You are on page 1of 7

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DAERAH JAWA TIMUR


BIDANG KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK III LUMAJANG

ASUHAN KEPERAWATAN PNEMONIA

 Definisi

Pneumonia adalah inflamasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan


pengisian alveoli dengan cairan. Penyebabnya karena agen infeksi, irirtan kimia
dan terapi radiasi. bakterinya bernama pneumococcal pneumonia.( Doenges,
Marilynn E., 1999). Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan
dengan adanya konsolidasi akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli.(Axton &
Fugate, 1993). Peradangan akut parenkim paru yang biasanya berasal dari suatu
infeksi, disebut pneumonia. (Sylvia)

 Tanda-tanda dan gejala

Pasien pneumonia yang menular biasanya menderita batuk produktif,


demam yang disertai menggigil bergetar, sulit bernapas, nyeri dada yang tajam
atau menghunjam selama menarik napas dalam-dalam, dan peningkatan laju
respirasi. Pada manula, adanya kebingungan menjadi tanda yang paling utama.
Tanda-tanda dan gejala khusus pada anak-anak balita yaitu demam, batuk, dan
napas yang cepat atau sulit. demam tidak sangat spesifik, karena ini gejala yang
umum timbul pada berbagai penyakit, dan mungkin tidak tampak pada penderita
penyakit parah atau malnutrisi. Selain itu, gejala batuk sering tidak muncul pada
anak-anak berusia kurang dari 2 bulan. Tanda-tanda dan gejala yang lebih parah
meliputi: kulit biru, rasa haus berkurang, konvulsi, muntah-muntah yang menetap,
suhu ekstrim, atau penurunan tingkat kesadaran.
 Faktor Penyebab

Pneumonia terutama disebabkan oleh infeksi dari bakteri atau virus dan
jarang dijumpai disebabkan oleh fungi dan parasit. Walaupun terdapat lebih dari
100 galur agen infeksi yang telah diidentifikasi, namun hanya beberapa yang
bertanggungjawab atas mayoritas kasus yang ada. Infeksi bersama dengan virus
beserta bakteri dapat muncul hingga sebanyak 45% infeksi pada anak-anak dan
15% infeksi pada orang dewasa.[6] Agen penyebabnya tidak dapat diisolasi pada
sekitar setengah kasus yang ada walaupun pengujian yang cermat telah dilakukan.
Istilah pneumonia terkadang digunakan secara lebih luas terhadap berbagai kondisi
yang menyebabkan inflamasi paru-paru (misalnya yang disebabkan oleh penyakit
autoimun, luka bakar kimia atau reaksi obat); namun demikian, inflamasi ini lebih
tepat disebut sebagai pneumonitis. Menurut sejarahnya agen penginfeksi dibagi
menjadi "khas" dan "tidak khas" didasarkan pada aspek yang diduga, tetapi bukti-
bukti yang ada tidak mendukung pembedaan ini, sehingga kini tidak lagi
ditekankan.

1.1 Bakteri
1.2 Virus
1.3 Fungi
1.4 Parasit

 Penatalaksanaan

1. Antibiotik, terutama untuk pneumonia bakterialis pneumonia lain juga dapat diobati
dengan antibiotic untuk mengurangi resiko infeksi bakteri sekunder
2. Istrahat
3. Hidrasi untuk membantu melancarkan sekresi
4. Tekhnik-tekhnik bernafas dalam untuk menningktakan ventilasi alveolus dan
mengurang resiko atelektasis.
5. Juga diberikan obat-obat lain yang spesifik untuk mikroorganisme yang diidentifikasi
dari biakan sputum.
TINDAKAN KEPERAWATAN PNEUMONIA

Diagnosa Keperawatan

1) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial,


pembentukan edema, peningkatan produksi sputum. (Doenges, 1999 : 166)
2) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus
kapiler, gangguan kapasitas pembawa aksigen darah, ganggguan pengiriman
oksigen. (Doenges, 1999 : 166)
3) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi dalam alveoli.
(Doenges, 1999 :177)
4) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan
cairan berlebih, penurunan masukan oral. (Doenges, 1999 : 172)
5) Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kebutuhan metabolik
sekunder terhadap demam dan proses infeksi, anoreksia yang berhubungan
dengan toksin bakteri bau dan rasa sputum, distensi abdomen atau gas.( Doenges,
1999 : 171)
6) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk aktifitas sehari-
hari. (Doenges, 1999 : 170)

 Tindakan Keperawatan

a) Dx 1 : Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea


bronchial, peningkatan produksi sputum, ditandai dengan:

 Perubahan frekuensi, kedalaman pernafasan.


