistik Jawa
Tengah, 2010). Kurangnya pemberian informasi tenaga kesehatan tentang dismenorea
menjadi salah satu faktor pemicu tingginya angka kejadian dismenorea. Persentase wanita
belum kawin umur 15-24 tahun yang menerima informasi mengenai perubahan fisik dan
pubertas sekitar 8,4% dengan menerima informasi dari teman 29,3%, ibu 17,6%, ayah 2%,
saudara kandung 4,6%, kerabat 4,5%, guru 60,9%, pemimpin agama 1,8%, televisi 8%, radio
1,8 %, dari buku, majalah atau surat kabar 24,7, internet 5,4 %, lainnya 14,5 %, sedangkan
dari petugas kesehatan hanya sekitar 2,5 % dan yang tidak mendapat informasi sama sekali
1,4% (BKKBN, 2014).

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat di rumuskan “Adakah
Hubungan tingkat pengetahuan tentang pengaruh latihan Abdominal Streching
terhadap intensitas nyeri haid {Disminore}……”

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang tentang pengaruh latihan
Abdominal Streching terhadap intensitas nyeri haid {Disminore} pada

1.3.2 Tujuan Khusus


a) Mengetahui skala nyeri dismenore pada remaja putri sebelum dilakukan latihan
abdominal stretching.
b) Mengetahui skala nyeri dismenore pada remaja putri setelah dilakukan latihan
abdominal stretching

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Teoritis

1. Bagi akademik : Merupakan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam hal
mengenai latihan abdominal stretching digunakan sebagai terapi penurun intensitas
dismenore pada ....
2. Bagi Profesi Keperawatan : Penelitian ini juga diharapkan bisa menambah informasi
khususnya mengenai mengenai latihan abdominal stretching digunakan sebagai terapi
penurun intensitas dismenore pada….
1.4.2 Praktisi

a. Bagi Klien
Asuhan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi klien mengenai latihan
abdominal stretching digunakan sebagai terapi penurun intensitas dismenore.
Sehingga dapat menerapkan latihan abdominal stretching apabila mengalami nyeri
dismenore supaya pada saat mengalami menstruasi dapat mengurangi nyeri yang
dialaminya.
b. Bagi Penulis
Asuhan ini menambah pengetahuan baru bagi penulis mengenai manfaat latihan
abdominal stretching sebagai penurun intensitas nyeri dismenore. Sehingga dapat
diterapkan sebagai cara untuk mengurangi nyeri dismenore.