You are on page 1of 55

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA NY.

DENGAN DIAGNOSA HEPATITIS DI RUANG

MAWAR RSUD MANGKUBUMI

DI SUSUN OLEH:

KELOMPOK 4A

AA BRIANTARA DAIVA REFINA AGUSTIYAH

AGUS SURIADI RISKA DWI ADILA

ALISA ALDA SISKI ALFA PREGINOVA

DEDE RIANI VERONIKA NONA NESTRY

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN KONSENTRASI

ANESTESI DAN GAWAT DARURAT MEDIK

STIKES BHAKTI KENCANA BANDUNG

1
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt yang telah

memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

makalah yang berjudul ”Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Ny. K Dengan

Diagnosa Hepatitis Di Ruang Mawar RSUD Mangkubumi” ini sesuai dengan

perencanaan yang telah ditentukan.

Salawat serta salam tidak lupa kami haturkan atas junjungan nabi besar

kita Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam kegelapan menuju

alam terang menderang, semoga kami mengikuti jejak beliau sampai akhir zaman.

Aamiin.

Tak ada gading yang tak retak dan tak seorang pun yang luput dari

kesalahan dan kelemahan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran

yang sifatnya konsuktif guna penyempurnaan makalah berikutnya.

Bandung, 18 September 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.......................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................... 2

1.3 Tujuan ....................................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KONSEP PENYAKIT ................................................................ 4

2.1.1 Anatomi Fisiologi Hepar .......................................................... 4

2.1.2 Pengertian Hepatitis.................................................................. 6

2.1.3 Etiologi Hepatitis ..................................................................... 6

2.1.4 Manifestasi Klinis ..................................................................... 7

2.1.5 Patofisiologi .............................................................................. 8

2.1.6 Pathway .................................................................................... 10

2.1.7 Pemeriksaan Penunjang ............................................................ 11

2.1.8 Penatalaksanaan ....................................................................... 12

2.1.9 Komplikasi ............................................................................... 14

2.2 ASUHAN KEPERAWATAN................................................... 14

2.2.1 Pengkajian ................................................................................ 14

2.2.2 Diagnosa Keperawatan ............................................................. 19

2.2.3 Intervensi dan Rasional ............................................................ 20

ii
BAB III LAPORAN KASUS

3.1 Pengkajian ...................................................................................... 27

3.2 Analisa Data ................................................................................... 37

3.3 Diagnosa......................................................................................... 39

3.4 Intervensi ........................................................................................ 40

3.5 Implementasi .................................................................................. 42

3.6 Evaluasi .......................................................................................... 47

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan ................................................................................... 50

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Semakin bertambah usia seseorang, pada umumnya semakin banyak penyakit

yang diderita. Hal ini karena usia merupakan salah satu faktor dari berbagai

penyakit. Tak heran, banyak lansia yang menderita penyakit serius, bahkan tak

hanya satu penyakit tapi bisa dua atau lebih penyakit sekaligus.

Hepatitis adalah suatu proses peradangan difusi pada jaringan yang dapat

disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta

bahan-bahan kimia. Tak dapat dipungkiri, Indonesia termasuk daerah endemis

hepatitis virus B (HVB). Tentu saja hal ini menjadi masalah besar karena

mempunyai dampak morbiditas (kesakitan), mortalitas (kematian), dan dampak

psikososial serta ekonomi.

Pada umumnya klien yang menderita penyakit hepatitis ini mengalami

Anoreksia atau penurunan nafsu makan dimana gejala ini diperkirakan terjadi

akibat pelepasan toksin oleh hati yang rusak untuk melakukan detoksifikasi

produk yang abnormal sehingga klien ini haruslah mendapatkan nutrisi yang

cukup agar dapat memproduksi enegi metabolik sehingga klien tidak mudah lelah.

Secara khusus terapi nutrisi yang didesain dapat diberikan melalui rute

parenteral atau enteral bila penggunaan standar diet melalui rute oral tidak adekuat

1
atau tidak mungkin untuk mencegah/memperbaiki malnutrisi protein-kalori.

Nutrisi enteral lebih ditujukan pada pasien yang mempunyai fungsi GI tetapi tidak

mampu mengkonsumsi masukan nasogastrik. Nutrisi parenteral dapat dipilih

karena status perubahan metabolik atau bila abnormalitas mekanik atau fungsi

dari saluran gastrointestinal mencegah pemberian makan enteral. Asam

amino,karbohidrat, elemen renik, vitamin dan elektrolit dapat diinfuskan melalui

vena sentral atau perifer. (Marilyn E. Doengoes, 1999: 758)

Dalam memberikan pelayanan kesehatan memerlukan asuhan

keperawatan yang tepat, disamping itu juga memerlukan pengetahuan dan

keterampilan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan, sehingga akibat

dan komplikasi dapat dihindari seperti memberi penjelasan tentang Hepatitis

antara lain: penyebab, tanda dan gejala, pengobatan, perawatan, penularan dan

akibat yang didapat kalau pengobatan tidak dilakukan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana anatomi dari fisiologi hepar?

2. Apa pengertian penyakit hepatitis?

3. Bagaimana etiologi dari hepatitis?

4. Bagaimana manifestasi hepatitis?

5. Bagaimana patofisiologi dari hepatitis?

6. Apa saja pemeriksaan penunjang hepatitis?

2
7. Bagaimana penatalaksanaan dari hepatitis?

8. Bagaimana komplikasi dari hepatitis?

9. Bagaimana konsep asuhan keperawatan dari pasien dengan hepatitis?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Menengetahui dan memahami konsep teori dan asuhan keperawatan pada

hepatitis.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk menjelaskan anatomi fisiologi hepar.

2. Untuk menjelaskan pengertian penyakit hepatitis.

3. Untuk menjelaskan etiologi hepatitis.

4. Untuk menjelaskan manifestasi hepatitis.

5. Untuk menjelaskan patofisiologi hepatitis.

6. Untuk menjelaskan pemeriksaan penunjang hepatitis.

7. Untuk menjelaskan penatalaksanaan hepatitis.

8. Untuk menjelaskan komplikasi hepatitis.

9. Untuk menjelaskan konsep asuhan keperawatan pada pasien hepatitis.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Penyakit

2.1.1 Anatomi Fisiologi Hepar

Gambar 2.1: Anatomi hepar

Sumber: http://ainunhairany.blogspot.com/2011/11/mengenal-bahaya-penyakit-

hepatitis.html

Hati adalah organ intestinal terbesar dengan berat antara 1,2-1,8 kg atau

lebih 25% berat badan orang dewasa dan merupakan pusat metabolisme tubuh

dengan fungsi sangat kompleks yang menempati sebagian besar kuadran kanan

atas abdomen. Batas atas hati berada sejajar dengan ruangan interkostal V kanan

dan batas bawah menyerong ke atas dari iga IX kanan ke iga VIII kiri.

4
Permukaan posterior hati berbentuk cekung dan terdapat celah transversal

sepanjang 5 cm dari sistem porta hepatis. Omentum minor terdapat mulai dari

sistem porta yang mengandung arteri hepatica, vena porta dan duktus koledokus.

Sistem porta terletak di depan vena kava dan dibalik kandung empedu.

Permukaan anterior yang cembung dibagi menjadi 2 lobus oleh adanya perlekatan

ligamentum falsiform yaitu lobus kiri dan lobus kanan yang berukuran kira-kira 2

kali lobus kiri. Hati terbagi 8 segmen dengan fungsi yang berbeda. Pada dasarnya,

garis cantlie yang terdapat mulai dari vena cava sampai kandung empedu telah

membagi hati menjadi 2 lobus fungsional, dan dengan adanya daerah dengan

vaskularisasi relatif sedikit, kadang-kadang dijadikan batas reseksi. Secara

mikroskopis didalam hati manusia terdapat 50.000-100.000 lobuli, setiap lobulus

berbentuk heksagonal yang terdiri atas sel hati berbentuk kubus yang tersusun

radial mengelilingi vena sentralis.

Gambar 2.2: Sirkulasi Hepar

Hati adalah organ terbesar dan terpenting di dalam tubuh. Organ ini

penting untuk sekresi empedu, namun juga memiliki fungsi lain antara lain :

5
1. Metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein setelah penyerapan dari

saluran pencernaan.

2. Detoksifikasi atau degradasi zat sisa dan hormon serta obat dan

senyawa asing lainya.

3. Sintesis berbagai macam protein plasma mencakup untuk pembekuan

darah dan untuk mengangkut hormon tiroid, steroid, dan kolesterol.

4. Penyimpanan glikogen, lemak, besi, tembaga, dan banyak vitamin.

5. Pengaktifan vitamin D yang dilaksanakan oleh hati dan ginjal

6. Pengeluaran bakteri dan sel darah merah yang sudah rusak.

7. Ekskresi kolesterol dan bilirubin.

2.1.2 Pengertian Hepatitis

Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan yang dapat

disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta

bahan-bahan kimia. (Sujono Hadi, 1999). akan sama halnya dengan menurut

Rahadian Sasongko (2009), yang mengatakan bahwa hepatitis ialah peradangan

hati yang akut karena suatu infeksi karena keracunan.

Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan

klinis, biokimia serta seluler yang khas (Smeltzer, 2001).

2.1.3 Etiologi Hepatitis

Klasifikasi agen penyebab hepatitis virus yaitu :

6
1. transmisi secara enterik terdiri dari hepatitis A (HAV) dan hepatitiis E

(HEV) :

a. virus tanpa selubung

b. Tahan terhadap cairan empedu

c. Ditemukan di tinja

d. Tidak dihubungkan dengan penyakit kronik

e. Tidak terjadi viremia yang berkepanjangan atau kondisi karier

intestinal.

2. Transmisi melalui darah terdiri dari hepatitis B (HBV), hepatitis D (DHV),

dan hepatitis C (HCV) :

a. Virus dengan selubung (envelope)

b. Rusak bila terpajan cairan empedu

c. Tidak terdapat dalam tinja

2.1.4 Manifestasi klinis

1. Malaise,anoreksia, mual dan muntah

2. Gejala flu, faringitis, abtuk,coryza,fotophobia,sakit kepala, dan mialgia

3. Demam ditemukan pada infeksi HAV

4. Ikterus didahului dengan kemunculan urine berwarna gelap

5. Pruritus (biasanya ringan dan sementara)

6. Nyeri tekan pada hati

7. Splenomegali ringan

8. Limfadenopati

7
2.1.5 Patofisiologi

Gambar 2.3: Hepatitis

Penyebab dari hepatitis A adalah virus dari hepatitis A. penularan virus ini

melalui fekal, oral dan replikasi virus terjadi dalam hati. Penyakit hepatitis A,

atau yang dikenal juga dengan penyakit kuning ini. cara penularannya adalah

melalui makanan dan minuman yangn tercemar kotoran yang mengandung virus

hepatitis A. HAV ini kemudian diekkresikan lewat empedu.Konsentrasi yang

tertinggi didalam fases, khususnya selama dua minggu sebelum ikterus

muncul.Anak-anak dan orang dewasa dapat diasumsikan noninfeksius atau

minnggu setelah ikterus muncul.Sumber penularan umum adalah dari makanan

atau air yang terkontaminasi.Virus hepatitis A terkonsantrasi dan dapat tumbuh

dekat dengan outletpembuangan limbah pada sayur mentah. Tingakt infeksi lebih

tinggi di daerah dimna transmisi lansung antara fekal oral mungkin terjadi , sepeti

tempat penitipan anak, penjara dan dan lembaga mental.transmisi homoseksual

mungkin antara pria homoseksual.

Infeksi virus hepatitis B ditularkan melalui hematogen dan seksual. HBV

merupakan virus yang merepplekasikan hepaotropik dihati dan menyebabkan

disfungsi sel-sel hati. Hasil dari intraksi ini adalah intraksi rumit host virus yang

mengakibbatkan gelala akut mmaupun simtomatik. Pasien mungki dapat menjadi

8
kebal kembali terhadap HBV atau justru mengembagkan carier kroni ske sisi

lainya. Kondis patologis yang disebabkan oleh intraksi virus dan system

kekebalan tubuh akan meneyrrang hati dan mengakibatkan cidera sel-sel hati.

Sebagai respon terhadap adanya cidera sel oleh bderbagai antigen virus, individu

membentuk berbaga macam antibody.Respon aktivasi dari limposit untuk

mengenali berbagai HBv dipermukaan hepatosit dan melakukan aktivasi reaksi

imunitas. Suatu gangguan reaksi imunitas( misalnya pelepsan toksin, produksi

antibody atau toleransi relative status imunitas mengakibatkan hepatitis kronisa

dan berahir pada kondisi sirosis hepatic.

Transmisi HCV hampir sama dengan HBV meskipun hepatitis C

mempunyai kemampuan untuk merusak sel-sel hati, 80% dari individu dengan

penyakit ini tidak memiliki gejal spesifik yang berhubungna dengan gangguan

fungsi hati.

Infeksi HDV akut dan kronis melibatkan proses peradangan hati, HDV

dapat bereplekasi secara independenn dalam hepatitis, tetapi membutuhkan

antigen permukaan heoatitis B untuk memeberikan respon propagasi. Virus ini

melkukan koinveksi dengan HDV juga dapat timbul keudian sehingga infeksi

HDV bwrtambah parah.

Infeksi virus hevatitis E ditularkan melalui fekal-oral setelah masuk ke

sirkulasi maka target organ dari virus ini adalah sel-sel hepatosis dan

menyebabkann cidera pada sel-sel hati. Respon cidera ini terjadi pada seluruh sel-

sel hati dan menjadi nekrosis.(arifmuttaqin, komala sari, 2011).

9
2.1.6 Pathway

Pengaruh alkohol, virus hepatitis, toksin

Hipertermi Inflamasi pada hepar Peregangan kapsula hati

Gangguan suplay darah normal pada


Perubahan kenyamanan Hepatomegali
sel-sel hepar
Perasaan tidak nyaman di kuadran
Gangguan metabolisme karbohidrat Kerusakan sel parenkim, sel hati dan
kanan atas
lemak dan protein duktulii empedu intrahepatik

Nyeri Anoreksia
Gglikogenesis Glukoneogenesis
menurun menurun

Perubahan Nutrisi :
Glikogen dalam hepar berkurang
Kurang Dari Kebutuhan
Glikogenolisis menurun

Glukosa dalam darah berkurang

Cepat lelah Keletihan

Kerusakan sel parenkim, sel hati dan


duktuli empedu intrahepatik

Obstruksi Kerusakan konjugasi


Gangguan eksresi Kerusakan sel eksresi
empedu Bilirubin tidak sempura dikeluarkan
Retensi bilirubin melalui duktus hepatikus

Regurgitasi pada duktuli


Bilirubin direk meningkat
empedu intra hepatik
Ikterus
Bilirubin direk
meningkat

Peningkatan garam Ikterus Larut dalam air


empedu dalam darah

Pruritus Perubaha Eksresi ke Billirubinuria dan kemih


kenyamanan dalam kemih berwarna gelap

10
2.1.7 Pemeriksaan Penujang

1. ASR (SGOT) / ALT (SGPT) Awalnya meningkat.

Dapat meningkat 1-2 minggu sebelum ikterik kemudian tampak menurun.

SGOT/SGPT merupakan enzim – enzim intra seluler yang terutama berada

dijantung, hati dan jaringan skelet, terlepas dari jaringan yang rusak,

meningkat pada kerusakan sel hati

2. Darah Lengkap (DL)

SDM menurun sehubungan dengan penurunan hidup SDM (gangguan

enzim hati) atau mengakibatkan perdarahan.

a. Leukopenia: Trombositopenia mungkin ada (splenomegali)

b. Diferensia Darah Lengkap: Leukositosis, monositosis, limfosit,

atipikal dan sel plasma.

c. Alkali phosfatase: Agaknya meningkat (kecuali ada kolestasis berat)

d. Feses; Warna tanah liat, steatorea (penurunan fungsi hati)

e. Albumin Serum: Menurn, hal ini disebabkan karena sebagian besar

protein serum disintesis oleh hati dan karena itu kadarnya menurun

pada berbagai gangguan hati.

f. Gula Darah: Hiperglikemia transien / hipeglikemia (gangguan fungsi

hati).

g. Anti HAVIgM: Positif pada tipe A

h. HbsAG: Dapat positif (tipe B) atau negatif (tipe A)

11
i. Masa Protrombin: Mungkin memanjang (disfungsi hati), akibat

kerusakan sel hati atau berkurang. Meningkat absorbsi vitamin K yang

penting untuk sintesis protombin.

j. Bilirubin serum: Diatas 2,5 mg/100 ml (bila diatas 200 mg/ml,

prognosis buruk, mungkin berhubungan dengan peningkatan nekrosis

seluler)

k. Biopsi Hati: Menujukkan diagnosis dan luas nekrosis

l. Skan Hati: Membantu dalam perkiraan beratnya kerusakan parenkin

hati.

m. Urinalisa: Peningkatan kadar bilirubin.

2.1.8 Penatalaksanaan

2.1.8.1 Penanganan dan pengobatan hepatitis A

Penderita yang menunjukan hepatitis A diharapkan untuk tidak

beraktivitas serta segera mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat untuk

mendapatkan pengobatan dari gejala yang timbul. Dapat dibberikan pengobatan

simptomatik seperti antipiretik dan analgetik serta vitamin untuk meningkatkan

daya tahan tubuh dan nafsu makan serta obat obatan yang mengurangi rasa mual

dan muntah

2.1.8.2 Penanganan dan pengobatan hepatitis B

Setelah di diagnosa ditegakan sebagai hepatitis B, maka ada beberapa cara

pengobbatan

1. Pengobatan oral

12
a. Lamivudine : dari kelompok nukleosida analog, dikenal dengan nama

3TC. Obat ini digunakan bagi dewasa maupun anak anak, pemakaian

obat ini cenderung meningkatkan enzim hati (ALT) untuk itu

penderita akan mendapat monitor berkesinambungan dari dokter.

b. Adefovir dipivoxil (Hepsera) : pemberian secara oral akan lebih

efektif tetapi pemberian dosis yang tinggi akan berpengaruh buruk

terhadap fungsi ginjal.

c. Baraclude (entecavir) : obat ini diberikan pada penderita hepatitis B

kronik, efek samping pada obat ini adalah sakit kepala, pusing, letih,

mual, dan terjadi peningkatan enzim hati.

2. Pengobatan dengan injeksi

Microsphere; mengandung partikel radioaktif pemancar sinar B

yang akan menghancurkan sel kanker hati tanpa merusak jaringan sehat di

sekitarnya. Injeksi Alfa Interferon (INTRON A, INFERGEN, ROFERON)

diberikan secara subcutan dengan skala pemberian 3 kali dalam seminggu

selama 12-16 minggu atau lebih. Efek samping pemberian obat ini adalah

depresi, terutama pada penderita yang memilki riwayat depresi

sebelumnya. Efek lainnya adalah terasa sakit pada otot-otot, cepat letih

dan sedikit menimbulkan demam yang hal ini dapat dihilangkan dengan

pemberian antipiretik.

13
2.2.8.3 Penanganan dan Pengobatan Hepatitis C

Saat ini pengobatan Hepatitis C dilakukan dengan pemberian obat seperti

Interferon alfa, Pegylated interferon alfa dan Ribavirin. Pengobatan pada

penderita Hepatitis C memerlukan waktu yang cukup lama bahkan pada penderita

tertentu hal ini tidak dapat menolong, untul: itu perlu penanganan pada stadium

awalnya.

2.1.9 Komplikasi

1. Kolestasis

2. Kambuhnya infeksi

3. Gagal hati

4. Hepatitis B fulminan

5. Kanker hati

6. Sirosis hati

2.2 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

2.2.1 Pengkajian

Pengkajian merupakan dasar utama proses perawatan yang akan

membantu dalam penentuan status kesehatan dan pola pertahanan klien,

mengidentifikasi kekuatan dan kebutuhan klien serta merumuskan diagnosa

keperawatan.

14
1) Identitas klien

Meliputi nama lengkap, jenis kelamin, tempat tinggal, umur, tempat lahir,

asal suku bangsa, pekerjaan, nama penanggungjawab, jenis kelamin

penanggungjawab, umur penanggungjawab, pekerjaan penanggungjawab,

alamat penanggungjawab, status hubungan dengan klien.

2) Keluhan utama

Kelemahan, susah berjalan/bergerak, kram otot, gangguan istirahat dan tidur,

tachicard/tachipnea pada waktu melakukan aktivitas.

3) Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan sebelumnya

Berapa lama klien sakit, bagaimana penanganannya, mendapat terapi apa,

bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang

dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.

4) Riwayat Kesehatan Keluarga

Meliputi riwayat kesehatan menular dan keterunan.

5) Aktivitas sehari hari

a) Aktifitas / istirahat :

- Kelelahan ekstrem, kelemahan, malaise

- Gangguan tidur (insomnia / gelisah atau somnolen

- Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak

b) Makanan / cairan

- Peningkatan berat badan cepat (oedema), penurunan berat badan

(malnutrisi).

15
- Anoreksia, nyeri ulu hati, mual/muntah, rasa metalik tak sedap pada

mulut (pernapasan amonia)

- Distensi abdomen/asites, pembesaran hati (tahap akhir)

c) Eliminasi

- Perubahan warna urine, contoh kuning pekat

6) Pemeriksaan fisik

a. Sistem Panca Indra

Pada mata klien saat diinspkesi tampak simestris kiri dan kanan, konjungtiva

pucat, tidak ada oedema pada palpebra, sclera (ikterus), bulu mata tidak

mudah tercabut, alis tersebar merata, lapang pandang klien yaitu melihat ke 8

arah lapang pandang. Pada hidung saat diinspeksi tampak simetris antara kiri

dan kanan, mampu membedakan bau, serta tidak terdapat secret. Dan pada

telinga saat diinspeksi keadaan daun telinga simetris kiri dan kanan, terdapat

serumen, fungsi pendengaran normal ( test dengan garputala ). Saat dilakukan

test rinne : +/+ (fungsi pendengaran normal, hantaran udara lebih panjang dari

hantaran tulang klien ) serta test weber tidak ada laterisasi kekiri dan

kekanan.

b. Sistem Kardiovaskuler

CRT < 2 detik, tidak ada distensi vena jugularis, tidak terdapat suara jantung

tambahan.

c. Sistem Respirasi

Saat di palpasi tidak terdapat nyeri tekan. Saat diinspeksi bentuk dada

simetris antara dada kiri dan dada kanan, pergerakan dadanya pun mengikuti

16
gerakan dari pernafasan dengan frekuennsi 24 kali/menit. Saat diperkusi

terdapat suara resonan diarea paru. Saat diauskultasi suara nafas vesikuler dan

tidak terdapat suara bunyi nafas tambahan.

d. Sistem Persarafan

Pada fungsi cerebral, klien mampu mengingat waktu, orang dan tempat, daya

ingat klien pun masih mampu untuk mengingat masa lalu, kesadaran klien

composmentis. Pada fungsi sensorik klien mampu merasakan nyeri, panas,

dingin. Pada fungsi serebellum terdapat koordinasi baik, klien mampu

menunjukkan bagian dari tubuhnya.

Sedangkan pada fungsi cranial, yaitu :

1) Nervus ( I Olfaktorius) : Klien mampu membedakan bau-bauan

2) Nervus (II oftivus) : Mampu melihat segala arah

3) Nervus (III oculomotorius): Pupil miosis pada saat di test dengan

refleks cahaya

4) Nervus (IV trocheris) : Klien mampu menggerakkan bola mata

dari atas ke bawah

5) Nervus (V trigeminus) : Klien dapat mengatupkan giginya

6) Nervus (VI abducens) : Klien mampu menggerakkan matanya

lateral

7) Nervus (VII facialis) : Klien dapat mengerutkan dahi dan

tersenyum.

8) Nervus (VIII ocusticus) : Klien mampu mnedengar dengan baik.

17
9) Nervus (IX glosofaringeus) : Klien mampu menelan dengan baik,

mampu membedakan rasa asam, manis, pahit, dan asin

10) Nervus (X vagus) : Ovula terlihat saat mengatakan

“AH”

11) Nervus (XI asesoris) : Mampu menggerakkan bahu

12) Nervus (XII hypoglossal) : Klien mampu menggerakkan lidah

kekiri dan kekanan.

e. Pada fungsi motorik massa otot simetris kiri dan kanan, serta mampu

menahan gravitasi, tapi bukan kekuatan penuh

4 4

4 4

f. Sistem Imun

Tidak ada riwayat alergi terhadap makan, zat kimia atau perubahan cuaca.

g. Sistem Pencernaan

Gigi tidak lengkap, tidak caries. Gusi tampak berwarna merah muda. Lidah

klien tampak kotor dan bibir tampak kering. Pada saat diinspeksi bentuk

abdomen datar, dan ikut bergerak saat bernafas. Pada saat dipalpasi hepar

teraba 3 jari di bawah costa, terdapat nyeri tekan pada daerah abdomen

kuadran kanan atas, palpasi dalam tepi hati teraba, terasa keras,tajam, tepi

regular dengan permukaan licin. Pada saat diperkusi terdengar redup didaerah

abdomen kuadran kanan atas. Dan pada saat diauskultasi bising usus positif

dengan frekuensi 14 x/mnt.

18
h. Sistem Integumen

Bentuk kepala klien mesochepal, gerakan normal kekiri dan kekanan, rambut

beruban, lurus, kulit kepala bersih, tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan,

tidak mudah patah, rambut tidak rontok. Kulit klien berwarna kuning

(ikterus), tidak teraba panas, tekstur (halus). Kuku klien tidak mudah patah,

kuku normal.

i. Sistem Perkemihan

Bagian genetalia klien tampak normal, tidak ada lesi maupun massa disekitar

vagina. Tidak ada nyeri tekan dibagian genetalia dan sekitar kandung kemih.

2.2.2 Diagnosa keperawatan

1. Hiperthermia b.d invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap

inflamasi hepar

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d perasaan tidak

nyaman dikuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan

makanan, kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena

anoreksia, mual muntah.

3. Nyeri akut b.d pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan

bendungan vena porta.

4. Intoleransi aktiviitas b.d kelemahan umum,ketidakseimbangan antara suplay

dan kebutuhan oksigen.

5. Resiko gangguan fungsi hati b.d penurunan fungsi hati dan terinfeksi virus

hepatitis.

19
6. Resiko ketidakstabilan kadar glukosa darah b.d gangguan metabolisme

karbohidrat,lemak,dan protein, kurang penerimaan terhadap diagnostik dan

asupan diet yang tepat.

2.2.3 Intervensi Keperawatan

1. Hypertemi berhubungan dengan invansi virus agent dalm sirkulasi darah

sekunder terhadap inflamasi hepar

Tujuan menurut (NOC, 2008) :

a. Setelah dilakukan tindakan keperawtan …x24 jam diharapkan hypertermi

teratasi

Kriteria hasil:

1) Menunjukkan Suhu tubuh dalam batas normal

2) Nadi dan pernapasan dalam batang normal

3) Perubahan warna kulit tidak ada

4) Suhu kulit dalam rentang yang diharapkan

Intervensi keperawatan menurut (nic, 2008):

1) Berikan informasi pada klien dan keluarga klien mengenai penyebab

timbulnya hipertermi dan tindakan yang akan dilakukan

Rasional: keluarga klien dapat mengerti penyenbab hipertemi yang

dirasakan, klien dapat koopertaif dalan tindakan keperawatan

2) Pada suhu minimal setiap 2 jam sesuai dengan kebutuhan

Rasional: dapat menegetahu tingkat perkembangan klien

20
3) Ajarkan klien pentingnya mempertahankan cairan yang adekuat untuk

mecegah dehidrasi

Rasional: dalam kondisi demam terjadi peningkatan evaporasi yang

memicu dehidrasi

4) Berikan kompres hangat pada lipatan paha, aksila, dan kening

Rasional: menghambat pusat simpatis di hipotalamus sehingga terjadi

vasodilatsi kulkit dengan merangsang kelenjar keringat untuk mengurangi

panas tubuh melalui penguapan

5) Lepaskan pakaian yang berlebihan dan tutupi pasien dengan hanya

selembar kain

Rasional: memberikan baju tipis pada klien berfungsi mengurangi panas

melalui prose evaporasi.

6) Kolaborasikan dengan dokter dalam pemberian antipiretik

Rasional: pengobatan farmakologi dapat menekan inasi penyebaran virus

dan mencegah terjadinya hipertermi.

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan gangguan

absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan, kegagalan masukan untuk

memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan muntah (Padilla,

2012)

Tujuan menurut (NOC, 2008) :

a. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama….x 24 Jam diharapkan

perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi

Kriteria hasil:

21
1) Klien asupan makanan, cairan, dan zat gizi tercukupi

2) Menunjukkan peningkatan berat badan dan tanda-tanda malnutrisi

3) Mempertahankan massa tubuh dan dan berat badan ndalam batas normal

4) Menunjukkan nilai laboratorim (tranferin,albumon dan elektrolit) dalam

bats normal.

5) Menunjukkan status gizi cukup ditandai dengan asupan makanan, cairan

dan zat gizi seimbang

Intervensi keperawatan menurtut (NIC, 2008) :

1) Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan

Rasional: keletihan berlamjut menurunkan keinginan untuk makan

2) Awasi pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering

Rasional: adanya pembesaran hepar dapat menekan saluran

gastrointestinal dan menurunkan kapsitasnya

3) Pertahankan hyegiene mulut yang baik sebelum makan dan sesudah makan

Rasional:akumulasi partikel makanan dapat menmbah bau dan rasa tidak

sedap yang menurunkan nafsu makan

4) Anjurkan makan sedikit tapi sering

Rasional: untuk mempertahankan asupan nutrisi sehingga kebutuhan

nutrisi tercupi

5) Berikan diit tinggi kalori, rendah lemak

Rasional: glikosa dalam karbohidrat cukup efektif untuk pemenuhan

energi, sedangkan lemak sulit untuk diserap/dimetabolisme sehingga akan

membebani hepar(Padilla, 2013)

22
6) Kolaborasikan dengan advice dokter dalam pemberian obat antiemetik dan

analgesik sebelum makan atau sesuai dengan jadwal yang dianjurkan

Rasionalnya: pemberian antiemetik dapat menekan mual yang dialami

klien dan analgesik dapat menekan nyeri pada andomen sehingga tidak

menimbulkan mual dan muntah

3. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungna dengan pembengkakana hepar

yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.

Tujuan menurut (NOC,2008) :

1) Setah dilakukan asuhan keperawatan…x24 jam diharapakan nyeri teratasi

Kriteria hasil :

1) Klien akan menyatakan secara verbal pengetahuan tentang cara alternatif

pencegahan nyeri

2) Klien melaporkan nyeri yang timbul, lamanya frekensi dan lokasi nyeri

3) Klien tidak mengekspresikan nyeri secara verbal atau wajah

4) Klien tampak tenang tidak gelisah

Intervensi keperawatan menurut (NOC,2008) :

1) Beikan informasi tentang nyeri,seperti penyebab, seberapa lama nyeri akan

berakhir.

Rasional: klien disiapkan untuk mengalami nyeri melalui penjelasan nyeri

yang dirasakan ini akan memberi efek klien akan lebih tenang dibanding

klien yang mendapakan penjelasan yang kurang

23
2) Lakukan observasi nyeri yang komperhensif meliputi lokasi, karakteristik,

awitan, frekensi, intesitas atau tingkat keparahan nyeri.

Rasional: untuk mengetahui tingkat perkembangna klien mengenai nyeri

yang dirasakan

3) Berikan massase punggung dan posisi yang nyaman

Rasional : dengan memberikan posisi yang tepat akan memberikan rasa

nyaman.

4) Ajarkan teknik nonfamakologi yaitu distraksi, relaksasi, terapi musik,

kompres hangat sebelum, setelah nyeri terjadi atau meningkat

Rasional: teknik distraksi memberikan pengalihan klien mengenai nyeri

yang dirasakan sedangakan relaksasi akan mempengaruhi ketenangan

klien terhadap nyeri dengan pengambilan nafas dalam

5) Kolaborasikan dengan dokter dalam pemberian analgetik

Rasional: pengobatan secara farmakologi untuk mengurangi nyeri yang

dirasakan klien

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tidak adekuatnya masukan nutrisi

sekunder terhadap hepatitis,malaise umum, pembatasan aktivitas

Tujuan :

a. Setelah dilakukan tindakan keperawatan ….x 24 jam diharapkan

intolenrasi aktivitas teratasi

24
Kriteria hasil menurut (NOC, 2008):

1) Klien tidak lelah

2) Tidak ada takikardi

3) Dapat melakukan aktivitas sehari-hari

4) Dapat melakukan perawatan diri

Intervensi keperawatan menurut (NIC, 2008):

1) Berikan informasi penyebab keletihan individu

Rasional: dengan penjelasan penyebab keletihan maka keadaan klien

cenderung lebih tenaang

2) Bantu klien untuk mengubah posisi secara berkala, bersandar, duduk dan

berdiri.

Rasional: melatih klien untuk setiap aktivitas dan kemandirian klien dan

mencegah dekubitus

3) Anjurkan klien untuk tirah baring

Rasional: tirah baring akan meminimalkan energi yang dikeluarkan

sehingga metaolisme dapat digunakan untuk penyembuhan penyakit.

4) Observasi bersama tingkat keletihan selam 24 jam meliputi waktu puncak

energi, waktu kelelahan, aktivitas yang berhubungan dengan keletihan

Rasional: keletihan dapat segera dinimalkan dengan mengurangi kegiatan

yang dapat menimbulkan.

25
5) Bantu klien individu untuk mengidentivikasi kemampuan-kemampuan dan

minat

Rasional: memungkinkan klien dapat memprioritaskan kegiatan-kegiatan

yang sangat penting dan meminimalkan pengeluaran energi untuk kegiatan

yang kurang penting.

26
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Pengkajian

3.1.1 Identitas

A. Identitas Diri Klien

Nama : Ny “K”

Tempat tgl lahir : Bandung, 19 September 1953

Umur : 61 thn

Jenis kelamin : Perempuan

Alamat : Panyileukan

Status perkawinan : Kawin

Agama : Islam

Suku : Sunda

Pendidikan : SMP

Pekerjaan : Tidak ada

No Rekam Medik : 06 00 07

Tgl /jam masuk : 8 September/ jam 13.00

Tgl/pengambilan data : 18 September 2018/jam 08.30

Diagnosa masuk : Hepatitis

B. Identitas Keluarga / Sumber Informasi

Nama : Tn. I

Pendidikan : SMA

27
Pekerjaan : Pengawai Swasta

Alamat : Panyileukan

No. Tlp : -

Hubungan dengan kien : Suami Klien

3.1.2 Riwayat Penyakit

A. Keluhan Utama

Klien mengeluh sakit perut

B. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke UGD pada tgl 8 September 2018 jam 13.00 wib mengeluh

sakit pada perut sebelah kanan atas, skala nyeri sedang ( 4 - 6 ), rasa tertusuk

jarum, klien tampak meringis dan sakit perut meningkat setelah banyak

beraktifitas, rasa sakit tidak menetap (hilang timbul).

C. Riwayat Penyakit Dahulu

Klien mengatakan bahwa klien tidak memiliki penyakit seperti ini

sebelumnya dan klien tidak pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya.

D. Riwayat Kesehatan Keluarga

Keluarga klien tidak ada yang pernah mengalami penyakit seperti ini

sebelumnya.

3.1.3 Riwayat Psiko-Sosial-Spiritual

A. Pola konsep diri

Peran : Sebagai anggota keluarga

28
Body image : Klien mengatakan tidak bisa menjalankan aktivitas

Identitas : Klien adalah anak ke tiga dari 5 bersaudara

Harga diri : Klien selalu merasa dihargai oleh keluarganya dan selalu

mendapatkan dukungan meskipun klien sedang sakit.

Ideal diri : Klien berharap cepat sembuh dan kembali pulang rumah

B. Riwayat Lingkungan Dan Tempat Tinggal

Klien tinggal didaerah pedesaan dekat dengan jalan (keamanan aman)

C. Aspek Psikososial

1. Aspek indrawi

Klien tidak menggunakan alat Bantu kacamata

2. Kesulitan yang dialami

a. Klien mengatakan aktivitasnya di Bantu oleh keluarganya karena kondisi

masih lemah

b. Klien mengeluh nyeri pada daerah perut sebelah kanan atas

c. Klien tampak gelisah

d. Klien tampak cemas

3. Pola Pikir

Hal yang amat dipikirkan saat ini : klien cemas memikirkan keadaannya dan

berharap cepat sembuh.

4. Suasana saat ini

Klien sering bertanya tentang penyakitnya

5. Mekanisme coping

a. Pengambilan keputusan dibantu oleh keluarganya

29
b. Yang ingin dirubah dari kehidupan : ingin hidup lebuh baik dan setelah

sembuh akan menjaga kesehatannya

c. Cara pemecahan masalah : dibicarakan dengan anak – anak klien

d. Yang disukai tentang diri sendiri : tidak ada

6. Pola Spiritual

Klien beragama Islam. Selama klien sakit, klien selalu beribadah dengan cara

berdoa kepa Allah SWT.

D. Pola Aktivitas Sehari – Hari

No AKTIVITAS Sebelum Sakit Setelah Sakit


1 NUTRISI
- a. Nafsu Makan Baik, dengan porsi - Porsi makan
makan dihabiskan tidak dihabiskan
1/3 piring
- Klien mengatakan
nafsu makan
menurun
- b. Jenis Makanan - Nasi + sayur + Lauk - Bubur + telur
- c. Frekuensi makanan 3 x sehari 3 x sehari

2 CAIRAN
- a. Jenis minuman Air putih + susu Air putih + susu
- b. Frekuensi 3 – 4 gelas/hari 5 – 6 gelas/hari
takaran 300 cc takaran 300 cc
- c. Jumlah ± 1200 cc ± 1800 cc
3 ELIMINASI
- a. BAK
1) Frekuensi 8 – 10 x/hari 8 – 10 x/hari
2) Bau Amoniak Amoniak
3) Warna Kuning jernih Kuning pekat
4) Tempat pembuangan Wc Tempat tidur
(pispot)
- b. BAB
1) Frekuensi 1x/hari 1x/hari
2) Warna Kuning Kuning
3 ) Konsistensi Padat Lembek
4) Tempat pembuangan WC WC

30
4 ISTIRAHAT TIDUR
- a. Jam tidur malam 21.00 – 05.00 22.00 – 04.00
- b. Jam tidur siang 14.00 – 15.00 Tidak tidur siang
- c. Kebiasaan pengantar Nonton TV Tidak ada
tidur Tidak ada Tidak ada
- d. Kebiasaan saat tidur Tidak ada Klien mengeluh
- e. Kesulitan saat tidur susah tidur dan
sering terbangun
5 OLAH RAGA
Program olah raga Tidak ada Tidak ada

6 PERSONAL HIGIENE
- a. Mandi 2 x/hari Klien mengatakan
selama di rumah
sakit badannya
hanya di lap - lap
dengan handuk yang
dibasahi air hangat.
- b. Cuci rambut 1 – 3 x/minggu Tidak ada
7 ROKOK/ALKOHOL/O
BAT-OBATAN Tidak ada Tidak ada

8 MOBILITAS FISIK Aktif dalam Kegiatan dilakukan


SEHARI-HARI membersihkan rumah di tempat tidur dan
tiap pagi, lama dibantu oleh
pekerjaan tiap 30 keluarga dalam
menit memenuhi
Jam 05.00 – 05.30 kebutuhannya.

3.1.4 Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum : Klien tampak lemah

2. Kesadaran : Composmentis [E4M6V5 ( GCS 15 )]

3. TTV

TD : 110/70 mmHg

N : 84 x/mnt

P : 24 x/mnt

S : 37,5 oC

31
4. Tinggi Badan : 155 cm

5. Berat Badan :

a. Sebelum sakit : tidak diketahui

b. Selama sakit : 56 kg

6. Pemeriksaaan Fisik

a. Sistem Panca Indra

Pada mata klien saat diinspkesi tampak simestris kiri dan kanan,

konjungtiva pucat, tidak ada oedema pada palpebra, sclera (ikterus), bulu

mata tidak mudah tercabut, alis tersebar merata, lapang pandang klien

yaitu melihat ke 8 arah lapang pandang. Pada hidung saat diinspeksi

tampak simetris antara kiri dan kanan, mampu membedakan bau, serta

tidak terdapat secret. Dan pada telinga saat diinspeksi keadaan daun

telinga simetris kiri dan kanan, terdapat serumen, fungsi pendengaran

normal ( test dengan garputala ). Saat dilakukan test rinne : +/+ (fungsi

pendengaran normal, hantaran udara lebih panjang dari hantaran tulang

klien ) serta test weber tidak ada laterisasi kekiri dan kekanan.

b. Sistem Kardiovaskuler

CRT < 2 detik, tidak ada distensi vena jugularis, tidak terdapat suara

jantung tambahan.

c. Sistem Respirasi

Saat di palpasi tidak terdapat nyeri tekan. Saat diinspeksi bentuk dada

simetris antara dada kiri dan dada kanan, pergerakan dadanya pun

mengikuti gerakan dari pernafasan dengan frekuennsi 24 kali/menit. Saat

32
diperkusi terdapat suara resonan diarea paru. Saat diauskultasi suara nafas

vesikuler dan tidak terdapat suara bunyi nafas tambahan.

d. Sistem Persarafan

Pada fungsi cerebral, klien mampu mengingat waktu, orang dan tempat,

daya ingat klien pun masih mampu untuk mengingat masa lalu, kesadaran

klien composmentis. Pada fungsi sensorik klien mampu merasakan nyeri,

panas, dingin. Pada fungsi serebellum terdapat koordinasi baik, klien

mampu menunjukkan bagian dari tubuhnya.

Sedangkan pada fungsi cranial, yaitu :

1) Nervus ( I Olfaktorius) : Klien mampu membedakan bau-

bauan

2) Nervus (II oftivus) : Mampu melihat segala arah

3) Nervus (III oculomotorius) : Pupil miosis pada saat di test

dengan refleks cahaya

4) Nervus (IV trocheris) : Klien mampu menggerakkan bola

mata dari atas ke bawah

5) Nervus (V trigeminus) : Klien dapat mengatupkan giginya

6) Nervus (VI abducens) : Klien mampu menggerakkan

matanya Lateral

7) Nervus (VII facialis) : Klien dapat mengerutkan dahi dan

tersenyum

8) Nervus (VIII ocusticus) : Klien mampu mnedengar dengan

baik

33
9) Nervus (IX glosofaringeus) : Klien mampu menelan dengan baik,

mampu membedakan rasa asam, manis, pahit, dan asin

10) Nervus (X vagus) : Ovula terlihat saat mengatakan

“AH”

11) Nervus (XI asesoris) : Mampu menggerakkan bahu

12) Nervus (XII hypoglossal) : Klien mampu menggerakkan lidah

kekiri dan kekanan.

Pada fungsi motorik massa otot simetris kiri dan kanan, serta

mampu menahan gravitasi, tapi bukan kekuatan penuh

4 4

4 4

e. Sistem Imun

Tidak ada riwayat alergi terhadap makan, zat kimia atau perubahan cuaca.

f. Sistem Pencernaan

Gigi tidak lengkap, tidak caries. Gusi tampak berwarna merah muda.

Lidah klien tampak kotor dan bibir tampak kering. Pada saat

diinspeksi bentuk abdomen datar, dan ikut bergerak saat bernafas. Pada

saat dipalpasi hepar teraba 3 jari di bawah costa, terdapat nyeri tekan pada

daerah abdomen kuadran kanan atas, palpasi dalam tepi hati teraba, terasa

keras,tajam, tepi regular dengan permukaan licin. Pada saat

diperkusi terdengar redup didaerah abdomen kuadran kanan atas. Dan

pada saat diauskultasi bising usus positif dengan frekuensi 14 x/mnt.

34
g. Sistem Integumen

Bentuk kepala klien mesochepal, gerakan normal kekiri dan kekanan,

rambut beruban, lurus, kulit kepala bersih, tidak ada nyeri tekan, tidak ada

benjolan, tidak mudah patah, rambut tidak rontok. Kulit klien berwarna

kuning (ikterus), tidak teraba panas, tekstur (halus). Kuku klien tidak

mudah patah, kuku normal.

h. Sistem Perkemihan

Bagian genetalia klien tampak normal, tidak ada lesi maupun massa

disekitar vagina. Tidak ada nyeri tekan dibagian genetalia dan sekitar

kandung kemih.

3.1.5 Data Penunjang

Billirubin total : 8,6 mg/dl nilai normal : 0,2 – 1,0 mg/dl

Billirubi direk : 4,3 mg/dl nilai normal : 0,05 – 0,3 mg/dl

SGOT : 1002 UI/L nilai normal ; L 37; P:31

SGPT : 685 UI/L nilai normal : L 42; P: 32

3.1.6 Terapi Medis

1. D5% : NaCl , 1 : 1

2. inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/IV

3. Inj. Ranitidine 1 amp/ 8 jam

4. Inj. Ketorolac 1 amp/8 jam

5. Curcuma 3x1

35
3.1.7 Data Fokus

Nama pasien : Ny “ K”

No.MR : 06 00 07

DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF

- Klien mengeluh sakit pada perut - Klien nampak lemah


sebelah kanan atas. - Nyeri yang dialami berada pada
- Klien mengatakan aktivitasnya skala sedang 4-6.
dibantu oleh keluarganya karena - Tanda – tanda vital :
kondisi klien lemah.Klien TD :110/70 mmHg
mengatakan nafsu makan menurun. N : 84x/menit
- Klien mengatakan hanya P : 24x/menit
menghabiskan 1/3 dari porsi yang S : 37,50c
sudah disiapkan. - Klien nampak meringis
- Klien mengeluh susah tidur dan - Klien nampak gelisah
sering terbangun - Klien nampak cemas
- Urine berwarna kuning pekat
- Sklera ikterus
- Hasil Lab :
- SGOT 1002 UI/L
- SGPT 685 UI/L
- Bilirubin total 8,6 mg/dl
- Bilirubin direct 4,3 mg/dl
- Terapi pengobatan
- D5% : NaCl , 1 : 1
- inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/IV
- Inj. Ranitidine 1 amp/ 8 jam
- Inj. Ketorolac 1 amp/8 jam
- Curcuma 3x1
- Kekuatan otot 4 4
4 4
(mampu melakukan tahanan
tahanan,tapi bukan kekuatan penuh
BB= 56 kg (setelah sakit)
TB = 155 cm
BBI = 49,5-60,5 kg
Waktu tidur ± 6 jam/ hari

36
3.2 Analisa Data

Nama pasien : Ny “ K”

No.MR : 06 00 07

No Data Etiologi Masalah


1. DS: Infeksi virus HAV,virus Nyeri
- Klien mengeluh sakit RNA, cedera agen fisik,
pada perut sebelah kimia, non virus
kanan atas
DO:
- Klien nampak meringis
pada saat dikaji
- Klien nampak gelisah. Invasi virus ke dalam rubus
- Nyeri yang
dialami berada pada
skala sedang 4-6
- TTV : Masuk melalui sirkulasi
TD : 110/70 mmHg
N : 84 x/i
S : 37,5 oc
P : 24 x/i Masuk ke dalam sirkulasi
- Hasil Lab : vena hepatikum
SGOT 1002 UI/L
SGPT 685 UI/L
Bilirubin total 8,6
mg/dl Virus berkembangbiak dalam
Bilirubin direct 4,3 sel hati
mg/dl
- Inj. Ketorolac 1 amp/
12 jam
Proses peradangan sel
hati

Pelepasan zat kimia


bradikidin, histamine dan
prostaglandin.

Merangsang nociceptor

Merangsang medulla
spinalis

37
Ditransmisikan ke korteks
serebri (thalamus)

Nyeri

2. DS: Proses peradangan pada hati Intoleran


- Klien mengatakan aktivitas
aktivitasnya dibantu
oleh keluarganya karna
kondisi klien masih
lemah Inflamasi pada sel hati
DO:
- Klien nampak lemah
- Kekuatan otot 4 4
Sel parenkin rusak
4 4

Mampu melawan
tahanan, tapi bukan
kekuatan penuh.
Gangguan metabolisme
(karbohidrat, protein, lemak)

Penurunan pembentukan
ATP

Sintesis ATP mitokondria


terganngu

Malaise

Intoleransi aktivitas

3 DS: Risiko nutrisi


- Klien mengatakan nafsu Proses peradangan sel hati kurang dari
makan menurun kebutuhan
- Klien mengatakan hanya
menghabiskan 1/3 dari

38
porsi yang disiapkan
DO: Peningkatan tekanan dalam
- BB = 56 kg (setelah empedu
sakit)
- TB = 155 cm Merangsang pusat
- BBI = 49,5-60,5 kg muntah(CTZ)

Mual muntah

Anoreksia

Risiko nutrisi kurang dari


kebutuhan

4 DS: Gangguan
Klien mengeluh susah pola istirahat
tidur dan sering terbangun dan tidur
DO:
- Klien nampak lemah
- Waktu tidur ± 6 jam/ hari

3.3 Diagnosa Keperawatan

No Diagnosa Keperawatan Tgl Ditemukan Tgl Teratasi


1 Gangguan rasa nyaman (Nyeri) 18 September
berhubungan dengan proses 2018
inflamasi pada hati
2 Intoleransi aktivitas berhubungan 18 September
dengan kelemahan 2018
3 Risiko nutrisi kurang dari 18 September
kebutuhan tubuh berhubungan 2018
dengan intake nutrisi tidak
adekuat
4 Gangguan pola istirahat tidur 18 September
berhubungan dengan 2018

39
3.4 Intervensi Keperawatan

No Diagnose Rencana Keperawatan


Dx Keperawatan Tujuan dan Intervensi Rasional
kriteria hasil
1 Gangguan rasa Klien 1. Observasi, 1. Membantu
nyaman ( menunjukkan catat lokasi dan membedakan
nyeri) b/d nyeri beratnya nyeri penyebab nyeri dan
proses berkurang (skala 0-10), data dasar untuk
inflamasi pada dengan karakter nyeri intervensi
hati, ditandai kriteria: menetap atau berikutnya
dengan: - Klien secara hilng timbul
DS: verbal 2. Observasi 2. Nyeri dapat
- Klien mengatakan TTV tiap 12 mempengaruhi
mengeluh nyeri jam. vital sign sebagai
sakit pada berkurang atau reaksi kompensasi
perut sebelah hilang tubuh
kanan atas - Skala nyeri 0 3. Ajarkan 3.Meningkatkan
DO: - TTV dalam menggunakan istirahat,
- Klien nampak batas normal tehnik relaksasi memusatkan
meringis pada TD : 120/80 : nafas dalam perhatian , dapat
saat dikaji mmHg meningkatkan
- Klien nampak N : 60-80x/i koping
gelisah P : 16- 24x/i 4. Beri posisi 4. Member
- Nyeri yang S : 36- yang nyaman kesempatan bagi
dialami berad 37,20C sesuai keinginan otot untuk relaksasi
a pada skala - Klien klien seoptimal mungkin
sedang 4-6 tampak tenang 5. Kolaborasi 5. Obat
- TTV : dengan tim analgetik dpat
TD : 110/70 medis dalam membentu
mmHg pemberian obat mengurangi nyeri
N : 84 x/i analgetik
S : 37,5 oc Inj ketorolac 1
P : 24 x/i amp/ 8 jam/IV
13.00 – 21.00 –
05.00
2 Intoleransi Klien mampu 1. Kaji 1. Kekuatan otot
aktivitas b/d menunjukkan kekuatan dan dapat dijadikan
kelemahan, toleransi tonus otot indicator dalam
ditandai terhadap ekstremitas pemenuhan
dengan: aktivitas klien aktivitas
- Klien dengan 2. Kaji 2. Data dasar
mengatakan kriteria: kemampuan untuk intervensi
aktivitasnya - Klien mampu klien dalam berikutnya dan
dibantu oleh beraktivitas beraktivitas indicator untuk

40
keluarganya secara menilai
karna kondisi bertahap perkembangan
klien masih - Kelemahan 3. Bantu klien 3. Klien akan
lemah berkurang memenuhi terpenuhi
DO: - Kekuatan otot kebutuhannya kebutuhannya
- Klien nampak 4. Tingkatkan 4. Tirah baring
lemah aktivitas sesuai lama dapat
- 5 5 toleransi menurunkan
- Kekuatan otot 5 5 kemampuan , ini
4 4 terjadi karena
4 4 keterbatasan
aktivitas
Mampu mengganggu
melawan periode istirahat
tahanan, tapi 5. Anjurkan 5. Tanpa keluarga
bukan kepada keluarga klien tidak bisa
kekuatan untuk lebih berbuat apa-apa,
penuh. memperhatikan karena itu keluarga
kebutuhan klien sangat dibutuhkan.
3 Risiko Nutrisi Tidak terjadi 1. Kaji status 1. Memberikan
kurang dari Nutrisi kurang nutrisi klien informasi
kebutuhan b/d dari termasuk diet tentang
intake nutrisi kebutuhan den harian kebutuhan
yang tidak gan kriteria: pemasukan /
adekuat, - Porsi makan defisiensi
ditandai dihabiskan 2. Timbang 2. Untuk
dengan: - Berat badan berat badan mengetahui
DS: klien dalam setiap hari jika perkembangan
- Klien batas berat memungkinkan berat badan,
mengatakan badan ideal apakah mengalami
nafsu makan klien (BBI peningkatan atau
menurun = 49,5-60,5 penurunan
- Klien kg) 3. Anjurkan 3. Buruknya
mengatakan klien makan toleransi terhadap
hanya dalam porsi makanan yang
menghabiskan sedikit tapi banyak karena
1/3 dari porsi sering peningkatan
yang disiapkan tekanan intra
DO: abdomen
- BB = 56 kg 4. Anjurkan 4. Meningkatka
(setelah pada keluarga n nafsu makan
sakit) untuk klien
- TB = 155 cm menyediakan
- BBI = 49,5- makanan yang
60,5 kg menarik dan
selalu hangat

41
5. Menganjurka 5. Menurunkan
n makan dalam rasa penuh pada
posisi tegak abdomen
6. Kolaborasi 6. Menambah
pemberian nafsu makan klien
vitamin/ obat
penambah nafsu
makan
Curcuma tab. 3
x1
4 Gangguan Kebutuhan 1. Kaji pola 1. Data dasar
pola istirahat istirahat tidur tidur klien untuk intervensi
tidur b/d klien terpenuhi berikutnya dan
dengan kriteria indicator untuk
Ditandai - Klien secara menilai
dengan: verbal perkembangan
DS: mengatakan 2. Ciptakan 2. Menurunkan
Klien bisa tidur lingkungan yang rangsangan
mengeluh nyenyak tenang eksternal sehingga
susah tidur dan- Klien tampak klien dapat
sering segar beristirahat dengan
terbangun - Waktu tidur tenang
DO: 7-8 jam perhari 3. Beri 3. Agar klien
- Klien penjelasan mengerti tentang
nampak lemah tentang pentiingnya
- Waktu tidur pentingnya istirahat
± 6 jam/ hari istirahat
4. Anjurkan 4. Makanan tinggi
mengkonsumsi protein dapat
makanan tinggi membantu
protein merangsang tidur

3.5 Implementasi Keperawatan dan Evaluasi Formatif

DIAGNOSA
NO HARI/ JA
KEPERAWA IMPLEMENTASI EVALUASI
DX TGL M
TAN
I Gangguan Selasa, 08. 1. Mengobservasi, Rabu, 19
rasa nyaman 18 30 mencatat lokasi September 2018
(nyeri) b/d Septem dan beratnya nyeri jam 07.00
proses ber (skala 0-10), S: klien masih
inflamasi 2018 karakter nyeri mengeluh sakit
pada hati menetap atau perut

42
hilang timbul O: nyeri sedang
Hasil: skala nyeri skala 4
sedang (4-6) pada A: masalah
perut kuadran belum teratasi
kanan atas yang P: lanjutkan
tidak menetap( intervensi
hilang timbul) 1. observasi dan
08. 2. Mengobservasi catat berat dan
35 TTV karakter nyeri
Hasil, TD: 110/70 2. observasi TTV
mmHg, N : 84 3. anjurkan
x/I, S : 37,5 oc, tehnik
P : 24 x/i relaksasi
08. 3. Mengajarkan
40 menggunakan 4. atur posisi
tehnik relaksasi yang nyaman
nafas dalam 5. kolaborasi
dengan pemberian
menganjurkan analgetik
klien menarik
nafas dalam
melalui hidung dan
dihembuskan
perlahan – lahan
melalui mulut,
ulangi 3-4 kali
Hasil : klien
mampu
melakukannya &
klien merasa
nyaman
08. 4. Mengatur posisi
50 yang nyaman
sesuai keinginan
klien
Hasil: klien dalam
posisi supinasi
13. 5. Penatalaksanaan p
00 emberian obat
analgetik
Hasil: inj.ketorolac
1 amp/IV
21. 6. Penatalaksanaan
00 pemberian
analgetik
Hasil: inj.ketorolac

43
1 amp/IV
05. 7. Penatalaksanaan
00 pemberian
Rabu, analgetik
19 Hasil: inj.ketorolac
Septem 1 amp/IV
ber
2018

II Intoleransi Selasa, 09. 1. Mengkaji kekuatan Rabu,


aktivitas b/d 18 00 dan tonus otot 19 September
kelemahan Septem ekstremitas klien 2018
ber Hasil : kekuatan , jam 07.10
2018 otot 4 4 S: klien mengatkan
4 4 aktivitasnya masih
Mampu melawan dibantu oleh
tahanan tapi bukan keluarga
kekuatan penuh O: klien tampak
09. 2. Mengkaji lemah
05 kemampuan klien A: masalah belum
dalam beraktivitas teratasi
Hasil : hampir P: lanjutkan
seluruh kegiatan intervensi
klien dilakukan di 1. kaji kekuatan
temapt tidur otot
dengan bantuan 2. kaji
keluarga kemampuan
09. 3. Membantu klien klien dalam
15 memenuhi beraktivitas
kebutuhannya 3. bantu klien
Hasil : klien memenuhi
dibantu oleh kebutuhannya
keluarganya untuk 4. tingkatkan
bangun aktivitas
09. 4. Meningkatkan sesuai
20 aktivitas sesuai toleransi
toleransi 5. anjurkan
Hasil : klien keluarga untuk
bangun dan memperhatika
kekamar mandi n kebutuhan
dibantu oleh klien
keluarga
09. 5. Menganjurkan
25 kepada keluarga
untuk lebih
memperhatikan

44
kebutuhan klien
Hasil: keluarga
mengerti informasi
yang diberikan

III Risiko nutrisi Rabu, 10. 1. Mengkaji status Rabu,


kurang dari 19 00 nutrisi klien 19 September
kebutuhan Septem termasuk diet 2018
b/d intake ber harian , jam 07.15
nutrisi yang 2018 Hasil : klien S: klien
tidak adekuat mengatakan tiap mengatakan
hari hanya makan kurang nafsu
bubur makan
10. 2. Menimbang berat O: porsi makan
05 badan setiap hari tidak dihabiskan
jika A: masalah belum
memungkinkan teratasi
Hasil: BB= 56 kg P: lanjutkan
10. 3. Menganjurkan intervensi
15 klien makan 1. Kaji status
dalam porsi nutrisi klien
sedikit tapi sering 2. Timbang berat
Hasil: klien badan setiap
makan sedikit - hari
sedikit tapi klien 3. Anjurkan
tidak makan dalam
menghabiskan porsi sedikit
makanannya tapi sering
11. 4. Menganjurkan
20 pada keluarga 4. Anjurkan
untuk makan dalam
menyediakan posisi tegak
makanan yang 5. Kolaborasi
menarik dan pemberian
selalu hangat vitamin/ obat
Hasil: keluarga penambah nafsu
membawa makan
makanan dari
rumah
11. 5. Menganjurkan
30 makan dalam
posisi tegak
Hasil: klien
makan sambil
duduk
12. 6. Penatalaksaan

45
00 pemberian
vitamin/ obat
penambah nafsu
makan
Hasil: Curcuma
tab. 1 tab/ oral
18. 7. Penatalaksaan
00 pemberian
vitamin/ obat
penambah nafsu
makan
Hasil: Curcuma
tab. 1 tab/ oral
IV Gangguan Selasa, 11. 1. Mengkaji pola Rabu, 19
pola istirahat 18 35 tidur klien September 2018
tidur b/d Septem Hasil: klien S: klien
ber mengatakan tidak mengatakan
2018 bisa tidur nyenyak belum bisa tidur
11. 2. Menciptakan nyenyak
40 lingkungan yang O: klien tampak
tenang lemah
Hasil: pengunjung A: masalah belum
dibatasi dan teratasi
memberitahukan P: lanjutkan
keluarga klien intervensi
agar tidak ribut 1. Kaji pola tidur
saat klien sedang klien
beristirahat 2. Ciptakan
11. 3. Memberi lingkungan
45 penjelasan tentang yang tenang
pentingnya 4. Anjurkan
istirahat untuk mengkonsums
membantu i makanan
memulihkan tinggi protein
energy
Hasil: klien
mengerti
penjelasan
perawat
12. 4. Menganjurkan
05 mengkonsumsi
makanan tinggi
protein
Hasil: klien
minum susu dan
telur saat makan

46
3.6 Evaluasi Somatif

NO HARI/
JAM EVALUASI
DX TGL

Kamis, 20 07.00 S: klin masih mengeluh sakit perut


September
O: nyeri ringan skala 4
2018
A: masalah belum teratasi

I P: lanjutkan intervensi

1. observasi dan catat berat dan karakter


nyeri
2. observasi TTV
3. anjurkan tehnik relaksasi
4. atur posisi yang nyaman
5. kolaborasi pemberian analgetik
Kamis, 20 07.10 S: klien mengatkan aktivitasnya masih dibantu
September oleh keluarga
2018
O: klien tampak lemah

A: masalah belum teratasi

II P: lanjutkan intervensi

1. kaji kekuatan otot


2. kaji kemampuan klien dalam
beraktivitas
3. bantu klien memenuhi kebutuhannya
4. tingkatkan aktivitas sesuai toleransi
5. anjurkan keluarga untuk
memperhatikan kebutuhan klien
Kamis, 20 07.15 S klien menghatakan kurang nafsu makan
September
O: porsi makan tidak dihabiskan
2018
A: masalah belum teratasi
III
P: lanjutkan intervensi

1. Kaji status nutrisi klien


2. Timbang berat badan setiap hari
3. Anjurkan makan dalam porsi sedikit

47
tapi sering
4. Anjurkan makan dalam posisi tegak
5. Kolaborasi pemberian vitamin/ obat
penambah nafsu makan
Kamis, 20 07.30 S: klien mengatakan belum bisa tidur nyenyak
September
O: klien masih tampak lemah
2018
A: masalah mulai teratasi
IV
P: pertahankan intervensi

1. Kaji pola tidur klien


2. Ciptakan lingkungan yang tenang
3. Anjurkan mengkonsumsi makanan
tinggi protein
I Jumat, 21 07.00 S: klin masih mengeluh sakit perut
September
O: nyeri ringan skala 3
2018
A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi

6. observasi dan catat berat dan karakter


nyeri
7. observasi TTV
8. anjurkan tehnik relaksasi
9. atur posisi yang nyaman
10. kolaborasi pemberian analgetik
II Jumat, 21 07.10 S: klien mengatkan aktivitasnya masih dibantu
September oleh keluarga
2018
O: klien tampak lemah

A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi

6. kaji kekuatan otot


7. kaji kemampuan klien dalam
beraktivitas
8. bantu klien memenuhi kebutuhannya
9. tingkatkan aktivitas sesuai toleransi
10. anjurkan keluarga untuk
memperhatikan kebutuhan klien
III Jumat, 21 07.15 S klien menghatakan kurang nafsu makan
September

48
2018 O: porsi makan tidak dihabiskan

A: masalah belum teratasi

P: lanjutkan intervensi

6. Kaji status nutrisi klien


7. Timbang berat badan setiap hari
8. Anjurkan makan dalam porsi sedikit
tapi sering
9. Anjurkan makan dalam posisi tegak
10. Kolaborasi pemberian vitamin/ obat
penambah nafsu makan
IV Jumat, 21 07.30 S: klien mengatakan sudah bisa tidur nyenyak
September
O: klien masih tampak lemah
2018
A: masalah mulai teratasi

P: pertahankan intervensi

4. Kaji pola tidur klien


5. Ciptakan lingkungan yang tenang
6. Anjurkan mengkonsumsi makanan
tinggi protein

49
BAB IV

PENUTUP

1.1.Kesimpulan

Infeksi virus merupakan infeksi sistemik oleh virus dsertai nekrosis

dan inflamasi pada sel-sel hati yang menghasilkan kumpulan perubahan,

biokimia serta seluler yang khas.sampai saat ini sudah teridentifikasi lima tipe

hepatitis yang pasti: hepatitis A, B, C, D, E. Hepatitis A dan E mempunyai

cara penularan yan serupa (jalur fekal oral)sedangkan hepatitis B, C dan D

memiliki banyak karakteristik yang sama.

Insidens hepatitis virus yang terus meningkat semakin menjadi

masalah kesehatan maasyarakat , penyakit tersebut penting karena mudah

ditularkan, memiliki morbiditas yang tinggi dan menyebabkan penderitanya

abse dari sekolah atau bekerja unntuk waktu yang lama.

Pada masalah keperawatan muncul berbagai diagnose yaitu gangguan

rasa nyaman (Nyeri) berhubungan dengan proses inflamasi pada hati,

intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, risiko nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi tidak adekuat, dan

gangguan pola istirahat tidur.

50
DAFTAR PUSTAKA

Bruner, sudart, (1997), keperawatan medical bedah, EGC: Jakarta

Hadim Sujono, (1999), Gastroenterologi, EGC: Bandung

Muttaqin, Arif,. Kumala Sari.( 2011). Gangguan Gastrointestinal: Aplikasi

Asuhan Keperawatan Medikal Bedah.Salemba Medika : Jakarta.

Maharani, Sabrina. (2008). Berbagai Ganggua Kesehatan Pada Anak. Kata Hati:

Jakarta.

Smeltzer, Suzanna C.( 1997),Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, salemba

medika. Jakarta

Suratun, Lusianah. (2010). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem

Gastrointestinal, Trans Info Media : Jakarta.

Sasongko, Rahadyan. (2009). Petunjuk Modern Kesehatan Keluarga. Panji

Pustaka: Jakarta