 Bunyi nafas tak normal.
 Dispnea, sianosis
 Batuk efektif atau tidak efektif dengan/tanpa produksi sputum.
Intervensi:

Kaji frekuensi/kedalaman pernafasan dan gerakan dada.

Auskultasi area paru, catat area penurunan 1 kali ada aliran udara dan bunyi nafas.
Ajarkan teknik batuk efektif

Penghisapan sesuai indikasi.

Berikan cairan sesuai kebetuhan.

b) Dx 2 : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pembawa


oksigen darah, gangguan pengiriman oksigen, ditandai dengan:

 Dispnea, sianosis
 Takikardia
 Gelisah/perubahan mental
 Hipoksia

Intervensi

1) Kaji frekuensi/kedalaman dan kemudahan bernafas


2) Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku. Catat adanya sianosis perifer
(kuku) atau sianosis sentral.
3) Kaji status mental.
4) Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, nafas dalam dan batuk
efektif.
5)Kolaborasi
Berikan terapi oksigen dengan benar misal dengan nasal plong master, master
venturi..

c) Dx 3 : Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan


ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun),
penyakit kronis, malnutrisi.
Intervensi:

1.) Pantau tanda vital dengan ketat khususnya selama awal terapi
2.) Tunjukkan teknik mencuci tangan yang baik
3.) Batasi pengunjung sesuai indikasi.
4.) Potong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang. Tingkatkan
masukan nutrisi adekuat.
5.) Kolaborasi untuk pemberian antibiotic. Berikan antimikrobial sesuai indikasi dengan
hasil kultur sputum/darah misal penicillin, eritromisin, tetrasiklin, amikalin,
sepalosporin, amantadin.

d) Dx 4 :Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai


dan kebutuhan oksigen ditandai dengan:

 Dispnea
 Takikardia
 Sianosis

Intervensi

1.) Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas


2.) Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi.
3.) Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat atau tidur.
4.) Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan
e) Dx 5 : Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim varul, batuk menetap
ditandai dengan:

 Nyeri dada
 Sakit kepala
 Gelisah

Intervensi:

1. Tentukan karakteristik nyeri, misal kejan, konstan ditusuk


2. Pantau tanda vital
3. Berikan tindakan nyaman pijatan punggung, perubahan posisi, musik
tenang/berbincangan.
4. Aturkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk.
Kolaborasi :
5. Berikan analgesik dan antitusif sesuai indikasi

f) Dx 6 : Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses
inflamasi

Intervensi :

1) Identifikasi faktor yang menimbulkan mual/muntah, misalnya: sputum, banyak nyeri.


2) Jadwalkan atau pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan.
3) Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering (roti panggang)
makanan yang menarik oleh pasien.
4) Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar.
Dx 7 : Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan
dengan kehilangan cairan berlebihan, demam, berkeringat banyak, nafas
mulut, penurunan masukan oral.

Intervensi :

1) Kaji perubahan tanda vital contoh peningkatan suhu demam memanjang,


takikardia.
2) Kaji turgor kulit, kelembapan membran mukosa (bibir, lidah)
Catat laporan mual/muntah
3) Pantau masukan dan keluaran catat warna, karakter urine. Hitung keseimbangan
cairan. Ukur berat badan sesuai indikasi.
4) Tekankan cairan sedikit 2400 mL/hari atau sesuai kondisi individual
Kolaborasi : Beri obat indikasi misalnya antipiretik, antimitik.
5) Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan